Civis Romanus Sum

Civis Romanus Sum

Belum ada komentar 55 Views

Kewarganegaraan memberi akses kepada seseorang atas sejumlah hak istimewa yang diberikan konstitusi padanya, dan yang sekaligus dapat dituntut pemenuhannya. Secara umum, ada dua kriteria utama yang menentukan kewarganegaraan, yakni karena keturunan (ius sanguinis) dan/atau karena tempat kelahiran (ius soli). Indonesia menganut yang pertama, sehingga di manapun seorang anak dilahirkan dalam perkawinan yang sah dari orangtua yang, keduanya atau salah satu, berkewarganegaraan Indonesia, anak tersebut akan mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Amerika Serikat menganut kedua prinsip tersebut secara bersamaan, dan karenanya (a) di manapun seorang anak dilahirkan dari orangtua yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, dan (b) seorang anak dilahirkan di Amerika Serikat tanpa memandang kewarganegaraan orangtuanya, anak yang dilahirkan dalam kategori (a) atau (b) akan mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat. Pada dasarnya, negara akan senantiasa melindungi warganya, di manapun mereka.

Dalam konteks hak warga negara, pada zaman dahulu ketika kekaisaran Romawi masih mendominasi sebagian besar dunia, istilah “Civis Romanus sum” yang artinya “Saya warga negara Roma”, menjadi ekspresi yang paling berkuasa dan berbobot. Ketika itu, menurut legenda, seorang warga negara Roma dapat berjalan dengan leluasa, cukup hanya dilindungi oleh ucapan tersebut, Civis Romanus sum. Tidak akan ada orang lain yang menyakitinya karena semua tahu bahwa sekecil apa pun derita yang dikenakan ke warga negara Roma, harap bersiap-siap saja dengan balasan dari kekaisaran Romawi yang akan dijalankan secara tegas.

Legenda tersebut di atas tercatat juga di dalam kisah pelayanan Rasul Paulus. Paulus yang dulunya Saulus, memang sudah bertobat, tetapi padanya masih melekat kewarganegaraan Romawi yang memberinya hak-hak kewarganegaraan Romawi. Alkitab mencatat bagaimana kewarganegaraannya tersebut memberi Paulus jalan keluar:

Kisah 16:37-38

Tetapi Paulus berkata kepada petugas-petugas polisi itu, “Kami warga negara Roma. Tanpa diadili, kami sudah dicambuk di depan umum dan dimasukkan ke dalam penjara. Dan sekarang mereka menyuruh kami pergi dengan diam-diam? Kami tidak mau! Suruh pejabat-pejabat pemerintah itu datang sendiri ke sini melepaskan kami.” Petugas-petugas polisi itu melaporkan hal itu kepada pejabat-pejabat pemerintah Roma. Ketika pejabat-pejabat itu mendengar bahwa Paulus dan Silas warga negara Roma, mereka menjadi takut.

Kisah 22:26-29

Mendengar itu, perwira itu pergi kepada komandan pasukan dan berkata, “Apa ini yang akan Bapak lakukan? Orang ini warga negara Roma!” Maka komandan itu pergi kepada Paulus dan bertanya, “Coba beritahukan, apakah engkau warga negara Roma!” “Ya,” kata Paulus, “saya warga negara Roma.”

Komandan itu berkata pula, “Saya menjadi warga negara Roma dengan membayar banyak sekali!” Paulus menjawab, “Tetapi saya lahir sebagai warga negara Roma.” Saat itu juga anggota-anggota tentara yang mau memeriksa Paulus itu, mundur dan komandan itu pun menjadi takut karena ia sudah memborgol Paulus, padahal Paulus warga negara Roma.

Kisah 23:27

Orang ini sudah ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan hampir saja mereka bunuh, kalau saya tidak datang dengan pasukan saya dan menyelamatkan dia; sebab saya mendengar bahwa dia warga negara Roma.

Sungguh beruntung menjadi warga negara Roma ketika itu. Suatu kewarganegaraan memang memberi hak-hak istimewa yang dapat diambil dan dinikmati. Hal ini berlaku bukan hanya untuk kewarganegaraan di dunia ini, tetapi juga saat kita menjadi warga Kerajaan Surga.

Kerajaan Surga bukan suatu konstruksi fisik, seolah-olah di mana ALLAH bertempat tinggal. ALLAH yang Mahakuasa tidak terikat pada suatu lokasi atau waktu tertentu. ALLAH menciptakan dan mengatasi semuanya itu. Kerajaan ALLAH itu adalah Kuasa yang hadir secara nyata dalam kehidupan kita. Ketika kita secara sadar mengizinkan ALLAH bertakhta dalam hidup kita, maka Hadirat ALLAH akan menghadirkan Kerajaan dan Kuasa ALLAH dalam hidup kita.

ALLAH adalah Sumber Hidup. Tanpa ALLAH, tidak akan ada kehidupan. Selain sebagai Pribadi yang menciptakan segala sesuatu, IA juga adalah Pribadi yang sama, yang memelihara dan menopang kehidupan ini. Tetapi dosa telah memisahkan kita dari ALLAH. Karenanya, dosa membawa kita pada maut. Upah dosa adalah maut, berupa kematian. Kematian terjadi ketika manusia terputus dari Sumber Hidup itu sendiri. Keterputusan tersebut nyata saat manusia menjadikan dirinya sebagai penguasa hidupnya sendiri. Kita merebut Takhta ALLAH menjadi takhta kita. Kita memberontak terhadap ALLAH, sama seperti yang dilakukan Adam dan Hawa. Sifat pemberontak tersebut terus kita warisi dan membuat manusia menjadi tidak lagi sempurna. Karena ALLAH itu sempurna, IA tidak dapat berhubungan dengan kita. Dosa kita memisahkan kita dari ALLAH. “Kebaikan” kita pun tetap tidak dapat membuat-Nya terkesan. Menggunakan istilah Yesaya, kebaikan kita bahkan seperti kain kotor di mata-Nya.

Sebagai manusia yang dicipta menurut Peta dan Teladan ALLAH, walau berada dalam keberdosaan, di kedalaman hati dan eksistensi kita, kita tetap merasakan perlunya suatu Kuasa yang dapat melindungi dan menyelamatkan kita. Hasrat tersebut kemudian diupayakan pemenuhannya lewat usaha manusia sendiri. Ironisnya, dosa yang disebabkan karena “keakuan” kita coba diselesaikan dengan cara yang justru masih bersandar pada “keakuan” kita, di mana kita berusaha menyenangkan Yang Mahakuasa lewat usaha kita sendiri, tanpa menyadari bahwa semua usaha tersebut tetap tidak dapat memuaskan Standar ALLAH. Semua usaha tersebut akhirnya hanya menciptakan semacam tangga yang tidak ada ujungnya. Kita berusaha menapak tiap anak tangga dengan langkah kita sendiri. Setiap satu anak tangga ditapaki, sudah ada anak tangga lainnya menanti, tanpa akhir. Tragis.

ALLAH memahami keterbatasan manusia. Karena itu, ALLAH menawarkan cara lain, cara dan usaha ALLAH sendiri. IA mengajak kita meninggalkan “tangga-tangga manusia”yang menitikberatkan pada langkah manusia sendiri. IA selanjutnya menyediakan bagi kita “lift” atau “elevator” Keselamatan. Berbeda dengan tangga, “lift” turun ke bawah, dan kita dibukakan pintu dan diundang masuk. Setelah menerima undangan tersebut, di dalam lift, tanpa perlu usaha kita, lift tersebut akan naik sendirinya hingga di puncak yang dituju. Bila pun kita memiliki “beban hidup”, kita bahkan dapat meletakkan beban kita di lantai. Inilah cara ALLAH. Porsi kita hanya dengan menerima undangan untuk masuk. Lift tersebut merupakan anugerah yang dikirim bagi kita.

Kematian dan kebangkitan Yesus menjadi dasar bagi kita menerima tawaran Anugerah ALLAH. ALLAH mengirim Yesus untuk menjadi “Lift” yang, sebagaimana digambarkan di atas, akan membawa kita meraih tujuan, yakni Perkenanan ALLAH. Kematian Kristus menjadi cara di mana Yesus, yang adalah ALLAH sepenuhnya, mewakili kita menerima “upah dosa”, yakni kematian. IA mati. Karena TUHAN tidak mungkin mati, tetapi manusia, maka IA menjadi manusia sehingga IA dapat mati mewakili manusia, dan kemudian bangkit. Kebangkitan Yesus menjadi titik di mana maut sudah dikalahkan oleh Kristus.

Dengan menerima tawaran Keselamatan dalam Kristus sebagai Anugerah ALLAH, kita menjadi bagian dari Kerajaan Surga di mana ALLAH, Sang Sumber Hidup, akan terus hadir, baik pada masa kita hidup di dunia ini maupun di dalam kekekalan kelak.

Sebagai warga Kerajaan ALLAH, kita menerima dua hal pokok, yakni Keselamatan dalam kekekalan kelak, sekaligus juga Kuasa ALLAH yang hidup dalam diri kita selama masa hidup kita di dunia ini. Kuasa ALLAH yang dimaksudkan di sini tidak lain adalah “kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” yang disebut dalam Kolose 2:12 “karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Karenanya, kuasa yang ada pada kita, bukan sebatas kuasa manusia, atau kuasa malaikat, tetapi Kuasa ALLAH sendiri, kuasa tertinggi, Kuasa yang telah membangkitkan Yesus dari orang mati. Karenanya, di dalam Kuasa tersebut, ada Kuasa untuk menyembuhkan penyakit bahkan untuk mengusir setan.

IA sudah bangkit. Benar, sudah bangkit.

Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat (Filipi 3:20).

Fabian Buddy Pascoal

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan