Dari Rabu Abu ke Pentakosta

Dari Rabu Abu ke Pentakosta

Misteri Paska(h)

Hampir setiap orang memandang waktu sebagai sesuatu yang berharga di dalam hidupnya. Cara orang menggunakan waktunya menandai apa yang dianggapnya penting, karena seseorang pasti menggunakan waktunya untuk hal-hal yang menjadi prioritasnya. Begitu pula dengan gereja memperlihatkan hal-hal yang sangat penting dalam kehidupannya melalui caranya menandai waktu. Prioritas bagi jemaat mula-mula terlihat dari bagaimana orang-orang Kristen dari abad kedua, ketiga dan keempat mengatur waktu. Pengaturan waktu ini terlihat bukan dengan cara menyusun secara sistematis atau terencana, namun sebagai tanggapan jemaat terhadap “peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita” (Luk. 1:1). Pengaturan waktu yang telah ada pada agama Yahudi memberikan pengaruh yang paling banyak dalam membentuk kenangan kekristenan sebagaimana tertulis di dalam Injil.

Bagi jemaat mula-mula, pengaturan waktu dalam mengingat peristiwa-peristiwa menjadi kesaksian iman mereka akan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Kalender gerejawi pada masa itu secara implisit memperlihatkan struktur trinitarian, yaitu: percaya akan penyataan Bapa, kebangkitan Anak dan Roh Kudus yang membangun Gereja. Pada sekitar abad ke-empat mulai terbentuk tiga lingkaran masa raya gerejawi. Urutan ini bukanlah urutan kronologis pemunculan hari raya, melainkan kronologis kisah Yesus yang dimulai dari dan berpusat pada misteri Paska, kemudian dikembangkan sebagaimana kesaksian Alkitab tentang hidup Yesus. Di dalam perkembangan kemudian, urutan hari raya tersebut menjadi klasifikasi masa raya liturgi yakni: masa raya Paska, masa raya Natal serta Masa Biasa/Minggu-minggu Biasa.

Misteri Paska merupakan pusat seluruh liturgi Gereja atau dengan perkataan lain Paska adalah pusat dan jantung hati Tahun Liturgi, karena perayaan liturgi yang dirayakan sepanjang tahun selalu merupakan perayaan kenangan penuh syukur atas karya keselamatan yang terlaksana dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Ini bukan berarti bahwa peristiwa Kristus lainnya menjadi kurang penting, akan tetapi seluruh misteri Kristus berpuncak dan menemukan eksploitasi daya penebusan-Nya secara final dan berlaku tetap dalam Paska. Dengan perjalanan satu tahun liturginya, Gereja memaparkan seluruh misteri Kristus, dari kelahiran-Nya hingga kenaikan-Nya sampai hari Pentakosta serta penantian kedatangan Tuhan kembali.

Rangkaian Masa Paska

Paska kristiani berkaitan erat dengan Paska Israel. Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah yang menggantikan anak domba Paska yang dikorbankan pada Paska Israel, dikorbankan sekali untuk selamanya. Dalam tradisi Israel, Masa Paska didahului oleh 40 hari masa persiapan yang dimulai dengan Hari Yom Kippur (Hari Penebusan). 40 hari ini melambangkan 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun setelah mereka dilepaskan dari tanah Mesir.

  • Rabu Abu, Hari Rabu Abu mengawali masa Pra Paska, dihitung 40 hari sebelum Paska. Perhitungan ini tidak termasuk hari Minggu karena dalam tradisi Kristen hari Minggu adalah hari kebangkitan Tuhan. Sebagai tanda perkabungan dalam kebiasaan bangsa Israel, abu dibubuhkan di dahi. Pada masa kini sangatlah tepat apabila umat Kristiani memulai masa pra Paska ini dengan refleksi yang mendalam, menguji diri sendiri untuk mengarahkan kehidupan spiritualnya.
  • Minggu-Minggu Pra Paska. Hari Minggu sesudahnya adalah Minggu Pra-Paska pertama. Seluruhnya ada lima hari Minggu yang disebut Minggu Pra-Paska.
  • Minggu yang keenam; Adalah satu pekan menjelang Paska disebut Minggu Palem/Minggu Sengsara (Passion). Pekan ini merupakan pekan yang paling mengharukan di dalam tahun gerejawi dan sering disebut sebagai Pekan Suci. Inilah saatnya orang-orang Kristen secara khusus mengingat suatu peristiwa yang istimewa, yakni satu pekan terakhir di dalam hidup Yesus. Minggu Palem memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem di dalam suasana penuh sukacita dielu-elukan orang-orang yang berkerumun menyambut kedatangan sang Raja Yang mereka nanti-nantikan. Di dalam liturgi Minggu Palem dilanjutkan dengan Minggu Sengsara sebagai peringatan akan perjalanan terakhir Yesus menuju salib untuk menyerahkan nyawa-Nya. Minggu Sengsara ini berlangsung terus hingga hari Rabu. Selama Pekan Suci ada tiga perayaan menjelang Paska, yaitu: Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi.
  • Kamis Putih.Hari ini mempunyai dua kekhasan, yakni pembasuhan kaki dan perjamuan terakhir. Gereja menekankan pentingnya peristiwa Pembasuhan Kaki ini sebagai penyampaian pesan bahwa Kristus adalah Raja, utusan Allah, berkuasa, mulia, namun bukan dalam cara yang dibayangkan oleh manusia yang sering mengasosiasikannya dengan gemerlap keagungan duniawi.
  • Jumat Agung. Pada hari ini Gereja memperingati hanya satu peristiwa saja, yakni sengsara dan wafatnya Kristus. Liturgi Jumat Agung acap kali dilanjutkan dengan pembacaan Injil, doa-doa syafaat dan ibadah salib.
  • Sabtu Sunyi/Sabtu Suci. Setelah kebaktian Jumat Agung berakhir, umat tetap menjaga keheningan dengan ibadah. Pada Sabtu malam dirayakan kebaktian Malam Paska, namun kurang lazim dirayakan oleh gereja-gereja Protestan.
  • Hari Raya Paska. Masa berduka selama tri hari Paska diakhiri dengan sukacita karena kebangkitan Yesus Kristus. Ini adalah Paska pertama dan berlanjut sampai dengan minggu keenam Paska
  • Kenaikan Yesus (Kamis ketujuh). Hari ke empatpuluh sesudah Paska
  • Minggu ketujuh Paska. Hari Raya Pentakosta. Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta terjadi pada hari ke-50 setelah hari raya Roti Tak Beragi, sedangkan gereja merayakannya pada hari ke-50 setelah Paska. Pada hari Pentakosta janji Kristus tentang datangnya Roh Kudus terpenuhi.
  • Minggu pertama sesudah Pentakosta (Hari Trinitatis)
  • Minggu terakhir Pentakosta (Minggu Kristus Raja): Yakni hari Minggu tujuh hari sebelum Adven I.

paska
Simbol dan Warna

Simbolisasi di dalam liturgi berfungsi untuk menitikberatkan makna dan keterlibatan dalam suatu peristiwa. Simbol lahir dari suatu peristiwa historis tertentu, maka penggunaan simbol kontekstual lebih dapat diresapi. Pengungkapan yang bercirikan setempat seperti bahasa, nilai-nilai, kesenian, adat-istiadat, pakaian dan sebagainya dapat lebih memberi makna bagi jemaat karena dekat dengan alam pikirannya.

Penggunaan warna sangat lekat dengan kehidupan manusia karena memiliki spesifikasi arti. Tata warna liturgi yang kita pergunakan berasal dari warna-warni natural masyarakat Eropa. Sesuai fungsinya sebagai tanda yang menunjuk tema perayaan liturgi pada hari tertentu, maka tata warna liturgi tidaklah bersifat mutlak dan universal.

