<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Madah</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/ekklesia/madah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Himne yang Menakjubkan</title>
		<link>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 12:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7143</guid>
		<description><![CDATA[And Mary said, &#8220;My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he looked graciously on the humble estate of his servant. For&#8211;look you&#8211;from now on all generations shall call me blessed, for the Mighty One has done great things for me and his name is holy. His mercy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>And Mary said, &ldquo;My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he looked graciously on the humble estate of his servant. For&ndash;look you&ndash;from now on all generations shall call me blessed, for the Mighty One has done great things for me and his name is holy. His mercy is from generation to generation to those who fear him. He demonstrates hearts. He casts down the mighty from their seats of power. He exalts the humble. He fills those who are hungry with good things and he sends away empty those who are rich. He has helped Israel, his son, in that he has remembered his mercy&ndash;as he said to our fathers that he would&ndash;to Abraham and to his descendants forever. (Luke 1:46-56)</p>
<p><strong>MEMAHAMI PESAN DARI MAGNIFIKAT MARIA</strong></p>
<p>Dari Lukas 1:46-56 kita akhirnya memiliki sebuah himne Gereja: the magnificat. Himne yang setara dengan Nyanyian Pujian Hana dalam Perjanjian lama di 1 Sam 2:1-10, seringkali digunakan sebagai dasar dari musik paduan suara dan himne-himne. Ada yang mengatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat, namun menurut Stanley Jones, magnifikat adalah dokumen yang paling revolusioner sedunia. Menurut Barclay, ada 3 revolusi Allah:</p>
<p><strong>1.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Moral</strong></p>
<p>Kekristenan adalah kematian dari kesombongan. Seorang Kristen agaknya perlu menyadari bahwa ia bukanlah pusat dari segalanya. Walaupun demikian setiap manusia perlu melihat siapa dirinya. Dan untuk itulah Yesus datang. Kristus memampukan seseorang untuk melihat dirinya sendiri dan menyadari keberdosaannya sehingga ia berbalik dengan melakukan sebuah revolusi moral.</p>
<p>Maria menyadari bahwa dirinya rendah. Tetapi Allah melihat dia yang rendah atau melihat kerendahan hambanya. Ini adalah kematian terhadap keangkuhan manusia dan dimulainya revolusi moral. Dan itu semua dilakukan dengan pertolongan Allah, dikatakan bahwa Allah menceraiberaikan orang yang congkak hatinya (He scatters the proud in the plans of their head), bukan Maria tetapi Allah. Dengan kata lain atau dalam bahasa lain berarti Allahlah yang membubarkan atau membatalkan pikiran dan rencana-rencana orang-orang yang sombong. Karena rencana orang congkak adalah menekan orang lemah dan meninggikan diri, bahkan juga secara rohani. Namun Allah melakukan hal lain. Ia menggagalkan rencana orang congkak dengan membuat rencana yang menakjubkan sehingga mereka tidak dapat menyombongkan diri mereka lagi.</p>
<p>Apakah kita juga merasakan seperti yang dirasakan oleh Maria? Bahwa di tangan Allahlah rancangan yang baik. Sedangkan kita adalah para pelaku yang dituntun untuk melakukan rancangan Allah yang baik itu, tentu saja dengan cara yang baik dan sesuai kehendak Allah.</p>
<p><strong>2.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Sosial</strong></p>
<p>He casts down the mighty&ndash;he exalts the humble (ayat 52). Ini adalah sebuah revolusi sosial. Revolusi sosial terjadi saat seorang Kristen meletakkan martabat dunia sebagai urutan kesekian dalam hidupnya dan bukan prioritas pertama. Itu dapat terjadi saat kita menyadari bahwa Kristus datang untuk semua orang. Ia yang tidak memikirkan martabat-Nya, melainkan memberikan diri-Nya untuk kita, saat itulah kita menyadari bahwa Dialah yang utama bagi kita.</p>
<p>Dalam Magnifikat Maria, Allah juga rupanya digambarkan sebagai orang yang tertindas, miskin dan hina. Sehingga saat Maria sampai ke rumah Elisabeth dan melihat Salam dari Elisabeth, ia diyakinkan bahwa langkah iman yang diambilnya, akan membawa pengaruh yang sangat besar bagi generasinya yang akan datang. Sebuah perubahan sosial sedang dan akan terjadi, saat Allah menyatukan dirinya dengan status orang-orang yang tertindas, miskin dan hina.</p>
<p>Revolusi sosial juga dapat kita lanjutkan dengan cara memberikan kesempatan kepada Allah untuk menggugah hati kita. Hati yang cenderung ditaklukkan oleh martabat dan kacamata dunia, kita diajak untuk melihat dengan kacamata Allah. Kacamata Allah yang hadir di dalam diri orang miskin, tertindas dan hina. Karena itu kita dipanggil untuk memperhatikan mereka seperti memperhatikan Allah.</p>
<p><strong>3.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Ekonomi</strong></p>
<p>Maria mengatakan, &ldquo;Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa&rdquo;. Terjemahan lainnya, He fills those who are hungry&#8230; those who are rich&#8230; he sends away empty&rdquo;. Ini adalah revolusi ekonomi. Kebiasaan orang-orang non-Kristen adalah mengumpulkan harta benda sebanyak yang mereka bisa dapatkan. Namun bedanya dengan masyarakat Kristen, menurut Barclay, kekristenan tampak saat masyarakatnya berani mendapat banyak, guna meneruskannya kepada yang lain.</p>
<p>Magnifikat Maria sungguh mengagumkan, namun lebih dari itu Magnifikat Maria seperti dinamit. Sebab revolusi seyogyanya terjadi atas orang-orang yang membaca dan menghayatinya. Sehingga perubahan besar juga dapat terjadi di dunia ini melalui orang-orang percaya yang telah digugah oleh pengalaman Maria. Pengalaman Maria merupakan titik awal bagaimana Tuhan melanjutkan karya revolusinya itu di dalam dunia ini dari generasi ke generasi dan di segala penjuru tempat.</p>
<p><strong>Pertanyaannya, akankah itu terjadi dalam kehidupan kita?</strong></p>
<p>Maria menjawab dalam Magnifikatnya, &quot;He has shown strength with his arm&#8230;&quot;. Dalam LAI, &quot;Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya..&quot; Kuasa Tangan Allah-lah yang rupanya menjadi andalan Maria. Di dalam Perjanjian Lama, untuk menggambarkan kekuatan dan kuasa dalam Keluaran 6:6, Allah menunjukkan diri-Nya dengan cara membebaskan umat dari perbudakan. Sedangkan dalam Yesaya 51:5, Allah juga menunjukkan kuasa tangan-Nya dengan membebaskan Israel dari penjajahan bangsa lain. Dalam hal ini Maria juga menggambarkan kekuatan tangan Allah yang berkuasa atas dosa orang-orang congkak dengan cara merendahkan orang-orang yang kuat (powerful). Sebaliknya, kuasa Allah ditunjukkan dengan belas kasihan-Nya atas milik-Nya sendiri. Tenses dari kata kerja yang digunakan dalam kalimat ini mengindikasikan bahwa Maria sedang menubuatkan masa depan. Ia memang belum secara jelas dan tuntas mengalaminya, namun ia seakan meyakini bahwa itu akan dan sedang terjadi.</p>
<p>Itu berarti dalam kehidupan kita, saat kita memegang nubuatan Maria, kita sekaligus meyakini bahwa tangan Tuhan juga dapat bekerja atas kita. Ia akan memampukan kita melakukan revolusi moral, revolusi sosial dan revolusi ekonomi.</p>
<p><strong>HAK ISTIMEWA</strong></p>
<p>Ketika Maria mengatakan bahwa sejak kini semua generasi akan menyebutnya berbahagia, apakah berarti Maria telah menunjukkan kesombongan atau kecongkakan hati? Tidak, sesungguhnya Maria sedang menyadari dan menerima anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya. Jika Maria menyangkal hak istimewanya itu, maka ia sesungguhnya juga telah menolak berkat Allah dan mengembalikannya kepada Allah.</p>
<p>Dalam life application Bible commentary, proud atau kecongkakan adalah sikap menolak untuk menerima anugerah Allah atau seakan membuat Allah yang justru berhutang kepada kita. Dengan demikian, jika Maria tidak memuji Allah maka sesungguhnya ia sedang menolak anugerah Allah. Sebab seorang yang rendah hati, menerima pemberian Allah dan menggunakannya untuk memuji dan melayani Tuhan. Magnifikat adalah bukti kerendahan hati Maria.</p>
<p>Selain itu, nyanyian Maria sekaligus mematahkan sterotipe bahwa seorang perempuan dan seorang muda, terlalu naif karena tidak memahami keadaan politik yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, dalam hal ini Maria sedang menyuarakan kenabian yang telah ada di Perjanjian Lama, khususnya mengenai tema-tema pembebasan, keadilan dan penebusan. Maria adalah seorang revolusioner di zamannya, dan mungkin juga di zaman ini. Dia menunjukkan visi Allah yang luas dan tujuan agung Allah, sekaligus isi hati Allah terhadap masyarakat yang ditindas. Nyanyian ini memiliki pesan yang kuat di tengah dunia yang berdosa dan di tengah opini Israel mengenai raja pembebas yang mereka nanti-nantikan.</p>
<p>Betapa istimewanya hak yang diterima oleh Maria. Hak istimewa juga diberikan Tuhan kepada kita, orang percaya. Hari Natal mengingatkan kita bahwa kita bukanlah penderita atau pelengkap dari Natal tetapi pelaku-pelaku yang meneruskan pesan Natal bagi dunia. Lakukan revolusi moral, revolusi sosial dan revolusi ekonomi di manapun kita berada.</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prokantor, Kantoria dan  Pemandu Jemaat</title>
		<link>http://gkipi.org/prokantor-kantoria-dan-pemandu-jemaat/</link>
		<comments>http://gkipi.org/prokantor-kantoria-dan-pemandu-jemaat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 14:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6154</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan musik gereja saat ini tidak terlepas dari banyak faktor yang terkait di dalamnya. Salah satunya adalah keberadaan kelompok penyanyi yang berfungsi memimpin nyanyian jemaat. Kelompok tersebut sering disebut dengan berbagai macam istilah seperti prokantor atau kantoria. Penggunaan istilah ini sering kali membingungkan jemaat dalam memahami arti dan fungsi dari istilah tersebut. Untuk itu, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan musik gereja saat ini tidak terlepas dari banyak faktor yang terkait di dalamnya. Salah satunya adalah keberadaan kelompok penyanyi yang berfungsi memimpin nyanyian jemaat. Kelompok tersebut sering disebut dengan berbagai macam istilah seperti prokantor atau kantoria. Penggunaan istilah ini sering kali membingungkan jemaat dalam memahami arti dan fungsi dari istilah tersebut. Untuk itu, perlu ada sebuah penjelasan tentang istilah prokantor, kantoria.</p>
<p>Berikut adalah penjelasan tentang istilah prokantor, kantoria dan pemandu jemaat. Dimulai dengan istilah cantorship yang merupakan dasar dari prokantor dan kantoria.</p>
<p><strong>Cantorship</strong><br />
Cantorship adalah kemampuan untuk memimpin nyanyian jemaat dengan lengkap. Baik untuk memimpin kelompok kecil, besar, tua dan muda mulai dari kebaktian anak sampai kebaktian lansia. Tanpa atau dengan paduan suara, tanpa atau dengan instrumen, dengan segala macam gaya dan bentuk. Orang yang memiliki kemampuan ini disebut prokantor.</p>
<p><strong>Apa saja yang termasuk kriteriaseorang prokantor?</strong><br />
Seorang prokantor adalah orang yang dapat memimpin, memandu, menolong jemaat untuk dapat menyanyikan nyanyian jemaat dengan baik dan benar.</p>
<p>Seorang prokantor harus dapat memberikan teladan ketika ia berada di depan sebagai pelayan yang memimpin pujian dan ketika ia melatih jemaat untuk menyanyikan lagu-lagu jemaat. Kehadirannya dalam ibadah jemaat harus memberikan dorongan supaya jemaat yang tidak bisa atau yang belum dapat menyanyi dengan baik dan benar, dibimbing tanpa merasa tertekan karena dominasi suara prokantor.</p>
<p><strong>Definisi Pelayanan Prokantor</strong><br />
Pelayanan pemimpin pujian adalah untuk membawa lagu jemaat pada kehidupan dan menolong jemaat agar lagu-lagu tersebut dapat merupakan doa, sama baiknya dari hati maupun akal budi. Dari buku &#8220;The Perish Cantor&#8221; karya Michael Connollytori</p>
<p><strong>Selanjutnya, apakah yang dimaksud dengan kantoria?</strong><br />
Kantoria berasal dari bahasa Latin cantare yang artinya menyanyi. Sedangkan orang yang menyanyi, dalam bahasa Latin dikenal dengan istilah cantor. Pada akhir tahun 90-an, istilah ini semakin berkembang dan dibuat terjemahan dalam bahasa Indonesia yaitu kantoria.</p>
<p>Kantoria terdiri atas kelompok penyanyi yang dipimpin oleh seorang prokantor. Jumlah ideal kantoria adalah 10% dari jumlah jemaat, namun bisa saja paduan suara yang bertugas, berfungsi sebagai kantoria.</p>
<p>Tugas Seorang Prokantor dan Tim-nya (Kantoria):</p>
<ul>
<li>Memperkenalkan dan mengajarkan lagu baru kepada jemaat;</li>
<li>Menyanyikan lagu bersama jemaat dengan cara yang benar dan tepat;</li>
<li>Memperbaiki cara menyanyikan lagu yang salah, secara langsung atau tidak langsung (jika ternyata lagu tersebut selama ini sudah salah dinyanyikan oleh jemaat);</li>
<li>Secara bergantian dapat menyanyikan satu lagu jemaat yang “utuh” dengan berbagai kemungkinan keterlibatan, antara lain: menyanyi secara alternatim (bergilir-ganti) dengan jemaat dan paduan suara, dan lain-lain;</li>
<li>Dapat menolong kelangsungan ibadah yang baik dengan melakukan kreativitas lain, misalnya dengan menambahkan gerakan dan tarian (dance and movement in liturgy). atau menyajikan nyanyian persembahan dengan gerak koreografi yang sesuai.</li>
</ul>
<p>Hal-hal tersebut di atas dapat dilakukan oleh seorang prokantor dengan dukungan kantoria, paduan suara dan para pemain musik.</p>
<p><strong>Paduan Suara</strong><br />
Paduan suara adalah bagian dari tim prokantor yang bisa berfungsi sebagai kantoria atau hanya sebagai kelompok paduan suara yang menyanyikan bagian lagu paduan suara saja.</p>
<p>Apabila tidak ada tim kantoria, maka sebaiknya tugas untuk memandu nyanyian jemaat dilakukan oleh paduan suara yang dipimpin oleh seorang prokantor.</p>
<p>Dari penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya prokantor dan kantoria merupakan satu kesatuan. Tidak ada prokantor tanpa kantoria dan juga sebaliknya.</p>
<p>Demikan tulisan ini dibuat untuk membantu jemaat dalam memahami arti dan fungsi dari istilah prokantor dan kantoria.</p>
<p>Steven Ananta</p>
<p>Note:<br />
-    Tulisan ini dikutip dari makalah seminar musik gerejawi oleh Gracia Leonora Simanjuntak<br />
-    Internet: christinamandang.multiply.com/&#8230;/Prokantor_dan_Kantoria</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/prokantor-kantoria-dan-pemandu-jemaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Paduan Suara dalam Ibadah</title>
		<link>http://gkipi.org/peranan-paduan-suara-dalam-ibadah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/peranan-paduan-suara-dalam-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 11:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5023</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Tidak diragukan lagi bahwa musik merupakan bagian penting dari ibadah agama Kristen. Di sepanjang sejarah ibadah umat Kristen, musik telah dipakai. Di dalam 1 Korintus 14:26 yang merupakan sumber informasi kita mengenai ibadah yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, kita dapat membaca adanya musik: Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa musik merupakan bagian penting dari ibadah agama Kristen. Di sepanjang sejarah ibadah umat Kristen, musik telah dipakai. Di dalam 1 Korintus 14:26 yang merupakan sumber informasi kita mengenai ibadah yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, kita dapat membaca adanya musik: Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.</p>
<p>Melalui musik, orang dapat mengekspresikan emosinya, mulai dari rasa pedih yang mendalam hingga rasa sukacita yang luar biasa. Melalui musik juga, kabar baik dapat diberitakan dan orang dapat merespons dengan doa. Bahkan, musik dapat dikatakan merupakan cara yang paling universal untuk menjelaskan liturgi.<span style="font-size: xx-small;"> 1)</span></p>
<p>Salah satu bentuk ekspresi musik dalam ibadah di gereja adalah paduan suara. Rasanya hampir semua gereja memilikinya, bahkan beberapa gereja memiliki dalam jumlah besar berdasarkan setiap kategori usia, misalnya Paduan Suara Komisi Anak, Paduan Suara Komisi Remaja, Paduan Suara Komisi Pemuda, Paduan Suara Komisi Wanita, dan seterusnya. Setiap ibadah Minggu, biasanya ada paduan suara yang membawakan satu atau dua lagu. Bahkan banyak paduan suara dibentuk oleh anggota jemaat untuk menjalankan fungsi-fungsi lain seperti mengikuti lomba atau mengadakan konser.</p>
<p>Namun seperti apakah paduan suara itu sesungguhnya dan bagaimana fungsinya dalam ibadah? Apakah yang selama ini dilakukan dalam jemaat sudah tepat? Penulis mencoba menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p><strong>Definisi</strong></p>
<p>Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa paduan suara adalah sekelompok orang yang bernyanyi, dan memang di dalam bahasa Inggris, yang dikenal sebagai paduan suara, yaitu chorus atau choir berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu kelompok bernyanyi yang penampilannya menjadi satu, dan berbeda dari penampilan solo. Kata ini awalnya digunakan dalam drama Yunani, dan serupa dengan kata Perancis choeur, Jerman chor, Itali coro, Inggris kuno quire, dan termasuk bernyanyi secara unisono (satu suara) maupun polifonik (berbagai suara sahut menyahut).<span style="font-size: xx-small;">2)</span> Tetapi apakah semua kelompok orang yang bernyanyi bersama-sama dapat dikatakan merupakan suatu paduan suara? Kenyataannya tidak.</p>
<p>Misalnya saja, vocal group yang juga banyak dibentuk di gereja. Apabila kata vocal group diterjemahkan, maka artinya ialah “kelompok vokal”. Paduan suara tentunya adalah juga suatu kelompok vokal. Jadi secara harfiah keduanya tidak berbeda. Tetapi ada yang membedakan, yaitu konotasinya. Repertoar (lagu-lagu yang dinyanyikan oleh) paduan suara, baik secara a capella atau dengan iringan instrumental adalah musik khas choir sepanjang sejarah, dari yang paling kuno sampai yang paling modern, sedangkan lagu-lagu vocal group merupakan fenomena masa kini, dalam gaya pop, biasanya dengan iringan gitar dan perkusi atau juga dengan tambahan instrumen-instrumen lain. Selain itu, vocal group lebih cenderung mementas sendiri, sedangkan paduan suara dapat menjadi bagian dari umat di dalam ibadah.<span style="font-size: xx-small;">3)</span></p>
<p>Paduan suara juga jelas harus dibedakan dari nyanyian jemaat yang termasuk dalam kategori community singing, meskipun sama-sama adalah sekelompok orang yang bernyanyi bersama-sama. Perbedaan ini karena ada musik yang secara khusus diciptakan untuk paduan suara, dan ada musik yang diciptakan untuk nyanyian jemaat, yang biasanya berbahasa sederhana, tidak terlalu pribadi kata-katanya, tidak rumit lagunya, baik dalam bentuk, syair dan melodinya, serta harus stabil dan tidak berubah-ubah dari bait ke bait.<span style="font-size: xx-small;">4)</span></p>
<p><strong>Paduan Suara di Dalam Ibadah</strong></p>
<p>Meskipun pandangan gereja-gereja mengenai paduan suara berbeda-beda, tetapi para pemimpin Gerakan Liturgia menganggap paduan suara sebagai unsur yang tetap dari ibadah jemaat, yang nyata dalam bagan-bagan tata kebaktian gereja sejak abad-abad pertama.<span style="font-size: xx-small;">5)</span></p>
<p>Pada abad-abad pertengahan, sempat terjadi perbincangan dalam Konsili Trente yang bermaksud melarang paduan suara karena terlalu banyak menampilkan lagu-lagu polifonik yang kompleks sehingga teks dari lagu-lagu tersebut tidak terdengar dan menganggu kekhidmatan beribadah.<span style="font-size: xx-small;">6)</span> Selain itu, juga terjadi berbagai penyalahgunaan fungsi paduan suara di dalam ibadah.<span style="font-size: xx-small;">7)</span> Pada abad ke-16, paduan suara mengambil alih partisipasi jemaat. Jemaat mendengarkan paduan suara bernyanyi, dan jemaat mendengarkan serta melihat. Mereka mungkin menikmatinya, tetapi ada pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika bernyanyi sendiri.<span style="font-size: xx-small;">8 )</span></p>
<p>Suatu paduan suara di dalam ibadah seharusnya memimpin jemaat dalam nyanyian mereka, dan menambahkan musik tertentu yang diperlukan oleh liturgi atau bentuk ibadahnya.<span style="font-size: xx-small;">9)</span> Pandangan serupa juga dinyatakan oleh Abineno: Dalam menjalankan tugasnya, paduan suara harus takluk kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh gereja. Tugasnya bukanlah untuk membuat “konser” di dalam ibadah, melainkan untuk memuji Tuhan bersama-sama dengan jemaat.<span style="font-size: xx-small;">10)</span></p>
<p>Paduan suara adalah tangan kanan pendeta atau pelayan firman, yang harus menunjukkan kemuliaan Surga. Pujian yang dinaikkan oleh paduan suara haruslah merupakan pujian di dalam Roh dan Kebenaran, dan paduan suara harus mendukung jemaat untuk dapat melakukan hal yang sama.<span style="font-size: xx-small;">11)</span></p>
<p>Karena itu, di dalam ibadah, paduan suara bertugas melayani. Paduan suara haruslah bernyanyi bersama-sama dengan jemaat dengan cara: “menyokong” nyanyian jemaat, yaitu membantu jemaat menyanyikan lagu-lagu yang sulit, dan membawa semangat kepada jemaat, serta menyanyi bergiliran dengan jemaat, misalnya satu bait dinyanyikan oleh paduan suara, satu bait dinyanyikan oleh jemaat, kemudian bersama-sama. Nyanyian yang dinyanyikan sendiri, menurut Abineno, hanya boleh diperdengarkan sebelum kebaktian dimulai dan sesudah berkat.<span style="font-size: xx-small;">12)</span></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari uraian di atas, kita dapat menilai paduan suara di dalam gereja kita masing-masing. Banyak dari paduan suara yang ada belum menjalankan fungsinya dengan baik. Untuk dapat mendukung ibadah dengan baik, paduan suara harus dapat bernyanyi dengan baik, artinya harus memiliki kemampuan vokal yang cukup, yang bisa didapatkan dengan latihan yang sungguh-sungguh. Paduan suara tidak bisa hanya sekadar menyanyi saja, melainkan harus bisa membawa nuansa kemegahan sehingga menggugah jemaat untuk turut serta bernyanyi untuk kemuliaan Tuhan.</p>
<p>Paduan suara tidak semestinya mengadakan ‘konser’ di dalam ibadah melalui deretan lagu-lagu yang dinyanyikan, meskipun menurut penulis sendiri tidak ada salahnya apabila paduan suara membawakan satu atau dua lagu di dalam ibadah, asalkan lagu tersebut dapat mendukung ibadah, dalam arti sesuai dengan tema, dan ditempatkan di bagian yang tepat. Paduan suara gereja boleh saja mengadakan konser atau ikut serta di dalam lomba-lomba paduan suara, tetapi jangan sampai kedua hal ini dianggap lebih penting daripada pelayanan di dalam ibadah. Untuk dapat mencapai hal-hal ini, penting bahwa setiap anggota paduan suara memiliki persepsi yang sama, dan karena itu pemimpinnya pun harus memiliki jiwa seorang pelayan.</p>
<p>Aiko Widhidana Sumichan</p>
<address>1.	Robert E. Webber, The Complete Library of Christian Music &amp; The Arts in Worship: Christian Worship-Book I (Hendrickson Publishers, 1994)</address>
<address>2.	Ray Robinson dan Allen Winold, The Choral Experience (Illinois: Waveland Press, 1992), hal 5</address>
<address>3.	Berdasarkan penjelasan Bpk. H.A. van Dop melalui e-mail tertanggal 15 Mei 2009.</address>
<address>4.	H. A. Pandopo, Menggubah Nyanyian Jemaat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984), hal 11-12</address>
<address>5.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Unsur-unsur Liturgia yang Dipakai Gereja-gereja di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal 109</address>
<address>6.	Dr. Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), hal 123</address>
<address>7.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Op.Cit., hal 109</address>
<address>8.	Paul Westermeyer, Te Deum: The Church and Music (Minneapolis: Fortress Press, 1998), hal 115</address>
<address>9.	Ray Robinson dan Allen Winold, Op.Cit., hal 465</address>
<address>10.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Op.Cit., hal 110</address>
<address>11.	Ray Robinson dan Allen Winold, Op.Cit., hal 467</address>
<address>12.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Op.Cit., hal 111</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/peranan-paduan-suara-dalam-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marilah Kita Bermazmur</title>
		<link>http://gkipi.org/marilah-kita-bermazmur/</link>
		<comments>http://gkipi.org/marilah-kita-bermazmur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 04:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4514</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan ajakan untuk mengangkat puji-pujian dengan bermazmur, yang diilhami oleh kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 2010, ketika Penatua Bambang I.Y. tidak membaca, tetapi dengan indah melantunkan Mazmur 32 dalam ibadah yang ditata dengan sangat baik. Dalam hal ini, sebagai rujukan, dipakai kebaktian umat Israel menurut Alkitab Perjanjian Lama, dalam kaitan dengan biduan Heman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini merupakan ajakan untuk mengangkat puji-pujian dengan bermazmur, yang diilhami oleh kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 	2010, ketika Penatua Bambang I.Y. tidak membaca, tetapi dengan indah melantunkan Mazmur 32 dalam ibadah yang ditata dengan sangat baik. Dalam hal ini, sebagai rujukan, dipakai kebaktian umat Israel menurut Alkitab Perjanjian Lama, dalam kaitan dengan biduan Heman dan paduan suara Korah serta Asaf, jadi sepadan dengan Mannen Koor kita, karena semuanya laki-laki.</p>
<p>Rujukan kepada kitab Mazmur dalam peribadatan umat Israel, menurut Alkitab Perjanjian Lama, dipakai sebagai referensi dalam kaitan nyanyian jemaat dan fungsi paduan suara dalam tata kebaktian Minggu jemaat GKI Pondok Indah. Dengan demikian dapat kita lihat benang merah yang terbentang antara peribadatan masa Perjanjian Lama dan masa Perjanjian Baru, khususnya keadaan kini dan di GKI Pondok Indah ini, sehingga dapat membantu kita menempatkan persoalan nyanyian, baik secara solo maupun paduan suara, dalam tata kebaktian.</p>
<p><strong>MAZMUR DAN PADUAN SUARA</strong></p>
<p>Kitab terbesar dalam Alkitab Perjanjian Lama, dengan frekuensi penggunaan sangat tinggi, ialah Kitab Mazmur. Syair-syair pujian Kitab Mazmur di dalam peribadatan umat Israel dinyanyikan dengan iringan alat musik. Yang pertama disebut ialah kecapi, kesukaan raja Daud. Himpunan ke seratus lima puluh nyanyian pujian itu diberi nama Ibrani Sepher Tehellim, artinya Buku Pujian. Kata Ibrani Tehellim mengingatkan kita pada padanannya dalam bahasa Arab, yakni Tahlil, nama yang diberikan kepada buku nyanyian lama kita “Mazmur dan Tahlil.” Jadi Mazmur dan Tahlil sesungguhnya merupakan pujian kuadrat, karena dalam kata mazmur sudah terdapat unsur tahlil.</p>
<p>Dalam perbendaharaan mazmur yang mencakup seratus lima puluh buah itu, tujuh puluh tiga di antaranya menyandang nama raja Daud sebagai penciptanya. Tetapi raja Daud bukan saja gemar mencipta, tetapi juga gemar menggunakan mazmur sebagai pujian pribadi dengan iringan kecapi, yang mengungkapkan keharuannya dalam relasi intim dengan Allah Bapa.</p>
<p>Di samping pujian pribadi, mazmur memberi tempat khusus bagi paduan suara dalam peribadatan umat Israel, menurut Alkitab Perjanjian Lama. Dalam hal ini, paduan suara Korah dihubungkan dengan sebelas mazmur, sedang porsi Asaf adalah dua belas buah mazmur. Hal itu bukan berarti mereka yang menciptakannya, tetapi semata-mata sebagai daftar repertoar mereka, termasuk Heman, yang tercatat sebagai biduan utama (I Taw. 15:1-19). Dibandingkan dengan paduan suara Korah, ternyata kelompok Asaf diberi kedudukan khusus, karena Asaf diangkat raja Daud sebagai kepala ”beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut Tuhan untuk memasyhurkan Tuhan, Allah Israel, dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.” (I Taw. 16: 4-5).</p>
<p>Sewaktu mendengarkan alunan suara Penatua Bambang I.Y. pada kebaktian tanggal 13 Juni 2010, saya mencoba membayangkan bagaimana biduan utama Heman menyanyikan mazmur, tanpa mikrofon dan pengeras suara. Dalam hal ini kita harus menghargai kreativitas Majelis Jemaat yang berhasil menata seluruh ibadah dengan rapi, disertai khotbah Pendeta Joas yang sangat menyegarkan. Memang semua serba segar. Saya teringat pada pertanyaan seorang bapa kepada anaknya: “Mengapa harus diam dalam kebaktian di gereja?” Jawab anaknya: “Agar tidak mengganggu jemaat yang tidur.” Saya berani bertaruh, bahwa pada kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 2010 itu tidak ada anggota jemaat yang tertidur, bahkan mungkin merasa kebaktian berlangsung terlalu singkat.</p>
<p>Nampaknya itulah yang diharapkan jemaat, baik dari Mannen Koor pada kesempatan itu, maupun dari nyanyian solo Penatua Bambang yang menghayati suasana Mazmur 32 melalui syair, nada dan irama. Sebab dalam hal menyanyikan mazmur terdapat catatan yang melukiskan suasana sekelilingnya, seperti, “rusa di kala fajar” (Maz. 22), atau “bunga bakung” (Maz. 45 &amp; 80), dan suasana “merpati di pohon-pohon tarbantin nun jauh [di sana]” (Maz. 56). Terus terang, keindahan seni suara yang begitu memukau dalam menyanyikan mazmur mungkin terletak di luar jangkauan imajinasi saya, karena ketidakmampuan saya merasakan suasana “burung merpati di pohon-pohon terbantin.”</p>
<p>Itulah kira-kira suasana kebaktian dalam menyajikan mazmur sebagai nyanyian tunggal oleh biduan Heman, atau paduan suara Korah dan Asaf dalam kebaktian umat Israel, yang saya bayangkan seperti yang dirasakan jemaat pada ibadah GKI Pondok Indah tanggal 13 Juni 2010.</p>
<p>Sungguhpun pujian dalam mazmur, misalnya Mazmur 103, intinya bersifat persekutuan seluruh jemaat, tetapi dimulai dengan syair-syair yang bersifat pribadi (ayat 1-5). Pujian pribadi Raja Daud itu, dimulai dan diakhiri di bagian penutupnya dengan ungkapan syukur pribadi: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” (ayat 1 dan 22).</p>
<p><strong>LITURGI KEBAKTIAN JEMAAT GKI PI</strong></p>
<p>Tata Kebaktian Hari Minggu GKI PI (berdasarkan keputusan Sinode) dimulai dengan votum dan salam. Karena kebaktian jemaat itu merupakan sarana pertemuan antara Bapa Surgawi dan umat-Nya, maka pada perjumpaan itu sudah selayaknya pendeta menyampaikan Salam Bapa Surgawi dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus (Yoh. 10:30) dengan mengangkat tangan kanannya. Kebaktian diakhiri dengan Pengutusan Jemaat disertai Berkat, yang menyatakan penyertaan dan tuntunan Roh Kudus dalam pelaksanaan tugas pengutusan tersebut di lingkungan kita masing-masing. Sesungguhnya, kebaktian sebenarnya terjadi di luar gedung gereja, dalam arti: service after service.</p>
<p>Interior gedung gereja GKI Pondok Indah memperlihatkan adanya mimbar (bukan altar), karena di gereja Kristen Protestan tidak ada altar/mezbah, tetapi sebuah meja dengan peralatan Perjamuan Kudus, yang melambangkan persekutuan jemaat yang berbasis Perjamuan Kudus. Tempat khusus disediakan di sebelah kanan mimbar, yakni bagi paduan suara. Tempat khusus ini menandakan peran paduan suara dalam liturgi kebaktian. Kekhususan itu dipertegas lagi dengan peran pelayanan paduan suara pada urutan ke-14 liturgi kebaktian.</p>
<p>Oleh karena itu, yang pertama-tama perlu kita hayati ialah peran paduan suara dalam melayankan pujian dan ibadah (praise &amp; worship) bersama-sama dalam persekutuan jemaat GKI Pondok Indah, dengan meja perjamuan sebagai titik sentral persekutuan jemaat, yang adalah Tubuh Kristus. Fokus pujian dan ibadah itu ialah Tuhan, Raja Gereja. Inilah kegiatan yang, tanpa kecuali, bersifat Christ-centered, dan dilakukan dengan penuh kekhidmatan.</p>
<p>Memang harus diakui bahwa tanpa disadari, adakalanya pengaruh lingkungan turut hadir, sehingga kekhidmatan kebaktian disusupi unsur show yang dapat mengarah kepada suasana entertainment. Itulah sebabnya Majelis Jemaat merasa perlu menghentikan kecendrungan pengunjung kebaktian untuk memberi aplaus kepada paduan suara, sungguhpun spontanitas itu terkadang tidak dapat dihindarkan.</p>
<p>Pengaruh lingkungan yang bisa merembes masuk ke dalam gereja dapat memengaruhi pemahaman kita tentang pelayanan paduan suara yang bersifat Christ-centered, dalam suasana praise &amp; worship di lingkungan jemaat GKI Pondok Indah. Tetapi ada yang berpendapat bahwa suasana ramai dan meriah dalam praise &amp; worship itu tetap bersifat Christ-centered, karena yang disajikan adalah lagu-lagu rohani, sehingga saya dianggap berpikiran kuno dan konservatif serta tidak inklusif, bahkan eksklusif.</p>
<p><strong>PERTUNJUKAN</strong></p>
<p>Kita tetap merujuk kepada peribadatan umat Israel yang mempergunakan mazmur serta peran paduan suara Korah dan Asaf, yang turut melayani dalam kebaktian. Dalam perspektif itu, kita menjumpai paduan suara dalam kebaktian Minggu di GKI Pondok Indah, sebagai bentuk nyata partisipasi jemaat. Keikutsertaan tersebut ingin ditingkatkan oleh Majelis Jemaat, yang telah mengundang jemaat untuk berpartisipasi, di antaranya sebagai lektor.</p>
<p>Yang perlu kita hayati bersama ialah bahwa pujian dan ibadah dilaksanakan dalam suasana kekhidmatan kebaktian. Hal itu diperlihatkan oleh benang merah yang membentang dari zaman paduan suara Korah dan Asaf serta biduan Heman, hingga paduan suara kini dan di sini, yakni dalam persekutuan ibadah jemaat GKI Pondok Indah, sesuai liturgi kebaktian Minggu.</p>
<p>Oleh karena itu, kebutuhan show &amp; entertainment, dengan menyuguhkan lagu-lagu rohani, harus ditampung Majelis Jemaat. Pertunjukan ini dapat saja digelar di gedung gereja, dalam hubungan dengan suatu perayaan gerejawi, bahkan dalam kerjasama dengan gereja-gereja lain. Namun, dalam konteks itu, dengan sendirinya fokus perhatian bergeser kepada kehangatan interaksi antara biduan solo, maupun paduan suara di atas pentas dengan para penggemar mereka. Oleh karena itu, pagelaran yang demikian ramai meriah menampilkan nada dan irama itu, termasuk gerakan-gerakan tubuh para pelakunya, oleh karena sifatnya, selayaknya dilaksanakan di luar kebaktian Minggu dan bukan merupakan bagian dari liturgi kebaktian jemaat GKI Pondok Indah.</p>
<p>[Paul P. Poli]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/marilah-kita-bermazmur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuasa Tersembunyi dalam Pujian</title>
		<link>http://gkipi.org/kuasa-tersembunyi-dalam-pujian/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kuasa-tersembunyi-dalam-pujian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 05:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3755</guid>
		<description><![CDATA[I. PENGANTAR Pada saat seseorang mengumandangkan lagu pujian, hal itu sama dengan berdoa karena kita berkomunikasi dengan Allah dan sekaligus mengakui kuasa-Nya untuk menolong kita. Penyembahan dan pujian adalah bentuk doa yang paling murni karena keduanya memfokuskan pikiran dan jiwa kita sepenuhnya, bukan kepada diri kita sendiri, namun kepada Dia yang kita puji atau ungkapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I.	PENGANTAR</strong></p>
<p>Pada saat seseorang mengumandangkan lagu pujian, hal itu sama dengan berdoa karena kita berkomunikasi dengan Allah dan sekaligus mengakui kuasa-Nya untuk menolong kita.</p>
<p>Penyembahan dan pujian  adalah bentuk doa yang paling murni karena keduanya memfokuskan pikiran dan jiwa kita sepenuhnya, bukan kepada diri kita sendiri, namun kepada Dia yang kita puji atau ungkapkan dalam doa dengan kata-kata yang keluar dari hati kita.</p>
<p>Suatu prinsip kiranya perlu kita pegang yaitu,“Doa akan membuat orang berhenti berdosa, tetapi sebaliknya dosa membuat orang berhenti berdoa.” Menyanyikan lagu pujian adalah doa yang kita ungkapkan kepada-Nya dari relung hati kita yang paling dalam.</p>
<p>Bernyanyi berarti mengomunikasikan kerinduan kita kepada-Nya, mendekatkan diri kita kepada-Nya dan menyambut hadirat-Nya di dalam diri kita. Bila kita memuji dan menyembah Allah, hadirat-Nya menyertai kita, karena “Sesungguhnya kita menjadi seperti apa atau siapa yang kita sembah” (Mzm. 115: 3-8).</p>
<p>Menyampaikan lagu pujian kepada Allah, baik sendiri maupun secara bersama (paduan suara), adalah suatu tindakan yang dapat berpengaruh mengubah perasaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang yang mendengarnya. Itulah sebabnya lagu pujian perlu dipahami oleh pemadah maupun pendengarnya, sehingga meresap di hati kita. Salah satu hal yang luar biasa dari Allah ialah bahwa Ia hidup di dalam pujian kita, dan Ia berada di tengah-tengah pujian kita kepada-Nya. Mzm. 22:4 berbunyi, “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”</p>
<p>Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menyembah Allah, semakin kita akan menyerupai Dia, karena apa yang kita sembah atau agungkan akan memengaruhi jiwa dan hidup kita. Sama halnya dengan seorang pemuda yang memuja seorang gadis, sehingga si pemuda akan selalu terpengaruh oleh sikap dan permintaan gadis pujaannya itu.</p>
<p>Pujian adalah alat yang digunakan Allah untuk mengubah hidup kita dan memampukan kita melakukan kehendak-Nya dan memuliakan-Nya. Pujian menjadi alat yang tepat bagi Allah untuk menyatakan kehadiran-Nya di dalam hidup kita, tetapi bukan merupakan alat untuk memanipulasi Allah agar berbuat sesuai dengan permintaan kita.</p>
<p>Pujian adalah anugerah-Nya kepada orang yang mempunyai hati yang benar-benar mengasihi, menghormati dan memuliakan-Nya. Hanya pujian yang mengutamakan Allah akan membuka kuasa-Nya yang tersembunyi. Hal ini misalnya dapat tercermin dari pola doa yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus  kepada para murid-Nya.</p>
<p>Allah harus selalu menjadi prioritas dan pusat seutuhnya dari pujian, dan bila kita memuji-Nya, maka akan ada karunia dan berkat yang akan dicurahkan-Nya kepada kita. Percayalah!</p>
<p>II.	BEBERAPA KETERANGAN YANG MENGUATKAN</p>
<p><strong>1</strong></p>
<p>Allah menghendaki agar kita selalu memuji dan mengagungkan nama-Nya, dan semakin banyak kita memuji-Nya maka hati dan jiwa kita akan semakin terpusat kepada-Nya dan kita semakin terlepas dari beban dan masalah yang kita hadapi.</p>
<p>Bila kita yakin akan kuasa pujian di dalam setiap situasi dan mengerti bahwa semua akan terpenuhi ketika kita sungguh-sungguh menyembah Allah, maka hidup kita akan semakin damai dan tenteram. Bila kita menghampiri Dia melalui pujian, kita menunjukkan kasih kita kepada-Nya, kita membuka saluran di hati kita sehingga kasih-Nya dapat mengalir ke dalam hati dan jiwa kita. Penyembahan melalui pujian akan meruntuhkan tembok-tembok negatif di dalam hati dan memberi kesegaran jiwa.</p>
<p>Pujian dan penyembahan sangat penting untuk memelihara pikiran yang sehat. Iblis akan berusaha menggoda kita untuk berbuat kesalahan namun pada saat kita menaikkan pujian kepada Allah, suaranya akan kabur dan bahkan lenyap, karena pujian dan penyembahan menjernihkan pikiran, dan membuat kita mampu mendengarkan suara Allah yang berbicara langsung ke hati kita (lihat Rm. 12:2).</p>
<p>Salah satu nyanyian pujian di mana kesedihan berganti menjadi sukacita melalui penyembahan kepada Allah, sumber segala sukacita, adalah ketika Allah berkata bahwa, “Ia datang kepada kita untuk  memberi kita perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar” (lihat Yes. 61:3).</p>
<p>Pujian kepada Allah melepaskan kita dari pikiran-pikiran negatif, seperti halnya Daud yang memohon kepada Allah dan berkata, ”Keluarkanlah aku dari dalam penjara untuk memuji nama-MU” (Mzm. 142:8). Ketika kita menaikkan pujian kepada Allah dan mengungkapkan kepedihan hati kita kepada-Nya, maka Ia akan mengangkat hati kita lebih tinggi dari kepedihan itu sehingga pikiran dan emosi negatif kita terlupakan dan kita dapat mendengar suara-Nya.</p>
<p>Inilah salah satu kuasa yang tersembunyi dalam pujian.</p>
<p><strong>2</strong></p>
<p>Kuasa lainnya yang tersembunyi di dalam pujian ialah bahwa Allah dapat memurnikan hati kita tepat di dalam proses pujian yang sedang kita lakukan kepadaNya.</p>
<p>Suara kita akan keluar dari bagian tubuh kita yang paling dalam, atau bahkan dari jiwa kita (dan tidak soal apakah suara itu merdu atau tidak). Suara kita datang dari roh kita, yang diilhami dan ditopang oleh Roh Allah sehingga suara itu akan menjadi indah. Mengangkat suara kita dalam nyanyian pujian berarti mengangkat hati kita kepada-Nya dalam penyerahan diri, kasih dan kesetiaan.</p>
<p>Bila kita memusatkan seluruh perhatian kita kepada Allah dan menyambut kehadiran-Nya di dalam jiwa dan hidup kita melalui pujian, maka hati kita akan melembut di hadirat-Nya. Kita akan dicurahi kasih-Nya, karena dalam pujian itu kita menyembah-Nya dan menjadi semakin serupa dengan-Nya.</p>
<p>Pujian juga membuka kasih di dalam hubungan kita dengan sesama, karena Allah sanggup mengubah hati, kalau kita mau memberi-Nya kesempatan  untuk melakukannya di dalam diri kita. Bila kita menyembah dan memuji-Nya serta sepenuhnya menghargai kasih dan kuasa-Nya, lalu kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya atas semua hal yang dilakukan-Nya selama hidup kita, maka rasa damai dan sejahtera akan mengalir di dalam hidup kita.</p>
<p>Pujian dapat mengubah situasi dan itulah juga kuasa yang tersembunyi di balik pujian kepada Allah.</p>
<p><strong>3</strong></p>
<p>Bila kita memuji Allah di tengah-tengah penyakit, rasa sakit, kelemahan atau kesedihan, maka pujian yang menyuarakan penyembahan kita itu akan membuka saluran ke hadirat-Nya yang dapat menembus hati kita, memberi ketabahan dan bahkan menyembuhkan kita sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p>Segala sesuatu bisa terjadi bila kita menyembah Allah, karena memuji Allah melalui nyanyian adalah juga doa yang dapat mengubah segala sesuatu. Perhatikan Mazmur 102 di mana si penulis menyampaikan perasaannya dengan jujur kepada Allah atas semua hal yang sedang dideritanya, dan berseru agar Ia mendengar doanya dan memberi masa depan yang lebih cerah kepadanya.</p>
<p>Bila kita memuji Allah dan menyadari kuasa-Nya, maka dengan sadar kita akan menyerahkan rasa kecewa atau kekuatiran kita kepada-Nya. Pujian itu akan membuat kita menyadari bahwa Allah berkuasa menolong kita dan akan menjawab kita menurut jalan dan waktu yang dikehendaki-Nya.</p>
<p>Bila kita memuji Allah pada saat terjadi kekecewaan dan kejemuan, maka Ia akan membuka mata hati kita kepada kebenaran, dan hal itu akan menolong kita melihat segala sesuatu dari perspektif yang lebih baik.</p>
<p>Alkitab berkisah tentang sejumlah perempuan yang berdoa sambil bernyanyi menangisi nasib mereka yang tanpa harapan, mandul seperti Elizabeth dan Sara karena telah melampaui batas umur bagi seorang ibu untuk hamil, demikian juga halnya dengan Hana. Tetapi karena ketekunan dan keyakinan maka akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka dambakan.</p>
<p>Apabila kita mempunyai impian dalam hidup yang selama bertahun-tahun seakan-akan tak pernah Allah penuhi, maka kita perlu terus-menerus menyembah Allah dan menghadapinya dengan penuh harapan kepada-Nya. Bahkan bila harapan kita terhadap situasi seakan-akan sudah pupus, kita perlu terus tekun memuji Allah dengan mengingat akan kuasa kebangkitan-Nya, yang juga akan dapat membangkitkan kita dari kondisi yang sudah mati itu melalui suatu harapan kebangkitan bersama-Nya.</p>
<p>Sebagaimana doa, maka menyanyikan lagu pujian kepada-Nya juga berarti berbagi perasaan kita kepada Allah, memberitahukan keyakinan kita akan kuasa pertolongan-Nya.</p>
<p>Pujian kita akan melepaskan tali pengikat berkat yang menyertai-Nya, dan membawa kita kepada situasi datangnya hadirat Allah, yang turun dan tinggal di dalam kita, dan di dalam hadirat-Nya itu hati kita akan merasa damai dan sejahtera. Hal ini juga merupakan kuasa yang tersembunyi dalam setiap pujian.</p>
<p><strong>4</strong></p>
<p>Kita juga perlu memuji Tuhan pada saat kita mempunyai masalah dalam hubungan dengan sesama, di mana kita perlu saling mengampuni. Apapun masalahnya dan bagaimanapun kejadiannya, namun kita harus meyakini bahwa sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kita, kita pun wajib mengampuni.</p>
<p>Ingatlah akan kisah raja yang mengampuni seseorang yang berutang banyak dan perintah Yesus untuk mengampuni orang yang bersalah sampai tujuh puluh kali tujuh kali (Mat. 18 ayat 21-22). Sebab kalau kita tidak mengampuni orang lain setelah kita diampuni-Nya, maka jiwa kita pun akan terpenjara dan tersiksa.</p>
<p>Pada saat kita memuji Allah, maka melalui Roh-Nya Ia akan menolong kita mengingat perintah-perintah-Nya. Hal ini dialami oleh murid-murid ketika membangunkan Yesus pada saat badai menyerang perahu mereka (Luk. 8: 22-25). Ketika Yesus dibangunkan, maka Ia menegur badai dan air yang mengamuk itu, dan seketika itu juga ombak berhenti dan keadaan menjadi tenang.</p>
<p>Ketika kita memuji dan memuliakan-Nya, kita berusaha membangunkan-Nya di dalam jiwa kita, sehingga badai kehidupan yang sedang bergejolak pun menjadi tenang.</p>
<p>Demikian juga ketika kita diperhadapkan pada berbagai persoalan dan cobaan, maka perspektif Tuhanlah yang menguasai hati dan pikiran kita, dan bukan perspektif diri kita sendiri. Ini juga merupakan salah satu kuasa yang tersembunyi dalam kita memuji Allah.</p>
<p><strong>5</strong></p>
<p>Kita juga perlu memuji Tuhan pada saat berada dalam kondisi tertekan akibat berbagai masalah, baik dalam keluarga, di lingkungan pekerjaan, di kantor, atau bahkan ketika kita dipenjara, lalu kita menyesali kesalahan, kekeliruan atau dosa yang kita lakukan.</p>
<p>Ketika Paulus dan Silas dihakimi, dilempari batu bahkan dipenjarakan walaupun mereka bermaksud baik (Kis.16:19-40), mereka tidak mengeluh tetapi malah menyanyi sambil memuji Tuhan di tengah malam yang dingin. Mereka menyanyikan pujian bagi Allah, dan sementara mereka menyanyi itu terjadi gempa yang menggoncang penjara sehingga pintu-pintu sel terbuka.</p>
<p>Jadi kita perlu memuji Tuhan ketika hati kita terbelenggu dalam penjara kehidupan, kita perlu berdoa atau menyanyikan lagu pujian ketika jiwa kita terkungkung, niscaya Tuhan akan menghampiri dan membebaskan kita dari situasi dan kondisi itu.</p>
<p>Bila kita memuji-Nya, kita mengundang-Nya melakukan kehendak-Nya di dalam hidup kita, yang selalu lebih besar dari segala sesuatu apa yang mampu kita lakukan. Alkitab mengatakan bahwa Allah akan menjaga dan melindungi kita dari kesukaran sehingga kita akan terluput dan bersorak bebas (Mzm. 32: 6-7).</p>
<p>Seorang pendeta bernama Jack Hayford  berkata: “Seperti halnya musik di alam fisik dapat menghasilkan gelombang suara yang memecahkan sebuah gelas, demikianlah penyembahan yang penuh dengan nyanyian pujian di alam rohani akan dapat menggoyahkan kekuasaan setan, merobohkan kerajaan neraka dan memperluas kerajaan Allah melalui Yesus Kristus.</p>
<p>Bila kita menyanyikan pujian kepada Allah atas kehadiran-Nya, kuasa-Nya, dan segala sesuatu yang dilakukan-Nya, maka penyembahan kita menjadi alat yang tepat untuk memerdekakan kita dari berbagai masalah yang memenjarakan hati.</p>
<p>Penyembahan melalui pujian bermakna untuk mengatakan kepada Allah bahwa kita mengasihi Dia. “Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” ( Yoh. 14:21).</p>
<p>Allah mengajarkan jalan-jalan-Nya melalui syair pujian yang kita nyanyikan, dan Ia menghendaki agar kita mengakui-Nya sebagai Allah dalam ucapan kita dan melayani-Nya melalui tindakan kita. Penyembahan kepada Allah melalui pujian adalah tindakan menghampiri Allah dan membiarkan-Nya mengangkat jiwa kita ke alam Roh-Nya. Ini juga kuasa yang tersembunyi dalam pujian kepada Allah.</p>
<p><strong>III.	REFLEKSI</strong></p>
<p>Dari berbagai uraian dan dukungan Firman Tuhan di atas maka diharapkan agar jemaat lebih rajin datang ke gereja, berdoa dan memuji Tuhan dalam persekutuan bahkan kalau masih mampu dan mempunyai talenta agar mengikuti grup paduan suara atau vocal group lainnya. Selamat bergabung.</p>
<p>Tuhan memberkati.</p>
<p>[R. Sihite, anggota Mannen koor GKI PI]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kuasa-tersembunyi-dalam-pujian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paduan Suara, Grup Vokal</title>
		<link>http://gkipi.org/paduan-suara-grup-vokal/</link>
		<comments>http://gkipi.org/paduan-suara-grup-vokal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 23:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkipi.org/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai sutradara, Pemimpin Pujian/Pemandu Nyanyian (Song Leader) dan pemain musik membimbing jemaat untuk membalas Firman Tuhan yang disampaikan kepadanya. Pemandu Nyanyian dan pemain musik harus memerhatikan beberapa hal sehingga ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Lalu… Bagaimana dengan Paduan Suara, Grup Vokal, Solo, duet, dan lain-lain? Apa peranannya? Anggapan yang Salah Semua orang  terlibat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>ebagai sutradara, Pemimpin Pujian/Pemandu Nyanyian (Song Leader) dan pemain musik membimbing jemaat untuk membalas Firman Tuhan yang disampaikan kepadanya. Pemandu Nyanyian dan pemain musik harus memerhatikan beberapa hal sehingga ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.</p>
<p>Lalu…<br />
Bagaimana dengan Paduan Suara, Grup Vokal, Solo, duet, dan lain-lain? Apa peranannya?</p>
<p><strong>Anggapan yang Salah</strong></p>
<p>Semua orang  terlibat di dalam sebuah ibadah. Semuanya diatur dalam sebuah “naskah” bernama Tata Ibadah. Selain dari Pemimpin Pujian dan pemain musik, ada juga Paduan Suara, Grup Vokal, Solo, Duet, dll yang juga hadir dalam  ibadah.<br />
Ada orang beranggapan bahwa kehadiran mereka adalah seperti pagelaran/pertunjukan, sehingga sekalipun seringkali isi dari lagu tidak pas dengan tema, maka merupakan hal yang diabaikan saja. Mengapa? Karena pujian dianggap sebagai sebuah bagian yang berdiri sendiri dan tidak harus berhubungan/ berkaitan dengan tema ibadah pada hari itu.</p>
<p><strong>Anggapan ini tidaklah pas.</strong></p>
<p>Tampilnya paduan suara, grup vokal, bukanlah untuk sebuah pertunjukan. Paduan suara, grup vokal, Solo, dan lain-lain adalah bagian dari jemaat yang mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas Firman yang Ia berikan kepada umatNya. Terlebih lagi, paduan suara, grup vokal, solo dan lain-lain. merupakan penegasan Firman Tuhan atau merupakan jawaban dari kesediaan diri jemaat Tuhan untuk menjadi pelaku Firman Tuhan dalam hidupnya.<br />
Tetapi paduan suara, grup vokal, solo, dll tidak bisa menggantikan pujian yang jemaat nyanyikan; artinya tidaklah bisa kalau pujian yang merupakan jawaban jemaat atas Firman Tuhan hanya diwakili oleh paduan suara, grup vokal atau solo, sehingga jemaat hanya diam saja.</p>
<p><strong>Letak</strong></p>
<p>Oleh karena itu kita perlu membicarakan letaknya. Di mana letak paduan suara, grup vokal, solo, dan lain-lain? Oleh karena tidak bisa menggantikan pujian jemaat, dan merupakan jawaban atas Firman Tuhan, maka paduan suara, grup vokal, solo, dll. Letak mereka menyatakan pujiannya adalah pada saat setelah saat teduh/hening. Mereka juga tidak menggantikan saat hening. Saat hening harus tetap ada yang memberikan kesempatan kepada jemaat untuk merenungkan (bukan berdoa) Firman Tuhan, meresapkannya dalam hati dan pikiran. Dalam hal ini pujian dinyatakan sebagai penegasan dan respon jemaat.</p>
<p>Kalau lebih dari satu? Tentu tidak bisa berurutan. Tetapi dilaksanakan pada saat persembahan dilakukan. Ingatlah, bahwa pujian yang dinyanyikan juga adalah sebuah persembahan kepada Tuhan, sehingga pujian ini bisa mengiringi jemaat untuk mengucap syukur kepada Tuhan.</p>
<p>Oleh karena itu sebagaimana komisi musik telah membuat aturan yang sudah diwartakan yaitu bahwa jemaat yang ingin mengisi pujian diharapkan untuk memberitahu terlebih dahulu kepada komisi musik, dan memberitahukan lagu yang akan dinyanyikan. Mengapa? Supaya semuanya teratur.</p>
<p>Bayangkan: dalam sebuah ibadah ada empat sampai lima paduan suara, grup vokal, solo, duet. Betapa panjang sebuah ibadah itu.</p>
<p><strong>Pilihan Lagu</strong></p>
<p>Untuk itu yang sangat penting diperhatikan adalah pilihan lagu. Lagu yang dinyanyikan sudah semestinya adalah merupakan lagu yang sesuai dengan tema/tahun gerejawi pada waktu itu.</p>
<p>Contohnya adalah jikalau masa raya natal tetapi pilihan lagunya: “kepala yang berdarah…”. Bukankah akan sangat mengganggu?</p>
<p><strong>Tepuk Tangan</strong></p>
<p>Tepuk tangan adalah sebuah apresiasi. Tetapi tentu dalam ibadah ini sebuah pujian yang disampaikan oleh paduan suara, grup vokal, solo, dan lain-lain bukanlah sebuah pertunjukan bagi jemaat (lihat di atas). Karena itu apresiasi jemaat hendaknya bukan berupa tepuk tangan, tetapi memuji dan memuliakan nama Tuhan, karena Tuhan sudah memberikan talenta yang demikian indah untuk saudara/saudara-saudara yang sudah membawakan sebuah pujian untuk Tuhan. Jadi, bukan berupa tepuk tangan.</p>
<p>Tetapi bukan berarti tidak boleh sama sekali. Bagi anak-anak yang tampil untuk membawakan pujian bagi Tuhan; bagi mereka diberikan tepuk tangan oleh jemaat adalah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Sekalipun harus disadari “bahaya”-nya ketika mereka beranjak dewasa, karena itu harus diberikan pemahaman dan pengertian ketika mereka beranjak dewasa.</p>
<p>Atau bagi semua pengisi pujian–baik anak-anak maupun orang dewasa perlu dipikirkan bentuk apresiasi kepada paduan suara, grup vokal, solo, dan lain-lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/paduan-suara-grup-vokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sweet Hour of Prayer (1845)</title>
		<link>http://gkipi.org/sweet-hour-of-prayer-1845/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sweet-hour-of-prayer-1845/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 04:46:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini saya mengikuti persekutuan akhir tahun 2008/menyongsong tahun 2009 bertemakan &#8220;Mengucap Syukur Untuk Tahun Lalu dan Berdoa Untuk Tahun Depan.&#8221; Tema ini sederhana namun sangat mendasar karena pada tahun 2008 saya mengalami pergumulan dan tantangan yang cukup berat, tetapi penyertaan dan perlindungan Tuhan telah menyanggupkan saya menghadapinya. Saya sadar bahwa secara kasat mata tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">B</span>aru-baru ini saya mengikuti persekutuan akhir tahun 2008/menyongsong tahun 2009 bertemakan &#8220;Mengucap Syukur Untuk Tahun Lalu dan Berdoa Untuk Tahun Depan.&#8221; Tema ini sederhana namun sangat mendasar karena pada tahun 2008 saya mengalami pergumulan dan tantangan yang cukup berat, tetapi penyertaan dan perlindungan Tuhan telah menyanggupkan saya menghadapinya. Saya sadar bahwa secara kasat mata tahun 2009 ini juga merupakan tahun yang cukup berat, namun sesuai tema di atas saya beriman bahwa dengan penyertaan dan pertolongan Tuhan, saya pun akan sanggup menghadapinya.</p>
<p>Satu fenomena yang saya alami dalam masa-masa sulit itu ialah kuatnya dorongan untuk lebih intensif berdoa. Karena pergumulan saya lebih banyak berlatar belakang teknis, saya merasa betapa sempitnya perspektif doa saya dan terlebih-lebih sifatnya hanya satu arah saja, yaitu agar Tuhan memenuhi permintaan saya. Dengan anugerah dan kemurahan Tuhan-dan saya yakin bukan suatu kebetulan (sebelum terjadi krisis moneter global)-saya membeli dua Injil yang betul-betul memberkati saya, masing-masing berjudul: The Prayer Bible (New Living Translation terbitan Tyndale House Publishers, Inc) dan Prayer Devotional Bible (The Holy Bible, New International Version terbitan Zondervan).</p>
<p>Suatu saran dari kedua Alkitab tersebut ialah untuk tidak membaca Firman Tuhan tanpa berdoa dan menghindari berdoa tanpa membaca Firman Tuhan. Kalau kita berdoa dan Firman Tuhan menjadi landasannya, maka kita tak perlu ragu-ragu lagi apakah doa kita sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Perlu disadari bahwa doa bukan merupakan piranti agar Tuhan memberikan apa yang kita minta. Doa adalah piranti Tuhan agar apa yang dikehendaki-Nya bagi kita itu terwujud. Kalau demikian, mungkin akan timbul sikap bahwa kita tak perlu berdoa karena semuanya sudah Tuhan sediakan. Persepsi seperti itu akan membuat doa kita lebih bersifat kegiatan formalitas belaka, dan hanya dirasakan sebagai kewajiban. Namun, bukankah kita sebagai ciptaan yang sangat berharga di mata Tuhan menyadari betapa besar kasih Tuhan itu, sehingga ketika menghampiri Tuhan, perjumpaan itu dilandasi oleh kerinduan untuk mengalami saat yang indah bersama-Nya? Bukankah setiap kali kita membaca Firman senantiasa tersedia pencerahan yang baru, termasuk bagian Firman yang sudah pernah kita baca?</p>
<p>Firman Tuhan dalam Efesus 3:18-20 merupakan doa Rasul Paulus: <em>Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.</em></p>
<p>Firman Tuhan memberi ruang untuk mengubah doa kita menjadi doa yang selaras isinya dengan kehendak Tuhan. Doa yang didasarkan kepada pikiran dan ide kita sendiri adalah doa yang terbatas, sebaliknya doa yang diinspirasi oleh Firman Tuhan tidak mengenal batas. Yesaya 55:8-9 mengatakan: <em>Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.</em></p>
<p>Firman Tuhan sangat kaya dan pada saat Firman itu berbicara kepada kita, hati kita serasa tak terbendung lagi untuk menanggapinya. Firman Tuhan mengilhami doa kita. Doa mengalir secara alami pada waktu Firman itu menyentuh suasana hati kita yang sedang gelisah, frustasi atau marah. Mungkin juga Firman itu menguak suatu dosa yang terjadi dalam hidup kita sehingga kita memohon pengampunan-Nya. Namun sebaliknya kita juga akan bersorak-sorai dan memuji Tuhan ketika berkat dan pertolongan-Nya nyata di dalam hidup kita.</p>
<p>Sebagai pribadi yang masih dipercaya untuk memimpin sebuah perusahaan (staf dan keluarga mereka yang semuanya berjumlah sekitar 240 orang menggantungkan penghidupan mereka kepada usaha perusahaan), terus terang kesempatan saya untuk membaca Firman Tuhan dan bersaat teduh relatif terbatas, namun saya tetap berusaha melakukannya dengan setia. Berdoa secara umum dipahami sebagai kegiatan yang bersifat agresif (dalam arti, kita berusaha semaksimal mungkin menggunakan waktu doa kita agar apa yang menjadi gejolak hati kita dapat diungkapkan), namun kegiatan doa juga memiliki sisi lain, yaitu berdiam diri (silent). Pada saat hening itulah kita dapat lebih nyata merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Kudus.</p>
<p>Mazmur 37:7 berkata, <em>&#8220;Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia&#8221; (versi The New Living Translation, &#8220;Be still in the presence of The Lord, and wait patiently for Him.&#8221;) </em></p>
<p>Tuhan Yesus memberikan petunjuk di dalam Matius 6:7-8 sebagai berikut:<em> Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. </em></p>
<p>Situasi hening sedemikian itu sepatutnya kita sambut dengan sembah sujud dan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Itulah waktunya ketika pandangan Tuhan yang penuh kasih dan pengertian tertuju kepada kita. Ia menghibur pada waktu kita sedih, memberi terang pada waktu kita berada di dalam kegelapan, menghidupkan pengharapan pada waktu kita putus asa, menciptakan ketenangan pada waktu kita gelisah, dan meniupkan kekuatan serta pengharapan waktu kita sakit. Tapi Ia juga tertegun menyaksikan kesombongan rohani dan intelektual kita. Dengan kasih Ia mengulurkan tangan-Nya guna memberi kita keberanian untuk bersujud dan menghampiri-Nya, memohon ampun atas segala dosa kita.</p>
<p>Pada saat ini Tuhan sedang memulihkan (restore) kehidupan saya dan saya yakin banyak saudara seiman juga mengalaminya. Dalam ilmu teknologi, restore adalah tindakan untuk membersihkan segala elemen yang mengganggu jalannya suatu program, dan salah satu hal yang utama ialah terus-menerus mengeliminasi virus dari luar. Firman Tuhan dan doa adalah tindakan pemulihan yang Tuhan lakukan bagi siapa saja yang mau menerima dan percaya kepada-Nya. Lambat-laun pasti terjadi suatu perubahan dalam hidup kita.</p>
<p>Lagu &#8220;Sweet Hour of Prayer&#8221; dikarang oleh seseorang yang menurut logika dunia tak mungkin dapat melakukannya, tetapi fakta menunjukkan bahwa segala sesuatu mungkin apabila Tuhan menghendakinya.</p>
<p>Puisi &#8220;Sweet Hour of Prayer&#8221; muncul pertama kali di harian The New York Observer pada tanggal 13 September 1845, disertai pengantar dari Rev. Thomas Salmon, seorang hamba Tuhan dari Inggris yang baru saja berimigrasi ke Amerika: &#8220;Saya berkenalan dengan <strong>W.W. Walford</strong> yang tinggal di Coleshill Warwickshire, Inggris. Ia seorang hamba Tuhan yang tuna netra, tak jelas asal-usulnya, tak berpendidikan namun memiliki penalaran yang sangat tinggi serta daya ingat yang luar biasa. Ia tak pernah keliru menyampaikan pengajaran dalam khotbah-khotbahnya dan dapat mengutip pasal dan ayat Alkitab dengan tepat. Ia jarang salah mengulangi kata-kata yang terdapat di dalam Mazmur, Perjanjian Lama dan Baru, nubuatan dan kadang-kadang latar belakang sejarah, sehingga memiliki reputasi sebagai &#8220;orang yang hafal seluruh isi Alkitab.&#8221; Ia selalu menyiapkan khotbahnya dengan duduk di bawah cerobong asap rumahnya. Pada suatu hari ketika saya berkunjung ke rumahnya, ia sedang mengulang-ulang serangkaian kata-kata. Oleh karena waktu itu tak ada orang lain di rumahnya yang dapat menuliskan kata-kata itu di atas kertas, saya bergegas mencatatnya dengan pensil dan mengirimkan untaian kata-kata itu ke harian Observer.</p>
<blockquote>
<h3>Sweet Hour of Prayer</h3>
<p>Sweet hour of prayer,<br />
Sweet hour of prayer,<br />
That calls me from a world<br />
of care, And bids me at my Father&#8217;throne Make all my<br />
wants and wishes known<br />
In seasons of distress and grief My soul has often found relief,<br />
And oft escaped the tempter&#8217;s snare, By Thy return,<br />
sweet hour of prayer.</p>
<p>Sweet hour of prayer,<br />
Sweet hour of prayer,<br />
Thy wings shall my petition bear<br />
To Him whose truth and<br />
faithfulness Engage the waiting soul to bless,<br />
And since He bids me seek<br />
His face, Believe His word and trust His grace,<br />
I&#8217;ll cast on Him my every care, And wait for Thee,<br />
sweet hour of prayer.</p>
<p>Sweet hour of prayer,<br />
Sweet hour of prayer,<br />
May I Thy consolation share,<br />
Till from Mount Pisgah&#8217;s lofty height, I view my home<br />
and take my flight,<br />
This robe of flesh I&#8217;ll drop,<br />
and rise To seize the<br />
everlasting prize,<br />
And shout while passing<br />
through the air, Farewell,<br />
sweet hour of prayer.</p></blockquote>
<p>Satu bagian puisi yang dimuat dalam The Observer tidak dimasukkan di dalam lagu ini:</p>
<blockquote><p>Sweet hour of prayer!<br />
Sweet hour of prayer!.<br />
The joys I feel, the bliss I share,<br />
Of those whose anxious spirits burn with strong desires<br />
for thy return!<br />
With such I hasten to the place where God my Savior shows<br />
His face,<br />
And gladly take the station there, and wait for thee,<br />
sweet hour of prayer!<br />
(Lirik oleh William W. Walford, notasi oleh William B. Bradbury)</p></blockquote>
<p>Kitab Mazmur adalah kitab doa dalam Alkitab dan kesaksian pribadi para penulisnya tertulis sebagai berikut:<br />
Mazmur 34:5 &#8220;<em>Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.&#8221; </em><br />
Mazmur 116:2 <em>&#8220;Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.&#8221;</em><br />
Mazmur 138:3 <em>&#8220;Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.&#8221;</em></p>
<p>Selamat bersaat teduh. Tuhan memberkati.</p>
<p><em>Nono Purnomo</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sweet-hour-of-prayer-1845/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>People Need The Lord</title>
		<link>http://gkipi.org/people-need-the-lord/</link>
		<comments>http://gkipi.org/people-need-the-lord/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 04:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Pancaran mata mereka menampakkan kekosongan. Inilah masanya Tuhan memanggil kita untuk menolong sesama kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Matius 3:17, &#8220;Sebab Allah mengutus Anak-Nya dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.&#8221;</p></blockquote>
<p><span class="cap">B</span>eberapa waktu yang lalu Paduan Suara Agape melantunkan lagu &#8220;People Need The Lord&#8221; dalam suatu kebaktian hari Minggu. Lirik lagu tersebut sungguh menyentuh hati saya karena pada masa sekarang ini, saya (dan saya rasa banyak orang lain juga mengalaminya) dalam keadaan sulit karena terkena dampak krisis keuangan yang sedang melanda dunia. Sejumlah rencana dan keinginan pribadi maupun strategi dan komitmen perusahaan (pertanggungan jawab kolektif dengan pemilik modal) yang telah disusun dengan baik, menjadi porak-poranda tanpa ada alternatif dan jalan keluar. Secara nalar dan perhitungan para ahli, diperlukan waktu lama untuk mengatasi krisis ini.</p>
<p>Sebagai anak Tuhan tentu saya yakin bahwa tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi oleh Tuhan, namun peristiwa ini sekaligus merupakan waktu untuk merenungkan kembali apakah selama ini saya menyediakan cukup waktu untuk menyerahkan segala keinginan, pikiran dan rancangan pekerjaan serta kehidupan pribadi saya kepada Tuhan. Terus terang saya harus akui bahwa persiapan-persiapan yang secara rasional telah dilakukan untuk melaksanakan rancangan tersebut ternyata ludes dengan terjadinya krisis moneter ini. Bagaimanapun juga rencana-rencana tersebut (bidang pelatihan dan konsultasi teknologi informasi) harus terwujud meskipun kekurangan daya. Saya mengalami tekanan batin yang cukup berat. Saya merasa menyesal, frustasi, sedih dan hilang pengharapan.</p>
<p>Saya sungguh mengucap syukur kepada Tuhan bahwa selama bulan Oktober yang lalu konsentrasi pembacaan Firman Tuhan saya ialah Kitab Yesaya. Saya percaya bahwa hal ini bukan kebetulan tapi merupakan kasih dan kemurahan Tuhan. Kitab nabi Yesaya ditujukan kepada sebagian bangsa Israel yang terlena karena kemakmuran yang diperoleh dengan cara-cara yang tak sesuai dengan firman Tuhan, bahkan mereka mulai meninggalkan Tuhan dan menyembah ilah-ilah lain. Gejala dan penyimpangan terhadap prinsip-prinsip Firman Tuhan itu merupakan pembelajaran yang relevan untuk masa kini, bukan untuk saya saja secara pribadi tetapi juga bagi kita semua.</p>
<p>Krisis keuangan dan ekonomi yang dialami sekarang adalah akibat dari keserakahan para pelaku keuangan yang mengabaikan etika bisnis yang bijaksana. Mereka mengejar keuntungan besar dalam waktu sesingkat-singkatnya dan tak memedulikan kehancuran yang akan menimpa pihak lain.</p>
<p>Dalam situasi sedemikian, berarti saya (dan saya percaya, juga pihak-pihak lainnya) harus mulai lagi dengan modal yang secara rasional sama sekali tak memungkinkan. Namun Firman Tuhan dalam Kitab Yesaya memberikan pertolongan kepada saya untuk melakukan langkah-langkah pemulihan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Saya mengaku salah dan mohon pengampunan atas dosa-dosa saya (Yesaya 57:15 b, &#8220;<em>Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.&#8221;</em></li>
<p><span id="more-453"></span></p>
<li>Saya mohon agar Tuhan berkenan mengevaluasi dan merevisi segala rancangan saya (Yesaya 55:8-9, <em>&#8220;Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu&#8221;</em>).</li>
<p><!--more--></p>
<li>Saya harus menepikan segala andalan kemampuan saya agar hikmat Tuhan meluruskan persepsi saya (Yesaya 48:17, <em>&#8220;Beginilah firman Tuhan Penebusmu: ‘Akulah Tuhan Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh&#8217;</em>). Firman ini mengoreksi saya untuk membuka mata saya atas hal-hal yang seharusnya saya lakukan selama ini tetapi karena saya terlalu mengandalkan pendidikan, pengetahuan, pengalaman, reputasi dan jabatan saya, telah saya abaikan atau tak perhatikan, padahal seharusnya perkara-perkara itu menjadi sendi-sendi keberhasilan suatu proyek.</li>
<p><!--more--></p>
<li>Dalam keadaan yang mencekam, justru ada satu firman Tuhan yang kelihatannya paradoks dengan keadaan saya, tetapi itulah jalan Tuhan yang harus ditempuh terlebih dahulu (Yesaya 58:7-8, <em>&#8220;Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri. Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu).&#8221;</em></li>
<p><!--more--></p>
<li>Saya menyadari bahwa inilah saatnya proses restorasi dan rekonstruksi total yang Tuhan sedang lakukan bagi siapa saja yang mau menyerahkan hidupnya kepada Nya. Firmannya memang tak menyatakan bahwa masa restorasi itu akan berlangsung secara instan namun melalui perjalanan bersama dengan Tuhan ada pengharapan (Yesaya 37:30 b, <em>&#8220;Dalam tahun ini orang makan apa yang tumbuh sendiri, dan dalam tahun yang kedua, apa yang tumbuh dari tanaman yang pertama, tetapi dalam tahun yang ketiga, menaburlah kamu, menuai, membuat anggur dan memakan buahnya).&#8221; </em>Selanjutnya dalam Yesaya 35 ayat 8 perjalanan bersama Tuhan akan melalui apa yang dinamakan, <em>&#8220;Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.&#8221;</em></li>
<p><!--more--></ol>
<p>Firman Tuhan melalui nabi Yesaya begitu kaya dan masih banyak bagian-bagian lain yang tidak saya cantumkan di dalam naskah ini. Kita semua menerima amanat dari Tuhan sebagai warga Kerajaan Allah untuk menyampaikan kabar baik dan keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Dalam Yesaya 65 ayat 1, Tuhan berkata, <em>&#8220;Aku telah memberikan petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata &#8220;Ini Aku! Kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu.&#8221;</em></p>
<p>Lagu &#8220;People Need The Lord&#8221; terinspirasi dari pengalaman dua penggubahnya yang mengamat-amati orang-orang di sekelilingnya. Betapa banyak orang yang kelihatannya biasa-biasa saja, tetapi pancaran mata mereka menampakkan kekosongan. Inilah masanya Tuhan memanggil kita untuk menolong sesama kita.<br />
Ora et Labora. Tuhan memberkati kita semua.</p>
<blockquote>
<h3>People Need The Lord</h3>
<p>Every day they pass me by;<br />
I can see in their eyes<br />
Empty  people filled with care,<br />
Headed who knows where.</p>
<p>On they go through private pain, living fear to fear,<br />
Laughter hides their silent cries only Jesus hears.</p>
<p>We are called to take His light<br />
To a world where  wrong seems right,<br />
What could be too great a cost<br />
For sharing life with one<br />
who&#8217;lost?<br />
Through His love our hearts<br />
can feel<br />
All the grief they bear.<br />
They must hear the words of life only we can share</p>
<p>(Greg Nelson and Phil Mc Hugh)</p></blockquote>
<p><em>Nono Purnomo</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/people-need-the-lord/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Great Is The Lord</title>
		<link>http://gkipi.org/great-is-the-lord/</link>
		<comments>http://gkipi.org/great-is-the-lord/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Michael W. Smith berasal dari kota kecil Kenova, di negara bagian Virginia Barat. Ayahnya seorang pekerja penyuling minyak dan katering. Ketika Michael berumur 10 tahun, ia mengikuti kegiatan gereja namun setelah menamatkan SMA ia terperosok ke dalam minuman keras dan narkoba.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis ingat bahwa pada tahun 2002, dalam persekutuan wilayah di Bintaro, beberapa kali dicetuskan gagasan untuk memerluas pertemuan-yang biasanya hanya dihadiri oleh para orang tua-dengan persekutuan anak-anak. Salah satu media yang dirasa paling strategis adalah pembentukan ensambel musik anak-anak/remaja.</p>
<p>Dengan berbekal iman dan doa terbentuklah ensambel tersebut sekitar bulan September 2002 dengan nama &#8220;Imago Dei&#8221;. Walaupun bukan pengurus ensambel, namun penulis mengetahui bahwa dengan banyak pengorbanan, kesabaran, ketekunan dan fasilitas terbatas ensambel &#8220;Imago Dei&#8221; berkembang pesat. Kalau tadinya penampilan pelayanan mereka hanya berupa instrumental, maka sekali-sekali ensambel tersebut digabungkan dengan paduan suara wilayah Bintaro &#8220;Agape&#8221;.</p>
<p><span class="cap">P</span>ada perayaan pengucapan syukur HUT ke-III &#8220;Imago Dei&#8221; bulan September 2005 di lantai 3 Gedung Pertemuan GKI Pondok Indah, lagu &#8220;Great is the Lord&#8221; dikumandangkan secara instrumental sebagai pembuka dan penutup acara. Pujian tersebut telah diaransemen kembali dan penyelenggaraannya dipimpin oleh Thomas Suharja.</p>
<p><strong>Michael W. Smith</strong> berasal dari kota kecil Kenova, di negara bagian Virginia Barat. Ayahnya seorang pekerja penyuling minyak dan katering. Ketika Michael berumur 10 tahun, ia mengikuti kegiatan gereja namun setelah menamatkan SMA ia terperosok ke dalam minuman keras dan narkoba. Kemudian ia pindah ke kota Nashville Tennessee dan bergabung dengan band biasa di tempat itu serta masih terus menjalani gaya hidupnya yang berantakan.</p>
<p>Pada saat berusia 20 tahun, ia mengalami puncak kehancuran dan Tuhan menyentuh hidupnya sehingga ia bertobat dan memerbaharui penyerahan dirinya kepada Yesus Kristus. Perubahan yang drastis ini terjadi berkat kontaknya dengan para musisi Kristen. Sejak itu ia mulai menggubah lagu-lagu Kristiani.</p>
<p>Satu peristiwa yang sangat berarti bagi hidupnya dialami ketika ia melihat seorang gadis di perusahaan rekaman. Menurut Michael, itulah cinta pada pandangan pertama dan ia bergegas memerkenalkan dirinya. Pada waktu itu ia sudah sepenuhnya memusatkan diri di bidang musik Kristiani namun belum menyadari bahwa Debbie, wanita yang Tuhan sediakan baginya itu, akan menulis lirik-lirik lagu yang digubahnya. Debbie memberinya 5 anak dan setia mendampinginya sebagai istri dan ibu yang sangat baik bagi anak-anak mereka.</p>
<p>Michael dan istrinya secara penuh waktu melayani Tuhan melalui musik di seluruh Amerika Serikat. Mereka merekam lagu-lagu mereka dan beberapa di antaranya menjadi lagu yang sangat disenangi oleh jemaat.</p>
<p>Debbie bercerita bahwa mereka berdua biasa menulis dan memersiapkan pelayanan musik mereka pada malam hari. Nampaknya inspirasi musik Michael mencapai puncaknya pada saat-saat itu sehingga seringkali mereka mengerjakannya dengan penerangan lilin (itulah sebabnya lagu-lagu ciptaan mereka disebut &#8220;writing songs by candlelight&#8221;). Sebelum menulis sebuah lagu, mereka selalu berdoa bersama dan membaca Firman Allah yang memberikan ilham kepada mereka.</p>
<p>Mereka mengungkapkan bahwa mereka sungguh mengalami sukacita setiap kali menciptakan lagu. Walaupun tidak semua lagu yang mereka ciptakan diperdengarkan kepada orang lain.</p>
<p>Pada suatu malam hari tahun 1982, Allah menuntun pasangan itu untuk membaca sebuah bagian Alkitab yang mengilhami mereka untuk menyusunnya menjadi sebuah lagu yang sangat indah. Debbie menulis syairnya dan Michael menggubah musiknya, sehingga kedua-duanya menyelesaikan lagu &#8220;Great Is The Lord&#8221; pada saat yang sama. Pasangan ini sangat bersukacita atas pemberian Allah tersebut dan Michael tergerak untuk memerkenalkan lagu tersebut kepada jemaat gerejanya yaitu Belmont Church Nashville.</p>
<p>Dalam pelayanannya, Michael sering memimpin pujian di jemaatnya. Pada saat ia mengajarkan lagu baru itu kepada mereka, jemaat sangat tergerak oleh lirik lagu tersebut yang menyebutkan jati diri Allah:</p>
<ul>
<li>Suci dan adil</li>
<li>Setia dan benar</li>
<li>Patut dimuliakan</li>
<li>Patut dipuji</li>
</ul>
<p>Lagu yang sangat terkenal ini diakhiri dengan seruan &#8220;Lift up (our) voice because our Lord is great.&#8221; (Angkatlah suaramu, sebab Allah kita itu besar).</p>
<p>Michael mengungkapkan pengalamannya: &#8220;Saya teringat bahwa saya begitu terharu ketika jemaat mengumandangkan lagu itu. Lagu yang mereka nyanyikan bagaikan paduan suara yang akbar dan saya sungguh merasa diberkati.&#8221;</p>
<p>Setelah peristiwa itu, Michael membuat album lagu-lagu pujian dan memasukkan &#8220;Great is The Lord&#8221; sebagai salah satu lagu di dalam kompilasi tersebut. Segera lagu itu tersebar ke seluruh dunia dan hingga kini menjadi salah satu lagu favorit di gereja-gereja Amerika Serikat</p>
<p>Inilah lirik selengkapnya:</p>
<blockquote>
<h3>Great is the Lord</h3>
<p>Great is the Lord,</p>
<p>He is holy and just;</p>
<p>By His power we trust in His love,</p>
<p>Great is the Lord,</p>
<p>He is faithful and true;</p>
<p>By His mercy He proves</p>
<p>He is love.</p>
<p>Great is the Lord</p>
<p>and worthy of glory!</p>
<p>Great is the Lord</p>
<p>and worthy of praise.</p>
<p>Great is the Lord;</p>
<p>now lift up your voice,</p>
<p>Now lift up your voice:</p>
<p>Great is the Lord!</p>
<p>Great is the Lord!</p></blockquote>
<p>Sampai di sini penulis memikirkan kelanjutan ensambel &#8220;Imago Dei&#8221; yang para pemainnya sekarang sudah banyak yang menginjak usia dewasa muda sehingga memerlukan bentuk persekutuan dan instrumen musik yang lebih sesuai dengan umur mereka. Ensambel Imago Dei merupakan inisiatif lokal (menurut informasi sekarang anggotanya tidak terbatas dari wilayah Bintaro).  (Baca: Ayub 5:9, Masmur 96:4, Masmur 145:3, Roma 11:33)</p>
<p><em>Disadur secara bebas dari The Sacrifice of Praise (Intergrity Publisher) dan Hymns Tyndale Publishers, Inc.</em></p>
<p><em>Nono Purnomo</em></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/great-is-the-lord/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marilah Memuji Tuhan</title>
		<link>http://gkipi.org/marilah-memuji-tuhan-2/</link>
		<comments>http://gkipi.org/marilah-memuji-tuhan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 May 2007 01:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkipi.org/?p=1324</guid>
		<description><![CDATA[Puji-pujian kristiani sebagian besar diilhami oleh ayat-ayat dalam Alkitab yang berbicara secara pribadi kepada penggubahnya. Puji-pujian tersebut telah mendatangkan berkat yang luar biasa kepada kita semua]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">T</span>idak dapat disangkal lagi bahwa pujian kepada Tuhan merupakan bagian yang penting dalam ibadah umat Kristen. Bahkan dalam kitab Wahyu pasal 4, Rasul Yohanes menyaksikan kegiatan yang dilihatnya di surga:</p>
<blockquote><p>&#8230;, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam:<br />
“Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahahuasa, Yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang.” (Wahyu 4:8b)</p></blockquote>
<p>Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa di surga tidak ada lagi kebaktian dan doa, melainkan hanya puji-pujian.</p>
<p>Puji-pujian kristiani sebagian besar diilhami oleh ayat-ayat dalam Alkitab yang berbicara secara pribadi kepada penggubahnya. Puji-pujian tersebut telah mendatangkan berkat yang luar biasa kepada kita semua, baik pada waktu kita berada di dalam pergumulan maupun pada saat kita bersukacita. Pengetahuan kita tentang latar belakang terciptanya puji-pujian tersebut akan sangat membantu penghayatan kita pada waktu melantunkannya.</p>
<p>Bahan-bahan tulisan ini disadur secara bebas dari buku Then Sings My Soul karya Robert J. Morgan, The Sacrifice of Praise karya Lindsay Terry (dari Integrity Publisher), dan Hundred Greatest Songs in Christian Music terbitan CCM Magazine (Intergrity). Untuk setiap ayat Alkitab, kami sertakan juga kutipannya dalam bahasa Inggris, karena lirik asli dalam bahasa tersebut sangat selaras dengan lagunya.</p>
<hr style="border: 1px solid #cccccc; width: 50%; color: #ffffff;" noshade="noshade" />
<h3 style="margin: 50px 0 20px 0;">Now Thank We All Our God (1636) / Sekarang Bersyukur &#8211; KJ 287</h3>
<p>Seorang pengkhotbah Inggris yang sudah lanjut usia pernah sekali berujar: “Pikiran yang mengucap syukur adalah pikiran yang besar,” dan hal ini dikonfirmasi oleh Alkitab. Ada 138 bagian Alkitab yang membahas pengucapan syukur, dan sebagian di antaranya dengan tegas menyebutkannya.</p>
<blockquote><p>And whatever you do in word or deed, do all in the name of the Lord Jesus, give thanks to God the Father through Him.<br />
In everything give thanks; for this is the will of God in Christ Jesus for you.</p>
<p>Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,<br />
lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:17)<br />
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)</p></blockquote>
<p>Namun dalam kenyataannya, tidak banyak pujian yang liriknya secara eksklusif diperuntukkan bagi pengucapan syukur. Satu di antaranya adalah judul lagu di atas. Jemaat Kristen Jerman melantunkan lagu ini sebagaimana jemaat Amerika menyanyikan doksologi.</p>
<p>Lagu ini digubah oleh Martin Rinkart (1586-1649), seorang pendeta gereja Lutheran di sebuah desa kecil Eilenberg Saxony Jerman. Martin berasal dari keluarga miskin pengrajin tembaga, namun merasa terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Setelah menyelesaikan pendidikan teologi, ia segera melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, bersamaan dengan terjadinya perang di Jerman (melawan Swedia), yang dalam sejarah Eropa disebut perang 30 tahun.</p>
<p>Pada waktu itu, banyak sekali pengungsi datang berlindung ke Eilenberg karena desa tersebut memiliki pagar pertahanan. Suasana terasa sangat mencekam. Tentara Swedia sudah mengepung desa tersebut dan persediaan makanan serta obat-obatan menipis. Penduduk terancam oleh wabah penyakit, kelaparan dan ketakutan. Kurang lebih 800 rumah hancur berantakan dan jumlah korban yang meninggal dunia semakin meningkat. Para pendeta menghadapi beban berat karena tetap harus menyampaikan firman Tuhan sambil menolong orang-orang yang menderita sakit, sekarat, meninggal dunia serta menguburkan mereka. Tidak lama kemudian bahkan para hamba Tuhan pun jatuh sakit dan meninggal dunia, sehingga hanya tinggal Martin yang masih hidup. Kadang-kadang dalam sehari ia harus melayani 50 penguburan.</p>
<p>Tidak lama kemudian orang-orang Swedia menawarkan perdamaian namun meminta pampasan perang yang sangat besar. Akhirnya hanya Martin seorang diri yang bersedia meninggalkan desa untuk berjalan keluar menuju ke daerah musuh dan berunding dengan mereka. Ia melakukannya dengan penuh iman dan keberanian sehingga perdamaian tercapai dan masa penderitaan pun berakhir.</p>
<p>Martin Rinkart menyadari bahwa pemulihan tidak akan terjadi tanpa didahului oleh pengucapan syukur, oleh karena itu ia menggubah lagu ini bagi sisa-sisa penduduk Eilenberg yang selamat.</p>
<p>Kita berharap bahwa pada tahun 2007 ini Indonesia mengalami pembaharuan dan bangkit dari keterpurukannya, namun marilah kita terlebih dahulu mengawalinya dengan pengucapan syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita. Lagu ini sekarang dinyanyikan di seluruh dunia:</p>
<blockquote><p>Now thank we all our God, with heart and hands and voices,<br />
Who wondrous things has done, in Whom this world rejoices.<br />
Who from our mothers’ arms, hath blessed us on our way,<br />
With countless gifts of love and is still ours today.</p>
<p>Sekarang bersyukur, hai hati, mulut, tangan!<br />
Sempurna dan besar segala karya Tuhan!<br />
Dib’riNya kita pun anug’rah dan berkat<br />
Yang tak terbilang t’rus, semula dan tetap.</p></blockquote>
<h3 style="margin: 50px 0 20px 0;">This is the Day (1960)</h3>
<p>Bisa saja dalam persekutuan, satu-satunya bahan nyanyian yang tersedia ialah Alkitab yang mengandung banyak ayat-ayat yang dapat dibaca dengan dinyanyikan (terdapat lebih kurang 300 puji-pujian dalam versi bahasa Inggris).</p>
<p>Lagu di atas merupakan puji-pujian yang sangat terkenal di seluruh dunia, yang diambil dari Mazmur 118 ayat 24:</p>
<blockquote><p>This is the day the Lord has made we will rejoice and be glad in it.</p>
<p>Inilah hari yang dijadikan Tuhan, Marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!</p></blockquote>
<p>Lagu tersebut tercipta pada tahun 1960, yang merupakan era di mana terjadi banyak pencurahan Roh Kudus dalam bentuk penciptaan puji-pujian yang menggunakan ayat-ayat Alkitab.</p>
<p>Pencipta lagu di atas ialah Les Garrett, seorang penginjil keliling yang lahir di Selandia Baru dan sekarang bertempat tinggal di Australia. Tidak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa suatu saat ia akan menulis sebuah lagu yang begitu luar biasa. Satu-satunya pendorong yang memampukannya menggubah lagu tersebut ialah kecintaannya kepada Alkitab. Les Garretts sangat senang mengingat kembali bagaimana lagu tersebut tercipta.</p>
<p>Ketika Les berumur 24 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota Brisbane di Australia. Pada masa itu, hidupnya sebagai penginjil keliling sangat berat. Pada suatu hari, ia mengadakan perjalanan melewati suatu lembah dengan berbekal uang yang sangat sedikit, bahkan untuk membeli bensin pun tidak cukup. Ia pun beristirahat dan membuka Alkitab yang dipangku di atas pahanya, lalu membaca Mazmur 118. Pada saat sampai ke ayat 24, ia berhenti dan membacanya sekali lagi. Seketika terngiang di telinganya serangkaian nada untuk ayat tersebut. Pada waktu itu ia sama sekali tidak berniat menulis lagu, karena ia tidak merasa berbakat musik dan tidak dapat memainkan alat musik apa pun juga. Karena itu semakin lama ia memikirkannya, semakin yakinlah ia bahwa lagu itu merupakan karunia Tuhan. Les tidak mengajarkan lagu tersebut kepada siapa pun juga selama dua tahun.</p>
<p>Pada tahun 1969 Les diundang untuk berkhotbah dalam suatu pertemuan retret kamping di Selandia Baru. Suatu malam, hamba Tuhan yang menyelenggarakan acara tersebut bertanya: “Apakah ada di antara Anda yang tergerak hati untuk bersaksi sebelum Pendeta Garrett berkhotbah?” Seorang ibu yang sudah lanjut usia berdiri dan menatap Les, lalu berkata: “Ada seseorang di sini yang memiliki sesuatu dari Tuhan namun tidak mau membagikannya. Tuhan telah memberikan sesuatu kepadanya yang semestinya harus dibagikan.”</p>
<p>Pada saat ibu tua tadi duduk kembali, Les sadar bahwa selama ini ia belum pernah membagikan lagunya kepada orang lain. Segera ia berdiri dan berkata: “Pesan ibu tadi sesungguhnya ditujukan kepada saya. Saya mempunyai sebuah lagu yang Tuhan berikan kepada saya dan telah saya nyanyikan selama beberapa tahun dan sekarang akan saya ajarkan kepada anda sekalian.”</p>
<p>Lirik lagu tersebut diambil dari Mazmur 118 ayat 24, dan dengan lagu yang digubah oleh Les, seluruh peserta kamp sangat bersukacita. Dimulai dari kamp yang sederhana tersebut lagu “This is The Day” dalam waktu 6 bulan berkumandang di seluruh Selandia Baru dan dengan sangat cepat direkam oleh penerbit Australia yang terkenal Scripture in Song dan disebarkan ke seluruh dunia. Menurut Christian Copyright Licensing, lagu ini bertahun-tahun secara konsisten menduduki peringkat puncak 25 lagu-lagu rohani yang paling populer.</p>
<p>Selama 10 tahun Les tidak mendaftarkan hak cipta lagu tersebut karena ia berpendapat bahwa lagu tersebut merupakan pemberian Tuhan untuk gereja sehingga tidak dapat diakuinya sebagai penciptanya. Namun pada tahun 1987 ia disarankan oleh seorang pendeta dari Amerika Serikat untuk mendaftarkan hak ciptanya, dan royalti yang diperolehnya telah membantu biaya perjalanan pelayanannya ke luar negeri (setiap tahun ia mengadakan perjalanan dua kali ke Amerika Serikat).</p>
<p>Banyak orang heran ketika mengetahui bahwa lagu “This is The Day” merupakan satu-satunya lagu yang digubah oleh Les. Les sendiri mengakui bahwa ia sering terinspirasi oleh banyak ayat di dalam Mazmur tetapi tidak menggubah lagu untuk ayat-ayat itu sehingga momentum tersebut terlewat. Kurang lebih dua puluh delapan tahun lamanya ia melayani di banyak gereja, tetapi pada tahun-tahun berikutnya ia sepenuhnya memusatkan diri sebagai penginjil keliling.</p>
<p>“This is The Day” adalah lagu yang berdasarkan ayat Alkitab. Lagu ini mudah dinyanyikan tetapi kata-katanya tidak mudah dipraktikkan dalam hidup kita. Kita dapat mewujudkan kemenangan di dalam hidup kita apabila menyambut setiap hari baru dengan sukacita karena merupakan hari pemberian Tuhan.</p>
<h3 style="margin: 50px 0 20px 0;">Amazing Grace (Ajaib Benar Anugerah &#8211; K.J. 40)</h3>
<blockquote><p>In Him we have redemption through His blood the forgiveness of sins, in accordance with the riches of God&#8217;s grace.</p>
<p>Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya (Efesus 1:7).</p></blockquote>
<p><span class="cap">P</span>ada pertengahan tahun 1700 seorang kelasi telah menembakkan harpun penangkap ikan paus kepada kapten kapal yang jatuh ke laut. Kapten John Newton adalah seorang yang jahat, menjijikkan dan pimpinan kapal yang kejam tehadap awak kapal dan muatan kapal, yaitu budak belian yang terantai di kapal pengangkut budak belian. Harpun itu menancap di pinggulnya dan ia ditarik ke kapal seperti layaknya ikan besar yang tertangkap&#8230; Luka yang dideritanya dari kejadian itu membuatnya pincang seumur hidup.</p>
<p>John Newton dilahirkan di London, Inggris, pada tahun 1725 dan sudah ikut berlayar sejak berusia sepuluh tahun. Ibunya seorang wanita yang sangat saleh dan ketika John masih kecil, selalu mengajarkan ayat-ayat Alkitab dan lagu-lagu rohani kepadanya, namun ia meninggal ketika putranya itu berumur hampir tujuh tahun. Kemudian John bersekolah selama tiga tahun sebelum dibawa oleh ayahnya untuk berlayar, karena tampaknya hanya itulah cara satu-satunya yang dapat dilakukan oleh sang ayah untuk merawat putranya.</p>
<p>Kehidupan awak kapal yang keras di kapal telah membentuk karakter John. Sebagai akibatnya ia menjadi lebih rusak daripada teman-teman sepergaulannya. Gaya hidupnya semrawut: ia suka memberontak, melarikan diri dari tugas, suka menimbulkan onar di tempat umum, kasar dan menghabiskan semua yang dimilikinya. Inilah konsekwensi dari kelakuannya yang tidak memiliki kepedulian lagi.</p>
<p>Pada waktu ia menginjak dewasa, ia bergabung dengan kapal lain dan menjadi awak kapal pengangkut budak belian. Dalam salah satu pelayaran ke Afrika, ia jatuh sakit keras dan perawatannya diserahkan kepada seorang perempuan Afrika yang membencinya. Oleh perempuan itu ia dikunci di sebuah ruangan dan hampir-hampir dibuat mati kelaparan. Hanya oleh belas kasihan dari para budak belian yang terantai ia masih bertahan hidup, karena mereka membagikan makanan kepadanya dari ransum mereka yang sangat terbatas itu.</p>
<p>Pada saat-saat mengalami penderitaan, John sering merindukan suasana bersama ibunya yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dalam situasi batin sedemikian itu ia kemudian membaca Alkitab, terutama pada hari Minggu, namun setelah itu ia jatuh kembali dalam pola kehidupannya yang lama, bahkan semakin parah. Di kemudian hari ia mengaku sering mempengaruhi teman-temannya untuk bersama-sama berbuat dosa. Dalam kondisi demikian, tampaknya ia tidak menyadari sama sekali akan kasih karunia Tuhan yang luar biasa, yang menyelamatkan hidupnya dari waktu ke waktu.</p>
<p>Meskipun masih termasuk muda usia, namun karena pengalamannya selama bertahun-tahun di laut, akhirnya John Newton diangkat sebagai kapten kapal pengangkut budak. Setelah mengalami pengalaman yang sangat menakutkan dalam suatu badai laut yang dahsyat dan merasakan hidupnya terancam, barulah ia dengan sungguh-sungguh mencari hadirat Tuhan. Ia membaca buku &#8220;Imitation of Christ&#8221; karangan Thomas a&#8217; Kempis, sebuah buku yang sangat dalam mempengaruhi jalan pikirannya.</p>
<p>Tuhan juga mengubah hidupnya melalui pengalaman badai yang sangat mencekam dalam suatu pelayaran kapal pengangkut ternak, kayu dan lilin tawon (lebah) sehingga ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya ke tangan Tuhan yang Maha Kudus. Pelayaran kapal itu sudah berlangsung beberapa bulan lamanya, dan suatu hari menghadapi badai yang sangat ganas dan dahsyat. Angin badai tersebut sangat kencang sehingga bagaimanapun baiknya kapal, pasti akan karam. Upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan diri ialah dengan membuang semua ternak dan barang-barang lainnya ke laut dan kemudian masing-masing awak kapal mengikatkan diri mereka dengan kapal tersebut untuk menghindarkan diri tersapu ke dalam laut.</p>
<p>Selama empat minggu mereka terkatung-katung tanpa pengharapan hidup. Saat mereka bangun, mereka memompa air di dalam kapal agar mengurangi beratnya. Bahan makanan tinggal sedikit sehingga mereka terancam mati kelaparan. Kekhawatiran John bertambah karena dalam kenyataannya ia tidak bisa berenang. Akhirnya kapal terdampar di Irlandia. Sejak saat itu ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk hidup dengan benar di hadapan Tuhan.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian, ketika berumur dua puluh tiga tahun, ia berada di suatu pulau kecil di lepas pantai Afrika Utara. Saat itu ia sedang sakit keras, badannya terasa lemas disertai demam tinggi. Pengalaman ini ditulisnya kemudian sebagai berikut &#8220;Dalam keadaan lemah dan setengah sadar, saya bangun dari tempat tidur dan merangkak ke tempat yang sunyi di pulau itu, dan di situlah saya bebas berdoa. Saya tidak mau mencari alasan lagi dan menyerahkan hidup saya kepada Tuhan agar Ia dapat melakukan kehendakNya atas hidup saya. Saya merasa memiliki pengharapan dan saya percaya kepada Juru Selamat yang tersalib itu. Beban yang selama ini menghimpit hidup saya telah terangkat.&#8221; Berdasarkan autobiografinya, sejak saat itu keadaan fisik dan kerohaniannya mulai membaik. Ia mendapat karunia Tuhan dan memulai kehidupan yang baru.</p>
<p>John Newton melabuhkan kapalnya. Ia menikah dengan kekasihnya yang telah dikenalnya selama beberapa tahun, dan mulai belajar pendidikan kependetaan. Akhirnya ia menjadi pendeta di sebuah jemaat kecil di Olney Inggris di mana ia melayani selama dua puluh tahun. Selama di sana ia telah menulis rangkaian kata-kata (lirik) pujian dan beberapa lagu pujian. Pada tahun 1779, bersama William Cowper, penulis buku &#8220;There is Fountain Filled with Blood&#8221;, ia menerbitkan koleksinya yang diberinya judul &#8220;The Olney Hymns&#8221; di mana himne &#8220;Amazing Grace&#8221; termasuk di dalamnya. Melodi lirik &#8220;Amazing Grace&#8221; yang begitu mengharukan baru ditulis lima puluh tahun kemudian.</p>
<blockquote><p>Amazing grace, how sweet the sound<br />
that saved a wretch like me.<br />
I once was lost, but now am found,<br />
was blind, but now I see.</p>
<p>Through many dangers,<br />
toils and snares,<br />
I have already come,<br />
‘t is grace hath brought me safe thus far,<br />
and grace will lead me home.</p>
<p>‘T was grace that taught my<br />
heart to fear,<br />
and grace my fears relieved.<br />
How precious did that grace appear,<br />
the hour I first believed.</p>
<p>Ajaib benar anugerah<br />
pembaru hidupku!<br />
&#8220;Ku hilang, buta, bercela;<br />
olehnya ‘ku sembuh</p>
<p>Ketika insaf,&#8217;ku cemas,<br />
sekarang ‘ku lega!<br />
Syukur, bebanku t&#8217;lah lepas<br />
Berkat anugerah!</p>
<p>Di jurang yang penuh jerat<br />
Terancam jiwaku;<br />
Anug&#8217;rah kupegang erat<br />
Dan aman pulangku.</p></blockquote>
<p>Setelah beberapa lama berselang, John Newton mengaku: &#8220;Kepincangan saya ini selalu mengingatkan saya akan kasih karunia Tuhan yang telah menyelamatkan manusia yang rusak ini.&#8221; John Newton meninggal pada tanggal 21 Desember 1870 pada usia 82 tahun dan sebelumnya telah merancangkan tulisan pada batu nisannya seperti berikut:</p>
<blockquote><p>John Newton, seorang kerani,<br />
bekas orang tak percaya dan liar,<br />
seorang pelayan budak belian<br />
di Afrika, oleh belas kasihan<br />
Tuhan dan Juru Selamat, Yesus Kristus,<br />
yang telah menyelamatkan,<br />
memperbaiki dan mengampuniku<br />
dan menugaskan untuk<br />
memberitakan iman yang selama ini<br />
hendak kuhancurkan.</p></blockquote>
<p>Setiap orang yang membaca riwayat John Newton dapat melihat kasih karunia Kristus kepada John Newton. Bukankah kita juga membutuhkan kasih karunia seperti John Newton dan percaya bahwa kuasa dan mukjizat Tuhan mampu mengubah hidup kita.</p>
<h3 style="margin: 50px 0 20px 0;">Because He Lives (1971)</h3>
<blockquote><p>A little while longer and the world will see Me no more,<br />
but you will see Me. Because I live, you will live also.</p>
<p>Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi,<br />
tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup (Yohanes 14:19).</p></blockquote>
<p><span class="cap">P</span>ara pelanggan Indovision, yang salah satu salurannya menyiarkan TBN (Trinity Broadcasting Network), pasti pernah melihat acara konser &#8220;Gaither Homecoming&#8221; atau barangkali melihat video Homecoming yang penjualannya telah mencapai jutaan kopi. Konser &#8220;Homecoming&#8221; yang dihadiri oleh ribuan orang di berbagai kota di Amerika Serikat telah direkam. Melalui konser dan rekaman video/cd keluarga Bill Gaither, publik diperkenalkan dengan lagu-lagu gospel dari Amerika Serikat bagian selatan dan lagu-lagu pujian gubahan keluarga ini, yang dikaruniai dengan talenta yang luar biasa, serta dari para penggubah lagu lainnya.</p>
<p>Lebih dari empat dasawarsa pelayanan keluarga Gaither telah menyentuh kehidupan jutaan orang di seluruh dunia. Gaither dan isterinya Gloria telah menggubah dan menerbitkan ratusan lagu dan banyak di antaranya menjadi lagu pujian favorit umat Kristen.</p>
<p>Keberhasilan pelayanan keluarga tidak diperoleh dengan segera tetapi dimulai dengan penuh pergumulan dan tantangan. Pada tahun 1970, ketika Gloria sedang mengandung tua menantikan kelahiran anak mereka yang ketiga, keluarga ini menghadapi situasi yang menggoncangkan jiwa. Bill baru saja pulih dan masih lemah dari penyakit klintir darah merah yang abnormal. Pada waktu itu keluarga Gaither juga sedang menjadi korban gunjingan palsu dan dianggap remeh oleh jemaat. Gloria mengalami siksaan batin yang berat. Ia sangat kuatir bagaimana kelak dapat membesarkan anak-anaknya dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini.</p>
<p>Menjelang akhir tahun 1970 Gloria duduk sendirian dengan perasaan amat tertekan di kamarnya yang gelap. Ia sangat mencemaskan situasi lingkungannya yang terancam budaya narkoba, ketegangan rasial yang sedang melanda seluruh negeri, ribuan anak-anak muda yang meninggal di peperangan di Vietnam serta munculnya gerakan yang semakin kuat untuk menghilangkan unsur-unsur kristiani dari sistem pendidikan Amerika Serikat dengan menggunakan slogan &#8220;Tuhan sudah mati&#8221;.</p>
<p>Tetapi Tuhan yang Maha Kasih, yang disembah dan dilayani oleh Gloria, tiba-tiba memberikan rasa damai yang luar biasa kepadanya. Rasa damai ini memberi keyakinan kepadanya bahwa masa depan mereka akan baik-baik saja karena berada di tangan Tuhan. Dalam salah satu tulisan di bukunya, Gloria menulis sebagai berikut:</p>
<p>Perpaduan antara kekalutan yang sedang terjadi secara nasional serta berbagai kesulitan yang sedang dihadapi keluarga, mematahkan semangat kami. Jikalau dunia sekarang seperti ini, bagaimana nantinya nasib anak-anak kami pada 15-16 tahun mendatang? Apakah yang akan mereka hadapi? Selagi kami merenungkan dan berdoa atas situasi ini, Tuhan memberi pengertian kepada kami bahwa ketabahan bukan datang dari dunia yang tenang. Dunia tidak pernah tenang. Yesus sendiri dilahirkan dalam zaman yang penuh dengan kekejaman. Karena itu kami disadarkan untuk tidak menyerah terhadap situasi yang tampaknya tidak memberikan harapan dan kami akan menghadapinya dengan penuh iman karena kebangkitan Kristus adalah nyata. Akhirnya lahirlah anak kami yang ketiga dalam keadaan sehat dan kami menamakannya Benyamin, yang artinya &#8220;anak yang sangat dikasihi&#8221;.</p>
<p>Pengalaman ini mendorong suami-isteri ini untuk menulis lagu dengan judul &#8220;Because He Lives&#8221;. Waktu mereka menggubahnya, mereka merasakan kehadiran Roh Kudus yang sangat luar biasa dan mereka sungguh-sungguh merasakan bagaimana kuasa Tuhan memberikan kemampuan pada mereka untuk bangkit kembali. Kuasa kebangkitan Kristus telah memulihkan kehidupan mereka. Gloria sadar bahwa kebangkitan yang telah mengalahkan maut itulah yang mengatasi rutinitas yang mencengkeramnya selama ini. Sukacita surgawi yang diperolehnya telah mengatasi ketakutannya, dan pengalaman inilah yang memampukan mereka untuk menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan keluarga.</p>
<p>Dalam buku karangan Gloria yang berjudul &#8220;Fully Alive&#8221;, ia menceriterakan sebuah pengalaman lain yang memberikan keyakinan kepadanya bahwa kebangkitan Kristus dapat mengalahkan semua keadaan, bahkan maut sekalipun. Pada suatu ketika, menjelang akhir musim gugur, keluarga ini telah menugaskan pemborong untuk mengaspal halaman belakang kantor mereka yang menjadi tempat parkir. Pemborong kemudian mendatangkan berbagai bahan pengerasan yang terdiri atas batu, pasir dan bahan pengeras lainnya. Ia juga mendatangkan mesin giling pemerata yang besar dan mulai meratakan tempat tersebut. Berkali-kali mesin penggiling itu bergerak dari ujung ke ujung sehingga tempat parkir tersebut rata dan keras. Setelah itu didatangkan beberapa truk yang mengangkut aspal yang sudah diolah, siap untuk mengaspal tempat parkir ini.</p>
<p>Pada awal musim semi berikutnya, ayah Bill Gaither mengunjungi mereka dan mulai melihat-lihat kantor serta halaman parkir. Ketika tiba di tengah-tengah halaman parkir yang berkilau terkena sinar matahari, sang ayah berjingkat-jingkat mengangkat kakinya secara bergantian kemudian tertawa karena melihat sesuatu yang lucu. Ia memanggil Bill dan isterinya, yang segera keluar dari kantor dan mendatanginya. Ayah Bill berseru: &#8220;Lihat ini.&#8221;</p>
<p>Terlihat sebuah tunas hijau yang berhasil menembus kegelapan dan lapisan-lapisan yang keras. Tunas itu lembut, bukan batang yang keras, dan tampak rapuh. Seorang anak tanpa menggunakan tenaga ekstra pun dapat dengan mudah mematahkannya. Tetapi lihatlah betapa megahnya tunas itu berdiri dalam kehijauannya seakan-akan berkata: &#8220;Lihat, betapa hebatnya aku. Hidup telah menang.&#8221;</p>
<p>Gloria menulis: &#8220;Kami saling menatap dan tidak banyak bicara. Kami hanya saling tersenyum karena kejadian ini memperteguh iman kami, dan mau tidak mau kami ingat akan lagu yang kami gubah sebagai kesaksian pribadi bagaimana kami melewati masa-masa gelap dan keras dalam kehidupan kami.&#8221;</p>
<p>Lirik pertama dari lagu &#8220;Because He Lives&#8221; merupakan rangkuman dari injil Kristus yang mengingatkan kita kepada kematianNya, penguburanNya dan kebangkitanNya. Lirik kedua mengungkapkan kehidupan bayi yang baru lahir, yang memberikan kepada kita kepastian bahwa bayi mungil itu akan memperoleh hidup berkemenangan karena Kristus hidup.</p>
<p>Kita dapat menghadapi hari esok yang sarat dengan ketidakpastian karena Tuhan yang memegang hari esok, dan inilah yang menjadikan hidup begitu berharga bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.</p>
<p>Kesadaran dan keyakinan akan kebangkitan Juru Selamat Yesus Kristus memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala rintangan kehidupan, karena Ia hidup setiap hari di dalam hati kita.</p>
<blockquote><p>God sent His Son, they called Him Jesus.<br />
He came to love, heal and forgive.<br />
He lived and died, to buy my pardon.<br />
An empty grave is there to prove<br />
my Savior lives.</p>
<p>Ref.:<br />
Because He lives, I can face tomorrow.<br />
Because He lives all fear is gone.<br />
Because I know He holds the future.<br />
And life is worth the living<br />
just because He lives.</p>
<p>Anak Allah, Yesus namaNya.<br />
Menyembuhkan, menyucikan.<br />
Bahkan mati tebus dosaku.<br />
Kubur kosong membuktikan<br />
Dia hidup.</p>
<p>Ref.:<br />
Sebab Dia hidup ada hari esok.<br />
Sebab Dia hidup ‘ku tak gentar.<br />
Kar&#8217;na ‘kutahu Dia pegang hari esok.<br />
Hidup jadi berarti<br />
s&#8217;bab Dia hidup.</p></blockquote>
<p><em>Nono Purnomo</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/marilah-memuji-tuhan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

