<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Bible Talks</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-teologis/bible-talks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Melayani = Memberikan  yang Terbaik</title>
		<link>http://gkipi.org/melayani-memberikan-yang-terbaik/</link>
		<comments>http://gkipi.org/melayani-memberikan-yang-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 09:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4116</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak orang yang mau bertanya kepada diri sendiri apakah ia sudah melaksanakan pelayanannya, dalam hal apapun, secara optimal, all out, dengan segenap kemampuan serta daya yang dimilikinya. Sebab pada dasarnya tidak semua orang yakin bahwa mereka memang harus melakukannya. Selain itu ada semacam pemahaman bahwa selain melaksanakan pelayanannya, orang berhak melakukan sesuatu semata-mata demi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak banyak orang yang mau bertanya kepada diri sendiri apakah ia sudah melaksanakan pelayanannya, dalam hal apapun, secara optimal, all out, dengan segenap kemampuan serta daya yang dimilikinya. Sebab pada dasarnya tidak semua orang yakin bahwa mereka memang harus melakukannya. Selain itu ada semacam pemahaman bahwa selain melaksanakan pelayanannya, orang berhak melakukan sesuatu semata-mata demi kesenangan dan kepentingannya pribadi. Jadi ada semacam pembagian (dikotomi) antara hal-hal yang sifatnya pelayanan dan yang bukan.</p>
<p>Bagaimanakah kita sebagai orang Kristen mesti mencermatinya? Untuk itu, dari banyak cara yang dapat ditempuh, kita dapat merenungkan apa yang dikatakan Yohanes dalam 1 Yohanes 3:11-18. Sebuah perikop yang berfokus pada kasih. Atau tepatnya: “berlaku benar berarti mengasihi sesama”.</p>
<p>Ia tiba pada kesimpulan ini karena baginya berlaku apa yang selalu ditekankan oleh Yesus sendiri, bahwa orang percaya dikenal dari buahnya, atau apa yang dilakukannya dalam kehidupannya setiap hari. Itulah tugas orang percaya ketika ia dipanggil untuk percaya dan memasuki persekutuan tubuh Kristus, yaitu hidup secara benar sebagaimana yang dikehendaki Kristus, sebagai sumber dan dasar dari segala tindakannya.</p>
<p>Maka di situ, kasih lalu menjadi bukti dari kebangkitan orang percaya dari “kematiannya”. Dalam khotbah di bukit yang adalah semacam “aturan main” bagi kehidupan orang percaya, orang yang sudah ditebus atau “dibangkitkan” bersama Kristus, Yesus menandaskan bahwa ”tidak mengasihi berarti praktis sama dengan pembunuh” (ayat 15, bandingkan Matius 5:21-22). Setiap pengikut Kristus (baca: orang Kristen) tidak bisa tidak harus mengasihi.</p>
<p>Barangkali ada yang atas ini mengatakan: “Oke saya tahu ini adalah kewajiban kita. Tetapi mungkinkah ini kita lakukan&#8230;?” Jawabnya ada di ayat 16. Bila kita sungguh-sungguh ingin memahaminya apa itu kasih, lihatlah pada Yesus. Kasih itu dinyatakan-Nya dengan pengorbanan-Nya bagi kita. Maka itu hidup Kristen berarti “meneladani atau meniru Kristus” (lihat: Filipi 2:5 dan 1 Petrus 2:21).</p>
<p>Barangkali di titik inipun masih ada yang belum yakin dan mantap, serta mengatakan bahwa pada zaman Yesus memang begitu situasinya. Situasi yang belum tentu relevan dengan situasi zaman ini. Tentu pendapat ini benar. Tetapi tidakkah demikian, bahwa ketika kita melihat sesama kita membutuhkan sesuatu yang kita miliki, dengan bersedia berbagi dengannya kita sedang “mengikut Kristus”? Sebaliknya bila kita menutup mata dan hati kita terhadap sesama kita itu, di dalam diri kita tidak ada tempat bagi kasih Allah dalam Kristus (ayat 17).</p>
<p>Maka, mengasihi tidak dapat dilakukan dengan perkataan saja, tetapi hanya dengan perbuatan nyata, dan dalam kebenaran. Tepatnya dengan kata-kata, sikap dan perbuatan yang berdasar pada serta meneladani Kristus (ayat 18).</p>
<p>Dikenakan pada pelayanan sebagai orang percaya, ini berarti bahwa pelayanan orang percaya dalam segala bentuknya adalah pelayanan kasih. Ia bukan sekadar lowongan pekerjaan sukarela yang diisinya karena tak ada orang lain, juga bukan sekadar memanfaatkan atau mengisi waktu luang. Ia adalah pelayanan yang mesti lahir dari hati yang mengasihi, yang mensyukuri kasih Tuhan. Mengasihi dan mensyukuri kasih Tuhan yang mestinya tidak berhenti setelah lewat “periode” waktu yang tertentu, tetapi sinambung bahkan tetap sifatnya. Dan ini berlaku untuk setiap bentuk pelayanan.</p>
<p>Pelayanan adalah meniru Kristus. Maka itu berarti bahwa pelayanan adalah pengorbanan! Memberi bukanlah memberi bila tidak mau kehilangan atau rugi. Menolong bukanlah menolong bila tidak bersedia mengorbankan tenaga, materi dan waktu. Sebab pada hakikatnya, pelayanan adalah mengasihi dalam perbuatan dan dalam kebenaran.</p>
<p>Dalam terang itu pelayanan bukanlah pelayanan bila tidak dilakukan secara optimal, all out, dengan segenap kemampuan serta daya yang dimiliki. Sebab meneladani Kristus, pelayanan lalu memberikan apa yang dapat diberikan bahkan segenap diri. Bagi Kristus hal ini jelas sekali dalam kata-kata-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15: 13). Kahlil Gibran berujar: “You give but little when you give of your possessions. It is when you give of yourself that you truly give.” Bila kita memberikan sesuatu dari apa yang kita miliki maka sebenarnya sedikitlah apa yang kita berikan. Bila hendak sungguh-sungguh memberi, berikanlah dirimu.</p>
<p>Tetapi lalu bagaimana dengan kepentingan dan kesenangan pribadi. Tidak adakah tempat dalam pemahaman tentang hidup yang harus melayani dengan memberikan yang terbaik bahkan segenap diri? Tentang ini, kiranya kita dapat belajar dari Martin Luther King, Jr.: “If a man is called to be a street-sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or as Beethoven composed music, or as Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, ‘Here lived a great street-sweeper who did his job well.’”</p>
<p>Maka dikotomi antara hal-hal yang sifatnya pelayanan dan yang bukan, adalah sebenarnya nisbi. Dalam upayanya untuk menjadi mitra Allah dalam pelayanan, tidak pernah dituntut dari orang percaya untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dikerjakannya, atau memberikan dari apa yang tidak dipunyainya. Bila diterjemahkan secara bebas maka yang dikatakan Martin Luther King Jr. adalah begini, bila seseorang bertugas menyapu jalan, lakukanlah itu bagaikan Michelangelo sedang melukis, atau bagaikan Beethoven yang sedang menciptakan musiknya, bahkan seperti Shakespeare ketika menulis sajak. Bila seseorang bertugas menyapu jalan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya, sehingga dunia dan surga akan berkata: “Inilah seorang penyapu jalan yang besar, yang melakukan pekerjaannya dengan baik.”</p>
<p>Pelayanan apapun yang kita lakukan sesuai dengan minat dan keinginan kita, lakukanlah dengan sebaik-baiknya, dengan memberikan yang terbaik, dalam rangka meneladani Kristus. Dalam 2 Korintus 8:11 Paulus berkata, pelayanan persembahan: “&#8230;hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.” Dan dalam Kolose 3:17, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”</p>
<p>Maka tinggal ini yang perlu dikatakan, yaitu “suka-rela” bukan berarti “suka-suka”. Memang pelayanan bersifat sukarela. Namun itu tidak boleh berarti bahwa pelayanan dapat dilakukan dengan sesuka hati. Di baliknya, kata kuncinya adalah tanggung jawab. Dan dalam terang refleksi kita, pelayanan yang dilakukan dengan tanggung jawab berarti pelayanan yang memberikan yang terbaik serta meneladani Kristus.</p>
<p>Pdt. Purboyo W. Susilaradeya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/melayani-memberikan-yang-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab WAHYU 2</title>
		<link>http://gkipi.org/kitab-wahyu-2/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kitab-wahyu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 03:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3959</guid>
		<description><![CDATA[Rahasia Membaca Kitab Wahyu Sebagai Wahyu Yesus Kristus Sendiri Sebelum membaca dan meneliti lebih dalam isi kitab Wahyu ini, marilah kita terlebih dahulu merenungkan pendapat beberapa penulis terkenal dalam kedudukan mereka sebagai pendeta/penginjil yang telah berpengalaman selama puluhan tahun. Mereka mengemukakan pandangan mereka tentang kitab Wahyu dari berbagai segi, antara lain: Billy Graham (dalam bukunya–“Approaching [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rahasia Membaca Kitab Wahyu Sebagai Wahyu Yesus Kristus Sendiri</strong></p>
<p>Sebelum membaca dan meneliti lebih dalam isi kitab Wahyu ini, marilah kita terlebih dahulu merenungkan pendapat beberapa penulis terkenal dalam kedudukan mereka sebagai pendeta/penginjil yang telah berpengalaman selama puluhan tahun. Mereka mengemukakan pandangan mereka tentang kitab Wahyu dari berbagai segi, antara lain:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Billy Graham</strong> (dalam bukunya–“Approaching Hoofbeats”/Derap Kuda yang Semakin Mendekat–Wahyu 6) mengatakan bahwa ia telah membaca beribu-ribu halaman tafsiran, artikel dan berbagai buku penyelidikan tentang kitab Wahyu.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>A.W Tosser</strong> (dalam bukunya “Jesus is Victor”/Yesus Pemenang) mengatakan bahwa ia telah bertahun-tahun mempelajari sebuah perspektif baru tentang kitab Wahyu ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Ray C. Stedman</strong> (dalam bukunya “God’s Final Word”/Firman Terakhir Allah) mengatakan bahwa ia telah menyelidiki kitab Wahyu dan berhati-hati membedahnya dengan membaca ayat demi ayat, agar dapat menghidupkan misteri-misteri yang terkandung di dalamnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>DR. Ed Hindson</strong> (dalam bukunya “Approaching Armageddon”/Armagedon Semakin Dekat”) mengatakan bahwa ia telah bertahun-tahun memperhatikan penerbitan buku-buku dan menemukan banyak pandangan yang menyimpang dari kitab Wahyu.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Dave Hagelberg, Th.M</strong> (dalam bukunya “Tafsiran Kitab Wahyu”– judul dari bahasa Yunani “Wahyu Yesus Kristus”–mengatakan bahwa melalui proses dan pergumulannya selama kurang lebih tiga tahun, akhirnya Tafsiran Kitab Wahyu karangannya dapat diterbitkan.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Simon J. Kistemaker, PhD</strong> (dalam bukunya “Exposition of the Book of Revelation”/Tafsiran Kitab Wahyu) menulis di dalam kata pengantar buku tersebut, bahwa para pendeta biasanya hanya berkhotbah tentang surat kepada ketujuh Jemaat yang tercatat di pasal dua dan tiga kitab Wahyu. Pada umumnya orang Kristen menganggap kitab ini sebagai bagian dari Kitab Suci tetapi sesungguhnya mengalami kesulitan untuk dapat memahaminya. Bagi banyak pembaca, kitab Wahyu bukanlah pewahyuan tetapi misteri nubuatan yang melampaui pengertian manusia.</p>
<p><strong>Percaya dan Merenungkan</strong></p>
<p><strong>a.</strong> Percaya sepenuhnya dan dengan hati tulus dan tanpa lelah menyelidiki isi Firman Allah yang merupakan misteri Allah. Wahyu 1:1: “Inilah Wahyu Yesus Kristus yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.” Kitab Wahyu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh siapapun juga, dan perlu hikmat Tuhan untuk mempelajari misteri Ilahi.</p>
<p>Kitab Wahyu secara rinci mengemukakan rencana Allah bagi akhir zaman dan misteri kehidupan masa mendatang bagi umat manusia di dunia ini. Karena itu, siapapun yang mengabaikan, menolak, membengkokkan kebenaran Allah dalam kitab Wahyu ini, besar kemungkinannya tidak akan menjadi bagian dari rencana Allah yang sangat indah, yang tak dapat dibayangkan oleh pemikiran manusia yang begitu sempit ini. Tanpa disadarinya, ia juga mengambil risiko berbahaya dan tak terhingga karena kelak harus mengalami sendiri rasa ketakutan yang amat besar, kengerian, kepanikan, kecemasan, kegelisahan, kekuatiran, intimidasi dan perasaan kedagingan (kuatir, cemas, iri, dengki), yang dikenal sebagai “teror” dalam kehidupan yang digambarkan di dalam kitab Wahyu ini (baca Wahyu 22:11).</p>
<p><strong>b.</strong> Senantiasa membaca dan merenungkan apa yang tercantum dalam kitab Wahyu (membuka Alkitab, memilih kitab Wahyu dan membacanya dengan penuh rasa hormat. Alkitab tersedia di penerbit dan toko-toko buku, sehingga untuk saat ini tak ada alasan dan halangan apapun bagi Anda untuk tidak membacanya). Tanpa melakukan hal ini, besar risikonya bahwa Anda tidak akan mendapat “bagian/porsi” dari pohon Kehidupan dan tidak akan menjadi warga Kota Suci.</p>
<p>“Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya (who do His commandments). Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu” Wahyu 22:14). Ada pula peringatan keras bagi mereka yang tidak melakukannya, yakni dalam Wahyu 21:8, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang” dan dalam Wahyu 22:15, “Tetapi anjing-anjing dan… tinggal di luar.“</p>
<p><strong>Mengapa Siapa yang Membaca, Mendengar dan Melaksanakan Akan Berbahagia dan Mendapat Berkat Melimpah?</strong></p>
<p>Sangat menarik untuk mendengar janji indah dalam kitab Wahyu Yesus Kristus sendiri (yang disaksikan oleh Yohanes melalui utusan malaikat Tuhan yang menyuruhnya menulis) yakni, bahwa siapa mengindahkan isi kitab Wahyu memperoleh berkat Ilahi. Pernyataan ini secara langsung mengundang pertanyaan duniawi seperti, Apakah hal ini benar demikian? Kapan terjadinya dan mengapa? Di mana serta bagaimana pembaca mendapat karunia Ilahi yang dijanjikan ini?</p>
<p>Di sinilah pentingnya mencari misteri yang terdapat dalam kitab Wahyu dengan penuh kesungguhan disertai keprihatinan di dalam hati dan cucuran air mata, seperti perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga, di mana orang itu menjual seluruh miliknya lalu membeli…(Matius 13: 44-46).</p>
<p>Karena rahasia ini sangat penting, Yohanes diminta untuk menuliskannya di dalam sebuah kitab, yakni kitab Wahyu (perkataan “tulislah” tercantum sebanyak 9 kali, yaitu di dalam Wahyu 1:11, 19, Wahyu 2:1, 8, 12 dan 18, Wahyu 3:1,7, dan 14) dan didengarkan oleh umat. Terdapat pesan indah, “Siapa bertelinga hendaklah mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (perkataan ini tercantum sebanyak 7 kali, yakni dalam Wahyu 2:7,11,17 dan 29, Wahyu 3:6,13 dan 22). Peringatan ini haruslah sangat dihargai dan dilaksanakan karena “waktunya sudah dekat” dan Tuhan Yesus berjanji akan datang kembali sebagai pencuri pada malam hari dan tak seorang pun, bahkan Anak Manusia, yang mengetahui kapan Ia akan datang untuk kedua kali, hanya Allah Bapa saja yang mengetahuinya.</p>
<p>Karena itu hendaklah siapapun bersiap-siap menantikan hari kedatangan-Nya dengan berbagai cara yang wajar, antara lain membaca, merenungkan, memikirkan (read, meditate, contemplate) dan dengan berdiam diri, hening, duduk tenang, bermeditasi, menganalisa dan menggali rahasia kebenaran yang terkandung di dalam kitab ini.</p>
<p>Rahmat dan kemurahan Yesus Kristus akan terungkap dan diungkapkan bagi siapa yang dengan sungguh hati dan bijaksana ingin mengetahui arti misteri kebenaran yang tersimpan dan terbungkus dengan penuh rahasia di dalam kitab Wahyu ini (Usaha untuk mengetahui kebenaran yang tidak dilakukan dalam ketaatan, akan menjadi kegelapan bagi mereka yang berpikiran dangkal dan hanya ingin membaca tanpa keinginan kuat untuk mengejar misteri kebenaran.</p>
<p>Sebagaimana tersirat dalam kitab Wahyu, diperingatkan bahwa Allah akan mengubah terang di dalam dirinya menjadi kegelapan, karena ia menyelidiki Firman Allah karena ingin tahu belaka). Di sinilah terletak sifat khusus dan unik kitab Wahyu, yang merupakan satu-satunya kitab di dalam Alkitab yang berisi peringatan-peringatan bagi siapa pun juga untuk menghargai Firman Allah dan tidak menyepelekannya.</p>
<p>Apabila kita merenungkan sabda dalam Wahyu 22, tersirat maksud agar siapapun yang dengan sungguh-sungguh menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya, akan mendapat berkat dan berbahagia sebagaimana janji-Nya, “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuatan kitab ini!” (ayat 7) dan di dalam ayat 12 tertulis, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”</p>
<p><strong>Penglihatan Penting Apakah yang Wajib Segera Ditulis Oleh Yohanes?</strong></p>
<p>Sebagai orang awam, siapapun kita dan dalam posisi/jabatan atau tingkat sosial apapun juga, tentunya kita perlu segera mengetahui tulisan Yohanes. Yesus Kristus memberi tugas menulis yang terdiri atas 3 (tiga) bagian penting:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Pertama</strong></p>
<p>Yohanes harus menulis segala sesuatu yang telah dilihatnya (Wahyu 1:1-20). Maksud Pasal 1 Kitab Wahyu ialah untuk memusatkan perhatian umat manusia kepada Yesus, karena Ialah sosok utama dalam kitab Wahyu (Wahyu Pasal 1) dan di sinilah terlihat Penampakan Kemuliaan Yesus.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Kedua</strong></p>
<p>Yohanes harus menulis segala sesuatu yang terjadi sekarang. (Wahyu 2 dan 3). Tugas Yohanes ialah menuliskan segala sesuatu yang telah dilihatnya di dalam sebuah kitab (yakni kitab Wahyu) dan mengirimkannya kepada 7 (tujuh) Jemaat (Wahyu 1:11). Maksudnya, Yohanes haryu Yesus Kristus sendiri kepada 7 (tujuh) Jemaat (Gereja), sehubungan dengan kondisi sebenarnya di dalam gereja-gereja tersebut.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Ketiga</strong></p>
<p>Yohanes harus menulis segala sesuatu yang akan terjadi sesudah ini (di masa yang akan datang- Wahyu 4 s/d Wahyu 22). Injil merupakan hal terpenting dan rahasia besar yang diungkapkan Tuhan Yang Mahakuasa dan di sinilah visi nubuatan masa depan dapat dibaca dalam kitab itu.</p>
<p><strong>Kitab Wahyu Sebagai Kitab yang Berisikan Berbagai Peristiwa dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru</strong></p>
<p>Adalah sangat menakjubkan dan indah untuk mengetahui bahwa mereka yang pernah membaca kitab Wahyu segera mengenal ciri-ciri yang menunjuk pada tema-tema besar Alkitab dan dengan mudah merujuk pada peristiwa-peristiwa penting di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB). Karena itu, tidak dapat disangkal bahwa kitab Wahyu dapat menangkap gema Kitab Daniel, aroma Kitab Yoel, butir-butir emas Kitab Yesaya dan Yehezkiel, serta peristiwa-peristiwa lainnya seperti Tuaian di Bumi (Reaping the Earth’s Harvest) dalam Wahyu 14; Penghakiman atas Babel (Wahyu 17); Perjamuan Anak Domba (Wahyu 19); Yerusalem yang Baru (Wahyu 21).</p>
<p>Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kita sekalian! Amin. (Wahyu 22:21). Haleluya.</p>
<p>ELK.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Artikel kitab Wahyu dibuat dalam beberapa bagian. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel pertama, yang dimuat sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kitab-wahyu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesombongan atau Tinggi Hati</title>
		<link>http://gkipi.org/kesombongan-atau-tinggi-hati/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kesombongan-atau-tinggi-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 03:59:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3962</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Amsal, yang sebagian besar ditulis oleh Salomo, berisi ajaran tentang cara hidup yang baik dan berkenan kepada Allah. Petuah-petuahnya disampaikan dalam bentuk syair atau peribahasa. Pengajarannya banyak menyangkut tentang persoalan-persoalan sehari-hari: Hubungan keluarga, urusan perdagangan, etika pergaulan, dan lain-lain. Dari begitu banyak petuah-petuah berhikmat di Amsal, satu ayat pilihan yang cukup menarik terdapat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab Amsal, yang sebagian besar ditulis oleh Salomo, berisi ajaran tentang cara hidup yang baik dan berkenan kepada Allah. Petuah-petuahnya disampaikan dalam bentuk syair atau peribahasa. Pengajarannya banyak menyangkut tentang persoalan-persoalan sehari-hari: Hubungan keluarga, urusan perdagangan, etika pergaulan, dan lain-lain.</p>
<p>Dari begitu banyak petuah-petuah berhikmat di Amsal, satu ayat pilihan yang cukup menarik terdapat di ayat 5 tentang Kesombongan atau Tinggi Hati. Setiap orang bisa saja terjerat di dalam sifat kesombongan ini. Apalagi bila kita menganggap diri kita lebih dari yang lain. Lebih baik, lebih rohani, mungkin lebih kaya, lebih berpengetahuan, lebih pandai, lebih berpengalaman, lebih tinggi derajat dan martabat, lebih banyak melayani, dan sebagainya.</p>
<p>Selain kesombongan pribadi, ada pula kesombongan golongan, suku atau bangsa. Di kalangan kita sendiri pun bisa terjadi kesombongan ini. Kesombongan kelompok-kelompok pelayanan, komisi-komisi, kepanitiaan di mana yang satu menganggap diri lebih berbobot atau lebih baik dari yang lain.</p>
<p>Walaupun tidak ada ilmu yang mengajarkan tentang kesombongan ini, anehnya sikap ini bisa menghinggapi orang pandai maupun orang bodoh, bahkan yang miskin sekalipun. Kata Indro dari Warkop, biar miskin asal sombong. Apakah kesombongan itu berbahaya? Apakah kesombongan itu merusak pelayanan kita? Ya karena jika tidak berbahaya, tentu Firman Tuhan tidak sekeras itu memperingatkan kita: ”Semua orang sombong dibenci Tuhan dan Tuhan akan menghukumnya (Yakobus 4:6b dan 1 Pet.5:5).</p>
<p>Kesombongan adalah dosa, kualitasnya sama seperti dosa berzinah, mencuri, membunuh, dan sebagainya. Seperti yang diceritakan di dalam kitab Kejadian. Adam dan Hawa ingin menyamai Tuhan, ingin mengetahui yang baik dan jahat sehingga akhirnya Iblis menjerat mereka dengan dosa kesombongan. Tuhan menghukum bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan, karena mereka juga tidak luput dari dosa kesombongan itu. Raja Daud, yang mempunyai sistem pemerintahan yang kuat dan ekonomi yang stabil, dengan angkuh ingin menghitung jumlah mobilitas rakyatnya pada saat itu. 2 Samuel 24:10 menceritakan bahwa Tuhan menghukum kesombongannya itu. Penyakit sampar melanda bangsa Israel. ”Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini, maka sekarang Tuhan, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh,” demikian jerit Daud yang mengaku dosa kesombongannya ke hadapan Tuhan.</p>
<p>Raja Nebukadnesar yang terkenal itu pun akhirnya mendapat hukuman Tuhan karena kesombongannya. Ia sangat bangga akan kebesaran kota Babel dengan tembok-temboknya yang serba kuat. Istana dan kuil yang indah itupun adalah hasil usahanya dan dirancang untuk kebesaran namanya sendiri. Ia mau meninggikan dirinya di atas segala manusia, bahkan menganggap dirinya lebih agung daripada manusia, tetapi Tuhan menghukumnya lebih rendah daripada binatang. Tujuh tahun lamanya ia diasingkan di padang gurun yang sunyi, hingga akhirnya ia insaf dan menyadari dosa-dosanya.</p>
<p>Sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang berkarya di gedung gereja yang megah dengan segala fasilitas lengkap serta organisasi kantor dan gereja yang baik, kita semua perlu diingatkan akan jerat dosa kesombongan ini. Pelayanan kita dapat menjadi kaku karena kita lebih mengutamakan organisasi. Hubungan sesama dapat kehilangan kasih, karena status bisa membuat jarak. Gengsi atau harga diri dapat menuntut untuk selalu diutamakan. Padahal Kristus mati di kayu salib dengan mengorbankan harga diri-Nya begitu rupa dan direndahkan status-Nya seperti seorang perampok atau pembunuh.</p>
<p>Kita mungkin mempunyai nilai lebih, namun hal itu bukan berarti bahwa kita lebih daripada orang lain, namun justru harus membuat kita lebih bergantung kepada hikmat pimpinan Tuhan dan menjadi pelayan yang rendah hati.</p>
<p>Sebaliknya bila kita berpikir bahwa kita kurang berpengalaman, kurang berperan atau kurang berarti, maka selayaknya kita menyerahkan talenta kita kepada-Nya agar diberkati, sehingga pelayanan kita pun memuliakan Tuhan.</p>
<p>Tuhan bersabda di dalam Matius 23:12, ”Barang siapa meninggikan dirinya, ia akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan dirinya, ia akan ditinggikan.” (MBN)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kesombongan-atau-tinggi-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab WAHYU</title>
		<link>http://gkipi.org/kitab-wahyu/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kitab-wahyu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 01:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3765</guid>
		<description><![CDATA[Sumber Cahaya dan Berkat Misteri kehidupan dimulai dari kitab Wahyu (The Book of Revelation). Mengapa demikian? Karena orang yang (i) membaca, (ii) mendengar dan (iii) menuruti kitab ini akan berbahagia dan mendapat berkat dan tidak akan dapat dipengaruhi atau digoncangkan oleh ajaran nabi-nabi palsu. Ini disebabkan karena kitab Wahyu benar-benar merupakan wahyu Yesus Kristus, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber Cahaya dan Berkat</strong></p>
<p>Misteri kehidupan dimulai dari kitab Wahyu (The Book of Revelation). Mengapa demikian? Karena orang yang (i) membaca, (ii) mendengar dan (iii) menuruti kitab ini akan berbahagia dan mendapat berkat dan tidak akan dapat dipengaruhi atau digoncangkan oleh ajaran nabi-nabi palsu.</p>
<p>Ini disebabkan karena kitab Wahyu benar-benar merupakan wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes (Wahyu 1:1).</p>
<p>Bukti kebenaran bahwa ini adalah Wahyu Yesus Kristus terdapat di dalam Ibrani 1: 1-3, di mana Allah berfirman dengan perantaraan Anak-Nya bahwa, setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali, dalam pelbagai cara, berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi (ayat 1),</p>
<ul>
<li>Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta (ayat 2).</li>
<li>Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi (ayat 3).</li>
<li>Yesus juga adalah kebenaran Allah, karena Ia, Firman Allah itu, telah menjadi manusia seperti yang tertulis di dalam Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”</li>
</ul>
<p><strong>Kesaksian Yohannes</strong></p>
<p>Yohannes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya (Wahyu 1:2-3). Ia mengatakan bahwa orang-orang yang membaca dan yang mendengar kata-kata nubuat ini, dan menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, adalah orang-orang yang berbahagia, sebab waktunya sudah dekat.</p>
<p>Dengan membaca Kitab Wahyu–yang merupakan nubuat Yesus Kristus yang disampaikan pada malaikat dan kemudian diteruskan oleh malaikat kepada Yohannes untuk ditulis–(perkataan “tulislah” tercantum sebanyak 9 kali, yaitu di dalam Wahyu 1:11, 19, Wahyu 2:1, 8, 12 dan 18, Wahyu 3:1,7, dan 14) dan didengarkan oleh umat, terdapat pesan indah. “Siapa bertelinga hendaklah mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (perkataan ini tercantum sebanyak 7 kali yakni dalam Wahyu 2:7,11,17 dan 29, Wahyu 3:6,13 dan 22)</p>
<p><strong>Kitab Wahyu adalah Buku yang Luar Biasa</strong></p>
<p>Kebenaran di atas dengan tajam membuka mata dan hati kita (Wahyu 3:18, “Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku…. dan lagi minyak untuk melumaskan matamu, supaya engkau dapat melihat”). Juga di Amsal 6:4 dikatakan, “Janganlah membiarkan matamu tidur, dan kelopak matamu mengantuk”, karena kitab Wahyu adalah sebuah buku yang luar biasa, Wahyu Yesus Kristus sendiri.</p>
<p><strong>Melihat dan Mendengar</strong></p>
<p>Umat manusia harus selalu menghayati, merenungkan dan ingat untuk melihat dan mendengar dengan seksama.</p>
<p>Dalam Ulangan 29:3 dikisahkan bahwa setelah bangsa Israel diluputkan Tuhan dari kekejaman Firaun dan kesengsaraan di tanah Mesir, Musa mengingatkan mereka tentang, “…cobaan-cobaan yang besar yang telah dilihat oleh matamu sendiri dan mukjizat-mukjizat yang besar itu.”</p>
<p>Melalui Yesaya, Tuhan memperingatkan umat-Nya untuk bertobat. “Engkau melihat banyak tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga tetapi tidak mendengar” (Yesaya 42:20).</p>
<p>Demikian juga Yeremia mengatakan, “Dengarkanlah ini … yang mempunyai mata tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga tetapi tidak mendengar” (Yeremia 5:21). Tuhan juga memberi peringatan di dalam Yehezkiel 12:2 agar berhati-hati, “Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak.”</p>
<p>Di dalam keterbatasannya sebagai manusia, Ayub mengakui, “Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahuinya” (Ayub 9:11).</p>
<p>Namun Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada setiap anak-anak-Nya, Di dalam Wahyu 3:19 Ia berkata, “Barang siapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah,” dan Ia menawarkan kasih itu kepada setiap orang yang bersedia menerima-Nya, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3: 20).</p>
<p><strong>Tujuh Berkat dalam Kitab Wahyu</strong></p>
<p>Ada tujuh berkat yang dijanjikan dalam Kitab Wahyu:</p>
<ol>
<li>Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan (Wahyu 1:3);</li>
<li>Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini (Wahyu 14:13);</li>
<li>Berbahagialah dia yang berjaga-jaga (Wahyu 16:15);</li>
<li>Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan Anak Domba (Wahyu 19:9);</li>
<li>Berbahagialah dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. (Wahyu 20:6);</li>
<li>Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini! (Wahyu 22:7);</li>
<li>Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya (who do His commandments). Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu (Wahyu 22:14).</li>
</ol>
<p><strong>Pegangan yang menguatkan Jemaat</strong></p>
<p>Dengan bersungguh-sungguh membaca Kitab Wahyu, jemaat akan mendapat pegangan yang menguatkan, yang memberi kuasa dan pengertian mendalam akan kasih Allah. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).</p>
<p>Pengorbanan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, melalui salib telah menghancurkan semua musuh di bawah kaki-Nya (kuasa maut), dan kini ia menjadi Pemenang (Victor) dan sekarang ini duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa. Ia akan kembali untuk menjemput orang-orang yang percaya kepada-Nya.</p>
<p>Dalam kitab Wahyu inilah disebutkan bahwa Yesus adalah Pemenang. Yesus bahkan disebut sebagai Penakluk (Conqueror) karena telah menaklukkan maut, bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa dan pasti akan kembali (Sesungguhnya Aku datang segera–Wahyu 22:7a). Dalam buku A.W.Toser “Jesus is Victor” halaman 25 tertulis:</p>
<ul>
<li>Yesus adalah Pemenang–karya-Nya sempurna. Menghancurkan semua musuh di bawah kaki-Nya;</li>
<li>Yesus adalah Pemenang–Ia tidak mati sia-sia. Bangkit dan dimuliakan; Yesus berkuasa!</li>
<li>Yesus adalah Pemenang &#8211; di luar dan di dalam. Menyelamatkan dan memelihara dan menyucikan dari dosa;</li>
<li>Yesus adalah Pemenang–Burung Merpati sorgawi. Datang untuk tinggal dan menyempurnakan dalam kasih;</li>
<li>Yesus adalah Pemenang–surga akan bergema. Raja besar teror, di manakah sengatmu?</li>
<li>Yesus adalah Pemenang–kami bersorak menang atas kubur. Kemuliaan bagi Allah, Ia berkuasa menyelamatkan!</li>
</ul>
<p>Terdapat pesan khusus yang tersirat di dalamnya, yaitu, “jangan meremehkan dan mengabaikan pesan Allah kepada kita, seperti yang disampaikan oleh kitab Wahyu Yesus Kristus ini.”</p>
<p>Di dalam Malaekhi 3:16 dikatakan, “Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: “TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.”</p>
<p>Kemuliaan dan kebesaran Yesus dapat pula kita baca dari tujuh pernyataan Yesus tentang diri-Nya sendiri, yang terkenal dengan sebutan SEVEN “ I AM ” yaitu:</p>
<ul>
<li>Yohanes 6 :35–Akulah Roti Hidup (The Bread of Life)</li>
<li>Yohanes 8:12–Akulah Terang Dunia (The Light of the World)</li>
<li>Yohanes 10:7–Akulah Pintu (The Door)</li>
<li>Yohanes 10:14–Akulah Gembala yang baik (The Good Shepherd)</li>
<li>Yohanes 11:25–Akulah Kebangkitan (The Resurrection)</li>
<li>Yohanes 14:6–Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (I am the Way, the Truth, and the Life)</li>
<li>Yohanes 15:1–Akulah Pokok Anggur Yang Benar (The True Vine)</li>
</ul>
<p><strong>Tujuh Jemaat Mula-mula</strong></p>
<p>Dalam kitab Wahyu 1:11 disebutkan tujuh jemaat yang mula-mula, yaitu:</p>
<ol>
<li>Jemaat Efesus (gereja tanpa kasih/ the Loveless Church);</li>
<li>Jemaat Smirna (gereja yang teraniaya/the Persecuted Church);</li>
<li>Jemaat Pergamus (gereja yang berkompromi/the Compromising Church);</li>
<li>Jemaat Tiatira (gereja yang berkorupsi/the Corrupt Church);</li>
<li>Jemaat Sardis (gereja yang mati/the Dead Church);</li>
<li>Jemaat Filadelfia (gereja yang setia/ the Faithful Church);</li>
<li>Jemaat Laodikia (gereja yang suam-suam kuku/the Lukewarm Church).</li>
</ol>
<p>Ketujuh jemaat ini, yang dalam Wahyu 1:20 disebut juga sebagai “the seven churches,” melambangkan kehidupan kita sebagai umat manusia. Mereka merupakan jemaat mula-mula yang dibina oleh Rasul Paulus.</p>
<p>Pada awalnya mereka penuh kekudusan (holiness), namun lama-kelamaan mereka dipengaruhi oleh ide-ide Yahudi (dalam Wahyu 3:9 dengan jelas disebutkan “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis (the synagogue of Satan) yaitu mereka yang menyatakan dirinya orang Yahudi, tetapi sebenarnya tidak demikian…) telah membuat Allah kecewa karena mereka tidak lagi kudus tetapi penuh dengan kelemahan dan dosa.</p>
<p>Kepada ketujuh jemaat ini, Tuhan selalu memberi peringatan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”</p>
<p>Ketujuh jemaat tersebut di atas mempunyai makna dan implikasi dalam hidup setiap orang percaya masa kini maupun masa mendatang, agar selalu memperhatikan dan mengutamakan,</p>
<ol>
<li>Setia sampai mati (Wahyu 2:10);</li>
<li>Hidup kudus (Imamat 10:10 dan Wahyu 22:11);</li>
<li>Selalu mengundang Jesus di dalam hati (Wahyu 3:20), dan terus mendalami dan menghayati Kitab Wahyu, nubuat Tuhan Jesus Kristus.</li>
</ol>
<p>Kita tidak perlu bimbang dan ragu karena dalam kitab Wahyu, kita dinyatakan sebagai pemenang/conqueror dan bukan pecundang/loser. Dengan membaca dan mendengar kitab Wahyu, kita pasti akan mendapat berkat! Dalam Wahyu 22:7 kita dipesan agar menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya, karena Ia berjanji bahwa, “Sesungguhnya Aku datang segera Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” dan di dalam ayat 12 tertulis, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”</p>
<p>Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kita sekalian! Amin. (Wahyu 22:21). Haleluya.</p>
<p>ELK.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kitab-wahyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Satu Kehendak-Nya</title>
		<link>http://gkipi.org/salah-satu-kehendak-nya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/salah-satu-kehendak-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 03:10:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3735</guid>
		<description><![CDATA[I Tesalonika 5:16 dan 18 (16) Bersukacitalah senantiasa. (18) Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagimu. Ada banyak kabar baik dalam Injil, ada banyak pula kehendak dan perintah Allah yang dinyatakan di dalam Injil. Salah satu kehendak Allah yang ingin saya kemukakan terdapat dalam surat Paulus, Silwanus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>I Tesalonika 5:16 dan 18</p>
<p>(16) Bersukacitalah senantiasa.</p>
<p>(18) Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagimu.</p></blockquote>
<p>Ada banyak kabar baik dalam Injil, ada banyak pula kehendak dan perintah Allah yang dinyatakan di dalam Injil. Salah satu kehendak Allah yang ingin saya kemukakan terdapat dalam surat Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat di Tesalonika.</p>
<p>Mudah untuk mengucapkannya, mudah pula membacanya.</p>
<p>“Bersukacitalah senantiasa. Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Tapi… apakah mudah pula melakukannya? Apakah kita sudah memenuhi kehendak Allah yang satu ini?” Jika pertanyaan di atas dijawab: “Saya selalu mengucap syukur dalam setiap doa saya,” apakah berarti kehendak-Nya telah kita penuhi? Rasanya… belum, dan pasti belum sepenuhnya!</p>
<p>Saya merasa ini salah satu kehendak yang perlu kita gumuli dalam kehidupan sehari-hari kita. Mudah bagi saya, untuk mengucap syukur dan bersuka cita apabila ada perayaan ulang tahun dalam keluarga. Mudah sekali bagi saya untuk berdoa mengucap syukur dan bersuka cita karena semua anggota keluarga sehat, keadaan keuangan keluarga berkecukupan, nilai rapor anak-anak baik, dan banyak lagi… Tapi, apakah saya dapat bersuka cita ketika saya sakit? Apakah saya dapat bersyukur pada waktu saya melihat anak-anak merintih kesakitan? Apakah saya dapat bersyukur pada waktu gaji tidak naik sementara kebutuhan sehari-hari bertambah mahal? Atau apakah saya bersuka-cita pada saat saya dikhianati?</p>
<p>Jawabnya: tidak! Saya lupa bersuka-cita pada waktu saya sakit. Saya lupa bersyukur pada waktu melihat anak-anak sakit. Saya menggerutu pada waktu gaji tidak naik dan kebutuhan sehari-hari bertambah mahal. Saya mengutuk orang yang mengkhianati saya. Ayat ke 16 dan 18 di atas terasa sulit sekali untuk dijalani pada saat-saat tersebut.</p>
<p>Dalam surat kepada jemaat Tesalonika, Paulus, Silwanus dan Timotius tidak hanya menyampaikan kehendak Allah, yang terkadang lupa atau sama sekali kita abaikan pada waktu kita dalam kesusahan. Dalam surat itu, ada juga kunci yang diberikan kepada setiap pembaca surat tersebut, agar dapat melakukan kehendak Allah. Apakah kunci itu?</p>
<blockquote><p>(17)	Tetaplah berdoa;</p>
<p>(19)	Janganlah padamkan Roh;</p>
<p>(20)	dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.</p></blockquote>
<p>Mari kita ulang pertanyaan di atas tadi, pada saat saya sakit, dan saya berdoa, dapatkah saya bersuka-cita? Pada saat melihat anak-anak merintih kesakitan, saya berdoa dan membaca Alkitab, dapatkan saya bersyukur? Pada saat gaji saya tidak bertambah dan semua mahal, saya berdoa dan membaca Alkitab, dapatkan saya bersuka cita dan bersyukur? Pada saat saya dikhianati, saya membaca Alkitab dan berdoa dan percaya kepada mukjizat-Nya, dapatkan saya bersuka cita dan bersyukur?</p>
<p>Saya yakin, dalam nama Juruselamat kita Yesus Kristus, kehendak Allah dapat kita laksanakan sebagaimana yang dikehendaki-Nya, apabila kita menjalankan langkah-langkah kunci seperti yang terdapat dalam ayat 17, 19 dan 20.</p>
<p>Dalam doa, kita berserah dan mendapat kekuatan.</p>
<p>Dalam hubungan kita dengan Allah yang melalui roh, kita mendapat penghiburan. Dalam saat teduh, kita mendapat penghiburan dan kekuatan untuk menghadapi hidup ini.</p>
<p>Dalam kepercayaan kita terhadap mukjizat Allah, kita memperoleh pengharapan. Kuasa Tuhan ajaib! Kita akan dikuatkan dan mendapat pengharapan baru.</p>
<p>Jadi, apakah menjalankan kehendak-Nya semudah mengucapkannya? Jawabnya: “Ya, apabila kita menjalankan langkah-langkah kunci yang diberikan di dalam Injil! Ya, karena Tuhan memberi kekuatan, melimpahkan penghiburan-Nya dan memberi harapan baru.</p>
<p>Selamat Paska 2010,</p>
<p>Tuhan memberkati!!!</p>
<p>Disusun pada hari Sabtu Sunyi [Maya Ekatrina]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/salah-satu-kehendak-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I don’t know what the future holds, but I know Who holds the future</title>
		<link>http://gkipi.org/i-don%e2%80%99t-know-what-the-future-holds-but-i-know-who-holds-the-future/</link>
		<comments>http://gkipi.org/i-don%e2%80%99t-know-what-the-future-holds-but-i-know-who-holds-the-future/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 13:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3404</guid>
		<description><![CDATA[Dunia sempat dibuat terperangah oleh karya sinematografi Holywood yang fenomenal berjudul “2012” yang intinya mengisahkan tentang kapan dan bagaimana dunia ini mengalami kehancuran massal. Kisah yang bersifat eskatologis ini, walau katanya diinspirasi oleh budaya Suku Maya, merupakan karya yang sebagian besar imajinatif, karena menyangkut masa depan yang tak seorang pun pada saat ini tahu kapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">D</span>unia sempat dibuat terperangah oleh karya sinematografi Holywood yang fenomenal berjudul “2012” yang intinya mengisahkan tentang kapan dan bagaimana dunia ini mengalami kehancuran massal. Kisah yang bersifat eskatologis ini, walau katanya diinspirasi oleh budaya Suku Maya, merupakan karya yang sebagian besar imajinatif, karena menyangkut masa depan yang tak seorang pun pada saat ini tahu kapan tepatnya dan bagaimana kejadian yang sebenarnya akan terjadi.</p>
<p>Tetapi film tersebut setidaknya telah mengingatkan dunia bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, dan kejadian yang digambarkan tersebut pasti akan terjadi, meskipun kita masih belum mengetahui detail persisnya. Karena itu kita harus siap, karena menurut Alkitab, akhir dunia dapat terjadi kapan saja. Di mana tepatnya hanyalah Allah Bapa yang mengetahuinya.</p>
<p>Alkitab telah memberi kita panduan di dalam menyikapi berita-berita yang meramalkan kapan akhir dunia akan terjadi. Di dalam kitab Kisah Para Rasul 1:6-8, ketika Yesus dihadapkan pada pertanyaan yang bersifat eskatologis dari murid-murid-Nya, Ia menanggapinya dengan jawaban yang bersifat evangelical: “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: ‘Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’ Jawab-Nya: ‘Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’” Artinya, daripada kita disibukkan dan dibebani dengan usaha mencari tahu kapan akhir dunia akan terjadi, kita justru diminta untuk menjadi saksi Kristus di dalam dunia ini.</p>
<p>Panggilan ini juga berlaku bagi kita ketika kita memasuki tahun 2010 ini. Ada kalimat bijak yang berkata, “Yesterday is history, tomorrow is mystery, and today is a gift; that’s why we call it ‘present.’” Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menyambut misteri di dalam tahun 2010 ini. Yang sudah pasti, sebagaimana diamanatkan dalam Kis 1:6-8 tadi, kita tetap harus terus menjalankan panggilan kesaksian kita di dunia ini melalui aksi diakonia (pelayanan) dan marturia (kesaksian) yang tetap dibalut oleh panggilan koinonia (persekutuan).</p>
<p>Agar kita lebih siap untuk menjalankan ketiga panggilan gerejawi tadi, ada tiga perlengkapan utama yang kita perlukan dalam menyambut tahun 2010 ini, sebagaimana kita renungkan bersama di bawah ini.</p>
<h3>Iman</h3>
<p>Merupakan suatu realita objektif bagi kita semua yang ada sekarang, bahwa kita telah memasuki dan tengah menjalani tahun 2010. Tetapi, apakah kita akan menikmati tahun ini, maka ini adalah hal lain, dan bersifat subjektif dan reflektif tergantung dari perspektif kita.</p>
<p>Syarat penting bagi kita untuk menikmati tahun 2010 ini adalah kita mempunyai iman pada dan hidup dalam Tuhan Yesus.  Dengan-Nya, kita dapat mengamini bahwa Allah sesungguhnya telah menyediakan di depan kita kasih dan berkat-Nya yang melimpah. Allah kita maha hadir dan kekal melampaui waktu (omni present). Ia adalah Allah yang bukan hanya berkarya di masa lalu dan masa kini kita, tetapi juga hadir dan berkarya di hari-hari depan kita.</p>
<p>Terlebih lagi, Ia sungguh mengasihi kita. Tanpa dapat kita lihat dengan mata fisik kita, Ia telah menabur berbagai berkat Ilahi di hari-hari depan kita, yang menanti saatnya kita memasuki hari-hari tersebut. Yeremia 29:11 mengatakan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”</p>
<p>Kita dapat menjadi seperti Rut dalam kitab Rut 2. Dari Rut 2:7 kita dapat mengetahui latar belakang kehidupan Rut, yakni bahwa Rut memungut dan mengumpulkan jelai dari berkas-berkas jelai di belakang penyabit-penyabit di kebun Boas. Boas sungguh memperhatikan Rut. Di dalam ayat 15 dan 16 dicatat bahwa Boas memerintahkan pengerja-pengerjanya: “…haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungut Rut.”</p>
<p>Kisah Boas tersebut mewakili bagaimana Allah berkarya bagi kita. Ia sebenarnya telah menabur berkat-berkat-Nya di depan kita. Sebagaimana Rut percaya kepada Boas, yang kita butuhkan untuk dapat “memungut berkas-berkas” yang Allah sudah sediakan di depan kita adalah iman percaya kepada-Nya. Karena itu kita bukanlah peminta-peminta, seolah-olah berkat Allah belum disediakan bagi kita. Marilah kita naik ke taraf iman yang lebih tinggi daripada itu, yakni kita menjadi orang yang percaya bahwa Ia telah terlebih dulu menyediakannya di depan kita dengan porsi yang terbaik menurut Dia.</p>
<p>Yang diperlukan bukanlah berkat dari Tuhan, tetapi iman kita untuk memercayai Kemahakuasaan dan Kasih Allah sehingga karena iman, kita akhirnya dapat menerima, mengalami dan menikmati berkat-berkat-Nya. Boas akhirnya menikahi Rut. Berkat yang diterima Rut ternyata mengalir jauh ke keturunan-keturunannya, bahkan hingga kita saat ini. Dari pernikahan mereka, lahirlah Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud (Rut 4:17). Iman Rut menjadi tunas bagi sejarah Misi Kerajaan Allah yang berpuncak pada Yesus. Itulah karya iman.</p>
<p>Dalam Matius 9 kita menyaksikan bagaimana karena iman, Yesus membuat mukjizat yang akhirnya diperoleh seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan dua orang buta. Di ayat 22 Yesus berkata, “…Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Di ayat 29 disebutkan bahwa Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Tidak ada yang mustahil bagi Allah, asal kita percaya. Mukjizat itu nyata. Sungguh nyata. Asal kita beriman. Ibrani 11:6 berkata, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”</p>
<p>Ketika Allah memberkati kita, Ia juga merancang dan mengirimkan orang-orang yang Ia akan pertemukan dengan kita pada suatu persimpangan yang sama dalam perjalanan kehidupan kita.</p>
<p>Kita lihat bagaimana Yusuf yang dijual saudara-saudaranya sendiri dan masuk ke tanah Mesir sebagai budak, akhirnya dapat menjadi orang nomor dua di Mesir dan selanjutnya menjadi berkat bagi seluruh Israel. Dari Kejadian 39 kita mengetahui bagaimana Allah merajut jalan hidup Yusuf dengan menakjubkan. Untuk Yusuf, Allah mengirim sejumlah orang yang menjadi pembuka pintu bagi jalan kehidupannya di kemudian hari. Ada kepala penjara yang sangat menyayangi Yusuf. Lalu di dalam penjara, Yusuf berkenalan dengan juru minuman dan juru roti Firaun, yang karena sebelumnya membuat kesalahan terhadap Firaun, dijebloskan ke penjara dan… akhirnya bertemu dengan Yusuf. Setelah bebas, mereka kemudian menjadi alat Tuhan yang langsung mengantarkanYusuf ke Firaun.  Di dalam hidup kita, Tuhan juga dapat mengirimkan “kepala penjara,” “juru minuman,” “juru roti,” bahkan “Firaun” kepada kita masing-masing untuk dipakai sebagai sarana yang mengantarkan kita ke tempat yang lebih baik dalam kehendak-Nya.</p>
<p>Faith sees the invisible, believes the unbelievable, thinks the unthinkable and receives the impossible. Dengan iman, kita melihat yang tidak kelihatan, kita memercayai hal yang tidak dapat dipercayai manusia, kita memikirkan yang tidak dipikirkan manusia dan akhirnya kita dapat menerima hal yang sebenarnya mustahil kita terima. Itulah iman.</p>
<h3>Harapan Iman harus disertai pula dengan perbuatan.</h3>
<p>Di akhir tahun 2010 nanti, saat kita melihat ke belakang, kita akan takjub bagaimana Efesus 3:20 menjadi nyata karena Ia telah melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita. Tentu bahwa di dalam tahun 2010 ini kita pasti juga akan mengalami lekuk dan tanjakan perjalanan kehidupan kita. Apa yang ada di depan mata fisik kita mungkin akan dapat mematahkan semangat atau bahkan iman kita. Namun kita tidak usah kuatir atau gentar. Allah tetap berkarya dalam segala hal untuk kebaikan kita sehingga kita dapat makin serupa dengan Kristus hari demi hari (Roma 8:28-29).</p>
<p>Sebagaimana kita mengendarai mobil, pandangan kita memang harus senantiasa tertuju ke depan menembus kaca depan mobil. Tetapi untuk keamanan berkendara, sekali-kali kita perlu juga melihat kaca spion untuk menengok keadaan di belakang mobil kita. Demikian juga perjalanan hidup kita. Bila situasi saat ini atau hari esok di depan kita kelihatannya kurang baik, sekali-kali tengoklah ke belakang, semata-mata untuk merenung kembali bagaimana Allah telah menjaga karya nyata Allah yang sungguh mengasihi kita. Ia bukan hanya memegang tangan kita berjalan bersama kita, tetapi Ia merangkul, bahkan menggendong kita, saat kita tidak mampu berjalan dengan kekuatan sendiri. Dengan demikian kita dapat berpengharapan bahwa Allah tetap sama: dulu, sekarang dan selama-lamanya.</p>
<p>Di dalam menjalani tahun 2010 ini, iman kita perlu kita ungkapkan secara lebih konkret, antara lain dengan harapan-harapan yang kita ucapkan lewat ekspresi pikiran dan perkataan kita.</p>
<p>Dalam Kejadian 1 kita menemukan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dengan berkata-kata (“…berfirmanlah Allah…”). Demikianlah kita juga perlu mengungkapkan harapan kita dengan senantiasa membunyikannya dalam pikiran dan perkataan kita, baik melalui doa kepada Tuhan ataupun mendeklarasikannya terhadap diri sendiri. Yakobus 4:2 mengatakan, “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Kita tidak dapat beriman mengalami berkat Tuhan bila pikiran dan kata-kata kita sendiri mengekspresikan hal-hal negatif yang meragukan atau bahkan menyangkal berkat Tuhan itu.</p>
<p>Salah satu cara mengelola dan mengalahkan masalah bukanlah dengan berbicara tentang masalah tersebut¸ tetapi justru berbicara kepada masalah itu tentang Allah Yang Maha Kuasa. Biarpun masalah itu lebih besar dari kemampuan kita menghadapinya, tetapi ketika masalah tersebut dihadapkan dan dibandingkan dengan Allah, kita semua tahu jawabannya. Di dalam sistem email pribadi saya, secara permanen saya memasang kalimat yang menjadi deklarasi iman dan harapan saya setiap hari, dari waktu ke waktu, “Good day today, better day tomorrow; every day in every way.” Kalimat ini akan otomatis muncul sebagai signature pada bagian bawah setiap email yang saya buat.</p>
<p>Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ia dapat mengadakan yang tidak ada menjadi ada. Itu adalah keahlian-Nya. Silakan lihat Kejadian 1, bagaimana Allah menciptakan dunia ini dari yang tidak ada sama sekali (creatio ex nihilo). Karenanya, bila di depan mata kita tidak ada apa-apa yang dapat diharapkan secara manusia, silakan serahkan pada Allah yang adalah ahlinya.</p>
<p>Ia juga luar biasa dalam mengubah hal yang tidak baik, yang kita alami di depan mata kita. Kejadian 50:20 menjadi salah satu ayat favorit saya. Ayat ini mengungkapkan kesaksian iman Yusuf bahwa Tuhan dapat menggunakan dan membalikkan rancangan jahat orang lain kepadanya untuk membawa kebaikan baginya dan untuk kemuliaan Nama-Nya. Saat kita tidak lagi berdaya: saat kita angkat tangan, saat orang lain lepas tangan, itulah saatnya Allah turun tangan. Sorrow looks back; worry looks around; faith looks up.</p>
<h3>Kasih Iman dan pengharapan akhirnya perlu dibalut dan disempurnakan dengan kasih.</h3>
<p>I Korintus 13:13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Di bagian awal I Korintus, Paulus menulis, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”</p>
<p>Di dalam hal kasih, kita dipanggil untuk melakukan dua hal utama, yakni mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita tidak mungkin meminta kepada Allah hal yang kita tidak mau berikan kepada-Nya atau kepada orang lain. Jangan kita minta kasih kepada Allah, bila kita sendiri tidak mau mengasihi-Nya atau bila kita menolak memberikan kasih kita kepada sesama kita.</p>
<p>Kita tidak dapat memberikan lebih daripada yang kita terima. Artinya, kita mengasihi Tuhan dan sesama kita karena Allah telah terlebih dahulu mencurahkan kasih-Nya bagi kita. Sumber utama dari kasih yang mengalir keluar dari kita haruslah kasih dari Allah sendiri. Kita bahkan menerima Kasih Allah dalam bentuk kasih agape, yang sebenarnya tidak pantas kita terima. Jika kita tidak memahami, menghargai dan menikmati kasih Allah, kita tidak dapat mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita dengan benar, dan selanjutnya kita tidak akan mempunyai iman dan pengharapan yang dikehendaki-Nya. Pada gilirannya, kita tidak akan dapat menikmati berkat-berkat yang disediakan-Nya bagi kita pada tahun ini.</p>
<p>Sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya yang tidak ternilai, porsi kasih yang kita terima secara melimpah dari Allah mungkin dapat diumpamakan dengan saat kita makan prasmanan (buffet), ketika porsi yang tersedia sangat banyak sehingga walau kita sudah makan sesuai dengan kebutuhan kita, masih ada banyak tersisa. Begitupun juga, meskipun porsi kasih kita bagikan kepada orang lain, kita tidak akan pernah kehabisan seluruh porsi “prasmanan” yang telah Kristus sediakan bagi kita, dan bahkan porsi yang kita butuhkan pun tidak akan berkurang. Karena itu, sungguh tidak beralasan bila kita tidak membagikan kasih kita kepada orang lain. Jangan sampai Allah menarik kembali hak kita atas kasih-Nya yang melimpah tersebut, hanya karena kita menahan porsi kebaikan kita kepada orang lain yang terlalu kecil dibandingkan dengan porsi yang kita terima daripada-Nya (Matius 18).</p>
<p>Dengan melengkapi diri kita dengan iman, pengharapan dan kasih, kita akan dengan sukacita menyambut, menjalani dan menikmati tahun 2010, bahkan 2011, 2012 hinggga akhir kehidupan kita di dunia, kapanpun itu terjadi menurut kehendak-Nya. Maukah kita? Terpujilah Tuhan.</p>
<address>Fabian Buddy Pascoal</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/i-don%e2%80%99t-know-what-the-future-holds-but-i-know-who-holds-the-future/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukacita</title>
		<link>http://gkipi.org/sukacita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sukacita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 13:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3225</guid>
		<description><![CDATA[Masing-masing kita mungkin mempunyai satu atau lebih ayat Alkitab yang paling disukai karena satu atau beberapa alasan pribadi. Dalam 2 Tim 3:15-16 dikatakan, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">M</span>asing-masing kita mungkin mempunyai satu atau lebih ayat Alkitab yang paling disukai karena satu atau beberapa alasan pribadi. Dalam 2 Tim 3:15-16 dikatakan, <em>“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”</em> Firman Tuhan, selain memastikan keselamatan jiwa kita dalam kekekalan, juga membantu kita menjalani hidup ini dengan benar.</p>
<p>Dua ayat yang senantiasa kami renungkan dan gumuli ialah Roma 8:28 dan 29. Ayat 28 mengatakan, <em>“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”</em> Sedangkan ayat 29, <em>“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” </em></p>
<p>Ayat-ayat ini menjadi pegangan dan penghiburan bagi kami di dalam pergumulan hidup yang melelahkan, terutama bagi saya pribadi ketika dulu istri saya, Vonny, mengalami kelemahan fisik yang sangat berat. Ayat 28 sungguh menjadi kekuatan bagi kami. Kebanyakan kita memang lebih menitikberatkan pada ayat 28, bahwa ada campur tangan dan kendali Allah atas apapun yang terjadi dalam hidup orang percaya, khususnya peristiwa-peristiwa yang membebani kita. Hal itu tentu tidak salah. Tetapi, dengan sudut pandang itu saja, kita justru dapat kehilangan hal lain yang lebih berharga. Pada kutipan ayat 29 di atas, tulisan ini memberi penekanan pada anak kalimat <em>“untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.”</em> Dengan ayat 28 kita sekadar seperti melihat pohon-pohon, tetapi dengan kaca mata ayat 29, kita melihat seluruh hutannya. Apa artinya?</p>
<p>Ketika kita melihat kedua ayat ini bersama sebagai suatu keutuhan, kita melihat indahnya rencana Allah, yakni bahwa segala yang kita alami dalam hidup ini, bukan semata untuk memberi kita kebahagiaan, tetapi bahwa pengalaman hidup kita tersebut sengaja Tuhan izinkan terjadi dengan maksud agar, sebagaimana disebut dalam ayat 29, kita akhirnya menjadi serupa dan makin serupa dengan Kristus. Inilah gambar utuh seluruh rangkaian kehidupan kita.</p>
<p><strong>Gambar dan Rupa Allah</strong></p>
<p>Ketika Tuhan menciptakan kita, Ia memakai gambar dan rupa (citra) Allah sendiri untuk menciptakan manusia. Karenanya manusia juga membawa sejumlah ciri ilahi, seperti daya cipta (memampukan kita melakukan invensi dan inovasi) dan hasrat akan adanya suatu kekekalan dan kesempurnaan mutlak (contohnya, ketika akhirnya kita dapat memiliki barang yang kita ingini, gairah kita akan barang tersebut tidak lagi sekuat semula ketika kita masih belum memilikinya). Pada awalnya, Adam dan Hawa sempurna. Tetapi citra Allah tersebut kemudian rusak karena dosa.</p>
<p>Sejak itu, manusia senantiasa mengalami pergumulan dan kesulitan hidup. Sakit-penyakit dan dosa merasuk dan bahkan merajut kehidupan kita. Semua itu terlalu berat untuk kita hadapi sendiri karena sebenarnya musuh kita adalah suatu kuasa roh. Efesus 6:12 mengatakan, <em>“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”</em> Pemimpin roh-roh jahat itu adalah Lusifer, mantan Penghulu Malaikat Allah. Yehezkiel 28:3 memujinya sebagai makhluk yang hikmatnya melebihi hikmat Daniel; tiada rahasia yang terlindung baginya.</p>
<p>Karena itulah, Tuhan sendiri perlu dan harus datang ke dunia melalui Yesus Kristus yang adalah manusia sepenuhnya, tapi sekaligus juga Allah seutuhnya. Kedatangan Kristus ke dunia ini bukan hanya untuk membawa keselamatan jiwa bagi kehidupan kita yang kedua nanti, tetapi juga memberi dan meninggalkan model dan teladan tentang bagaimana menjalani hidup yang sekarang ini. Kristus hidup tanpa dosa. Karenanya, ketika Ia dibawa ke Mahkamah Agama Yahudi, para penuduh-Nya tidak dapat menemukan sebuah dosa pun pada-Nya walau mereka menggunakan sejumlah saksi palsu (Matius 26:59-60). Akhirnya mereka menggunakan pernyataan Kristus bahwa Ia adalah Anak Allah sebagai dasar tuduhan bahwa Yesus menghujat Allah, sehingga menurut mereka, Ia harus dihukum mati (Matius 26:65-66).</p>
<p>Kristus menjalani kehidupan-Nya bukan hanya tanpa dosa, tetapi di dalam Dia saja kita melihat model ketaatan yang sempurna bagi hukum utama Allah, yakni: <em>“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”</em> dan <em>“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”</em> (Matius 22:37 dan 39). Bahkan Kristus meminta kita untuk “<em>mengasihi musuh kita dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kita” </em>(Matius 5:44). Kristus telah menjalani semua itu dengan sempurna.</p>
<p>Lebih konkret lagi, dan sebagai pengembangan lebih lanjut dari hukum utama Allah di atas, kehidupan Kristus juga secara sempurna mencerminkan buah-buah roh yang diuraikan dalam Galatia 5:22, <em>“kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.“ </em></p>
<p>Sebagaimana pohon dikenali terutama dari buahnya, demikian pula kualitas seseorang dapat dilihat secara konkret dari buah-buah kehidupannya. Apakah hidup kita berbuahkan<em> “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri?“</em> Buah-buah roh ini memberi isi pada gambaran tentang Kristus, seperti yang disebut dalam Roma 8:29. Semakin banyak buah roh yang hadir dan terpelihara dalam hidup kita, semakin serupa kita dengan Yesus, Tuhan kita, hari demi hari, waktu demi waktu.</p>
<p>Tetapi, perlu diingat bahwa buah-buah roh sejati tidak dikaruniakan begitu saja. Dari namanya, buah-buah roh memang seperti “buah.” Ia dihasilkan melalui suatu proses di mana pohonnya akan banyak menghadapi serangan angin atau bahkan badai, dan rongrongan binatang bahkan manusia.</p>
<p>Di dalam konteks manusia, bagaimanakah kita dapat menghasilkan buah-buah roh sejati? Jawabannya ada di Roma 8:28 tadi, yakni melalui suka-duka kita. Penderitaan atau bahkan kelimpahan menjadi cobaan bagi kita. Buah-buah roh dihasilkan melalui cobaan hidup yang Tuhan izinkan kita hadapi. Allah seringkali mengizinkan terjadinya suatu keadaan di dalam mana kita digoda untuk melakukan sesuatu yang sifatnya secara langsung bertolak belakang dengan sifat-sifat buah-buah roh.</p>
<p>Ketika kita meminta Tuhan memberi kita SUKACITA, Tuhan justru mungkin membawa kita ke keadaan yang dapat membuat kita susah dan berduka. Saat kita bertekad untuk sabar, jangan heran bila ternyata kita kemudian menghadapi suasana yang dapat membuat kita marah dan emosional. Saat kita ingin mengasihi orang, justru kita dibawa pada situasi yang dapat mendorong kita untuk membenci.</p>
<p>Memang, kita tidak dapat memiliki karakter kasih dari Kristus tanpa ada orang yang sebenarnya berat untuk kita kasihi. Kita juga tidak dapat mempunyai SUKACITA yang menjadi citra Kristus bila kita tidak pernah menghadapi keadaan susah yang dapat menjauhkan kita dari sukacita. Bahkan kita tidak mungkin menjalankan penguasaan diri yang Kristus contohkan, bila kita tidak pernah mengalami kelimpahan harta duniawi yang menjadi sukacita duniawi dan dapat menjauhkan kita dari Kristus.</p>
<p>Intinya, pencobaan-pencobaan yang ada tersebut, melalui suka maupun duka justru memberi kita pilihan dan bahkan kesempatan untuk melakukan yang baik. Di saat kita punya pelbagai alasan untuk membenci seseorang, kita sejatinya punya pilihan dan kesempatan untuk melakukan sebaliknya, yakni mengasihi orang itu sehingga dengan demikian kita dapat menjadi serupa dengan Kristus.</p>
<p>Sisi lain dari fakta tersebut adalah bahwa sebagai makhluk yang diciptakan menurut citra Allah, kita diberi kehendak bebas (free will) untuk memilih dan menentukan apakah kita mengikut karakter Kristus atau menuruti tipu muslihat Iblis. Intinya ialah bahwa Allah ingin agar ketika kita mencintai-Nya, kita memutuskan hal itu sebagai hasil pilihan atas dua hal yang bertentangan. Bukankah cinta sejati lahir ketika ada pilihan?</p>
<p><strong>Sukacita</strong></p>
<p>Walau Kristus adalah Tuhan itu sendiri, Ia memilih dilahirkan di kandang binatang, menjalani kehidupan yang sangat sederhana, bahkan mati dengan cara yang paling menyakitkan dan memalukan.</p>
<p>Kita mungkin tidak pernah mendengar ada orang yang sedemikian miskinnya sehingga harus dilahirkan di kandang binatang. Tetapi Yesus demikian. Ketika tumbuh dewasa pun, Ia menjalaninya di Nazaret. Di dalam Yohanes 1:46, Natanael, yang kemudian menjadi salah satu murid Yesus, sempat berucap, <em>“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”</em> Yesus harus menjalani hukuman mati bukan karena ditemukan suatu kesalahan pada-Nya kendati telah dihadirkan sejumlah saksi palsu. Bahkan, cara mati dengan disalib merupakan simbol kehinaan yang paling berat karena tubuh orang yang disalib dipertontonkan di depan umum untuk menimbulkan efek jera bagi publik. Bagi yang disalib, kematian di atas salib juga sangat menyakitkan. Setelah dipaku (bahkan binatang pun tidak ada yang dipaku untuk dibunuh), korban penyaliban dibiarkan tergantung berjam-jam lamanya di bawah serangan panas matahari dan/atau hawa dingin sehingga membawa penderitaan hebat ketika menunggu dijemput maut. Bila terlalu lama tidak mati, kakinya dipukul dengan keras sampai patah sehingga tubuh akan melorot ke bawah, mendorong paru-paru yang terdesak dan dibanjiri darah sehingga dapat segera menghentikan pernapasan dan membawa kematian lebih cepat.</p>
<p>Apakah yang memampukan Yesus menjalani semua itu? Salah satu jawabannya ada di Ibrani 12:2: <em>“&#8230;Yesus,&#8230; dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan tahta Allah.”</em></p>
<p>Rumusan dalam bahasa Indonesia di atas kurang dapat mengangkat makna penting ayat ini. Dalam Today English Version, disebutkan,<em> “&#8230;Jesus&#8230; because of the joy that was waiting for him, he thought nothing of the disgrace of dying on the cross, and he is now seated at the right side of God’s throne.”</em></p>
<p>King James Version: <em>“&#8230;Jesus &#8230; for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God. “</em></p>
<p>Kristus mampu menyelesaikan misi-Nya di dunia ini karena Ia meletakkan pandangan-Nya, bukan pada apa yang ada di depan mata-Nya, tetapi pada SUKACITA yang menanti-Nya kemudian, setelah Ia menyelesaikan penderitaan-penderitaan-Nya itu. SUKACITA yang menanti-Nya ini bukan semata karena Ia akan duduk di sebelah kanan tahta Allah karena Ia memang sudah Allah itu sendiri, tetapi terlebih lagi karena kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya memberi kita, manusia yang jatuh dalam dosa, (a) teladan hidup yang sempurna, dan (b) pemulihan kembali hubungan kita dengan Allah Pencipta, sehingga dapat hidup bersama Yesus di Surga di dalam kekekalan.</p>
<p>Yang tidak kalah indah dari karya Kristus ialah bahwa di dalam Kristus, kita dapat memanggil Allah, Pencipta langit dan bumi, sebagai “Bapa.” Jikalau Allah adalah Bapa kita, tidak akan ada yang dapat memisahkan kasih-Nya dari kita. Dengan-Nya, kita dapat mengimani dan mengamini bahwa suka-duka yang kita alami memang Tuhan rancangkan atau izinkan terjadi, agar kita tidak saja bahagia, tetapi terlebih dari itu, agar kita dapat makin serupa dengan Kristus, hari demi hari, dengan setiap kemenangan kita atas segala pencobaan yang lahir dari suka-duka tersebut. Karena itu kita punya banyak alasan untuk bersukacita, seperti Kristus sendiri.</p>
<address>Fabian Buddy Pascoal</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sukacita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukacita  Untuk Semua</title>
		<link>http://gkipi.org/sukacita-untuk-semua/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sukacita-untuk-semua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 01:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2992</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Natal yang dirayakan oleh gereja-gereja Tuhan pada umumnya ditandai oleh suasana sukacita dan kegembiraan. Tetapi apakah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan yang dirayakan oleh gereja, juga merupakan peristiwa faktual yang menyenangkan bagi Maria dan Yusuf? Atas perintah Kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">K</span>isah Natal yang dirayakan oleh gereja-gereja Tuhan pada umumnya ditandai oleh suasana sukacita dan kegembiraan. Tetapi apakah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan yang dirayakan oleh gereja, juga merupakan peristiwa faktual yang menyenangkan bagi Maria dan Yusuf?</p>
<p>Atas perintah Kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. Dari peta kita dapat mengukur jarak kota Nazaret ke Betlehem sekitar 80-90 mil atau sekitar 150-170 km. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut sebenarnya perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan. Perjalanan yang sangat jauh itu harus ditempuh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai. Padahal waktu itu Maria sedang hamil tua. Jadi kisah Natal yang dialami oleh para pelaku karya keselamatan Allah, yaitu Maria dan Yusuf bukanlah suatu kisah yang membawa sukacita atau kebahagiaan.</p>
<p>Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi jawaban Maria yang bersedia (“fiat Maria”) untuk mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:38). Seandainya Maria menolak panggilan Allah yang disampaikan oleh malaikat Gabriel untuk mengandung dari Roh Kudus, tentunya Maria tidak akan mengalami penderitaan seberat ini. Mungkin dia tetap akan berangkat ke Betlehem tetapi bukan dalam keadaan hamil. Seandainya Maria menolak perkataan malaikat Gabriel, Maria juga tidak perlu menanggung risiko berupa sanksi sosial dan keagamaan dengan kehamilannya yang dianggap di luar kewajaran.</p>
<p>Makna kebahagiaan dan sukacita sering dipahami jikalau kita selalu mengambil keputusan yang serba aman, tidak berisiko atau berhadapan dengan kesulitan. Kondisi inilah yang sering disebut dengan “ego-insecurity” (kedirian yang tidak merasa aman). Semakin kita terjebak dalam “ego-insecurity” maka kita akan selalu berupaya mencari rasa aman. Dalam konteks ini makna sukacita dan bahagia dipahami jikalau ritme kehidupan ini selalu berjalan serba datar, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah.</p>
<p>Tetapi seandainya pula Maria dan Yusuf menolak panggilan Allah demi rasa aman mereka, maka karya keselamatan Allah dalam inkarnasi Kristus juga tidak akan terwujud. Sejarah keselamatan Allah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda! Atau yang lebih buruk lagi adalah dunia dan umat manusia tidak akan pernah mengalami kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan mereka. Umat manusia sepanjang zaman tidak akan dapat mengalami sukacita surgawi dengan datangnya sang Raja Kehidupan.</p>
<p>Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Maria dan Yusuf, terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia. Sehingga kerelaan dan sikap iman yang diperlihatkan oleh Maria telah mewujudkan perkataan Nabi Yesaya: “Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang” (Yes. 62:11). Sukacita Natal dapat kita alami secara penuh karena keselamatan dari Allah telah datang!</p>
<h3>Keselamatan Allah Telah Datang</h3>
<p>Makna sukacita dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilepaskan dari keselamatan Allah. Sukacita dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali dikaitkan dengan keberhasilan untuk memiliki. Semakin banyak kita memiliki, maka semakin banyak pula kita bersukacita. Tetapi semakin banyak yang kita miliki hilang, maka hilang pula sukacita yang kita miliki. Ketika nilai saham yang kita miliki merosot jatuh, maka hilanglah segala sukacita yang pernah kita miliki. Ketika investasi atau harta kekayaan yang kita miliki disita, maka hancurlah segala kebanggaan dan kebahagiaan hidup kita. Dengan demikian makna sukacita dan kebahagiaan yang kita miliki berubah-ubah seiring dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan.</p>
<p>Justru peristiwa Natal hendak menegaskan bahwa nilai atau makna sukacita dan kebahagiaan kita bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki. Tetapi sukacita dan kebahagiaan kita lebih ditentukan oleh seberapa besar kita menyambut keselamatan Allah yang telah datang. Peristiwa Natal justru merupakan momen yang penuh makna saat kita mampu melepaskan segala hal yang kita milliki secara duniawi agar terbukalah ruang hati yang luas untuk menyambut peristiwa inkarnasi firman Allah menjadi manusia. Saat hati kita penuh sesak dengan berbagai barang atau milik secara dunia, maka kita tidak dapat menyambut sukacita dan kebahagiaan Natal.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul “Authentic Happiness” (Kebahagiaan yang otentik), Martin Seligman, yang termasuk salah satu pendiri psikologi positif, menyatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari “emosi-emosi positif” (positive emotions) dan “aktivitas-aktivitas positif” (positive activities) yang terentang dari masa lampau, kini dan masa mendatang. Sehingga manakala masa lampau dan masa kini kita penuh dengan kepuasan, rasa bangga dan ketenteraman; serta sikap kita memandang masa depan dengan sikap yang optimistik, berpengharapan dan keyakinan, maka niscayalah kita akan berbahagia.</p>
<p>Efek dari kebahagiaan yang demikian akan membebaskan diri kita dari penghalang-penghalang emosi, sehingga kita dapat lebih mampu menikmati pekerjaan dan aktivitas-aktivitas yang lebih kreatif. Dengan cara hidup yang demikian, kita akan dimampukan untuk mengalami makna hidup yang lebih penuh sebab kita mengarah ke tujuan hidup yang lebih besar daripada tujuan-tujuan jangka pendek atau dangkal. Pemikiran Martin Seligman tersebut pada satu segi tentunya bermanfaat bagi kita untuk menghayati dan menemukan makna sukacita atau kebahagiaan.</p>
<p>Tetapi pandangan Martin Seligman dan seperti para pemikir sekuler yang lain umumnya menempatkan makna sukacita atau kebahagiaan sebagai hasil upaya manusia untuk mengelola emosi-emosi secara positif agar dapat menghasilkan kegiatan atau tindakan yang positif. Mereka memandang kebahagiaan sebagai hasil dan upaya manusiawi. Tetapi tidaklah demikian dengan berita Natal. Kebahagiaan dan sukacita pada hakikatnya merupakan anugerah keselamatan dari Allah. Di Tit. 3:4-6, dikatakan: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita.”</p>
<p>Justru di saat kita pernah gagal untuk berpikir positif dan hidup tidak tenteram serta penuh penderitaan, di situlah kita diperkenankan Allah mendengar tentang kemurahan hati dan kasih-Nya. Saat hidup kita terpuruk dan tidak berharga, di situ pula kita memperoleh tawaran pengharapan sebab Allah mengasihi kita dalam inkarnasi Kristus.</p>
<h3>Penguasa Kehidupan</h3>
<p>Injil Lukas menyaksikan bahwa Kaisar Agustus telah mengeluarkan suatu perintah yang memerintahkan untuk mendaftarkan semua orang di seluruh wilayah kerajaannya. Atas perintah Kaisar Agustus tersebut, Maria pada akhirnya melahirkan Yesus di kota Betlehem. Jika demikian, apakah ini berarti kelahiran Yesus di kota Betlehem terjadi karena perintah Kaisar Agustus? Bukankah seandainya Kaisar Agustus tidak pernah memerintahkan pendaftaran penduduk, maka kemungkinan besar Maria akan melahirkan Yesus di kota Nazaret? Jika demikian, bukankah yang menjadi penguasa dan yang menentukan riwayat hidup Yesus Kristus adalah Kaisar Agustus? Bagaimanakah kita harus menjawab pertanyaan “teologis” tersebut?</p>
<p>Apabila kita mencermati lebih teliti kesaksian Alkitab, maka kita disadarkan bahwa perintah Kaisar Agustus tersebut justru merupakan penggenapan dari rencana Allah. Di Mikha 5:1 terdapat nubuat Allah: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Allah telah merencanakan karya keselamatan-Nya, yaitu inkarnasi Kristus di Betlehem, ribuan tahun sebelum Kaisar Agustus lahir dan memerintah.</p>
<p>Dengan demikian, Kaisar Agustus dalam berita Alkitab sebenarnya hanya dipandang sebagai alat di tangan Allah. Penentu jalannya sejarah adalah Allah. Perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan semua penduduk di wilayah kerajaan Romawi pada hakikatnya terjadi di bawah kendali otoritas kehendak dan rencana Allah, sehingga perintah Kaisar Agustus tersebut mendorong Maria untuk pergi meninggalkan kota Nazaret ke Betlehem. Ini berarti, yang menjadi penguasa kehidupan umat manusia bukanlah pemerintah atau penguasa, tetapi Allah.</p>
<p>Sekilas pemerintah atau penguasa dunia ini mampu mengatur dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan kita. Padahal keputusan-keputusan atau kebijaksanaan mereka dalam konteks tertentu diatur oleh Allah untuk menyatakan karya keselamatan-Nya dalam kehidupan kita. Namun sayangnya, manusia seringkali menjadikan orang-orang yang berkuasa sebagai tempat untuk bersandar dan sumber berkat.</p>
<p>Pada zamannya, Kaisar Agustus mengklaim dirinya sebagai “kurios” (penguasa atau tuan) bagi seluruh penduduknya. Sebaliknya banyak penduduk yang mendewa-dewakan atau memuja-muja kebesaran Kaisar Agustus, sehingga mereka akan merasa bahagia dan sukacita jikalau memiliki hubungan yang dekat dengan para penguasa. Mereka merasa diri lebih aman, tenteram dan terjamin keselamatannya karena merasa dilindungi atau dijaga oleh para penguasa.</p>
<p>Pola berpikir seperti inilah yang kelak menghasilkan sikap kolusi. Sebab dalam kolusi, orang-orang yang ingin dekat dan memperoleh keuntungan dari pemerintah bersedia untuk membayar uang pelicin atau uang haram. Sebagai gantinya, pemerintah atau penguasa yang merasa diuntungkan dapat menganggap mereka sebagai “orang-orang terdekat dan terpercaya”. Itu sebabnya sikap kolusi dapat berkembang menjadi sikap nepotisme. Lingkaran sikap kolusi dan nepotisme selalu berujung kepada tindakan yang korup. Fenomena inilah yang terjadi di negeri ini, di mana akhir-akhir ini terekspos dalam media massa tentang “sinetron Cecak dan Buaya”.</p>
<p>Sebenarnya sudah kita sadari bahwa di antara mereka semua tidak ada seorang pun yang benar. Semuanya terlibat dalam “lingkaran setan” korupsi, suap dan perilaku politis. Jadi tidak perlu para pelaku mengangkat sumpah atas nama Allah.<br />
Sebaliknya berita Natal tidaklah demikian. Berita Natal justru memproklamirkan bahwa Allah adalah Tuhan yang menjadi pelindung dan Juru Selamat sejati umat manusia, khususnya mereka yang lemah dan tertindas. Karena itu peristiwa Natal mengontraskan dua penguasa, yaitu Kaisar Agustus dengan Yesus Kristus! Keduanya sama-sama berkedudukan sebagai “raja”, tetapi kelak terbukti bahwa hanya Kristuslah sang Raja Kehidupan yang mampu mengaruniakan keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan yang sejati. Penguasa dunia sering memerankan diri sebagai tiran dan memberi kebahagiaan yang semu, sehingga tidak mengherankan jikalau Mazmur 97:1 mengungkapkan pujian kepada Allah yang adalah Raja: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!” Yang dipuji oleh bumi dan banyak pulau bukanlah para raja dan penguasa dunia, tetapi Allah yang adalah Raja Kehidupan.</p>
<h3>Yang Berkenan Kepada Allah</h3>
<p>Sebagai Raja Kehidupan, Allah memiliki hak dan kedaulatan penuh atas hidup manusia. Pada sisi lain, kedaulatan Allah sebagai Raja senantiasa dilandasi oleh rahmat-Nya yang bebas. Itu sebabnya dalam peristiwa Natal, rahmat Allah justru dinyatakan kepada orang yang berkenan kepada-Nya yaitu para gembala di padang Efrata. Para gembala yang diperkenankan Allah untuk mendengar nyanyian para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11).</p>
<p>Sukacita dan damai-sejahtera Allah yang dinyatakan dalam nyanyian para malaikat justru ditujukan kepada orang “yang berkenan kepada Allah”. Ungkapan kata “yang berkenan” (eudakia) dalam Injil Lukas juga dipakai dalam peristiwa baptisan Kristus di sungai Yordan (Luk. 3:22). Makna ungkapan “eudakia” berarti: “good-will” (kehendak mulia), “good-pleasure” (kesukaan), “favor” (kemurahan), “feeling of complacency of God” (perasaan puas akan Allah), “satisfaction” (kepuasan), “happiness” (kebahagiaan), “delight of men” (kegembiraan). Dengan demikian berita sukacita dan damai-sejahtera Natal pada hakikatnya ditujukan kepada setiap orang yang memiliki kehendak yang mulia, yang hidup dalam kemurahan hati, yang puas dengan pemeliharaan Allah dan bahagia dalam menyambut berkat Allah. Jadi makna “orang-orang yang berdaya secara ekonomis atau hukum”. Padahal belum tentu setiap orang yang miskin, orang-orang terasing dan tidak berdaya secara ekonomis atau hukum berstatus “berkenan kepada Allah”.</p>
<p>Kita dapat menjumpai kenyataan yang memrihatinkan, di mana atas nama “kemiskinan” atau “ketidakadilan” beberapa orang merasa berhak untuk merampok dan menjarah harta milik orang lain. Berita Natal tidak pernah membenarkan teologia “Robin Hood”. Tepatnya orang-orang yang berkenan kepada Allah menunjuk kepada setiap orang yang hidup benar berdasarkan sistem Kerajaan Allah. Sehingga spiritualitas orang yang berkenan kepada Allah adalah setiap orang yang sungguh-sungguh bersandar kepada Allah, hidup sederhana, bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan berbahagia atas rahmat-Nya. Makna “orang yang berkenan kepada Allah” lebih menunjuk kepada kualitas iman dan spiritualitas kasih dari umat percaya.</p>
<p>Dengan demikian berita keselamatan Natal yang membawa sukacita ditujukan kepada setiap orang yang berkenan kepada Allah merupakan berita yang aktual dan kaya spiritualitas. Berita dan nyanyian para malaikat kepada para gembala, yaitu: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11) merupakan berita yang menyapa di relung kedalaman setiap umat yang beriman.</p>
<p>Berita keselamatan Natal senantiasa melampaui batas-batas, seperti: ekonomi, suku, etnis, bahasa, pandangan hidup dan agama. Peristiwa Natal tidak pernah bergerak secara eksklusif, tetapi selalu menyebar secara inklusif “di antara manusia yang berkenan kepada Allah”. Kalaupun berita keselamatan Natal pada sisi lain layak dianggap “eksklusif”, maka yang dimaksudkan “eksklusif” di sini karena keselamatan Allah ditujukan hanya kepada “orang-orang yang berkenan kepada-Nya”.</p>
<p>Berita keselamatan Natal tidak pernah ditujukan kepada orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai “kurios” (tuan dan penguasa) atas hidup orang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kaisar Agustus. Sehingga sukacita dan damai-sejahtera Natal tidak mungkin diterima oleh setiap orang yang bersikap puas diri, sombong, saleh, takabur dan memandang rendah sesamanya.</p>
<h3>Sukacita Untuk Kemuliaan Allah</h3>
<p>Sikap para gembala yang telah memperoleh kabar gembira dari para malaikat disaksikan: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita. Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk. 2:15-17). Para gembala di Efrata mampu bersukacita dengan apa yang telah mereka terima dan alami. Namun lebih daripada itu, mereka juga berkomitmen membagikan sukacita keselamatan untuk kemuliaan Allah.</p>
<p>Para gembala di Efrata sebenarnya telah menjadi para pemberita Injil pertama agar kemuliaan Allah yang telah mereka lihat juga dapat dialami oleh orang lain. Ini berarti sukacita dan damai-sejahtera Natal bukanlah sesuatu yang sifatnya pasif dan konsumtif. Seharusnya kita bersukacita karena kita dapat membagikan kepada orang lain sehingga mereka dapat berbahagia dan mengalami keselamatan Allah. Bahkan orang yang berkenan kepada Allah mampu menggunakan penderitaan dan tragedi hidupnya sebagai sumber inspirasi yang memberi kekuatan kepada orang lain.</p>
<p>Victor Frankl seorang psikolog Yahudi yang tinggal di Austria (26 Maret 1905 &#8211; 2 September 1997) dapat mengilhami kita bagaimana dia mampu bersukacita dan hidup yang bermakna untuk kemuliaan Allah. Pada tahun 1942 dia bersama keluarga dan orang-orang Yahudi lainnya diangkut dengan gerbong kereta api dari kota kelahirannya di Wina, Austria menuju di sebuah kota yang bernama Auschwitz. Mereka dijajar menjadi 2 kelompok kiri dan kanan. Ternyata mereka yang berada di kelompok sebelah kiri dimasukkan ke dalam kamar gas atau eksekusi tembak. Victor Frankl baru menyadari bahwa yang termasuk di kelompok sebelah kiri adalah ayah, ibu, isterinya yang sedang mengandung dan kakaknya laki-laki. Jumlah yang dieksekusi pada hari itu mencapai 1300 orang. Selama dalam tahanan Victor Frankl seringkali mengalami berbagai kekejaman, penghinaan, kelaparan dan kedinginan. Tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar.</p>
<p>Dari refleksi teologisnya Victor Frankl belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan, yaitu kebebasan untuk memilih atau kemauan akan arti kehidupan. Itu sebabnya dalam bukunya yang berjudul “Man’s Search for Meaning”, Victor Frankl mengemukakan pandangan psikologinya yang disebut “Logotherapy” sebab mengulas tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan makna hidup.</p>
<p>Menurut pengakuan Victor Frankl, sumber kekuatan rohaninya diperoleh saat dia menemukan sobekan kertas di jasad temannya. Sobekan kertas tersebut berisi Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”<br />
Ayat Alkitab yang merupakan kredo umat Israel tersebut menginspirasi Victor Frankl bahwa makna kasih kepada Allah harus dihayati dengan penuh arti walau kehidupan ini sering sewenang-wenang dan dapat mencabut nyawanya. Victor Frankl mampu mengatasi (mentransendensikan) seluruh penderitaannya, sehingga dia mampu memberi respon yang memperkaya rohani dan pemikirannya. Dia tetap mampu bersukacita dan menemukan arti di tengah-tengah kekelaman dan kekejaman hidup.</p>
<p>Setelah dia bebas dari tahanan, Frankl kemudian berperan aktif memberi kekuatan, motivasi dan dorongan untuk menemukan arti hidup bagi banyak orang. Bukankah melalui kisah hidup dari Victor Frankl tersebut kita dapat belajar apa artinya sukacita untuk kemuliaan Allah?</p>
<p>Berita Natal juga mendorong dan memanggil kita untuk menemukan arti hidup yang telah dianugerahkan Allah melalui peristiwa inkarnasi Kristus. Tetapi juga berita Natal mendorong dan memanggil kita agar kita tetap menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi orang lain di tengah-tengah kekelaman penderitaan yang kita alami. Jika kita telah menerima keselamatan Allah yang telah datang dan nyata di dalam Kristus, maka seharusnya sukacita dan damai-sejahtera kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita miliki.</p>
<p>Semua yang kita miliki suatu saat akan lenyap dan hilang. Tetapi tidak berarti sukacita dan damai-sejahtera Kristus harus ikut lenyap selama kita mau menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas kehidupan kita. Di dalam kuasa iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk mengatasi (mentransendensikan) diri kita sehingga berbagai kesusahan, permasalahan, dan tekanan hidup tidak pernah berhasil melumpuhkan kita. Sebaliknya dalam ziarah iman di tengah-tengah ketandusan padang gurun dunia ini kita akan semakin dimampukan untuk menjadi berkat keselamatan dan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita.</p>
<h3>Panggilan</h3>
<p>Makna sukacita dan damai-sejahtera kita ditentukan oleh sejauh mana kita mampu memberi respon iman terhadap segala peristiwa hidup yang paling berat dan menyedihkan. Ketika kita mampu memberi respon iman yang tepat dengan berlandaskan kepada anugerah keselamatan Allah, maka tidak ada suatu penderitaan, kegagalan, kekejaman dan ketidakadilan hidup ini yang mampu merampas sukacita dan damai-sejahtera kita. Karena itu sebagai orang-orang yang telah memperoleh kemurahan kasih Allah, kita dipanggil untuk menjadi pemberita-pemberita keselamatan yang membawa sukacita dan damai-sejahtera Kristus.</p>
<p>Namun apakah kita bersedia meninggalkan sikap yang mencari rasa tidak aman (ego-insecurity) sehingga kita tidak lagi bersandar kepada kekuatan manusia, tetapi bersandar hanya kepada Allah di dalam Kristus? Sukacita Natal dianugerahkan kepada setiap orang yang hanya merasa aman dalam dekapan rahmat Allah. Mereka kemudian dimampukan Allah untuk menyuarakan suara kenabian, bersikap kritis dan membela kebenaran tanpa merasa tertekan dan takut oleh berbagai kuasa dunia. Jadi bagaimana dengan kehidupan Saudara saat merayakan dan memaknai peristiwa Natal tahun 2009 ini?</p>
<address>www.yohanesbm.com</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sukacita-untuk-semua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relasi Pribadi Dengan Allah</title>
		<link>http://gkipi.org/relasi-pribadi-dengan-allah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/relasi-pribadi-dengan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 02:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2776</guid>
		<description><![CDATA[Rencana kegiatan apa saja yang telah kita tuliskan dalam program kerja, yang harus kita selesaikan hari ini? Sanggupkah kita melakukan semuanya? Kalau kita tidak berhasil menyelesaikannya sesuai rencana, siapa saja yang kecewa? Diri kita atau orang lain yang berharap menerima faedah dari pekerjaan kita? Atau Tuhan juga ikut kecewa? Sebaliknya, jika kita berhasil dengan baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">R</span>encana kegiatan apa saja yang telah kita tuliskan dalam program kerja, yang harus kita selesaikan hari ini? Sanggupkah kita melakukan semuanya? Kalau kita tidak berhasil menyelesaikannya sesuai rencana, siapa saja yang kecewa? Diri kita atau orang lain yang berharap menerima faedah dari pekerjaan kita? Atau Tuhan juga ikut kecewa? Sebaliknya, jika kita berhasil dengan baik melakukan pekerjaan itu, apakah Tuhan juga senang? Mungkin beberapa di antara kita berpandangan, kalau kita gagal melakukan apa yang kita harapkan maka Tuhan kecewa, sebaliknya Tuhan senang bila kita berhasil melakukannya.</p>
<p>Yesus datang ke dunia tidak semata-mata untuk membantu kita menyelesaikan banyak masalah. Kedatangan-Nya bertujuan agar kita mempunyai relasi pribadi dengan Allah. Tuhan Yesus mengajarkan kita berkomunikasi setiap hari dan berdoa kepada Bapa di surga. Allah juga berbicara kepada kita hari lepas hari. Seberapa dalam kepekaan kita merespons relasi ini?</p>
<p><strong>BACA: 2 KORINTUS 13: 11-13</strong></p>
<p>(Tandai ayat 13). Persekutuan dengan Roh Kudus mengundang Allah tinggal di dalam kita. Ini berarti kita senantiasa menjalin relasi secara pribadi dengan-Nya, melalui peran Roh Kudus itu. Dengan ini pula kita dapat merasakan kehadiran-Nya dalam berbagai situasi yang kita alami.</p>
<p><strong>BACA: YAKOBUS 4:13-17</strong></p>
<p>(Tandai ayat 14, 15). Manusia seperti kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dan esok hari. Hidup kita ibarat uap yang segera lenyap, tidak ada artinya dan apa pun yang kita lakukan akan sia-sia. Hidup dan perbuatan akan tanpa makna, kecuali kita jalani jika Tuhan menghendakinya.</p>
<p>Kita, Anda dan saya, mungkin saja mengelola kegiatan dengan berbagai cara dan pengaturan, membuat skala prioritas untuk melakukan mana yang perlu didahulukan. Tapi, dalam kehidupan kerja, apa pun sibuknya, bukankah relasi pribadi kita dengan Allah-lah yang terpenting? Tekun bekerja itu baik, menyenangkan orang lain juga hal yang baik. Tetapi hal itu tidaklah cukup, kecuali jika dalam kehidupan kita ada Sahabat nomor satu yaitu Yesus.</p>
<p>Niat baik dan berpikir positf akan bekerja optimal bila seluruh pemikiran kita selalu berorientasi kepada Allah. Begitulah mestinya kita menempatkan Allah dalam hidup. Tuhan Yesus tidak akan pernah berubah untuk mengasihi kita apa pun keberhasilan dan kegagalan kita dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan. Tuhan menginginkan relasi pribadi dengan kita, di mana setiap penggal dari kehidupan kita terbuka di hadirat-Nya.</p>
<p>Allah ingin menjadi pusat perhatian utama, sehingga terjalin relasi yang sungguh dekat dengan kita. Makin intim relasi kita dengan-Nya, menuntun kita mengerti apa yang dikendaki-Nya. Mari, tempatkan Tuhan di atas segalanya, dalam setiap rencana hidup Anda dan saya. Dengan demikian Anda dan saya dapat mempercayakan sederet kegiatan kepada-Nya, karena Dialah yang penuh kasih dan kuasa, dan memahami segala sesuatu yang seharusnya Anda dan saya lakukan – melebihi apa yang Anda dan saya, sendiri, pikirkan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.</p>
<address>Dwi Sihono Raharjo</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/relasi-pribadi-dengan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Kisah-Kisah  Keluarga dalam Alkitab</title>
		<link>http://gkipi.org/membaca-kisah-kisah-keluarga-dalam-alkitab/</link>
		<comments>http://gkipi.org/membaca-kisah-kisah-keluarga-dalam-alkitab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 03:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bible Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2570</guid>
		<description><![CDATA[Bulan keluarga, adalah bulan untuk menghayati kehidupan berkeluarga. Dalam bulan keluarga kita sebagai keluarga diajak untuk kembali merenungkan peran kita sebagai keluarga dalam terang Alkitab. Mau tidak mau pikiran kita lalu diarahkan untuk sekali lagi melihat kisah-kisah keluarga yang disaksikan dalam Alkitab. Tentu kita berharap akan menjumpai kisah-kisah keluarga yang baik dan dapat menjadi teladan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">B</span>ulan keluarga, adalah bulan untuk menghayati kehidupan berkeluarga. Dalam bulan keluarga kita sebagai keluarga diajak untuk kembali merenungkan peran kita sebagai keluarga dalam terang Alkitab. Mau tidak mau pikiran kita lalu diarahkan untuk sekali lagi melihat kisah-kisah keluarga yang disaksikan dalam Alkitab. Tentu kita berharap akan menjumpai kisah-kisah keluarga yang baik dan dapat menjadi teladan bagi kita dalam hidup berkeluarga. Tetapi sayangnya, sejak awal, dalam kisah penciptaan, Alkitab justru menyaksikan sebuah kisah keluarga yang jauh dari harapan kita.</p>
<p>Keluarga pertama, yaitu keluarga Adam adalah sebuah keluarga yang penuh dengan konflik. Adam yang tidak mau bertanggung jawab atas keputusannya dan melempar kesalahan kepada Hawa, bahkan kepada Allah sendiri (Kej. 3:12). Selanjutnya, relasi anak-anak mereka (Kain dan Habil) adalah sebuah relasi yang diwarnai dengan kecemburuan bahkan pembunuhan (Kej. 4:5,8). Begitu juga kisah-kisah keluarga selanjutnya, juga merupakan kisah keluarga yang ternyata penuh dengan berbagai kelemahan.</p>
<p>Di sinilah upaya kita untuk mencari teladan lalu bermuara pada kekecewaan. Sulit sekali menjumpai kisah keluarga ideal dalam Alkitab. Kisah keluarga yang dapat menjadi teladan buat kita semua dalam membina hidup berkeluarga. Lalu bagaimana caranya kita membaca kisah-kisah keluarga yang disaksikan dalam Alkitab, agar kisah-kisah tersebut dapat menginspirasi kita untuk semakin mewujudkan hidup berkeluarga yang baik?</p>
<ol>
<li>Jangan mengawali dengan pendekatan moralis, mencari hal-hal baik untuk kita teladani. Pendekatan semacam ini seringkali bermuara pada kekecewaan, karena kisah-kisah keluarga dalam Alkitab itu ternyata merupakan kisah keluarga yang penuh dengan berbagai kelemahan.</li>
<li>Mulailah dengan pendekatan teologis, carilah dan hayatilah Allah yang dengan kasih dan anugerah-Nya berkarya melalui dan di dalam keluarga-keluarga yang penuh dengan kelemahan itu. Allah yang selalu mau berkarya melalui keterbatasan manusiawi bahkan keberdosaan kita, untuk menyatakan kasih dan anugerah-Nya (Errore hominum providentia divina). Kita memang seringkali tidak mendapatkan teladan dari kisah-kisah keluarga dalam Alkitab, namun dengan melihat kepada Allah yang penuh kasih karunia, kita akan mendapat kekuatan baru untuk terus memperjuangkan kebaikan keluarga kita masing-masing. Kekuatan yang berasal dari sebuah kesadaran, bahwa Allah selalu hadir melalui kelemahan-kelemahan kita. Allah memahami keterbatasan kita, namun sekaligus dalam kasih karunia-Nya selalu mau bekerjasama untuk mengatasi berbagai kelemahan manusiawi kita.</li>
<li>Tentu, pendekatan moralis tetap dapat kita lakukan, namun setelah kita membaca dengan pendekatan teologis. Pendekatan moralis dalam terang kasih dan anugerah Allah, tidak akan membawa kita pada kekecewaan, namun sebaliknya justru menyemangati kita untuk mewujudkan ‘sisi baik’ yang gagal dilaksanakan oleh keluarga-keluarga yang kisahnya ada dalam Alkitab.</li>
</ol>
<p>Kisah-kisah keluarga yang disaksikan dalam Alkitab sesungguhnya adalah kisah keluarga kita masing-masing. Kisah keluarga yang kadang diwarnai dengan berbagai kelemahan, keterbatasan bahkan kegagalan untuk mewujudkan sebuah keluarga yang baik. Namun kita tetap dapat bersyukur bukan karena kegagalan itu, tetapi karena kita melihat Allah yang hadir di tengah kegagalan kita dan senantiasa menyemangati kita untuk bangkit dan kembali mewujudkan sebuah keluarga yang baik.</p>
<blockquote><p>“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:16).</p></blockquote>
<address>Pdt. Rudianto Djajakartika</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/membaca-kisah-kisah-keluarga-dalam-alkitab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
