<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Artikel Lepas</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-lepas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Semua Karena Cinta</title>
		<link>http://gkipi.org/semua-karena-cinta/</link>
		<comments>http://gkipi.org/semua-karena-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4449</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan terminal Pulogadung. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan terminal Pulogadung. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.</p>
<p>Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia sungguh takkan pernah mengerti sebab apa ia dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota. Yang ia tahu hanyalah terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma bis kota, tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh ingar-bingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.</p>
<p>Lain lagi dengan pemandangan di Pasar Induk Kramatjati. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih dari tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar: penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.</p>
<p>Anak pasar–itu kalau boleh disebut begitu–tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar beceklah yang kerap mengakrabinya.</p>
<p>Di tempat yang berbeda. Seorang ibu naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”</p>
<p>Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.</p>
<p>Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota, mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu berkata, “Sebab cinta, ibu melakukan semua ini, Nak.”</p>
<p>Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu. Itu semua karena cinta memang tidak meminta, melainkan hanya memberi. Memang itulah hakikat cinta.</p>
<p>Terlebih cinta agung dari Yang Maha Kasih, Allah Bapa kita. Karena cinta-Nya kepada kita–bukan cinta yang ‘jika’ tetapi cinta yang ‘walaupun’–Ia telah mengutus anak-Nya, Yesus Kristus untuk hadir ke dunia. Tidak dengan mahkota, melainkan dengan lahir di kandang domba, merendahkan diri sedemikian rupa untuk kita. Untuk kita manusia berdosa, Ia rela menderita bahkan sampai mati secara hina di kayu salib untuk menebus kita. Walaupun kita manusia berdosa, kita tetap dicintai-Nya.</p>
<p>Selamat mengasihi!</p>
<p>[Eddy Nugroho]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/semua-karena-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seekor Anak Anjing</title>
		<link>http://gkipi.org/kisah-seekor-anak-anjing/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kisah-seekor-anak-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 03:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4219</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari saya berjalan-jalan di deretan toko binatang dan tertawa-tawa melihat anak-anak anjing yang sangat lucu di etalase mereka. Lalu, mata saya terhenti pada seekor di antaranya. Saya jatuh cinta. Padahal ia tidak melakukan apa-apa, hanya bersikap seperti biasa, seperti seharusnya seekor anak anjing. Tapi saya jatuh cinta. Saya tidak bisa membiarkannya berada di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari saya berjalan-jalan di deretan toko binatang dan tertawa-tawa melihat anak-anak anjing yang sangat lucu di etalase mereka. Lalu, mata saya terhenti pada seekor di antaranya. Saya jatuh cinta. Padahal ia tidak melakukan apa-apa, hanya bersikap seperti biasa, seperti seharusnya seekor anak anjing. Tapi saya jatuh cinta. Saya tidak bisa membiarkannya berada di dalam kandang kecil yang menyengsarakan itu, saya ingin membelainya, memberinya tempat yang layak, memanggilnya dengan namanya, menyebutnya kepunyaan saya. Dan saya pun membawa anak anjing itu pulang (dengan pengorbanan sejumlah uang, tentunya).</p>
<p>Pada awal-awal kehidupannya bersama saya, anjing kecil itu -kita sebut saja namanya P- mengikuti saya ke mana-mana. Setiap saya memanggilnya, ia akan datang dengan mengibaskan ekornya. Lalu, suatu kali, ia berbuat nakal, dan saya pun memarahinya. Ia kabur, sembunyi, tidak mau dipanggil. Ia marah pada saya karena memukulnya. Padahal pukulan itu pelan saja, dan memang seharusnya diterimanya agar ia belajar bersikap baik. Lagi pula, seandainya perilakunya itu diulang di depan kakak atau mama saya, pukulan yang akan diterimanya tentu lebih keras lagi. Justru saya mengajarnya agar jangan sampai bersikap demikian di depan mereka. Tapi P tidak tahu tujuan saya. Ia hanya tahu, saya memukulnya, dan ia kesal kepada saya karena memukulnya.</p>
<p>Di saat lain, ketika ia sedang asyik bermain, ia tidak mau datang ketika saya panggil. Ia asyik dengan kulit kering yang digigitinya, dan tidak peduli betapa inginnya saya bermain dengannya. Ia duduk tenang dan hanya sepintas saja melirik saya. Terkadang, ia kabur begitu pintu depan rumah dibuka. Ia tidak peduli bahaya yang menantinya, misalnya mobil yang lewat, atau anjing tetangga yang galak. Yang ia tahu, ia senang berlari-lari ke sana ke mari. Mungkin juga ia tahu, saya pasti mengejarnya, menggendongnya, dan menjauhkannya dari bahaya.</p>
<p>Ketika saya membuka kotak berisi makanannya, di mana pun ia tadinya berada, secepat kilat ia muncul di samping saya, meminta-minta. Kalau tidak saya beri, ia menatap saya dengan memelas, berharap saya iba. Kalau belum diberi juga, ia mulai mengonggong dan melompat-lompat menubruk saya, memaksa. Terkadang, saya berhasil memintanya untuk mengikuti perintah saya terlebih dahulu sebelum saya berikan makanannya, tapi lebih sering saya kasihan, dan saya memberikan apa yang ia minta. Lalu, ia malah kabur meninggalkan saya.</p>
<p>P takut pada hujan. Ketika hujan turun dengan petir menggelora, ia akan segera lari mendekati saya, lalu tidur di kaki saya. Kalau saya mengangkatnya, ia akan menempel ke tubuh saya, meringkuk manja, dan tidak mau turun lagi. Tetapi begitu hujan reda, ia segera melompat turun dan berbuat berbagai kenakalan.</p>
<p>Perilaku P ini membuat saya teringat akan hubungan kita dengan Tuhan. Hah? Bagaimana bisa demikian? Begini&#8230;</p>
<p>Seperti P yang dibeli hanya karena saya jatuh cinta kepadanya meskipun P tidak melakukan apa-apa, manusia pun dicintai oleh Allah bukan karena sesuatu yang dilakukan oleh manusia itu, melainkan karena Allah mau mencintai manusia. Bahkan, Allah mengorbankan Anak-Nya untuk dapat menebus dosa manusia (mungkin mirip seperti saya yang harus membayar sejumlah uang untuk ‘menyelamatkan’ P dari toko hewan peliharaan).</p>
<p>Seperti P yang awalnya mengikuti saya ke mana-mana, manusia yang mengalami keselamatan dari Allah pun mengikuti kehendak Allah. Akan tetapi, ketika P hendak diajar bagaimana bersikap, P marah kepada saya. Demikian juga manusia ketika mengalami cobaan, sering kali marah kepada Allah, meskipun ada pelajaran yang diberikan oleh Allah melalui cobaan tersebut.</p>
<p>Seperti P yang bersikap seenaknya sendiri, manusia pun terkadang melupakan Allah dan melakukan apa yang menjadi keinginannya sendiri. Hal tersebut dapat membahayakan manusia itu karena tenggelam ke dalam dosa. Akan tetapi Allah selalu menjaga manusia dan berusaha menyelamatkannya.</p>
<p>Seperti P yang hanya datang ketika hendak diberi makan, sering kali manusia hanya mencari Allah ketika memiliki suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, dan setelah itu kembali berpaling dari Allah. Seperti P yang menempel di kaki penulis ketika hujan turun, ketika menghadapi masalah, barulah manusia berpaling kepada Tuhan, mendekatkan diri kepada-Nya.</p>
<p>Seperti P dalam perumpamaan di atas, sering kali dalam kehidupan kita, kita bersikap sesuka hati kita. Yang penting kita bahagia. Kita tidak memedulikan orang lain di sekitar kita, dan kita tidak ingat kepada Tuhan yang begitu rindu menjalin relasi dengan kita. Di saat kita bahagia, kita seakan-akan tidak memerlukan Tuhan. Kita lupa bahwa kebahagiaan yang kita miliki tidak mungkin kita dapatkan jika bukan dari Tuhan, karena segala sesuatu adalah milik Tuhan semata.</p>
<p>Begitu egoisnya kita sehingga kita bukannya melupakan Tuhan, melainkan tidak memedulikan-Nya. Buktinya, begitu keadaan tidak berjalan sesuai rencana, ketika kita membutuhkan bantuan tertentu, ketika kita sedih dan putus asa, tiba-tiba kita mengingat Tuhan, dan kemudian merengek-rengek meminta belas kasihan-Nya, terkadang memaksa-Nya agar memberikan apa yang kita mau.</p>
<p>Memperhatikan anjing saya membuat saya menyadari juga suatu hal lain, yaitu betapa kecewanya saya ketika anjing saya itu tidak datang saat saya memanggilnya. Apakah mungkin Tuhan pun merasa begitu sedih dan kecewa melihat kelakuan kita? Meskipun demikian, saya sangat menyayangi anjing saya itu. Saya selalu memastikan ia baik-baik saja, mendapatkan makanan yang cukup, aman, nyaman, dan bahagia. Saya merindukannya dan ingin selalu mengetahui keberadaannya. Kalau saya saja bisa merasa seperti itu terhadap anjing saya yang baru saya kenal beberapa bulan dan pengorbanan yang saya berikan untuknya hanyalah sejumlah uang, bagaimana dengan Tuhan yang telah mengenal kita sejak di dalam kandungan dan mengorbankan Putra-Nya yang tunggal?</p>
