<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/kontemplasi/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Berjuang, Tabah dan  Berserah</title>
		<link>http://gkipi.org/berjuang-tabah-dan-berserah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/berjuang-tabah-dan-berserah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7325</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup kita dapat dibandingkan dengan pelayaran sebuah bahtera atau kapal di laut lepas. Terkadang ia menikmati cuaca yang cerah, matahari yang memberikan kehangatan dan angin sepoi-sepoi yang menawarkan kenyamanan. Tetapi tidak jarang pula bahtera kita mesti berlayar dalam keadaan yang tidak ideal, dalam badai dan petir yang menyambar-nyambar. Dan memang seperti itulah hidup ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan hidup kita dapat dibandingkan dengan pelayaran sebuah bahtera atau kapal di laut lepas. Terkadang ia menikmati cuaca yang cerah, matahari yang memberikan kehangatan dan angin sepoi-sepoi yang menawarkan kenyamanan. Tetapi tidak jarang pula bahtera kita mesti berlayar dalam keadaan yang tidak ideal, dalam badai dan petir yang menyambar-nyambar. Dan memang seperti itulah hidup ini. Ia mempunyai pasang-surutnya sendiri.</p>
<p>Dalam kitab Kisah Para Rasul 27, kita membaca kisah perjalanan rasul Paulus ke Roma. Kisah yang bagi banyak orang mungkin tidaklah terlalu istimewa. Tetapi bila kita simak dengan baik, bahkan dengan &#8220;kacamata yang khusus,&#8221; niscaya kita akan menemukan butir-butir mutiara yang berharga bagi perjalanan hidup kita, khususnya di tahun 2012 yang relatif masih baru ini. Kita bahkan dapat mengidentifikasikan diri dengan perjalanan Paulus ini.</p>
<p>Pelayaran Paulus menuju ke kota Roma itu adalah sesuatu yang sejak lama sangat diidamkannya. Paulus ingin sekali ke sana untuk mengabarkan Injil kebenaran dan kasih Kristus. Sebab bila ia telah mencapai Roma, maka ia akan dapat melanjutkan misinya ke Spanyol dan ke segala &#8220;sudut dunia.&#8221; Kini, ia memang melakukan perjalanan ke Roma, namun dengan kondisi yang amat berbeda. Bersama beberapa tawanan lain, dengan dikawal oleh sebuah satuan militer di bawah pimpinan perwira Yulius, Paulus menuju ke Roma untuk diadili di hadapan Kaisar. Tetapi, bagaimana pun, ia menuju ke Roma. Bukankah memang demikian perjalanan hidup ini? Pada akhirnya bukan kitalah yang dapat menentukannya.</p>
<p>Kembali ke perjalanan Paulus, tak lama setelah meninggalkan pelabuhan terakhir, kapal yang ditumpangi Paulus dilanda angin badai (ayat 14). Sebenarnya Paulus sempat mengingatkan semua orang bahwa perjalanan mereka di musim badai pada waktu itu akan terlalu berbahaya. Tetapi para pengawal Paulus lebih memercayai para awak kapal yang tidak terlalu memerhatikan peringatan itu. Dan ternyata kapal itu tidak tahan dalam badai, dan tak dapat dikendalikan sesuai dengan arah angin, sehingga kemudian dibiarkan terombang-ambing. Akhirnya ia hanyut sampai di pulau Kauda, lalu dengan susah-payah ia dapat dikuasai kembali.</p>
<p>Ya, begitulah hidup ini bukan? Selalu ada “ups &amp; downs.” Tidak bisa tidak. Hanya pertanyaannya: &#8220;Apakah yang lalu kita perbuat, ketika menghadapi keadaan serupa?&#8221; Menyerah, atau berupaya sebisa kita? Ini bukan pertanyaan sederhana, karena di baliknya terdapat berbagai pemikiran yang penting. Apakah kita menyerah atau pasrah saja, dengan alasan bahwa Tuhanlah yang menentukan segalanya? Atau justru kita harus berbuat sebisa kita untuk mengatasi persoalan-persoalan kita, entah bersama, entah tanpa Tuhan?</p>
<p>Bagaimanapun, awak kapal yang ditumpangi Paulus tidak menyerah! Mereka melakukan beberapa tindakan mutlak yang diperlukan dalam situasi semacam itu, agar dapat bertahan hidup. Di titik ini pun kita dapat dengan mudah mengidentifikasikan diri dengan semacam &#8220;manajemen krisis&#8221; ini. Tindakan yang belum tentu diinginkan, tetapi yang memang harus dilakukan. Namun yang dalam praktik tidaklah mudah.</p>
<p>Pertama-tama, tubuh kapal diperkokoh para awak kapal dengan cara melilitinya dengan tali (ayat 17). Memang, karena toh tidak dapat melawan kekuatan angin, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memperkuat daya tahan kapal. Sewaktu-waktu kapal dapat dihempaskan angin pada tebing karang. Dan tindakan itu adalah demi membatasi sebesar mungkin kerusakan yang dapat terjadi. Kita pun dalam situasi yang sama dapat mengamini tindakan ini.</p>
<p>Memang Tuhan yang menentukan segala sesuatu. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak berbuat apa pun, menyerah. Atau &#8220;atas nama ketaatan&#8221; justru membiarkan Tuhan yang berjuang untuk kita. Mestinya justru sebaliknya! Kalaupun harus terhempas oleh arus kehidupan yang terkadang amat ganas, mestinya kita perkuat daya tahan diri kita dengan mengokohkan motivasi dan kemauan untuk berjuang! Dan Tuhan telah memperlengkapi kita dengan berbagai hal untuk itu.</p>
<p>Tindakan berikut yang dilakukan para awak kapal adalah menurunkan layar dan membiarkan diri terapung-apung (ayat 17). Alasannya sederhana dan logis. Bila layar dikembangkan, kemungkinan kapal dihempaskan angin pada tebing karang akan lebih besar. Namun memang dengan demikian mereka hanya akan berputar-putar, tidak mengalami kemajuan. Tetapi paling tidak, lebih aman.</p>
<p>Terkadang dalam hidup kita pun, kita harus berani untuk “tidak melangkah” bahkan &#8220;melangkah surut ke belakang.&#8221; Banyak orang tidak setuju dengan cara ini. Menurut mereka, apapun yang terjadi, kita harus terus maju. Namun dalam praktik, tekad seperti ini tidak selalu mungkin. Bahkan cukup berbahaya. Contohnya adalah sebuah mesin yang tidak mungkin dinyalakan terus-menerus. Ada saat-saat ketika mesin itu harus diservis, yang berarti berhenti dioperasikan. Dan contoh yang lebih akrab dengan kita adalah tubuh kita sendiri, yang selalu butuh istirahat, bahkan terkadang sakit, agar bisa berfungsi kembali dengan lebih baik. Dan inilah makna positifnya. Berhenti atau melangkah surut, adalah agar mampu melangkah lagi ke depan, dan bukan sekadar menyerah.</p>
<p>Tindakan yang terakhir dilakukan para awak kapal adalah membuang muatan kapal, bahkan kemudian karena terpaksa, berbagai peralatan kapal (ayat 18-19). Sebab adalah lebih baik kehilangan muatan, bahkan segala peralatan daripada kehilangan kapal itu sendiri, atau kehilangan nyawa. Setiap orang niscaya sepakat dengan prinsip ini. Tetapi biasanya hal ini jauh lebih mudah dikatakan ketimbang dilaksanakan.</p>
<p>Tidak jarang dalam masa krisis, kita enggan melakukan tindakan penyelamatan yang terakhir ini. Begitu &#8220;terikatnya&#8221; kita dengan &#8220;berbagai muatan kapal&#8221; sehingga kita lebih cenderung menyelamatkan muatan daripada kapalnya. Keterikatan kita pada hal-hal yang sekunder, seperti materi, gengsi/harga diri, kedudukan dan seterusnya, dapat membuat kita keliru menentukan prioritas. Dan hal itu terjadi karena kita tidak lagi dapat melihat dan memahami apa yang hakiki dalam hidup kita.</p>
<p>Tindakan-tindakan yang diambil awak kapal Paulus, adalah tindakan-tindakan yang mutlak perlu untuk menyelamatkan kapal bahkan nyawa semua penumpangnya. Tindakan-tindakan yang juga perlu kita lakukan dalam keadaan krisis yang kurang lebih sama dalam hidup kita. Kita tak tahu apa yang akan kita hadapi di tahun 2012. Terutama bila kita memperhatikan berbagai isyarat atau pertanda yang mengawali tibanya tahun ini. Baik itu berbagai bencana alam, mau pun prediksi ekonomi yang tidaklah cerah. Mempertimbangkan itu semua, bisa jadi tindakan-tindakan itu akan perlu kita lakukan. Adalah selalu bijaksana untuk menyiapkan payung sebelum hujan.</p>
<p>Namun pada titik ini kita harus juga siap untuk menghadapi kenyataan bahwa walaupun segala tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan, bisa saja keadaan tidak membaik. Apalagi mengingat bahwa semuanya ini bukan di tangan kita. Sebab bagaimana pun, semua tindakan yang logis, yang perlu dan bagus tadi, bukanlah jaminan bahwa keadaan kita akan membaik, atau persoalan-persoalan kita pasti akan teratasi. Tetapi lalu bagaimana? Di sini, selain kita perlu belajar dari para awak kapal yang tidak gampang menyerah, kita juga mesti belajar dari Paulus sendiri.</p>
<p>Ketika semua tindakan yang perlu telah diambil dan kapal tetap dalam bahaya. Beberapa hari kapal yang ditumpangi Paulus terapung-apung diancam badai yang tak kunjung reda. Maka akhirnya putuslah segala harapan untuk selamat. Pada saat yang menentukan itu, Paulus tampil (ayat 22) dan menasihati mereka agar tetap tabah. Menurut Paulus, walau kapal akan hancur, semua penumpang tanpa kecuali, akan selamat. Maka Paulus menasihati semua orang untuk tetap tenang, jangan panik, tabah, bahkan tetap optimis. Inilah memang yang pada akhirnya diperlukan, dalam tiap situasi krisis.</p>
<p>Namun hal itu terdengar seperti nasihat murah yang biasa diberikan orang, atau yang pernah dengan mudah kita berikan kepada orang lain. Apakah dasar Paulus memberikan nasihatnya itu? Bagi Paulus sendiri dasarnya amat jelas, yaitu percayanya kepada TUHAN! Tetapi tidakkah ini kelewat sederhana? Tidakkah ini terlalu fatalistis? Memang amat sederhana: Paulus percaya! Tetapi kepercayaan Paulus di sini sama sekali tidak fatalistis.</p>
<p>Dalam situasi yang begitu sulit, Paulus tetap dapat tenang, tabah dan optimis, karena ia percaya kepada Tuhan, dan ia memegangi apa yang dikatakan serta dijanjikan TUHAN kepadanya (ayat 22-25). Paulus percaya bahwa bila TUHAN berjanji, IA niscaya akan mewujudkannya. Tetapi kapan? Entah. Ia tak dapat memastikannya, tetapi pada suatu saat ia yakin janji Tuhan itu pasti akan terlaksana. Sedikit pun ia tak ragu. Di sinilah kita dapat menyaksikan makna yang terdalam dan praktis–dalam praktik hidup–dari iman yang berarti memercayakan diri.</p>
<p>Semua usaha yang diperlukan harus dilakukan, tetapi semua usaha itu mesti dilandaskan pada kepasrahan atas janji-Nya. Namun di sini kita perlu berhati-hati. Janji-Nya tidaklah selalu identik dengan dambaan kita sendiri. Janji-Nya berdasar pada kehendak-Nya, karena Tuhanlah yang sungguh-sungguh tahu apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya. Maka seninya adalah bagaimana menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dengan janji-Nya!</p>
<p>Biarlah ini menjadi pegangan kita menjalani tahun 2012 yang masih panjang ini. Tak ada yang pasti betapa pun kita memprediksikannya, baik secara ilmiah, mau pun secara emosional, bahkan dengan menggunakan jasa paranormal. Yang pasti hanyalah Tuhan dan janji-Nya.</p>
<p>Mari kita kuatkan diri dengan mengokohkan motivasi dan kemauan untuk berjuang. Lalu bila perlu kita berhenti di tempat, atau bahkan melangkah surut demi mempersiapkan langkah selanjutnya. Kemudian kita tetapkan prioritas yang tepat atas berbagai aspek hidup, serta sungguh-sungguh memegangi yang hakiki dalam hidup kita. Namun semua itu harus kita dasarkan pada janji-Nya semata-mata. Sehingga kiranya kita mampu serta berani, untuk berjuang, tabah dan berserah.</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susiloradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/berjuang-tabah-dan-berserah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kami Telah Melihat Bintang-Nya</title>
		<link>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintang-nya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintang-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 15:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7088</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah gereja dan sejarah agama-agama selain dipenuhi oleh kasih dan keluhuran ajaran agama-agama tersebut, juga dipenuhi oleh sejarah rivalitas antar agama,     pengkafiran kelompok lain, bahkan upaya politisasi ayat suci untuk kepentingan kelompok tertentu. Sampai sekarang kita melihat jejak sejarah rivalitas dan pengkafiran tersebut dalam bentuk pelarangan kegiatan keagamaan dan ungkapan penuh kebencian yang ditujukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah gereja dan sejarah agama-agama selain dipenuhi oleh kasih dan keluhuran ajaran agama-agama tersebut, juga dipenuhi oleh sejarah rivalitas antar agama,     pengkafiran kelompok lain, bahkan upaya politisasi ayat suci untuk kepentingan kelompok tertentu. Sampai sekarang kita melihat jejak sejarah rivalitas dan pengkafiran tersebut dalam bentuk pelarangan kegiatan keagamaan dan ungkapan penuh kebencian yang ditujukan kepada kelompok lain yang tidak sealiran. Ketika si Protestan mensesatkan si Katolik, ketika si Ahmadiyah diburu sampai habis, ketika si Fundamentalis merasa benar sendiri dan yang lain salah bahkan sesat. Di sepanjang sejarah tersebut bertaburan rona merah darah, bak darah bayi tak berdosa di Bethlehem.</p>
<p>Merenungkan sejarah rivalitas dan pengkafiran antar agama tersebut, maka kisah para Majusi lalu menjadi menarik. Siapakah orang Majus ini? Alkitab hanya menyebutkan bahwa mereka adalah orang yang datang dari Timur. Menurut tradisi, para Majusi ini adalah penganut agama Zoroaster dari Persia. Apapun itu, mereka adalah &#8216;kelompok lain&#8217;, bukan Yahudi dan tentu bukan Kristen. Mereka juga memakai &#8216;bahasa lain&#8217; dalam melihat kedatangan Kristus. Bukan bahasa teks suci, juga bukan bahasa nubuat nabi, tetapi &#8216;bahasa bintang&#8217;. Itulah bahasa yang mereka pahami, karena konon kabarnya, mereka adalah ahli perbintangan, astrolog dari Persia kuno.</p>
<p>Justru di sinilah menariknya! Dalam kerangka berpikir Yahudi, para Majusi jelas bukan bangsa pilihan. Bahasa religius yang mereka pakai tidak berdasar teks suci dan nubuat nabi, tetapi &#8216;bahasa bintang&#8217;. Jelas mereka dapat dikategorikan sebagai &#8216;sesat&#8217; atau &#8216;kafir&#8217;. Tetapi, alih-alih mengkafirkan, Allah justru menyapa mereka dengan menggunakan bahasa religius yang mereka pahami, yaitu &#8216;bahasa bintang&#8217;. Secara khusus Allah menciptakan &#8216;bintang Bethlehem&#8217; buat mereka. Bagi mereka teks suci dan nubuat nabi tidak punya arti, tetapi &#8216;bahasa bintang&#8217; sungguh amat berarti. &#8220;Kami telah melihat bintang-Nya!&#8221;</p>
<p>Di Yerusalem, para imam dan ahli Taurat memakai bahasa teks suci dan nubuat nabi. Saya kira para Majusi tidak sepenuhnya paham bahasa religius yang berdasar teks suci itu. Karena itulah ketika mereka melanjutkan perjalanan ke Bethlehem, mereka kembali memakai &#8216;bahasa bintang&#8217;. Alkitab mencatat, bahwa bintang itu mendahului mereka dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada. Bagaimana sebuah bintang di langit dapat berhenti tepat di atas tempat di mana Kristus berada? Anda sulit memahaminya, bukan? Tentu Anda tidak paham, karena itu adalah &#8216;bahasa bintang&#8217; yang hanya dipahami para Majusi. Apapun itu, Allah menyapa mereka, tidak mengkafirkan mereka, bahkan memakai &#8216;bahasa religius&#8217; yang mereka pahami untuk menyapa mereka!</p>
<p>Sapaan Allah kepada para Majusi, berlawanan dengan respons Herodes. Ia jelas memahami teks suci, dan justru karena ia paham, maka muncullah rivalitasnya. Ia merasa kedudukannya terancam dan karena itu memerintahkan pembunuhan anak di Bethlehem. Rivalitas memang kerap bermuara pada kebencian, pengkafiran bahkan pertumpahan darah! Apa yang dilakukan Herodes kepada bayi di Bethlehem adalah contohnya. Lalu mengapa sebagai anak Tuhan kita tidak meneladani Allah yang hadir dengan kasih-Nya bagi segala bangsa? Allah yang menyapa para majusi dan tidak mengkafirkan mereka? Bahkan Allah yang berempati, mencoba memahami cara berpikir mereka, memakai bahasa religius mereka untuk menyatakan kasih dan anugerah-Nya.</p>
<p>Sapaan Allah kepada para Majusi menghasilkan sesuatu yang sangat indah. Mereka menyatakan hormat kepada sang Putera Allah. Mereka menyembah sang Putera Allah dan memberikan persembahan harta benda, lalu mereka pulang ke negerinya. Tidak ada pembaiatan di sana, tidak ada penyunatan di sana, tidak ada pengyahudian apalagi pengkristenan! Mereka tetap para Majusi. Adakah yang berubah dari mereka? Ada! Kalau pada awal kedatangan mereka memakai &#8216;bahasa bintang&#8217; yang sangat jauh dari tradisi keyahudian, pada waktu pulang mereka memakai &#8216;bahasa mimpi&#8217; yang sedikit banyak lebih dekat dengan tradisi keyahudian.</p>
<p>&#8220;Kami telah melihat bintang-Nya!&#8221; Sebuah kalimat yang sederhana namun bermakna luar biasa! Dalam kalimat itu kita belajar tentang Allah yang mau berdialog, menyapa para Majusi dengan bahasa religius mereka. Alih-alih mengkafirkan, Allah malahan merangkul mereka. Sebuah dialog yang mendekatkan para Majusi bukan hanya pada Putera Allah, tetapi juga keyahudian. Indah bukan?</p>
<p>SELAMAT NATAL! Mari tanggalkan semangat rivalitas dan upaya pengkafiran. Mari belajar merangkul dan berdialog dengan sesama yang berbeda agama. Damai di bumi, damai di hati dan damai dengan sesama, apa pun agama dan keyakinan mereka!</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintang-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAN, HARAP, KASIH:  Nilai-Nilai yang Diwariskan</title>
		<link>http://gkipi.org/iman-harap-kasih-nilai-nilai-yang-diwariskan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/iman-harap-kasih-nilai-nilai-yang-diwariskan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 15:32:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6925</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi keluarga Kristen yang sungguh-sungguh memancarkan nilai-nilai kekristenan dalam hidup dan lakunya, bukanlah hal yang mudah. Dunia, tempat di mana kita hidup dan membangun relasi, juga memberikan nilai-nilainya, yang tampaknya lebih menarik dan mudah untuk dilakukan. Godaan untuk meninggalkan nilai-nilai ilahi begitu kuat kita alami dalam tantangan zaman ini. Lima tantangan keluarga Kristen masa kini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi keluarga Kristen yang sungguh-sungguh memancarkan nilai-nilai kekristenan dalam hidup dan lakunya, bukanlah hal yang mudah. Dunia, tempat di mana kita hidup dan membangun relasi, juga memberikan nilai-nilainya, yang tampaknya lebih menarik dan mudah untuk dilakukan. Godaan untuk meninggalkan nilai-nilai ilahi begitu kuat kita alami dalam tantangan zaman ini.</p>
<p>Lima tantangan keluarga Kristen masa kini antara lain:</p>
<ol>
<li>Persaingan. Tiap hari kita diperhadapkan dengan persaingan untuk mempertahankan diri. Persaingan sering kali menempatkan sesamanya sebagai pihak yang harus dikalahkan agar tujuan tercapai.</li>
<li>Kambing Hitam. Berkaitan dengan persaingan yang makin kuat, maka kebiasaan “mencari kambing hitam” kerap terjadi karena tiap orang berusaha untuk menghindar dari tanggung jawabnya.</li>
<li>Egoisme. Egoisme berarti tidak pernah memberikan ruang bagi orang lain. Seluruh kepentingan hanya tertuju kepada diri sendiri.</li>
<li>Bersikap setia kepada Tuhan. Godaan untuk mengingkari Kristus atas nama kebutuhan dan fasilitas menjadi sebuah tawaran yang sangat menggiurkan ketimbang mempertahankannya dan menghadapi banyak tekanan dan kesulitan.</li>
<li>Berpihak kepada mereka yang lemah. Seiring dengan semakin menguatnya persaingan yang membuat tiap orang memikirkan kepentingannya, maka dampaknya tidak ada tempat bagi mereka yang lemah. Posisi mereka akan semakin tertindas karena pementingan diri selalu mengorbankan mereka yang tidak berdaya.</li>
</ol>
<p>Bukankah tantangan zaman ini begitu dekat dengan segala aktivitas dan relasi kita? Bagaimana keluarga Kristen menyikapinya? Apakah kita bersikap tidak peduli dan membiarkan tantangan zaman melunturkan dan merontokkan nilai-nilai kekristenan?</p>
<p>Panitia Bulan Keluarga mengajak anggota jemaat dan simpatisan untuk bersikap aktif melawan nilai-nilai duniawi dan berpegang teguh pada nilai-nilai ilahi. Nilai-nilai itu adalah iman, harap dan kasih. Nilai inilah yang menjadi tema Bulan Keluarga: Iman, Harap, Kasih: Nilai-Nilai yang Diwariskan.</p>
<p>Diwariskan: sebagai wujud upaya keluarga melahirkan generasi demi generasi yang takut akan Tuhan. Perkembangan dunia dan tantangannya akan semakin berat dan kompleks, untuk itu ketika keluarga menanamkan nilai ilahi sejak dini, diharapkan nilai inilah yang membangun tiap umat menjadi keluarga, jemaat, bangsa yang takut akan Tuhan.</p>
<p>1 Korintus 13:13, &#8220;Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.&#8221;</p>
<p>Iman adalah sikap mengakui serta tunduk kepada kemahakuasaan Allah sekaligus mengandung unsur penyerahan diri secara penuh dan kemauan untuk menaati apa yang menjadi tuntutan dari penyerahan diri tersebut. Artinya, beriman adalah sikap mengakui, tunduk, berserah dan taat kepada Sang Khalik. Pada hakikatnya, iman adalah suatu tindakan yang melibatkan seluruh kepribadian manusia secara utuh. Iman bukan hanya soal hati tapi kesatuan totalitas keberadaan diri manusia kepada Allah.</p>
<p>Pengharapan dinyatakan dalam Ibrani 6:19-20, &#8220;Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia menurut pengertian Melkisedek, menjadi imam Besar sampai selama-lamanya.&#8221;</p>
<p>Pengharapan adalah respons dari iman kita kepada Allah. Pengharapan lebih dari sekadar sikap optimis, sebab pengharapan kita terletak pada kekuasaan Allah yang dapat mengubah kehidupan menjadi baik. Dasar pengharapan orang percaya adalah terwujudnya Kerajaan Allah di bumi seperti di surga.</p>
<p>Kasih menjadi yang utama, yang membungkus iman dan pengharapan. Iman tanpa kasih menjadi dingin dan pengharapan tanpa kasih menjadi suram. Paulus mengawali uraiannya dengan karunia tetapi semua karunia tanpa kasih, tidak mempunyai makna. Kasih adalah api yang menyalakan iman dan cahaya yang mengubah pengharapan menjadi kepastian (William Barclay).</p>
<p>Nilai iman, harap dan kasih ini menjadi sangat relevan bagi keluarga dalam menghadapi pergumulan hidup di tengah-tengah tantangan zaman. Nilai ini yang memampukan keluarga bertahan di tengah badai dengan tidak meragukan kuasa Allah. Pengharapan yang membakar kekuatan untuk bertahan dan tidak jatuh kepada keputusasaan. Kasih menyirami kehidupan dengan keteduhan, kelembutan, ketulusan dan pengorbanan. Nilai yang melebihi warisan materi, nilai yang tidak akan pudar oleh perkembangan zaman dan tidak lekang oleh waktu.</p>
<p>Kiranya melalui momen Bulan Keluarga tahun ini, tiap keluarga kembali termotivasi untuk membangun dan menumbuhkan nilai iman, harap, dan kasih sebagai nilai-nilai pendidikan dalam keluarga. Nilai-nilai yang menjadi warisan untuk menghadapi segala pergumulan keluarga di tengah dunia dengan tetap memancarkan kemuliaan Allah.</p>
<p>Bukan hanya pergumulan keluarga inti yang kita lewati dengan nilai iman, harap dan kasih, tetapi juga pergumulan keluarga jemaat Tuhan di GKI Pondok Indah. Begitu banyak upaya yang terus kita lakukan untuk mewujudkan tri-tugas panggilan gereja. Tugas ini tidak mudah, banyak hambatan dan tantangan zaman yang menghadang, tetapi hal itu tidak akan menghentikan kita untuk terus berjuang menghadirkan kemuliaan nama Allah di tengah dunia.</p>
<p>Secara khusus kita terus menggumulkan pembangunan dan program Community Center. Program yang lahir dari sebuah kerinduan untuk melayani Tuhan lebih luas lagi. GKI Pondok Indah sebagai sebuah keluarga, terpanggil untuk menunjukkan sikap kasih dengan mengembangkan sikap kepedulian kepada mereka yang lemah, mengikis keegoisan sebagai bentuk imannya kepada Allah. Amat disadari bahwa program ini adalah sebuah program besar yang sering kali memunculkan keraguan apakah semua ini dapat terwujud?</p>
<p>Untuk itu sebagai sebuah keluarga jemaat Allah, melalui momen Bulan Keluarga ini, kita diajak bergandengan tangan dalam iman, harap dan kasih untuk mewujudkan pembangunan dan program Community Center. Program Community Center adalah salah satu bentuk pelayanan keluarga jemaat Allah di GKI Pondok Indah untuk semakin menggarami dan menerangi kehidupan di dunia ini dengan nilai-nilai ilahi.</p>
<p>Kiranya nilai iman, harap, kasih adalah sebuah nilai yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, dimulai dari lingkup keluarga, jemaat dan masyarakat.</p>
<p>Pdt. Dahlia Vera Aruan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/iman-harap-kasih-nilai-nilai-yang-diwariskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?</title>
		<link>http://gkipi.org/menurut-kamu-siapakah-aku-ini/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menurut-kamu-siapakah-aku-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 15:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6474</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda mempunyai empat saudara laki-laki. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dan menikahinya. Sang pengantin wanita menjalani empat hari pertama perkawinannya untuk menyesuaikan diri. Pada hari kelima, ia memasak sepanci bubur. Sepiring bubur diberikan kepada suaminya dan empat piring bubur lainnya diantarnya kepada ipar-iparnya yang tinggal di rumah lain. Namun ipar-iparnya itu tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pemuda mempunyai empat saudara laki-laki. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dan menikahinya. Sang pengantin wanita menjalani empat hari pertama perkawinannya untuk menyesuaikan diri. Pada hari kelima, ia memasak sepanci bubur. Sepiring bubur diberikan kepada suaminya dan empat piring bubur lainnya diantarnya kepada ipar-iparnya yang tinggal di rumah lain. Namun ipar-iparnya itu tidak mau makan bubur itu, kecuali ia dapat menyebutkan nama mereka. Sayang sekali perempuan itu tidak mengenalnya. Dengan terpaksa ia membawa kembali piring-piring berisi bubur tersebut pulang ke rumahnya dan menghabiskannya bersama suaminya.</p>
<p>Keesokan harinya hal yang sama terulang kembali. Perempuan itu lalu berpikir, &#8220;Bagaimana caranya aku mengenal nama ipar-iparku, sehingga mereka mau makan buburku?&#8221; Ketika matahari terbenam, ia mengambil ubi kayu untuk ditumbuk menjadi tepung. Ia menaruh ubi kayu itu di dalam lesung, lalu menumbuknya dengan alu. Seekor burung kecil terbang dan hinggap di sebatang pohon dekat tempat itu. Burung itu mulai bernyanyi:</p>
<p>&#8220;Ipar-iparmu, tidakkah engkau mengenal nama-nama mereka? Dengar, aku akan mengatakannya kepadamu! Ditumbuknya ubi kayu! Yang satu bernama Tumba Sikundu, yang lain bernama Tumba Sikundu Muna. Yang satu lagi bernama Tumba Kaulu, yang lainnya bernama Tumba Kaulu Muna. Dengar, aku telah mengatakannya padamu.&#8221;</p>
<p>Perempuan muda itu menghempaskan alunya ke tanah. Ia memungut sebuah batu untuk menghalau burung itu. &#8220;Berisik,&#8221; katanya. Burung kecil itupun terbang. Ketika tepung itu jadi, perempuan itu membawanya masuk ke rumah dan memasaknya menjadi sepanci bubur. Setelah masak, dibawanya beberapa piring kepada ipar-iparnya. Mereka berkata, &#8220;Sebutkanlah nama-nama kami.&#8221; Perempuan itu menjawab: &#8220;Aku tidak mengenal nama-nama kalian.&#8221; Mereka pun lalu berkata, &#8220;Bawalah kembali bubur ini.&#8221; Maka ia membawa bubur itu kembali ke rumahnya untuk dimakan bersama suaminya.</p>
<p>Keesokan harinya, ia kembali ke tempat penumbukan untuk menumbuk ubi kayu. Tatkala ia mulai menumbuk, burung kecil yang sama datang lagi untuk memberitahukan hal yang sama seperti yang disampaikannya kemarin. Burung itu kembali dihalaunya. Meskipun demikian, setelah burung itu pergi, perempuan itu sadar bahwa burung itu telah memberitahukan nama-nama iparnya kepadanya. &#8220;Sekarang aku mengerti,&#8221; pikirnya.</p>
<p>Ketika tepung itu jadi, ia memasaknya menjadi sepanci bubur dan membawanya kepada ipar-iparnya. Mereka berkata, &#8220;Kami akan makan bubur ini kalau engkau dapat menyebutkan nama-nama kami.&#8221; Perempuan itu berkata, &#8220;Yang satu bernama Tumba Sikundu, yang lain bernama Tumba Sikundu Muna, yang satunya lagi bernama Tumba Kaulu, dan yang lain bernama Tumba Kaulu Muna.&#8221; Ipar-iparnya tertawa. Mereka menerima bubur itu dan memakannya. (Cerita rakyat ini disadur dari buku C.S.Song &#8220;Sebutkanlah Nama-Nama kami&#8221;–Teologi cerita dari Perspektif Asia)</p>
<p>Cerita rakyat ini menggambarkan tentang apa yang harus dilakukan seseorang ketika akan memasuki suatu babak baru dalam kehidupannya, ketika ia memutuskan untuk masuk dalam suatu situasi atau tempat dengan budaya yang berbeda. Seperti cerita di atas, sang pengantin perempuan telah masuk ke dalam keluarga suaminya. Ia bukan lagi orang luar, melainkan orang dalam karena sudah memiliki hubungan dengan anggota-anggota keluarga lainnya. Ia bukan lagi tamu, tapi sudah menjadi anggota keluarga. Ia bukan lagi orang asing, tapi sudah menjadi warga setempat.</p>
<p>&#8220;Sebutkanlah nama-nama kami!&#8221; berkaitan dengan hubungan akar-akar budaya Anda dan saya, berkaitan dengan masa depan suatu persekutuan yang diperluas, diperkaya dan diperkuat.</p>
<p>Pengantin muda yang tidak dapat menyebutkan nama ipar-iparnya itu merupakan gambaran misi Kristen yang telah mengecewakan banyak orang dengan jawabannya, &#8220;Aku tidak mengenal Islammu, Hindumu, Kejawenmu, Dayakmu, Batakmu, Sumbamu. Aku tidak mengenal sejarah atau asal muasalmu dan aku tidak merasa perlu memperhatikan hal itu. Penderitaan dan pengharapanmu, tidak kupahami. Yang penting, kalian mengerti Injil/kabar baik untuk kalian dengar, iman untuk kalian miliki, para pemikir yang melebihi guru moral kalian. Dan yang paling penting, kalian harus menerima Yesus sebagai Juru Selamat kalian, sebagaimana yang kami mengerti dari Alkitab kami dan bukan seperti yang kalian pahami dari sejarah kalian.</p>
<p>Nama kalian begitu sulit didengar apalagi diucapkan, karena itu kami tidak perlu mengenal nama-nama kalian. Nama-nama itu kedengarannya sulit, aneh dan sedikit pun tidak kristiani. Kami mempunyai nama-nama yang lebih baik untuk kalian–nama-nama Kristen. Mulai sekarang kalian akan dipanggil Charles, Helen, Robert, Mary, Thomas.&#8221;</p>
<p>Mangombe adalah sebuah nama Afrika yang berarti &#8220;seorang yang mempunyai banyak ternak.&#8221; Ketika ia menjadi Kristen, ia diberi sebuah nama &#8220;Kristen,&#8221; yaitu Charles. Tapi apakah hubungan antara &#8220;Charles&#8221; dengan &#8220;Mangombe&#8221;? Sebagai Charles, Mangombe terputus hubungannya dengan asal-usul keluarganya. Ia tersisih dari suku, bangsa dan sejarahnya. Mangombe adalah seseorang, sedang Charles bukan siapa-siapa.</p>
<p>Inikah yang dikehendaki Yesus? Bukankah dalam pelayanan-Nya, Yesus disibukkan untuk mengubah &#8220;bukan siapa-siapa&#8221; menjadi &#8220;seseorang?&#8221; Segala sesuatu yang terkait dengan perbuatan keji dan menghancurkan orang lain dicela-Nya, tetapi Ia memberikan pujian pada kebaikan yang ada di dalam diri setiap orang. Kebaikan hati orang yang tersisihkan seperti orang Samaria, dipuji dan digunakan sebagai contoh perbuatan mulia yang berkenan di hadapan Tuhan (Luk.10:30-37). Demikian juga tindakan iman orang asing (non Yahudi) dalam diri perempuan Kanaan telah mengundang decak kagum dalam diri Yesus (Mat.15:21-31)</p>
<p>Pemberontakan terhadap Kekristenan sering kali bukan pemberontakan terhadap Yesus, melainkan terhadap jenis misi Kristen yang berusaha mengubah nama-nama pribumi dengan nama-nama Kristen (baca: barat), mengganti nilai-nilai budaya lain dengan nilai-nilai budaya Kristen (baca: barat). Injil, dan terlebih-lebih Khotbah di Bukit, telah menyentuh hati banyak orang Asia: salah satu yang paling terkenal adalah hati Mahatma Gandhi.</p>
<p>Mempertemukan seseorang dengan Yesus sendiri adalah tugas utama Pekabaran Injil. Pertanyaan yang menuntut pengakuan langsung dari setiap pribadi yang berjumpa dengan Yesus adalah: &#8220;Menurut kamu, siapakah Aku ini?&#8221; Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung pada refleksi teologis seseorang yang hidup dan berada dalam suatu budaya tertentu. Misalnya bagi Petrus, Yesus adalah Mesias dari Allah (Luk.9:20). Dalam budaya Yahudi, Mesias dipahami sebagai figur penyelamat yang dinanti-nantikan kedatangan-Nya.</p>
<p>Yesus sudah mendengar berbagai jawaban dari orang banyak, tapi Ia tetap melanjutkan pertanyaan-Nya (Luk.9: 18-19), sambil menantikan jawaban yang kontekstual, relevan dan kreatif; suatu jawaban yang berakar pada pergumulan konteks lokal atau setempat, karena itu tidak akan pernah hanya ada satu teologi (teologi dari barat), melainkan banyak teologi tergantung pada konteksnya masing-masing. Kita membayangkan bahwa Yesus pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang senantiasa bertanya kepada semua orang di segala tempat, dan biarlah mereka menjawab dari dan di dalam konteks masing-masing tempat di mana mereka tinggal.</p>
<p>&#8220;Menurut kamu, siapakah Aku ini?&#8221; Yesus berharap bahwa para murid memahami makna di balik nama-Nya, mereka harus mengenali nama-Nya, sebuah nama yang menopang kebenaran dan kasih. Karena itu pesan bagi kita di bulan Budaya 2011 ini ialah agar jemaat GKI Pondok Indah tidak hanya mempunyai kemampuan untuk memberi nama, melainkan juga kemampuan untuk mengenali nama. Bukan memaksa orang lain untuk memahami pemikirannya, melainkan juga mau memahami pemikiran yang lain. Bukan hanya mau supaya orang lain mengenal dan mengakuinya, tetapi juga mau menghargai keberadaan orang yang berbeda dengannya. Bukan hanya mau orang lain mengerti budayanya, tapi juga mau mengerti kebiasaan dan budaya orang lain. Dengan demikian terciptalah budaya GKI Pondok Indah sebagai sebuah jemaat yang hidup, terbuka, partisipatif dan peduli.</p>
<p>Pdt. Tumpal Tobing</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menurut-kamu-siapakah-aku-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betapa Banyak Perbuatan-Mu, ya Tuhan</title>
		<link>http://gkipi.org/betapa-banyak-perbuatan-mu-ya-tuhan-2/</link>
		<comments>http://gkipi.org/betapa-banyak-perbuatan-mu-ya-tuhan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 14:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6046</guid>
		<description><![CDATA[(1)    Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Betapa agung Engkau, ya TUHAN Allahku! Aku memuji Tuhan karena Engkau membuat aku dapat memuji-Mu. (8)    Air mengalir melalui gunung-gunung ke dalam lembah, ke tempat yang Kausediakan baginya. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang mengalirkan air ke gunung dan ke lembah. Engkau menyediakan tempat bagi air yang mengalir itu. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>(1)    Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Betapa agung Engkau, ya TUHAN Allahku! Aku memuji Tuhan karena Engkau membuat aku dapat memuji-Mu.</p>
<p>(8)    Air mengalir melalui gunung-gunung ke dalam lembah, ke tempat yang Kausediakan baginya. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang mengalirkan air ke gunung dan ke lembah. Engkau menyediakan tempat bagi air yang mengalir itu. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang menyediakan tempat bagiku untuk hidup, bertumbuh dan disegarkan.</p>
<p>(11)    Untuk memberi minum semua binatang di ladang, dan melepaskan haus keledai-keledai hutan. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang memberi minum binatang tak bertuan. Yang menyambung nyawa melalui alam yang Kausediakan baginya. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang memberi aku makan dan minum. Sekalipun tingkap-tingkap langit tidak terbuka bagi sakuku, tetapi Engkau cukupkan aku seperti Kaucukupkan makhluk hidup lainnya yang Kauciptakan.</p>
<p>(12)    Di dekatnya burung-burung membuat sarang; mereka berkicau di antara daun-daunan. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang memberi kemampuan alami bagi binatang-binatang ciptaan-Mu untuk membuat tempat perteduhan mereka. Bahkan Engkau menyediakan secara cuma-cuma semua yang mereka perlukan untuk membangunnya. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang menyediakan tempat bernaung bagi ciptaan-Mu, termasuk juga kami dalam keterbatasan dan kesederhanaan daya cipta kami sebagai manusia.</p>
<p>(13)     Dari langit Kauturunkan hujan di pegunungan, bumi penuh dengan hasil karya-Mu. Aku memuji Tuhan karena Engkau menurutkan hujan dengan tujuan yang baik. Hujan yang membuat bumi dapat dipenuhi hasil karya-Mu. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang menurunkan hujan bagi kami sehingga tumbuh-tumbuhan kami di sekitar pekarangan kami disegarkan secara alami.</p>
<p>(19)     Engkau membuat bulan menjadi penanda waktu, matahari tahu saat terbenamnya. Aku memuji Tuhan karena Engkau memberikan kepada semua ciptaan, waktu untuk beristirahat dalam terang cahaya-Mu, bukan dalam kegelapan sehingga kami tersesat. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang memberikan arah dalam perjalanan hidup kami sehingga kami tahu tanda-tanda di mana Kau tidak menghendaki kami untuk melaluinya.</p>
<p>(22)     Bila matahari terbit, mereka menyingkir dan berbaring di tempat persembunyiannya.</p>
<p>(23)     Lalu keluarlah manusia untuk melakukan pekerjaannya, dan terus bekerja sampai hari senja. Aku memuji Tuhan karena Engkau menyediakan penunjuk waktu bagi kami agar kami dapat bekerja, beristirahat dan berekspresi atas semua pemberian-Mu.</p>
<p>(24)     Betapa banyak karya-Mu, TUHAN, semuanya Kaujadikan dengan bijaksana; bumi penuh dengan ciptaan-Mu. Aku memuji Tuhan karena Engkau mencipta dan memberi alasan adanya semua yang Kau cipta. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang memberikan alasan, untuk apa kami hidup memenuhi bumi untuk waktu yang Kautetapkan.</p>
<p>(31)     Semoga keagungan TUHAN tetap selama-lamanya! Semoga Ia gembira dengan segala ciptaan-Nya! Aku memuji Tuhan karena Engkau dapat kami puji selamanya. Aku memuji-Mu karena kehadiran kami menggembirakan-Mu dan kami dituntun untuk membuat Engkau gembira karena kami.</p>
<p>(33)     Aku mau menyanyi bagi TUHAN selama hidupku, menyanyikan pujian bagi Allahku selama aku ada. Aku mau memuji Tuhan melalui mulut kami, kaki kami, telinga kami, mata kami, hidung kami, tangan kami, kaki kami, karya kami.</p>
<p>(35)    Biarlah orang berdosa lenyap dari muka bumi, biarlah orang jahat habis binasa. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah TUHAN! Pujilah Tuhan hai jiwaku! Pujilah Tuhan!</p></blockquote>
<p>Mazmur 104 tidak dapat dipisahkan dari rangkaian himne yang dimulai dari pasal 101. Di dalam pasal 101 dan 102 diungkapkan bahwa pemazmur sendiri adalah korban kejahatan. Itu sebabnya ia mengeluh, menderita, bahkan meratap. Tulang-tulangnya hancur remuk, hatinya (mind and heart) terpukul dan layu. Tidak ada lagi harapan hidup! Bahkan pada pasal 102 pemazmur sempat menganggap Allah kejam, menyembunyikan wajah-Nya. Lalu mengapa terjadi transformasi iman seperti di pasal 103 dan 104 sehingga ia dapat memuji Tuhan dengan segenap jiwanya?</p>
<p><strong>Pemazmur rupanya mengalami transformasi iman karena ia mengalami Allah bekerja!</strong></p>
<p>Kata “asya” dalam bahasa Ibrani berarti bekerja (works) yang membuktikan bahwa Allah masih bekerja setelah Ia mencipta. Ya, Allah tidak berhenti bekerja! Ia terus dan tetap bekerja. Di dalam pasal 104 ini, ada lima ayat dengan kata “made” dan “work,” yaitu di ayat 4, 19, 24b, 13 dan 31.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah berarti Allah bekerja mendatangkan tsunami? Banjir? Kebakaran hutan? Polusi lingkungan?</p>
<p>Menurut Mazmur 103, rupanya pekerjaan Allah bukanlah tindakan anarki. Allah tidak bekerja seenaknya! Apalagi, Allah tidak bekerja agar manusia celaka dan kena bencana! Melainkan Ia bekerja (asya) dalam rancangan: God’s saving work (dalam rancangan karya keselamatan Allah). Bukan Allah yang mengerjakan tsunami, tetapi dosa telah menyebabkan dunia ini menderita. Puji syukur bahwa Allah yang berkuasa, bekerja memulihkan, menyelamatkan, membebaskan, memberi yang baik.</p>
<p>Allah bekerja tetapi Allah juga ada. Mazmur 104 ini disebut juga “A hymn to the Creator.” Sebuah himne, pujian bagi Sang Pencipta yang ada (baca: hadir) di dalam ciptaan-Nya sampai hari ini. Allah exist, fisik-Nya tidak ada, tapi ada tanda-Nya.</p>
<p>Yang menarik, dekade ini orang sibuk meneliti tanda-tanda akhir zaman. Padahal pemazmur justru mengajak kita untuk fokus pada tanda kehadiran Allah, karena itulah yang dapat membuat kita tetap memuji Tuhan sekalipun bencana alam, kecelakaan dan hal-hal buruk terjadi silih berganti di mana-mana. Pemazmur tidak mengajak kita untuk fokus ke tanda-tanda akhir zaman yang membuat kita ketakutan, tidak bisa tidur, resah, benci, marah dan protes! Ia mengajak kita untuk fokus pada tanda kehadiran Allah, sehingga hati kita bisa diliputi pujian dan damai sejahtera. Allah tidak kelihatan tapi Allah ada: ayat 1-4 mengatakan bahwa Allah ada di surga; tapi ayat 4-13 mengatakan bahwa Allah ada di bumi.</p>
<p><strong>Mengapa pemazmur menekankan tanda kehadiran Allah?</strong></p>
<p>Dulu Allah hanya dianggap berada di bait Allah, karena itu pemazmur membuka wawasan umat Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan ada di mana-mana: di antara ciptaan-Nya dan di dalam ciptaan-Nya. Apalagi, orang Kanaan berpikir bahwa Allahnya orang Israel hanya ada di kemah (yeri’a) di bait-Nya di Yerusalem, sedangkan Baal ada di mana-mana: di angin, di badai, di hujan, di gunung. Itu sebabnya pemazmur perlu menekankan bahwa Allah hadir di mana-mana, dan tanda kehadiran-Nya adalah kestabilan (a stable world). Allah mengontrol alam, udara, api, air, langit dan bumi.</p>
<p><strong>Ada kestabilan, ada Allah.</strong></p>
<blockquote><p>Dulu air melayang-layang di udara, sekarang Allah yang membuat air mengalir ke tempatnya. Jadi stabil.<br />
Dulu gelap gulita menguasai bumi, sekarang Allah mengatur siang dan malam. Jadi stabil.<br />
Tsunami mengacau dunia, tapi kemudian Allah membawa kestabilan kembali.</p></blockquote>
<p>Pertanyaannya, mengapa pula tampaknya Allah membiarkan bencana itu terjadi kalau Allah ada dan bekerja? Allah Yahweh rupanya bukan seperti dewanya para ahli filsafat. Dunia tidak berputar secara mekanis seperti sebuah jam, sehingga manusia dan dunia ini seperti robot&#8230; baik terus. Satu-satunya yang membuat Allah tidak ada adalah dosa manusia. Dosa manusia yang membuat lingkungan menjadi kotor, dosa manusia yang mengakibatkan banjir karena sampah di mana-mana.</p>
<p>Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai orang percaya? Karena Allah senang–Allah suka. Allah suka bekerja, bahkan bekerja sampai tuntas. Ia bukan hanya sekadar mau menciptakan dunia ini, melainkan Ia mau agar kita memeliharanya sampai tuntas dan bukan sebaliknya mengotori alam ini.</p>
<p>Selamat menunjukkan kehadiran Allah dengan cara melanjutkan dan memelihara karya Allah di alam yang Tuhan sediakan buat kita. Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/betapa-banyak-perbuatan-mu-ya-tuhan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lihatlah Manusia itu</title>
		<link>http://gkipi.org/lihatlah-manusia-itu/</link>
		<comments>http://gkipi.org/lihatlah-manusia-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 02:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5647</guid>
		<description><![CDATA[‘Menjadi manusia’ adalah pergumulan umat manusia sepanjang sejarahnya. Dosa memang sudah menyeret manusia dari kemanusiaannya. Lihatlah, Kain membunuh adiknya Habel. Sejak saat itu, wajah kemanusiaan semakin bengis. Lamekh membunuh seorang muda karena memukulnya. Pembalasan buat Lamekh haruslah tujuh puluh tujuh kali lipat! (Kej. 4:23-24). Tetapi ‘Sang Manusia itu’, Yesus Kristus, mengajarkan sebaliknya. Alih-alih membalas, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>‘Menjadi manusia’ adalah pergumulan umat manusia sepanjang sejarahnya. Dosa memang sudah menyeret manusia dari kemanusiaannya. Lihatlah, Kain membunuh adiknya Habel.<br />
Sejak saat itu, wajah kemanusiaan semakin bengis. Lamekh membunuh seorang muda karena memukulnya. Pembalasan buat Lamekh haruslah tujuh puluh tujuh kali lipat! (Kej. 4:23-24).</p>
<p>Tetapi ‘Sang Manusia itu’, Yesus Kristus, mengajarkan sebaliknya. Alih-alih membalas, kita malahan diajar untuk mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali! (Mat. 18:21-22). Ketika Lamekh membawa kita semakin jauh dari kemanusiaan, maka Yesus menarik kita balik pada kemanusiaan.</p>
<p>Apakah berarti persoalan ‘menjadi manusia’ lalu selesai? O, tidak! Bahkan ‘Sang Manusia itu’ menjadi korban kebiadaban sesamanya.</p>
<p>Pilatus mencoba untuk ‘menyentuh kemanusiaan’ orang banyak. Ia menampilkan Yesus dengan wajah yang memelas. Mahkota duri dan luka sesahan mengalirkan rona merah di wajah dan tubuh-Nya. “Lihatlah Manusia itu!” Para pemuka agama dan penjaga melihat-Nya. Maka berteriaklah mereka dalam kebencian: “Salibkan Dia!” (Yoh. 19:5-6). Agama dengan para pemukanya, yang diharapkan membawa manusia kepada kemanusiaannya, malahan tampil dalam wajah bengis dan brutal. Bukankah sampai sekarang hal semacam itu masih terjadi di sekitar kita? Bagaimana dengan Pilatus? Sang pemimpin pun cuci tangan atas kebrutalan dan kebengisan yang terjadi. Ia harus tetap tampil suci.</p>
<p>Pencitraan pemimpin memang harus seperti itu. Tetapi di tangannya mengalir darah ‘Sang Manusia itu’.</p>
<p>“Lihatlah Manusia itu!” Sang Manusia itu, tidak pernah berhenti untuk membawa manusia pada kemanusiaannya. Di puncak derita-Nya, Ia menitipkan ibu-Nya pada Yohanes. Ia mengajarkan manusia untuk menerima sesamanya (Yoh. 19:25-27). Di kayu salib, Sang Manusia itu mengakhiri hidupnya. Alam semesta gelap pekat. Iblis pun tertawa. Angkara murka merajalela. Tetapi tiga hari kemudian, Sang Manusia itu bangkit dari kematian-Nya. Ia menang! Dan karena itu, manusia selalu mendapat jalan untuk kembali pada kemanusiaannya.</p>
<p>“Lihatlah Manusia itu!” Sang Manusia itu adalah contoh teladan kemanusiaan kita. Ketika kita tidak dapat lagi menemukan teladan kemanusiaan bahkan dalam wajah agama dan para tokohnya. Ketika para pemimpin tidak mampu membawa kita kembali pada kemanusiaan, maka kita diajak untuk melihat sekali lagi kepada Sang Manusia itu! Ialah teladan sempurna kemanusiaan kita. Dalam Dia, kita kembali belajar menerima sesama. Dalam Dia kita kembali belajar apa artinya maaf dan pengampunan. Dalam Dia kita kembali belajar mengasihi dengan kasih sejati. Semoga Paskah tahun ini, membawa kita kembali pada wajah kemanusiaan sejati. Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/lihatlah-manusia-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Murid Kristus</title>
		<link>http://gkipi.org/menjadi-murid-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menjadi-murid-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 02:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5338</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum murid berarti orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Apabila orang tua menyekolahkan anaknya dalam pembelajaran atau pendidikan yang berkualitas, tentu bukan bertujuan untuk menyombongkan kemampuan materi atau kehebatan anaknya, tapi bertujuan mencerdaskan anaknya dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan. Dalam pengertian Alkitab murid tidak hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum murid berarti orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Apabila orang tua menyekolahkan anaknya dalam pembelajaran atau pendidikan yang berkualitas, tentu bukan bertujuan untuk menyombongkan kemampuan materi atau kehebatan anaknya, tapi bertujuan mencerdaskan anaknya dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan.</p>
<p>Dalam pengertian Alkitab murid tidak hanya berarti orang yang belajar, tapi juga menjadi pengikut yang mengabdikan diri pada guru/pembimbingnya. Dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat contoh pemuridan, seperti: Yosua menjadi pengikut dan penerus Musa, Elisa menjadi pengikut dan penerus Elia, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam Perjanjian Baru: Yohanes dengan murid-muridnya, Yesus Kristus dengan ke-12 murid-Nya, serta Paulus dengan Timotius, Titus, dan lain sebagainya. Dengan demikian pengertian murid Kristus adalah orang-orang percaya yang mau belajar tentang segala ajaran Kristus dan mengabdikan dirinya hidup mengikuti Kristus.</p>
<p>Namun tidak semua orang percaya bersedia menjadi murid Kristus. Mengapa? Karena mereka enggan untuk mempelajari dan melaksanakan setiap ajaran Kristus dalam hidup mereka. Bila kita telah mengaku diri sebagai murid Kristus, apakah kita sudah benar-benar mempelajari dan melaksanakan ajaran Kristus dalam hidup kita sehari-hari? Kiranya pertanyaan ini menjadi intropeksi diri kita masing-masing. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul: Apakah tujuan kita belajar menjadi murid Kristus? Dan bagaimana menjadi murid Kristus? Mari kita renungkan bersama.</p>
<p>Dalam perenungan saya, tujuan kita belajar menjadi murid Kristus adalah agar kita dapat menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus merupakan kehendak Allah atas orang-orang yang menjadi murid Kristus. Pernyataan ini sesuai dengan Roma 8:29: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Menjadi serupa dengan Kristus bukan artinya kita memiliki keilahian Kristus, tapi kita mengikuti jejak kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan-Nya, Kristus telah merendahkan diri, taat dan setia kepada Allah Bapa dalam menunaikan misi penyelamatan bagi umat manusia. Demikian juga kita perlu rendah hati, taat dan setia pada Kristus Yesus dalam mempertanggung jawabkan hidup ini sesuai kehendak-Nya. Bagaimana kita bisa demikian? Kita perlu memelihara persekutuan yang erat dengan Allah, senantiasa berhikmat pada ajaran Kristus, serta memberi diri hidup dalam tuntunan Roh Kudus.</p>
<p>Bagaimana kita dapat menjadi murid Kristus? Matius 16:24 menjelaskan 3 langkah kepada kita, yaitu: “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut Kristus”.</p>
<p><strong>a.    Menyangkal Diri</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Menyangkal diri bukan berarti menghilangkan eksistensi dan makna diri dalam hidupnya. Menyangkal diri adalah tidak menempatkan diri sebagai pusat hidupnya, tapi menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Orang yang menyangkal diri memahami hidup sebagai kasih karunia Kristus yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Orang yang menyangkal diri akan berkata: “Bukan kehendakku, ya Bapa, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Contoh penyangkalan diri dapat kita lihat dari hidup rasul Paulus, yang dalam surat-suratnya menyatakan bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Dalam Roma 14:8, Paulus berkata:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">Apabila kita senantiasa belajar menyangkal diri, kita akan dapat menjadi murid Kristus yang menempatkan kehendak Kristus sebagai dasar dan pedoman setiap rencana dan langkah hidup kita. Orang yang dapat menyangkal diri juga tidak menganggap diri dan kepentingannya sebagai yang utama, tetapi ia dapat bersikap rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain. Ini yang dimaksudkan Paulus dalam Filipi 2:3. Dengan demikian sebagai murid Kristus, kita tidak hanya menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya, tapi juga senantiasa rendah hati dan peduli pada kepentingan orang lain. Inilah eksistensi dan makna hidup seorang murid Kristus di tengah kehidupan ini.</p>
<p><strong>b.    Memikul Salib</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Langkah berikutnya menjadi murid Kristus adalah bersedia memikul salib. Pada masa Yesus, salib merupakan hukuman yang paling hina dan menderita diberikan pengadilan Romawi kepada orang yang terbukti melakukan pelanggaran dan dosa besar. Sebenarnya Yesus tidak pernah melakukan pelanggaran dan dosa apa pun, tetapi Ia memberi diri disalibkan untuk menggenapi misi Allah menyelamatkan umat manusia dari dosa dan maut. Karena itu makna salib adalah ketaatan Kristus pada Allah dan wujud nyata kasih-Nya pada umat manusia. Hal ini ditegaskan Paulus dalam Filipi 2:6-8: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Seorang teolog Jepang, Kosuke Koyama pernah bertanya: “Kenapa orang Kristen harus memikul salib? Mengapa lambang orang Kristen adalah salib? Mengapa bukan rantang yang berisi makanan bergizi dan memiliki gagang sehingga mudah menentengnya?” Pertanyaan Kosuke Koyama ini membantu kita memahami salib bukan sebagai hal yang menyenangkan atau membanggakan, tetapi salib adalah harga yang harus kita bayar sebagai murid Kristus. Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1 Petrus 4:12-14).</p>
<p><strong>c.    Mengikut Kristus</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Mengikut Kristus artinya setia mengikuti Kristus dan taat melaksanakan segala firman-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama (Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes) untuk menjadi murid Kristus, mereka meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka, dan mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Dari peristiwa ini kita belajar komitmen mengikuti panggilan Kristus, dan taat melaksanakan segala firman-Nya dalam hidup kita.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Ketika berada di antara kerumunan orang-orang, seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus menjawab: ”Serigala mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini menjadi suatu pernyataan bahwa sebenarnya Yesus tidak mendapat tempat di hati orang Farisi itu. Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang Farisi yang sulit meninggalkan segala reputasi dan otoritasnya yang besar dalam sistem agama Yahudi. Saat ini pergumulan seperti orang Farisi itu cenderung dialami orang Kristen.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Mengikut Kristus adalah mengutamakan Kristus di atas segalanya, bukan menempatkan Kristus di bawah kepentingan yang lain. Bila kita mau mengikut Kristus, kita perlu taat melaksanakan ajaran Kristus dan mempersaksikan kebenaran Kristus kepada sesama melalui setiap perkataan, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Hal utama yang perlu kita laksanakan sebagai murid Kristus adalah meneladani gaya hidup Kristus untuk hidup saling mengasihi dengan sesama (Yoh. 13:34-35). Dengan kita hidup saling mengasihi, kita turut mewujudnyatakan misi Kristus dalam menghadirkan kasih dan damai sejahtera bagi dunia.</p>
<p>Menjadi murid Kristus bukan suatu prestasi untuk menunjukkan kehebatan dan kemampuan kita melaksanakan semua ajaran Kristen/gereja. Menjadi murid Kristus adalah suatu pembelajaran kita dapat terus mengenal Kristus, memberi diri dituntun oleh Roh Kudus, serta taat melaksanakan setiap ajaran-Nya. Matius 16:24 (menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus) menjelaskan secara sederhana bagaimana kita dapat terus diproses dan diperlengkapi menjadi murid Kristus. Bila kita senantiasa berusaha menjadi murid Kristus, maka sebenarnya kita turut mewujudkan kehendak Allah agar kita hidup serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Semoga Kristus senantiasa menyertai langkah hidup kita.</p>
<p>Albert A. Pandiangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menjadi-murid-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dipanggil, Dibentuk dan Diutus</title>
		<link>http://gkipi.org/dipanggil-dibentuk-dan-diutus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dipanggil-dibentuk-dan-diutus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 04:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5223</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda sempat berkunjung ke kota New York, janganlah lupa mengunjungi jembatan terkenal yang bernama Brooklyn Bridge. Jika Anda kagum dengan keindahannya, Anda perlu berterima kasih kepada keluarga Roebling. Pada tahun 1883, seorang insinyur cerdas bernama John Roebling tertantang untuk membangun jembatan spektakuler yang dapat menghubungkan kota New York dan Long Island. Banyak ahli pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5226" style="border: 3px solid #eeeeee;" title="bridge" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/02/bridge.jpg" alt="" width="250" height="188" />Jika Anda sempat berkunjung ke kota New York, janganlah lupa mengunjungi jembatan terkenal yang bernama Brooklyn Bridge. Jika Anda kagum dengan keindahannya, Anda perlu berterima kasih kepada keluarga Roebling.</p>
<p>Pada tahun 1883, seorang insinyur cerdas bernama John Roebling tertantang untuk membangun jembatan spektakuler yang dapat menghubungkan kota New York dan Long Island. Banyak ahli pada zaman itu yang merasa ide itu terlalu gila dan meminta John untuk melupakannya. Namun John Roebling tidak peduli karena visi itu begitu jelas di dalam pikirannya. John sangat yakin bahwa jembatan itu dapat terwujud dan ia berhasil meyakinkan anaknya yang bernama Washington untuk membantunya menyelesaikan proyek maha karya itu.</p>
<p>Pembangunan proyek dimulai dengan mulus dan setiap anggota tim begitu bersemangat mengerjakannya. Namun setelah beberapa bulan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa John, sang ayah, sedangkan Washington terluka dan mengalami kerusakan pada otaknya yang menyebabkan ia tidak mampu berkata-kata dan tidak mampu berjalan, bahkan sekadar untuk bergerak pun ia tak sanggup. Kolega-kolega yang dulu mengejek mereka memberikan komentar yang menjadi-jadi. Kata mereka, “Kita telah memberi tahu dia jauh sebelum dia mulai membangun&#8230; Mereka hanyalah orang gila dengan impian yang gila.”</p>
<p>Walaupun tergeletak di atas ranjang, Washington tetap memiliki keinginan yang membara untuk mewujudkan impiannya. Pada suatu hari, ia memanggil istrinya dan ia mampu mengajar istrinya hanya dengan menggunakan bahasa isyarat dengan satu jarinya. Ia meminta istrinya menjelaskan kepada para insinyur lainnya langkah-langkah berikutnya. Washington menjalankan dengan sabar selama 13 tahun dengan memberikan instruksi isyarat kepada istrinya dan disampaikan kepada para insinyur sampai akhirnya jembatan itu mampu berdiri dengan megah.</p>
<p>Sikap pantang menyerah dari Washington Roebling mampu mengalahkan kondisi terburuk sekalipun yang ia alami. Tanpa keyakinan dan keinginan yang menggebu-gebu, tidak mungkin jembatan Brooklyn dapat terwujud (dari buku Champion).</p>
<p><strong>Tuhan Membangun “Jembatan”</strong></p>
<p>Juga karena merasa tertantang untuk menyelamatkan umat manusia, maka tak henti-hentinya Tuhan membangun “jembatan” demi “jembatan” untuk menghubungkan diri-Nya dengan segala bangsa di dunia. Jembatan yang tidak terbuat dari beton dan besi, melainkan manusia, yaitu para nabi, para rasul, umat-Nya dan setiap orang yang beriman, yang bersedia menjadi hamba-Nya.</p>
<p>Kalau begitu setiap orang berpeluang menjadi “jembatan” Tuhan, menjadi hamba-Nya, meskipun tidak berjabatan sebagai pendeta atau penatua. Itulah maha karya Allah yang  tidak boleh dipandang ringan, sebab Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya. Dan manusia sering berani menolak panggilan Tuhan, karena lebih mendahulukan kepentingan sendiri.</p>
<p><strong>Jika Manusia Bersedia Menjadi Hamba Tuhan</strong></p>
<p>Jika ada yang bersedia menerima panggilan Tuhan, menjadi hamba-Nya, maka Tuhan akan sangat berkenan. Orang yang bersedia menjadi hamba Tuhan dengan segala kerelaan dan kesungguhan hatinya, dapat memiliki keyakinan bahwa sejak dari kandungan ibunya, ia sudah dipanggil oleh Tuhan.</p>
<p>Memercayai hal itu tanpa rasa sesal, akan mendatangkan rasa syukur yang sangat mendalam. Sebab baginya, Tuhan adalah segala-galanya. Dengan demikian menjadi hamba Tuhan mendatangkan kepuasan batiniah sebab merasakan bahwa hidupnya bermakna. Maka dorongan untuk memperkenalkan diri kepada lingkungan yang luas bukanlah merupakan suatu kesombongan, sebab dengan demikian justru sedang merendahkan diri sebagai hamba yang siap melayani (Yesaya 49:1). Sebenarnya Tuhan menghendaki bangsa Israel menjadi hamba-Nya yang dengan rendah hati mau merangkul bangsa-bangsa di dunia, tapi mereka menyalah-gunakan kasih pemilihan Tuhan sebagai alasan untuk meninggikan diri, merendahkan bangsa-bangsa yang lain.</p>
<p><strong>Hubungan Akrab Sudah Terjalin Dengan Tuhan Sedini Mungkin</strong></p>
<p>Hubungan yang sangat pribadi dengan Tuhan terlukis dalam firman-Nya yang indah. Yang pertama kali memanggil nama kita masing-masing, sesungguhnya adalah Tuhan, sebab Dia yang paling mengenal kita. Tuhan dapat mengenal dengan sangat jelas sebab Dialah yang mencipta dan menghadirkan kita ke dalam dunia ini. Dia merasa perlu secara terus menerus membentuk kita, supaya dapat menjadi seperti yang diharapkan untuk mewujudkan rencana dalam Kerajaan-Nya. Pengutusan menjadi tujuan utama dalam diri setiap hamba-Nya. Sekaligus pengutusan menjadi bukti yang mengharukan bahwa Dia bisa mempercayakan tugas penting kepada orang-orang, yang pada dasarnya sangat rapuh.</p>
<p>Hal ini mengingatkan kita kepada yang disebut sebagai “Tumit Akhiles.” Dalam Mitologi Yunani ada cerita tentang seorang ibu yang bernama Tetis. Ia mempunyai seorang putra tunggal yang masih kecil bernama Akhiles. Suatu hari Akhiles dibawa ke tepi sungai Stiks di Hades yang konon airnya berkasiat membuat orang menjadi kebal terhadap senjata. Setelah dewasa, ternyata Akhiles tetap bisa mati oleh panah beracun yang mengenai tumitnya, karena ibunya memegang tumit Akhiles ketika membenamkannya ke dalam sungai Stiks, sehingga hanya bagian tubuh itu saja yang tidak terkena air.</p>
<p>Cerita ini mengingatkan kita bahwa setiap hamba Tuhan pasti mempunyai kelemahan tertentu dalam dirinya, yang harus selalu disadari dan diwaspadai, supaya dapat menjadi utusan Tuhan yang tidak mengecewakan.</p>
<p>Tapi kita tidak perlu terlalu berkecil hati sebab Tuhan menunjukkan tanggung jawab-Nya yang besar, tatkala dikatakan bahwa mulut hamba-Nya akan dijadikan sebagai pedang yang tajam. Perkataan Tuhan sendiri yang membuat mulut kita tidak direndahkan oleh setiap pendengar. Keberadaan kita juga akan menjadi seperti anak panah yang runcing. Itu adalah anak panah yang lurus dan tajam. Kita diharapkan Tuhan memiliki hati yang lurus; jujur kepada diri sendiri, kepada sesama dan Tuhan. Memiliki pengetahuan yang tajam tentang kehendak Tuhan merupakan keharusan seorang hamba Tuhan. Semua itu yang membuat seorang hamba Tuhan memiliki kelebihan yang mendatangkan rasa kagum banyak orang. Bukan karena ketampanan, apalagi kekayaan materinya.</p>
<p><strong>Yesus, Hamba Yang Sejati</strong></p>
<p>Setiap hamba Allah harus mengakui Yesus sebagai Hamba yang sejati. Mengapa demikian? Karena Ia memang dipanggil dan diutus, tetapi tidak perlu dibentuk atau diperlengkapi apapun, oleh siapa pun, karena kesempurnaan-Nya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia. Yesus juga Hamba yang sejati sebab sebagai Tuhan sudah rela menghampakan diri sama dengan manusia demi melaksanakan tugas pengutusan dari Bapa-Nya. Yohanes Pembaptis menyebut-Nya sebagai Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Inilah satu kalimat pendek yang dapat menjelaskan tugas besar Yesus Kristus.</p>
<p><strong>Yohanes Pembaptis Membuka Jalan Bagi Yesus, dan Yesus Bagi Kita</strong></p>
<p>Dengan telunjuknya Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada setiap orang yang dijumpainya. Dengan air sungai Yordan ia membaptis Yesus untuk menggenapi kehendak Allah. Tetapi Yesus Kristus membuka jalan keselamatan bagi kita melalui kucuran darah-Nya yang kudus. Selanjutnya Dia juga membuka jalan penginjilan yang harus kita tempuh dengan berbagai kegiatan gerejawi serta macam-macam kesibukan kesaksian di semua aspek kehidupan ini. Dia menyiapkan para rasul, para pengikut-Nya tempo dulu, dan tongkat estafet itu sekarang ada di tangan kita! Apa kata rasul Paulus tentang memberitakan Injil? “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Korintus 9:16).</p>
<p>Ada satu cerita tentang kebodohan yang sangat merugikan. Konon ada seorang janda yang sangat miskin, takut dikunjungi oleh pemilik rumah yang biasa datang untuk menagih sewa rumah. Ia mengunci pintu rumahnya dan memasang palangnya. Ketika ia mendengar pintunya diketuk orang dari luar, ia tidak mau menjawab. Padahal yang mengetuk pintu itu seorang temannya yang membawa uang untuk membayar utangnya. Tujuan orang itu bukanlah menagih, melainkan memberi. Pemberitaan Injil juga seperti itu. Tapi jangan mudah berputus asa jika kegiatan dan maksud baik kita sering disalah-pahami orang.</p>
<p><strong>Apa Yang Paling Menarik Pada Paulus?</strong></p>
<p>Saya pilih: Panggilannya! Menarik karena disertai peristiwa yang sangat menggetarkan. Berlanjut dengan kasih Paulus yang terus bertumbuh! “Hanya dengan mengasihi Kristus kita sebagai hamba Tuhan akan dapat bertahan.” demikian kata Hudson Taylor penginjil yang melayani Cina itu.</p>
<p>Kita boleh terpanggil menjadi hamba Tuhan secara kolektif, dalam suatu kebersamaan, tetapi pada akhirnya panggilan secara pribadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebabnya dalam menghimpun para rasul, termasuk Paulus, Tuhan Yesus melakukan panggilan secara pribadi.</p>
<p>Pdt. David Sudarta dalam Renungan “Wasiat” berkisah tentang seorang perenang loncat-indah, yang dibesarkan sebagai seorang ateis. Ketika mau berlatih, malam itu semua lampu kolam tidak ada yang dinyalakan. Hanya karena ada atap tembus pandang maka cahaya bulan bisa menjadi penerangnya. Saat ia berada di ujung papan yang tertinggi, ia melakukan gerakan sebelum terjun. Ketika ia membentangkan kedua tangannya, terlihatlah bayangannya sendiri di dinding dalam bentuk salib.Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat tersentuh, serta membuatnya teringat kepada Yesus Kristus seperti yang sering diceritakan oleh temannya. “Yesus mengasihi siapa saja, termasuk kau,” itulah yang pernah dikatakan temannya. Pemuda ateis itu diliputi rasa haru, tersungkur dan menangis, mohon ampun kepada Tuhan Yesus yang selama ini disangkalnya.</p>
<p>Tiba-tiba lampu kolam hidup, karena dinyalakan oleh seorang petugas. Alangkah kaget dan terharunya dia ketika melihat ke bawah, ternyata kolam itu sedang dikeringkan!</p>
<blockquote><p>“Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami” (Mazmur 40:6a)</p></blockquote>
<p>Pdt Em. Daud Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dipanggil-dibentuk-dan-diutus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Natal: Ruangan Hati Untuk Yesus</title>
		<link>http://gkipi.org/refleksi-natal-ruangan-hati-untuk-yesus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/refleksi-natal-ruangan-hati-untuk-yesus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 11:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5020</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru. Tanggal 25 Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru.</p>
<p>Tanggal 25 Desember sering menjadi patokan pergantian tahun yang melambangkan keberhasilan atau kegagalan yang telah dijalani selama setahun. Namun, bulan Desember bisa menjadi bulan tumpukan tugas yang tidak mendamaikan hati. Para pegiat sibuk menyiapkan acara Natal, mendekorasi ruangan, latihan drama Natal, paduan suara, dan musik. Para keluarga pun sibuk berbelanja hadiah, menyiapkan dan mengirimkan kartu ucapan, membersihkan dan menghiasi rumah, memasang pohon dan lampu Natal.</p>
<p>Mungkin sebagian besar umat Kristen menyadari bahwa tanggal 25 Desember adalah hari perayaan kelahiran Yesus. Tapi, berapa banyak yang meluangkan waktu untuk menghayati dan menikmati makna Natal? Masihkah ada Yesus di ruang hati kita tatkala merayakan hari Natal?</p>
<p>Natal adalah peristiwa yang memiliki kekayaan makna. Tersimpan harta karun yang indah di hari Natal. Sebab itu, kita perlu menggali kembali harta karun itu sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab sehingga kita dapat mengerti, menghayati, dan menghidupi kembali makna Natal pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.</p>
<p>Ribuan tahun yang lalu, ketika malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Maria dan Yusuf, ia memberitahukan mereka bahwa anak yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus dan harus diberi nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat.1:21). Jadi, kado kasih terindah di hari Natal ialah lahirnya sang Juru Selamat sejati di dunia ini. Bahkan, Dia akan dinamakan Imanuel, yang artinya ‘Allah menyertai kita’ (Mat.1:23). Luar biasa! Penghayatan inilah yang harus bergema di ruang hati kita. Bukan hanya menjelang dan ketika merayakan Natal; tetapi juga dalam kehidupan kita setiap hari.</p>
<p>Kita patut bersyukur bahwa hari Natal ditetapkan pada tanggal 25 Desember, karena dekat dengan akhir dan pergantian tahun yang baru. Hal itu dapat membuat kita merenungkan hidup yang telah kita jalani dari awal hingga akhir tahun. Bahkan juga menantang kita untuk berani memberikan kado terindah di hari Natal kepada Yesus. Sungguhkah Yesus menjadi Pribadi yang hidup di ruang hati kita setiap hari? Apakah Yesus benar-benar menjadi satu-satunya Juru Selamat yang hidup di hati dan kehidupan kita? Berapa banyak janji perubahan hidup yang kita ikrarkan namun belum kita tepati bahkan kita langgar?</p>
<p>Menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat berarti menjadikan-Nya sebagai Pribadi yang bertahta di hati dan kehidupan kita. Dia menjadi Junjungan hidup yang berjalan di depan kita, dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Mengikuti apa? Mengikuti teladan kasih-Nya dalam melayani dan mengasihi sesama; mendengarkan dan menaati apa yang diajarkan-Nya; berjuang untuk semakin serupa dengan-Nya dalam karakter, sifat, dan perilaku sehari-hari.</p>
<p>Sesungguhnya, Natal menjadi alarm yang mengingatkan sejauh mana kita mengasihi Allah dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sejauh mana kita menghargai kasih pengorbanan Kristus. Yesus tidak menyerukan “Aku mengasihimu” melalui suara dari surga. Ia merendahkan diri. Ia datang dengan mengambil rupa sebagai manusia untuk menyatakan betapa Ia sangat mengasihi kita. Puncak pernyataan kasih Kristus terbukti melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Melalui salib yang hina, Ia menanggung murka Allah. Bahkan, Ia membuktikan kemurahan hati dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Karena itu, Natal menjadi alarm yang terus mengingatkan kita tentang keajaiban kasih Allah; mulai dari palungan menuju palang yang hina.</p>
<p>Biarlah hati kita menjadi telinga yang mendengar alarm Natal. Alarm yang mengingatkan siapakah kita sebagai manusia. Alarm yang menyelidiki ruang hati kita. Masih adakah Yesus sebagai Raja di ruang hati kita? Masih adakah ungkapan syukur atas pengorbanan Kristus di kayu salib? Masih adakah kesadaran untuk menghargai kasih karunia Allah di ruang hati kita?</p>
<p>Natal akan berlalu. Tahun baru pun akan dilewati. Namun, alarm dari palungan hingga palang terus berbunyi di ruang hati kita. Mari, kita beri yang terbaik kepada Tuhan dengan menyediakan ruang hati kita diisi oleh kasih karunia Allah; mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum di hadapan Allah; melayani Tuhan dengan semangat kasih Kristus; membuka diri untuk mengalami pertobatan setiap hari sehingga semakin serupa dengan Kristus. Bahkan menghidupi kasih Kristus dengan menjadi pelaku kasih yang sejati bagi sesama; seperti syair lagu berikut ini:</p>
<blockquote><p>Natal ‘tak berarti tanpa Yesus di hati</p>
<p>Natal tak’kan indah tanpa damai di hati</p>
<p>Persembahkan hidupmu serahkan pada Yesus</p>
<p>dan kau akan mengalami NATAL</p></blockquote>
<p>Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!</p>
<p>Tuhan beserta kita!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/refleksi-natal-ruangan-hati-untuk-yesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tinggal di dalam Dia Berbuah bagi Dunia</title>
		<link>http://gkipi.org/tinggal-di-dalam-dia-berbuah-bagi-dunia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tinggal-di-dalam-dia-berbuah-bagi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 12:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4765</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Wah&#8230; di mana ya tempat ibadahnya?” keluh Pak Hasudungan sambil menepiskan keringat yang bercucuran di keningnya tersengat panas matahari di siang bolong. “Pak Herman, apa kita nggak salah alamat desanya ya?” serunya pada Herman, koster gereja kota yang juga nampak kebingungan. “Kayaknya bener sini dech pak, dulu saya juga pernah nganter pendeta yang dari luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Wah&#8230; di mana ya tempat ibadahnya?” keluh Pak Hasudungan sambil menepiskan keringat yang bercucuran di keningnya tersengat panas matahari di siang bolong.</p>
<p>“Pak Herman, apa kita nggak salah alamat desanya ya?” serunya pada Herman, koster gereja kota yang juga nampak kebingungan.</p>
<p>“Kayaknya bener sini dech pak, dulu saya juga pernah nganter pendeta yang dari luar kota, ya ke sini ini tempatnya, tapi kok tidak ada orang yang menyambut ya?” jawab Herman mengelak untuk tidak disalahkan.</p>
<p>“Kok panas banget ya, dari tadi sepertinya kita sudah mutar-mutar dan balik lagi ke tempat ini. Yuk, kita istirahat dulu di bawah pohon rindang itu sambil minum es dawet ya, wah pasti seger nih.” Ajak Pak Hasudungan sambil menunjukkan arah jarinya ke satu tempat tertentu. Pak Herman mengangguk setuju dan menepikan sepeda motor yang telah 15 tahun setia melayaninya.</p>
<p>Sambil menikmati es dawet, Pak Hasudungan dan Pak Herman merasakan desiran angin sepoi yang menyempurnakan suasana santai setelah melakukan perjalanan selama hampir 2 jam. Sambil terkantuk-kantuk mereka masih terus mendiskusikan tempat tujuan yang belum jelas juga.</p>
<p>“Pak, boleh numpang nanya, desa Njodog letaknya di mana ya?” tanya Pak Herman pada penjual es cendol.</p>
<p>“Ah&#8230;. itu lho pak, nggak jauh dari sini kok, tuh&#8230;.kelihatan itu lho, kalau Bapa turun, lalu belok kiri, lalu persis di perempatan belok kanan, kemudian ada kuburan, lempeng saja, lalu turun lagi lewat jalan setapak kira-kira 10 menit, nah&#8230; sampailah Bapa di desa Njodog.” Jawab penjual dawet dengan penuh semangat dan meyakinkan.</p>
<p>“Wah&#8230; gawat nih&#8230; maaf pak saya nggak mudeng (ngerti), apa ada yang bisa ngantar ya?” seru Pak Herman lagi.</p>
<p>“Loh&#8230; lha panjenengan (Anda) sebetulnya mau ke mana?” tanya Pak Kromo penjual dawet yang kelihatannya jadi tambah penasaran.</p>
<p>“Oh&#8230; kami diundang untuk melayani kebaktian sore ini di GKJ Njodog, kami dengar hari Minggu ini sangat istimewa karena ada ibadah ucapan syukur atas panenan yang melimpah terjadi di tempat ini” sela Pak Hasudungan yang pengen juga angkat bicara.</p>
<p>“Woooo, kenapa nggak bilang dari tadi, Bapa ini pendeta toh&#8230; lha saya memang diminta oleh gereja untuk nunggu Bapa di perbatasan desa ini. Yah&#8230; kalau gitu mari saya antar ke gereja.” Jawab Pak Kromo. Sambil berpandangan, Pendeta Hasudungan dan Pak Herman saling tersenyum lega, lalu mereka pun menitipkan motor pada keluarga Pak Kromo dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.</p>
<p>Pak Hasudungan kagum dengan pemandangan hijau seperti permadani terhampar di depannya, dedaunan nan hijau subur dan penuh energi. Tak sabar ia pun bertanya lagi pada Pak Kromo: “Tidak mengherankan kalau panennya di desa ini luarbiasa ya Pak Kromo, tanaman di sekitar sini berdaun hijau lebat dan subur”.</p>
<p>Pak Kromo pun menjawab: “Maaf Pak Pendeta, sebenarnya yang penting bagi kami bukan hijau daunnya yang lebat dan subur tapi buahnya.” Pak Hasudungan dan Pak Herman pun menganggukkan kepala tanda setuju.</p>
<p>Setiba mereka di GKJ Njodog, beberapa orang telah menyambut dengan ramah dan menyiapkan makan siang serta tempat istirahat sementara.</p>
<p>Sore itu tempat ibadah dipadati jemaat yang ingin bersyukur bersama atas berkat Tuhan yang mereka terima berkelimpahan. Musik gending jawa lengkap dengan gamelannya mengiringi pujian yang dinyanyikan dengan penuh kesungguhan hati. Dan ibadah pun berjalan dengan khusuk dan penuh rasa syukur.</p>
<p>Selesai ibadah seperti biasa, pendeta berjalan lebih dulu menuju pintu keluar untuk menyambut jemaat yang akan kembali ke rumah masing-masing. Ketika tiba giliran Pak Kromo memberikan salam, ia pun memuji Pdt Hasudungan: “Wah&#8230; khotbahnya sangat menarik dan memberi semangat Pak Pendeta, terimakasih ya.” Dan Pdt Hasudungan pun menjawab: “Sama-sama Pak, yang penting bagi saya sebenarnya bukan khotbahnya menarik atau tidak Pak, tapi apakah Firman Tuhan yang ditaburkan ini akan menghasilkan buah-buah roh atau tidak?” Dan Pak Kromo pun mengangguk sambil menebar senyum penuh arti.</p>
<p>Tuhan Yesus dalam Perumpamaan “Pokok Anggur yang benar” di Injil Yohanes 15, memberitahukan apa yang paling penting dalam kehidupan para murid. Apa pun yang mereka imani, apa pun yang mereka hayati dan lakukan, jika tidak menghasilkan buah, maka semuanya hanya kelihatan baik tapi tidak dapat dimanfaatkan.</p>
<p>Rajin datang beribadah tiap Minggu, tidak pernah absen membaca renungan saat teduh setiap hari, semangat melayani dalam program kegiatan gereja, menjadi pegiat-pegiat yang setia dan penuh pengabdian. Semua yang kita lakukan sebagai orang-orang yang percaya pada Tuhan Yesus, mungkin saja akan menarik perhatian dan simpatik banyak jemaat atau bahkan banyak orang di luar jemaat. Namun sangat disayangkan, walaupun semua sikap, tindakan, dan dedikasi kita mengundang decak kagum banyak orang, namun jika tidak ada buah-buah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, maka tidak ada manfaat apa pun, karena hanya pengetahuan semata tidak akan pernah mengubah kehidupan kita.</p>
<p>Ibu Teresa atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Mother Teresa”, seorang wanita yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk mendampingi masyarakat miskin di India, menceriterakan pengalaman mengharukan tentang penderitaan yang dialami oleh satu keluarga Hindu dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan sedikitpun, karena tidak memiliki apa pun untuk dimakan.</p>
<p>Ibu Teresa bergegas pergi melawatnya dengan membawa beras secukupnya. Beliau menjumpai anak-anak yang matanya melotot karena lapar. Sungguh sangat menyedihkan! Ibu yang berlatar belakang agama Hindu itu menerima beras dari tangan Ibu Teresa, kemudian membaginya menjadi dua bagian, lalu pergi.</p>
<p>Ketika kembali ibu Teresa menanyakannya: “Ke mana saja kamu pergi? Apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab: “Mereka juga kelaparan.” Rupanya yang dimaksud dengan “mereka” adalah tetangganya, satu keluarga Muslim yang mempunyai jumlah anak yang sama, yang harus ditolong karena mereka juga tidak memiliki apa-apa untuk dimakan. Meskipun ia hanya menerima beras secukupnya, namun rasa empati, kepedulian dan kasih yang muncul dalam diri ibu Hindu itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu bagi saudaranya yang mempunyai nasib yang sama dengannya.</p>
<p>“Karakter positif” kepedulian dan kasih muncul dalam kehidupan ibu yang berlatar belakang agama yang berbeda dengan yang ditolongnya. Hal ini terjadi karena ia sendiri pernah mengalami penderitaan yang sama sehingga ia memahami benar apa artinya rasa lapar yang terjadi dalam suatu keluarga.</p>
<p>Ibu Teresa, anak Tuhan yang mempunyai relasi akrab dengan Tuhan Yesus, selalu saja terdorong untuk menghadirkan “karakter positif” yaitu buah kepedulian dan buah kasih dalam diri seseorang. Perbuatan ini ternyata telah memengaruhi relasi atau hubungan pribadi-pribadi dari latar belakang yang berbeda, baik agama, suku bangsa maupun adat istiadat, dan mengarahkan mereka pada suatu kehidupan bersama yang rukun dan damai.</p>
<p>Bukankah dengan menebarkan benih kepedulian dan kasih dalam diri seseorang, kita telah membangun kembali “karakter positif” dalam dirinya, sehingga ia pun mampu menghasilkan buah kepedulian dan kasih yang dapat dinikmati oleh orang yang lain lagi.</p>
<p>Jadi upaya menebarkan buah–buah roh akan menghasilkan juga buah-buah roh yang lain bagi siapa pun yang menerimanya.</p>
<p>Jika demikian, tunggu apa lagi, tetap tinggallah dalam relasi dengan Tuhan Yesus, apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, hanya dengan demikian dalam setiap gerak dan langkah kita akan didorong untuk menebarkan buah-buah roh (Galatia 5:22) dan buah-buah ini pula yang akan menjalar ke tempat lain dan menghasilkan kehidupan yang lebih rukun dan damai.</p>
<p>[Pdt. Tumpal Tobing]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tinggal-di-dalam-dia-berbuah-bagi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

