Dewan Gereja2 Dunia, Penghapusan Hutang dan Kita

Belum ada komentar 72 Views

Pada bulan September 1998 yang lalu Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC, World Council of Churches) mengadakan Sidang Raya yang kedelapan di Harare, Zimbabwe. Di bawah tema utama Turn to God; Rejoice in Hope, para peserta Sidang Raya dari seluruh bagian dunia ini sungguh-sungguh ingin menetapkan ulang visi hidup Gereja Tuhan menjelang milenium ketiga mendatang. Salah satu isu utama yang mendapat perhatian besar adalah persoalan penghapusan hutang (debt cancellation).

Dunia dirasakan sudah begitu timpang dan jurang antara dengara-negara kaya dan miskin makin melebar. Kita di Indonesia sendiri mengalami satu masa di mana hutang luar negeri sudah begitu meningkat tajam. Laporan pertanggungjawaban mantan Presiden B.J. Habibie menyebutkan bahwa sampai dengan Maret 1999 hutang Indonesia mencapai 149,9 milyar dollar. Itupun jika angka yang dicantumkan tak dimanipulasi seperti halnya data statistik lain dalam pidato tersebut.

Menurut data Jubilee2000 Coalition, sebuah lembaga swadaya internasional yang khusus melakukan kampanye penghapusan hutang, Indonesia sudah menjadi penghutang terbesar ketiga di dunia, setelah Brazil dan Mexico. Dengan pemerintahan Habibie selama 512 ini tak mustahil kita malah telah bergeser ke urutan kedua.

Sehubungan dengan ini WCC juga mengajukan kritik yang tajam atas kebijakan negara-negara G8 serta IMF yang sama sekali tak memadai dalam penanggulangan masalah hutang negara-negara miskin. Bahkan kebijakan G8 dan IMF ini justru akan semakin melilit penduduk ke dalam kemiskinan yang makin menjadi.

Hutang sebuah negara miskin yang tak terbayarkan dinilai justru membuat lingkaran setan hutang ini makin menggila. Pembayaran hutang yang dipaksakan justru akan memaksa pemerintah untuk tidak lagi mengutamakan peningkatan taraf kesehatan, pendidikan, sanitasi dan kebutuhan-kebutuhan penting lainnya. Apalagi kemudian kebanyakan negara miskin tersebut masih belum fasih dalam menjalankan kehidupan politik yang demokratis, sehingga hutang yang membebani mereka malah akan memunculkan erosi besar pada demokrasi dan menyuburkan korupsi.

Tahun Yobel

WCC kemudian merumuskan sebuah pernyataan umum yang mencerminkan sikap gereja-gereja sedunia mengenai penanggulangan hutang ini. Perumusan ini didasari tekad bersama untuk menjadi tahun 2000 sebagai Tahun Yobel bagi umat manusia. Tahun Yobel dalam tradisi Alkitab adalah tahun di mana ketidakdilan diatasi, rumah dan tanah yang dibeli dari orang miskin harus dikembalikan ke pemilik aslinya (Imamat 25 dan 27). Pesan Tahun Yobel ini kemudian diteruskan kembali dalam Yesaya 61:1-2 dan dibaca kembali oleh Yesus dalam Lukas 4:18-19,

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Tahun Yobel atau “tahun rahmat Tuhan” itu adalah saat di mana semua orang percaya dipanggil untuk menghadirkan damai sejahtera dan keadilan. Jurang kemiskinan harus dijembatani, hutang dihapuskan, kaum miskin yang tak berdaya ditopang.

Dokumen Together on the Way yang dikeluarkan WCC sebagai hasil kesepakatan Sidang Raya bahkan menyatakan bahwa keadaan negara miskin yang terlilit hutang oleh negara-negara kaya dapat dipandang sebagai sebuah bentuk perbudakan baru.

Akhirnya WCC menyatakan beberapa seruan yang secara konkret bisa dikerjakan demi masa depan umat manusia yang lebih baik,

  • Penghapusan hutan bagi negara-negara miskin, untuk memampukan mereka memasuki milenium baru dengan sebuah permulaan baru;
  • Pengurangan hutang yang radikal bagi negara-negara yang berpenghasilan cukup;
  • Partisipasi masyarakat dalam memutuskan dan mengawasi pemakaian pinjaman agar digunakan demi perbaikan dan kerusakan sosial dan ekologis;
  • Penetapan sebuah proses yang mandiri dan transparan bagi penghapusan hutang;
  • Pemerintahan yang etis di semua negara yang jauh dari segala bentuk korupsi dan penyalahgunaan pinjaman;
  • Dukungan penuh bagi rakyat di sebuah negara yang berhutang yang tak mampu melunasi hutangnya.

Hutang dan Kita

Agaknya kesadaran yang dimunculkan dalam Sidang Raya WCC di Harare tersebut harus juga menyentuh persoalan antarpribadi di tingkat umat. Tahun Yobel atau tahun rahmat Tuhan tak hanya berlaku untuk sebuah negara, namun juga untuk seorang pribadi. Apalagi Imamat 25, yang secara khusus berbicara mengenai Tahun Yobel tersebut, memang ditujukan sebagai sebuah usaha penanggulangan ketidakadilan komunal dan sosial.

Bukankah sudah saatnya Gereja kita sendiri menyuarakan Tahun Yobel bagi para anggotanya? Bukankah sudah saatnya setiap orang percaya memikirkan kembali undangan Tuhan ini?

Pdt. Joas Adiprasetya, M.Th.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan