<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Pastoralia</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/pastoralia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kristen dan Tradisi</title>
		<link>http://gkipi.org/kristen-dan-tradisi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kristen-dan-tradisi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 05:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6750</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pendeta, Sebagai orang Kristen, saya yang dari suku Jawa masih terbiasa melihat upacara-upacara yang sulit ditingggalkan. Misalnya setelah ada anggota keluarga meninggal dunia, maka ada tradisi upacara tiga hari (nelung dina), tujuh hari (mitung dina), 40 hari (matang puluh), 100 hari (nyatus), satu tahun (mendhak pisan), dua tahun (mendhak pindho) dan setelah itu ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pendeta,</p>
<p>Sebagai orang Kristen, saya yang dari suku Jawa masih terbiasa melihat upacara-upacara yang sulit ditingggalkan. Misalnya setelah ada anggota keluarga meninggal dunia, maka ada tradisi upacara tiga hari (nelung dina), tujuh hari (mitung dina), 40 hari (matang puluh), 100 hari (nyatus), satu tahun (mendhak pisan), dua tahun (mendhak pindho) dan setelah itu ada yang namanya upacara 1000 hari atau nyewu. Nah karena keluarga orang Kristen maka acara dibungkus dengan doa bersama.</p>
<p>Masalahnya kadang tradisi tersebut ditentang oleh orang lain yang tidak sependapat walaupun sama-sama orang Kristen.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana menyikapi hal tersebut? Mohon dijelaskan juga tentang sikap kita dalam hidup berbangsa dan bernegara, karena ada orang Kristen dari aliran tertentu yang melarang anggotanya hormat kepada bendera merah putih dengan alasan hanya Allah yang layak menerima sembah dan hormat.</p>
<p>Atas pencerahan Bapak, saya mengucapkan terimakasih.</p>
<p>Wian-Jakarta</p></blockquote>
<p>Saudara Wian yang baik,</p>
<p>Manusia selalu hidup dengan budayanya masing-masing. Ketika Allah menyapa manusia, maka sapaan Allah itu bukan hanya hadir di tengah budaya manusia, tetapi juga     menggunakan budaya manusia. Tidak sedikit perumpamaan yang Yesus pakai untuk mengajar, menggunakan kebiasaan sehari-hari yang berlaku pada waktu itu. Cara berpakaian Yesus juga bukan cara berpakaian baru, tetapi seperti cara berpakaian orang-orang pada waktu itu.</p>
<p>Dari sini kita melihat, bahwa kekristenan dengan budaya bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Namun pada lain sisi, kekristenan juga harus bersikap kritis terhadap budaya. Bagian-bagian dari budaya yang berlawanan dengan nilai-nilai kristiani bukan dihilangkan, tetapi diberi arti baru sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang kita anut. Inilah yang disebut inkulturasi. Kekristenan hadir di dalam budaya dan memberi warna kristiani budaya tersebut. Inilah artinya menjadi &#8216;garam dunia&#8217; (Mat. 5:13). Garam itu hadir di dalam air namun sekaligus memberikan pengaruh (mengasinkan) air tersebut. Contoh inkulturasi yang sangat terkenal dalam sejarah gereja adalah &#8216;perayaan Natal&#8217;. Ketika kekristenan masuk ke Romawi, maka kekristenan berjumpa dengan budaya Romawi, yaitu penyembahan dewa matahari. Kekristenan memberi arti baru pada budaya Romawi ini dengan menjadikannya &#8216;perayaan Natal&#8217;.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan upacara tiga hari, tujuh hari dan lain-lain yang berasal dari budaya Jawa? Prinsipnya sama, kita hadir dalam budaya tersebut sekaligus bersikap kritis dan memberikan arti baru buat budaya tersebut sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang kita anut. Misalnya, kita tidak mendoakan yang sudah meninggal karena hal itu bertentangan dengan nilai kristiani yang kita anut. Namun kita bisa bersyukur karena rangkaian pemakaman sudah berlangsung dengan baik. Begitu juga kita bisa bersyukur karena diberi kemampuan melewati hari-hari hidup kita, meskipun tanpa kehadiran kekasih yang telah meninggalkan kita.</p>
<p>Bagaimana dengan orang yang tidak sependapat dengan kita? Nah, kita pahami dulu, ketidaksetujuan mereka itu apa? Kalau karena ada hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kristiani, mestinya kita bisa menerima keberatan tersebut. Tetapi kalau ketidaksetujuan tersebut berangkat dari ketertutupan terhadap upaya inkulturasi, saya kira kita bisa mengabaikan keberatan tersebut.</p>
<p>Berikutnya, bagaimana sikap kita terhadap orang yang tidak setuju penghormatan bendera? Saya kira harus dibedakan antara sikap hormat dengan penyembahan. Kita hanya menyembah Allah, tetapi bisa menghormati banyak hal, termasuk bendera. Bukankah dalam hukum yang ke 5 kita juga dipanggil untuk menghormati orangtua. Itu bukan berarti kita menyembah orangtua, &#8216;kan? Penyembahan dan penghormatan adalah dua hal yang berbeda dan jangan dicampuradukkan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kristen-dan-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malaikat yang Sering Muncul  di Perjanjian Lama Diperkirakan  Yesus Kristus?</title>
		<link>http://gkipi.org/malaikat-yang-sering-muncul-di-perjanjian-lama-diperkirakan-yesus-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/malaikat-yang-sering-muncul-di-perjanjian-lama-diperkirakan-yesus-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2011 10:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6451</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pendeta Yth., Saya pernah membaca buku yang mengatakan bahwa malaikat yang sering muncul di Perjanjian Lama diperkirakan adalah Yesus Kristus yang sekali-sekali datang ke dunia untuk memberikan sebuah pesan khusus, misalnya kepada Abraham, Yakub, dan Gideon, sebelum Ia dilahirkan oleh Maria di Perjanjian Baru. Bagaimana pendapat Bapak tentang hal ini? Terima kasih atas penjelasannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pendeta Yth.,</p>
<p>Saya pernah membaca buku yang mengatakan bahwa malaikat yang sering muncul di Perjanjian Lama diperkirakan adalah Yesus Kristus yang sekali-sekali datang ke dunia untuk memberikan sebuah pesan khusus, misalnya kepada Abraham, Yakub, dan Gideon, sebelum Ia dilahirkan oleh Maria di Perjanjian Baru. Bagaimana pendapat Bapak tentang hal ini? Terima kasih atas penjelasannya.</p>
<p>(Samuel)</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Saudara Samuel yang baik,</p>
<p>Pernahkah Anda melihat film mengenai kekaisaran Cina kuno? Sering dalam film itu digambarkan bahwa sang Kaisar memberi perintah tertentu yang ditulis dalam sebuah gulungan surat, serta dibawa seorang utusan. Nah, pada waktu sang utusan sampai ke tempat tujuan, maka orang-orang menyembah sang utusan itu layaknya Kaisar, lalu kemudian sang utusan membacakan perintah sang Kaisar.</p>
<p>Apa yang mau saya katakan? Seorang utusan adalah perwakilan dari yang mengutus. Karena itu seorang utusan kadang tidak lagi dilihat sebagai utusan, tetapi sebagai yang mengutus. Karena itu ia disembah layaknya Kaisar yang mengutusnya. Dalam dunia diplomatik, ucapan resmi seorang duta besar tidak lagi dilihat sebagai ucapan pribadi sang duta besar, tetapi mewakili negara yang mengutusnya.</p>
<p>Begitu juga dengan malaikat. Ia adalah utusan Allah. Kata malaikat berasal dari bahasa Iberani: Ma&#8217;lakh, yang berarti utusan. Tetapi ketika ia menjalankan tugas Allah, maka keberadaannya kadang digambarkan seperti Allah sendiri. Itulah sebabnya kadang ada ayat tertentu yang dengan bebas mengganti kata &#8216;malaikat TUHAN&#8217; dengan &#8216;TUHAN atau Allah&#8217;. Misalnya dalam kisah &#8216;Semak yang terbakar&#8217;, Musa digambarkan melihat Malaikat TUHAN (Kel. 3:2). Tetapi dalam ayat selanjutnya, digambarkan bahwa TUHAN sendiri yang berbicara kepada Musa (Kel. 3:4).</p>
<p>Pergeseran gambaran inilah yang kemudian memunculkan dugaan bahwa malaikat itu sesungguhnya adalah Allah sendiri yang kemudian dikaitkan dengan Yesus Kristus, Allah yang menghampiri manusia dan menyapa manusia dalam wujud manusiawi. Apalagi dalam beberapa ayat, malaikat kadang disebut sebagai &#8216;anak-anak Allah&#8217; (Ayub 1:6). Selain itu, dalam Yehezkiel 9 digambarkan mengenai malaikat yang melakukan penghakiman atas Yerusalem. Semua gambaran ini dapat memunculkan dugaan bahwa malaikat adalah Yesus Kristus, karena bukankah Dia adalah sang Putera Allah dan Hakim Agung yang melaksanakan penghakiman di akhir zaman?</p>
<p>Tetapi dari gambaran utusan Kaisar Cina tadi, saya harap menjadi jelas, bahwa memang kadang terjadi kerancuan antara utusan dengan yang mengutus. Namun secara etimologi sudah jelas bahwa malaikat adalah utusan dan bukan yang mengutus. Yesus Kristus sebagai bagian dari Allah Trinitas adalah yang mengutus malaikat, bukan malaikat yang adalah utusan. Di dalam Kristus diciptakan segala sesuatu (termasuk malaikat–Kol. 1:16). Jadi menduga bahwa malaikat adalah Yesus Kristus tidaklah tepat meskipun kerancuan itu bisa dipahami.</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/malaikat-yang-sering-muncul-di-perjanjian-lama-diperkirakan-yesus-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seseorang yang meninggal, akan melewati Api Penyucian?</title>
		<link>http://gkipi.org/seseorang-yang-meninggal-akan-melewati-api-penyucian/</link>
		<comments>http://gkipi.org/seseorang-yang-meninggal-akan-melewati-api-penyucian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 14:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6054</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pendeta, Umat Katolik meyakini bahwa setelah seseorang meninggal, ia akan melewati Api Penyucian, namun Api Penyucian tidak diajarkan kepada umat Protestan. Meskipun demikian, ada aliran Protestan yang mengatakan bahwa orang tersebut akan dikumpulkan di Hades sampai kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, dan ada pula yang mengatakan bahwa ia akan langsung pergi ke Firdaus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pendeta,</p>
<p>Umat Katolik meyakini bahwa setelah seseorang meninggal, ia akan melewati Api Penyucian, namun Api Penyucian tidak diajarkan kepada umat Protestan. Meskipun demikian, ada aliran Protestan yang mengatakan bahwa orang tersebut akan dikumpulkan di Hades sampai kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, dan ada pula yang mengatakan bahwa ia akan langsung pergi ke Firdaus, seperti janji Yesus kepada penjahat yang berada di samping-Nya ketika Ia disalibkan.</p>
<p>Bagaimana pendapat GKI tentang hal ini?<br />
Terima kasih atas pencerahannya.</p>
<p>(Adri)</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Saudara Adri yang baik,</p>
<p>Kesalahan banyak orang ketika berpikir tentang surga, neraka dan api penyucian adalah, pertama-tama mereka berpikir tentang ‘tempat’. Padahal Alkitab ketika berbicara tentang hal-hal tersebut, pertama-tama berbicara tentang ‘keadaan’. Keadaan macam apa?</p>
<ol>
<li> Surga: adalah keadaan di mana Allah hadir secara utuh dan penuh. Orang yang ‘masuk surga’ adalah orang yang mengalami persekutuan dengan Allah secara utuh dan penuh. Karena itulah, ketika Yesus datang kembali untuk menjemput umat-Nya, yang ditekankan adalah sebuah keadaan di mana umat percaya mewujudkan satu persekutuan yang utuh dan penuh dengan Kristus (bersama selamanya dengan Tuhan–1 Tesalonika 4:17-18). Karena Surga itu pertama-tama adalah sebuah keadaan, maka Surga itu bukan sesuatu yang akan kita alami di masa datang, tetapi sudah dan sedang kita alami, ketika Kristus hadir secara utuh dan penuh dalam kehidupan kita (Ef. 2:4-7)</li>
<li>Neraka adalah keadaan di mana hidup kita terpisah secara utuh dan penuh dari Allah. Oleh karena itulah orang yang masuk neraka dijelaskan keadaannya sebagai orang yang dijauhkan dari hadirat Tuhan (2 Tesalonika 1:9). Jadi kembali kita melihat gambaran neraka sebagai sebuah keadaan, bukan tempat. Dalam bagian Alkitab yang lain kita menjumpai gambaran neraka sebagai ‘lautan api’ (Wahyu 20:14-15). Gambaran ‘lautan api’ lebih menunjukkan sebuah keadaan ketimbang sebuah tempat.</li>
<li>Begitu juga dengan ‘api penyucian’ yang ada dalam tradisi Katolik. Sama seperti gambaran ‘lautan api’ dalam Wahyu 20:14, lebih mengacu pada sebuah keadaan ketimbang tempat, yaitu keadaan di mana jiwa seseorang itu dimurnikan (dibakar dengan api seperti emas) agar dapat mewujudkan persekutuan dengan Allah secara utuh dan penuh.</li>
</ol>
<p>Kalaupun pada akhirnya Alkitab mau tidak mau harus berbicara tentang ‘tempat’ maka tempat itu tidak pernah disebutkan secara pasti, tetapi tempat itu disebutkan berdasarkan keadaannya. Dalam Wahyu 20:15, orang yang namanya tidak ada dalam kitab kehidupan dilemparkan ke dalam lautan api. Sesuatu ‘yang dilemparkan’ pasti harus jatuh di suatu tempat. Tetapi tempat itu di mana? Tidak dijelaskan, yang penting keadaan tempat itu yaitu: lautan api.</p>
<p>Lalu apakah ada ‘tempat penantian’ yang bernama Hades? Pemahaman mengenai Hades ini berangkat dari pemahaman Perjanjian Lama mengenai Syeol, yaitu dunia orang mati. Satu dunia tersendiri yang amat berbeda dari dunia orang hidup. Umat Perjanjian Baru tidak menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Yunani mengenai Syeol. Karena itu mereka memakai nama Hades, yang sesungguhnya adalah nama dewa yang menguasai ‘dunia bawah’ dalam mitologi Yunani. Apapun itu, yang mau diberitakan pertama-tama adalah adanya ‘sebuah realitas lain’ dari orang yang sudah meninggal, bukan tempat. Baru dalam perkembangannya, Hades atau Syeol itu dipahami sebagai sebuah tempat penantian dari roh orang yang sudah meninggal.</p>
<p>Nah, bagaimana kita memahami semua ini? Pertama-tama, marilah kita berpikir bukan dari sisi tempat, melainkan keadaan. Orang beriman yang meninggal itu keadaannya adalah ada dalam persekutuan dengan Kristus. Kematian (maut) tidak dapat memisahkan orang tersebut dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:37-39). Berdasarkan keadaan itu, tidaklah salah kalau kita mengatakan bahwa orang tersebut ‘sudah masuk ke Surga’, yaitu mengalami persekutuan yang utuh dan penuh dengan Allah. Yesus juga menjanjikan ‘sebuah keadaan’ kepada penjahat yang bertobat di kayu salib. “Hari ini engkau bersama dengan Aku di Firdaus” (Lukas 23:43). Jadi ‘Firdaus’ harus kita pahami pertama-tama sebagai ‘keadaan bersama Kristus’.</p>
<p>Jika kita berpikir berdasarkan ‘logika keadaan’, maka ‘logika tempat’ lalu menjadi relatif. Yang penting adalah ‘bersama Kristus’. Di manapun kita berada, asalkan bersama Kristus, maka itu adalah Surga/Firdaus. Ketika orang meninggal, maka ia memasuki sebuah realitas lain yang disebut sebagai Hades atau Syeol. Apapun namanya, yang penting adalah apakah orang itu bersama Kristus atau terpisah dari Kristus. Ketika ia bersama Kristus, maka Hades atau Syeol itu menjadi Surga/Firdaus. Sedangkan ketika ia terpisah dari Kristus, maka Hades atau Syeol itu menjadi Neraka.</p>
<p>Logika penantian muncul (dan karena itu perlu ada tempat untuk menanti), karena ada kebangkitan orang mati. Tetapi kembali, logika penantian menjadi relatif, ketika kita berpikir dari sisi logika keadaan. Keadaan orang beriman sama saja, selalu bersama Kristus. Berapa lama pun ia menanti tidak masalah, yang penting adalah bersama Kristus. Ada atau tidak ada tempat penantian itu (menurut pemahaman saya: ada), tidak masalah, yang penting bersama Kristus! Demikian jawaban saya, semoga membantu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/seseorang-yang-meninggal-akan-melewati-api-penyucian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijadikan Tumbal Pesugihan</title>
		<link>http://gkipi.org/dijadikan-tumbal-pesugihan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dijadikan-tumbal-pesugihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 10:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5520</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pendeta, Seorang teman saya bercerita bahwa tanpa sepengetahuannya, iparnya telah meminta pesugihan kepada Ratu Gunung Kidul dengan menyertakan seluruh keluarganya dan teman saya itu sebagai tumbal atas jasa pesugihan tersebut. Padahal, teman saya itu Kristen dan sangat yakin bahwa ia sudah diselamatkan oleh darah pengorbanan Yesus di kayu salib. Pertanyaannya, apakah mungkin teman saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pendeta,</p>
<p>Seorang teman saya bercerita bahwa tanpa sepengetahuannya, iparnya telah meminta pesugihan kepada Ratu Gunung Kidul dengan menyertakan seluruh keluarganya dan teman saya itu sebagai tumbal atas jasa pesugihan tersebut. Padahal, teman saya itu Kristen dan sangat yakin bahwa ia sudah diselamatkan oleh darah pengorbanan Yesus di kayu salib.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah mungkin teman saya menjadi tumbal karena ia sudah milik Kristus? Terima kasih atas jawaban Bapak.</p>
<p>(ws)</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Saudara WS yang baik,</p>
<p>Susah juga ya kalau orang lain tiba-tiba memasukkan kita sebagai tumbal pesugihannya. Bukankah kita tidak bisa mengatur perilaku orang lain? Tetapi jangan takut. Kalaupun hal itu terjadi, maka sebagai anak Tuhan, hidup kita dijamin oleh-Nya. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang memberikan jaminan bahwa Tuhan akan menjaga kita. Salah satunya adalah: Yohanes 10:27-29.</p>
<p>Ayat ini dimulai dengan penjelasan mengenai relasi kita (selaku domba gembalaan Tuhan) dengan Gembala yang baik, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sebuah relasi yang sangat akrab. Kita mendengar dan mengikut Tuhan, dan Gembala yang baik itu sungguh mengenal kita (ayat 27). Apa yang terjadi dengan kita, bahkan apa pun yang menjadi pergumulan hidup kita, Tuhan tahu. Karena itu kita boleh mempercayakan semua pergumulan kita kepada-Nya.</p>
<p>Kemudian diberikan sebuah janji kepada kita. Dalam relasi yang akrab itu, Sang Gembala yang baik memberikan hidup kekal kepada kita. Yang menarik, dalam janji itu juga disebutkan: DAN SEORANG PUN TIDAK AKAN MEREBUT MEREKA DARI TANGANKU (ayat 28). Kalau janji Tuhan seperti ini, masihkah kita takut dijadikan tumbal pesugihan oleh orang lain? Hidup kita sungguh terjaga di tangan sang Gembala Agung, siapa yang dapat merebutnya?</p>
<p>Kemudian ayat ini ditutup dengan satu alasan, mengapa hidup kita terjamin di tangan Tuhan. Sebab BAPAKU LEBIH BESAR DARI PADA SIAPA PUN (ayat 29). Luar biasa! Kita ada di tangan Gembala Agung kita dan di tangan Bapa di Sorga. Siapa yang dapat merebut kita? Dia jauh lebih besar dari siapa pun, Dialah sang Pencipta dan Yang Maha Kuasa! Mampukah setan-setan pesugihan itu merebut kita? Hidup kita sungguh terjamin. Jangan takut!</p>
<p>Jadi, sepanjang teman Anda itu adalah domba yang mendengar suara Tuhan dan mengikuti-Nya, hidupnya terjamin, meskipun sekiranya benar, dia sudah dijadikan tumbal pesugihan oleh iparnya. Silakan meneruskan berita sukacita ini kepada teman Anda dan kepada siapa pun yang tengah mengalami ketakutan dalam hidupnya.</p>
<p>- Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dijadikan-tumbal-pesugihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengusir Setan  Yang Terikat Dengan  Perjanjian Leluhur</title>
		<link>http://gkipi.org/mengusir-setan-yang-terikat-dengan-perjanjian-leluhur/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mengusir-setan-yang-terikat-dengan-perjanjian-leluhur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 04:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5397</guid>
		<description><![CDATA[Yth. Bapak Pdt., Dalam sebuah e-mail yang dikirim oleh salah seorang teman Katolik saya (http://katolisitas.org/2010/12/01/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan/), dikisahkan tentang pengalaman Romo Santo pada bulan November yang lalu ketika ia diminta untuk menolong empat mahasiswi Katolik yang kesurupan di sebuah vila tua di Cibulan. Salah satu dari gadis itu kemasukan roh-roh jahat yang sangat kuat, bahkan dukun yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Yth. Bapak Pdt.,</p>
<p>Dalam sebuah e-mail yang dikirim oleh salah seorang teman Katolik saya (<a  href="http://katolisitas.org/2010/12/01/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan/" target="_blank">http://katolisitas.org/2010/12/01/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan/</a>), dikisahkan tentang pengalaman Romo Santo pada bulan November yang lalu ketika ia diminta untuk menolong empat mahasiswi Katolik yang kesurupan di sebuah vila tua di Cibulan. Salah satu dari gadis itu kemasukan roh-roh jahat yang sangat kuat, bahkan dukun yang dipanggil dan kemudian pendeta Protestan yang datang pun angkat tangan karena tidak dapat mengusirnya. Roh-roh itu mengatakan bahwa mereka adalah Legion, tetapi kemudian diperkuat dengan kedatangan Lucifer, sang penghulu setan. Mereka berkata bahwa leluhur gadis ini telah mengadakan perjanjian dengan mereka, karena itu mereka tidak mau keluar. Setelah semalaman bergumul dalam doa dan tidak bisa mengusir roh-roh jahat itu, gadis itu akhirnya dibawa ke kapel Lembah Karmel. Lalu Romo Santo berlutut di hadapan tabernakel dan altar Bunda Maria untuk berdoa bersama beberapa mahasiswa lainnya, memohon kepada Yesus untuk membebaskan anak ini dengan mengutus malaikat dan bala tentara sorgawi, serta memutuskan ikatan perjanjian dengan Iblis. Akhirnya roh-roh itu keluar dan gadis itu sadar kembali.</p>
<p>Pertanyaan saya:</p>
<ol>
<li>Apakah perjanjian leluhur dengan penguasa kegelapan otomatis terputus setelah seseorang menerima Yesus Kristus, ataukah ia harus mengalami pelepasan untuk memutuskannya?</li>
<li>Mengapa pendeta Protestan di dalam kesaksian ini tidak sanggup mengusir roh-roh jahat itu?</li>
<li>Bagaimana tindakan kita untuk mengusir mereka, karena segala doa yang dinaikkan sebelum sampai di Biara Karmel tidak berhasil?</li>
<li>Mengapa roh-roh jahat itu baru keluar ketika Romo Santo berdoa di depan tabernakel dan altar Bunda Maria?</li>
</ol>
<p>Terima kasih atas jawaban Bapak.</p>
<p>(AS)</p></blockquote>
<p>Bapak AS yang baik,</p>
<p>Firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:17 dengan jelas mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”. Begitu juga dalam 1 Kor. 6:20, rasul Paulus menegaskan bahwa kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar! Nah, kalau sesuatu itu telah lunas dibeli, berarti telah berganti pemiliknya bukan? Kita sekarang ini adalah milik Allah di dalam Kristus Yesus. Begitu juga kalau ‘yang lama’ sudah berlalu, masakan masih ada ikatan perjanjian dengan nenek moyang?</p>
<p>Jadi, berdasarkan ayat Firman Tuhan tadi, menurut pemahaman saya, jika seseorang telah menerima Tuhan Yesus Kristus (dengan sungguh), kalaupun ada perjanjian leluhur dengan kuasa kegelapan, semuanya otomatis terputus, tidak perlu diadakan lagi pelepasan untuk memutuskannya.</p>