Warna-warna yang dominan pada rangkaian masa Paska:

  • Hari Rabu Abu: ungu atau kelabu. Kelabu adalah warna dari abu, karena itu menjadi simbol perkabungan dan pertobatan.
  • Selama Minggu-minggu Pra Paska: ungu yang menjadi lambang dari rasa sakit, penderitaan, penyesalan dan pertobatan. Pada masa Adven warna ungu diartikan sebagai warna Kerajaan. Ada juga gereja yang menggantikan warna ungu dengan warna biru pada masa Adven.
  • Hari Kamis Putih: ungu atau merah. Merah adalah warna api, karenanya menjadi lambang kehadiran Allah (ingat Musa yang melihat nyala api yang keluar dari semak duri). Warna merah juga melambangkan darah para martir.
  • Hari Jumat Agung: warna hitam dan ungu. Warna hitam mewakili kematian dan kedukaan.
  • Sabtu Sunyi: hitam atau tanpa warna apa pun
  • Hari-hari Raya Paska: Putih dan emas atau putih dan kuning. Warna putih melambangkan kemurnian, kesucian, kehormatan. Warna emas melambangkan sesuatu yang sangat berharga, juga kemuliaan, sukacita dan perayaan. Karena sinar metaliknya juga diartikan sebagai kehadiran Allah. Warna kuning mewakili terang dari Allah juga menjadi lambang pembaruan dan pengharapan.
  • Pentakosta: merah atau dengan kombinasi emas.

Perjamuan Kudus pada masa Paska

Perjamuan Kudus Paska adalah suatu kegiatan anamnesis (istilah dari bahasa Yunani yang berarti kenangan) akan Perjamuan Terakhir yang Yesus adakan bersama kedua belas murid (Mat. 26:26-29; Mrk. 14:22-25; Luk. 22:15-20; 1 Kor. 11:23-25). Pada malam itu Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk terus-menerus mengadakan Perjamuan Kudus untuk mengingat-Nya. Namun beberapa gereja, termasuk GKI Pondok Indah, menyelenggarakan Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung, padahal hari ini sebenarnya Yesus sudah disalibkan dan wafat. Yesus mengadakan perjamuan terakhir justru pada hari Kamis atau malah mungkin sehari sebelumnya.

Jika alasan mengadakan Perjamuan Kudus adalah untuk merayakan kebangkitan Yesus, maka hari yang tepat untuk melakukannya adalah pada hari Paska (Minggu). Bisa juga dilakukan pada hari Sabtu sore/malam apabila kita merujuk sistem kalender Yahudi yang menggunakan sistem lunar (bulan). Dalam sistem itu, hari baru dihitung mulai dari jam enam sore, berbeda dengan sistem solar (matahari) yang kita pakai di mana hari baru mulai pada pukul 00:01.

Menurut tradisi liturgis ekumenis, Perjamuan Kudus diselenggarakan selalu pada hari Minggu, khususnya tentu pada Hari Minggu Paska. Perjamuan Kudus pada Hari Paska justru dipandang sebagai Feast of feasts: Perjamuan terbesar dan terpenting di antara semua perjamuan. Dasar alkitabiahnya sangat kuat, yakni Kisah Perjalanan Emaus, tatkala pada hari kebangkitan-Nya Yesus melakukan pemecahan roti (Luk. 24:13, 30-31). Maka sesuai dengan namanya ekaristis (eucharistia = pengucapan syukur), kita tidak semata-mata mengingat Kristus yang menderita dan mati pada Jumat Agung, namun justru mengucap syukur atas Kristus yang sudah bangkit mengalahkan maut pada Paska Kemenangan itu.

Paska dan pengosongan diri

Kerendahan hati yang berasal dari pengosongan diri dalam bahasa Yunani disebut kenosis adalah suatu jalan yang harus dilalui untuk melayani orang lain. Jalan inilah yang dilakoni Tuhan, dan juga diikuti oleh murid-murid Yesus. Gereja yang melepaskan hak-hak istimewanya di dalam masyarakat adalah gereja yang memberi tempat untuk menyatakan kasih Tuhan. Inilah yang disebut oleh Yesaya sebagai “lidah seorang murid” (Yes 50:4) dari seseorang yang telah mulai menjadi pengikut Tuhan. Sikap ini patut diterapkan oleh jemaat di Indonesia di mana kemiskinan dan ketidak-adilan telah lama mewarnai kehidupan bangsa ini. Kedekatan kita pada penderitaan orang miskin dan terluka membuka telinga kita sehingga memampukan kita untuk mendengar apa yang dituntut di dalam Injil. Inilah tantangan dari memikul salib Tuhan.

Dalam peristiwa inilah liturgi memberi semangat baru di dalam ibadah hidup jemaat, yakni pengabdian yang penuh, setia, ikhlas dan segenap hati. Sikap hidup setiap saat yang harus mewarnai umat yang mengaku percaya dan menjadi pengikut Yesus Kristus. Liturgi mengimplikasikan sikap hidup sehari-hari dan sebaliknya. Memperingati karya penyelamatan Allah dengan menerapkannya di dalam sikap hidup dan karya merupakan tanggapan terhadap pernyataan keselamatan itu, sehingga peringatan itu bermakna dan jernih perspektifnya bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi sesama manusia.

Riani T. Soerjodibroto-Siregar


DAFTAR PUSTAKA
Gutiérrez, Gustavo. Sharing the Word through the Liturgical Year. Translated from the Spanish by Colette Joly Dees. New York: Orbiss Books. 1997.
Hickman, Hoyt; Saliers, Don E.; Stookey, Laurence H. and White, James. The New Handbook of the Christian Year – based on the Revised Common Lecitonary. Nashville: Abingdon Press. 1992
Martasudjita, E. Pr.  Pengantar Liturgi – Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi. Jakarta: Kanisius. 1999.
Rasid Rachman. Hari Raya Liturgi–Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 2005. Cetakan ke-3.
White, James F. Pengantar Ibadah Kristen. Diterjemahkan oleh Liem Sien Kie. Jakarta: Gunung Mulia. 2002. Cetakan 1.
Windhu, I. Marsana. Mengenal tahun Liturgi. Jakarta: Kanisius. 1997
Websites:
http://www.bbc.co.uk/religion/religions/christianity/holydays/palmsunday.shtml
http://www.imby.net/easter/passion.html
http://www.cresourcei.org/cyholyweek.html

Bookmark and Share

Komentar

3 Responses to “Dari Rabu Abu ke Pentakosta”
  1. johanesjhn says:

    Dari tulisan diatas:……………Perjamuan Kudus Paska adalah suatu kegiatan anamnesis (istilah dari bahasa Yunani yang berarti kenangan) akan Perjamuan Terakhir yang Yesus adakan bersama kedua belas murid (Mat. 26:26-29; Mrk. 14:22-25; Luk. 22:15-20; 1 Kor. 11:23-25). Pada malam itu Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk terus-menerus mengadakan Perjamuan Kudus untuk mengingat-Nya. Namun beberapa gereja, termasuk GKI Pondok Indah, menyelenggarakan Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung, padahal hari ini sebenarnya Yesus sudah disalibkan dan wafat. Yesus mengadakan perjamuan terakhir justru pada hari Kamis atau malah mungkin sehari sebelumnya

    komentar: Ini sangat sangat menarik… mengapa yang menjadi perintah Yesus justru diabaikan?Di Atas ditulis: ….Pada malam itu Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk terus-menerus mengadakan Perjamuan Kudus untuk mengingat-Nya. Namun beberapa gereja, termasuk GKI Pondok Indah, menyelenggarakan Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung,….dst

    Kalau dilihat dari perintah Yesus sepertinya ada satu Gereja yang tetap tekun melaksanakan perintah Yesus ini setiap hari, dan itu terjadi di Gereja Katolik yang melakukan perjamuan Tuhan setiap hari…..dan seluruh tulisan yang tersaji di atas dirayakan dengan lengkap semua oleh Gereja Katolik tanpa terlupakan satu pun . Ini sungguh sungguh menarik….Kenapa gereja Protestan sampai melupakan yang menjadi perintah Tuhan?

