<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Refleksi</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/kontemplasi/refleksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Ketika Tangan Tuhan  Menggamit&#8230;</title>
		<link>http://gkipi.org/ketika-tangan-tuhan-menggamit/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ketika-tangan-tuhan-menggamit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 04:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3456</guid>
		<description><![CDATA[Perawakannya termasuk kecil untuk seorang perempuan. Kurus, agak bungkuk, tetapi masih bisa berjalan dengan cepat, berkacamata tebal dan sangat sehat. Beliau mempunyai kebiasaan yang waktu itu saja sudah aneh bagi kami anak-anak, yaitu makan pinang, yang ditutup dengan mengunyah tembakau. Usianya sudah tujuhpuluhan, walau tidak ada seorang pun di dalam keluarga yang mengetahuinya dengan tepat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perawakannya termasuk kecil untuk seorang perempuan. Kurus, agak bungkuk, tetapi masih bisa berjalan dengan cepat, berkacamata tebal dan sangat sehat. Beliau mempunyai kebiasaan yang waktu itu saja sudah aneh bagi kami anak-anak, yaitu makan pinang, yang ditutup dengan mengunyah tembakau. Usianya sudah tujuhpuluhan, walau tidak ada seorang pun di dalam keluarga yang mengetahuinya dengan tepat. Kami selalu memanggilnya: Mbah Ineng, sebutan akrab dari panggilan yang lebih resmi: Mbah Siner. Menurut Ibu saya, nama Siner berasal dari pekerjaan almarhum suaminya di zaman Belanda sebagai “ziener” atau pengawas di perkebunan tebu di Jawa Tengah. Nama almarhum suami Mbah Ineng adalah Hardjowasito, sehingga beliau juga secara resmi dikenal sebagai Ibu Hardjowasito.</p>
<p>Beliau adalah kakak dari nenek saya dari Ibu. Sepanjang pengetahuan saya beliau selalu tinggal bersama keluarga kakak ibu saya (Bu De), yang suaminya adalah seorang diplomat. Biasanya beliau selalu menyertai keluarga Bu De ke manapun Pak De ditugaskan oleh Departemen Luar Negeri. Namun ketika saya duduk di Sekolah Menengah Pertama, beliau sudah terlalu tua untuk mengikuti keluarga Bu De ke Miami kalau tidak salah. Sejak itu beliau tinggal bersama keluarga kami di jalan Cilandak 1, Jakarta Selatan.</p>
<p>Mbah Ineng adalah seorang yang sangat rapi dan pembersih. Bila saya berkunjung ke kamarnya, hampir selalu dengan galak dan dengan segumpal tembakau di mulutnya, beliau berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Jangan duduk di tempat tidur Pungky! Kamu kan baru duduk entah di mana&#8230; Ha! Kamu sebelum masuk tadi sudah kesed belum&#8230;?”<br />
“Sudah Mbah..!”<br />
“Ya sudah&#8230;. bagus&#8230; sebaiknya kamu lepas saja sepatumu&#8230;”</p>
<p>Mbah Ineng juga amat ketat menjaga kamarnya dari serangan nyamuk. Konon beliau sendiri atau suami beliau pernah mengidap malaria ketika kecil. Betapapun kami mencoba meyakinkannya bahwa di Cilandak tidak ada nyamuk malaria, beliau bergeming.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalian belum pernah kena penyakit itu sih&#8230;?”</p>
<p>Oleh karena itu pintu kamarnya dilengkapi dengan pintu kasa. Dan di luar kamar di kusen pintu kasa itu Mbah Ineng menggantungkan sebuah sapu lidi. Setiap orang yang hendak masuk kamar beliau harus mengusir nyamuk yang kelihatan maupun tidak, lalu membuka kedua pintu, menggantungkan sapu lidi di tempatnya kembali dan cepat-cepat masuk serta menutup pintu-pintu itu. Di dalam kamar di pintu kamar tergantung sapu lidi serupa. Setiap orang yang hendak keluar kamar, begitu membuka pintu kamar dan pintu kasa harus mengayun-ayunkan sapu lidi, menggantungkannya kembali, keluar dan menutup kedua pintu itu.</p>
<p>Mbah Ineng nyaris tidak pernah kelihatan tidak necis. Setiap pagi dan sore, walaupun belum tentu keluar rumah, sesudah mandi beliau selalu berpakaian amat rapi, berkain dan kebaya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Memang mau dijemput pacar ya Mbah&#8230;?” tanya saya menggodanya.<br />
“Ah tidak&#8230;” jawabnya dengan serius.<br />
“Lalu kenapa pagi-pagi sudah rapi?”<br />
“Siapa tahu ada tamu&#8230;”</p>
<p>Salah satu dari tamu-tamu yang paling diharap-harapkannya adalah nenek saya dari Ibu, satu-satunya adik kandungnya. Beliau tinggal di rumahnya sendiri di belakang rumah Bu De yang lain di Rawamangun. Keduanya bagaikan langit dan bumi. Bila Mbah Ineng kecil dan kurus, nenek saya gemuk, tegap serta cukup tinggi. Beliau bernama Sudarmini Soemakno, tetapi biasa dipanggil Mbah Sudar, Mbah Makno, atau Mbah Dokter, karena almarhum suaminya adalah dokter di zaman Belanda. Bila Mbah Ineng adalah sosok yang rapi dan bersih, maka Mbah Dokter adalah sosok yang berpakaian seenaknya. Bila Mbah Ineng tinggal di kamar yang sangat rapi dan bersih, maka kamar Mbah Dokter adalah salah satu contoh dari kamar yang centang-perenang. Bila Mbah Ineng cenderung pendiam, Mbah Dokter sangatlah fasih dan suka berbicara.</p>
<p>Tak ada di antara kami yang meragukan bahwa mereka berdua saling mencintai dan merindukan. Namun bila mereka berjumpa selalu saja mereka bertengkar. Pertengkaran biasanya dimulai karena diabaikannya ritus kebersihan atau mengusir nyamuk oleh Mbah Dokter.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Sudar&#8230;! Kamu belum mengusir nyamuk sebelum masuk tadi&#8230;”<br />
“Ah, ini kan musim hujan&#8230;. mana ada nyamuk to Yu (Bahasa Jawa: singkatan dari Mbakyu, yang berarti kakak perempuan) &#8230;” jawab Mbah Dokter seenaknya sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur.<br />
“Jangan duduk di situ&#8230; pakaianmu kan kotor dari luar&#8230; Duduk saja di kursi!”<br />
“Emoh ah. Keras kursimu&#8230;”</p>
<p>Namun penyebab puncak keributan di antara mereka biasanya adalah ketidaksediaan Mbah Ineng untuk ke gereja, atau tepatnya menyerahkan diri untuk percaya kepada Kristus. Pertengkaran tentang ini konon sudah dimulai sejak awal Mbah Dokter menjadi Kristen.</p>
<p>Mbah Dokter, nenek saya, ketika masih muda pernah mengikuti seri kebaktian kebangkitan rohani di alun-alun kota Yogyakarta, yang dipimpin oleh John Sung pekabar Injil dari Tiongkok di tahun empatpuluhan. Di situ beliau memberi diri untuk percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Beliau kemudian selalu dengan berapi-api mengabarkan Injil kepada siapa saja. Cukup banyak orang yang berhasil diyakinkannya untuk percaya dan memberi diri dibaptiskan.</p>
<p>Namun yang paling membuat Mbah Dokter penasaran adalah bahwa setelah sekian lamanya beliau tetap saja belum berhasil meyakinkan Mbah Ineng untuk menyerahkan diri dan hidupnya kepada Kristus. Ada saja selalu argumentasi Mbah Ineng untuk menangkis bujukan adiknya. Dan kerapkali sang adik tidak mampu menjawab sang kakak. Beberapa di antara argumentasi jitu itu adalah ini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Buat apa menjadi orang Kristen? Nyatanya banyak orang Kristen yang tidak lebih baik, bahkan lebih buruk dibandingkan dengan orang-orang yang bukan Kristen&#8230;”</p>
<p>Atau ini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Kamu sejak menjadi Kristen nasibmu juga tidak lebih baik ketimbang sebelumnya&#8230;”</p>
<p>Maka biasanya lalu senjata pamungkas Mbah Dokter adalah seperti ini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Tetapi di Kitab Suci tertulis bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa&#8230;” yang segera dijawab dengan ketus:<br />
“Pokoknya aku percaya kepada Allah&#8230; mau di dalam Kristus atau tidak, itu urusanku&#8230;!”</p>
<p>Tidak jarang mereka berpisah dalam suasana yang masih agak panas seperti itu. Tetapi setelah beberapa lama mereka saling rindu, dan bertemu lagi walau kadang-kadang itu berarti terulangnya lagi pertengkaran di antara mereka.</p>
<p>Meskipun selalu dengan ketus menolak adiknya yang mencoba meyakinkannya untuk percaya, sebenarnya ada celah-celah pada pertahanan Mbah Ineng yang tidak diketahui sang adik. Setiap hari Minggu rumah kami digunakan untuk dua kelas Sekolah Minggu. Di ruang tamu untuk kelas anak kecil dan di ruangan samping untuk kelas anak besar, dekat dengan kamar Mbah Ineng. Sesekali Mbah Ineng berdiri di pintu ruang samping memerhatikan ibu saya yang sedang memimpin, atau dengan mengangguk-angguk mengikuti irama anak-anak menyanyi.</p>
<p>Setiap kali, Mama yang melihatnya berdiri, menyapanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">“Bu Siner&#8230;” begitu ibu dan ayah saya selalu memanggilnya, “&#8230;daripada berdiri mbok lenggah (Bahasa Jawa: duduk)  dengan anak-anak di sini&#8230;”</p>
<p>Mbah Ineng tersenyum, menggelengkan kepalanya dan masuk ke kamarnya. Begitu terjadi setiap kali selama entah berapa lama. Tetapi pada suatu hari terjadilah yang tak di sangka-sangka. Seperti biasa Mbah Ineng berdiri di pintu, setelah beberapa saat Mama menyapanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bu Siner&#8230; mau lenggah di sini&#8230;?”</p>
<p>Tanpa menjawab Mbah Ineng memasuki ruangan Sekolah Minggu dan duduk di kursi yang ditunjukkan Ibu. Sejak saat itu, Mbah Ineng biasa mengikuti kebaktian Sekolah Minggu, bila beliau sedang menginginkannya. Ibu dan ayah saya mensyukuri perkembangan ini. Dan berniat untuk kembali mengajak beliau mengikuti kebaktian keluarga yang sesekali diadakan di rumah kami, walau selama ini beliau menolaknya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
“Bu Siner&#8230;” sapa ayah saya pada suatu sore di ruang tamu. “Sabtu depan, jam 5 sore, ada kebaktian keluarga yang diadakan di rumah kita. Bu Siner kerso (Bahasa Jawa: berkenan)  hadir&#8230;?”</p>
<p>Mbah Ineng menatap Bapak beberapa saat lalu menghela nafas panjang dan menjawab lirih:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Mungkin lain kali&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">
“Bu Siner tidak perlu melakukan apa-apa kok, seperti kalau di sekolah Minggu itu lho&#8230;” kata ibu saya penuh harap.</p>
<p>Mbah Ineng tersenyum, untuk beberapa saat kelihatan berpikir, tetapi kemudian menggelengkan kepalanya. Maka mengertilah ibu dan ayah saya bahwa beliau tidak bersedia, sehingga percakapan tentang hal itu dihentikan. Begitulah terjadi beberapa lamanya.</p>
<p>Pada suatu kali, seminggu sebelum kembali diadakan kebaktian keluarga di rumah kami, Bapak bertanya lagi kepada Mbah Ineng:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bu Siner, Sabtu depan jam 5 sore, ada kebaktian keluarga lagi di rumah kita. Bagaimana&#8230;?”</p>
<p>Seperti biasa, Mbah Ineng menatap Bapak beberapa saat lalu menghela nafas panjang dan menjawab lirih:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Mungkin lain kali&#8230;”</p>
<p>Bapak mengangguk-angguk dan Mama kelihatan amat kecewa. Tetapi begitulah Mbah Ineng. Tidak banyak bicara tetapi amat jelas apa yang dikehendakinya atau yang tidak dimauinya. Kamipun mulai mempersiapkan diri untuk kebaktian keluarga itu. Biasanya tugas saya adalah menyebarkan undangan kepada keluarga-keluarga Kristen di lingkungan kami, yang berasal dari berbagai gereja. Jadi sebenarnya kebaktian keluarga di lingkungan kami (Cilandak) waktu itu adalah cikal-bakal kebaktian-kebaktian ekumenis yang kini biasa dikenal.</p>
<p>Pada Sabtu siang dilaksanakannya kebaktian keluarga itu, kami semua sibuk. Mama mempersiapkan hidangan bersama beberapa ibu. Bapak memilih dan mengetik lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Saya dan adik saya laki-laki mengatur kursi-kursi, sedangkan adik saya perempuan yang masih kecil turut sibuk bermain-main di dekat kami.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ayo mulai mandi, gantian&#8230; sudah jam setengah 4 lho&#8230;” kata ayah saya yang memang selalu disiplin dengan waktu.</p>
<p>Kami, anak-anak langsung berebutan memasuki kamar mandi, tak ketinggalan adik saya yang kecil.</p>
<p>Sekitar jam 16.30 kami selesai mempersiapkan diri dan dengan takjub kami melihat Mbah Ineng dengan pakaiannya yang indah dan rapi duduk di ruang tamu. Kami tak mampu berkata-kata kecuali tersenyum kepadanya. Beliau pun membalas senyuman kami, juga tanpa mengatakan apapun. Dan sejak itu Mbah Ineng selalu hadir dalam setiap kebaktian keluarga yang diadakan di rumah kami.</p>
<p>Sementara itu bujukan dan dorongan Mbah Dokter kepada beliau untuk percaya dan menyerahkan diri kepada Kristus tetap berlangsung. Terlebih-lebih sejak Mbah Ineng kerap mengikuti kelas Sekolah Minggu dan secara rutin mengikuti kebaktian keluarga di rumah kami. Tetapi Mbah Ineng bergeming, sambil mengunyah pinang beliau berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sudahlah Sudar&#8230; aku tidak mau&#8230;”<br />
“Tidak mau atau belum mau&#8230;?” tukas Mbah Dokter.<br />
“Mungkin&#8230; belum&#8230; “<br />
”Jadi pada suatu hari mau?”<br />
“Sudahlah Sudar&#8230;.”</p>
<p>Pada suatu sore, ayah saya yang baru kembali dari kantor, duduk membaca koran ditemani ibu saya yang membaca sebuah buku. Mbah Ineng yang seperti biasa sudah rapi setelah mandi, memasuki ruang tamu membawa perlengkapan makan-pinangnya. Sejenak mereka bertiga sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lalu tiba-tiba Mbah Ineng berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Apakah yang harus saya lakukan bila saya ingin dibaptis&#8230;?”</p>
<p>Untuk beberapa saat ayah dan ibu saya tak mampu berkata apapun. Akhirnya ayah saya yang mampu lebih cepat menguasai dirinya, berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Maksud Ibu&#8230;. Bu Siner mau dibaptis&#8230;?”<br />
“Ya&#8230;”</p>
<p>Ibu saya langsung memeluknya dengan terisak-isak. Setelah itu rasanya semuanya bergulir begitu cepat. Mengingat usianya yang telah lanjut maka alih-alih katekisasi reguler, katekisasi bagi beliau diadakan dalam bentuk beberapa kali percakapan dengan Pdt. Wirakotan yang datang ke rumah kami. Dan tentunya ada beberapa “pelajaran tambahan” dari Mbah Dokter yang amat bersemangat itu. Dan pada hari yang telah direncanakan, dengan disaksikan oleh kami semua, Mbah Ineng dibaptiskan dalam sebuah kebaktian Minggu di jemaat GKI Kebayoran Baru.</p>
<p>Apa yang menyebabkan Mbah Ineng akhirnya memutuskan untuk percaya dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan, tidak ada seorang pun yang tahu. Mungkin usaha Mbah Dokter yang gigih tak kenal putus asa. Mungkin apa yang disaksikan dan didengar beliau di sekolah Minggu, atau di kebaktian-kebaktian keluarga yang dihadiri beliau. Mungkin ajakan-ajakan ayah dan ibu saya. Atau mungkin karena semuanya itu. Yang pasti, Tuhan bekerja, tangan-Nya menggamit tangan Mbah Ineng. Dan akhirnya, setelah sekian tahun, Mbah Ineng menjabat tangan Tuhan itu.</p>
<address>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ketika-tangan-tuhan-menggamit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Christmas Carol Yang Mengesankan</title>
		<link>http://gkipi.org/christmas-carol-yang-mengesankan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/christmas-carol-yang-mengesankan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 13:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3228</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya memulai pelayanan di jemaat GKI Pondok Indah, saya mendengar bahwa GKI Pondok Indah mempunyai program Christmas Carol. Waktu itu yang terbayang oleh saya adalah kebiasaan yang saya tahu di Belanda, yaitu sekelompok orang berdiri di perempatan jalan, atau di muka rumah seseorang, menyanyikan lagu-lagu Natal. Dan memang itu juga yang kita saksikan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">K</span>etika saya memulai pelayanan di jemaat GKI Pondok Indah, saya mendengar bahwa GKI Pondok Indah mempunyai program Christmas Carol. Waktu itu yang terbayang oleh saya adalah kebiasaan yang saya tahu di Belanda, yaitu sekelompok orang berdiri di perempatan jalan, atau di muka rumah seseorang, menyanyikan lagu-lagu Natal. Dan memang itu juga yang kita saksikan di mal-mal mewah di Jakarta.</p>
<p>Belakangan saya mengerti bahwa kegiatan itu dikoordinasikan dan dilaksanakan oleh Komisi Perlawatan bagi beberapa anggota jemaat yang berusia lanjut atau bagi mereka yang tak dapat (lagi) pergi ke gereja. Kemudian beberapa kali saya berkesempatan mengikuti kelompok-kelompok yang melaksanakan Christmas Carol di beberapa wilayah. Saya sungguh-sungguh terkesan olehnya. Amat berbeda dengan pelaksanaan di mal-mal, Christmas Carol bagi warga jemaat itu lebih merupakan kebaktian Natal kecil. Tentu saja lagu-lagu Natal dinyanyikan, tetapi dilakukan juga pembacaan Alkitab dan renungan singkat.</p>
<p>Bagi yang mendapatkan kunjungan Christmas Carol kesempatan ini kerap dinanti-nantikan. Terutama mereka yang tidak dapat meninggalkan rumah untuk pergi ke gereja karena usia atau karena sakit. Kunjungan Christmas Carol dialami sebagai pengganti ibadah dan perayaan Natal baginya. Bahkan dialami sebagai sesuatu yang personal dan hangat, yaitu gereja yang berkunjung ke rumahnya.</p>
<p>Namun yang lebih menarik lagi adalah perjumpaan dengan beberapa orang yang mendapatkan kunjungan itu. Tahun ini saya terlibat dalam kunjungan Christmas Carol ke rumah beberapa anggota jemaat di wilayah-wilayah jemaat Pondok Indah. Dari berbagai kunjungan di mana saya terlibat, perjumpaan dengan dua ibu amat berkesan bagi saya. Yang pertama adalah almarhum Bapak Sariowan beberapa tahun yang lalu dan Ibu Pitalia beberapa minggu yang lalu.</p>
<p>Bapak Sariowan adalah anggota jemaat GKI Pondok Indah yang tertua. Dalam usia melebihi 90 tahun beliau masih tergolong sehat. Agak rutin beliau dikunjungi oleh Seksi Perlawatan dari Komisi Senior, maupun oleh Majelis Jemaat untuk Perjamuan Kudus empat kali setahun. Memang ada saat-saat di mana beliau dalam keadaan lemah apabila malamnya tidak dapat tidur. Tetapi pada saat-saat segar beliau cukup komunikatif sehingga membuat suasana perkunjungan menyenangkan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat pagi Oom Sariowan&#8230;” sapa saya dengan suara keras, mengingat pendengarannya yang kurang, ketika beliau didorong memasuki ruang tamu di atas kursi rodanya.<br />
“Selamat pagi&#8230;” jawabnya lirih sambil tersenyum renyah.</p>
<p>Jawabannya itu kemudian menentukan suasana perkunjungan yang kemudian berlangsung dengan hangat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Masih ingat saya Oom&#8230;?”<br />
“Pendeta&#8230;.eh&#8230;”<br />
“Pendeta siapa Papa&#8230;?” tanya putrinya.<br />
“Eh&#8230; pendeta&#8230;. Rudi&#8230;?”</p>
<p>Rupanya sosok dan perawakan Pdt. Rudianto lekat pada ingatannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bukan Pa&#8230; Pendeta Purboyo..”<br />
“Ya&#8230; ya&#8230;”<br />
“Kita baca Alkitab ya Oom&#8230;?”<br />
“Ya&#8230;” sahutnya meyakinkan, walau dengan kacamatanya yang amat tebal beliau tetap tidak dapat membaca.</p>
<p>Takkan terlupakan oleh saya ekspresi wajahnya ketika meresapkan lagu-lagu yang dikenalinya, ketika menikmati roti dan anggur Perjamuan Kudus, juga ketika berdoa. Bahkan pada suatu kali saya ingat betul ketika saya membacakan Mazmur 23 baginya ia turut bergumam. Ketika saya simak dengan baik, ia turut mengucapkannya di luar kepala dan hampir seluruhnya benar.</p>
<p>Pada waktu kepadanya dilakukan kunjungan Christmas Carol Pak Sariowan dalam keadaan segar. Wajahnya cerah senyuman tersungging di bibirnya. Ia turut menyanyi ketika kami melantunkan lagu-lagu Natal, walau yang keluar hanyalah gumaman. Dan setiap pelawat yang hadir dapat menyaksikan betapa apa yang kami lakukan sungguh-sungguh menyentuh beliau. Dan dada kami hangat melihatnya. Dari putrinya kami mendengar bagaimana sesudah kepada beliau diberitahukan bahwa dari gereja akan datang berkunjung, beliau mengharap-harapkannya dan hampir setiap hari menanyakannya.</p>
<p>Bulan Juni 2007 beliau dipanggil Tuhan dalam usia 96 tahun. Usia yang indah mengakhiri kehidupan yang juga indah. Kehidupan dengan anak, menantu, cucu dan cicitnya dalam damai dan sukacita. Kehidupan dalam Tuhan yang mencintai dan dicintainya, yang dipercayainya hingga akhir.</p>
<p>Kisah Ibu Pitalia hampir sama. Beliau adalah seorang perempuan yang kokoh. Dalam usia hampir 97 tahun beliau masih bisa berjalan walau harus menggunakan alat bantu (walker). Ini mencengangkan, mengingat sekitar dua tahun lalu beliau dioperasi kakinya untuk dipasangkan “pen” setelah beberapa bulan sebelumnya beliau jatuh. Namun yang lebih mengagumkan adalah daya ingatnya yang masih amat baik untuk seorang dalam usia yang begitu lanjut. Hanya pendengarannya yang sudah amat kurang.</p>
<p>Ketika kami melakukan kunjungan Christmas Carol kepadanya, beliau didampingi oleh putrinya yang tinggal bersamanya dan putranya yang datang berkunjung dari Australia. Dengan apik ibu Pitalia duduk tegak di samping putrinya. Wajahnya berseri-seri. Pandang matanya ramah. Tangannya sedikit gemetar memegangi kertas nyanyian yang digunakan dalam kunjungan Christmas Carol itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat pagi Tante&#8230;”<br />
“Mami, Pak Pendeta bilang ‘Selamat pagi’&#8230;” seru putrinya di telinganya.</p>
<p>Ibu Pitalia langsung tersenyum manis dan menyahut:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat pagi&#8230;”<br />
“Apa kabar Tante&#8230; Sehat kan?” tanya saya lagi, yang rupanya kurang keras sehingga putrinya kembali mengulangi pertanyaan saya di telinganya.<br />
“Oh ya&#8230;. baik&#8230;. terima kasih.”</p>
<p>Dengan riang kemudian kami bernyanyi dengan iringan gitar. Dan ibu Pitalia mengikuti kami bernyanyi dengan mengeja teks lagu-lagu yang kami nyanyikan. Ketika saya bacakan sebuah teks Alkitab, beliau mengangguk-angguk walau saya tidak yakin beliau memahaminya atau tidak. Saya duduk di sebelahnya dan berusaha sekeras mungkin membaca dan kemudian menyampaikan renungan singkat. Dan ketika kami menyanyikan lagu penutup yaitu lagu “Muliakanlah” dalam bahasa Belanda, kelihatan beliau mengenalinya dan berusaha turut bernyanyi. Dan waktu kami berdoa di bawah pimpinan salah satu dari kami, tiba-tiba ibu Pitalia dengan suara cukup keras mengucapkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Our Father who art in heaven&#8230;”</p>
<p>sehingga sempat pemimpin doa berhenti sejenak memberikannya kesempatan. Namun di tengah-tengah, ibu Pitalia macet:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Lead us not into temptation&#8230;. but&#8230; but&#8230; but&#8230; Amen&#8230;!”</p>
<p>Seusai berdoa kami semua memandanginya dengan takjub. Setengah berkelakar salah satu dari kami berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau kita sudah berumur 80 belum tentu kita masih bisa melakukannya&#8230;”</p>
<p>Ia benar. Sungguh berbahagia mempunyai ibu yang sudah berusia begitu lanjut tetapi sama sekali belum pikun. Dan juga begitu kokoh. Takkan terlupakan betapa sedihnya beliau ketika salah satu putrinya meninggal di tahun 2004. Namun ia tetap tabah menerimanya. Waktu itu dengan mata berlinang-linang dan dengan suara lirih beliau berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Memang sudah jalannya&#8230; kehendak Tuhan&#8230;”</p>
<p>Setelah beramah-tamah dan minum teh, kamipun pulang. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri. Tetapi saya yakin masing-masing dengan perasaan yang nyaman dan dada yang hangat. Tidak sia-sia, bahkan berkesan melakukan kunjungan Christmas Carol seperti ini. Sungguh perasaan dan suasana hati yang pas untuk Natal.</p>
<address>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/christmas-carol-yang-mengesankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibuku–Guruku</title>
		<link>http://gkipi.org/ibuku%e2%80%93guruku/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ibuku%e2%80%93guruku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2808</guid>
		<description><![CDATA[&#8220; Ary! Bangun&#8230;! Waktunya bersaat teduh!” terdengar suara Ibu membangunkan adik saya seraya mengetuk pintu kamar tidurnya dengan keras, yang membuat saya terjaga. Dan tak lama kemudian giliran saya terhentak oleh ketukan keras pada pintu kamar tidur saya. “Pungky! Bangun..! Waktunya bersaat teduh!” seru ibu saya yang terdengar amat keras di telinga. Tak lama kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<span class="cap"> A</span>ry! Bangun&#8230;! Waktunya bersaat teduh!” terdengar suara Ibu membangunkan adik saya seraya mengetuk pintu kamar tidurnya dengan keras, yang membuat saya terjaga. Dan tak lama kemudian giliran saya terhentak oleh ketukan keras pada pintu kamar tidur saya.</p>
<p>“Pungky! Bangun..! Waktunya bersaat teduh!” seru ibu saya yang terdengar amat keras di telinga. Tak lama kemudian beliau kembali mengetuk pintu kamar adik saya.</p>
<p>“Ary! Bangun&#8230; dong! Ary..! Waktunya bersaat teduh!”</p>
<p>Saya menengok ke jam dinding, baru jam 5.45. Dengan menghela napas saya menuju ke ruang makan. Ayah saya sudah duduk di kepala meja. Di hadapannya terletak Alkitab yang terbuka. Dan beliau sedang membuka-buka “Saat Teduh”. Adik saya perempuan, Enny, si bungsu, sudah menempati kursinya sambil menggosok-gosok matanya dan mengeluh. “Belum jam enam nih&#8230;?” “Sekitar sepuluh menit lagi&#8230;” jawab ayah saya dengan sabar.</p>
<p>Tak lama setelah saya menempati kursi saya di sebelah kanan Ayah, Ibu memasuki ruang makan diikuti adik saya laki-laki yang berjalan terhuyung-huyung dengan mata setengah tertutup.</p>
<p>“Baru jam lima nih&#8230;?” keluhnya, yang membuat kami semua tertawa.</p>
<p>Begitulah setiap pagi. Entah sejak kapan, saya tidak ingat lagi, setiap pagi kami sekeluarga makan pagi bersama dengan didahului oleh saat teduh bersama. Kecuali amat terpaksa, terutama Ibu, tidak akan dapat menerima apabila kami absen mengikuti saat teduh setiap pagi. Karena menurut beliau dan ayah saya, ibadah keluarga adalah bagian yang menentukan dari pengembangan spiritual keluarga, yang kemudian turut membentuk spiritualitas anggota-anggotanya. Kami, anak-anak, tidak terlalu mengerti maksud mereka waktu itu. Tetapi sekarang, setelah masing-masing berkeluarga, kami memahaminya, bahkan memraktikkannya.</p>
<p>Di samping itu, tidak dapat disangkal bahwa, –walaupun agak dipaksa,– kesempatan bertemu setiap pagi itu amat bermanfaat dalam mengembangkan komunikasi keluarga kami. Ayah dan ibu saya yang adalah guru, amat cekatan memanfaatkannya dalam terang itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Acaramu hari ini apa Pungky?” tanya Ayah sambil mengoleskan mentega roti bakar bagi ibu saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Biasa lah, kuliah sampai siang, lalu sore menjelang malam ke gereja, rapat Komisi Pemuda.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Dan kamu, Enny&#8230;? Pulang sekolah langsung pulang&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ya, Pa.” “Ah, bener nih&#8230;?” goda Ary. “Kalau aku terus terang saja hari ini nggak pulang&#8230;.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kenapa? Ke mana?” tanya Ibu sambil memandang Ary dengan tajam.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Biasa Ma&#8230;. tugas kelompok harus selesai besok. Jadi kami berencana menyelesaikannya malam ini di rumah Bedul.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sama Bedul mana bisa belajar&#8230;?” balas Enny menggoda.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sudahlah&#8230; Yang penting kalian benar-benar melakukan apa yang kalian katakan. Kalau tidak kan yang rugi kalian sendiri?” tukas Ibu.</p>
<p>Ibu saya memang adalah sosok guru yang terkenal kompeten, tekun dan tegas di atara rekan-rekannya. Profesi atau tepatnya panggilan, –bila saya merefleksikan bagaimana Ibu menjalankan tugasnya,– sebagai guru ditekuninya cukup lama. Begitu menyelesaikan pendidikan guru di Makassar, beliau mengajar di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) “Widuri” di Jakarta, di mana beliau berjumpa dan akhirnya menikah dengan Ayah. Sekitar 3 tahun menikah, setelah saya dilahirkan, Ayah diminta untuk menjadi kepala sekolah guru (SGA) di Salatiga (Jawa Tengah).</p>
<p>Di kota Salatiga pun Ibu mengajar di SMP Kristen di jalan Kotamadya. Bahkan beliau dan Ayah memutuskan untuk studi. Ayah, bila tidak keliru memperdalam diri dengan ilmu/filosofi pendidikan. Sedangkan Ibu mengambil jurusan bahasa Inggris. Memang salah satu dari bakatnya yang amat menonjol adalah bahasa. Ibu dengan tekun menjalani studinya itu serta menikmatinya. Bahkan ia memraktikkannya. Beliau dipercaya oleh universitas untuk mengajar bahasa Indonesia kepada dosen-dosen asing dan pasangan mereka.</p>
<p>Akhir tahun 1964 Ayah mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri selama hampir 2 tahun. Tiba-tiba Ibu, yang biasanya cukup bergantung pada Ayah, harus berjuang sendiri. Ia harus membagi waktunya antara bekerja, studi dan mengurusi 3 anak yang masih kecil. Usia saya waktu itu 9 tahun dengan dua adik laki-laki yang masing-masing 4 dan 8 tahun lebih muda ketimbang saya. Ibu ternyata dapat mengatasinya dengan baik. Dan beliau melibatkan saya untuk membantunya. Saya dibiasakan oleh Ibu untuk bangun pagi, belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah, kemudian menyiapkan minuman untuk Ibu dan adik-adik.</p>
<p>Tak terasa waktu sekitar satu setengah tahun berlalu dengan cepat. Ayah menyelesaikan studinya dan kembali berada di tengah kami. Lalu berturut-turut terjadi beberapa peristiwa yang amat berbekas pada kami sekeluarga. Adik nomor tiga, Aman namanya, berumur belum genap 3 tahun, meninggal dunia. Ibu sangat terpukul oleh perginya Aman. Beliau bahkan merasa bersalah atas kematiannya. Tak lama sesudah itu pecahlah peristiwa 30 September 1965 yang mengerikan itu, terlebih di kota kecil seperti Salatiga. Sehingga ketika ada tawaran pekerjaan bagi Ayah di Jakarta, dengan segera direngkuh. Salatiga telah menjadi kota yang tidak lagi menenteramkan, terutama bagi Ibu.</p>
<p>Di Jakarta Ibu tidak mengajar lagi. Beliau seolah kehilangan semangat untuk melakukannya. Namun beliau masih menjadi guru kami. Baik dalam pelajaran, maupun dalam kehidupan, khususnya dalam relasi dengan Tuhan. Tetapi kemudian, sekitar setahun sesudah kematian Aman, Tuhan mengaruniai keluarga kami anggota yang baru. Seorang bayi perempuan, yang lama diidam-idamkan, pengganti Aman. Ia diberi nama Rachmanti, dipanggil dengan nama Enny, karena ia diyakini sebagai rahmat dari Tuhan.</p>
<p>Sejak itu Ibu saya seolah hidup kembali. Seluruh perhatian dan waktunya dicurahkan untuk membesarkan Enny. Di samping itu Ibu kembali memanfaatkan bakat-bakat yang dimilikinya. Selain mengajar bahasa Indonesia kepada orang-orang asing, (Belanda, Inggris, Amerika), beliau kerap mengerjakan terjemahan dari bahasa Inggris atau Belanda ke dalam bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Dan beliaupun kembali mengarang cerita anak-anak. Kegemaran yang sempat terhenti setelah kematian Aman.</p>
<p>Dari beliaulah kami anak-anaknya mendapatkan ketrampilan berbahasa dan menulis. Dalam hal ini Ibu sangat tegas. Kesalahan berbahasa sekecil apapun tidak ditolerirnya. Beliau selalu berprinsip bahwa membiasakan diri berbahasa secara benar adalah apresiasi diri yang harus dilakukan semua orang. Apalagi berbahasa sendiri, Indonesia, secara benar. Beliau mengingatkan kami agar jangan sampai terjadi ada orang asing yang lebih baik berbahasa Indonesia ketimbang kita orang Indonesia. Beliau sendiri tetap berusaha pula meningkatkan diri. Beliau sempat mengikuti ujian kemampuan berbahasa Inggris, Oxford dan Cambridge, bersama dengan Ibu Leoni Prawiro. Waktu itu mereka berdua adalah dua peserta yang tertua dan tidak bergelar, kalau tidak salah. Tetapi keduanya lulus dengan nilai yang sangat baik.</p>
<p>Tahun 1986 Ayah mengidap penyakit kanker yang kemudian merenggut jiwanya. Untuk beberapa bulan Ibu terlihat limbung. Mirip ketika ditinggalkan Ayah belajar ke luar negeri. Tetapi kemudian beliau bangkit. Beliau bekerja sebagai wartawan di belakang meja di harian Suara Pembaruan dan menjadi guru bahasa Belanda di Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda) dalam usia yang cukup lanjut. Beliau pensiun ketika berusia sekitar 70 tahun.</p>
<p>Dalam periode sejak ditinggalkan Ayah itu, Ibu, yang harus keluar dari rumah dinas, dengan perjuangan kerasnya mampu membeli rumah dan menikahkan 2 adik saya. Bukan sesuatu yang sederhana bagi beliau dalam segala keterbatasannya. Namun dengan pertolongan beberapa sahabat dan terutama Tuhan, begitu selalu dikatakannya, beliau mampu bertahan, bahkan berhasil. Satu pelajaran yang terakhir namun paling berharga dan takkan terlupakan dari beliau adalah kegigihannya yang tak pantang menyerah.</p>
<p>Ibu tidak pernah menyerah kecuali ketika Tuhan memanggilnya setelah beberapa bulan menderita sakit dan masuk-keluar rumah sakit. Kami anak-anaknya tidak ingin menyerah dan karenanya mengupayakan yang optimal dapat kami lakukan. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Ibu menyerahkan diri kepada Penciptanya yang selalu dipercayanya dan yang kepada-Nya Ibu selalu bergantung. Kamipun menerimanya walau dengan berat hati. Kami sedih tetapi juga penuh dengan rasa berterima kasih. Tanpanya yang bersama Ayah terus menempa dan mengajar kami, kami anak-anaknya, takkan dapat berdiri di tempat kami masing-masing.</p>
<p>“Terima kasih Mama&#8230; we houden erg veel van jou!” (= &#8230;kami sangat mencintaimu!)</p>
<address>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ibuku%e2%80%93guruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosen Yang Murah Hati</title>
		<link>http://gkipi.org/dosen-yang-murah-hati/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dosen-yang-murah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://202.145.6.14/web-gkipi/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama mengenal Pdt. Wyanto, sejak kami sama-sama mahasiswa teologi. Ia dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) Duta Wacana di Yogyakarta, dan saya dari STT Jakarta, pada waktu itu saya masih duduk di tingkat persiapan dan ia di tingkat terakhir. Perkenalan kami terjadi dalam pertemuan mahasiswa teologi asal GKI Jawa Tengah di daerah Magelang, tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>aya sudah lama mengenal Pdt. Wyanto, sejak kami sama-sama mahasiswa teologi. Ia dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) Duta Wacana di Yogyakarta, dan saya dari STT Jakarta, pada waktu itu saya masih duduk di tingkat persiapan dan ia di tingkat terakhir. Perkenalan kami terjadi dalam pertemuan mahasiswa teologi asal GKI Jawa Tengah di daerah Magelang, tahun 1974. Saat itu Pdt. Agus Susanto dan almarhum Ibu Nani juga hadir. Sekitar 20-an orang mahasiswa dari kedua sekolah teologi berkumpul untuk bersekutu, membahas topik-topik aktual termasuk beberapa isu teologis mutakhir, dan mengatur strategi bagaimana memperkenalkan dan mencitrakan diri pada jemaat sebagai calon-calon pendeta.</p>
<p>Pada kesempatan itu saya amat kagum pada kefasihan Wyanto berdiskusi, walau memberi kesan ngotot. Apalagi saat itu saya masih duduk di tingkat pertama. Banyak sekali pengertian dan istilah teologis yang asing bagi saya. Saya sibuk mendengarkan, mengikuti dan berusaha memahami diskusi para senior saya itu, sehingga saya tidak mampu berpartisipasi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tanpa pemahaman atas konteks, kita takkan dapat menentukan alur teologi yang sepatutnya kita tempuh&#8230;” kata seorang mahasiswa dari STT Jakarta.<br />
“Ya, tetapi jangan lupa bahwa kita mewarisi teologi Barat, yang berarti kita juga mesti memahami konteks Barat&#8230;” sambung seseorang dari STT Duta Wacana.<br />
“Memang,” tukas Wyanto. “Dan salah satu unsur utamanya adalah sekularisasi&#8230;”</p>
<p>Sesudah beberapa orang, termasuk Wyanto, yang kerap mendominasi percakapan, asyik menjelaskan dan berdebat tentang apa dan bagaimana itu sekularisasi, saya tetap saja tidak dapat memahaminya.</p>
<p>Saya menggamit Samuel Santoso (kini pendeta di GKI Kedoya Jakarta Barat) yang duduk di sebelah saya dan berbisik kepadanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Aku tetap tidak mengerti apa itu sekularisasi&#8230;”<br />
Samuel terkekeh-kekeh dan menjawab dengan mata bersinar-sinar:<br />
“Tahu nggak kamu&#8230; bila mendengarkan mereka bicara seperti itu, rasanya mereka itu juga tidak terlalu memahaminya&#8230;” Dan kami berdua pun tertawa terbahak-bahak sehingga diingatkan oleh beberapa teman untuk tidak terlalu ribut.</p>
<p>Sekembali saya ke Jakarta saya jarang berhubungan dengan teman-teman dari STT Duta Wacana, juga tidak dengan Wyanto. Bila tidak keliru, ketika saya duduk di tingkat 3 Wyanto ditabiskan sebagai pendeta di GKI Purworejo Klampok. Lalu waktu saya memulai pelayanan jemaat di GKI Klaten pada akhir tahun 1980, saya mendengar bahwa Wyanto diproyeksikan untuk, atau bahkan sudah, menjadi dosen di STT Duta Wacana yang juga direncanakan untuk dikembangkan menjadi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).</p>
<p>Di negeri Belanda kami berjumpa kembali. Saya sedang dalam tahap penulisan tesis, ketika Wyanto beserta istri dan kedua anaknya datang di kota Kampen. Ia ditugaskan untuk studi lanjut oleh Fakultas Teologi UKDW dalam bidang etika. Di kota Kampen kami mendapat kesempatan untuk mengenal masing-masing dengan lebih baik dan menjadi dekat.</p>
<p>Banyak hal kami bagi dan nikmati bersama, baik sebagai keluarga maupun sebagai pribadi. Wyanto dan saya mempunyai banyak kegemaran yang sama. Mulai belanja bersama, main catur, komputer, diskusi buku dan banyak lagi. Dan tentunya, Wyanto tidak meninggalkan kegemarannya untuk diskusi dengan ngotot. Rasanya kengototannya bertambah parah dibandingkan dengan dahulu. Namun satu hal yang amat menonjol pada Wyanto, tetapi juga pada istri dan anak-anaknya, adalah sifat murah hati.</p>
<p>Dalam keterbatasan dana beasiswa yang kami terima selama studi, Wyanto dan Winny istrinya, amatlah royal bila berbagi makanan atau apapun dengan kami, rekan-rekannya asal Indonesia di universitas. Ia tidak pernah hitung-hitungan soal uang. Bila ada orang meminta bantuan, termasuk uang, dengan tidak segan-segan Wyanto akan menolongnya. Sehingga kadang-kadang saya mendapatkan kesan bahwa ia kurang peduli pada masa depan. Pernah beberapa kali saya mengingatkannya untuk menabung. Namun ia tersenyum saja dan dengan enteng menjawab:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau ada ya menabung&#8230; kalau ada yang lain yang lebih perlu ya nggak nabung&#8230;”</p>
<p>Selesai studi Wyanto dan keluarga kembali ke Yogyakarta. Saya pindah ke kota Tilburg melayani sebagai pendeta utusan GKI untuk Gereja Kristen Indonesia-Nederland (GKIN). Selama melayani di GKIN paling tidak 2 tahun sekali kami berkunjung ke Indonesia. Selain untuk berlibur, saya mengunjungi jemaat pengutus saya, GKI Bromo di kota Malang. Dan beberapa kali kami menyempatkan diri mampir di Yogyakarta, mengunjungi Wyanto dan keluarganya.</p>
<p>Pertemuan-pertemuan itu selalu terasa sangat menyenangkan. Selain bernostalgia tentang masa lalu, kami main catur dan berdiskusi dengan seru, tentunya dengan ngotot. Keluarga Wyanto menempati sebuah rumah yang sederhana, yang masih dicicil. Kelihatan penuh sesak dengan perabot dan barang-barang. Namun mereka tinggal di situ dengan nyaman dan bahagia.<br />
Yang menarik adalah bahwa sifat murah hati Wyanto sekeluarga juga masih tetap kelihatan. Bukan hanya terhadap kami, tetapi terutama bagi mereka yang membutuhkan. Beberapa kali mereka menampung dan mengasuh bayi-bayi yang tidak diingini oleh orang tua mereka, hingga mereka menemukan orang tua angkat yang mereka yakini layak untuk anak-anak itu. Mereka juga mempunyai beberapa mahasiswa asuh, yang mereka tanggung biaya kuliah mereka. Setidaknya setiap tahun ada 1 atau 2 mahasiswa, padahal mereka masih harus menyekolahkan 3 anak mereka. Menabung? Jawabannya masih sama entengnya dengan dahulu:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau ada ya menabung&#8230; kalau ada yang lain yang lebih perlu ya nggak nabung&#8230;”</p>
<p>Tahun 1998 ketika krisis moneter melanda dunia dan khususnya Indonesia, dengan keras, kami jemaat GKIN di Belanda, berusaha untuk mengerahkan anggota jemaat guna menggalang dana dan mengirimkan bantuan ke Indonesia. Banyak surat permohonan kami terima dari tanah air yang sayangnya tidak semua dapat dicek kebenarannya dan tentunya tidak semua dapat kami bantu. Dalam situasi seperti itu, kami orang-orang asal Indonesia di Belanda, kerapkali mendapatkan penawaran yang menggiurkan dari teman-teman dan kenalan di Indonesia. Antara lain tawaran untuk membeli rumah yang terkadang hanya separuh bahkan kurang dari nilai sebenarnya, karena pada saat itu banyak orang Indonesia membutuhkan uang tunai. Tidak sedikit orang-orang asal Indonesia yang memanfaatkan hal itu, atau tepatnya mengeksploitasikannya. Dengan sedih saya mendengarkan mereka yang dengan bangga bercerita tentang rumah mereka yang baru, di Jakarta atau Surabaya, yang amat murah, apalagi bila dikurskan dalam uang Belanda. Biasanya saya tidak berkomentar apapun dan memilih untuk berdiam diri.</p>
<p>Namun pada suatu kali saya tidak dapat menahan diri saya. Seorang kenalan dari anggota jemaat bercerita dengan bangga di gereja (!) bagaimana ia dalam sekejap meraih untung yang besar ketika berkunjung ke Indonesia. Ia bekerja sama dengan seorang perwira tentara membeli beberapa truk beras murah, yang seharusnya dimaksudkan untuk dijual secara murah kepada masyarakat di daerah-daerah. Dan berkat sang perwira tentara, beras murah itu dialihkan menjadi beras biasa dan dijual di Jakarta dengan harga biasa. Mereka, sang kenalan dan sang perwira tentara, meraih untung yang besar, sehingga menurut sang kenalan itu, cukup mengongkosi biaya perjalanannya ke Indonesia beserta keluarga dan pengeluaran selama berlibur di Indonesia.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Bukankah beras itu seharusnya dijual murah untuk orang miskin di daerah? Lalu mereka bagaimana dong&#8230;?” tanya saya dengan ketus.<br />
“Ya&#8230; saya tidak tahu&#8230;. saya hanya diajak saja oleh kenalan saya yang tentara itu,” ia menjawab dengan nada tidak senang.<br />
Saya menggeleng-gelengkan kepala saya, dan berkata:<br />
“Kok tega ya Anda, mendapatkan untung di atas kemalangan orang miskin&#8230;”</p>
<p>Ia langsung menarik wajah yang amat tidak sedap. Tetapi saya tidak memedulikannya lagi. Tidak lama kemudian saya menerima surat dari Wyanto. Dengan penuh rasa ingin tahu saya membukanya, hendak mendengar kabar tentang mereka sekeluarga dan teman-teman lain di Yogyakarta.</p>
<p>Suratnya, sama seperti banyak kabar dari Indonesia saat itu, menceritakan betapa makin sulitnya kehidupan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Harga-harga, terutama makanan, yang melonjak amat tinggi tak terkendali, ketidakstabilan ekonomi, keamanan yang rawan karena kejahatan kian menjadi-jadi, tiba-tiba terdapat banyak sekali orang miskin dan peminta-minta, serta banyak lagi. Namun alih-alih meminta bantuan, seperti yang biasa kami terima, Wyanto menulis begini:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kehidupan makin sulit di sini. Harga-harga kian mencekik, banyak orang berada dalam keadaan yang sukar. Sehingga makin banyak orang yang perlu ditolong dan dibantu. Kami berbuat sebisa kami di sini. Tolong doakan kami&#8230;”</p>
<p>Dalam kontak kami berikutnya ketika saya bertanya apakah ada yang perlu kami bantu untuk mereka. Wyanto menjawab:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kami baik-baik saja. Lanjutkan saja apa yang sudah dilakukan oleh GKIN untuk masyarakat Indonesia&#8230;”</p>
<p>Banyak orang, semua pendeta GKI dari Sinode Wilayah Jawa Tengah, dan civitas academica UKDW mengenal siapa Wyanto. Ia adalah seorang pendeta yang baik, dosen yang handal, (amat) suka ngotot, sangat teguh memegang prinsip bahkan cenderung kaku. Namun rasanya tidak ada seorang pun, yang sungguh-sungguh mengenalnya, akan membantah bila dikatakan bahwa Wyanto adalah seorang hamba Tuhan dan dosen yang murah hati.</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dosen-yang-murah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Para Guru PAK</title>
		<link>http://gkipi.org/belajar-dari-para-guru-pak/</link>
		<comments>http://gkipi.org/belajar-dari-para-guru-pak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 06:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pak Purboyo, dapatkah Bapak membawakan renungan pada Perayaan Natal Guru-guru Pendidikan Agama Kristen (PAK), Minggu 14 Desember di lantai 3&#8230;?&#8221; tanya Pak Arman, ketua Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah. Tanpa berpikir panjang saya mengiyakannya setelah memeriksa agenda saya. Padahal sebenarnya selain belum pernah bertemu apalagi memimpin acara guru-guru PAK itu, saya juga tidak terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Pak Purboyo, dapatkah Bapak membawakan renungan pada Perayaan Natal Guru-guru Pendidikan Agama Kristen (PAK), Minggu 14 Desember di lantai 3&#8230;?&#8221; tanya Pak Arman, ketua Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang saya mengiyakannya setelah memeriksa agenda saya. Padahal sebenarnya selain belum pernah bertemu apalagi memimpin acara guru-guru PAK itu, saya juga tidak terlalu mengerti siapa guru-guru itu, serta bagaimana hubungan mereka dengan GKI Pondok Indah.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Sudah pasti ya Pak, Minggu 14 Desember 2008, jam 11.00, sesudah kebaktian umum kedua&#8230;?&#8221; tanya Pak Arman lagi menegaskan.<br />
 &#8220;Ya Pak, sudah saya catat.&#8221;</em></p>
<p>Hingga beberapa hari sesudah itu saya agak melupakan kesanggupan saya itu. Namun kemudian Ibu Ming dari Tim Liturgi menelepon saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Pak Pur yang akan memimpin Natal Guru PAK kan?&#8221;<br />
 &#8220;Benar Bu, kenapa?&#8221;<br />
 &#8220;Kami diminta untuk menyusun liturginya Pak. Oleh karena itu saya membutuhkan tema dari renungan Bapak.&#8221;<br />
 &#8220;O begitu. Wah terus terang saja saya belum menyiapkannya, jadi belum punya tema.&#8221;<br />
 &#8220;Begini saja Pak, beberapa hari ini-tapi jangan lama-lama-, Pak Pur memikirkan temanya lalu kirimkan kepada saya, bisa lewat sms atau email&#8230;&#8221;<br />
 &#8220;Baik Bu. Terima kasih.&#8221;</p>
<p>Memilih tema, selain menentukan teks Alkitab yang cocok, juga berarti setidaknya mengantisipasikan topik yang kira-kira relevan dengan para guru PAK atau permasalahan yang mereka gumulkan dalam pekerjaan serta pelayanan mereka. Setelah berbicara dengan beberapa teman yang mengetahui perihal guru-guru PAK itu saya memilih tema: &#8220;Kehadiran Sang Damai Mengubah Kita&#8221;.</p>
<p>Minggu 14 Desember sekitar jam 10.20, seusai memimpin kebaktian Pra-remaja, saya memasuki ruangan pertemuan di lantai 3 untuk mempersiapkan dan merundingkan acara dengan mereka yang telah ditetapkan untuk bertugas. Ternyata di situ sudah hadir sekitar 10 orang guru berserta keluarga mereka. Maka setelah selesai membicarakan acara dengan para petugas, saya memakai waktu yang masih ada untuk berkenalan dengan guru-guru PAK beserta keluarga mereka. Sementara itu guru-guru yang lain mulai berdatangan. Dan tidak lama kemudian, sementara menunggu waktu, para guru berlatih paduan suara di sudut ruangan. Mereka berencana untuk membawakan sebuah lagu Natal.</p>
<p>Mereka semua berasal dari berbagai daerah, dari Sumatera Utara, Nias, Maluku, hingga Timor. Mereka semua adalah guru-guru PAK di sekolah-sekolah negeri, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, umum maupun kejuruan.</p>
<p>Secara prinsipial sebagaimana diatur dalam undang-undang, seharusnya di sekolah-sekolah itu tersedia guru-guru agama bagi semua agama. Akan tetapi pada praktiknya yang tersedia hanyalah guru-guru agama Islam yang adalah PNS (pegawai negeri sipil), sedangkan guru-guru agama lain, terutama guru PAK, adalah guru-guru tidak tetap (guru honorer), dengan honorarium yang minim sesuai dengan jam pelajaran yang diberikan, tanpa tunjangan apapun. Dengan jumlah jam pelajaran yang terbatas (kurang dari 24 jam pelajaran seminggu, dan biasanya guru PAK hampir pasti tidak mencapai jumlah itu), mereka tidak berhak mendapatkan &#8220;tunjangan fungsional&#8221; dari pemerintah. Nasib mereka kurang-lebih sama dengan ratusan ribu guru honorer dan guru bantu di berbagai sekolah negeri di seluruh tanah air yang menunggu pengangkatan menjadi PNS yang tak juga kunjung terjadi. Padahal kehadiran mereka di sekolah-sekolah di mana mereka berkarya, amat dibutuhkan bahkan kerapkali seperti pada guru-guru PAK ini, tidak tergantikan. Ini semua belum memperhitungkan guru-guru honorer dan guru-guru bantu di sekolah-sekolah swasta yang nasibnya kerapkali lebih memrihatinkan lagi.</p>
<p>Sekitar jam 11.10 telah hadir sekitar 28 guru-guru PAK beserta keluarga mereka dan kebaktian pun dimulai. Ruang pertemuan lantai 3 tidak terlalu penuh terisi oleh sekitar 60 orang. Tetapi ketika lagu pertama, &#8220;Hai Mari Berhimpun&#8221;, dinyanyikan, suara kami terdengar amat lantang dan jelas, sehingga tidak terasa bahwa ruangan itu hanya separuh terisi. Saya menengok sekeliling, semua orang, termasuk anak-anak, menyanyi dengan sungguh-sungguh dan wajah berseri. Suasananya pun menjadi menyenangkan. Suasana yang memang semestinya terjadi dalam kebaktian dan perayaan Natal. Padahal di ruangan lantai 3 itu nyaris tidak ada hiasan apapun. Bahkan pohon terang pun tidak ada, mungkin karena mematuhi amanat Panitia Natal tahun ini. Tetapi tidak ada seorang pun dapat menyangkal sukacita dan antusiasme yang dirasakan pada waktu itu. Tidak ada seorangpun dapat menyangkal terang Natal yang hadir pada saat itu.</p>
<p>Ketika tiba waktunya bagi saya untuk menyampaikan renungan, saya maju ke depan menghadap ke hadirin. Saya melihat wajah-wajah yang berseri-seri dan tulus, yang siap untuk mendengarkan Firman Tuhan dengan baik. Tiba-tiba saja saya membayangkan berbagai kisah dan pergumulan kehidupan di balik wajah-wajah itu. Kisah dan pergumulan yang amat nyata, yang tidak banyak disadari apalagi diketahui orang. Bukan hanya masalah finansial tetapi juga berbagai aspek lainnya seperti relasi, kemasyarakatan, keluarga, mendidik dan membesarkan anak-anak, dan banyak lagi. Sementara itu mereka meyakini bahwa mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih besar ketimbang sekadar bekerja mencari nafkah yang amat tidak memadai.</p>
<p>Mereka adalah pemberita-pemberita Firman Allah, yang turut berperanserta dalam proses pendidikan calon-calon pemimpin bangsa dan gereja di masa depan. Rasanya tanpa idealisme takkan tahan orang menjalankan peran dan tugas yang mereka emban. Tiba-tiba saya merasa begitu kecil di hadapan mereka. Saya tidak lagi bisa berhadapan dengan mereka sebagai &#8220;yang berhak mengajari&#8221; mereka tentang kebenaran Firman Allah dalam kehidupan mereka. Sebaliknya sayalah yang mesti belajar dari mereka. Belajar kembali tentang panggilan, tentang idealisme dan komitmen, tentang kehidupan, dengan kedatangan Sang Damai di pusatnya.</p>
<p>Ada sekitar 31 guru PAK yang istilahnya &#8220;dibina&#8221; oleh Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah. &#8220;Dibina&#8221; berarti pada satu sisi dipersekutukan dalam sebuah pertemuan rutin, di mana diadakan kebaktian, pembekalan dan acara ramah-tamah. Dan pada sisi lain itu juga berarti bahwa mereka itu mendapatkan tunjangan dana sekadarnya dari GKI Pondok Indah. Mengapa hanya 31 orang?</p>
<p>Pertanyaan ini perlu kita pikirkan lebih jauh dan dengan lebih bersungguh-sungguh. Menurut keterangan dari salah satu guru, sekitar 10 tahun lalu ada banyak gereja di Jakarta Selatan yang berpartisipasi membantu para guru PAK honorer ini. Namun kini tinggal GKI Kebayoran Baru dan GKI Pondok Indah yang melakukannya. Dan bila tidak salah jumlah guru PAK yang &#8220;dibina&#8221; oleh GKI Kebayoran Baru lebih banyak ketimbang GKI Pondok Indah.</p>
<p>Tema kebaktian dan perayaan Natal Guru-guru PAK tahun ini adalah &#8220;Kehadiran Sang Damai Mengubah Kita&#8221;. Yang harus berubah bukan hanya para guru PAK honorer itu, tetapi juga kita: Komisi Pekabaran Injil, Majelis Bidang Kesaksian dan Pelayanan, para penatua dan pendeta, segenap pegiat dan warga jemaat, kita semua. Bukan dalam soal jumlah guru PAK binaan yang cuma 31 orang itu, tetapi persepsi tentang mereka semua, baik guru PAK honorer maupun guru-guru honorer dan guru-guru bantu lainnya, baik di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Serta secara serius mempertimbangkan apa yang dapat kita lakukan bagi mereka, baik sebagai jemaat, maupun sebagai pribadi orang percaya.</p>
<p>Mari kita belajar pertama-tama dari Sang Damai yang datang ke tengah kita. Tetapi juga dari guru-guru PAK dalam kisah dan pergumulan kehidupan mereka.</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/belajar-dari-para-guru-pak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ming dan Ikan Emas Koki</title>
		<link>http://gkipi.org/ming-dan-ikan-emas-koki/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ming-dan-ikan-emas-koki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 07:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Pendeta Purboyo memimpin kebaktian pelepasan dan pemakaman seekor ikan mas koki.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>eusai mandi dan makan malam, ketika saya bermaksud untuk bersantai membaca-baca atau menonton film di televisi, telepon berdering.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Halo&#8230; Pungky&#8230; Ah, untung kamu di rumah&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hai Cu&#8230; Kenapa kok ‘untung aku ada di rumah?&#8217;&#8221;<br />
&#8220;Biasa&#8230; si Ming lagi. Ada-ada saja dia itu!&#8221; jawab Cu dengan nada kesal bercampur geli.</p>
<p>Cu adalah seorang ibu muda yang harus sendirian membesarkan Ming, putra tunggalnya, sejak perceraiannya ketika Ming baru berumur sekitar 3 tahun. Ia dan mantan suaminya adalah teman baik kami sekeluarga. Kami kerapkali bertukar pikiran tentang banyak hal, termasuk yang menyangkut masalah di sekitar membesarkan dan mendidik anak.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kenapa lagi dia?&#8221; tanya saya sambil membayangkan Ming yang berumur hampir 5 tahun dengan perawakan kecil, dengan wajah yang serius dan pandang mata yang polos.<br />
&#8220;Dia sedang sedih sekali&#8230; Si Ben mati&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hah? Ben&#8230;? Mati&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8230; Ben, ikan mas koki yang di ruang tamu itu lho. Ming memberinya nama Ben&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Oooh&#8230; kupikir siapa&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tapi si Ming sedih sekali. Dia merenung memandangi si Ben terus sejak pulang sekolah. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang si Ben&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Pertanyaan yang bagaimana?&#8221; tanya saya sambil kembali membayangkan Ming yang duduk merenungi ikannya yang mati.<br />
&#8220;Misalnya, apakah Ben masuk sorga&#8230; Apakah dia kembali kepada Tuhan&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Wah, itu memang tidak gampang&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Itu masih belum apa-apa&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Oh&#8230; apa lagi?&#8221;<br />
&#8220;Dia minta kamu datang dan mengadakan kebaktian pelepasan untuk Ben&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Ah! Yang benar dong&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8230;.!&#8221; Tukas Cu sambil menahan tawa. &#8220;Coba kamu bayangkan sendiri&#8230; Pendeta Purboyo memimpin kebaktian pelepasan dan pemakaman seekor ikan mas koki&#8230; Ha ha ha&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya menghela nafas dan memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh. Saya mencoba memahami bagaimana perasaan Ming saat itu. Pengalaman kehilangan sesuatu yang amat disayanginya adalah pengalaman yang baru baginya. Dan bagaimana ia memroses kehilangan saat itu, akan menentukan bagaimana ia memroses hal serupa di masa depan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oke&#8230; 15 menit lagi saya datang.&#8221; Kata saya dengan penuh keyakinan.<br />
&#8220;Hah? Kamu serius? Saya menelepon kamu sebenarnya cuma mau berbagi saja tentang kekonyolan Ming&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aku serius Cu&#8230;&#8221; ujar saya. Kemudian saya menjelaskan pemahaman saya atas pengalaman Ming yang bisa krusial itu.<br />
&#8220;Oh begitu&#8230; Baiklah. Ming pasti senang sekali kamu mau datang&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekitar 15 menit kemudian saya menekan bel pintu rumah mereka. Ming yang membukakan pintu sambil memandangi saya dengan matanya yang bening.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Hai Ming&#8230;!&#8221; sapa saya sambil membelai kepalanya.<br />
&#8220;Oom&#8230; Oom mau kan berdoa untuk Ben?&#8221; tanya Ming dengan penuh harap.<br />
&#8220;Tentu Ming&#8230; Tetapi sebenarnya kita tidak perlu mendoakan orang yang sudah mati, karena ia sudah kembali kepada Tuhan. Apalagi seekor ikan&#8230; ikan emas koki..&#8221;</p>
<p>Ming menatap saya dengan pandangannya yang polos. Dari wajahnya saya menyimpulkan bahwa ia tidak memahami penjelasan saya. Namun ia tidak menyerah, dan sekali lagi bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oom mau kan berdoa untuk Ben&#8230;?&#8221;</p>
<p>Saya tersenyum. Ming membalas senyuman saya dengan ragu. Dan kamipun beranjak menuju ke kamar tidur Ming. Ben dibaringkan Ming di atas selembar serbet kertas pada meja tulisnya. Cu menyusul kami memeluk Ming dan menciumnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Akan kita kuburkah si Ben&#8230;?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Atau kita larung di dalam kloset&#8230;? Soalnya sekarang kan sudah gelap&#8230;?&#8221; sambung Cu dengan cepat.<br />
&#8220;Tapi nanti dia&#8230; ke mana&#8230;?&#8221; tanya Ming sambil memandang ibunya.<br />
&#8220;Sama saja dengan dikubur, Ming&#8230; tubuhnya akan hancur dan menyatu dengan tanah&#8230; Ya toh Pungky?&#8221; kata Cu sambil menatap saya meminta dukungan.<br />
&#8220;Ya benar&#8230;.&#8221; sahut saya.<br />
&#8220;Oh&#8230; tetapi Ben sendiri kan masuk sorga&#8230; toh Oom?&#8221; tanya Ming kepada saya dengan wajah bersungguh-sungguh. Cu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.<br />
&#8220;Bila begitu, sorganya lain dengan sorga kita, Ming&#8230;&#8221; kata Cu dengan nada setengah putus asa.<br />
&#8220;Sorga ikan-ikan&#8230;?&#8221; tanya Ming.<br />
&#8220;Kira-kira begitu&#8230;&#8221; jawab saya.</p>
<p>Ming mengangguk-angguk sambil tersenyum renyah. Kemudian tanpa berkata apa-apa Ming mengangkat Ben di tangannya dan menuju ke kamar mandi. Ketika Cu dan saya masih terheran-heran melihatnya, Ming memberi tanda kepada kami untuk mengikutinya.</p>
<p>Di depan kloset Ming berdiri dengan khidmat. Ben dipegangnya pada kedua tangannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oom Pungky berdoa&#8230;&#8221; katanya lirih.</p>
<p>Saya pun berdoa. Berdoa bagi Ming. Memohon penghiburan Tuhan serta berterima kasih atas Ben yang sekian lama menemani Ming. Setelah selesai saya berdoa Ming menjatuhkan Ben ke dalam kloset. Lalu memandang saya dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oom&#8230; Oom saja yang menyiramnya&#8230;&#8221; pintanya.</p>
<p>Saya pun menekan tombol penyiram. Dalam sekejap tubuh Ben menghilang di pusaran air dalam kloset. Lalu kamipun menuju ke ruang tamu. Ming menonton televisi sementara saya dan ibunya minum kopi. Seperempat jam kemudian saya mohon diri.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ming, Oom Pungky pulang.&#8221;<br />
&#8220;Oke Oom&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hayo&#8230; kamu bilang apa Ming&#8230; Oom Pungky malam-malam harus ke sini&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Terima kasih Oom&#8230;&#8221;</p>
<p>Cu mengantar saya ke pintu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Terima kasih ya. Kelihatannya suasana hatinya sudah lebih baik.&#8221;<br />
&#8220;Aku rasa begitu. Setiap anak harus belajar mengalami kehilangan sesuatu yang paling dianggapnya berarti. Dan tempat yang paling baik untuk mengalaminya adalah di tengah keluarganya&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Yah&#8230; tetapi sayang keluarganya tidak lengkap&#8230;&#8221; kata Cu sambil menghela nafas.<br />
&#8220;Secara kuantitatif ya&#8230;. tetapi secara kualitatif tidak ada yang kurang pada kalian&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Terima kasih&#8230;&#8221; jawab Cu tersenyum.</p>
<p>Lima hari kemudian saya bertemu Ming dan ibunya di supermarket. Ming berlari-lari mendapatkan saya sambil mengacungkan sebuah kantong plastik. Di dalamnya terdapat seekor ikan emas koki, mirip sekali warnanya dengan Ben.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ben&#8230;.?&#8221; tanya saya ragu-ragu.<br />
&#8220;Bukan&#8230; Fred&#8230;!&#8221;</p>
<p>Di belakangnya Cu mengacungkan kedua ibujarinya.</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ming-dan-ikan-emas-koki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peduli pada Alam Lingkungan</title>
		<link>http://gkipi.org/peduli-pada-alam-lingkungan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/peduli-pada-alam-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 06:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Andaikata ada lebih banyak orang mau berpikiran seperti Romo Tan. Andaikata dari mimbar lebih kerap dikhotbahkan tentang panggilan dan tanggung jawab setiap orang percaya untuk melestarikan alam lingkungan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">P</span>erawakannya tidak tinggi bahkan cenderung agak pendek. Usianya sudah hampir 80 tahun. <strong>Romo Tan Soe Ie, SJ</strong> yang berkedudukan di Gereja St. Ignatius, di desa Ponggol Kaliurang, adalah seorang tua yang kasat mata bukanlah seseorang yang istimewa. Dan memang beliau sendiri tidak pernah mengklem bahwa beliau adalah seorang yang penting apalagi istimewa.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya hanyalah seorang tua yang tidak punya banyak waktu lagi&#8230;&#8221; ujarnya dengan senyum renyah memperlihatkan sederetan gigi yang ompong di sana-sini.</p>
<p>Tetapi pandang matanya bersinar-sinar penuh dengan semangat. Terlebih-lebih ketika kepadanya ditanyakan apa yang dilakukan dan dikerjakannya di Kaliurang beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ah, ya cuma gini-gini aja&#8230;&#8221; sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Jangan begitu dong Romo&#8230; masakan ini tidak ada artinya?&#8221; sanggah salah seorang dari kami.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya iya lah&#8230; wong cuma ngurusi cacing-cacing&#8230;&#8221; sahutnya lagi dengan tertawa makin keras sehingga terbatuk-batuk sendiri. Lalu ketika batuknya mereda, Romo Tan balik bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sebenarnya kalian ini mau apa to, mengunjungi saya yang tua-renta ini&#8230;?&#8221;</p>
<p>Yang disapa dengan &#8220;kalian&#8221; oleh Romo Tan adalah rombongan pendeta peserta kursus penyegaran. Pada tanggal 19-20 Mei 2008 yang lalu, saya bersama rombongan itu mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas Theologia Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Yogyakarta. Kursus itu diberi nama dalam bahasa Inggris, mungkin supaya menarik, atau barangkali kalau dalam bahasa Inggris lebih memberi kesan bermutu dan bergengsi: &#8220;Theological Refreshing Course for Pastor&#8221;. Sedangkan tema dari kursus penyegaran itu adalah &#8220;Penuhilah Bumi dan Taklukkanlah?&#8221; dengan subtema &#8220;Menjadi gereja yang peduli pada lingkungan hidup&#8221;.</p>
<p>Sayangnya jumlah pendeta yang mengikuti kursus ini sedikit sekali dibandingkan dengan jumlah undangan yang dikirimkan kepada semua pendeta dari gereja pendukung UKDW. Jumlah peserta kursus adalah 15 orang pendeta, dengan rincian 1 dari Gereja Kristen Pasundan (GKP), 4 dari Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) dan 10 dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan salah satu di antara para pendeta GKI adalah satu-satunya peserta perempuan. Mudah-mudahan animo untuk mengikuti kursus ini bukanlah cerminan kepedulian gereja-gereja kita terhadap alam lingkungan.</p>
<p>Kursus penyegaran, yang diselenggarakan sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, dibuka dengan sebuah kebaktian ekspresif dan reflektif yang sangat mengesankan. Di situ para peserta ditantang untuk merenungkan bukan saja apa yang seyogyanya dilakukan gereja, tetapi juga apa yang seharusnya dilakukannya, sebagai pendeta, bagi pelestarian alam lingkungan. Kebaktian itu merupakan jalan masuk yang sangat tepat ke sesi pertama: Refleksi Bencana Lingkungan Hidup.</p>
<p>Sesi pertama yang dipandu oleh Drs. Kisworo Msc, dosen Fakultas Biologi UKDW adalah sebuah pembuka mata (eye-opener) bagi para peserta. Memang di sana-sini para pendeta, termasuk saya, telah mendengar dan membaca betapa upaya pelestarian alam lingkungan, khususnya di Indonesia, secara pelahan namun pasti menuntut perhatian dan tindakan yang kian serius. Namun dari presentasi sesi ini para peserta terhenyak terutama oleh cepatnya proses perusakan alam lingkungan di Indonesia yang sedang terjadi.</p>
<p>Proses perusakan itu terutama dalam hal ledakan kependudukan (jumlah penduduk Indonesia lebih daripada 200 juta, di mana di antaranya 17,8 % berada di bawah garis kemiskinan, 49% berpenghasilan kurang dari US$ 2 sehari); laju kerusakan hutan atau deforestasi (lebih daripada 3 juta hektar per tahun, yang berarti lebih daripada sekitar 8333,3 hektar sehari!); kepunahan spesies flora-fauna (mengancam biodiversitas alam) dan krisis air (defisit air di pulau Jawa tahun 200 = 52.809 juta m3). Dan semua ini langsung tidak langsung memberikan kontribusi pada pemanasan global yang kian mencemaskan.</p>
<p>Dalam diskusi yang kemudian berlangsung, ada cukup banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegat laju perusakan itu dan yang secara perlahan-lahan dan dalam skala yang amat kecil diharapkan dapat memperbaiki alam lingkungan. Misalnya melalui partisipasi nyata dan jejaring, partisipasi politik, dan pelayanan gerejawi. Namun itu semua hanya akan berarti bila difokuskan pada perubahan perilaku manusia, dari tidak-ramah lingkungan menjadi kian ramah lingkungan.</p>
<p>Sesi kedua adalah presentasi dari Ir. Mahatmanto MT, dosen Fakultas Arsitektur UKDW, dengan judul Arsitektur Ramah Lingkungan. Dengan amat menarik sang fasilitator menjelaskan sejarah orang membangun (tempat tinggal, kota) yang mula-mula amat mempertimbangkan alam lingkungan karena bergantung sepenuhnya, tetapi yang kian lama mengabaikannya karena kemampuannya (teknologi) menyesuaikan kondisi alam lingkungan dengan kebutuhannya. Beliau mengimbau dan memraktekkan apa yang disebut sebagai teknologi sustainable (awet, terus-menerus, memelihara). Dalam diskusi yang mengikuti sesi ini menjadi jelas pula bahwa inipun, penerapan teknologi sustainable pun hanya mungkin terjadi bila ada perubahan perilaku yang sungguh-sungguh mempertimbangkan pelestarian alam lingkungan.</p>
<p>Sesi ketiga, yang mengawali hari kedua, adalah paparan pendasaran dan refleksi teologis yang difasilitasi oleh Prof. DR. J.B Banawiratma, berjudul Teologi Lingkungan Hidup. Dalam sesi ini terjadi diskusi yang menarik karena para pendeta berada pada ranah yang amat mereka kenal. Dengan trampil Profesor Bono mengajak para pendeta menemukan dan merefleksikan kembali fondamen teologis alkitabiah mengenai alam lingkungan dan kewajiban orang percaya atasnya. Banyak hal yang dapat dipetik dan digarisbawahi dalam sesi ini. Hanya memang menurut hemat saya ada satu pokok yang kurang digali lebih dalam dan lanjut, yaitu konsep keselamatan dalam Yesus yang mestinya bukan cuma menyangkut manusia, tetapi juga dunia dalam konotasi alam lingkungan. Dan berlandaskan keyakinan itu setiap orang percaya dipanggil secara eksplisit untuk mempertanggungjawabkan upayanya mengeksploitasikan alam lingkungan dengan juga secara bersungguh-sungguh melestarikannya.</p>
<p>Setelah makan siang dengan bus para peserta dibawa ke arah Kaliurang. Acara terakhir, atau boleh dibilang puncak acara penyegaran adalah belajar langsung dari praktisi lingkungan. Kurang dari 1 jam bus kami berhenti di depan sebuah gereja yang kecil dan sederhana namun tampak asri, Gereja St. Ignatius di desa Ponggol Kaliurang. Menyongsong kedatangan kami dengan wajah berseri-seri adalah Romo Tan Soe Ie, SJ. Setelah memperlihatkan lahan di sekitar gereja dan rumahnya yang cukup luas dan tertata apik, kami naik bus sekitar 15 menit menuju ke tempat Romo Tan melaksanakan usahanya sebagai praktisi lingkungan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kami mau belajar dari Romo, apa dan bagaimana yang Romo lakukan dalam rangka konservasi alam lingkungan.&#8221; ujar pengiring rombongan kami.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ah, yang saya lakukan hanyalah membuat pupuk organik dari sampah hijau&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sampah hijaunya diapain Romo&#8230;?&#8221; tanya salah seorang dari kami penasaran.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya juga menimbun sampah hijau, saya biarkan beberapa lama dan saya pakai sebagai pupuk&#8230; tetapi hasilnya menurut saya tidak terlalu istimewa&#8230;.Kurang sih&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kurang apa Romo&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kurang cacingnya&#8230;. ha ha ha&#8230;!&#8221; sahut Romo Tan sambil tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk.</p>
<p>Setelah batuknya mereda Romo Tan menjelaskan apa yang dilakukannya, yang sebenarnya sederhana menurut beliau. Sampah hijau ditumpuk atau dionggokkan membentuk lajur-lajur pandang setinggi kira-kira 1 meter. Lalu ke dalam onggokan-onggokan sampah itu dilepaskan beberapa ekor cacing.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sembarang cacing bisa Romo&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya bisa saja&#8230; ha ha ha&#8230;! Tetapi hasilnya belum tentu seperti pupuk organik kami&#8230;.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Jenis apa Romo&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Wah itu rahasia dapur&#8230;. ha ha ha&#8230;! Tetapi kalau ada yang berminat untuk membuat pupuk seperti saya punya ini, saya kasih cacingnya gratis&#8230;!&#8221;</p>
<p>Pupuk organik Romo Tan ini disebut &#8220;Kascing&#8221; yang sebenarnya adalah kotoran cacing. Sampah hijau tadi dimakan cacing lalu dikeluarkan lagi sebagai kotoran dalam bentuk butiran-butiran halus berwarna kehitam-hitaman dan beraroma seperti tanah. Kotoran cacing tercampur dengan lendir dan air liur cacing menjadi pupuk organik yang amat berkhasiat bagi segala macam tanaman. Dan bukan hanya itu menurut Romo Tan.</p>
<p>Kecuali kandungan NPK yang sangat tinggi, pupuk organik Kascing masih memiliki sesuatu yang unik, yaitu kandungan hormon yang dihasilkan oleh lendir dan air liur cacing. Hormon tersebut memacu pertumbuhan tanaman (hormon pertumbuhan), sekaligus melindunginya dari penyakit (antibiotik) dan mampu memelihara stabilitas tanah maupun media tanam yang lain. Yang terakhir ini penting, karena biasanya setelah tanah ditanami dengan diberi pupuk non-organik, maka mutu kandungan tanah menjadi makin buruk, dan lama kelamaan tidak lagi subur. Tanah yang seperti itu bila ditanami dengan diberi pupuk organik Kascing, dalam waktu singkat akan pulih kembali.</p>
<p>Sayangnya tidak banyak petani yang mau memakai pupuk organik Kascing ini walau harganya murah. Sebab memang hasilnya tidaklah secepat dan sehebat bila menanam dengan diberi pupuk kimia, seperti pupuk urea. misalnya. Tetapi Romo Tan tidak pernah bosan memotivasi para petani di sekitar gerejanya dan di tempat lain untuk menggunakan pupuk organik Kascing, buatannya. Karena amatlah penting menurut beliau bahwa para petani tidak hanya mementingkan hasil sesekali dan saat ini saja, tetapi melihat jauh ke depan, serta mengusahakan agar tanah bukan hanya bisa ditanaminya sendiri, tetapi dapat dimanfaatkan oleh generasi-generasi berikutnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Yang penting memang lalu menanamkan dan mengembangkan mentalitas ramah lingkungan&#8230;&#8221; ujar Romo Tan dengan pandang menerawang.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Itu termasuk tugas Bapak-bapak dan Ibu pendeta sekalian&#8230;&#8221; sambungnya dengan lirih.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Untuk menanam cacing&#8230;?&#8221; tanya salah seorang peserta bergurau.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ha ha ha&#8230;.&#8221; tertawa terpingkal-pingkal sang Romo hingga kembali terbatuk-batuk.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Memangnya Ibu Pendeta berani memegang cacing-cacing yang menjijikkan itu&#8230;?&#8221; Dan kamipun tertawa riuh-rendah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya tidak bisa berceramah teologis ilmiah tentang pelestarian alam lingkungan. Tetapi pupuk organik saya inilah menurut saya sumbangsih saya bagi usaha itu&#8230;&#8221; kata Romo Tan menyimpulkan pertemuan kami dengan beliau.</p>
<p>Kami pun mengangguk-angguk dengan berbagai pikiran kami masing-masing. Andaikata ada lebih banyak orang mau hidup seperti Romo Tan. Andaikata ada lebih banyak orang mau berpikiran seperti Romo Tan. Andaikata dari mimbar lebih kerap dikhotbahkan tentang panggilan dan tanggung jawab setiap orang percaya untuk melestarikan alam lingkungan. Andaikata GKI Pondok Indah dapat berprakarsa seperti Romo Tan, bukan untuk membuat pupuk organik Kascing, tetapi memulai sebuah usaha pelestarian alam lingkungan yang cocok di kota, seraya memberdayakan warganya untuk lebih ramah lingkungan. Andaikata gereja-gereja, khususnya GKI mengkhususkan satu bulan tertentu sebagai Bulan Peduli Alam Lingkungan seperti Bulan Keluarga misalnya&#8230;<br />
Andaikata&#8230;</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/peduli-pada-alam-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dalang Istimewa</title>
		<link>http://gkipi.org/dalang-istimewa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dalang-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 1976, sekitar pertengahan bulan Juni, saya tiba di jemaat GKI Wonosobo, Jawa Tengah, untuk melakukan tugas penelitian jemaat dan praktik awal. Penelitian dan praktik terutama akan dilakukan di desa Winongsari, di mana jemaat GKI Wonosobo mempunyai sebuah bakal jemaat, yang waktu itu disebut sebagai cabang. Dengan Majelis GKI Wonosobo disepakati bahwa dua minggu sekali, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">T</span>ahun 1976, sekitar pertengahan bulan Juni, saya tiba di jemaat GKI Wonosobo, Jawa Tengah, untuk melakukan tugas penelitian jemaat dan praktik awal. Penelitian dan praktik terutama akan dilakukan di desa Winongsari, di mana jemaat GKI Wonosobo mempunyai sebuah bakal jemaat, yang waktu itu disebut sebagai cabang.</p>
<p>Dengan Majelis GKI Wonosobo disepakati bahwa dua minggu sekali, pada akhir minggu saya ke Wonosobo agar bisa membantu pelayanan kebaktian Sekolah Minggu atau remaja, berhubung jemaat GKI Wonosobo tidak mempunyai pendeta. Selebihnya saya akan berada di desa Winongsari. Setelah menginap dua malam di Wonosobo untuk perkenalan dan pengarahan, sekitar jam 9 pagi saya menuju ke desa Winongsari.</p>
<p>Sesuai dengan petunjuk yang saya terima, saya menaiki bus ke arah Banjarnegara selama kurang 45 menit sampai di pertigaan Kaliwiro. Dari situ setelah menunggu sekitar 15 menit, datanglah omprengan yang saya naiki selama kurang-lebih 30 menit hingga kota kecamatan Kaliwiro. Dari situ saya masih harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer untuk mencapai desa Winongsari.</p>
<p>Sepanjang perjalanan banyak orang yang memerhatikan saya dengan aneh. Mungkin cara berpakaian saya yang tidak terlalu biasa bagi mereka. Padahal saya mengenakan pakaian yang menurut hemat saya biasa: celana jeans biru dan kemeja biru kotak-kotak. Atau mungkin gaya saya yang berbeda. Pendeknya lama-lama saya merasa kurang enak juga. Kira-kira setengah perjalanan saya berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak, minum dan menanyakan arah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Adik mau ke mana?&#8221; tanya ibu penjaga warung ketika saya memasuki warungnya.<br />
 &#8220;Ke desa Winongsari Bu&#8230;&#8221;<br />
 &#8220;Oh&#8230;! Apakah adik calon pendeta Kristen yang mau magang di Winongsari?&#8221; tanya si ibu dengan mata besar.<br />
 Saya mengangguk sambil tersenyum. Rupanya kabar tentang hal baru cepat tersiar di daerah ini.<br />
 &#8220;Ya Bu. Apakah masih jauh dari sini?&#8221;<br />
 &#8220;Ah, tidak. Kira-kira dua belokan lagi Adik akan melihat ke bawah di desa yang sebelah kiri. Kalau sampean turun jalan menyeberangi sungai, itulah Winongsari.&#8221;</p>
<p>Setelah minum segelas es kelapa muda saya melanjutkan perjalanan. Ternyata Winongsari masih cukup jauh. Saya catat setidaknya sepuluh belokan telah saya lewati ketika dari kejauhan saya melihat kumpulan rumah-rumah bergenting merah. Tetapi si Ibu benar ketika mengatakan bahwa saya akan melihat desa di Winongsari di sebelah kiri saya. Desa yang kelihatan asri dikelilingi oleh sawah-sawah terhampar hijau dan apik. Dan di tepi sawah di sebelah kanan berdiri sebuah bangunan kecil yang sederhana dengan salib di atasnya. Rasanya tak salah lagi. Tetapi itukah gedung GKI cabang Winongsari?</p>
<p>Ketika saya mulai menuruni jalan memasuki desa 3 orang laki-laki menyongsong saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saudara Purboyo..? Kami dari jemaat cabang Winongsari. Berangkat dari Wonosobo jam berapa? Perkenalkan&#8230;&#8221; Mereka ternyata warga jemaat dan salah satu di antaranya adalah seorang penatua.<br />
 &#8220;Mari kami antar ke tempat Saudara menginap, sambil melihat-lihat gedung gereja kita.&#8221;</p>
<p>Dan ternyata tepat dugaan saya. Gedung gereja yang saya lihat dari kejauhan adalah gedung GKI cabang Winongsari. Gedung gerejanya dapat memuat sekitar 100 orang. Dindingnya terbuat dari papan dan anyaman bambu. Lantainya plesteran semen. Ada mimbar yang amat sederhana dan bangku-bangku seperti di warung tertata rapi. Di belakang gedung gereja ada sebuah dapur dan kamar mandi kecil serta sebuah kakus di atas kolam sekitar 5 kali 5 meter.</p>
<p>Dari gereja setelah berjalan sekitar 500 meter tibalah kami di rumah keluarga Penatua <strong>Suwondo</strong>, tempat saya menginap selama saya berada di Winongsari. Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 12 siang. Dengan ramah kami berempat disambut istri Pak Suwondo, dipersilakan duduk di beranda di atas balai-balai serta dihidangi kopi dan teh serta singkong rebus. Tak lama kemudian Pak Suwondo muncul sesudah mandi usai bekerja di sawah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Panggil saja nama saya: Wondo&#8230;. ndak usah pakai Pak&#8230;&#8221; ujarnya sambil menyalami saya. Pak Wondo ternyata orang yang menyenangkan dan senang bercerita tentang banyak hal.<br />
 &#8220;Mari silakan singkongnya&#8230;&#8221;<br />
 &#8220;Wah.. nanti saya kekenyangan&#8230;&#8221; jawab saya.<br />
 &#8220;Ayolah jangan malu-malu Dik&#8230; Makan siang masih lama lho&#8230;?&#8221; ujar salah satu Bapak yang menghantar saya sambil tertawa renyah.</p>
<p>Pada waktu itu saya tidak mengerti yang dimaksudkannya. Kami duduk mengobrol sekitar 1 jam. Kemudian setelah para penghantar saya berpamitan bersama Pak Wondo yang harus ke kantor kelurahan di mana ia menjabat sebagai &#8220;wakil carik&#8221; atau wakil sekretaris desa, saya mulai mengerti.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Dik Purboyo saya pamitan dulu. Saya harus ke kantor kelurahan. Silakan istirahat dulu. Nanti kalau saya pulang kita ngobrol-ngobrol lagi sambil makan&#8230;&#8221; kata Pak Wondo.</p>
<p>Saya pun memasuki kamar yang disediakan bagi saya. Saya membongkar tas pakaian dan meletakkan barang-barang, termasuk beberapa buku di tempatnya. Lalu duduk membaca-baca. Sekitar jam 14 saya merasa lapar. Dan setelah menengok ke ruang tengah, dan tidak tersedia apapun di atas meja makan, saya bermaksud ke wc. Saya menuju ke belakang, Ibu Suwondo sedang sibuk memasak ditemani putri mereka yang berumur sekitar 3 tahun.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oh, Pak Purboyo&#8230;. di sini kami tidak punya kamar mandi&#8230; Kami mandi dan&#8230; eh&#8230;. ke belakang&#8230; di sungai&#8230;&#8221; kata Bu Wondo tersenyum malu.<br />
 &#8220;Di sungai&#8230;?<br />
 &#8220;Ya&#8230;.&#8221; jawab Bu Wondo dengan geli, barangkali memperhatikan keterkejutan saya. &#8220;Kalau mandi bisa di pancuran, atau langsung di sungai. Tapi kalau mau &#8230;eh&#8230;ke belakang, Pak Purboyo bisa ke belakang di gereja&#8230;&#8221; sambungnya lagi.</p>
<p>Maka saya pun berjalan menuju ke gereja dan membuang air kecil. Sesudah itu saya menuju ke sungai yang tidak jauh dari gedung gereja. Di tepian ada beberapa &#8220;pancuran&#8221; dengan pembatas seadanya untuk tempat mandi. Namun tidak ada kakus satu pun seperti yang ada di belakang gedung gereja. Tiba-tiba saya melihat dua orang sedang berjongkok membuang hajat. Dan masing-masing hanya berjarak sekitar 2 meter. Saya langsung memutuskan bahwa saya tidak akan membuang air besar di sungai.</p>
<p>Waktu sudah menunjukkan jam 15 ketika saya kembali ke rumah Pak Wondo. Saya merasa sangat lapar. Saya berjalan agak bergegas, kuatir sudah ditunggu oleh keluarga Suwondo. Tetapi ternyata suasana sepi-sepi saja. Pak Wondo belum datang, Bu Wondo juga tidak kelihatan. Di atas meja makan sudah tersedia dua mangkok berisi lauk-pauk, tetapi rupanya nasi masih dimasak. Saya mulai menyesal mengapa tadi tidak terlalu banyak makan singkong rebus. Pak Wondo datang sekitar jam 15.45, dan setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya tibalah saat yang saya tunggu-tunggu kamipun makan.</p>
<p>Ternyata itulah saat makan yang kedua dan terakhir untuk hari itu. Untung malamnya setelah mandi ada acara minum kopi dengan singkong rebus yang saya nikmati dengan tanpa malu lagi. Di bawah sinar lampu petromaks kami ngobrol-ngobrol sampai larut malam. Sekitar jam 22.30 Pak Wondo pamitan untuk tidur karena pagi-pagi buta ia sudah harus ke sawah. Ketika melihat saya beranjak untuk berjalan ke arah gereja, ia bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Mau ke mana&#8230; buang air kecil di kebun saja&#8230; ha ha ha&#8230; semua orang melakukannya&#8230;&#8221;</p>
<p>Begitulah ternyata ada banyak hal yang harus saya biasakan di tempat baru ini yang akan saya tinggali selama dua setengah bulan. Tetapi yang paling berat di antaranya adalah mandi dan ke belakang, serta kebiasaan makan hanya dua kali sehari. Sebab di malam pertama itu sekitar jam 1 dinihari saya terbangun karena lapar. Dan saya bertahan dengan meminum air hingga jam 9 keesokan paginya ketika saya dipanggil makan bersama Pak Wondo yang sudah kembali dari sawah.</p>
<p>Setelah sekitar seminggu saya mulai terbiasa dengan 2 kebiasaan yang paling berat itu. Dan saya sudah larut dalam penelitian dan pelayanan di jemaat desa Winongsari. Pak Wondo ternyata sangatlah cekatan membantu saya. Ia selalu mengantar saya ke mana-mana, termasuk mengunjungi sebuah air terjun yang tinggi dan indah. Sayang tempatnya terpencil sehingga tidak dapat dikomersialisasikan.</p>
<p>Pak Wondo adalah salah seorang penatua kunci dari 4 penatua di GKI cabang Winongsari. Ia lulusan SMEA dan menjabat sebagai wakil sekretaris desa. Dan pengetahuan Alkitabnya amatlah baik, sehingga ialah yang biasanya memimpin kebaktian-kebaktian keluarga, dan terkadang kebaktian Minggu di Winongsari, bila tidak ada pendeta yang datang. Beberapa kali saya mendengarkan renungan atau khotbahnya. Walau ulasan dan isinya sederhana, rasanya saya belum dapat memberikan renungan atau khotbah sebaik yang dia lakukan. Namun masih ada sebuah kejutan lagi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Nanti malam Dik Pur ada acara&#8230;?&#8221; tanya Pak Wondo pada suatu hari Sabtu, ketika kami &#8220;makan pagi&#8221; sekitar jam 10 (!).<br />
 &#8220;Kalau tidak ada acara, mau ikut saya ke desa lain sekitar 10 km dari sini?&#8221;<br />
 &#8220;Ada apa&#8230;?&#8221;<br />
 &#8220;Wayang kulit&#8230;&#8221; jawabnya singkat sambil tersenyum penuh arti.</p>
<p>Ternyata Pak Wondo adalah seorang dalang yang sewaktu-waktu diminta untuk menggelar pertunjukan. Perangkat wayang dan gamelan adalah milik desa, tetapi di desa itu hanya ada beberapa dalang termasuk Pak Wondo. Ketika waktu berangkat tiba, saya tercengang melihat Pak Wondo. Ia memakai baju tradisional Jawa, lengkap dengan blangkon dan keris.</p>
<p>Pertunjukan baru dimulai sekitar jam 21 dan berlangsung hingga menjelang dinihari. Yang luar biasa adalah bahwa selama pertunjukan itu beliau tidak pernah beranjak dari tempatnya untuk ke belakang.</p>
<p>Namun yang lebih mencengangkan adalah ketika pada adegan tertentu ia &#8220;menyelipkan&#8221; pesan-pesan kristiani dalam percakapan tokoh-tokoh yang dimainkannya. Misalnya dalam adegan ketika Kresna menasihati Arjuna sebelum berangkat berperang. Dengan penguasaan bahasa Jawa saya yang sederhana saya mendengar nasihat Kresna yang kira-kira berbunyi: <em>&#8220;Kasihilah sesamamu. Karena mereka adalah saudara-saudaramu&#8230; siapa pun dan apapun mereka&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Ketika hal itu saya tanyakan kepadanya keesokan harinya ia tersenyum malu tetapi bangga.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Begitulah&#8230; bagi saya itu adalah kesempatan untuk bersaksi&#8230;&#8221; ungkapnya dengan singkat.</p>
<p>Pengalaman penelitian dan praktik di Winongsari takkan saya lupakan. Terutama Pak Wondo, penatua dan dalang yang istimewa. Keduanya turut mebentuk dan mengasah saya dalam pelayanan di gereja Tuhan.</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dalang-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang “Lebih daripada yang Biasa”</title>
		<link>http://gkipi.org/yang-%e2%80%9clebih-daripada-yang-biasa%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://gkipi.org/yang-%e2%80%9clebih-daripada-yang-biasa%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 06:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[1 Seperti biasa setelah berdoa pagi, Pak Handoko membuka toko bangunannya beberapa menit sebelum jam delapan. Di depan tokonya telah menunggu dua orang calon pembeli yang rupanya memerlukan material sepagi mungkin. Hal itu memang biasa, karena di kota kecil di mana Pak Handoko tinggal, hanya ada sekitar lima toko bangunan. Di antaranya hanya dua toko [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>1</h3>
<p>Seperti biasa setelah berdoa pagi, Pak Handoko membuka toko bangunannya beberapa menit sebelum jam delapan. Di depan tokonya telah menunggu dua orang calon pembeli yang rupanya memerlukan material sepagi mungkin. Hal itu memang biasa, karena di kota kecil di mana Pak Handoko tinggal, hanya ada sekitar lima toko bangunan. Di antaranya hanya dua toko yang cukup lengkap asortimennya, yaitu toko Pak Handoko dan toko Anu.</p>
<p>Setelah melayani pembeli pertama yang cukup terburu-buru, Pak Handoko menyapa dan bertanya kepada pembeli kedua apa yang diperlukannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya hendak membeli semen untuk kantor saya&#8230;.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Berapa banyak?&#8221; tanya Pak Handoko dengan ramah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya tergantung harganya. Kalau cocok saya perlu cukup banyak&#8230;.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oh&#8230; harga juga tergantung pada jumlah. Makin banyak jumlahnya makin banyak potongannya Pak&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kalau harga ecerannya berapa Pak&#8230;.?</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sembilanpuluh ribu rupiah.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kalau saya ambil seratus kantong?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">Pak Handoko mengeluarkan kalkulatornya kemudian melakukan penghitungan cepat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kalau ambil seratus kantong harga sekantongnya jadi delapanpuluhlima ribu Pak&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kok bedanya nggak banyak?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Untungnya memang tipis Pak&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ehm&#8230; baiklah kalau begitu. Saya ambil seratus kantong. Besok siang bisa diantar ke kantor?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Bisa Pak. Pembayarannya bagaimana&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Lha ini&#8230; begini&#8230; Tolong Bapak siapkan bonnya ya. Kan harganya delapanpuluhlima ribu rupiah. Buat saja bon sepuluh juta rupiah untuk seratus kantong semen&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Wah&#8230; saya tidak berani Pak&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kenapa&#8230;? Kan Anda tetap menerima delapanpuluhlima ribu rupiah kali seratus?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya&#8230; tetapi kalau kantor Bapak mengecek ke sini kan repot&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kalau begitu begini saja. Buat saja bon sembilanpuluhribu rupiah per kantongnya&#8230; harga ecerannya kan memang segitu to?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Eh&#8230; saya tidak berani Pak..?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kenapa sih&#8230;? Mau untung kok gak mau&#8230;?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Maaf Pak&#8230; kan berarti tidak jujur&#8230;..&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kalau gak mau ya saya ke toko Anu&#8230;.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya apa boleh buat Pak&#8230;. &#8220;</p>
<h3>2</h3>
<p>Pada suatu kali saya menjenguk seorang anggota jemaat yang baru saja dioperasi, sehubungan dengan penyakit kanker yang dideritanya. Ia bernama Ibu Douglas, biasa dipanggil dengan Mam Douglas. Ketika saya tiba di kamarnya, ia tidak ada di tempat ridurnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Apakah Ibu Douglas masih dirawat di sini&#8230;.?&#8221; tanya saya kepada seorang wanita Belanda berumur sekitar tigapuluhan yang rupanya juga dirawat di kamar itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oh&#8230; Ibu Douglas, yang berasal dari Suriname?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya&#8230; Mam Douglas&#8230;&#8221; jawab saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya ia masih di sini. Ia harus konsultasi dengan dokter jaga sebentar.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Bapak masih ada hubungan keluarga dengan Mams, soalnya Bapak tidak kelihatan seperti orang Suriname?&#8221; tanya wanita teman sekamar Mam Douglas.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Bukan. Saya pendetanya.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Oh&#8230; begitu&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Saya orang Indonesia. Mams adalah anggota jemaat saya, jemaat Indonesia.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Pasti Mams adalah anggota jemaat yang aktif ya?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Benar. Ia bersama anaknya sekeluarga sangat aktif.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Jetty? Memang keluarga yang sangat mengagumkan.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Mengagumkan&#8230;? Maksud Anda bagaimana?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya mengagumkan, terutama Mams. Saya sudah terbaring di sini tiga hari ketika Mams masuk kamar ini. Waktu itu saya dalam keadaan amat tertekan. Karena kemarinnya kedapatan kanker ganas di tubuh saya. Namun Mams yang juga mengidap penyakit sama, bahkan harus dioperasi untuk kesekian kalinya sama sekali tidak kelihatan susah.&#8221;</p>
<p>Wanita itu menghela nafas panjang sambil menyeka matanya yang basah. Kemudian melanjutkan:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ia selalu menguatkan dan menghibur saya. Ia selalu mengajak saya berdoa. Mula-mula saya tidak mau. Bukan karena saya tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi lebih karena sudah bertahun-tahun saya tidak pernah berdoa&#8230; Sejak Mams dirawat di sini saya tidak lagi merasa tertekan&#8230;.&#8221;</p>
<h3>3</h3>
<p>Menunggu itu membosankan. Apalagi menunggu pesawat terbang yang akan terlambat datang sehingga akan terlambat pula keberangkatan saya dari Yogyakarta ke Jakarta. Maka saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam dengan duduk santai dan kalau perlu tidur sebentar di ruang tunggu bandara Adi Sucipto Yogyakarta.</p>
<p>Baru sekitar lima menit saya duduk dengan santai dan nikmat, tiba-tiba di belakang saya datang sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua anak perempuan. Rupanya mereka berasal dari Korea. Amat ribut mereka bercakap-cakap diselingi teriakan-teriakan histeris dua anak mereka. Batal niat saya untuk duduk santai terkantuk-kantuk.</p>
<p>Maka saya pindah sekitar dua atau tiga baris lebih jauh untuk menghindari keluarga Korea yang riuh-rendah itu. Syukur di tempat yang baru tidak ada siapa-siapa sehingga saya sempat terlena sekitar seperempat jam.</p>
<p>Saya terbangun oleh suara keras pengumuman tentang datangnya sebuah pesawat terbang dari Jakarta. Bukan pesawat saya. Maka saya pun beranjak bermaksud untuk ke kamar kecil. Namun tiba-tiba saya menyadari bahwa PDA (telepon merangkap agenda) saya tidak tergantung di pinggang. Saya melongok ke bawah kursi dan ke sekitar saya tidak menemukannya. Saya kembali ke tempat duduk saya semula dan bertanya kepada orang-orang yang duduk di dekat situ. Tidak ada seorang pun yang melihat PDA saya. Saya mencoba menelepon PDA saya namun tidak terdengar deringnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Bapak kehilangan hape&#8230;.?&#8221; tanya seorang laki-laki tengah baya.</p>
<p>Rupanya ia adalah pemilik atau pengelola salah satu toko batik di dekat tempat duduk saya semula.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Ya&#8230; PDA&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Agak besar ya&#8230; bungkusnya kulit, hitam?&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Betul&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Jangan kuatir Pak. Saya tadi melihat PDA itu tertinggal di kursi ini lalu saya amankan dan serahkan kepada security. Diambil saja Pak&#8230;&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Terima kasih&#8230;&#8221; jawab saya dan bergegas menuju ke tempat security.</p>
<p>Dan memang PDA saya ada pada mereka. Setelah membuktikan bahwa PDA itu memang milik saya, saya diperbolehkan mengambilnya. Saya kembali menemui sang penolong saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Terima kasih sekali Pak&#8230; Wah kalau hilang susah saya Pak, semua catatan janji dan alamat ada di sini.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Terima kasih kembali Pak,&#8221; jawabnya dengan ramah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Hampir setiap hari saya menemukan hape tertinggal, tadi pagi saja ada meninggalkan hapenya, Nokia model terbaru, di toko saya. Untung dia belum boarding, sehingga sempat saya minta diumumkan, dan ia dapat mengambilnya&#8230;&#8221;</p>
<h3>4</h3>
<p>Ternyata, bila kita melihat sekeliling kita dengan cermat. Ada banyak orang yang sungguh-sungguh berusaha untuk berbeda dari yang biasa. Berbeda dalam konotasi positif dan baik. Lebih daripada yang biasa!</p>
<h3>5</h3>
<p>Kita&#8230;?</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/yang-%e2%80%9clebih-daripada-yang-biasa%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan Datang Menjenguk</title>
		<link>http://gkipi.org/tuhan-datang-menjenguk/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tuhan-datang-menjenguk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 06:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Apa pun yang terjadi Natal kali ini akan menjadi amat istimewa. Tuhan telah menjenguk mereka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Mas&#8230; masih belajar? Sudah hampir tengah malam&#8230;&#8221;</p>
<p>Bimo mengangkat pandangnya dari buku yang sedang ditekuninya. Arimbi, istrinya, berdiri di pintu ruang kerjanya yang sempit. Di sekitar Bimo buku-buku berserakan di meja dan di rak-rak di sepanjang dinding. Ia tersenyum melihat ketidakrapian kamar kerjanya yang pasti membuat Arimbi mengerutkan alis. Karena sudah kerap kali Arimbi memintanya untuk merapikan kamar kerjanya itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Aku belum selesai Dik&#8230; tinggal satu buku ini&#8230; Tidurlah dahulu&#8230; aku menyusul,&#8221; jawab Bimo sambil kembali menujukan pandangnya pada buku di hadapannya.<br />
&#8220;Ujiannya jadi besok pagi Mas&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Ya. Tadi pagi aku mendapat surat kepastiannya dari kantor universitas&#8230;&#8221;</p>
<p>Bimo dan Arimbi adalah pasangan muda yang telah sekitar empat tahun menikah. Belum lama mereka tinggal di kota Salatiga karena Bimo diangkat menjadi kepala sekolah di sekolah guru Kristen di situ. Walau amat berbeda dengan kota Jakarta, kehidupan di kota Salatiga yang sejuk dan tenang amat mereka nikmati. Apalagi Arimbi juga segera mendapat pekerjaan untuk mengajar di salah satu dari dua sekolah menengah pertama Kristen di kota itu. Dan mereka beruntung karena Arimbi mendapatkan jam-jam mengajar yang membuatnya dapat membagi waktunya mengajar dengan mengurusi Gatot, putra mereka yang berusia hampir dua tahun.</p>
<p>Yang juga membuat Bimo tanpa ragu-ragu menerima tawaran pekerjaan di Salatiga adalah adanya sebuah universitas Kristen yang belum lama dibuka. Dan atas seijin pengurus yayasan, sejak setengah tahun terakhir ini Bimo terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjutan di fakultas pendidikan. Bimo masih ingat betul kata-kata ketua pengurus yayasan yang mengelola sekolah yang dipimpinnya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Kami amat senang Pak Bimo mau terus mengembangkan diri. Dan melihat bagaimana Bapak bekerja selama ini, kami yakin Bapak akan dapat membagi waktu dengan baik. Hanya&#8230; maafkan kami bila dalam soal biaya kami tidak bisa membantu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tentang pembiayaan kuliah Bimo dan Arimbi sudah merundingkannya sebelum Bimo mengajukan permohonan untuk studi sambil bekerja. Mereka sudah siap berhemat selama Bimo studi. Bahkan mereka sudah menyusun rencana studi bahasa Inggris bagi Arimbi bila Arimbi mendapatkan tambahan jam mengajar di tahun ajaran yang akan datang. Dan hingga saat ini mereka dapat mengatur keuangan mereka dengan baik walau tidak mudah. Hanya memang oleh karenanya mereka hampir tidak pernah berjalan-jalan ke jalan Solo untuk melihat-lihat dan berbelanja barang-barang sekunder.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Tidak apa-apa Mas&#8230; bajuku masih cukup kok&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tetapi sebentar lagi hari Natal, Dik&#8230;. Sebagai seksi acara kan kamu harus kelihatan rapi?&#8221;<br />
&#8220;Ah, tenang saja. Percayalah&#8230;. istrimu akan bisa berimprovisasi&#8230;&#8221;</p>
<p>Tersenyum sendiri Bimo mengingat percakapan itu. Terkadang ia kasihan pada Arimbi dan agak menyesali keputusan mereka tentang studinya. Tetapi mereka telah bertekad untuk mengembangkan diri demi masa depan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Lho kok tersenyum sendiri&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230; iya,&#8221; jawab Bimo sambil tertawa.<br />
&#8220;Mudah-mudahan Mas bisa mempersiapkan diri dengan baik, walau waktunya agak mepet ya&#8230;?&#8221;</p>
<p>Bimo mengangkat mukanya, memandang wajah istrinya yang amat dicintainya dan yang kelihatan kuatir.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Terima kasih&#8230;. Bagaimana si Gatot?&#8221;<br />
&#8220;Ia tidur dengan nyenyak.&#8221;<br />
&#8220;Sudah tidak panas&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Sudah sejak sore tidak. Obat yang dari rumah sakit masih dilanjutkan. Rupanya manjur.&#8221;<br />
&#8220;Tidurlah dulu, Dik&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Baik Mas&#8230;&#8221;</p>
<p>Beberapa bulan terakhir ini si kecil Gatot sering mencret-mencret. Untung tak jauh dari rumah mereka tinggal seorang dokter yang tak segan-segan menolong mereka. Sehingga setiap kali mereka dapat membawa Gatot kepadanya. Tetapi seminggu yang lalu Gatot panas tinggi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Sebaiknya Gatot dibawa ke rumah sakit, karena temperaturnya terlalu tinggi.&#8221;<br />
&#8220;Diopname Dok&#8230;?&#8221; tanya Arimbi dengan suara tersekat.<br />
&#8220;Jangan kuatir Ibu Bimo&#8230; Gatot tidak apa-apa. Tetapi panasnya ini harus diatasi.&#8221;</p>
<p>Enam hari Gatot dirawat di rumah sakit. Enam hari yang melelahkan. Bahkan amat melelahkan. Terutama bagi Bimo yang tidak bisa sepenuhnya meninggalkan tugasnya sebagai kepala sekolah, dan yang juga masih harus belajar untuk menghadapi ujian-ujian. Dan enam hari itu adalah juga enam hari yang mahal. Terutama mengingat keadaan keuangan mereka. Tetapi syukur Gatot yang mengalami gejala tipus, sembuh.</p>
<p>Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya dan bertanya-tanya apakah Arimbi masih mempunyai cukup uang, setelah pengeluaran besar yang tak terduga akibat sakitnya Gatot itu. Dengan menggigit bibir Bimo menyelesaikan tugasnya membaca buku di depannya. Sekitar jam satu dini hari ia selesai, mematikan lampu dan masuk ke kamar mandi.<br />
Arimbi belum tidur ketika Bimo masuk ke kamar.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Mas&#8230; besok ujiannya jam delapan?&#8221;<br />
&#8220;Jam tujuh, karena salah satu penguji harus berangkat ke luar negeri&#8230; Kenapa, Dik?&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230;besok saja lah&#8230;&#8221;</p>
<p>Merekapun tidur. Bimo yang kelelahan langsung pulas. Namun Arimbi yang juga letih itu belum bisa tidur. Walau hatinya bergalau ia tersenyum ia mendengar dengkur halus suaminya. Dan akhirnya lama-lama tanpa disadarinya sendiri Arimbi tertidur juga.</p>
<p>Pagi harinya Bimo sudah siap sejak jam enam. Ia telah mengilas kembali beberapa buku yang harus dibacanya. Ia telah siap.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Aku mau berangkat agak awal, supaya tidak tergesa-gesa.&#8221;<br />
&#8220;Baik&#8230;&#8221; jawab Arimbi.<br />
&#8220;Ada apa sih sebenarnya&#8230; kamu kelihatan begitu tegang Dik?&#8217;<br />
&#8220;Eh&#8230; Mas ujian saja dulu&#8230;. konsentrasi pada yang paling mendesak&#8230; begitu kan Mas mengajar para murid?&#8221;<br />
&#8220;Masalah keuangan kita ya&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Eh&#8230;ya&#8230;. tetapi nanti saja&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tetapi sesudah ujian aku harus menemui ketua pengurus yayasan tentang calon guru biologi dari Yogya itu&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Oh kalau begitu&#8230; bisakah Mas mengajukan pinjaman kepada beliau&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Begitu parahkah keadaan kita?&#8221;<br />
&#8220;Sudahlah Mas&#8230; ujian dulu&#8230; maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengatakannya sebelum Mas berangkat ujian&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bimo pun mengeluarkan sepedanya dan berangkat dengan kayuhan gontai. Sedangkan Arimbi duduk sambil berpikir keras bagaimana memecahkan persoalan mereka saat itu. Untung Gatot masih tidur dengan pulas. Tak lama kemudian Arimbi kelihatan mengangguk-angguk. Ia bergegas masuk ke kamar tidur, mengambil kunci, membuka lemari pakaian dan menarik laci.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Dik&#8230;dik&#8230;.diik?&#8221; seru Bimo yang dengan terengah-engah menyandarkan sepedanya lalu memasuki rumah.</p>
<p>Ketika tidak dilihatnya Arimbi di ruang tengah, ia masuk ke kamar tidur mereka. Dengan tertegun ia melihat Arimbi duduk di tempat tidur. Laci lemari terbuka dan di tangannya Arimbi memegang sebuah kalung emas. Satu-satunya kalung yang dimilikinya, pemberian ibunya ketika mereka menikah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Mas&#8230;? Ada apa kok kembali?&#8221;<br />
&#8220;Mau kau apakan kalung itu, Dik?&#8221;</p>
<p>Arimbi tersenyum sedih, lalu dengan mantap ia menjawab:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Mau kubawa ke kantor gadai Mas&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Belum perlu Dik&#8230;. Lihat ini&#8230;!&#8221;</p>
<p>Bimo dengan hati-hati merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar uang yang basah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;Aku menemukannya di tepi jalan.. Rupanya jatuh dan kehujanan&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Wah kasihan yang kehilangan uang itu&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Memang&#8230; tetapi cukupkah ini untuk sementara&#8230;?<br />
&#8220;Cukup sekali. Terus terang aku tidak bisa belanja hari ini karena uang sudah kupakai membeli obat buat Gatot kemarin&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kenapa tidak bilang dari kemarin Dik&#8230;?<br />
&#8220;Aku tak mau mengganggu persiapanmu. Mas&#8230;&#8221;</p>
<p>Kedua suami istri itu berpandangan lalu berpelukan dengan penuh syukur. Tiba-tiba terdengar tangisan Gatot yang bangun dari tidurnya. Mereka pun berpisah. Arimbi mengurus Gatot. Bimo mengayuh sepedanya menuju ke universitas. Masing-masing dipenuhi rasa haru. Apa pun yang terjadi Natal kali ini akan menjadi amat istimewa. Tuhan telah menjenguk mereka&#8230;</p>
<p><em>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tuhan-datang-menjenguk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
