<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Bible Talks</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-teologis/bible-talks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Hari Esok dengan Menjadikan Hidup Hari Ini Bermakna</title>
		<link>http://gkipi.org/mempersiapkan-hari-esok-dengan-menjadikan-hidup-hari-ini-bermakna/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mempersiapkan-hari-esok-dengan-menjadikan-hidup-hari-ini-bermakna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 15:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6983</guid>
		<description><![CDATA[Ketika berusia 7 tahun, Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah, karena ayah dan guru-gurunya berpendapat bahwa ia kelewat bodoh. &#8220;Anak ini sangat bodoh, kepalanya kosong tak dapat diajar!&#8221; kata gurunya. Kata-kata itu sangat menusuk perasaan Edison, namun membangkitkan semangatnya untuk berprestasi. Beruntung ia mempunyai ibu kandung mantan guru yang sangat mencintainya. Di rumah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika berusia 7 tahun, Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah, karena ayah dan guru-gurunya berpendapat bahwa ia kelewat bodoh. &#8220;Anak ini sangat bodoh, kepalanya kosong tak dapat diajar!&#8221; kata gurunya. Kata-kata itu sangat menusuk perasaan Edison, namun membangkitkan semangatnya untuk berprestasi.</p>
<p>Beruntung ia mempunyai ibu kandung mantan guru yang sangat mencintainya. Di rumah ia diajar membaca, menulis dan berhitung. Ibunya mendorong Edison melakukan banyak eksperimen.</p>
<p>Pada usia 10 tahun, Edison tertarik ilmu pengetahuan tentang kue, di kereta api.<br />
Pada usia 14 tahun, kondektur kereta api menampar kepalanya sampai tuli.<br />
Pada usia 16 tahun, ia menjadi petugas telegram.<br />
Pada usia 23 tahun, ia membuat telegraf dan mendirikan pabrik kecil di New Ark, New Jersey.<br />
Pada usia 29 tahun, ia mendirikan laboratorium riset, yang merupakan fondasi bagi industri modern.<br />
Pada usia 30 tahun, ia menemukan fonograf, tanpa gagal terlebih dulu.<br />
Pada usia 32 tahun, ia berhasil membuat lampu listrik yang mutunya lebih baik dari lampu listrik tenaga ciptaan Swan.<br />
Pada usia 33 tahun, ia membuat lok listrik eksperimental.<br />
Pada usia 35 tahun, ia membuat pusat listrik tenaga uap di London dan New York.<br />
Pada usia 41 tahun, ia membuat kamera film dan proyektor film.<br />
Pada usia 84 tahun, ia tutup usia.</p>
<p>Ketika orang bertanya kepadanya,&#8221;Apakah jenius itu?&#8221; ia menjawab, &#8220;Jenius adalah 1% bakat, 99% keringat.&#8221;</p>
<p>Edison sering mengalami kegagalan, tapi tak kenal putus asa. Untuk menemukan kawat pijar, ia mengalami kegagalan 9.000 kali. Untuk menemukan aki, 10.000 kali kegagalan. Rajin belajar, giat bekerja, gemar berpikir, itulah Thomas Alva Edison. Kita ikut memetik hasil kerja kerasnya, antara lain: cahaya listrik, bioskop, telepon, radio, televisi, tape recorder, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Menarik Untuk Diteladani</strong></p>
<p>Membaca pengalaman Edison memang mendatangkan rasa kagum. Kita merasa kagum dan bersyukur atas penemuan-penemuannya yang sampai hari ini dapat kita nikmati. Tapi juga sikapnya terhadap penolakan, bahkan serangan yang telah mendatangkan kegagalan dalam hidupnya. Semua itu hanyalah kegagalan yang semu, kegagalan sementara, bahkan keberhasilan yang tertunda. Sebab penolakan yang kadang-kadang ditandai serangan (pemukulan kepala oleh kondektur kereta api), justru menjadi pemacu dan pemicu untuk lebih bersungguh-sungguh meraih keberhasilan. Saya juga pernah membaca tentang Edison, yang tatkala dikatakan mengalami sekian kali kegagalan, sama sekali tidak menandainya sebagai kegagalan, sebab ia tidak mau melakukan hal yang sama, yang kini sudah terbukti tidak cocok atau gagal itu. Itu berarti bahwa semakin banyak ia mengalami &#8220;kegagalan,&#8221; semakin banyak pula ia mengetahui jalan yang tak perlu dilaluinya untuk menuju keberhasilan.</p>
<p>Seseorang yang sukses menjalankan bisnis MLM juga mesti mengalami bermacam-macam &#8220;kegagalan&#8221; ketika ajakan dan tawarannya ditolak orang. Juga ketika tak ada yang memenuhi janji menghadiri pertemuan yang membicarakan produk serta jaringan. Tetapi semua “kegagalan” itu memang sudah termasuk dalam perhitungannya sebagai anak tangga untuk tiba di puncak sukses. Mereka bilang bahwa kegagalan adalah makanan sehari-hari mereka, dan tidak ada keberhasilan tanpa didahului dengan kegagalan.</p>
<p><strong>Hidup Amos yang Berat</strong></p>
<ol>
<li>Amos hanya seorang peternak domba dari Tekoa (Amos 1:1). Di ayat ini dengan sengaja diinformasikan profesinya hanya sebagai peternak, bukan gembala, yang kemungkinan menggembalakan manusia itu. Dengan latar belakang peternak, tentu sangat sulit ketika ia tiba-tiba memunculkan diri di tengah-tengah umat yang religius itu, dan berbicara tentang Tuhan serta kerohanian.</li>
<li>Amos dipanggil Tuhan untuk menegur bangsanya yang sedang tersesat sebab mereka mengharapkan Hari Tuhan, yaitu saat Tuhan akan menghukum musuh-musuh Israel, padahal mereka sendiri sedang memusuhi Tuhan dengan segala upacara keagamaan yang palsu dan memuakkan hati-Nya. Jadi, tugas Amos sangat berat sebab ia tidak diminta Tuhan untuk menyampaikan janji-janji ilahi yang mendatangkan sukacita, tapi teguran yang menyengat tak terduga dan menuntut pertobatan yang menyerang harga diri itu.</li>
<li>Amos yang tiba-tiba muncul dengan penampilan yang tentunya kurang meyakinkan itu, harus berhadapan dengan semua lapisan masyarakat, dan juga harus berani menegur para pemimpin rohani, para petinggi pemerintahan dan raja. Apakah peternak domba yang belum banyak dikenal orang sebagai nabi Tuhan itu tidak akan segera menelan sejumlah kegagalan?</li>
</ol>
<p>Amos tampil sebagai seorang hamba Tuhan yang mempersiapkan hari esok bagi seluruh bangsanya, dengan cara menjadikan hari ini bermakna. Hampir dapat dipastikan bahwa orang seperti Amos itu tidak mempersoalkan kegagalan, sebab ia menjalankan tugasnya tidak dengan setengah hati. Ia mengalir bersama Tuhan, menyatukan hatinya dengan Tuhan. Yang seperti itu sungguh sangat perlu kita coba, kita latih dan kita lakukan terus-menerus sepanjang hidup ini. Mari kita berupaya menyelami perasaan Tuhan berdasarkan pengenalan kita kepada-Nya, sehingga penyampaian firman Tuhan atas situasi tertentu yang kita hadapi akan dapat lebih mengena. Kita bukan sekadar mau menjadi corong Tuhan, tetapi corong yang hidup dari hati dan firman-Nya.</p>
<p>Nah, semua ini akan membuat hidup kita lebih bermakna, sehingga pantas sebagai persiapan untuk hari esok.</p>
<p><strong>Berjaga-jagalah</strong></p>
<p>Ini nasihat yang penting karena belum ada keterlanjuran. Juga penting sebab merindukan kemenangan kita atas kemalasan dalam diri kita, yaitu kemalasan berjaga-jaga mempersiapkan hari esok, khususnya menghadapi akhir zaman.</p>
<p>Jangan sampai kita menjadi seperti lima gadis bodoh dalam perumpamaan Tuhan tadi. Kebodohan mereka karena tidak menyediakan minyak yang cukup dan ikut-ikutan tidur meskipun belum mempersiapkan diri menghadapi sukacita mendatang.</p>
<p>Kepada istri, saya sering bercanda, &#8220;Sudah tua kok pelupa!&#8221; Kelihatannya terbalik, tapi ada satu kebenaran yang tersembunyi, yaitu bahwa semakin tua seharusnya kita bisa menjadi semakin arif. Salah satu kearifan yang patut kita miliki adalah ini: Jangan tersandung pada batu yang sama! Mengapa kita mengulang-ulang terus kesalahan yang sama, yaitu malas berjaga-jaga, malas mempersiapkan tugas (pelayanan). Saya bilang kepada istri dan diri sendiri, &#8220;Awas, jika abai maka kita akan menerima hukuman!&#8221; Maksud saya, barang siapa tidak mau berjaga-jaga maka akan rugi sendiri, tidak bakal memperoleh yang terbaik. Hari esok pasti akan tiba, sambutlah dengan persiapan yang memadai dan bahkan dengan hidup yang bermakna. Apakah itu menyangkut persoalan rumah tangga, bisnis, maupun yang lebih mulia, yaitu keselamatan kita!</p>
<p><strong>Ada Tiga Hal yang Menyakitkan Hati</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, ketika gadis-gadis bodoh dalam perumpamaan tadi minta sedikit minyak dari teman-teman mereka, ternyata mereka telah ditolak dengan tegas tapi masuk akal. &#8220;Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.&#8221;</p>
<p>Iman dan keselamatan memang seperti itu. Dapat kita nikmati dalam kebersamaan, bahkan dengan segenap keluarga, tapi pada akhirnya tetap harus secara pribadi. Tidak benar semboyan, &#8220;Swargo nunut neroko katut&#8221; (Masuk surga menumpang orang lain, masuk ke neraka terbawa orang lain).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, juga menyakitkan dan ditandai rasa kecewa yang besar tatkala mereka mengetahui bahwa pintu sudah ditutup. Dalam hal ini, pintu dapat disebut sebagai pintu kesempatan. Saya bayangkan, bagaimana jika ada orang yang selalu menolak Tuhan Yesus, lalu tiba-tiba di tengah perjalanan hidupnya mengalami kecelakaan kereta api sampai mati seketika. Padahal sudah berulang kali ia diajak mendekat pada gereja dan Tuhan Yesus, tapi jawabnya selalu: &#8220;Kapan-kapan saja.&#8221;</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, yang paling menyakitkan, jika seseorang di akhir hidupnya sampai ditolak oleh Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang selalu memanggil orang berdosa supaya bertobat itu, ternyata menolaknya. Yang bersangkutan merasa diri sangat layak diterima oleh-Nya, namun nyatanya tidak demikian. Dalam segala kebingungannya, setiap orang patut mengetahui satu hal yaitu: Tuhan Yesus berdaulat penuh untuk menerima atau menolak seseorang, berdasarkan pertimbangan-Nya sendiri yang pasti tepat dan sempurna. Kalau begitu, jaga-jaga kita yang pertama adalah mengetahui apa yang harus kita lakukan supaya tidak sampai ditolak oleh Tuhan Yesus, sekarang maupun nanti.</p>
<p><strong>Semua Ada Waktunya</strong></p>
<p>Jika ada yang lahir (belakangan) maka kita sambut dengan sukacita, kalau bisa dengan cucuran air mata sukacita. Tapi kalau ada yang meninggal dunia (lebih dulu) maka biasanya kita berdukacita, boleh saja dengan cucuran air mata, karena kita merasa kehilangan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Tapi betapa pun besarnya dukacita kita, kita harus tetap beriman teguh bahwa suatu hari kelak kita bakal dikumpulkan kembali dalam sukacita surgawi.</p>
<p>Berdukacita secara duniawi adalah dukacita tanpa pengharapan seperti di atas tadi. Jika itu yang terjadi, berarti kita telah mencederai iman kita sendiri, yang selama ini sudah kita bangun dan siapkan dalam rangka mempersiapkan hari esok dan memaknai hari ini.</p>
<p><strong>Mencari Tuhan</strong></p>
<p>&#8220;Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau.&#8221; (Mazmur 70:5a)<br />
Sikap mencari Tuhan adalah sikap yang membutuhkan, merindukan dan mengasihi Tuhan. Jika itu yang kita lakukan sekarang, berarti kita telah mempersiapkan hari esok dengan benar, dan menjadikan hidup hari ini bermakna!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Em. Daud Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mempersiapkan-hari-esok-dengan-menjadikan-hidup-hari-ini-bermakna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjumpaan Injil dan Budaya</title>
		<link>http://gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 01:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6722</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah terbersit dalam pikiran, saya akan punya kesempatan untuk berkunjung dan bahkan merasakan kehidupan selama satu malam dua hari di Pesantren &#8220;Pandanaran&#8221; Jogjakarta dalam kaitannya dengan program SITI (Study Intensive Islam) yang diadakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana, pada bulan Juli yang lalu. Upaya untuk mewujudkan &#8220;teologia kontekstual,&#8221; yaitu suatu pemikiran teologia yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak pernah terbersit dalam pikiran, saya akan punya kesempatan untuk berkunjung dan bahkan merasakan kehidupan selama satu malam dua hari di Pesantren &#8220;Pandanaran&#8221; Jogjakarta dalam kaitannya dengan program SITI (Study Intensive Islam) yang diadakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana, pada bulan Juli yang lalu.</p>
<p>Upaya untuk mewujudkan &#8220;teologia kontekstual,&#8221; yaitu suatu pemikiran teologia yang bisa mendarat dan dipahami oleh orang yang hidup di dalam suatu budaya dan tempat tertentu, ternyata tidak hanya monopoli para teolog Kristen, namun juga terjadi pada saudara-saudara teolog Muslim. Misalnya bagaimana menjadikan teks-teks dalam Al-Quran dipahami dengan baik dalam situasi paling aktual sekarang ini dan khususnya dalam kebersamaan hidup dengan agama-agama lainnya. Kemudian bagaimana teks-teks tersebut dapat menjadi pegangan dalam menghadapi &#8220;kemerosotan&#8221; moral dan sekaligus memberikan motivasi yang kuat untuk ikut ambil bagian dalam kemajuan teknologi dan pengetahuan di era globalisasi sekarang ini.</p>
<p>Penerimaan yang sangat terbuka dengan dialog yang hangat dan sangat akrab tanpa perasaan curiga telah membangun persahabatan yang mengarah pada keinginan bersama untuk melakukan yang terbaik bagi keberadaan generasi muda yang saat ini sedang mengalami tantangan yang tidak gampang.</p>
<p>Pengalaman yang kedua dan sangat menginspirasi terjadi pada keikutsertaan saya dalam konven pendeta seluruh GKI yang diselenggarakan pada awal bulan Agustus ini. Salah satu programnya adalah melakukan kunjungan ke &#8220;Kampoeng Kidz&#8221; yaitu Education Land, tempat untuk bermain sambil belajar dengan menggunakan metode Experiental Learning yang membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi remaja.</p>
<p>Tempat ini didirikan pada tahun 2007 oleh Bapak Yulianto yang mempunyai komitmen untuk menolong dan sekaligus memberdayakan anak-anak yang tidak mampu, khususnya anak-anak yatim piatu dari berbagai daerah dan latar belakang agama. Hal yang paling menarik adalah, selain mereka (anak-anak remaja) dapat memperoleh pendidikan dan fasilitasnya dengan gratis, mereka juga harus memelihara budaya serta ketaatan mereka kepada Tuhan sesuai dengan agama masing-masing. Gagasan pluralitas–inklusif–terbuka, partisipatif dan peduli dari Pak Yulianto dan teman-temannya mengingatkan saya pada perwujudan visi dan misi GKI Pondok Indah. Apa yang dilakukan oleh Pak Yulianto sungguh didasarkan pada iman percayanya kepada Injil Tuhan Yesus Kristus.</p>
<p>Perjumpaan dengan dua pengalaman di atas, yang disempurnakan dengan mendengarkan uraian Pdt. Joas Adiprasetya dalam Forum Diskusi Teologia di GKI Pondok Indah tanggal 15 Agustus lalu, telah mendorong saya, pada momentum &#8220;Bulan Budaya&#8221; di GKI Pondok Indah ini, untuk mencermati kembali sejauh mana relevansi Injil dalam menghadapi &#8220;budaya modern,&#8221; khususnya dalam konteks pergumulan kehadiran Gereja di Indonesia saat ini.</p>
<p><strong>Interaksi Injil dan Budaya</strong></p>
<p>Apakah Injil bisa dibebaskan atau dipisahkan dari budaya? Dalam kenyataannya Injil datang bersama dengan kebudayaan barat, dan tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh pada konteks di mana Injil itu dihadirkan. Injil selalu hadir dalam konteks sejarah manusia dan itu berarti sejak dari awal keberadaannya selalu berada dan terbungkus dalam budaya tertentu. Jejak peninggalan yang masih dapat kita saksikan sekarang adalah, pemakaian toga, jas, musik gereja dan liturgi serta organisasi gereja. Jadi jelas kehadiran Injil tidak dapat dilepaskan dari budaya barat yang meliputnya.</p>
<p>Ada konsep teologis yang menyatakan bahwa hubungan Injil dan Budaya seperti biji dengan kulitnya, karena itu kita hanya perlu mendapatkan bijinya dan membungkuskan dengan kulit yang baru. Konsep seperti ini ternyata tidak dapat dipahami karena gambarannya bukan seperti kulit dengan bijinya, melainkan seperti bawang bombai yang tidak punya biji, sehingga sebanyak dan sedalam apa pun dikuliti tidak akan ditemukan apapun karena di dalam kulit bawang itulah meresap semua isinya. Persis seperti Injil yang tumbuh dalam budaya tertentu, ketika dihadirkan di suatu tempat yang baru ia akan tetap berada dalam kulitnya. Yang penting sebenarnya bukanlah memisahkan Injil dari budayanya, melainkan bagaimana dapat secara kritis memberikan makna baru yang bermanfaat bagi budaya setempat, sebab budaya terus berubah secara dinamis.</p>
<p>Oleh karena budaya selalu berkembang, maka kita perlu terus-menerus mencermati perubahan budaya yang terjadi yang saat ini, misalnya mengarah pada budaya modern, post modern, konsumerisme, hedonisme, materialisme, pornografi dan lain-lain. Perkembangan budaya yang seperti ini tidak boleh luput dari pengamatan kita, sebab budaya dapat memberi pengaruh yang buruk tapi juga pengaruh yang baik. Tinggal bagaimana kita dapat memanfaatkan dan memberi makna yang baru dan lebih baik, makna yang bermanfaat bagi kehidupan bersama dalam masyarakat manusia.</p>
<p>Sebelum melanjutkan pokok bahasan kita, mari kita sejenak kembali pada pertanyaan, apa sebenarnya budaya?</p>
<p>Kata kebudayaan, menurut Prof. Koentjaraningrat, seorang antropolog, berasal dari kata Sansekerta: buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata &#8220;buddhi&#8221; atau budi yang artinya roh atau akal, dan daya, yaitu kuasa atau kekuatan, sehingga kebudayaan dapat berarti &#8220;segala sesuatu yang diciptakan oleh budi manusia.&#8221; Istilah ini bila dikawinkan dengan kata kultur, yang berasal dari kata kerja Latin colo, kolere, yang kemudian membentuk kata kerja colere, berarti: membuat, mengolah, mengerjakan, menghias, mendiami (Verkuyl, 1966: 12-13). Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan menjelaskan tentang segala sesuatu yang dipikirkan, diusahakan, serta dikerjakan oleh manusia dalam lingkup (konteks) hidupnya secara utuh untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan.</p>
<p>Dengan demikian, budaya atau kebudayaan memiliki makna yang sangat luas dan seolah tidak ada batasnya. Ia mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia yang lahir sebagai hasil olah akal dan budi, mulai yang terkecil hingga yang terbesar; mulai dari tata cara makan hingga tata cara mengelola sebuah negara.</p>
<p>Ada banyak definisi mengenai kebudayaan, namun semua nampaknya mengerucut pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa kebudayaan adalah ciptaan manusia. Dengan demikian, tidak ada budaya tanpa manusia dan tidak ada manusia tanpa budaya. Manusia dan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.</p>
<p>Perjumpaan antara Injil dan Budaya tidak dapat dilepaskan dari upaya misi atau yang lebih dikenal dengan Pekabaran Injil. Misi sering kali dipahami sebagai usaha penginjilan dengan tujuan penambahan jumlah orang Kristen; dan dengan semangat yang eksklusif (tertutup) usaha penginjilan ini sering kali dilaksanakan tanpa mempertimbangkan konteks masyarakat Indonesia. Kenyataan Indonesia yang ditandai dengan kemiskinan yang merajalela dan keagamaan yang multi-wajah belum mendapat tempat dan perhatian dalam pemahaman dan semangat misi eksklusif yang diwarisi gereja-gereja di Indonesia. Apabila sikap dan semangat eksklusif itu tetap dipertahankan, maka misi Gereja Indonesia dapat dikatakan sedang dalam keadaan krisis, paling tidak krisis dalam pemahaman yang pada gilirannya sangat memengaruhi pelaksanaan misi Gereja.</p>
<p>Bagaimana perjumpaan Injil dan Budaya dalam Alkitab?</p>
<p><strong>Belajar dari Kisah Para Rasul</strong></p>
<p>Perjumpaan Injil dengan budaya lain mengarah pada suatu pembentukan identitas. Petrus, yang pada mulanya bertolak hanya di sekitar Yerusalem, Yudea dan Samaria sebenarnya masih berada dalam masyarakat Yahudi. Ketika Injil berjumpa dengan tradisi Yahudi ini, tidak ada masalah karena masyarakat dan pembawa berita Injil itu sama-sama berlatar belakang Yahudi yang menjalankan kebiasaan-kebiasaan menyangkut makanan haram, hari Sabat, peraturan sunat dan lainnya.</p>
<p>Namun ketika Petrus mulai mengunjungi wilayah pantai yang berkebudayaan Yunani-Romawi, tindakan Petrus ini ternyata membawa dampak yang luar biasa pada cara melaksanakan pemberitaan Injil.</p>
<p>Pelan-pelan menjadi jelas bahwa kekristenan harus menetapkan tradisi baru yang berlainan dengan tradisi Yahudi. Hal inilah yang menimbulkan bentrokan dengan para pemuka agama Yahudi, imam-imam kepala dan kaum Saduki. Dalam pandangan mereka, para penganut kristiani awal dinilai menyeleweng dari tradisi. Dan penyelewengan seperti itu, menurut hukum tidak bisa ditoleransi karena menggoyahkan keutuhan dan kesatuan budaya. Oleh karena itu mudah dipahami kalau orang-orang Kristen pertama itu dikejar-kejar, ditangkap dan dipenjara –dari antara mereka banyak juga yang dibunuh–pertama-tama oleh otoritas agama Yahudi.</p>
<p>Pertemuan dengan alam pikiran Hellenis (budaya Yunani) telah memberikan corak yang baru dalam perkembangan Injil.</p>
<p>Kornelius adalah seorang perwira yang mewakili kekuasaan Romawi, &#8220;Ia saleh, takut akan Allah, memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi, dan senantiasa berdoa kepada Allah&#8221; (Kisah Rasul 10:2, 22). Ia mewakili sekelompok besar orang non-Yahudi yang tertarik kepada paham Yahudi mengenai Allah yang Esa, yang tak terbayangkan dan yang menuntut hidup bermoral tinggi. Tetapi, mereka tidak ingin menjadi bagian dari orang Yahudi karena tidak mau menerima sunat.</p>
<p>Petrus mengalami kebingungan ketika harus melakukan pendekatan dengan perwira Romawi ini hingga ia mendapatkan vision, yakni tentang sebuah taplak yang turun dari surga dan penuh dengan binatang yang haram, disertai ajakan untuk makan hidangan tersebut. Petrus baru mau menerima kehadiran Kornelius setelah tiga kali menerima vision itu dan ia pun menjelaskan tentang kemustahilan seorang Yahudi bergaul dengan orang non-Yahudi, apalagi masuk rumah mereka (10:28). Apabila seorang Yahudi memasuki rumah orang yang tidak memenuhi tuntutan ritual, apalagi makan dengan mereka, maka menurut tradisi atau paham Farisi, ia telah kehilangan kesuciannya dan hanya dapat dipulihkan lewat upacara pentahiran.</p>
<p>Melalui peristiwa ini, Petrus mendapat pencerahan bahwa ia tidak boleh menyebut orang lain yang non-Yahudi sebagai najis atau tidak tahir. Paradigma Petrus mengalami perubahan total. Sebagai umat Allah ia tidak boleh membeda-bedakan manusia yang satu dengan yang lain, semua punya hak yang sama untuk mendapat perhatian dan kepedulian.</p>
<p>Pesan dari kita di atas sangat penting dan relevan dalam konteks Indonesia yang hidup dalam keberagaman keagamaan. Dalam perjumpaan ini, pertama, Petrus menyadari bahwa kasih Allah berlaku bagi semua umat manusia yang mencari Dia dengan segenap hati. Jadi jelas bagi kita sekarang, perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki agama dan kebudayaan lain akan mengubah paham kita akan Injil. Kedua, mau menerima keberadaan orang yang berbeda kebudayaan.</p>
<p>Ketiga, perlu keberanian untuk melakukan peruntuhan tembok-tembok pemisah sekaligus menciptakan keterbukaan dan kerelaan dari ke dua belah pihak untuk melakukan dialog antar agama yang mengarah pada persahabatan dan kerja sama menyelesaikan permasalahan yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Setiap manusia dalam kehidupannya tidak dapat terlepas dari budaya yang telah membentuknya, oleh karena itu bila ada seseorang yang disentuh oleh Injil, maka dalam hidup budayanya, adat istiadatnya akan tetap bersamanya. Injil dalam kuasa pembebasannya tidak mengubah seseorang menjadi orang asing dari budayanya.</p>
<p>Kebudayaan adalah pola hidup manusia dalam kelompok, jadi kebudayaan itu dihayati dan diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok atau komunitas. Iman sebagai relasi yang lebih berdimensi vertikal, dihayati dan diamalkan dalam dimensi horizontal. Sebaliknya kebudayaan yang lebih berdimensi horizontal, tidak dapat dilepaskan dari dimensi vertikal. Bahkan iman dapat diinterpretasikan sebagai sumber dan dasar kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu sering diidentikkan dengan agama yang berdimensi vertikal.</p>
<p>Injil dan budaya sangat penting karena sama-sama mengklaim kewibawaan atas seluruh kenyataan, jadi tidak ada domain wilayah yang terpisah-pisah, karena seluruh kenyataan adalah seluruh wilayah kebudayaan. Budaya pada hakikatnya bicara tentang seluruh hidup manusia. Semua disentuh oleh agama dan budaya, mulai dari pakaian, makanan, musik, bacaan, film, istri, suami, anak, olahraga, ekonomi, politik, teknik dan lain lain.</p>
<p>Karena budaya menyangkut seluruh hidup manusia, maka sering kali terjadi gesek-menggesek antara budaya dan agama, yang bertambah kompleks lagi karena agama sendiri juga memiliki budayanya.</p>
<p>Seorang Batak yang Kristen misalnya, akan selalu mempunyai dua identitas itu di dalam dirinya dan keduanya haruslah terintegrasi, artinya seorang Batak adalah sungguh seorang Batak ketika ia melakukan habitus yang lengkap dilakukan oleh orang Batak dengan segala simbol-simbol yang dipahami dalam tradisi Batak, jadi tidak ada Batak minus tradisi atau kebiasaan tertentu.</p>
<p>Karena itu integrasi dalam budaya dan integrasi dalam kekristenan menjadi sangat penting, sehingga seluruh komponen perlu dipertahankan. Injil dari awal selalu mengajarkan orang untuk kreatif, demikian juga iman Kristen perlu selalu kreatif dalam perkembangannya. Kreativitas ini akan menjadikan orang Kristen berani memahami budayanya secara baru dari sudut pandang iman.</p>
<p>Misalnya pada masa Natal, pohon Natal adalah tradisi penyembahan berhala dewa matahari yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember, tapi kemudian mendapat makna yang baru, sehingga orang Kristen tidak merayakan kelahiran dewa matahari, melainkan kelahiran Yesus. Pada saat hal ini terjadi, orang tidak merasa gelisah, sebaliknya dapat menghayati dengan khusyuk tentang kelahiran Yesus yang sangat romantis sambil merenungkan pentingnya makna ini bagi kehidupan kristiani. Inilah kreativitas iman, panggilan kita adalah menafsir ulang budaya dalam terang iman Kristen. Inilah yang dilakukan ompui Nomensen. Ia tidak langsung melakukan penginjilan, melainkan memberikan makna baru pada tradisi Batak dalam perjumpaannya dengan Injil Yesus Kristus.</p>
<p>Bagaimana orang Kristen memahami perjumpaan Injil dengan Budaya dalam Alkitab dan memberi makna baru dalam situasi kita saat sekarang ini? Yang ekstrim adalah seperti munculnya Jeferson Bible, yaitu Alkitab yang tipis karena semua isi yang dianggap negatif seperti ayat atau perikop yang rasialis, mengandung hal perbudakan dan bertentangan dengan hak asasi manusia, dihapuskan. Cara kedua adalah dengan menafsirkan teks itu secara baru dan bukan hanya yang tersurat, kemudian berusaha menemukan prinsip yang tersirat di balik teks itu. Berdasarkan hal ini maka dilakukan penafsiran baru dari teks-teks yang sudah tidak lagi dapat diberlakukan sekarang ini. Hal ini dilakukan oleh GKI, karena itu GKI mempunyai ajaran yang berkembang terus dan selalu aktual mencoba menanggapi perubahan yang terjadi dalam Budaya, misalnya GKI dengan konsekuen menekankan equality (kesamaan peran pria dan wanita).</p>
<p><strong>Contoh konkret dari Perjanjian Lama</strong></p>
<blockquote><p>Kej. 2:18 TUHAN Allah berfirman: &#8220;Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.&#8221;<br />
Kej. 2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.</p></blockquote>
<p>Kita harus memahami dengan baik bahwa penulis Alkitab dengan latar belakang budaya tertentu, diberi kebebasan untuk mengekspresikan tulisannya. Misalnya penulis kitab Kejadian berlatar belakang budaya patriarkat (budaya di mana lelaki mempunyai kedudukan lebih tinggi dari perempuan). Dalam tulisannya pasti ia lebih menonjolkan lelaki. Misalnya sosok perempuan digambarkan berasal dari salah satu rusuk lelaki (Kejadian 2:21), dengan demikian keberadaan perempuan lebih rendah dari lelaki. Padahal dalam Kejadian 2:18, perempuan diciptakan Tuhan untuk menjadi penolong yang sepadan.</p>
<p>Dalam konteks saat sekarang ini, pemikiran yang membedakan posisi lelaki dan perempuan tidak lagi dapat diterima, karena itu para penafsir mempelajari kembali teks Alkitab untuk menemukan makna baru yang relevan untuk kondisi saat ini. Maka ditemukanlah bahwa ternyata dalam bahasa Ibrani, kata &#8220;penolong&#8221; adalah &#8220;asyer.&#8221; Dalam Alkitab, kata asyer hanya dipakai oleh Allah. Jadi untuk menggambarkan manusia yang menolong manusia lain, tidak dipakai kata ini. Yang kedua, inilah satu-satunya pengecualian dalam teks yang dikenakan pada perempuan. Jadi perempuan sebagai penolong adalah representasi dari Allah yang akan menjadi penolong manusia, laki-laki itu. Dengan penafsiran seperti ini posisi wanita menjadi di atas lelaki atau paling tidak sama.</p>
<p><strong>Resistensi dan Penerimaan</strong></p>
<p>Ada dua sikap yang ekstrim terhadap Budaya yaitu Resistensi dan Penerimaan.</p>
<p>Resistensi adalah sikap yang sama sekali menolak budaya. Semua patung, pakaian adat, ulos, artefak kuno, adat beserta simbol-simbolnya tidak boleh ada di Gereja maupun di rumah orang Kristen. Sikap seperti itu ada baiknya, karena selalu waspada terhadap budaya-budaya yang dapat merusak, seperti budaya menindas perempuan, budaya penghamburan uang untuk suatu pesta adat sampai harus berutang. Tapi di pihak lain, penolakan total ini juga merugikan penginjilan, sebab budaya sering kali menjadi jalan masuk dan jembatan yang paling baik untuk memperkenalkan Injil kepada semua orang.</p>
<p>Penerimaan adalah sikap menerima semua budaya, dan dengan mudah berkata bahwa kebudayaan adalah produk luhur kemanusiaan. Sikap seperti ini juga membahayakan, karena tanpa sikap kritis, orang terlalu mudah mengompromikan Injil dengan Budaya, sehingga berita Injil sering kali menjadi kabur.</p>
<p><strong>Sikap yang baik adalah</strong></p>
<ol>
<li>Kita harus mempelajari sehingga mempunyai pemahaman yang mendalam tentang kebudayaan kita, jangan semena-mena menolak begitu saja.</li>
<li>Kita harus mempelajari sehingga mempunyai pemahaman yang benar dan mendalam tentang Injil. Dengan demikian akan dihasilkan penafsiran ulang yang relevan dengan perubahan Budaya lokal.</li>
<li>Kita harus menerima Budaya dengan cara yang luhur, tapi juga sekaligus mengkritisinya dengan sungguh-sungguh karena kebudayaan pada satu sisi adalah ciptaan Tuhan, karena teologi penciptaan adalah teologi kebudayaan. Budaya adalah karya agung Allah yang harus dipelihara dengan baik sehingga tidak ada lagi pandangan dualistik antara yang sakral dan yang duniawi, semuanya telah melebur menjadi satu.Namun demikian, Budaya tetap harus diwaspadai karena dosa telah merusak, bukan hanya manusia secara personal, namun juga struktur sosial dan kultural yang dibangun manusia. Karena itu Budaya dalam kehidupan manusia dapat berdampak positif tapi juga negatif. (bdk. Joas Adiprasetya–Injil dan Kebudayaan–pada Forum Diskusi Teologi, 15 Agustus 2011, GKI Pondok Indah/di rubrik Teropong Kasut edisi 80/<a  href="http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/" target="_blank">http://gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi/</a>)</li>
</ol>
<p>Perjumpaan Injil dan Budaya dalam perkembangannya memerlukan perhatian yang serius karena menyangkut kehidupan, khususnya generasi muda yaitu bagaimana mereka sanggup mencermati dan sekaligus mengkritisi perjumpaan yang sangat memengaruhi kehidupan aktual saat ini.</p>
<p>Kembali pada awal tulisan di atas, perjumpaan antara Injil dan Budaya atau Agama dan Budaya, ternyata menjadi pergumulan dari setiap orang beragama dalam upaya mendapatkan isi yang relevan untuk memecahkan permasalahan yang muncul dan terus berkembang.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam relevansinya terhadap situasi di Indonesia, yaitu:</p>
<ol>
<li>Perlu diupayakan untuk mencari dasar pemikiran yang sama di antara agama-agama yang mengarah kepada suatu kerja sama guna menyelesaikan permasalahan bangsa yang sedang dihadapi bersama.</li>
<li>Menghilangkan sikap saling curiga-mencurigai, sehingga dapat diadakan dialog persahabatan yang terbuka satu sama lain.</li>
<li>Memberi makna baru terhadap perkembangan Budaya dengan memahami Budaya itu sebaik-baiknya, kemudian melakukan penafsiran ulang terhadap pemikiran teologis yang tidak relevan lagi.</li>
<li>Melakukan &#8220;dialog kehidupan,&#8221; suatu dialog yang bertujuan untuk saling mengenal dan mengarah pada persahabatan, dan berdasarkan pada keterbukaan satu sama lain, tanpa sikap saling curiga.</li>
</ol>
<p>Pdt. Tumpal Tobing</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Israel Alkitab dan Israel Kontemporer</title>
		<link>http://gkipi.org/memahami-israel-alkitab-dan-israel-kontemporer/</link>
		<comments>http://gkipi.org/memahami-israel-alkitab-dan-israel-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6353</guid>
		<description><![CDATA[Menolak Wisata Tanah Suci: Sebuah Pengantar Izinkan saya mulai dengan sebuah sharing pribadi. Selama setahun belakangan, sekitar sepuluh kali saya menerima tawaran untuk menjadi pembimbing spiritual bagi wisata ke tanah suci, Israel. Semua menjanjikan tiket dan akomodasi gratis. Bahkan ada yang memberi kesempatan kepada isteri saya untuk ikut. Gratis juga tentunya. Terlepas dari banyaknya cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menolak Wisata Tanah Suci: Sebuah Pengantar</strong></p>
<p>Izinkan saya mulai dengan sebuah sharing pribadi. Selama setahun belakangan, sekitar sepuluh kali saya menerima tawaran untuk menjadi pembimbing spiritual bagi wisata ke tanah suci, Israel. Semua menjanjikan tiket dan akomodasi gratis. Bahkan ada yang memberi kesempatan kepada isteri saya untuk ikut. Gratis juga tentunya.</p>
<p>Terlepas dari banyaknya cerita yang saya dengar dari banyak anggota jemaat saya yang merasa &#8220;diberkati&#8221; oleh ziarah rohani itu, sejak dulu saya memang selalu tak pernah mau menerima tawaran semacam itu. Mengapa? Alasan saya sederhana saja. Saya sudah mengangkat sebuah tekad pribadi: Selama Israel dan Palestina tidak berdamai sepenuhnya, saya tak akan mau melakukan wisata rohani ke sana.</p>
<p>Sebagian orang mengatakan bahwa itu alasan yang dibuat-buat saja (Mungkin di benak orang itu, saya takut terkena peluru nyasar atau bom random). Namun, saya berpikir, bagaimana mungkin kita menikmati berkat-berkat rohani di tengah penderitaan orang banyak akibat politik dan peperangan yang tak manusiawi itu.</p>
<p>Lantas, LAI meminta saya untuk membahas tema &#8220;Israel Alkitab dan Israel Kontemporer&#8221; di STT GKI I.S. Kijne ini. Lewat penelitian yang saya lakukan selama mempersiapkan makalah ini, banyak informasi baru yang saya peroleh&#8230; Dan saya diyakinkan bahwa keputusan personal saya di atas tepat! Namun, sekaligus, ada kompleksitas tersendiri yang memperkaya keputusan saya itu. Apa yang hendak saya paparkan di bawah ini adalah posisi-posisi teopolitis yang selama ini harus saya nilai keliru terkait dengan problem Israel kontemporer.</p>
<p>Namun sebelumnya, saya perlu menyajikan secara ringkas sejarah kehadiran Israel modern yang memuncak pada konflik berkelanjutan antara Israel dan Palestina. Lantas, sesudah memaparkan dua posisi keliru yang akan saya kritisi, akan dipaparkan posisi yang saya usulkan.</p>
<p><strong>Kisah Sebuah Bangsa Tanpa Tanah</strong></p>
<p>Nicholas de Lange suatu kali menulis, &#8220;<em>Apa yang menyatukan orang-orang Yahudi bukanlah sebuah kredo namun sebuah sejarah: sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah muasal bersama, sebuah masa lalu dan sebuah tujuan yang sama&#8230; terdapat sebuah keyakinan yang kuat bahwa di ujung sejarah ini, umat yang terpencar itu akan dipersatukan di tanah nenek-moyang mereka, Tanah Israel</em>&#8221; (de Lange 2000, 26). Karakteristik semacam inilah yang agaknya membedakan orang-orang Yahudi dari orang-orang Kristen, karena Kekristenan meyakini diri sebagai sebuah iman dan cerita Kekristenan adalah cerita tentang iman yang menyebar ke seluruh dunia tanpa perlu peduli pada muasal geografisnya. Perbedaan antara Yudaisme dan Kekristenan ini–yaitu antara sejarah dan iman–membuat orang Kristen luput memahami motif yang selalu membakar hati orang-orang Yahudi diaspora, yang akhirnya mengkristal ke sebentuk Negara Israel.</p>
<p>Setelah Revolusi Besar Yahudi melawan penjajah Romawi pada tahun 66 berujung pada penghancuran Bait Allah Kedua (tahun 70), muncul serangkaian perang lainnya. Salah satunya adalah Perang Bar Kokhba (132-136). Perang itu disulut oleh kemarahan orang-orang Yahudi yang tadinya menanti janji Kaisar Hadrian untuk membangun kembali Yerusalem. Janji itu diberikan oleh sang kaisar dalam kunjungan ke Yerusalem pada tahun 130. Dalam kenyataannya, pada tahun 131, sang kaisar justru memulai proyek pengubahan kota tersuci bagi orang Israel itu menjadi kota besar bagi pemerintah Romawi (Aelia Capitolina) dan membangun kuil besar bagi dewa Yupiter di atas puing Bait Allah.</p>
<p>Ketegangan meningkat ketika kaisar melarang sunat yang dalam budaya Romawi dianggap sebagai mutilasi. Pada tahun 132 dimulailah Perang Bar Kokhba yang berakhir dengan kekalahan Bar Kokhba di tahun 136. Seluruh nama negeri diganti menjadi Palestina–meminjam nama Filistin yang menjadi musuh Israel kuno.</p>
<p>Orang-orang Yahudi diusir dari tanah mereka dan menjadi umat diaspora yang menyebar ke segala penjuru dunia. Sejak saat itu Yudaisme menjadi sebuah entitas portable yang terserak. Dan bukankah Israel sejak lama memang sudah memiliki segudang pengalaman tercerabut dari tanah mereka. Namun, pada saat bersamaan, bangsa ini selalu saja mengguratkan kerinduan mereka pada tanah terjanji itu. Selama di pembuangan Babil (dimulai 587 BCE), misalnya, sebuah kidung kerinduan akan tanah terjanji itu terekam dalam Mazmur 137:1, &#8220;<em>Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.</em>&#8221;</p>
<p>Akan tetapi harapan akan Sion tidak sama dengan Sionisme. Nama yang belakangan ini muncul pada ujung abad ke-19 sebagai sebuah gerakan politis untuk menciptakan sebuah negara Israel modern, yang tentunya harus dimulai dengan imigrasi kaum Yahudi diaspora ke sebuah lokasi geopolitis yang baru. Nama ini dimunculkan pertama kali oleh Nathan Birnbaum dalam tulisannya, Self-Emancipation:  An Organ of the Zionist. Emansipasi, dengan demikian, menjadi kata kunci, yang muncul sebagai respons atas kegagalan politik asimilasi yang selama ini dijalankan oleh orang-orang Yahudi diaspora. Politik asimilasi ternyata tidak juga menghapuskan sikap anti-semitis yang mengakar di banyak daerah di mana orang-orang Yahudi hidup.</p>
<p>Sikap anti-semitis sendiri bukanlah kisah baru. Ia memiliki sejarah yang panjang, bahkan memiliki akar-akar tertentu dalam Perjanjian Baru–jika ditafsirkan secara keliru. Paulus, misalnya, menulis dalam 2 Tesalonika 2:15, &#8220;<em>Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi.</em>&#8221; Dengan cara lain injil-injil juga menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Yesus.</p>
<p>Sentimen anti-semitis terus berkembang di masa gereja mula-mula dan bahkan sampai dengan Luther sendiri. Perlahan-lahan sentimen anti-semitis religius ini berubah menjadi (atau tepatnya, bertambah dengan) sentimen antisemitis rasial dan bahkan biologis. Lantas, puncak dari sentimen ini tentu saja adalah holocaust atau shoah yang berakibat matinya enam juta orang Yahudi di Eropa oleh Nazisme Hitler.</p>
<p>Namun jauh sebelum Hitler muncul, Sionisme telah bekerja dan memberi hasil yang cukup jelas. Gerakan ini sendiri tak dapat disebut sebagai gerakan religius. Hans Küng dengan tepat mengatakan, &#8220;<em>Berlawanan dengan pengharapan yang murni religius terhadap Sion, Sionisme adalah adalah gerakan politis dan sosial yang berusaha mencapai pembentukan sebuah negara Yahudi (entah di Palestina atau tempat lain) &#8216;dari bawah,&#8217; yaitu lewat tindakan dan usaha manusia&#8230; Sionisme merupakan sebuah gerakan yang secara unik modern yang semakin mensekularisasi dan mempolitisasi janji religius</em>&#8221; (Küng 1992, 283).</p>
<p>Gerakan ini memperoleh bentuk konkretnya lewat Theodore Herlz (1860-1904), seorang jurnalis dan pengacara Yahudi asal Wina. Sama seperti para Sionis lain, Herlz tidak pernah memaknai Sionisme sebagai sebuah gerakan agama, melainkan sebuah gerakan politis. Ideologi Sionisme dengan demikian dirumuskan sebagai sebuah ideologi negara bertanah, yang dengan tepat diwakili oleh kalimat Jacob Klatzkin ini: &#8220;<em>[Pilihan kita adalah] orang-orang Yahudi menebus tanah dan terus hidup, sekalipun isi spiritual dari Yudaisme berubah secara radikal atau kita tetap tinggal di pembuangan dan membusuk, sekalipun tradisi spiritual kita terus hidup</em>&#8221; (Neusner 1995, 168).</p>
<p>Sekalipun beberapa lokasi sempat diusulkan, seperti Uganda, Argentina dan beberapa tempat lain, akhirnya pilihan jatuh ke Palestina. Usaha untuk mencari &#8220;tanah-tanpa-bangsa&#8221; sebagai tempat tinggal bagi &#8220;bangsa-tanpa-tanah&#8221; ini ternyata mengarah pada sebuah tanah yang sudah dihuni oleh sebuah bangsa: Palestina, dengan enam dari tujuh orang yang ada di sana merupakan orang Arab, juga dengan penduduk Islam maupun Kristen! Akhirnya secara bertahap ratusan ribu orang Yahudi di seluruh dunia berimigrasi (aliyah) ke Palestina. Dan itu berarti juga pengusiran paksa bangsa Palestina-Arab. Sang tertindas kini berbalik menjadi penindas.</p>
<p>Sementara anti-semitisme di Dunia Barat mulai melemah, bahkan di sebagian tempat malah berubah menjadi sikap pro-Israel, semangat anti-semitisme menguat hebat di Dunia Islam. Solidaritas politis terhadap bangsa Palestina berubah menjadi solidaritas keagamaan. Jika anti-semitisme adalah sikap keliru pertama yang saya tentang, maka apa yang hendak saya paparkan di bagian selanjutnya adalah sikap pro-Israel sebagai sikap keliru kedua terhadap kasus Israel kontemporer.</p>
<p><strong>Aliansi Janggal</strong></p>
<p>Mereka yang tertarik dengan situasi keberagamaan kontemporer di Amerika Serikat pastilah sepakat bahwa telah berlangsung, khususnya sejak Perang Dunia II berakhir, sebuah persahabatan yang aneh, sebuah aliansi janggal, antara orang-orang Kristen Injili dan Fundamentalis dan orang-orang Israel. Orang-orang Kristen Injili dan Fundamentalis Amerika yang pada umumnya menganut sikap eksklusivisme (keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus) memberi dukungan sangat besar kepada orang-orang Israel yang tidak memercayai Yesus sebagai Mesias. Alasan teologis apa yang melandasi pertemanan ganjil ini?</p>
<p>Orang-orang Kristen Injili-Fundamentalis itu memercayai sebuah teologi yang disebut pre-milenialisme dispensasionalis, yang mengajarkan bahwa pulangnya orang-orang Israel ke Tanah Perjanjian dan berdirinya Negara Israel akan menjadi tanda bagi–bahkan mempercepat datangnya–akhir zaman. Dalam posisi teologis ini, Yesus akan datang dan membasmi semua musuh Israel serta mengangkat semua orang percaya ke awan-awan. Peperangan dahsyat antara Israel dan musuh-musuhnya pun menjadi salah satu tanda lain dari akhir zaman. Itu sebabnya, usaha perdamaian antara Israel dan Palestina mereka pandang sebagai proses makin tertundanya kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Itu sebabnya, pembunuhan Yitzhak Rabin (4 Nopember 1995) dimaknai sebagai hukuman Allah karena ia sudah mengusahakan perdamaian dan mencegah perang.</p>
<p>Sebagian dari mereka kemudian melapisi keyakinan akhir zamannya dengan pendirian bahwa Israel kontemporer tetaplah bangsa pilihan Allah, sama seperti Israel dalam Alkitab. Karena itu, janji Allah kepada Abraham tetap berlaku. Tidak memberkati Israel tentulah berarti mengingkari perintah Allah. Sebagian lagi, belakangan, mulai menganut doktrin perjanjian-ganda (dual covenant) yang mengecualikan Israel dari perjanjian baru Allah melalui dan di dalam Yesus Kristus. Sementara itu, di sisi lain, orang-orang Israel tak memercayai doktrin utama sahabat mereka dan sekadar menerima dukungan keuangan yang sangat besar dan pertolongan untuk memulangkan ribuan orang Israel dari seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Yang pasti, hampir seluruh kaum Sionis atau Dispensasionalis (sebutan lain untuk kelompok Kristen Injili-Fundamentalis yang pro-Israel) ini tak peduli sama sekali dengan nasib orang-orang Kristen Palestina yang cukup besar jumlahnya. Bagi mereka, Palestina secara keseluruhan identik dengan &#8220;musuh Allah.&#8221; Maka, dapat disinyalir, bahwa sikap anti-Palestina yang dimiliki sebagian orang Kristen muncul atas dasar pemahaman bahwa &#8220;musuh dari sahabatku adalah musuhku;&#8221; sedang sikap pro-Israel yang muncul didasari mentalitas &#8220;musuh dari musuhku adalah sahabatku.&#8221;</p>
<p>Kisah panjang-lebar di atas semoga dapat menjadi pintu masuk yang pas untuk membahas isu yang tengah kita diskusikan hari ini. Apakah Israel Alkitab sama dengan Israel Kontemporer? Atau, bagaimana sikap Kristen yang menghayati diri sebagai kontinuitas dari Israel Alkitab terhadap Israel modern?</p>
<p><strong>Sikap Kita</strong></p>
<p>Terlepas dari sejarah sikap orang-orang Kristen terhadap Yudaisme di masa silam, gereja-gereja pada masa kini sangat beragam. Sikap gereja-gereja Injili dan fundamentalis di Amerika Serikat, sebagaimana dibahas di atas, mewakili sisi kanan, sedangkan sikap gereja-gereja arus utama lazimnya berada di sisi sebaliknya.</p>
<p>Tentang kelompok yang terakhir bisalah dikatakan dua hal. Pertama, muncul kesadaran dan pernyataan-pernyataan eksplisit pasca-holocaust yang mengutuki tindakan biadab tersebut, yang justru muncul di negara-negara di mana orang Kristen menjadi mayoritas. Posisi semacam itu sekaligus menegaskan kontinuitas dan diskontinuitas antara Yudaisme dan Kekristenan. Beberapa gereja malah meminta maaf atas sikap diam mereka saat holocaust terjadi. Kedua, terlepas dari usaha melepaskan diri dari anti-semitisme, gereja-gereja juga mengambil sikap kritis terhadap invasi Israel ke Palestina. World Council of Churches atau Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC atau DGD), misalnya, telah mengambil sikap yang relatif konsisten atas konflik Timur Tengah sejak tahun 1948, yaitu sejak deklarasi Negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948. Sikap ajek WCC itu dapat dirumuskan ke dalam sebelas sikap dasar:</p>
<ol>
<li>Rakyat Palestina memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri (selfdetermination);</li>
<li> Israel dan keamanan mereka yang sah perlu diakui;</li>
<li>Perlunya kehidupan dan kesaksian gereja-gereja lokal menuntun gereja seluruh dunia dalam doa, dukungan dan advokasi bagi perdamaian;</li>
<li>Yerusalem haruslah menjadi sebuah kota yang terbuka, inklusif dan didiami bersama dalam hal kedaulatan dan kewarganegaraan.</li>
<li>Pendudukan adalah ilegal, demikian juga ekspansi yang berlangsung;</li>
<li>Tembok Pemisah adalah ilegal.</li>
<li>Dukungan terhadap sebuah solusi dua-negara (two-state solution);</li>
<li>Dukungan terhadap kelompok-kelompok di kedua pihak yang berjuang bagi perdamaian;</li>
<li>Kekerasan dalam segala bentuknya dikecam;</li>
<li>Tekanan embargo ekonomi merupakan bentuk-bentuk tekanan yang bisa diterima demi tercapainya perdamaian;</li>
<li>Perdamaian di Israel dan Palestina tak terpisahkan dari perdamaian dunia .</li>
</ol>
<p>Sikap WCC ini menunjukkan beberapa hal menarik. Pertama, Israel modern disikapi secara proporsional sebagai sebuah entitas politis modern, yang berbeda dengan Israel Alkitab. Akibatnya, sikap kritis terhadap situasi konflik tidak dilambari oleh sentimen religius. Kedua, perdamaian dan keadilan menjadi prinsip utama dalam bersikap, sehingga pemihakan dilakukan kepada siapa pun yang menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan.</p>
<p>Sehubungan dengan hal kedua di atas, peta politik hubungan Israel-Palestina rupanya telah meyakinkan WCC bahwa pemihakan harus lebih diberikan pada rakyat Palestina yang menjadi korban penindasan Israel. Hal ini terbukti dari dukungan yang diberikan oleh WCC maupun banyak gereja anggotanya terhadap dokumen penting yang dilansir pada tanggal 11 Desember 2009, yang bernama Kairos Palestine: A Moment of Truth. Dokumen ini merupakan jeritan pemimpin-pemimpin Kristen Palestina yang di satu sisi menolak tafsir fundamentalis atas Kitab Suci dan tradisi Kristen yang justru melakukan pembenaran dan legitimasi atas pendudukan Palestina oleh Israel dan, di sisi lain, menyuarakan pesan profetis gereja agar perdamaian yang adil (just peace) bisa diperjuangkan bagi kedua negara. Terhadap yang pertama, sebuah kalimat menarik muncul dan semoga membantu kita (gereja-gereja di Indonesia) untuk mengambil sikap pula:</p>
<blockquote><p>6.1. &#8230;However, it is also a call to repentance; to revisit fundamentalist theological positions that support certain unjust political options with regard to the Palestinian people. It is a call to stand alongside the oppressed and preserve the word of God as good news for all rather than to turn it into a weapon with which to slay the oppressed. The word of God is a word of love for all His creation. God is not the ally of one against the other, nor the opponent of one in the face of the other. God is the Lord of all and loves all, demanding justice from all and issuing to all of us the same commandments. We ask our sister Churches not to offer a theological cover-up for the injustice we suffer, for the sin of the occupation imposed upon us. Our question to our brothers and sisters in the Churches today is: Are you able to help us get our freedom back, for this is the only way you can help the two peoples attain justice, peace, security and love?</p></blockquote>
<p>Atas dasar pemaparan saya dan sikap WCC dan Dokumen Kairos Palestine di atas, izinkan saya merumuskan beberapa butir kesimpulan dan refleksi terhadap topik bahasan kita.</p>
<ol>
<li>Israel modern harus dibedakan dengan Israel Alkitab. Israel modern adalah sebuah entitas politis modern. Namun, pada saat bersaman kita tetap harus menghargai warisan religius Yudais yang dipertahankan oleh orang-orang Yahudi (bukan negara Israel). Terdapat kontinuitas dan diskontinuitas antara Yudaisme dan Kekristenan–justru karena iman kita pada Yesus Kristus, yang lahir sebagai seorang Yahudi itu.</li>
<li>Kita perlu menolak dua sikap keliru yang banyak menjangkiti orang Kristen: anti-semitisme religius-rasial terhadap orang Yahudi dan dukungan kepada Israel hanya dengan asumsi bahwa Israel modern identik dengan Israel Alkitab.</li>
<li>Sikap terhadap konflik Israel-Palestina harus dilandasi prinsip kristiani yang diajarkan Yesus: perdamaian, keadilan, persahabatan, penghargaan pada perbedaan. Kita perlu mengecam pihak mana pun melanggar prinsip-prinsip itu.</li>
<li>Dukungan terhadap proses perdamaian Israel-Palestina harus dikerjakan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, baik melalui doa maupun karya.</li>
</ol>
<p>Tiga refleksi di atas tentu saja dapat diperkaya selanjutnya atau melalui diskusi kita, selain juga sebagai tambahan atas sebelas prinsip dasar WCC yang saya sepakati. Untuk menutup makalah ini, izinkan saya mengekspresikan sebuah pengandaian. Seandainya saya memperoleh kesempatan untuk melakukan sebuah wisata rohani ke Tanah Palestina dan diberi kebebasan untuk menetapkan rute yang akan saya jalani, maka saya akan mengunjungi situs-situs menarik di Israel dan Palestina, mengunjungi penduduk lokal di kedua negara, secara khusus mengunjungi Yerusalem serta menaikkan sebuah doa perdamaian agar kota itu menjadi kota bagi tiga agama (Kristen, Islam dan Yahudi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Literatur</span><br />
De Lange, Nicholas. An Introduction to Judaism. Cambridge: Cambridge University Press, 2000.<br />
Küng, Hans. Judaism: The Religious Situation of Our Time. London: SCM, 1992.<br />
Neusner, Jacob. Judaism in Modern Times: An Introduction and Reader. Oxford: Basil Blackwell, 1995.<br />
Tjen, Anwar. &#8220;Israel dan Prasangka-Prasangka Kita.&#8221; Dlm. Berteologi Memang Asyik; Kumpulan Refleksi Teologi Menghormati 91 Tahun Pdt. Prof. Dr. P.D. Latuihamallo.&#8221; Jakarta: LAI, 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/memahami-israel-alkitab-dan-israel-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Wahyu, Orang-Orang yang Dimeteraikan dari Bangsa Israel dan Orang Banyak yang Tidak Terhitung Banyaknya.</title>
		<link>http://gkipi.org/kitab-wahyu-orang-orang-yang-dimeteraikan-dari-bangsa-israel-dan-orang-banyak-yang-tidak-terhitung-banyaknya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kitab-wahyu-orang-orang-yang-dimeteraikan-dari-bangsa-israel-dan-orang-banyak-yang-tidak-terhitung-banyaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 14:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6146</guid>
		<description><![CDATA[I. Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel-114.000 ORANG UNTUK TUGAS ALLAH A. Rencana Kekal Allah Dalam buku &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; karya Ray C. Stedman, dijelaskan bahwa setiap orang Kristen non-Yahudi (Gentiles) patut berutang budi atas hidup kekalnya kepada umat Yahudi. Seperti dikatakan Yesus kepada wanita Samaria di sumur: &#8220;&#8230;sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi&#8221; (Yohanes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I. Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel-114.000 ORANG UNTUK TUGAS ALLAH</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>A. Rencana Kekal Allah</strong></p>
<p>Dalam buku &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; karya Ray C. Stedman, dijelaskan bahwa setiap orang Kristen non-Yahudi (Gentiles) patut berutang budi atas hidup kekalnya kepada umat Yahudi. Seperti dikatakan Yesus kepada wanita Samaria di sumur: &#8220;<em>&#8230;sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi</em>&#8221; (Yohanes 4:22). Yesus, sang Juru Selamat dunia, adalah seorang Yahudi keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Dalam Perjanjian Baru, Israel menjadi pusat perhatian karena janji diberikan kepada mereka dan menjadi milik bangsa Israel.</p>
<ol>
<li>Keutamaan umat Israel terlihat dalam Injil, ketika Yesus mengirim kedua belas murid-Nya untuk berkhotbah dan menyembuhkan dalam nama-Nya. Yesus berpesan, &#8220;<em>Jangan kamu menyimpang ke jalan bangsa lain… melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel</em>&#8221; (Matius 10:5, 6).</li>
<li>Paulus mengkhususkan rencana kekal Allah mengenai Israel dalam Kitab Roma pasal 9, 10 dan 11 serta meramalkan bahwa suatu waktu kelak, Allah akan memulihkan keutamaan Israel di antara bangsa-bangsa di dunia.</li>
<li>Sepanjang rentang sejarah dan melalui seluruh halaman Firman-Nya, Allah dengan tegas dan gamblang menyatakan rencana abadi-Nya bagi bangsa Israel. Dalam Wahyu 7, puncak rencana itu terlihat. Dua kelompok orang dalam jumlah yang sangat besar muncul di cakrawala nubuat:</li>
</ol>
<ul>
<li>Yang pertama adalah umat Yahudi yang beralih agama dan bertobat (jemaat Kristen) dan berjumlah 144.000 jiwa (Wahyu 7:1-8);</li>
<li>Yang lain adalah kumpulan orang yang sangat banyak sehingga tidak terhitung jumlahnya (a great multitude which no one could number) terdiri atas umat bukan Yahudi (Gentiles) dari setiap bangsa (Wahyu 7: 9-17).</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>B. Angin dari Allah</strong></p>
<p>&#8220;<em>Kemudian daripada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon&#8230; Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup, dan berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, katanya: &#8216;Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!</em>&#8216;&#8221; ( Wahyu 7:1-3).</p>
<p>Keempat penjuru dunia secara sederhana menunjukkan tanda kompas utara, selatan, tImur dan barat dari bumi yang bulat, dan dengan demikan merujuk pada keseluruhan bumi. &#8220;Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman&#8221; (It is He who sits above the circle of the earth&#8230; and spreads them out like a tent to dwell in) (Yesaya 40:22).</p>
<p>Keempat malaikat yang menahan &#8220;keempat angin bumi&#8221; akan mendapat perhatian dari penduduk bumi, sama seperti sangkakala ketujuh menciptakan suatu keheningan surgawi &#8220;&#8230;maka sunyi senyaplah di surga, kira-kira setengah jam lamanya&#8221; (Wahyu 8:1). Kejadian ini merupakan suatu keajaiban/keheranan pada saat terjadinya malapetaka. Dalam Mazmur 135:7 dikatakan: &#8220;<em>Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.</em>&#8221; Angin merupakan pergerakan dari udara pada permukaan bumi yang disebabkan oleh:</p>
<ol>
<li>Proses yang tak henti-hentinya dari pemanasan dan pendinginan planet bumi–yang menyebabkan adanya wilayah bertekanan rendah dan bertekanan tinggi.</li>
<li>Perputaran planet bumi–&#8221;<em>Siapakah yang naik ke surga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!</em>&#8221; (Amsal 30:4).</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, menghalangi angin bertiup dan menghalangi perputaran planet bumi sudah pasti melibatkan rencana Tuhan. &#8220;<em>Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?</em>&#8221; (Behold, I am, the LORD, the God of all flesh. Is there anything too hard for Me?- Yeremiah 32:27). &#8220;<em>… angin badai yang melakukan firman-Nya</em>&#8221; (Stormy wind, fulfilling His word) (Mazmur 148:8).</p>
<p>Penulis William Barclay dalam bukunya berjudul &#8220;The Revelation of John Volume 2&#8243; menjelaskan:</p>
<p>1. Para malaikat diperintahkan untuk:<br />
a. Menahan angin dari keempat sudut dunia (utara, selatan, timur dan barat) sampai pekerjaan memeteraikan orang-orang setia selesai (Wahyu 7:1);<br />
b. Para malaikat penjaga air diperintahkan Allah untuk menahan air sampai Nuh selesai membangun bahteranya (Henokh 66:1-2).<br />
c. Malaikat dengan obor menyala diperingatkan menahan api ketika Yerusalem diserbu oleh orang-orang Babel, sampai bejana-bejana suci Bait Allah disembunyikan dan selamat dari penjarahan para penyerbu (2 Barukh 6:4).</p>
<p>2. a. Nahum berbicara tentang<br />
Tuhan yang berjalan di dalam puting beliung dan badai (Nahum 1:3);<br />
b. Angin adalah kereta Allah (Yeremia 4:13–&#8221;keretanya kencang seperti angin badai&#8221; (And His chariots are like a whirlwind) dan Yesaya 66:15.<br />
c. Angin adalah napas Allah (Ayub 37:9-10–&#8221;&#8230;Oleh napas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku&#8221; (By the breath of God ice is given, and the broad waters are frozen).<br />
d. Angin mengeringkan sungai dan laut (Nahum 1:4) Begitu mengerikan akibat angin dahsyat puting beliung, dan hal ini dijelaskan dalam kejadian di akhir zaman.</p>
<p>Penulis Ray C. Stedman dalam bukunya &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; memberi gambaran tentang empat malaikat yang diperintahkan untuk menahan keempat angin yang melambangkan kuasa merusakkan. Daratan, lautan dan pohon-pohon muncul sebagai lambang yakni:</p>
<ol>
<li>Israel sebagai bangsa dengan kemantapan dan kekuatan, dengan struktur yang berdasarkan Allah, digambarkan sebagai &#8220;daratan.&#8221;</li>
<li>Lambang lautan menggambarkan bangsa-bangsa non-Yahudi (Gentiles) dan negara-negara kafir khususnya.</li>
<li>Lambang pohon sering mengungkapkan perorangan di berbagai bagian Kitab Suci. Mazmur 1:3 misalnya, menggambarkan orang yang benar sebagai &#8220;pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya dan yang tidak layu daunnya&#8221; (He shall be like a tree, planted by the rivers of water, that brings forth its fruit in its seasons).</li>
</ol>
<p>Pohon adalah lambang laki-laki dan perempuan berpengaruh, orang yang berwenang, yang menonjol di antara khalayak ramai, seperti pohon tinggi di hutan.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>C. Allah yang Hidup (Wahyu 7:2,3)</strong></p>
<p>&#8220;<em>Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai ALLAH YANG HIDUP, dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut. Katanya: &#8220;Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohoh-pohon, sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!</em>&#8221; (ayat 2) (Catatan: Penulis mengutarakan pentingnya arti ALLAH YANG HIDUP).</p>
<p>Penulis William Barclay (The Revelation of John Volume 2) menjelaskan bahwa malaikat tersebut membawa meterai milik Allah yang hidup. Kata Allah yang hidup adalah ungkapan yang disukai oleh para penulis Alkitab:</p>
<ol>
<li>Allah yang hidup berbeda dari ilah-ilah mati yang disembah oleh orang kafir;</li>
<li>Allah yang hidup dipakai sebagai dorongan. Dalam perjuangannya, Yosua mengingatkan umatnya bahwa Allah yang hidup bersama mereka (Yosua 3:9, 10);</li>
<li>Hanya di dalam Allah yang hidup ada kepuasan (Mazmur 42:2);</li>
<li>Hosea mengingatkan umat Israel bahwa sebelumnya mereka bukanlah umat-Nya, tetapi oleh anugerah, mereka telah menjadi anak Allah yang hidup (Hosea 1:10).</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>D. Hamba-Hamba Allah yang Dimeteraikan untuk Tugas Allah</strong></p>
<p>Katanya, &#8220;<em>Jangan merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan HAMBA-HAMBA ALLAH pada dahi mereka</em>&#8221; (saying: &#8220;Do not harm the earth, the sea, or the trees, till we have sealed the servants of our God on their foreheads&#8221;) – Wahyu 7:3.</p>
<p>Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu; seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.</p>
<p>Semua suku keturunan Israel (all the tribes of the children of Israel) (Wahyu 7 ayat 4) telah ditetapkan jumlahnya mulai dari ayat 5 sampai ayat 8. Hal ini menunjukkan bahwa Israel selalu &#8220;berwujud dan ada&#8221; di depan mata Allah. Penetapan 144.000 jiwa yang dimeteraikan karena telah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, sang Juru Selamat (Jemaat Kristen), menunjukkan dan membuktikan bahwa iman di dalam Yesus sebagai Mesias membuat mereka menjadi &#8220;hamba-hamba Allah.&#8221; Dari daftar khusus kedua belas suku keturunan Israel, suku Dan digantikan oleh salah satu putra Yusuf, yaitu Manasye. Salah satu sebab mengapa suku Dan tidak dimasukkan ke dalam daftar tersebut ialah karena suku Dan memperkenalkan murtad kepada bangsa Israel (pemujaan berhala –Hakim-hakim 18:14-31).</p>
<p>Penulis Tim LaHaye dan Jerry B. Jenkins dalam buku mereka berjudul &#8220;Are We Living in The End Times? dengan terjemahannya yang berjudul &#8220;Apakah Kita Hidup di Akhir Jaman?&#8221;) menjelaskan tentang ribuan penginjil (144.000 penginjil Yahudi).</p>
<ol>
<li>Janji Tuhan tentang akhir zaman terdapat di dalam Matius 24:14–&#8221;Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya&#8221; (And his gospel of the kingdom will be preached in all the world as the witness to all the nations, and then the end will come).</li>
<li>Pekerjaan besar ini akan dicapai melalui pelayanan 144.000 saksi yang digambarkan dalam Wahyu 7: 1-8.</li>
</ol>
<ul>
<li>Yohanes memberitahukan bahwa Allah mempunyai pelayanan khusus bagi beribu-ribu petobat Yahudi, masa depan ke Kristus, dan bahwa Tuhan akan menyiapkan jalan bagi mereka dengan menggunakan kuasa Ilahi yang supra alami (Wahyu 7:1-4);</li>
<li>Sebelum bumi ditenggelamkan dalam berbagai malapetaka dan bencana yang dibawa melalui penghakiman meterai keenam, Allah akan membangkitkan 144.000 penginjil Yahudi untuk disebarluaskan ke seluruh dunia dan membawa tuaian jiwa dalam jumlah yang sangat besar (ayat 9).</li>
<li>Setiap &#8220;hamba&#8221; Allah ini akan menerima &#8220;meterai&#8221; di dahi mereka. 144.000 saksi yang dipenuhi oleh Roh Kudus, akan berkhotbah di dunia tidak lama setelah Yesus mengangkat gereja-Nya.</li>
</ul>
<p>Penulis Ray C Stedman dalam bukunya &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; menjelaskan: Pilihan dari satu kelompok umat Yahudi yang khusus akan diberikan misi istimewa selama hari-hari terakhir (disebutkan bahwa kelompok Yahudi yang dipilih ini adalah &#8220;Para Komando Kristus&#8221;). Kelompok ini adalah orang-orang yang telah menerima meterai di dahi mereka dan diisi oleh Roh Kudus. Roh Kudus menuntun dan menguasai pikiran, otak dan kemauan mereka sehingga mereka diatur oleh pikiran Kristus. (Rasul Paulus menulis: &#8220;Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus&#8221; –Filipi 2:5).</p>
<p>Para Komando Kristus yang berjumlah 144.000 jiwa ini akan menggenapi kata-kata Yesus bahwa Injil Kerajaan-Nya akan disampaikan ke seluruh dunia sebagai kesaksian kepada semua bangsa, dan kemudian penghakiman terakhir Allah akan turun ke muka bumi. 144.000 orang ini akan menyebarkan Injil selama kurun waktu tujuh tahun, yang disebut sebagai &#8220;akhir zaman&#8221; atau zaman &#8220;Pencobaan&#8221;. Kelompok umat Yahudi yang diisi oleh Roh Kudus tersebut kelak akan seperti 144.000 rasul Paulus. Dalam Matius 10:5-8, Yesus mengutus kedua belas rasul murid di bawah wewenang-Nya, namun kelompok Yahudi di masa mendatang bukan saja sekadar berjumlah dua belas orang, tetapi 144.000 orang, yaitu dua belas pangkat dua, kali sepuluh pangkat tiga (12 x 12 x 10 x 10 x 10).</p>
<p><strong>II. KELOMPOK BESAR MANUSIA YANG TIDAK TERHITUNG BANYAKNYA MEMUJI ALLAH (Wahyu 7:9-17)</strong></p>
<p>Yohanes kemudian melihat sejumlah kelompok manusia yang tidak terhitung banyaknya dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Kejadian ini merujuk pada kejadian di mana Yesus dielu-elukan memasuki Yerusalem &#8220;<em>&#8230;mereka mengambil daun-daun palem dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: &#8216;Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan Raja Israel</em>&#8216;&#8221; (Yohanes 12:12).</p>
<p>Pemandangan yang lebih indah dilukiskan dalam Wahyu 7:9-17 di mana dengan suara nyaring mereka berseru: &#8220;<em>Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!</em>&#8221; Semua malaikat, tua-tua dan keempat makhluk yang mengelilingi takhta Allah tersungkur dan menyembah Allah dengan puji-pujian. Dan kelompok manusia yang tidak terhitung banyaknya menggunakan jubah putih dan mereka adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar (great tribulation) dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.</p>
<p>Mereka melayani Dia siang dan malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Hal ini karena Anak Domba yang di tengah takhta itu akan menggembalakan dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan (and lead them to living fountains of waters). Di sini Allah menghapus segala air mata dari mata mereka yang pernah menderita untuk mempertahankan dan menyaksikan kepercayaan dan iman mereka kepada Allah Bapa.</p>
<p>Tuhan &#8220;tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman&#8221; (2 Petrus 2:9).Meterai dari Yang Maha Kuasa itu pasti dan tetap (sure and certain)–Dia mengetahui orang-orang yang menjadi milik-Nya, antara lain mereka yang &#8220;meninggalkan kejahatan/kelaliman/ketidakadilan&#8221;–&#8221;Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah &#8220;Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya&#8221; (The Lord knows those who are His) dan &#8220;Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan&#8221; (2 Timotius 2:19).</p>
<p>Wahyu 7: 9-14. Mengenai hasil pelayanan ke-144.000 jiwa tersebut, Ray C. Stedman dalam bukunya &#8220;God&#8217;s Final Word&#8221; menulis bahwa &#8220;Yohanes berada di surga, dan ia melihat semua hal ini dari sudut pandang yang kekal, tidak berdasarkan runut kronologis dan batas waktu. Tidak ada masa lalu atau masa depan dalam orientasi surgawi. Ia melihat ke depan, ke akhir kurun waktu tujuh tahun:</p>
<ol>
<li>Ia menyaksikan suatu kelompok besar orang, terlalu besar untuk dapat dihitung, yang sudah mengatasi dan keluar dari Pencobaan Besar;</li>
<li>Mereka bukan saja umat Yahudi, tetapi datang dari setiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa, yang sudah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba. Mereka memegang tangkai daun palem di tangan mereka.</li>
</ol>
<p>Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kita sekalian! Amin. (Wahyu 22:21). Haleluya.</p>
<p>Erna Kusoy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kitab-wahyu-orang-orang-yang-dimeteraikan-dari-bangsa-israel-dan-orang-banyak-yang-tidak-terhitung-banyaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keberadaan &#8220;Malaikat&#8221; yang Penuh Misteri dan Teka-teki</title>
		<link>http://gkipi.org/keberadaan-malaikat-yang-penuh-misteri-dan-teka-teki/</link>
		<comments>http://gkipi.org/keberadaan-malaikat-yang-penuh-misteri-dan-teka-teki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 02:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6060</guid>
		<description><![CDATA[Kata malaikat terdapat di hampir seluruh Alkitab kita, di dalam 39 kitab Perjanjian Lama (PL) dari Kejadian sampai Maleakhi, dan di dalam 27 kitab Perjanjian Baru (PB) dari Matius sampai Wahyu. Pdt. Thomas Kartomo, dalam ceramahnya di depan para anggota Komisi Usia Lanjut GKI Maleo Raya, mengatakan bahwa kata malaikat terdapat 114 kali di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata malaikat terdapat di hampir seluruh Alkitab kita, di dalam 39 kitab Perjanjian Lama (PL) dari Kejadian sampai Maleakhi, dan di dalam 27 kitab Perjanjian Baru (PB)<br />
dari Matius sampai Wahyu.</p>
<p>Pdt. Thomas Kartomo, dalam ceramahnya di depan para anggota Komisi Usia Lanjut GKI Maleo Raya, mengatakan bahwa kata malaikat terdapat 114 kali di dalam PL dan 163 kali di dalam PB. Di dalam kitab Musa saja (Kejadian hingga Ulangan) kata malaikat muncul 32 kali, tetapi kata itu paling sering muncul di dalam kitab Wahyu, yaitu sampai 63 kali.</p>
<p>Dalam buku &#8220;Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,&#8221; antara lain disebutkan bahwa malaikat adalah utusan atau pesuruh Allah (dalam bahasa Ibrani disebut mal&#8217;akh dan dalam bahasa Yunani angelos), yang mengenal Allah muka dengan muka, karena itu mempunyai kelebihan dari manusia. Disebutkan juga bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah dan mempunyai kemauan bebas seperti manusia, karena itu bisa terpengaruh terhadap godaan dan dosa, sehingga jatuh dan menjadi Iblis atau Setan, sang penguasa kejahatan (lihat antara lain Ayb. 4:18; Mat. 25:41; 2 Petr. 2:4; Why. 12 9).</p>
<p>Di antara para malaikat tersebut ada yang punya nama, antara lain Gabriel, malaikat yang memberi kabar suka cita tentang akan lahirnya Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus (Luk. 1:26-38), dan Mikhael yang memberi semangat untuk tetap bertahan kepada Daniel (Dan.10:13) serta memimpin kekuatan bersama malaikat-malaikat lainnya untuk menghukum Iblis (Why. 12:7).</p>
<p>Dan jangan lupa bahwa pada saat Yesus Kristus datang untuk kedua kalinya nanti, Ia akan diiringi oleh para malaikat (lihat Mat.16:27). Menurut buku tersebut, &#8220;para malaikat lebih kuat dan lebih berkuasa dari manusia&#8221; (lihat antara lain 2 Sam. 14:17, 20 dan 2 Petr. 2:11). Dalam banyak kutipan, malaikat sering disamakan dengan Tuhan dan berbicara bukan hanya dalam nama Tuhan tetapi sebagai Tuhan (lihat misalnya pembicaraan malaikat dengan Hagar pada Kej. 16:10 dan Kej. 21:17), walau lebih sering kedudukan mereka dinyatakan sebagai utusan-Nya (lihat antara lain 2 Sam. 24:16). Tetapi menyangkut malaikat ini memang masih banyak hal yang misterius seperti kapan mereka diciptakan, di mana mereka berdiam sekarang, berapa banyak jumlah mereka dsb., karena memang Alkitab tidak secara tegas menyatakan hal tersebut.</p>
<p>Alkitab pada umumnya menggambarkan malaikat sebagai suatu makhluk rohani yang terpisah dari Allah, tetapi dengan integritas, kebajikan dan kepatuhan yang tidak diragukan lagi. Dalam banyak hal malaikat digambarkan sebagai makhluk surgawi yang diutus Allah untuk berurusan dengan manusia sebagai agen dan/atau juru bicara pribadi-Nya. Oleh karena itu, Alkitab edisi Study yang baru diterbitkan LAI pada tahun 2010 juga mengatakan bahwa kata malaikat seakar dengan kata Ibrani mal&#8217;akh yang berarti utusan. Malaikat membawa pesan dari Allah kepada manusia, namun malaikat terkadang lebih dari sekadar membawa pesan. Ia juga bertindak sebagai wakil Allah, dengan menghukum orang yang berdosa dan kuasa jahat lainnya (lihat antara lain Kel. 23:23, Yes. 37:36).</p>
<p>Malaikat menampakkan diri dalam berbagai wujud, seperti kepada Musa yang melihatnya dalam nyala api (Kel. 3:2), Yakub melihatnya turun-naik di tangga langit dan bumi (Kej. 28:12), malaikat yang bernama Gabriel terbang ke Daniel dalam Dan. 9:21 dan malaikat bernama Mikhael pada Dan. 10:13 datang dalam mimpi seperti kepada Yusuf pada Mat. 1:20.</p>
<p>Alkitab menekankan juga bahwa malaikat dikenal sebagai makhluk rohani yang berjuang sebagai utusan Allah untuk berperang mengalahkan Iblis dan roh jahat. Perhatikan misalnya ketika Yusuf yang &#8220;tulus hati&#8221; tidak mau mencemarkan nama isterinya, Maria, dan hendak menceraikannya dengan diam-diam, maka malaikat Tuhan datang melalui mimpi untuk menasihatinya (lihat Mat. 1:20), dan ingat juga kisah Daniel yang aman di gua singa setelah ia berdoa (Dan. 6:23), karena para malaikat menjaganya. Oleh karena itu, di dalam Alkitab ditekankan agar kita &#8220;jangan lupa memberi tumpangan kepada orang (maksudnya menolong orang susah), sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat&#8221; (Ibr. 13:2).</p>
<p>Di bagian kedua tentang &#8220;Penciptaan Dunia Spiritual,&#8221;buku &#8220;Teologi Sistematika&#8221; karangan Louis Berkhof (LRII, Ed. 2002, hal. 263-277) mengungkapkan bahwa beberapa ahli teologia, baik dari kalangan Protestan maupun Katolik, beranggapan bahwa malaikat merupakan roh-roh yang diberkati, mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dari manusia dan bebas dari ikatan tubuh jasmani yang kotor, tetapi keberadaannya di bawah batasan tempat.</p>
<p>Adapun penampakan malaikat dalam beberapa kejadian yang sering kita temui dalam Alkitab mengambil tubuh jasmani (duniawi) yang bersifat sementara untuk tujuan pewahyuan. Sebagian bapak gereja pada abad mula-mula berpendapat bahwa para malaikat itu semula diciptakan dalam keadaan baik dan mempunyai tubuh spiritual, tetapi beberapa di antara mereka menyalahgunakan kebebasan itu dan dijatuhkan Allah. Iblis pada awalnya adalah seorang malaikat dengan derajat yang tinggi, kemudian direndahkan oleh Allah karena kesombongan dan ambisinya yang berdosa. Ditekankan oleh buku tersebut bahwa keberadaan para malaikat tersebut hanya secara spiritual. Mereka tidak mempunyai tubuh dan tidak dapat dilihat oleh manusia.</p>
<p>Malaikat, sebagaimana juga hantu, tidak mempunyai daging dan tulang (Luk. 24:39), tidak kawin-mengawin (Mat. 22:30), dapat berada dalam jumlah besar dan dalam tempat terbatas seperti &#8220;legion&#8221; (Luk. 8:30), tidak dapat dilihat (Kol. 1:16). Mereka mempunyai rasio dan moral, tidak dapat mati, pengetahuan mereka lebih tinggi daripada manusia tetapi tidak maha tahu seperti Allah (perhatikan antara lain 2 Sam. 14:20, Ef. 3:10, 1 Petr. 1:12, 2 Petr. 2:11, Mat. 24:30 dan Luk. 20:36). Akan tetapi mereka tetap makhluk terbatas dan makhluk ciptaan Allah. Walaupun mereka lebih bebas dalam ruang dan waktu, tetapi mereka tidak dapat sekaligus berada dalam dua tempat yang berbeda. Jumlah mereka sangat banyak, karena para malaikat itu berulang kali disebut sebagai bala tentara kerajaan surga yang menunjuk pada jumlah yang besar seperti istilah legion di atas. Malaikat tidak seperti organisme, sebab mereka adalah roh atau makhluk rohani, mereka tidak menikah dan tidak melahirkan, jumlah mereka tetap seperti diciptakan sebelumnya sejak semula, jadi tidak ada kenaikan seperti jumlah manusia.</p>
<p>Eksistensi para malaikat seperti itu jelas dinyatakan dan semua agama menyadari dunia spiritual para malaikat tersebut. Gereja Kristen juga percaya pada berbagai tindakan mereka sebagai utusan Allah, walaupun Alkitab tidak berupaya untuk lebih menjelaskan eksistensi mereka. Natur malaikat memang berbeda dengan Allah karena malaikat adalah makhluk yang tidak dapat berada dalam segala tempat dan waktu dan para malaikat itu juga adalah makhluk ciptaan Allah (lihat antara lain dalam Kej. 2:1, Neh. 9:6, Mzm. 103:20-21, Mzm. 148:2-5 dan Kol. 1:16). Adapun waktu penciptaan mereka tidak dapat ditentukan dengan tepat, walau ada yang mengatakan mereka diciptakan sebelum penciptaan segala sesuatu di bumi, tetapi ayat yang menegaskan hal tersebut tidak terdapat di dalam Alkitab. Mungkin tampaknya satu-satunya keterangan yang aman ialah bahwa mereka diciptakan sebelum hari ketujuh sesuai firman di Kej. 2:1, Kel. 20:11 dan Neh. 9: 6.</p>
<p>Perlu kiranya dikemukakan bahwa malaikat memang mempunyai peranan penting dalam agama Yahudi Perjanjian Lama, karena itu penulisan kata-kata menyangkut malaikat dalam Alkitab juga sangat mempengaruhi para penulis kitab-kitab tersebut. Menurut pengalaman mereka, hal ini terjadi karena para malaikat memiliki peranan yang begitu penting di hadapan Allah, sehingga umat Yahudi menganggapnya sebagai makhluk perantara antara Allah dengan manusia. Beberapa tulisan yang menyebutkan peranan para malaikat itu adalah:</p>
<ul>
<li> Hukum Taurat diberikan dengan perantaraan para malaikat (Kis.7:53, Gal.3:19, Ibr. 2:2).</li>
<li>Malaikat merupakan pasukan Allah (Yos. 5:14, 1 Raj. 22:19).</li>
<li>Malaikat memberi bimbingan kepada umat Israel untuk menyeberangi Laut Teberau (Kel. 14:19).</li>
<li>Malaikat ditugaskan menjadi pelindung bagi orang benar (Mzm. 91:11-12, Dan 6:23).</li>
</ul>
<p>Akan tetapi para penulis Perjanjian Baru menekankan bahwa kedudukan Yesus jauh lebih tinggi daripada semua malaikat (Ibr. 1: 2-5), karena Dia adalah Esa dan perantara sejati antara Tuhan dan manusia (lihat 1 Tim 2:5 dan Filp.2:9).</p>
<p>Penulis Ibrani terutama menekankan kedudukan Yesus yang jauh lebih tinggi itu:</p>
<ul>
<li> Para malaikat menyembah Yesus dan yang disembah tentu jauh lebih agung dari yang menyembah (Ibr. 1:6).</li>
<li>Yesus adalah Raja yang duduk di takhta Allah sedang para malaikat adalah pelayan yang bertugas di hadapan Allah (Ibr. 1 :7-8, 13-14).</li>
<li>Yesus memiliki sifat yang mulia (Ibr. 1:5-7), karena Yesus adalah Tuhan, Sang Juru Selamat, dan Imam Besar. Kedudukan-Nya jauh lebih tinggi daripada Musa dan Harun, (lihat Ibr.1 s/d 8).</li>
</ul>
<p>Para malaikat dengan uraian di atas dapat juga dipahami sebagai utusan Tuhan yang menjadi penolong dan penopang hidup orang benar. Oleh karena itu Rasul Paulus menekankan agar kita mempersenjatai diri dengan perisai iman berupa firman Tuhan agar tetap menang dalam menjalani hidup yang penuh gejolak. Firman di dalam Ef. 6:16 berkata, &#8220;…dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.&#8221; Perhatikan misalnya sikap Tuhan kita, Yesus Kristus, yang walau dicobai dengan berbagai godaan yang menggiurkan ketika Ia lapar setelah berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam, tetap teguh dan hidup dalam ketaatan kepada Allah sebagaimana tema khotbah dalam kebaktian Minggu tanggal 13 Maret 2011 yang lalu. Perhatikan ayat terakhir Injil Matius 4:1-11 yang menjadi sumber khotbah tersebut, sebgai berikut, &#8220;Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.&#8221; Jadi, kalau kita mau menang dalam menjalani setiap godaan, kita perlu mencontoh sikap Yesus dengan memahami firman Tuhan dan melakukannya dalam sikap dan perbuatan kita. Janganlah kita meniru jemaat di Laodikia yang suam-suam kuku dan hanya mementingkan harta duniawi sehingga ditegur oleh Allah, tetapi carilah Dia agar menang, karena &#8220;Barang siapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan-Ku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya&#8221; ( lihat Why. 3: 21).</p>
<p>Selamat memahami dan melakukan ajaran Alkitab, Tuhan memberkati dan memberi kekuatan.</p>
<p>R. Sihite</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/keberadaan-malaikat-yang-penuh-misteri-dan-teka-teki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menyikapi  Bahasa Lidah  (Glossolalia)?</title>
		<link>http://gkipi.org/bagaimana-menyikapi-bahasa-lidah-glossolalia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bagaimana-menyikapi-bahasa-lidah-glossolalia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 04:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5915</guid>
		<description><![CDATA[All parts of the human body get tired eventually–except the tongue. Konrad Adenauer Bahasa Lidah: Syibolet dalam Kekristenan Bahasa lidah (glossolalia, speaking in tongues) pada masa kini telah menjadi sebuah syibolet di dalam kekristenan modern, khususnya di kalangan Protestantisme. Kata syibolet muncul di dalam tragedi perang antara suku Efraim dan orang-orang Gilead pada masa pemerintahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>All parts of the human body get tired eventually–except the tongue.<br />
Konrad Adenauer</p></blockquote>
<p><strong>Bahasa Lidah: Syibolet dalam Kekristenan</strong></p>
<p>Bahasa lidah (glossolalia, speaking in tongues) pada masa kini telah menjadi sebuah syibolet di dalam kekristenan modern, khususnya di kalangan Protestantisme. Kata syibolet muncul di dalam tragedi perang antara suku Efraim dan orang-orang Gilead pada masa pemerintahan Yefta (Hak. 12:4-6).</p>
<p>Ketika penduduk Efraim kalah dalam perang itu, mereka berusaha lari dengan menyeberangi Sungai Yordan, padahal orang-orang Gilead menjaga tempat-tempat penyeberangan sungai itu. Kepada setiap orang yang hendak menyeberang, para penjaga dari kelompok Gilead memaksanya berkata syibolet (yang artinya: “arus yang mengalir”). Orang-orang Efraim memang memiliki dialek yang tidak memungkinkan mereka untuk mengatakan syibolet namun sibolet (yang artinya: “kuping jagung”). Jika seseorang mengatakan syibolet (artinya, ia bukan orang Efraim), selamatlah ia. Namun, jika orang itu mengatakan sibolet (artinya, ia seorang Efraim), disembelihlah ia.</p>
<p>Kitab Cinta Kasih kita mencatat, “Pada waktu itu tewaslah dari suku Efraim empat puluh dua ribu orang” (ay. 6). Kini, kata syibolet menjadi sebuah penanda linguistik untuk menentukan identitas seseorang–siapa “kami” dan siapa “mereka.”</p>
<p>Bahasa lidah agaknya juga sudah menjadi syibolet di dalam kekristenan. Dulu, ketika pentakostalisme mulai muncul, mereka yang berbahasa lidah dianggap sesat; kini bahasa lidah dipergunakan justru oleh orang-orang pentakostal dan karismatik untuk mengklaim bahwa mereka yang tidak bisa berbahasa lidah bukanlah orang Kristen yang sejati.</p>
<p>Di kalangan pentakostal sendiri sesungguhnya banyak pandangan yang beragam sehubungan dengan pertanyaan, apakah bahasa lidah “wajib” dimiliki orang-orang Kristen yang telah mengalami “baptisan Roh.” Sebagian besar menyatakan bahwa bahasa lidah (atau mereka menyebutnya “bahasa Roh”) merupakan tanda pasti bagi baptisan Roh (misalnya di dalam pengakuan iman GBI). Sebagian kecil mulai mengambil sikap lunak dengan menyatakan bahwa mereka percaya pada “baptisan Roh Kudus yaitu kepenuhan Roh Kudus dengan tanda berkata-kata dalam berbagai bahasa sebagaimana diilhamkan oleh Roh Kudus dan diterima oleh orang percaya, bertobat dan lahir baru” (Pengakuan Iman GpdI), dengan menyuratkan bahwa “berbagai bahasa itu” mencakup bahasa lidah. Sebagian malah sama sekali tidak mencantumkan bahasa lidah dalam pengakuan iman mereka (misalnya GSJA).</p>
<p>Dengan semangat untuk menghindari s[y]iboletisme ini, bagaimana GKI perlu memahami isu bahasa lidah? Bagaimana Alkitab memberi kesaksian mengenai gejala ini? Mempertanyakan fenomena bahasa lidah dalam terang Alkitab merupakan cara awal terbaik untuk mengambil sikap atas fenomena ini.</p>
<p><strong>GLOSSOLALIA: STUDI KATA</strong><br />
Kata Yunani glossolalia merupakan gabungan dua kata glossa (lidah) dan laleo (berbicara). Kata laleo sendiri di dalam Alkitab tidak pernah dipergunakan terlepas dari glossa. Kata Yunani glossa (pl. glossais) muncul di dalam Alkitab sebanyak 50 kali hanya untuk dua arti saja, yaitu organ tubuh manusia di dalam mulut (biologis) dan bahasa yang dipakai oleh sebuah kelompok budaya (linguistik). Ketika dipakai dalam pengertian kedua, maka selalu yang dimaksud adalah bahasa yang dikenali di dunia ini.</p>
<p>Untuk menjelaskan kata kerja “berbicara” secara umum Alkitab memakai kata lain, seperti lego, eiro, apangello, anangello, diegeomai, exegeomai, dan sebagainya. Jadi, memang, laleo secara khusus dimaksudkan sebagai kata yang digabungkan dengan glossa (menjadi glossolalia) untuk menunjuk pada fenomena bahasa lidah. Kata laleo itu sendiri muncul dalam literatur Yunani non-Alkitab untuk menunjuk pada percakapan yang santai dan tak jelas (inarticulate chatting).</p>
<p>Pemunculan bahasa lidah di dalam Perjanjian Baru hanya ada di dalam Kisah Para Rasul 2:4, 11, 26; 10:46; 19:6 dan 1 Korintus 12-14. Ia muncul sekali lagi di dalam Markus 16:17, “berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru” (glossais lalesousin kainais), namun ayat ini termasuk ke dalam penutup Injil Markus yang ditambahkan di kemudian hari, yang tidak terdapat di dalam naskah-naskah yang lebih kuno.</p>
<p>Jadi, singkatnya, bahasa lidah menjadi fenomena gereja perdana di dalam Kisah Para Rasul dan menjadi kasus yang melibatkan perpecahan jemaat Korintus.</p>
<p>Patut dicatat bahwa istilah atau frasa “bahasa Roh” tidak pernah muncul di teks asli Alkitab berbahasa Yunani. Namun, Terjemahan Baru LAI memang memilih untuk menerjemahkan “bahasa lidah” (glossolalia) dengan “bahasa Roh.”</p>
<p><strong>PERISTIWA PENTAKOSTA DAN BAHASA LIDAH</strong><br />
Bahasa lidah sebagai karunia rohani pertama kali dijumpai di dalam kisah Pentakosta, sebagaimana dicatat di dalam Kisah Para Rasul 2. Untuk itu, mari kita lihat lebih dalam Kisah Para Rasul 2:3-11.</p>
<blockquote><p>[3] dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah (glossai) seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. [4] Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (heterais glossais), seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. [5] Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. [6] Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa (dialekto) mereka sendiri. [7] Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? [8] Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa (dialekto) kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: [9] kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, [10] Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, [11] baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri (auton tais hemeterais glossais) tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”</p></blockquote>
<p>Jelaslah bahwa prototipe dan paradigma utama bahasa lidah dalam peristiwa Pentakosta adalah bahasa asing yang dikenali di dunia ini. Para murid, orang-orang sederhana itu, kini diberi karunia rohani oleh Roh Kudus yang satu dalam bentuk lidah-lidah api yang majemuk (ay. 3), hingga mereka dapat berbicara “tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” yang satu itu (ay. 11) kepada banyak bangsa, sesuai dengan bahasa mereka masing-masing. Bahkan, mereka yang berasal dari bangsa dan dengan bahasa yang sama, namun dengan dialek yang berbeda (Frigia dan Pamfilia) dapat mendengarkan dan memahami Injil di dalam dialek lokal mereka.</p>
<p>Singkatnya, karunia bahasa lidah diberikan kepada para murid dalam rangka pemberitaan Injil kepada segala bangsa, sebagaimana yang diperintahkan oleh Yesus sendiri sebelum Ia naik ke surga, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Sebagian orang dari “ujung bumi” itu hadir di dalam peristiwa Pentakosta dan mendengarkan kesaksian para murid.</p>
<p>Juga, daftar asal-muasal orang yang hadir saat itu disengaja oleh Lukas (penulis Kisah Para Rasul) untuk menandaskan bahwa bahasa yang keluar dari mulut para murid (bahasa lidah) adalah bahasa yang dikenali, bukan bahasa tak-berstruktur yang selama ini kita dengar berlangsung di banyak kalangan pentakostal.</p>
<p>Singkatnya, glossolalia (bahasa lidah) di dalam peristiwa Pentakosta adalah xenolalia (bahasa asing).</p>
<p>Di dalam Kisah Para Rasul 10:42-47, setelah Petrus menerima penglihatan tentang makanan yang halal, dicatat demikian:</p>
<blockquote><p>[42] Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati&#8230; [44] Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. [45] Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, [46] sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: [47] “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”</p></blockquote>
<p>Jadi, dalam rangka tugas pemberitaan Injil kepada seluruh bangsa (ay. 42), karunia Roh dalam bentuk bahasa lidah diberikan. Ketika Roh Kudus turun pada saat itu (ay. 44), persis ketika peristiwa Pentakosta terjadi, orang-orang Yahudi yang bersunat takjub melihat kenyataan bahwa karunia Roh diberikan juga kepada bangsa-bangsa lain (ay. 45), “sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa Roh” (ay. 46). Mereka mengenali bahasa lidah tersebut, karena mereka percaya bahwa orang-orang non-Yahudi itu “telah menerima Roh Kudus sama seperti kami” (ay. 47), sama seperti yang mereka alami saat peristiwa Pentakosta perdana.</p>
<p>Kita bisa menyimpulkan bahwa, [1] di dalam Kisah Para Rasul, bahasa lidah adalah bahasa asing yang dikenali di dunia dan dapat dideteksi oleh orang yang memiliki bahasa tersebut. Selain itu, [2] bahasa lidah secara jelas muncul selalu dalam kaitan dengan kehadiran Roh Kudus, yaitu ketika seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus. Selanjutnya, [3] bahasa lidah muncul dalam konteks pekabaran Injil. Akhirnya, [4] bahasa lidah di dalam dua teks Kisah Para Rasul menghasilkan pujian kepada Allah; mereka memuji Allah untuk “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11) dan mereka “memuliakan Allah” (Kis. 10:46).</p>
<p>Kasus ketiga di dalam Kisah Para Rasul muncul di 19:6, “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.” Sekali lagi, bahasa lidah dikaitkan dengan kehadiran Roh Kudus. Dan sama seperti kedua teks sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa [5] bahasa lidah berfungsi untuk menegaskan, memvalidasi atau membuktikan kuasa dan kehadiran Roh Kudus, bukan untuk mengajar atau membangun iman.</p>
<p><strong>BAHASA LIDAH DI JEMAAT KORINTUS</strong><br />
Bahasa lidah dibahas oleh Paulus baru pada pasal 12 di suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Yang menarik, saat jemaat ini dibentuk (Kis. 18) tidak ada catatan sama sekali tentang terjadinya fenomena bahasa lidah. Suasana perpecahan jemaat akibat persaingan spiritual di antara anggota jemaat Korintus sangat kental terasa sejak awal surat ini.</p>
<blockquote><p>[10] Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. [11] Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. (1Kor. 1:10-11)</p></blockquote>
<p>Persaingan spiritual itu mewujud ke dalam beberapa bentuk konflik, misalnya, mempertandingkan pemimpin mereka masing-masing (kelompok Paulus, kelompok Apolos, dan lain-lain) atau mempertandingkan karunia rohani yang mereka terima, khususnya antara karunia yang tampaknya supranatural (bahasa lidah, menyembuhkan dan sebagainya) dan karunia yang tampaknya natural (menasihati, memimpin dan sebagainya).</p>
<p>Parahnya keadaan jemaat Korintus agaknya mencerminkan parahnya kota Korintus secara umum. “Korintus” berasal dari kata Yunani Korinthiazomai yang berarti “mempraktikkan perzinahan.” Korintus adalah kota perdagangan dan pelabuhan yang besar yang sekaligus menjadi pusat penyembahan Venus dan Afrodit, dengan ribuan pelacur sakralnya. Praktik penyembahan dewa-dewi ini, menurut banyak ahli, menjadi latar-belakang ditekankannya bahasa lidah di jemaat Korintus, sebab penyembahan dewa-dewi tersebut juga mempraktikkan orakel-orakel bagi para dewa-dewi, baik oleh imam laki-laki maupun imam-imam perempuan (bdk. 1Kor. 12:2).</p>
<p>Di dalam 1 Korintus 12:8-10, Paulus mendaftarkan sembilan karunia rohani. Akan tampak dengan jelas bahwa bahasa lidah menempati urutan yang paling akhir, bersama dengan karunia menafsirkan bahasa lidah. Ini menunjukkan kurang pentingnya karunia bahasa lidah untuk pembangunan jemaat Allah. Hal ini makin tampak, jika kita membandingkannya dengan daftar karunia yang diberikan Paulus di dalam Roma 12:6-8, yang sama sekali tidak mencantumkan bahasa lidah. Hal ini mengindikasikan bahwa memang tak ada anggota jemaat di kota Roma yang memperoleh karunia bahasa lidah; atau, bisa juga ada kemungkinan fenomena bahasa lidah sudah hilang pada waktu itu. Selain itu, di 1 Korintus 12:28, Paulus menetapkan fungsi-fungsi di dalam jemaat dengan skala dari yang terpenting sampai yang tidak penting.</p>
<table class="tables" border="1" cellpadding="5">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (1Kor. 12:4-7)</td>
<td valign="top">Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. (Ro. 12:4-5)</td>
<td valign="top">Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh&#8230; Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (1Kor. 2:20, 27)</td>
</tr>
<tr>
<td class="highlitecells">1 Korintus 12:8-10</td>
<td class="highlitecells">Roma 12:6-8</td>
<td class="highlitecells">1 Korintus 12:28</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<ol>
<li>Berkata-kata dengan hikmat</li>
<li>Berkata-kata dengan pengetahuan</li>
<li>Iman</li>
<li>Menyembuhkan</li>
<li>Mengadakan mukjizat</li>
<li>Bernubuat</li>
<li>Membedakan bermacam-macam roh</li>
<li>Berkata-kata dengan bahasa Roh</li>
<li>Menafsirkan bahasa Roh</li>
</ol>
</td>
<td valign="top">
<ol>
<li>Bernubuat</li>
<li>Melayani</li>
<li>Mengajar</li>
<li>Menasihati</li>
<li>Membagi-bagikan sesuatu</li>
<li>Memberi pimpinan</li>
<li>Menunjukkan kemurahan</li>
</ol>
</td>
<td valign="top">
<ol>
<li>Rasul</li>
<li>Nabi</li>
<li>Pengajar</li>
<li>Pembuat mukjizat</li>
<li>Penyembuh</li>
<li>Pelayan</li>
<li>Pemimpin</li>
<li>Pembahasa Roh</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dari daftar di atas kita melihat bahwa memang bahasa lidah merupakan karunia yang khas di jemaat Korintus, itu pun dengan prioritas terendah. Tak ada indikasi bahwa jemaat-jemaat lain yang didirikan Paulus mendapatkan bahasa lidah atau bermasalah dengan karunia ini. Menarik juga untuk dipahami bahwa setiap kali Paulus berbicara mengenai kemajemukan dan keberagaman karunia, Ia meletakkannya dalam konteks kesatuan jemaat dan manfaat karunia-karunia itu bagi pembangunan tubuh Kristus. Kini, mari kita teliti lebih dalam pandangan Paulus mengenai bahasa lidah di dalam 1 Korintus 12-14.</p>
<p><strong>1 Korintus12: Bahasa Lidah  di Tempat Terbawah</strong><br />
Pasal 12 membahas bahasa lidah hanya di dua bagian yang sudah dibahas di atas, yaitu saat Paulus memasukkannya ke dalam daftar sembilan karunia rohani (ay. 8-10) dan daftar fungsi jemaat (ay. 28). Di dalam kedua daftar itu, bahasa lidah menempati urutan kepentingan paling akhir.</p>
<p>Patut diberi catatan khusus bahwa di ayat 10 dan 28, Paulus sebenarnya memakai frasar gene glosson, yang berarti “bermacam-macam bahasa.” Hal ini makin menandaskan keyakinan kita bahwa bahasa-bahasa lidah di jemaat Korintus juga adalah bahasa-bahasa yang dikenal di dunia, bukan serangkaian ucapan yang tak dapat dipahami, sebagaimana dipraktikkan oleh banyak orang Kristen masa kini. Ada banyak bahasa di dunia ini (gene glosson), namun semua adalah bahasa, sama seperti ada banyak jenis (genus) burung, namun semuanya adalah burung. Namun, “burung besi” alias pesawat terbang tidak termasuk ke dalam keluarga burung, bukan?</p>
<p><strong>1 Korintus13: Bahasa Lidah Berakhir</strong><br />
Pasal 13 menjadi kunci untuk memahami fenomena bahasa lidah. Inti pasal ini bukan bahasa lidah, namun kasih. Paulus mulai dengan menegaskan bahwa “sekalipun” (Paulus membuat sebuah pengandaian di sini) ia bisa berbicara dengan semua bahasa manusia dan bahkan bahasa malaikat, semuanya sia-sia tanpa adanya kasih. Paulus sama sekali tidak menyamakan bahasa lidah dengan bahasa malaikat. Bahkan, dalam Kitab Suci, bahasa malaikat pun bisa dipahami oleh manusia, karena memang tugas utama malaikat, sesuai namanya (aggelos), adalah menjadi pembawa warta. Pesan utama Paulus dengan ayat ini sebenarnya adalah, semua bahasa itu sia-sia tanpa kasih.</p>
<p>Dengan tegas Paulus menyatakan bahwa beberapa karunia rohani akan lenyap (bahasa lidah, nubuat, pengetahuan [spiritual]), yaitu ketika yang sempurna tiba (ay. 8-9). Hal ini sangat wajar, seperti juga perkembangan seorang manusia dari kanak-kanak menjadi dewasa (ay. 10). Pembedaan anak-anak dan dewasa, bagi Paulus, adalah bahwa orang dewasa hidup bagi orang lain (bdk. 1Kor. 14:20). Dengan kata lain, mengejar dan mengutamakan yang tak utama (bahasa lidah) adalah tanda ketidakdewasaan!</p>
<p>Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan sempurna (teleios: utuh, tak memerlukan hal-hal lain lagi)? Pandangan para pengguna bahasa lidah adalah bahwa yang sempurna itu menunjuk pada “kedatangan Yesus yang kedua.” Pandangan ini bermasalah, sebab dipaksakan (inference) masuk ke teks yang sama-sekali tidak berbicara tentang kedatangan Kristus.</p>
<p>Pandangan kedua menyatakan bahwa yang sempurna itu adalah lengkapnya kanon Alkitab. Namun, ini pun tidak diberi pendasaran cukup kuat di dalam teks 1 Korintus 13.</p>
<p>Pandangan ketiga, yang lebih saya sepakati, adalah bahwa yang sempurna atau utuh itu dikatakan oleh Paulus pada ayat 13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”</p>
<p>Artinya, ketiga hal yang paling penting (“tinggal ketiga hal ini”) adalah iman, harap dan kasih. Seseorang disebut Kristen karena ketiga hal mendasar ini. Sebaliknya, seseorang tetap bisa menjadi Kristen tanpa harus bernubuat atau berbahasa lidah.</p>
<p>Dan yang paling besar dari ketiganya adalah kasih! Maka, menyombongkan bahasa lidah dan menyatakan orang lain yang tidak bisa berbahasa lidah sebagai orang Kristen yang tidak beriman, justru berlawanan dengan kasih yang salah satu cirinya adalah “tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (ay. 4).</p>
<p><strong>1 Korintus 14: Pengaturan Bahasa Lidah</strong><br />
Di dalam pasal 14, Paulus bahkan mengatur pemakaian bahasa lidah. Sudah sangat jelas, pertama-tama, bahwa bagi Paulus karunia nubuat (yang juga akan berakhir) itu lebih penting daripada karunia berbahasa lidah (ay. 1, 5-6, 39). Ukurannya jelas: bernubuat dapat membangun jemaat (ay. 3-5, 12, 26). Bahasa lidah bisa membangun jemaat hanya jika ada yang menafsirkannya, entah orang lain atau dia yang berbahasa lidah itu sendiri (ay. 5, 13, 26-28).</p>
<p>Itu sebabnya, Paulus mengatur pemakaian bahasa lidah di dalam pertemuan jemaat (ay. 27-28), yaitu bahwa [1] hanya dua atau tiga orang yang berbahasa lidah, [2] bergantian, serta [3] harus ada yang menafsirkan. Juga, [4] jika tak tersedia penafsir, maka mereka yang berbahasa lidah harus berdiam diri.</p>
<p>Prinsip dasarnya jelas sekali, yaitu semuanya harus membangun jemaat, tidak menimbulkan kekacauan namun damai sejahtera (ay. 33) dan bahwa pertemuan jemaat “harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (ay. 40).</p>
<p>Ada dua catatan penting di sini. Pertama kata “menafsir” atau “penafsir” tidak boleh dipahami sebagai tindakan atau seseorang yang “menemukan makna” dari bahasa lidah (to expound), namun “menerjemahkan” (to interpret, to translate).</p>
<p>Jadi karunia menafsirkan bahasa lidah adalah karunia menerjemahkan dari satu bahasa asing yang diucapkan seseorang ke bahasa yang dipakai oleh jemaat. Itu sebabnya, jika seseorang mengucapkan sebuah bahasa asing di tengah-tengah jemaat dan tak seorang pun menerjemahkannya, maka ucapannya tak dimengerti (ay. 2, 9-11, 19).</p>
<p>Hal ini makin menguatkan pendirian kita bahwa bahasa lidah di dalam jemaat Korintus adalah bahasa asing yang dikenal di dunia, bukan “bahasa lidah” yang banyak dipraktikkan di masa kini. Secara khusus, Paulus mengungkapkannya di dalam ayat 10-11,</p>
<blockquote><p>[10] Ada banyak–entah berapa banyak–macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. [11] Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku.</p></blockquote>
<p>Kedua, banyak pengguna bahasa lidah masa kini mengajukan argumen bahwa bahasa lidah bermanfaat untuk membangun iman secara pribadi. Jadi, apakah memang Paulus memperbolehkan pemakaian bahasa lidah di dalam doa pribadi? Tidak, sama sekali tidak! Paulus memang berkata, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri” (ay. 4). Namun, kita harus sungguh-sungguh memahami bahwa konteks percakapan dari 1 Korintus 14 adalah pertemuan jemaat.</p>
<p>Jadi, seseorang yang berbahasa lidah–di dalam pertemuan jemaat!–tanpa seorang pun mengerti, hanya akan “membangun dirinya sendiri,” dalam pengertian secara negatif–sebuah sikap memegahkan dan memuliakan diri, yang justru berlawanan dengan cinta-kasih.</p>
<p>Lebih dari itu, Paulus menjelaskan bahwa bahasa lidah merupakan tanda (semeion) bagi orang yang tidak beriman (ay. 22). Yang dimaksud dengan orang yang tidak beriman (apistos) di sini bukanlah orang non-Kristen, namun orang Kristen yang kurang percaya (bdk. pemakaian apistos di dalam teguran Yesus kepada Thomas; Yoh. 20:27).*1</p>
<p>Dengan kata lain, mereka yang mengejar dan mengutamakan bahasa lidah, menurut Paulus, adalah orang-orang yang kurang percaya. Mereka dapat percaya hanya karena (because of) karunia yang spektakular agar dapat percaya. Sebaliknya, mereka yang dewasa akan sungguh percaya sekalipun tidak ada dan terlepas dari (in spite of) tanda spektakular apapun.</p>
<p>Di ayat 23, Paulus justru mempertimbangkan orang yang kurang percaya (yang sangat mungkin tidak memiliki karunia berbahasa lidah) yang justru akan tersandung dan menyebut mereka yang berbahasa lidah sebagai orang gila. Dengan kata lain, Paulus hendak menyatakan bahwa, jauh dari membangun iman jemaat, bahasa lidah justru dapat menjadi penghalang bagi pertumbuhan iman anggota-anggota jemaat.</p>
<p><strong>Kesimpulan Bahasa Lidah di dalam 1 Korintus 12-14</strong></p>
<p>Jadi, dapatlah disimpulkan beberapa hal sehubungan dengan fenomena bahasa lidah di dalam surat 1 Korintus.</p>
<ol>
<li>Bahasa lidah adalah bahasa asing yang dikenali di dunia ini, bukan rentetan suara tanpa makna secara linguistik.</li>
<li>Ia merupakan salah satu dari banyak karunia, bahkan ia adalah karunia yang paling tidak penting.</li>
<li>Ia hanya bisa dipraktikkan dengan berbagai pengaturan yang ketat, seperti: demi pembangunan jemaat, dibatasi jumlah dan gilirannya, harus ada penafsir/penerjemah (harus dihentikan jika tidak ada penafsir/penerjemah), dan sebagainya.</li>
<li>Bahasa lidah di 1 Korintus akan lenyap, ketika iman-harap-kasih tiba dan menjadi identitas Kristiani.</li>
<li>Bahasa lidah di jemaat Korintus adalah salah satu alasan dan sumber perpecahan jemaat.</li>
<li>Bahasa lidah tidak boleh dipraktikkan secara pribadi, namun selalu di dalam pertemuan jemaat.</li>
<li>Bahasa lidah dapat menjadi tanda ketidakdewasaan rohani seseorang, bahkan bisa menghalangi pendewasaan rohani orang lain.</li>
<p>&nbsp;</ol>
<p><strong>BAGAIMANA SEBAIKNYA SIKAP KITA?</strong><br />
Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap fenomena bahasa lidah modern? Lampiran 7 Tata Gereja GKI berisi “Pegangan Ajaran GKI mengenai Gerakan Pentakosta Baru (Karismatik)” yang di butir A-nya berbicara mengenai bahasa lidah. Sayang, isinya hanya uraian pandangan Paulus saja. Tidak ditunjukkan sikap tegas GKI terhadap fenomena bahasa lidah modern. Jika demikian, bagaimana kita mengambil sikap yang lebih jelas, tegas dan bertanggung jawab? Saya menawarkan beberapa hal.</p>
<ol>
<li>Agaknya kita harus mulai dengan sebuah penyimpulan mendasar bahwa fenomena bahasa lidah masa kini sama sekali berbeda dengan dengan fenomena bahasa lidah di zaman Alkitab. Bahasa lidah di zaman Alkitab adalah bahasa asing (xenolalia) yang dikenali di dunia dan dapat diverifikasi oleh ahli bahasa. Sedang bahasa lidah modern adalah penyuaraan serentetan bunyi tanpa makna semantik sama sekali.</li>
<li>Apakah, dengan demikian, kita harus berkata bahwa itu bukan dari Roh Kudus? Tentu kita semua tahu bahwa, di satu sisi, karya Roh Kudus yang bebas itu tidak bisa dibatasi. Tetapi, di sisi lain, kita juga belajar bahwa kita harus menguji roh-roh (1Yoh. 4:1-2). Pengujian roh-roh (discretio spirituum) ini juga menjadi salah satu karunia yang Paulus cantumkan tepat di atas bahasa lidah (1Kor. 12:8-10).Dalam surat Yohanes itu, salah satu batu ujinya adalah “setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah.” Namun–penting sekali!–saya tidak mengatakan bahwa jika demikian bahasa lidah adalah karya ROH KUDUS. 1 Yohanes 4:1-2 tidak berbicara tentang Roh Kudus sebagai Pribadi ilahi, namun “setiap roh” sebagai “ajaran dasar.”Atas dasar ini, saya hendak menyatakan bahwa sejauh ajaran dasar dari gereja-gereja yang mempraktikkan bahasa lidah tetap menyatakan pengakuan imannya pada Yesus Kristus, maka gereja-gereja tersebut tidak bisa kita tolak dan malah harus diakui sebagai saudara di dalam iman. Itu tidak berarti kita tidak perlu menolak praktik bahasa lidah mereka, yang ternyata tidak sama, bahkan terkadang berlawanan, dengan apa yang dicatat di dalam Alkitab.</li>
<li>Lalu, apakah mungkin Roh Kudus mengerjakan bahasa lidah modern yang berbeda dengan yang dicatat di Alkitab? Sangat mungkin. Berbeda tidak sama dengan berlawanan. Namun, masalahnya, kita tidak memiliki alat-bantu untuk melakukan verifikasi selain Alkitab. Itu sebabnya, sebagian besar gereja arus utama mengambil sikap moderat, yang ditawarkan oleh A.W. Tozer: seek not, forbid not (jangan dicari, jangan ditolak). Namun, nasihat Tozer ini harus diperlengkapi dengan sebuah catatan khusus, yaitu bahwa apa yang “jangan dicari dan jangan ditolak” itu adalah bahasa lidah yang sama dengan yang dicatat di dalam Alkitab, bukan bahasa lidah yang asing dari deskripsi Alkitab.</li>
<li>Anda bisa juga mengambil sikap lebih tegas lagi, demi kemaslahatan umat, yaitu menolak sepenuhnya paham bahwa bahasa lidah masih terjadi. Ini pun memiliki landasan biblis yang sangat kuat, selain bahwa sikap ini juga dianut oleh banyak bapa gereja, bahkan sejak abad-abad pertama kekristenan. Sikap ini kerap disebut cessationisme. Argumen dasar mereka lazimnya adalah bahwa bahasa lidah diberikan Roh Kudus untuk memberitakan Injil (kasus Kisah Para Rasul), agar para murid yang sederhana itu bisa mewartakan Injil ke semua bangsa tanpa mempelajari bahasa-bahasa asing tersebut.Pada masa kini, bahkan tak satu pun gereja yang mempraktikkan bahasa lidah yang tidak mendidik para misionaris mereka yang akan bekerja di wilayah lain dengan bahasa asing yang bakal mereka pakai.</li>
<li>Jadi, seandainya bahasa lidah modern memang bukan manifestasi Roh Kudus, tidak perlu secara otomatis kita simpulkan bahwa bahasa lidah berasal dari si jahat (sekalipun kemungkinan itu tetap harus dibuka). Ia bisa saja menjadi ekspresi kejiwaan/psikis manusia atau tindakan yang disadari oleh manusia (memutuskan untuk mengucapkannya atau meniru orang lain mengucapkannya). Kita perlu mengingat bahwa di dalam Alkitab seekor keledai (milik Bileam) pun bisa diberi karunia berbahasa asing (bahasa manusia) (Bil. 22).Juga, ternyata fenomena bahasa lidah, baik yang mirip dengan yang digambarkan di dalam Alkitab maupun yang mirip dengan fenomena modern itu, berlangsung di agama-agama lain.</li>
<li>Akhirnya, yang terpenting, adalah capailah “jalan yang lebih utama lagi” (1Kor. 12:31) yaitu iman, harap dan kasih (1Kor. 13:13; Rm. 5:2; 1Tes. 5:8). Bahasa kasih adalah bahasa yang terutama dalam hidup semua orang percaya.</li>
</ol>
<blockquote><p>Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.<br />
(Kis. 2:3)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pdt. Joas Adiprasetya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Makalah dengan topik Bahasa Lidah, pernah diangkat pada Forum Diskusi Teologia (FDT) GKI Pondok Indah, 7 Februari 2011.</p>
<p>*1  Juga terdapat pemakaian tiga kali kata <em>idiotes</em> di pasal 14 ini, yang oleh LAI diterjemahkan dengan tiga kata yang semuanya berbeda: “orang biasa” (ay. 6), “orang luar” (ay. 23) dan “orang baru” (ay. 24). Namun, ini masalah lain yang bisa dibicarakan di kesempatan lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bagaimana-menyikapi-bahasa-lidah-glossolalia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menembus Karang  Keraguan, Meruntuhkan  Tembok Pemisah</title>
		<link>http://gkipi.org/menembus-karang-keraguan-meruntuhkan-tembok-pemisah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menembus-karang-keraguan-meruntuhkan-tembok-pemisah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 19:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5747</guid>
		<description><![CDATA[Seorang lelaki mendekati seorang anak gembala yang sedang menggembalakan ternaknya. “Saya ingin membeli kambingmu, seekor saja,” katanya. “Tidak bisa, Tuan,” kata anak gembala itu, “kambing ini milik majikan saya. Ia akan marah kalau saya menjualnya.” “Tapi kambingmu kan ada banyak, ada ratusan ekor. Kalau kau ambil satu saja tentu majikanmu tak akan mengetahuinya. Lagi pula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Seorang lelaki mendekati seorang anak gembala yang sedang menggembalakan ternaknya. “Saya ingin membeli kambingmu, seekor saja,” katanya. “Tidak bisa, Tuan,” kata anak gembala itu, “kambing ini milik majikan saya. Ia akan marah kalau saya menjualnya.” “Tapi kambingmu kan ada banyak, ada ratusan ekor. Kalau kau ambil satu saja tentu majikanmu tak akan mengetahuinya. Lagi pula seandainya suatu ketika ia menyadari ada kambingnya yang hilang, bukankah engkau bisa mengatakan bahwa kambing itu hilang atau dimakan serigala?”</p>
<p>Anak gembala itu terdiam.“Ayolah, kau akan mendapat uang dalam jumlah yang cukup banyak. Majikanmu kan sudah memercayaimu, tak mungkin ia akan curiga. Tak mungkin ia akan mengetahuinya.” Anak gembala itu berpikir sejenak lalu berkata dengan mantap, “Betul, majikan saya tidak akan mengetahui hal ini, tapi bukankah Tuhan saat ini sedang memperhatikan saya?”</p>
<p>Di manakah Tuhan berada saat ini? Mengapa sang anak gembala tidak tergiur sedikit pun dengan tawaran lelaki tadi? Apa yang membedakan anak ini dengan kita? Di dunia ini banyak orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka percaya mengenai keberadaan Tuhan karena memang bukti-bukti Tuhan ada itu tak dapat disangkal lagi. Akan tetapi, Tuhan yang diyakini banyak orang adalah Tuhan yang jauh. Mereka tak bisa membayangkan bahwa Tuhan itu sesungguhnya begitu dekat, bahwa Tuhan itu senantiasa bersama kita setiap saat. (dari buku “You Are Not Alone”)</p></blockquote>
<p>Karena Tuhan itu Roh dan tak dapat kita lihat dengan kasat-mata, maka hal itu membuat kita ragu apakah Ia melihat kita. Juga anggapan bahwa Tuhan hanya berada di surga saja, merupakan “Tembok Pemisah” kita dengan Tuhan. Dwitunggal meragukan dan terpisah mengingatkan kita kepada permainan cilup-ba. Pada saat cilup anak kecil merasa tegang dan takut sebab kehilangan wajah orangtuanya, begitu ba, ia tercengang dan merasa lega karena mendapatkan kembali orangtua yang menjadi tumpuan hidupnya. Pada dasarnya Tuhan tidak mau meninggalkan kita, dan kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Tapi pada kondisi tertentu terpaksa Tuhan “meninggalkan” kita, tapi terkadang juga kebodohan kita telah membuat kita kehilangan Tuhan.</p>
<p><strong>Ketika Penderitaan Adalah Segala-galanya</strong></p>
<p>Jika mau realistis, maka kita dapat mengerti kekecewaan umat Tuhan di Rafidim saat itu. Siapa saja yang kehausan tentu saja perlu minum. Kita juga dapat memahami kemarahan mereka kepada Musa, sebab sebagai pemimpin ia tidak dapat menyediakan air untuk diminum. Tapi ada beberapa kesalahan mereka yang fatal saat itu.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Pertama</strong></p>
<p>Mengapa mereka bersikap kasar kepada Musa, mengajak bertengkar, sampai tempat itu dinamai Masa dan Meriba. Mereka boleh marah, tapi kepada pemimpinnya yang sudah menjalankan tugas dengan penuh ketulusan hati, seharusnya mereka bisa menahan diri, menaruh hormat dan sopan. Bukankah mereka itu umat Allah, orang-orang yang beriman?</p>
<blockquote><p>Ada suatu kisah tentang seorang pemuda yang ingin menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Maka neneknya membuatkan sebuah pondok kecil baginya, dan setiap hari mengirim makanan supaya anaknya bisa beribadah dengan tenang. Setelah berjalan 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai oleh cucunya. Sengaja ia mengutus seorang wanita cantik untuk masuk ke dalam pondok kecil itu dan menggoda pemuda itu, sebagai upaya menguji imannya. Dengan sangat marah sang pemuda mengusir wanita itu dengan memakai sebuah sapu lidi yang kotor dan bertindak kasar kepada si penggoda tadi.</p>
<p>Mengetahui hal itu si nenek merasa kecewa berat, sebab ternyata cucunya masih belum memiliki kebijaksanaan serta pemahaman terhadap sesamanya. Memang ia tidak perlu menyerah kepada nafsunya, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah, seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama. Yang menarik dalam cerita tadi, bahwa ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang (dari buku “You Are Not Alone”)</p></blockquote>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Kedua</strong></p>
<p>Ketika umat Tuhan itu diajak oleh Tuhan untuk meninggalkan tanah perbudakan Mesir, mereka telah menyambut dengan sukacita, setidaknya mereka tidak menolak ajakan yang disadari akan penuh dengan tantangan, namun sangat menjanjikan. Nah, kalau sudah begitu, mengapa tiap-tiap kali muncul problem dalam perjalanan, mereka mesti mengeluh, memaki-maki serta menyalahkan Musa? Hal itu sama seperti pasangan yang sudah mengambil keputusan menikah, sudah berjanji dalam kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah bahwa dalam segala hal akan ditanggung bersama, tapi dalam perjalanan hidup berumah tangga banyak mengeluh dan membanding-bandingkan sang partner dengan orang lain.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Ketiga</strong></p>
<p>Seharusnya mereka mengerti bahwa perjalanan yang sedang mereka tempuh itu merupakan karya besar Tuhan, yang terencana bagi masa depan seluruh bangsa. Jika mau meraih sesuatu yang maha penting, maka harus ada pengorbanan! Meskipun demikian, pengorbanan dari pihak umat Tuhan tidak bakal melebihi kekuatan mereka, sebab sudah terbukti bahwa Tuhan selalu mau campur tangan.</p>
<p>Segala macam kesukaran memang dapat berubah menjadi tembok yang memisahkan kita dari Tuhan, tapi sebenarnya juga dapat semakin mempererat persekutuan kita yang lemah itu dengan Tuhan, sang Penolong yang sejati.</p>
<p><strong>Kita Senang Membangun Tembok, Tapi Tuhan Senang Membangun Jembatan</strong></p>
<p>Itulah rahasia keberhasilan dari persekutuan kita dengan Tuhan. Lihat saja tadi, kita bisa melemparkan tiga buah kritik kepada umat Tuhan, apalagi Tuhan pasti jauh lebih banyak lagi. Anehnya, tadi kita tidak membaca satu kritik pun dari pihak Tuhan. Sebagai Bapa Surgawi, Tuhan penuh dengan pemahaman terhadap anak-anak-Nya. Dalam kemelut pertengkaran itu, Tuhan mencari solusi yang ada unsur upaya dari pihak manusia, tapi juga karya atau mukjizat dari pihak Allah, lalu rasa kecewa pun berubah menjadi kepuasan! Cukup menarik bahwa Musa disuruh Tuhan agar memukul gunung batu dengan tongkatnya, supaya keluar air yang memuaskan dahaga mereka saat itu. Bukankah semua itu menunjuk kepada Kristus yang disebut sebagai Batu Hidup? (1 Petrus 2:4). Sesudah didera dan disalibkan, muncullah bagi umat manusia berdosa pertolongan-Nya, yaitu Air Kehidupan (Yohanes 4:14).</p>
<p><strong>Yesus Meruntuhkan Tembok yang Bernama “Walaupun”</strong></p>
<ul>
<li>Walaupun wanita itu hanya seorang diri saja, tetap dilayani oleh-Nya, dan ternyata menghasilkan buah pertobatan banyak orang Samaria yang mendengar kesaksiannya.</li>
<li>Walaupun mengandung risiko, sebab berdialog dengan seorang wanita tunasusila dan berada di daerah musuh sehingga sewaktu-waktu bisa digerebek, tapi tetap dihadapi-Nya dengan tenang sebab semua itu dilakukan dengan hati yang bersih.</li>
<li>Walaupun menyentuh “borok” sang wanita yang bejat moralnya, tetapi wanita itu tidak marah sebab Yesus mengasihinya.</li>
<li>Walaupun dosanya sangat besar dan sudah menjadi sampah masyarakat, namun tetap ditangani secara prima dan diperhadapkan pada pintu pertobatan sehingga hari itu juga wanita tersebut memiliki keberanian menjadi Pemberita Injil Tuhan.</li>
<li>Walaupun pada umumnya orang-orang Yahudi menghindar dari orang-orang Samaria, tapi Tuhan Yesus bersedia tinggal dua hari di sana untuk memberi bimbingan lanjutan.</li>
</ul>
<p><strong>Mengapa selamanya Tuhan Yesus berani menentang arus? Di sini ada cerita menarik:</strong></p>
<blockquote><p>Pada suatu ketika di negeri katak diadakan sebuah sayembara. Barang siapa mampu memanjat sebuah menara yang tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang emas. Semua katak muda di negeri itu begitu antusias mengikuti sayembara tersebut, termasuk seekor katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Baru beberapa meter menanjak, beberapa ekor katak jatuh ke bawah. Mereka baru sadar, bahwa kemampuan mereka sebagai katak adalah melompat, bukan memanjat.</p>
<p>Satu per satu katak mulai berjatuhan, hingga akhirnya tinggal tiga katak yang tersisa. Saat itu penonton berteriak-teriak, “Puncak menara itu terlalu tinggi. mustahil kalian dapat mencapainya.” Katak yang telah jatuh pun ikut berteriak,”Dari ketinggian tiga meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi jika jatuh dari ketinggian 15 meter. Pasti mengerikan! Tulang-tulangmu bisa remuk!” Katak yang masih memanjat mulai khawatir. Akhirnya mereka pun mengundurkan diri. Tinggal dua katak lagi termasuk si katak kecil. “Hati-hati, di atas sana licin, kamu bisa terpleset,” lagi-lagi teriakan dari bawah. Akhirnya saingan si katak kecil mengundurkan diri, tinggal katak kecil seorang diri. “Hai katak kecil, di atas licin, kamu bisa jatuh,” suara lain menimpali,” iya, menyerah saja. Angin di atas berembus sangat kencang, kamu bisa terbang terbawa angin.” Katak kecil tak peduli dan terus memanjat. Akhirnya, ia berhasil!</p>
<p>Saat katak kecil turun, penonton mengerubutinya dan bertanya-tanya, bagaimana bisa katak kecil berhasil. Ketika katak kecil diam saja, barulah mereka sadar bahwa katak kecil itu tuli, sehingga tidak bisa mendengar peringatan mereka. Ibu katak kecil akhirnya menimpali, “Katak kecil dapat sampai di puncak karena ia tidak dapat mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangatnya. Ia bisa terus sampai di atas karena ia hanya mendengarkan suara hatinya dan konsisten pada tujuan yang ingin dicapainya.” (dari buku “Success Journey”).</p></blockquote>
<p>Semua ini mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus yang berpegang teguh pada komitmen-Nya. Telinga, mata dan hati-Nya terbuka lebar penuh kepekaan, namun jiwa-Nya menyatu dengan Bapa dalam perjuangan yang kudus untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa!</p>
<p><strong>Kasih Karunia Tuhan Lengkap dan Utuh<br />
</strong><br />
Ketika umat-Nya cuma bisa bersungut-sungat dan bertengkar, Tuhan membasahi mereka dengan kelimpahan air sejuk. Ketika sebutan “penyakit masyarakat” masih disandangnya, di dalam keterasingannya yang memalukan itu, Tuhan hadir memancarkan pengharapan untuk bisa hidup layak dan bermakna. Ketika kita berada di dalam keraguan sebab sebutan sebagai anak-Nya serasa berlebihan, maka Dia datang menembus karang keraguan itu. Ketika kita mulai membangun tembok tebal untuk menjauhkan diri, Kristus meruntuhkan dengan kasih, senjata-Nya yang ampuh itu.</p>
<blockquote><p>“Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.“ (Mazmur 95:2)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menembus-karang-keraguan-meruntuhkan-tembok-pemisah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Kebenaran Di Antara Orang yang Saling Membenarkan Diri</title>
		<link>http://gkipi.org/tidak-ada-kebenaran-di-antara-orang-yang-saling-membenarkan-diri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tidak-ada-kebenaran-di-antara-orang-yang-saling-membenarkan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 02:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5569</guid>
		<description><![CDATA[“Sikap kita terhadap orang lain (termasuk dalam hal keyakinannya) mencerminkan bagaimana sikap kita terhadap diri kita sendiri,” begitu antara lain tertulis di sampul Warta Gereja Kristen Muria Indonesia di Jepara (Jateng) pada hari Minggu tanggal 26 September 2010. Kalimat itu ditulis untuk menegaskan bahwa untuk memahami Allah dengan benar, maka kita harus bersikap kasih kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Sikap kita terhadap orang lain (termasuk dalam hal keyakinannya) mencerminkan bagaimana sikap kita terhadap diri kita sendiri,” begitu antara lain tertulis di sampul Warta Gereja Kristen Muria Indonesia di Jepara (Jateng) pada hari Minggu tanggal 26 September 2010.</p>
<p>Kalimat itu ditulis untuk menegaskan bahwa untuk memahami Allah dengan benar, maka kita harus bersikap kasih kepada sesama, dan sikap seperti itu hanya dapat tercermin apabila kita menghargai, membuka diri terhadap sesama (termasuk keyakinannya) dan tidak membenarkan diri kita sendiri. Dasar moral dan tindakan etis jemaat seharusnya adalah kebenaran Allah dan bukan kebenaran kita sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui kebenaran-Nya itu (lihat Yoh. 4:23-24). Kebenaran Allah itu harus tercermin dalam “ketulusan hati,” sesuai sikap Yesus dalam praktik hidup-Nya yang dapat kita pahami melalui Alkitab, karena Yesus adalah sumber kebenaran yang sejati (Yoh. 14:6).</p>
<p>Pdt. Purboyo, dalam mendukung tema khotbah “Tuhan Cinta Semua Bangsa,” juga antara lain menulis di Warta Jemaat tanggal 9 Januari 2011, yang memaknai Kis. 10:34-43, bahwa “iman” adalah tangan kita yang menggenggam tangan Allah yang senantiasa terulur kepada umat manusia kekasih-Nya, dan “baptisan” adalah tanda atau meterainya, sehingga apapun juga, bahkan “iman atau baptisan” sebagai tandanya (yang mengelompokkan kita sebagai orang Kristen), tak bisa membenarkan atau memberi hak kepada seseorang untuk mengatakan bahwa orang lain, atau sesamanya yang berbeda darinya (termasuk keyakinannya) adalah haram (najis, tidak suci). Untuk itu beliau selanjutnya menyatakan bahwa kita “perlu penghayatan yang jernih tentang kasih Tuhan,” yang tidak bisa dibatasi atau ditempatkan pada kotak-kotak ciptaan manusia.</p>
<p>Jadi janganlah kita sebagai orang Kristen menyombongkan diri dengan misalnya berkata bahwa “kami yang benar dan pasti masuk surga dan berkenan kepada-Nya sedang kamu dan orang lain yang sepaham dengan kamu pasti salah dan berdosa.” Bukankah dengan sikap yang demikian, kita juga sudah bersalah dan berdosa karena tidak menunjukkan kasih seperti yang diperintahkan Yesus?</p>
<p>Sikap pembenaran diri adalah suatu kesombongan dan sudah tentu salah. Karena itu saya katakan dalam judul tulisan ini bahwa “tidak ada kebenaran di antara orang yang saling membenarkan diri.” Memang “kita perlu selalu mencari kebenaran, tetapi harus disikapi dan dilakukan dengan benar, jangan menjadi sombong karena merasa diri sudah benar. Sikap dan tindakan seperti itu sudah pasti tidak benar.” Firman Tuhan dalam Yak. 3:16-17 berbunyi: “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut dan penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”</p>
<p>Akhir-akhir ini kita banyak mendengar dan membaca berita tentang masalah “kebohongan” atau “ketidakbenaran,” yang kemudian semakin ramai dengan terjadinya perseteruan antara para pemuka agama dengan pemerintah. Para pemuka agama mengritik pemerintah dengan mengatakan bahwa “pemerintah tidak jujur,” dan ada “kebohongan.” Tidak tanggung-tanggung, belasan kebohongan itu disampaikan dengan berbagai data sebagai bukti. Tuduhan itu lalu ditimpali oleh berbagai ulasan para redaktur media komunikasi, juga pandangan para cendekiawan dan pakar berbagai bidang termasuk para budayawan. Pemerintah kemudian secara tegas menolak tuduhan itu dengan mengemukakan berbagai data dan alasan pendukungnya. Apakah ada kebenaran di antara mereka? Siapa yang benar dalam hal ini, apakah para pemuka agama yang tentu dilatarbelakangi oleh keyakinan iman mereka masing-masing, atau rezim pemerintah? Hanya Tuhanlah yang tahu, karena “Dialah Yang Mahatahu, sekaligus Yang Mahabenar.” Tetapi yang perlu penulis tekankan dalam hal ini adalah bahwa kalau kita hanya sibuk dengan sikap yang saling membenarkan diri secara terus-menerus, maka tidak akan terjadi kebenaran dan di mana tidak ada kebenaran, tentu sulit menemukan kesejahteraan.”</p>
<p>Kita yang telah percaya dan dimeteraikan melalui baptisan menjadi umat-Nya (Kristen) harus menyatakan kebenaran dengan menjadi “garam dan terang.” Apakah kita rela untuk gagal seperti Israel zaman dahulu itu? Tentu tidak. Karena kita telah mengenal Allah (melalui Yesus), maka kita harus melakukan perintah-Nya dengan penuh tanggung jawab. Semua perintah-Nya itu tercantum dalam Alkitab, antara lain: tidak boleh menyombongkan diri, tidak menghina orang, tidak menyalahkan atau tidak membenarkan diri sendiri, yang kesemuanya telah dirumuskan sebagai tindakan kasih. Tetapi menurut Pdt. Setyo Pranowo, selain kita “tetap menghargai pluralitas” (antara lain menghargai keyakinan orang lain), kita harus tetap teguh kepada keyakinan pada Yesus Kristus dan mencari kebenaran dari-Nya.</p>
<p>Tetapi jangan pula kita bersikap mau mendirikan tembok-tembok kebenaran kita sendiri saja, karena Kahlil Gibran, seorang pendeta dari Timur Tengah, pernah mengungkapkan bahwa “setiap cahaya kebenaran asalnya adalah karya Allah, dan Allah tidak dapat dipenjara oleh tembok-tembok pemisah agama karena Allah adalah kebenaran.” Ingat pula firman dalam 2 Tim 3:16 yang berbunyi:“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”</p>
<p>Perlu ditekankan dalam hal ini bahwa Alkitab bukan tempat mencari pembenaran terhadap apa yang kita yakini, tetapi mencari kebenaran supaya kita yakini. Berusahalah mencari kebenaran, lalu lakukan dengan benar, jangan menjadi sombong karena merasa diri sudah benar, karena tindakan seperti itu tidak benar.</p>
<p>Kiranya Tuhan memberkati dan memberi kekuatan kepada kita.﻿</p>
<p>R. Sihite</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tidak-ada-kebenaran-di-antara-orang-yang-saling-membenarkan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Sempurna Hadir Melalui yang Tidak Sempurna</title>
		<link>http://gkipi.org/yang-sempurna-hadir-melalui-yang-tidak-sempurna/</link>
		<comments>http://gkipi.org/yang-sempurna-hadir-melalui-yang-tidak-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 10:47:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5516</guid>
		<description><![CDATA[Ada pepatah tua yang mengingatkan kita bahwa lebih baik mencari kawan dibandingkan lawan. Pepatah itu benar-benar dipegang teguh oleh seorang tokoh pengampun yang pantas dijadikan contoh, yaitu Nelson Mandela, pemenang Nobel Perdamaian tahun 1993. Mandela adalah sosok pahlawan Afrika yang menentang diberlakukannya pembedaan warna kulit di negaranya. Akibat keberaniannya menentang rezim yang berkuasa pada saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pepatah tua yang mengingatkan kita bahwa lebih baik mencari kawan dibandingkan lawan. Pepatah itu benar-benar dipegang teguh oleh seorang tokoh pengampun yang pantas dijadikan contoh, yaitu Nelson Mandela, pemenang Nobel Perdamaian tahun 1993. Mandela adalah sosok pahlawan Afrika yang menentang diberlakukannya pembedaan warna kulit di negaranya. Akibat keberaniannya menentang rezim yang berkuasa pada saat itu, Mandela terpaksa harus mendekam selama 27 tahun di penjara.</p>
<p>Namun setelah rezim Apartheid tumbang, Mandela tidak membalas hukuman yang diterimanya kepada rezim tersebut. Ketika Nelson Mandela diangkat menjadi Presiden Afrika Selatan yang ke -11, ia membentuk suatu komite untuk mengusut tuntas kebrutalan yang dilakukan oleh rezim apartheid. Setiap polisi warga kulit putih yang mengaku bersalah di hadapan keluarga korban, tidak dihukum.</p>
<p>Suatu hari seorang ibu tua diperhadapkan dengan polisi yang membunuh anak satu-satunya dan suaminya yang tercinta. Ketika ditanya apa yang ingin ia lakukan, wanita renta itu berkata, “Walaupun saya tidak lagi memiliki keluarga, saya masih memiliki banyak kasih untuk diberikan.” Wanita itu meminta agar si polisi muda mengunjunginya secara berkala sehingga ia merasakannya sebagai kunjungan seorang anak kepada ibunya. Kemudian ia berkata, “Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa pengampunan yang saya berikan adalah sebuah kesungguhan.” Polisi muda itu setelah mendengar perkataan si ibu begitu malu hingga ia jatuh pingsan (dari Buku Champion).</p>
<p><strong>Berhati Mulia</strong></p>
<p>Tak perlu kita persoalkan, Nelson Mandela dan janda renta itu, apakah mereka itu orang Kristen atau bukan. Yang jelas mereka, sang presiden dan wong cilik tadi keduanya berhati mulia, menunjuk kepada kasih Kristus yang sangat indah dan mempesona. Tuhan pasti sangat berkenan kepada mereka. Sebab sebagai manusia yang penuh keterbatasan, mereka sudah memancarkan wajah, hati dan hidup Kristus.</p>
<p>Di dalam Alkitab, Tuhan Yesus sering memuji orang yang dipandang rendah oleh sesamanya, tapi melakukan hal-hal yang besar di mata Tuhan. Perumpamaan orang Samaria yang murah hati termasuk pelajaran Tuhan Yesus yang penting. Melalui perumpamaan itu, Tuhan Yesus memperingatkan agar kita jangan tergesa-gesa menilai orang. Kedudukan yang terhormat dan rohaniah bukanlah jaminan mutu. Orang yang kita pandang tidak masuk hitungan, sering bisa melakukan perbuatan terpuji yang diperkenan Tuhan. Dalam hidup sehari-hari, terkadang kita disuguhi pelajaran menarik dari orang-orang sederhana yang berhati mulia, misalnya seorang tukang beca yang karena kejujurannya, tanpa pamrih mau berjerih payah mencari penumpangnya, hanya untuk mengembalikan dompet tebal yang baru saja tertinggal di becanya.</p>
<p><strong>Tuhan yang Sempurna Mau Hadir Melalui Kita</strong></p>
<p>Dalam Yesaya 9 tadi, hanya Tuhan yang dapat memunculkan terang yang besar di dalam kegelapan. Tuhanlah yang mampu mengakhiri ngerinya peperangan. Tuhan pula yang telah mengubah derita peperangan menjadi sorak-sorai dan kelegaan besar sebab perang telah berakhir. Penindasan dan masa pembuangan sudah tak ada lagi.Semua itu adalah prakarsa Tuhan, semua adalah anugerah Tuhan. Jika Tuhan sudah melakukan hal-hal yang besar, maka Dia selanjutnya menghendaki agar umat-Nya mau menyambut dengan sukacita, serta mensyukurinya. Tuhan tidak mau keberadaan umat-Nya bertentangan, atau bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh-Nya. Tuhan ingin agar umat-Nya dapat mengamini apa yang dilakukan-Nya dengan hidup selaras dengan-Nya. Dengan demikian terjadi suatu pertobatan serta lembar hidup baru di tengah-tengah umat Tuhan.</p>
<p>Coba simak satu kejadian yang menyentuh hati ini: Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesman mengadakan pertemuan di suatu kota. Melalui telpon mereka memberitahukan kepada para isteri mereka bahwa akan pulang agak malam, tapi ternyata pembicaraan lebih panjang dari yang diduga. Ketika pulang, karena tergesa-gesa maka tidak sengaja salah seorang salesman itu telah menendang kaki meja dari penjual buah-buahan. Berhamburanlah buah-buahannya, padahal pedagang buah itu ternyata adalah seorang yang buta matanya. Mengetahui hal itu salesman tadi segera turun kembali dari dalam bus yang akan ditumpanginya, dengan penuh rasa tanggung jawab ia segera mengumpulkan kembali semua buah tadi. Kemudian ia juga mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya sebagai ganti rugi, sebab ada beberapa buah yang rusak karena jatuh. Mengetahui semua kebaikan hati salesman tadi maka sang penjual buah yang buta itu lalu mengajukan satu pertanyaan yang aneh kedengarannya, “Apakah engkau Yesus?” Mendengar pertanyaan yang tak terduga-duga itu tercenganglah sang salesman.</p>
<p>Memang sangat mencengangkan jika perbuatan yang tampaknya biasa-biasa saja tiba-tiba memiliki satu nilai ilahi dan surgawi. Jika kita sering berbuat demikian, tahu-tahu kita sudah memberkati dunia yang sudah layu karena dosa ini. Tetesan bahkan siraman air sejuk telah kita limpahkan atas ladang-ladang, yang sudah mulai kering tanpa harap.</p>
<p><strong>Manusia Yesus Mulai Melakukan Perjalanan Ilahi-Nya</strong></p>
<p>Yesus tidak memilih Yerusalem sebagai tujuan awal perjalanan-Nya, tapi kota-kota kecil. Sebagai duta surga dan Putera Allah, Ia justru mendatangi orang-orang bersahaja. Allah transenden menyembunyikan kegagahan-Nya untuk melayani dengan kasih dan penuh kesabaran. Umat manusia yang dirangkul kegelapan maut, kini disinari terang besar yang memberi pengharapan untuk hidup. Melalui penampilan yang sederhana bahkan yang dinilai sebagai “yang tidak sempurna” itu, Yang Maha Kuasa datang bukan dengan maksud menjatuhkan hukuman, tapi menganjurkan pertobatan. Semua ini menunjukkan bahwa pada dasarnya Tuhan mengasihi manusia berdosa yang memprihatinkan nasibnya itu. Mengapa Yang Maha Mulia mendatangi manusia hina melalui Yesus anak tukang kayu yang sederhana dan yang dinilai tidak sempurna itu?</p>
<p>Sebab manusia tidak akan tahan menghadapi kekudusan Allah secara langsung, dan hanya melalui “yang tidak sempurna” itu maka akan terjalin persekutuan serta pergaulan yang seakrab-akrabnya antara Allah dan manusia. Ada satu hal lagi, yaitu: Obyek kasih Tuhan tidak boleh hanya tertuju kepada segelintir manusia, tapi “bangsa yang diam dalam kegelapan” bahkan “bangsa-bangsa lain.” Kalau begitu, selaku kepanjangan tangan Tuhan Yesus, kita tidak boleh tebang pilih dalam kegiatan pekabaran Injil.</p>
<p>Kita memang perlu bersikap bijaksana, terutama terhadap pemeluk agama lain, tetapi hati kita tidak boleh hanya tertarik kepada orang-orang yang berduit atau berkedudukan tinggi untuk memperkuat gereja. Pekabaran Injil dan jaring kasih Kristus jangan hanya ditebarkan kepada “kakap dan gajah” tetapi juga mereka yang tergolong “teri dan kelinci” di dalam masyarakat.</p>
<p><strong>Dalam Yesus, Allah Dibesarkan dan Mengecilkan Diri</strong></p>
<p>Yesus mengajar di seluruh Galilea, dalam rumah-rumah ibadah, memberitakan Injil Kerajaan Allah, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, tersiar berita tentang Dia di seluruh Siria, dan dibawa kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan, lumpuh lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem dan Yudea.</p>
<p>Baru satu gebrakan saja, Yesus sudah sedemikian memikat dan mendatangkan kekaguman serta memuliakan Allah. Di dalam Yesus, Allah telah dibesarkan. Tapi Yesus tahu pasti bahwa akan tiba saatnya Ia akan meninggalkan dunia ini. Tujuan utama-Nya adalah mati menebus dosa manusia, sesudah itu harus ada para pengikut yang melanjutkan misi Allah. Maka sementara mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah, Ia juga menyiapkan murid-murid demi kepentingan masa depan, bahkan demi kepentingan yang lebih besar. Sebab para murid-Nya itu akan menjadi modal, model dan dasar bagi setiap hamba Tuhan yang menghubungkan Allah dengan bangsa-bangsa, untuk menghadirkan kasih karunia Allah.</p>
<p>Tapi sungguh aneh bahwa rencana besar-Nya itu hanya ditandai oleh langkah-langkah sederhana yang dapat “mengecilkan” kebesaran Allah. Lihatlah, Yesus tidak gembar-gembor menginformasikan progam keselamatan-Nya, lalu mengundang para cendekiawan dan para rohaniwan untuk mau mendaftarkan diri sebagai murid dan rasul-Nya. Tetapi Dia hanya menjumpai orang per orang, dari golongan rendah, dengan janji bahwa para nelayan itu akan diubah-Nya menjadi penjala orang! Jika kita bertanya-tanya mengapa begitu? Maka paling sedikit kita beroleh jawaban seperti ini: Yesus memilih orang-orang sederhana supaya di kemudian hari mereka dapat memberi kejutan bahwa di dalam tangan Tuhan, mereka bisa berubah menjadi hamba Tuhan yang berwibawa, karena memberitakan injil Kerajaan Allah dan membaptiskan orang-orang yang bertobat. Dengan demikian Allah yang dikagumi dan dimuliakan, bukan kepandaian manusia. Sebagaimana pilihan jatuh pada kandang domba, maka kali inipun diharapkan orang-orang dari segala lapisan masyarakat tidak akan merasa takut belajar kenal sama Tuhan Yesus melalui para murid-Nya.</p>
<p><strong>Pemberitaan Tentang Salib Seperti Kebodohan, Namun Sebenarnya Kekuatan Allah</strong></p>
<p>Tugas kita sekarang harus mampu mewujudnyatakan hal itu. Apa jadinya jika kita yang oleh dunia sudah dipandang bodoh karena memercayai Yesus Kristus yang tersalib itu, tapi ternyata kita juga tidak mampu menampilkan kekuatan Allah? Kita sudah dipandang bodoh karena mau memercayai Yesus, dan masih juga menjadi pecundang yang ringkih tak bertenaga. Bukan memuliakan, tapi sebaliknya akan menjadi batu sandungan yang mencemarkan nama Allah.</p>
<p>Ketahuilah, rahasia keberhasilan kita terletak pada kesediaan hati kita untuk mengutamakan persekutuan yang kokoh kuat. Bukankah kita ini lemah dan tidak sempurna? Tapi percayalah bahwa Tuhan yang sempurna akan hadir melalui kita yang tidak sempurna, menunjukkan kuat kuasa-Nya dalam segala hal. Mari, segala bentuk perpecahan yang dapat menyerang dan merusak persekutuan kita hindari, kita lawan dengan iman dan kasih. Kita dahulukan persekutuan kita dengan Tuhan, dan kita lakukan secara terus menerus persekutuan di antara kita dengan kita.</p>
<blockquote><p>“Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1b).</p></blockquote>
<p>Dalam Tuhan, oleh Tuhan, dan bersama Tuhan, kita pasti akan berhasil menjadi terang yang bercahaya di tengah kegelapan dunia!</p>
<p>Pdt Em. Daud Adiprasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/yang-sempurna-hadir-melalui-yang-tidak-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umat Kristiani Menghadapi Penderitaan</title>
		<link>http://gkipi.org/umat-kristiani-menghadapi-penderitaan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/umat-kristiani-menghadapi-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 13:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5283</guid>
		<description><![CDATA[Berbagai macam bencana silih berganti menimbulkan penderitaan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti tsunami di Aceh, meletusnya Gunung Sinabung, tanah longsor di Wasior, tsunami di Mentawai, erupsi Gunung Merapi disertai awan panas. Tak terhitung banyaknya korban jiwa atau korban cacat tubuh, kerugian harta benda, hilangnya mata pencaharian (berladang, bertani, beternak) serta berbagai penyakit dan kelaparan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbagai macam bencana silih berganti menimbulkan penderitaan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti tsunami di Aceh, meletusnya Gunung Sinabung, tanah longsor di Wasior, tsunami di Mentawai, erupsi Gunung Merapi disertai awan panas. Tak terhitung banyaknya korban jiwa atau korban cacat tubuh, kerugian harta benda, hilangnya mata pencaharian (berladang, bertani, beternak) serta berbagai penyakit dan kelaparan yang diakibatkannya. Selain itu, kejahatan kemanusiaan dengan mengatasnamakan agama juga sering terjadi. Banyak tempat ibadah ditutup dengan paksa dan beberapa tokoh agama dibunuh atau dianiaya. Hal ini menggugah perenungan di dalam hati, bagaimana sebenarnya kita harus menyikapi keadaan ini.</p>
<p>Sejak zaman Perjanjian Lama, manusia sudah mengalami bencana air bah, hujan api dan belerang (Sodom dan Gomora), gempa bumi dan berbagai malapetaka lainnya. Bumi sudah pernah porak poranda karena bencana alam yang sangat besar. Apakah kita yang hidup di zaman sekarang ini menganggap bencana alam yang bertubi-tubi tersebut sebagai hal-hal yang biasa terjadi ataukah kita mengaitkannya dengan kedatangan Yesus yang semakin dekat, ketika malapetaka, kesulitan, bahaya, ancaman dan kesengsaraan merongrong seluruh keberadaan kita? Sebagai umat kristiani, selayaknya kita memperoleh hikmat dan pengertian dengan mendasarkan diri pada Firman Allah.</p>
<p>Ayub 5:7 mengatakan, “…melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi” (Yet man is born to trouble, As the sparks fly upward). Kata-kata itu sungguh benar. Dewasa ini dunia sarat dengan tekanan hidup. Orang kehilangan tempat tinggal, kelaparan, dilanda krisis ekonomi, diperbudak sesamanya, menderita gangguan psikologis dan ketidakstabilan emosi, mengalami pernikahan yang rapuh dan tidak bahagia. Tidak seorang pun luput dari masalah, apakah ia kaya, ternama, atau miskin, terlantar, apakah ia beriman atau ateis. Umat kristiani bahkan sering dibenci karena mengikut Yesus Kristus. Walaupun demikian, Alkitab memberikan jawaban.</p>
<p><strong>A.	HIKMAT DAN PENGERTIAN</strong></p>
<p>Hikmat adalah pengetahuan dan kemampuan untuk memilih sikap yang tepat dalam menghadapi suatu kejadian. Namun untuk memperoleh jawaban yang tepat tentang hikmat diperlukan pengertian berdasarkan kepercayaan pada Allah Tritunggal.</p>
<p>Apakah hikmat itu? Dalam Alkitab, hikmat dan pengertian dijelaskan sebagai berikut: “Sesungguhnya takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi” (Behold the fear of the Lord, that is wisdom; And to depart from evil is understanding) (Ayub 28:28); “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat” (Amsal 2:6); “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat dan orang yang memperoleh kepandaian” (Amsal 3:13); “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat; dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian” (Amsal 4:7); dan masih banyak lagi firman Allah yang dapat dibaca dan dipelajari di dalam Alkitab.</p>
<p>Hikmat dan pengertian diperoleh karena takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dengan demikian manusia harus hidup suci, kudus dan tidak bercacat cela atau bernoda.</p>
<p><strong>B. 	APAKAH PERISTIWA ALAM ATAU TEGURAN KEPADA MANUSIA</strong></p>
<p>Sebagai orang Kristen yang percaya, kita harus “…bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kisah Rasul 26:19-23), dan mengucapkan PENGAKUAN IMAN RASULI: “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi; dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita…,” dan diakhiri dengan “Aku percaya kepada Roh Kudus….” Itulah dasar hikmat yang dapat kita peroleh dengan membaca firman Allah. “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu…” (2 Timotius 3:15).</p>
<p>a. 	Ciptaan Allah, langit dan bumi dan isinya (Kejadian 1:1) ada di dalam pengendalian Allah;</p>
<ol>
<li>“&#8230;mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya…” (2 Tawarikh 16:9);</li>
<li>“Mata orang berhikmat ada di kepalanya…” (Pengkhotbah 2:14);</li>
<li>“&#8230;mata Tuhan tertuju kepada orang benar dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong” (and His ears are open to their prayers)” (1 Petrus 3:12).</li>
</ol>
<p>b.	Apakah manusia mampu memiliki pengetahuan tentang terjadinya penderitaan dan siapa yang berada di balik semuanya itu? Firman Allah mengatakan:</p>
<ul>
<li>“Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa…” (Ayub 8:3);</li>
<li>“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini” (Amsal 27:1);</li>
<li>“Orang yang bodoh banyak bicaranya meskipun orang tidak tahu apa yang akan terjadi… “ (Pengkhotbah 10:14);</li>
<li>“Allah mengguntur dengan sabda-Nya yang mengagumkan, Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita” (Ayub 37:5);</li>
<li>“Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mazmur 19:3);</li>
<li>“Engkau akan melihat kedatangan Tuhan semesta alam dalam guntur, gempa dan suara hebat, dalam puting beliung dan badai dan dalam nyala api yang memakan habis” (Yesaya 29:6);</li>
<li>“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Roma 11: 33-36).</li>
</ul>
<p>Dengan demikian umat kristiani (yang percaya kepada Trinitas–Allah Bapa, Allah Putra dan Rohulkudus–) jauh lebih dulu dibukakan mata dan telinganya melalui kesaksian para nabi, rasul, orang kudus yang membuka berbagai visi masa depan yang dapat dibaca di dalam Alkitab. Umat kristiani perlu waspada setiap saat dan mengharapkan perlindungan Allah Yang Maha Kasih serta berlaku bijaksana dan berjaga-jaga (watch and be sober–1 Tesalonika 5:1-11 dan 2 Korintus 8:1-15 dengan penekanan pada ayat 7–kaya dalam segala sesuatu: dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu dan dalam kasihmu–) karena kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya sudah sangat dekat! “Ya, Aku datang segera!” (Surely I am coming quickly) (Wahyu 22:20 dan Kisah Rasul 26:19-23).</p>
<p><strong>C. 	KESETIAAN DAN 	KETAATAN TIDAK 	DENGAN SEGENAP HATI</strong></p>
<p>Di dalam surat yang ketujuh yang ditujukan kepada Gereja Laodikia, sifat yang dibenci oleh Tuhan adalah “suam-suam kuku” atau tidak panas tetapi juga tidak dingin. Tuhan akan memuntahkan orang-orang seperti itu. Namun sebelum melakukannya, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat. Gereja Laodikia berkata bahwa mereka kaya dan tidak kekurangan sesuatu apapun, namun tidak menyadari bahwa mereka tidak memperoleh upah dari mengikuti salib Kristus (1 Petrus 5:4).</p>
<p>Sifat suam-suam kuku ini membuat mereka tidak menyadari akan dosa-dosa mereka dan tidak hidup kudus. Mereka tidak mengenal Kristus yang sesungguhnya dan tidak memikirkan pertobatan. Dalam pikiran mereka, mereka kelak pasti akan ke surga, padahal mereka menuju ke neraka. Karenanya, tanpa kesadaran akan dosa, tidak ada perasaan bahagia yang Tuhan janjikan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya.</p>
<p>Dalam pelayanan keseharian, Gereja Laodikia lebih mengutamakan berbicara dan bersaksi tentang harta kekayaan manusia (mammon) dan mukjizat. Mereka lebih menitikberatkan pada “keberhasilan duniawi” ketimbang penderitaan dan kematian Mesias, serta kesaksian-kesaksian-Nya yang menuju pada keselamatan manusia. Mereka beranggapan bahwa kesempurnaan hidup rohani dan jasmani telah diperoleh dari kekayaan yang mereka miliki dan bahwa tidak ada kejatuhan dalam dosa lagi sehingga pengorbanan Yesus di kayu salib itu tidak penting.</p>
<p>Pengorbanan Yesus sebagai Juru Selamat, dengan menyerahkan dan mengorbankan roh, jiwa dan tubuh-Nya sebagai manusia (the Son of Man) untuk menebus umat manusia dari dosa sehingga memperoleh keselamatan kekal, sudah tidak diingat lagi. Secara rohani mereka sudah mati. Yesus memperingatkan mereka bahwa tanpa pertobatan, mereka hanyalah manusia yang melarat, malang, miskin, buta dan telanjang.</p>
<p><strong>D.	SIKAP GEREJA ZAMAN SEKARANG</strong></p>
<p>Surat-surat kepada ketujuh Jemaat (Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia), selalu diakhiri dengan ucapan: “Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Ucapan ini juga ditujukan kepada jemaat dan gereja masa kini (untuk setiap generasi). Pesan dalam surat-surat ini bersifat abadi dan di dalam pesan ini, Roh tetap berbicara kepada manusia (perwujudan tugas Roh Kudus ialah untuk membongkar dan membangun, menegur dan menghibur). Dialah Roh Kebenaran (Yohanes 14:17; 16:13) dan Roh Penghibur (Alos Parakletos) (Yohanes 14:16). Bila jemaat dan gereja menjadi tuli, maka mereka juga menjadi bisu, sehingga doa dan kesaksian pun hilang. Tuhan Yesus telah berfirman: EFATA!, artinya “Terbukalah!” (Markus 7:34). Sama seperti Yesus menyembuhkan orang tuli, firman ini perlu diindahkan oleh jemaat dan gereja masa kini dalam menghadapi penderitaan.</p>
<p>Dalam mengabarkan Injil Kabar Baik (mengajar/teaching, memberitakan Injil/preaching, menyembuhkan/healing–Matius 4:23), Yesus senantiasa mengingatkan para murid dan pendengar-Nya untuk bertobat, memohon ampun atas dosa-dosa mereka serta mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Selama 3,5 tahun Ia memberikan banyak nasihat bagi kehidupan manusia melalui Khotbah di Bukit (Matius 5:3-12), Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13, Markus 12:30-31, Markus 8:34) dan perumpamaan-perumpamaan, serta membuat berbagai mukjizat (wonders) dan tanda (signs). Ia memperingatkan dalam Lukas 8:8, “…Akan tetapi jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (will He really find faith on the earth?).</p>
<p><strong>E.	PANGGILAN GEREJA ZAMAN SEKARANG</strong></p>
<p>Gereja dan umat manusia zaman sekarang yang hidup seperti Gereja Laodikia, perlu melakukan perubahan melalui pembaharuan (Roma 12:2), karena tidak sesuai dengan ajaran kebenaran Yesus Kristus.</p>
<p>1.	Pada zaman Gereja Laodikia, orang mendikte apa yang akan diajarkan atau dikhotbahkan (memberitahu pengkhotbah tentang apa yang harus dikhotbahkan) dan bukan menerima wewenang firman Allah dari kuasa Roh Kudus. Ini dirasakan dan terjadi dalam kehidupan banyak gereja masa kini.</p>
<p>2.	Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, menulis bahwa pada hari-hari terakhir “orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat (endure sound doctrine), tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Timotius 4:3-4) dan hal ini sudah terjadi pada saat ini.</p>
<p>3.	Bukannya manusia menyerahkan diri kepada kebenaran firman Allah, namun malah menyelewengkannya menurut kehendak mereka sendiri.</p>
<p>4.	Jemaat masa kini ditandai sebagai:</p>
<ul>
<li>Jemaat yang dengan cepat hanyut, yang memuakkan di mata Tuhan (melarat, malang, miskin, buta dan telanjang) (Wahyu 3:17);</li>
<li>Jemaat yang menjauh dari kebenaran Alkitab, dan semua sudah berbuat dosa (Roma 3:10; 23);</li>
<li>Meningkatnya sifat «memegahkan diri dalam kecongkakan» (boast in your arrogance) (Yakobus 4:16-17) seolah-olah lebih mengetahui soal rohani daripada firman Allah sendiri dengan menyimpangkan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan keinginan diri sendiri dan adanya peran dari para pengajar/pendeta/guru palsu;</li>
<li>Di kalangan umat kristiani terjadi penyalahgunaan intelektual manusia untuk hal-hal yang berdosa dan menyimpang dari kebenaran serta tidak memuliakan Allah (baca Roma 1:18-32: Hukuman Allah atas kefasikan dan kelaliman manusia), kejahatan, narkoba, ambruknya moralitas (pornografi di majalah, radio, televisi, internet), komputerisasi untuk hal-hal yang najis/tidak kudus, pencemaran kehidupan, dan sebagainya);</li>
</ul>
<p>5.	Pendirian berbagai macam gereja yang memisahkan diri atau hanya diperuntukkan bagi kelompoknya sendiri. Umat manusia sudah tidak lagi berbicara tentang pertobatan dan pengorbanan (repentance and sacrifrice) tetapi hanya berbicara tentang kekayaan (bisnis, real estate, saham, investasi besar, dan sebagainya).</p>
<p>Seluruh denominasi gereja masa kini harus menyatukan sikap dengan seia sekata, sehati sepikir, untuk menghambat kejadian tersebut dengan:</p>
<ol>
<li>Melakukan pengajaran, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran;</li>
<li>Bersatu-padu dan berbagi tugas untuk memperbaiki gereja-gereja yang terkena bencana.</li>
</ol>
<p><strong>PERENUNGAN</strong></p>
<p>A. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita meyakini bahwa kejadian di langit, bumi dan isinya adalah ciptaan Allah (Kejadian 1:1), milik Allah dan di dalam pengendalian Allah–Tuhan Allah yang sudah ada, yang sekarang ada dan yang akan datang! Marilah kita sebagai umat manusia dari segala suku, bahasa, kaum dan bangsa dengan gentar dan takut memperhatikan hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>“Hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10); dengan melihat atau tanpa melihat apa yang (sedang) terjadi;</li>
<li>“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Epesus 5:17);</li>
<li>“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (transformed by renewing of your mind) sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2);</li>
<li>“Senantiasa memohon hikmat dan rahmat-Nya dalam menghadapi segala perkara” (Yakobus 1:1-8, dengan penekanan pada ayat 5: “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah&#8230;)”;</li>
<li>Memohon agar tidak dikatakan “…bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta dan telanjang” (Wahyu 3:17-18);</li>
<li>“Kaya dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu dan dalam kasihmu…” (2 Korintus 8:7);</li>
<li>“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27) dan “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7).</li>
</ol>
<p>B.	Mereka yang hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, akan menerima upah besar. “Upah orang benar akan bertahan untuk selamanya” (Mazmur 57:2).</p>
<p>“I will cry to God Most High, who performs on my behalf and rewards me (who brings to pass His purpose for me and surely complete them!)” (AMP)</p>
<p>Demikian juga sebuah mahkota dijanjikan bagi para hamba-Nya yang setia. Mahkota ini abadi (an imperishable crown), tidak akan cacat, busuk atau bertambah suram (1 Korintus 9:25) yakni:</p>
<ul>
<li>Mahkota Kebenaran (2 Timotius 4:8)</li>
<li>Mahkota Kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10)</li>
<li>Mahkota Kemuliaan (1 Petrus 5:4)</li>
<li>Mahkota yang Abadi (1 Korintus 9: 25)</li>
<li>Mahkota Kemegahan (1 Tesalonika 2:19-20)</li>
</ul>
<p>Dalam menghadapi penderitaan, hendaklah kita sebagai pengikut Yesus Kristus senantiasa berpegang pada janji Allah yang kekal, yang akan menyertai dan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kita harus mempersiapkan diri dan tidak mengikuti bahkan menolak dan tidak tergoda atau terpengaruh oleh petunjuk pengajar/pendeta/guru/rasul palsu (baca Roma 16:17-18 dan Efesus 6:12-17). Senantiasalah mendengarkan firman Alah. Berjaga-jagalah karena waktunya sudah dekat! Amin.</p>
<p>Jakarta, 5 Desember 2010</p>
<p>Erna Kusoy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/umat-kristiani-menghadapi-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

