<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Teologia</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-teologis/teologia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Raja Damai itu untuk Semua Orang</title>
		<link>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/</link>
		<comments>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 14:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7269</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu dua orang saudara kita menikah dan sesudah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, di luar gedung gereja, mereka melepaskan sepasang merpati, sebagai lambang pelepasan masa lajang. Tapi merpati juga lambang perdamaian. Tanpa diduga, kedua merpati itu terbang, tapi hanya di sekitar gereja. Nah, selesai acara selesai, Pak Teguh menangkap sepasang merpati putih itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu dua orang saudara kita menikah dan sesudah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, di luar gedung gereja, mereka melepaskan sepasang merpati, sebagai lambang pelepasan masa lajang. Tapi merpati juga lambang perdamaian. Tanpa diduga, kedua merpati itu terbang, tapi hanya di sekitar gereja. Nah, selesai acara selesai, Pak Teguh menangkap sepasang merpati putih itu dan memberikannya pada saya. Wah, saya terima dengan senang.</p>
<p>Tahukah Anda, apa yang terjadi dengan sepasang merpati ini, sampai detik ini. Hewan lambang perdamaian itu setiap hari, khususnya ketika diberi makan, selalu saling mematuk, berebut makanan. Sama sekali tidak ada damai. Sampai-sampai saya yang melihatnya ikut prihatin. Padahal sama-sama merpati, sama-sama putih, sama-sama lambang perdamaian.</p>
<p>Apakah kesamaan menjamin perdamaian? Sebaliknya, apakah perbedaan pasti memunculkan pertikaian? Saya makin percaya, bahwa persamaan memang bisa menyatukan, tapi juga bisa menjadi awal pertikaian. Sebaliknya, perbedaan, jika ditonjol-tonjolkan bisa mengakibatkan permusuhan, namun juga, jika diterima dengan arif, bisa memperkaya kebersamaan.</p>
<p>Dua agama besar di dunia ini, Islam dan Kristen, ditambah Yahudi, banyak bertikai, di Yerusalem atau malah di Ambon, walaupun sama-sama agama Abraham. Yang sering menjadi titik pertikaian justru hal-hal yang sama-sama ada di dalam tradisi keduanya. Bahkan, kalau kita menyaksikan sejarah Irlandia, Protestan dan Katolik, yang sama-sama mengaku Yesus sebagai Tuhan, bertikai dahsyat.</p>
<p>Karena itu, mungkin strategi Yesus menarik: Dia mencari murid yang berbeda-beda. Malah ada yang secara sosial bermusuhan: Matius, pemungut cukai, antek penjajah Roma, dan Simon orang Zelot, kelompok yang nasionalis yang paling membenci pemerintah Roma dan antek-anteknya. Keduanya dipersatukan menjadi murid Yesus.</p>
<p>Kita membaca dua kisah Natal tentang dua kelompok yang juga berbeda luar biasa: Gembala dan Orang Majus. Yang satu pribumi-Yahudi, yang lain orang asing. Yang satu miskin, yang lain kaya. Keduanya disapa oleh Allah dan diperkenankan untuk menjadi saksi-saksi pertama kehadiran Yesus di dunia.</p>
<p>Gembala adalah salah satu kelompok terendah di kalangan masyarakat Yahudi. Mereka nyaris seperti budak. Mereka lebih dianggap properti si tuan daripada manusia yang kebetulan bekerja untuk si tuan. Setelah mereka mendengar berita dari malaikat, dikatakan pada Lukas 2:16, mereka &#8220;cepat-cepat berangkat.&#8221; Berita dari malaikat itu jauh lebih besar daripada domba-domba mereka. Ada kemungkinan mereka meninggalkan domba-domba yang menjadi tanggung jawab mereka. Dan apa artinya itu? Sepulang mereka ke tempat asal mereka, risiko besar menunggu. Kemarahan tuan mereka! Syukur kalau hanya dipecat. Bisa jadi malah dihukum!</p>
<p>Lalu Orang Majus. Di drama-drama Natal Sekolah Minggu, biasanya ditampilkan adegan para gembala datang ke kandang menemui Bayi Yesus di palungan. Kemudian di samping mereka berlutut orang Majus. Jadi keduanya bertemu di hadapan Bayi Yesus. Gambaran ini tidak tepat sama sekali. Matius memakai kata &#8220;Anak&#8221; untuk menyebut Yesus. Jadi sudah pasti Yesus sudah bukan bayi lagi. Itu sebabnya Herodes membunuh bayi-bayi berusia 2 tahun ke bawah. Jadi ada kemungkinan Yesus berusia 2 tahun. Sudah lari-lari.</p>
<p>Tapi, yang mau kita lihat sekarang adalah ide dasarnya. Siapa orang Majus. Majus searti dengan Magi. Dari sini muncul kata Magic, sihir. Mereka adalah dukun, orang yang melihat makna hidup dari letak bintang-bintang. Itu agama mereka. Yang menarik, Allah memakai benda-benda alam itu untuk menunjuk pada Sang Bintang Timur, yaitu Yesus. Dalam pandangan orang Yahudi yang amat nasionalistis atau malah chauvinistik, orang-orang majus jelas orang pinggiran. Orang asing dan kafir. Masa masa itu, haram hukumnya buat orang Yahudi bersahabat dengan mereka.</p>
<p>Para gembala dan para majusi. Keduanya orang-orang pinggiran. Yang satu terpinggirkan atas dasar ekonomi. Yang lain terpinggirkan atas dasar ras.</p>
<p>Peminggiran seperti ini masih terus terjadi sampai detik ini. Yang miskin dipinggirkan. Makanya kalau ada anak dari keluarga biasa-biasa saja sudah lulus dari perguruan tinggi atau sukses dalam hidup, si orangtua biasa berkata, &#8220;Wah anakku sudah jadi orang.&#8221; Jadi kalau tidak sukses, belum sungguh-sungguh orang.</p>
<p>Yang bukan orang pribumi dipinggirkan. Agama juga jadi faktor pinggir-pusat. Mayoritas-minoritas jadi momok. Ketika kerusuhan Mei 97, saya amat sedih karena orang lebih suka mengidentifikasi diri sebagai orang pusat: Di mana-mana rumah diberi label: Pribumi asli. Sudah pribumi, asli lagi. Malah di daerah Pamulang, sebuah gereja yang tidak memakai sebuah ruko, ikut-ikut menulis: Milik X (agama tertentu).</p>
<p>Gender juga bisa jadi faktor. Perempuan jadi nomor dua di bawah laki-laki. Usia juga. Anak kecil atau orang tua, lansia, dipinggirkan.</p>
<p>Cara berpikir kita selalu ke pusat. Semakin ke pusat semakin jadi manusia. Semakin ke pinggir semakin berkurang kemanusiaannya. Di Amerika Serikat dulu, negro itu harta milik, yang bisa diperdagangkan. Bagi Hitler, orang Yahudi itu penyakit dunia yang pantas dieliminasi.</p>
<p>Orang Kristen yang dipinggirkan di Indonesia, bukannya berusaha bersikap kritis terhadap pola pusat-pinggir, malah ternyata sering memakai pola yang sama dalam lingkungannya sendiri. Di perusahaan, pegawai harus Kristen. Di rumah, malah pembantu rumah tangga harus Kristen. Kalau belum ya dikristenkan.</p>
<div id="attachment_7271" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar1.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-7269" title="gambar1"><img class="size-medium wp-image-7271" title="gambar1" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar1-200x123.gif" alt="" width="200" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">gambar1</p></div>
<p>Ada dua kelompok yang terpinggirkan. (Gambar 1). Yang pertama secara ekonomi: Para gembala adalah orang pinggiran. Yang kedua secara ras: Para majus adalah orang pinggiran. Apa yang sama pada keduanya adalah: Mereka sama-sama datang pada Yesus yang juga ada di pinggiran. Allah datang ke dunia dengan cara yang mengagumkan. Ia datang sebagai orang hina, manusia lemah, lahir di palungan hewan. Begitu ekstrim. Dan ketika Ia mati, Ia mati dengan cara paling terkutuk: Di atas salib, tanda hukuman yang hanya cocok untuk kriminal terberat.</p>
<p>Raja Damai Itu Untuk Semua Orang. Bukan hanya orang pusat. Tapi juga pinggiran.</p>
<p><strong>Apa maknanya semua ini?</strong></p>
<p>1.    Di dalam ajaran Kristen ada istilah &#8220;orang pilihan.&#8221; Kita salah menafsirkan ajaran ini dengan mengatakan bahwa kalau &#8220;yang terpilih&#8221; berarti adalah &#8220;yang ditolak.&#8221; Lalu kita memakai pola yang sama: Orang Kristen itu pilihan, yang bukan Kristen itu ditolak. Tapi yang menarik: Semua orang pilihan yang ada di Alkitab itu justru orang-orang yang paling tidak layak di mata masyarakat. Yakub si penipu, dipilih. Abaraham yang mandul, dipilih. Paulus fundamentalis yang suka membunuh orang Kristen, dipilih. Jadi pemilihan tidak berarti yang lain ditolak. Tapi mereka dipilih untuk menjadi bukti dan contoh, bahwa kalau yang sebrengsek ini dikasihi Tuhan, maka semua orang juga dikasihi Tuhan.</p>
<p>Hati Allah tidak terarah pada orang-orang pilihan saja, tapi semua orang. &#8220;Karena begitu besar kasih Allah pada dunia ini.&#8221; Dalam 1 Petrus dikatakan bahwa Allah menghendaki SEMUA orang diselamatkan. Raja Damai itu untuk semua orang.</p>
<p>2.    Yesus datang bukan ke pusat, tapi ke pinggiran untuk menyatakan solidaritas-Nya dengan semua orang yang dipinggirkan. Jelas bukan kebetulan kalau semua yang terlibat dalam kisah Natal itu orang pinggiran. Para gembala, orang majus, perempuan bernama Maria, orangtua bernama Simeon dan Hana.</p>
<div id="attachment_7272" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar2.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-7269" title="gambar2"><img class="size-medium wp-image-7272" title="gambar2" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar2-200x123.gif" alt="" width="200" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">gambar2</p></div>
<p>Yesus justru membuat lingkaran yang baru di mana Ia menjadi pusat yang berisi orang-orang pinggiran. (Gambar 2). Yang di pinggiran jadi di pusat dan yang di pusat jadi di pinggir. Itu sesungguhnya isi nyanyian Maria dalam Lukas 1:52-53.</p>
<p>Tentu saja, Yesus tidak menolak orang-orang kaya atau orang Yahudi, atau orang dewasa, atau laki-laki. Sama sekali tidak. Yesus hanya mengecam mereka yang menjadi label-label itu jadi pusat hidup. Kekayaan jadi pusat hidup, ras menjadi pusat hidup, dan sebagainya. Yesus mengasihi semua manusia. Dan Ia mengundang yang di pusat, yang sekarang justru di pinggir, untuk bergerak ke pusat yang baru. Menuju Yesus. Dan menuju Yesus berarti menuju mereka yang bersama-sama Yesus: Yang miskin, orang asing, anak kecil, yang tidak seagama dan sebagainya. Karena itu Yesus berkata, &#8220;Apa yang engkau lakukan pada salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, yang terpinggir ini, engkau sudah lakukan untuk Aku.&#8221;</p>
<p>3.    Lukas 2:20 &amp; Matius 2:12 menggambarkan bahwa para gembala dan para majus kembali ke dalam kehidupan mereka masing-masing. Tapi ada perubahan besar dalam hidup mereka. Dalam kasus gembala, mereka kembali &#8220;sambil memuji dan memuliakan Tuhan.&#8221; Ada kegembiraan hidup karena mereka menemukan pusat hidup mereka, pembela mereka, penghibur mereka. Dalam kasus orang Majus, mereka tadinya percaya dan bergantung pada bintang di Timur, kemudian setelah bertemu dengan Herodes, mereka patuh pada Herodes. Tapi setelah bertemu dengan Yesus, mereka patuh pada petunjuk Allah untuk pulang melalui jalan lain. Allah sudah menjadi pusat hidup mereka yang baru. Mereka menjadi saksi di dalam kehidupan mereka masing-masing, memberitakan PUSAT KEHIDUPAN yang baru: Yesus!</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IA Diam di Antara Kita</title>
		<link>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 13:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7150</guid>
		<description><![CDATA[Kerap kita ucapkan harapan dan doa kita bagi orang lain dengan kata-kata ini: &#8220;Kiranya Tuhan menyertaimu&#8230;&#8221; Tentunya indah dan pasti tidak keliru harapan seperti ini. Pada lembar uang Dollar Amerika tertera harapan yang sama: &#8220;God be with us.&#8221; Ia mau mengingatkan para penggunanya untuk menggantungkan hidup pada Tuhan bukan semata pada uang. Atau agar tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerap kita ucapkan harapan dan doa kita bagi orang lain dengan kata-kata ini: &#8220;Kiranya Tuhan menyertaimu&#8230;&#8221; Tentunya indah dan pasti tidak keliru harapan seperti ini. Pada lembar uang Dollar Amerika tertera harapan yang sama: &#8220;God be with us.&#8221; Ia mau mengingatkan para penggunanya untuk menggantungkan hidup pada Tuhan bukan semata pada uang. Atau agar tidak terjatuh dalam perangkap ketamakan. Bahkan konon salah satu moto &#8220;perang salib&#8221; adalah: &#8220;Imanuel&#8221;. Janji penyertaan Tuhan diharapkan menjadi pendorong dan penyemangat, bahkan jaminan untuk memenangkan perang membela Tuhan.</p>
<p>Namun berita kedatangan sang Kristus dalam Injil Yohanes berbunyi sedikit berbeda: &#8220;Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita&#8230;&#8221; (Yoh. 1:14). Ini adalah berita, bahkan penegasan, bukan sekadar harapan atau doa. Ia, sang Firman yang telah menjadi manusia, berkenan diam di antara kita. Sang Kristus berada, bahkan tinggal, di tengah kita manusia, di dunia kita yang carut-marut saat ini. Apakah lalu artinya ini?</p>
<p>Pertama-tama, Kristus adalah Tuhan yang berkenan diam atau tinggal di antara kita. Ia bukanlah bagaikan seorang pejabat pemerintah yang secara inkognito datang berkunjung. Ia ikut duduk, makan, bahkan untuk sementara tinggal bersama rakyatnya, tetapi setelah acara usai, ia kembali ke rumah dan kehidupannya semula yang indah dan mewah. Tuhan tidaklah seperti itu. Ia adalah sang Kristus yang sungguh-sungguh berkenan menetap di antara kita.</p>
<p>Itu berarti Ia berkenan untuk mengalami kehidupan ini bersama dengan kita di dunia kita. Ia berkenan menjalani pasang-surut hidup yang berat dan terkadang kejam ini. Ia adalah Tuhan yang berkenan menjadi bagian dari sejarah kemanusiaan dan hidup keluarga bahkan pribadi kita. Atau seperti yang digambarkan dengan amat indah dalam Mazmur 139, Ia adalah Tuhan yang meliputi kita, yang mengetahui entah kita duduk atau berdiri, mengenal pikiran kita, bahkan berada di belakang dan di depan kita.</p>
<p>Oleh karena itu kehadiran-Nya di tengah kita bukanlah sekadar &#8220;jaminan hidup&#8221; yang dijanjikan kepada kita untuk kemudian kita putuskan sendiri apakah kita akan memeganginya atau mengabaikannya. Ia datang ke dalam hidup kita dengan kasih-Nya, agar kita hidup dalam Dia dan dalam kasih-Nya. Ia ada di tengah kita agar hidup kita terjadi dalam realita hidup-Nya, serta dicirikan oleh realita kasih-Nya.</p>
<p>Itu sebabnya, hal berikut yang juga mesti kita cermati adalah bahwa kehadiran sang Kristus di tengah kita adalah kehadiran yang nyata, bukan sekadar ilusi. Dengan sangat mengharukan Yohanes menggambarkannya dalam 1 Yoh. 1:1, &#8220;Apa yang ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup &#8211; itulah yang kami tuliskan kepada kamu.&#8221;</p>
<p>Dalam penjelasan yang ringkas-padat itu, Kristus adalah Allah yang mestinya kita dengar, lihat dan raba. Pada Yohanes apa yang dialaminya bersama sang Firman hidup itu tak dapat membuatnya berdiam diri. Ia menuliskannya agar para pembacanya juga dapat mendengar, melihat dan meraba sendiri pengalaman bersama Kristus itu. Sebab untuk itulah Kristus lahir, atau tepatnya untuk itulah Kristus hadir di tengah kita, bahkan hingga saat ini! Yaitu agar kita mendengar, melihat, dan meraba sendiri Ia yang hadir di tengah kita!</p>
<p>Inilah seharusnya hakikat perayaan Natal kita. Kita bukan sekadar merayakan kelahiran Kristus, melainkan merayakan kehadiran-Nya! Dan kita rayakan itu seyogyanya dengan telinga, mata, dan tangan kita! Dan inilah yang seharusnya menjadi sumber kekuatan kita untuk berjalan ke depan dalam hidup ini, dengan segala pasang-surutnya.</p>
<p>Kita tak tahu apa yang akan kita hadapi dalam tahun 2012 yang kita jelang. Bila kita hanya merenungi berbagai masalah, peristiwa bahkan malapetaka yang terjadi di sepanjang tahun 2011 yang sebentar lagi berlalu, niscaya kita akan murung bahkan pesimistik. Oleh karena itu marilah kita merenungi dan memegangi berita tentang kedatangan sang Kristus dalam Yohanes 1 ini.</p>
<p>Ia adalah Tuhan yang berkenan diam di antara kita, di dunia kita, di tengah keluarga dan hidup pribadi kita. Ia bukanlah sekadar jaminan atau jimat, untuk sekadar kita pegangi atau kita abaikan. IA ada di tengah kita bukan sekadar wacana atau janji. Sebaliknya kehadiran-Nya adalah fakta yang bisa kita dengar, lihat dan raba dalam hidup kita. Dengan ini niscaya kita bukan hanya punya kekuatan ekstra menghadapi apapun yang bakal terjadi di tahun 2012, melainkan berjuang mengubah apapun yang bisa dan mesti diubah dalam realita kehadiran-Nya, yang bermaksud untuk membarui segala sesuatu dalam terang kasih Allah.&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memandang Perbedaan dari Kaca Mata Kristus</title>
		<link>http://gkipi.org/memandang-perbedaan-dari-kaca-mata-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/memandang-perbedaan-dari-kaca-mata-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 15:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6623</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Kehidupan dimulai dari perbedaan, atau dengan kata lain, perbedaan yang menggerakkan kehidupan. Lihatlah kisah penciptaan yang diceritakan dalam kitab Kejadian, Allah mencipta banyak makhluk dan benda dengan fungsinya masing-masing. Matahari yang berfungsi pada siang hari, bulan yang berfungsi pada malam hari, binatang di laut dan di udara, tanaman berbiji dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Kehidupan dimulai dari perbedaan, atau dengan kata lain, perbedaan yang menggerakkan kehidupan. Lihatlah kisah penciptaan yang diceritakan dalam kitab Kejadian, Allah mencipta banyak makhluk dan benda dengan fungsinya masing-masing. Matahari yang berfungsi pada siang hari, bulan yang berfungsi pada malam hari, binatang di laut dan di udara, tanaman berbiji dan lain-lain.</p>
<p>Betapa kayanya dunia ini dengan keberagaman. Allah mencipta dengan keberagaman yang indah untuk saling melengkapi dan menciptakan kehidupan. Maka agak aneh jika manusia (sebagai salah satu ciptaan Allah yang diciptakan berbeda) tidak dapat menerima dan hidup dengan perbedaan.</p>
<p>Manusia sering kali mengharapkan keseragaman. Keseragaman dianggap sebagai kekuatan dan kebersamaan. Sebaliknya tidak seragam dianggap sebagai kelemahan dan keretakan. Tidak jarang dalam hidup bersama, kita menciptakan keseragaman dengan menekan dan menyisihkan yang berbeda. Mereka yang memiliki cara berpikir yang berbeda, cara pandang yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, dianggap sebagai keanehan yang menjengkelkan sehingga dengan cepat mereka ditempatkan di luar lingkaran (jika tidak disisihkan). Dengan demikian kita telah gagal mengelola perbedaan sehingga perbedaan menjadi pemicu dari banyak pertikaian dan permusuhan.</p>
<p>Memandang perbedaan dari kaca mata Kristus, demikian judul tulisan ini. Pertanyaannya, mengapa kita perlu memandang perbedaan dari kaca mata Kristus?</p>
<p>Pada saat kita jujur bagaimana kita menyikapi perbedaan selama ini (seperti yang disebutkan di atas), dapatlah kita katakan bahwa kita telah gagal menerima dan hidup di dalam perbedaan. Kita telah gagal menempatkan perbedaan di antara kita dan sesama sebagai sumber kekuatan yang membangun kehidupan persekutuan kita. Kita telah gagal mensinergikan perbedaan menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik.</p>
<p>Kegagalan itulah yang membuat kita bercermin dan menyadari bahwa kita tidak dapat bersandar pada kekuatan dan nilai manusia untuk memandang perbedaan dengan benar. Dengan demikian perbedaan mampu menjadi berkat pada saat kita memandang dengan cara pandang Kristus. Kristus yang membuka wawasan dan cara pandang kita untuk mengelola perbedaan itu untuk membangun kehidupan.</p>
<p>Kita dapat belajar dari persoalan jemaat Galatia (3:21-29) yang memiliki pergumulan yang kurang lebih sama. Mereka menempatkan Hukum Taurat sebagai nilai ukur kehidupan mereka. Hukum Taurat menjadi persoalan ketika dipakai menjadi satu-satunya ukuran bagi orang Yahudi untuk memahami keselamatan. Keselamatan diperoleh tergantung sejauh mana manusia dapat mematuhi Hukum Taurat itu dengan sempurna. Bagi orang Yahudi, Hukum Taurat menjadi kaca mata mereka untuk memandang segala sesuatunya, baik dalam berelasi dengan Tuhan (melakukan Hukum Taurat berarti selamat) maupun dalam berelasi dengan sesama (menghakimi mereka yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat).</p>
<p>Paulus menentang hal ini. Ia mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah jauh sebelum manusia dapat melakukan Hukum Taurat dengan sempurna.</p>
<p>Pada kenyataannya ketika manusia mengenal dan hidup menurut Hukum Taurat, manusia tidak dapat menjalani Hukum Taurat dengan benar. Hukum Taurat tidak akan pernah membawa manusia kepada keselamatan karena tidak ada seorang manusia pun dapat melakukannya dengan sempurna. Hukum Taurat berfungsi untuk mendefinisikan dosa. Dengan Hukum Taurat manusia mengenal dosa tetapi manusia tidak berdaya terhadap dosa itu, ia menjadi budak dosa. Hukum Taurat dapat mendiagnosa dosa tetapi ia tidak berdaya untuk mencari jalan keluar dan menyelamatkannya. Hal ini ibarat seorang dokter yang dapat mendiagnosa penyakit tetapi tidak mampu memberikan pengobatan untuk menyembuhkan si pasien. Jadi Hukum Taurat hanya membawa kita kepada sebuah pengetahuan akan dosa. Kesadaran inilah yang membawa manusia pada sebuah fakta semata-mata hanya karena anugerah, manusia beroleh keselamatan. Anugerah yang datang dari Allah karena kemurahan dan kemahakasihan Allah.</p>
<p>Paulus menggantikan kaca mata (cara pandang) orang Yahudi yang menggunakan Hukum Taurat dengan kaca mata (cara pandang) anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Anugerah yang dapat mengubah kehidupan manusia dari kehancuran menuju kekekalan. Manusia merespons anugerah Allah melalui baptisan. Melalui baptisan, manusia mengenakan cara hidup dan cara pandang Kristus. Baptisan mengikat kita dengan Kristus yang membawa perubahan hidup dari cara hidup lama menuju cara hidup baru. Persekutuan dengan Kristus juga berdampak pada persekutuan kita dengan sesama manusia. Di dalam Kristus, kita menjadi satu tubuh yang saling menopang dan memperlengkapi. Di dalam Kristus, perbedaan di antara kita dengan sesama menjadi kekuatan yang menggerakkan tubuh mewujudkan Kerajaan Allah. Maka di dalam Kristus perbedaan suku, status (Yahudi, Yunani, hamba atau orang merdeka) tidaklah menjadi persoalan sebab mereka telah diikat dalam Kristus. Setiap pribadi, berkembang dan mengembangkan dirinya dan orang lain menurut cara pandang Kristus sehingga perbedaan itu tidak lagi menjadi sumber perpecahan tetapi penyatuan sebab semua mengarah kepada kepentingan Kristus dan bukan kepentingan manusia.</p>
<p>Dalam 1 Korintus 12:12-31 Paulus menjelaskan pemahaman gereja sebagai satu tubuh untuk memahami perbedaan di dalam tubuh Kristus. Pemahaman ini menempatkan kita bahwa di dalam Kristus; anggota jemaat menjalin satu kesatuan yang utuh. Setiap anggota mendapat peranan dengan fungsi yang berbeda-beda. Tiap anggota, seberapa pun kecilnya memiliki kedudukan yang sama penting dan tidak dapat meniadakan yang lain bahkan mencipta sebuah ketergantungan yang melengkapi. Ketika salah satu anggota menjadi lemah; ia mendapat perhatian dan dukungan lebih dari anggota tubuh yang lainnya. Pemahaman ini sungguh-sungguh menjadi landasan kehidupan bergereja terutama dalam hal penerimaan dan penempatan anggota jemaat dengan perbedaannya. Persekutuan di dalam Kristus melahirkan cara hidup yang berbeda dengan sebelumnya yang masih dikuasai dengan dosa.</p>
<p>Dengan demikian cara pandang Kristus terhadap perbedaan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa:</p>
<ol>
<li>Keberdosaan manusia membawa jalan hidupnya kepada kehancuran. Keberdosaan manusialah yang menempatkan perbedaan menjadi alat pemecah belah dan perusak kehidupan. Karya keselamatan Allah melalui Kristus adalah anugerah semata yang mengubah cara hidup manusia secara total dan menyeluruh.</li>
<li>Anugerah pengampunan adalah sumber kekuatan dan dasar bagi manusia untuk menerima perbedaan menjadi suatu keunikan yang dikembangkan di dalam kebersamaan. Anugerah yang mengubah cara pandang manusia dalam melihat perbedaan. Di dalam anugerah keselamatan itu perbedaan adalah berkat. Perbedaan disyukuri dan dirayakan dalam kehidupan bersama.</li>
<li>Orang lain sama penting dan berharganya dengan diri sendiri seperti Kristus menganggap manusia yang hina adalah makhluk yang berharga bagi-Nya. Dengan demikian dalam membangun kehidupan bersama di dalam Kristus, setiap pribadi tidak lagi merasa lebih hebat dari yang lainnya dan tidak lagi bersikap meniadakan yang lain. Kehidupan di dalam Kristus membawa manusia untuk hidup dalam ketergantungan yang membangun. Di dalam Kristus setiap orang dihargai, setiap orang mendapatkan peranannya untuk menopang yang lain dalam mewujudkan karya Allah di dunia.</li>
</ol>
<p>Perbedaan di antara kita hanya akan menjadi berkat yang indah pada saat kita membawanya di dalam Kristus. Kristus menerima kita dengan anugerah-Nya, di mana IA tidak lagi mempersoalkan siapa saya dan saudara. Di dalam Kristus tidak ada yang lebih utama kecuali Yesus Kristus. Di dalam Kristus; kita diberi tempat yang sama baiknya dengan yang lain, dan dipercaya untuk menyokong yang lain.</p>
<p>GKI Pondok Indah hidup dalam keberagaman dan keberagaman ini menjadi indah pada saat kita memusatkan hidup persekutuan kita di dalam Kristus yang telah menyelamatkan kita. Dalam persekutuan kita, kita mengakui adanya perbedaan suku, ekonomi, pendidikan. Pengakuan itu sekaligus membawa kesadaran bahwa perbedaan dapat menjadi berkat pada saat ditempatkan di bawah Kristus. Perbedaan di antara kita, tidak akan meretakkan kita sebab kita telah melihatnya dengan kaca mata Kristus. Kaca mata yang membuat kita melihat bahwa perbedaan adalah kekuatan untuk saling menopang dan bukan untuk saling meniadakan.</p>
<p>Perbedaan membuat kita menjadi sejajar untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yaitu mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Hanya di dalam Kristus; perbedaan menjadi daya juang bersama dalam persekutuan untuk menghasilkan karya. Mari kita selalu melihat perbedaan ini dengan kaca mata (cara pandang) Kritus. Terpujilah Kristus.</p>
<p>Pdt. Dahlia Vera Aruan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/memandang-perbedaan-dari-kaca-mata-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Injil dan Kebudayaan. Konflik, Kompromi atau Kolaborasi?</title>
		<link>http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 15:38:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6537</guid>
		<description><![CDATA[Perjumpaan Injil dan kebudayaan merupakan sebuah tema klasik di dalam pergumulan iman Kristen di tengah dunia. Sejak awal kelahirannya, Injil tak pernah bisa melepaskan diri dari kebudayaan, sebab Injil senantiasa hadir di dalam totalitas hidup manusia–dan manusia selalu membentuk jatidiri manusia sejak ia lahir. Tidak pernah ada Injil yang &#8220;telanjang,&#8221; yang lepas dari konteks kebudayaan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjumpaan Injil dan kebudayaan merupakan sebuah tema klasik di dalam pergumulan iman Kristen di tengah dunia. Sejak awal kelahirannya, Injil tak pernah bisa melepaskan diri dari kebudayaan, sebab Injil senantiasa hadir di dalam totalitas hidup manusia–dan manusia selalu membentuk jatidiri manusia sejak ia lahir. Tidak pernah ada Injil yang &#8220;telanjang,&#8221; yang lepas dari konteks kebudayaan. Injil tak pernah berada di dalam sebuah ruang yang vakum secara kultural. Kita memang percaya bahwa Injil menyapa umat manusia secara universal dan &#8220;melintasi&#8221; seluruh kebudayaan dunia. Namun Injil tidak pernah hadir bagi manusia &#8220;di luar&#8221; kebudayaan.</p>
<p>Namun, sebelum kita mempercakapkan lebih mendalam relasi Injil dan kebudayaan, agaknya kita perlu memahami secara tepat apa yang dimaksud dengan kebudayaan.</p>
<p>Pada tahun 1952, di dalam buku berjudul <em>Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions</em>, Alfred Kroeber and Clyde Kluckhohn mendaftarkan 164 definisi tentang kebudayaan. Kemudian, pada tahun 2006, John R. Baldwin et al. (<em>Redefining Culture: Perspectives Across the Disciplines</em>) membuat kompilasi yang berisi lebih dari 300 definsi kebudayaan lintas-disiplin keilmuan, khususnya yang muncul setelah tahun 1952. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pemahaman mengenai kebudayaan.</p>
<p>Secara umum, pada masa kini, kebudayaan tidak lagi sekadar diasosiasikan dengan artifak kuno, kesenian tradisional dan atribut-atribut masa silam. Sebaliknya, kebudayaan mengacu pada seluruh fenomena manusia yang tidak tergolong ke dalam genetika manusia. John S. Mbiti secara apik mendefinisi kebudayaan sebagai pola kehidupan manusia dalam menanggapi lingkungan kehidupan manusia, yang diekspresikan dalam bentuk-bentuk fisik seperti agrikultur, seni, teknologi; dalam relasi antarmanusia seperti institusi, hukum, kebiasaan; dan dalam bentuk refleksi atas seluruh kenyataan seperti melalui bahasa, filsafat, agama, nilai-nilai spiritual dan pandangan dunia.</p>
<p>Atas dasar itu, saya ingin memberikan dua catatan penting. Pertama, tidaklah tepat jika kemudian kita memahami bahwa kebudayaan sekadar mengacu pada artifak masa silam dan terwujud lewat kesenian etnis belaka, sebagaimana terekspresi di dalam beberapa kali Bulan Budaya kita. Kedua, gereja mau tidak mau juga memiliki atau meminjam kebudayaan yang jalin-menjalin dengan apa yang dipercayainya secara imani. Atas dasar dua catatan ini, saya ingin memaparkan lima atau enam dasar teologis yang substansial untuk memahami hubungan akrab Injil dan kebudayaan.</p>
<p><strong>Lima (atau Enam) Dasar Teologis</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, kisah penciptaan yang menjadi salah satu tonggak iman umat Israel dan umat Kristen menegaskan bahwa Allah mencipta dan mencinta dunia dengan memberinya peluang dan kebebasan untuk berkembang melalui kebudayaan. Melalui kebudayaan, manusia diundang intuk &#8220;mengusahakan dan memelihara&#8221; dunia di mana Allah menempatkannya (Kej. 2:15).</p>
<p>Sehubungan dengan pentingnya dimensi penciptaan, Dalam buku <em>God in Context</em> (2003), Sigurd Bergmann menulis, Teologi kontekstual adalah teologi penciptaan. Yang profan dan yang sakral tidak berlawanan satu sama lain sebagaimana ranah kultural dan biologis dari dunia diciptakan dan dipelihara oleh Allah. Teologi kontekstual adalah sebuah teologi demi dunia ini. Ia tidak melegitimasi sebuah pengakuan eksklusif namun mengarah pada sebuah refleksi atas pengalaman-pengalaman dan perjumpaan-perjumpaan dengan Allah yang hidup, yang hadir di dalam ciptaan demi pembaruan ciptaan.</p>
<p>Ketika diletakkan dalam konteks penciptaan, perjumpaan Injil dan kebudayaan berangkat dari asumsi bahwa Allah merengkuh dan merangkul dunia, termasuk seluruh kebudayaan di dalamnya. Allah tampil sebagai Dia yang ramah dan mudah didekati; Allah yang misteri sakramental-Nya dapat dijumpai dalam setiap pernik kehidupan dunia. Dunia lantas dipandang sebagai graced creation (ciptaan yang dirahmati).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Alkitab juga memberitakan Sang Sabda yang menjadi manusia (berinkarnasi) demi seluruh umat manusia, di mana pun dan kapan pun. Namun, prinsip inkarnasi sendiri mengandaikan bahwa kemanusiaan yang dirangkul oleh Sang Sabda itu selalu memiliki dimensi kebudayaan. Itu sebabnya, Yesus lahir di sebuah titik sejarah tertentu dan di lokasi geografis tertentu. Yesus terlahir sebagai seorang anak manusia yang berbudaya. Jadi, jika kita dengan mudah menolak kebudayaan, bisa jadi sikap tersebut mencerminkan pengabaian terhadap prinsip inkarnasi.</p>
<p>Kisah pentakosta–turunnya Roh Kudus–menjadi dasar teologis <strong>ketiga</strong> yang tak kalah pentingnya. Jika inkarnasi memberitakan bahwa Allah berkenan menjadi tuan-rumah (host) dan menerima bangsa-bangsa menjadi tamu-tamu (guests) bagi-Nya, Roh Kudus justru menghadirkan Allah yang menjadi tamu (Guest) yang hadir di lahan kebudayaan-kebudayaan lokal yang menyambut-Nya (hosts). Roh Kudus memasuki kebudayaan-kebudayaan dunia melalui bahasa lidah yang adalah bahasa-bahasa lokal–produk kebudayaan. Ketika keduanya diperdampingkan bersama–Sang Anak dan Roh Kudus–maka Allah dipahami senantiasa terlibat di dalam sejarah dan konteks budaya yang beraneka ragam.</p>
<p>Lagi-lagi Sigurd Bergmann menulis, Misteri inkarnasi berarti bahwa Sang Pencipta itu sendiri menjadi bagian dari sebuah konteks khusus dan bahwa kontinuitas historis dari kekristenan dipelihara melalui tindakan mempertanyakan terus-menerus, bagaimana Allah menemui kita dalam konteks-konteks tertentu. Teologi kontekstual adalah teologi inkarnasi tentang Sang Anak dan teologi inhabitasi tentang Roh Kudus yang mendiami dan menyekitari kita.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kehadiran gereja di tengah dunia sesungguhnya mere-present-asi (membuat hadir) Allah melalui Kristus dan Roh Kudus di dalam dan bagi dunia. Gereja adalah sekaligus umat Allah, tubuh Kristus dan bait Roh Kudus yang berpartisipasi ke dalam misi Allah Trinitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus) bagi dunia. Maka, sama seperti kehadiran Kristus dan Roh Kudus yang senantiasa berdimensi kultural, kehadiran gereja di tengah dunia pun senantiasa berdimensi kultural. Gereja diundang senantiasa menjaga ketegangan antara relasinya dengan kebudayaan dunia (&#8220;di dalam dunia&#8221;), sekaligus identitas yang berbeda dari kebudayaan dunia (&#8220;bukan dari dunia&#8221;). Ketika salah satu dari dua sisi ini luruh atau malah secara berlebihan ditekankan, maka hakikat gereja pun terancam.</p>
<p>Dimensi masa depan (teologi Kristen menyebutnya dimensi eskatologis) menjadi dasar kelima yang dominan dalam relasi Injil dan kebudayaan. Iman Kristen memercayai bahwa masa depan dunia ini berada di tangan Allah yang masih terus bekerja memulihkan dan memperbarui dunia. Wahyu 21:1-2 mencatat bahwa &#8220;langit dan bumi baru&#8221; yang kita impikan meliputi pula komunitas kultural (&#8220;kota yang kudus&#8221;) yang baru. Kristus berjanji akan memperbarui (bukan menciptakan) &#8220;segala sesuatu&#8221; yang sudah diciptakan sebelumnya (Why.21:5). &#8220;Segala sesuatu&#8221; di sini tentulah berarti juga kebudayaan manusia.</p>
<p><strong>Kelima</strong> prinsip dasar di atas kiranya menjadi pintu masuk bagi kita untuk menyadari dan memahami bahwa iman Kristen tidak pernah bisa terlepas dari perjumpaannya dengan kebudayaan. Akan tetapi kelima prinsip dasar tersebut tidak dengan mudah membuat relasi Injil dan kebudayaan menjadi sebuah relasi yang harmonis dan mesra, sebab kita tidak boleh melupakan dimensi lain yang senantiasa membuat pesan Injil begitu bermakna dan relevan, yaitu dosa. Kita bisa memandangnya sebagai prinsip <strong>keenam</strong>. Dosa merusak bukan hanya manusia secara personal, namun juga struktur sosial dan kultural yang dibangun manusia.</p>
<p>Kebudayaan apa pun tidak pernah tidak dicemari oleh dosa, sebelum kelak secara penuh dan menyeluruh diperbarui oleh Allah di dalam Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Dan, karena kebudayaan jalin-menjalin membentuk sebuah tekstur sosial yang bernama gereja, maka gereja pun tidak pernah luput dari pergumulannya melawan dosa. Gereja senantiasa menjadi komunitas dari orang-orang yang &#8220;sekaligus dibenarkan dan berdosa&#8221; (simul iustus et peccator).</p>
<p><strong>Berbagai Model Relasi Injil dan Kebudayaan</strong></p>
<p>Jika Anda memperhatikan dengan seksama keenam prinsip di atas, maka dengan mudah kita bisa membayangkan bahwa relasi Injil dan kebudayaan akan selalu berada di antara dua kutub yang berlawanan. Kutub pertama adalah resistensi (penolakan). Kebudayaan ditolak sepenuhnya sebab Injil menegaskan identitas kristiani yang bisa dengan mudah dicemari oleh kebudayaan yang terkotori oleh dosa. Sikap ini bisa muncul dalam dua varian. Varian pertama menolak kebudayaan dengan cara menghindarinya demi menjaga kemurnian identitas kristiani. Varian kedua juga menolak kebudayaan namun dengan cara memerangi dan berusaha menobatkannya menjadi &#8220;kebudayaan Kristen.&#8221;</p>
<p>Kutub kedua adalah adaptasi dan asimilasi. Kebudayaan dipandang secara positif dan Injil perlu menemukan bahasa bersama yang dapat diterima oleh kebudayaan. Injil harus relevan bagi kebudayaan dunia. Sikap yang pertama memiliki kelebihan dalam hal mempertahankan integritas dan identitas kristiani, namun ketika ditarik secara ekstrim, ia dengan mudah melarikan diri dari dunia demi menjaga kemurnian kristiani (varian pertama) atau memanfaatkan segala cara untuk secara pongah mengubah kebudayaan (varian kedua). Sikap yang kedua memiliki kelebihan dalam keluhurannya menghargai dunia sebagai cara manusia mengembangkan kebudayaannya, namun ketika ditarik secara ekstrim, kekristenan dapat dengan mudah kehilangan identitasnya dan malah melebur dengan dunia.</p>
<p>James Davison Hunter menulis sebuah buku anyar yang menurut hemat saya sangat menarik. Judul buku tersebut adalah <em>To Change the World: The Irony, Tragedy, and Possibility of Christianity in the Late Modern World</em> (Oxford, 2010). Di dalamnya, Hunter memaparkan tiga model yang secara khusus mencerminkan model-model di atas. Saya akan mendaftarkan ketiga model yang dipaparkan oleh Hunter dan mengaitkannya dengan model-model perjumpaan Injil dan kebudayaan yang baru saja saya sampaikan.</p>
<p><strong>Menemukan Model Terbaik</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, tentu saja, menurut saya, sub-judul di atas–&#8221;Menemukan Model Terbaik&#8221;–tidak akan pernah bisa tercapai. Tidak pernah ada model hubungan Injil dan kebudayaan yang terbaik. Semua model senantiasa memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.</p>
<p>Alasan lain mengapa tidak ada model terbaik adalah karena kebudayaan itu sendiri tidak bisa digeneralisasi. Ia tidak sama di semua tempat di muka bumi ini. Ia juga tidak sama di satu tempat untuk segala waktu. Ia berubah dan dinamis. Namun, seakaligus, kebudayaan senantiasa memiliki dimensi-dimensi yang kompleks dengan kebaikan dan keburukan yang bercampur begitu rupa. Kebudayaan yang selalu bersifat dinamis itu pada saat bersamaan merawat serta mengembangkan kemanusiaan dan merusak serta menghancurkan kemanusiaan.</p>
<p>Dengan kata lain, selalu ada dimensi kebudayaan yang memang perlu ditolak, ditransformasi atau diterima dan bahkan dikembangkan. Jika pemahaman ini diterima, maka ada kalanya memang kita harus menolak kebudayaan, namun ada kalanya kita menerima kebudayaan. Ada kalanya kita menjauhi dimensi tertentu dari kebudayaan dan ada kalanya kita merangkul dan merayakan cinta Allah melalui dimensi kebudayaan tertentu.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, James Hunter sebenarnya menyampaikan model keempat yang dipercayainya sanggup menjawab panggilan Yesus agar kita &#8220;tetap di dalam dunia namun bukan dari dunia.&#8221; Ia menyebut model keempat itu faithful presence (kehadiran yang setia). Artinya, kita tetap berada di dalam dunia yang dicintai Allah dan ikut mencintai dunia itu, sembari menjaga kesetiaan kita pada identitas kristiani yang telah diubah oleh Injil. Dengan tetap berada di dalam dunia itu, kita berelasi secara dinamis dengan kebudayaan-ada kalanya kita menerima dan bahkan mengelola serta mengembangkan kebudayaan yang sepadan dengan misi Allah, namun ada kalanya kita harus menolak dan melawan kebudayaan yang berlawanan dengan misi Allah. Jadi, kesetiaan kepada Allah terkadang diwujudkan lewat penolakan dan perlawanan terhadap kebudayaan, terkadang diwujudkan lewat penerimaan dan penghargaan terhadap kebudayaan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana memiliki kebijaksanaan untuk menngetahui kapan kita perlu bersikap terhadap kebudayaan dan dengan sikap semacam apa kita melakukannya; kapankah kita perlu melakukan konflik, kompromi, atau kolaborasi dengan kebudayaan lokal yang ada.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, akhirnya, kita perlu sungguh-sungguh bersikap kritis lebih pada bagaimana gereja kita pada masa kini berinteraksi dengan kebudayaan modern yang dihidupinya. Kita dengan mudah mengajukan sikap kritis atau apresiatif terhadap kebudayaan-kebudayaan etnis tertentu, namun kerap gagal menengarai (apalagi mengambil sikap) terhadap kebudayaan modern yang ternyata kita hidup secara aktual.</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
<p>Materi dari Forum Diskusi Teologi, GKI Pondok Indah, 15 Agustus 2011. Diselenggarakan oleh Mabid Pembinaan Umum GKI Pondok Indah bekerja sama dengan Panitia Bulan Budaya 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menatalayani Ciptaan-Menata Diri</title>
		<link>http://gkipi.org/menatalayani-ciptaan-menata-diri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menatalayani-ciptaan-menata-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 14:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6277</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1972 diterbitkan sebuah laporan tidak resmi tentang lingkungan oleh sebuah panitia beranggota 152 orang dari 58 negara, atas penugasan Sekjen Konferensi PBB mengenai Lingkungan Hidup Manusia. Laporan itu disusun dalam bentuk buku oleh Barbara Ward &#38; Rene Dubos. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran dan Yayasan Obor (Gramedia, 1974) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 1972 diterbitkan sebuah laporan tidak resmi tentang lingkungan oleh sebuah panitia beranggota 152 orang dari 58 negara, atas penugasan Sekjen Konferensi PBB mengenai Lingkungan Hidup Manusia. Laporan itu disusun dalam bentuk buku oleh Barbara Ward &amp; Rene Dubos. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran dan Yayasan Obor (Gramedia, 1974) dengan judul &#8220;Hanya Satu Bumi–Perawatan dan pemeliharaan sebuah planit kecil.&#8221;</p>
<p>Sejak itu kesadaran akan ekologi atau relasi timbal-balik antara makhluk hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, meningkat tajam. Terutama kesadaran untuk memerhatikan kemunduran lingkungan hidup praktis di segala lini. Di mana-mana (termasuk di Indonesia) dan oleh berbagai pihak (pemerintah, badan-badan internasional, lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau LSM/NGO), berbagai keprihatinan dan peringatan dicetuskan, dibarengi imbauan untuk mengubah paradigma tentang nisbah manusia-alam, tentang tanggung jawab manusia atas kelangsungan alam, serta upaya struktural maupun praktis guna menanggulanginya.</p>
<p>Di kalangan gereja, terutama di Eropa, keprihatinan ini mendapatkan tempat yang cukup luas bahkan mendasar, dalam arti dipadukan dengan upaya pemulihan manusia dan alamnya secara utuh. Sidang Dewan Gereja Sedunia (WCC) tahun 1983 (Vancouver) mendeklarasikan dimulainya proses konsiliar untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Conciliar Process for Justice, Peace and Integrity of Creation). Banyak gereja (di Amerika dan terutama di Eropa) mengadopsinya serta mengintegrasikannya ke dalam program gereja/jemaat mereka.</p>
<p>Namun entah kenapa di Asia, dan terutama di Indonesia, proses itu nyaris tidak ada gaungnya. Padahal ketiga isyu yang dicanangkan itu amat relevan di Asia. Dalam bentuk dan cara yang dipilihnya sendiri, gereja-gereja Asia memang cukup banyak berbuat bagi dua isyu yang pertama, keadilan dan perdamaian. Tetapi isyu lingkungan hidup amat kurang,–bila tidak boleh dikatakan sama sekali tidak–diperhatikan. Beberapa sekolah tinggi teologi dan LSM telah mencoba menjaring dan membina warga jemaat agar menjadi agen perubahan serta pemrakarsa dalam hal perhatian terhadap lingkungan hidup. Namun gaungnya masih amat lemah.</p>
<p>Di lingkungan GKI, ketika GKI masih belum mengaplikasikan leksionari untuk kebaktian Minggu, tema-tema dari Rancangan Khotbah tidak pernah membahas tanggung jawab orang percaya atas lingkungan hidupnya. Apalagi ketika leksionari diberlakukan, tema-tema yang dirumuskan merujuk kepada teks-teks yang dibaca, bukan tema-tema aktual. Alhasil di GKI pada umumnya, dan di GKI Pondok Indah pada khususnya, tidak pernah dikhotbahkan tema-tema lingkungan hidup. Dalam acara-acara pembinaan, termasuk Forum Diskusi Teologi pun, belum pernah tema ini diangkat.</p>
<p>Lalu apakah dan di manakah masalah utamanya untuk mengubah hal ini? Mestinya bukan terletak pada alam lingkungan hidup itu sendiri. Sebab ia punya kemampuan untuk menyeimbangkan bahkan memulihkan diri–salah satu dari kekuasaan Sang Pencipta. Masalahnya hampir pasti terletak pada manusia. Manusia yang ketamakan dan kerakusannya untuk memiliki, memperoleh dan menikmati sebanyak-banyaknya, tak ada tandingannya.</p>
<p>Selain gereja pada umumnya, dan GKI pada khususnya, serta lebih khusus lagi, GKI Pondok Indah, yang jauh tertinggal dari berbagai LSM, perhatian atau tepatnya kepedulian atas lingkungan hidup mestinya menjadi bagian dari moralitas kristiani. Sebab pemulihan dunia dan lingkungan hidup manusia tidak akan mudah terjadi tanpa pemulihan (baca: perubahan) dari cara pandang manusia sendiri atas lingkungan hidupnya. Gereja punya peran strategis dalam hal itu. Namun di hadapannya menjulang tinggi kendala yang harus disingkirkan. Sebab tidaklah mudah untuk mengubah paradigma kehidupan yang sudah begitu mendarah daging berpusat kepada manusia, dan bukan kepada lingkungan hidupnya. Kalau pun perhatian terhadap lingkungan mulai bertumbuh, itu pun masih terlalu berpusat pada pertanyaan apakah ia menguntungkan atau merugikan manusia (antroposentris yang utilitarian). Maka yang dibutuhkan adalah moralitas lingkungan hidup yang melihat kehidupan, dengan manusia di dalamnya, sebagai suatu keutuhan. Manusia adalah bagian dari kehidupan, walau secara teologis ialah yang terpanggil untuk mengelolanya (karena diciptakan menurut &#8220;citra Allah&#8221;).</p>
<p>Untuk itu dibutuhkan pemahaman ulang yang lebih bertanggungjawab atas nisbah manusia-alam lingkungan hidupnya. Yang selama ini pada umumnya dipegangi adalah nisbah yang (terlalu) berpusat pada manusia. Segala sesuatu, alam semesta dan dunia ini, termasuk alam lingkungan hidup kita ini, dipahami sebagai &#8220;diberikan&#8221; kepada manusia untuk diperlakukan sebebas-bebasnya. Dan pemahaman ini di kalangan orang percaya didasarkan pada penafsiran mereka atas ayat-ayat Alkitab, terutama atas Kejadian 1:27-28.</p>
<p>Membaca kembali teks itu dengan teliti, memang ada 2 hal yang amat krusial untuk dipahami di situ. Yang pertama adalah pengertian dari “manusia yang diciptakan menurut ‘gambar Allah’” (Kej. 1:27) dan yang kedua, adalah pengertian dari kata “berkuasalah” (Kej. 1:28).</p>
<p>Pengertian dari kata &#8220;gambar/rupa ALLAH&#8221;,–yang untuk itu menurut hemat saya lebih tepat kata &#8220;citra Allah&#8221;, adalah terjemahan dari kata Ibrani tselem. Alkitab versi KJV, NRSV dan NIV menerjemahkannya dengan kata image. Maka manusia diciptakan bagaikan image di cermin yang mesti sesuai dengan keinginan dari yang empunya, yaitu TUHAN sendiri.</p>
<p>Sedangkan kata &#8220;berkuasa&#8221; adalah terjemahan dari kata Ibrani radah. Alkitab versi King James Version dan New Revised Standard Version menerjemahkannya dengan dominion; sedangkan New Iinternational Version menerjemahkannya dengan kata rule. Memang arti harfiahnya adalah &#8220;menguasai/mengatur&#8221;. Namun itu bukan lalu harus dimengerti sebagai semacam izin untuk mengeksploitasikan dunia habis-habisan, tetapi sebagai tugas yang diemban manusia, yang diciptakan menurut citra Allah.</p>
<p>Maka secara hakiki &#8220;menguasai&#8221; hanya boleh terjadi sesuai maksud Allah atas segenap ciptaan-Nya, yaitu mesti &#8220;menghidupi semua makhluk&#8221; dan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Dunia sebagai lingkungan hidup manusia mesti dimanfaatkan dan dinikmati manusia dengan prinsip penatalayanan (stewardship). Dan itu berarti semata-mata demi segenap makhluk dan dengan pandangan ke depan, yang berarti dengan visi berkelanjutan (sustainable).</p>
<p>Ini mesti menjadi bagian dari moralitas Kristen. Moralitas yang bukan cuma soal kejujuran, keadilan, kesalehan agar masuk sorga. Tetapi moralitas yang utuh di hadapan TUHAN, seturut dengan kehendak dan karya-Nya untuk membarui segenap ciptaan, termasuk manusia. Moralitas lingkungan mestinya diperlakukan sama berat dan sama penting dengan moralitas yang lain.</p>
<p>Dalam kesadaran ini, GKI Pondok Indah memilih fokus dan tema ekologi bagi Bulan Peduli, Mei 2011, di lingkungan jemaat GKI Pondok Indah. Sebagaimana kita tahu tujuan umum dari kegiatan Bulan Peduli adalah pertama-tama membelajarkan dan memberdayakan soal kepedulian. Karena kepedulian adalah salah satu kata kunci dalam visi GKI Pondok Indah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya melalui Bulan Peduli GKI Pondok Indah hendak memraktikkan kepedulian, baik sebagai jemaat maupun pribadi.</p>
<p>Dengan memilih lingkungan hidup sebagai fokus, dengan tema &#8220;Menatalayani Lingkungan–Menata Diri&#8221;, tujuannya Bulan Peduli 2011 GKI Pondok Indah adalah:</p>
<ol>
<li>Warga jemaat GKI Pondok Indah memahami bahwa sebagai anak-anak Tuhan, mereka bertanggungjawab atas pengelolaan segenap ciptaan, khususnya atas lingkungan hidupnya, serta bersedia menerjemahkannya dalam tindakan-tindakan praktis.</li>
<li>GKI Pondok Indah mewujudkan kepeduliannya pada lingkungan hidup dengan membantu sebuah desa di kaki Gunung Merapi yang diterjang awan panas akibat erupsi, dalam upaya &#8220;menghijaukan kembali&#8221; lingkungan hidupnya.</li>
</ol>
<p>Dengan usainya Bulan Peduli 2011, selain proyek Merapi yang masih harus dilaksanakan dan diteruskan, kepedulian ekologis mesti terus dikembangkan di GKI Pondok Indah, dalam segala bentuknya, dari yang amat sederhana hingga yang struktural sifatnya. Sebab &#8220;menatalayani ciptaan&#8221; dan &#8220;menata diri&#8221; dalam terang itu mesti selalu terus terjadi, sebagai bagian dari moralitas kristiani.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bacaan:<br />
Chang, Dr. William, OFMCap, 2001, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.<br />
Deane-Drummond, Celia, 2001, Teologi dan Ekologi &#8211; Buku Pegangan, penerjemah: Pdt. DR. Robert P. Borong, Jakarta: BPK Gunung Mulia.<br />
Milne, Antony, 2006, Our Drowning World &#8211; Dunia di Ambang Kepunahan-Bencana-bencana yang Mengancam Umat Manusia, penerjemah: J.B. Srijanto, Jakarta: BPK Gunung Mulia.<br />
Niles, D. Preman, 1991, Justice, Peace and the Integrity of Creation; Dictionary of the Ecumenical Movement, Geneva: WCC Publications.<br />
Rasmussen, Larry L., 2010, Komunitas Bumi: Etika Bumi, penerjemah: Liem Sien Kie, Jakarta: BPK Gunung Mulia.<br />
Ward, Barbara &amp; Dubos, Rene, 1974, Hanya Satu Bumi -Perawatan dan Pemeliharaan Sebuah Planit Kecil, penerjemah: S. Supomo, Jakarta: PT. Gramedia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menatalayani-ciptaan-menata-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kremasi</title>
		<link>http://gkipi.org/kremasi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kremasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 14:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6048</guid>
		<description><![CDATA[Kremasi adalah praktik penghilangan jasad dengan cara membakarnya dalam suhu yang tinggi, kira-kira 870-1150°C (1.598-2.100°F). Kata kremasi berasal dari kata Latin cremo, yang berarti “membakar.” Hasil proses kremasi berupa fragmen tulang dan partikel (biasanya seberat 4-8 pon/1,8-3,6 kg), kemudian digiling menjadi debu halus dan dimasukkan ke dalam sebuah guci kecil bercorak dan diserahkan kepada keluarga. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kremasi adalah praktik penghilangan jasad dengan cara membakarnya dalam suhu yang tinggi, kira-kira 870-1150°C (1.598-2.100°F). Kata kremasi berasal dari kata Latin cremo, yang berarti “membakar.” Hasil proses kremasi berupa fragmen tulang dan partikel (biasanya seberat 4-8 pon/1,8-3,6 kg), kemudian digiling menjadi debu halus dan dimasukkan ke dalam sebuah guci kecil bercorak dan diserahkan kepada keluarga. Keseluruhan proses kremasi biasanya memakan waktu 3 sampai 5 jam. Secara umum kremasi dilakukan di sebuah krematorium, atau tempat-tempat khusus, seperti pasetran bagi ritual Ngaben di Bali,<br />
dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Latar Belakang Kremasi</strong></p>
<p>Menurut catatan arkeologi, kremasi telah berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu, dengan ditemukannya Mungo Lady, yakni sisa-sisa jasad yang dikremasi, di Danau Mungo, Australia. Dalam sejarah kekristenan, gereja perdana mempertahankan praktik Yahudi menguburkan jasad dan menolak praktik kremasi yang saat itu menjadi tradisi bangsa Romawi. Dasar pemahamannya adalah bahwa Tuhan menciptakan manusia dari debu dan tanah (Kejadian 2:7; 3:19) menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 3:19), sehingga gereja perlu menghargai tubuh dengan mengembalikannya ke tanah setelah kematiannya. Selain itu, gereja perdana mengikuti peristiwa kematian Yesus Kristus yang dimakamkan dan bangkit pada hari Paska. Gereja percaya bahwa pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kembali ke dunia, orang-orang percaya yang sudah mati akan dibangkitkan.</p>
<p>Setelah agama Kristen disahkan pada abad ke-4, pemerintah Romawi mulai meninggalkan tradisi kremasi dan mengikuti praktik penguburan jasad. Namun pada abad 19 terjadi perkembangan paradigma tentang kremasi, yang diprakarsai oleh kaum rasionalis. Mereka berpendapat bahwa praktik kremasi tidak melanggar Alkitab dan merupakan salah satu solusi praktis-higienis dari persoalan terbatasnya lahan pemakaman. Sejak saat itu, banyak orang Kristen dan orang Katolik memandang dan melakukan kremasi sebagai suatu pengebumian yang dapat diterima, praktis, hemat biaya, dan hemat lahan penguburan.</p>
<p>Menyikapi perkembangan itu, pada tahun 1983 Gereja Katolik tetap mengajak umat melakukan penguburan jasad, tetapi juga tidak melarang kremasi, selama itu tidak bertentangan dengan iman Katolik. Kremasi dipandang bertentangan dengan iman Katolik, apabila:</p>
<ul>
<li>a.    Umat dipengaruhi oleh pandangan dikotomi Plato (diteruskan oleh bangsa Yunani dan Romawi) yang menganggap tubuh sebagai penjara jiwa yang harus dimusnahkan dengan kremasi setelah seseorang meninggal, sehingga jiwa dapat bebas dan mencapai kesempurnaannya. Gereja Katolik memahami badan dan jiwa/roh sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan berharga di hadapan Tuhan.</li>
<li>b.    Umat dipengaruhi pandangan animisme dan panteisme (kebatinan), yang memahami manusia (micro cosmos) sehakikat dengan alam semesta (macro cosmos). Pembakaran jenazah dan menaburkan abunya ke laut merupakan upaya mengembalikan roh manusia untuk bersatu dan melebur dengan alam semesta. Paham demikian bertentangan dengan iman Katolik, bahwa setiap orang Katolik adalah makhluk ciptaan Tuhan yang perlu mempertanggung jawabkan kehidupannya di hadapan Tuhan.</li>
</ul>
<p>Pada tahun 1997, Gereja Katolik menganjurkan umat untuk memperlakukan abu jasad dengan menyemayamkannya di sebuah pemakaman atau columbarium (tempat penitipan abu jasad) sebagai wujud penghargaan. Praktik menebarkan abu jasad ke laut/udara/tanah, atau menyimpan abu jasad di rumah, bukanlah wujud penghormatan yang dikehendaki Gereja. Apabila umat ingin mengenang, sebaiknya umat memberi suatu plakat atau nisan yang mencatat nama orang yang meninggal tersebut.</p>
<p>Dalam lingkup gereja-gereja Protestan, ada denominasi/aliran gereja yang mengizinkan kremasi (seperti Gereja Adven Hari Ketujuh, Gereja Anglikan, Gereja Baptis, Christian Science, Katolik, Gereja Methodis, Gereja Moravian, Gereja Mormon, Gereja Presbiterian, dan Saksi Yehuwa), dan ada juga denominasi/aliran gereja yang melarangnya (seperti Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Rusia, Gereja Pentakosta, Gereja Karismatik, Gereja Bala Keselamatan, dan Gereja Lutheran).</p>
<p><strong>Menyikapi Praktik Kremasi Secara Teologis</strong></p>
<p>Dalam kekristenan, umat memahami dan menghargai tubuh dan roh/jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh. Di saat seseorang mati, rohnya akan lepas dari tubuh yang hancur secara alamiah. Namun pemahaman eskatologis Kristen menyatakan bahwa pada waktu Tuhan Yesus datang kembali ke dunia, orang-orang percaya yang telah mati akan dibangkitkan dan memperoleh tubuh dan kehidupan baru yang kekal dan mulia. Pemahaman ini didasari oleh kebangkitan Yesus Kristus secara utuh (tubuh dan roh-Nya). Bukti bahwa Yesus Kristus bangkit dengan roh dan tubuh-Nya adalah ketika Ia menampakkan diri di hadapan para murid dan mempersilakan Thomas menyentuh-Nya. Namun tubuh Yesus Kristus yang bangkit bukanlah tubuh jasmaniah, melainkan tubuh rohaniah. Hal ini sesuai dengan Pengakuan Iman Rasuli, di mana kita percaya akan kebangkitan daging dalam rupa tubuh rohaniah.</p>
<p>Secara konkret tidak ada ayat/teks Alkitab yang menyatakan bahwa kremasi adalah praktik yang dilarang atau tidak. Tuhan tidak pernah memberi perintah tentang cara kita memperlakukan jasad. Yang ada adalah tradisi pemakaman seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel dan juga orang Yahudi. Penguburan orang mati biasa dilakukan di dalam gua, di dalam tanah, atau ditumpuki batu-batu (Kejadian 35:8, 19). Namun ada kalanya bangsa Israel melakukan praktik kremasi pada jasad, misalnya ketika penduduk Yabesh-Gilead membakar jenazah Raja Saul dan anak-anaknya, yang telah dibunuh oleh bangsa Filistin, dan tulang-tulangnya dikuburkan di bawah pohon tamariska di Yabesh (1 Samuel 31:12, 13).</p>
<p>Pada era modern saat ini, banyak orang melaksanakan praktik kremasi sebagai tindakan praktis-higienis dalam penguburan jasad, karena dianggap lebih murah dalam pembiayaan dan lebih ramah pada lingkungan. Sebagai Gereja Presbiterial, GKI menerima pemakaman dan krematorium jasad manusia. GKI mengizinkan praktik kremasi, bukan pertama-tama karena pertimbangan praktis di atas, tapi karena GKI berfokus dan menekankan bahwa orang Kristen semasa hidupnya dapat bertanggung jawab menjalani hidupnya sesuai kehendak Tuhan dan senantiasa memiliki pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 5:25; 11:25), bukan pada persoalan bagaimana proses akhir jasad manusia (dimakamkan atau dikremasi). Setiap orang Kristen memiliki kebebasan yang bertanggung jawab dalam memahami dan mengambil keputusan untuk melakukan kremasi atau pemakaman bagi jasad orang yang meninggal. Yang terpenting adalah setiap keputusan itu dilandaskan pada penghayatan iman dan ajaran Kristus dan menghadirkan damai sejahtera bagi semua pihak yang bersangkutan.</p>
<p>Sebagai orang Kristen yang menerima praktik kremasi, kita perlu melihat latar belakang orang-orang yang menolak kremasi:</p>
<ul>
<li>a.    Denominasi gereja atau orang yang menolak praktik kremasi melihat kremasi sebagai hukuman pembakaran orang yang melakukan pelanggaran, misalnya pada peristiwa pembakaran orang yang kedapatan berbuat zinah (Imamat 20:14; 21:9), serta pembakaran Akhan dan keluarganya yang telah mencuri barang-barang yang dikhususkan dalam perbendaharaan Tuhan (Yosua 7:25). Menyikapi hal ini kita perlu tegas menyatakan bahwa praktik kremasi sesungguhnya bukanlah tindakan hukuman pembakaran orang yang masih hidup karena melakukan pelanggaran, tapi merupakan bentuk pengebumian jasad dengan cara dibakar hingga terurai.</li>
<li>b.    Denominasi gereja atau orang yang menolak kremasi melihat kremasi sebagai penyiksaan roh orang mati karena roh itu belum meninggalkan tubuhnya. Kita perlu kritis menyatakan bahwa kematian adalah terpisahnya tubuh dengan rohnya, sehingga roh tidak lagi merasakan penderitaan saat jasadnya dikremasi.</li>
<li>c.    Denominasi gereja atau orang yang menolak kremasi melihat kremasi sebagai penghalang Tuhan membangkitkan tubuh yang hancur di akhir zaman. Secara kritis kita harus berpegang pada pemahaman bahwa ketika kita dibangkitkan Kristus, kita akan mengenakan tubuh baru yang rohaniah, bagaimanapun jasad kita terurai (dikubur/dikremasi).</li>
</ul>
<p>Mengapa Tuhan tidak mempersoalkan cara memperlakukan jenazah dalam Alkitab? Karena Tuhan menghendaki agar kita selalu bersyukur atas anugerah kehidupan dan keselamatan dari Yesus Kristus, dan sekaligus memanggil serta memperlengkapi kita untuk selalu mengerjakan karunia keselamatan itu dengan karya-karya yang baik dan benar seturut kehendak-Nya. Panggilan hidup ini serupa dengan hikmat dalam Pengkhotbah 9:10: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”</p>
<p>Kiranya penjelasan singkat tentang praktik kremasi ini dapat membantu kita senantiasa mensyukuri kehidupan ini dan melaksanakan tugas panggilan hidup kita dalam penghayatan iman dan penyertaan Roh Kudus.</p>
<p>Albert Pandiangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kremasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salib dan Penderitaan Allah</title>
		<link>http://gkipi.org/salib-dan-penderitaan-allah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/salib-dan-penderitaan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Apr 2011 05:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5643</guid>
		<description><![CDATA[Topik yang Tidak Mudah Ketika kita berbicara tentang salib dan penderitaan Allah, sesungguhnya kita memasuki suatu medan pembahasan teologi yang tidak mudah, kendati tidak baru. Inti pertanyaan adalah, benarkah ada hubungan antara salib dan penderitaan Allah? Kalau hubungan itu ada, bagaimana kita memahaminya di atas medan sejarah? Salib Berbicara tentang salib, tentu saja kita berbicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Topik yang Tidak Mudah</strong></p>
<p>Ketika kita berbicara tentang salib dan penderitaan Allah, sesungguhnya kita memasuki suatu medan pembahasan teologi yang tidak mudah, kendati tidak baru. Inti pertanyaan adalah, benarkah ada hubungan antara salib dan penderitaan Allah? Kalau hubungan itu ada, bagaimana kita memahaminya di atas medan sejarah?</p>
<p><strong>Salib</strong></p>
<p>Berbicara tentang salib, tentu saja kita berbicara tentang alat untuk menghukum seseorang, setidak-tidaknya dalam cara yang dipakai oleh orang-orang Romawi pada waktu itu. Ada bermacam-macam salib.1  Bukan hanya orang Romawi yang mengenal tatacara hukuman memakai salib. Tetapi di era Yesus, kelihatannya orang Romawilah yang mempraktikkan itu secara luas.</p>
<p>Sederhananya salib adalah dua potong kayu yang disilangkan, yang satu lebih panjang dari yang lainnya. Yang panjang ditegakkan di tanah setelah si terhukum dipakukan dan atau diikat di atas salib. Biasanya si terhukum baru meninggal dua atau tiga hari kemudian setelah mengalami penderitaan yang sangat hebat.</p>
<p>Jauh sebelum Yesus disalibkan, telah sekian banyak orang yang disalibkan. Demikian juga sesudah era Yesus. (Warga negara Roma dikecualikan dari cara hukuman ini. Mereka biasanya dipancung, sebagaimana dialami rasul Paulus yang menyandang kewarganegaraan tersebut). Tetapi mengapa justru salib Yesus begitu penting, sehingga bahkan menjadi simbol kekristenan di kemudian hari? Ini didasarkan atas keyakinan bahwa di dalam peristiwa salib itulah Allah mendamaikan dirinya dengan manusia.</p>
<p>Sebelum kita menguraikan ini lebih jauh ada baiknya dicatat, bahwa di dalam perjalanan sejarahnya, salib telah mengalami ambivalensi makna. Salib sekaligus menjadi tanda kehinaan dan keagungan sekaligus. Salib merupakan tanda ketaklukan, tetapi juga penaklukan. Salib menjadi sesuatu yang sakral dan sekaligus mengalami desakralisasi. Salib sekaligus dibenci dan dikasihi.</p>
<p>Untuk menjelaskan hal ini, saya mengemukakan peristiwa penting di Tanah Air dalam tahun-tahun 1990-an ketika berbagai kerusuhan bernuansa agama sangat marak, yaitu peristiwa Tasikmalaya dan Kupang. Di Tasikmalaya, beberapa gedung gereja dibakar sebagai “lanjutan” dari beberapa peristiwa sebelumnya di Sidotopo, Situbondo, Rengasdengklok, dan seterusnya. Ketika gereja Kristus di Ketapang (Jakarta) dirusak dan dibakar oleh kelompok-kelompok tertentu (katanya kaum “preman”), maka pada tahun yang sama sejumlah mesjid juga dibakar di Kupang.2  Pada waktu itu semua milik orang Bugis yang beragama Islam dibakar. Tetapi dengan membubuhkan tanda salib ke atas harta milik mereka (seperti kios), maka harta milik mereka diselamatkan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa salib telah menjadi tanda “keselamatan”. Tetapi tidak demikian halnya di Tasikmalaya. Di sana, justru salib menjadi tanda kebinasaan. Semua yang berbau salib dimusnahkan.</p>
<p>Dalam pengalaman orang-orang Indian di Amerika Latin, orang-orang Spanyol dengan memegang salib telah memusnahkan kebudayaan mereka. Salib yang tadinya adalah tanda kerendahan hati telah berubah menjadi simbol penaklukan terhadap penduduk yang waktu itu dianggap tidak beradab. Salib-salib baru diciptakan atas nama Salib. Trauma ini masih terus menghantui kehidupan penduduk Indian di Amerika Latin sampai sekarang.</p>
<p><strong>Teologi Salib</strong></p>
<p>Istilah atau terminologi Teologi Salib (Theologia Crucis) untuk pertama kali dipakai oleh Luther, yaitu suatu refleksi teologis terhadap makna salib. Theologia Crucis dipertentangkan Luther dengan Theologia Gloriae, yang memandang pengetahuan tentang Allah dapat dicapai dengan akal, tanpa membutuhkan bantuan sedikit pun. Pandangan ini (theologia gloriae) dipengaruhi oleh skolastisisme abad-abad pertengahan. Sedangkan Theologia Crucis justru berpandangan bahwa pengetahuan itu dicapai melalui salib Yesus Kristus.</p>
<p>Bagi Luther hanya iman saja yang sungguh-sungguh dapat memahami karya sejati (opus proprium) Allah pada kayu salib, yang kelihatannya sebagai karya asing (opus alieanum) dari Allah yang tersembunyi (Deus absconditus).3  Melalui iman itu kita dapat melihat bahwa yang terjadi pada salib justru merupakan pembenaran terhadap orang berdosa. Orang berdosa dijadikan benar ketika Allah menjalani jalan kehinaan, jalan salib.4</p>
<p>Seorang teolog Jerman abad XX bernama Juergen Moltmann5  menegaskan kembali pemahaman Luther ini dengan menekankan bahwa iman Kristen berdiri dan jatuh dengan pemahaman akan Kristus yang tersalib, dengan pemahaman akan Allah di dalam Kristus yang tersalib, atau dengan mempergunakan kata-kata Luther, dengan pengetahuan akan “Allah yang tersalib”.6</p>
<p>Apa artinya ini? Ini berarti bahwa kendati salib merupakan kehinaan dalam pemahaman dunia (Ingat kalimat: “Celakalah dia yang tergantung di atas salib!”), namun telah merupakan kekuatan Allah. Rasul Paulus menegaskan itu di dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat Korintus, 1 Kor. 1:18, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Rasul Paulus memperkembangkan pemahaman mengenai pembenaran oleh iman dalam arah yang sangat kritis menghadapi faham pembenaran oleh hukum Taurat, sebagaimana ditegaskan dalam Rm. 1:17, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’”.</p>
<p>Salib, dengan demikian merupakan, bukan sekadar simbol, melainkan “jalan” bagi terciptanya relasi baru antara manusia dengan Allah, pendamaian sejati dicapai. Makna rekonsiliasi, yang berasal dari istilah Latin, re-conciliare, mengacu kepada menjadikan kembali satu, sesuatu yang tadinya pecah. Relasi Allah dan manusia yang dirusak oleh dosa, dengan demikian kembali dipulihkan.</p>
<p><strong>Allah yang Menderita?</strong></p>
<p>Dari apa yang dikemukakan tentang pandangan Luther maupun Moltmann, kita mendapat kesan bahwa di dalam salib (Kristus) kita melihat Allah yang menderita. Pemahaman ini tidak mudah diterima begitu saja. Lama sekali di dalam teologi Kristen dianut pendapat bahwa Allah tidak mungkin menderita, sebab kalau tidak Ia bukan lagi Allah. Ia adalah To on, yang tidak bergerak, yang tidak terharu (a patheia), dan seterusnya. Dalam bahasa Latin dipakai istilah Impassibilitas Dei.7  Tetapi pandangan itu lalu memperoleh bantahan dari berbagai pihak. Allah yang tidak mampu menderita, juga berarti tidak mampu mengasihi. Penderitaan adalah pula ekspresi dari mengasihi. Ini juga berarti, Allah tidak peduli (apatisme). Kita telah melihat akibat dari pandangan ini, dalam berbagai peristiwa dunia seperti holocaust di Jerman dalam PD II dan Perang Vietnam.8</p>
<p>Dalam pandangan sebaliknya, yang dikenal sebagai patripassianisme ditegaskan, bahwa jikalau Kristus adalah Allah, maka Ia mestinya diidentikkan dengan Sang Bapa, dan jikalau Ia identik dengan Sang Bapa, maka, karena Kristus menderita, Sang Bapa juga menderita. Tertulianus (abad ke 2) menegaskan, “Anak menderita, maka Sang Bapa juga ikut menderita (patitur, compatitur).9</p>
<p>Tentu tidak mudah juga bagi kita sekarang untuk memverifikasi benarkah Allah ikut menderita atau tidak. Namun setidak-tidaknya, berdasarkan iman kita mengamini bahwa sesungguhnya demikianlah yang terjadi. Kita bercermin kepada Yesus Kristus, yang sungguh-sungguh secara intens mengalami penderitaan itu.</p>
<p><strong>Makna Sosial Penderitaan Allah</strong></p>
<p>Kendati tidak dapat diverifikasi apakah Allah benar-benar menderita, kita bisa “memahaminya” dalam kehidupan sosial. Telah banyak orang melakukan perenungan mengenai penderitaan Allah ini. Kita tidak akan menguraikan semuanya di sini. Di Asia, Kazoh Kitamori menulis buku berjudul, Theology of the Pain of God. Ia malah melihat penderitaan Allah sebagai hakikat Allah, bukan sekadar rasa empati.</p>
<p>Sebagai seorang pendeta Lutheran ia dipengaruhi Luther. Dengan menjelaskan Yeremia 31:20 dan Yesaya 63:15 di mana ditemukan kata-kata “Hati-Ku terharu” dan “kasih sayang”, Kitamori menegaskan bahwa di dalamnya tersirat penderitaan dan kasih. Allah bergumul di dalam diri-Nya. Allah yang harus menghukum manusia bergumul dengan Allah yang mengasihi yang adalah Dirinya sendiri. (Di sini Kitamori mengutip Luther, “da strydet Gott mit Gott”), Allah sesungguhnya menaklukkan diri-Nya sendiri bagi kepentingan manusia. Inilah penderitaan Allah, kata Kitamori yang konkretisasinya di dalam sejarah terjadi di Golgota. Maka bagi Kitamori, peristiwa salib, di mana Anak Allah mati, bukanlah sesuatu peristiwa yang terjadi di luar Allah. Pada salib Allah mematikan diri-Nya sendiri dan dengan demikian menyelesaikan masalah kematian kita sendiri.10</p>
<p>Tentu saja Kitamori dikritik karena drama penderitaan Allah ini “hanya” terjadi di dalam batin Allah sendiri. Tetap merupakan persoalan, bagaimana penderitaan itu dilihat, dipahami bahkan dialami di atas ranah sejarah.</p>
<p>Dalam sebuah novel yang ditulis oleh Elie Wiesel berjudul Nacht,11  ia mencoba memahami Allah yang menderita di pentas sejarah ini. Wiesel adalah seorang dari sedikit orang yang luput dari holocaust Hitler. Ia menyaksikan demikian banyak penderitaan dan kematian di dapur pembakaran Auschwitz. Pada suatu hari ia harus menyaksikan pelaksanaan hukuman gantung yang dijatuhkan kepada tiga orang yang dianggap penjahat oleh rezim Nazi. Dua orang, karena badan mereka besar dengan segera meninggal.</p>
<p>Seorang anak kecil yang badannya kurus tetap tergantung di sana, dan susah meninggal. Maka lalu ada seorang berbisik di belakangnya: “Di manakah Allah?” Sejurus kemudian, ia mendengar suara lain: “Itu Allah sedang tergantung di atas tali gantungan.” Bagi Elie Wiesel, drama penderitaan Allah sungguh-sungguh konkret. Drama itu terjadi di atas panggung sejarah, bukan hanya di dalam batin Allah. Dengan mengambil bahagian di dalam penderitaan mereka, Allah membuktikan bahwa Ia “mampu” menderita dan mengasihi.</p>
<p>Tentu saja tetap sulit bagi kita bagaimana memverifikasi itu. Namun demikian, kita dapat “menilai”nya dari berbagai perubahan sikap gereja-gereja di Eropa terhadap orang Yahudi. Teologi mereka juga berubah (Theologie Na Auschwitz). Teologi yang tadinya meletakkan tuduhan kepada orang Yahudi sebagai pembunuh Kristus, sekarang berubah. Barangkali keberpihakan Barat terhadap Israel sekarang tidak dapat dilepaskan dari keyakinan bahwa Allah telah ikut menderita di dalam penderitaan umat-Nya. Sayang sekali Israel sekarang tidak melihat penderitaan Allah di dalam wajah orang-orang Palestina dewasa ini yang mendambakan juga sebuah tanah air yang merdeka.</p>
<p>Moltmann mencatat sekian banyak hal yang merupakan muara dari penderitaan Allah di dalam kehidupan sosial-politik manusia. Ia bertanya, apakah makna pemutakhiran (the contemporization) Allah yang menderita di dalam kehidupan beragama masyarakat? Di dalam dimensi-dimensi manakah suatu masyarakat manusia berkembang di dalam iklim yang bebas dari sejarah Allah ini? Apakah konsekuensi-konsekuensi ekonomi, sosial dan politik dari Injil tentang Anak Manusia yang disalibkan sebagai ‘pemberontak’?12</p>
<p>Semua pertanyaan-pertanyaan ini agaknya baik untuk direnungkan dengan mempertimbangkan kenyataan konkret masyarakat kita sendiri di Indonesia dewasa ini. Di dalam kehidupan beragama misalnya, terlalu mudah kita mengklaim Allah sebagai Allah kita sendiri, yang “hanya” berpihak kepada kita, dan kalau perlu selalu mengikuti kemauan kita. Maka karena itu dengan sangat mudah juga kita mengklaim diri sebagai “anak Tuhan”. Klaim itu tidak salah, asal saja dilakukan dalam kerendahan hati, dengan selalu mengingat bahwa Allah sesungguhnya baik kepada semua orang (Mzm. 145:9). Bahwa Allah pun menerbitkan matahari-Nya dan menurunkan hujan bagi mereka.</p>
<p>Sidang Raya XV PGI yang diselenggarakan November 2009 dengan sengaja memilih tema ini (“Allah Itu Baik Kepada Semua Orang”) untuk menekankan bahwa Allah yang menderita di dalam Yesus Kristus itu tidak mau diklaim oleh siapa pun untuk mendiskreditkan pihak-pihak lain. Di dalam bidang kehidupan ekonomi, apakah makna penderitaan Allah? Wajah Allah tergambar di wajah orang-orang miskin yang dalam banyak hal terpuruk dan tertinggal karena praktik-praktik ekonomi yang tidak adil. Ekonomi kapitalisme yang dipraktikkan oleh Amerika Serikat sekarang ini mengalami kesulitan besar dan dampaknya terasa bagi seluruh umat manusia sebagai akibat krisis keuangan. Pemanasan global sekarang ini juga tidak dapat dilepaskan dari sikap dasar manusia yang ingin menguasai segala sesuatu. Barack Obama, di dalam pidato pengukuhannya sebagai Presiden USA menekankan perilaku kerakusan yang menghinggapi banyak orang. Mahatma Gandhi pernah mengatakan, sesungguhnya bumi menyediakan cukup hal bagi keperluan semua orang, tetapi tidak cukup bagi seorang yang rakus. Dalam Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) VIII-PGI yang diselenggarakan di Cipayung dalam bulan November 2008 lalu diserukan untuk memberi perhatian serius kepada ekonomi kerakyatan yang memberdayakan masyarakat.</p>
<p>Di bidang politik orang sekarang berlomba-lomba untuk memperoleh kekuasaan. Pemilu telah diriuhrendahkan oleh sekian banyak caleg yang memasang fotonya di mana-mana. Bagaimana Allah yang menderita itu terefleksi dalam dimensi-dimensi politik itu? Sayang sekali, bidang ini juga telah dikuasai oleh “agama-agama politik” dan “teologi-teologi politik” (Moltmann). Memang dari semula, iman Kristen telah bergumul dengan agama-agama politik dari masyarakat. Di negeri kita tidak jarang kita ketemu dengan apa yang disebut politisasi agama. Di dalam politisasi agama, agama diperalat bagi tujuan kekuasaan. Maka kalau orang Kristen benar-benar hendak bercermin kepada Allah yang menderita di dalam Yesus Kristus, perjuangan di bidang politik mestinya tidak boleh memperalat agama. Tentu saja iman Kristen mengilhami dan memberi motivasi bagi perjuangan di bidang politik. Ini berbeda dengan mengutip ayat-ayat Alkitab bagi tujuan pemenangan sendiri.</p>
<p><strong>Bukan Sikap Pesimisme</strong></p>
<p>Apakah dengan menekankan kepada salib Kristus dan penderitaan Allah kita hendak membangkitkan sikap pesimisme di antara orang beriman? Tidak demikian. Menghayati kembali peranan salib Kristus dan bagaimana Allah berperan di dalamnya hendak menegaskan bahwa Allah sungguh-sungguh serius dengan persoalan-persoalan kita. Kalau Allah sungguh-sungguh serius dengan persoalan manusia, maka tentulah kita sebagai umat-Nya juga dipanggil untuk benar-benar serius dengan persoalan-persoalan kemanusiaan itu. Ini berarti keterlibatan penuh di dalam berbagai upaya penanggulangan persoalan manusia di mulai dari lingkungan kita masing-masing.</p>
<p>- Andreas A. Yewangoe -</p>
<ol>
<li><span style="font-size: x-small;">Dari De Grote Osthoek Encyclopedie en woorden boek (Deel 11) kita memperoleh informasi bahwa ada 5 (lima) jenis salib masing-masing disebut: anchteken, Grieks kruis, Latijn kruis, swastika, dan andrieskruis. Dalam penyaliban Yesus kelihatannya Latijns kruis yang dipakai. Ketika salib telah diambil-alih sebagai simbol kekristenan, banyak kerajaan-kerajaan di Eropa menempatkannya di bendera-bendera dan panji-panji mereka. Sedikit banyaknya tercatat 10 (sepuluh) jenis: Juliaans kruis, Herkruist kruis, Perron kruis, Spitspoetig kruis, spitskruis, Vorkkruis, Sterrekruis, Ruitvormig kruis, Toulouser/Occitaans kruis, dan Pijlkruis</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Sampai sekarang tidak diketahui siapa penyulut kerusuhan itu. Ada tudingan bahwa para provokatorlah yang menunggangi upacara perkabungan nasional di Kupang yang semula berjalan baik, namun tiba-tiba menjadi kacau dan rusuh.</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Deus absconditus dipertentangkan dengan Deus Revelatus (Allah yang menyatakan Diri). Tidak semua hal dinyatakan oleh Allah. Ada yang tersembunyi, kendati yang tersembunyi ini nanti akan dibukakan rahasianya. “Salib” dimasukkan sebagai karya Allah yang tersembunyi karena pada mulanya orang mengaggapnya sebagai sesuatu yang hina, namun setelah dibukakan justru mempunyai makna sangat</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Banyak bahan telah ditulis untuk memahami pandangan ini. Saya mengutip penjelasan pendek dari Alan Richardson &amp; John Bowden, A New Dictionary of Christian Theology,( SCM Press: London, 1987), p. 566. Saya juga menulis sebuah artikel berjudul, ‘Theologia Salib di Indonesia Hari ini’, dalam kumpulan tulisan saya berjudul, Agama dan Kerukunan, (BPK GM: Jakarta, cetakan IV, 2009), p.222-237.</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Ia menulis buku penting yang sangat mempengaruhi teologi abad XX berjudul Theologie der Hoffnung [Teologi Pengharapan]. Pengharapan tidak ditempatkan di akhir teologi, tetapi justru menjadi titik-tolak berteologi.</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">J. Moltmann, The Crucified God, (SCM Press: London, 1974), p. 65.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;"> Menurut J.K.Mozley, terdapat 3 motif mengapa Allah disebut tidak mampu menderita, yaitu: melindungi trasendensi ilahi. Allah dipandang sebagai tidak mempunyai titik-hubung, baik dalam maksud maupun dalam perasaan dengan kehidupan dunia; untuk mrlindungi kemuliaan Allah. Allah dianggap bahagian sempurna, dan oleh karena itu tidak dapat menderita; dan ketiga, untuk melindungi Allah dari antropomorfisme, artinya Allah tidak dapat digambarkan dalam istilah-istilah manusia. ( J.K.Mozley, The Impassibility of God: A Survey of Christian Thought, (Cambridge, 1926), pp. 173-174); A.A.Yewangoe, Theologia Crucis di Asia, (BPK Gunung Mulia: Jakarta, cetakan IV) p. 349.</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Lihat misalnya D.Soelle, Lijden, (Driebergen, 1973), p. 34. Diterjemahkan dari bahasa Jerman, Leiden.</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">H.E.W.Turner, “Patripassianism” dalam Alan Richardson &amp; John Bowden, op.cit., p. 431.</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Kazoh Kitamori, Theology of the Pain of God, (London, 1966); A.A.Yewangoe, op.cit</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Kalau tidak salah, novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul, Malam</span></li>
<li><span style="font-size: x-small;">Moltmann, op.cit., p. 317</span></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/salib-dan-penderitaan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuasa Pengampunan</title>
		<link>http://gkipi.org/kuasa-pengampunan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kuasa-pengampunan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Apr 2011 05:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5639</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam percakapan antara Tuhan Yesus dengan Petrus mengenai berapa kali orang harus mengampuni kesalahan orang lain, Yesus menjawab, “Tujuh puluh kali tujuh.” Secara manusia, hal ini tampaknya sangat sulit kita lakukan. Tetapi sebaliknya, berapa kalikah kita menyakiti hati Tuhan setiap hari? Berapa banyak dalam satu tahun (365 hari)? Meskipun demikian, Tuhan tetap mengampuni kita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam percakapan antara Tuhan Yesus dengan Petrus mengenai berapa kali orang harus mengampuni kesalahan orang lain, Yesus menjawab, “Tujuh puluh kali tujuh.” Secara manusia, hal ini tampaknya sangat sulit kita lakukan. Tetapi sebaliknya, berapa kalikah kita menyakiti hati Tuhan setiap hari? Berapa banyak dalam satu tahun (365 hari)? Meskipun demikian, Tuhan tetap mengampuni kita.</p>
<p>Memang pengajaran Yesus ini seakan-akan paradoks: orang yang menyakiti hati kita kok harus diampuni. Tetapi kalau kita tidak dapat mengampuni, sakit hati itu akan terus-menerus mendera pikiran kita, membuat kita marah dan dendam, mengganggu metabolisme tubuh kita, menyebabkan stres yang berkepanjangan dan bahkan bisa memicu penyakit diabetes, darah tinggi dan sakit jantung. Padahal orang yang menyakiti hati kita belum tentu tahu kalau kita marah kepadanya, sehingga maksud kita untuk “membunuhnya” malah bisa menjadi bumerang yang akhirnya meracuni diri kita sendiri.</p>
<p>Kadang-kadang kita mau mengampuni seseorang dengan syarat bahwa ia meminta maaf dulu pada kita. Kita berpendapat bahwa kita berhak menerima permintaan maafnya, karena hal itu akan memulihkan harga diri kita. Tetapi, bukankah seharusnya pengampunan itu kita berikan tanpa imbalan dan dengan rela hati, sama seperti kita menerima karunia pengampunan Tuhan yang diberikan dengan cuma-cuma, meskipun kita berdosa?</p>
<p>Tak mudah menjalankan perintah Tuhan yang satu ini, terutama bila ujian berat menimpa diri kita, seperti yang dialami oleh seorang pendeta yang kehilangan putranya yang berusia 10 tahun. Ia dan istrinya begitu mengasihi anak ini, sehingga mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa Tuhan begitu cepat mengambilnya kembali. Beberapa tahun kemudian, pendeta itu terkena sakit jantung, kemudian stroke dan kanker. Ketika ia menjalani operasi kanker, jantungnya melemah sehingga ia comma. Dalam situasi demikian, keluarganya pasrah bila ia harus kembali ke rumah Bapa. Tetapi ada sesuatu yang rupanya masih mengganjal hatinya, yaitu kesedihan akan kematian anaknya.</p>
<p>Seorang pendeta yang mendampingi mereka lalu mengajak istri pendeta itu untuk merelakan kematian anaknya. Pada mulanya ibu ini menangis histeris, tetapi setelah ia dibimbing untuk berdoa memohon pertolongan Tuhan, ia dapat melepaskan beban hatinya. Ia kemudian berbisik kepada suaminya yang sedang comma bahwa ia sudah merelakan anak itu dan meminta suaminya untuk juga merelakannya. Akhirnya pendeta itu dapat mengembuskan napasnya yang penghabisan dan menghadap Tuhan dengan tenang.</p>
<p>Sebagai manusia kita juga sering berbuat dosa kepada Tuhan dan memohon ampun kepada-Nya. Di dalam doa Bapa Kami, Tuhan Yesus sendiri pun mengajarkan kita untuk berdoa, “&#8230;dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”</p>
<p>Di dalam kehidupan sehari-hari, tidak banyak kita jumpai orang-orang yang pemaaf, tetapi ada teladan yang bisa kita tiru dari para janda prajurit Amerika yang gugur di medan perang. Seperti kita ketahui, Afganistan sebelumnya dikuasai oleh suku Taliban yang menganut agama Islam yang ekstrim, di mana peran istri hanya untuk mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang baru, dan harus selalu menuruti kehendak suaminya (tidak ada kata “tidak”).</p>
<p>Banyak korban yang berjatuhan di dalam perang Afganistan itu, termasuk para prajurit Amerika, sehingga banyak ibu muda tiba-tiba menjadi janda. Ketika mereka mendengar bahwa suami-suami mereka gugur dalam pertempuran, hati mereka hancur, marah dan putus asa. Untunglah beberapa dari mereka dapat keluar dari situasi yang sulit itu karena mau mengampuni. Mereka kemudian mengadakan pengumpulan dana, dan dengan uang tersebut pergi ke Afganistan. Di sana mereka mengajari perempuan-perempuan Afganistan membaca, menulis, dan merawat anak-anak mereka dengan gizi yang baik serta membekali mereka dengan ketrampilan yang berguna. Pengampunan di hati para janda ini memberi rasa damai di hati mereka dan rasa damai ini menghasilkan karya kemanusiaan yang luar biasa dan dipuji oleh seluruh dunia.</p>
<p>Suatu kisah pengampunan lain terjadi pada keluarga Azim Khamisa yang tinggal di Amerika. Pada suatu hari Tariq, putra mereka yang berusia 20 tahun, diserang oleh gang anak-anak remaja dan dibunuh oleh seorang anak yang baru berusia 14 tahun, Tony. Setelah berjuang keras mengalahkan dirinya sendiri, akhirnya Azim mengampuni Tony. Pada suatu seminar tentang kepemimpinan, Azim berkata bahwa anaknya adalah korban pembunuhan gerombolan anak-anak remaja, dan bahwa pelakunya, Tony, adalah korban dari lingkungannya.</p>
<p>Kemudian Azim dan kakek dari Tony mendirikan yayasan yang bergerak di bidang konsultasi untuk membantu anak-anak remaja kriminal kembali ke masyarakat. Yayasan ini juga mengajarkan perdamaian dan pengampunan sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik. Selama Tony di penjara, Azim beberapa kali menemuinya, dan setelah pemuda ini keluar dari penjara, ia mendapat pekerjaan di yayasan tersebut.</p>
<p>Yang sangat menarik, Azim mengatakan bahwa pengampunan itu dilakukan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Kalau ia tidak mengampuni, ia akan terpenjara di dalam kemarahannya dan menderita. Yayasan yang dipimpinnya kemudian mendapat beberapa penghargaan, seperti “The Search for Common Ground International Award (bersama Desmond Tutu dan Ted Koppel) dan “The National Crime Victims Special Community Serviced Award” yang diserahkan oleh Presiden Clinton dan mantan Jaksa Agung Amerika, Janet Reno.</p>
<p>Demikian juga kita dapat belajar dari kisah Yusuf yang tadinya ingin dibunuh oleh saudara-saudaranya, tetapi kemudian dimasukkan ke dalam sumur dan dijual sebagai budak. Hatinya tidak menyimpan dendam atas perbuatan jahat mereka, bahkan sebaliknya mengampuni mereka. Dengan hati yang damai, ia diangkat menjadi orang kepercayaan Firaun dan statusnya berganti dari budak menjadi penguasa negeri Mesir. Ia berhasil dalam kariernya karena menyerahkan hatinya untuk diubah oleh Tuhan.</p>
<p>Peristiwa-peristiwa yang dikisahkan di atas menunjukkan bahwa mengampuni kesalahan orang tidaklah mudah, tetapi kalau kita menyimpan dendam, kita sebenarnya menghukum diri kita sendiri. Hati yang mengampuni melepaskan kita dari belenggu kemarahan yang berkepanjangan, yang dapat mengakibatkan berbagai penyakit. Sebaliknya hati yang damai dapat membuahkan karya yang luar biasa, seperti kisah-kisah di atas.</p>
<p>Doa Yesus penuh pengampunan, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat…” (Lukas 23:34a). Paulus juga menasihatkan agar kita ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita (Efesus 4:32).</p>
<p>Kita harus selalu memohon pertolongan Tuhan untuk memampukan kita mengampuni kesalahan orang lain. Tuhan tidak akan meninggalkan anak-Nya yang menyerahkan hati untuk diubah oleh-Nya.</p>
<p>Nugroho Suhendro</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kuasa-pengampunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah semua orang Kristen adalah murid Kristus?</title>
		<link>http://gkipi.org/apakah-semua-orang-kristen-adalah-murid-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/apakah-semua-orang-kristen-adalah-murid-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 12:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5433</guid>
		<description><![CDATA[Kesalahpahaman seringkali terjadi saat orang mendengar kata “Pemuridan”, karena langsung mengasosiasikannya dengan istilah murid Sekolah Minggu. Padahal dalam Perjanjian Baru, kata “murid” khusus ditujukan untuk 12 murid Yesus. Itu berarti orang dewasa pun dapat disebut murid. Bahkan Yesus menjadikan perempuan, yang pada waktu itu tidak diperhitungkan dalam proses belajar mengajar, orang berdosa, yang disisihkan masyarakat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesalahpahaman seringkali terjadi saat orang mendengar kata “Pemuridan”, karena langsung mengasosiasikannya dengan istilah murid Sekolah Minggu. Padahal dalam Perjanjian Baru, kata “murid” khusus ditujukan untuk 12 murid Yesus. Itu berarti orang dewasa pun dapat disebut murid. Bahkan Yesus menjadikan perempuan, yang pada waktu itu tidak diperhitungkan dalam proses belajar mengajar, orang berdosa, yang disisihkan masyarakat, sebagai pengikut-Nya.</p>
<p>Kalau begitu, apakah setiap orang yang pernah bertemu Yesus, atau yang pernah disembuhkan oleh Yesus, atau yang pernah menikmati roti serta ikan saat murid-murid Yesus membagikannya secara berlimpah, otomatis juga disebut murid Yesus?</p>
<p><strong>TERMINOLOGI DAN KONSEP TENTANG MURID</strong></p>
<p>Secara umum kata murid dalam bahasa Yunani disebut Mathetes artinya pupil atau disciple atau pelajar. Kata pupil lebih menjelaskan tentang relasi antara guru dengan muridnya. Sedangkan kata disciple lebih menunjukkan proses yang dijalani oleh seorang murid. Itu sebabnya kata ini dihubungkan dengan beberapa kata lainnya, yaitu: manthano artinya belajar, katamanthano artinya menguji, mathetria artinya murid perempuan, matheteuo artinya menjadi murid atau membuat murid (To make disciples), matheteuein artinya menjadikan murid, dan akoulouthein artinya ‘mengikut’.</p>
<p>Dari beberapa kata di atas dapat disimpulkan bahwa seorang murid dari cara pandang orang Yunani adalah seorang yang senantiasa mengikuti gurunya dan mengalami proses pembelajaran sampai proses pengujian, sehingga akhirnya ia dapat memiliki murid yang belajar darinya.</p>
<p>Melalui kata disciple, ada 3 hal yang menarik dari konsep “belajar” orang Yunani. Pertama, “Belajar” merupakan elemen intelektual yang diserap dari teori pengetahuan (kognitif). Kedua, “Belajar” juga merupakan rekoleksi dari sesuatu yang tidak ada dalam hati nurani, akhirnya menjadi bagian dari hati nurani muridnya (afektif). Ketiga, “Belajar” merupakan penerapan dari pengembangan pemahaman moral manusia (psikomotorik). Menurut Socrates diperlukan berbagai cara untuk mencapai ketiga hal di atas yaitu melalui membaca, menulis, matematika, musik bahkan melalui pendidikan olah tubuh.</p>
<p>Sedangkan dari kata pupil, yang menarik adalah orang Yunani sangat menekankan pentingnya ikatan atau persekutuan antara murid dan gurunya. Itu terbukti saat guru-guru dari murid-muridnya meninggal dunia, mereka tetap melakukan proses belajar bahkan diharapkan munculah pemimpin atau future leader dari antara mereka. Itu sebabnya, proses belajar yang dilakukan oleh seorang murid tidak akan pernah berhenti dan tidak pernah ada batas waktunya.</p>
<p>Apa yang diharapkan dari proses belajar seorang mathatetes? Seorang yang menjalani proses belajar di satu sisi diharapkan menjalani proses itu terus menerus (bdk. Gal 4:19; Roma 8:29; 12:2) sehingga akhirnya terjadi proses dibentuk (formed) dan diubah (transformed). Belum cukup sampai disitu, seorang mathetes dibentuk dengan tujuan agar ia dapat membentuk orang lain lagi (formed to shape). Itulah sebabnya seorang murid harus terus menerus memiliki relasi yang intim dengan Gurunya guna mencapai formasi spiritualitasnya (spiritual formation). Itu berarti perubahan yang berasal dari dalam diri (inner life) terlebih dahulu dan bukan sekadar lahiriah belaka.</p>
<p>Perubahan seperti apa yang dapat terjadi dalam hidup seorang murid? Menurut Bill Hull, seorang yang menjadi murid Kristus akan mengalami Iman yang diwujudkan melalui keaktifan dalam menaati Firman Tuhan. Adapun kompetensi yang dimilikinya sebagai murid Kristus adalah:</p>
<ol>
<li>Seorang murid akan mengajukan pertanyaan terus menerus kepada gurunya bagaimana cara mengikut Yesus</li>
<li>Seorang murid akan belajar dari perkataan-perkataan Yesus.</li>
<li>Seorang murid akan mempelajari cara Yesus melayani.</li>
<li>Seorang murid akan mengimitasikan hidup dan karakter Yesus.</li>
<li>Seorang murid akan menemukan dan mengajar murid-murid yang lain demi Yesus.</li>
</ol>
<p><strong>PERJANJIAN LAMA</strong></p>
<p>Dalam Perjanjian Lama, Kata Mathetes (Latin discipulus) muncul dalam 1 Taw 25:8; Yes 8:16; 50:4; 54:13. Musa (Yoh 9:28) memiliki murid-murid. Nabi Samuel juga memiliki banyak pengikut. Elia mementori Elisa (2Raj 4:38). Ezra dan Nehemia juga adalah guru-guru utama saat kepulangan Israel kembali dari pembuangan ke tanah perjanjian. Yesaya juga pernah menyebut bahwa umat Tuhan yang dilayaninya adalah muridnya (Yes 8:16 Limmuday–my disciples). Relasinya Yesaya dengan para muridnya digambarkan dengan 2 pekerjaan, yaitu berbicara dan mendengarkan. Yang menarik, dalam kitab Yesaya, kata my disciple dalam Yes 50:4 menggunakan kata limmudim. Kata limmudim sangat erat kaitannya dengan penyebutan “muridnya Yahweh”. Jika kita gabungkan antara ide kata limmuday dan limmudim, berarti seorang murid bukan hanya menjadi murid dari Yesaya sebagai guru yang hadir secara fisik dan sangat manusiawi, tetapi juga murid-murid menjadi murid-Nya Yahweh. Itu berarti murid-murid bukan hanya berbicara dan mendengarkan Yesaya, tetapi murid-murid juga berbicara dan mendengarkan Yahweh.</p>
<p>Tidak heran jika di dalam tradisi Yahudi, tidak ada murid yang tidak memiliki guru. Sebab belajar sendirian tidaklah cukup bagi para murid. Ada proses pengimitasian terhadap sang guru sekalipun masih dimungkinkan adanya diskusi dalam proses belajar tersebut. Namun memang akhirnya Hukum dan guru merekalah yang memiliki otoritas tertinggi.</p>
<p>Yang menarik dari konsep pemuridan, para filsuf Yunani dan para rabi Yahudi adalah orang kunci yang menentukan, bahkan yang mengumpulkan murid-murid mereka. Sangat berbeda dengan sekolah atau konsep murid di zaman kita di sini.</p>
<p>Agak berbeda dari sudut jumlah, orang Farisi memformalkan sekolahnya dengan sekolah rabiniknya. Dalam sekolah itu mereka memiliki banyak sekali murid dan mereka sangat terkenal. Bahkan di zaman Herodes, Josephus mencatat bahwa banyak murid yang sangat muda bersatu bagaikan sebuah bala tentara. Jumlah mereka mencapai ribuan menurut Gamaliel II dan lebih cenderung menganggapnya sebagai karier religius karena pekerjaan mereka menggarap dan mengkritisi Taurat.</p>
<p><strong>PERJANJIAN BARU</strong></p>
<p>Di dalam Perjanjian Baru, istilah mathetes ada sebanyak 73 kali dalam Matius, 46 kali dalam Markus dan 37 kali dalam Lukas. Mengapa di Kitab Matius paling banyak disebut-sebut? Besar kemungkinan karena konteks pembaca Injil Matius adalah orang-orang Yahudi yang memutuskan untuk meninggalkan ajaran keyahudiannya dan beralih mengikut Yesus.</p>
<p>Sejak pertama kali Yesus mempublikasikan pelayanan-Nya, Yesus sudah memiliki pengikut. Pengikut Yesus salah satunya adalah Yohanes Pembaptis. Sejak Yohanes Pembaptis membaptiskan Yesus, rupanya banyak pengikut Yohanes pun yang beralih menjadi pengikut Yesus. Kita memang tidak tahu siapa pengikut Yohanes yang berpindah ke Yesus, namun murid-murid Yesus sejak pertama kali Ia menyaksikan karya-Nya adalah sebagai berikut:</p>
<table class="tables" border="1" cellpadding="5">
<tbody>
<tr class="titlecells" align="center">
<td>Mat 10:2-4</td>
<td>Mar 3:16-19</td>
<td>Luk 6:13-16</td>
<td>Kis 1:13</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Simon Petrus<br />
Andreas saudara Petrus<br />
Yakobus anak Zebedius<br />
Yohanes saudara Yakobus<br />
Filipus<br />
Bartolomeus<br />
Thomas<br />
Matius Pemungut cukai<br />
Yakobus anak Alpheus<br />
Tadeus<br />
Simon dari Kanaan<br />
Yudas Iskariot</td>
<td>Simon Petrus<br />
Yakobus anak zabedeus<br />
Yohanes saudara Yakobus<br />
Andreas<br />
Filipus<br />
Bartolomeus<br />
Matius<br />
Thomas<br />
Yakobus anak Alpheus<br />
Tadeus<br />
Simon dari Kanaan<br />
Yudas Iskariot</td>
<td>Simon Petrus<br />
Andreas saudara Petrus<br />
Yakobus<br />
Yohanes<br />
Filipus<br />
Bartolomeus<br />
Matius<br />
Thomas<br />
Yakobus anak Alfeus<br />
Simon yg dis.org Zelot<br />
Yudas anak Yakobus<br />
Yudas Iskariot</td>
<td>Petrus<br />
Yohanes<br />
Yakobus<br />
Andreas<br />
Filipus<br />
Thomas<br />
Bartolomeus<br />
Matius<br />
Yakobus anak Alfeus<br />
Simon orang Zelot<br />
Yudas anak Yakobus</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Mengapa terjadi pengulangan seperti di atas. Rupanya setiap Injil setidaknya memiliki penekanan yang berbeda saat menjelaskan mengenai konsep pemuridan.</p>
<blockquote><p>Matius; Melalui Injil Matius, konsep pemuridan dikaitkan dengan Pengutusan. Setelah murid-murid memahami ajaran Yesus, Yesus mengutus mereka. Dalam Matius 28:19-20 kata mathenteusate atau “Jadikanlah murid-Ku” menggunakan aorist active imperative 2 plural. Itu berarti kata ini menunjukkan sebuah perintah, bukan himbauan dan bukan pilihan.</p>
<p>Markus; Konsep berbeda yang dilihat oleh Markus, seorang murid sekaligus merupakan pelayan yang ditebus. Sehingga Markus lebih menekankan pentingnya servanthood atau kerendahatian seorang murid.</p>
<p>Lukas; Jalan yang harus ditempuh oleh seorang murid rupanya bukanlah jalan yang mudah tetapi jalan yang penuh dengan pengorbanan (costly way). Seorang murid bukan hanya tahu apa yang dikatakan oleh gurunya, tetapi juga memilih berada di jalan gurunya, masuk ke dalam jalan itu, menjalani perjalanan yang sangat panjang yang dimulai dengan memasuki jalan keselamatan, sehingga akhirnya menghasilkan buah yang konsisten dengan jalan yang mereka pilih.</p>
<p>Yohanes; Murid-murid yang mengikut Yesus memiliki banyak kekurangan. Sebelum mengikut Yesus mereka terikat oleh dosa. Yohanes menekankan bahwa menjadi murid Kristus berarti mereka diberi kesempatan untuk bebas dari ikatan dosa.</p></blockquote>
<p>Dari ke-4 Injil saja refleksi kita adalah tidak ada satu pemimpin gereja pun yang dapat berhasil meneladani Kristus jika ia tidak menjadi seorang murid atau tidak berproses secara terus menerus sampai mati, mengikuti pemuridan. Sebab hanya dengan memasuki proses: melepaskan diri dari ikatan dosa, memahami pentingnya harga yang harus dibayar, menjadi seorang hamba dan menjalankan hidup hanya karena diutus oleh Dia, seorang dapat sungguh-sungguh menjadi murid Kristus. Salah satu acuan ajaran Yesus adalah khotbah di bukit.</p>
<p>Kisah Para Rasul. Berbeda dari 4 Injil, dalam kitab Kisah Para Rasul, Yesus secara fisik tidak hadir dalam hidup para murid. Namun rupanya budaya memuridkan masih diteruskan, karena murid-murid Yesus pun juga memiliki banyak murid. Bahkan dalam tradisi para rasul, mereka ikut ambil bagian dalam penulisan surat maupun Injil yang kita baca. Karena apa yang mereka dengar dari guru mereka, itulah yang mereka saksikan juga kepada banyak orang.</p>
<p>Adapun definisi dari kata “murid” menurut Kisah Para Rasul adalah: orang-orang percaya yang memutuskan untuk mengaku Yesus sebagai Mesias (mathetria). Itu berarti sebuah keputusan yang penuh risiko karena meninggalkan kepercayaan yang lama, beralih pada kepercayaan kepada Yesus.</p>
<p><strong>PEMURIDAN DALAM SEJARAH GEREJA</strong></p>
<p>Konsep Pemuridan dalam sejarah gereja diawali dengan pemikiran para pengikut Kristus aliran anabaptis sekitar tahun 1538, melalui Zwingli dan Luther. Konsep ini muncul akibat mereka berpikir bahwa doktrin/ajaran Kristen yang dikhotbahkan tidak diemban oleh pendengarnya. Sehingga sekalipun ajaran Kristen tentang pertobatan dan ajaran tentang kasih Kristus diberitakan, namun itu semua tidaklah terjadi dalam hidup seorang pengikut Kristus.</p>
<p>Sejalan dengan itu Conrad Grebel, seorang teolog dan penulis, juga melihat pentingnya memperkenalkan ajaran Kristus melalui sisi kehidupan pengikut-Nya. Ia mengeluarkan sebuah istilah yaitu “Bussfertigkeit” (repentance evidenced by fruits), yang berarti pentingnya bukti pertobatan melalui banyak buah.</p>
<p>Berdasarkan pergumulan di atas, Zwingli dan Luther sepakat memiliki Visi dengan 3 penekanan utama, yang diterapkan juga oleh pengikut aliran Anabaptis yaitu Pentingnya kelahiran kembali sebagai murid Kristus yang terbukti melalui tingkah lakunya; Pentingnya kelahiran kembali dari gereja; Pentingnya etika dari kasih.</p>
<p>Berdasarkan 3 penekanan tersebut, sebenarnya ada 2 fokus dari pemuridan menurut Visi dari Aliran Anabaptis, yaitu di satu sisi bicara tentang orang Kristen sebagai pribadi di mana ia harus memiliki pengalaman iman di dalam dirinya, di sisi lain bicara tentang gereja sebagai persekutuan yang diikat oleh cinta kasih (brotherhood of love) di mana kehidupan Kristiani yang sesungguhnya dan ideal diekspresikan di dalamnya.</p>
<p><strong>TOKOH PEMURIDAN</strong></p>
<p>Ada banyak tokoh yang memperkenalkan pemuridan. Salah satunya adalah Dietrich Boenhoeffer (39 tahun) yang mati secara tragis di tangan Hitler. Dia adalah salah satu tokoh protestanisme di Jerman yang memperkenalkan dan memperjuangkan pentingnya pemuridan. Menurutnya dalam buku The Cost of Discipleship, kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus. Sebab tanpa mengaktifkan hidup kekristenan, maka iman kita mati (bdk. luk 9:23-24).</p>
<p>Selanjutnya, menurut Boenhoeffer, Pemuridan diawali dengan kesadaran bahwa anugerah keselamatan yang Tuhan beri bagi kita, sangat berharga. Bukti bahwa kita menghargai anugerah tersebut adalah melalui ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus. Dan karena Kristus adalah objek dari kesetiaan dan ketaatan itu maka diperlukan sebuah inisiatif untuk melakukan ketaatan yang personal dari pengikut-Nya. Ini harus dilakukan dalam hidup keseharian seorang Kristen karena kita bukan hanya diselamatkan karena iman, melainkan kita juga harus dilumpuhkan karena iman dalam melakukan hal-hal yang bertentangan dengan iman. Tidak heran Boenhoeffer sangat menekankan pentingnya meninggalkan segala sesuatu di belakang kita untuk mengikut Kristus. Karena itulah satu-satunya cara untuk tidak memandang anugerah sebagai hal yang murahan.</p>
<p>Alasan lain mengenai pentingnya pemuridan, menurutnya jika kekristenan tidak disertai dengan pemuridan, maka terjadi perkawinan antara kekristenan dengan budaya. Maksudnya, jika budaya memegang peran penting dalam hidup orang percaya maka pesan firman Tuhan tidak lagi menjadi fokus dalam pengajaran dan kehidupan para murid. Jadi sudah seharusnya pemuridan mengembalikan porsi firman Tuhan sebagai pemberi arah dalam hidup budaya, gereja dan keluarga.</p>
<p>Sesuai dengan apa yang dialami oleh Boenhoeffer, ternyata Policarpus yang menjadi martir di tahun 156 mengatakan bahwa seorang murid Kristus berarti seorang yang siap menjadi martir. Karena seorang martir mengikut Yesus sampai mati bahkan mengalami penderitaan yang juga dialami oleh Yesus. Policarpus (Polycarp) dikenal sebagai murid Yohanes dan menjadi Bishop di Smirna. Ia menjadi martir di zaman pemerintahan Marcion dan Valentinus di Roma. Saat Marcion bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengenal kami?” Policarpus menjawab, “Saya tahu, engkau adalah orang yang lahir dari iblis”. Karena keberaniannya menyatakan kebenaran dan menyaksikan Kristus, ia dibakar, setelah pemerintahan Kaisar Nero.</p>
<p>Seperti aliran Menonitte, menurut Bill Hull, John Wesley (1703-1791) juga memiliki konsep pemuridan. Bahkan tidak ada seorangpun dalam sejarah Pasca-Reformasi yang mengembangkan pemuridan lebih daripada Wesley. Menurutnya, disiplin spiritualitas harus dimulai dari rumah. Sejak Wesley berusia 9 tahun ibunya telah membimbing Wesley, bahkan menurut ibunya Susannah, pendidikan spiritualitas yang dilakukan secara informal di rumahlah yang membuat anggota gereja mereka bertambah banyak jumlahnya dari 25 orang menjadi lebih dari 200 orang. Setelah Wesley menyelesaikan studinya, mereka membuat sebuah kumpulan yang disebut holy club, yang selanjutnya diberi nama Godly Club, Bible Moth, The Reformers’ Club dan The Enthusiasts. Tetapi judul yang diingat oleh banyak orang adalah kaum Metodis. Kegiatan dari Holy Club adalah berdoa, membaca Alkitab, sharing pengalaman hidup keseharian dan saling mendorong satu dengan lainnya. Mereka memfokuskan diri pada 3 hal yaitu mengimitasikan Kristus, menginjili dan melakukan yang baik kepada mereka yang membutuhkan, khususnya mereka yang ada dalam penjara. Ini adalah gerakan pertama yang dilakukan oleh para pengikut aliran Metodis.</p>
<p><strong>AJARAN PEMURIDAN</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">1.    TRANSFORMASI DAN PENYANGKALAN DIRI<br />
Yohanes Pembaptis memproklamasikan bahwa pemuridannya difokuskan pada pertobatan, pencarian Allah dan pelayanan kepada Allah. Apa yang dilakukan Yohanes berbeda yang lainnya, ia rela berkorban dengan hidup di padang gurun.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Ada perubahan dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh Yohanes, termasuk penyangkalan diri ketika murid-muridnya sebagian besar akhirnya menjadi pengikut Yesus (Yoh 1:35-50; Kis 19:1-7). Proses penyangkalan diri sekaligus mengubah seorang murid dalam hal:</p>
<p style="padding-left: 60px;">a.    Transformated mind (pikiran)<br />
b.    Transformated character (karakter)<br />
c.    Transformated relationship (relasi)<br />
d.    Transformated habits (kebiasaan)<br />
e.    Transformated service (pelayanan)<br />
f.    Transformated Influence (pengaruh)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2.    BELAJAR DAN BERLATIH<br />
Dalam buku “Jalan Menuju Kedewasaan Penuh dalam Kristus” pemuridan diartikan sebagai pelipatgandaan murid Kristus. Berdasarkan Kata Yunaninya mathetes, yang dipergunakan 269 kali dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul, buku ini menekankan pentingnya ”diajar” dan ”dilatih”, sebab mereka adalah tiruan sang guru. Proses pemuridan disebut juga proses pendewasaan rohani dari seseorang yang sudah ”lahir baru”, sehingga tercapai 3 hal, yaitu: Pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (Kolose 3:10); Menjadi seperti Kristus dalam karakter (2 Korintus 3:18; Filipi 2:5); Cakap dalam melayani (2 Timotius 2:2).</p>
<p style="padding-left: 30px;">Menjadi Kristen tanpa menjadi murid, sama dengan ”bayi-bayi rohani” yang hanya mengkonsumsi “susu” dan tidak dapat mengkonsumsi makanan keras. ”Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa” (Ibrani 5:11-14;1 Korintus 3:2). Tidak heran jika banyak orang yang baru saja menerima Tuhan Yesus meninggalkan imannya dari Tuhan, karena mereka tidak segera dimuridkan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">3.    GAYA HIDUP SESUAI KRISTUS<br />
Dalam Journal Discipleship Spirituality, menurut Lukas 9:23-25 Yesus mengajarkan pengikut-Nya, bahwa pemuridan bukanlah program atau sebuah peristiwa saja, melainkan sebuah proses mengikuti (follow) sehingga akhirnya sang murid memiliki gaya hidup (the way of life) yang sama dengan gurunya. Jadi pemuridan tidak hanya ditujukan bagi orang Kristen baru tetapi juga bagi seluruh orang Kristen.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Allah bukan hanya menghendaki pengikut-Nya berharap, bersemangat dan berniat hidup baik saja, tetapi Dia menghendaki kita mengalami transformasi sehingga dapat memiliki kebiasaan Ilahi sebagai wujud jawaban kita atas panggilan-Nya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Menurut Bill Hull dalam bukunya The Complete book of Discipleship, Tuhan memerintahkan 212 hal yang disimpulkan dalam 3 hal: mengasihi Allah dengan segenap pikiran, jiwa dan kekuatan; mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri; serta mengasihi musuh. Itulah cara mengimitasikan kristus.</p>
<p style="padding-left: 30px;">4. MENGAJARKAN BERULANG-ULANG KEPADA GENERASI SELANJUTNYA<br />
Dalam Wasana Kata untuk bunga rampai Nilai-nilai Keluarga Mennonit dalam Kisaran Badai Zaman, identitas murid bagi aliran Mennonit dimulai dari rumah. Sejak kelahiran dari aliran ini, 482 tahun lalu, Mennonit memulai pertemuannya di rumah-rumah, dalam jemaat-jemaat yang kecil dan tersembunyi. Mereka tidak beribadah di gereja negara di Swiss, Belanda dan Jerman. Pertemuan ibadah rahasia, tidak tetap, dan mengambil tempat di rumah-rumah, di lumbung, di atas perahu, bahkan di gua-gua; di mana pun tempat yang mungkin untuk dipakai beribadah. Ibadah Mennonit dimulai dari keluarga! Dilaporkan, hanya sekitar 4% dari kaum Mennonit dan Brethren in Christ yang tidak memiliki kebiasaan ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Meskipun pengakuan-pengakuan Mennonit tidak mencantumkan mengenai ibadah keluarga, tetapi dalam Mennonite Confession of Faith (1963) bab 15 dinyatakan, “The Christian home ought regularly to have family worship, to seek faithfully to live according to the Word of God, and to support loyally the church in mission.” (“Rumah tangga Kristen haruslah memiliki ibadah keluarga yang rutin, berupaya untuk hidup dengan patuh kepada Firman Allah, dan untuk mendukung gereja dalam misi.”) Kemudian, para orangtua pun didorong untuk berjanji, mau menumbuh-kembangkan anak-anak mereka di dalam iman Kristen yang benar.</p>
<p style="padding-left: 30px;">5.    BUKAN SEKADAR IKUT-IKUTAN<br />
Di abad pertama, ada 5 karakteristik dalam pemuridan:</p>
<p style="padding-left: 60px;">•    Pertama, Memutuskan untuk mengikuti seorang guru<br />
•    Kedua, Mengingat apa yang dikatakan oleh gurunya<br />
•    Ketiga, Belajar cara gurunya melayani<br />
•    Keempat, Mengimitasikan hidup dan karakter gurunya<br />
•    Kelima, Membesarkan murid-muridnya</p>
<p><strong>PEMURIDAN YANG DILAKUKAN YESUS</strong></p>
<p>Dalam buku klasik 1871, the Training of The Twelve, tulisan A. B. Bruce, Bill Hull mencatat bahwa Yesus juga memperlihatkan sebuah proses yang dialami para murid-Nya sehingga mereka dapat menjalankan misi Yesus. Ada 4 proses yang dijalani oleh murid-murid Yesus:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1.    Come and see</strong><br />
Teks: Yoh 1:35-4:46. Terjadi 4-5 bulan.<br />
•    Ia memperkenalkan diri-Nya.<br />
•    Ia memerkenalkan pelayanan-Nya.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2.    Come and follow me</strong><br />
Teks: Mat 4:19 dan Mrk 1:16-18. Terjadi 10-11 bulan.<br />
•    Ia mengundang murid-murid-Nya.<br />
•    Ia mengundang tanpa menyeleksi.<br />
•    Ia menggunakan kalimat: “Follow me” sebuah undangan personal; “I will make you” mengandung tanggungjawab; “Fishers of men” Ia memberikan Visi.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3.    Come and and be with me</strong><br />
Teks: Mrk 3:13-14. Terjadi 20 bulan.<br />
•    Hidup dalam keseharian bersama para murid.<br />
•    Menunjukkan belas kasihan yang memotori misi-Nya.<br />
•    Ia pergi dan berdoa semalaman.<br />
•    Ia membina relasi dengan para murid.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>4.    Remain in me</strong><br />
Teks: Yoh 15:5, 7. Di ruang atas dan selanjutnya seumur hidup para murid.<br />
•    Yesus mengubah para murid dengan meninggalkan mereka sehingga mereka dapat menjalankan misi-Nya dengan penuh tanggungjawab dan dengan pertolongan Roh Kudus.</p>
<p><strong>TRANSFORMASI DALAM DIRI KITA</strong></p>
<p>Akhirnya, pertanyaan yang sederhana tetapi sangat penting bagi kita adalah: Apakah kita sudah menjadi murid Kristus? Sebab memiliki status dalam tanda pengenal kita sebagai “Kristen” atau mengikuti kegiatan gereja, bukanlah indikator bahwa kita sudah menjadi murid apalagi mengikuti pemuridan.</p>
<p>Dari penjelasan di atas, sampai sejauh mana kita telah menjadi murid Yesus? Atau apa yang mau kita lakukan agar kita dapat menjadi murid Yesus?</p>
<p><em>Pdt. Riani Josephine</em></p>
<blockquote><p>Daftar Pustaka</p>
<p>Bender, Harold S. Journal: The Anabaptist Vision. CUP, Church History, Vol. 13, No. 1 (Mar., 1944).<br />
Boenhoeffer, D. The Cost of Discipleship. London: B&amp;S, 1959.<br />
Bromiley, Geoffrey W. Theological Dictionary of The New Testament. Michigan: Grand Rapids, 1992.<br />
Douglas, J. D. ed. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini II. Jakarta: OMF, 1982.<br />
Frederick, Thomas V. Journal: Discipleship and Spirituality from A christian Perspective. Publ.ol, 2008.<br />
Green, Joel B. eds. Dictionary of Jesus and The Gospels. Illinois: IVP, 1992.<br />
Hull, Bill. The Complete Book of Discipleship. Singapore: Navmedia, 2006.<br />
Suh, Eunsun. Journal: The complete book of discipleship: On being and making followers of Christ. 2008.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/apakah-semua-orang-kristen-adalah-murid-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani?</title>
		<link>http://gkipi.org/persepuluhan-kewajiban-atau-disiplin-rohani/</link>
		<comments>http://gkipi.org/persepuluhan-kewajiban-atau-disiplin-rohani/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2011 01:36:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5401</guid>
		<description><![CDATA[There are three conversions necessary: the conversion of the heart, mind, and the purse. - Martin Luther Banyak anggota jemaat yang mengalami kebingungan dalam hal persepuluhan. Mereka kerap mendengar dari banyak orang Kristen dari denominasi lain bahwa persepuluhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang Kristen, karena mereka sudah diberkati atau supaya mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>There are three conversions necessary:<br />
the conversion of the heart, mind, and the purse.<br />
- Martin Luther</p></blockquote>
<p>Banyak anggota jemaat yang mengalami kebingungan dalam hal persepuluhan. Mereka kerap mendengar dari banyak orang Kristen dari denominasi lain bahwa persepuluhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang Kristen, karena mereka sudah diberkati atau supaya mereka diberkati. Di lain pihak, GKI ternyata tidak mewajibkannya. Lalu, bagaimana harus menyikapinya?</p>
<p><strong>Persepuluhan di dalam Perjanjian Lama</strong></p>
<p>Mereka yang mendesakkan persepuluhan sebagai keharusan hampir selalu memakai Maleakhi 3:10 sebagai dasar alkitabiahnya: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Sejak awal perlulah saya menegaskan bahwa pendekatan alkitabiah tidak sama dengan pendekatan ayatiah. Pendekatan ayatiah biasanya sekadar mencomot ayat-ayat favorit dan menarik darinya sebuah kesimpulan umum. Sedang pendekatan alkitabiah lebih peduli pada pesan utama keseluruhan Alkitab tentang sebuah subjek (persembahan, misalnya) dan merumuskan sikap kristiani masa kini berdasarkan prinsip-prinsip umum tersebut. Oleh karena itu, kita sungguh-sungguh perlu melihat, bagaimana Alkitab secara keseluruhan berbicara mengenai persembahan, khususnya persepuluhan. Kita mulai dari Perjanjian Lama.</p>
<p><strong>Sebelum Hukum Taurat</strong></p>
<p>Sebelum munculnya Hukum Taurat dan hukum-hukum turunan yang mengikutinya, catatan mengenai persepuluhan hanya muncul ketika Abraham memberikan sepersepuluh hasil rampasan perangnya kepada Melkisedek (Kej. 14:20, 22) dan ketika Yakub bernazar kepada Tuhan (Kej. 28:22). Tidak ada pengaturan legal sama sekali. Namun kita bisa menduga bahwa jumlah sepersepuluh yang diberikan oleh Abraham kepada Melkisedek dan oleh Yakub kepada Allah memang menjadi tradisi budaya di wilayah Timur Tengah. Selain itu, dalam peristiwa Yakub, ia memberikan persepuluhan kepada Allah sebagai ungkapan syukur dalam konteks perjanjian dengan Allah, bukan sebagai sebuah kewajiban.</p>
<p><strong>Hukum Taurat</strong></p>
<p>Kita akan segera tahu bahwa sebagian besar catatan mengenai persepuluhan terdapat dalam lima Kitab Taurat (Kejadian-Ulangan). Hal pertama yang harus ditekankan, sehubungan dengan banyaknya hukum dan peraturan dalam lima kitab pertama khususnya dan Perjanjian Lama umumnya, adalah bahwa semua hukum itu semata-mata mencerminkan tuntutan agar umat percaya tunduk dan patuh pada Allah sendiri. Persepuluhan dalam hal ini hanyalah menjadi sebuah contoh penerapannya. Yang dipentingkan, dengan kata lain, adalah gaya hidup menatalayani hidup dan semua yang melekat padanya, agar seluruh kehidupan diabdikan kepada Allah.</p>
<p>Mereka yang pada masa kini berusaha mematuhi perintah persepuluhan hanya dengan menggantungkan diri pada Maleakhi 3:10 ternyata akan mengalami kesulitan besar jika harus mempertimbangkan teks-teks khusus di dalam kelima kitab pertama. Sebab, di dalamnya kita akan menemui ketidakajegan penjelasan mengenai persepuluhan. Ada bermacam-macam versi persepuluhan.</p>
<p>Imamat 27 mencatat bahwa persembahan persepuluhan diberikan dalam bentuk hasil bumi atau ternak (Im. 27:30-32). Namun, jika hendak ditebus dan diberikan dalam bentuk uang, maka orang tersebut harus menambah seperlima (20%) dari harga persembahannya; jadi, total persepuluhan dalam bentuk uang adalah 12%. Jadi, berbeda dengan persembahan persepuluhan dalam bentuk uang yang berlaku pada masa kini.</p>
<p>Bilangan 18 secara khusus menjelaskan bahwa persembahan persepuluhan harus diberikan kepada suku Lewi sebagai ganti tidak diperolehnya tanah pusaka bagi suku ini. Namun suku Lewi ini juga harus mempersembahkan seperpuluh dari penghasilannya itu dan memberikannya kepada imam Harun.</p>
<p>Ulangan 12, secara mengejutkan, mengatur persembahan persepuluhan secara berbeda. Persembahan persepuluhan harus diberikan bersama dengan persembahan-persembahan lainnya ke tempat yang akan dipilih Tuhan. Setelah sampai di sana, umat Tuhan ternyata diharuskan untuk memakan persembahan persepuluhan mereka sendiri; mereka bersama seisi keluarga dan orang Lewi, dengan penuh kegembiraan. Persembahan persepuluhan, dengan demikian, diberikan kepada Allah, untuk dinikmati bersama dengan komunitas dalam perjamuan kasih. Hal yang sama ditegaskan lagi di Ulangan 14:23. Persepuluhan tidak diberikan kepada para imam Lewi saja, namun untuk dinikmati bersama-sama. Kalaupun orang-orang Lewi mendapat bagian dalam perayaan hasil persepuluhan, itu karena mereka merupakan anggota masyarakat yang lemah disebabkan karena mereka tidak memperoleh pembagian tanah Israel. Ulangan 14:27 menyatakan, “Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.” Dengan demikian, orang-orang Lewi dikategorikan sebagai kelompok sosial yang lemah dalam komunitas yang perlu ditopang.</p>
<p>Juga, pada akhir tahun ketiga, persembahan persepuluhan dikhususkan bagi “orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu” (Ul. 24:29). Tahun ketiga ini disebut sebagai “tahun persembahan persepuluhan” (Ul. 26:12). Tampak sangat jelas bahwa persembahan persepuluhan diberlakukan bukan semata-mata karena itu adalah perintah Allah, namun juga demi memelihara kehidupan sosial yang lebih adil. Pola pengaturan persepuluhan dalam konteks Kitab Ulangan ini menarik karena dimensi sosialnya. Apalagi jika kita meletakkannya di dalam konteks Tahun Yobel yang dirayakan setiap tahun ketujuh. Dengan demikian, siklus pengaturan sosialnya berlangsung demikian:</p>
<table class="tables" border="1" cellpadding="5">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">Tahun 1</td>
<td>Persepuluhan biasa<br />
Ul. 14:22-27</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Tahun 2</td>
<td>Persepuluhan biasa<br />
Ul. 14:22-27</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Tahun 3</td>
<td>Tahun persepuluhan<br />
Ul. 14:28</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Tahun 4</td>
<td>Persepuluhan biasa<br />
Ul. 14:22-27</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Tahun 5</td>
<td>Persepuluhan biasa<br />
Ul. 14:22-27</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Tahun 6</td>
<td>Tahun persepuluhan<br />
Ul. 14:28</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Tahun 7</td>
<td>Penghapusan utang<br />
Ul. 15:1-11<br />
Pembebasan budak<br />
Ul. 15:12-18</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Secara umum kita bisa melihat bahwa pengaturan persembahan persepuluhan tidaklah “stabil.” Ada beragam model pengaturan. Ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi, ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi dan janda, anak yatim dan orang asing dan ada yang tidak menjelaskan sama sekali kepada siapa persepuluhan diberikan. Kita melihat pergeseran tempat persembahan persepuluhan, dari tempat-tempat ibadah lokal ke pusat ibadah utama. Ada pula tradisi yang menyarankan persembahan persepuluhan dimakan bersama secara komunal sebagai tanda kebersamaan persekutuan umat percaya. Soal apa yang dipersembahkan pun beragam. Kebanyakan adalah hasil alam dan ternak, namun tidak tertutup kemungkinan diberikan dalam bentuk uang, dengan menambah seperlima dari persepuluhan tersebut.</p>
<p><strong>Kitab-Kitab Lain</strong></p>
<p>Peraturan persepuluhan juga dimunculkan kembali di kitab-kitab sesudahnya, khususnya di dalam 2 Tawarikh 31 dan Nehemia 10, 12 &amp; 13. Persepuluhan ini, dengan mengikuti tradisi Bilangan 18, diberikan kepada orang-orang Lewi, karena mereka tidak memperoleh bagian dari pembagian tanah Israel.</p>
<p>Di dalam kitab nabi-nabi, kita tidak menjumpai catatan yang memadai mengenai persepuluhan, kecuali di dalam Kitab Maleakhi yang akan kita bahas terpisah nanti. Hal ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan lebih dekat dengan tradisi imamat atau ritual dan bukan dengan tradisi sosial atau kenabian. Amos 4 secara khusus berkomentar tentang persepuluhan, namun dengan nada kritis dan negatif. Kita dengan segera dapat mengetahui bahwa yang terjadi pada saat itu adalah kristalisasi hukum yang sudah membeku dan mengeras, sebab aturan hukum dilaksanakan secara legalistis dan malah kehilangan semangat sosialnya. Dengan sinis Amos menyuarakan pesan Tuhan,</p>
<blockquote><p>“Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan terhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah firman Tuhan Allah.” (Am. 4:4)</p></blockquote>
<p>Jelas di sini Amos mengajukan kritik tajam atas persembahan persepuluhan yang diberikan Israel, karena persepuluhan itu diberikan terlepas dari makna sosial dan iman. Makna sosial hilang ketika mereka malah melakukan “perbuatan jahat” (ay. 4) dan “memeras orang lemah &#8230;menginjak orang miskin” (ay. 1). Makna iman hilang ketika mereka memberi persembahan bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah namun untuk menonjolkan diri dan mendapat pujian (ay.5). Persepuluhan yang tadinya dimaksudkan sebagai sebuah mekanisme penatalayanan hidup sosial, kini telah berubah makna menjadi sebentuk aturan kaku dan beku yang dimanipulasi untuk menutupi penindasan sosial.</p>
<p><strong>Maleakhi 3</strong></p>
<p>Maleakhi 3 perlu mendapat perhatian khusus, sebab ayat 10 secara khusus kerap dicabut dari konteksnya dan dimanfaatkan untuk membenarkan praktik persepuluhan pada masa kini. Kita harus mengakui secara jujur bahwa bahasa religius yang dipakai oleh Kitab Maleakhi sangat legalistis. Aturan agama ingin ditegakkan. Namun demikian, semangat legalisme ini bukanlah yang paling utama. Pesan Kitab Maleakhi bukan soal legalisme hidup iman, namun soal kesetiaan Allah yang direspons tidak sepantasnya oleh umat Israel.</p>
<p>Sejak semula ditegaskan bahwa Allah mengasihi Israel (1:2-5). Ini pengakuan iman yang mendasari hidup mereka. Namun demikian, sekalipun mereka sudah dikasihi Allah, namun mereka tetap melakukan tindakan yang menyedihkan dan penuh cemar; mereka memberi persembahan yang cemar dan tak layak (1:6-14), bahkan para imamnya terlibat dalam perusakan moral Israel (2:1-9), kemudian juga malah orang Israel yang dituntut memelihara kemurnian iman kawin-mawin dengan bangsa kafir (2:10-16). Jadi kalau mau dibuat skema dan bagannya, akan terlihat semacam ini:</p>
<p><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/03/skema.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-5401" title="skema"><img class="aligncenter size-full wp-image-5402" title="skema" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/03/skema.gif" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Jadi perjanjian kasih Allah-manusia berlaku timpang: Allah mengasihi manusia namun manusia membalas-Nya dengan kejahatan. Semua tindak pencemaran itu seakan-akan menunjukkan ketidakpercayaan Israel bahwa Allah selalu memelihara dan setia. Itu sebabnya Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah berubah, Ia selalu setia (3:6).</p>
<p>Hal ini amat menyedihkan Allah. Yang dituntut dari pihak manusia sebenarnya hanyalah ketaatan yang terwujud dalam pemberlakuan hukum dan peraturan. Tapi mereka melanggarnya (termasuk persepuluhan). Itulah sebabnya dengan nada perih dan luka Allah “menantang” Israel untuk membuktikan kasih-setia Allah kembali. Lalu muncullah 3:10.</p>
<p>Ayat ini dengan demikian bukan bernuansa pengaturan/regulasi persepuluhan, namun sebuah tantangan dari Allah untuk membuktikan kesetiaan Allah. Seakan Allah ingin berkata, “Ujilah Aku! Kenapa engkau tak memercayai kesetiaan-Ku dengan cara menipu-Ku dan mencemari tugas ibadahmu? Kenapa engkau memanipulasi persepuluhan untuk kepentinganmu, seolah-olah kalau engkau memberi persembahan maka engkau akan berkekurangan? Bukankah Aku selalu membuktikan kesetiaan-Ku dengan membuka tingkap langit dan mencurahkan berkat atasmu?”</p>
<p>Jadi, Maleakhi 3:10 harus dilihat dalam kerangka “kita-memberi-karena-sudah-menerima” dan bukan sebaliknya, “kita-memberi-supaya-menerima”. Kerangka berpikir yang kedua sungguh berlawanan dengan prinsip utama keseluruhan Alkitab. Allah Alkitab tidak pernah menetapkan suatu cara berpikir “Hukum Bisnis Rohani.”</p>
<p><strong>Persepuluhan di dalamPerjanjian BARU</strong><br />
Perjanjian Baru ternyata mencatat sedikit bagian yang berbicara langsung tentang persepuluhan: Matius 23:23 (paralel Luk. 11:42); Lukas 18:12; Ibrani 7:1-10.</p>
<blockquote><p>Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Mat. 23:23; par. Luk. 11:42)</p></blockquote>
<blockquote><p>Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (Luk. 18:12)</p></blockquote>
<blockquote><p>Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera&#8230; Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji&#8230;  Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup. Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, (Ibr. 7:2, 4-6, 8-19)</p></blockquote>
<p><strong>Teks-Teks Persepuluhan</strong></p>
<p>Di dalam Injil, persepuluhan disebutkan dalam suasana yang sangat kritis dan profetis. Sayangnya, para pendukung hukum persepuluhan masa kini memanfaatkan Matius 23:23 dan paralelnya di dalam Lukas 11:42 justru sebagai bukti implisit bahwa Yesus mendorong persepuluhan. Penafsiran semacam ini, menurut Paul Leonard Stagg (“An Interpretation of Christian Stewardship,” dalam What is the Church?, 1958, h. 152), didasarkan pada sebuah “penafsiran yang meragukan yang melanggar konteksnya dan mengabaikan pesan utama ayat tersebut.” Yesus mengecam orang-orang Farisi yang terlalu mematuhi aturan persepuluhan namun kehilangan roh di baliknya, yaitu keadilan sosial dan belas kasihan. Dengan kata lain, Yesus justru ingin menunjukkan betapa tak berartinya persepuluhan dibandingkan solidaritas sosial di baliknya. Jadi, Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”</p>
<p>Dengan sikap kritis yang sama, Yesus memaparkan kisah seorang Farisi (Luk. 18:12), yang dengan bangganya mematuhi aturan persepuluhan, namun memiliki sikap sombong rohani dan merendahkan orang lain. Di mata Yesus, orang semacam ini “akan direndahkan” (ay. 14). Kritik Yesus ini berada di dalam arus tradisi kenabian, khususnya Amos, terhadap kehidupan yang menekankan kesalehan ritual dan mengabaikan kesalehan sosial.</p>
<p>Catatan mengenai persepuluhan dalam Perjanjian Baru ternyata muncul paling banyak dalam Surat Ibrani, yaitu di dalam pasal 7 (sebanyak enam ayat), yaitu ketika dibicarakan kembali kisah pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek; itu pun persepuluhan muncul bukan sebagai tema utama, karena yang dibicarakan sebenarnya adalah persiapan untuk membandingkan Imam Besar Melkisedek dengan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Jadi, teks Ibrani 7 sangat-sangat berpusat pada Kristus (Kristosentris).</p>
<p>Sikap Yesus yang tidak menyarankan persepuluhan secara tersurat konsisten dengan surat-surat Paulus yang sama-sekali tidak berbicara mengenai persepuluhan. Ia berkali-kali berbicara mengenai uang dan tak satu kali pun berbicara mengenai persepuluhan. Bahkan di dalam perjalanan penginjilannya yang ketiga (Kis. 18:23-21:16), ia mengumpulkan uang bagi jemaat Yerusalem dan persembahan persepuluhan tak sekali pun disinggung, apalagi dipakai sebagai metode pengumpulan uang. Malah, metode yang dipakainya adalah meminta setiap anggota jemaat untuk mengumpulkan uang seperti menabung setiap hari Minggu, sebagaimana tercatat di dalam 1 Korintus 16:1-2:</p>
<blockquote><p>Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.</p></blockquote>
<p>Prinsip yang diusung oleh Paulus sesungguhnya sama dengan semangat dari peraturan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama, yaitu kepedulian pada mereka yang membutuhkan. Namun, keduanya berujung pada pengaturan teknis yang sama sekali berbeda. Yang satu mengajukan persepuluhan, yang lain penyisihan mingguan secara sukarela. Dari sini agaknya kita perlu memasuki konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru, yang secara mendasar membuat setiap pengharusan persepuluhan tampil sebagai pengabaian terhadap konsep persembahan tersebut.</p>
<p><strong>Konsep Perjanjian Baru tentang Persembahan</strong></p>
<p>Konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus), sebab Kristus diyakini sebagai pembaru seluruh hukum Taurat di dalam Perjanjian Lama. Surat Ibrani dengan amat tegas dan jelas menunjukkan pembaruan sistem persembahan yang selama ini dilakukan umat Israel. Pembaruan tersebut terjadi justru karena fokus iman yang bergeser pada Kristus sendiri. Dikatakan misalnya dalam Ibrani 9:9-10,</p>
<blockquote><p>Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.</p></blockquote>
<p>Jadi persembahan model Israel itu akan berlaku hanya “sampai tiba waktu pembaharuan”. Kapankah “waktu pembaharuan” itu tiba? Dijelaskan lebih lanjut, pembaharuan itu sudah terjadi di dalam Kristus (ay. 9-14),</p>
<blockquote><p>Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia,–artinya yang tidak termasuk ciptaan ini,–dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.</p></blockquote>
<p>Ide dasar dari Kitab Ibrani ini adalah bahwa Kristus adalah Imam Besar sekaligus domba persembahan, yang dipersembahkan “satu kali untuk selama-lamanya” (once and for all). Dengan jalan itu model persembahan Israel yang lama telah dibarui dengan persembahan tubuh Kristus sendiri (Ibr. 10:8-10). Persepuluhan sebagai bagian dari persembahan Israel dengan demikian dan dengan sendirinya turut dihapuskan. Semua tuntutan persembahan–termasuk persembahan persepuluhan–telah dilunaskan “sekali untuk selamanya” di dalam korban Kristus!</p>
<p>Bersamaan dengan penggantian konsep Imam dan korban, konsep bait Allah sebagai rumah Tuhan diganti pula menjadi hidup tiap-tiap orang percaya sebagai bait Allah (1 Kor. 3:16-17; 6:19-20), konsep imam yang dipegang segelintir orang juga diganti menjadi setiap orang percaya yang menjadi imamat am (1 Ptr. 2:9).</p>
<p>Bersamaan dengan itu, Paulus secara khusus menegaskan sebuah prinsip persembahan yang lebih radikal daripada persembahan persepuluhan. Yang harus kita persembahkan adalah seluruh “tubuh” (soma: hidup dalam keutuhannya), “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Dan itu berarti seluruh milik kita juga, termasuk uang kita. Jadi, 100% uang kita, bukan 10%, adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita dan harus kita persembahkan kepada-Nya.</p>
<p>Dalam perspektif itulah, maka persembahan diserahkan kepada kita untuk kita kelola atau tatalayani seluruhnya untuk kemuliaan Allah.  Amat menarik bahwa Paulus kemudian memberi petunjuk jelas mengenai makna persembahan seluruh hidup itu. Dalam 2 Korintus 8:1-15 ia menganjurkan jemaat Korintus untuk memberikan persembahan khusus kepada jemaat di Yerusalem. Ia menyebutnya sebagai “pelayanan kasih,” karena memang landasan utamanya adalah kasih (2Kor. 8:6, 7, 19-20, 9:12). Prinsipnya, persembahan kasih yang kita berikan kepada sesama itu adalah cerminan dari persembahan hidup kita untuk Allah sendiri.</p>
<blockquote><p>Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. (2 Kor. 8:19)</p></blockquote>
<blockquote><p>Pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (2Kor. 9:12).</p></blockquote>
<p>Di atas itu semua, persembahan persepuluhan yang disikapi secara legalistis ternyata berlawanan dengan prinsip penatalayanan Kristen. Hidup ini harus ditata sebagai sebentuk pelayanan kepada Allah yang diwujudkan menjadi karya bagi sesama. Dengan demikian, penatalayanan memiliki roh yang sama dengan prinsip di balik persepuluhan di dalam Perjanjian Lama. Marvin E. Tate menegaskan (“Tithing: Legalism or Benchmark?,” Review &amp; Expositor 70 [Spring 1973], 161),</p>
<blockquote><p>Mungkin, aspek yang paling mengenaskan dari promosi berlebihan atas persepuluhan adalah kerusakan yang dilakukan terhadap konsep penatalayanan yang total. Kapan pun gereja meningkatkan kewajiban persepuluhan pada level hukum ilahi, nyaris tak terhindarkan ia akan menjadi bentuk dominan dari penatalayanan&#8230; Teologi penatalayanan dikubur di bawah legalisme persepuluhan.</p></blockquote>
<p><strong>Kesimpulan dan sikap praktis</strong></p>
<ol>
<li>Kita menolak pemahaman bahwa orang Kristen yang telah ditebus oleh darah Kristus masih terikat pada kewajiban persembahan persepuluhan.</li>
<li>Persepuluhan kepada orang-orang Lewi dan imam-imam pada zaman Perjanjian Baru dilangsungkan karena mereka adalah kelompok umat yang mengabdikan sepenuhnya hidup mereka bagi komunitas dan mereka tidak memperoleh bagian atas tanah perjanjian. Kini, para pendeta dapat saja ditopang secara baik melalui sistem Jaminan Kebutuhan Hidup (JKH), sehingga persepuluhan untuk mereka tidak lagi dibutuhkan.</li>
<li>Kita juga menolak pemahaman bahwa segala bentuk persembahan, baik persepuluhan maupun persembahan lain, perlu kita berikan demi mendapatkan berkat Allah. Karena justru sebaliknya, kita memberi karena Allah sudah terlebih dahulu memberkati kita.</li>
<li>Pernyataan bahwa 10% penghasilan kita adalah hak Allah benar, namun hanya sebagian, karena kita memahami juga bahwa 100% milik kita adalah milik Allah, yang kemudian dipercayakan kepada kita untuk kita tatalayani secara bertanggung jawab.</li>
<li>Dalam rangka itu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi hamba atau penatalayan yang bertanggung jawab atas seluruh harta yang dipercayakan Tuhan kepada kita.</li>
<li>Kita juga menegaskan kembali pentingnya keseimbangan antara ibadah formal dan ibadah sosial, antara persembahan kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama. Dalam hal ini maka apa yang kita lakukan kepada sesama kita, termasuk pertolongan finansial, perlu dilihat sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan sendiri.</li>
<li>Sekalipun kita meyakini bahwa hidup kita seluruhnya adalah persembahan yang hidup bagi Allah, namun kita tetap perlu mengungkapkan syukur kita melalui persembahan uang, baik melalui persembahan mingguan dalam ibadah, maupun pelayanan kasih kepada sesama, sejauh dilakukan dengan motivasi pengucapan syukur.</li>
<li>Sekalipun kita menolak praktik persembahan persepuluhan sebagai kewajiban, namun tak berarti bahwa orang Kristen dilarang melakukannya. Kita tetap saja boleh memberikan persepuluhan, asal dengan tulus, sukarela dan disertai pemahaman yang benar, yaitu sebagai disiplin dan komitmen rohani dan pribadi, tanpa pemahaman bahwa semua itu adalah kewajiban.</li>
</ol>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/persepuluhan-kewajiban-atau-disiplin-rohani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

