<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Khotbah Minggu</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/khotbah-minggu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mana surat panggilannya ?</title>
		<link>http://gkipi.org/mana-surat-panggilannya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mana-surat-panggilannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7297</guid>
		<description><![CDATA[Mana surat panggilannya?&#8221; tanya seorang pewawancara  kepada seorang anak muda yang mendaftarkan diri ke sebuah sekolah teologi di Jakarta, setelah anak muda itu menjelaskan kepada si pewawancara bahwa ia ingin belajar di sekolah itu karena merasa terpanggil. Anak muda itu   kebingungan menjawab pertanyaan yang tak disangka-sangka itu. Agaknya si pewawancara, yang adalah seorang dosen kawakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="M" class="cap"><span>M</span></span>ana surat panggilannya?&#8221; tanya seorang pewawancara  kepada seorang anak muda yang mendaftarkan diri ke sebuah sekolah teologi di Jakarta, setelah anak muda itu menjelaskan kepada si pewawancara bahwa ia ingin belajar di sekolah itu karena merasa terpanggil. Anak muda itu   kebingungan menjawab pertanyaan yang tak disangka-sangka itu. Agaknya si pewawancara, yang adalah seorang dosen kawakan di sekolah teologi itu, ingin menguji kedalaman pemahaman anak muda itu tentang makna panggilan.</p>
<p>Bahwa Allah memanggil manusia untuk ikut berkarya di dalam misi-Nya, sudahlah pasti. Namun, bagaimana caranya? lewat suara menggelegar dari langit? lewat mimpi? atau apa? ternyata, ada banyak cara yang dipakai Allah untuk memanggil manusia terlibat di dalam misi-Nya dan ada beragam cara manusia untuk merespons panggilan itu. Salah satunya adalah dengan menjadi seorang pendeta, seorang yang dengan penuh-waktu mendedikasikan hidupnya bagi karya Kristiani. Namun, di samping itu, ada 1001 cara lain; melalui pekerjaan di segala bidang  kehidupan, melalui tugas sebagai pengelola rumah tangga, melalui tugas sebagai pelajar, dan sebagainya. Setiap orang perlu memaknai hidup dan karyanya sebagai sebuah jawaban atas panggilan Allah.</p>
<p>Bacaan kita dipenuhi dengan karya super-sibuk Yesus dalam memanusiakan manusia yang direndahkan karena sakit-penyakit. Belakangan, dikisahkan banyak situasi buruk lain yang juga dipulihkan oleh Yesus. Dalam rangka misi Allah itulah, Yesus memanggil para murid-Nya, mulai dari Simon, Yakobus, dan Yohanes. Yesus memanggil mereka untuk terlibat di dalam karya memanusiakan manusia dan memulihkan dunia. Setiap orang &#8211; termasuk Anda dan saya &#8211; bisa dan harus terlibat di dalamnya. Setidaknya, melalui keterlibatan kita, dunia ini berubah sedikit lebih baik.</p>
<p>Hari ini didedikasikan sebagai Minggu Panggilan, agar setiap warga jemaat kembali diingatkan bahwa ia sungguh-sungguh dipanggil Tuhan untuk terlibat dalam karya-Nya. Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan. Tapi, yang pasti, Anda harus melakukannya. Dan kita bisa melakukannya bersama-sama.</p>
<p>O, ya, anak muda dalam kisah singkat di atas adalah saya … dua  puluh empat tahun silam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Joas</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mana-surat-panggilannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akulah Terang Dunia</title>
		<link>http://gkipi.org/akulah-terang-dunia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/akulah-terang-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:04:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7237</guid>
		<description><![CDATA[Karunia keselamatan yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam kehidupan manusia, bukan hanya keselamatan jiwa yang memberikan ketenangan batin, tetapi secara menyeluruh sebagaimana yang digambarkan dalam bacaan kita hari ini. Tuhan Yesus melakukan pemulihan fisik orang yang buta tapi juga sekaligus memulihkan kehidupannya secara menyeluruh. Orang yang disembuhkan itu dapat kembali memiliki kemungkinan untuk menjalin hubungan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="K" class="cap"><span>K</span></span>arunia keselamatan yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam kehidupan manusia, bukan hanya keselamatan jiwa yang memberikan ketenangan batin, tetapi secara menyeluruh sebagaimana yang digambarkan dalam bacaan kita hari ini. Tuhan Yesus melakukan pemulihan fisik orang yang buta tapi juga sekaligus memulihkan kehidupannya secara menyeluruh. Orang yang disembuhkan itu dapat kembali memiliki kemungkinan untuk menjalin hubungan yang lebih luas dengan masyarakat di sekitarnya dan tentu saja ia menjadi lebih percaya diri sehingga dapat melakukan kegiatan seperti orang-orang pada umumnya.</p>
<p>Pernyataan Yesus&#8221;Akulah Terang Dunia&#8221; menunjukkan pada ciri dan karakter dari terang atau sinar atau cahaya yang senantiasa menyinari setiap segi dan ruang yang ada di sekitarnya, dengan demikian terang itu tidak hanya berhenti pada hal-hal yang bersifat rohani tetapi juga hal-hal yang duniawi, yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Terang itu dapat menjadi berkat yang memberikan &#8216;pencerahan&#8217; dalam kehidupan seseorang, sehingga orang semakin mengenal kehendak Allah dalam kehidupannya, tapi juga sekaligus ‘menakutkan’ karena melalui terang itu, borok-borok, virus dan penyakit apapun yang ada dalam kehidupan seseorang menjadi nampak jelas dan memalukan, sehingga seseorang cenderung untuk menjauh dari Kristus Sang Terang Dunia itu. Hal ini nampak dari sikap orang buta yang dipulihkan, karena ia dapat melihat dan memaknai kembali segala sesuatu yang ada di sekitarnya dan sebaliknya sikap orang Farisi yang merasa ketakutan karena apa yang dilakukan Yesus telah memporakporandakan pengertian mereka tentang hukum Allah yang hanya berlaku sebagai ketentuan ilahi dan bukan sebagai kuasa yang menyembuhkan, memberdayakan dan membebaskan manusia.</p>
<p>Kita memang bukan terang itu, tetapi kita punya tugas untuk menyaksikan terang itu (Yohanes 1:8)</p>
<p>(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/akulah-terang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagiku hidup adalah Kristus</title>
		<link>http://gkipi.org/bagiku-hidup-adalah-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bagiku-hidup-adalah-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 17:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7194</guid>
		<description><![CDATA[Dipojokkan dalam situasi yang sulit, seringkali orang beriman mengalami kebingungan menentukan sikap yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu cenderung untuk kompromi. Rasul Paulus ketika berada dalam penjara dan menantikan keputusan hidup atau mati, ia tetap bersikap tenang sebab kemungkinan apa pun baginya sama saja. Pengalaman perjumpaan Paulus dengan Kristus dalam perjalanan menuju Damaskus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="D" class="cap"><span>D</span></span>ipojokkan dalam situasi yang sulit, seringkali orang beriman mengalami kebingungan menentukan sikap yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu cenderung untuk kompromi. Rasul Paulus ketika berada dalam penjara dan menantikan keputusan hidup atau mati, ia tetap bersikap tenang sebab kemungkinan apa pun baginya sama saja.</p>
<p>Pengalaman perjumpaan Paulus dengan Kristus dalam perjalanan menuju Damaskus telah mengubah seluruh kehidupannya. Tak satu hari pun dijalani Paulus tanpa kehadiran-Nya, Kristus menjadi pusat kehidupannya. Kristus bagi Paulus bukan sekedar gagasan, pemahaman, pemikiran, melainkan Allah yang hidup. Allah yang selalu campur tangan dengan memberi kasih karunia keselamatan tetapi juga Allah yang memberi kekuatan untuk menjalani kehidupan ini. Karena itu terungkap kalimat &#8220;Bagiku hidup adalah Kristus&#8221;.</p>
<p>Bagi Paulus kematian adalah pintu masuk ke hadirat Kristus yang makin dekat, sebab melalui kematian persekutuannya dengan Tuhan semakin dekat, dia dapat bersekutu secara total dengan Kristus yang dikasihinya, dan selalu hidup dalam hadirat-Nya. Karena itu, &#8220;Bagiku&#8221; kata Paulus, &#8220;mati adalah keuntungan&#8221;.</p>
<p>Hidup atau mati bagi orang yang percaya pada Kristus adalah suatu anugerah. Karena itu rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat agar mereka menghidupi kehidupan yang dianugerahkan Allah itu dengan serius, suatu kehidupan yang berbuah-buah, suatu kehidupan yang menyelamatkan sekaligus memberdayakan, suatu kehidupan yang menegakkan keadilan dan kebenaran sekaligus juga suatu kehidupan yang taat berpegang pada kehendak Tuhan.</p>
<p>Namun di sisi lain, keberanian untuk menanggung penderitaan bersama Kristus juga harus dipahami sebagai suatu karunia. Sebab hidup dalam kasih karunia Tuhan adalah suatu kehidupan yang mengandung kemenangan, namun juga sekaligus seringkali ada dalam situasi pergumulan yang bahkan mengarah pada penderitaan memikul salib Tuhan.</p>
<p>(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bagiku-hidup-adalah-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mata Hati Yang Tertuju Pada Kristus atau Diri Sendiri</title>
		<link>http://gkipi.org/mata-hati-yang-tertuju-pada-kristus-atau-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mata-hati-yang-tertuju-pada-kristus-atau-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 17:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7159</guid>
		<description><![CDATA[Tindakan mendengar dan kemudian memahami firman Tuhan, berbeda dengan memberlakukan firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Firman itu bisa asyik di dengar bahkan seringkali memotivasi untuk berani melakukan kebaikan. Namun ketika mengarah pada tindakan pemberlakuan firman itu, yang terjadi adalah sebaliknya, betapa sulit dan penuh keraguan untuk berani melangkah mengikuti apa yang dikehendaki oleh Firman itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="T" class="cap"><span>T</span></span>indakan mendengar dan kemudian memahami firman Tuhan, berbeda dengan memberlakukan firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Firman itu bisa asyik di dengar bahkan seringkali memotivasi untuk berani melakukan kebaikan. Namun ketika mengarah pada tindakan pemberlakuan firman itu, yang terjadi adalah sebaliknya, betapa sulit dan penuh keraguan untuk berani melangkah mengikuti apa yang dikehendaki oleh Firman itu.</p>
<p>Kehadiran Yesus di dunia, yang saat ini dipahami melalui perkataan atau ajaran-ajaran-Nya, menimbulkan suatu situasi krisis bagi umat manusia yang dipilih-Nya. Mereka harus mengambil suatu keputusan yang seringkali bertentangan dengan kebiasaan atau gaya hidup yang ditawarkan pada umumnya, sehingga tidak heran jika kemudian menimbulkan perlawanan dari pihak lain bahkan cenderung dibenci, dimusuhi dan dianiaya dari anggota keluarganya karena keputusannya untuk percaya dan mengikut Kristus.</p>
<p>Api yang dilemparkan oleh Kristus adalah api yang kudus, api yang mengarah pada perwujudan kasih, keselamatan dan damai sejahtera Tuhan. Hal ini tentu bertolak belakang dengan api permusuhan, api ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang yang acapkali ditawarkan oleh kehidupan ini.</p>
<p>Kehadiran Kristus di dunia ini mengajak kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaan mulia melemparkan api cinta kasih Tuhan, api pengampunan-Nya, api damai sejahtera, api semangat hidup, api pengharapan dan api yang menghangatkan hubungan persaudaraan antar manusia, serta api yang mendorong sesama untuk mengasihi dan melayani Allah.</p>
<p>Karena itu, marilah kita mengarahkan hidup kita pada pusat damai sejahtera dan bukan pada diri kita yang cenderung bersikap egosentri dan egoistis yaitu kecenderungan yang selalu tertuju kepada diri sendiri.</p>
<p>(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mata-hati-yang-tertuju-pada-kristus-atau-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yesus – Anak yang berkenan di hadapan Allah</title>
		<link>http://gkipi.org/yesus-anak-yang-berkenan-di-hadapan-allah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/yesus-anak-yang-berkenan-di-hadapan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:03:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7119</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini kita memasuki minggu Epifania yang menunjuk kepada penampakan (an appearence, a manifestation) ilahi. Peristiwa baptisan di sungai Yordan misalnya, merupakan penyataan Allah dalam mengungkapkan Yesus sebagai Anak Allah, yang kemudian diteguhkan dengan kehadiran Roh Kudus dalam wujud seekor burung merpati. Peristiwa ini sekaligus menunjukkan hubungan trinitarian antara Allah sebagai Bapa – Anak – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="M" class="cap"><span>M</span></span>inggu ini kita memasuki minggu Epifania yang menunjuk kepada penampakan (an appearence, a manifestation) ilahi. Peristiwa baptisan di sungai Yordan misalnya, merupakan penyataan Allah dalam mengungkapkan Yesus sebagai Anak Allah, yang kemudian diteguhkan dengan kehadiran Roh Kudus dalam wujud seekor burung merpati. Peristiwa ini sekaligus menunjukkan hubungan trinitarian antara Allah sebagai Bapa – Anak – Roh Kudus.</p>
<p>Gambaran burung merpati, sosok Yesus yang dibaptis dan suara dari langit merupakan penyingkapan diri Allah yang hadir dalam perjumpaan dengan umat-Nya. Hadirnya sosok Kristus dalam hubungan yang harmonis antara Bapa &#8211; Anak – Roh, sekaligus mengingatkan bahwa umat manusia sebenarnya dimampukan mengalami dan bahkan memiliki relasi kasih Allah. Relasi ini juga mau menyingkap dan serentak merupakan suatu penegasan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan yang sangat berharga di hadapan Tuhan. Kehadiran Kristus ke tengah &#8211; tengah dunia inilah yang telah mendamaikan relasi cinta kasih manusia dengan Allah. Manusia yang pada hakekatnya adalah orang berdosa dan hidup terpisah dari Allah telah kembali dipulihkan dan menjadi &#8220;manusia baru&#8221;, manusia yang mempunyai hak untuk langsung berhubungan dengan Allah, membangun relasi kasih. Penyingkapan jati diri Allah yang selama ini tersembunyi bagi manusia telah disingkapkan melalui kehadiran Kristus dan karya-karya Roh Kudus sehingga manusia dimampukan untuk memahami kehendakNya.</p>
<p>Relasi harmonis seperti ini lah yang diharapkan dapat terjadi di tengah- tengah kehidupan manusia satu dengan yang lain, alih-alih terjadinya tembok pemisah, jalinan persaudaran yang diikat dengan tali kasih akan menyenangkan hati Tuhan.</p>
<p>Bersediakah kita mempunyai inisiatif untuk menjalin tali kasih dengan sesama ?<br />
(TT)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/yesus-anak-yang-berkenan-di-hadapan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Engkau Bukanlah Yang Terkecil</title>
		<link>http://gkipi.org/engkau-bukanlah-yang-terkecil/</link>
		<comments>http://gkipi.org/engkau-bukanlah-yang-terkecil/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 17:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7113</guid>
		<description><![CDATA[Hal- hal kecil akan mudah terabaikan jika kita hanya fokus pada hal-hal besar. Perhatian lebih gampang tertuju kepada hal-hal besar daripada hal- hal kecil. Pola yang demikian sering terjadi dalam kehidupan manusia. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem, Allah merombak cara pandang dan sikap manusia, untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Atau tidak takut sebagai kelompok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="H" class="cap"><span>H</span></span>al- hal kecil akan mudah terabaikan jika kita hanya fokus pada hal-hal besar. Perhatian lebih gampang tertuju kepada hal-hal besar daripada hal- hal kecil. Pola yang demikian sering terjadi dalam kehidupan manusia. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem, Allah merombak cara pandang dan sikap manusia, untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Atau tidak takut sebagai kelompok minoritas di tengah dunia. Persoalannya, tidak terletak di dalam kecil atau besar tetapi di tangan siapa yang kecil dan besar itu berada? Lima roti dan 2 ikan di tangan kita hanya untuk sarapan pagi keluarga tetapi di tangan Yesus dapat dikonsumsi 5000 orang bahkan sisa 12 bakul (Markus 6:30-44).</p>
<p>Alkitab memberi gambaran yang jelas, meskipun Betlehem disebut-sebut sebagai kota yang terkecil di Yehuda tetapi para pemimpin Yehuda berasal dari Betlehem, seperti Daud bahkan Yesus Kristus (Mikha 5:1). Ternyata, kebesaran Betlehem tidaklah terletak pada parameter manusia seperti keadaan geografis, jumlah penduduk, kekuatan militer, melainkan pada kuasa dan campur tangan Allah sendiri. Seperti diungkapkan dalam Matius 2:6 :<strong> &#8220;&#8230;Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil&#8221;</strong>. Maksudnya Betlehem kota yang tidak penting, kurang berarti, kurang diperhitungkan dibandingkan kota yang lain di Yehuda telah dijadikan Allah kota yang penting, dan menjadi pusat perhatian dunia sampai saat ini. Fakta kelahiran Yesus di Betlehem, bukan semata-mata mengkondangkan Betlehem tetapi Kelahiran Yesus di Betlehem hendak merubah konsep hidup dan pelayanan kita juga dalam memasuki tahun 2012.</p>
<ul>
<li>Allah selalu konsekuen dengan pilihanNya. Ia memilih yang kecil untuk menjadi alat dalam tanganNya. Ia memakai orang yang setia terhadap hal-hal kecil untuk melakukan perkara yang besar ( Matius 25:21).</li>
<li>Kita senantiasa terbuka terhadap hal-hal kecil, tidak terpedaya dengan tipuan visual, hanya menghargai hal-hal yang besar, tinggi dan banyak saja.Karena hal-hal besar selalu lahir dari hal-hal kecil.</li>
</ul>
<p>* Yesus tlah datang untuk memulihkan dan mengubah hidup kita</p>
<p>Di dalam Yesus Tuhan : engkau bukanlah yang terkecil</p>
<p>LS</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/engkau-bukanlah-yang-terkecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kami Telah Melihat Bintangnya</title>
		<link>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintangnya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintangnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 17:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7081</guid>
		<description><![CDATA[Reaksi orang-orang yang menyambut Kelahiran Jesus setidaknya mengandung 3 hal yang kontradiktif : Pertama, di satu sisi Malaikat, Gembala dan Para Majus bersorak menyembah Dia. Di sisi lain Maria menyimpan semua didalam hatinya. Kedua, di satu sisi ada senyum bahagia di hati kedua orangtuanya. Di sisi lain banyak orangtua menangis meratapi kematian anak-anaknya akibat pembunuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="R" class="cap"><span>R</span></span>eaksi orang-orang yang menyambut Kelahiran Jesus setidaknya mengandung 3 hal yang kontradiktif :</p>
<ul>
<li><strong>Pertama</strong>, di satu sisi Malaikat, Gembala dan Para Majus bersorak menyembah Dia. Di sisi lain Maria menyimpan semua didalam hatinya.</li>
<li><strong>Kedua</strong>, di satu sisi ada senyum bahagia di hati kedua orangtuanya. Di sisi lain banyak orangtua menangis meratapi kematian anak-anaknya akibat pembunuhan yang dilakukan Herodes karena panik di mana Sang Bayi berada.</li>
<li><strong>Ketiga</strong>, di satu sisi banyak manusia merayakan Natal dalam kemewahannya. Di sisi lain, banyak manusia mengalami kesederhanaan kelahiran Jesus dengan bernatalan di kolong – kolong jembatan, ruang terbuka dengan tetap siaga terhadap beberapa aksi para laga.</li>
</ul>
<p>Namun di atas semuanya itu, setidaknya ada 1 pesan Natal di tahun ini :<br />
Apakah kita sudah menemukan Sang Bintang yang membuat jalan kita ke- depan penuh makna?</p>
<p>Jika kita telah melihat Sang Bintang maka :</p>
<ul>
<li><strong>Pertama</strong>, hidup kita kini dan seterusnya akan silih berganti antara menyimpan dalam hati setiap Karya dan Kuasa Tuhan sebelum akhirnya kita me-nyembah Dia.</li>
<li><strong>Kedua</strong>, sekalipun ratap tangis kita alami di masa mendatang kita akan me-ngalami bahagia sejati dari Tuhan.</li>
<li><strong>Ketiga</strong>, kesederhanaan hati membuat kita tidak melihat bahwa kemewahan adalah satu– satunya cara untuk menunjukkan sukacita karena kita sudah melihat Sang Bintang.</li>
</ul>
<p>Selamat menjadi bintangNya karena kita sudah menemukan Cahaya Sang Bintang yang mengubah hati kita !! Selamat Natal !!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>RJ</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kami-telah-melihat-bintangnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diberkatilah Engkau di antara Semua Perempuan</title>
		<link>http://gkipi.org/diberkatilah-engkau-di-antara-semua-perempuan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/diberkatilah-engkau-di-antara-semua-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 17:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7022</guid>
		<description><![CDATA[Respon Elisabet ketika berjumpa dengan Maria cukup menarik, ia berseru dengan suara nyaring: &#8220;Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu..&#8221; Kedua orang bersaudara ini telah mengalami jamahan Tuhan, mujizat Tuhan. Lho, bukankah Elisabet juga perempuan yang terberkati karena ia mengandung seorang anak yang kelak akan membuka jalan bagi Sang Juruselamat? Anak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="R" class="cap"><span>R</span></span>espon Elisabet ketika berjumpa dengan Maria cukup menarik, ia berseru dengan suara nyaring: &#8220;Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu..&#8221; Kedua orang bersaudara ini telah mengalami jamahan Tuhan, mujizat Tuhan. Lho, bukankah Elisabet juga perempuan yang terberkati karena ia mengandung seorang anak yang kelak akan membuka jalan bagi Sang Juruselamat? Anak yang dikandungnya menjadi seorang nabi yang besar. Kenapa Elisabet bisa memberikan pengakuan seperti itu kepada Maria? Karena Elisabet punya kerendahan hati.</p>
<p>Kerendahan hati tidak akan menghalangi kita untuk melihat orang lain &#8220;lebih beruntung&#8221; dari kita. Kerendahan hati tidak akan menahan kita untuk memberikan pengakuan kepada orang lain bahwa keberadaan mereka menjadi berkat bagi kita; kita merasa terberkati karena kehadiran dan keberadaan mereka. Darimanakah kerendahan hati Elisabet ini? Kerendahan hati Elisabet muncul karena dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus. Mengapa ia dipenuhi oleh Roh Kudus? Karena salam yang diberikan oleh Maria (Luk.1:41). Lalu &#8220;salam&#8221; apakah yang disampaikan oleh Maria sehingga sebegitu istimewanya? Tidak dijelaskan secara eksplisit dalam teks alkitab, namun dalam tradisi Yahudi, salam yang diberikan mestinya adalah salam yang &#8220;biasa&#8221; yaitu: shalom (=damai sejahtera; yang sering kita ucapkan juga, bukan?!)</p>
<p>Jadi bisa disimpulkan bahwa yang membuat istimewa bukan salamnya tetapi &#8220;Siapa&#8221; yang memberi salam dan “Bagaimana” salam itu disampaikan. Maria diliputi oleh sukacita akan keberadaannya yang terberkati (Luk.1:28, 35). Maria pun dipenuhi oleh Roh Kudus. Ada ketulusan dan passion yang kuat dalam diri Maria ketika berjumpa dengan Elisabet saat memberi salam itu. Bagaimana dengan kita?</p>
<p>Apakah kita masih tidak rela jika orang lain kelihatan &#8220;lebih diberkati&#8221; dari kita?</p>
<p>Malukah kita bila kita saling memberikan pengakuan kepada saudara-saudara kita, sesama kita, bahwa keberadaan mereka membawa berkat bagi kita?</p>
<p>Adakah ketulusan dan passion dalam diri kita ketika bertemu dengan sesama kita?</p>
<p>Marilah kita senantiasa memohon pimpinan dan penyertaan Roh Kudus dalam diri kita sehingga dalam relasi dan persekutuan kita dengan sesama, kita dapat meneladani Elisabet dan Maria.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>HK</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/diberkatilah-engkau-di-antara-semua-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbuat Seperti Yang Diperintahkan</title>
		<link>http://gkipi.org/berbuat-seperti-yang-diperintahkan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/berbuat-seperti-yang-diperintahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 17:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7006</guid>
		<description><![CDATA[Respon Yusuf juga menarik untuk dibahas dalam Adven ke-3 ini. Saya jadi ingat Mazmur 127 yang mengatakan bahwa Tuhan memberikan berkat-Nya pada waktu kita tidur. Dan Yusuf mengalami hal itu. Dalam kebingungan, kekesalan dan kekecewaan yang mungkin sekali dirasakannya, Yusuf dikatakan, &#8220;&#8230;mempertimbangkannya&#8221;. Kita dapat menduga bahwa Yusuf bingung dengan pertimbangan pertama, yaitu mempertimbangkan untuk menceraikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="R" class="cap"><span>R</span></span>espon Yusuf juga menarik untuk dibahas dalam Adven ke-3 ini. Saya jadi ingat Mazmur 127 yang mengatakan bahwa Tuhan memberikan berkat-Nya pada waktu kita tidur. Dan Yusuf mengalami hal itu.</p>
<p>Dalam kebingungan, kekesalan dan kekecewaan yang mungkin sekali dirasakannya, Yusuf dikatakan, &#8220;&#8230;mempertimbangkannya&#8221;. Kita dapat menduga bahwa Yusuf bingung dengan pertimbangan pertama, yaitu mempertimbangkan untuk menceraikan Maria dengan diam-diam (ayat 19) tetapi kita juga dapat juga menduga bahwa Yusuf lebih mempertimbangkan untuk tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum (ayat 19 juga). Bedanya, pertimbangan pertama merupakan tindakan yang tampaknya menguntungkan untuk Yusuf tetapi pertimbangan kedua, merupakan tindakan yang lebih tampak menguntungkan Maria.</p>
<p>Dalam mempertimbangkan masalah yang kita hadapi, tidakkah kita juga seringkali menghadapi pilihan-pilihan yang sulit? Dalam kebingungan Yusuf, Tuhan menjawabnya dalam mimpi. Dalam ketidakberdayaan Yusuf, Tuhan datang menyakinkan pilihan Yusuf.</p>
<p>Saudara, adven ketiga ini mengingatkan kita bahwa Tuhan seringkali mengijinkan kita menghadapi pilihan yang dilematis. Namun apakah kita :</p>
<ol>
<li>Menunggu Tuhan mengarahkan pilihan kita?</li>
<li>Mempertimbangkan pilihan yang membuat kita sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus yang mementingkan kepentingan orang lain juga, di samping kepentingan diri sendiri? untuk melepaskan dirinya dan Maria dari masalah ini.</li>
</ol>
<p>Apa Respon kita saat menghadapi situasi sulit? Bisa jadi kita bukan menyimpan perasaan negatif kita tetepi kita benar-benar menunjukkan kekesalan, kemarahan, rasa malu, kebingungan serta kepanikan kita dan melupakan bahwa Tuhan memiliki rancangan yang indah bagi kita.</p>
<p>Mazmur 127 mengatakan bahwa Tuhan memberikan berkat-Nya pada waktu kita tidur. Dan Yusuf mengalami hal itu. Iya tidur dan Tuhan meyakinkannya bahwa situasi sulit yang Yusuf alami harus dihadapi dan bukan ditinggal pergi .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>riajos</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/berbuat-seperti-yang-diperintahkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan</title>
		<link>http://gkipi.org/sesungguhnya-aku-ini-hamba-tuhan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sesungguhnya-aku-ini-hamba-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 17:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6959</guid>
		<description><![CDATA[Respon yang seringkali muncul ketika kita mendengar kabar yang merugikan atau keadaan yang menyulitkan kita adalah menolak. Hal ini wajar saja. Ketika Maria diberitahu akan mengandung sementara ia sendiri belum sah sebagai seorang istri, tentu saja membuat Maria merasa dirugikan. Ia bisa dicap sebagai perempuan sundal, dan sebagai perempuan sundal berarti dia harus rela disingkirkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="first-child "><span title="R" class="cap"><span>R</span></span>espon yang seringkali muncul ketika kita mendengar kabar yang merugikan atau keadaan yang menyulitkan kita adalah menolak. Hal ini wajar saja. Ketika Maria diberitahu akan mengandung sementara ia sendiri belum sah sebagai seorang istri, tentu saja membuat Maria merasa dirugikan. Ia bisa dicap sebagai perempuan sundal, dan sebagai perempuan sundal berarti dia harus rela disingkirkan dari &#8220;peradaban&#8221; sosial, harus rela direndahkan dan dilecehkan, harus rela selalu menjadi kambing hitam dalam permasalahan sosial. Kemudian bagaimana dengan&#8221;nasib&#8221; anak yang akan lahir nanti? Ia akan dicap sebagai anak sundal! Uuh, sungguh keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Tidak ada seorangpun yang mau diletakkan dalam posisi seperti itu.</p>
<p>Rangkaian pertanyaan dapat saja muncul dari Maria; mengapa malaikat tidak menyuruh agar menikah dulu secara sah dengan Yusuf dengan catatan tidak melakukan hubungan terlebih dahulu? Apakah Allah memang harus memilih aku untuk menempati posisi seperti itu? Tidak adakah orang lain? Seperti Maria, kita barangkali juga pernah ditempatkan pada posisi yang sulit. Saat ada PHK besar-besaran di tempat kita bekerja karena pailit dan harus mengurangi sebagian karyawannya, mungkin kita bertanya &#8220;Mengapa justru aku yang &#8216;kebagian&#8217; PHK, sehingga statusku menjadi pengangguran dan aku jadi laki-laki yang menyengsarakan anak-istriku?&#8221; Begitu juga ketika mendapat tugas yang lebih sulit atau mengalami pergumulan hidup yang lebih berat dari orang lain, bagaimana respon kita?</p>
<p>Respon Maria: &#8220;Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.&#8221; Ia tidak menolak atas keadaan yang dia alami, ia juga tidak berontak terhadap &#8220;keputusan&#8221; Allah terhadap hidupnya. Ia taat dan tunduk pada rencana Allah. Mengapa Maria dapat memberi respon seperti itu?:</p>
<ol>
<li>Maria menyadari sepenuhnya penyertaan Roh Kudus (ay.35).</li>
<li>Maria telah melihat karya Allah yang telah terjadi di masa yang lalu(ay.36).</li>
<li>Maria menyadari kemahakuasaan Allah di luar kuasanya sendiri (ay.37)</li>
</ol>
<p>Siapkah kita menghadapi keadaan yang sulit dalam hidup kita dengan menyadari ketiga hal di atas, seperti Maria?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>HK</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sesungguhnya-aku-ini-hamba-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