<p>Tuhan begitu mengasihi kita, memperhatikan kita, dan menjaga setiap langkah kita. Ia menunggu kita berpaling kepada-Nya, menyapa-Nya, dan hidup bersekutu dengan-Nya.</p>
<p>(Aiko W.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kisah-seekor-anak-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peduli (Lagi) dan Lagi-Lagi Peduli</title>
		<link>http://gkipi.org/peduli-lagi-dan-lagi-lagi-peduli/</link>
		<comments>http://gkipi.org/peduli-lagi-dan-lagi-lagi-peduli/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 03:56:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4175</guid>
		<description><![CDATA[Visi dan Misi GKI Pondok Indah 2011–2121, masih mencantumkan kata PEDULI, kata yang sama yang juga tercantum dalam Visi dan Misi GKI Pondok Indah yang lalu. Artinya, kepedulian masih menjadi prioritas GKI Pondok Indah, setidaknya dalam sepuluh tahun ke depan. Dalam penjelasan tentang Misi GKI Pondok Indah, terlihat banyak sekali aspek kepedulian yang ingin diwujudkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Visi dan Misi GKI Pondok Indah 2011–2121, masih mencantumkan kata PEDULI, kata yang sama yang juga tercantum dalam Visi dan Misi GKI Pondok Indah yang lalu. Artinya, kepedulian masih menjadi prioritas GKI Pondok Indah, setidaknya dalam sepuluh tahun ke depan.</p>
<p>Dalam penjelasan tentang Misi GKI Pondok Indah, terlihat banyak sekali aspek kepedulian yang ingin diwujudkan, baik melalui Persekutuan, Kesaksian maupun Pelayanan, antara lain: Kepedulian melalui kesaksian; Persekutuan yang saling menghargai, menghormati, hangat dan peduli; Persekutuan yang menjadi perjumpaan antar warga jemaat; Persekutuan yang juga menghargai perbedaan; Persekutuan untuk mengaktualisasikan diri; Persekutuan yang dirawat melalui penggembalaan yang memulihkan relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya.</p>
<p>Aspek-aspek tersebut sangat baik adanya dan tentu nantinya akan terlihat dalam program-program kegiatan Komisi yang mengarah kepada upaya mewujudkan aspek-aspek kepedulian tersebut.</p>
<p>Rasa peduli atau kepedulian bukan hanya diwujudkan dengan mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan atau Panti Wreda dan membagikan bingkisan dalam rangka Natal atau Paska. Kepedulian bukan semata-mata dinyatakan dalam memberikan sumbangan kepada mereka yang terkena musibah, entah itu kebakaran, kebanjiran atau gempa. Kepedulian bukan sekadar dinyatakan dalam membagi-bagikan sembako kepada mereka yang membutuhkan.</p>
<p>Apakah setelah kita membagikan bingkisan, memberikan sumbangan dan membagikan sembako, artinya kita sudah memiliki kepedulian? Hemat saya, kegiatan-kegiatan sebagaimana yang disebutkan di atas, bukan lagi menjadi bagian dari kepedulian, tetapi sudah merupakan kewajiban!</p>
<p>Memang tidak mudah untuk menumbuhkan rasa peduli dalam diri manusia. Perlu adanya upaya yang terus-menerus sehingga rasa peduli tersebut menyatu dengan individu para jemaat, bukan sekadar kesadaran atau pengetahuan semata.</p>
<p>Rasa peduli atau kepedulian perlu ada dan tertanam dalam diri masing-masing individu. Kalau sikap dan rasa peduli ini sudah tertanam, maka secara otomatis kita akan menampilkan perilaku peduli terhadap sesama dan lingkungan.</p>
<p>Contohnya, kita tidak lagi membuang sampah sembarangan, apalagi meninggalkan tisu atau bungkus permen di bangku gereja, atau membuang sampah di bawah lonceng gereja setelah kebaktian selesai (entah mengapa, tempat sampah yang biasanya ada di plasa, sekarang tidak terlihat lagi). Kita tidak lagi parkir seenaknya sehingga menghalangi mobil lain. Kita tidak akan menarik rem tangan atau memasukkan gigi persneling pada waktu parkir, sehingga mobil bisa didorong dan tidak menghalangi mobil lain yang akan keluar dari lapangan parkir. Kita tidak lagi melanggar lampu merah walaupun lalu lintas pada saat dalam keadaan sepi. Kita tidak lagi menyeberang jalan di tempat yang tidak diperbolehkan, dan bersedia serta rela untuk berjalan sedikit lebih jauh. Kita akan rela untuk antre dalam hal apapun, apakah ketika menunggu taxi, membeli tiket, bahkan ketika antre makan di resepsi pernikahan.</p>
<p>Kita juga akan selalu mempunyai pemikiran-pemikiran yang positif sehingga dapat menghargai dan menerima pendapat orang lain. Kita dapat memberikan senyuman kepada semua orang, sekalipun kepada orang yang belum kita kenal.  Kita tidak akan datang terlambat atau “berSMS ria” di saat kebaktian. Kita akan dengan sukarela membantu dan berbagi tempat dengan sesama jemaat di kebaktian. Kita juga akan menghargai orang lain dengan tidak mengobrol, apalagi dengan suara keras, dalam kebaktian. Kita juga tidak saling menyerobot ketika keluar dari tempat parkir.</p>
<p>Nah, yang perlu dipikirkan oleh Majelis Jemaat bersama-sama dengan jemaat adalah bagaimana kita bisa menanamkan rasa peduli tersebut dalam diri kita masing-masing. Program dan kegiatan apa yang akan dibuat untuk menanamkan rasa peduli jemaat. Apa yang harus kita lakukan dan apa yang kita perlukan agar rasa peduli tersebut bisa tertanam dalam diri kita sehingga kita senantiasa mempunyai sikap dan pemikiran yang positif, sehingga Visi dan Misi GKI Pondok Indah, khususnya untuk aspek kepedulian dapat tercapai.</p>
<p>Janganlah rasa peduli kita terganggu atau berkurang, hanya karena ingin menonton pertandingan sepakbola piala dunia atau sibuk mencari video yang menghebohkan itu. Salam. (ssm)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/peduli-lagi-dan-lagi-lagi-peduli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemain Cadangan</title>
		<link>http://gkipi.org/pemain-cadangan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pemain-cadangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 03:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4171</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN pernah menganggap mereka tiada. Kalimat tersebut sering dilontarkan para pelatih yang bijak untuk mengingatkan para pemainnya terhadap lawan yang tidak menonjol. Sepak bola adalah permainan kolektif. Pemain bintang memang sangat dibutuhkan. Tetapi, pemain lain bukannya tidak berarti. Diego Maradona tidak akan bisa melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan kiper Peter Shilton di bawah mistar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN pernah menganggap mereka tiada. Kalimat tersebut sering dilontarkan para pelatih yang bijak untuk mengingatkan para pemainnya terhadap lawan yang tidak menonjol. Sepak bola adalah permainan kolektif. Pemain bintang memang sangat dibutuhkan. Tetapi, pemain lain bukannya tidak berarti. Diego Maradona tidak akan bisa melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan kiper Peter Shilton di bawah mistar dalam Piala Dunia kalau tidak ada pemain lain yang melakukan gerakan tanpa bola mengikuti gerakannya menusuk pertahanan lawan.</p>
<p>Pemain yang tidak menonjol juga kerap menjadi “senjata” pemukul, pada saat pemain andalan mengalami kesulitan membongkar pertahanan lawan atau mencetak gol. Shaun Wright-Phillips adalah salah satu contoh terakhir di kubu Chelsea. Dua golnya ke gawang West Ham United mengawali kemenangan telak Chelsea (4-1) pertengahan pekan ini, di Liga Premier.</p>
<p>Ia sering dibangkucadangkan oleh Jose Mourinho, pelatih Chelsea. Bermain sebagai gelandang, tugas yang baru dilakoninya dalam beberapa pertandingan terakhir, karena sebelumnya sebagai penyerang sayap, ia ternyata sanggup menjawab tantangan yang diberikan oleh pelatihnya (Kompas, 20 April 2007).</p>
<p>Memang tidak enak kalau pemain sepak bola sering dibangku cadangkan, karena tidak bisa membuktikan prestasinya, dan akibatnya menjadi pemain yang tidak menonjol. Tetapi, Wright-Phillips tidak putus asa, begitu ia diberi kesempatan, ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu. Ia membuktikan bahwa ia bisa diandalkan.</p>
<p>Demikian juga pelayanan di gereja. Ada motor penggeraknya, tetapi juga ada pemeran pembantu. Kita tidak boleh berkecil hati kalau peran kita kecil dan tidak menonjol.</p>
<p>Tuhan Yesus pernah berkata, siapa saja setia dengan perkara kecil, ia akan diberikan perkara yang besar. Dia juga memberikan pujian dan penghargaan yang sama, baik yang mengembangkan lima talenta maupun yang dua talenta. Tuhan Yesus marah kepada yang dipercayakan satu talenta, karena yang diberi kepercayaan tidak mengembangkannya. Oleh karena itu, pakailah talenta yang telah kita terima, sekecil apa pun, untuk pelayanan kepada sesama demi kemuliaan Allah.</p>