<p>Tentu Anda akan bertanya, jika demikian, mengapa dalam kasus mahasiswi Katolik yang Anda kutip, setan-setan yang merasukinya bersaksi bahwa masih ada perjanjian antara mereka dengan leluhur mahasiswi tadi? Sejujurnya, saya tidak tahu persis jawabannya. Bisa saja itu hanya kebohongan setan-setan yang merasuki mahasiswi tadi, bisa juga faktor lain yang saya tidak tahu. Apa pun itu, iman saya sampai saat ini masih meyakini bahwa siapa yang berada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama (termasuk perjanjian leluhur dengan Iblis sekali pun) sudah berlalu.</p>
<p>Lalu mengapa pendeta Protestan tidak berhasil mengusir setan tersebut? Wah, saya tidak mau terjebak dalam dikotomi Protestan-Katolik. Bagi saya, Protestan atau Katolik tetap anak-anak Tuhan yang tentu bisa dipakai Tuhan untuk mengusir setan. Ada banyak pengalaman dari pendeta Protestan, yang berhasil mengusir setan. Bahkan beberapa pendeta GKI-PI pun pernah punya pengalaman yang sama. Bahwa pendeta Protestan yang dipanggil itu tidak berhasil mengusir setan, sungguh saya tidak tahu penyebabnya. Ada banyak kemungkinan, tetapi tentu saya tidak perlu berspekulasi dengan berbagai kemungkinan itu.</p>
<p>Apa tindakan kita kalau kita diperhadapkan pada kasus yang sama? Satu hal yang harus kita ingat, bahwa yang bisa mengusir setan adalah Tuhan yang sudah menang atas setan. Diri kita hanyalah alat-Nya saja. Karena itu faktor keberserahan kita kepada Tuhan sungguh amat penting. Beberapa teman bersaksi, cukup kita berdoa saja, kita serahkan yang kerasukan ini ke dalam tangan Tuhan, dan kita mohon agar Tuhan bekerja untuk mengusir setan-setan yang ada.</p>
<p>Lalu mengapa setan-setan itu baru keluar setelah sang Romo berdoa di depan tabernakel dan altar bunda Maria? Kembali saya harus menjawab dengan jujur, tidak tahu. Mungkin memang di situlah waktunya. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh sang Romo, adalah cara berdoanya dan wujud keberserahannya kepada Tuhan. Jadi yang penting adalah berserah dan berdoa! Caranya bisa bervariasi tergantung tata cara masing-masing. Demikian jawaban saya, semoga dapat membantu pergumulan iman Anda.</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mengusir-setan-yang-terikat-dengan-perjanjian-leluhur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malaikat dan Iblis</title>
		<link>http://gkipi.org/malaikat-dan-iblis/</link>
		<comments>http://gkipi.org/malaikat-dan-iblis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 11:02:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5148</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pdt. Rudianto Djajakartika Yth. Setelah membaca beberapa kali Alkitab kita dan kemudian mendengarkan berbagai khotbah para gembala gereja maka ada hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya sampai sekarang ini, yaitu tentang malaikat. Siapa penciptanya, kapan mereka diciptakan dan di mana mereka bermukim. Pertanyaan yang serupa juga: yaitu tentang Iblis. Sekian, terima kasih Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pdt. Rudianto Djajakartika Yth.</p>
<p>Setelah membaca beberapa kali Alkitab kita dan kemudian mendengarkan berbagai khotbah para gembala gereja maka ada hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya sampai sekarang ini, yaitu tentang malaikat. Siapa penciptanya, kapan mereka diciptakan dan di mana mereka bermukim.</p>
<p>Pertanyaan yang serupa juga: yaitu tentang Iblis. Sekian, terima kasih Tuhan memberkati.</p>
<p>R. Sihite/ angg. Mannen Koor</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Pak Sihite yang baik,</p>
<p>Alkitab bukanlah kitab tentang Malaikat atau Iblis. Melainkan kitab tentang keselamatan yang Allah berikan kepada manusia melalui karya pengorbanan Yesus Kristus. Karena itu, yang dibicarakan secara rinci adalah karya keselamatan Allah melalui Kristus. Malaikat atau Iblis disinggung dalam Alkitab hanya dalam kaitannya dengan keselamatan yang Allah berikan melalui Kristus.</p>
<p>Karena itu, memang sulit mendapatkan jawaban rinci tentang Malaikat atau Iblis, namun ada beberapa kesaksian Alkitab yang semoga bisa menjadi jawaban atas kerisauan Bapak.</p>
<ol>
<li>Alkitab menyaksikan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, baik yang ada di sorga maupun di bumi (Kol. 1:16). Berangkat dari kesaksian tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa malaikat itu diciptakan oleh Allah. Sedangkan Iblis tidak terlalu jelas asal-usulnya, tetapi beberapa orang meyakini berdasarkan kesaksian kitab Wahyu, bahwa ia adalah malaikat yang memberontak dan kemudian diusir dari Sorga (Wahyu 12:7-9).</li>
<li>Kapankah mereka diciptakan? Alkitab tidak menyebut waktu yang tepat mengenai penciptaan mereka.</li>
<li>Di mana mereka bermukim? Karena Malaikat itu melayani Allah, mestinya mereka diam bersama dengan Allah, sedangkan karena Iblis itu melawan Allah, maka mestinya ia diam tidak bersama Allah.</li>
</ol>
<p>Ya, itulah jawaban yang bisa saya berikan. Semoga bisa sedikit mengurangi kerisauan Bapak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/malaikat-dan-iblis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bencana dan Dekadensi Moral</title>
		<link>http://gkipi.org/bencana-dan-dekadensi-moral/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bencana-dan-dekadensi-moral/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 03:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5082</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pdt. Rudi yang baik, Merenungkan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi bencana di Indonesia, yang dihubung-hubungkan dengan keadaan bangsa kita di mana banyak terjadi dekadensi moral. Tapi ternyata korban kebanyakan melanda rakyat kecil yang moralnya lebih baik daripada kebanyakan pejabat kita, itu menurut saya. Pertanyaan saya adalah apakah Bapak bisa memberi gambaran keadaan Indonesia belakangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pdt. Rudi yang baik,</p>