  2. agustinus says:

    saya sangat setuju dgn apa yg bapak sampaikan, saya rasa GKI juga perlu belajar bnyk dari saudara/i kita di gereja katolik roma. Mengenai ekaristi pd hari jumat agung, saya rasa itu juga perlu diperbaiki, sehingga umat dapat betul2 memahami bahkan merasakan penderitaan Kristus. Hal ini senada sperti yg disampaikan oleh Santo Tertullianus (160-225) yg berkata “Adalah tidak pantas bagi kita merayakan perjamuan (ekaristi/p.kudus) dihari dimana sang Mempelai Pria diambil dari antara kita”

    apa yg diungkapkan oleh Tertullianus ini senada spt apa yg diucapkan oleh Tuhan pada Injil Matius 9:14-15 yg berkata ” Dapatkah sahabat mempelai laki-laki berduka cita selama mempelai pria ada bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai pria itu akan diambil….dan mereka akan berpuasa”

    Nah, saya berharap, pd pekan suci esok, GKIPI bisa menempatkan ekaristi pada Kamis Putih dan Minggu Paska.
    Mengenai ekaristi tiap minggu, saya amat setuju dgn hal ini, Tuhan sendiri yg memerintahkannya sbg peringatan akan Dia, sudah sewajarnya dan seharusnya gereja Tuhan mengadakan perjamuan ekaristi pd hari Minggu sbg ungkapan syukur atas karya keselamatan yg dikerjakan Yesus dan skaligus sbg Peringatan akan wafat dan sengsaranya sebab itu adalah jantung kehidupan gereja ! Yohanes Calvin pun juga sebenarnya tidak menghendaki ekaristi 4x setahun, melainkan tiap minggu ! Saya sungguh sangat berharap pabila sinode GKI dpt merayakan perjamuan kudus setiap minggu dan hari lain dimana seluruh umat berhimpun utk memuji Tuhan selain hari minggu (misalkan; kebaktian Rumah Tangga, Kebaktian Wilayah, Kebaktian Syukur, Kebaktian retreat, dll)

    Dominus Vobiscum !

  3. johanesjhn says:

    Artinya : Alkitab saja (sola scriptura) tidak cukup. Karena semua itu tidak tertulis secara tekstual di dalam Alkitab.(kapan harus merayakan rabu abu,kamis putih, jumat Agung, Sabtu Suci dan Minggu Paskah,dst…Bagaimana liturginya?Bagaimana warna liturgi(putih, merah,hijau,dll)? Semuanya tidak tertulis.Tetapi tertulis secara eksplisit. dan dibutuhkan pengajaran dari bapa bapa gereja untuk menjelaskannya dalam tradisi tradisi suci yang sudah berjalan. Jadi sebenarnya klaim tiga pilar kebenaran milik saudara kita Katolik itu sepertinya sangat benar. Mereka diajarkan kebenaran dari Alkitab,Kuasa mengajar bapa gereja(magisterium) dan tradisi suci. Sebagai contoh sederhana: bagaimana mungkin kita baru sekarang mengkoreksi jumlah2 minggu dalam prapaskah? salahkan kita selama ini?Ini khan membuat jemaat kebingungan.Sementara semuanya jelas di Gereja Katolik?Mengapa tidak kita belajar dengan mereka? mungkin saja kita yang salah……

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi