Diberi Hidup untuk Memberi Hidup

Diberi Hidup untuk Memberi Hidup

1 Komentar 648 Views

Ungkapan “hidup untuk makan atau makan untuk hidup” sering kita dengar untuk menggambarkan kemungkinan pola hidup manusia. Kata-kata “hidup untuk makan” biasanya memiliki konotasi negatif, di antarannya menggambarkan pola hidup untuk kepuasan diri sendiri dengan segala keinginannya. Sementara kata-kata “makan untuk hidup” biasanya memiliki konotasi positif, di antaranya menggambarkan pola hidup yang berupaya mengisi hidup agar menjadi hidup yang bermakna bagi orang lain.

Memiliki hidup yang bermakna adalah dambaan semua orang, namun tidak semua orang mampu memilikinya. Semua orang sudah diberi hidup oleh Allah, namun tidak semua orang mampu menjadi seorang yang memberi hidup bagi Allah dan sesama.

Yohanes pasal 6 secara keseluruhan, khususnya ayat 51-58, memberi sejumlah penegasan mengenai hambatan yang dihadapi dalam upaya memiliki hidup yang bermakna, dan dasar-dasar yang memungkinkan hidup menjadi hidup yang memberi hidup. Hambatan yang dihadapi seseorang agar bisa memiliki hidup yang bermakna, tampak dalam sikap orang banyak yang hendak berjumpa dengan Tuhan Yesus, yaitu: mendasarkan ukuran kepuasan hidup pada makanan atau hal-hal yang bersifat duniawi dan fana, hidup berpusat pada diri sendiri dan memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar untuk memenuhi ambisi hidup yang berpusat pada diri sendiri, hidup berorientasi pada ketiadaan bukan pada apa yang ada sehingga berdampak pada hidup yang mencari dan terus mencari tanpa pernah mampu bersyukur.

Yohanes 6:51-58 memberi sejumlah penegasan agar hidup orang-orang yang mencari dan menemukan Yesus menjadi hidup yang memberi hidup.

Pertama, makan roti yang turun dari sorga, yaitu daging dan darah Yesus. Memakan daging dan meminum darah Yesus, menggambarkan tindakan menerima Yesus tidak sekadar secara formal dan intelektual, melainkan tindakan menerima Yesus sehingga Yesus yang merasuki daging dan darah kita untuk selanjutnya menggerakkan seluruh tubuh seturut dengan gerak tubuh dan darah Kristus saja. Hal ini selanjutnya diwujudkan dengan membangun pola hidup sebagaimana Tuhan Yesus telah menunjukkan pola hidup-Nya.

Kedua, tindakan menerima Yesus dengan memakan daging dan meminum darah-Nya, menggambarkan bahwa yang memungkinkan kita memiliki hidup yang bermakna karena Allah yang memberikannya, dan tuntutan agar orang-orang percaya sungguh-sungguh hidup bermakna dan bernilai bagi Allah. Setiap orang yang sudah menerima Yesus tidak diijinkan untuk menganggap dirinya tidak bermakna dan memperlakukan dirinya dengan hal-hal yang tidak berguna. Juga tidak boleh ada orang memperlakukan orang lain sebagai orang yang rendah dan tidak berguna, karena Allah telah menjadikan mereka berguna bagi-Nya.

Ketiga, tindakan memakan daging dan meminum darah Yesus membuat hidup menjadi hidup bahkan hidup hingga kekekalan. Hidup orang percaya yang didasarkan atas daging dan darah Yesus adalah hidup yang sungguh-sungguh hidup, tidak statis melainkan dinamis, tidak mandek melainkan berkembang dan maju. Meminjam kalimat untuk menggambarkan pengalaman iman Yosafat (2 Taw. 17:12) “Yosafat makin lama makin kuat menjadi luar biasa kuat”, maka: hidup makin lama makin bermakna menjadi luar biasa bermakna, buah karya makin lama makin lebat menjadi luar biasa lebat.  Kita diberi hidup untuk memberi hidup. Amin.

Pdt. Keloso

1 Comment

  1. Avent Saur - http://aventsaur.wordpress.com

    Terima kasih bapak pendeta. Renungan singkat ini mennginspirasi saya untuk berkhotbah besok, Minggu, 22 Juni 2014. Saya Pastor Avent Saur, Katolik, tinggal di Flores, NTT.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • menghitung hari
    Menghitung Hari
    Mazmur 90:1-12
    Kehidupan di perkotaan penuh dengan rutinitas. Rutinisme menjadi sebuah bagian kehidupan kebanyakan orang. Memaknai hari bukanlah hal yang mudah...
  • Berjaga-jagalah
    Matius 25:1-13
    “Santai aja, bro!”, celoteh seorang kawan. Tak apa lah. Tugas masih jauh dari dateline. “Sekarang kita happy happy dululah!”,...
  • Praktik Keagamaan yang Koruptif
    Korupsi adalah praktik yang menguntungkan diri sendiri dengan cara memanipulasi secara negatif sebuah hal. Memang, di Indonesia, terminologi korupsi...
  • Sekolah Kehidupan: Tuhanku, Rajaku!
    Mazmur 96:10a
    Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “Tuhan itu Raja!” Apa yang mengendalikan hidup kita setiap hari? Kita bisa dikendalikan oleh agenda...
Kegiatan