<p>Di suatu gereja yang cukup besar di Amerika Serikat, ada yang memohon kepada Pak Pendeta untuk dapat melayani di gereja tersebut dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah. Karena keterbatasan bahasa, ia disuruh mengurusi antarjemput anak Sekolah Minggu, yang berjumlah 50 armada.</p>
<p>Tiap minggu ia turun naik dari bus satu ke bus yang lain untuk mengurus anak-anak. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap melayani di bus nomor tujuh, karena ia melihat seorang anak yang terlihat tertekan dan ketakutan. Ia hanya memeluk anak itu, sambil berbisik, “I love you, and Jesus love you too.” Hal ini dilakukannya tiap minggu, sampai suatu saat anak itu membalas berbisik, “I love you, and I love Jesus too.” Beberapa hari kemudian, anak ini ditemukan meninggal dunia karena dianiaya oleh ibunya yang menderita sakit jiwa.</p>
<p>Jangan pernah berpikir seberapa besar peranan kita, tetapi berpikirlah, bagaimana kita bisa berguna untuk orang lain, sekecil apa pun, yang pada akhirnya untuk kemuliaan Allah. “Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar” (Lukas 16:10).</p>
<p>Selamat melayani!</p>
<p>*)	Diambil dari buku: MENATA DIRI, MENGGAPAI ESOK, Eddy Nugroho, Penerbit: Gloria Graffa, Januari 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pemain-cadangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksistensi Remaja yang  Sesuai Iman Kristen</title>
		<link>http://gkipi.org/eksistensi-remaja-yang-sesuai-iman-kristen/</link>
		<comments>http://gkipi.org/eksistensi-remaja-yang-sesuai-iman-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 10:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4123</guid>
		<description><![CDATA[EKSISTENSI YANG TIDAK DISERTAI PERCAYA DIRI Malam minggu pada suatu lokasi food court perbelanjaan di ibukota, tampak sekumpulan anak remaja belasan tahun menikmati kebersamaan dengan anak-anak remaja lainnya. Obrolan-obrolan ringan disertai canda tawa dan ejekan terdengar dalam percakapan khas remaja tersebut. Sebagian besar dari mereka perempuan, di mana semua tampak memakai behel*), memiliki gaya rambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EKSISTENSI YANG TIDAK DISERTAI PERCAYA DIRI</strong></p>
<p>Malam minggu pada suatu lokasi food court perbelanjaan di ibukota, tampak sekumpulan anak remaja belasan tahun menikmati kebersamaan dengan anak-anak remaja lainnya. Obrolan-obrolan ringan disertai canda tawa dan ejekan terdengar dalam percakapan khas remaja tersebut. Sebagian besar dari mereka perempuan, di mana semua tampak memakai behel*), memiliki gaya rambut belah tengah, dan memegang Blackberry dalam genggaman tangannya masing-masing.</p>
<p>Salah seorang teman sekolah mereka yang ada di meja tersebut memiliki penampilan yang berbeda. Alat komunikasinya bukan Smartphone bermerk Blackberry walaupun harga pembeliannya masih dapat dibilang mahal. Dia tidak memakai  dan model rambutnya bukan belah tengah. Saat itu, ia merasa minder dengan penampilannya. Saat pulang ke rumah, ia merengek kepada orangtuanya minta dibelikan blackberry. Tidak cukup sampai di situ, ia merasa ada yang salah dengan keindahan susunan gigi-gigi dalam rahang mulutnya (sebelumnya tidak ada keluhan). Akhirnya, sang ibu merogoh kocek kembali untuk memasangkan anak perempuannya , tentu dengan warna yang menarik. Tidak lupa, anak tersebut mengubah gaya rambutnya menjadi belah tengah. Sang remaja perempuan ini kembali merasa terlahir kembali sebagai remaja ‘eksis’, dan dengan penuh percaya diri ia kembali berkumpul dengan teman-temannya.</p>
<p>Ilustrasi tersebut menjelaskan, betapa eksistensi di dalam dunia remaja sangat ditonjolkan melalui penampilan dan lifestyle yang berlebihan. Tidak hanya 3 elemen di atas (Blackberry, Belah Tengah, Behel) yang wajib dimiliki dan mampu mengecewakan sekelompok remaja apabila mereka tidak memilikinya. Elemen-elemen lain seperti memiliki Bo’il (mobil), berbicara kotor, dan menghisap Blackmenthol atau jenis lain (rokok) menjadi suatu standar tertentu dalam upaya sekelompok remaja laki-laki dan perempuan menancapkan tiang eksistensi di tengah komunitasnya. Remaja cenderung labil (mudah terombang-ambing), ikut-ikutan gaya teman, rentan dipengaruhi orang, dan tidak bangga untuk menjadi dirinya sendiri.</p>
<p>EKSISTENSI, DEFINISI DAN BENTUKNYA</p>
<p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Eksistensi dapat diartikan sebagai keberadaan. Manusia sangat perlu untuk menunjukkan eksistensi dirinya sendiri di dalam masyarakat mengingat adanya ketergantungan manusia terhadap makhluk hidup yang lain. Eksistensi diperlukan untuk bertahan hidup, dan upaya untuk mewujudkannya berubah dari zaman ke zaman. Rentang umur seseorang pun mempengaruhi jenis upayanya mempertahankan eksistensi di tengah komunitasnya. Remaja dalam hal ini kita, mencoba menunjukkan eksistensi di tengah komunitasnya melalui berbagai cara, baik yang positif maupun negatif. Sebagian dari kita berupaya untuk tampil ‘eksis’ melalui cara bersikap dan berbicara, cara berpakaian, gaya hidup, dan tentu saja materi yang dimiliki.</p>
<p><strong>KARENA PERCAYA KRISTUS JADI PERCAYA DIRI</strong></p>
<p>Menarik untuk diketahui bahwa Tuhan Yesus sendiri meminta kita untuk ‘eksis’ di tengah masyarakat. Namun demikian, wujud dalam upaya menunjukkan eksistensi yang dinyatakan oleh Yesus kepada kita berbeda dengan apa yang sering kita lakukan dan lihat selama ini. Ketika Kristus berkhotbah di bukit yang tercatat di dalam Matius 5:13-16, Ia meminta kita untuk menjadi terang dunia, di mana kita selayaknya memposisikan diri di tempat yang strategis agar kita dapat ‘eksis’ menerangi dunia secara penuh, tidak setengah-setengah. Matius 5:16 secara jelas mencatat tujuan dari eksistensi kita di tengah-tengah dunia, khususnya di tengah komunitas kita: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang ada di surga.” Kita dapat melihat bahwa misi dari eksistensi kita di tengah dunia bahkan lebih besar dari ketakutan tidak memiliki teman, atau keinginan dianggap gaul oleh komunitas kita. Lebih dari itu, tujuan ‘eksis’ untuk memuliakan nama Tuhan harus di atas segala-galanya.</p>
<p>Rasul Paulus juga mengingatkan kita melalui suratnya kepada jemaat Kristus di kota Roma. Roma 12:2 mengatakan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Peringatan ini dapat menjadi penguat kita untuk mempertahankan nilai-nilai yang diajarkan oleh Kristus untuk ‘eksis’ secara positif dalam komunitas kita.</p>
<p><strong>KETIKA PERCAYA DIRI EKSISTENSI TIDAK LAGI MASALAH</strong></p>
<p>Dua ayat referensi ini hendaknya menjadi pegangan kita untuk terus ‘eksis’ dalam pergaulan kita. Hendaknya tujuan dari eksistensi kita di tengah-tengah dunia yang telah diterangkan sebelumnya dapat mengubah perspektif kita mengenai bagaimana seharusnya kita mewujudkan sikap di tengah komunitas kita.</p>
<p>Marilah kita memulai kembali kehidupan sosial kita dengan menunjukkan eksistensi secara positif dengan meyakini bahwa Tuhan selalu ada di tengah-tengah pergaulan kita. Masing-masing dari kita amatlah berharga di mata Tuhan. Sudah selayaknya kita menjadi remaja Kristen yang berintegritas dan mampu mengatasi kelabilan kita di dalam Kristus. Nyatakan Yesus dalammu.</p>
<p>Mengutip tweet dari account twitter penyanyi dan penulis lagu gospel Kirk Franklin: “You are different. The more you try to fit in, the more frustrating today will be. You’re GREAT at being you, but BAD at being them. Go.”</p>
<p>24 Mei 2010</p>
<p>Archimedes Kristamuljana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/eksistensi-remaja-yang-sesuai-iman-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Tanda Salib</title>
		<link>http://gkipi.org/membuat-tanda-salib/</link>
		<comments>http://gkipi.org/membuat-tanda-salib/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 16:23:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4080</guid>
		<description><![CDATA[Membuat tanda salib mungkin terasa asing bagi umat Kristen khususnya Protestan, tetapi tidaklah demikian dengan umat Kristen Katolik. Sikap ini dilakukan oleh umat Katolik bukan hanya pada saat-saat yang berhubungan dengan liturgi ataupun upacara-upacara gerejawi saja, melainkan mereka juga membuat tanda salib untuk barang-barang atau pada saat ingin memulai suatu pekerjaan. Mengapa tradisi ini tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membuat tanda salib mungkin terasa asing bagi umat Kristen khususnya Protestan, tetapi tidaklah demikian dengan umat Kristen Katolik. Sikap ini dilakukan oleh umat Katolik bukan hanya pada saat-saat yang berhubungan dengan liturgi ataupun upacara-upacara gerejawi saja, melainkan mereka juga membuat tanda salib untuk barang-barang atau pada saat ingin memulai suatu pekerjaan.</p>
<p>Mengapa tradisi ini tidak dipakai lagi oleh umat Protestan? Oleh karena itu, makalah ini akan membahas mengenai tradisi/kebiasaan membuat tanda salib tersebut. Salib (dua garis/tiang yang bersilangan) sendiri secara umum cukup banyak dipakai sebagai tanda/simbol di luar agama Kristen. Akan tetapi, saya hanya akan membahas mengenai simbolik tanda salib yang dipakai oleh orang Roma Katolik saja.</p>
<p><strong>Tanda Salib Rakyat Roma Katolik</strong></p>
<p>Rakyat Roma Katolik, khususnya di Eropa Selatan, Amerika Selatan, Filipina, Flores, dan Timor, amat banyak memakai tanda salib. Seperti layaknya dengan adat kebiasaan kerakyatan, tidak seorangpun tahu siapa yang memulai praktik tersebut dan kapan.</p>
<p>Dalam Alkitab Perjanjian Baru saja tidak ditemukan bekas adat/kebiasaan seperti itu. Memang, dalam Perjanjian Lama dan dunia kafir, pengenaan suatu tanda pada diri seseorang (misal budak) atau binatang, yakni untuk menandai bahwa dia itu milik seseorang, sudah biasa dan sudah ada. Akan tetapi, tanda yang dimaksudkan tersebut bukan berupa tanda salib. Namun, seiring perkembangan dan pengalaman iman Kristiani akan salib Kristus, muncullah tradisi Kristiani untuk membuat tanda salib.</p>
<p>Tanda salib pada rakyat Roma Katolik berperan seperti ucapan &#8220;Bismillah&#8221; pada rakyat Islam[1] . Sejak awal kekristenan, tanda salib ini sudah biasa diberikan kepada para katekumen, bahwa mereka itu kini milik Kristus.</p>
<p>Menurut tradisi liturgi, tanda salib pertama-tama mengungkapkan iman dasar Kristiani akan salib Kristus yang membawa pembebasan dan keselamatan. Kemudian, tradisi ini berkembang menjadi tanda salib yang disertai pengucapan “Dalam/atas/demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus” baru sekitar abad pertengahan, kira-kira abad V.</p>
<p><strong>Arti ‘Tanda Salib’</strong></p>
<p>Di antara orang Katolik, tanda salib itu menjadi cap yang boleh saja diterapkan pada segala sesuatu. Dengan menerapkan cap itu pada sesuatu yang ‘profan’, duniawi, dan manusiawi, orang Katolik sebenarnya mengungkapkan keyakinannya bahwa yang sangat manusiawi itupun diliputi oleh karya penyelamatan dan turut diselamatkan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar hanya profan dan manusiawi saja.</p>
<p>Tanda salib itu menunjuk kuasa salib Kristus yang menyelamatkan dan tanda perlindungan Kristus terhadap kuasa jahat dan setan[2] . Tanda salib yang disertai dengan seruan Trinitas tersebut memiliki makna bahwa orang beriman mengenang baptisannya, di mana dia menjadi milik Kristus, dan pengakuan iman yang dinyatakan pada saat baptis itu menjadi lengkap meskipun pendek. Apalagi ditutup dengan kata amin, iman mereka semakin diperteguh bahwa melalui salib Yesus, Sang Putra Allah, karya penyelamatan dan penebusan dosa dapat tergenapi dan dengan penyertaan Roh Kudus, kita sebagai manusia diantar untuk menghadap Allah Bapa.</p>
<p>Tanda salib digunakan di berbagai upacara dalam liturgi. Ada tanda salib kecil yang dibuat dengan jempol, misalnya pada dahi, bibir, dada, kaki, dan sebagainya. Ada juga tanda salib besar yang biasa dibuat/diberikan pada sejumlah barang. Akan tetapi, secara garis besar, tanda salib adalah sebuah gerakan tangan (biasanya: satu tangan terbuka) sambil menyerukan kutipan Trinitas tadi, dan dilakukan untuk:[3]</p>
<ol>
<li>Masuk ke dalam Gereja (khususnya Katolik)</li>
<li>Untuk mengawali dan mengakhiri Ekaristi</li>
<li>Membuka dan menutup doa pribadi</li>
<li>Konsekrasi</li>
<li>Saat menerima berkat: pengampunan, pengampunan, persembahan, dan perutusan.</li>
</ol>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Sampai sekarang, tradisi tanda salib masih tetap dipakai oleh umat Katolik. Akan tetapi, apabila saya perhatikan, makna tanda salib itu sendiri (seperti yang sudah diuraikan sebelumnya) sepertinya sudah mengalami pengurangan/kemunduran arti. Atau malah, (jangan-jangan) mereka yang membuat tanda salib itu sendiri tidak tahu kenapa mereka membuat tanda salib tersebut. Lihat saja pemain sepak bola, khususnya di Amerika dan Eropa, yang baru masuk lapangan biasanya membuat salib lalu menyentuh tanah baru masuk lapangan, begitu juga petinju, atau pembalap mobil. Tampaknya tanda salib hanya sebagai usaha ‘penyucian/pengkristenan’ segala sesuatu, baik barang ataupun pekerjaan. Benda/pekerjaan yang haram pun dapat menjadi halal hanya dengan membuat tanda salib di atasnya.</p>
