Dipotong atau Dibersihkan? Atau bukan keduanya?

Dipotong atau Dibersihkan? Atau bukan keduanya?

Belum ada komentar 63 Views

Kita sering membaca ayat 2, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya” dalam terang ayat 6, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Atas dasar itu, kita menyimpulkan bahwa jika seorang Kristen tidak berbuah, ia akan dipotong (ay. 2), lalu terjadilah apa yang digambarkan di dalam ayat 6: dibuang, dicampakkan ke dalam api, lalu dibakar.

Namun, kita lupa, bahwa ayat 2 dan ayat 6 berbicara tentang dua jenis ranting yang sama-sekali berbeda. Yang membedakan adalah, yang satu hidup di dalam Kristus (“pada-Ku”, ay. 2), yang lain “tidak tinggal di dalam” Kristus (ay. 6). Keduanya sungguh tak sama.

Jika demikian, jangan-jangan memang sebuah ranting yang ada di dalam Kristus yang tidak berbuah akan dipotong, sehingga ia menjadi tidak tinggal di dalam Kristus? Penafsiran semacam ini kok tampak berlawanan dengan prinsip “diam di dalam Kristus” yang menyiratkan anugerah Allah. Kita diam di dalam Kristus bukan karena kita berbuah atau tidak, namun karena memang anugerah Allah. Kalau demikian, mengapa “dipotong” (ay. 2)?

Mungkin masalahnya ada pada terjemahannya. Di dalam ayat 2, kata “dipotong” (airō) memiliki akar kata yang sama dengan “dibersihkan” (kathairō). Tetapi, kata airō bisa juga berarti “mengangkat” dan ternyata arti ini yang lebih banyak dipergunakan di dalam Injil. Misalnya:

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil (airō, bukan memotong) mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat. 14:12)

Agaknya terhadap ranting yang tak berbuah di ayat 2, lebih tepat diperlakukan “pengangkatan” bukan “pemotongan.” Joseph Dillow pernah menulis bahwa di Palestina, ranting-ranting yang jatuh dan tak bisa berbuah “diangkat dengan perhatian yang sangat besar dan diberi waktu untuk sembuh … sebuah ranting yang tak berbuah diangkat dan diletakkan pada posisi yang membuatnya dapat memberi buah.” Agaknya penafsiran ini lebih tepat, sekaligus menyediakan sebuah teologi yang lebih sehat.

[J.A]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
  • inisiatif
    Partisipatif : Berinisiatif
    Markus 2:1-12
    Wow..kembali sebuah kisah tentang keterbukaan Yesus. Ia menerima cara orang menghampiriNya, meski tidak lazim. Melalui atap! Bukankah tiap orang...
Kegiatan