<p>Merenungkan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi bencana di Indonesia, yang dihubung-hubungkan dengan keadaan bangsa kita di mana banyak terjadi dekadensi moral. Tapi ternyata korban kebanyakan melanda rakyat kecil yang moralnya lebih baik daripada kebanyakan pejabat kita, itu menurut saya.</p>
<p>Pertanyaan saya adalah apakah Bapak bisa memberi gambaran keadaan Indonesia belakangan ini mengingat di negara lain tidak separah Indonesia, mulai tsunami yang bertubi-tubi, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan bencara gunung berapi. Saya hanya bisa prihatin tidak bisa berbuat banyak. Semoga dengan penjelasan Bapak membuka pemahaman kekristenan saya.</p>
<p>Atas pencerahannya terima kasih.</p>
<p>Salam,</p>
<p>B di Jakarta</p></blockquote>
<p>Saudara B yang baik,</p>
<p>Salah satu bentuk kearifan kita, adalah merenungkan dan mencari makna di balik bencana yang sedang terjadi. Apalagi bila bencana itu terjadinya bertubi-tubi tiada henti. Hasil dari perenungan tersebut sangat bervariasi. Ada yang menyadari akan kondisi keberdosaan bangsa, terjadinya dekadensi moral, korupsi dan banyak lainnya. Ada yang menyadari perlunya pelestarian lingkungan yang sudah dirusak oleh manusia. Ada juga yang menyadari betapa rapuhnya manusia di hadapan alam dan Allah sebagai sang pencipta alam semesta.</p>
<p>Pendek kata, kita tidak bisa ’mengunci’ hasil perenungan hanya pada satu persoalan saja, karena Allah berbicara melalui peristiwa bencana secara berbeda pada tiap orang. Nah, jika dalam perenungan Anda, kemudian muncul kesadaran adanya dekadensi moral di ranah bangsa, maka kita semua tentu harus menghargai hasil perenungan tersebut. Namun di sisi yang lain, kita juga harus menghargai hasil perenungan orang lain yang mungkin berbeda dengan hasil perenungan Anda. Apa pun hasilnya, kita mengimani bahwa Allah sedang berbicara kepada kita melalui peristiwa bencana yang sedang/telah terjadi.</p>
<p>Selain itu, sebaiknya, kita tidak memberlakukan hasil perenungan itu sebagai hubungan sebab-akibat, karena sekali lagi hasil perenungannya bisa sangat bervariasi. Kebetulan hasil perenungan Anda bisa dikorelasikan menjadi hubungan sebab-akibat. Tetapi hasil perenungan orang lain belum tentu dapat dikorelasikan menjadi hubungan sebab-akibat dengan semudah itu. Misalnya, munculnya kesadaran akan rapuhnya manusia di hadapan alam dan Sang Pencipta alam.</p>
<p>Yang penting, apa pun hasil perenungan itu, seharusnya bermuara pada sikap etis kita. Apa respons kita? Apa yang harus kita lakukan berkaitan dengan hasil perenungan kita? Dengan demikian, hasil perenungan itu tidak berhenti pada ranah kesadaran semata, tetapi masuk ke ranah praksis, menjadi satu tindakan nyata untuk menjawab hasil perenungan tersebut. Bukankah hal ini yang kita tunggu dari hasil sebuah perenungan?</p>
<p>Nah, menjawab pertanyaan Anda mengenai ’gambaran keadaan Indonesia’, izinkan saya mengartikannya sebagai ’dekadensi moral’ seperti yang Anda sudah singgung sebelumnya. Ada banyak hal yang berkaitan dengan moralitas bangsa, tetapi menurut pemahaman saya, persoalan utama kita sekarang ini adalah masalah korupsi! Korupsi inilah yang sudah menghancurkan kehidupan bangsa kita. Nah, apa respons kita? Apa yang harus kita lakukan? Marilah kita memeranginya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bencana-dan-dekadensi-moral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bendahara Yang Tidak Jujur</title>
		<link>http://gkipi.org/bendahara-yang-tidak-jujur/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bendahara-yang-tidak-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Nov 2010 13:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4895</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pdt., Dalam beberapa kali kebaktian saya mendengar khotbah yang diambil dari Lukas 16:1-9. Yang terakhir pada bulan September 2009, sayangnya waktu itu bersamaan ada pendeta tamu dari Korea dengan bahan renungan dari Injil lain, praktis firman tersebut tidak dibahas sama sekali. Begini Pak Pendeta, jujur saja, saya tidak mengerti penekanan pada perikop Perumpamaan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pdt.,</p>
<p>Dalam beberapa kali kebaktian saya mendengar khotbah yang diambil dari Lukas 16:1-9. Yang terakhir pada bulan September 2009, sayangnya waktu itu bersamaan ada pendeta tamu dari Korea dengan bahan renungan dari Injil lain, praktis firman tersebut tidak dibahas sama sekali.</p>
<p>Begini Pak Pendeta, jujur saja, saya tidak mengerti penekanan pada perikop Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur tersebut, karena ada bagian yang menurut saya kontradiktif yakni: ayat 8 tertulis… tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik.</p>
<p>Saya berpikir: apanya yang hebat sehingga ia dipuji, tidakkah tindakannya itu sama seperti politikus yang masa jabatannya mau habis maka mengambil hati rakyat agar terpilih kembali. Mohon maaf Pak Pendeta, saya memang sering menghubung-hubungkan dengan keadaan nyata di sekeliling saya.</p>
<p>Pertanyaannya, mohon diterangkan maksud perikop tersebut di atas. Atas pencerahannya terima kasih.</p>
<p>S.U di Jakarta</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Saudara SU yang baik,</p>
<p>Memang perikop ini merupakan perikop yang tidak mudah kita pahami. Karena itu kita harus berhati-hati membaca perikop ini agar kita dapat menangkap maknanya. Baiklah, mari kita melihat sekali lagi perikop ini:</p>
<p>1.	Perikop ini adalah sebuah perumpamaan, dan pujian kepada bendahara yang tidak jujur itu datang dari sang tuan yang ada dalam perumpamaan itu. Apakah itu berarti mewakili pujian dari Yesus? Dalam konteks perumpamaan ini, sang tuan tidak mewakili Allah atau Yesus. Karena itu kita harus berhati-hati untuk tidak secara langsung menghubungkan sang tuan dengan Allah atau Yesus. Sang tuan ya adalah sang tuan dalam kisah perumpamaan itu. Bukankah dalam sebuah alur perumpamaan bisa saja muncul pujian dari siapapun dan dalam situasi apapun?</p>
<p>2.	Coba perhatikan pujian dari sang tuan: “Lalu tuan itu memuji bendahara YANG TIDAK JUJUR ITU, karena ia telah bertindak dengan CERDIK.” Artinya, tetap disadari bahwa bendahara itu TIDAK JUJUR. Yang dipuji bukanlah KETIDAKJUJURAN si bendahara, melainkan KECERDIKAN si bendahara dalam merespons situasi yang dihadapinya. Itulah sebabnya Yesus kemudian menambahkan kalimat: “Sebab ANAK-ANAK DUNIA ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada ANAK-ANAK TERANG”. Dengan sangat jelas Yesus menyejajarkan bendahara yang tidak jujur itu dengan anak-anak dunia. Dalam hal ini Yesus tidak pernah memuji bendahara yang tidak jujur itu atas ketidakjujurannya. Tetapi soal kecerdikan, anak-anak terang kadang harus belajar dari anak-anak dunia tetapi tetap dengan cara yang bisa dipertanggungjawabkan sebagai anak-anak terang. Bukankah kita dipanggil untuk CERDIK seperti ular dan TULUS seperti merpati? (Matius 10:16).</p>
<p>3.	Yang terakhir, sebagai penutup dari perumpamaan itu, Yesus berkata: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, KAMU DITERIMA DI DALAM KEMAH ABADI. Mamon adalah dewa uang, dan sering diidentikkan dengan uang. Bagi Yesus, uang tetap diperlukan oleh anak-anak terang, tetapi tetap harus disadari bahwa yang paling penting adalah TETAP DITERIMA DALAM KEMAH ABADI. Jadi, Yesus tetap mementingkan kebaikan yang membuat kita dapat diterima dalam kemah abadi. Namun melalui perumpamaan ini, Yesus sedang memberikan tantangan buat kita. Kalau anak-anak dunia bisa memakai kecerdikan untuk hal yang tidak baik, mengapa kita sebagai anak-anak terang tidak memakai kecerdikan untuk hal-hal yang baik?</p>
<p>Nah, semoga melalui penjelasan ini, menjadi jelas apa makna pujian dari sang tuan dalam perumpamaan Yesus ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bendahara-yang-tidak-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Babi-babi Kesurupan dan Masuk Jurang, Kenapa Tuhan Yesus tidak Kasihan pada Pemiliknya?</title>
		<link>http://gkipi.org/babi-babi-kesurupan-dan-masuk-jurang-kenapa-tuhan-yesus-tidak-kasihan-pada-pemiliknya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/babi-babi-kesurupan-dan-masuk-jurang-kenapa-tuhan-yesus-tidak-kasihan-pada-pemiliknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 01:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4635</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pendeta, Sebagai awam terkadang saya merasa lucu mendengar kisah dalam Alkitab, contoh kisah di Matius 8, kisah Yesus mengusir setan yang lantas merasuk ke tubuh babi-babi. Dan terang saja babi-babi menjadi kesurupan dan nyemplung ke jurang. Pertanyaannya, kenapa Yesus tidak kasihan kepada pemilik babi tersebut. Mohon maaf, pertanyaan saya mungkin terlalu dangkal tapi saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pendeta,</p>
<p>Sebagai awam terkadang saya merasa lucu mendengar kisah dalam Alkitab, contoh kisah di Matius 8, kisah Yesus mengusir setan yang lantas merasuk ke tubuh babi-babi. Dan terang saja babi-babi menjadi kesurupan dan nyemplung ke jurang. Pertanyaannya, kenapa Yesus tidak kasihan kepada pemilik babi tersebut. Mohon maaf, pertanyaan saya mungkin terlalu dangkal tapi saya memang tidak mengerti. Terima kasih. Salam</p>
<p>NN-pengunjung setia</p>
<p>www.gkipi.org</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Saudara NN yang baik,</p>
<p>Kisah penyembuhan dua orang yang kerasukan (Mat. 8:28-34) diawali dengan kisah seseorang yang ingin mengikut Yesus (Mat. 8:18-21). Nah, kisah penyembuhan orang yang kerasukan ini harus dibaca dalam terang kisah orang yang ingin mengikut Yesus. Hidup Yesus adalah sebuah kehidupan yang penuh kasih. Kasih yang Ia demonstrasikan kepada siapapun yang menderita. Dalam rangka itu, Yesus rela mengorbankan segalanya, bukan hanya hartanya tetapi bahkan nyawa-Nya. Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengikut Yesus juga harus rela berkorban demi mewujudkan kasih kepada yang menderita.</p>
<p>Kisah penyembuhan orang yang kerasukan mau mengajarkan kepada kita, bahwa demi kesembuhan orang itu, maka Yesus rela mengorbankan babi-babi yang ada di situ. Bukankah kasih kadang menuntut pengorbanan yang seperti itu? Kita rela mengorbankan harta benda kita demi menyekolahkan anak kita, atau menyembuhkan kekasih kita yang sedang sakit. Nyawa orang yang kerasukan itu jauh lebih berharga dari nyawa babi-babi itu.</p>
<p>Apakah berarti Yesus tidak sayang kepada pemilik babi-babi itu? Tentu Yesus menyayangi setiap manusia termasuk pemilik babi-babi itu. Namun dalam konteks penyembuhan ini Yesus ingin mengajarkan, bahwa demi kasih kepada sesama, kadang kita harus merelakan untuk mengorbankan harta kita.</p>
<p>Sikap pemilik babi yang marah pada Yesus, secara manusiawi dapat kita pahami. Tetapi ingat, kisah ini harus dibaca dalam terang ‘mengikut Yesus’. Ternyata si pemilik babi itu belum siap untuk mengikut Yesus. Ketidaksiapan mereka itu didemonstrasikan dengan cara mendesak Yesus untuk meninggalkan daerah mereka (Mat. 8:34). Buat mereka, babi-babi itu lebih berharga ketimbang nyawa orang yang kerasukan.</p>
<p>Bukankah sikap si pemilik babi itu kadang juga menjadi sikap kita? Kita mengaku pengikut Kristus namun pada kenyataannya kita tidak siap untuk mengorbankan milik kita demi cinta kita kepadaNya dan kepada sesama. Jadi, bukannya Yesus tidak sayang kepada pemilik babi, tetapi situasi waktu itu menuntut agar Yesus memilih antara babi dan orang yang kerasukan itu. Tentu Yesus lebih memilih untuk menolong orang yang kerasukan dan mengorbankan babi-babi itu (Mat. 8:32). Kisah ini tidak mengatakan bahwa ada pilihan lain di luar babi-babi itu. Kisah ini memperhadapkan Yesus hanya kepada pilihan antara babi atau orang yang kerasukan! Pilihan itu diwakili oleh suara setan-setan yang menuntut Yesus untuk menentukan pilihan-Nya (Mat. 8: 31).</p>
<p>Kadang hidup memperhadapkan kita juga hanya pada dua pilihan, harta atau menolong sesama. Dalam situasi ekstrem semacam itu, mana yang kita pilih? Itulah inti pengajaran dari kisah penyembuhan orang yang kerasukan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/babi-babi-kesurupan-dan-masuk-jurang-kenapa-tuhan-yesus-tidak-kasihan-pada-pemiliknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hipnoterapi</title>
		<link>http://gkipi.org/hipnoterapi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/hipnoterapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 02:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pastoralia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4444</guid>
		<description><![CDATA[Pak Pendeta, Belakangan ini kita sering mendengar dan melihat banyak cara penyembuhan dalam kehidupan di masyarakat maupun melalui tayangan TV. Banyak di antaranya dengan terapi. Pertanyaannya, apa pendapat gereja terutama penganut iman kristiani khususnya GKI mengenai hipnoterapi, terapi kesehatan, mental dan lain-lain dengan cara konseling dan hipnotis? Atas pencerahan dari Bapak, terima kasih. M di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Pendeta,</p>
<p>Belakangan ini kita sering mendengar dan melihat banyak cara penyembuhan dalam kehidupan di masyarakat maupun melalui tayangan TV. Banyak di antaranya dengan terapi. Pertanyaannya, apa pendapat gereja terutama penganut iman kristiani khususnya GKI mengenai hipnoterapi, terapi kesehatan, mental dan lain-lain dengan cara konseling dan hipnotis?</p>
<p>Atas pencerahan dari Bapak, terima kasih.</p>
<p>M di Jakarta</p></blockquote>
<p>Jawab:</p>
<p>Saudara M yang tertarik dengan hipnoterapi. Sebagai orang beriman, saya memahami bila Anda mempertanyakan hipnoterapi. Karena berita yang sering kita dengar tentang hipnotis memang kadang berada di luar jangkauan pemikiran kita. Selain itu, berita mengenai hipnotis biasanya berkaitan dengan sebuah kejahatan. Misalnya: orang yang ditepuk dari belakang lalu menjadi tidak sadar dan kemudian dikuras hartanya.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan hipnoterapi? Hipnoterapi adalah penggunaan hipnotis untuk terapi, misalnya menghilangkan ketakutan pada hal tertentu, menghilangkan rasa sakit pada proses melahirkan bahkan juga dapat dipakai untuk mengatasi berbagai kasus adiksi (ketagihan). Beberapa persoalan seksual juga dapat dibantu dengan hipnoterapi.</p>
<p>Hipnotis yang dipakai dalam hipnoterapi adalah ilmiah. Untuk menjelaskan keilmiahan hipnotis, saya perlu menjelaskan terlebih dahulu tentang 4 gelombang yang ada dalam aktivitas otak manusia dan dapat diukur dengan alat EEG. Keempat gelombang otak tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Gelombang otak Beta. Gelombang otak ini muncul ketika manusia sadar dan sedang bekerja/beraktivitas.</li>
<li>Gelombang otak Alpha. Gelombang otak ini muncul ketika manusia berada dalam kondisi relaksasi.</li>
<li>Gelombang otak Theta. Gelombang otak ini muncul ketika manusia berada dalam kondisi setengah sadar, melamun.</li>
<li>Gelombang otak Delta. Gelombang otak ini muncul ketika manusia berada dalam kondisi tidur.</li>
</ol>
<p>Hipnotis adalah suatu teknik untuk membawa manusia dari kondisi Beta ke kondisi Alpha, Theta atau Delta. Pada kondisi ini, si terapis bisa memberikan sugesti kepada klien untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Semua prosesnya ilmiah dan harus disetujui terlebih dahulu oleh klien.</p>
<p>Jadi hipnoterapi yang baik dan benar tidak perlu Anda takuti. Semuanya ilmiah dan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Caranya pun tidak seperti penjahat yang menepuk punggung seseorang dan membuatnya tidak sadar. Bukan seperti itu! Tidak mungkin saya menceritakan teknik hipnoterapi di forum ini karena bisa sangat panjang. Intinya, seseorang yang menyetujui untuk dilakukan hipnoterapi, diajak untuk melakukan relaksasi dengan cara tertentu. Dengan demikian orang ini memasuki tahapan Alpha. Setelah itu dengan teknik induksi, orang ini akan dibawa ke tahapan Theta atau bahkan Delta. Baru kemudian dilakukan sugesti sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Beberapa persoalan konseling kadang membutuhkan hipnoterapi. Misalnya untuk mencari akar permasalahan masa lalu, begitu juga dengan penyembuhan luka batin.</p>
<p>Hipnotis tentu dapat diselewengkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan dapat dipakai untuk melakukan kejahatan. Oleh karena itu, untuk berjaga-jaga, ada beberapa hal yang harus anda perhatikan berkaitan dengan hipnoterapi:</p>
<ol>
<li>Harus ada permintaan persetujuan dari Anda selaku klien</li>
<li>Harus melalui tahapan relaksasi. Karena itu, terlebih dahulu Anda dapat menanyakan bagaimana prosesnya.</li>
<li>Karena Anda akan dibawa kekondisi ’tidur’ (Yun: hypnos) maka sebaiknya Anda didampingi oleh teman/keluarga, atau orang yang Anda percaya.</li>
<li>Seharusnya si terapis tidak terganggu dengan kehadiran teman/pendamping Anda.</li>
<li>Si terapis harus memiliki sertifikat yang menunjukkan kemampuannya untuk melakukan hipnoterapi.</li>
</ol>
<p>Nah, semoga penjelasan ini membantu Anda untuk makin memahami hipnoterapi!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/hipnoterapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

