<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Kontemplasi</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/kontemplasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kami Telah Melihat Bintang-Nya</title>
		<link>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintang-nya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintang-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 15:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7088</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah gereja dan sejarah agama-agama selain dipenuhi oleh kasih dan keluhuran ajaran agama-agama tersebut, juga dipenuhi oleh sejarah rivalitas antar agama,     pengkafiran kelompok lain, bahkan upaya politisasi ayat suci untuk kepentingan kelompok tertentu. Sampai sekarang kita melihat jejak sejarah rivalitas dan pengkafiran tersebut dalam bentuk pelarangan kegiatan keagamaan dan ungkapan penuh kebencian yang ditujukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah gereja dan sejarah agama-agama selain dipenuhi oleh kasih dan keluhuran ajaran agama-agama tersebut, juga dipenuhi oleh sejarah rivalitas antar agama,     pengkafiran kelompok lain, bahkan upaya politisasi ayat suci untuk kepentingan kelompok tertentu. Sampai sekarang kita melihat jejak sejarah rivalitas dan pengkafiran tersebut dalam bentuk pelarangan kegiatan keagamaan dan ungkapan penuh kebencian yang ditujukan kepada kelompok lain yang tidak sealiran. Ketika si Protestan mensesatkan si Katolik, ketika si Ahmadiyah diburu sampai habis, ketika si Fundamentalis merasa benar sendiri dan yang lain salah bahkan sesat. Di sepanjang sejarah tersebut bertaburan rona merah darah, bak darah bayi tak berdosa di Bethlehem.</p>
<p>Merenungkan sejarah rivalitas dan pengkafiran antar agama tersebut, maka kisah para Majusi lalu menjadi menarik. Siapakah orang Majus ini? Alkitab hanya menyebutkan bahwa mereka adalah orang yang datang dari Timur. Menurut tradisi, para Majusi ini adalah penganut agama Zoroaster dari Persia. Apapun itu, mereka adalah &#8216;kelompok lain&#8217;, bukan Yahudi dan tentu bukan Kristen. Mereka juga memakai &#8216;bahasa lain&#8217; dalam melihat kedatangan Kristus. Bukan bahasa teks suci, juga bukan bahasa nubuat nabi, tetapi &#8216;bahasa bintang&#8217;. Itulah bahasa yang mereka pahami, karena konon kabarnya, mereka adalah ahli perbintangan, astrolog dari Persia kuno.</p>
<p>Justru di sinilah menariknya! Dalam kerangka berpikir Yahudi, para Majusi jelas bukan bangsa pilihan. Bahasa religius yang mereka pakai tidak berdasar teks suci dan nubuat nabi, tetapi &#8216;bahasa bintang&#8217;. Jelas mereka dapat dikategorikan sebagai &#8216;sesat&#8217; atau &#8216;kafir&#8217;. Tetapi, alih-alih mengkafirkan, Allah justru menyapa mereka dengan menggunakan bahasa religius yang mereka pahami, yaitu &#8216;bahasa bintang&#8217;. Secara khusus Allah menciptakan &#8216;bintang Bethlehem&#8217; buat mereka. Bagi mereka teks suci dan nubuat nabi tidak punya arti, tetapi &#8216;bahasa bintang&#8217; sungguh amat berarti. &#8220;Kami telah melihat bintang-Nya!&#8221;</p>
<p>Di Yerusalem, para imam dan ahli Taurat memakai bahasa teks suci dan nubuat nabi. Saya kira para Majusi tidak sepenuhnya paham bahasa religius yang berdasar teks suci itu. Karena itulah ketika mereka melanjutkan perjalanan ke Bethlehem, mereka kembali memakai &#8216;bahasa bintang&#8217;. Alkitab mencatat, bahwa bintang itu mendahului mereka dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada. Bagaimana sebuah bintang di langit dapat berhenti tepat di atas tempat di mana Kristus berada? Anda sulit memahaminya, bukan? Tentu Anda tidak paham, karena itu adalah &#8216;bahasa bintang&#8217; yang hanya dipahami para Majusi. Apapun itu, Allah menyapa mereka, tidak mengkafirkan mereka, bahkan memakai &#8216;bahasa religius&#8217; yang mereka pahami untuk menyapa mereka!</p>
<p>Sapaan Allah kepada para Majusi, berlawanan dengan respons Herodes. Ia jelas memahami teks suci, dan justru karena ia paham, maka muncullah rivalitasnya. Ia merasa kedudukannya terancam dan karena itu memerintahkan pembunuhan anak di Bethlehem. Rivalitas memang kerap bermuara pada kebencian, pengkafiran bahkan pertumpahan darah! Apa yang dilakukan Herodes kepada bayi di Bethlehem adalah contohnya. Lalu mengapa sebagai anak Tuhan kita tidak meneladani Allah yang hadir dengan kasih-Nya bagi segala bangsa? Allah yang menyapa para majusi dan tidak mengkafirkan mereka? Bahkan Allah yang berempati, mencoba memahami cara berpikir mereka, memakai bahasa religius mereka untuk menyatakan kasih dan anugerah-Nya.</p>
<p>Sapaan Allah kepada para Majusi menghasilkan sesuatu yang sangat indah. Mereka menyatakan hormat kepada sang Putera Allah. Mereka menyembah sang Putera Allah dan memberikan persembahan harta benda, lalu mereka pulang ke negerinya. Tidak ada pembaiatan di sana, tidak ada penyunatan di sana, tidak ada pengyahudian apalagi pengkristenan! Mereka tetap para Majusi. Adakah yang berubah dari mereka? Ada! Kalau pada awal kedatangan mereka memakai &#8216;bahasa bintang&#8217; yang sangat jauh dari tradisi keyahudian, pada waktu pulang mereka memakai &#8216;bahasa mimpi&#8217; yang sedikit banyak lebih dekat dengan tradisi keyahudian.</p>
<p>&#8220;Kami telah melihat bintang-Nya!&#8221; Sebuah kalimat yang sederhana namun bermakna luar biasa! Dalam kalimat itu kita belajar tentang Allah yang mau berdialog, menyapa para Majusi dengan bahasa religius mereka. Alih-alih mengkafirkan, Allah malahan merangkul mereka. Sebuah dialog yang mendekatkan para Majusi bukan hanya pada Putera Allah, tetapi juga keyahudian. Indah bukan?</p>
<p>SELAMAT NATAL! Mari tanggalkan semangat rivalitas dan upaya pengkafiran. Mari belajar merangkul dan berdialog dengan sesama yang berbeda agama. Damai di bumi, damai di hati dan damai dengan sesama, apa pun agama dan keyakinan mereka!</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintang-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAN, HARAP, KASIH:  Nilai-Nilai yang Diwariskan</title>
		<link>http://gkipi.org/iman-harap-kasih-nilai-nilai-yang-diwariskan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/iman-harap-kasih-nilai-nilai-yang-diwariskan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 15:32:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6925</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi keluarga Kristen yang sungguh-sungguh memancarkan nilai-nilai kekristenan dalam hidup dan lakunya, bukanlah hal yang mudah. Dunia, tempat di mana kita hidup dan membangun relasi, juga memberikan nilai-nilainya, yang tampaknya lebih menarik dan mudah untuk dilakukan. Godaan untuk meninggalkan nilai-nilai ilahi begitu kuat kita alami dalam tantangan zaman ini. Lima tantangan keluarga Kristen masa kini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi keluarga Kristen yang sungguh-sungguh memancarkan nilai-nilai kekristenan dalam hidup dan lakunya, bukanlah hal yang mudah. Dunia, tempat di mana kita hidup dan membangun relasi, juga memberikan nilai-nilainya, yang tampaknya lebih menarik dan mudah untuk dilakukan. Godaan untuk meninggalkan nilai-nilai ilahi begitu kuat kita alami dalam tantangan zaman ini.</p>
<p>Lima tantangan keluarga Kristen masa kini antara lain:</p>
<ol>
<li>Persaingan. Tiap hari kita diperhadapkan dengan persaingan untuk mempertahankan diri. Persaingan sering kali menempatkan sesamanya sebagai pihak yang harus dikalahkan agar tujuan tercapai.</li>
<li>Kambing Hitam. Berkaitan dengan persaingan yang makin kuat, maka kebiasaan “mencari kambing hitam” kerap terjadi karena tiap orang berusaha untuk menghindar dari tanggung jawabnya.</li>
<li>Egoisme. Egoisme berarti tidak pernah memberikan ruang bagi orang lain. Seluruh kepentingan hanya tertuju kepada diri sendiri.</li>
<li>Bersikap setia kepada Tuhan. Godaan untuk mengingkari Kristus atas nama kebutuhan dan fasilitas menjadi sebuah tawaran yang sangat menggiurkan ketimbang mempertahankannya dan menghadapi banyak tekanan dan kesulitan.</li>
<li>Berpihak kepada mereka yang lemah. Seiring dengan semakin menguatnya persaingan yang membuat tiap orang memikirkan kepentingannya, maka dampaknya tidak ada tempat bagi mereka yang lemah. Posisi mereka akan semakin tertindas karena pementingan diri selalu mengorbankan mereka yang tidak berdaya.</li>
</ol>
<p>Bukankah tantangan zaman ini begitu dekat dengan segala aktivitas dan relasi kita? Bagaimana keluarga Kristen menyikapinya? Apakah kita bersikap tidak peduli dan membiarkan tantangan zaman melunturkan dan merontokkan nilai-nilai kekristenan?</p>
<p>Panitia Bulan Keluarga mengajak anggota jemaat dan simpatisan untuk bersikap aktif melawan nilai-nilai duniawi dan berpegang teguh pada nilai-nilai ilahi. Nilai-nilai itu adalah iman, harap dan kasih. Nilai inilah yang menjadi tema Bulan Keluarga: Iman, Harap, Kasih: Nilai-Nilai yang Diwariskan.</p>
<p>Diwariskan: sebagai wujud upaya keluarga melahirkan generasi demi generasi yang takut akan Tuhan. Perkembangan dunia dan tantangannya akan semakin berat dan kompleks, untuk itu ketika keluarga menanamkan nilai ilahi sejak dini, diharapkan nilai inilah yang membangun tiap umat menjadi keluarga, jemaat, bangsa yang takut akan Tuhan.</p>
<p>1 Korintus 13:13, &#8220;Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.&#8221;</p>
<p>Iman adalah sikap mengakui serta tunduk kepada kemahakuasaan Allah sekaligus mengandung unsur penyerahan diri secara penuh dan kemauan untuk menaati apa yang menjadi tuntutan dari penyerahan diri tersebut. Artinya, beriman adalah sikap mengakui, tunduk, berserah dan taat kepada Sang Khalik. Pada hakikatnya, iman adalah suatu tindakan yang melibatkan seluruh kepribadian manusia secara utuh. Iman bukan hanya soal hati tapi kesatuan totalitas keberadaan diri manusia kepada Allah.</p>
<p>Pengharapan dinyatakan dalam Ibrani 6:19-20, &#8220;Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia menurut pengertian Melkisedek, menjadi imam Besar sampai selama-lamanya.&#8221;</p>
<p>Pengharapan adalah respons dari iman kita kepada Allah. Pengharapan lebih dari sekadar sikap optimis, sebab pengharapan kita terletak pada kekuasaan Allah yang dapat mengubah kehidupan menjadi baik. Dasar pengharapan orang percaya adalah terwujudnya Kerajaan Allah di bumi seperti di surga.</p>
<p>Kasih menjadi yang utama, yang membungkus iman dan pengharapan. Iman tanpa kasih menjadi dingin dan pengharapan tanpa kasih menjadi suram. Paulus mengawali uraiannya dengan karunia tetapi semua karunia tanpa kasih, tidak mempunyai makna. Kasih adalah api yang menyalakan iman dan cahaya yang mengubah pengharapan menjadi kepastian (William Barclay).</p>
<p>Nilai iman, harap dan kasih ini menjadi sangat relevan bagi keluarga dalam menghadapi pergumulan hidup di tengah-tengah tantangan zaman. Nilai ini yang memampukan keluarga bertahan di tengah badai dengan tidak meragukan kuasa Allah. Pengharapan yang membakar kekuatan untuk bertahan dan tidak jatuh kepada keputusasaan. Kasih menyirami kehidupan dengan keteduhan, kelembutan, ketulusan dan pengorbanan. Nilai yang melebihi warisan materi, nilai yang tidak akan pudar oleh perkembangan zaman dan tidak lekang oleh waktu.</p>
<p>Kiranya melalui momen Bulan Keluarga tahun ini, tiap keluarga kembali termotivasi untuk membangun dan menumbuhkan nilai iman, harap, dan kasih sebagai nilai-nilai pendidikan dalam keluarga. Nilai-nilai yang menjadi warisan untuk menghadapi segala pergumulan keluarga di tengah dunia dengan tetap memancarkan kemuliaan Allah.</p>
<p>Bukan hanya pergumulan keluarga inti yang kita lewati dengan nilai iman, harap dan kasih, tetapi juga pergumulan keluarga jemaat Tuhan di GKI Pondok Indah. Begitu banyak upaya yang terus kita lakukan untuk mewujudkan tri-tugas panggilan gereja. Tugas ini tidak mudah, banyak hambatan dan tantangan zaman yang menghadang, tetapi hal itu tidak akan menghentikan kita untuk terus berjuang menghadirkan kemuliaan nama Allah di tengah dunia.</p>
<p>Secara khusus kita terus menggumulkan pembangunan dan program Community Center. Program yang lahir dari sebuah kerinduan untuk melayani Tuhan lebih luas lagi. GKI Pondok Indah sebagai sebuah keluarga, terpanggil untuk menunjukkan sikap kasih dengan mengembangkan sikap kepedulian kepada mereka yang lemah, mengikis keegoisan sebagai bentuk imannya kepada Allah. Amat disadari bahwa program ini adalah sebuah program besar yang sering kali memunculkan keraguan apakah semua ini dapat terwujud?</p>
<p>Untuk itu sebagai sebuah keluarga jemaat Allah, melalui momen Bulan Keluarga ini, kita diajak bergandengan tangan dalam iman, harap dan kasih untuk mewujudkan pembangunan dan program Community Center. Program Community Center adalah salah satu bentuk pelayanan keluarga jemaat Allah di GKI Pondok Indah untuk semakin menggarami dan menerangi kehidupan di dunia ini dengan nilai-nilai ilahi.</p>
<p>Kiranya nilai iman, harap, kasih adalah sebuah nilai yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, dimulai dari lingkup keluarga, jemaat dan masyarakat.</p>
<p>Pdt. Dahlia Vera Aruan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/iman-harap-kasih-nilai-nilai-yang-diwariskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?</title>
		<link>http://gkipi.org/menurut-kamu-siapakah-aku-ini/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menurut-kamu-siapakah-aku-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 15:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6474</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda mempunyai empat saudara laki-laki. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dan menikahinya. Sang pengantin wanita menjalani empat hari pertama perkawinannya untuk menyesuaikan diri. Pada hari kelima, ia memasak sepanci bubur. Sepiring bubur diberikan kepada suaminya dan empat piring bubur lainnya diantarnya kepada ipar-iparnya yang tinggal di rumah lain. Namun ipar-iparnya itu tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pemuda mempunyai empat saudara laki-laki. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dan menikahinya. Sang pengantin wanita menjalani empat hari pertama perkawinannya untuk menyesuaikan diri. Pada hari kelima, ia memasak sepanci bubur. Sepiring bubur diberikan kepada suaminya dan empat piring bubur lainnya diantarnya kepada ipar-iparnya yang tinggal di rumah lain. Namun ipar-iparnya itu tidak mau makan bubur itu, kecuali ia dapat menyebutkan nama mereka. Sayang sekali perempuan itu tidak mengenalnya. Dengan terpaksa ia membawa kembali piring-piring berisi bubur tersebut pulang ke rumahnya dan menghabiskannya bersama suaminya.</p>
<p>Keesokan harinya hal yang sama terulang kembali. Perempuan itu lalu berpikir, &#8220;Bagaimana caranya aku mengenal nama ipar-iparku, sehingga mereka mau makan buburku?&#8221; Ketika matahari terbenam, ia mengambil ubi kayu untuk ditumbuk menjadi tepung. Ia menaruh ubi kayu itu di dalam lesung, lalu menumbuknya dengan alu. Seekor burung kecil terbang dan hinggap di sebatang pohon dekat tempat itu. Burung itu mulai bernyanyi:</p>
<p>&#8220;Ipar-iparmu, tidakkah engkau mengenal nama-nama mereka? Dengar, aku akan mengatakannya kepadamu! Ditumbuknya ubi kayu! Yang satu bernama Tumba Sikundu, yang lain bernama Tumba Sikundu Muna. Yang satu lagi bernama Tumba Kaulu, yang lainnya bernama Tumba Kaulu Muna. Dengar, aku telah mengatakannya padamu.&#8221;</p>
<p>Perempuan muda itu menghempaskan alunya ke tanah. Ia memungut sebuah batu untuk menghalau burung itu. &#8220;Berisik,&#8221; katanya. Burung kecil itupun terbang. Ketika tepung itu jadi, perempuan itu membawanya masuk ke rumah dan memasaknya menjadi sepanci bubur. Setelah masak, dibawanya beberapa piring kepada ipar-iparnya. Mereka berkata, &#8220;Sebutkanlah nama-nama kami.&#8221; Perempuan itu menjawab: &#8220;Aku tidak mengenal nama-nama kalian.&#8221; Mereka pun lalu berkata, &#8220;Bawalah kembali bubur ini.&#8221; Maka ia membawa bubur itu kembali ke rumahnya untuk dimakan bersama suaminya.</p>
<p>Keesokan harinya, ia kembali ke tempat penumbukan untuk menumbuk ubi kayu. Tatkala ia mulai menumbuk, burung kecil yang sama datang lagi untuk memberitahukan hal yang sama seperti yang disampaikannya kemarin. Burung itu kembali dihalaunya. Meskipun demikian, setelah burung itu pergi, perempuan itu sadar bahwa burung itu telah memberitahukan nama-nama iparnya kepadanya. &#8220;Sekarang aku mengerti,&#8221; pikirnya.</p>
<p>Ketika tepung itu jadi, ia memasaknya menjadi sepanci bubur dan membawanya kepada ipar-iparnya. Mereka berkata, &#8220;Kami akan makan bubur ini kalau engkau dapat menyebutkan nama-nama kami.&#8221; Perempuan itu berkata, &#8220;Yang satu bernama Tumba Sikundu, yang lain bernama Tumba Sikundu Muna, yang satunya lagi bernama Tumba Kaulu, dan yang lain bernama Tumba Kaulu Muna.&#8221; Ipar-iparnya tertawa. Mereka menerima bubur itu dan memakannya. (Cerita rakyat ini disadur dari buku C.S.Song &#8220;Sebutkanlah Nama-Nama kami&#8221;–Teologi cerita dari Perspektif Asia)</p>
<p>Cerita rakyat ini menggambarkan tentang apa yang harus dilakukan seseorang ketika akan memasuki suatu babak baru dalam kehidupannya, ketika ia memutuskan untuk masuk dalam suatu situasi atau tempat dengan budaya yang berbeda. Seperti cerita di atas, sang pengantin perempuan telah masuk ke dalam keluarga suaminya. Ia bukan lagi orang luar, melainkan orang dalam karena sudah memiliki hubungan dengan anggota-anggota keluarga lainnya. Ia bukan lagi tamu, tapi sudah menjadi anggota keluarga. Ia bukan lagi orang asing, tapi sudah menjadi warga setempat.</p>
<p>&#8220;Sebutkanlah nama-nama kami!&#8221; berkaitan dengan hubungan akar-akar budaya Anda dan saya, berkaitan dengan masa depan suatu persekutuan yang diperluas, diperkaya dan diperkuat.</p>
<p>Pengantin muda yang tidak dapat menyebutkan nama ipar-iparnya itu merupakan gambaran misi Kristen yang telah mengecewakan banyak orang dengan jawabannya, &#8220;Aku tidak mengenal Islammu, Hindumu, Kejawenmu, Dayakmu, Batakmu, Sumbamu. Aku tidak mengenal sejarah atau asal muasalmu dan aku tidak merasa perlu memperhatikan hal itu. Penderitaan dan pengharapanmu, tidak kupahami. Yang penting, kalian mengerti Injil/kabar baik untuk kalian dengar, iman untuk kalian miliki, para pemikir yang melebihi guru moral kalian. Dan yang paling penting, kalian harus menerima Yesus sebagai Juru Selamat kalian, sebagaimana yang kami mengerti dari Alkitab kami dan bukan seperti yang kalian pahami dari sejarah kalian.</p>
<p>Nama kalian begitu sulit didengar apalagi diucapkan, karena itu kami tidak perlu mengenal nama-nama kalian. Nama-nama itu kedengarannya sulit, aneh dan sedikit pun tidak kristiani. Kami mempunyai nama-nama yang lebih baik untuk kalian–nama-nama Kristen. Mulai sekarang kalian akan dipanggil Charles, Helen, Robert, Mary, Thomas.&#8221;</p>
<p>Mangombe adalah sebuah nama Afrika yang berarti &#8220;seorang yang mempunyai banyak ternak.&#8221; Ketika ia menjadi Kristen, ia diberi sebuah nama &#8220;Kristen,&#8221; yaitu Charles. Tapi apakah hubungan antara &#8220;Charles&#8221; dengan &#8220;Mangombe&#8221;? Sebagai Charles, Mangombe terputus hubungannya dengan asal-usul keluarganya. Ia tersisih dari suku, bangsa dan sejarahnya. Mangombe adalah seseorang, sedang Charles bukan siapa-siapa.</p>
<p>Inikah yang dikehendaki Yesus? Bukankah dalam pelayanan-Nya, Yesus disibukkan untuk mengubah &#8220;bukan siapa-siapa&#8221; menjadi &#8220;seseorang?&#8221; Segala sesuatu yang terkait dengan perbuatan keji dan menghancurkan orang lain dicela-Nya, tetapi Ia memberikan pujian pada kebaikan yang ada di dalam diri setiap orang. Kebaikan hati orang yang tersisihkan seperti orang Samaria, dipuji dan digunakan sebagai contoh perbuatan mulia yang berkenan di hadapan Tuhan (Luk.10:30-37). Demikian juga tindakan iman orang asing (non Yahudi) dalam diri perempuan Kanaan telah mengundang decak kagum dalam diri Yesus (Mat.15:21-31)</p>
<p>Pemberontakan terhadap Kekristenan sering kali bukan pemberontakan terhadap Yesus, melainkan terhadap jenis misi Kristen yang berusaha mengubah nama-nama pribumi dengan nama-nama Kristen (baca: barat), mengganti nilai-nilai budaya lain dengan nilai-nilai budaya Kristen (baca: barat). Injil, dan terlebih-lebih Khotbah di Bukit, telah menyentuh hati banyak orang Asia: salah satu yang paling terkenal adalah hati Mahatma Gandhi.</p>
<p>Mempertemukan seseorang dengan Yesus sendiri adalah tugas utama Pekabaran Injil. Pertanyaan yang menuntut pengakuan langsung dari setiap pribadi yang berjumpa dengan Yesus adalah: &#8220;Menurut kamu, siapakah Aku ini?&#8221; Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung pada refleksi teologis seseorang yang hidup dan berada dalam suatu budaya tertentu. Misalnya bagi Petrus, Yesus adalah Mesias dari Allah (Luk.9:20). Dalam budaya Yahudi, Mesias dipahami sebagai figur penyelamat yang dinanti-nantikan kedatangan-Nya.</p>
<p>Yesus sudah mendengar berbagai jawaban dari orang banyak, tapi Ia tetap melanjutkan pertanyaan-Nya (Luk.9: 18-19), sambil menantikan jawaban yang kontekstual, relevan dan kreatif; suatu jawaban yang berakar pada pergumulan konteks lokal atau setempat, karena itu tidak akan pernah hanya ada satu teologi (teologi dari barat), melainkan banyak teologi tergantung pada konteksnya masing-masing. Kita membayangkan bahwa Yesus pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang senantiasa bertanya kepada semua orang di segala tempat, dan biarlah mereka menjawab dari dan di dalam konteks masing-masing tempat di mana mereka tinggal.</p>
<p>&#8220;Menurut kamu, siapakah Aku ini?&#8221; Yesus berharap bahwa para murid memahami makna di balik nama-Nya, mereka harus mengenali nama-Nya, sebuah nama yang menopang kebenaran dan kasih. Karena itu pesan bagi kita di bulan Budaya 2011 ini ialah agar jemaat GKI Pondok Indah tidak hanya mempunyai kemampuan untuk memberi nama, melainkan juga kemampuan untuk mengenali nama. Bukan memaksa orang lain untuk memahami pemikirannya, melainkan juga mau memahami pemikiran yang lain. Bukan hanya mau supaya orang lain mengenal dan mengakuinya, tetapi juga mau menghargai keberadaan orang yang berbeda dengannya. Bukan hanya mau orang lain mengerti budayanya, tapi juga mau mengerti kebiasaan dan budaya orang lain. Dengan demikian terciptalah budaya GKI Pondok Indah sebagai sebuah jemaat yang hidup, terbuka, partisipatif dan peduli.</p>
<p>Pdt. Tumpal Tobing</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menurut-kamu-siapakah-aku-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betapa Banyak Perbuatan-Mu, ya Tuhan</title>
		<link>http://gkipi.org/betapa-banyak-perbuatan-mu-ya-tuhan-2/</link>
		<comments>http://gkipi.org/betapa-banyak-perbuatan-mu-ya-tuhan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 14:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6046</guid>
		<description><![CDATA[(1)    Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Betapa agung Engkau, ya TUHAN Allahku! Aku memuji Tuhan karena Engkau membuat aku dapat memuji-Mu. (8)    Air mengalir melalui gunung-gunung ke dalam lembah, ke tempat yang Kausediakan baginya. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang mengalirkan air ke gunung dan ke lembah. Engkau menyediakan tempat bagi air yang mengalir itu. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>(1)    Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Betapa agung Engkau, ya TUHAN Allahku! Aku memuji Tuhan karena Engkau membuat aku dapat memuji-Mu.</p>
<p>(8)    Air mengalir melalui gunung-gunung ke dalam lembah, ke tempat yang Kausediakan baginya. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang mengalirkan air ke gunung dan ke lembah. Engkau menyediakan tempat bagi air yang mengalir itu. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang menyediakan tempat bagiku untuk hidup, bertumbuh dan disegarkan.</p>
<p>(11)    Untuk memberi minum semua binatang di ladang, dan melepaskan haus keledai-keledai hutan. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang memberi minum binatang tak bertuan. Yang menyambung nyawa melalui alam yang Kausediakan baginya. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang memberi aku makan dan minum. Sekalipun tingkap-tingkap langit tidak terbuka bagi sakuku, tetapi Engkau cukupkan aku seperti Kaucukupkan makhluk hidup lainnya yang Kauciptakan.</p>
<p>(12)    Di dekatnya burung-burung membuat sarang; mereka berkicau di antara daun-daunan. Aku memuji Tuhan karena Engkau yang memberi kemampuan alami bagi binatang-binatang ciptaan-Mu untuk membuat tempat perteduhan mereka. Bahkan Engkau menyediakan secara cuma-cuma semua yang mereka perlukan untuk membangunnya. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang menyediakan tempat bernaung bagi ciptaan-Mu, termasuk juga kami dalam keterbatasan dan kesederhanaan daya cipta kami sebagai manusia.</p>
<p>(13)     Dari langit Kauturunkan hujan di pegunungan, bumi penuh dengan hasil karya-Mu. Aku memuji Tuhan karena Engkau menurutkan hujan dengan tujuan yang baik. Hujan yang membuat bumi dapat dipenuhi hasil karya-Mu. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang menurunkan hujan bagi kami sehingga tumbuh-tumbuhan kami di sekitar pekarangan kami disegarkan secara alami.</p>
<p>(19)     Engkau membuat bulan menjadi penanda waktu, matahari tahu saat terbenamnya. Aku memuji Tuhan karena Engkau memberikan kepada semua ciptaan, waktu untuk beristirahat dalam terang cahaya-Mu, bukan dalam kegelapan sehingga kami tersesat. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang memberikan arah dalam perjalanan hidup kami sehingga kami tahu tanda-tanda di mana Kau tidak menghendaki kami untuk melaluinya.</p>
<p>(22)     Bila matahari terbit, mereka menyingkir dan berbaring di tempat persembunyiannya.</p>
<p>(23)     Lalu keluarlah manusia untuk melakukan pekerjaannya, dan terus bekerja sampai hari senja. Aku memuji Tuhan karena Engkau menyediakan penunjuk waktu bagi kami agar kami dapat bekerja, beristirahat dan berekspresi atas semua pemberian-Mu.</p>
<p>(24)     Betapa banyak karya-Mu, TUHAN, semuanya Kaujadikan dengan bijaksana; bumi penuh dengan ciptaan-Mu. Aku memuji Tuhan karena Engkau mencipta dan memberi alasan adanya semua yang Kau cipta. Aku memuji Tuhan karena Engkau jualah yang memberikan alasan, untuk apa kami hidup memenuhi bumi untuk waktu yang Kautetapkan.</p>
<p>(31)     Semoga keagungan TUHAN tetap selama-lamanya! Semoga Ia gembira dengan segala ciptaan-Nya! Aku memuji Tuhan karena Engkau dapat kami puji selamanya. Aku memuji-Mu karena kehadiran kami menggembirakan-Mu dan kami dituntun untuk membuat Engkau gembira karena kami.</p>
<p>(33)     Aku mau menyanyi bagi TUHAN selama hidupku, menyanyikan pujian bagi Allahku selama aku ada. Aku mau memuji Tuhan melalui mulut kami, kaki kami, telinga kami, mata kami, hidung kami, tangan kami, kaki kami, karya kami.</p>
<p>(35)    Biarlah orang berdosa lenyap dari muka bumi, biarlah orang jahat habis binasa. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah TUHAN! Pujilah Tuhan hai jiwaku! Pujilah Tuhan!</p></blockquote>
<p>Mazmur 104 tidak dapat dipisahkan dari rangkaian himne yang dimulai dari pasal 101. Di dalam pasal 101 dan 102 diungkapkan bahwa pemazmur sendiri adalah korban kejahatan. Itu sebabnya ia mengeluh, menderita, bahkan meratap. Tulang-tulangnya hancur remuk, hatinya (mind and heart) terpukul dan layu. Tidak ada lagi harapan hidup! Bahkan pada pasal 102 pemazmur sempat menganggap Allah kejam, menyembunyikan wajah-Nya. Lalu mengapa terjadi transformasi iman seperti di pasal 103 dan 104 sehingga ia dapat memuji Tuhan dengan segenap jiwanya?</p>
<p><strong>Pemazmur rupanya mengalami transformasi iman karena ia mengalami Allah bekerja!</strong></p>
<p>Kata “asya” dalam bahasa Ibrani berarti bekerja (works) yang membuktikan bahwa Allah masih bekerja setelah Ia mencipta. Ya, Allah tidak berhenti bekerja! Ia terus dan tetap bekerja. Di dalam pasal 104 ini, ada lima ayat dengan kata “made” dan “work,” yaitu di ayat 4, 19, 24b, 13 dan 31.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah berarti Allah bekerja mendatangkan tsunami? Banjir? Kebakaran hutan? Polusi lingkungan?</p>
<p>Menurut Mazmur 103, rupanya pekerjaan Allah bukanlah tindakan anarki. Allah tidak bekerja seenaknya! Apalagi, Allah tidak bekerja agar manusia celaka dan kena bencana! Melainkan Ia bekerja (asya) dalam rancangan: God’s saving work (dalam rancangan karya keselamatan Allah). Bukan Allah yang mengerjakan tsunami, tetapi dosa telah menyebabkan dunia ini menderita. Puji syukur bahwa Allah yang berkuasa, bekerja memulihkan, menyelamatkan, membebaskan, memberi yang baik.</p>
<p>Allah bekerja tetapi Allah juga ada. Mazmur 104 ini disebut juga “A hymn to the Creator.” Sebuah himne, pujian bagi Sang Pencipta yang ada (baca: hadir) di dalam ciptaan-Nya sampai hari ini. Allah exist, fisik-Nya tidak ada, tapi ada tanda-Nya.</p>
<p>Yang menarik, dekade ini orang sibuk meneliti tanda-tanda akhir zaman. Padahal pemazmur justru mengajak kita untuk fokus pada tanda kehadiran Allah, karena itulah yang dapat membuat kita tetap memuji Tuhan sekalipun bencana alam, kecelakaan dan hal-hal buruk terjadi silih berganti di mana-mana. Pemazmur tidak mengajak kita untuk fokus ke tanda-tanda akhir zaman yang membuat kita ketakutan, tidak bisa tidur, resah, benci, marah dan protes! Ia mengajak kita untuk fokus pada tanda kehadiran Allah, sehingga hati kita bisa diliputi pujian dan damai sejahtera. Allah tidak kelihatan tapi Allah ada: ayat 1-4 mengatakan bahwa Allah ada di surga; tapi ayat 4-13 mengatakan bahwa Allah ada di bumi.</p>
<p><strong>Mengapa pemazmur menekankan tanda kehadiran Allah?</strong></p>
<p>Dulu Allah hanya dianggap berada di bait Allah, karena itu pemazmur membuka wawasan umat Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan ada di mana-mana: di antara ciptaan-Nya dan di dalam ciptaan-Nya. Apalagi, orang Kanaan berpikir bahwa Allahnya orang Israel hanya ada di kemah (yeri’a) di bait-Nya di Yerusalem, sedangkan Baal ada di mana-mana: di angin, di badai, di hujan, di gunung. Itu sebabnya pemazmur perlu menekankan bahwa Allah hadir di mana-mana, dan tanda kehadiran-Nya adalah kestabilan (a stable world). Allah mengontrol alam, udara, api, air, langit dan bumi.</p>
<p><strong>Ada kestabilan, ada Allah.</strong></p>
<blockquote><p>Dulu air melayang-layang di udara, sekarang Allah yang membuat air mengalir ke tempatnya. Jadi stabil.<br />
Dulu gelap gulita menguasai bumi, sekarang Allah mengatur siang dan malam. Jadi stabil.<br />
Tsunami mengacau dunia, tapi kemudian Allah membawa kestabilan kembali.</p></blockquote>
<p>Pertanyaannya, mengapa pula tampaknya Allah membiarkan bencana itu terjadi kalau Allah ada dan bekerja? Allah Yahweh rupanya bukan seperti dewanya para ahli filsafat. Dunia tidak berputar secara mekanis seperti sebuah jam, sehingga manusia dan dunia ini seperti robot&#8230; baik terus. Satu-satunya yang membuat Allah tidak ada adalah dosa manusia. Dosa manusia yang membuat lingkungan menjadi kotor, dosa manusia yang mengakibatkan banjir karena sampah di mana-mana.</p>
<p>Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai orang percaya? Karena Allah senang–Allah suka. Allah suka bekerja, bahkan bekerja sampai tuntas. Ia bukan hanya sekadar mau menciptakan dunia ini, melainkan Ia mau agar kita memeliharanya sampai tuntas dan bukan sebaliknya mengotori alam ini.</p>
<p>Selamat menunjukkan kehadiran Allah dengan cara melanjutkan dan memelihara karya Allah di alam yang Tuhan sediakan buat kita. Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/betapa-banyak-perbuatan-mu-ya-tuhan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghormati Tuhan-Menghargai Sesama</title>
		<link>http://gkipi.org/menghormati-tuhan-menghargai-sesama/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menghormati-tuhan-menghargai-sesama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 10:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6057</guid>
		<description><![CDATA[1. Hari Sabtu, 9 April 2011, adalah hari yang kelam dalam perjalanan GKI Pondok Indah sebagai tubuh Kristus. Pada hari itu untuk pertama kalinya terjadi, seorang anggota jemaat GKI Pondok Indah mengacaukan dan melecehkan sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan. Begitu pendeta yang memimpin ibadah selesai mengucapkan “ayat pembukaan”, ia, bersama suaminya, masuk dari pintu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.</strong> Hari Sabtu, 9 April 2011, adalah hari yang kelam dalam perjalanan GKI Pondok Indah sebagai tubuh Kristus. Pada hari itu untuk pertama kalinya terjadi, seorang anggota jemaat GKI Pondok Indah mengacaukan dan melecehkan sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan.</p>
<p>Begitu pendeta yang memimpin ibadah selesai mengucapkan “ayat pembukaan”, ia, bersama suaminya, masuk dari pintu samping di dekat tempat duduk Majelis Jemaat, langsung menyambar mikrofon di mimbar kecil. Setelah mendapati mikrofon itu tidak bekerja, ia, bersama suaminya, berdiri di hadapan pengantin dan jemaat, berteriak-teriak sambil sesekali menuding-nuding ke pendeta yang berdiri di belakang mimbar. Tidak terlalu jelas apa sebenarnya maksud perbuatannya ini. Setidaknya dengan cara ini ia menyatakan kembali, –beberapa bulan terakhir ini ia telah bebeberapa kali mengutarakannya dengan cara lain,– ketidaksetujuannya atas pernikahan yang terjadi saat itu.</p>
<p>Sempat terjadi kekacauan kecil waktu itu. Seorang penatua berusaha menghentikan si anggota jemaat dengan menariknya. Sang suami menghalangi upaya si penatua itu, sementara seorang penatua lain berusaha menenangkannya. Dan beberapa penatua lain berjaga-jaga di dekat pengantin. Akhirnya setelah beberapa saat, sang anggota jemaat bersama suaminya keluar gedung gereja melalui pintu utama, menaiki mobil yang sudah siap menantikan mereka dan langsung pergi. Rupanya tindakan sang anggota jemaat itu sudah direncanakan dengan lumayan rapi.</p>
<p>Ada beberapa orang yang mengomentari kejadian itu sebagai sesuatu yang biasa terjadi di gereja tertentu. Barangkali memang demikian halnya. Tetapi peristiwa ini terjadi di gereja kita, GKI, tepatnya di jemaat kita, GKI Pondok Indah. Dalam bahasa Belanda ada ungkapan yang amat tepat untuk ini: “Zo zijn onze manieren niet!” (“Ini tidak sesuai dengan tata sopan-santun kita!”). Dan memang tindakan sang anggota jemaat bukanlah sesuatu yang lazim dilakukan dalam persekutuan orang percaya yang kita sebut sebagai jemaat Tuhan, tubuh Kristus. Namun menurut hemat saya, ini bukan cuma masalah etiket bergereja atau berjemaat.</p>
<p><strong>2.</strong> Hampir setiap hari Minggu pagi terjadi perdebatan seru di rumah kami, antara istri saya dan anak kami. Pasalnya adalah soal pakaian yang dipandang pantas untuk menghadiri kebaktian remaja. Anak saya berpendapat bahwa memakai celana panjang jin dan kemeja, bukan t-shirt, sudahlah amat baik. Tetapi istri saya berkeras bahwa pakaian yang patut untuk menghadiri kebaktian Minggu adalah rok. Dan ini belum mempersoalkan jenis sepatu yang juga sebaiknya dipakai.</p>
<p>Ini mirip dengan perdebatan kecil yang terkadang terjadi antara Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, yang diwakili beberapa penatua perempuan, dengan para katekisan perempuan yang hendak dibaptis dan mengaku percaya. Beberapa katekisan, terutama yang muda, berpendapat bahwa  celana panjang dan blus, atau rok terusan berwarna gelap, sudahlah amat pantas bagi mereka yang menerima baptisan atau mengaku percaya. Tetapi para penatua perempuan, sebagaimana kebiasaan di GKI Pondok Indah, menegaskan bahwa pakaian yang patut dipakai oleh mereka adalah rok terusan berwarna putih, dan sedapatnya dengan sepatu putih juga atau hitam. Dan tentunya perdebatan kecil yang sama terjadi dengan para katekisan laki-laki, yang amat gemar berpakaian tidak formal, atau santai.</p>
<p>Namun ini bukan sekadar soal pakaian yang pantas atau tidak, atau bahkan masalah kebiasaan yang tepat atau tidak. Tetapi di baliknya terdapat sesuatu yang jauh lebih serius yaitu sikap terhadap ibadah itu sendiri, yang antara lain (dapat) ditunjukkan melalui etiket berpakaian atau yang kerap kita kenal dengan dress code. Etiket berpakaian memang tidak dapat digunakan sebagai ukuran mutlak sikap terhadap ibadah. Tetapi cara berpakaian banyak orang akhir-akhir ini, yang terkadang pula ditunjukkan oleh beberapa pengunjung kebaktian Minggu, juga di GKI Pondok Indah, cukup memrihatinkan.</p>
<p>Bila seseorang diundang untuk ke sebuah pesta pernikahan, lazimnya ia akan berusaha untuk berpakaian sebaik mungkin. Bukan hanya demi dirinya sendiri. Tetapi demi menghormati si pengundang yang telah menghargainya dengan mengundangnya ke pesta itu. Begitu pun bila misalnya seseorang diundang untuk menghadiri sebuah resepsi oleh perusahaan tempatnya bekerja, untuk menyambut kedatangan presiden direktur dari kantor pusat di luar negeri. Lazimnya untuk itu ditetapkan dress code tertentu, misalnya laki-laki diharapkan memakai jas dan dasi, dan perempuan memakai long dress. Bukan sekadar demi kerapian dan ketertiban resepsi, tetapi demi menghormati sang presiden direktur. Oleh karena itu bisa pula dibayangkan bagaimana bila seseorang diundang untuk menghadiri audiensi dengan menteri atau bahkan presiden.</p>
<p>Namun anehnya, sikap serupa tidak terlalu tampak dalam etiket berpakaian ketika menghadiri ibadah. Dalam hal ini mungkin saya termasuk ke dalam kelompok tradisional. Kalau saya ke pesta atau resepsi resmi mesti rapi, maka menghadiri ibadah pun setidaknya juga mesti demikian. Tetapi pendapat dan selera setiap orang tentang ini bisa saja berbeda. Belum lagi bila kita mempertimbangkan hak setiap orang untuk memutuskan sendiri caranya berpakaian.</p>
<p>Lalu perlukah gereja/jemaat menetapkan  dress code untuk ibadah (Minggu)? Menurut hemat saya tidak. Sebagaimana yang berlaku dalam khidupan kita dengan Tuhan, pada hakikatnya kita mengamini,–setidaknya di gereja kita, GKI,– bahwa tidak ada “aturan baku” dari apa yang boleh/pantas atau tidak dilakukan. Yang ada adalah prinsip dasarnya, yaitu bagaimana relasi kita dengan Tuhan, dan dengan sesama kita.</p>
<p>Maka sebagai orang-orang percaya yang “dewasa”, kita mestinya dapat menerjemahkan sendiri prinsip dasar itu ke dalam berbagai pertimbangan, keputusan dan tindakan, termasuk etiket berpakaian. Begitu pun, berkaitan dengan insiden yang menyedihkan di atas, jemaat kita tidak perlu menetapkan sikap atau tindakan apa yang boleh/pantas atau tidak dilakukan di tengah ibadah. Masalah utamanya lalu adalah sikap terhadap ibadah dalam terang relasi kita dengan Tuhan dan dengan sesama.</p>
<p><strong>3.</strong> Ada banyak kisah dan contoh di dalam Alkitab yang dapat kita jadikan dasar untuk merefleksikan  sikap kita sebagai orang percaya terhadap ibadah. Saya memilih sebuah peristiwa yang penting dalam sejarah ibadah Israel, dalam 2 Tawarikh 5-7.</p>
<p>Dalam teks di atas dikisahkan betapa Bait Allah telah usai dibangun. Dan umat Allah tiba-tiba dihadapkan pada sebuah momen perubahan yang tak dapat lagi diputar balik. Mereka tiba  di ambang era yang baru, khususnya dalam hidup peribadahan. Salomo mengumpulkan para tua-tua Israel, pemimpin suku dan seluruh kepala kaum, seluruh wakil umat Allah. Tabernakel dibawa masuk ke tempatnya yang khusus dalam ruang maha suci. Para pemusik dan pujian memimpin umat memuji dan memuliakan Tuhan, menyanyikan mazmur.</p>
<p>Lebih daripada biasanya, ibadah kepada Allah saat itu menjadi begitu mengesankan dan indah. Bukan hanya karena dentingan berbagai alat musik dan nyanyian yang dilantunkan, tetapi karena bertambah panjangnya daftar anugerah Tuhan yang mereka terima dan alami sebagai umat-Nya. Memang hakikat ibadah adalah pengucapan syukur dan pujian atas Tuhan, yang kasih setia-Nya tak pernah lekang oleh apa pun. Dan bukan sekadar upacara peresmian Bait Allah, yang pada akhirnya dapat saja bergeser menjadi upacara pemuliaan Salomo, yang paling berjasa dalam perjuangan menuntaskan pembangunannya.</p>
<p>Ibadah Israel, yang diilhami oleh ibadah-ibadah suku dan religi setempat, sejak awalnya sudah secara mendasar berbeda dari sumbernya. Ia adalah ibadah yang tidak pernah berpusat pada umat, kebutuhan, maupun dambaan mereka. Tetapi ibadah yang sungguh-sungguh ditujukan kepada Tuhan yang maha baik, dan yang kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Ibadah yang pada hakikatnya adalah perjumpaan umat dengan Tuhan, mensyukuri kehadiran-Nya dalam segala aspek kehidupan, serta memuji Nama-Nya.</p>
<p>Yang juga amat menarik untuk dicermati adalah refleksi Salomo dalam ibadah syukur seusai pembangunan itu. Dengan rendah hati ia menyatakan bahwa ia hanya dapat menyelesaikan pembangunan ini berkat segala upaya yang sudah dilakukan mendiang ayahnya, Daud. Tetapi lebih mendasar lagi ditegaskannya bahwa betapa pun megah dan indahnya “rumah” yang dibangun dan dikhususkannya bagi Allah itu, belum tentu akan berkenan di mata Allah. Maka dengan tulus, bersama segenap umat Israel, Salomo memohon kepada Allah untuk berkenan menempatinya, dan berdiam di antara umat dan hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Begitu pun mestinya ibadah kita saat ini. Ibadah yang adalah manifestasi dari umat (baca: segenap jemaat) yang, walau sebenarnya tidak layak, diperkenankan datang kepada Tuhan. Ibadah yang oleh karena itu, tidak pernah boleh berpusat pada diri seseorang atau beberapa orang, bahkan juga tidak berpusat pada jemaat itu sendiri sebagai entitas, melainkan hanya pada Tuhan. Ibadah adalah perjumpaan antara Tuhan dengan jemaat-Nya. Apa pun bentuk dan motivasi ibadah itu, ia tidak pernah boleh menjadi ajang, atau bahkan alat, untuk kepentingan atau apa pun yang lain. Sebab apabila itu terjadi, maka itu berarti tidak adanya respek terhadap Tuhan dan jemaat-Nya.</p>
<p>Sikap Salomo yang rendah hati, yang menyadari sepenuhnya siapa dirinya di hadapan Tuhan, yang dalam relasinya dengan Tuhan tidak pernah menganggap bahwa dirinya sendiri di atas umat, adalah sikap yang setidaknya telah membuat Allah berkenan tinggal di Bait Allah yang dibangun bagi-Nya. Sikap yang mestinya juga menjadi sikap mendasar kita terhadap segala bentuk ibadah kita, khususnya di sini, di gereja kita, GKI, di jemaat kita, GKI Pondok Indah. Sikap menghormati Tuhan dan menghargai sesama orang percaya.</p>
<p><strong>4.</strong> Bagi saya, tetap saja tidak jelas maksud si anggota jemaat di atas, yang bersama suaminya telah mengacaukan dan melecehkan sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan. Apakah dengan itu ia bermaksud menggagalkan pernikahan yang tidak disetujuinya itu? Atau barangkali ia ingin agar pendapatnya, yang walau berkali-kali telah diutarakannya dengan berbagai cara, didengar dengan baik oleh segenap jemaat dan Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, warga jemaat gereja lain yang juga hadir saat itu, serta segenap keluarga mempelai? Ataukah ia sekadar ingin memuaskan dirinya sendiri? Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.</p>
<p>Tetapi kenyataan bahwa anggota jemaat itu telah begitu sampai hati untuk melakukannya, kiranya ini menjadi pokok refleksi yang penting dari kita semua, warga jemaat Tuhan, khususnya di GKI Pondok Indah. Refleksi atas sikap yang patut terhadap ibadah, serta atas sikap menghormati Tuhan dan menghargai sesama orang percaya.</p>
<p><strong>5.</strong> “Being brilliant is no great feat if you respect nothing.” (Goethe)</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menghormati-tuhan-menghargai-sesama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lihatlah Manusia itu</title>
		<link>http://gkipi.org/lihatlah-manusia-itu/</link>
		<comments>http://gkipi.org/lihatlah-manusia-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 02:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5647</guid>
		<description><![CDATA[‘Menjadi manusia’ adalah pergumulan umat manusia sepanjang sejarahnya. Dosa memang sudah menyeret manusia dari kemanusiaannya. Lihatlah, Kain membunuh adiknya Habel. Sejak saat itu, wajah kemanusiaan semakin bengis. Lamekh membunuh seorang muda karena memukulnya. Pembalasan buat Lamekh haruslah tujuh puluh tujuh kali lipat! (Kej. 4:23-24). Tetapi ‘Sang Manusia itu’, Yesus Kristus, mengajarkan sebaliknya. Alih-alih membalas, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>‘Menjadi manusia’ adalah pergumulan umat manusia sepanjang sejarahnya. Dosa memang sudah menyeret manusia dari kemanusiaannya. Lihatlah, Kain membunuh adiknya Habel.<br />
Sejak saat itu, wajah kemanusiaan semakin bengis. Lamekh membunuh seorang muda karena memukulnya. Pembalasan buat Lamekh haruslah tujuh puluh tujuh kali lipat! (Kej. 4:23-24).</p>
<p>Tetapi ‘Sang Manusia itu’, Yesus Kristus, mengajarkan sebaliknya. Alih-alih membalas, kita malahan diajar untuk mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali! (Mat. 18:21-22). Ketika Lamekh membawa kita semakin jauh dari kemanusiaan, maka Yesus menarik kita balik pada kemanusiaan.</p>
<p>Apakah berarti persoalan ‘menjadi manusia’ lalu selesai? O, tidak! Bahkan ‘Sang Manusia itu’ menjadi korban kebiadaban sesamanya.</p>
<p>Pilatus mencoba untuk ‘menyentuh kemanusiaan’ orang banyak. Ia menampilkan Yesus dengan wajah yang memelas. Mahkota duri dan luka sesahan mengalirkan rona merah di wajah dan tubuh-Nya. “Lihatlah Manusia itu!” Para pemuka agama dan penjaga melihat-Nya. Maka berteriaklah mereka dalam kebencian: “Salibkan Dia!” (Yoh. 19:5-6). Agama dengan para pemukanya, yang diharapkan membawa manusia kepada kemanusiaannya, malahan tampil dalam wajah bengis dan brutal. Bukankah sampai sekarang hal semacam itu masih terjadi di sekitar kita? Bagaimana dengan Pilatus? Sang pemimpin pun cuci tangan atas kebrutalan dan kebengisan yang terjadi. Ia harus tetap tampil suci.</p>
<p>Pencitraan pemimpin memang harus seperti itu. Tetapi di tangannya mengalir darah ‘Sang Manusia itu’.</p>
<p>“Lihatlah Manusia itu!” Sang Manusia itu, tidak pernah berhenti untuk membawa manusia pada kemanusiaannya. Di puncak derita-Nya, Ia menitipkan ibu-Nya pada Yohanes. Ia mengajarkan manusia untuk menerima sesamanya (Yoh. 19:25-27). Di kayu salib, Sang Manusia itu mengakhiri hidupnya. Alam semesta gelap pekat. Iblis pun tertawa. Angkara murka merajalela. Tetapi tiga hari kemudian, Sang Manusia itu bangkit dari kematian-Nya. Ia menang! Dan karena itu, manusia selalu mendapat jalan untuk kembali pada kemanusiaannya.</p>
<p>“Lihatlah Manusia itu!” Sang Manusia itu adalah contoh teladan kemanusiaan kita. Ketika kita tidak dapat lagi menemukan teladan kemanusiaan bahkan dalam wajah agama dan para tokohnya. Ketika para pemimpin tidak mampu membawa kita kembali pada kemanusiaan, maka kita diajak untuk melihat sekali lagi kepada Sang Manusia itu! Ialah teladan sempurna kemanusiaan kita. Dalam Dia, kita kembali belajar menerima sesama. Dalam Dia kita kembali belajar apa artinya maaf dan pengampunan. Dalam Dia kita kembali belajar mengasihi dengan kasih sejati. Semoga Paskah tahun ini, membawa kita kembali pada wajah kemanusiaan sejati. Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Rudianto Djajakartika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/lihatlah-manusia-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Murid Kristus</title>
		<link>http://gkipi.org/menjadi-murid-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menjadi-murid-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 02:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5338</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum murid berarti orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Apabila orang tua menyekolahkan anaknya dalam pembelajaran atau pendidikan yang berkualitas, tentu bukan bertujuan untuk menyombongkan kemampuan materi atau kehebatan anaknya, tapi bertujuan mencerdaskan anaknya dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan. Dalam pengertian Alkitab murid tidak hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum murid berarti orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Apabila orang tua menyekolahkan anaknya dalam pembelajaran atau pendidikan yang berkualitas, tentu bukan bertujuan untuk menyombongkan kemampuan materi atau kehebatan anaknya, tapi bertujuan mencerdaskan anaknya dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan.</p>
<p>Dalam pengertian Alkitab murid tidak hanya berarti orang yang belajar, tapi juga menjadi pengikut yang mengabdikan diri pada guru/pembimbingnya. Dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat contoh pemuridan, seperti: Yosua menjadi pengikut dan penerus Musa, Elisa menjadi pengikut dan penerus Elia, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam Perjanjian Baru: Yohanes dengan murid-muridnya, Yesus Kristus dengan ke-12 murid-Nya, serta Paulus dengan Timotius, Titus, dan lain sebagainya. Dengan demikian pengertian murid Kristus adalah orang-orang percaya yang mau belajar tentang segala ajaran Kristus dan mengabdikan dirinya hidup mengikuti Kristus.</p>
<p>Namun tidak semua orang percaya bersedia menjadi murid Kristus. Mengapa? Karena mereka enggan untuk mempelajari dan melaksanakan setiap ajaran Kristus dalam hidup mereka. Bila kita telah mengaku diri sebagai murid Kristus, apakah kita sudah benar-benar mempelajari dan melaksanakan ajaran Kristus dalam hidup kita sehari-hari? Kiranya pertanyaan ini menjadi intropeksi diri kita masing-masing. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul: Apakah tujuan kita belajar menjadi murid Kristus? Dan bagaimana menjadi murid Kristus? Mari kita renungkan bersama.</p>
<p>Dalam perenungan saya, tujuan kita belajar menjadi murid Kristus adalah agar kita dapat menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus merupakan kehendak Allah atas orang-orang yang menjadi murid Kristus. Pernyataan ini sesuai dengan Roma 8:29: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Menjadi serupa dengan Kristus bukan artinya kita memiliki keilahian Kristus, tapi kita mengikuti jejak kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan-Nya, Kristus telah merendahkan diri, taat dan setia kepada Allah Bapa dalam menunaikan misi penyelamatan bagi umat manusia. Demikian juga kita perlu rendah hati, taat dan setia pada Kristus Yesus dalam mempertanggung jawabkan hidup ini sesuai kehendak-Nya. Bagaimana kita bisa demikian? Kita perlu memelihara persekutuan yang erat dengan Allah, senantiasa berhikmat pada ajaran Kristus, serta memberi diri hidup dalam tuntunan Roh Kudus.</p>
<p>Bagaimana kita dapat menjadi murid Kristus? Matius 16:24 menjelaskan 3 langkah kepada kita, yaitu: “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut Kristus”.</p>
<p><strong>a.    Menyangkal Diri</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Menyangkal diri bukan berarti menghilangkan eksistensi dan makna diri dalam hidupnya. Menyangkal diri adalah tidak menempatkan diri sebagai pusat hidupnya, tapi menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Orang yang menyangkal diri memahami hidup sebagai kasih karunia Kristus yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Orang yang menyangkal diri akan berkata: “Bukan kehendakku, ya Bapa, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Contoh penyangkalan diri dapat kita lihat dari hidup rasul Paulus, yang dalam surat-suratnya menyatakan bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Dalam Roma 14:8, Paulus berkata:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">Apabila kita senantiasa belajar menyangkal diri, kita akan dapat menjadi murid Kristus yang menempatkan kehendak Kristus sebagai dasar dan pedoman setiap rencana dan langkah hidup kita. Orang yang dapat menyangkal diri juga tidak menganggap diri dan kepentingannya sebagai yang utama, tetapi ia dapat bersikap rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain. Ini yang dimaksudkan Paulus dalam Filipi 2:3. Dengan demikian sebagai murid Kristus, kita tidak hanya menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya, tapi juga senantiasa rendah hati dan peduli pada kepentingan orang lain. Inilah eksistensi dan makna hidup seorang murid Kristus di tengah kehidupan ini.</p>
<p><strong>b.    Memikul Salib</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Langkah berikutnya menjadi murid Kristus adalah bersedia memikul salib. Pada masa Yesus, salib merupakan hukuman yang paling hina dan menderita diberikan pengadilan Romawi kepada orang yang terbukti melakukan pelanggaran dan dosa besar. Sebenarnya Yesus tidak pernah melakukan pelanggaran dan dosa apa pun, tetapi Ia memberi diri disalibkan untuk menggenapi misi Allah menyelamatkan umat manusia dari dosa dan maut. Karena itu makna salib adalah ketaatan Kristus pada Allah dan wujud nyata kasih-Nya pada umat manusia. Hal ini ditegaskan Paulus dalam Filipi 2:6-8: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Seorang teolog Jepang, Kosuke Koyama pernah bertanya: “Kenapa orang Kristen harus memikul salib? Mengapa lambang orang Kristen adalah salib? Mengapa bukan rantang yang berisi makanan bergizi dan memiliki gagang sehingga mudah menentengnya?” Pertanyaan Kosuke Koyama ini membantu kita memahami salib bukan sebagai hal yang menyenangkan atau membanggakan, tetapi salib adalah harga yang harus kita bayar sebagai murid Kristus. Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1 Petrus 4:12-14).</p>
<p><strong>c.    Mengikut Kristus</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Mengikut Kristus artinya setia mengikuti Kristus dan taat melaksanakan segala firman-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama (Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes) untuk menjadi murid Kristus, mereka meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka, dan mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Dari peristiwa ini kita belajar komitmen mengikuti panggilan Kristus, dan taat melaksanakan segala firman-Nya dalam hidup kita.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Ketika berada di antara kerumunan orang-orang, seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus menjawab: ”Serigala mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini menjadi suatu pernyataan bahwa sebenarnya Yesus tidak mendapat tempat di hati orang Farisi itu. Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang Farisi yang sulit meninggalkan segala reputasi dan otoritasnya yang besar dalam sistem agama Yahudi. Saat ini pergumulan seperti orang Farisi itu cenderung dialami orang Kristen.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Mengikut Kristus adalah mengutamakan Kristus di atas segalanya, bukan menempatkan Kristus di bawah kepentingan yang lain. Bila kita mau mengikut Kristus, kita perlu taat melaksanakan ajaran Kristus dan mempersaksikan kebenaran Kristus kepada sesama melalui setiap perkataan, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Hal utama yang perlu kita laksanakan sebagai murid Kristus adalah meneladani gaya hidup Kristus untuk hidup saling mengasihi dengan sesama (Yoh. 13:34-35). Dengan kita hidup saling mengasihi, kita turut mewujudnyatakan misi Kristus dalam menghadirkan kasih dan damai sejahtera bagi dunia.</p>
<p>Menjadi murid Kristus bukan suatu prestasi untuk menunjukkan kehebatan dan kemampuan kita melaksanakan semua ajaran Kristen/gereja. Menjadi murid Kristus adalah suatu pembelajaran kita dapat terus mengenal Kristus, memberi diri dituntun oleh Roh Kudus, serta taat melaksanakan setiap ajaran-Nya. Matius 16:24 (menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus) menjelaskan secara sederhana bagaimana kita dapat terus diproses dan diperlengkapi menjadi murid Kristus. Bila kita senantiasa berusaha menjadi murid Kristus, maka sebenarnya kita turut mewujudkan kehendak Allah agar kita hidup serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Semoga Kristus senantiasa menyertai langkah hidup kita.</p>
<p>Albert A. Pandiangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menjadi-murid-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penatua yang Punya Pendirian</title>
		<link>http://gkipi.org/penatua-yang-punya-pendirian/</link>
		<comments>http://gkipi.org/penatua-yang-punya-pendirian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 04:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5328</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kwartal akhir tahun 1983 saya diundang oleh GKI Malang untuk datang berkhotbah di jemaat GKI Malang, serta untuk berbincang-bincang dengan Majelis Jemaat dan Komisi-komisi di sekitar rencana pemanggilan saya untuk menjadi pendeta GKI Malang. Dari Jakarta, saya naik bis malam ke Surabaya menjenguk dua orang teman baik saya, Pdt. Agus Susanto yang waktu itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kwartal akhir tahun 1983 saya diundang oleh GKI Malang untuk datang berkhotbah di jemaat GKI Malang, serta untuk berbincang-bincang dengan Majelis Jemaat dan Komisi-komisi di sekitar rencana pemanggilan saya untuk menjadi pendeta GKI Malang. Dari Jakarta, saya naik bis malam ke Surabaya menjenguk dua orang teman baik saya, Pdt. Agus Susanto yang waktu itu melayani jemaat GKI Diponegoro dan Pdt. Andreas Agus Susanto yang melayani GKI Residen Sudirman di Surabaya. Dengan mereka berdua dan teman-teman pendeta lain di Surabaya, saya bercakap-cakap tentang jemaat dan Majelis jemaat GKI Malang, yang nyaris tidak saya kenal, kecuali salah satu pendetanya, yaitu Pdt. B.A. Abednego. Keesokan paginya baru saya naik bis ke Malang.</p>
<p>Pada surat undangan tertera bahwa saya diinapkan di jalan Merapi, di rumah keluarga Penatua Hadi Gunawan. Turun di terminal saya naik becak. Perjalanan yang berlangsung sekitar seperempat jam, saya gunakan untuk menyerap suasana kota Malang yang saat itu pertama kali saya kunjungi.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ini jalan apa Pak?” tanya saya kepada pengemudi becak.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Jalan Celaket&#8230; tadi Glintung, dan kalau diteruskan sesudah lampu merah di depan itu, namanya ganti jadi Kayu Tangan&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh&#8230;” desah saya tidak terlalu mengerti.</p>
<p>Di lampu merah yang disebutkan sang pengemudi becak kami belok kanan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kalau ini jalan apa?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oro-oro Dowo&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kok tulisannya lain&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Itu nama yang baru&#8230; saya hapalnya nama yang lama.”</p>
<p>Di Oro-oro Dowo hanya sejenak lalu belok kiri agak menanjak menyusuri jalan Buring. Maka mulailah saya memasuki kawasan yang dikenal di Malang sebagai daerah gunung-gunung yang elit. Banyak rumah dengan gaya kolonial masih tegak dan megah berdiri, tidak kalah dibandingkan dengan rumah-rumah moderen. Setelah menyusuri jalan Buring beberapa saat, akhirnya kami berbelok kiri masuk ke jalan Merapi. Kami lalu berhenti di depan rumah keluarga Hadi Gunawan.  Sebuah bangunan lama, dengan gaya kolonial, putih bersih, apik dan asri. Saya amat menyukainya.</p>
<p>Pembantu yang membukakan pintu mempersilakan saya masuk ke ruang tamu yang amat bersih dan teratur rapi, dengan perabot yang tua tetapi kokoh dan indah. Seraya menyuguhkan minum dan kue-kue, sang pembantu memberitahukan bahwa Bapak dan Ibu sedang ke Surabaya, sehingga saya akan dijemput untuk diantar ke rumah penatua Indra dan menginap di sana. Bapak Hadi Gunawan akan mengunjungi saya nanti malam bersama beberapa penatua yang lain.</p>
<p>Malamnya tiga penatua, termasuk Pak Hadi Gunawan yang menjabat sebagai Ketua Bidang Penatalayanan, beserta Pdt. Abednego, datang mengunjungi saya untuk mempersiapkan pertemuan esok malamnya dengan para penatua, aktivis dan wakil anggota jemaat. Penatua Hadi Gunawan menjabat tangan saya dengan kuat, sambil tersenyum simpul beliau memperkenalkan diri.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat datang di kota Malang Saudara Purboyo&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Terima kasih, Pak.”</p>
<p>Penatua Indra beserta istri menyambut para tamu, dan secara khusus menyalami Pak Hadi Gunawan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Selamat malam Oom&#8230; Nggak capek habis dari Surabaya?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ah sudah biasa kok. Apalagi menyambut tamu penting dari Jakarta ini&#8230;”</p>
<p>Sejak saat itu sayapun memanggil Penatua Hadi Gunawan dengan “Oom”, karena memang usianya lebih tua ketimbang ayah saya. Namun saya tidak pernah bisa merasa akrab dengan beliau. Karena beliau adalah sosok yang sangat serius bahkan cenderung kaku, walau senyum simpulnya jarang meninggalkan wajahnya. Tetapi terkadang di saat tak terduga beliau bisa berkelakar, dan saya biasanya terlambat memahaminya. Pada suatu saat seusai sebuah kebaktian rumah tangga, beliau bertanya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Pak Pur mau pulang atau mau ke gereja&#8230; he he he&#8230;?”</p>
<p>Saya sempat terdiam tidak mengerti, lalu setelah sesaat baru saya tersenyum lebar. Di Malang kami memang menempati pastori yang terletak tepat di belakang gedung gereja, sehingga pulang berarti juga ke gereja.</p>
<p>Penatua Hadi Gunawan juga adalah seorang yang sangat berprinsip. Beliau selalu berpegang pada Tata Gereja, keputusan Rapat Majelis Jemaat dan prinsip kepantasan dalam kehidupan bergereja. Misalnya saja, sejak saya ditahbiskan menjadi pendeta, beliau mengubah sapaannya terhadap saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Pak Pur&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kok ‘pak’, Oom&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kan sekarang sudah pendeta&#8230; Malahan kalau setia dengan tradisi GKI Malang, mestinya saya panggil Pak Pur dengan ‘Do’&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ya ‘Do’, kependekan dari ‘Dominee’ dalam bahasa Belanda yang berarti pendeta&#8230; Oke Do&#8230;?”</p>
<p>Namun di rapat Majelis Jemaat lain lagi ceritanya. Dalam rapat Penatua Hadi Gunawan adalah seseorang yang amat jelas dan tegas berpendirian. Beberapa teman pendeta di Surabaya menyebutkan namanya di antara beberapa anggota Majelis Jemaat yang keras dan sulit, yang kerap menentukan suasana dan arah rapat Majelis Jemaat GKI Malang. Dan memang tidak jarang kami bersilang pendapat bahkan bertabrakan dengan keras.</p>
<p>Namun beliau tidak pernah membawa perbedaan pendapat dalam rapat ke ranah relasi pribadi. Bahkan pernah setelah malam sebelumnya kami berdua beradu argumentasi sehingga muka kami masing-masing menjadi merah, keesokan paginya beliau mengunjungi saya di rumah. Saya menyambut beliau dengan sedikit bertanya-tanya apakah beliau hendak melanjutkan percakapan alot kami sebelumnya. Namun selama lebih dari setengah jam kami hanya bercakap-cakap tentang hal-hal yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kemajelisan. Baru ketika beliau berpamitan dan saya menghantarnya di pintu, beliau tersenyum simpul dan berkata:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do&#8230; saya cocok dengan Do&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oh&#8230;?”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do benar-benar pendeta GKI&#8230; Selamat pagi.”</p>
<p>Saya mengangguk-angguk walau kurang mengerti. Tetapi setidaknya itulah barangkali cara beliau untuk mengatakan bahwa di antara kami tidak ada masalah walau kami kerap berbeda pendapat. Dan tidak hanya sampai di situ kebesaran jiwa beliau.</p>
<p>Pernah pada suatu kali, sebagai ketua Bidang Penatalayanan, beliau memutuskan untuk menebang sekitar lima batang pohon palem raja di halaman gereja, demi memudahkan anggota jemaat memarkir mobil mereka. Saya amat suka dan bangga dengan pohon-pohon palem itu. Lagipula beliau sama sekali tidak berunding dahulu dengan anggota Majelis Jemaat yang lain, atau setidaknya dengan Badan Pimpinan Harian.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oom&#8230; butuh puluhan tahun sehingga palem-palem itu begini besar. Dan Oom hanya membutuhkan beberapa jam untuk membunuh mereka&#8230;!” tegur saya dengan marah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do&#8230; saya melakukannya demi kepentingan jemaat, bukan kepentingan saya&#8230;!” jawab beliau, juga dengan nada tinggi.</p>
<p>Saya terdiam dan dalam hati membenarkannya. Namun saya masih merasa sayang dengan pohon-pohon palem yang indah itu. Lagipula saya agak jengkel dengan keputusannya untuk menebangi pohon-pohon palem itu tanpa berunding dengan Majelis Jemaat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Begini Oom&#8230; Kalau sebelumnya Oom mengajukan ini dalam rapat majelis Jemaat atau merundingkannya dengan Badan Pimpinan Harian, maka saya akan mengerti, walau saya tetap amat menyayangkannya. Tetapi sekarang, protes atau argumentasi apapun tidak ada gunanya&#8230; Pohon-pohon yang indah ini sudah Oom tebang&#8230;!”</p>
<p>Oom Hadi Gunawan terdiam dan menghela napas dalam-dalam beberapa kali. Kelihatan betapa beliau berusaha untuk mengendalikan emosinya. Akhirnya dengan mengangguk-angguk beliau mengulurkan tangannya kepada saya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do benar&#8230; seharusnya saya mengkonsultasikannya dulu dengan Majelis Jemaat. Saya minta maaf&#8230;”</p>
<p>Saya menjabat tangan Oom Hadi Gunawan dengan erat dan dengan terharu. Di tempatnya, saya belum tentu dapat melakukan apa yang ditunjukkan beliau kepada saya yang jauh lebih muda daripadanya. Sesudah insiden itu Oom Hadi Gunawan berusaha sebisanya untuk menjadikan halaman gereja tetap hijau walau tak ada lagi pohon-pohon palem yang indah itu. Dan sejak saat itu hampir selalu beliau mengajak saya berunding tentang rencana-rencana beliau di sekitar sarana dan prasarana gereja serta banyak hal lainnya. Dan saya berkesempatan untuk mengenal beliau dengan lebih baik.</p>
<p>Di tengah kesibukan beliau di pabrik permen yang dimiliki dan dipimpinnya, Oom Hadi Gunawan hampir setiap hari mampir ke gereja. Sekali dalam beberapa bulan beliau mampir ke pastori-pastori empat pendeta dengan menaiki jip Toyota hardtop abu-abu kesayangannya, untuk memeriksa apakah semuanya dalam keadaan baik. Saya teringat kepada keadaan rumah beliau yang juga sangat rapi dan terpelihara. Rupanya itulah juga yang diupayakannya pada seluruh aset GKI Malang, yang terbaik.</p>
<p>Beliau juga selalu bersedia bila saya ajak mengunjungi anggota jemaat yang sakit di luar kota. Terutama bila ke Surabaya beliau hampir pasti turut karena pulangnya beliau bisa mampir sebentar menengok putri beliau dan keluarganya yang tinggal di bilangan Rungkut. Dalam perundingan-perundingan kerjasama antara GKI Malang dengan Gereja Kristen Tuhan dan gereja-gereja lain, beliau selalu bersedia dilibatkan. Motivasi beliau amatlah gamblang: yang terbaik bagi gereja Tuhan, khususnya GKI Malang. Itu pula sebabnya mengapa beliau sempat ragu bahkan skeptis atas rencana mengembangkan GKI Malang menjadi GKI Tumapel dan GKI Bromo. Tetapi begitu Majelis Jemaat memutuskannya, beliau menerimanya dan turut mewujudkannya.</p>
<p>Teman-teman pendeta di GKI Jatim terkadang menanyakan apakah saya mengalami kesulitan dalam pelayanan bersama para penatua yang “sulit”, termasuk Oom Hadi Gunawan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Ah&#8230;. memang mula-mula agak kaget, tetapi lama-lama kami saling menyesuaikan diri dan belajar&#8230;” jawab saya dengan jujur.</p>
<p>Dan memang dari Oom Hadi Gunawan saya banyak belajar. Mengenai GKI Malang dengan segala latar belakangnya. Mengenai pelayanan Majelis Jemaat pada umumnya dan pelayanan seorang penatua pada khususnya. Dan mengenai diri saya sendiri. Tak akan pernah saya lupakan apa yang beliau katakan kepada saya menjelang keberangkatan saya ke Belanda untuk studi:</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Do, saya sangat menyayangkan Do pergi, sementara rencana pengembangan GKI Malang belum terlaksana&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Kan ada Pak Abed dan rekan-rekan yang lain, Oom&#8230;?”</p>
<p>Oom Hadi Gunawan memasang senyum simpulnya yang khas itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Oke Do, goede reis (Selamat jalan) &#8230; ini pada akhirnya selain demi kebaikan Do sendiri, juga demi kebaikan GKI Malang, bahkan demi kepentingan Sinode GKI Jatim&#8230; God zegent (Tuhan memberkati) &#8230;”</p>
<p>Bagi saya mengenang masa pelayanan di Malang tak bisa tidak mengingatkan saya pada Oom Hadi Gunawan. Sekarang beliau dan Tante Bwee, istri beliau, sudah tiada. Tetapi mereka tetap hidup dan menempati tempat yang khusus di hati saya.</p>
<p>Dulu, di Malang, di ruang tamu Oom Hadi Gunawan di jalan Merapi, tergantung beberapa foto keluarga. Oom Hadi Gunawan, Tante Bwee, tiga putra, yang waktu itu sedang studi di luar negeri, dan satu putri, yang tinggal di Surabaya. Sekarang, di GKI Pondok Indah, ketiga putra Oom Hadi Gunawan adalah anggota-anggota jemaat yang aktif beserta keluarga masing-masing, dalam berbagai pelayanan di GKI Pondok Indah: Hindra Tjahjadi, Chris Wibisono dan Singgih Tjahjono.</p>
<p>Melihat mereka saya serasa mengalami kembali pelayanan bersama Oom Hadi Gunawan.</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/penatua-yang-punya-pendirian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dipanggil, Dibentuk dan Diutus</title>
		<link>http://gkipi.org/dipanggil-dibentuk-dan-diutus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dipanggil-dibentuk-dan-diutus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 04:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5223</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda sempat berkunjung ke kota New York, janganlah lupa mengunjungi jembatan terkenal yang bernama Brooklyn Bridge. Jika Anda kagum dengan keindahannya, Anda perlu berterima kasih kepada keluarga Roebling. Pada tahun 1883, seorang insinyur cerdas bernama John Roebling tertantang untuk membangun jembatan spektakuler yang dapat menghubungkan kota New York dan Long Island. Banyak ahli pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5226" style="border: 3px solid #eeeeee;" title="bridge" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/02/bridge.jpg" alt="" width="250" height="188" />Jika Anda sempat berkunjung ke kota New York, janganlah lupa mengunjungi jembatan terkenal yang bernama Brooklyn Bridge. Jika Anda kagum dengan keindahannya, Anda perlu berterima kasih kepada keluarga Roebling.</p>
<p>Pada tahun 1883, seorang insinyur cerdas bernama John Roebling tertantang untuk membangun jembatan spektakuler yang dapat menghubungkan kota New York dan Long Island. Banyak ahli pada zaman itu yang merasa ide itu terlalu gila dan meminta John untuk melupakannya. Namun John Roebling tidak peduli karena visi itu begitu jelas di dalam pikirannya. John sangat yakin bahwa jembatan itu dapat terwujud dan ia berhasil meyakinkan anaknya yang bernama Washington untuk membantunya menyelesaikan proyek maha karya itu.</p>
<p>Pembangunan proyek dimulai dengan mulus dan setiap anggota tim begitu bersemangat mengerjakannya. Namun setelah beberapa bulan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa John, sang ayah, sedangkan Washington terluka dan mengalami kerusakan pada otaknya yang menyebabkan ia tidak mampu berkata-kata dan tidak mampu berjalan, bahkan sekadar untuk bergerak pun ia tak sanggup. Kolega-kolega yang dulu mengejek mereka memberikan komentar yang menjadi-jadi. Kata mereka, “Kita telah memberi tahu dia jauh sebelum dia mulai membangun&#8230; Mereka hanyalah orang gila dengan impian yang gila.”</p>
<p>Walaupun tergeletak di atas ranjang, Washington tetap memiliki keinginan yang membara untuk mewujudkan impiannya. Pada suatu hari, ia memanggil istrinya dan ia mampu mengajar istrinya hanya dengan menggunakan bahasa isyarat dengan satu jarinya. Ia meminta istrinya menjelaskan kepada para insinyur lainnya langkah-langkah berikutnya. Washington menjalankan dengan sabar selama 13 tahun dengan memberikan instruksi isyarat kepada istrinya dan disampaikan kepada para insinyur sampai akhirnya jembatan itu mampu berdiri dengan megah.</p>
<p>Sikap pantang menyerah dari Washington Roebling mampu mengalahkan kondisi terburuk sekalipun yang ia alami. Tanpa keyakinan dan keinginan yang menggebu-gebu, tidak mungkin jembatan Brooklyn dapat terwujud (dari buku Champion).</p>
<p><strong>Tuhan Membangun “Jembatan”</strong></p>
<p>Juga karena merasa tertantang untuk menyelamatkan umat manusia, maka tak henti-hentinya Tuhan membangun “jembatan” demi “jembatan” untuk menghubungkan diri-Nya dengan segala bangsa di dunia. Jembatan yang tidak terbuat dari beton dan besi, melainkan manusia, yaitu para nabi, para rasul, umat-Nya dan setiap orang yang beriman, yang bersedia menjadi hamba-Nya.</p>
<p>Kalau begitu setiap orang berpeluang menjadi “jembatan” Tuhan, menjadi hamba-Nya, meskipun tidak berjabatan sebagai pendeta atau penatua. Itulah maha karya Allah yang  tidak boleh dipandang ringan, sebab Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya. Dan manusia sering berani menolak panggilan Tuhan, karena lebih mendahulukan kepentingan sendiri.</p>
<p><strong>Jika Manusia Bersedia Menjadi Hamba Tuhan</strong></p>
<p>Jika ada yang bersedia menerima panggilan Tuhan, menjadi hamba-Nya, maka Tuhan akan sangat berkenan. Orang yang bersedia menjadi hamba Tuhan dengan segala kerelaan dan kesungguhan hatinya, dapat memiliki keyakinan bahwa sejak dari kandungan ibunya, ia sudah dipanggil oleh Tuhan.</p>
<p>Memercayai hal itu tanpa rasa sesal, akan mendatangkan rasa syukur yang sangat mendalam. Sebab baginya, Tuhan adalah segala-galanya. Dengan demikian menjadi hamba Tuhan mendatangkan kepuasan batiniah sebab merasakan bahwa hidupnya bermakna. Maka dorongan untuk memperkenalkan diri kepada lingkungan yang luas bukanlah merupakan suatu kesombongan, sebab dengan demikian justru sedang merendahkan diri sebagai hamba yang siap melayani (Yesaya 49:1). Sebenarnya Tuhan menghendaki bangsa Israel menjadi hamba-Nya yang dengan rendah hati mau merangkul bangsa-bangsa di dunia, tapi mereka menyalah-gunakan kasih pemilihan Tuhan sebagai alasan untuk meninggikan diri, merendahkan bangsa-bangsa yang lain.</p>
<p><strong>Hubungan Akrab Sudah Terjalin Dengan Tuhan Sedini Mungkin</strong></p>
<p>Hubungan yang sangat pribadi dengan Tuhan terlukis dalam firman-Nya yang indah. Yang pertama kali memanggil nama kita masing-masing, sesungguhnya adalah Tuhan, sebab Dia yang paling mengenal kita. Tuhan dapat mengenal dengan sangat jelas sebab Dialah yang mencipta dan menghadirkan kita ke dalam dunia ini. Dia merasa perlu secara terus menerus membentuk kita, supaya dapat menjadi seperti yang diharapkan untuk mewujudkan rencana dalam Kerajaan-Nya. Pengutusan menjadi tujuan utama dalam diri setiap hamba-Nya. Sekaligus pengutusan menjadi bukti yang mengharukan bahwa Dia bisa mempercayakan tugas penting kepada orang-orang, yang pada dasarnya sangat rapuh.</p>
<p>Hal ini mengingatkan kita kepada yang disebut sebagai “Tumit Akhiles.” Dalam Mitologi Yunani ada cerita tentang seorang ibu yang bernama Tetis. Ia mempunyai seorang putra tunggal yang masih kecil bernama Akhiles. Suatu hari Akhiles dibawa ke tepi sungai Stiks di Hades yang konon airnya berkasiat membuat orang menjadi kebal terhadap senjata. Setelah dewasa, ternyata Akhiles tetap bisa mati oleh panah beracun yang mengenai tumitnya, karena ibunya memegang tumit Akhiles ketika membenamkannya ke dalam sungai Stiks, sehingga hanya bagian tubuh itu saja yang tidak terkena air.</p>
<p>Cerita ini mengingatkan kita bahwa setiap hamba Tuhan pasti mempunyai kelemahan tertentu dalam dirinya, yang harus selalu disadari dan diwaspadai, supaya dapat menjadi utusan Tuhan yang tidak mengecewakan.</p>
<p>Tapi kita tidak perlu terlalu berkecil hati sebab Tuhan menunjukkan tanggung jawab-Nya yang besar, tatkala dikatakan bahwa mulut hamba-Nya akan dijadikan sebagai pedang yang tajam. Perkataan Tuhan sendiri yang membuat mulut kita tidak direndahkan oleh setiap pendengar. Keberadaan kita juga akan menjadi seperti anak panah yang runcing. Itu adalah anak panah yang lurus dan tajam. Kita diharapkan Tuhan memiliki hati yang lurus; jujur kepada diri sendiri, kepada sesama dan Tuhan. Memiliki pengetahuan yang tajam tentang kehendak Tuhan merupakan keharusan seorang hamba Tuhan. Semua itu yang membuat seorang hamba Tuhan memiliki kelebihan yang mendatangkan rasa kagum banyak orang. Bukan karena ketampanan, apalagi kekayaan materinya.</p>
<p><strong>Yesus, Hamba Yang Sejati</strong></p>
<p>Setiap hamba Allah harus mengakui Yesus sebagai Hamba yang sejati. Mengapa demikian? Karena Ia memang dipanggil dan diutus, tetapi tidak perlu dibentuk atau diperlengkapi apapun, oleh siapa pun, karena kesempurnaan-Nya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia. Yesus juga Hamba yang sejati sebab sebagai Tuhan sudah rela menghampakan diri sama dengan manusia demi melaksanakan tugas pengutusan dari Bapa-Nya. Yohanes Pembaptis menyebut-Nya sebagai Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Inilah satu kalimat pendek yang dapat menjelaskan tugas besar Yesus Kristus.</p>
<p><strong>Yohanes Pembaptis Membuka Jalan Bagi Yesus, dan Yesus Bagi Kita</strong></p>
<p>Dengan telunjuknya Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada setiap orang yang dijumpainya. Dengan air sungai Yordan ia membaptis Yesus untuk menggenapi kehendak Allah. Tetapi Yesus Kristus membuka jalan keselamatan bagi kita melalui kucuran darah-Nya yang kudus. Selanjutnya Dia juga membuka jalan penginjilan yang harus kita tempuh dengan berbagai kegiatan gerejawi serta macam-macam kesibukan kesaksian di semua aspek kehidupan ini. Dia menyiapkan para rasul, para pengikut-Nya tempo dulu, dan tongkat estafet itu sekarang ada di tangan kita! Apa kata rasul Paulus tentang memberitakan Injil? “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Korintus 9:16).</p>
<p>Ada satu cerita tentang kebodohan yang sangat merugikan. Konon ada seorang janda yang sangat miskin, takut dikunjungi oleh pemilik rumah yang biasa datang untuk menagih sewa rumah. Ia mengunci pintu rumahnya dan memasang palangnya. Ketika ia mendengar pintunya diketuk orang dari luar, ia tidak mau menjawab. Padahal yang mengetuk pintu itu seorang temannya yang membawa uang untuk membayar utangnya. Tujuan orang itu bukanlah menagih, melainkan memberi. Pemberitaan Injil juga seperti itu. Tapi jangan mudah berputus asa jika kegiatan dan maksud baik kita sering disalah-pahami orang.</p>
<p><strong>Apa Yang Paling Menarik Pada Paulus?</strong></p>
<p>Saya pilih: Panggilannya! Menarik karena disertai peristiwa yang sangat menggetarkan. Berlanjut dengan kasih Paulus yang terus bertumbuh! “Hanya dengan mengasihi Kristus kita sebagai hamba Tuhan akan dapat bertahan.” demikian kata Hudson Taylor penginjil yang melayani Cina itu.</p>
<p>Kita boleh terpanggil menjadi hamba Tuhan secara kolektif, dalam suatu kebersamaan, tetapi pada akhirnya panggilan secara pribadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebabnya dalam menghimpun para rasul, termasuk Paulus, Tuhan Yesus melakukan panggilan secara pribadi.</p>
<p>Pdt. David Sudarta dalam Renungan “Wasiat” berkisah tentang seorang perenang loncat-indah, yang dibesarkan sebagai seorang ateis. Ketika mau berlatih, malam itu semua lampu kolam tidak ada yang dinyalakan. Hanya karena ada atap tembus pandang maka cahaya bulan bisa menjadi penerangnya. Saat ia berada di ujung papan yang tertinggi, ia melakukan gerakan sebelum terjun. Ketika ia membentangkan kedua tangannya, terlihatlah bayangannya sendiri di dinding dalam bentuk salib.Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat tersentuh, serta membuatnya teringat kepada Yesus Kristus seperti yang sering diceritakan oleh temannya. “Yesus mengasihi siapa saja, termasuk kau,” itulah yang pernah dikatakan temannya. Pemuda ateis itu diliputi rasa haru, tersungkur dan menangis, mohon ampun kepada Tuhan Yesus yang selama ini disangkalnya.</p>
<p>Tiba-tiba lampu kolam hidup, karena dinyalakan oleh seorang petugas. Alangkah kaget dan terharunya dia ketika melihat ke bawah, ternyata kolam itu sedang dikeringkan!</p>
<blockquote><p>“Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami” (Mazmur 40:6a)</p></blockquote>
<p>Pdt Em. Daud Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dipanggil-dibentuk-dan-diutus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Natal: Ruangan Hati Untuk Yesus</title>
		<link>http://gkipi.org/refleksi-natal-ruangan-hati-untuk-yesus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/refleksi-natal-ruangan-hati-untuk-yesus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 11:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5020</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru. Tanggal 25 Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru.</p>
<p>Tanggal 25 Desember sering menjadi patokan pergantian tahun yang melambangkan keberhasilan atau kegagalan yang telah dijalani selama setahun. Namun, bulan Desember bisa menjadi bulan tumpukan tugas yang tidak mendamaikan hati. Para pegiat sibuk menyiapkan acara Natal, mendekorasi ruangan, latihan drama Natal, paduan suara, dan musik. Para keluarga pun sibuk berbelanja hadiah, menyiapkan dan mengirimkan kartu ucapan, membersihkan dan menghiasi rumah, memasang pohon dan lampu Natal.</p>
<p>Mungkin sebagian besar umat Kristen menyadari bahwa tanggal 25 Desember adalah hari perayaan kelahiran Yesus. Tapi, berapa banyak yang meluangkan waktu untuk menghayati dan menikmati makna Natal? Masihkah ada Yesus di ruang hati kita tatkala merayakan hari Natal?</p>
<p>Natal adalah peristiwa yang memiliki kekayaan makna. Tersimpan harta karun yang indah di hari Natal. Sebab itu, kita perlu menggali kembali harta karun itu sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab sehingga kita dapat mengerti, menghayati, dan menghidupi kembali makna Natal pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.</p>
<p>Ribuan tahun yang lalu, ketika malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Maria dan Yusuf, ia memberitahukan mereka bahwa anak yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus dan harus diberi nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat.1:21). Jadi, kado kasih terindah di hari Natal ialah lahirnya sang Juru Selamat sejati di dunia ini. Bahkan, Dia akan dinamakan Imanuel, yang artinya ‘Allah menyertai kita’ (Mat.1:23). Luar biasa! Penghayatan inilah yang harus bergema di ruang hati kita. Bukan hanya menjelang dan ketika merayakan Natal; tetapi juga dalam kehidupan kita setiap hari.</p>
<p>Kita patut bersyukur bahwa hari Natal ditetapkan pada tanggal 25 Desember, karena dekat dengan akhir dan pergantian tahun yang baru. Hal itu dapat membuat kita merenungkan hidup yang telah kita jalani dari awal hingga akhir tahun. Bahkan juga menantang kita untuk berani memberikan kado terindah di hari Natal kepada Yesus. Sungguhkah Yesus menjadi Pribadi yang hidup di ruang hati kita setiap hari? Apakah Yesus benar-benar menjadi satu-satunya Juru Selamat yang hidup di hati dan kehidupan kita? Berapa banyak janji perubahan hidup yang kita ikrarkan namun belum kita tepati bahkan kita langgar?</p>
<p>Menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat berarti menjadikan-Nya sebagai Pribadi yang bertahta di hati dan kehidupan kita. Dia menjadi Junjungan hidup yang berjalan di depan kita, dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Mengikuti apa? Mengikuti teladan kasih-Nya dalam melayani dan mengasihi sesama; mendengarkan dan menaati apa yang diajarkan-Nya; berjuang untuk semakin serupa dengan-Nya dalam karakter, sifat, dan perilaku sehari-hari.</p>
<p>Sesungguhnya, Natal menjadi alarm yang mengingatkan sejauh mana kita mengasihi Allah dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sejauh mana kita menghargai kasih pengorbanan Kristus. Yesus tidak menyerukan “Aku mengasihimu” melalui suara dari surga. Ia merendahkan diri. Ia datang dengan mengambil rupa sebagai manusia untuk menyatakan betapa Ia sangat mengasihi kita. Puncak pernyataan kasih Kristus terbukti melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Melalui salib yang hina, Ia menanggung murka Allah. Bahkan, Ia membuktikan kemurahan hati dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Karena itu, Natal menjadi alarm yang terus mengingatkan kita tentang keajaiban kasih Allah; mulai dari palungan menuju palang yang hina.</p>
<p>Biarlah hati kita menjadi telinga yang mendengar alarm Natal. Alarm yang mengingatkan siapakah kita sebagai manusia. Alarm yang menyelidiki ruang hati kita. Masih adakah Yesus sebagai Raja di ruang hati kita? Masih adakah ungkapan syukur atas pengorbanan Kristus di kayu salib? Masih adakah kesadaran untuk menghargai kasih karunia Allah di ruang hati kita?</p>
<p>Natal akan berlalu. Tahun baru pun akan dilewati. Namun, alarm dari palungan hingga palang terus berbunyi di ruang hati kita. Mari, kita beri yang terbaik kepada Tuhan dengan menyediakan ruang hati kita diisi oleh kasih karunia Allah; mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum di hadapan Allah; melayani Tuhan dengan semangat kasih Kristus; membuka diri untuk mengalami pertobatan setiap hari sehingga semakin serupa dengan Kristus. Bahkan menghidupi kasih Kristus dengan menjadi pelaku kasih yang sejati bagi sesama; seperti syair lagu berikut ini:</p>
<blockquote><p>Natal ‘tak berarti tanpa Yesus di hati</p>
<p>Natal tak’kan indah tanpa damai di hati</p>
<p>Persembahkan hidupmu serahkan pada Yesus</p>
<p>dan kau akan mengalami NATAL</p></blockquote>
<p>Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!</p>
<p>Tuhan beserta kita!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/refleksi-natal-ruangan-hati-untuk-yesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

