<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Ekklesia</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/ekklesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Himne yang Menakjubkan</title>
		<link>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 12:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7143</guid>
		<description><![CDATA[And Mary said, &#8220;My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he looked graciously on the humble estate of his servant. For&#8211;look you&#8211;from now on all generations shall call me blessed, for the Mighty One has done great things for me and his name is holy. His mercy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>And Mary said, &ldquo;My soul magnifies the Lord, and my spirit has exalted in God, my Savior, because he looked graciously on the humble estate of his servant. For&ndash;look you&ndash;from now on all generations shall call me blessed, for the Mighty One has done great things for me and his name is holy. His mercy is from generation to generation to those who fear him. He demonstrates hearts. He casts down the mighty from their seats of power. He exalts the humble. He fills those who are hungry with good things and he sends away empty those who are rich. He has helped Israel, his son, in that he has remembered his mercy&ndash;as he said to our fathers that he would&ndash;to Abraham and to his descendants forever. (Luke 1:46-56)</p>
<p><strong>MEMAHAMI PESAN DARI MAGNIFIKAT MARIA</strong></p>
<p>Dari Lukas 1:46-56 kita akhirnya memiliki sebuah himne Gereja: the magnificat. Himne yang setara dengan Nyanyian Pujian Hana dalam Perjanjian lama di 1 Sam 2:1-10, seringkali digunakan sebagai dasar dari musik paduan suara dan himne-himne. Ada yang mengatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat, namun menurut Stanley Jones, magnifikat adalah dokumen yang paling revolusioner sedunia. Menurut Barclay, ada 3 revolusi Allah:</p>
<p><strong>1.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Moral</strong></p>
<p>Kekristenan adalah kematian dari kesombongan. Seorang Kristen agaknya perlu menyadari bahwa ia bukanlah pusat dari segalanya. Walaupun demikian setiap manusia perlu melihat siapa dirinya. Dan untuk itulah Yesus datang. Kristus memampukan seseorang untuk melihat dirinya sendiri dan menyadari keberdosaannya sehingga ia berbalik dengan melakukan sebuah revolusi moral.</p>
<p>Maria menyadari bahwa dirinya rendah. Tetapi Allah melihat dia yang rendah atau melihat kerendahan hambanya. Ini adalah kematian terhadap keangkuhan manusia dan dimulainya revolusi moral. Dan itu semua dilakukan dengan pertolongan Allah, dikatakan bahwa Allah menceraiberaikan orang yang congkak hatinya (He scatters the proud in the plans of their head), bukan Maria tetapi Allah. Dengan kata lain atau dalam bahasa lain berarti Allahlah yang membubarkan atau membatalkan pikiran dan rencana-rencana orang-orang yang sombong. Karena rencana orang congkak adalah menekan orang lemah dan meninggikan diri, bahkan juga secara rohani. Namun Allah melakukan hal lain. Ia menggagalkan rencana orang congkak dengan membuat rencana yang menakjubkan sehingga mereka tidak dapat menyombongkan diri mereka lagi.</p>
<p>Apakah kita juga merasakan seperti yang dirasakan oleh Maria? Bahwa di tangan Allahlah rancangan yang baik. Sedangkan kita adalah para pelaku yang dituntun untuk melakukan rancangan Allah yang baik itu, tentu saja dengan cara yang baik dan sesuai kehendak Allah.</p>
<p><strong>2.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Sosial</strong></p>
<p>He casts down the mighty&ndash;he exalts the humble (ayat 52). Ini adalah sebuah revolusi sosial. Revolusi sosial terjadi saat seorang Kristen meletakkan martabat dunia sebagai urutan kesekian dalam hidupnya dan bukan prioritas pertama. Itu dapat terjadi saat kita menyadari bahwa Kristus datang untuk semua orang. Ia yang tidak memikirkan martabat-Nya, melainkan memberikan diri-Nya untuk kita, saat itulah kita menyadari bahwa Dialah yang utama bagi kita.</p>
<p>Dalam Magnifikat Maria, Allah juga rupanya digambarkan sebagai orang yang tertindas, miskin dan hina. Sehingga saat Maria sampai ke rumah Elisabeth dan melihat Salam dari Elisabeth, ia diyakinkan bahwa langkah iman yang diambilnya, akan membawa pengaruh yang sangat besar bagi generasinya yang akan datang. Sebuah perubahan sosial sedang dan akan terjadi, saat Allah menyatukan dirinya dengan status orang-orang yang tertindas, miskin dan hina.</p>
<p>Revolusi sosial juga dapat kita lanjutkan dengan cara memberikan kesempatan kepada Allah untuk menggugah hati kita. Hati yang cenderung ditaklukkan oleh martabat dan kacamata dunia, kita diajak untuk melihat dengan kacamata Allah. Kacamata Allah yang hadir di dalam diri orang miskin, tertindas dan hina. Karena itu kita dipanggil untuk memperhatikan mereka seperti memperhatikan Allah.</p>
<p><strong>3.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Revolusi Ekonomi</strong></p>
<p>Maria mengatakan, &ldquo;Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa&rdquo;. Terjemahan lainnya, He fills those who are hungry&#8230; those who are rich&#8230; he sends away empty&rdquo;. Ini adalah revolusi ekonomi. Kebiasaan orang-orang non-Kristen adalah mengumpulkan harta benda sebanyak yang mereka bisa dapatkan. Namun bedanya dengan masyarakat Kristen, menurut Barclay, kekristenan tampak saat masyarakatnya berani mendapat banyak, guna meneruskannya kepada yang lain.</p>
<p>Magnifikat Maria sungguh mengagumkan, namun lebih dari itu Magnifikat Maria seperti dinamit. Sebab revolusi seyogyanya terjadi atas orang-orang yang membaca dan menghayatinya. Sehingga perubahan besar juga dapat terjadi di dunia ini melalui orang-orang percaya yang telah digugah oleh pengalaman Maria. Pengalaman Maria merupakan titik awal bagaimana Tuhan melanjutkan karya revolusinya itu di dalam dunia ini dari generasi ke generasi dan di segala penjuru tempat.</p>
<p><strong>Pertanyaannya, akankah itu terjadi dalam kehidupan kita?</strong></p>
<p>Maria menjawab dalam Magnifikatnya, &quot;He has shown strength with his arm&#8230;&quot;. Dalam LAI, &quot;Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya..&quot; Kuasa Tangan Allah-lah yang rupanya menjadi andalan Maria. Di dalam Perjanjian Lama, untuk menggambarkan kekuatan dan kuasa dalam Keluaran 6:6, Allah menunjukkan diri-Nya dengan cara membebaskan umat dari perbudakan. Sedangkan dalam Yesaya 51:5, Allah juga menunjukkan kuasa tangan-Nya dengan membebaskan Israel dari penjajahan bangsa lain. Dalam hal ini Maria juga menggambarkan kekuatan tangan Allah yang berkuasa atas dosa orang-orang congkak dengan cara merendahkan orang-orang yang kuat (powerful). Sebaliknya, kuasa Allah ditunjukkan dengan belas kasihan-Nya atas milik-Nya sendiri. Tenses dari kata kerja yang digunakan dalam kalimat ini mengindikasikan bahwa Maria sedang menubuatkan masa depan. Ia memang belum secara jelas dan tuntas mengalaminya, namun ia seakan meyakini bahwa itu akan dan sedang terjadi.</p>
<p>Itu berarti dalam kehidupan kita, saat kita memegang nubuatan Maria, kita sekaligus meyakini bahwa tangan Tuhan juga dapat bekerja atas kita. Ia akan memampukan kita melakukan revolusi moral, revolusi sosial dan revolusi ekonomi.</p>
<p><strong>HAK ISTIMEWA</strong></p>
<p>Ketika Maria mengatakan bahwa sejak kini semua generasi akan menyebutnya berbahagia, apakah berarti Maria telah menunjukkan kesombongan atau kecongkakan hati? Tidak, sesungguhnya Maria sedang menyadari dan menerima anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya. Jika Maria menyangkal hak istimewanya itu, maka ia sesungguhnya juga telah menolak berkat Allah dan mengembalikannya kepada Allah.</p>
<p>Dalam life application Bible commentary, proud atau kecongkakan adalah sikap menolak untuk menerima anugerah Allah atau seakan membuat Allah yang justru berhutang kepada kita. Dengan demikian, jika Maria tidak memuji Allah maka sesungguhnya ia sedang menolak anugerah Allah. Sebab seorang yang rendah hati, menerima pemberian Allah dan menggunakannya untuk memuji dan melayani Tuhan. Magnifikat adalah bukti kerendahan hati Maria.</p>
<p>Selain itu, nyanyian Maria sekaligus mematahkan sterotipe bahwa seorang perempuan dan seorang muda, terlalu naif karena tidak memahami keadaan politik yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, dalam hal ini Maria sedang menyuarakan kenabian yang telah ada di Perjanjian Lama, khususnya mengenai tema-tema pembebasan, keadilan dan penebusan. Maria adalah seorang revolusioner di zamannya, dan mungkin juga di zaman ini. Dia menunjukkan visi Allah yang luas dan tujuan agung Allah, sekaligus isi hati Allah terhadap masyarakat yang ditindas. Nyanyian ini memiliki pesan yang kuat di tengah dunia yang berdosa dan di tengah opini Israel mengenai raja pembebas yang mereka nanti-nantikan.</p>
<p>Betapa istimewanya hak yang diterima oleh Maria. Hak istimewa juga diberikan Tuhan kepada kita, orang percaya. Hari Natal mengingatkan kita bahwa kita bukanlah penderita atau pelengkap dari Natal tetapi pelaku-pelaku yang meneruskan pesan Natal bagi dunia. Lakukan revolusi moral, revolusi sosial dan revolusi ekonomi di manapun kita berada.</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/himne-yang-menakjubkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prokantor, Kantoria dan  Pemandu Jemaat</title>
		<link>http://gkipi.org/prokantor-kantoria-dan-pemandu-jemaat/</link>
		<comments>http://gkipi.org/prokantor-kantoria-dan-pemandu-jemaat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 14:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6154</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan musik gereja saat ini tidak terlepas dari banyak faktor yang terkait di dalamnya. Salah satunya adalah keberadaan kelompok penyanyi yang berfungsi memimpin nyanyian jemaat. Kelompok tersebut sering disebut dengan berbagai macam istilah seperti prokantor atau kantoria. Penggunaan istilah ini sering kali membingungkan jemaat dalam memahami arti dan fungsi dari istilah tersebut. Untuk itu, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan musik gereja saat ini tidak terlepas dari banyak faktor yang terkait di dalamnya. Salah satunya adalah keberadaan kelompok penyanyi yang berfungsi memimpin nyanyian jemaat. Kelompok tersebut sering disebut dengan berbagai macam istilah seperti prokantor atau kantoria. Penggunaan istilah ini sering kali membingungkan jemaat dalam memahami arti dan fungsi dari istilah tersebut. Untuk itu, perlu ada sebuah penjelasan tentang istilah prokantor, kantoria.</p>
<p>Berikut adalah penjelasan tentang istilah prokantor, kantoria dan pemandu jemaat. Dimulai dengan istilah cantorship yang merupakan dasar dari prokantor dan kantoria.</p>
<p><strong>Cantorship</strong><br />
Cantorship adalah kemampuan untuk memimpin nyanyian jemaat dengan lengkap. Baik untuk memimpin kelompok kecil, besar, tua dan muda mulai dari kebaktian anak sampai kebaktian lansia. Tanpa atau dengan paduan suara, tanpa atau dengan instrumen, dengan segala macam gaya dan bentuk. Orang yang memiliki kemampuan ini disebut prokantor.</p>
<p><strong>Apa saja yang termasuk kriteriaseorang prokantor?</strong><br />
Seorang prokantor adalah orang yang dapat memimpin, memandu, menolong jemaat untuk dapat menyanyikan nyanyian jemaat dengan baik dan benar.</p>
<p>Seorang prokantor harus dapat memberikan teladan ketika ia berada di depan sebagai pelayan yang memimpin pujian dan ketika ia melatih jemaat untuk menyanyikan lagu-lagu jemaat. Kehadirannya dalam ibadah jemaat harus memberikan dorongan supaya jemaat yang tidak bisa atau yang belum dapat menyanyi dengan baik dan benar, dibimbing tanpa merasa tertekan karena dominasi suara prokantor.</p>
<p><strong>Definisi Pelayanan Prokantor</strong><br />
Pelayanan pemimpin pujian adalah untuk membawa lagu jemaat pada kehidupan dan menolong jemaat agar lagu-lagu tersebut dapat merupakan doa, sama baiknya dari hati maupun akal budi. Dari buku &#8220;The Perish Cantor&#8221; karya Michael Connollytori</p>
<p><strong>Selanjutnya, apakah yang dimaksud dengan kantoria?</strong><br />
Kantoria berasal dari bahasa Latin cantare yang artinya menyanyi. Sedangkan orang yang menyanyi, dalam bahasa Latin dikenal dengan istilah cantor. Pada akhir tahun 90-an, istilah ini semakin berkembang dan dibuat terjemahan dalam bahasa Indonesia yaitu kantoria.</p>
<p>Kantoria terdiri atas kelompok penyanyi yang dipimpin oleh seorang prokantor. Jumlah ideal kantoria adalah 10% dari jumlah jemaat, namun bisa saja paduan suara yang bertugas, berfungsi sebagai kantoria.</p>
<p>Tugas Seorang Prokantor dan Tim-nya (Kantoria):</p>
<ul>
<li>Memperkenalkan dan mengajarkan lagu baru kepada jemaat;</li>
<li>Menyanyikan lagu bersama jemaat dengan cara yang benar dan tepat;</li>
<li>Memperbaiki cara menyanyikan lagu yang salah, secara langsung atau tidak langsung (jika ternyata lagu tersebut selama ini sudah salah dinyanyikan oleh jemaat);</li>
<li>Secara bergantian dapat menyanyikan satu lagu jemaat yang “utuh” dengan berbagai kemungkinan keterlibatan, antara lain: menyanyi secara alternatim (bergilir-ganti) dengan jemaat dan paduan suara, dan lain-lain;</li>
<li>Dapat menolong kelangsungan ibadah yang baik dengan melakukan kreativitas lain, misalnya dengan menambahkan gerakan dan tarian (dance and movement in liturgy). atau menyajikan nyanyian persembahan dengan gerak koreografi yang sesuai.</li>
</ul>
<p>Hal-hal tersebut di atas dapat dilakukan oleh seorang prokantor dengan dukungan kantoria, paduan suara dan para pemain musik.</p>
<p><strong>Paduan Suara</strong><br />
Paduan suara adalah bagian dari tim prokantor yang bisa berfungsi sebagai kantoria atau hanya sebagai kelompok paduan suara yang menyanyikan bagian lagu paduan suara saja.</p>
<p>Apabila tidak ada tim kantoria, maka sebaiknya tugas untuk memandu nyanyian jemaat dilakukan oleh paduan suara yang dipimpin oleh seorang prokantor.</p>
<p>Dari penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya prokantor dan kantoria merupakan satu kesatuan. Tidak ada prokantor tanpa kantoria dan juga sebaliknya.</p>
<p>Demikan tulisan ini dibuat untuk membantu jemaat dalam memahami arti dan fungsi dari istilah prokantor dan kantoria.</p>
<p>Steven Ananta</p>
<p>Note:<br />
-    Tulisan ini dikutip dari makalah seminar musik gerejawi oleh Gracia Leonora Simanjuntak<br />
-    Internet: christinamandang.multiply.com/&#8230;/Prokantor_dan_Kantoria</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/prokantor-kantoria-dan-pemandu-jemaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Paduan Suara dalam Ibadah</title>
		<link>http://gkipi.org/peranan-paduan-suara-dalam-ibadah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/peranan-paduan-suara-dalam-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 11:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5023</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Tidak diragukan lagi bahwa musik merupakan bagian penting dari ibadah agama Kristen. Di sepanjang sejarah ibadah umat Kristen, musik telah dipakai. Di dalam 1 Korintus 14:26 yang merupakan sumber informasi kita mengenai ibadah yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, kita dapat membaca adanya musik: Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa musik merupakan bagian penting dari ibadah agama Kristen. Di sepanjang sejarah ibadah umat Kristen, musik telah dipakai. Di dalam 1 Korintus 14:26 yang merupakan sumber informasi kita mengenai ibadah yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, kita dapat membaca adanya musik: Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.</p>
<p>Melalui musik, orang dapat mengekspresikan emosinya, mulai dari rasa pedih yang mendalam hingga rasa sukacita yang luar biasa. Melalui musik juga, kabar baik dapat diberitakan dan orang dapat merespons dengan doa. Bahkan, musik dapat dikatakan merupakan cara yang paling universal untuk menjelaskan liturgi.<span style="font-size: xx-small;"> 1)</span></p>
<p>Salah satu bentuk ekspresi musik dalam ibadah di gereja adalah paduan suara. Rasanya hampir semua gereja memilikinya, bahkan beberapa gereja memiliki dalam jumlah besar berdasarkan setiap kategori usia, misalnya Paduan Suara Komisi Anak, Paduan Suara Komisi Remaja, Paduan Suara Komisi Pemuda, Paduan Suara Komisi Wanita, dan seterusnya. Setiap ibadah Minggu, biasanya ada paduan suara yang membawakan satu atau dua lagu. Bahkan banyak paduan suara dibentuk oleh anggota jemaat untuk menjalankan fungsi-fungsi lain seperti mengikuti lomba atau mengadakan konser.</p>
<p>Namun seperti apakah paduan suara itu sesungguhnya dan bagaimana fungsinya dalam ibadah? Apakah yang selama ini dilakukan dalam jemaat sudah tepat? Penulis mencoba menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p><strong>Definisi</strong></p>
<p>Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa paduan suara adalah sekelompok orang yang bernyanyi, dan memang di dalam bahasa Inggris, yang dikenal sebagai paduan suara, yaitu chorus atau choir berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu kelompok bernyanyi yang penampilannya menjadi satu, dan berbeda dari penampilan solo. Kata ini awalnya digunakan dalam drama Yunani, dan serupa dengan kata Perancis choeur, Jerman chor, Itali coro, Inggris kuno quire, dan termasuk bernyanyi secara unisono (satu suara) maupun polifonik (berbagai suara sahut menyahut).<span style="font-size: xx-small;">2)</span> Tetapi apakah semua kelompok orang yang bernyanyi bersama-sama dapat dikatakan merupakan suatu paduan suara? Kenyataannya tidak.</p>
<p>Misalnya saja, vocal group yang juga banyak dibentuk di gereja. Apabila kata vocal group diterjemahkan, maka artinya ialah “kelompok vokal”. Paduan suara tentunya adalah juga suatu kelompok vokal. Jadi secara harfiah keduanya tidak berbeda. Tetapi ada yang membedakan, yaitu konotasinya. Repertoar (lagu-lagu yang dinyanyikan oleh) paduan suara, baik secara a capella atau dengan iringan instrumental adalah musik khas choir sepanjang sejarah, dari yang paling kuno sampai yang paling modern, sedangkan lagu-lagu vocal group merupakan fenomena masa kini, dalam gaya pop, biasanya dengan iringan gitar dan perkusi atau juga dengan tambahan instrumen-instrumen lain. Selain itu, vocal group lebih cenderung mementas sendiri, sedangkan paduan suara dapat menjadi bagian dari umat di dalam ibadah.<span style="font-size: xx-small;">3)</span></p>
<p>Paduan suara juga jelas harus dibedakan dari nyanyian jemaat yang termasuk dalam kategori community singing, meskipun sama-sama adalah sekelompok orang yang bernyanyi bersama-sama. Perbedaan ini karena ada musik yang secara khusus diciptakan untuk paduan suara, dan ada musik yang diciptakan untuk nyanyian jemaat, yang biasanya berbahasa sederhana, tidak terlalu pribadi kata-katanya, tidak rumit lagunya, baik dalam bentuk, syair dan melodinya, serta harus stabil dan tidak berubah-ubah dari bait ke bait.<span style="font-size: xx-small;">4)</span></p>
<p><strong>Paduan Suara di Dalam Ibadah</strong></p>
<p>Meskipun pandangan gereja-gereja mengenai paduan suara berbeda-beda, tetapi para pemimpin Gerakan Liturgia menganggap paduan suara sebagai unsur yang tetap dari ibadah jemaat, yang nyata dalam bagan-bagan tata kebaktian gereja sejak abad-abad pertama.<span style="font-size: xx-small;">5)</span></p>
<p>Pada abad-abad pertengahan, sempat terjadi perbincangan dalam Konsili Trente yang bermaksud melarang paduan suara karena terlalu banyak menampilkan lagu-lagu polifonik yang kompleks sehingga teks dari lagu-lagu tersebut tidak terdengar dan menganggu kekhidmatan beribadah.<span style="font-size: xx-small;">6)</span> Selain itu, juga terjadi berbagai penyalahgunaan fungsi paduan suara di dalam ibadah.<span style="font-size: xx-small;">7)</span> Pada abad ke-16, paduan suara mengambil alih partisipasi jemaat. Jemaat mendengarkan paduan suara bernyanyi, dan jemaat mendengarkan serta melihat. Mereka mungkin menikmatinya, tetapi ada pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika bernyanyi sendiri.<span style="font-size: xx-small;">8 )</span></p>
<p>Suatu paduan suara di dalam ibadah seharusnya memimpin jemaat dalam nyanyian mereka, dan menambahkan musik tertentu yang diperlukan oleh liturgi atau bentuk ibadahnya.<span style="font-size: xx-small;">9)</span> Pandangan serupa juga dinyatakan oleh Abineno: Dalam menjalankan tugasnya, paduan suara harus takluk kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh gereja. Tugasnya bukanlah untuk membuat “konser” di dalam ibadah, melainkan untuk memuji Tuhan bersama-sama dengan jemaat.<span style="font-size: xx-small;">10)</span></p>
<p>Paduan suara adalah tangan kanan pendeta atau pelayan firman, yang harus menunjukkan kemuliaan Surga. Pujian yang dinaikkan oleh paduan suara haruslah merupakan pujian di dalam Roh dan Kebenaran, dan paduan suara harus mendukung jemaat untuk dapat melakukan hal yang sama.<span style="font-size: xx-small;">11)</span></p>
<p>Karena itu, di dalam ibadah, paduan suara bertugas melayani. Paduan suara haruslah bernyanyi bersama-sama dengan jemaat dengan cara: “menyokong” nyanyian jemaat, yaitu membantu jemaat menyanyikan lagu-lagu yang sulit, dan membawa semangat kepada jemaat, serta menyanyi bergiliran dengan jemaat, misalnya satu bait dinyanyikan oleh paduan suara, satu bait dinyanyikan oleh jemaat, kemudian bersama-sama. Nyanyian yang dinyanyikan sendiri, menurut Abineno, hanya boleh diperdengarkan sebelum kebaktian dimulai dan sesudah berkat.<span style="font-size: xx-small;">12)</span></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari uraian di atas, kita dapat menilai paduan suara di dalam gereja kita masing-masing. Banyak dari paduan suara yang ada belum menjalankan fungsinya dengan baik. Untuk dapat mendukung ibadah dengan baik, paduan suara harus dapat bernyanyi dengan baik, artinya harus memiliki kemampuan vokal yang cukup, yang bisa didapatkan dengan latihan yang sungguh-sungguh. Paduan suara tidak bisa hanya sekadar menyanyi saja, melainkan harus bisa membawa nuansa kemegahan sehingga menggugah jemaat untuk turut serta bernyanyi untuk kemuliaan Tuhan.</p>
<p>Paduan suara tidak semestinya mengadakan ‘konser’ di dalam ibadah melalui deretan lagu-lagu yang dinyanyikan, meskipun menurut penulis sendiri tidak ada salahnya apabila paduan suara membawakan satu atau dua lagu di dalam ibadah, asalkan lagu tersebut dapat mendukung ibadah, dalam arti sesuai dengan tema, dan ditempatkan di bagian yang tepat. Paduan suara gereja boleh saja mengadakan konser atau ikut serta di dalam lomba-lomba paduan suara, tetapi jangan sampai kedua hal ini dianggap lebih penting daripada pelayanan di dalam ibadah. Untuk dapat mencapai hal-hal ini, penting bahwa setiap anggota paduan suara memiliki persepsi yang sama, dan karena itu pemimpinnya pun harus memiliki jiwa seorang pelayan.</p>
<p>Aiko Widhidana Sumichan</p>
<address>1.	Robert E. Webber, The Complete Library of Christian Music &amp; The Arts in Worship: Christian Worship-Book I (Hendrickson Publishers, 1994)</address>
<address>2.	Ray Robinson dan Allen Winold, The Choral Experience (Illinois: Waveland Press, 1992), hal 5</address>
<address>3.	Berdasarkan penjelasan Bpk. H.A. van Dop melalui e-mail tertanggal 15 Mei 2009.</address>
<address>4.	H. A. Pandopo, Menggubah Nyanyian Jemaat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984), hal 11-12</address>
<address>5.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Unsur-unsur Liturgia yang Dipakai Gereja-gereja di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal 109</address>
<address>6.	Dr. Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), hal 123</address>
<address>7.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Op.Cit., hal 109</address>
<address>8.	Paul Westermeyer, Te Deum: The Church and Music (Minneapolis: Fortress Press, 1998), hal 115</address>
<address>9.	Ray Robinson dan Allen Winold, Op.Cit., hal 465</address>
<address>10.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Op.Cit., hal 110</address>
<address>11.	Ray Robinson dan Allen Winold, Op.Cit., hal 467</address>
<address>12.	Dr. J.L.Ch. Abineno, Op.Cit., hal 111</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/peranan-paduan-suara-dalam-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marilah Kita Bermazmur</title>
		<link>http://gkipi.org/marilah-kita-bermazmur/</link>
		<comments>http://gkipi.org/marilah-kita-bermazmur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 04:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4514</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan ajakan untuk mengangkat puji-pujian dengan bermazmur, yang diilhami oleh kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 2010, ketika Penatua Bambang I.Y. tidak membaca, tetapi dengan indah melantunkan Mazmur 32 dalam ibadah yang ditata dengan sangat baik. Dalam hal ini, sebagai rujukan, dipakai kebaktian umat Israel menurut Alkitab Perjanjian Lama, dalam kaitan dengan biduan Heman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini merupakan ajakan untuk mengangkat puji-pujian dengan bermazmur, yang diilhami oleh kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 	2010, ketika Penatua Bambang I.Y. tidak membaca, tetapi dengan indah melantunkan Mazmur 32 dalam ibadah yang ditata dengan sangat baik. Dalam hal ini, sebagai rujukan, dipakai kebaktian umat Israel menurut Alkitab Perjanjian Lama, dalam kaitan dengan biduan Heman dan paduan suara Korah serta Asaf, jadi sepadan dengan Mannen Koor kita, karena semuanya laki-laki.</p>
<p>Rujukan kepada kitab Mazmur dalam peribadatan umat Israel, menurut Alkitab Perjanjian Lama, dipakai sebagai referensi dalam kaitan nyanyian jemaat dan fungsi paduan suara dalam tata kebaktian Minggu jemaat GKI Pondok Indah. Dengan demikian dapat kita lihat benang merah yang terbentang antara peribadatan masa Perjanjian Lama dan masa Perjanjian Baru, khususnya keadaan kini dan di GKI Pondok Indah ini, sehingga dapat membantu kita menempatkan persoalan nyanyian, baik secara solo maupun paduan suara, dalam tata kebaktian.</p>
<p><strong>MAZMUR DAN PADUAN SUARA</strong></p>
<p>Kitab terbesar dalam Alkitab Perjanjian Lama, dengan frekuensi penggunaan sangat tinggi, ialah Kitab Mazmur. Syair-syair pujian Kitab Mazmur di dalam peribadatan umat Israel dinyanyikan dengan iringan alat musik. Yang pertama disebut ialah kecapi, kesukaan raja Daud. Himpunan ke seratus lima puluh nyanyian pujian itu diberi nama Ibrani Sepher Tehellim, artinya Buku Pujian. Kata Ibrani Tehellim mengingatkan kita pada padanannya dalam bahasa Arab, yakni Tahlil, nama yang diberikan kepada buku nyanyian lama kita “Mazmur dan Tahlil.” Jadi Mazmur dan Tahlil sesungguhnya merupakan pujian kuadrat, karena dalam kata mazmur sudah terdapat unsur tahlil.</p>
<p>Dalam perbendaharaan mazmur yang mencakup seratus lima puluh buah itu, tujuh puluh tiga di antaranya menyandang nama raja Daud sebagai penciptanya. Tetapi raja Daud bukan saja gemar mencipta, tetapi juga gemar menggunakan mazmur sebagai pujian pribadi dengan iringan kecapi, yang mengungkapkan keharuannya dalam relasi intim dengan Allah Bapa.</p>
<p>Di samping pujian pribadi, mazmur memberi tempat khusus bagi paduan suara dalam peribadatan umat Israel, menurut Alkitab Perjanjian Lama. Dalam hal ini, paduan suara Korah dihubungkan dengan sebelas mazmur, sedang porsi Asaf adalah dua belas buah mazmur. Hal itu bukan berarti mereka yang menciptakannya, tetapi semata-mata sebagai daftar repertoar mereka, termasuk Heman, yang tercatat sebagai biduan utama (I Taw. 15:1-19). Dibandingkan dengan paduan suara Korah, ternyata kelompok Asaf diberi kedudukan khusus, karena Asaf diangkat raja Daud sebagai kepala ”beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut Tuhan untuk memasyhurkan Tuhan, Allah Israel, dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.” (I Taw. 16: 4-5).</p>
<p>Sewaktu mendengarkan alunan suara Penatua Bambang I.Y. pada kebaktian tanggal 13 Juni 2010, saya mencoba membayangkan bagaimana biduan utama Heman menyanyikan mazmur, tanpa mikrofon dan pengeras suara. Dalam hal ini kita harus menghargai kreativitas Majelis Jemaat yang berhasil menata seluruh ibadah dengan rapi, disertai khotbah Pendeta Joas yang sangat menyegarkan. Memang semua serba segar. Saya teringat pada pertanyaan seorang bapa kepada anaknya: “Mengapa harus diam dalam kebaktian di gereja?” Jawab anaknya: “Agar tidak mengganggu jemaat yang tidur.” Saya berani bertaruh, bahwa pada kebaktian Minggu tanggal 13 Juni 2010 itu tidak ada anggota jemaat yang tertidur, bahkan mungkin merasa kebaktian berlangsung terlalu singkat.</p>
<p>Nampaknya itulah yang diharapkan jemaat, baik dari Mannen Koor pada kesempatan itu, maupun dari nyanyian solo Penatua Bambang yang menghayati suasana Mazmur 32 melalui syair, nada dan irama. Sebab dalam hal menyanyikan mazmur terdapat catatan yang melukiskan suasana sekelilingnya, seperti, “rusa di kala fajar” (Maz. 22), atau “bunga bakung” (Maz. 45 &amp; 80), dan suasana “merpati di pohon-pohon tarbantin nun jauh [di sana]” (Maz. 56). Terus terang, keindahan seni suara yang begitu memukau dalam menyanyikan mazmur mungkin terletak di luar jangkauan imajinasi saya, karena ketidakmampuan saya merasakan suasana “burung merpati di pohon-pohon terbantin.”</p>
<p>Itulah kira-kira suasana kebaktian dalam menyajikan mazmur sebagai nyanyian tunggal oleh biduan Heman, atau paduan suara Korah dan Asaf dalam kebaktian umat Israel, yang saya bayangkan seperti yang dirasakan jemaat pada ibadah GKI Pondok Indah tanggal 13 Juni 2010.</p>
<p>Sungguhpun pujian dalam mazmur, misalnya Mazmur 103, intinya bersifat persekutuan seluruh jemaat, tetapi dimulai dengan syair-syair yang bersifat pribadi (ayat 1-5). Pujian pribadi Raja Daud itu, dimulai dan diakhiri di bagian penutupnya dengan ungkapan syukur pribadi: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” (ayat 1 dan 22).</p>
<p><strong>LITURGI KEBAKTIAN JEMAAT GKI PI</strong></p>
<p>Tata Kebaktian Hari Minggu GKI PI (berdasarkan keputusan Sinode) dimulai dengan votum dan salam. Karena kebaktian jemaat itu merupakan sarana pertemuan antara Bapa Surgawi dan umat-Nya, maka pada perjumpaan itu sudah selayaknya pendeta menyampaikan Salam Bapa Surgawi dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus (Yoh. 10:30) dengan mengangkat tangan kanannya. Kebaktian diakhiri dengan Pengutusan Jemaat disertai Berkat, yang menyatakan penyertaan dan tuntunan Roh Kudus dalam pelaksanaan tugas pengutusan tersebut di lingkungan kita masing-masing. Sesungguhnya, kebaktian sebenarnya terjadi di luar gedung gereja, dalam arti: service after service.</p>
<p>Interior gedung gereja GKI Pondok Indah memperlihatkan adanya mimbar (bukan altar), karena di gereja Kristen Protestan tidak ada altar/mezbah, tetapi sebuah meja dengan peralatan Perjamuan Kudus, yang melambangkan persekutuan jemaat yang berbasis Perjamuan Kudus. Tempat khusus disediakan di sebelah kanan mimbar, yakni bagi paduan suara. Tempat khusus ini menandakan peran paduan suara dalam liturgi kebaktian. Kekhususan itu dipertegas lagi dengan peran pelayanan paduan suara pada urutan ke-14 liturgi kebaktian.</p>
<p>Oleh karena itu, yang pertama-tama perlu kita hayati ialah peran paduan suara dalam melayankan pujian dan ibadah (praise &amp; worship) bersama-sama dalam persekutuan jemaat GKI Pondok Indah, dengan meja perjamuan sebagai titik sentral persekutuan jemaat, yang adalah Tubuh Kristus. Fokus pujian dan ibadah itu ialah Tuhan, Raja Gereja. Inilah kegiatan yang, tanpa kecuali, bersifat Christ-centered, dan dilakukan dengan penuh kekhidmatan.</p>
<p>Memang harus diakui bahwa tanpa disadari, adakalanya pengaruh lingkungan turut hadir, sehingga kekhidmatan kebaktian disusupi unsur show yang dapat mengarah kepada suasana entertainment. Itulah sebabnya Majelis Jemaat merasa perlu menghentikan kecendrungan pengunjung kebaktian untuk memberi aplaus kepada paduan suara, sungguhpun spontanitas itu terkadang tidak dapat dihindarkan.</p>
<p>Pengaruh lingkungan yang bisa merembes masuk ke dalam gereja dapat memengaruhi pemahaman kita tentang pelayanan paduan suara yang bersifat Christ-centered, dalam suasana praise &amp; worship di lingkungan jemaat GKI Pondok Indah. Tetapi ada yang berpendapat bahwa suasana ramai dan meriah dalam praise &amp; worship itu tetap bersifat Christ-centered, karena yang disajikan adalah lagu-lagu rohani, sehingga saya dianggap berpikiran kuno dan konservatif serta tidak inklusif, bahkan eksklusif.</p>
<p><strong>PERTUNJUKAN</strong></p>
<p>Kita tetap merujuk kepada peribadatan umat Israel yang mempergunakan mazmur serta peran paduan suara Korah dan Asaf, yang turut melayani dalam kebaktian. Dalam perspektif itu, kita menjumpai paduan suara dalam kebaktian Minggu di GKI Pondok Indah, sebagai bentuk nyata partisipasi jemaat. Keikutsertaan tersebut ingin ditingkatkan oleh Majelis Jemaat, yang telah mengundang jemaat untuk berpartisipasi, di antaranya sebagai lektor.</p>
<p>Yang perlu kita hayati bersama ialah bahwa pujian dan ibadah dilaksanakan dalam suasana kekhidmatan kebaktian. Hal itu diperlihatkan oleh benang merah yang membentang dari zaman paduan suara Korah dan Asaf serta biduan Heman, hingga paduan suara kini dan di sini, yakni dalam persekutuan ibadah jemaat GKI Pondok Indah, sesuai liturgi kebaktian Minggu.</p>
<p>Oleh karena itu, kebutuhan show &amp; entertainment, dengan menyuguhkan lagu-lagu rohani, harus ditampung Majelis Jemaat. Pertunjukan ini dapat saja digelar di gedung gereja, dalam hubungan dengan suatu perayaan gerejawi, bahkan dalam kerjasama dengan gereja-gereja lain. Namun, dalam konteks itu, dengan sendirinya fokus perhatian bergeser kepada kehangatan interaksi antara biduan solo, maupun paduan suara di atas pentas dengan para penggemar mereka. Oleh karena itu, pagelaran yang demikian ramai meriah menampilkan nada dan irama itu, termasuk gerakan-gerakan tubuh para pelakunya, oleh karena sifatnya, selayaknya dilaksanakan di luar kebaktian Minggu dan bukan merupakan bagian dari liturgi kebaktian jemaat GKI Pondok Indah.</p>
<p>[Paul P. Poli]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/marilah-kita-bermazmur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberitaan Firman II:  Pengakuan Iman dan Doa Syafaat</title>
		<link>http://gkipi.org/pemberitaan-firman-ii-pengakuan-iman-dan-doa-syafaat/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pemberitaan-firman-ii-pengakuan-iman-dan-doa-syafaat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 09:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liturgi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4118</guid>
		<description><![CDATA[Jemaat sering kali menganggap bahwa pelayanan Firman hanya disampaikan di antara doa pelayanan Firman (doa epiklese = doa memohon pertolongan Roh Kudus dalam pembacaan dan penguraian Firman) dan saat teduh. Setelah itu? Pemahaman Baru Dalam pemahaman baru, pelayanan Firman dimulai dari doa pelayanan Firman sampai doa syafaat. Mengapa? Karena liturgi pelayanan Firman tidak terbatas pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jemaat sering kali menganggap bahwa pelayanan Firman hanya disampaikan di antara doa pelayanan Firman (doa epiklese = doa memohon pertolongan Roh Kudus dalam pembacaan dan penguraian Firman) dan saat teduh. Setelah itu?</p>
<p><strong>Pemahaman Baru</strong></p>
<p>Dalam pemahaman baru, pelayanan Firman dimulai dari doa pelayanan Firman sampai doa syafaat. Mengapa? Karena liturgi pelayanan Firman tidak terbatas pada Firman yang diterima oleh jemaat saja, tetapi juga melibatkan respons jemaat atas Firman yang diberikan, yakni dengan mengaku percaya dan berdoa syafaat.</p>
<p>Jadi Pengakuan Percaya dan Doa Syafaat tidak berdiri sendiri atau termasuk dalam Persembahan, tetapi merupakan bagian dari pelayanan Firman, karena apa yang sudah diberikan oleh Tuhan ditanggapi jemaat dengan pengakuan (Pengakuan Iman) dan permohonan (Doa Syafaat). Jemaat menyadari bahwa pertolongan hanya berasal dari Tuhan.</p>
<p><strong>Pengakuan Iman</strong></p>
<p>Apakah Pengakuan Iman itu? Seperti dikatakan di atas, Pengakuan Iman merupakan respons jemaat atas Firman yang diberitakan Allah melalui pengkotbah. Bagian ini tidak dinamakan Pengakuan Iman Rasuli, karena Pengakuan Iman Rasuli hanya merupakan salah satu pengakuan iman. Respons ini bisa diucapkan atau dinyanyikan.</p>
<p>Pengakuan Iman apa yang diucapkan? Yang biasa diucapkan adalah Pengakuan Iman Rasuli, tetapi bisa juga Pengakuan Iman lainnya. GKI sebagai gereja Calvinis (pengikut aliran Johanes Calvin, salah seorang reformator gereja), mengakui dan menetapkan tiga pengakuan iman, yakni Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea–Konstantinopel, dan Pengakuan Iman Athanasius (lihat bagian belakang buku NKB dan Tata Gereja). Ketiga-tiganya dapat diucapkan dalam kebaktian, tetapi memang Pengakuan Iman Rasuli paling dikenal, karena lebih singkat dan mudah diingat. Selain diucapkan, pengakuan iman dapat juga dilakukan dengan pujian (misalnya KJ 280).</p>
<p>Apakah inti Pengakuan Iman? Pengakuan Iman bersumber pada pengakuan bahwa jemaat sebagai pribadi menyatakan kepada Tuhan dan sesamanya bahwa ia memercayai Allah yang Esa, yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.</p>
<p><strong>Doa Syafaat</strong></p>
<p>Doa syafaat adalah doa permohonan, namun bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain dan dunia. Doa ini dinaikkan secara bersama-sama; bisa hanya diwakili oleh pengkotbah, oleh beberapa orang atau dengan bersahut-sahutan. Variasi dalam menaikkan doa bisa saja dilakukan.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan doa “Bapa Kami”? Doa ini sebenarnya adalah doa syafaat juga. Jadi setelah doa syafaat dinaikkan, semestinya tidak lagi dinaikkan doa Bapa Kami. Mengapa? Karena kalau kedua-duanya dinaikkan, maka akan terjadi duplikasi doa. Jadi selain berbagai variasi doa, kita bisa saja hanya menaikkan doa “Bapa Kami”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pemberitaan-firman-ii-pengakuan-iman-dan-doa-syafaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuasa Tersembunyi dalam Pujian</title>
		<link>http://gkipi.org/kuasa-tersembunyi-dalam-pujian/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kuasa-tersembunyi-dalam-pujian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 05:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Madah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3755</guid>
		<description><![CDATA[I. PENGANTAR Pada saat seseorang mengumandangkan lagu pujian, hal itu sama dengan berdoa karena kita berkomunikasi dengan Allah dan sekaligus mengakui kuasa-Nya untuk menolong kita. Penyembahan dan pujian adalah bentuk doa yang paling murni karena keduanya memfokuskan pikiran dan jiwa kita sepenuhnya, bukan kepada diri kita sendiri, namun kepada Dia yang kita puji atau ungkapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I.	PENGANTAR</strong></p>
<p>Pada saat seseorang mengumandangkan lagu pujian, hal itu sama dengan berdoa karena kita berkomunikasi dengan Allah dan sekaligus mengakui kuasa-Nya untuk menolong kita.</p>
<p>Penyembahan dan pujian  adalah bentuk doa yang paling murni karena keduanya memfokuskan pikiran dan jiwa kita sepenuhnya, bukan kepada diri kita sendiri, namun kepada Dia yang kita puji atau ungkapkan dalam doa dengan kata-kata yang keluar dari hati kita.</p>
<p>Suatu prinsip kiranya perlu kita pegang yaitu,“Doa akan membuat orang berhenti berdosa, tetapi sebaliknya dosa membuat orang berhenti berdoa.” Menyanyikan lagu pujian adalah doa yang kita ungkapkan kepada-Nya dari relung hati kita yang paling dalam.</p>
<p>Bernyanyi berarti mengomunikasikan kerinduan kita kepada-Nya, mendekatkan diri kita kepada-Nya dan menyambut hadirat-Nya di dalam diri kita. Bila kita memuji dan menyembah Allah, hadirat-Nya menyertai kita, karena “Sesungguhnya kita menjadi seperti apa atau siapa yang kita sembah” (Mzm. 115: 3-8).</p>
<p>Menyampaikan lagu pujian kepada Allah, baik sendiri maupun secara bersama (paduan suara), adalah suatu tindakan yang dapat berpengaruh mengubah perasaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang yang mendengarnya. Itulah sebabnya lagu pujian perlu dipahami oleh pemadah maupun pendengarnya, sehingga meresap di hati kita. Salah satu hal yang luar biasa dari Allah ialah bahwa Ia hidup di dalam pujian kita, dan Ia berada di tengah-tengah pujian kita kepada-Nya. Mzm. 22:4 berbunyi, “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”</p>
<p>Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menyembah Allah, semakin kita akan menyerupai Dia, karena apa yang kita sembah atau agungkan akan memengaruhi jiwa dan hidup kita. Sama halnya dengan seorang pemuda yang memuja seorang gadis, sehingga si pemuda akan selalu terpengaruh oleh sikap dan permintaan gadis pujaannya itu.</p>
<p>Pujian adalah alat yang digunakan Allah untuk mengubah hidup kita dan memampukan kita melakukan kehendak-Nya dan memuliakan-Nya. Pujian menjadi alat yang tepat bagi Allah untuk menyatakan kehadiran-Nya di dalam hidup kita, tetapi bukan merupakan alat untuk memanipulasi Allah agar berbuat sesuai dengan permintaan kita.</p>
<p>Pujian adalah anugerah-Nya kepada orang yang mempunyai hati yang benar-benar mengasihi, menghormati dan memuliakan-Nya. Hanya pujian yang mengutamakan Allah akan membuka kuasa-Nya yang tersembunyi. Hal ini misalnya dapat tercermin dari pola doa yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus  kepada para murid-Nya.</p>
<p>Allah harus selalu menjadi prioritas dan pusat seutuhnya dari pujian, dan bila kita memuji-Nya, maka akan ada karunia dan berkat yang akan dicurahkan-Nya kepada kita. Percayalah!</p>
<p>II.	BEBERAPA KETERANGAN YANG MENGUATKAN</p>
<p><strong>1</strong></p>
<p>Allah menghendaki agar kita selalu memuji dan mengagungkan nama-Nya, dan semakin banyak kita memuji-Nya maka hati dan jiwa kita akan semakin terpusat kepada-Nya dan kita semakin terlepas dari beban dan masalah yang kita hadapi.</p>
<p>Bila kita yakin akan kuasa pujian di dalam setiap situasi dan mengerti bahwa semua akan terpenuhi ketika kita sungguh-sungguh menyembah Allah, maka hidup kita akan semakin damai dan tenteram. Bila kita menghampiri Dia melalui pujian, kita menunjukkan kasih kita kepada-Nya, kita membuka saluran di hati kita sehingga kasih-Nya dapat mengalir ke dalam hati dan jiwa kita. Penyembahan melalui pujian akan meruntuhkan tembok-tembok negatif di dalam hati dan memberi kesegaran jiwa.</p>
<p>Pujian dan penyembahan sangat penting untuk memelihara pikiran yang sehat. Iblis akan berusaha menggoda kita untuk berbuat kesalahan namun pada saat kita menaikkan pujian kepada Allah, suaranya akan kabur dan bahkan lenyap, karena pujian dan penyembahan menjernihkan pikiran, dan membuat kita mampu mendengarkan suara Allah yang berbicara langsung ke hati kita (lihat Rm. 12:2).</p>
<p>Salah satu nyanyian pujian di mana kesedihan berganti menjadi sukacita melalui penyembahan kepada Allah, sumber segala sukacita, adalah ketika Allah berkata bahwa, “Ia datang kepada kita untuk  memberi kita perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar” (lihat Yes. 61:3).</p>
<p>Pujian kepada Allah melepaskan kita dari pikiran-pikiran negatif, seperti halnya Daud yang memohon kepada Allah dan berkata, ”Keluarkanlah aku dari dalam penjara untuk memuji nama-MU” (Mzm. 142:8). Ketika kita menaikkan pujian kepada Allah dan mengungkapkan kepedihan hati kita kepada-Nya, maka Ia akan mengangkat hati kita lebih tinggi dari kepedihan itu sehingga pikiran dan emosi negatif kita terlupakan dan kita dapat mendengar suara-Nya.</p>
<p>Inilah salah satu kuasa yang tersembunyi dalam pujian.</p>
<p><strong>2</strong></p>
<p>Kuasa lainnya yang tersembunyi di dalam pujian ialah bahwa Allah dapat memurnikan hati kita tepat di dalam proses pujian yang sedang kita lakukan kepadaNya.</p>
<p>Suara kita akan keluar dari bagian tubuh kita yang paling dalam, atau bahkan dari jiwa kita (dan tidak soal apakah suara itu merdu atau tidak). Suara kita datang dari roh kita, yang diilhami dan ditopang oleh Roh Allah sehingga suara itu akan menjadi indah. Mengangkat suara kita dalam nyanyian pujian berarti mengangkat hati kita kepada-Nya dalam penyerahan diri, kasih dan kesetiaan.</p>
<p>Bila kita memusatkan seluruh perhatian kita kepada Allah dan menyambut kehadiran-Nya di dalam jiwa dan hidup kita melalui pujian, maka hati kita akan melembut di hadirat-Nya. Kita akan dicurahi kasih-Nya, karena dalam pujian itu kita menyembah-Nya dan menjadi semakin serupa dengan-Nya.</p>
<p>Pujian juga membuka kasih di dalam hubungan kita dengan sesama, karena Allah sanggup mengubah hati, kalau kita mau memberi-Nya kesempatan  untuk melakukannya di dalam diri kita. Bila kita menyembah dan memuji-Nya serta sepenuhnya menghargai kasih dan kuasa-Nya, lalu kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya atas semua hal yang dilakukan-Nya selama hidup kita, maka rasa damai dan sejahtera akan mengalir di dalam hidup kita.</p>
<p>Pujian dapat mengubah situasi dan itulah juga kuasa yang tersembunyi di balik pujian kepada Allah.</p>
<p><strong>3</strong></p>
<p>Bila kita memuji Allah di tengah-tengah penyakit, rasa sakit, kelemahan atau kesedihan, maka pujian yang menyuarakan penyembahan kita itu akan membuka saluran ke hadirat-Nya yang dapat menembus hati kita, memberi ketabahan dan bahkan menyembuhkan kita sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p>Segala sesuatu bisa terjadi bila kita menyembah Allah, karena memuji Allah melalui nyanyian adalah juga doa yang dapat mengubah segala sesuatu. Perhatikan Mazmur 102 di mana si penulis menyampaikan perasaannya dengan jujur kepada Allah atas semua hal yang sedang dideritanya, dan berseru agar Ia mendengar doanya dan memberi masa depan yang lebih cerah kepadanya.</p>
<p>Bila kita memuji Allah dan menyadari kuasa-Nya, maka dengan sadar kita akan menyerahkan rasa kecewa atau kekuatiran kita kepada-Nya. Pujian itu akan membuat kita menyadari bahwa Allah berkuasa menolong kita dan akan menjawab kita menurut jalan dan waktu yang dikehendaki-Nya.</p>
<p>Bila kita memuji Allah pada saat terjadi kekecewaan dan kejemuan, maka Ia akan membuka mata hati kita kepada kebenaran, dan hal itu akan menolong kita melihat segala sesuatu dari perspektif yang lebih baik.</p>
<p>Alkitab berkisah tentang sejumlah perempuan yang berdoa sambil bernyanyi menangisi nasib mereka yang tanpa harapan, mandul seperti Elizabeth dan Sara karena telah melampaui batas umur bagi seorang ibu untuk hamil, demikian juga halnya dengan Hana. Tetapi karena ketekunan dan keyakinan maka akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka dambakan.</p>
<p>Apabila kita mempunyai impian dalam hidup yang selama bertahun-tahun seakan-akan tak pernah Allah penuhi, maka kita perlu terus-menerus menyembah Allah dan menghadapinya dengan penuh harapan kepada-Nya. Bahkan bila harapan kita terhadap situasi seakan-akan sudah pupus, kita perlu terus tekun memuji Allah dengan mengingat akan kuasa kebangkitan-Nya, yang juga akan dapat membangkitkan kita dari kondisi yang sudah mati itu melalui suatu harapan kebangkitan bersama-Nya.</p>
<p>Sebagaimana doa, maka menyanyikan lagu pujian kepada-Nya juga berarti berbagi perasaan kita kepada Allah, memberitahukan keyakinan kita akan kuasa pertolongan-Nya.</p>
<p>Pujian kita akan melepaskan tali pengikat berkat yang menyertai-Nya, dan membawa kita kepada situasi datangnya hadirat Allah, yang turun dan tinggal di dalam kita, dan di dalam hadirat-Nya itu hati kita akan merasa damai dan sejahtera. Hal ini juga merupakan kuasa yang tersembunyi dalam setiap pujian.</p>
<p><strong>4</strong></p>
<p>Kita juga perlu memuji Tuhan pada saat kita mempunyai masalah dalam hubungan dengan sesama, di mana kita perlu saling mengampuni. Apapun masalahnya dan bagaimanapun kejadiannya, namun kita harus meyakini bahwa sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kita, kita pun wajib mengampuni.</p>
<p>Ingatlah akan kisah raja yang mengampuni seseorang yang berutang banyak dan perintah Yesus untuk mengampuni orang yang bersalah sampai tujuh puluh kali tujuh kali (Mat. 18 ayat 21-22). Sebab kalau kita tidak mengampuni orang lain setelah kita diampuni-Nya, maka jiwa kita pun akan terpenjara dan tersiksa.</p>
<p>Pada saat kita memuji Allah, maka melalui Roh-Nya Ia akan menolong kita mengingat perintah-perintah-Nya. Hal ini dialami oleh murid-murid ketika membangunkan Yesus pada saat badai menyerang perahu mereka (Luk. 8: 22-25). Ketika Yesus dibangunkan, maka Ia menegur badai dan air yang mengamuk itu, dan seketika itu juga ombak berhenti dan keadaan menjadi tenang.</p>
<p>Ketika kita memuji dan memuliakan-Nya, kita berusaha membangunkan-Nya di dalam jiwa kita, sehingga badai kehidupan yang sedang bergejolak pun menjadi tenang.</p>
<p>Demikian juga ketika kita diperhadapkan pada berbagai persoalan dan cobaan, maka perspektif Tuhanlah yang menguasai hati dan pikiran kita, dan bukan perspektif diri kita sendiri. Ini juga merupakan salah satu kuasa yang tersembunyi dalam kita memuji Allah.</p>
<p><strong>5</strong></p>
<p>Kita juga perlu memuji Tuhan pada saat berada dalam kondisi tertekan akibat berbagai masalah, baik dalam keluarga, di lingkungan pekerjaan, di kantor, atau bahkan ketika kita dipenjara, lalu kita menyesali kesalahan, kekeliruan atau dosa yang kita lakukan.</p>
<p>Ketika Paulus dan Silas dihakimi, dilempari batu bahkan dipenjarakan walaupun mereka bermaksud baik (Kis.16:19-40), mereka tidak mengeluh tetapi malah menyanyi sambil memuji Tuhan di tengah malam yang dingin. Mereka menyanyikan pujian bagi Allah, dan sementara mereka menyanyi itu terjadi gempa yang menggoncang penjara sehingga pintu-pintu sel terbuka.</p>
<p>Jadi kita perlu memuji Tuhan ketika hati kita terbelenggu dalam penjara kehidupan, kita perlu berdoa atau menyanyikan lagu pujian ketika jiwa kita terkungkung, niscaya Tuhan akan menghampiri dan membebaskan kita dari situasi dan kondisi itu.</p>
<p>Bila kita memuji-Nya, kita mengundang-Nya melakukan kehendak-Nya di dalam hidup kita, yang selalu lebih besar dari segala sesuatu apa yang mampu kita lakukan. Alkitab mengatakan bahwa Allah akan menjaga dan melindungi kita dari kesukaran sehingga kita akan terluput dan bersorak bebas (Mzm. 32: 6-7).</p>
<p>Seorang pendeta bernama Jack Hayford  berkata: “Seperti halnya musik di alam fisik dapat menghasilkan gelombang suara yang memecahkan sebuah gelas, demikianlah penyembahan yang penuh dengan nyanyian pujian di alam rohani akan dapat menggoyahkan kekuasaan setan, merobohkan kerajaan neraka dan memperluas kerajaan Allah melalui Yesus Kristus.</p>
<p>Bila kita menyanyikan pujian kepada Allah atas kehadiran-Nya, kuasa-Nya, dan segala sesuatu yang dilakukan-Nya, maka penyembahan kita menjadi alat yang tepat untuk memerdekakan kita dari berbagai masalah yang memenjarakan hati.</p>
<p>Penyembahan melalui pujian bermakna untuk mengatakan kepada Allah bahwa kita mengasihi Dia. “Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” ( Yoh. 14:21).</p>
<p>Allah mengajarkan jalan-jalan-Nya melalui syair pujian yang kita nyanyikan, dan Ia menghendaki agar kita mengakui-Nya sebagai Allah dalam ucapan kita dan melayani-Nya melalui tindakan kita. Penyembahan kepada Allah melalui pujian adalah tindakan menghampiri Allah dan membiarkan-Nya mengangkat jiwa kita ke alam Roh-Nya. Ini juga kuasa yang tersembunyi dalam pujian kepada Allah.</p>
<p><strong>III.	REFLEKSI</strong></p>
<p>Dari berbagai uraian dan dukungan Firman Tuhan di atas maka diharapkan agar jemaat lebih rajin datang ke gereja, berdoa dan memuji Tuhan dalam persekutuan bahkan kalau masih mampu dan mempunyai talenta agar mengikuti grup paduan suara atau vocal group lainnya. Selamat bergabung.</p>
<p>Tuhan memberkati.</p>
<p>[R. Sihite, anggota Mannen koor GKI PI]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kuasa-tersembunyi-dalam-pujian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberitaan Firman I: Doa sampai dengan Saat Hening</title>
		<link>http://gkipi.org/pemberitaan-firman-i-doa-sampai-dengan-saat-hening/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pemberitaan-firman-i-doa-sampai-dengan-saat-hening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 03:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liturgi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3732</guid>
		<description><![CDATA[Topik ini sebaiknya dibagi dalam beberapa bagian. Di bagian pertama ini kita membahas dari doa sampai dengan saat hening; artinya pembahasan kita adalah dari doa, pembacaan Alkitab, khotbah dan saat hening. Doa Sebelum pembacaan Firman Tuhan, maka pelayan Firman akan menaikkan doa. Pernah ada yang bertanya: “Mengapa perlu berdoa? Kok di tempat yang lain (maksudnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Topik ini sebaiknya dibagi dalam beberapa bagian. Di bagian pertama ini kita membahas dari doa sampai dengan saat hening; artinya pembahasan kita adalah dari doa, pembacaan Alkitab, khotbah dan saat hening.</p>
<p><strong>Doa</strong></p>
<p>Sebelum pembacaan Firman Tuhan, maka pelayan Firman akan menaikkan doa. Pernah ada yang bertanya: “Mengapa perlu berdoa? Kok di tempat yang lain (maksudnya ketika berita anugerah, dll.) tidak berdoa?”</p>
<p>Doa di bagian ini adalah doa untuk memohon pimpinan Roh Kudus dalam rangka pembacaan dan penguraian Firman Tuhan (dulu sering disebut dengan doa epiklese). Mengapa? Karena Firman yang kudus sedang dibacakan, sehingga jangan sampai umat salah membacanya. Pelayan Firman memang bertindak selaku pelayan, bukan tuan atas Firman yang diberitakan.</p>
<p>Inilah fungsi doa pelayanan Firman, yaitu sebagai harapan agar Tuhan sendirilah yang menyertai dan menolong pembacaan dan pemberitaan Firman.</p>
<p><strong>Pembacaan Alkitab</strong></p>
<p>Bagian-bagian dalam Alkitab merupakan Firman Tuhan yang menuntun umat-Nya dalam hidup di dunia ini. Sejak beberapa waktu yang lalu, pembacaan Alkitab di GKI memang ditentukan secara leksionaris.</p>
<p>Pembacaan ini mengandung empat unsur:</p>
<ul>
<li>Kitab Perjanjian Lama kecuali Mazmur</li>
<li>Mazmur</li>
<li>Surat-Surat (Perjanjian Baru)</li>
<li>Injil</li>
</ul>
<p>Mengapa keempatnya dibaca? Tentu hal ini memerlukan uraian panjang, tetapi singkatnya ialah bahwa dalam rangkaian pembacaan itu terdapat dasar/landasan kehendak Tuhan atas umat-Nya yang diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus (dalam Injil) mempunyai dasar dalam Perjanjian Lama dan penerapan dalam Surat-Surat.</p>
<p>Mazmur adalah Mazmur antar bacaan yang tidak hanya dibacakan secara bersahut-sahutan (seperti biasanya) tetapi juga bisa didaraskan atau dinyanyikan. Bacaan-bacaan ini disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai benang merah dalam pembacaan Firman.</p>
<p><strong>Khotbah</strong></p>
<p>Khotbah secara singkat bisa dikatakan sebagai pemberitaan Firman Tuhan, atau uraian Firman Tuhan. Jadi khotbah tidak boleh melenceng dari Firman yang sudah dibacakan dan yang menjadi dasar/landasan pemberitaan Firman.</p>
<p><strong>Saat Hening</strong></p>
<p>Saat hening bukanlah berdoa, tetapi menyarikan/merenungkan: “Apa yang sudah Tuhan firmankan hari ini?” sehingga menjadi bekal kehidupan selama sepekan dalam menjalani tantangan hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pemberitaan-firman-i-doa-sampai-dengan-saat-hening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Anugerah</title>
		<link>http://gkipi.org/berita-anugerah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/berita-anugerah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 03:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liturgi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3452</guid>
		<description><![CDATA[Berita Anugerah = Kabar Gembira Bagi Umat yang Lemah Ketika dinyatakan sebagai berita anugerah, maka ini merupakan pernyataan bahwa Allah yang Mahamurah itu mengampuni dosa-dosa umat-Nya. Dia tidak mengingat-ingat dosa umat-Nya dan membuka tangan-Nya untuk manusia, umat milik kepunyaan-Nya. Anugerah Allah itu dinyatakan dengan membacakan bagian dari Firman Tuhan yang menyatakan bagaimana kasih-Nya kepada umat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Berita Anugerah = Kabar Gembira Bagi Umat yang Lemah</h3>
<p>Ketika dinyatakan sebagai berita anugerah, maka ini merupakan pernyataan bahwa Allah yang Mahamurah itu mengampuni dosa-dosa umat-Nya. Dia tidak mengingat-ingat dosa umat-Nya dan membuka tangan-Nya untuk manusia, umat milik kepunyaan-Nya.</p>
<p>Anugerah Allah itu dinyatakan dengan membacakan bagian dari Firman Tuhan yang menyatakan bagaimana kasih-Nya kepada umat. Bagian yang bisa dipilih antara lain Yohanes 3:16; yang menyatakan bagaimana anugerah Allah itu benar-benar nyata Ia berikan kepada umat.</p>
<p>Dalam hal ini umat menanggapinya dengan menyatakan “Syukur kepada Allah”. Jadi anugerah itu berasal dari Allah, bukan oleh karena si pengkhotbah. Si pengkhotbah adalah saluran penyampaian anugerah Tuhan kepada umat-Nya, bukan pemberi anugerah. Bahkan pengkhotbah juga adalah merupakan umat yang berdosa dan menerima anugerah itu.</p>
<p>Allahlah yang memulai perdamaian! Hal yang sama juga dialami oleh Abram, ketika ia mengadakan perjanjian dengan Allah (atau tepatnya: Allah mengadakan perjanjian dengan Abram). Allah yang berinsiatif, Allah yang mengampuni dan Allah yang selalu menyertai. Pembakaran korban penghapus dosa dan korban-korban lain merupakan kelanjutan dari perjanjian antara Allah dengan umatNya.</p>
<h3>Salam Damai</h3>
<p>Apa yang dilakukan setelah diampuni dosanya? Allah sudah berdamai, bahkan mengambil inisiatif damai itu.</p>
<p>Perdamaian yang Allah berikan itu tidak akan menjadi sesuatu hal yang berguna ketika kita tidak berdamai dengan sesama. Memang dalam ibadah disimbolkan dengan orang/jemaat terdekat. Tetapi pada hakikatnya perdamaian itu adalah perdamaian yang dilakukan untuk semua orang (dan bukankah juga orang yang terdekat; suami, istri, anak, orang tua, mertua, menantu, dan lain-lain, yang justru seringkali kesalahannya atau kesalahan kita dipendam).</p>
<p>Jadi tindakan bersalaman bukan sekadar seremonial (ada dalam liturgi) tetapi tindakan untuk menyatakan perdamaian di antara umat yang sudah diampuni oleh Allah.</p>
<h3>Pujian Setelah Berita Anugerah</h3>
<p>Pujian setelah berita anugerah tentulah merupakan pujian yang menyatakan syukur sudah diampuni dan sudah berdamai dengan sesama dan merupakan tekad dan kesiapan menerima Firman yang akan disampaikan, dan melakukannya dalam hidupnya setiap hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/berita-anugerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Dosa</title>
		<link>http://gkipi.org/pengakuan-dosa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pengakuan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 10:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liturgi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3269</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Mengaku dosa. Apa yang dilakukan dalam pengakuan dosa? Apakah tidak cukup bagi Tuhan bahwa aku sudah minta maaf dan minta ampun? Apakah kesalahanku yang 5, 10 tahun yang lalu yang harus aku akui? Bagaimana sikap kita ketika kita mengakui dosa? PENGAKUAN DOSA: APA ITU? Ibadah adalah sebuah perjumpaan. Perjumpaan umat dengan Allah yang datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Mengaku dosa. Apa yang dilakukan dalam pengakuan dosa? Apakah tidak cukup bagi Tuhan bahwa aku sudah minta maaf dan minta ampun? Apakah kesalahanku yang 5, 10 tahun yang lalu yang harus aku akui? Bagaimana sikap kita ketika kita mengakui dosa?<br />
<strong><br />
PENGAKUAN DOSA: APA ITU?</strong></p>
<p>Ibadah adalah sebuah perjumpaan. Perjumpaan umat dengan Allah yang datang ke dunia untuk “bercakap—cakap&#8221;. Sama seperti Allah yang ingin senantiasa bercakap—cakap dengan manusia dan perempuan pertama di taman Eden (lih. Kejadian 3), demikian juga Allah ingin berjumpa dengan umat—Nya.</p>
<p>Lalu, apa yang terjadi? Dalam Kejadian 3 jelas bahwa dosa itu menghalangi hubungan antara Allah dan manusia. Mereka berdua merasa takut kepada Tuhan dengan membuat cawat dari daun-daunan karena mereka telanjang.</p>
<p>Di hadapan Tuhan kita adalah orang—orang yang “telanjang&#8221;, tidak ada satupun yang tertutupi. Dalam kelemahan, kita melakukan banyak dosa. Kita adalah makhluk lemah yang berkali-kali melakukan kesalahan. Kesadaran inilah yang membawa kita datang untuk mengakui dosa dan kesalahan; sengaja atau tidak sengaja.</p>
<p>Lalu, dosa yang mana? Tentu bukan dosa yang sudah ditumpuk—tumpuk dan kita ingat—ingat terus (Terjemahan bebas ilustrasi Anthony de Mello: ketika seorang berdoa dan mengatakan: “Tuhan ampuni dosa saya setahun yang lalu.” setelah setiap hari berdoa. Apa jawab Tuhan? “Dosa yang mana? Aku sudah melupakan, anak—Ku&#8221;). Tuhan tidak mengungkit—ungkit kesalahan. Hanya diperlukan dari kita pengakuan yang tidak berbelit-belit dan kesediaan untuk mengisi hidup baru yang Tuhan beri itu dengan sebaik—baiknya.</p>
<p>Pengakuan/pernyataan ini hanyalah Minggu per Minggu karena setiap Minggu sudah diakui dan sudah dihapuskan 0leh Tuhan.</p>
<p>Pengakuan bukan merupakan kesempatan untuk melakukan dosa lagi dan lagi. Kalau kemarin kertas yang diberikan kepada kita, kita coret dengan “gambar” yang tidak baik, maka hidup ke depan adalah kesempatan untuk mencoret dengan baik dan indah; berusaha lebih baik dan lebih baik lagi.</p>
<p><strong>DALAM DOA ITU DIBAGI MENIADI DUA:</strong></p>
<ul>
<li>Doa pribadi yang merupakan wujud pernyataan pribadi yang diakui sendiri 0leh setiap umat Tuhan sebagai pribadi yang melakukan dosa.</li>
<li>Doa oleh pengkhotbah yang merupakan rangkuman (doa bersama) dari umat kepada Tuhan. Karena itu kalimatnya tidak khas, tetapi penegasan dan pernyataan bersama yang mendorong umat untuk melakukan yang terbaik untuk Tuhan di hari yang akan datang.</li>
</ul>
<p>Dalam doa ini tentulah umat merasakan bagaimana Tuhan mengampuni dosa dan kesalahannya; sebesar apa pun, asal dengan sungguh—sungguh mengakuinya di hadapan Tuhan dan bertekad untuk mempunyai hidup yang baru.</p>
<p>Catatan kecil:<br />
Tidak semua doa adalah doa pengakuan dosa. Karena itu tidak semua doa juga mengakui dosa kita. Ada doa permohonan, doa pengakuan, doa syukur dan lain—lain, tergantung maksud kita menaikkan doa kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pengakuan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Votum dan Salam</title>
		<link>http://gkipi.org/votum-dan-salam/</link>
		<comments>http://gkipi.org/votum-dan-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 03:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liturgi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2740</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan tentang Tata Ibadah GKI, secara garis besar telah  diterangkan tentang liturgi GKI. Berikutnya akan membahas tentang bagian-bagian liturgi yang penting untuk dipahami lebih dalam sehingga kita melihat: mengapa itu mesti ada dalam liturgi kita? Secara garis besar, liturgi GKI dibagi menjadi 4 bagian, yaitu: Jemaat Berhimpun Pelayanan Firman Pelayanan Persembahan Pengutusan Susunannya tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">D</span>alam tulisan tentang <a  href="http://gkipi.org/2009/02/liturgi-dan-tata-ibadah-gki/">Tata Ibadah GKI</a>, secara garis besar telah  diterangkan tentang liturgi GKI. Berikutnya akan membahas tentang bagian-bagian liturgi yang penting untuk dipahami lebih dalam sehingga kita melihat: mengapa itu mesti ada dalam liturgi kita?</p>
<p>Secara garis besar, liturgi GKI dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:</p>
<ol>
<li>Jemaat Berhimpun</li>
<li>Pelayanan Firman</li>
<li>Pelayanan Persembahan</li>
<li>Pengutusan</li>
</ol>
<p>Susunannya tentu tidak boleh dibolak balik, sekali pun dimungkinkan adanya variasi yang membuat ibadah itu “hidup”. “Votum dan Salam” itu berada dalam bagian “Jemaat Berhimpun”. Selain “Votum dan Salam”, ada bagian-bagian lain yang merupakan bagian “Jemaat Berhimpun” tersebut, yang akan dibahas satu persatu.</p>
<h2>Votum dan Salam; dulu dan kini</h2>
<p>Dalam liturgi GKI yang lalu, votum dan salam merupakan satu rangkaian, sehingga ketika pengkhotbah menyampaikan votum, langsung disambung dengan salam, baru jemaat menjawabnya dengan pernyataan: “Amin&#8230; amin… amin.” (yang berarti “Percaya”).</p>
<p>Tentu bukan soal salah dan benar ketika dalam bagian saat ini jawaban untuk votum dan salam dipisahkan sendiri-sendiri. Dalam pemahaman saat itu, tentu votum dan salam dihayati sebagai bagian yang tidak terpisahkan, sehingga dijawab sekaligus. Votum dan salamnya sekaligus diaminkan.</p>
<p>Tetapi saat ini melalui studi yang lebih mendalam tentang liturgi, pemahamannya sudah berubah. Bahwa votum itu memang dijawab dengan “Amin” dan Salam dijawab dengan “Dan Besertamu juga.”</p>
<p>Mana yang benar? Sekali lagi: ini bukan soal salah dan benar, tetapi soal penghayatan dan pemberian maknanya. Kalau dulu kita hanya mengikuti “Votum dan Salam” yang digabung, itu karena kita mengikuti liturgi dari gereja Belanda, yang memang begitu dari sononya. Dan kalau akhir-akhir ini ada beberapa teolog (karena ada yang pendeta maupun bukan) yang meneliti dan memberikan hasilnya yang disepakati dalam Persidangan Sinode, ya itulah kesepakatan kita bersama dalam kebersamaan kita sebagai GKI. Dan oleh karena itu, maka akan diterangkan tentang: Votum dan Salam itu.</p>
<h2>Apa itu Votum?</h2>
<p>Votum adalah sebuah pengakuan. Ingat istilah bahasa Inggris dalam pemilihan umum? Vote. Kata ini berakar dari bahasa yang sama dengan votum. Votum itu berarti pengesahan/dukungan suara. Jadi ketika votum itu dinyatakan, itulah pernyataan dari Allah yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang menjadi sumber dari segala pertolongan umat.</p>
<p>Karena itu Votum bahwa: “Pertolongan kita berasal dari Tuhan, pencipta langit dan bumi” (atau dengan pernyataan yang lain). Pernyataan ini adalah pernyataan pengkhotbah yang mewakili Allah di hadapan umat. Dalam pernyataan ini maka jemaat menjawabnya dengan: “Amin&#8230; amin&#8230; amin.” (percaya).</p>
<p>Jemaat menyatakan/menjawab pernyataan dari Allah itu dengan menyatakan “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa dalam setiap langkah hidup kami itu adalah merupakan bagian-bagian pertolongan Tuhan. Baik yang menyenangkan kami maupun juga yang tidak menyenangkan kami, bahkan yang menyakiti kami. Kami percaya bahwa Tuhan sanggup menjadikan yang tidak baik menjadi kebaikan bagi kami.”</p>
<p>Yang sering ditanyakan; bagaimana sikap jemaat ketika votum dinyatakan? Sama seperti kebiasaan kita yang dari dulu, maka ketika votum diucapkan, jemaat dengan sikap berdiri (kecuali untuk yang tidak bisa berdiri; menunjukkan kesiapan untuk mendengar pernyataan Allah itu dan mengakuinya; dengan mengucapkan “amin”. Ini bukan doa, karena itu bukan dengan memejamkan mata tetapi menunduk dan meresapi makna kata-kata yang diucapkan pengkhotbah dan menjawabnya dengan penuh keyakinan.</p>
<h2>Apa itu Salam?</h2>
<p>Salam adalah pernyataan dari Allah yang dinyatakan juga oleh Pengkhotbah. Salam ini menyatakan bahwa Allah mau menyapa kita. Dalam hal ini pengkhotbah menyatakan bahwa penyertaan dan pimpinan Allah-lah yang menyertai dan memimpin setiap orang percaya, yang datang kepada kita terlebih dahulu dibanding dengan kita. Lalu mengapa jemaat menjawabnya dengan “Dan beserta saudara juga”?</p>
<p>Karena di sinilah makna persekutuan orang beriman; bahwa jemaat saling memberikan salam satu dengan yang lain, supaya semua merasakan “Syalom” (damai sejahtera) dalam hidupnya. Apakah tidak boleh pengkhotbah yang menjadi alat di tangan Tuhan mendapatkan damai sejahtera? Tentu jawabnya harus, karena itu salam juga disampaikan oleh jemaat.</p>
<p>Sikap jemaat, ya tentu bukan juga sikap berdoa, tetapi seperti juga ketika kita memberi salam kepada orang lain, menyapa dengan menatap kepada yang disapanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/votum-dan-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

