<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Artikel Teologis</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-teologis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Raja Damai itu untuk Semua Orang</title>
		<link>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/</link>
		<comments>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 14:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7269</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu dua orang saudara kita menikah dan sesudah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, di luar gedung gereja, mereka melepaskan sepasang merpati, sebagai lambang pelepasan masa lajang. Tapi merpati juga lambang perdamaian. Tanpa diduga, kedua merpati itu terbang, tapi hanya di sekitar gereja. Nah, selesai acara selesai, Pak Teguh menangkap sepasang merpati putih itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu dua orang saudara kita menikah dan sesudah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, di luar gedung gereja, mereka melepaskan sepasang merpati, sebagai lambang pelepasan masa lajang. Tapi merpati juga lambang perdamaian. Tanpa diduga, kedua merpati itu terbang, tapi hanya di sekitar gereja. Nah, selesai acara selesai, Pak Teguh menangkap sepasang merpati putih itu dan memberikannya pada saya. Wah, saya terima dengan senang.</p>
<p>Tahukah Anda, apa yang terjadi dengan sepasang merpati ini, sampai detik ini. Hewan lambang perdamaian itu setiap hari, khususnya ketika diberi makan, selalu saling mematuk, berebut makanan. Sama sekali tidak ada damai. Sampai-sampai saya yang melihatnya ikut prihatin. Padahal sama-sama merpati, sama-sama putih, sama-sama lambang perdamaian.</p>
<p>Apakah kesamaan menjamin perdamaian? Sebaliknya, apakah perbedaan pasti memunculkan pertikaian? Saya makin percaya, bahwa persamaan memang bisa menyatukan, tapi juga bisa menjadi awal pertikaian. Sebaliknya, perbedaan, jika ditonjol-tonjolkan bisa mengakibatkan permusuhan, namun juga, jika diterima dengan arif, bisa memperkaya kebersamaan.</p>
<p>Dua agama besar di dunia ini, Islam dan Kristen, ditambah Yahudi, banyak bertikai, di Yerusalem atau malah di Ambon, walaupun sama-sama agama Abraham. Yang sering menjadi titik pertikaian justru hal-hal yang sama-sama ada di dalam tradisi keduanya. Bahkan, kalau kita menyaksikan sejarah Irlandia, Protestan dan Katolik, yang sama-sama mengaku Yesus sebagai Tuhan, bertikai dahsyat.</p>
<p>Karena itu, mungkin strategi Yesus menarik: Dia mencari murid yang berbeda-beda. Malah ada yang secara sosial bermusuhan: Matius, pemungut cukai, antek penjajah Roma, dan Simon orang Zelot, kelompok yang nasionalis yang paling membenci pemerintah Roma dan antek-anteknya. Keduanya dipersatukan menjadi murid Yesus.</p>
<p>Kita membaca dua kisah Natal tentang dua kelompok yang juga berbeda luar biasa: Gembala dan Orang Majus. Yang satu pribumi-Yahudi, yang lain orang asing. Yang satu miskin, yang lain kaya. Keduanya disapa oleh Allah dan diperkenankan untuk menjadi saksi-saksi pertama kehadiran Yesus di dunia.</p>
<p>Gembala adalah salah satu kelompok terendah di kalangan masyarakat Yahudi. Mereka nyaris seperti budak. Mereka lebih dianggap properti si tuan daripada manusia yang kebetulan bekerja untuk si tuan. Setelah mereka mendengar berita dari malaikat, dikatakan pada Lukas 2:16, mereka &#8220;cepat-cepat berangkat.&#8221; Berita dari malaikat itu jauh lebih besar daripada domba-domba mereka. Ada kemungkinan mereka meninggalkan domba-domba yang menjadi tanggung jawab mereka. Dan apa artinya itu? Sepulang mereka ke tempat asal mereka, risiko besar menunggu. Kemarahan tuan mereka! Syukur kalau hanya dipecat. Bisa jadi malah dihukum!</p>
<p>Lalu Orang Majus. Di drama-drama Natal Sekolah Minggu, biasanya ditampilkan adegan para gembala datang ke kandang menemui Bayi Yesus di palungan. Kemudian di samping mereka berlutut orang Majus. Jadi keduanya bertemu di hadapan Bayi Yesus. Gambaran ini tidak tepat sama sekali. Matius memakai kata &#8220;Anak&#8221; untuk menyebut Yesus. Jadi sudah pasti Yesus sudah bukan bayi lagi. Itu sebabnya Herodes membunuh bayi-bayi berusia 2 tahun ke bawah. Jadi ada kemungkinan Yesus berusia 2 tahun. Sudah lari-lari.</p>
<p>Tapi, yang mau kita lihat sekarang adalah ide dasarnya. Siapa orang Majus. Majus searti dengan Magi. Dari sini muncul kata Magic, sihir. Mereka adalah dukun, orang yang melihat makna hidup dari letak bintang-bintang. Itu agama mereka. Yang menarik, Allah memakai benda-benda alam itu untuk menunjuk pada Sang Bintang Timur, yaitu Yesus. Dalam pandangan orang Yahudi yang amat nasionalistis atau malah chauvinistik, orang-orang majus jelas orang pinggiran. Orang asing dan kafir. Masa masa itu, haram hukumnya buat orang Yahudi bersahabat dengan mereka.</p>
<p>Para gembala dan para majusi. Keduanya orang-orang pinggiran. Yang satu terpinggirkan atas dasar ekonomi. Yang lain terpinggirkan atas dasar ras.</p>
<p>Peminggiran seperti ini masih terus terjadi sampai detik ini. Yang miskin dipinggirkan. Makanya kalau ada anak dari keluarga biasa-biasa saja sudah lulus dari perguruan tinggi atau sukses dalam hidup, si orangtua biasa berkata, &#8220;Wah anakku sudah jadi orang.&#8221; Jadi kalau tidak sukses, belum sungguh-sungguh orang.</p>
<p>Yang bukan orang pribumi dipinggirkan. Agama juga jadi faktor pinggir-pusat. Mayoritas-minoritas jadi momok. Ketika kerusuhan Mei 97, saya amat sedih karena orang lebih suka mengidentifikasi diri sebagai orang pusat: Di mana-mana rumah diberi label: Pribumi asli. Sudah pribumi, asli lagi. Malah di daerah Pamulang, sebuah gereja yang tidak memakai sebuah ruko, ikut-ikut menulis: Milik X (agama tertentu).</p>
<p>Gender juga bisa jadi faktor. Perempuan jadi nomor dua di bawah laki-laki. Usia juga. Anak kecil atau orang tua, lansia, dipinggirkan.</p>
<p>Cara berpikir kita selalu ke pusat. Semakin ke pusat semakin jadi manusia. Semakin ke pinggir semakin berkurang kemanusiaannya. Di Amerika Serikat dulu, negro itu harta milik, yang bisa diperdagangkan. Bagi Hitler, orang Yahudi itu penyakit dunia yang pantas dieliminasi.</p>
<p>Orang Kristen yang dipinggirkan di Indonesia, bukannya berusaha bersikap kritis terhadap pola pusat-pinggir, malah ternyata sering memakai pola yang sama dalam lingkungannya sendiri. Di perusahaan, pegawai harus Kristen. Di rumah, malah pembantu rumah tangga harus Kristen. Kalau belum ya dikristenkan.</p>
<div id="attachment_7271" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar1.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-7269" title="gambar1"><img class="size-medium wp-image-7271" title="gambar1" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar1-200x123.gif" alt="" width="200" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">gambar1</p></div>
<p>Ada dua kelompok yang terpinggirkan. (Gambar 1). Yang pertama secara ekonomi: Para gembala adalah orang pinggiran. Yang kedua secara ras: Para majus adalah orang pinggiran. Apa yang sama pada keduanya adalah: Mereka sama-sama datang pada Yesus yang juga ada di pinggiran. Allah datang ke dunia dengan cara yang mengagumkan. Ia datang sebagai orang hina, manusia lemah, lahir di palungan hewan. Begitu ekstrim. Dan ketika Ia mati, Ia mati dengan cara paling terkutuk: Di atas salib, tanda hukuman yang hanya cocok untuk kriminal terberat.</p>
<p>Raja Damai Itu Untuk Semua Orang. Bukan hanya orang pusat. Tapi juga pinggiran.</p>
<p><strong>Apa maknanya semua ini?</strong></p>
<p>1.    Di dalam ajaran Kristen ada istilah &#8220;orang pilihan.&#8221; Kita salah menafsirkan ajaran ini dengan mengatakan bahwa kalau &#8220;yang terpilih&#8221; berarti adalah &#8220;yang ditolak.&#8221; Lalu kita memakai pola yang sama: Orang Kristen itu pilihan, yang bukan Kristen itu ditolak. Tapi yang menarik: Semua orang pilihan yang ada di Alkitab itu justru orang-orang yang paling tidak layak di mata masyarakat. Yakub si penipu, dipilih. Abaraham yang mandul, dipilih. Paulus fundamentalis yang suka membunuh orang Kristen, dipilih. Jadi pemilihan tidak berarti yang lain ditolak. Tapi mereka dipilih untuk menjadi bukti dan contoh, bahwa kalau yang sebrengsek ini dikasihi Tuhan, maka semua orang juga dikasihi Tuhan.</p>
<p>Hati Allah tidak terarah pada orang-orang pilihan saja, tapi semua orang. &#8220;Karena begitu besar kasih Allah pada dunia ini.&#8221; Dalam 1 Petrus dikatakan bahwa Allah menghendaki SEMUA orang diselamatkan. Raja Damai itu untuk semua orang.</p>
<p>2.    Yesus datang bukan ke pusat, tapi ke pinggiran untuk menyatakan solidaritas-Nya dengan semua orang yang dipinggirkan. Jelas bukan kebetulan kalau semua yang terlibat dalam kisah Natal itu orang pinggiran. Para gembala, orang majus, perempuan bernama Maria, orangtua bernama Simeon dan Hana.</p>
<div id="attachment_7272" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar2.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-7269" title="gambar2"><img class="size-medium wp-image-7272" title="gambar2" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2012/01/gambar2-200x123.gif" alt="" width="200" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">gambar2</p></div>
<p>Yesus justru membuat lingkaran yang baru di mana Ia menjadi pusat yang berisi orang-orang pinggiran. (Gambar 2). Yang di pinggiran jadi di pusat dan yang di pusat jadi di pinggir. Itu sesungguhnya isi nyanyian Maria dalam Lukas 1:52-53.</p>
<p>Tentu saja, Yesus tidak menolak orang-orang kaya atau orang Yahudi, atau orang dewasa, atau laki-laki. Sama sekali tidak. Yesus hanya mengecam mereka yang menjadi label-label itu jadi pusat hidup. Kekayaan jadi pusat hidup, ras menjadi pusat hidup, dan sebagainya. Yesus mengasihi semua manusia. Dan Ia mengundang yang di pusat, yang sekarang justru di pinggir, untuk bergerak ke pusat yang baru. Menuju Yesus. Dan menuju Yesus berarti menuju mereka yang bersama-sama Yesus: Yang miskin, orang asing, anak kecil, yang tidak seagama dan sebagainya. Karena itu Yesus berkata, &#8220;Apa yang engkau lakukan pada salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, yang terpinggir ini, engkau sudah lakukan untuk Aku.&#8221;</p>
<p>3.    Lukas 2:20 &amp; Matius 2:12 menggambarkan bahwa para gembala dan para majus kembali ke dalam kehidupan mereka masing-masing. Tapi ada perubahan besar dalam hidup mereka. Dalam kasus gembala, mereka kembali &#8220;sambil memuji dan memuliakan Tuhan.&#8221; Ada kegembiraan hidup karena mereka menemukan pusat hidup mereka, pembela mereka, penghibur mereka. Dalam kasus orang Majus, mereka tadinya percaya dan bergantung pada bintang di Timur, kemudian setelah bertemu dengan Herodes, mereka patuh pada Herodes. Tapi setelah bertemu dengan Yesus, mereka patuh pada petunjuk Allah untuk pulang melalui jalan lain. Allah sudah menjadi pusat hidup mereka yang baru. Mereka menjadi saksi di dalam kehidupan mereka masing-masing, memberitakan PUSAT KEHIDUPAN yang baru: Yesus!</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/raja-damai-itu-untuk-semua-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IA Diam di Antara Kita</title>
		<link>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 13:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7150</guid>
		<description><![CDATA[Kerap kita ucapkan harapan dan doa kita bagi orang lain dengan kata-kata ini: &#8220;Kiranya Tuhan menyertaimu&#8230;&#8221; Tentunya indah dan pasti tidak keliru harapan seperti ini. Pada lembar uang Dollar Amerika tertera harapan yang sama: &#8220;God be with us.&#8221; Ia mau mengingatkan para penggunanya untuk menggantungkan hidup pada Tuhan bukan semata pada uang. Atau agar tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerap kita ucapkan harapan dan doa kita bagi orang lain dengan kata-kata ini: &#8220;Kiranya Tuhan menyertaimu&#8230;&#8221; Tentunya indah dan pasti tidak keliru harapan seperti ini. Pada lembar uang Dollar Amerika tertera harapan yang sama: &#8220;God be with us.&#8221; Ia mau mengingatkan para penggunanya untuk menggantungkan hidup pada Tuhan bukan semata pada uang. Atau agar tidak terjatuh dalam perangkap ketamakan. Bahkan konon salah satu moto &#8220;perang salib&#8221; adalah: &#8220;Imanuel&#8221;. Janji penyertaan Tuhan diharapkan menjadi pendorong dan penyemangat, bahkan jaminan untuk memenangkan perang membela Tuhan.</p>
<p>Namun berita kedatangan sang Kristus dalam Injil Yohanes berbunyi sedikit berbeda: &#8220;Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita&#8230;&#8221; (Yoh. 1:14). Ini adalah berita, bahkan penegasan, bukan sekadar harapan atau doa. Ia, sang Firman yang telah menjadi manusia, berkenan diam di antara kita. Sang Kristus berada, bahkan tinggal, di tengah kita manusia, di dunia kita yang carut-marut saat ini. Apakah lalu artinya ini?</p>
<p>Pertama-tama, Kristus adalah Tuhan yang berkenan diam atau tinggal di antara kita. Ia bukanlah bagaikan seorang pejabat pemerintah yang secara inkognito datang berkunjung. Ia ikut duduk, makan, bahkan untuk sementara tinggal bersama rakyatnya, tetapi setelah acara usai, ia kembali ke rumah dan kehidupannya semula yang indah dan mewah. Tuhan tidaklah seperti itu. Ia adalah sang Kristus yang sungguh-sungguh berkenan menetap di antara kita.</p>
<p>Itu berarti Ia berkenan untuk mengalami kehidupan ini bersama dengan kita di dunia kita. Ia berkenan menjalani pasang-surut hidup yang berat dan terkadang kejam ini. Ia adalah Tuhan yang berkenan menjadi bagian dari sejarah kemanusiaan dan hidup keluarga bahkan pribadi kita. Atau seperti yang digambarkan dengan amat indah dalam Mazmur 139, Ia adalah Tuhan yang meliputi kita, yang mengetahui entah kita duduk atau berdiri, mengenal pikiran kita, bahkan berada di belakang dan di depan kita.</p>
<p>Oleh karena itu kehadiran-Nya di tengah kita bukanlah sekadar &#8220;jaminan hidup&#8221; yang dijanjikan kepada kita untuk kemudian kita putuskan sendiri apakah kita akan memeganginya atau mengabaikannya. Ia datang ke dalam hidup kita dengan kasih-Nya, agar kita hidup dalam Dia dan dalam kasih-Nya. Ia ada di tengah kita agar hidup kita terjadi dalam realita hidup-Nya, serta dicirikan oleh realita kasih-Nya.</p>
<p>Itu sebabnya, hal berikut yang juga mesti kita cermati adalah bahwa kehadiran sang Kristus di tengah kita adalah kehadiran yang nyata, bukan sekadar ilusi. Dengan sangat mengharukan Yohanes menggambarkannya dalam 1 Yoh. 1:1, &#8220;Apa yang ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup &#8211; itulah yang kami tuliskan kepada kamu.&#8221;</p>
<p>Dalam penjelasan yang ringkas-padat itu, Kristus adalah Allah yang mestinya kita dengar, lihat dan raba. Pada Yohanes apa yang dialaminya bersama sang Firman hidup itu tak dapat membuatnya berdiam diri. Ia menuliskannya agar para pembacanya juga dapat mendengar, melihat dan meraba sendiri pengalaman bersama Kristus itu. Sebab untuk itulah Kristus lahir, atau tepatnya untuk itulah Kristus hadir di tengah kita, bahkan hingga saat ini! Yaitu agar kita mendengar, melihat, dan meraba sendiri Ia yang hadir di tengah kita!</p>
<p>Inilah seharusnya hakikat perayaan Natal kita. Kita bukan sekadar merayakan kelahiran Kristus, melainkan merayakan kehadiran-Nya! Dan kita rayakan itu seyogyanya dengan telinga, mata, dan tangan kita! Dan inilah yang seharusnya menjadi sumber kekuatan kita untuk berjalan ke depan dalam hidup ini, dengan segala pasang-surutnya.</p>
<p>Kita tak tahu apa yang akan kita hadapi dalam tahun 2012 yang kita jelang. Bila kita hanya merenungi berbagai masalah, peristiwa bahkan malapetaka yang terjadi di sepanjang tahun 2011 yang sebentar lagi berlalu, niscaya kita akan murung bahkan pesimistik. Oleh karena itu marilah kita merenungi dan memegangi berita tentang kedatangan sang Kristus dalam Yohanes 1 ini.</p>
<p>Ia adalah Tuhan yang berkenan diam di antara kita, di dunia kita, di tengah keluarga dan hidup pribadi kita. Ia bukanlah sekadar jaminan atau jimat, untuk sekadar kita pegangi atau kita abaikan. IA ada di tengah kita bukan sekadar wacana atau janji. Sebaliknya kehadiran-Nya adalah fakta yang bisa kita dengar, lihat dan raba dalam hidup kita. Dengan ini niscaya kita bukan hanya punya kekuatan ekstra menghadapi apapun yang bakal terjadi di tahun 2012, melainkan berjuang mengubah apapun yang bisa dan mesti diubah dalam realita kehadiran-Nya, yang bermaksud untuk membarui segala sesuatu dalam terang kasih Allah.&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ia-diam-di-antara-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Hari Esok dengan Menjadikan Hidup Hari Ini Bermakna</title>
		<link>http://gkipi.org/mempersiapkan-hari-esok-dengan-menjadikan-hidup-hari-ini-bermakna/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mempersiapkan-hari-esok-dengan-menjadikan-hidup-hari-ini-bermakna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 15:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6983</guid>
		<description><![CDATA[Ketika berusia 7 tahun, Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah, karena ayah dan guru-gurunya berpendapat bahwa ia kelewat bodoh. &#8220;Anak ini sangat bodoh, kepalanya kosong tak dapat diajar!&#8221; kata gurunya. Kata-kata itu sangat menusuk perasaan Edison, namun membangkitkan semangatnya untuk berprestasi. Beruntung ia mempunyai ibu kandung mantan guru yang sangat mencintainya. Di rumah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika berusia 7 tahun, Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah, karena ayah dan guru-gurunya berpendapat bahwa ia kelewat bodoh. &#8220;Anak ini sangat bodoh, kepalanya kosong tak dapat diajar!&#8221; kata gurunya. Kata-kata itu sangat menusuk perasaan Edison, namun membangkitkan semangatnya untuk berprestasi.</p>
<p>Beruntung ia mempunyai ibu kandung mantan guru yang sangat mencintainya. Di rumah ia diajar membaca, menulis dan berhitung. Ibunya mendorong Edison melakukan banyak eksperimen.</p>
<p>Pada usia 10 tahun, Edison tertarik ilmu pengetahuan tentang kue, di kereta api.<br />
Pada usia 14 tahun, kondektur kereta api menampar kepalanya sampai tuli.<br />
Pada usia 16 tahun, ia menjadi petugas telegram.<br />
Pada usia 23 tahun, ia membuat telegraf dan mendirikan pabrik kecil di New Ark, New Jersey.<br />
Pada usia 29 tahun, ia mendirikan laboratorium riset, yang merupakan fondasi bagi industri modern.<br />
Pada usia 30 tahun, ia menemukan fonograf, tanpa gagal terlebih dulu.<br />
Pada usia 32 tahun, ia berhasil membuat lampu listrik yang mutunya lebih baik dari lampu listrik tenaga ciptaan Swan.<br />
Pada usia 33 tahun, ia membuat lok listrik eksperimental.<br />
Pada usia 35 tahun, ia membuat pusat listrik tenaga uap di London dan New York.<br />
Pada usia 41 tahun, ia membuat kamera film dan proyektor film.<br />
Pada usia 84 tahun, ia tutup usia.</p>
<p>Ketika orang bertanya kepadanya,&#8221;Apakah jenius itu?&#8221; ia menjawab, &#8220;Jenius adalah 1% bakat, 99% keringat.&#8221;</p>
<p>Edison sering mengalami kegagalan, tapi tak kenal putus asa. Untuk menemukan kawat pijar, ia mengalami kegagalan 9.000 kali. Untuk menemukan aki, 10.000 kali kegagalan. Rajin belajar, giat bekerja, gemar berpikir, itulah Thomas Alva Edison. Kita ikut memetik hasil kerja kerasnya, antara lain: cahaya listrik, bioskop, telepon, radio, televisi, tape recorder, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Menarik Untuk Diteladani</strong></p>
<p>Membaca pengalaman Edison memang mendatangkan rasa kagum. Kita merasa kagum dan bersyukur atas penemuan-penemuannya yang sampai hari ini dapat kita nikmati. Tapi juga sikapnya terhadap penolakan, bahkan serangan yang telah mendatangkan kegagalan dalam hidupnya. Semua itu hanyalah kegagalan yang semu, kegagalan sementara, bahkan keberhasilan yang tertunda. Sebab penolakan yang kadang-kadang ditandai serangan (pemukulan kepala oleh kondektur kereta api), justru menjadi pemacu dan pemicu untuk lebih bersungguh-sungguh meraih keberhasilan. Saya juga pernah membaca tentang Edison, yang tatkala dikatakan mengalami sekian kali kegagalan, sama sekali tidak menandainya sebagai kegagalan, sebab ia tidak mau melakukan hal yang sama, yang kini sudah terbukti tidak cocok atau gagal itu. Itu berarti bahwa semakin banyak ia mengalami &#8220;kegagalan,&#8221; semakin banyak pula ia mengetahui jalan yang tak perlu dilaluinya untuk menuju keberhasilan.</p>
<p>Seseorang yang sukses menjalankan bisnis MLM juga mesti mengalami bermacam-macam &#8220;kegagalan&#8221; ketika ajakan dan tawarannya ditolak orang. Juga ketika tak ada yang memenuhi janji menghadiri pertemuan yang membicarakan produk serta jaringan. Tetapi semua “kegagalan” itu memang sudah termasuk dalam perhitungannya sebagai anak tangga untuk tiba di puncak sukses. Mereka bilang bahwa kegagalan adalah makanan sehari-hari mereka, dan tidak ada keberhasilan tanpa didahului dengan kegagalan.</p>
<p><strong>Hidup Amos yang Berat</strong></p>
<ol>
<li>Amos hanya seorang peternak domba dari Tekoa (Amos 1:1). Di ayat ini dengan sengaja diinformasikan profesinya hanya sebagai peternak, bukan gembala, yang kemungkinan menggembalakan manusia itu. Dengan latar belakang peternak, tentu sangat sulit ketika ia tiba-tiba memunculkan diri di tengah-tengah umat yang religius itu, dan berbicara tentang Tuhan serta kerohanian.</li>
<li>Amos dipanggil Tuhan untuk menegur bangsanya yang sedang tersesat sebab mereka mengharapkan Hari Tuhan, yaitu saat Tuhan akan menghukum musuh-musuh Israel, padahal mereka sendiri sedang memusuhi Tuhan dengan segala upacara keagamaan yang palsu dan memuakkan hati-Nya. Jadi, tugas Amos sangat berat sebab ia tidak diminta Tuhan untuk menyampaikan janji-janji ilahi yang mendatangkan sukacita, tapi teguran yang menyengat tak terduga dan menuntut pertobatan yang menyerang harga diri itu.</li>
<li>Amos yang tiba-tiba muncul dengan penampilan yang tentunya kurang meyakinkan itu, harus berhadapan dengan semua lapisan masyarakat, dan juga harus berani menegur para pemimpin rohani, para petinggi pemerintahan dan raja. Apakah peternak domba yang belum banyak dikenal orang sebagai nabi Tuhan itu tidak akan segera menelan sejumlah kegagalan?</li>
</ol>
<p>Amos tampil sebagai seorang hamba Tuhan yang mempersiapkan hari esok bagi seluruh bangsanya, dengan cara menjadikan hari ini bermakna. Hampir dapat dipastikan bahwa orang seperti Amos itu tidak mempersoalkan kegagalan, sebab ia menjalankan tugasnya tidak dengan setengah hati. Ia mengalir bersama Tuhan, menyatukan hatinya dengan Tuhan. Yang seperti itu sungguh sangat perlu kita coba, kita latih dan kita lakukan terus-menerus sepanjang hidup ini. Mari kita berupaya menyelami perasaan Tuhan berdasarkan pengenalan kita kepada-Nya, sehingga penyampaian firman Tuhan atas situasi tertentu yang kita hadapi akan dapat lebih mengena. Kita bukan sekadar mau menjadi corong Tuhan, tetapi corong yang hidup dari hati dan firman-Nya.</p>
<p>Nah, semua ini akan membuat hidup kita lebih bermakna, sehingga pantas sebagai persiapan untuk hari esok.</p>
<p><strong>Berjaga-jagalah</strong></p>
<p>Ini nasihat yang penting karena belum ada keterlanjuran. Juga penting sebab merindukan kemenangan kita atas kemalasan dalam diri kita, yaitu kemalasan berjaga-jaga mempersiapkan hari esok, khususnya menghadapi akhir zaman.</p>
<p>Jangan sampai kita menjadi seperti lima gadis bodoh dalam perumpamaan Tuhan tadi. Kebodohan mereka karena tidak menyediakan minyak yang cukup dan ikut-ikutan tidur meskipun belum mempersiapkan diri menghadapi sukacita mendatang.</p>
<p>Kepada istri, saya sering bercanda, &#8220;Sudah tua kok pelupa!&#8221; Kelihatannya terbalik, tapi ada satu kebenaran yang tersembunyi, yaitu bahwa semakin tua seharusnya kita bisa menjadi semakin arif. Salah satu kearifan yang patut kita miliki adalah ini: Jangan tersandung pada batu yang sama! Mengapa kita mengulang-ulang terus kesalahan yang sama, yaitu malas berjaga-jaga, malas mempersiapkan tugas (pelayanan). Saya bilang kepada istri dan diri sendiri, &#8220;Awas, jika abai maka kita akan menerima hukuman!&#8221; Maksud saya, barang siapa tidak mau berjaga-jaga maka akan rugi sendiri, tidak bakal memperoleh yang terbaik. Hari esok pasti akan tiba, sambutlah dengan persiapan yang memadai dan bahkan dengan hidup yang bermakna. Apakah itu menyangkut persoalan rumah tangga, bisnis, maupun yang lebih mulia, yaitu keselamatan kita!</p>
<p><strong>Ada Tiga Hal yang Menyakitkan Hati</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, ketika gadis-gadis bodoh dalam perumpamaan tadi minta sedikit minyak dari teman-teman mereka, ternyata mereka telah ditolak dengan tegas tapi masuk akal. &#8220;Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.&#8221;</p>
<p>Iman dan keselamatan memang seperti itu. Dapat kita nikmati dalam kebersamaan, bahkan dengan segenap keluarga, tapi pada akhirnya tetap harus secara pribadi. Tidak benar semboyan, &#8220;Swargo nunut neroko katut&#8221; (Masuk surga menumpang orang lain, masuk ke neraka terbawa orang lain).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, juga menyakitkan dan ditandai rasa kecewa yang besar tatkala mereka mengetahui bahwa pintu sudah ditutup. Dalam hal ini, pintu dapat disebut sebagai pintu kesempatan. Saya bayangkan, bagaimana jika ada orang yang selalu menolak Tuhan Yesus, lalu tiba-tiba di tengah perjalanan hidupnya mengalami kecelakaan kereta api sampai mati seketika. Padahal sudah berulang kali ia diajak mendekat pada gereja dan Tuhan Yesus, tapi jawabnya selalu: &#8220;Kapan-kapan saja.&#8221;</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, yang paling menyakitkan, jika seseorang di akhir hidupnya sampai ditolak oleh Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang selalu memanggil orang berdosa supaya bertobat itu, ternyata menolaknya. Yang bersangkutan merasa diri sangat layak diterima oleh-Nya, namun nyatanya tidak demikian. Dalam segala kebingungannya, setiap orang patut mengetahui satu hal yaitu: Tuhan Yesus berdaulat penuh untuk menerima atau menolak seseorang, berdasarkan pertimbangan-Nya sendiri yang pasti tepat dan sempurna. Kalau begitu, jaga-jaga kita yang pertama adalah mengetahui apa yang harus kita lakukan supaya tidak sampai ditolak oleh Tuhan Yesus, sekarang maupun nanti.</p>
<p><strong>Semua Ada Waktunya</strong></p>
<p>Jika ada yang lahir (belakangan) maka kita sambut dengan sukacita, kalau bisa dengan cucuran air mata sukacita. Tapi kalau ada yang meninggal dunia (lebih dulu) maka biasanya kita berdukacita, boleh saja dengan cucuran air mata, karena kita merasa kehilangan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Tapi betapa pun besarnya dukacita kita, kita harus tetap beriman teguh bahwa suatu hari kelak kita bakal dikumpulkan kembali dalam sukacita surgawi.</p>
<p>Berdukacita secara duniawi adalah dukacita tanpa pengharapan seperti di atas tadi. Jika itu yang terjadi, berarti kita telah mencederai iman kita sendiri, yang selama ini sudah kita bangun dan siapkan dalam rangka mempersiapkan hari esok dan memaknai hari ini.</p>
<p><strong>Mencari Tuhan</strong></p>
<p>&#8220;Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau.&#8221; (Mazmur 70:5a)<br />
Sikap mencari Tuhan adalah sikap yang membutuhkan, merindukan dan mengasihi Tuhan. Jika itu yang kita lakukan sekarang, berarti kita telah mempersiapkan hari esok dengan benar, dan menjadikan hidup hari ini bermakna!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Em. Daud Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mempersiapkan-hari-esok-dengan-menjadikan-hidup-hari-ini-bermakna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjumpaan Injil dan Budaya</title>
		<link>http://gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 01:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6722</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah terbersit dalam pikiran, saya akan punya kesempatan untuk berkunjung dan bahkan merasakan kehidupan selama satu malam dua hari di Pesantren &#8220;Pandanaran&#8221; Jogjakarta dalam kaitannya dengan program SITI (Study Intensive Islam) yang diadakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana, pada bulan Juli yang lalu. Upaya untuk mewujudkan &#8220;teologia kontekstual,&#8221; yaitu suatu pemikiran teologia yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak pernah terbersit dalam pikiran, saya akan punya kesempatan untuk berkunjung dan bahkan merasakan kehidupan selama satu malam dua hari di Pesantren &#8220;Pandanaran&#8221; Jogjakarta dalam kaitannya dengan program SITI (Study Intensive Islam) yang diadakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana, pada bulan Juli yang lalu.</p>
<p>Upaya untuk mewujudkan &#8220;teologia kontekstual,&#8221; yaitu suatu pemikiran teologia yang bisa mendarat dan dipahami oleh orang yang hidup di dalam suatu budaya dan tempat tertentu, ternyata tidak hanya monopoli para teolog Kristen, namun juga terjadi pada saudara-saudara teolog Muslim. Misalnya bagaimana menjadikan teks-teks dalam Al-Quran dipahami dengan baik dalam situasi paling aktual sekarang ini dan khususnya dalam kebersamaan hidup dengan agama-agama lainnya. Kemudian bagaimana teks-teks tersebut dapat menjadi pegangan dalam menghadapi &#8220;kemerosotan&#8221; moral dan sekaligus memberikan motivasi yang kuat untuk ikut ambil bagian dalam kemajuan teknologi dan pengetahuan di era globalisasi sekarang ini.</p>
<p>Penerimaan yang sangat terbuka dengan dialog yang hangat dan sangat akrab tanpa perasaan curiga telah membangun persahabatan yang mengarah pada keinginan bersama untuk melakukan yang terbaik bagi keberadaan generasi muda yang saat ini sedang mengalami tantangan yang tidak gampang.</p>
<p>Pengalaman yang kedua dan sangat menginspirasi terjadi pada keikutsertaan saya dalam konven pendeta seluruh GKI yang diselenggarakan pada awal bulan Agustus ini. Salah satu programnya adalah melakukan kunjungan ke &#8220;Kampoeng Kidz&#8221; yaitu Education Land, tempat untuk bermain sambil belajar dengan menggunakan metode Experiental Learning yang membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi remaja.</p>
<p>Tempat ini didirikan pada tahun 2007 oleh Bapak Yulianto yang mempunyai komitmen untuk menolong dan sekaligus memberdayakan anak-anak yang tidak mampu, khususnya anak-anak yatim piatu dari berbagai daerah dan latar belakang agama. Hal yang paling menarik adalah, selain mereka (anak-anak remaja) dapat memperoleh pendidikan dan fasilitasnya dengan gratis, mereka juga harus memelihara budaya serta ketaatan mereka kepada Tuhan sesuai dengan agama masing-masing. Gagasan pluralitas–inklusif–terbuka, partisipatif dan peduli dari Pak Yulianto dan teman-temannya mengingatkan saya pada perwujudan visi dan misi GKI Pondok Indah. Apa yang dilakukan oleh Pak Yulianto sungguh didasarkan pada iman percayanya kepada Injil Tuhan Yesus Kristus.</p>
<p>Perjumpaan dengan dua pengalaman di atas, yang disempurnakan dengan mendengarkan uraian Pdt. Joas Adiprasetya dalam Forum Diskusi Teologia di GKI Pondok Indah tanggal 15 Agustus lalu, telah mendorong saya, pada momentum &#8220;Bulan Budaya&#8221; di GKI Pondok Indah ini, untuk mencermati kembali sejauh mana relevansi Injil dalam menghadapi &#8220;budaya modern,&#8221; khususnya dalam konteks pergumulan kehadiran Gereja di Indonesia saat ini.</p>
<p><strong>Interaksi Injil dan Budaya</strong></p>
<p>Apakah Injil bisa dibebaskan atau dipisahkan dari budaya? Dalam kenyataannya Injil datang bersama dengan kebudayaan barat, dan tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh pada konteks di mana Injil itu dihadirkan. Injil selalu hadir dalam konteks sejarah manusia dan itu berarti sejak dari awal keberadaannya selalu berada dan terbungkus dalam budaya tertentu. Jejak peninggalan yang masih dapat kita saksikan sekarang adalah, pemakaian toga, jas, musik gereja dan liturgi serta organisasi gereja. Jadi jelas kehadiran Injil tidak dapat dilepaskan dari budaya barat yang meliputnya.</p>
<p>Ada konsep teologis yang menyatakan bahwa hubungan Injil dan Budaya seperti biji dengan kulitnya, karena itu kita hanya perlu mendapatkan bijinya dan membungkuskan dengan kulit yang baru. Konsep seperti ini ternyata tidak dapat dipahami karena gambarannya bukan seperti kulit dengan bijinya, melainkan seperti bawang bombai yang tidak punya biji, sehingga sebanyak dan sedalam apa pun dikuliti tidak akan ditemukan apapun karena di dalam kulit bawang itulah meresap semua isinya. Persis seperti Injil yang tumbuh dalam budaya tertentu, ketika dihadirkan di suatu tempat yang baru ia akan tetap berada dalam kulitnya. Yang penting sebenarnya bukanlah memisahkan Injil dari budayanya, melainkan bagaimana dapat secara kritis memberikan makna baru yang bermanfaat bagi budaya setempat, sebab budaya terus berubah secara dinamis.</p>
<p>Oleh karena budaya selalu berkembang, maka kita perlu terus-menerus mencermati perubahan budaya yang terjadi yang saat ini, misalnya mengarah pada budaya modern, post modern, konsumerisme, hedonisme, materialisme, pornografi dan lain-lain. Perkembangan budaya yang seperti ini tidak boleh luput dari pengamatan kita, sebab budaya dapat memberi pengaruh yang buruk tapi juga pengaruh yang baik. Tinggal bagaimana kita dapat memanfaatkan dan memberi makna yang baru dan lebih baik, makna yang bermanfaat bagi kehidupan bersama dalam masyarakat manusia.</p>
<p>Sebelum melanjutkan pokok bahasan kita, mari kita sejenak kembali pada pertanyaan, apa sebenarnya budaya?</p>
<p>Kata kebudayaan, menurut Prof. Koentjaraningrat, seorang antropolog, berasal dari kata Sansekerta: buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata &#8220;buddhi&#8221; atau budi yang artinya roh atau akal, dan daya, yaitu kuasa atau kekuatan, sehingga kebudayaan dapat berarti &#8220;segala sesuatu yang diciptakan oleh budi manusia.&#8221; Istilah ini bila dikawinkan dengan kata kultur, yang berasal dari kata kerja Latin colo, kolere, yang kemudian membentuk kata kerja colere, berarti: membuat, mengolah, mengerjakan, menghias, mendiami (Verkuyl, 1966: 12-13). Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan menjelaskan tentang segala sesuatu yang dipikirkan, diusahakan, serta dikerjakan oleh manusia dalam lingkup (konteks) hidupnya secara utuh untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan.</p>
<p>Dengan demikian, budaya atau kebudayaan memiliki makna yang sangat luas dan seolah tidak ada batasnya. Ia mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia yang lahir sebagai hasil olah akal dan budi, mulai yang terkecil hingga yang terbesar; mulai dari tata cara makan hingga tata cara mengelola sebuah negara.</p>
<p>Ada banyak definisi mengenai kebudayaan, namun semua nampaknya mengerucut pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa kebudayaan adalah ciptaan manusia. Dengan demikian, tidak ada budaya tanpa manusia dan tidak ada manusia tanpa budaya. Manusia dan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.</p>
<p>Perjumpaan antara Injil dan Budaya tidak dapat dilepaskan dari upaya misi atau yang lebih dikenal dengan Pekabaran Injil. Misi sering kali dipahami sebagai usaha penginjilan dengan tujuan penambahan jumlah orang Kristen; dan dengan semangat yang eksklusif (tertutup) usaha penginjilan ini sering kali dilaksanakan tanpa mempertimbangkan konteks masyarakat Indonesia. Kenyataan Indonesia yang ditandai dengan kemiskinan yang merajalela dan keagamaan yang multi-wajah belum mendapat tempat dan perhatian dalam pemahaman dan semangat misi eksklusif yang diwarisi gereja-gereja di Indonesia. Apabila sikap dan semangat eksklusif itu tetap dipertahankan, maka misi Gereja Indonesia dapat dikatakan sedang dalam keadaan krisis, paling tidak krisis dalam pemahaman yang pada gilirannya sangat memengaruhi pelaksanaan misi Gereja.</p>
<p>Bagaimana perjumpaan Injil dan Budaya dalam Alkitab?</p>
<p><strong>Belajar dari Kisah Para Rasul</strong></p>
<p>Perjumpaan Injil dengan budaya lain mengarah pada suatu pembentukan identitas. Petrus, yang pada mulanya bertolak hanya di sekitar Yerusalem, Yudea dan Samaria sebenarnya masih berada dalam masyarakat Yahudi. Ketika Injil berjumpa dengan tradisi Yahudi ini, tidak ada masalah karena masyarakat dan pembawa berita Injil itu sama-sama berlatar belakang Yahudi yang menjalankan kebiasaan-kebiasaan menyangkut makanan haram, hari Sabat, peraturan sunat dan lainnya.</p>
<p>Namun ketika Petrus mulai mengunjungi wilayah pantai yang berkebudayaan Yunani-Romawi, tindakan Petrus ini ternyata membawa dampak yang luar biasa pada cara melaksanakan pemberitaan Injil.</p>
<p>Pelan-pelan menjadi jelas bahwa kekristenan harus menetapkan tradisi baru yang berlainan dengan tradisi Yahudi. Hal inilah yang menimbulkan bentrokan dengan para pemuka agama Yahudi, imam-imam kepala dan kaum Saduki. Dalam pandangan mereka, para penganut kristiani awal dinilai menyeleweng dari tradisi. Dan penyelewengan seperti itu, menurut hukum tidak bisa ditoleransi karena menggoyahkan keutuhan dan kesatuan budaya. Oleh karena itu mudah dipahami kalau orang-orang Kristen pertama itu dikejar-kejar, ditangkap dan dipenjara –dari antara mereka banyak juga yang dibunuh–pertama-tama oleh otoritas agama Yahudi.</p>
<p>Pertemuan dengan alam pikiran Hellenis (budaya Yunani) telah memberikan corak yang baru dalam perkembangan Injil.</p>
<p>Kornelius adalah seorang perwira yang mewakili kekuasaan Romawi, &#8220;Ia saleh, takut akan Allah, memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi, dan senantiasa berdoa kepada Allah&#8221; (Kisah Rasul 10:2, 22). Ia mewakili sekelompok besar orang non-Yahudi yang tertarik kepada paham Yahudi mengenai Allah yang Esa, yang tak terbayangkan dan yang menuntut hidup bermoral tinggi. Tetapi, mereka tidak ingin menjadi bagian dari orang Yahudi karena tidak mau menerima sunat.</p>
<p>Petrus mengalami kebingungan ketika harus melakukan pendekatan dengan perwira Romawi ini hingga ia mendapatkan vision, yakni tentang sebuah taplak yang turun dari surga dan penuh dengan binatang yang haram, disertai ajakan untuk makan hidangan tersebut. Petrus baru mau menerima kehadiran Kornelius setelah tiga kali menerima vision itu dan ia pun menjelaskan tentang kemustahilan seorang Yahudi bergaul dengan orang non-Yahudi, apalagi masuk rumah mereka (10:28). Apabila seorang Yahudi memasuki rumah orang yang tidak memenuhi tuntutan ritual, apalagi makan dengan mereka, maka menurut tradisi atau paham Farisi, ia telah kehilangan kesuciannya dan hanya dapat dipulihkan lewat upacara pentahiran.</p>
<p>Melalui peristiwa ini, Petrus mendapat pencerahan bahwa ia tidak boleh menyebut orang lain yang non-Yahudi sebagai najis atau tidak tahir. Paradigma Petrus mengalami perubahan total. Sebagai umat Allah ia tidak boleh membeda-bedakan manusia yang satu dengan yang lain, semua punya hak yang sama untuk mendapat perhatian dan kepedulian.</p>
<p>Pesan dari kita di atas sangat penting dan relevan dalam konteks Indonesia yang hidup dalam keberagaman keagamaan. Dalam perjumpaan ini, pertama, Petrus menyadari bahwa kasih Allah berlaku bagi semua umat manusia yang mencari Dia dengan segenap hati. Jadi jelas bagi kita sekarang, perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki agama dan kebudayaan lain akan mengubah paham kita akan Injil. Kedua, mau menerima keberadaan orang yang berbeda kebudayaan.</p>
<p>Ketiga, perlu keberanian untuk melakukan peruntuhan tembok-tembok pemisah sekaligus menciptakan keterbukaan dan kerelaan dari ke dua belah pihak untuk melakukan dialog antar agama yang mengarah pada persahabatan dan kerja sama menyelesaikan permasalahan yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Setiap manusia dalam kehidupannya tidak dapat terlepas dari budaya yang telah membentuknya, oleh karena itu bila ada seseorang yang disentuh oleh Injil, maka dalam hidup budayanya, adat istiadatnya akan tetap bersamanya. Injil dalam kuasa pembebasannya tidak mengubah seseorang menjadi orang asing dari budayanya.</p>
<p>Kebudayaan adalah pola hidup manusia dalam kelompok, jadi kebudayaan itu dihayati dan diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok atau komunitas. Iman sebagai relasi yang lebih berdimensi vertikal, dihayati dan diamalkan dalam dimensi horizontal. Sebaliknya kebudayaan yang lebih berdimensi horizontal, tidak dapat dilepaskan dari dimensi vertikal. Bahkan iman dapat diinterpretasikan sebagai sumber dan dasar kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu sering diidentikkan dengan agama yang berdimensi vertikal.</p>
<p>Injil dan budaya sangat penting karena sama-sama mengklaim kewibawaan atas seluruh kenyataan, jadi tidak ada domain wilayah yang terpisah-pisah, karena seluruh kenyataan adalah seluruh wilayah kebudayaan. Budaya pada hakikatnya bicara tentang seluruh hidup manusia. Semua disentuh oleh agama dan budaya, mulai dari pakaian, makanan, musik, bacaan, film, istri, suami, anak, olahraga, ekonomi, politik, teknik dan lain lain.</p>
<p>Karena budaya menyangkut seluruh hidup manusia, maka sering kali terjadi gesek-menggesek antara budaya dan agama, yang bertambah kompleks lagi karena agama sendiri juga memiliki budayanya.</p>
<p>Seorang Batak yang Kristen misalnya, akan selalu mempunyai dua identitas itu di dalam dirinya dan keduanya haruslah terintegrasi, artinya seorang Batak adalah sungguh seorang Batak ketika ia melakukan habitus yang lengkap dilakukan oleh orang Batak dengan segala simbol-simbol yang dipahami dalam tradisi Batak, jadi tidak ada Batak minus tradisi atau kebiasaan tertentu.</p>
<p>Karena itu integrasi dalam budaya dan integrasi dalam kekristenan menjadi sangat penting, sehingga seluruh komponen perlu dipertahankan. Injil dari awal selalu mengajarkan orang untuk kreatif, demikian juga iman Kristen perlu selalu kreatif dalam perkembangannya. Kreativitas ini akan menjadikan orang Kristen berani memahami budayanya secara baru dari sudut pandang iman.</p>
<p>Misalnya pada masa Natal, pohon Natal adalah tradisi penyembahan berhala dewa matahari yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember, tapi kemudian mendapat makna yang baru, sehingga orang Kristen tidak merayakan kelahiran dewa matahari, melainkan kelahiran Yesus. Pada saat hal ini terjadi, orang tidak merasa gelisah, sebaliknya dapat menghayati dengan khusyuk tentang kelahiran Yesus yang sangat romantis sambil merenungkan pentingnya makna ini bagi kehidupan kristiani. Inilah kreativitas iman, panggilan kita adalah menafsir ulang budaya dalam terang iman Kristen. Inilah yang dilakukan ompui Nomensen. Ia tidak langsung melakukan penginjilan, melainkan memberikan makna baru pada tradisi Batak dalam perjumpaannya dengan Injil Yesus Kristus.</p>
<p>Bagaimana orang Kristen memahami perjumpaan Injil dengan Budaya dalam Alkitab dan memberi makna baru dalam situasi kita saat sekarang ini? Yang ekstrim adalah seperti munculnya Jeferson Bible, yaitu Alkitab yang tipis karena semua isi yang dianggap negatif seperti ayat atau perikop yang rasialis, mengandung hal perbudakan dan bertentangan dengan hak asasi manusia, dihapuskan. Cara kedua adalah dengan menafsirkan teks itu secara baru dan bukan hanya yang tersurat, kemudian berusaha menemukan prinsip yang tersirat di balik teks itu. Berdasarkan hal ini maka dilakukan penafsiran baru dari teks-teks yang sudah tidak lagi dapat diberlakukan sekarang ini. Hal ini dilakukan oleh GKI, karena itu GKI mempunyai ajaran yang berkembang terus dan selalu aktual mencoba menanggapi perubahan yang terjadi dalam Budaya, misalnya GKI dengan konsekuen menekankan equality (kesamaan peran pria dan wanita).</p>
<p><strong>Contoh konkret dari Perjanjian Lama</strong></p>
<blockquote><p>Kej. 2:18 TUHAN Allah berfirman: &#8220;Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.&#8221;<br />
Kej. 2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.</p></blockquote>
<p>Kita harus memahami dengan baik bahwa penulis Alkitab dengan latar belakang budaya tertentu, diberi kebebasan untuk mengekspresikan tulisannya. Misalnya penulis kitab Kejadian berlatar belakang budaya patriarkat (budaya di mana lelaki mempunyai kedudukan lebih tinggi dari perempuan). Dalam tulisannya pasti ia lebih menonjolkan lelaki. Misalnya sosok perempuan digambarkan berasal dari salah satu rusuk lelaki (Kejadian 2:21), dengan demikian keberadaan perempuan lebih rendah dari lelaki. Padahal dalam Kejadian 2:18, perempuan diciptakan Tuhan untuk menjadi penolong yang sepadan.</p>
<p>Dalam konteks saat sekarang ini, pemikiran yang membedakan posisi lelaki dan perempuan tidak lagi dapat diterima, karena itu para penafsir mempelajari kembali teks Alkitab untuk menemukan makna baru yang relevan untuk kondisi saat ini. Maka ditemukanlah bahwa ternyata dalam bahasa Ibrani, kata &#8220;penolong&#8221; adalah &#8220;asyer.&#8221; Dalam Alkitab, kata asyer hanya dipakai oleh Allah. Jadi untuk menggambarkan manusia yang menolong manusia lain, tidak dipakai kata ini. Yang kedua, inilah satu-satunya pengecualian dalam teks yang dikenakan pada perempuan. Jadi perempuan sebagai penolong adalah representasi dari Allah yang akan menjadi penolong manusia, laki-laki itu. Dengan penafsiran seperti ini posisi wanita menjadi di atas lelaki atau paling tidak sama.</p>
<p><strong>Resistensi dan Penerimaan</strong></p>
<p>Ada dua sikap yang ekstrim terhadap Budaya yaitu Resistensi dan Penerimaan.</p>
<p>Resistensi adalah sikap yang sama sekali menolak budaya. Semua patung, pakaian adat, ulos, artefak kuno, adat beserta simbol-simbolnya tidak boleh ada di Gereja maupun di rumah orang Kristen. Sikap seperti itu ada baiknya, karena selalu waspada terhadap budaya-budaya yang dapat merusak, seperti budaya menindas perempuan, budaya penghamburan uang untuk suatu pesta adat sampai harus berutang. Tapi di pihak lain, penolakan total ini juga merugikan penginjilan, sebab budaya sering kali menjadi jalan masuk dan jembatan yang paling baik untuk memperkenalkan Injil kepada semua orang.</p>
<p>Penerimaan adalah sikap menerima semua budaya, dan dengan mudah berkata bahwa kebudayaan adalah produk luhur kemanusiaan. Sikap seperti ini juga membahayakan, karena tanpa sikap kritis, orang terlalu mudah mengompromikan Injil dengan Budaya, sehingga berita Injil sering kali menjadi kabur.</p>
<p><strong>Sikap yang baik adalah</strong></p>
<ol>
<li>Kita harus mempelajari sehingga mempunyai pemahaman yang mendalam tentang kebudayaan kita, jangan semena-mena menolak begitu saja.</li>
<li>Kita harus mempelajari sehingga mempunyai pemahaman yang benar dan mendalam tentang Injil. Dengan demikian akan dihasilkan penafsiran ulang yang relevan dengan perubahan Budaya lokal.</li>
<li>Kita harus menerima Budaya dengan cara yang luhur, tapi juga sekaligus mengkritisinya dengan sungguh-sungguh karena kebudayaan pada satu sisi adalah ciptaan Tuhan, karena teologi penciptaan adalah teologi kebudayaan. Budaya adalah karya agung Allah yang harus dipelihara dengan baik sehingga tidak ada lagi pandangan dualistik antara yang sakral dan yang duniawi, semuanya telah melebur menjadi satu.Namun demikian, Budaya tetap harus diwaspadai karena dosa telah merusak, bukan hanya manusia secara personal, namun juga struktur sosial dan kultural yang dibangun manusia. Karena itu Budaya dalam kehidupan manusia dapat berdampak positif tapi juga negatif. (bdk. Joas Adiprasetya–Injil dan Kebudayaan–pada Forum Diskusi Teologi, 15 Agustus 2011, GKI Pondok Indah/di rubrik Teropong Kasut edisi 80/<a  href="http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/" target="_blank">http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/</a>)</li>
</ol>
<p>Perjumpaan Injil dan Budaya dalam perkembangannya memerlukan perhatian yang serius karena menyangkut kehidupan, khususnya generasi muda yaitu bagaimana mereka sanggup mencermati dan sekaligus mengkritisi perjumpaan yang sangat memengaruhi kehidupan aktual saat ini.</p>
<p>Kembali pada awal tulisan di atas, perjumpaan antara Injil dan Budaya atau Agama dan Budaya, ternyata menjadi pergumulan dari setiap orang beragama dalam upaya mendapatkan isi yang relevan untuk memecahkan permasalahan yang muncul dan terus berkembang.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam relevansinya terhadap situasi di Indonesia, yaitu:</p>
<ol>
<li>Perlu diupayakan untuk mencari dasar pemikiran yang sama di antara agama-agama yang mengarah kepada suatu kerja sama guna menyelesaikan permasalahan bangsa yang sedang dihadapi bersama.</li>
<li>Menghilangkan sikap saling curiga-mencurigai, sehingga dapat diadakan dialog persahabatan yang terbuka satu sama lain.</li>
<li>Memberi makna baru terhadap perkembangan Budaya dengan memahami Budaya itu sebaik-baiknya, kemudian melakukan penafsiran ulang terhadap pemikiran teologis yang tidak relevan lagi.</li>
<li>Melakukan &#8220;dialog kehidupan,&#8221; suatu dialog yang bertujuan untuk saling mengenal dan mengarah pada persahabatan, dan berdasarkan pada keterbukaan satu sama lain, tanpa sikap saling curiga.</li>
</ol>
<p>Pdt. Tumpal Tobing</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memandang Perbedaan dari Kaca Mata Kristus</title>
		<link>http://gkipi.org/memandang-perbedaan-dari-kaca-mata-kristus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/memandang-perbedaan-dari-kaca-mata-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 15:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6623</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Kehidupan dimulai dari perbedaan, atau dengan kata lain, perbedaan yang menggerakkan kehidupan. Lihatlah kisah penciptaan yang diceritakan dalam kitab Kejadian, Allah mencipta banyak makhluk dan benda dengan fungsinya masing-masing. Matahari yang berfungsi pada siang hari, bulan yang berfungsi pada malam hari, binatang di laut dan di udara, tanaman berbiji dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Kehidupan dimulai dari perbedaan, atau dengan kata lain, perbedaan yang menggerakkan kehidupan. Lihatlah kisah penciptaan yang diceritakan dalam kitab Kejadian, Allah mencipta banyak makhluk dan benda dengan fungsinya masing-masing. Matahari yang berfungsi pada siang hari, bulan yang berfungsi pada malam hari, binatang di laut dan di udara, tanaman berbiji dan lain-lain.</p>
<p>Betapa kayanya dunia ini dengan keberagaman. Allah mencipta dengan keberagaman yang indah untuk saling melengkapi dan menciptakan kehidupan. Maka agak aneh jika manusia (sebagai salah satu ciptaan Allah yang diciptakan berbeda) tidak dapat menerima dan hidup dengan perbedaan.</p>
<p>Manusia sering kali mengharapkan keseragaman. Keseragaman dianggap sebagai kekuatan dan kebersamaan. Sebaliknya tidak seragam dianggap sebagai kelemahan dan keretakan. Tidak jarang dalam hidup bersama, kita menciptakan keseragaman dengan menekan dan menyisihkan yang berbeda. Mereka yang memiliki cara berpikir yang berbeda, cara pandang yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, dianggap sebagai keanehan yang menjengkelkan sehingga dengan cepat mereka ditempatkan di luar lingkaran (jika tidak disisihkan). Dengan demikian kita telah gagal mengelola perbedaan sehingga perbedaan menjadi pemicu dari banyak pertikaian dan permusuhan.</p>
<p>Memandang perbedaan dari kaca mata Kristus, demikian judul tulisan ini. Pertanyaannya, mengapa kita perlu memandang perbedaan dari kaca mata Kristus?</p>
<p>Pada saat kita jujur bagaimana kita menyikapi perbedaan selama ini (seperti yang disebutkan di atas), dapatlah kita katakan bahwa kita telah gagal menerima dan hidup di dalam perbedaan. Kita telah gagal menempatkan perbedaan di antara kita dan sesama sebagai sumber kekuatan yang membangun kehidupan persekutuan kita. Kita telah gagal mensinergikan perbedaan menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik.</p>
<p>Kegagalan itulah yang membuat kita bercermin dan menyadari bahwa kita tidak dapat bersandar pada kekuatan dan nilai manusia untuk memandang perbedaan dengan benar. Dengan demikian perbedaan mampu menjadi berkat pada saat kita memandang dengan cara pandang Kristus. Kristus yang membuka wawasan dan cara pandang kita untuk mengelola perbedaan itu untuk membangun kehidupan.</p>
<p>Kita dapat belajar dari persoalan jemaat Galatia (3:21-29) yang memiliki pergumulan yang kurang lebih sama. Mereka menempatkan Hukum Taurat sebagai nilai ukur kehidupan mereka. Hukum Taurat menjadi persoalan ketika dipakai menjadi satu-satunya ukuran bagi orang Yahudi untuk memahami keselamatan. Keselamatan diperoleh tergantung sejauh mana manusia dapat mematuhi Hukum Taurat itu dengan sempurna. Bagi orang Yahudi, Hukum Taurat menjadi kaca mata mereka untuk memandang segala sesuatunya, baik dalam berelasi dengan Tuhan (melakukan Hukum Taurat berarti selamat) maupun dalam berelasi dengan sesama (menghakimi mereka yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat).</p>
<p>Paulus menentang hal ini. Ia mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah jauh sebelum manusia dapat melakukan Hukum Taurat dengan sempurna.</p>
<p>Pada kenyataannya ketika manusia mengenal dan hidup menurut Hukum Taurat, manusia tidak dapat menjalani Hukum Taurat dengan benar. Hukum Taurat tidak akan pernah membawa manusia kepada keselamatan karena tidak ada seorang manusia pun dapat melakukannya dengan sempurna. Hukum Taurat berfungsi untuk mendefinisikan dosa. Dengan Hukum Taurat manusia mengenal dosa tetapi manusia tidak berdaya terhadap dosa itu, ia menjadi budak dosa. Hukum Taurat dapat mendiagnosa dosa tetapi ia tidak berdaya untuk mencari jalan keluar dan menyelamatkannya. Hal ini ibarat seorang dokter yang dapat mendiagnosa penyakit tetapi tidak mampu memberikan pengobatan untuk menyembuhkan si pasien. Jadi Hukum Taurat hanya membawa kita kepada sebuah pengetahuan akan dosa. Kesadaran inilah yang membawa manusia pada sebuah fakta semata-mata hanya karena anugerah, manusia beroleh keselamatan. Anugerah yang datang dari Allah karena kemurahan dan kemahakasihan Allah.</p>
<p>Paulus menggantikan kaca mata (cara pandang) orang Yahudi yang menggunakan Hukum Taurat dengan kaca mata (cara pandang) anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Anugerah yang dapat mengubah kehidupan manusia dari kehancuran menuju kekekalan. Manusia merespons anugerah Allah melalui baptisan. Melalui baptisan, manusia mengenakan cara hidup dan cara pandang Kristus. Baptisan mengikat kita dengan Kristus yang membawa perubahan hidup dari cara hidup lama menuju cara hidup baru. Persekutuan dengan Kristus juga berdampak pada persekutuan kita dengan sesama manusia. Di dalam Kristus, kita menjadi satu tubuh yang saling menopang dan memperlengkapi. Di dalam Kristus, perbedaan di antara kita dengan sesama menjadi kekuatan yang menggerakkan tubuh mewujudkan Kerajaan Allah. Maka di dalam Kristus perbedaan suku, status (Yahudi, Yunani, hamba atau orang merdeka) tidaklah menjadi persoalan sebab mereka telah diikat dalam Kristus. Setiap pribadi, berkembang dan mengembangkan dirinya dan orang lain menurut cara pandang Kristus sehingga perbedaan itu tidak lagi menjadi sumber perpecahan tetapi penyatuan sebab semua mengarah kepada kepentingan Kristus dan bukan kepentingan manusia.</p>
<p>Dalam 1 Korintus 12:12-31 Paulus menjelaskan pemahaman gereja sebagai satu tubuh untuk memahami perbedaan di dalam tubuh Kristus. Pemahaman ini menempatkan kita bahwa di dalam Kristus; anggota jemaat menjalin satu kesatuan yang utuh. Setiap anggota mendapat peranan dengan fungsi yang berbeda-beda. Tiap anggota, seberapa pun kecilnya memiliki kedudukan yang sama penting dan tidak dapat meniadakan yang lain bahkan mencipta sebuah ketergantungan yang melengkapi. Ketika salah satu anggota menjadi lemah; ia mendapat perhatian dan dukungan lebih dari anggota tubuh yang lainnya. Pemahaman ini sungguh-sungguh menjadi landasan kehidupan bergereja terutama dalam hal penerimaan dan penempatan anggota jemaat dengan perbedaannya. Persekutuan di dalam Kristus melahirkan cara hidup yang berbeda dengan sebelumnya yang masih dikuasai dengan dosa.</p>
<p>Dengan demikian cara pandang Kristus terhadap perbedaan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa:</p>
<ol>
<li>Keberdosaan manusia membawa jalan hidupnya kepada kehancuran. Keberdosaan manusialah yang menempatkan perbedaan menjadi alat pemecah belah dan perusak kehidupan. Karya keselamatan Allah melalui Kristus adalah anugerah semata yang mengubah cara hidup manusia secara total dan menyeluruh.</li>
<li>Anugerah pengampunan adalah sumber kekuatan dan dasar bagi manusia untuk menerima perbedaan menjadi suatu keunikan yang dikembangkan di dalam kebersamaan. Anugerah yang mengubah cara pandang manusia dalam melihat perbedaan. Di dalam anugerah keselamatan itu perbedaan adalah berkat. Perbedaan disyukuri dan dirayakan dalam kehidupan bersama.</li>
<li>Orang lain sama penting dan berharganya dengan diri sendiri seperti Kristus menganggap manusia yang hina adalah makhluk yang berharga bagi-Nya. Dengan demikian dalam membangun kehidupan bersama di dalam Kristus, setiap pribadi tidak lagi merasa lebih hebat dari yang lainnya dan tidak lagi bersikap meniadakan yang lain. Kehidupan di dalam Kristus membawa manusia untuk hidup dalam ketergantungan yang membangun. Di dalam Kristus setiap orang dihargai, setiap orang mendapatkan peranannya untuk menopang yang lain dalam mewujudkan karya Allah di dunia.</li>
</ol>
<p>Perbedaan di antara kita hanya akan menjadi berkat yang indah pada saat kita membawanya di dalam Kristus. Kristus menerima kita dengan anugerah-Nya, di mana IA tidak lagi mempersoalkan siapa saya dan saudara. Di dalam Kristus tidak ada yang lebih utama kecuali Yesus Kristus. Di dalam Kristus; kita diberi tempat yang sama baiknya dengan yang lain, dan dipercaya untuk menyokong yang lain.</p>
<p>GKI Pondok Indah hidup dalam keberagaman dan keberagaman ini menjadi indah pada saat kita memusatkan hidup persekutuan kita di dalam Kristus yang telah menyelamatkan kita. Dalam persekutuan kita, kita mengakui adanya perbedaan suku, ekonomi, pendidikan. Pengakuan itu sekaligus membawa kesadaran bahwa perbedaan dapat menjadi berkat pada saat ditempatkan di bawah Kristus. Perbedaan di antara kita, tidak akan meretakkan kita sebab kita telah melihatnya dengan kaca mata Kristus. Kaca mata yang membuat kita melihat bahwa perbedaan adalah kekuatan untuk saling menopang dan bukan untuk saling meniadakan.</p>
<p>Perbedaan membuat kita menjadi sejajar untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yaitu mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Hanya di dalam Kristus; perbedaan menjadi daya juang bersama dalam persekutuan untuk menghasilkan karya. Mari kita selalu melihat perbedaan ini dengan kaca mata (cara pandang) Kritus. Terpujilah Kristus.</p>
<p>Pdt. Dahlia Vera Aruan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/memandang-perbedaan-dari-kaca-mata-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Injil dan Kebudayaan. Konflik, Kompromi atau Kolaborasi?</title>
		<link>http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 15:38:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6537</guid>
		<description><![CDATA[Perjumpaan Injil dan kebudayaan merupakan sebuah tema klasik di dalam pergumulan iman Kristen di tengah dunia. Sejak awal kelahirannya, Injil tak pernah bisa melepaskan diri dari kebudayaan, sebab Injil senantiasa hadir di dalam totalitas hidup manusia–dan manusia selalu membentuk jatidiri manusia sejak ia lahir. Tidak pernah ada Injil yang &#8220;telanjang,&#8221; yang lepas dari konteks kebudayaan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjumpaan Injil dan kebudayaan merupakan sebuah tema klasik di dalam pergumulan iman Kristen di tengah dunia. Sejak awal kelahirannya, Injil tak pernah bisa melepaskan diri dari kebudayaan, sebab Injil senantiasa hadir di dalam totalitas hidup manusia–dan manusia selalu membentuk jatidiri manusia sejak ia lahir. Tidak pernah ada Injil yang &#8220;telanjang,&#8221; yang lepas dari konteks kebudayaan. Injil tak pernah berada di dalam sebuah ruang yang vakum secara kultural. Kita memang percaya bahwa Injil menyapa umat manusia secara universal dan &#8220;melintasi&#8221; seluruh kebudayaan dunia. Namun Injil tidak pernah hadir bagi manusia &#8220;di luar&#8221; kebudayaan.</p>
<p>Namun, sebelum kita mempercakapkan lebih mendalam relasi Injil dan kebudayaan, agaknya kita perlu memahami secara tepat apa yang dimaksud dengan kebudayaan.</p>
<p>Pada tahun 1952, di dalam buku berjudul <em>Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions</em>, Alfred Kroeber and Clyde Kluckhohn mendaftarkan 164 definisi tentang kebudayaan. Kemudian, pada tahun 2006, John R. Baldwin et al. (<em>Redefining Culture: Perspectives Across the Disciplines</em>) membuat kompilasi yang berisi lebih dari 300 definsi kebudayaan lintas-disiplin keilmuan, khususnya yang muncul setelah tahun 1952. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pemahaman mengenai kebudayaan.</p>
<p>Secara umum, pada masa kini, kebudayaan tidak lagi sekadar diasosiasikan dengan artifak kuno, kesenian tradisional dan atribut-atribut masa silam. Sebaliknya, kebudayaan mengacu pada seluruh fenomena manusia yang tidak tergolong ke dalam genetika manusia. John S. Mbiti secara apik mendefinisi kebudayaan sebagai pola kehidupan manusia dalam menanggapi lingkungan kehidupan manusia, yang diekspresikan dalam bentuk-bentuk fisik seperti agrikultur, seni, teknologi; dalam relasi antarmanusia seperti institusi, hukum, kebiasaan; dan dalam bentuk refleksi atas seluruh kenyataan seperti melalui bahasa, filsafat, agama, nilai-nilai spiritual dan pandangan dunia.</p>
<p>Atas dasar itu, saya ingin memberikan dua catatan penting. Pertama, tidaklah tepat jika kemudian kita memahami bahwa kebudayaan sekadar mengacu pada artifak masa silam dan terwujud lewat kesenian etnis belaka, sebagaimana terekspresi di dalam beberapa kali Bulan Budaya kita. Kedua, gereja mau tidak mau juga memiliki atau meminjam kebudayaan yang jalin-menjalin dengan apa yang dipercayainya secara imani. Atas dasar dua catatan ini, saya ingin memaparkan lima atau enam dasar teologis yang substansial untuk memahami hubungan akrab Injil dan kebudayaan.</p>
<p><strong>Lima (atau Enam) Dasar Teologis</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, kisah penciptaan yang menjadi salah satu tonggak iman umat Israel dan umat Kristen menegaskan bahwa Allah mencipta dan mencinta dunia dengan memberinya peluang dan kebebasan untuk berkembang melalui kebudayaan. Melalui kebudayaan, manusia diundang intuk &#8220;mengusahakan dan memelihara&#8221; dunia di mana Allah menempatkannya (Kej. 2:15).</p>
<p>Sehubungan dengan pentingnya dimensi penciptaan, Dalam buku <em>God in Context</em> (2003), Sigurd Bergmann menulis, Teologi kontekstual adalah teologi penciptaan. Yang profan dan yang sakral tidak berlawanan satu sama lain sebagaimana ranah kultural dan biologis dari dunia diciptakan dan dipelihara oleh Allah. Teologi kontekstual adalah sebuah teologi demi dunia ini. Ia tidak melegitimasi sebuah pengakuan eksklusif namun mengarah pada sebuah refleksi atas pengalaman-pengalaman dan perjumpaan-perjumpaan dengan Allah yang hidup, yang hadir di dalam ciptaan demi pembaruan ciptaan.</p>
<p>Ketika diletakkan dalam konteks penciptaan, perjumpaan Injil dan kebudayaan berangkat dari asumsi bahwa Allah merengkuh dan merangkul dunia, termasuk seluruh kebudayaan di dalamnya. Allah tampil sebagai Dia yang ramah dan mudah didekati; Allah yang misteri sakramental-Nya dapat dijumpai dalam setiap pernik kehidupan dunia. Dunia lantas dipandang sebagai graced creation (ciptaan yang dirahmati).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Alkitab juga memberitakan Sang Sabda yang menjadi manusia (berinkarnasi) demi seluruh umat manusia, di mana pun dan kapan pun. Namun, prinsip inkarnasi sendiri mengandaikan bahwa kemanusiaan yang dirangkul oleh Sang Sabda itu selalu memiliki dimensi kebudayaan. Itu sebabnya, Yesus lahir di sebuah titik sejarah tertentu dan di lokasi geografis tertentu. Yesus terlahir sebagai seorang anak manusia yang berbudaya. Jadi, jika kita dengan mudah menolak kebudayaan, bisa jadi sikap tersebut mencerminkan pengabaian terhadap prinsip inkarnasi.</p>
<p>Kisah pentakosta–turunnya Roh Kudus–menjadi dasar teologis <strong>ketiga</strong> yang tak kalah pentingnya. Jika inkarnasi memberitakan bahwa Allah berkenan menjadi tuan-rumah (host) dan menerima bangsa-bangsa menjadi tamu-tamu (guests) bagi-Nya, Roh Kudus justru menghadirkan Allah yang menjadi tamu (Guest) yang hadir di lahan kebudayaan-kebudayaan lokal yang menyambut-Nya (hosts). Roh Kudus memasuki kebudayaan-kebudayaan dunia melalui bahasa lidah yang adalah bahasa-bahasa lokal–produk kebudayaan. Ketika keduanya diperdampingkan bersama–Sang Anak dan Roh Kudus–maka Allah dipahami senantiasa terlibat di dalam sejarah dan konteks budaya yang beraneka ragam.</p>
<p>Lagi-lagi Sigurd Bergmann menulis, Misteri inkarnasi berarti bahwa Sang Pencipta itu sendiri menjadi bagian dari sebuah konteks khusus dan bahwa kontinuitas historis dari kekristenan dipelihara melalui tindakan mempertanyakan terus-menerus, bagaimana Allah menemui kita dalam konteks-konteks tertentu. Teologi kontekstual adalah teologi inkarnasi tentang Sang Anak dan teologi inhabitasi tentang Roh Kudus yang mendiami dan menyekitari kita.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kehadiran gereja di tengah dunia sesungguhnya mere-present-asi (membuat hadir) Allah melalui Kristus dan Roh Kudus di dalam dan bagi dunia. Gereja adalah sekaligus umat Allah, tubuh Kristus dan bait Roh Kudus yang berpartisipasi ke dalam misi Allah Trinitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus) bagi dunia. Maka, sama seperti kehadiran Kristus dan Roh Kudus yang senantiasa berdimensi kultural, kehadiran gereja di tengah dunia pun senantiasa berdimensi kultural. Gereja diundang senantiasa menjaga ketegangan antara relasinya dengan kebudayaan dunia (&#8220;di dalam dunia&#8221;), sekaligus identitas yang berbeda dari kebudayaan dunia (&#8220;bukan dari dunia&#8221;). Ketika salah satu dari dua sisi ini luruh atau malah secara berlebihan ditekankan, maka hakikat gereja pun terancam.</p>
<p>Dimensi masa depan (teologi Kristen menyebutnya dimensi eskatologis) menjadi dasar kelima yang dominan dalam relasi Injil dan kebudayaan. Iman Kristen memercayai bahwa masa depan dunia ini berada di tangan Allah yang masih terus bekerja memulihkan dan memperbarui dunia. Wahyu 21:1-2 mencatat bahwa &#8220;langit dan bumi baru&#8221; yang kita impikan meliputi pula komunitas kultural (&#8220;kota yang kudus&#8221;) yang baru. Kristus berjanji akan memperbarui (bukan menciptakan) &#8220;segala sesuatu&#8221; yang sudah diciptakan sebelumnya (Why.21:5). &#8220;Segala sesuatu&#8221; di sini tentulah berarti juga kebudayaan manusia.</p>
<p><strong>Kelima</strong> prinsip dasar di atas kiranya menjadi pintu masuk bagi kita untuk menyadari dan memahami bahwa iman Kristen tidak pernah bisa terlepas dari perjumpaannya dengan kebudayaan. Akan tetapi kelima prinsip dasar tersebut tidak dengan mudah membuat relasi Injil dan kebudayaan menjadi sebuah relasi yang harmonis dan mesra, sebab kita tidak boleh melupakan dimensi lain yang senantiasa membuat pesan Injil begitu bermakna dan relevan, yaitu dosa. Kita bisa memandangnya sebagai prinsip <strong>keenam</strong>. Dosa merusak bukan hanya manusia secara personal, namun juga struktur sosial dan kultural yang dibangun manusia.</p>
<p>Kebudayaan apa pun tidak pernah tidak dicemari oleh dosa, sebelum kelak secara penuh dan menyeluruh diperbarui oleh Allah di dalam Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Dan, karena kebudayaan jalin-menjalin membentuk sebuah tekstur sosial yang bernama gereja, maka gereja pun tidak pernah luput dari pergumulannya melawan dosa. Gereja senantiasa menjadi komunitas dari orang-orang yang &#8220;sekaligus dibenarkan dan berdosa&#8221; (simul iustus et peccator).</p>
<p><strong>Berbagai Model Relasi Injil dan Kebudayaan</strong></p>
<p>Jika Anda memperhatikan dengan seksama keenam prinsip di atas, maka dengan mudah kita bisa membayangkan bahwa relasi Injil dan kebudayaan akan selalu berada di antara dua kutub yang berlawanan. Kutub pertama adalah resistensi (penolakan). Kebudayaan ditolak sepenuhnya sebab Injil menegaskan identitas kristiani yang bisa dengan mudah dicemari oleh kebudayaan yang terkotori oleh dosa. Sikap ini bisa muncul dalam dua varian. Varian pertama menolak kebudayaan dengan cara menghindarinya demi menjaga kemurnian identitas kristiani. Varian kedua juga menolak kebudayaan namun dengan cara memerangi dan berusaha menobatkannya menjadi &#8220;kebudayaan Kristen.&#8221;</p>
<p>Kutub kedua adalah adaptasi dan asimilasi. Kebudayaan dipandang secara positif dan Injil perlu menemukan bahasa bersama yang dapat diterima oleh kebudayaan. Injil harus relevan bagi kebudayaan dunia. Sikap yang pertama memiliki kelebihan dalam hal mempertahankan integritas dan identitas kristiani, namun ketika ditarik secara ekstrim, ia dengan mudah melarikan diri dari dunia demi menjaga kemurnian kristiani (varian pertama) atau memanfaatkan segala cara untuk secara pongah mengubah kebudayaan (varian kedua). Sikap yang kedua memiliki kelebihan dalam keluhurannya menghargai dunia sebagai cara manusia mengembangkan kebudayaannya, namun ketika ditarik secara ekstrim, kekristenan dapat dengan mudah kehilangan identitasnya dan malah melebur dengan dunia.</p>
<p>James Davison Hunter menulis sebuah buku anyar yang menurut hemat saya sangat menarik. Judul buku tersebut adalah <em>To Change the World: The Irony, Tragedy, and Possibility of Christianity in the Late Modern World</em> (Oxford, 2010). Di dalamnya, Hunter memaparkan tiga model yang secara khusus mencerminkan model-model di atas. Saya akan mendaftarkan ketiga model yang dipaparkan oleh Hunter dan mengaitkannya dengan model-model perjumpaan Injil dan kebudayaan yang baru saja saya sampaikan.</p>
<p><strong>Menemukan Model Terbaik</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, tentu saja, menurut saya, sub-judul di atas–&#8221;Menemukan Model Terbaik&#8221;–tidak akan pernah bisa tercapai. Tidak pernah ada model hubungan Injil dan kebudayaan yang terbaik. Semua model senantiasa memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.</p>
<p>Alasan lain mengapa tidak ada model terbaik adalah karena kebudayaan itu sendiri tidak bisa digeneralisasi. Ia tidak sama di semua tempat di muka bumi ini. Ia juga tidak sama di satu tempat untuk segala waktu. Ia berubah dan dinamis. Namun, seakaligus, kebudayaan senantiasa memiliki dimensi-dimensi yang kompleks dengan kebaikan dan keburukan yang bercampur begitu rupa. Kebudayaan yang selalu bersifat dinamis itu pada saat bersamaan merawat serta mengembangkan kemanusiaan dan merusak serta menghancurkan kemanusiaan.</p>
<p>Dengan kata lain, selalu ada dimensi kebudayaan yang memang perlu ditolak, ditransformasi atau diterima dan bahkan dikembangkan. Jika pemahaman ini diterima, maka ada kalanya memang kita harus menolak kebudayaan, namun ada kalanya kita menerima kebudayaan. Ada kalanya kita menjauhi dimensi tertentu dari kebudayaan dan ada kalanya kita merangkul dan merayakan cinta Allah melalui dimensi kebudayaan tertentu.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, James Hunter sebenarnya menyampaikan model keempat yang dipercayainya sanggup menjawab panggilan Yesus agar kita &#8220;tetap di dalam dunia namun bukan dari dunia.&#8221; Ia menyebut model keempat itu faithful presence (kehadiran yang setia). Artinya, kita tetap berada di dalam dunia yang dicintai Allah dan ikut mencintai dunia itu, sembari menjaga kesetiaan kita pada identitas kristiani yang telah diubah oleh Injil. Dengan tetap berada di dalam dunia itu, kita berelasi secara dinamis dengan kebudayaan-ada kalanya kita menerima dan bahkan mengelola serta mengembangkan kebudayaan yang sepadan dengan misi Allah, namun ada kalanya kita harus menolak dan melawan kebudayaan yang berlawanan dengan misi Allah. Jadi, kesetiaan kepada Allah terkadang diwujudkan lewat penolakan dan perlawanan terhadap kebudayaan, terkadang diwujudkan lewat penerimaan dan penghargaan terhadap kebudayaan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana memiliki kebijaksanaan untuk menngetahui kapan kita perlu bersikap terhadap kebudayaan dan dengan sikap semacam apa kita melakukannya; kapankah kita perlu melakukan konflik, kompromi, atau kolaborasi dengan kebudayaan lokal yang ada.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, akhirnya, kita perlu sungguh-sungguh bersikap kritis lebih pada bagaimana gereja kita pada masa kini berinteraksi dengan kebudayaan modern yang dihidupinya. Kita dengan mudah mengajukan sikap kritis atau apresiatif terhadap kebudayaan-kebudayaan etnis tertentu, namun kerap gagal menengarai (apalagi mengambil sikap) terhadap kebudayaan modern yang ternyata kita hidup secara aktual.</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
<p>Materi dari Forum Diskusi Teologi, GKI Pondok Indah, 15 Agustus 2011. Diselenggarakan oleh Mabid Pembinaan Umum GKI Pondok Indah bekerja sama dengan Panitia Bulan Budaya 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Israel Alkitab dan Israel Kontemporer</title>
		<link>http://gkipi.org/memahami-israel-alkitab-dan-israel-kontemporer/</link>
		<comments>http://gkipi.org/memahami-israel-alkitab-dan-israel-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6353</guid>
		<description><![CDATA[Menolak Wisata Tanah Suci: Sebuah Pengantar Izinkan saya mulai dengan sebuah sharing pribadi. Selama setahun belakangan, sekitar sepuluh kali saya menerima tawaran untuk menjadi pembimbing spiritual bagi wisata ke tanah suci, Israel. Semua menjanjikan tiket dan akomodasi gratis. Bahkan ada yang memberi kesempatan kepada isteri saya untuk ikut. Gratis juga tentunya. Terlepas dari banyaknya cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menolak Wisata Tanah Suci: Sebuah Pengantar</strong></p>
<p>Izinkan saya mulai dengan sebuah sharing pribadi. Selama setahun belakangan, sekitar sepuluh kali saya menerima tawaran untuk menjadi pembimbing spiritual bagi wisata ke tanah suci, Israel. Semua menjanjikan tiket dan akomodasi gratis. Bahkan ada yang memberi kesempatan kepada isteri saya untuk ikut. Gratis juga tentunya.</p>
<p>Terlepas dari banyaknya cerita yang saya dengar dari banyak anggota jemaat saya yang merasa &#8220;diberkati&#8221; oleh ziarah rohani itu, sejak dulu saya memang selalu tak pernah mau menerima tawaran semacam itu. Mengapa? Alasan saya sederhana saja. Saya sudah mengangkat sebuah tekad pribadi: Selama Israel dan Palestina tidak berdamai sepenuhnya, saya tak akan mau melakukan wisata rohani ke sana.</p>
<p>Sebagian orang mengatakan bahwa itu alasan yang dibuat-buat saja (Mungkin di benak orang itu, saya takut terkena peluru nyasar atau bom random). Namun, saya berpikir, bagaimana mungkin kita menikmati berkat-berkat rohani di tengah penderitaan orang banyak akibat politik dan peperangan yang tak manusiawi itu.</p>
<p>Lantas, LAI meminta saya untuk membahas tema &#8220;Israel Alkitab dan Israel Kontemporer&#8221; di STT GKI I.S. Kijne ini. Lewat penelitian yang saya lakukan selama mempersiapkan makalah ini, banyak informasi baru yang saya peroleh&#8230; Dan saya diyakinkan bahwa keputusan personal saya di atas tepat! Namun, sekaligus, ada kompleksitas tersendiri yang memperkaya keputusan saya itu. Apa yang hendak saya paparkan di bawah ini adalah posisi-posisi teopolitis yang selama ini harus saya nilai keliru terkait dengan problem Israel kontemporer.</p>
<p>Namun sebelumnya, saya perlu menyajikan secara ringkas sejarah kehadiran Israel modern yang memuncak pada konflik berkelanjutan antara Israel dan Palestina. Lantas, sesudah memaparkan dua posisi keliru yang akan saya kritisi, akan dipaparkan posisi yang saya usulkan.</p>
<p><strong>Kisah Sebuah Bangsa Tanpa Tanah</strong></p>
<p>Nicholas de Lange suatu kali menulis, &#8220;<em>Apa yang menyatukan orang-orang Yahudi bukanlah sebuah kredo namun sebuah sejarah: sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah muasal bersama, sebuah masa lalu dan sebuah tujuan yang sama&#8230; terdapat sebuah keyakinan yang kuat bahwa di ujung sejarah ini, umat yang terpencar itu akan dipersatukan di tanah nenek-moyang mereka, Tanah Israel</em>&#8221; (de Lange 2000, 26). Karakteristik semacam inilah yang agaknya membedakan orang-orang Yahudi dari orang-orang Kristen, karena Kekristenan meyakini diri sebagai sebuah iman dan cerita Kekristenan adalah cerita tentang iman yang menyebar ke seluruh dunia tanpa perlu peduli pada muasal geografisnya. Perbedaan antara Yudaisme dan Kekristenan ini–yaitu antara sejarah dan iman–membuat orang Kristen luput memahami motif yang selalu membakar hati orang-orang Yahudi diaspora, yang akhirnya mengkristal ke sebentuk Negara Israel.</p>
<p>Setelah Revolusi Besar Yahudi melawan penjajah Romawi pada tahun 66 berujung pada penghancuran Bait Allah Kedua (tahun 70), muncul serangkaian perang lainnya. Salah satunya adalah Perang Bar Kokhba (132-136). Perang itu disulut oleh kemarahan orang-orang Yahudi yang tadinya menanti janji Kaisar Hadrian untuk membangun kembali Yerusalem. Janji itu diberikan oleh sang kaisar dalam kunjungan ke Yerusalem pada tahun 130. Dalam kenyataannya, pada tahun 131, sang kaisar justru memulai proyek pengubahan kota tersuci bagi orang Israel itu menjadi kota besar bagi pemerintah Romawi (Aelia Capitolina) dan membangun kuil besar bagi dewa Yupiter di atas puing Bait Allah.</p>
<p>Ketegangan meningkat ketika kaisar melarang sunat yang dalam budaya Romawi dianggap sebagai mutilasi. Pada tahun 132 dimulailah Perang Bar Kokhba yang berakhir dengan kekalahan Bar Kokhba di tahun 136. Seluruh nama negeri diganti menjadi Palestina–meminjam nama Filistin yang menjadi musuh Israel kuno.</p>
<p>Orang-orang Yahudi diusir dari tanah mereka dan menjadi umat diaspora yang menyebar ke segala penjuru dunia. Sejak saat itu Yudaisme menjadi sebuah entitas portable yang terserak. Dan bukankah Israel sejak lama memang sudah memiliki segudang pengalaman tercerabut dari tanah mereka. Namun, pada saat bersamaan, bangsa ini selalu saja mengguratkan kerinduan mereka pada tanah terjanji itu. Selama di pembuangan Babil (dimulai 587 BCE), misalnya, sebuah kidung kerinduan akan tanah terjanji itu terekam dalam Mazmur 137:1, &#8220;<em>Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.</em>&#8221;</p>
<p>Akan tetapi harapan akan Sion tidak sama dengan Sionisme. Nama yang belakangan ini muncul pada ujung abad ke-19 sebagai sebuah gerakan politis untuk menciptakan sebuah negara Israel modern, yang tentunya harus dimulai dengan imigrasi kaum Yahudi diaspora ke sebuah lokasi geopolitis yang baru. Nama ini dimunculkan pertama kali oleh Nathan Birnbaum dalam tulisannya, Self-Emancipation:  An Organ of the Zionist. Emansipasi, dengan demikian, menjadi kata kunci, yang muncul sebagai respons atas kegagalan politik asimilasi yang selama ini dijalankan oleh orang-orang Yahudi diaspora. Politik asimilasi ternyata tidak juga menghapuskan sikap anti-semitis yang mengakar di banyak daerah di mana orang-orang Yahudi hidup.</p>
<p>Sikap anti-semitis sendiri bukanlah kisah baru. Ia memiliki sejarah yang panjang, bahkan memiliki akar-akar tertentu dalam Perjanjian Baru–jika ditafsirkan secara keliru. Paulus, misalnya, menulis dalam 2 Tesalonika 2:15, &#8220;<em>Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi.</em>&#8221; Dengan cara lain injil-injil juga menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Yesus.</p>
<p>Sentimen anti-semitis terus berkembang di masa gereja mula-mula dan bahkan sampai dengan Luther sendiri. Perlahan-lahan sentimen anti-semitis religius ini berubah menjadi (atau tepatnya, bertambah dengan) sentimen antisemitis rasial dan bahkan biologis. Lantas, puncak dari sentimen ini tentu saja adalah holocaust atau shoah yang berakibat matinya enam juta orang Yahudi di Eropa oleh Nazisme Hitler.</p>
<p>Namun jauh sebelum Hitler muncul, Sionisme telah bekerja dan memberi hasil yang cukup jelas. Gerakan ini sendiri tak dapat disebut sebagai gerakan religius. Hans Küng dengan tepat mengatakan, &#8220;<em>Berlawanan dengan pengharapan yang murni religius terhadap Sion, Sionisme adalah adalah gerakan politis dan sosial yang berusaha mencapai pembentukan sebuah negara Yahudi (entah di Palestina atau tempat lain) &#8216;dari bawah,&#8217; yaitu lewat tindakan dan usaha manusia&#8230; Sionisme merupakan sebuah gerakan yang secara unik modern yang semakin mensekularisasi dan mempolitisasi janji religius</em>&#8221; (Küng 1992, 283).</p>
<p>Gerakan ini memperoleh bentuk konkretnya lewat Theodore Herlz (1860-1904), seorang jurnalis dan pengacara Yahudi asal Wina. Sama seperti para Sionis lain, Herlz tidak pernah memaknai Sionisme sebagai sebuah gerakan agama, melainkan sebuah gerakan politis. Ideologi Sionisme dengan demikian dirumuskan sebagai sebuah ideologi negara bertanah, yang dengan tepat diwakili oleh kalimat Jacob Klatzkin ini: &#8220;<em>[Pilihan kita adalah] orang-orang Yahudi menebus tanah dan terus hidup, sekalipun isi spiritual dari Yudaisme berubah secara radikal atau kita tetap tinggal di pembuangan dan membusuk, sekalipun tradisi spiritual kita terus hidup</em>&#8221; (Neusner 1995, 168).</p>
<p>Sekalipun beberapa lokasi sempat diusulkan, seperti Uganda, Argentina dan beberapa tempat lain, akhirnya pilihan jatuh ke Palestina. Usaha untuk mencari &#8220;tanah-tanpa-bangsa&#8221; sebagai tempat tinggal bagi &#8220;bangsa-tanpa-tanah&#8221; ini ternyata mengarah pada sebuah tanah yang sudah dihuni oleh sebuah bangsa: Palestina, dengan enam dari tujuh orang yang ada di sana merupakan orang Arab, juga dengan penduduk Islam maupun Kristen! Akhirnya secara bertahap ratusan ribu orang Yahudi di seluruh dunia berimigrasi (aliyah) ke Palestina. Dan itu berarti juga pengusiran paksa bangsa Palestina-Arab. Sang tertindas kini berbalik menjadi penindas.</p>
<p>Sementara anti-semitisme di Dunia Barat mulai melemah, bahkan di sebagian tempat malah berubah menjadi sikap pro-Israel, semangat anti-semitisme menguat hebat di Dunia Islam. Solidaritas politis terhadap bangsa Palestina berubah menjadi solidaritas keagamaan. Jika anti-semitisme adalah sikap keliru pertama yang saya tentang, maka apa yang hendak saya paparkan di bagian selanjutnya adalah sikap pro-Israel sebagai sikap keliru kedua terhadap kasus Israel kontemporer.</p>
<p><strong>Aliansi Janggal</strong></p>
<p>Mereka yang tertarik dengan situasi keberagamaan kontemporer di Amerika Serikat pastilah sepakat bahwa telah berlangsung, khususnya sejak Perang Dunia II berakhir, sebuah persahabatan yang aneh, sebuah aliansi janggal, antara orang-orang Kristen Injili dan Fundamentalis dan orang-orang Israel. Orang-orang Kristen Injili dan Fundamentalis Amerika yang pada umumnya menganut sikap eksklusivisme (keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus) memberi dukungan sangat besar kepada orang-orang Israel yang tidak memercayai Yesus sebagai Mesias. Alasan teologis apa yang melandasi pertemanan ganjil ini?</p>
<p>Orang-orang Kristen Injili-Fundamentalis itu memercayai sebuah teologi yang disebut pre-milenialisme dispensasionalis, yang mengajarkan bahwa pulangnya orang-orang Israel ke Tanah Perjanjian dan berdirinya Negara Israel akan menjadi tanda bagi–bahkan mempercepat datangnya–akhir zaman. Dalam posisi teologis ini, Yesus akan datang dan membasmi semua musuh Israel serta mengangkat semua orang percaya ke awan-awan. Peperangan dahsyat antara Israel dan musuh-musuhnya pun menjadi salah satu tanda lain dari akhir zaman. Itu sebabnya, usaha perdamaian antara Israel dan Palestina mereka pandang sebagai proses makin tertundanya kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Itu sebabnya, pembunuhan Yitzhak Rabin (4 Nopember 1995) dimaknai sebagai hukuman Allah karena ia sudah mengusahakan perdamaian dan mencegah perang.</p>
<p>Sebagian dari mereka kemudian melapisi keyakinan akhir zamannya dengan pendirian bahwa Israel kontemporer tetaplah bangsa pilihan Allah, sama seperti Israel dalam Alkitab. Karena itu, janji Allah kepada Abraham tetap berlaku. Tidak memberkati Israel tentulah berarti mengingkari perintah Allah. Sebagian lagi, belakangan, mulai menganut doktrin perjanjian-ganda (dual covenant) yang mengecualikan Israel dari perjanjian baru Allah melalui dan di dalam Yesus Kristus. Sementara itu, di sisi lain, orang-orang Israel tak memercayai doktrin utama sahabat mereka dan sekadar menerima dukungan keuangan yang sangat besar dan pertolongan untuk memulangkan ribuan orang Israel dari seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Yang pasti, hampir seluruh kaum Sionis atau Dispensasionalis (sebutan lain untuk kelompok Kristen Injili-Fundamentalis yang pro-Israel) ini tak peduli sama sekali dengan nasib orang-orang Kristen Palestina yang cukup besar jumlahnya. Bagi mereka, Palestina secara keseluruhan identik dengan &#8220;musuh Allah.&#8221; Maka, dapat disinyalir, bahwa sikap anti-Palestina yang dimiliki sebagian orang Kristen muncul atas dasar pemahaman bahwa &#8220;musuh dari sahabatku adalah musuhku;&#8221; sedang sikap pro-Israel yang muncul didasari mentalitas &#8220;musuh dari musuhku adalah sahabatku.&#8221;</p>
<p>Kisah panjang-lebar di atas semoga dapat menjadi pintu masuk yang pas untuk membahas isu yang tengah kita diskusikan hari ini. Apakah Israel Alkitab sama dengan Israel Kontemporer? Atau, bagaimana sikap Kristen yang menghayati diri sebagai kontinuitas dari Israel Alkitab terhadap Israel modern?</p>
<p><strong>Sikap Kita</strong></p>
<p>Terlepas dari sejarah sikap orang-orang Kristen terhadap Yudaisme di masa silam, gereja-gereja pada masa kini sangat beragam. Sikap gereja-gereja Injili dan fundamentalis di Amerika Serikat, sebagaimana dibahas di atas, mewakili sisi kanan, sedangkan sikap gereja-gereja arus utama lazimnya berada di sisi sebaliknya.</p>
<p>Tentang kelompok yang terakhir bisalah dikatakan dua hal. Pertama, muncul kesadaran dan pernyataan-pernyataan eksplisit pasca-holocaust yang mengutuki tindakan biadab tersebut, yang justru muncul di negara-negara di mana orang Kristen menjadi mayoritas. Posisi semacam itu sekaligus menegaskan kontinuitas dan diskontinuitas antara Yudaisme dan Kekristenan. Beberapa gereja malah meminta maaf atas sikap diam mereka saat holocaust terjadi. Kedua, terlepas dari usaha melepaskan diri dari anti-semitisme, gereja-gereja juga mengambil sikap kritis terhadap invasi Israel ke Palestina. World Council of Churches atau Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC atau DGD), misalnya, telah mengambil sikap yang relatif konsisten atas konflik Timur Tengah sejak tahun 1948, yaitu sejak deklarasi Negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948. Sikap ajek WCC itu dapat dirumuskan ke dalam sebelas sikap dasar:</p>
<ol>
<li>Rakyat Palestina memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri (selfdetermination);</li>
<li> Israel dan keamanan mereka yang sah perlu diakui;</li>
<li>Perlunya kehidupan dan kesaksian gereja-gereja lokal menuntun gereja seluruh dunia dalam doa, dukungan dan advokasi bagi perdamaian;</li>
<li>Yerusalem haruslah menjadi sebuah kota yang terbuka, inklusif dan didiami bersama dalam hal kedaulatan dan kewarganegaraan.</li>
<li>Pendudukan adalah ilegal, demikian juga ekspansi yang berlangsung;</li>
<li>Tembok Pemisah adalah ilegal.</li>
<li>Dukungan terhadap sebuah solusi dua-negara (two-state solution);</li>
<li>Dukungan terhadap kelompok-kelompok di kedua pihak yang berjuang bagi perdamaian;</li>
<li>Kekerasan dalam segala bentuknya dikecam;</li>
<li>Tekanan embargo ekonomi merupakan bentuk-bentuk tekanan yang bisa diterima demi tercapainya perdamaian;</li>
<li>Perdamaian di Israel dan Palestina tak terpisahkan dari perdamaian dunia .</li>
</ol>
<p>Sikap WCC ini menunjukkan beberapa hal menarik. Pertama, Israel modern disikapi secara proporsional sebagai sebuah entitas politis modern, yang berbeda dengan Israel Alkitab. Akibatnya, sikap kritis terhadap situasi konflik tidak dilambari oleh sentimen religius. Kedua, perdamaian dan keadilan menjadi prinsip utama dalam bersikap, sehingga pemihakan dilakukan kepada siapa pun yang menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan.</p>
<p>Sehubungan dengan hal kedua di atas, peta politik hubungan Israel-Palestina rupanya telah meyakinkan WCC bahwa pemihakan harus lebih diberikan pada rakyat Palestina yang menjadi korban penindasan Israel. Hal ini terbukti dari dukungan yang diberikan oleh WCC maupun banyak gereja anggotanya terhadap dokumen penting yang dilansir pada tanggal 11 Desember 2009, yang bernama Kairos Palestine: A Moment of Truth. Dokumen ini merupakan jeritan pemimpin-pemimpin Kristen Palestina yang di satu sisi menolak tafsir fundamentalis atas Kitab Suci dan tradisi Kristen yang justru melakukan pembenaran dan legitimasi atas pendudukan Palestina oleh Israel dan, di sisi lain, menyuarakan pesan profetis gereja agar perdamaian yang adil (just peace) bisa diperjuangkan bagi kedua negara. Terhadap yang pertama, sebuah kalimat menarik muncul dan semoga membantu kita (gereja-gereja di Indonesia) untuk mengambil sikap pula:</p>
<blockquote><p>6.1. &#8230;However, it is also a call to repentance; to revisit fundamentalist theological positions that support certain unjust political options with regard to the Palestinian people. It is a call to stand alongside the oppressed and preserve the word of God as good news for all rather than to turn it into a weapon with which to slay the oppressed. The word of God is a word of love for all His creation. God is not the ally of one against the other, nor the opponent of one in the face of the other. God is the Lord of all and loves all, demanding justice from all and issuing to all of us the same commandments. We ask our sister Churches not to offer a theological cover-up for the injustice we suffer, for the sin of the occupation imposed upon us. Our question to our brothers and sisters in the Churches today is: Are you able to help us get our freedom back, for this is the only way you can help the two peoples attain justice, peace, security and love?</p></blockquote>
<p>Atas dasar pemaparan saya dan sikap WCC dan Dokumen Kairos Palestine di atas, izinkan saya merumuskan beberapa butir kesimpulan dan refleksi terhadap topik bahasan kita.</p>
<ol>
<li>Israel modern harus dibedakan dengan Israel Alkitab. Israel modern adalah sebuah entitas politis modern. Namun, pada saat bersaman kita tetap harus menghargai warisan religius Yudais yang dipertahankan oleh orang-orang Yahudi (bukan negara Israel). Terdapat kontinuitas dan diskontinuitas antara Yudaisme dan Kekristenan–justru karena iman kita pada Yesus Kristus, yang lahir sebagai seorang Yahudi itu.</li>
<li>Kita perlu menolak dua sikap keliru yang banyak menjangkiti orang Kristen: anti-semitisme religius-rasial terhadap orang Yahudi dan dukungan kepada Israel hanya dengan asumsi bahwa Israel modern identik dengan Israel Alkitab.</li>
<li>Sikap terhadap konflik Israel-Palestina harus dilandasi prinsip kristiani yang diajarkan Yesus: perdamaian, keadilan, persahabatan, penghargaan pada perbedaan. Kita perlu mengecam pihak mana pun melanggar prinsip-prinsip itu.</li>
<li>Dukungan terhadap proses perdamaian Israel-Palestina harus dikerjakan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, baik melalui doa maupun karya.</li>
</ol>
<p>Tiga refleksi di atas tentu saja dapat diperkaya selanjutnya atau melalui diskusi kita, selain juga sebagai tambahan atas sebelas prinsip dasar WCC yang saya sepakati. Untuk menutup makalah ini, izinkan saya mengekspresikan sebuah pengandaian. Seandainya saya memperoleh kesempatan untuk melakukan sebuah wisata rohani ke Tanah Palestina dan diberi kebebasan untuk menetapkan rute yang akan saya jalani, maka saya akan mengunjungi situs-situs menarik di Israel dan Palestina, mengunjungi penduduk lokal di kedua negara, secara khusus mengunjungi Yerusalem serta menaikkan sebuah doa perdamaian agar kota itu menjadi kota bagi tiga agama (Kristen, Islam dan Yahudi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Literatur</span><br />
De Lange, Nicholas. An Introduction to Judaism. Cambridge: Cambridge University Press, 2000.<br />
Küng, Hans. Judaism: The Religious Situation of Our Time. London: SCM, 1992.<br />
Neusner, Jacob. Judaism in Modern Times: An Introduction and Reader. Oxford: Basil Blackwell, 1995.<br />
Tjen, Anwar. &#8220;Israel dan Prasangka-Prasangka Kita.&#8221; Dlm. Berteologi Memang Asyik; Kumpulan Refleksi Teologi Menghormati 91 Tahun Pdt. Prof. Dr. P.D. Latuihamallo.&#8221; Jakarta: LAI, 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/memahami-israel-alkitab-dan-israel-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menatalayani Ciptaan-Menata Diri</title>
		<link>http://gkipi.org/menatalayani-ciptaan-menata-diri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menatalayani-ciptaan-menata-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 14:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6277</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1972 diterbitkan sebuah laporan tidak resmi tentang lingkungan oleh sebuah panitia beranggota 152 orang dari 58 negara, atas penugasan Sekjen Konferensi PBB mengenai Lingkungan Hidup Manusia. Laporan itu disusun dalam bentuk buku oleh Barbara Ward &#38; Rene Dubos. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran dan Yayasan Obor (Gramedia, 1974) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 1972 diterbitkan sebuah laporan tidak resmi tentang lingkungan oleh sebuah panitia beranggota 152 orang dari 58 negara, atas penugasan Sekjen Konferensi PBB mengenai Lingkungan Hidup Manusia. Laporan itu disusun dalam bentuk buku oleh Barbara Ward &amp; Rene Dubos. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran dan Yayasan Obor (Gramedia, 1974) dengan judul &#8220;Hanya Satu Bumi–Perawatan dan pemeliharaan sebuah planit kecil.&#8221;</p>
<p>Sejak itu kesadaran akan ekologi atau relasi timbal-balik antara makhluk hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, meningkat tajam. Terutama kesadaran untuk memerhatikan kemunduran lingkungan hidup praktis di segala lini. Di mana-mana (termasuk di Indonesia) dan oleh berbagai pihak (pemerintah, badan-badan internasional, lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau LSM/NGO), berbagai keprihatinan dan peringatan dicetuskan, dibarengi imbauan untuk mengubah paradigma tentang nisbah manusia-alam, tentang tanggung jawab manusia atas kelangsungan alam, serta upaya struktural maupun praktis guna menanggulanginya.</p>
<p>Di kalangan gereja, terutama di Eropa, keprihatinan ini mendapatkan tempat yang cukup luas bahkan mendasar, dalam arti dipadukan dengan upaya pemulihan manusia dan alamnya secara utuh. Sidang Dewan Gereja Sedunia (WCC) tahun 1983 (Vancouver) mendeklarasikan dimulainya proses konsiliar untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Conciliar Process for Justice, Peace and Integrity of Creation). Banyak gereja (di Amerika dan terutama di Eropa) mengadopsinya serta mengintegrasikannya ke dalam program gereja/jemaat mereka.</p>
<p>Namun entah kenapa di Asia, dan terutama di Indonesia, proses itu nyaris tidak ada gaungnya. Padahal ketiga isyu yang dicanangkan itu amat relevan di Asia. Dalam bentuk dan cara yang dipilihnya sendiri, gereja-gereja Asia memang cukup banyak berbuat bagi dua isyu yang pertama, keadilan dan perdamaian. Tetapi isyu lingkungan hidup amat kurang,–bila tidak boleh dikatakan sama sekali tidak–diperhatikan. Beberapa sekolah tinggi teologi dan LSM telah mencoba menjaring dan membina warga jemaat agar menjadi agen perubahan serta pemrakarsa dalam hal perhatian terhadap lingkungan hidup. Namun gaungnya masih amat lemah.</p>
<p>Di lingkungan GKI, ketika GKI masih belum mengaplikasikan leksionari untuk kebaktian Minggu, tema-tema dari Rancangan Khotbah tidak pernah membahas tanggung jawab orang percaya atas lingkungan hidupnya. Apalagi ketika leksionari diberlakukan, tema-tema yang dirumuskan merujuk kepada teks-teks yang dibaca, bukan tema-tema aktual. Alhasil di GKI pada umumnya, dan di GKI Pondok Indah pada khususnya, tidak pernah dikhotbahkan tema-tema lingkungan hidup. Dalam acara-acara pembinaan, termasuk Forum Diskusi Teologi pun, belum pernah tema ini diangkat.</p>
<p>Lalu apakah dan di manakah masalah utamanya untuk mengubah hal ini? Mestinya bukan terletak pada alam lingkungan hidup itu sendiri. Sebab ia punya kemampuan untuk menyeimbangkan bahkan memulihkan diri–salah satu dari kekuasaan Sang Pencipta. Masalahnya hampir pasti terletak pada manusia. Manusia yang ketamakan dan kerakusannya untuk memiliki, memperoleh dan menikmati sebanyak-banyaknya, tak ada tandingannya.</p>
<p>Selain gereja pada umumnya, dan GKI pada khususnya, serta lebih khusus lagi, GKI Pondok Indah, yang jauh tertinggal dari berbagai LSM, perhatian atau tepatnya kepedulian atas lingkungan hidup mestinya menjadi bagian dari moralitas kristiani. Sebab pemulihan dunia dan lingkungan hidup manusia tidak akan mudah terjadi tanpa pemulihan (baca: perubahan) dari cara pandang manusia sendiri atas lingkungan hidupnya. Gereja punya peran strategis dalam hal itu. Namun di hadapannya menjulang tinggi kendala yang harus disingkirkan. Sebab tidaklah mudah untuk mengubah paradigma kehidupan yang sudah begitu mendarah daging berpusat kepada manusia, dan bukan kepada lingkungan hidupnya. Kalau pun perhatian terhadap lingkungan mulai bertumbuh, itu pun masih terlalu berpusat pada pertanyaan apakah ia menguntungkan atau merugikan manusia (antroposentris yang utilitarian). Maka yang dibutuhkan adalah moralitas lingkungan hidup yang melihat kehidupan, dengan manusia di dalamnya, sebagai suatu keutuhan. Manusia adalah bagian dari kehidupan, walau secara teologis ialah yang terpanggil untuk mengelolanya (karena diciptakan menurut &#8220;citra Allah&#8221;).</p>
<p>Untuk itu dibutuhkan pemahaman ulang yang lebih bertanggungjawab atas nisbah manusia-alam lingkungan hidupnya. Yang selama ini pada umumnya dipegangi adalah nisbah yang (terlalu) berpusat pada manusia. Segala sesuatu, alam semesta dan dunia ini, termasuk alam lingkungan hidup kita ini, dipahami sebagai &#8220;diberikan&#8221; kepada manusia untuk diperlakukan sebebas-bebasnya. Dan pemahaman ini di kalangan orang percaya didasarkan pada penafsiran mereka atas ayat-ayat Alkitab, terutama atas Kejadian 1:27-28.</p>
<p>Membaca kembali teks itu dengan teliti, memang ada 2 hal yang amat krusial untuk dipahami di situ. Yang pertama adalah pengertian dari “manusia yang diciptakan menurut ‘gambar Allah’” (Kej. 1:27) dan yang kedua, adalah pengertian dari kata “berkuasalah” (Kej. 1:28).</p>
<p>Pengertian dari kata &#8220;gambar/rupa ALLAH&#8221;,–yang untuk itu menurut hemat saya lebih tepat kata &#8220;citra Allah&#8221;, adalah terjemahan dari kata Ibrani tselem. Alkitab versi KJV, NRSV dan NIV menerjemahkannya dengan kata image. Maka manusia diciptakan bagaikan image di cermin yang mesti sesuai dengan keinginan dari yang empunya, yaitu TUHAN sendiri.</p>
<p>Sedangkan kata &#8220;berkuasa&#8221; adalah terjemahan dari kata Ibrani radah. Alkitab versi King James Version dan New Revised Standard Version menerjemahkannya dengan dominion; sedangkan New Iinternational Version menerjemahkannya dengan kata rule. Memang arti harfiahnya adalah &#8220;menguasai/mengatur&#8221;. Namun itu bukan lalu harus dimengerti sebagai semacam izin untuk mengeksploitasikan dunia habis-habisan, tetapi sebagai tugas yang diemban manusia, yang diciptakan menurut citra Allah.</p>
<p>Maka secara hakiki &#8220;menguasai&#8221; hanya boleh terjadi sesuai maksud Allah atas segenap ciptaan-Nya, yaitu mesti &#8220;menghidupi semua makhluk&#8221; dan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Dunia sebagai lingkungan hidup manusia mesti dimanfaatkan dan dinikmati manusia dengan prinsip penatalayanan (stewardship). Dan itu berarti semata-mata demi segenap makhluk dan dengan pandangan ke depan, yang berarti dengan visi berkelanjutan (sustainable).</p>
<p>Ini mesti menjadi bagian dari moralitas Kristen. Moralitas yang bukan cuma soal kejujuran, keadilan, kesalehan agar masuk sorga. Tetapi moralitas yang utuh di hadapan TUHAN, seturut dengan kehendak dan karya-Nya untuk membarui segenap ciptaan, termasuk manusia. Moralitas lingkungan mestinya diperlakukan sama berat dan sama penting dengan moralitas yang lain.</p>
<p>Dalam kesadaran ini, GKI Pondok Indah memilih fokus dan tema ekologi bagi Bulan Peduli, Mei 2011, di lingkungan jemaat GKI Pondok Indah. Sebagaimana kita tahu tujuan umum dari kegiatan Bulan Peduli adalah pertama-tama membelajarkan dan memberdayakan soal kepedulian. Karena kepedulian adalah salah satu kata kunci dalam visi GKI Pondok Indah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya melalui Bulan Peduli GKI Pondok Indah hendak memraktikkan kepedulian, baik sebagai jemaat maupun pribadi.</p>
<p>Dengan memilih lingkungan hidup sebagai fokus, dengan tema &#8220;Menatalayani Lingkungan–Menata Diri&#8221;, tujuannya Bulan Peduli 2011 GKI Pondok Indah adalah:</p>
<ol>
<li>Warga jemaat GKI Pondok Indah memahami bahwa sebagai anak-anak Tuhan, mereka bertanggungjawab atas pengelolaan segenap ciptaan, khususnya atas lingkungan hidupnya, serta bersedia menerjemahkannya dalam tindakan-tindakan praktis.</li>
<li>GKI Pondok Indah mewujudkan kepeduliannya pada lingkungan hidup dengan membantu sebuah desa di kaki Gunung Merapi yang diterjang awan panas akibat erupsi, dalam upaya &#8220;menghijaukan kembali&#8221; lingkungan hidupnya.</li>
</ol>
<p>Dengan usainya Bulan Peduli 2011, selain proyek Merapi yang masih harus dilaksanakan dan diteruskan, kepedulian ekologis mesti terus dikembangkan di GKI Pondok Indah, dalam segala bentuknya, dari yang amat sederhana hingga yang struktural sifatnya. Sebab &#8220;menatalayani ciptaan&#8221; dan &#8220;menata diri&#8221; dalam terang itu mesti selalu terus terjadi, sebagai bagian dari moralitas kristiani.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bacaan:<br />
Chang, Dr. William, OFMCap, 2001, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.<br />
Deane-Drummond, Celia, 2001, Teologi dan Ekologi &#8211; Buku Pegangan, penerjemah: Pdt. DR. Robert P. Borong, Jakarta: BPK Gunung Mulia.<br />
Milne, Antony, 2006, Our Drowning World &#8211; Dunia di Ambang Kepunahan-Bencana-bencana yang Mengancam Umat Manusia, penerjemah: J.B. Srijanto, Jakarta: BPK Gunung Mulia.<br />
Niles, D. Preman, 1991, Justice, Peace and the Integrity of Creation; Dictionary of the Ecumenical Movement, Geneva: WCC Publications.<br />
Rasmussen, Larry L., 2010, Komunitas Bumi: Etika Bumi, penerjemah: Liem Sien Kie, Jakarta: BPK Gunung Mulia.<br />
Ward, Barbara &amp; Dubos, Rene, 1974, Hanya Satu Bumi -Perawatan dan Pemeliharaan Sebuah Planit Kecil, penerjemah: S. Supomo, Jakarta: PT. Gramedia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menatalayani-ciptaan-menata-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Wahyu, Orang-Orang yang Dimeteraikan dari Bangsa Israel dan Orang Banyak yang Tidak Terhitung Banyaknya.</title>
		<link>http://gkipi.org/kitab-wahyu-orang-orang-yang-dimeteraikan-dari-bangsa-israel-dan-orang-banyak-yang-tidak-terhitung-banyaknya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kitab-wahyu-orang-orang-yang-dimeteraikan-dari-bangsa-israel-dan-orang-banyak-yang-tidak-terhitung-banyaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 14:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6146</guid>
		<description><![CDATA[I. Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel-114.000 ORANG UNTUK TUGAS ALLAH A. Rencana Kekal Allah Dalam buku &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; karya Ray C. Stedman, dijelaskan bahwa setiap orang Kristen non-Yahudi (Gentiles) patut berutang budi atas hidup kekalnya kepada umat Yahudi. Seperti dikatakan Yesus kepada wanita Samaria di sumur: &#8220;&#8230;sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi&#8221; (Yohanes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I. Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel-114.000 ORANG UNTUK TUGAS ALLAH</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>A. Rencana Kekal Allah</strong></p>
<p>Dalam buku &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; karya Ray C. Stedman, dijelaskan bahwa setiap orang Kristen non-Yahudi (Gentiles) patut berutang budi atas hidup kekalnya kepada umat Yahudi. Seperti dikatakan Yesus kepada wanita Samaria di sumur: &#8220;<em>&#8230;sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi</em>&#8221; (Yohanes 4:22). Yesus, sang Juru Selamat dunia, adalah seorang Yahudi keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Dalam Perjanjian Baru, Israel menjadi pusat perhatian karena janji diberikan kepada mereka dan menjadi milik bangsa Israel.</p>
<ol>
<li>Keutamaan umat Israel terlihat dalam Injil, ketika Yesus mengirim kedua belas murid-Nya untuk berkhotbah dan menyembuhkan dalam nama-Nya. Yesus berpesan, &#8220;<em>Jangan kamu menyimpang ke jalan bangsa lain… melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel</em>&#8221; (Matius 10:5, 6).</li>
<li>Paulus mengkhususkan rencana kekal Allah mengenai Israel dalam Kitab Roma pasal 9, 10 dan 11 serta meramalkan bahwa suatu waktu kelak, Allah akan memulihkan keutamaan Israel di antara bangsa-bangsa di dunia.</li>
<li>Sepanjang rentang sejarah dan melalui seluruh halaman Firman-Nya, Allah dengan tegas dan gamblang menyatakan rencana abadi-Nya bagi bangsa Israel. Dalam Wahyu 7, puncak rencana itu terlihat. Dua kelompok orang dalam jumlah yang sangat besar muncul di cakrawala nubuat:</li>
</ol>
<ul>
<li>Yang pertama adalah umat Yahudi yang beralih agama dan bertobat (jemaat Kristen) dan berjumlah 144.000 jiwa (Wahyu 7:1-8);</li>
<li>Yang lain adalah kumpulan orang yang sangat banyak sehingga tidak terhitung jumlahnya (a great multitude which no one could number) terdiri atas umat bukan Yahudi (Gentiles) dari setiap bangsa (Wahyu 7: 9-17).</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>B. Angin dari Allah</strong></p>
<p>&#8220;<em>Kemudian daripada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon&#8230; Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup, dan berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, katanya: &#8216;Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!</em>&#8216;&#8221; ( Wahyu 7:1-3).</p>
<p>Keempat penjuru dunia secara sederhana menunjukkan tanda kompas utara, selatan, tImur dan barat dari bumi yang bulat, dan dengan demikan merujuk pada keseluruhan bumi. &#8220;Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman&#8221; (It is He who sits above the circle of the earth&#8230; and spreads them out like a tent to dwell in) (Yesaya 40:22).</p>
<p>Keempat malaikat yang menahan &#8220;keempat angin bumi&#8221; akan mendapat perhatian dari penduduk bumi, sama seperti sangkakala ketujuh menciptakan suatu keheningan surgawi &#8220;&#8230;maka sunyi senyaplah di surga, kira-kira setengah jam lamanya&#8221; (Wahyu 8:1). Kejadian ini merupakan suatu keajaiban/keheranan pada saat terjadinya malapetaka. Dalam Mazmur 135:7 dikatakan: &#8220;<em>Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.</em>&#8221; Angin merupakan pergerakan dari udara pada permukaan bumi yang disebabkan oleh:</p>
<ol>
<li>Proses yang tak henti-hentinya dari pemanasan dan pendinginan planet bumi–yang menyebabkan adanya wilayah bertekanan rendah dan bertekanan tinggi.</li>
<li>Perputaran planet bumi–&#8221;<em>Siapakah yang naik ke surga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!</em>&#8221; (Amsal 30:4).</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, menghalangi angin bertiup dan menghalangi perputaran planet bumi sudah pasti melibatkan rencana Tuhan. &#8220;<em>Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?</em>&#8221; (Behold, I am, the LORD, the God of all flesh. Is there anything too hard for Me?- Yeremiah 32:27). &#8220;<em>… angin badai yang melakukan firman-Nya</em>&#8221; (Stormy wind, fulfilling His word) (Mazmur 148:8).</p>
<p>Penulis William Barclay dalam bukunya berjudul &#8220;The Revelation of John Volume 2&#8243; menjelaskan:</p>
<p>1. Para malaikat diperintahkan untuk:<br />
a. Menahan angin dari keempat sudut dunia (utara, selatan, timur dan barat) sampai pekerjaan memeteraikan orang-orang setia selesai (Wahyu 7:1);<br />
b. Para malaikat penjaga air diperintahkan Allah untuk menahan air sampai Nuh selesai membangun bahteranya (Henokh 66:1-2).<br />
c. Malaikat dengan obor menyala diperingatkan menahan api ketika Yerusalem diserbu oleh orang-orang Babel, sampai bejana-bejana suci Bait Allah disembunyikan dan selamat dari penjarahan para penyerbu (2 Barukh 6:4).</p>
<p>2. a. Nahum berbicara tentang<br />
Tuhan yang berjalan di dalam puting beliung dan badai (Nahum 1:3);<br />
b. Angin adalah kereta Allah (Yeremia 4:13–&#8221;keretanya kencang seperti angin badai&#8221; (And His chariots are like a whirlwind) dan Yesaya 66:15.<br />
c. Angin adalah napas Allah (Ayub 37:9-10–&#8221;&#8230;Oleh napas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku&#8221; (By the breath of God ice is given, and the broad waters are frozen).<br />
d. Angin mengeringkan sungai dan laut (Nahum 1:4) Begitu mengerikan akibat angin dahsyat puting beliung, dan hal ini dijelaskan dalam kejadian di akhir zaman.</p>
<p>Penulis Ray C. Stedman dalam bukunya &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; memberi gambaran tentang empat malaikat yang diperintahkan untuk menahan keempat angin yang melambangkan kuasa merusakkan. Daratan, lautan dan pohon-pohon muncul sebagai lambang yakni:</p>
<ol>
<li>Israel sebagai bangsa dengan kemantapan dan kekuatan, dengan struktur yang berdasarkan Allah, digambarkan sebagai &#8220;daratan.&#8221;</li>
<li>Lambang lautan menggambarkan bangsa-bangsa non-Yahudi (Gentiles) dan negara-negara kafir khususnya.</li>
<li>Lambang pohon sering mengungkapkan perorangan di berbagai bagian Kitab Suci. Mazmur 1:3 misalnya, menggambarkan orang yang benar sebagai &#8220;pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya dan yang tidak layu daunnya&#8221; (He shall be like a tree, planted by the rivers of water, that brings forth its fruit in its seasons).</li>
</ol>
<p>Pohon adalah lambang laki-laki dan perempuan berpengaruh, orang yang berwenang, yang menonjol di antara khalayak ramai, seperti pohon tinggi di hutan.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>C. Allah yang Hidup (Wahyu 7:2,3)</strong></p>
<p>&#8220;<em>Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai ALLAH YANG HIDUP, dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut. Katanya: &#8220;Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohoh-pohon, sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!</em>&#8221; (ayat 2) (Catatan: Penulis mengutarakan pentingnya arti ALLAH YANG HIDUP).</p>
<p>Penulis William Barclay (The Revelation of John Volume 2) menjelaskan bahwa malaikat tersebut membawa meterai milik Allah yang hidup. Kata Allah yang hidup adalah ungkapan yang disukai oleh para penulis Alkitab:</p>
<ol>
<li>Allah yang hidup berbeda dari ilah-ilah mati yang disembah oleh orang kafir;</li>
<li>Allah yang hidup dipakai sebagai dorongan. Dalam perjuangannya, Yosua mengingatkan umatnya bahwa Allah yang hidup bersama mereka (Yosua 3:9, 10);</li>
<li>Hanya di dalam Allah yang hidup ada kepuasan (Mazmur 42:2);</li>
<li>Hosea mengingatkan umat Israel bahwa sebelumnya mereka bukanlah umat-Nya, tetapi oleh anugerah, mereka telah menjadi anak Allah yang hidup (Hosea 1:10).</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>D. Hamba-Hamba Allah yang Dimeteraikan untuk Tugas Allah</strong></p>
<p>Katanya, &#8220;<em>Jangan merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan HAMBA-HAMBA ALLAH pada dahi mereka</em>&#8221; (saying: &#8220;Do not harm the earth, the sea, or the trees, till we have sealed the servants of our God on their foreheads&#8221;) – Wahyu 7:3.</p>
<p>Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu; seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.</p>
<p>Semua suku keturunan Israel (all the tribes of the children of Israel) (Wahyu 7 ayat 4) telah ditetapkan jumlahnya mulai dari ayat 5 sampai ayat 8. Hal ini menunjukkan bahwa Israel selalu &#8220;berwujud dan ada&#8221; di depan mata Allah. Penetapan 144.000 jiwa yang dimeteraikan karena telah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, sang Juru Selamat (Jemaat Kristen), menunjukkan dan membuktikan bahwa iman di dalam Yesus sebagai Mesias membuat mereka menjadi &#8220;hamba-hamba Allah.&#8221; Dari daftar khusus kedua belas suku keturunan Israel, suku Dan digantikan oleh salah satu putra Yusuf, yaitu Manasye. Salah satu sebab mengapa suku Dan tidak dimasukkan ke dalam daftar tersebut ialah karena suku Dan memperkenalkan murtad kepada bangsa Israel (pemujaan berhala –Hakim-hakim 18:14-31).</p>
<p>Penulis Tim LaHaye dan Jerry B. Jenkins dalam buku mereka berjudul &#8220;Are We Living in The End Times? dengan terjemahannya yang berjudul &#8220;Apakah Kita Hidup di Akhir Jaman?&#8221;) menjelaskan tentang ribuan penginjil (144.000 penginjil Yahudi).</p>
<ol>
<li>Janji Tuhan tentang akhir zaman terdapat di dalam Matius 24:14–&#8221;Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya&#8221; (And his gospel of the kingdom will be preached in all the world as the witness to all the nations, and then the end will come).</li>
<li>Pekerjaan besar ini akan dicapai melalui pelayanan 144.000 saksi yang digambarkan dalam Wahyu 7: 1-8.</li>
</ol>
<ul>
<li>Yohanes memberitahukan bahwa Allah mempunyai pelayanan khusus bagi beribu-ribu petobat Yahudi, masa depan ke Kristus, dan bahwa Tuhan akan menyiapkan jalan bagi mereka dengan menggunakan kuasa Ilahi yang supra alami (Wahyu 7:1-4);</li>
<li>Sebelum bumi ditenggelamkan dalam berbagai malapetaka dan bencana yang dibawa melalui penghakiman meterai keenam, Allah akan membangkitkan 144.000 penginjil Yahudi untuk disebarluaskan ke seluruh dunia dan membawa tuaian jiwa dalam jumlah yang sangat besar (ayat 9).</li>
<li>Setiap &#8220;hamba&#8221; Allah ini akan menerima &#8220;meterai&#8221; di dahi mereka. 144.000 saksi yang dipenuhi oleh Roh Kudus, akan berkhotbah di dunia tidak lama setelah Yesus mengangkat gereja-Nya.</li>
</ul>
<p>Penulis Ray C Stedman dalam bukunya &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; menjelaskan: Pilihan dari satu kelompok umat Yahudi yang khusus akan diberikan misi istimewa selama hari-hari terakhir (disebutkan bahwa kelompok Yahudi yang dipilih ini adalah &#8220;Para Komando Kristus&#8221;). Kelompok ini adalah orang-orang yang telah menerima meterai di dahi mereka dan diisi oleh Roh Kudus. Roh Kudus menuntun dan menguasai pikiran, otak dan kemauan mereka sehingga mereka diatur oleh pikiran Kristus. (Rasul Paulus menulis: &#8220;Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus&#8221; –Filipi 2:5).</p>
<p>Para Komando Kristus yang berjumlah 144.000 jiwa ini akan menggenapi kata-kata Yesus bahwa Injil Kerajaan-Nya akan disampaikan ke seluruh dunia sebagai kesaksian kepada semua bangsa, dan kemudian penghakiman terakhir Allah akan turun ke muka bumi. 144.000 orang ini akan menyebarkan Injil selama kurun waktu tujuh tahun, yang disebut sebagai &#8220;akhir zaman&#8221; atau zaman &#8220;Pencobaan&#8221;. Kelompok umat Yahudi yang diisi oleh Roh Kudus tersebut kelak akan seperti 144.000 rasul Paulus. Dalam Matius 10:5-8, Yesus mengutus kedua belas rasul murid di bawah wewenang-Nya, namun kelompok Yahudi di masa mendatang bukan saja sekadar berjumlah dua belas orang, tetapi 144.000 orang, yaitu dua belas pangkat dua, kali sepuluh pangkat tiga (12 x 12 x 10 x 10 x 10).</p>
<p><strong>II. KELOMPOK BESAR MANUSIA YANG TIDAK TERHITUNG BANYAKNYA MEMUJI ALLAH (Wahyu 7:9-17)</strong></p>
<p>Yohanes kemudian melihat sejumlah kelompok manusia yang tidak terhitung banyaknya dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Kejadian ini merujuk pada kejadian di mana Yesus dielu-elukan memasuki Yerusalem &#8220;<em>&#8230;mereka mengambil daun-daun palem dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: &#8216;Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan Raja Israel</em>&#8216;&#8221; (Yohanes 12:12).</p>
<p>Pemandangan yang lebih indah dilukiskan dalam Wahyu 7:9-17 di mana dengan suara nyaring mereka berseru: &#8220;<em>Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!</em>&#8221; Semua malaikat, tua-tua dan keempat makhluk yang mengelilingi takhta Allah tersungkur dan menyembah Allah dengan puji-pujian. Dan kelompok manusia yang tidak terhitung banyaknya menggunakan jubah putih dan mereka adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar (great tribulation) dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.</p>
<p>Mereka melayani Dia siang dan malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Hal ini karena Anak Domba yang di tengah takhta itu akan menggembalakan dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan (and lead them to living fountains of waters). Di sini Allah menghapus segala air mata dari mata mereka yang pernah menderita untuk mempertahankan dan menyaksikan kepercayaan dan iman mereka kepada Allah Bapa.</p>
<p>Tuhan &#8220;tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman&#8221; (2 Petrus 2:9).Meterai dari Yang Maha Kuasa itu pasti dan tetap (sure and certain)–Dia mengetahui orang-orang yang menjadi milik-Nya, antara lain mereka yang &#8220;meninggalkan kejahatan/kelaliman/ketidakadilan&#8221;–&#8221;Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah &#8220;Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya&#8221; (The Lord knows those who are His) dan &#8220;Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan&#8221; (2 Timotius 2:19).</p>
<p>Wahyu 7: 9-14. Mengenai hasil pelayanan ke-144.000 jiwa tersebut, Ray C. Stedman dalam bukunya &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; menulis bahwa &#8220;Yohanes berada di surga, dan ia melihat semua hal ini dari sudut pandang yang kekal, tidak berdasarkan runut kronologis dan batas waktu. Tidak ada masa lalu atau masa depan dalam orientasi surgawi. Ia melihat ke depan, ke akhir kurun waktu tujuh tahun:</p>
<ol>
<li>Ia menyaksikan suatu kelompok besar orang, terlalu besar untuk dapat dihitung, yang sudah mengatasi dan keluar dari Pencobaan Besar;</li>
<li>Mereka bukan saja umat Yahudi, tetapi datang dari setiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa, yang sudah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba. Mereka memegang tangkai daun palem di tangan mereka.</li>
</ol>
<p>Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kita sekalian! Amin. (Wahyu 22:21). Haleluya.</p>
<p>Erna Kusoy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kitab-wahyu-orang-orang-yang-dimeteraikan-dari-bangsa-israel-dan-orang-banyak-yang-tidak-terhitung-banyaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keberadaan &#8220;Malaikat&#8221; yang Penuh Misteri dan Teka-teki</title>
		<link>http://gkipi.org/keberadaan-malaikat-yang-penuh-misteri-dan-teka-teki/</link>
		<comments>http://gkipi.org/keberadaan-malaikat-yang-penuh-misteri-dan-teka-teki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 02:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6060</guid>
		<description><![CDATA[Kata malaikat terdapat di hampir seluruh Alkitab kita, di dalam 39 kitab Perjanjian Lama (PL) dari Kejadian sampai Maleakhi, dan di dalam 27 kitab Perjanjian Baru (PB) dari Matius sampai Wahyu. Pdt. Thomas Kartomo, dalam ceramahnya di depan para anggota Komisi Usia Lanjut GKI Maleo Raya, mengatakan bahwa kata malaikat terdapat 114 kali di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata malaikat terdapat di hampir seluruh Alkitab kita, di dalam 39 kitab Perjanjian Lama (PL) dari Kejadian sampai Maleakhi, dan di dalam 27 kitab Perjanjian Baru (PB)<br />
dari Matius sampai Wahyu.</p>
<p>Pdt. Thomas Kartomo, dalam ceramahnya di depan para anggota Komisi Usia Lanjut GKI Maleo Raya, mengatakan bahwa kata malaikat terdapat 114 kali di dalam PL dan 163 kali di dalam PB. Di dalam kitab Musa saja (Kejadian hingga Ulangan) kata malaikat muncul 32 kali, tetapi kata itu paling sering muncul di dalam kitab Wahyu, yaitu sampai 63 kali.</p>
<p>Dalam buku &#8220;Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,&#8221; antara lain disebutkan bahwa malaikat adalah utusan atau pesuruh Allah (dalam bahasa Ibrani disebut mal&#8217;akh dan dalam bahasa Yunani angelos), yang mengenal Allah muka dengan muka, karena itu mempunyai kelebihan dari manusia. Disebutkan juga bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah dan mempunyai kemauan bebas seperti manusia, karena itu bisa terpengaruh terhadap godaan dan dosa, sehingga jatuh dan menjadi Iblis atau Setan, sang penguasa kejahatan (lihat antara lain Ayb. 4:18; Mat. 25:41; 2 Petr. 2:4; Why. 12 9).</p>
<p>Di antara para malaikat tersebut ada yang punya nama, antara lain Gabriel, malaikat yang memberi kabar suka cita tentang akan lahirnya Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus (Luk. 1:26-38), dan Mikhael yang memberi semangat untuk tetap bertahan kepada Daniel (Dan.10:13) serta memimpin kekuatan bersama malaikat-malaikat lainnya untuk menghukum Iblis (Why. 12:7).</p>
<p>Dan jangan lupa bahwa pada saat Yesus Kristus datang untuk kedua kalinya nanti, Ia akan diiringi oleh para malaikat (lihat Mat.16:27). Menurut buku tersebut, &#8220;para malaikat lebih kuat dan lebih berkuasa dari manusia&#8221; (lihat antara lain 2 Sam. 14:17, 20 dan 2 Petr. 2:11). Dalam banyak kutipan, malaikat sering disamakan dengan Tuhan dan berbicara bukan hanya dalam nama Tuhan tetapi sebagai Tuhan (lihat misalnya pembicaraan malaikat dengan Hagar pada Kej. 16:10 dan Kej. 21:17), walau lebih sering kedudukan mereka dinyatakan sebagai utusan-Nya (lihat antara lain 2 Sam. 24:16). Tetapi menyangkut malaikat ini memang masih banyak hal yang misterius seperti kapan mereka diciptakan, di mana mereka berdiam sekarang, berapa banyak jumlah mereka dsb., karena memang Alkitab tidak secara tegas menyatakan hal tersebut.</p>
<p>Alkitab pada umumnya menggambarkan malaikat sebagai suatu makhluk rohani yang terpisah dari Allah, tetapi dengan integritas, kebajikan dan kepatuhan yang tidak diragukan lagi. Dalam banyak hal malaikat digambarkan sebagai makhluk surgawi yang diutus Allah untuk berurusan dengan manusia sebagai agen dan/atau juru bicara pribadi-Nya. Oleh karena itu, Alkitab edisi Study yang baru diterbitkan LAI pada tahun 2010 juga mengatakan bahwa kata malaikat seakar dengan kata Ibrani mal&#8217;akh yang berarti utusan. Malaikat membawa pesan dari Allah kepada manusia, namun malaikat terkadang lebih dari sekadar membawa pesan. Ia juga bertindak sebagai wakil Allah, dengan menghukum orang yang berdosa dan kuasa jahat lainnya (lihat antara lain Kel. 23:23, Yes. 37:36).</p>
<p>Malaikat menampakkan diri dalam berbagai wujud, seperti kepada Musa yang melihatnya dalam nyala api (Kel. 3:2), Yakub melihatnya turun-naik di tangga langit dan bumi (Kej. 28:12), malaikat yang bernama Gabriel terbang ke Daniel dalam Dan. 9:21 dan malaikat bernama Mikhael pada Dan. 10:13 datang dalam mimpi seperti kepada Yusuf pada Mat. 1:20.</p>
<p>Alkitab menekankan juga bahwa malaikat dikenal sebagai makhluk rohani yang berjuang sebagai utusan Allah untuk berperang mengalahkan Iblis dan roh jahat. Perhatikan misalnya ketika Yusuf yang &#8220;tulus hati&#8221; tidak mau mencemarkan nama isterinya, Maria, dan hendak menceraikannya dengan diam-diam, maka malaikat Tuhan datang melalui mimpi untuk menasihatinya (lihat Mat. 1:20), dan ingat juga kisah Daniel yang aman di gua singa setelah ia berdoa (Dan. 6:23), karena para malaikat menjaganya. Oleh karena itu, di dalam Alkitab ditekankan agar kita &#8220;jangan lupa memberi tumpangan kepada orang (maksudnya menolong orang susah), sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat&#8221; (Ibr. 13:2).</p>
<p>Di bagian kedua tentang &#8220;Penciptaan Dunia Spiritual,&#8221;buku &#8220;Teologi Sistematika&#8221; karangan Louis Berkhof (LRII, Ed. 2002, hal. 263-277) mengungkapkan bahwa beberapa ahli teologia, baik dari kalangan Protestan maupun Katolik, beranggapan bahwa malaikat merupakan roh-roh yang diberkati, mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dari manusia dan bebas dari ikatan tubuh jasmani yang kotor, tetapi keberadaannya di bawah batasan tempat.</p>
<p>Adapun penampakan malaikat dalam beberapa kejadian yang sering kita temui dalam Alkitab mengambil tubuh jasmani (duniawi) yang bersifat sementara untuk tujuan pewahyuan. Sebagian bapak gereja pada abad mula-mula berpendapat bahwa para malaikat itu semula diciptakan dalam keadaan baik dan mempunyai tubuh spiritual, tetapi beberapa di antara mereka menyalahgunakan kebebasan itu dan dijatuhkan Allah. Iblis pada awalnya adalah seorang malaikat dengan derajat yang tinggi, kemudian direndahkan oleh Allah karena kesombongan dan ambisinya yang berdosa. Ditekankan oleh buku tersebut bahwa keberadaan para malaikat tersebut hanya secara spiritual. Mereka tidak mempunyai tubuh dan tidak dapat dilihat oleh manusia.</p>
<p>Malaikat, sebagaimana juga hantu, tidak mempunyai daging dan tulang (Luk. 24:39), tidak kawin-mengawin (Mat. 22:30), dapat berada dalam jumlah besar dan dalam tempat terbatas seperti &#8220;legion&#8221; (Luk. 8:30), tidak dapat dilihat (Kol. 1:16). Mereka mempunyai rasio dan moral, tidak dapat mati, pengetahuan mereka lebih tinggi daripada manusia tetapi tidak maha tahu seperti Allah (perhatikan antara lain 2 Sam. 14:20, Ef. 3:10, 1 Petr. 1:12, 2 Petr. 2:11, Mat. 24:30 dan Luk. 20:36). Akan tetapi mereka tetap makhluk terbatas dan makhluk ciptaan Allah. Walaupun mereka lebih bebas dalam ruang dan waktu, tetapi mereka tidak dapat sekaligus berada dalam dua tempat yang berbeda. Jumlah mereka sangat banyak, karena para malaikat itu berulang kali disebut sebagai bala tentara kerajaan surga yang menunjuk pada jumlah yang besar seperti istilah legion di atas. Malaikat tidak seperti organisme, sebab mereka adalah roh atau makhluk rohani, mereka tidak menikah dan tidak melahirkan, jumlah mereka tetap seperti diciptakan sebelumnya sejak semula, jadi tidak ada kenaikan seperti jumlah manusia.</p>
<p>Eksistensi para malaikat seperti itu jelas dinyatakan dan semua agama menyadari dunia spiritual para malaikat tersebut. Gereja Kristen juga percaya pada berbagai tindakan mereka sebagai utusan Allah, walaupun Alkitab tidak berupaya untuk lebih menjelaskan eksistensi mereka. Natur malaikat memang berbeda dengan Allah karena malaikat adalah makhluk yang tidak dapat berada dalam segala tempat dan waktu dan para malaikat itu juga adalah makhluk ciptaan Allah (lihat antara lain dalam Kej. 2:1, Neh. 9:6, Mzm. 103:20-21, Mzm. 148:2-5 dan Kol. 1:16). Adapun waktu penciptaan mereka tidak dapat ditentukan dengan tepat, walau ada yang mengatakan mereka diciptakan sebelum penciptaan segala sesuatu di bumi, tetapi ayat yang menegaskan hal tersebut tidak terdapat di dalam Alkitab. Mungkin tampaknya satu-satunya keterangan yang aman ialah bahwa mereka diciptakan sebelum hari ketujuh sesuai firman di Kej. 2:1, Kel. 20:11 dan Neh. 9: 6.</p>
<p>Perlu kiranya dikemukakan bahwa malaikat memang mempunyai peranan penting dalam agama Yahudi Perjanjian Lama, karena itu penulisan kata-kata menyangkut malaikat dalam Alkitab juga sangat mempengaruhi para penulis kitab-kitab tersebut. Menurut pengalaman mereka, hal ini terjadi karena para malaikat memiliki peranan yang begitu penting di hadapan Allah, sehingga umat Yahudi menganggapnya sebagai makhluk perantara antara Allah dengan manusia. Beberapa tulisan yang menyebutkan peranan para malaikat itu adalah:</p>
<ul>
<li> Hukum Taurat diberikan dengan perantaraan para malaikat (Kis.7:53, Gal.3:19, Ibr. 2:2).</li>
<li>Malaikat merupakan pasukan Allah (Yos. 5:14, 1 Raj. 22:19).</li>
<li>Malaikat memberi bimbingan kepada umat Israel untuk menyeberangi Laut Teberau (Kel. 14:19).</li>
<li>Malaikat ditugaskan menjadi pelindung bagi orang benar (Mzm. 91:11-12, Dan 6:23).</li>
</ul>
<p>Akan tetapi para penulis Perjanjian Baru menekankan bahwa kedudukan Yesus jauh lebih tinggi daripada semua malaikat (Ibr. 1: 2-5), karena Dia adalah Esa dan perantara sejati antara Tuhan dan manusia (lihat 1 Tim 2:5 dan Filp.2:9).</p>
<p>Penulis Ibrani terutama menekankan kedudukan Yesus yang jauh lebih tinggi itu:</p>
<ul>
<li> Para malaikat menyembah Yesus dan yang disembah tentu jauh lebih agung dari yang menyembah (Ibr. 1:6).</li>
<li>Yesus adalah Raja yang duduk di takhta Allah sedang para malaikat adalah pelayan yang bertugas di hadapan Allah (Ibr. 1 :7-8, 13-14).</li>
<li>Yesus memiliki sifat yang mulia (Ibr. 1:5-7), karena Yesus adalah Tuhan, Sang Juru Selamat, dan Imam Besar. Kedudukan-Nya jauh lebih tinggi daripada Musa dan Harun, (lihat Ibr.1 s/d 8).</li>
</ul>
<p>Para malaikat dengan uraian di atas dapat juga dipahami sebagai utusan Tuhan yang menjadi penolong dan penopang hidup orang benar. Oleh karena itu Rasul Paulus menekankan agar kita mempersenjatai diri dengan perisai iman berupa firman Tuhan agar tetap menang dalam menjalani hidup yang penuh gejolak. Firman di dalam Ef. 6:16 berkata, &#8220;…dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.&#8221; Perhatikan misalnya sikap Tuhan kita, Yesus Kristus, yang walau dicobai dengan berbagai godaan yang menggiurkan ketika Ia lapar setelah berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam, tetap teguh dan hidup dalam ketaatan kepada Allah sebagaimana tema khotbah dalam kebaktian Minggu tanggal 13 Maret 2011 yang lalu. Perhatikan ayat terakhir Injil Matius 4:1-11 yang menjadi sumber khotbah tersebut, sebgai berikut, &#8220;Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.&#8221; Jadi, kalau kita mau menang dalam menjalani setiap godaan, kita perlu mencontoh sikap Yesus dengan memahami firman Tuhan dan melakukannya dalam sikap dan perbuatan kita. Janganlah kita meniru jemaat di Laodikia yang suam-suam kuku dan hanya mementingkan harta duniawi sehingga ditegur oleh Allah, tetapi carilah Dia agar menang, karena &#8220;Barang siapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan-Ku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya&#8221; ( lihat Why. 3: 21).</p>
<p>Selamat memahami dan melakukan ajaran Alkitab, Tuhan memberkati dan memberi kekuatan.</p>
<p>R. Sihite</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/keberadaan-malaikat-yang-penuh-misteri-dan-teka-teki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

