dia.lo.gue

dia.lo.gue

Belum ada komentar 17 Views

Suatu sore, saya bersama teman-teman besuk seorang teman yang sakit. Ia habis dipukuli orang, karena tanpa sengaja menabrak mobil yang berhenti mendadak di depan mobilnya. Sebenarnya, teman saya sudah berusaha mengerem, tetapi benturan tetap tak terhindarkan, mobilnya pun menabrak bemper belakang mobil itu. Si pengemudi mobil marah, dan tanpa ba-bi-bu langsung menghajar teman saya sampai babak belur, lalu meninggalkannya di pinggir jalan.

Di Jakarta, peristiwa hantam-menghantam semacam itu kerap terjadi, baik itu di jalanan, di kampus yang katanya tempat orang terpelajar, maupun di tempat orang-orang terhormat seperti di gedung DPR. Penyelesaian masalah bukan lagi dengan cara musyawarah seperti yang diajarkan Pancasila, tetapi lebih dengan menggunakan hukum rimba: siapa yang kuat, ia yang menang.

“Lu enggak berani balas mukul, ya?” tanya salah seorang teman yang kami besuk itu. Belum sempat ia menjawab, adiknya menimpali, “Yah, begitulah Kakak, enggak suka berantem, sukanya mengalah.” Dengan pelan, teman saya yang sakit itu menjawab, “Ini bukan persoalanku dengan lelaki itu, tetapi persoalanku dengan Tuhan.” “Memang susah ngomong sama ‘pendeta’, sedikit-sedikit menghubungkan dengan Tuhan,” sahut teman yang lain. Kami memang memberinya julukan ‘pendeta’, karena kesalehannya.

Inilah yang disebut sebagai “hubungan segitiga”. Tidak ada hubungan yang tidak melibatkan Tuhan. Tuhan selalu ada di antara kita dan orang lain. Namun, dalam kehidupan kita, kerap kali kita melupakan hal itu. Kita baru mengingat hubungan segitiga ini hanya jika ada acara khusus, misalnya pemberkatan nikah di gereja. Padahal, pernikahan itu berlangsung seumur hidup. Karena itu, seharusnya kita melibatkan Tuhan selama hidup kita. Kita tidak bisa mengatakan, “Ini hanya antara aku dan kamu,” karena bagaimanapun keadaannya, kita akan selalu berada dalam hubungan segitiga ini.

Apa pun yang kita lakukan terhadap seseorang, kita mempertanggungjawabkan perbuatan kita itu, tidak hanya di hadapan orang itu, tetapi juga di hadapan Tuhan. Bahkan, sesungguhnya pertanggungjawaban kita kepada Tuhan jauh lebih penting daripada kepada orang lain.

Ketika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, kerap kali kita ingin membalasnya. Setiap aksi memang sering menimbulkan reaksi. Tetapi, adakalanya kita tidak harus memberikan reaksi, karena kita lebih mengutamakan dan menjaga hubungan dengan Tuhan.

Pemahaman terhadap hubungan segitiga ini akan mengubah hidup kita. Ketika ada orang yang menipu kita atau berbuat jahat kepada kita, kita tidak harus membalasnya, karena kalau kita membalasnya, berarti kita juga telah melakukan kejahatan. Kita tidak melakukan pembalasan bukan karena kita tidak berani atau tidak bisa, melainkan karena kita sadar bahwa Tuhan selalu melihat kita. Dan, kita tidak mau mengecewakan Tuhan. Pemahaman ini pula yang akan membuat kita mampu menjaga segala perbuatan kita. Bahkan, seandainya keinginan membalas kejahatan ini sampai pada puncaknya, pasti ada suatu kekuatan dari dalam jiwa kita yang akan menenangkannya.

Saya sangat terkesan dengan apa yang ditulis oleh Bunda Teresa, perkataan yang sangat menggetarkan jiwa bagi orang yang membaca dan menghayatinya,

  • Orang kerap tak bernalar, tak logis dan egois. Biarpun begitu, maafkanlah mereka.
  • Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois. Biarpun begitu, tetaplah bersikap baik.
  • Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biarpun begitu, tetaplah meraih sukses.
  • Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Biarpun begitu, tetaplah jujur dan berterus terang.
  • Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seorang dalam semalam. Biarpun begitu, tetaplah membangun.
  • Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri. Biarpun begitu, tetaplah berbahagia.
  • Kebaikan yang engkau lakukan hari ini sering bakal dilupakan orang keesokan harinya. Biarpun begitu, tetaplah lakukan kebaikan.
  • Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak pernah cukup. Biarpun begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.
  • Ketahuilah, sesungguhnya pada akhirnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan, tak pernah antara engkau dan mereka.

Selamat berbuat baik !

*) Diambil dari buku, “MENATA DIRI, MENGGAPAI ESOK”,

Eddy Nugroho, GLORIA GRAFFA, Januari 2008.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan