<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Refleksi</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/kontemplasi/refleksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menghormati Tuhan-Menghargai Sesama</title>
		<link>http://gkipi.org/menghormati-tuhan-menghargai-sesama/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menghormati-tuhan-menghargai-sesama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 10:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6057</guid>
		<description><![CDATA[1. Hari Sabtu, 9 April 2011, adalah hari yang kelam dalam perjalanan GKI Pondok Indah sebagai tubuh Kristus. Pada hari itu untuk pertama kalinya terjadi, seorang anggota jemaat GKI Pondok Indah mengacaukan dan melecehkan sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan. Begitu pendeta yang memimpin ibadah selesai mengucapkan “ayat pembukaan”, ia, bersama suaminya, masuk dari pintu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.</strong> Hari Sabtu, 9 April 2011, adalah hari yang kelam dalam perjalanan GKI Pondok Indah sebagai tubuh Kristus. Pada hari itu untuk pertama kalinya terjadi, seorang anggota jemaat GKI Pondok Indah mengacaukan dan melecehkan sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan.</p>
<p>Begitu pendeta yang memimpin ibadah selesai mengucapkan “ayat pembukaan”, ia, bersama suaminya, masuk dari pintu samping di dekat tempat duduk Majelis Jemaat, langsung menyambar mikrofon di mimbar kecil. Setelah mendapati mikrofon itu tidak bekerja, ia, bersama suaminya, berdiri di hadapan pengantin dan jemaat, berteriak-teriak sambil sesekali menuding-nuding ke pendeta yang berdiri di belakang mimbar. Tidak terlalu jelas apa sebenarnya maksud perbuatannya ini. Setidaknya dengan cara ini ia menyatakan kembali, –beberapa bulan terakhir ini ia telah bebeberapa kali mengutarakannya dengan cara lain,– ketidaksetujuannya atas pernikahan yang terjadi saat itu.</p>
<p>Sempat terjadi kekacauan kecil waktu itu. Seorang penatua berusaha menghentikan si anggota jemaat dengan menariknya. Sang suami menghalangi upaya si penatua itu, sementara seorang penatua lain berusaha menenangkannya. Dan beberapa penatua lain berjaga-jaga di dekat pengantin. Akhirnya setelah beberapa saat, sang anggota jemaat bersama suaminya keluar gedung gereja melalui pintu utama, menaiki mobil yang sudah siap menantikan mereka dan langsung pergi. Rupanya tindakan sang anggota jemaat itu sudah direncanakan dengan lumayan rapi.</p>
<p>Ada beberapa orang yang mengomentari kejadian itu sebagai sesuatu yang biasa terjadi di gereja tertentu. Barangkali memang demikian halnya. Tetapi peristiwa ini terjadi di gereja kita, GKI, tepatnya di jemaat kita, GKI Pondok Indah. Dalam bahasa Belanda ada ungkapan yang amat tepat untuk ini: “Zo zijn onze manieren niet!” (“Ini tidak sesuai dengan tata sopan-santun kita!”). Dan memang tindakan sang anggota jemaat bukanlah sesuatu yang lazim dilakukan dalam persekutuan orang percaya yang kita sebut sebagai jemaat Tuhan, tubuh Kristus. Namun menurut hemat saya, ini bukan cuma masalah etiket bergereja atau berjemaat.</p>
<p><strong>2.</strong> Hampir setiap hari Minggu pagi terjadi perdebatan seru di rumah kami, antara istri saya dan anak kami. Pasalnya adalah soal pakaian yang dipandang pantas untuk menghadiri kebaktian remaja. Anak saya berpendapat bahwa memakai celana panjang jin dan kemeja, bukan t-shirt, sudahlah amat baik. Tetapi istri saya berkeras bahwa pakaian yang patut untuk menghadiri kebaktian Minggu adalah rok. Dan ini belum mempersoalkan jenis sepatu yang juga sebaiknya dipakai.</p>
<p>Ini mirip dengan perdebatan kecil yang terkadang terjadi antara Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, yang diwakili beberapa penatua perempuan, dengan para katekisan perempuan yang hendak dibaptis dan mengaku percaya. Beberapa katekisan, terutama yang muda, berpendapat bahwa  celana panjang dan blus, atau rok terusan berwarna gelap, sudahlah amat pantas bagi mereka yang menerima baptisan atau mengaku percaya. Tetapi para penatua perempuan, sebagaimana kebiasaan di GKI Pondok Indah, menegaskan bahwa pakaian yang patut dipakai oleh mereka adalah rok terusan berwarna putih, dan sedapatnya dengan sepatu putih juga atau hitam. Dan tentunya perdebatan kecil yang sama terjadi dengan para katekisan laki-laki, yang amat gemar berpakaian tidak formal, atau santai.</p>
<p>Namun ini bukan sekadar soal pakaian yang pantas atau tidak, atau bahkan masalah kebiasaan yang tepat atau tidak. Tetapi di baliknya terdapat sesuatu yang jauh lebih serius yaitu sikap terhadap ibadah itu sendiri, yang antara lain (dapat) ditunjukkan melalui etiket berpakaian atau yang kerap kita kenal dengan dress code. Etiket berpakaian memang tidak dapat digunakan sebagai ukuran mutlak sikap terhadap ibadah. Tetapi cara berpakaian banyak orang akhir-akhir ini, yang terkadang pula ditunjukkan oleh beberapa pengunjung kebaktian Minggu, juga di GKI Pondok Indah, cukup memrihatinkan.</p>
<p>Bila seseorang diundang untuk ke sebuah pesta pernikahan, lazimnya ia akan berusaha untuk berpakaian sebaik mungkin. Bukan hanya demi dirinya sendiri. Tetapi demi menghormati si pengundang yang telah menghargainya dengan mengundangnya ke pesta itu. Begitu pun bila misalnya seseorang diundang untuk menghadiri sebuah resepsi oleh perusahaan tempatnya bekerja, untuk menyambut kedatangan presiden direktur dari kantor pusat di luar negeri. Lazimnya untuk itu ditetapkan dress code tertentu, misalnya laki-laki diharapkan memakai jas dan dasi, dan perempuan memakai long dress. Bukan sekadar demi kerapian dan ketertiban resepsi, tetapi demi menghormati sang presiden direktur. Oleh karena itu bisa pula dibayangkan bagaimana bila seseorang diundang untuk menghadiri audiensi dengan menteri atau bahkan presiden.</p>
<p>Namun anehnya, sikap serupa tidak terlalu tampak dalam etiket berpakaian ketika menghadiri ibadah. Dalam hal ini mungkin saya termasuk ke dalam kelompok tradisional. Kalau saya ke pesta atau resepsi resmi mesti rapi, maka menghadiri ibadah pun setidaknya juga mesti demikian. Tetapi pendapat dan selera setiap orang tentang ini bisa saja berbeda. Belum lagi bila kita mempertimbangkan hak setiap orang untuk memutuskan sendiri caranya berpakaian.</p>
<p>Lalu perlukah gereja/jemaat menetapkan  dress code untuk ibadah (Minggu)? Menurut hemat saya tidak. Sebagaimana yang berlaku dalam khidupan kita dengan Tuhan, pada hakikatnya kita mengamini,–setidaknya di gereja kita, GKI,– bahwa tidak ada “aturan baku” dari apa yang boleh/pantas atau tidak dilakukan. Yang ada adalah prinsip dasarnya, yaitu bagaimana relasi kita dengan Tuhan, dan dengan sesama kita.</p>
<p>Maka sebagai orang-orang percaya yang “dewasa”, kita mestinya dapat menerjemahkan sendiri prinsip dasar itu ke dalam berbagai pertimbangan, keputusan dan tindakan, termasuk etiket berpakaian. Begitu pun, berkaitan dengan insiden yang menyedihkan di atas, jemaat kita tidak perlu menetapkan sikap atau tindakan apa yang boleh/pantas atau tidak dilakukan di tengah ibadah. Masalah utamanya lalu adalah sikap terhadap ibadah dalam terang relasi kita dengan Tuhan dan dengan sesama.</p>
<p><strong>3.</strong> Ada banyak kisah dan contoh di dalam Alkitab yang dapat kita jadikan dasar untuk merefleksikan  sikap kita sebagai orang percaya terhadap ibadah. Saya memilih sebuah peristiwa yang penting dalam sejarah ibadah Israel, dalam 2 Tawarikh 5-7.</p>
<p>Dalam teks di atas dikisahkan betapa Bait Allah telah usai dibangun. Dan umat Allah tiba-tiba dihadapkan pada sebuah momen perubahan yang tak dapat lagi diputar balik. Mereka tiba  di ambang era yang baru, khususnya dalam hidup peribadahan. Salomo mengumpulkan para tua-tua Israel, pemimpin suku dan seluruh kepala kaum, seluruh wakil umat Allah. Tabernakel dibawa masuk ke tempatnya yang khusus dalam ruang maha suci. Para pemusik dan pujian memimpin umat memuji dan memuliakan Tuhan, menyanyikan mazmur.</p>
<p>Lebih daripada biasanya, ibadah kepada Allah saat itu menjadi begitu mengesankan dan indah. Bukan hanya karena dentingan berbagai alat musik dan nyanyian yang dilantunkan, tetapi karena bertambah panjangnya daftar anugerah Tuhan yang mereka terima dan alami sebagai umat-Nya. Memang hakikat ibadah adalah pengucapan syukur dan pujian atas Tuhan, yang kasih setia-Nya tak pernah lekang oleh apa pun. Dan bukan sekadar upacara peresmian Bait Allah, yang pada akhirnya dapat saja bergeser menjadi upacara pemuliaan Salomo, yang paling berjasa dalam perjuangan menuntaskan pembangunannya.</p>
<p>Ibadah Israel, yang diilhami oleh ibadah-ibadah suku dan religi setempat, sejak awalnya sudah secara mendasar berbeda dari sumbernya. Ia adalah ibadah yang tidak pernah berpusat pada umat, kebutuhan, maupun dambaan mereka. Tetapi ibadah yang sungguh-sungguh ditujukan kepada Tuhan yang maha baik, dan yang kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Ibadah yang pada hakikatnya adalah perjumpaan umat dengan Tuhan, mensyukuri kehadiran-Nya dalam segala aspek kehidupan, serta memuji Nama-Nya.</p>
<p>Yang juga amat menarik untuk dicermati adalah refleksi Salomo dalam ibadah syukur seusai pembangunan itu. Dengan rendah hati ia menyatakan bahwa ia hanya dapat menyelesaikan pembangunan ini berkat segala upaya yang sudah dilakukan mendiang ayahnya, Daud. Tetapi lebih mendasar lagi ditegaskannya bahwa betapa pun megah dan indahnya “rumah” yang dibangun dan dikhususkannya bagi Allah itu, belum tentu akan berkenan di mata Allah. Maka dengan tulus, bersama segenap umat Israel, Salomo memohon kepada Allah untuk berkenan menempatinya, dan berdiam di antara umat dan hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Begitu pun mestinya ibadah kita saat ini. Ibadah yang adalah manifestasi dari umat (baca: segenap jemaat) yang, walau sebenarnya tidak layak, diperkenankan datang kepada Tuhan. Ibadah yang oleh karena itu, tidak pernah boleh berpusat pada diri seseorang atau beberapa orang, bahkan juga tidak berpusat pada jemaat itu sendiri sebagai entitas, melainkan hanya pada Tuhan. Ibadah adalah perjumpaan antara Tuhan dengan jemaat-Nya. Apa pun bentuk dan motivasi ibadah itu, ia tidak pernah boleh menjadi ajang, atau bahkan alat, untuk kepentingan atau apa pun yang lain. Sebab apabila itu terjadi, maka itu berarti tidak adanya respek terhadap Tuhan dan jemaat-Nya.</p>
<p>Sikap Salomo yang rendah hati, yang menyadari sepenuhnya siapa dirinya di hadapan Tuhan, yang dalam relasinya dengan Tuhan tidak pernah menganggap bahwa dirinya sendiri di atas umat, adalah sikap yang setidaknya telah membuat Allah berkenan tinggal di Bait Allah yang dibangun bagi-Nya. Sikap yang mestinya juga menjadi sikap mendasar kita terhadap segala bentuk ibadah kita, khususnya di sini, di gereja kita, GKI, di jemaat kita, GKI Pondok Indah. Sikap menghormati Tuhan dan menghargai sesama orang percaya.</p>
<p><strong>4.</strong> Bagi saya, tetap saja tidak jelas maksud si anggota jemaat di atas, yang bersama suaminya telah mengacaukan dan melecehkan sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan. Apakah dengan itu ia bermaksud menggagalkan pernikahan yang tidak disetujuinya itu? Atau barangkali ia ingin agar pendapatnya, yang walau berkali-kali telah diutarakannya dengan berbagai cara, didengar dengan baik oleh segenap jemaat dan Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, warga jemaat gereja lain yang juga hadir saat itu, serta segenap keluarga mempelai? Ataukah ia sekadar ingin memuaskan dirinya sendiri? Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.</p>
<p>Tetapi kenyataan bahwa anggota jemaat itu telah begitu sampai hati untuk melakukannya, kiranya ini menjadi pokok refleksi yang penting dari kita semua, warga jemaat Tuhan, khususnya di GKI Pondok Indah. Refleksi atas sikap yang patut terhadap ibadah, serta atas sikap menghormati Tuhan dan menghargai sesama orang percaya.</p>
<p><strong>5.</strong> “Being brilliant is no great feat if you respect nothing.” (Goethe)</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menghormati-tuhan-menghargai-sesama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penatua yang Punya Pendirian</title>
		<link>http://gkipi.org/penatua-yang-punya-pendirian/</link>
		<comments>http://gkipi.org/penatua-yang-punya-pendirian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 04:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5328</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kwartal akhir tahun 1983 saya diundang oleh GKI Malang untuk datang berkhotbah di jemaat GKI Malang, serta untuk berbincang-bincang dengan Majelis Jemaat dan Komisi-komisi di sekitar rencana pemanggilan saya untuk menjadi pendeta GKI Malang. Dari Jakarta, saya naik bis malam ke Surabaya menjenguk dua orang teman baik saya, Pdt. Agus Susanto yang waktu itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kwartal akhir tahun 1983 saya diundang oleh GKI Malang untuk datang berkhotbah di jemaat GKI Malang, serta untuk berbincang-bincang dengan Majelis Jemaat dan Komisi-komisi di sekitar rencana pemanggilan saya untuk menjadi pendeta GKI Malang. Dari Jakarta, saya naik bis malam ke Surabaya menjenguk dua orang teman baik saya, Pdt. Agus Susanto yang waktu itu melayani jemaat GKI Diponegoro dan Pdt. Andreas Agus Susanto yang melayani GKI Residen Sudirman di Surabaya. Dengan mereka berdua dan teman-teman pendeta lain di Surabaya, saya bercakap-cakap tentang jemaat dan Majelis jemaat GKI Malang, yang nyaris tidak saya kenal, kecuali salah satu pendetanya, yaitu Pdt. B.A. Abednego. Keesokan paginya baru saya naik bis ke Malang.</p>
<p>Pada surat undangan tertera bahwa saya diinapkan di jalan Merapi, di rumah keluarga Penatua Hadi Gunawan. Turun di terminal saya naik becak. Perjalanan yang berlangsung sekitar seperempat jam, saya gunakan untuk menyerap suasana kota Malang yang saat itu pertama kali saya kunjungi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ini jalan apa Pak?” tanya saya kepada pengemudi becak.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Jalan Celaket&#8230; tadi Glintung, dan kalau diteruskan sesudah lampu merah di depan itu, namanya ganti jadi Kayu Tangan&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh&#8230;” desah saya tidak terlalu mengerti.</p>
<p>Di lampu merah yang disebutkan sang pengemudi becak kami belok kanan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau ini jalan apa?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oro-oro Dowo&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kok tulisannya lain&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Itu nama yang baru&#8230; saya hapalnya nama yang lama.”</p>
<p>Di Oro-oro Dowo hanya sejenak lalu belok kiri agak menanjak menyusuri jalan Buring. Maka mulailah saya memasuki kawasan yang dikenal di Malang sebagai daerah gunung-gunung yang elit. Banyak rumah dengan gaya kolonial masih tegak dan megah berdiri, tidak kalah dibandingkan dengan rumah-rumah moderen. Setelah menyusuri jalan Buring beberapa saat, akhirnya kami berbelok kiri masuk ke jalan Merapi. Kami lalu berhenti di depan rumah keluarga Hadi Gunawan.  Sebuah bangunan lama, dengan gaya kolonial, putih bersih, apik dan asri. Saya amat menyukainya.</p>
<p>Pembantu yang membukakan pintu mempersilakan saya masuk ke ruang tamu yang amat bersih dan teratur rapi, dengan perabot yang tua tetapi kokoh dan indah. Seraya menyuguhkan minum dan kue-kue, sang pembantu memberitahukan bahwa Bapak dan Ibu sedang ke Surabaya, sehingga saya akan dijemput untuk diantar ke rumah penatua Indra dan menginap di sana. Bapak Hadi Gunawan akan mengunjungi saya nanti malam bersama beberapa penatua yang lain.</p>
<p>Malamnya tiga penatua, termasuk Pak Hadi Gunawan yang menjabat sebagai Ketua Bidang Penatalayanan, beserta Pdt. Abednego, datang mengunjungi saya untuk mempersiapkan pertemuan esok malamnya dengan para penatua, aktivis dan wakil anggota jemaat. Penatua Hadi Gunawan menjabat tangan saya dengan kuat, sambil tersenyum simpul beliau memperkenalkan diri.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat datang di kota Malang Saudara Purboyo&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Terima kasih, Pak.”</p>
<p>Penatua Indra beserta istri menyambut para tamu, dan secara khusus menyalami Pak Hadi Gunawan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat malam Oom&#8230; Nggak capek habis dari Surabaya?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ah sudah biasa kok. Apalagi menyambut tamu penting dari Jakarta ini&#8230;”</p>
<p>Sejak saat itu sayapun memanggil Penatua Hadi Gunawan dengan “Oom”, karena memang usianya lebih tua ketimbang ayah saya. Namun saya tidak pernah bisa merasa akrab dengan beliau. Karena beliau adalah sosok yang sangat serius bahkan cenderung kaku, walau senyum simpulnya jarang meninggalkan wajahnya. Tetapi terkadang di saat tak terduga beliau bisa berkelakar, dan saya biasanya terlambat memahaminya. Pada suatu saat seusai sebuah kebaktian rumah tangga, beliau bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Pak Pur mau pulang atau mau ke gereja&#8230; he he he&#8230;?”</p>
<p>Saya sempat terdiam tidak mengerti, lalu setelah sesaat baru saya tersenyum lebar. Di Malang kami memang menempati pastori yang terletak tepat di belakang gedung gereja, sehingga pulang berarti juga ke gereja.</p>
<p>Penatua Hadi Gunawan juga adalah seorang yang sangat berprinsip. Beliau selalu berpegang pada Tata Gereja, keputusan Rapat Majelis Jemaat dan prinsip kepantasan dalam kehidupan bergereja. Misalnya saja, sejak saya ditahbiskan menjadi pendeta, beliau mengubah sapaannya terhadap saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Pak Pur&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kok ‘pak’, Oom&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kan sekarang sudah pendeta&#8230; Malahan kalau setia dengan tradisi GKI Malang, mestinya saya panggil Pak Pur dengan ‘Do’&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ya ‘Do’, kependekan dari ‘Dominee’ dalam bahasa Belanda yang berarti pendeta&#8230; Oke Do&#8230;?”</p>
<p>Namun di rapat Majelis Jemaat lain lagi ceritanya. Dalam rapat Penatua Hadi Gunawan adalah seseorang yang amat jelas dan tegas berpendirian. Beberapa teman pendeta di Surabaya menyebutkan namanya di antara beberapa anggota Majelis Jemaat yang keras dan sulit, yang kerap menentukan suasana dan arah rapat Majelis Jemaat GKI Malang. Dan memang tidak jarang kami bersilang pendapat bahkan bertabrakan dengan keras.</p>
<p>Namun beliau tidak pernah membawa perbedaan pendapat dalam rapat ke ranah relasi pribadi. Bahkan pernah setelah malam sebelumnya kami berdua beradu argumentasi sehingga muka kami masing-masing menjadi merah, keesokan paginya beliau mengunjungi saya di rumah. Saya menyambut beliau dengan sedikit bertanya-tanya apakah beliau hendak melanjutkan percakapan alot kami sebelumnya. Namun selama lebih dari setengah jam kami hanya bercakap-cakap tentang hal-hal yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kemajelisan. Baru ketika beliau berpamitan dan saya menghantarnya di pintu, beliau tersenyum simpul dan berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do&#8230; saya cocok dengan Do&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do benar-benar pendeta GKI&#8230; Selamat pagi.”</p>
<p>Saya mengangguk-angguk walau kurang mengerti. Tetapi setidaknya itulah barangkali cara beliau untuk mengatakan bahwa di antara kami tidak ada masalah walau kami kerap berbeda pendapat. Dan tidak hanya sampai di situ kebesaran jiwa beliau.</p>
<p>Pernah pada suatu kali, sebagai ketua Bidang Penatalayanan, beliau memutuskan untuk menebang sekitar lima batang pohon palem raja di halaman gereja, demi memudahkan anggota jemaat memarkir mobil mereka. Saya amat suka dan bangga dengan pohon-pohon palem itu. Lagipula beliau sama sekali tidak berunding dahulu dengan anggota Majelis Jemaat yang lain, atau setidaknya dengan Badan Pimpinan Harian.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oom&#8230; butuh puluhan tahun sehingga palem-palem itu begini besar. Dan Oom hanya membutuhkan beberapa jam untuk membunuh mereka&#8230;!” tegur saya dengan marah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do&#8230; saya melakukannya demi kepentingan jemaat, bukan kepentingan saya&#8230;!” jawab beliau, juga dengan nada tinggi.</p>
<p>Saya terdiam dan dalam hati membenarkannya. Namun saya masih merasa sayang dengan pohon-pohon palem yang indah itu. Lagipula saya agak jengkel dengan keputusannya untuk menebangi pohon-pohon palem itu tanpa berunding dengan Majelis Jemaat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Begini Oom&#8230; Kalau sebelumnya Oom mengajukan ini dalam rapat majelis Jemaat atau merundingkannya dengan Badan Pimpinan Harian, maka saya akan mengerti, walau saya tetap amat menyayangkannya. Tetapi sekarang, protes atau argumentasi apapun tidak ada gunanya&#8230; Pohon-pohon yang indah ini sudah Oom tebang&#8230;!”</p>
<p>Oom Hadi Gunawan terdiam dan menghela napas dalam-dalam beberapa kali. Kelihatan betapa beliau berusaha untuk mengendalikan emosinya. Akhirnya dengan mengangguk-angguk beliau mengulurkan tangannya kepada saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do benar&#8230; seharusnya saya mengkonsultasikannya dulu dengan Majelis Jemaat. Saya minta maaf&#8230;”</p>
<p>Saya menjabat tangan Oom Hadi Gunawan dengan erat dan dengan terharu. Di tempatnya, saya belum tentu dapat melakukan apa yang ditunjukkan beliau kepada saya yang jauh lebih muda daripadanya. Sesudah insiden itu Oom Hadi Gunawan berusaha sebisanya untuk menjadikan halaman gereja tetap hijau walau tak ada lagi pohon-pohon palem yang indah itu. Dan sejak saat itu hampir selalu beliau mengajak saya berunding tentang rencana-rencana beliau di sekitar sarana dan prasarana gereja serta banyak hal lainnya. Dan saya berkesempatan untuk mengenal beliau dengan lebih baik.</p>
<p>Di tengah kesibukan beliau di pabrik permen yang dimiliki dan dipimpinnya, Oom Hadi Gunawan hampir setiap hari mampir ke gereja. Sekali dalam beberapa bulan beliau mampir ke pastori-pastori empat pendeta dengan menaiki jip Toyota hardtop abu-abu kesayangannya, untuk memeriksa apakah semuanya dalam keadaan baik. Saya teringat kepada keadaan rumah beliau yang juga sangat rapi dan terpelihara. Rupanya itulah juga yang diupayakannya pada seluruh aset GKI Malang, yang terbaik.</p>
<p>Beliau juga selalu bersedia bila saya ajak mengunjungi anggota jemaat yang sakit di luar kota. Terutama bila ke Surabaya beliau hampir pasti turut karena pulangnya beliau bisa mampir sebentar menengok putri beliau dan keluarganya yang tinggal di bilangan Rungkut. Dalam perundingan-perundingan kerjasama antara GKI Malang dengan Gereja Kristen Tuhan dan gereja-gereja lain, beliau selalu bersedia dilibatkan. Motivasi beliau amatlah gamblang: yang terbaik bagi gereja Tuhan, khususnya GKI Malang. Itu pula sebabnya mengapa beliau sempat ragu bahkan skeptis atas rencana mengembangkan GKI Malang menjadi GKI Tumapel dan GKI Bromo. Tetapi begitu Majelis Jemaat memutuskannya, beliau menerimanya dan turut mewujudkannya.</p>
<p>Teman-teman pendeta di GKI Jatim terkadang menanyakan apakah saya mengalami kesulitan dalam pelayanan bersama para penatua yang “sulit”, termasuk Oom Hadi Gunawan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ah&#8230;. memang mula-mula agak kaget, tetapi lama-lama kami saling menyesuaikan diri dan belajar&#8230;” jawab saya dengan jujur.</p>
<p>Dan memang dari Oom Hadi Gunawan saya banyak belajar. Mengenai GKI Malang dengan segala latar belakangnya. Mengenai pelayanan Majelis Jemaat pada umumnya dan pelayanan seorang penatua pada khususnya. Dan mengenai diri saya sendiri. Tak akan pernah saya lupakan apa yang beliau katakan kepada saya menjelang keberangkatan saya ke Belanda untuk studi:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do, saya sangat menyayangkan Do pergi, sementara rencana pengembangan GKI Malang belum terlaksana&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kan ada Pak Abed dan rekan-rekan yang lain, Oom&#8230;?”</p>
<p>Oom Hadi Gunawan memasang senyum simpulnya yang khas itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oke Do, goede reis (Selamat jalan) &#8230; ini pada akhirnya selain demi kebaikan Do sendiri, juga demi kebaikan GKI Malang, bahkan demi kepentingan Sinode GKI Jatim&#8230; God zegent (Tuhan memberkati) &#8230;”</p>
<p>Bagi saya mengenang masa pelayanan di Malang tak bisa tidak mengingatkan saya pada Oom Hadi Gunawan. Sekarang beliau dan Tante Bwee, istri beliau, sudah tiada. Tetapi mereka tetap hidup dan menempati tempat yang khusus di hati saya.</p>
<p>Dulu, di Malang, di ruang tamu Oom Hadi Gunawan di jalan Merapi, tergantung beberapa foto keluarga. Oom Hadi Gunawan, Tante Bwee, tiga putra, yang waktu itu sedang studi di luar negeri, dan satu putri, yang tinggal di Surabaya. Sekarang, di GKI Pondok Indah, ketiga putra Oom Hadi Gunawan adalah anggota-anggota jemaat yang aktif beserta keluarga masing-masing, dalam berbagai pelayanan di GKI Pondok Indah: Hindra Tjahjadi, Chris Wibisono dan Singgih Tjahjono.</p>
<p>Melihat mereka saya serasa mengalami kembali pelayanan bersama Oom Hadi Gunawan.</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/penatua-yang-punya-pendirian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengacara Berhati Nurani</title>
		<link>http://gkipi.org/pengacara-berhati-nurani/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pengacara-berhati-nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 14:47:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4710</guid>
		<description><![CDATA[Pak Rachmat berusaha memperjuangkan agar Chiangcream lolos dari hukuman mati. Ia melakukannya dengan mengimbau persidangan untuk mempertimbangkan prinsip etika yang melihat hukuman mati bukan sebagai jalan keluar untuk merehabilitasi manusia, tetapi jalan pintas yang terlalu pendek dan mengabaikan harkat hidup dan jiwa manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali kami berjumpa dan berkenalan adalah ketika pada suatu kali, sekitar tiga tahun yang lalu, saya diundang untuk memimpin kebaktian di jemaat GKI Diponegoro Surabaya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat siang Pak Purboyo, saya Rachmat, penatua di sini. Saya yang ditugasi untuk menjamu Bapak selama menjadi tamu kami,” ujarnya ramah seraya menjabat tangan saya dengan erat.</p>
<p>Sejak itu dalam berbagai pertemuan, walau rentang waktunya renggang, kami kian baik mengenal satu sama lain. Saya seorang pendeta dan Pak Rachmat seorang pengacara yang amat aktif dalam pelayanan di gereja, juga dalam profesinya sebagai pengacara. Saya pikir, perekat kami adalah percakapan kami, yaitu pertukaran pikiran di sekitar pelayanan gereja yang kerap berada dalam panjang gelombang yang sama. Mulai dari tugas-tugas penatua dan pendeta, hingga kiat membangun jemaat kami percakapkan dengan seru, setiap kali berjumpa. Dan tentunya tidak boleh dilupakan bahwa diskusi kami biasanya dilakukan di rumah makan.</p>
<p>Seiring dengan kian dekatnya kami, pengenalan kami akan masing-masing pun kian merasuk ke ranah profesi bahkan pribadi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Istri saya berkantor di dekat rumah kami, di kantor notaris yang tadi kita lewati itu. Padahal sebenarnya ia seorang ekonom&#8230;” jawabnya atas pertanyaan saya mengenai pekerjaan istrinya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Maksud Pak Rachmat, ia yang memegang keuangan di situ?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sebenarnya tidak sih. Istri saya seorang notaris&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Jadi ia studi hukum dong&#8230;?” tanya saya dengan heran.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ceritanya panjang Pak&#8230; Ia memang studi hukum lalu melanjutkan ke notariat. Dia selalu nomor satu di kelasnya, sehingga selalu mendapat beasiswa&#8230;” jawab Pak Rachmat sambil senyum renyah mengenang masa-masa indah di awal pernikahan mereka yang penuh perjuangan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau Pak Pur sendiri bagaimana? Ibu, anak-anak&#8230;?” balasnya bertanya yang saya jawab dengan senang hati.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tetapi kembali ke profesi Ibu dan Pak Rachmat, berarti profesi kalian bisa saling mengisi dengan enak ya?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Wah, jarang sekali, Pak. Kan dunia kami berbeda sekali. Kadang-kadang memang saya membutuhkan jasa notaris untuk kasus tertentu. Tetapi jarang sekali.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Di jemaat bagaimana pelayanan kalian, Pak?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ya ini yang kerap menjadi persoalan kami. Sekarang saya memang sudah bukan penatua lagi karena masa pelayanan saya sudah habis. Tetapi sekarang istri saya diminta menjadi penatua. Jadinya kami rasanya lebih banyak di gereja ketimbang di rumah bersama anak-anak.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Pak Rachmat juga masih aktif di bidang lain?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ya di sekitar organisasi biasanya&#8230; Tetapi saya juga kerap diminta untuk memimpin bina pra-nikah, khususnya dalam aspek hukum dari pernikahan.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Wah, menarik, Pak.”</p>
<p>Pak Rachmat seorang pengacara, namun ia memilih berkonsentrasi pada perkara perdata ketimbang pidana.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Mengapa, Pak?” tanya saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Lebih santai yang perdata, Pak Pur. Tetapi sesekali saya menangani juga perkara pidana.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh&#8230; kalau perkaranya menarik buat Pak Rachmat&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ha ha ha&#8230; enggak lah Pak. Saya hanya mau melakukannya bila sang terdakwa benar-benar membutuhkan seorang pembela yang membela hak-haknya. Biasanya hal itu terjadi atas permintaan pengadilan bagi terdakwa yang membutuhkan pembela, atas biaya negara.”</p>
<p>Kemudian ia sempat menceritakan dua kasus pidana berat yang dibelanya.Yang pertama adalah kasus yang menurut Pak Rachmat sempat gencar diberitakan di koran. Kasus seorang ibu yang ketika memandikan anak angkatnya, tanpa sengaja menjatuhkan si anak, sehingga akhirnya meninggal dunia. Si ibu kemudian dituntut, dengan dakwaan kekerasan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Dalam kasus ini saya benar-benar mencari menang. Karena dakwaannya tidak masuk akal, dan saya percaya si ibu tidak melakukannya.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bagaimana Bapak yakin?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh itu harus terlebih dahulu saya pastikan. Sebab hal itu kemudian yang menentukan arah pembelaan saya, Pak.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Dan si ibu bebas, Pak?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Atas berkat Tuhan, karena ia memang tidak bersalah.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bagaimana dengan kasus yang kedua, Pak?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Wah yang kedua amat berat dan berbeda sekali.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Berbeda bagaimana, Pak?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Si terdakwa memang bersalah, Pak Pur, jadi arah pembelaan saya benar-benar hendak mendampinginya agar selama proses peradilan, ia diperlakukan secara adil dan hak-haknya terjamin.”</p>
<p>Kemudian dengan bersemangat Pak Rachmat menceritakan kasus perdananya yang kedua, yang menyangkut seorang perempuan muda berasal dari Thailand, bernama Chiang cream. Ia tertangkap di bandar udara Juanda Surabaya karena berusaha menyelundupkan heroin seberat 2 kilogram yang disembunyikan di lapisan dinding kopornya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Karena pembela yang mula-mula ditunjuk mengundurkan diri, sayapun dipanggil. Setelah mempelajari kasusnya saya bersedia membelanya.”</p>
<p>Tidak lama setelah ditetapkan sebagai pembelanya, Pak Rachmat mengunjungi Chiangcream di rumah tahanan perempuan. Ternyata Chiangcream adalah seorang perempuan yang amat sopan halus, dan baik, sehingga disukai oleh teman-temannya di rumah tahanan itu. Ia adalah seorang ibu muda dengan seorang anak perempuan berumur belum genap 10 tahun, yang ditinggalkan suami untuk hidup dengan wanita lain. Ia dan keluarganya terbelit oleh kesulitan keuangan, sehingga ia sempat bekerja sebagai pekerja seks komersial, dan akhirnya bersedia menjadi kurir narkoba.</p>
<p>Dan bukan hanya itu karena ternyata Chiangcream adalah seorang Kristen.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sedih saya, Pak Pur… Tetapi nasibnya memang tragis. Dan barangkali karena ia seorang Kristen maka saya yang ditunjuk untuk membelanya.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kenyataan bahwa ia seorang Kristen lebih memudahkan Pak Rachmat untuk membelanya?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tidak, Pak. Kalau saya sudah mau membelanya, siapapun dia, apapun agamanya akan saya bela dengan segala daya.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">”Maaf Pak Rachmat. Maksud saya bukan menganjurkan Anda untuk memilih bulu, tetapi ingin tahu apakah kenyataan itu memudahkan Anda dalam komunikasi dan relasi dengannya.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh, memang benar, Pak. Saya menjelaskan padanya bahwa ia memang bersalah, dan diancam hukuman mati, mengingat banyaknya heroin yang berusaha diselundupkannya. Oleh karena itu saya berjuang agar hak-haknya terjamin dan proses peradilan berjalan adil, mengingat banyak sekali tekanan dari berbagai pihak. Dan jangan lupa tekanan dari pers yang terus dengan gencar meliputnya. Namun saya berusaha agar ia tidak dihukum mati, tetapi divonis seumur hidup. Maka saya lalu menasihatinya untuk terus berdoa!”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Lalu bagaimana tanggapannya?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Dia menangis, apalagi mengingat anaknya yang ditinggalkannya di Thailand. Dan ia mau melakukannya. Dan bukan hanya itu, Pak Pur&#8230; Chiangcream ternyata menderita AIDS.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Maksud Pak Rachmat, terkena virus HIV?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tidak Pak, sudah AIDS. Ia beberapa kali muntah darah, diperiksa di rumah sakit, ternyata positif AIDS.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Dan ia tetap di rumah tahanan itu?” tanya saya dengan heran.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Maklumlah, Pak. Maka waktu saya suruh berdoa itu, dia sungguh-sungguh melakukannya. Saya tiba-tiba teringat kepada lagu “Doa Bapa Kami” dalam bahasa Inggris. Saya tuliskan di atas kertas dan saya ajari untuk menyanyikannya, agar bisa membantu menguatkannya. Habis saya tidak tahu lagu rohani dalam bahasa Inggris yang lain.”</p>
<p>Chiangcream, yang sudah menyerah pada keadaannya, kemudian sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan. Ia terus menyanyikan lagu “Doa Bapa Kami” itu dengan sungguh-sungguh dan penuh perasaan. Beberapa temannya di rumah tahanan itu rupanya tersentuh oleh kesungguhan Chiangcream, sehingga ikut belajar menyanyikannya, tanpa memahami apa artinya.</p>
<p>Sementara itu sejak beberapa persidangan awal, Pak Rachmat berusaha memperjuangkan agar Chiangcream lolos dari hukuman mati. Ia melakukannya dengan mengimbau persidangan untuk mempertimbangkan prinsip etika yang melihat hukuman mati bukan sebagai jalan keluar untuk merehabilitasi manusia, tetapi jalan pintas yang terlalu pendek dan mengabaikan harkat hidup dan jiwa manusia. Untuk itu Pak Rachmat mendatangkan saksi ahli dalam diri Prof. Sahetapy yang giat memperjuangkan penghapusan hukuman mati. Selain itu Pak Rachmat juga mengimbau persidangan dengan dasar keadaan kesehatan Chiangcream.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kelihatannya waktu itu bagaimana, Pak? Akan berhasilkah imbauan-imbauan itu?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Rasanya begitu, Pak. Sayangnya kemudian keadaan kesehatan Chiangcream kian buruk, sehingga akhirnya harus dirawat di rumah sakit karena muntah-muntah darah dan pingsan.”</p>
<p>Chiangcream sempat dirawat beberapa minggu di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Pak Rachmat sempat terpukul karenanya. Apalagi beberapa hari sebelum Chiangcream meninggal, ia menerima faks dari Thailand yang belum sempat disampaikannya kepada Chiangcream, yang memang sudah tidak sadar. Faks itu dari anaknya di Thailand: “I love you, Mom!”</p>
<p>Yang juga amat berkesan di hati Pak Rachmat adalah apa yang terjadi sebelum Chiangcream dimakamkan. Karena tidak ada pendeta, Pak Rachmat memimpin hadirin waktu itu, termasuk perwakilan dari kedutaan Thailand, untuk berdoa. Dan sebelum jenazah diberangkatkan, beberapa teman tahanan Chiangcream yang hadir, meminta waktu. Salah seorang dari mereka berkata: “Kami ingin menyanyikan sebuah lagu yang amat disukai dan selalu dinyanyikan oleh almarhum.”</p>
<p>Maka merekapun kemudian menyanyikan lagu “Doa Bapa Kami” dalam bahasa Inggris, dengan khusuk dan berlinang air mata.</p>
<p>Pak Rachmat mengakhiri ceritanya sambil menghela nafas panjang.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Mungkin memang sebaiknya berakhir begini. Setidaknya Chiangcream telah mengalami bahwa ia juga punya teman-teman yang membelanya, baik di dalam maupun di luar pengadilan..”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Juga bahwa ia punya Tuhan. Pak Rachmat dengan baik sekali telah menunjukkan hal itu&#8230;.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ah&#8230; saya cuma mengajarinya menyanyi, Pak Pur&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tetapi maknanya kan ternyata lebih dalam toh&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Memang Pak, saya setuju&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Lain kali kalau ada perkara pidana lain, bagaimana Pak Rachmat &#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Pada prinsipnya bersedia, Pak&#8230; Tetapi saya akan melihat dulu kondisinya. Kalau sekadar membela begitu saja, apalagi untuk mendapatkan uang, saya tidak mau, Pak.”</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pengacara-berhati-nurani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Tangan Tuhan  Menggamit&#8230;</title>
		<link>http://gkipi.org/ketika-tangan-tuhan-menggamit/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ketika-tangan-tuhan-menggamit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 04:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3456</guid>
		<description><![CDATA[Perawakannya termasuk kecil untuk seorang perempuan. Kurus, agak bungkuk, tetapi masih bisa berjalan dengan cepat, berkacamata tebal dan sangat sehat. Beliau mempunyai kebiasaan yang waktu itu saja sudah aneh bagi kami anak-anak, yaitu makan pinang, yang ditutup dengan mengunyah tembakau. Usianya sudah tujuhpuluhan, walau tidak ada seorang pun di dalam keluarga yang mengetahuinya dengan tepat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perawakannya termasuk kecil untuk seorang perempuan. Kurus, agak bungkuk, tetapi masih bisa berjalan dengan cepat, berkacamata tebal dan sangat sehat. Beliau mempunyai kebiasaan yang waktu itu saja sudah aneh bagi kami anak-anak, yaitu makan pinang, yang ditutup dengan mengunyah tembakau. Usianya sudah tujuhpuluhan, walau tidak ada seorang pun di dalam keluarga yang mengetahuinya dengan tepat. Kami selalu memanggilnya: Mbah Ineng, sebutan akrab dari panggilan yang lebih resmi: Mbah Siner. Menurut Ibu saya, nama Siner berasal dari pekerjaan almarhum suaminya di zaman Belanda sebagai “ziener” atau pengawas di perkebunan tebu di Jawa Tengah. Nama almarhum suami Mbah Ineng adalah Hardjowasito, sehingga beliau juga secara resmi dikenal sebagai Ibu Hardjowasito.</p>
<p>Beliau adalah kakak dari nenek saya dari Ibu. Sepanjang pengetahuan saya beliau selalu tinggal bersama keluarga kakak ibu saya (Bu De), yang suaminya adalah seorang diplomat. Biasanya beliau selalu menyertai keluarga Bu De ke manapun Pak De ditugaskan oleh Departemen Luar Negeri. Namun ketika saya duduk di Sekolah Menengah Pertama, beliau sudah terlalu tua untuk mengikuti keluarga Bu De ke Miami kalau tidak salah. Sejak itu beliau tinggal bersama keluarga kami di jalan Cilandak 1, Jakarta Selatan.</p>
<p>Mbah Ineng adalah seorang yang sangat rapi dan pembersih. Bila saya berkunjung ke kamarnya, hampir selalu dengan galak dan dengan segumpal tembakau di mulutnya, beliau berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Jangan duduk di tempat tidur Pungky! Kamu kan baru duduk entah di mana&#8230; Ha! Kamu sebelum masuk tadi sudah kesed belum&#8230;?”<br />
“Sudah Mbah..!”<br />
“Ya sudah&#8230;. bagus&#8230; sebaiknya kamu lepas saja sepatumu&#8230;”</p>
<p>Mbah Ineng juga amat ketat menjaga kamarnya dari serangan nyamuk. Konon beliau sendiri atau suami beliau pernah mengidap malaria ketika kecil. Betapapun kami mencoba meyakinkannya bahwa di Cilandak tidak ada nyamuk malaria, beliau bergeming.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalian belum pernah kena penyakit itu sih&#8230;?”</p>
<p>Oleh karena itu pintu kamarnya dilengkapi dengan pintu kasa. Dan di luar kamar di kusen pintu kasa itu Mbah Ineng menggantungkan sebuah sapu lidi. Setiap orang yang hendak masuk kamar beliau harus mengusir nyamuk yang kelihatan maupun tidak, lalu membuka kedua pintu, menggantungkan sapu lidi di tempatnya kembali dan cepat-cepat masuk serta menutup pintu-pintu itu. Di dalam kamar di pintu kamar tergantung sapu lidi serupa. Setiap orang yang hendak keluar kamar, begitu membuka pintu kamar dan pintu kasa harus mengayun-ayunkan sapu lidi, menggantungkannya kembali, keluar dan menutup kedua pintu itu.</p>
<p>Mbah Ineng nyaris tidak pernah kelihatan tidak necis. Setiap pagi dan sore, walaupun belum tentu keluar rumah, sesudah mandi beliau selalu berpakaian amat rapi, berkain dan kebaya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Memang mau dijemput pacar ya Mbah&#8230;?” tanya saya menggodanya.<br />
“Ah tidak&#8230;” jawabnya dengan serius.<br />
“Lalu kenapa pagi-pagi sudah rapi?”<br />
“Siapa tahu ada tamu&#8230;”</p>
<p>Salah satu dari tamu-tamu yang paling diharap-harapkannya adalah nenek saya dari Ibu, satu-satunya adik kandungnya. Beliau tinggal di rumahnya sendiri di belakang rumah Bu De yang lain di Rawamangun. Keduanya bagaikan langit dan bumi. Bila Mbah Ineng kecil dan kurus, nenek saya gemuk, tegap serta cukup tinggi. Beliau bernama Sudarmini Soemakno, tetapi biasa dipanggil Mbah Sudar, Mbah Makno, atau Mbah Dokter, karena almarhum suaminya adalah dokter di zaman Belanda. Bila Mbah Ineng adalah sosok yang rapi dan bersih, maka Mbah Dokter adalah sosok yang berpakaian seenaknya. Bila Mbah Ineng tinggal di kamar yang sangat rapi dan bersih, maka kamar Mbah Dokter adalah salah satu contoh dari kamar yang centang-perenang. Bila Mbah Ineng cenderung pendiam, Mbah Dokter sangatlah fasih dan suka berbicara.</p>
<p>Tak ada di antara kami yang meragukan bahwa mereka berdua saling mencintai dan merindukan. Namun bila mereka berjumpa selalu saja mereka bertengkar. Pertengkaran biasanya dimulai karena diabaikannya ritus kebersihan atau mengusir nyamuk oleh Mbah Dokter.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Sudar&#8230;! Kamu belum mengusir nyamuk sebelum masuk tadi&#8230;”<br />
“Ah, ini kan musim hujan&#8230;. mana ada nyamuk to Yu (Bahasa Jawa: singkatan dari Mbakyu, yang berarti kakak perempuan) &#8230;” jawab Mbah Dokter seenaknya sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur.<br />
“Jangan duduk di situ&#8230; pakaianmu kan kotor dari luar&#8230; Duduk saja di kursi!”<br />
“Emoh ah. Keras kursimu&#8230;”</p>
<p>Namun penyebab puncak keributan di antara mereka biasanya adalah ketidaksediaan Mbah Ineng untuk ke gereja, atau tepatnya menyerahkan diri untuk percaya kepada Kristus. Pertengkaran tentang ini konon sudah dimulai sejak awal Mbah Dokter menjadi Kristen.</p>
<p>Mbah Dokter, nenek saya, ketika masih muda pernah mengikuti seri kebaktian kebangkitan rohani di alun-alun kota Yogyakarta, yang dipimpin oleh John Sung pekabar Injil dari Tiongkok di tahun empatpuluhan. Di situ beliau memberi diri untuk percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Beliau kemudian selalu dengan berapi-api mengabarkan Injil kepada siapa saja. Cukup banyak orang yang berhasil diyakinkannya untuk percaya dan memberi diri dibaptiskan.</p>
<p>Namun yang paling membuat Mbah Dokter penasaran adalah bahwa setelah sekian lamanya beliau tetap saja belum berhasil meyakinkan Mbah Ineng untuk menyerahkan diri dan hidupnya kepada Kristus. Ada saja selalu argumentasi Mbah Ineng untuk menangkis bujukan adiknya. Dan kerapkali sang adik tidak mampu menjawab sang kakak. Beberapa di antara argumentasi jitu itu adalah ini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Buat apa menjadi orang Kristen? Nyatanya banyak orang Kristen yang tidak lebih baik, bahkan lebih buruk dibandingkan dengan orang-orang yang bukan Kristen&#8230;”</p>
<p>Atau ini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Kamu sejak menjadi Kristen nasibmu juga tidak lebih baik ketimbang sebelumnya&#8230;”</p>
<p>Maka biasanya lalu senjata pamungkas Mbah Dokter adalah seperti ini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Tetapi di Kitab Suci tertulis bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa&#8230;” yang segera dijawab dengan ketus:<br />
“Pokoknya aku percaya kepada Allah&#8230; mau di dalam Kristus atau tidak, itu urusanku&#8230;!”</p>
<p>Tidak jarang mereka berpisah dalam suasana yang masih agak panas seperti itu. Tetapi setelah beberapa lama mereka saling rindu, dan bertemu lagi walau kadang-kadang itu berarti terulangnya lagi pertengkaran di antara mereka.</p>
<p>Meskipun selalu dengan ketus menolak adiknya yang mencoba meyakinkannya untuk percaya, sebenarnya ada celah-celah pada pertahanan Mbah Ineng yang tidak diketahui sang adik. Setiap hari Minggu rumah kami digunakan untuk dua kelas Sekolah Minggu. Di ruang tamu untuk kelas anak kecil dan di ruangan samping untuk kelas anak besar, dekat dengan kamar Mbah Ineng. Sesekali Mbah Ineng berdiri di pintu ruang samping memerhatikan ibu saya yang sedang memimpin, atau dengan mengangguk-angguk mengikuti irama anak-anak menyanyi.</p>
<p>Setiap kali, Mama yang melihatnya berdiri, menyapanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Bu Siner&#8230;” begitu ibu dan ayah saya selalu memanggilnya, “&#8230;daripada berdiri mbok lenggah (Bahasa Jawa: duduk)  dengan anak-anak di sini&#8230;”</p>
<p>Mbah Ineng tersenyum, menggelengkan kepalanya dan masuk ke kamarnya. Begitu terjadi setiap kali selama entah berapa lama. Tetapi pada suatu hari terjadilah yang tak di sangka-sangka. Seperti biasa Mbah Ineng berdiri di pintu, setelah beberapa saat Mama menyapanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bu Siner&#8230; mau lenggah di sini&#8230;?”</p>
<p>Tanpa menjawab Mbah Ineng memasuki ruangan Sekolah Minggu dan duduk di kursi yang ditunjukkan Ibu. Sejak saat itu, Mbah Ineng biasa mengikuti kebaktian Sekolah Minggu, bila beliau sedang menginginkannya. Ibu dan ayah saya mensyukuri perkembangan ini. Dan berniat untuk kembali mengajak beliau mengikuti kebaktian keluarga yang sesekali diadakan di rumah kami, walau selama ini beliau menolaknya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
“Bu Siner&#8230;” sapa ayah saya pada suatu sore di ruang tamu. “Sabtu depan, jam 5 sore, ada kebaktian keluarga yang diadakan di rumah kita. Bu Siner kerso (Bahasa Jawa: berkenan)  hadir&#8230;?”</p>
<p>Mbah Ineng menatap Bapak beberapa saat lalu menghela nafas panjang dan menjawab lirih:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Mungkin lain kali&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">
“Bu Siner tidak perlu melakukan apa-apa kok, seperti kalau di sekolah Minggu itu lho&#8230;” kata ibu saya penuh harap.</p>
<p>Mbah Ineng tersenyum, untuk beberapa saat kelihatan berpikir, tetapi kemudian menggelengkan kepalanya. Maka mengertilah ibu dan ayah saya bahwa beliau tidak bersedia, sehingga percakapan tentang hal itu dihentikan. Begitulah terjadi beberapa lamanya.</p>
<p>Pada suatu kali, seminggu sebelum kembali diadakan kebaktian keluarga di rumah kami, Bapak bertanya lagi kepada Mbah Ineng:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bu Siner, Sabtu depan jam 5 sore, ada kebaktian keluarga lagi di rumah kita. Bagaimana&#8230;?”</p>
<p>Seperti biasa, Mbah Ineng menatap Bapak beberapa saat lalu menghela nafas panjang dan menjawab lirih:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Mungkin lain kali&#8230;”</p>
<p>Bapak mengangguk-angguk dan Mama kelihatan amat kecewa. Tetapi begitulah Mbah Ineng. Tidak banyak bicara tetapi amat jelas apa yang dikehendakinya atau yang tidak dimauinya. Kamipun mulai mempersiapkan diri untuk kebaktian keluarga itu. Biasanya tugas saya adalah menyebarkan undangan kepada keluarga-keluarga Kristen di lingkungan kami, yang berasal dari berbagai gereja. Jadi sebenarnya kebaktian keluarga di lingkungan kami (Cilandak) waktu itu adalah cikal-bakal kebaktian-kebaktian ekumenis yang kini biasa dikenal.</p>
<p>Pada Sabtu siang dilaksanakannya kebaktian keluarga itu, kami semua sibuk. Mama mempersiapkan hidangan bersama beberapa ibu. Bapak memilih dan mengetik lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Saya dan adik saya laki-laki mengatur kursi-kursi, sedangkan adik saya perempuan yang masih kecil turut sibuk bermain-main di dekat kami.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ayo mulai mandi, gantian&#8230; sudah jam setengah 4 lho&#8230;” kata ayah saya yang memang selalu disiplin dengan waktu.</p>
<p>Kami, anak-anak langsung berebutan memasuki kamar mandi, tak ketinggalan adik saya yang kecil.</p>
<p>Sekitar jam 16.30 kami selesai mempersiapkan diri dan dengan takjub kami melihat Mbah Ineng dengan pakaiannya yang indah dan rapi duduk di ruang tamu. Kami tak mampu berkata-kata kecuali tersenyum kepadanya. Beliau pun membalas senyuman kami, juga tanpa mengatakan apapun. Dan sejak itu Mbah Ineng selalu hadir dalam setiap kebaktian keluarga yang diadakan di rumah kami.</p>
<p>Sementara itu bujukan dan dorongan Mbah Dokter kepada beliau untuk percaya dan menyerahkan diri kepada Kristus tetap berlangsung. Terlebih-lebih sejak Mbah Ineng kerap mengikuti kelas Sekolah Minggu dan secara rutin mengikuti kebaktian keluarga di rumah kami. Tetapi Mbah Ineng bergeming, sambil mengunyah pinang beliau berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sudahlah Sudar&#8230; aku tidak mau&#8230;”<br />
“Tidak mau atau belum mau&#8230;?” tukas Mbah Dokter.<br />
“Mungkin&#8230; belum&#8230; “<br />
”Jadi pada suatu hari mau?”<br />
“Sudahlah Sudar&#8230;.”</p>
<p>Pada suatu sore, ayah saya yang baru kembali dari kantor, duduk membaca koran ditemani ibu saya yang membaca sebuah buku. Mbah Ineng yang seperti biasa sudah rapi setelah mandi, memasuki ruang tamu membawa perlengkapan makan-pinangnya. Sejenak mereka bertiga sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lalu tiba-tiba Mbah Ineng berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Apakah yang harus saya lakukan bila saya ingin dibaptis&#8230;?”</p>
<p>Untuk beberapa saat ayah dan ibu saya tak mampu berkata apapun. Akhirnya ayah saya yang mampu lebih cepat menguasai dirinya, berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Maksud Ibu&#8230;. Bu Siner mau dibaptis&#8230;?”<br />
“Ya&#8230;”</p>
<p>Ibu saya langsung memeluknya dengan terisak-isak. Setelah itu rasanya semuanya bergulir begitu cepat. Mengingat usianya yang telah lanjut maka alih-alih katekisasi reguler, katekisasi bagi beliau diadakan dalam bentuk beberapa kali percakapan dengan Pdt. Wirakotan yang datang ke rumah kami. Dan tentunya ada beberapa “pelajaran tambahan” dari Mbah Dokter yang amat bersemangat itu. Dan pada hari yang telah direncanakan, dengan disaksikan oleh kami semua, Mbah Ineng dibaptiskan dalam sebuah kebaktian Minggu di jemaat GKI Kebayoran Baru.</p>
<p>Apa yang menyebabkan Mbah Ineng akhirnya memutuskan untuk percaya dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan, tidak ada seorang pun yang tahu. Mungkin usaha Mbah Dokter yang gigih tak kenal putus asa. Mungkin apa yang disaksikan dan didengar beliau di sekolah Minggu, atau di kebaktian-kebaktian keluarga yang dihadiri beliau. Mungkin ajakan-ajakan ayah dan ibu saya. Atau mungkin karena semuanya itu. Yang pasti, Tuhan bekerja, tangan-Nya menggamit tangan Mbah Ineng. Dan akhirnya, setelah sekian tahun, Mbah Ineng menjabat tangan Tuhan itu.</p>
<address>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ketika-tangan-tuhan-menggamit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Christmas Carol Yang Mengesankan</title>
		<link>http://gkipi.org/christmas-carol-yang-mengesankan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/christmas-carol-yang-mengesankan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 13:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3228</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya memulai pelayanan di jemaat GKI Pondok Indah, saya mendengar bahwa GKI Pondok Indah mempunyai program Christmas Carol. Waktu itu yang terbayang oleh saya adalah kebiasaan yang saya tahu di Belanda, yaitu sekelompok orang berdiri di perempatan jalan, atau di muka rumah seseorang, menyanyikan lagu-lagu Natal. Dan memang itu juga yang kita saksikan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">K</span>etika saya memulai pelayanan di jemaat GKI Pondok Indah, saya mendengar bahwa GKI Pondok Indah mempunyai program Christmas Carol. Waktu itu yang terbayang oleh saya adalah kebiasaan yang saya tahu di Belanda, yaitu sekelompok orang berdiri di perempatan jalan, atau di muka rumah seseorang, menyanyikan lagu-lagu Natal. Dan memang itu juga yang kita saksikan di mal-mal mewah di Jakarta.</p>
<p>Belakangan saya mengerti bahwa kegiatan itu dikoordinasikan dan dilaksanakan oleh Komisi Perlawatan bagi beberapa anggota jemaat yang berusia lanjut atau bagi mereka yang tak dapat (lagi) pergi ke gereja. Kemudian beberapa kali saya berkesempatan mengikuti kelompok-kelompok yang melaksanakan Christmas Carol di beberapa wilayah. Saya sungguh-sungguh terkesan olehnya. Amat berbeda dengan pelaksanaan di mal-mal, Christmas Carol bagi warga jemaat itu lebih merupakan kebaktian Natal kecil. Tentu saja lagu-lagu Natal dinyanyikan, tetapi dilakukan juga pembacaan Alkitab dan renungan singkat.</p>
<p>Bagi yang mendapatkan kunjungan Christmas Carol kesempatan ini kerap dinanti-nantikan. Terutama mereka yang tidak dapat meninggalkan rumah untuk pergi ke gereja karena usia atau karena sakit. Kunjungan Christmas Carol dialami sebagai pengganti ibadah dan perayaan Natal baginya. Bahkan dialami sebagai sesuatu yang personal dan hangat, yaitu gereja yang berkunjung ke rumahnya.</p>
<p>Namun yang lebih menarik lagi adalah perjumpaan dengan beberapa orang yang mendapatkan kunjungan itu. Tahun ini saya terlibat dalam kunjungan Christmas Carol ke rumah beberapa anggota jemaat di wilayah-wilayah jemaat Pondok Indah. Dari berbagai kunjungan di mana saya terlibat, perjumpaan dengan dua ibu amat berkesan bagi saya. Yang pertama adalah almarhum Bapak Sariowan beberapa tahun yang lalu dan Ibu Pitalia beberapa minggu yang lalu.</p>
<p>Bapak Sariowan adalah anggota jemaat GKI Pondok Indah yang tertua. Dalam usia melebihi 90 tahun beliau masih tergolong sehat. Agak rutin beliau dikunjungi oleh Seksi Perlawatan dari Komisi Senior, maupun oleh Majelis Jemaat untuk Perjamuan Kudus empat kali setahun. Memang ada saat-saat di mana beliau dalam keadaan lemah apabila malamnya tidak dapat tidur. Tetapi pada saat-saat segar beliau cukup komunikatif sehingga membuat suasana perkunjungan menyenangkan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat pagi Oom Sariowan&#8230;” sapa saya dengan suara keras, mengingat pendengarannya yang kurang, ketika beliau didorong memasuki ruang tamu di atas kursi rodanya.<br />
“Selamat pagi&#8230;” jawabnya lirih sambil tersenyum renyah.</p>
<p>Jawabannya itu kemudian menentukan suasana perkunjungan yang kemudian berlangsung dengan hangat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Masih ingat saya Oom&#8230;?”<br />
“Pendeta&#8230;.eh&#8230;”<br />
“Pendeta siapa Papa&#8230;?” tanya putrinya.<br />
“Eh&#8230; pendeta&#8230;. Rudi&#8230;?”</p>
<p>Rupanya sosok dan perawakan Pdt. Rudianto lekat pada ingatannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bukan Pa&#8230; Pendeta Purboyo..”<br />
“Ya&#8230; ya&#8230;”<br />
“Kita baca Alkitab ya Oom&#8230;?”<br />
“Ya&#8230;” sahutnya meyakinkan, walau dengan kacamatanya yang amat tebal beliau tetap tidak dapat membaca.</p>
<p>Takkan terlupakan oleh saya ekspresi wajahnya ketika meresapkan lagu-lagu yang dikenalinya, ketika menikmati roti dan anggur Perjamuan Kudus, juga ketika berdoa. Bahkan pada suatu kali saya ingat betul ketika saya membacakan Mazmur 23 baginya ia turut bergumam. Ketika saya simak dengan baik, ia turut mengucapkannya di luar kepala dan hampir seluruhnya benar.</p>
<p>Pada waktu kepadanya dilakukan kunjungan Christmas Carol Pak Sariowan dalam keadaan segar. Wajahnya cerah senyuman tersungging di bibirnya. Ia turut menyanyi ketika kami melantunkan lagu-lagu Natal, walau yang keluar hanyalah gumaman. Dan setiap pelawat yang hadir dapat menyaksikan betapa apa yang kami lakukan sungguh-sungguh menyentuh beliau. Dan dada kami hangat melihatnya. Dari putrinya kami mendengar bagaimana sesudah kepada beliau diberitahukan bahwa dari gereja akan datang berkunjung, beliau mengharap-harapkannya dan hampir setiap hari menanyakannya.</p>
<p>Bulan Juni 2007 beliau dipanggil Tuhan dalam usia 96 tahun. Usia yang indah mengakhiri kehidupan yang juga indah. Kehidupan dengan anak, menantu, cucu dan cicitnya dalam damai dan sukacita. Kehidupan dalam Tuhan yang mencintai dan dicintainya, yang dipercayainya hingga akhir.</p>
<p>Kisah Ibu Pitalia hampir sama. Beliau adalah seorang perempuan yang kokoh. Dalam usia hampir 97 tahun beliau masih bisa berjalan walau harus menggunakan alat bantu (walker). Ini mencengangkan, mengingat sekitar dua tahun lalu beliau dioperasi kakinya untuk dipasangkan “pen” setelah beberapa bulan sebelumnya beliau jatuh. Namun yang lebih mengagumkan adalah daya ingatnya yang masih amat baik untuk seorang dalam usia yang begitu lanjut. Hanya pendengarannya yang sudah amat kurang.</p>
<p>Ketika kami melakukan kunjungan Christmas Carol kepadanya, beliau didampingi oleh putrinya yang tinggal bersamanya dan putranya yang datang berkunjung dari Australia. Dengan apik ibu Pitalia duduk tegak di samping putrinya. Wajahnya berseri-seri. Pandang matanya ramah. Tangannya sedikit gemetar memegangi kertas nyanyian yang digunakan dalam kunjungan Christmas Carol itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat pagi Tante&#8230;”<br />
“Mami, Pak Pendeta bilang ‘Selamat pagi’&#8230;” seru putrinya di telinganya.</p>
<p>Ibu Pitalia langsung tersenyum manis dan menyahut:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat pagi&#8230;”<br />
“Apa kabar Tante&#8230; Sehat kan?” tanya saya lagi, yang rupanya kurang keras sehingga putrinya kembali mengulangi pertanyaan saya di telinganya.<br />
“Oh ya&#8230;. baik&#8230;. terima kasih.”</p>
<p>Dengan riang kemudian kami bernyanyi dengan iringan gitar. Dan ibu Pitalia mengikuti kami bernyanyi dengan mengeja teks lagu-lagu yang kami nyanyikan. Ketika saya bacakan sebuah teks Alkitab, beliau mengangguk-angguk walau saya tidak yakin beliau memahaminya atau tidak. Saya duduk di sebelahnya dan berusaha sekeras mungkin membaca dan kemudian menyampaikan renungan singkat. Dan ketika kami menyanyikan lagu penutup yaitu lagu “Muliakanlah” dalam bahasa Belanda, kelihatan beliau mengenalinya dan berusaha turut bernyanyi. Dan waktu kami berdoa di bawah pimpinan salah satu dari kami, tiba-tiba ibu Pitalia dengan suara cukup keras mengucapkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Our Father who art in heaven&#8230;”</p>
<p>sehingga sempat pemimpin doa berhenti sejenak memberikannya kesempatan. Namun di tengah-tengah, ibu Pitalia macet:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Lead us not into temptation&#8230;. but&#8230; but&#8230; but&#8230; Amen&#8230;!”</p>
<p>Seusai berdoa kami semua memandanginya dengan takjub. Setengah berkelakar salah satu dari kami berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau kita sudah berumur 80 belum tentu kita masih bisa melakukannya&#8230;”</p>
<p>Ia benar. Sungguh berbahagia mempunyai ibu yang sudah berusia begitu lanjut tetapi sama sekali belum pikun. Dan juga begitu kokoh. Takkan terlupakan betapa sedihnya beliau ketika salah satu putrinya meninggal di tahun 2004. Namun ia tetap tabah menerimanya. Waktu itu dengan mata berlinang-linang dan dengan suara lirih beliau berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Memang sudah jalannya&#8230; kehendak Tuhan&#8230;”</p>
<p>Setelah beramah-tamah dan minum teh, kamipun pulang. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri. Tetapi saya yakin masing-masing dengan perasaan yang nyaman dan dada yang hangat. Tidak sia-sia, bahkan berkesan melakukan kunjungan Christmas Carol seperti ini. Sungguh perasaan dan suasana hati yang pas untuk Natal.</p>
<address>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/christmas-carol-yang-mengesankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibuku–Guruku</title>
		<link>http://gkipi.org/ibuku%e2%80%93guruku/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ibuku%e2%80%93guruku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2808</guid>
		<description><![CDATA[&#8220; Ary! Bangun&#8230;! Waktunya bersaat teduh!” terdengar suara Ibu membangunkan adik saya seraya mengetuk pintu kamar tidurnya dengan keras, yang membuat saya terjaga. Dan tak lama kemudian giliran saya terhentak oleh ketukan keras pada pintu kamar tidur saya. “Pungky! Bangun..! Waktunya bersaat teduh!” seru ibu saya yang terdengar amat keras di telinga. Tak lama kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<span class="cap"> A</span>ry! Bangun&#8230;! Waktunya bersaat teduh!” terdengar suara Ibu membangunkan adik saya seraya mengetuk pintu kamar tidurnya dengan keras, yang membuat saya terjaga. Dan tak lama kemudian giliran saya terhentak oleh ketukan keras pada pintu kamar tidur saya.</p>
<p>“Pungky! Bangun..! Waktunya bersaat teduh!” seru ibu saya yang terdengar amat keras di telinga. Tak lama kemudian beliau kembali mengetuk pintu kamar adik saya.</p>
<p>“Ary! Bangun&#8230; dong! Ary..! Waktunya bersaat teduh!”</p>
<p>Saya menengok ke jam dinding, baru jam 5.45. Dengan menghela napas saya menuju ke ruang makan. Ayah saya sudah duduk di kepala meja. Di hadapannya terletak Alkitab yang terbuka. Dan beliau sedang membuka-buka “Saat Teduh”. Adik saya perempuan, Enny, si bungsu, sudah menempati kursinya sambil menggosok-gosok matanya dan mengeluh. “Belum jam enam nih&#8230;?” “Sekitar sepuluh menit lagi&#8230;” jawab ayah saya dengan sabar.</p>
<p>Tak lama setelah saya menempati kursi saya di sebelah kanan Ayah, Ibu memasuki ruang makan diikuti adik saya laki-laki yang berjalan terhuyung-huyung dengan mata setengah tertutup.</p>
<p>“Baru jam lima nih&#8230;?” keluhnya, yang membuat kami semua tertawa.</p>
<p>Begitulah setiap pagi. Entah sejak kapan, saya tidak ingat lagi, setiap pagi kami sekeluarga makan pagi bersama dengan didahului oleh saat teduh bersama. Kecuali amat terpaksa, terutama Ibu, tidak akan dapat menerima apabila kami absen mengikuti saat teduh setiap pagi. Karena menurut beliau dan ayah saya, ibadah keluarga adalah bagian yang menentukan dari pengembangan spiritual keluarga, yang kemudian turut membentuk spiritualitas anggota-anggotanya. Kami, anak-anak, tidak terlalu mengerti maksud mereka waktu itu. Tetapi sekarang, setelah masing-masing berkeluarga, kami memahaminya, bahkan memraktikkannya.</p>
<p>Di samping itu, tidak dapat disangkal bahwa, –walaupun agak dipaksa,– kesempatan bertemu setiap pagi itu amat bermanfaat dalam mengembangkan komunikasi keluarga kami. Ayah dan ibu saya yang adalah guru, amat cekatan memanfaatkannya dalam terang itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Acaramu hari ini apa Pungky?” tanya Ayah sambil mengoleskan mentega roti bakar bagi ibu saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Biasa lah, kuliah sampai siang, lalu sore menjelang malam ke gereja, rapat Komisi Pemuda.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Dan kamu, Enny&#8230;? Pulang sekolah langsung pulang&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ya, Pa.” “Ah, bener nih&#8230;?” goda Ary. “Kalau aku terus terang saja hari ini nggak pulang&#8230;.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kenapa? Ke mana?” tanya Ibu sambil memandang Ary dengan tajam.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Biasa Ma&#8230;. tugas kelompok harus selesai besok. Jadi kami berencana menyelesaikannya malam ini di rumah Bedul.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sama Bedul mana bisa belajar&#8230;?” balas Enny menggoda.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sudahlah&#8230; Yang penting kalian benar-benar melakukan apa yang kalian katakan. Kalau tidak kan yang rugi kalian sendiri?” tukas Ibu.</p>
<p>Ibu saya memang adalah sosok guru yang terkenal kompeten, tekun dan tegas di atara rekan-rekannya. Profesi atau tepatnya panggilan, –bila saya merefleksikan bagaimana Ibu menjalankan tugasnya,– sebagai guru ditekuninya cukup lama. Begitu menyelesaikan pendidikan guru di Makassar, beliau mengajar di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) “Widuri” di Jakarta, di mana beliau berjumpa dan akhirnya menikah dengan Ayah. Sekitar 3 tahun menikah, setelah saya dilahirkan, Ayah diminta untuk menjadi kepala sekolah guru (SGA) di Salatiga (Jawa Tengah).</p>
<p>Di kota Salatiga pun Ibu mengajar di SMP Kristen di jalan Kotamadya. Bahkan beliau dan Ayah memutuskan untuk studi. Ayah, bila tidak keliru memperdalam diri dengan ilmu/filosofi pendidikan. Sedangkan Ibu mengambil jurusan bahasa Inggris. Memang salah satu dari bakatnya yang amat menonjol adalah bahasa. Ibu dengan tekun menjalani studinya itu serta menikmatinya. Bahkan ia memraktikkannya. Beliau dipercaya oleh universitas untuk mengajar bahasa Indonesia kepada dosen-dosen asing dan pasangan mereka.</p>
<p>Akhir tahun 1964 Ayah mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri selama hampir 2 tahun. Tiba-tiba Ibu, yang biasanya cukup bergantung pada Ayah, harus berjuang sendiri. Ia harus membagi waktunya antara bekerja, studi dan mengurusi 3 anak yang masih kecil. Usia saya waktu itu 9 tahun dengan dua adik laki-laki yang masing-masing 4 dan 8 tahun lebih muda ketimbang saya. Ibu ternyata dapat mengatasinya dengan baik. Dan beliau melibatkan saya untuk membantunya. Saya dibiasakan oleh Ibu untuk bangun pagi, belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah, kemudian menyiapkan minuman untuk Ibu dan adik-adik.</p>
<p>Tak terasa waktu sekitar satu setengah tahun berlalu dengan cepat. Ayah menyelesaikan studinya dan kembali berada di tengah kami. Lalu berturut-turut terjadi beberapa peristiwa yang amat berbekas pada kami sekeluarga. Adik nomor tiga, Aman namanya, berumur belum genap 3 tahun, meninggal dunia. Ibu sangat terpukul oleh perginya Aman. Beliau bahkan merasa bersalah atas kematiannya. Tak lama sesudah itu pecahlah peristiwa 30 September 1965 yang mengerikan itu, terlebih di kota kecil seperti Salatiga. Sehingga ketika ada tawaran pekerjaan bagi Ayah di Jakarta, dengan segera direngkuh. Salatiga telah menjadi kota yang tidak lagi menenteramkan, terutama bagi Ibu.</p>
<p>Di Jakarta Ibu tidak mengajar lagi. Beliau seolah kehilangan semangat untuk melakukannya. Namun beliau masih menjadi guru kami. Baik dalam pelajaran, maupun dalam kehidupan, khususnya dalam relasi dengan Tuhan. Tetapi kemudian, sekitar setahun sesudah kematian Aman, Tuhan mengaruniai keluarga kami anggota yang baru. Seorang bayi perempuan, yang lama diidam-idamkan, pengganti Aman. Ia diberi nama Rachmanti, dipanggil dengan nama Enny, karena ia diyakini sebagai rahmat dari Tuhan.</p>
<p>Sejak itu Ibu saya seolah hidup kembali. Seluruh perhatian dan waktunya dicurahkan untuk membesarkan Enny. Di samping itu Ibu kembali memanfaatkan bakat-bakat yang dimilikinya. Selain mengajar bahasa Indonesia kepada orang-orang asing, (Belanda, Inggris, Amerika), beliau kerap mengerjakan terjemahan dari bahasa Inggris atau Belanda ke dalam bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Dan beliaupun kembali mengarang cerita anak-anak. Kegemaran yang sempat terhenti setelah kematian Aman.</p>
<p>Dari beliaulah kami anak-anaknya mendapatkan ketrampilan berbahasa dan menulis. Dalam hal ini Ibu sangat tegas. Kesalahan berbahasa sekecil apapun tidak ditolerirnya. Beliau selalu berprinsip bahwa membiasakan diri berbahasa secara benar adalah apresiasi diri yang harus dilakukan semua orang. Apalagi berbahasa sendiri, Indonesia, secara benar. Beliau mengingatkan kami agar jangan sampai terjadi ada orang asing yang lebih baik berbahasa Indonesia ketimbang kita orang Indonesia. Beliau sendiri tetap berusaha pula meningkatkan diri. Beliau sempat mengikuti ujian kemampuan berbahasa Inggris, Oxford dan Cambridge, bersama dengan Ibu Leoni Prawiro. Waktu itu mereka berdua adalah dua peserta yang tertua dan tidak bergelar, kalau tidak salah. Tetapi keduanya lulus dengan nilai yang sangat baik.</p>
<p>Tahun 1986 Ayah mengidap penyakit kanker yang kemudian merenggut jiwanya. Untuk beberapa bulan Ibu terlihat limbung. Mirip ketika ditinggalkan Ayah belajar ke luar negeri. Tetapi kemudian beliau bangkit. Beliau bekerja sebagai wartawan di belakang meja di harian Suara Pembaruan dan menjadi guru bahasa Belanda di Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda) dalam usia yang cukup lanjut. Beliau pensiun ketika berusia sekitar 70 tahun.</p>
<p>Dalam periode sejak ditinggalkan Ayah itu, Ibu, yang harus keluar dari rumah dinas, dengan perjuangan kerasnya mampu membeli rumah dan menikahkan 2 adik saya. Bukan sesuatu yang sederhana bagi beliau dalam segala keterbatasannya. Namun dengan pertolongan beberapa sahabat dan terutama Tuhan, begitu selalu dikatakannya, beliau mampu bertahan, bahkan berhasil. Satu pelajaran yang terakhir namun paling berharga dan takkan terlupakan dari beliau adalah kegigihannya yang tak pantang menyerah.</p>
<p>Ibu tidak pernah menyerah kecuali ketika Tuhan memanggilnya setelah beberapa bulan menderita sakit dan masuk-keluar rumah sakit. Kami anak-anaknya tidak ingin menyerah dan karenanya mengupayakan yang optimal dapat kami lakukan. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Ibu menyerahkan diri kepada Penciptanya yang selalu dipercayanya dan yang kepada-Nya Ibu selalu bergantung. Kamipun menerimanya walau dengan berat hati. Kami sedih tetapi juga penuh dengan rasa berterima kasih. Tanpanya yang bersama Ayah terus menempa dan mengajar kami, kami anak-anaknya, takkan dapat berdiri di tempat kami masing-masing.</p>
<p>“Terima kasih Mama&#8230; we houden erg veel van jou!” (= &#8230;kami sangat mencintaimu!)</p>
<address>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ibuku%e2%80%93guruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosen Yang Murah Hati</title>
		<link>http://gkipi.org/dosen-yang-murah-hati/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dosen-yang-murah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://202.145.6.14/web-gkipi/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama mengenal Pdt. Wyanto, sejak kami sama-sama mahasiswa teologi. Ia dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) Duta Wacana di Yogyakarta, dan saya dari STT Jakarta, pada waktu itu saya masih duduk di tingkat persiapan dan ia di tingkat terakhir. Perkenalan kami terjadi dalam pertemuan mahasiswa teologi asal GKI Jawa Tengah di daerah Magelang, tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>aya sudah lama mengenal Pdt. Wyanto, sejak kami sama-sama mahasiswa teologi. Ia dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) Duta Wacana di Yogyakarta, dan saya dari STT Jakarta, pada waktu itu saya masih duduk di tingkat persiapan dan ia di tingkat terakhir. Perkenalan kami terjadi dalam pertemuan mahasiswa teologi asal GKI Jawa Tengah di daerah Magelang, tahun 1974. Saat itu Pdt. Agus Susanto dan almarhum Ibu Nani juga hadir. Sekitar 20-an orang mahasiswa dari kedua sekolah teologi berkumpul untuk bersekutu, membahas topik-topik aktual termasuk beberapa isu teologis mutakhir, dan mengatur strategi bagaimana memperkenalkan dan mencitrakan diri pada jemaat sebagai calon-calon pendeta.</p>
<p>Pada kesempatan itu saya amat kagum pada kefasihan Wyanto berdiskusi, walau memberi kesan ngotot. Apalagi saat itu saya masih duduk di tingkat pertama. Banyak sekali pengertian dan istilah teologis yang asing bagi saya. Saya sibuk mendengarkan, mengikuti dan berusaha memahami diskusi para senior saya itu, sehingga saya tidak mampu berpartisipasi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tanpa pemahaman atas konteks, kita takkan dapat menentukan alur teologi yang sepatutnya kita tempuh&#8230;” kata seorang mahasiswa dari STT Jakarta.<br />
“Ya, tetapi jangan lupa bahwa kita mewarisi teologi Barat, yang berarti kita juga mesti memahami konteks Barat&#8230;” sambung seseorang dari STT Duta Wacana.<br />
“Memang,” tukas Wyanto. “Dan salah satu unsur utamanya adalah sekularisasi&#8230;”</p>
<p>Sesudah beberapa orang, termasuk Wyanto, yang kerap mendominasi percakapan, asyik menjelaskan dan berdebat tentang apa dan bagaimana itu sekularisasi, saya tetap saja tidak dapat memahaminya.</p>
<p>Saya menggamit Samuel Santoso (kini pendeta di GKI Kedoya Jakarta Barat) yang duduk di sebelah saya dan berbisik kepadanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Aku tetap tidak mengerti apa itu sekularisasi&#8230;”<br />
Samuel terkekeh-kekeh dan menjawab dengan mata bersinar-sinar:<br />
“Tahu nggak kamu&#8230; bila mendengarkan mereka bicara seperti itu, rasanya mereka itu juga tidak terlalu memahaminya&#8230;” Dan kami berdua pun tertawa terbahak-bahak sehingga diingatkan oleh beberapa teman untuk tidak terlalu ribut.</p>
<p>Sekembali saya ke Jakarta saya jarang berhubungan dengan teman-teman dari STT Duta Wacana, juga tidak dengan Wyanto. Bila tidak keliru, ketika saya duduk di tingkat 3 Wyanto ditabiskan sebagai pendeta di GKI Purworejo Klampok. Lalu waktu saya memulai pelayanan jemaat di GKI Klaten pada akhir tahun 1980, saya mendengar bahwa Wyanto diproyeksikan untuk, atau bahkan sudah, menjadi dosen di STT Duta Wacana yang juga direncanakan untuk dikembangkan menjadi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).</p>
<p>Di negeri Belanda kami berjumpa kembali. Saya sedang dalam tahap penulisan tesis, ketika Wyanto beserta istri dan kedua anaknya datang di kota Kampen. Ia ditugaskan untuk studi lanjut oleh Fakultas Teologi UKDW dalam bidang etika. Di kota Kampen kami mendapat kesempatan untuk mengenal masing-masing dengan lebih baik dan menjadi dekat.</p>
<p>Banyak hal kami bagi dan nikmati bersama, baik sebagai keluarga maupun sebagai pribadi. Wyanto dan saya mempunyai banyak kegemaran yang sama. Mulai belanja bersama, main catur, komputer, diskusi buku dan banyak lagi. Dan tentunya, Wyanto tidak meninggalkan kegemarannya untuk diskusi dengan ngotot. Rasanya kengototannya bertambah parah dibandingkan dengan dahulu. Namun satu hal yang amat menonjol pada Wyanto, tetapi juga pada istri dan anak-anaknya, adalah sifat murah hati.</p>
<p>Dalam keterbatasan dana beasiswa yang kami terima selama studi, Wyanto dan Winny istrinya, amatlah royal bila berbagi makanan atau apapun dengan kami, rekan-rekannya asal Indonesia di universitas. Ia tidak pernah hitung-hitungan soal uang. Bila ada orang meminta bantuan, termasuk uang, dengan tidak segan-segan Wyanto akan menolongnya. Sehingga kadang-kadang saya mendapatkan kesan bahwa ia kurang peduli pada masa depan. Pernah beberapa kali saya mengingatkannya untuk menabung. Namun ia tersenyum saja dan dengan enteng menjawab:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau ada ya menabung&#8230; kalau ada yang lain yang lebih perlu ya nggak nabung&#8230;”</p>
<p>Selesai studi Wyanto dan keluarga kembali ke Yogyakarta. Saya pindah ke kota Tilburg melayani sebagai pendeta utusan GKI untuk Gereja Kristen Indonesia-Nederland (GKIN). Selama melayani di GKIN paling tidak 2 tahun sekali kami berkunjung ke Indonesia. Selain untuk berlibur, saya mengunjungi jemaat pengutus saya, GKI Bromo di kota Malang. Dan beberapa kali kami menyempatkan diri mampir di Yogyakarta, mengunjungi Wyanto dan keluarganya.</p>
<p>Pertemuan-pertemuan itu selalu terasa sangat menyenangkan. Selain bernostalgia tentang masa lalu, kami main catur dan berdiskusi dengan seru, tentunya dengan ngotot. Keluarga Wyanto menempati sebuah rumah yang sederhana, yang masih dicicil. Kelihatan penuh sesak dengan perabot dan barang-barang. Namun mereka tinggal di situ dengan nyaman dan bahagia.<br />
Yang menarik adalah bahwa sifat murah hati Wyanto sekeluarga juga masih tetap kelihatan. Bukan hanya terhadap kami, tetapi terutama bagi mereka yang membutuhkan. Beberapa kali mereka menampung dan mengasuh bayi-bayi yang tidak diingini oleh orang tua mereka, hingga mereka menemukan orang tua angkat yang mereka yakini layak untuk anak-anak itu. Mereka juga mempunyai beberapa mahasiswa asuh, yang mereka tanggung biaya kuliah mereka. Setidaknya setiap tahun ada 1 atau 2 mahasiswa, padahal mereka masih harus menyekolahkan 3 anak mereka. Menabung? Jawabannya masih sama entengnya dengan dahulu:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau ada ya menabung&#8230; kalau ada yang lain yang lebih perlu ya nggak nabung&#8230;”</p>
<p>Tahun 1998 ketika krisis moneter melanda dunia dan khususnya Indonesia, dengan keras, kami jemaat GKIN di Belanda, berusaha untuk mengerahkan anggota jemaat guna menggalang dana dan mengirimkan bantuan ke Indonesia. Banyak surat permohonan kami terima dari tanah air yang sayangnya tidak semua dapat dicek kebenarannya dan tentunya tidak semua dapat kami bantu. Dalam situasi seperti itu, kami orang-orang asal Indonesia di Belanda, kerapkali mendapatkan penawaran yang menggiurkan dari teman-teman dan kenalan di Indonesia. Antara lain tawaran untuk membeli rumah yang terkadang hanya separuh bahkan kurang dari nilai sebenarnya, karena pada saat itu banyak orang Indonesia membutuhkan uang tunai. Tidak sedikit orang-orang asal Indonesia yang memanfaatkan hal itu, atau tepatnya mengeksploitasikannya. Dengan sedih saya mendengarkan mereka yang dengan bangga bercerita tentang rumah mereka yang baru, di Jakarta atau Surabaya, yang amat murah, apalagi bila dikurskan dalam uang Belanda. Biasanya saya tidak berkomentar apapun dan memilih untuk berdiam diri.</p>
<p>Namun pada suatu kali saya tidak dapat menahan diri saya. Seorang kenalan dari anggota jemaat bercerita dengan bangga di gereja (!) bagaimana ia dalam sekejap meraih untung yang besar ketika berkunjung ke Indonesia. Ia bekerja sama dengan seorang perwira tentara membeli beberapa truk beras murah, yang seharusnya dimaksudkan untuk dijual secara murah kepada masyarakat di daerah-daerah. Dan berkat sang perwira tentara, beras murah itu dialihkan menjadi beras biasa dan dijual di Jakarta dengan harga biasa. Mereka, sang kenalan dan sang perwira tentara, meraih untung yang besar, sehingga menurut sang kenalan itu, cukup mengongkosi biaya perjalanannya ke Indonesia beserta keluarga dan pengeluaran selama berlibur di Indonesia.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bukankah beras itu seharusnya dijual murah untuk orang miskin di daerah? Lalu mereka bagaimana dong&#8230;?” tanya saya dengan ketus.<br />
“Ya&#8230; saya tidak tahu&#8230;. saya hanya diajak saja oleh kenalan saya yang tentara itu,” ia menjawab dengan nada tidak senang.<br />
Saya menggeleng-gelengkan kepala saya, dan berkata:<br />
“Kok tega ya Anda, mendapatkan untung di atas kemalangan orang miskin&#8230;”</p>
<p>Ia langsung menarik wajah yang amat tidak sedap. Tetapi saya tidak memedulikannya lagi. Tidak lama kemudian saya menerima surat dari Wyanto. Dengan penuh rasa ingin tahu saya membukanya, hendak mendengar kabar tentang mereka sekeluarga dan teman-teman lain di Yogyakarta.</p>
<p>Suratnya, sama seperti banyak kabar dari Indonesia saat itu, menceritakan betapa makin sulitnya kehidupan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Harga-harga, terutama makanan, yang melonjak amat tinggi tak terkendali, ketidakstabilan ekonomi, keamanan yang rawan karena kejahatan kian menjadi-jadi, tiba-tiba terdapat banyak sekali orang miskin dan peminta-minta, serta banyak lagi. Namun alih-alih meminta bantuan, seperti yang biasa kami terima, Wyanto menulis begini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kehidupan makin sulit di sini. Harga-harga kian mencekik, banyak orang berada dalam keadaan yang sukar. Sehingga makin banyak orang yang perlu ditolong dan dibantu. Kami berbuat sebisa kami di sini. Tolong doakan kami&#8230;”</p>
<p>Dalam kontak kami berikutnya ketika saya bertanya apakah ada yang perlu kami bantu untuk mereka. Wyanto menjawab:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kami baik-baik saja. Lanjutkan saja apa yang sudah dilakukan oleh GKIN untuk masyarakat Indonesia&#8230;”</p>
<p>Banyak orang, semua pendeta GKI dari Sinode Wilayah Jawa Tengah, dan civitas academica UKDW mengenal siapa Wyanto. Ia adalah seorang pendeta yang baik, dosen yang handal, (amat) suka ngotot, sangat teguh memegang prinsip bahkan cenderung kaku. Namun rasanya tidak ada seorang pun, yang sungguh-sungguh mengenalnya, akan membantah bila dikatakan bahwa Wyanto adalah seorang hamba Tuhan dan dosen yang murah hati.</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dosen-yang-murah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Para Guru PAK</title>
		<link>http://gkipi.org/belajar-dari-para-guru-pak/</link>
		<comments>http://gkipi.org/belajar-dari-para-guru-pak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 06:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pak Purboyo, dapatkah Bapak membawakan renungan pada Perayaan Natal Guru-guru Pendidikan Agama Kristen (PAK), Minggu 14 Desember di lantai 3&#8230;?&#8221; tanya Pak Arman, ketua Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah. Tanpa berpikir panjang saya mengiyakannya setelah memeriksa agenda saya. Padahal sebenarnya selain belum pernah bertemu apalagi memimpin acara guru-guru PAK itu, saya juga tidak terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Pak Purboyo, dapatkah Bapak membawakan renungan pada Perayaan Natal Guru-guru Pendidikan Agama Kristen (PAK), Minggu 14 Desember di lantai 3&#8230;?&#8221; tanya Pak Arman, ketua Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang saya mengiyakannya setelah memeriksa agenda saya. Padahal sebenarnya selain belum pernah bertemu apalagi memimpin acara guru-guru PAK itu, saya juga tidak terlalu mengerti siapa guru-guru itu, serta bagaimana hubungan mereka dengan GKI Pondok Indah.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Sudah pasti ya Pak, Minggu 14 Desember 2008, jam 11.00, sesudah kebaktian umum kedua&#8230;?&#8221; tanya Pak Arman lagi menegaskan.<br />
 &#8220;Ya Pak, sudah saya catat.&#8221;</em></p>
<p>Hingga beberapa hari sesudah itu saya agak melupakan kesanggupan saya itu. Namun kemudian Ibu Ming dari Tim Liturgi menelepon saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Pak Pur yang akan memimpin Natal Guru PAK kan?&#8221;<br />
 &#8220;Benar Bu, kenapa?&#8221;<br />
 &#8220;Kami diminta untuk menyusun liturginya Pak. Oleh karena itu saya membutuhkan tema dari renungan Bapak.&#8221;<br />
 &#8220;O begitu. Wah terus terang saja saya belum menyiapkannya, jadi belum punya tema.&#8221;<br />
 &#8220;Begini saja Pak, beberapa hari ini-tapi jangan lama-lama-, Pak Pur memikirkan temanya lalu kirimkan kepada saya, bisa lewat sms atau email&#8230;&#8221;<br />
 &#8220;Baik Bu. Terima kasih.&#8221;</p>
<p>Memilih tema, selain menentukan teks Alkitab yang cocok, juga berarti setidaknya mengantisipasikan topik yang kira-kira relevan dengan para guru PAK atau permasalahan yang mereka gumulkan dalam pekerjaan serta pelayanan mereka. Setelah berbicara dengan beberapa teman yang mengetahui perihal guru-guru PAK itu saya memilih tema: &#8220;Kehadiran Sang Damai Mengubah Kita&#8221;.</p>
<p>Minggu 14 Desember sekitar jam 10.20, seusai memimpin kebaktian Pra-remaja, saya memasuki ruangan pertemuan di lantai 3 untuk mempersiapkan dan merundingkan acara dengan mereka yang telah ditetapkan untuk bertugas. Ternyata di situ sudah hadir sekitar 10 orang guru berserta keluarga mereka. Maka setelah selesai membicarakan acara dengan para petugas, saya memakai waktu yang masih ada untuk berkenalan dengan guru-guru PAK beserta keluarga mereka. Sementara itu guru-guru yang lain mulai berdatangan. Dan tidak lama kemudian, sementara menunggu waktu, para guru berlatih paduan suara di sudut ruangan. Mereka berencana untuk membawakan sebuah lagu Natal.</p>
<p>Mereka semua berasal dari berbagai daerah, dari Sumatera Utara, Nias, Maluku, hingga Timor. Mereka semua adalah guru-guru PAK di sekolah-sekolah negeri, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, umum maupun kejuruan.</p>
<p>Secara prinsipial sebagaimana diatur dalam undang-undang, seharusnya di sekolah-sekolah itu tersedia guru-guru agama bagi semua agama. Akan tetapi pada praktiknya yang tersedia hanyalah guru-guru agama Islam yang adalah PNS (pegawai negeri sipil), sedangkan guru-guru agama lain, terutama guru PAK, adalah guru-guru tidak tetap (guru honorer), dengan honorarium yang minim sesuai dengan jam pelajaran yang diberikan, tanpa tunjangan apapun. Dengan jumlah jam pelajaran yang terbatas (kurang dari 24 jam pelajaran seminggu, dan biasanya guru PAK hampir pasti tidak mencapai jumlah itu), mereka tidak berhak mendapatkan &#8220;tunjangan fungsional&#8221; dari pemerintah. Nasib mereka kurang-lebih sama dengan ratusan ribu guru honorer dan guru bantu di berbagai sekolah negeri di seluruh tanah air yang menunggu pengangkatan menjadi PNS yang tak juga kunjung terjadi. Padahal kehadiran mereka di sekolah-sekolah di mana mereka berkarya, amat dibutuhkan bahkan kerapkali seperti pada guru-guru PAK ini, tidak tergantikan. Ini semua belum memperhitungkan guru-guru honorer dan guru-guru bantu di sekolah-sekolah swasta yang nasibnya kerapkali lebih memrihatinkan lagi.</p>
<p>Sekitar jam 11.10 telah hadir sekitar 28 guru-guru PAK beserta keluarga mereka dan kebaktian pun dimulai. Ruang pertemuan lantai 3 tidak terlalu penuh terisi oleh sekitar 60 orang. Tetapi ketika lagu pertama, &#8220;Hai Mari Berhimpun&#8221;, dinyanyikan, suara kami terdengar amat lantang dan jelas, sehingga tidak terasa bahwa ruangan itu hanya separuh terisi. Saya menengok sekeliling, semua orang, termasuk anak-anak, menyanyi dengan sungguh-sungguh dan wajah berseri. Suasananya pun menjadi menyenangkan. Suasana yang memang semestinya terjadi dalam kebaktian dan perayaan Natal. Padahal di ruangan lantai 3 itu nyaris tidak ada hiasan apapun. Bahkan pohon terang pun tidak ada, mungkin karena mematuhi amanat Panitia Natal tahun ini. Tetapi tidak ada seorang pun dapat menyangkal sukacita dan antusiasme yang dirasakan pada waktu itu. Tidak ada seorangpun dapat menyangkal terang Natal yang hadir pada saat itu.</p>
<p>Ketika tiba waktunya bagi saya untuk menyampaikan renungan, saya maju ke depan menghadap ke hadirin. Saya melihat wajah-wajah yang berseri-seri dan tulus, yang siap untuk mendengarkan Firman Tuhan dengan baik. Tiba-tiba saja saya membayangkan berbagai kisah dan pergumulan kehidupan di balik wajah-wajah itu. Kisah dan pergumulan yang amat nyata, yang tidak banyak disadari apalagi diketahui orang. Bukan hanya masalah finansial tetapi juga berbagai aspek lainnya seperti relasi, kemasyarakatan, keluarga, mendidik dan membesarkan anak-anak, dan banyak lagi. Sementara itu mereka meyakini bahwa mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih besar ketimbang sekadar bekerja mencari nafkah yang amat tidak memadai.</p>
<p>Mereka adalah pemberita-pemberita Firman Allah, yang turut berperanserta dalam proses pendidikan calon-calon pemimpin bangsa dan gereja di masa depan. Rasanya tanpa idealisme takkan tahan orang menjalankan peran dan tugas yang mereka emban. Tiba-tiba saya merasa begitu kecil di hadapan mereka. Saya tidak lagi bisa berhadapan dengan mereka sebagai &#8220;yang berhak mengajari&#8221; mereka tentang kebenaran Firman Allah dalam kehidupan mereka. Sebaliknya sayalah yang mesti belajar dari mereka. Belajar kembali tentang panggilan, tentang idealisme dan komitmen, tentang kehidupan, dengan kedatangan Sang Damai di pusatnya.</p>
<p>Ada sekitar 31 guru PAK yang istilahnya &#8220;dibina&#8221; oleh Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah. &#8220;Dibina&#8221; berarti pada satu sisi dipersekutukan dalam sebuah pertemuan rutin, di mana diadakan kebaktian, pembekalan dan acara ramah-tamah. Dan pada sisi lain itu juga berarti bahwa mereka itu mendapatkan tunjangan dana sekadarnya dari GKI Pondok Indah. Mengapa hanya 31 orang?</p>
<p>Pertanyaan ini perlu kita pikirkan lebih jauh dan dengan lebih bersungguh-sungguh. Menurut keterangan dari salah satu guru, sekitar 10 tahun lalu ada banyak gereja di Jakarta Selatan yang berpartisipasi membantu para guru PAK honorer ini. Namun kini tinggal GKI Kebayoran Baru dan GKI Pondok Indah yang melakukannya. Dan bila tidak salah jumlah guru PAK yang &#8220;dibina&#8221; oleh GKI Kebayoran Baru lebih banyak ketimbang GKI Pondok Indah.</p>
<p>Tema kebaktian dan perayaan Natal Guru-guru PAK tahun ini adalah &#8220;Kehadiran Sang Damai Mengubah Kita&#8221;. Yang harus berubah bukan hanya para guru PAK honorer itu, tetapi juga kita: Komisi Pekabaran Injil, Majelis Bidang Kesaksian dan Pelayanan, para penatua dan pendeta, segenap pegiat dan warga jemaat, kita semua. Bukan dalam soal jumlah guru PAK binaan yang cuma 31 orang itu, tetapi persepsi tentang mereka semua, baik guru PAK honorer maupun guru-guru honorer dan guru-guru bantu lainnya, baik di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Serta secara serius mempertimbangkan apa yang dapat kita lakukan bagi mereka, baik sebagai jemaat, maupun sebagai pribadi orang percaya.</p>
<p>Mari kita belajar pertama-tama dari Sang Damai yang datang ke tengah kita. Tetapi juga dari guru-guru PAK dalam kisah dan pergumulan kehidupan mereka.</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/belajar-dari-para-guru-pak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ming dan Ikan Emas Koki</title>
		<link>http://gkipi.org/ming-dan-ikan-emas-koki/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ming-dan-ikan-emas-koki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 07:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Pendeta Purboyo memimpin kebaktian pelepasan dan pemakaman seekor ikan mas koki.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>eusai mandi dan makan malam, ketika saya bermaksud untuk bersantai membaca-baca atau menonton film di televisi, telepon berdering.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Halo&#8230; Pungky&#8230; Ah, untung kamu di rumah&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hai Cu&#8230; Kenapa kok ‘untung aku ada di rumah?&#8217;&#8221;<br />
&#8220;Biasa&#8230; si Ming lagi. Ada-ada saja dia itu!&#8221; jawab Cu dengan nada kesal bercampur geli.</p>
<p>Cu adalah seorang ibu muda yang harus sendirian membesarkan Ming, putra tunggalnya, sejak perceraiannya ketika Ming baru berumur sekitar 3 tahun. Ia dan mantan suaminya adalah teman baik kami sekeluarga. Kami kerapkali bertukar pikiran tentang banyak hal, termasuk yang menyangkut masalah di sekitar membesarkan dan mendidik anak.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kenapa lagi dia?&#8221; tanya saya sambil membayangkan Ming yang berumur hampir 5 tahun dengan perawakan kecil, dengan wajah yang serius dan pandang mata yang polos.<br />
&#8220;Dia sedang sedih sekali&#8230; Si Ben mati&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hah? Ben&#8230;? Mati&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8230; Ben, ikan mas koki yang di ruang tamu itu lho. Ming memberinya nama Ben&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Oooh&#8230; kupikir siapa&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tapi si Ming sedih sekali. Dia merenung memandangi si Ben terus sejak pulang sekolah. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang si Ben&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Pertanyaan yang bagaimana?&#8221; tanya saya sambil kembali membayangkan Ming yang duduk merenungi ikannya yang mati.<br />
&#8220;Misalnya, apakah Ben masuk sorga&#8230; Apakah dia kembali kepada Tuhan&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Wah, itu memang tidak gampang&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Itu masih belum apa-apa&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Oh&#8230; apa lagi?&#8221;<br />
&#8220;Dia minta kamu datang dan mengadakan kebaktian pelepasan untuk Ben&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Ah! Yang benar dong&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8230;.!&#8221; Tukas Cu sambil menahan tawa. &#8220;Coba kamu bayangkan sendiri&#8230; Pendeta Purboyo memimpin kebaktian pelepasan dan pemakaman seekor ikan mas koki&#8230; Ha ha ha&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya menghela nafas dan memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh. Saya mencoba memahami bagaimana perasaan Ming saat itu. Pengalaman kehilangan sesuatu yang amat disayanginya adalah pengalaman yang baru baginya. Dan bagaimana ia memroses kehilangan saat itu, akan menentukan bagaimana ia memroses hal serupa di masa depan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oke&#8230; 15 menit lagi saya datang.&#8221; Kata saya dengan penuh keyakinan.<br />
&#8220;Hah? Kamu serius? Saya menelepon kamu sebenarnya cuma mau berbagi saja tentang kekonyolan Ming&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aku serius Cu&#8230;&#8221; ujar saya. Kemudian saya menjelaskan pemahaman saya atas pengalaman Ming yang bisa krusial itu.<br />
&#8220;Oh begitu&#8230; Baiklah. Ming pasti senang sekali kamu mau datang&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekitar 15 menit kemudian saya menekan bel pintu rumah mereka. Ming yang membukakan pintu sambil memandangi saya dengan matanya yang bening.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Hai Ming&#8230;!&#8221; sapa saya sambil membelai kepalanya.<br />
&#8220;Oom&#8230; Oom mau kan berdoa untuk Ben?&#8221; tanya Ming dengan penuh harap.<br />
&#8220;Tentu Ming&#8230; Tetapi sebenarnya kita tidak perlu mendoakan orang yang sudah mati, karena ia sudah kembali kepada Tuhan. Apalagi seekor ikan&#8230; ikan emas koki..&#8221;</p>
<p>Ming menatap saya dengan pandangannya yang polos. Dari wajahnya saya menyimpulkan bahwa ia tidak memahami penjelasan saya. Namun ia tidak menyerah, dan sekali lagi bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oom mau kan berdoa untuk Ben&#8230;?&#8221;</p>
<p>Saya tersenyum. Ming membalas senyuman saya dengan ragu. Dan kamipun beranjak menuju ke kamar tidur Ming. Ben dibaringkan Ming di atas selembar serbet kertas pada meja tulisnya. Cu menyusul kami memeluk Ming dan menciumnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Akan kita kuburkah si Ben&#8230;?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Atau kita larung di dalam kloset&#8230;? Soalnya sekarang kan sudah gelap&#8230;?&#8221; sambung Cu dengan cepat.<br />
&#8220;Tapi nanti dia&#8230; ke mana&#8230;?&#8221; tanya Ming sambil memandang ibunya.<br />
&#8220;Sama saja dengan dikubur, Ming&#8230; tubuhnya akan hancur dan menyatu dengan tanah&#8230; Ya toh Pungky?&#8221; kata Cu sambil menatap saya meminta dukungan.<br />
&#8220;Ya benar&#8230;.&#8221; sahut saya.<br />
&#8220;Oh&#8230; tetapi Ben sendiri kan masuk sorga&#8230; toh Oom?&#8221; tanya Ming kepada saya dengan wajah bersungguh-sungguh. Cu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.<br />
&#8220;Bila begitu, sorganya lain dengan sorga kita, Ming&#8230;&#8221; kata Cu dengan nada setengah putus asa.<br />
&#8220;Sorga ikan-ikan&#8230;?&#8221; tanya Ming.<br />
&#8220;Kira-kira begitu&#8230;&#8221; jawab saya.</p>
<p>Ming mengangguk-angguk sambil tersenyum renyah. Kemudian tanpa berkata apa-apa Ming mengangkat Ben di tangannya dan menuju ke kamar mandi. Ketika Cu dan saya masih terheran-heran melihatnya, Ming memberi tanda kepada kami untuk mengikutinya.</p>
<p>Di depan kloset Ming berdiri dengan khidmat. Ben dipegangnya pada kedua tangannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oom Pungky berdoa&#8230;&#8221; katanya lirih.</p>
<p>Saya pun berdoa. Berdoa bagi Ming. Memohon penghiburan Tuhan serta berterima kasih atas Ben yang sekian lama menemani Ming. Setelah selesai saya berdoa Ming menjatuhkan Ben ke dalam kloset. Lalu memandang saya dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oom&#8230; Oom saja yang menyiramnya&#8230;&#8221; pintanya.</p>
<p>Saya pun menekan tombol penyiram. Dalam sekejap tubuh Ben menghilang di pusaran air dalam kloset. Lalu kamipun menuju ke ruang tamu. Ming menonton televisi sementara saya dan ibunya minum kopi. Seperempat jam kemudian saya mohon diri.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ming, Oom Pungky pulang.&#8221;<br />
&#8220;Oke Oom&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hayo&#8230; kamu bilang apa Ming&#8230; Oom Pungky malam-malam harus ke sini&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Terima kasih Oom&#8230;&#8221;</p>
<p>Cu mengantar saya ke pintu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Terima kasih ya. Kelihatannya suasana hatinya sudah lebih baik.&#8221;<br />
&#8220;Aku rasa begitu. Setiap anak harus belajar mengalami kehilangan sesuatu yang paling dianggapnya berarti. Dan tempat yang paling baik untuk mengalaminya adalah di tengah keluarganya&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Yah&#8230; tetapi sayang keluarganya tidak lengkap&#8230;&#8221; kata Cu sambil menghela nafas.<br />
&#8220;Secara kuantitatif ya&#8230;. tetapi secara kualitatif tidak ada yang kurang pada kalian&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Terima kasih&#8230;&#8221; jawab Cu tersenyum.</p>
<p>Lima hari kemudian saya bertemu Ming dan ibunya di supermarket. Ming berlari-lari mendapatkan saya sambil mengacungkan sebuah kantong plastik. Di dalamnya terdapat seekor ikan emas koki, mirip sekali warnanya dengan Ben.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ben&#8230;.?&#8221; tanya saya ragu-ragu.<br />
&#8220;Bukan&#8230; Fred&#8230;!&#8221;</p>
<p>Di belakangnya Cu mengacungkan kedua ibujarinya.</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ming-dan-ikan-emas-koki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peduli pada Alam Lingkungan</title>
		<link>http://gkipi.org/peduli-pada-alam-lingkungan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/peduli-pada-alam-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 06:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Andaikata ada lebih banyak orang mau berpikiran seperti Romo Tan. Andaikata dari mimbar lebih kerap dikhotbahkan tentang panggilan dan tanggung jawab setiap orang percaya untuk melestarikan alam lingkungan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">P</span>erawakannya tidak tinggi bahkan cenderung agak pendek. Usianya sudah hampir 80 tahun. <strong>Romo Tan Soe Ie, SJ</strong> yang berkedudukan di Gereja St. Ignatius, di desa Ponggol Kaliurang, adalah seorang tua yang kasat mata bukanlah seseorang yang istimewa. Dan memang beliau sendiri tidak pernah mengklem bahwa beliau adalah seorang yang penting apalagi istimewa.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya hanyalah seorang tua yang tidak punya banyak waktu lagi&#8230;&#8221; ujarnya dengan senyum renyah memperlihatkan sederetan gigi yang ompong di sana-sini.</p>
<p>Tetapi pandang matanya bersinar-sinar penuh dengan semangat. Terlebih-lebih ketika kepadanya ditanyakan apa yang dilakukan dan dikerjakannya di Kaliurang beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ah, ya cuma gini-gini aja&#8230;&#8221; sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Jangan begitu dong Romo&#8230; masakan ini tidak ada artinya?&#8221; sanggah salah seorang dari kami.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya iya lah&#8230; wong cuma ngurusi cacing-cacing&#8230;&#8221; sahutnya lagi dengan tertawa makin keras sehingga terbatuk-batuk sendiri. Lalu ketika batuknya mereda, Romo Tan balik bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sebenarnya kalian ini mau apa to, mengunjungi saya yang tua-renta ini&#8230;?&#8221;</p>
<p>Yang disapa dengan &#8220;kalian&#8221; oleh Romo Tan adalah rombongan pendeta peserta kursus penyegaran. Pada tanggal 19-20 Mei 2008 yang lalu, saya bersama rombongan itu mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas Theologia Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Yogyakarta. Kursus itu diberi nama dalam bahasa Inggris, mungkin supaya menarik, atau barangkali kalau dalam bahasa Inggris lebih memberi kesan bermutu dan bergengsi: &#8220;Theological Refreshing Course for Pastor&#8221;. Sedangkan tema dari kursus penyegaran itu adalah &#8220;Penuhilah Bumi dan Taklukkanlah?&#8221; dengan subtema &#8220;Menjadi gereja yang peduli pada lingkungan hidup&#8221;.</p>
<p>Sayangnya jumlah pendeta yang mengikuti kursus ini sedikit sekali dibandingkan dengan jumlah undangan yang dikirimkan kepada semua pendeta dari gereja pendukung UKDW. Jumlah peserta kursus adalah 15 orang pendeta, dengan rincian 1 dari Gereja Kristen Pasundan (GKP), 4 dari Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) dan 10 dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan salah satu di antara para pendeta GKI adalah satu-satunya peserta perempuan. Mudah-mudahan animo untuk mengikuti kursus ini bukanlah cerminan kepedulian gereja-gereja kita terhadap alam lingkungan.</p>
<p>Kursus penyegaran, yang diselenggarakan sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, dibuka dengan sebuah kebaktian ekspresif dan reflektif yang sangat mengesankan. Di situ para peserta ditantang untuk merenungkan bukan saja apa yang seyogyanya dilakukan gereja, tetapi juga apa yang seharusnya dilakukannya, sebagai pendeta, bagi pelestarian alam lingkungan. Kebaktian itu merupakan jalan masuk yang sangat tepat ke sesi pertama: Refleksi Bencana Lingkungan Hidup.</p>
<p>Sesi pertama yang dipandu oleh Drs. Kisworo Msc, dosen Fakultas Biologi UKDW adalah sebuah pembuka mata (eye-opener) bagi para peserta. Memang di sana-sini para pendeta, termasuk saya, telah mendengar dan membaca betapa upaya pelestarian alam lingkungan, khususnya di Indonesia, secara pelahan namun pasti menuntut perhatian dan tindakan yang kian serius. Namun dari presentasi sesi ini para peserta terhenyak terutama oleh cepatnya proses perusakan alam lingkungan di Indonesia yang sedang terjadi.</p>
<p>Proses perusakan itu terutama dalam hal ledakan kependudukan (jumlah penduduk Indonesia lebih daripada 200 juta, di mana di antaranya 17,8 % berada di bawah garis kemiskinan, 49% berpenghasilan kurang dari US$ 2 sehari); laju kerusakan hutan atau deforestasi (lebih daripada 3 juta hektar per tahun, yang berarti lebih daripada sekitar 8333,3 hektar sehari!); kepunahan spesies flora-fauna (mengancam biodiversitas alam) dan krisis air (defisit air di pulau Jawa tahun 200 = 52.809 juta m3). Dan semua ini langsung tidak langsung memberikan kontribusi pada pemanasan global yang kian mencemaskan.</p>
<p>Dalam diskusi yang kemudian berlangsung, ada cukup banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegat laju perusakan itu dan yang secara perlahan-lahan dan dalam skala yang amat kecil diharapkan dapat memperbaiki alam lingkungan. Misalnya melalui partisipasi nyata dan jejaring, partisipasi politik, dan pelayanan gerejawi. Namun itu semua hanya akan berarti bila difokuskan pada perubahan perilaku manusia, dari tidak-ramah lingkungan menjadi kian ramah lingkungan.</p>
<p>Sesi kedua adalah presentasi dari Ir. Mahatmanto MT, dosen Fakultas Arsitektur UKDW, dengan judul Arsitektur Ramah Lingkungan. Dengan amat menarik sang fasilitator menjelaskan sejarah orang membangun (tempat tinggal, kota) yang mula-mula amat mempertimbangkan alam lingkungan karena bergantung sepenuhnya, tetapi yang kian lama mengabaikannya karena kemampuannya (teknologi) menyesuaikan kondisi alam lingkungan dengan kebutuhannya. Beliau mengimbau dan memraktekkan apa yang disebut sebagai teknologi sustainable (awet, terus-menerus, memelihara). Dalam diskusi yang mengikuti sesi ini menjadi jelas pula bahwa inipun, penerapan teknologi sustainable pun hanya mungkin terjadi bila ada perubahan perilaku yang sungguh-sungguh mempertimbangkan pelestarian alam lingkungan.</p>
<p>Sesi ketiga, yang mengawali hari kedua, adalah paparan pendasaran dan refleksi teologis yang difasilitasi oleh Prof. DR. J.B Banawiratma, berjudul Teologi Lingkungan Hidup. Dalam sesi ini terjadi diskusi yang menarik karena para pendeta berada pada ranah yang amat mereka kenal. Dengan trampil Profesor Bono mengajak para pendeta menemukan dan merefleksikan kembali fondamen teologis alkitabiah mengenai alam lingkungan dan kewajiban orang percaya atasnya. Banyak hal yang dapat dipetik dan digarisbawahi dalam sesi ini. Hanya memang menurut hemat saya ada satu pokok yang kurang digali lebih dalam dan lanjut, yaitu konsep keselamatan dalam Yesus yang mestinya bukan cuma menyangkut manusia, tetapi juga dunia dalam konotasi alam lingkungan. Dan berlandaskan keyakinan itu setiap orang percaya dipanggil secara eksplisit untuk mempertanggungjawabkan upayanya mengeksploitasikan alam lingkungan dengan juga secara bersungguh-sungguh melestarikannya.</p>
<p>Setelah makan siang dengan bus para peserta dibawa ke arah Kaliurang. Acara terakhir, atau boleh dibilang puncak acara penyegaran adalah belajar langsung dari praktisi lingkungan. Kurang dari 1 jam bus kami berhenti di depan sebuah gereja yang kecil dan sederhana namun tampak asri, Gereja St. Ignatius di desa Ponggol Kaliurang. Menyongsong kedatangan kami dengan wajah berseri-seri adalah Romo Tan Soe Ie, SJ. Setelah memperlihatkan lahan di sekitar gereja dan rumahnya yang cukup luas dan tertata apik, kami naik bus sekitar 15 menit menuju ke tempat Romo Tan melaksanakan usahanya sebagai praktisi lingkungan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kami mau belajar dari Romo, apa dan bagaimana yang Romo lakukan dalam rangka konservasi alam lingkungan.&#8221; ujar pengiring rombongan kami.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ah, yang saya lakukan hanyalah membuat pupuk organik dari sampah hijau&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sampah hijaunya diapain Romo&#8230;?&#8221; tanya salah seorang dari kami penasaran.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya juga menimbun sampah hijau, saya biarkan beberapa lama dan saya pakai sebagai pupuk&#8230; tetapi hasilnya menurut saya tidak terlalu istimewa&#8230;.Kurang sih&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kurang apa Romo&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kurang cacingnya&#8230;. ha ha ha&#8230;!&#8221; sahut Romo Tan sambil tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk.</p>
<p>Setelah batuknya mereda Romo Tan menjelaskan apa yang dilakukannya, yang sebenarnya sederhana menurut beliau. Sampah hijau ditumpuk atau dionggokkan membentuk lajur-lajur pandang setinggi kira-kira 1 meter. Lalu ke dalam onggokan-onggokan sampah itu dilepaskan beberapa ekor cacing.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sembarang cacing bisa Romo&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya bisa saja&#8230; ha ha ha&#8230;! Tetapi hasilnya belum tentu seperti pupuk organik kami&#8230;.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Jenis apa Romo&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Wah itu rahasia dapur&#8230;. ha ha ha&#8230;! Tetapi kalau ada yang berminat untuk membuat pupuk seperti saya punya ini, saya kasih cacingnya gratis&#8230;!&#8221;</p>
<p>Pupuk organik Romo Tan ini disebut &#8220;Kascing&#8221; yang sebenarnya adalah kotoran cacing. Sampah hijau tadi dimakan cacing lalu dikeluarkan lagi sebagai kotoran dalam bentuk butiran-butiran halus berwarna kehitam-hitaman dan beraroma seperti tanah. Kotoran cacing tercampur dengan lendir dan air liur cacing menjadi pupuk organik yang amat berkhasiat bagi segala macam tanaman. Dan bukan hanya itu menurut Romo Tan.</p>
<p>Kecuali kandungan NPK yang sangat tinggi, pupuk organik Kascing masih memiliki sesuatu yang unik, yaitu kandungan hormon yang dihasilkan oleh lendir dan air liur cacing. Hormon tersebut memacu pertumbuhan tanaman (hormon pertumbuhan), sekaligus melindunginya dari penyakit (antibiotik) dan mampu memelihara stabilitas tanah maupun media tanam yang lain. Yang terakhir ini penting, karena biasanya setelah tanah ditanami dengan diberi pupuk non-organik, maka mutu kandungan tanah menjadi makin buruk, dan lama kelamaan tidak lagi subur. Tanah yang seperti itu bila ditanami dengan diberi pupuk organik Kascing, dalam waktu singkat akan pulih kembali.</p>
<p>Sayangnya tidak banyak petani yang mau memakai pupuk organik Kascing ini walau harganya murah. Sebab memang hasilnya tidaklah secepat dan sehebat bila menanam dengan diberi pupuk kimia, seperti pupuk urea. misalnya. Tetapi Romo Tan tidak pernah bosan memotivasi para petani di sekitar gerejanya dan di tempat lain untuk menggunakan pupuk organik Kascing, buatannya. Karena amatlah penting menurut beliau bahwa para petani tidak hanya mementingkan hasil sesekali dan saat ini saja, tetapi melihat jauh ke depan, serta mengusahakan agar tanah bukan hanya bisa ditanaminya sendiri, tetapi dapat dimanfaatkan oleh generasi-generasi berikutnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Yang penting memang lalu menanamkan dan mengembangkan mentalitas ramah lingkungan&#8230;&#8221; ujar Romo Tan dengan pandang menerawang.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Itu termasuk tugas Bapak-bapak dan Ibu pendeta sekalian&#8230;&#8221; sambungnya dengan lirih.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Untuk menanam cacing&#8230;?&#8221; tanya salah seorang peserta bergurau.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ha ha ha&#8230;.&#8221; tertawa terpingkal-pingkal sang Romo hingga kembali terbatuk-batuk.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Memangnya Ibu Pendeta berani memegang cacing-cacing yang menjijikkan itu&#8230;?&#8221; Dan kamipun tertawa riuh-rendah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya tidak bisa berceramah teologis ilmiah tentang pelestarian alam lingkungan. Tetapi pupuk organik saya inilah menurut saya sumbangsih saya bagi usaha itu&#8230;&#8221; kata Romo Tan menyimpulkan pertemuan kami dengan beliau.</p>
<p>Kami pun mengangguk-angguk dengan berbagai pikiran kami masing-masing. Andaikata ada lebih banyak orang mau hidup seperti Romo Tan. Andaikata ada lebih banyak orang mau berpikiran seperti Romo Tan. Andaikata dari mimbar lebih kerap dikhotbahkan tentang panggilan dan tanggung jawab setiap orang percaya untuk melestarikan alam lingkungan. Andaikata GKI Pondok Indah dapat berprakarsa seperti Romo Tan, bukan untuk membuat pupuk organik Kascing, tetapi memulai sebuah usaha pelestarian alam lingkungan yang cocok di kota, seraya memberdayakan warganya untuk lebih ramah lingkungan. Andaikata gereja-gereja, khususnya GKI mengkhususkan satu bulan tertentu sebagai Bulan Peduli Alam Lingkungan seperti Bulan Keluarga misalnya&#8230;<br />
Andaikata&#8230;</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/peduli-pada-alam-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