<p>Contoh-contoh tadi memperlihatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, tanda salib lebih mengarah kepada formalisme, atau bahkan lebih mengarah kepada takhayul/magi. Dengan membuat tanda salib, saya akan menang, atau dengan membuat tanda salib, musuh saya akan celaka, atau dengan tanda salib, ‘penyewa saya’ akan banyak, dan sebagainya. Tanda salib itu sendiri akhirnya kehilangan makna religiusnya. Tidak mengherankan bila sering kali kita melihat tanda salib itu dibuat sembarangan atau asal-asalan. Saya sendiri pernah menemui kenyataan dari rekan sendiri yang mengatakan (dari sudut pandang rekan tersebut) bahwa jika sudah sangat kelaparan, orang Katolik cukup membuat tanda salib saja tanpa disertai doa sebelum makan.</p>
<p>Jadi, bukan berarti saya menolak tradisi membuta tentang salib, tetapi sangat disayangkan apabila kita (khususnya umat Katolik) membuat tanda salib, tetapi tidak tahu makna sebenarnya. Apalagi jika tanda salib itu hanya digunakan untuk hal yang berbau magi atau semacam mantra untuk mencapai tujuan tertentu, maka sangat dangkal pemahaman kita mengenai salib itu sendiri. Mungkin juga karena terlalu berbau magi dan takhyul, maka kekristenan pada masa Reformasi Gereja, khususnya umat Protestan, menolak kebiasan membuat tanda salib tersebut hingga saat ini. Atau juga penolakan ini hanya disebabkan oleh faktor malas belaka.</p>
<p>Tentu saja tidak ada kewajiban untuk mengikuti adat kebiasaan itu. Namun tradisi ini memiliki arti yang sangat dalam, meskipun kerap kali kurang disadari bahkan disampingkan maknanya. Akan tetapi, melihat makna sesungguhnya yang sangat mendalam, kekristenan Protestan pun sepertinya membutuhkan hal-hal/kebiasaan semacam itu dalam liturginya yang sudah semakin miskin akan simbol. Lagi pula, tidak sulit bagi kita untuk membuat tanda di dahi, dada, bahu kiri, lalu bahu kanan, sambil mengucapkan Trinitas dan ditutup dengan amin. Jika kita melakukannya, juga tidak akan menguras banyak tenaga dan waktu kita.</p>
<p>Oleh karena itu, jika kita mau melakukannya dengan benar dan dimaknai secara tepat, membuat tanda salib bukan hanya akan memperkaya liturgi dalam gereja kita saja, tetapi juga akan mengingatkan diri kita untuk lebih menyadari bahwa kita telah diselamatkan lewat penderitaan Yesus di salib dan juga untuk membawa kita kepada kesatuan dengan Kristus yang sesungguhnya.</p>
<p>Yosafat Simatupang</p>
<address> </address>
<address>Daftar Pustaka</address>
<address>1. Groenen, C. dan Stefan Leks. 1993. Percakapan Tentang Agama Katolik.  Yogyakarta: Kanisius.</address>
<address>2. Martasudjita, E. 1998. Memahami Simbol-simbol dalam Liturgi: Dasar Teologi Liturgis, Makan Simbol, Pakaian, Warna, Ruang, Tahun, dan Musik Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.</address>
<address>3. Windhu, I. Marsana. 1997. Mengenal 25 Sikap Liturgi. Yogyakarta : Kanisius.</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/membuat-tanda-salib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Profesi dan Pelayanan</title>
		<link>http://gkipi.org/antara-profesi-dan-pelayanan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/antara-profesi-dan-pelayanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 04:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3970</guid>
		<description><![CDATA[Kata “hamba” atau “doullos” (dalam arti pelayan atau budak) di dalam Alkitab disebut sebanyak 182 kali. Hal itu menandakan bahwa sebagai orang-orang percaya atau orang-orang yang sudah diselamatkan, melayani itu sangat penting dan menjadi kewajiban kita semua, apapun profesi kita (1 Kor. 9:16). 1. Hamba/Pelayan yang Profesional Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata “hamba” atau “doullos” (dalam arti pelayan atau budak) di dalam Alkitab disebut sebanyak 182 kali. Hal itu menandakan bahwa sebagai orang-orang percaya atau orang-orang yang sudah diselamatkan, melayani itu sangat penting dan menjadi kewajiban kita semua, apapun profesi kita (1 Kor. 9:16).</p>
<p><strong>1.	Hamba/Pelayan yang Profesional</strong></p>
<p>Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pengertian pelayan atau melayani itu sangat kuat artinya. Khususnya dalam Perjanjian Baru yang sangat kental dengan budaya Helenis atau Yunani, pengertian pelayan mengandung unsur penghinaan atau dapat juga berarti “merendahkan diri”!</p>
<p>Karena itu, ungkapan pelayan dalam bahasa Yunani juga bisa berarti ketergantungan atau kepercayaan (merasa tidak dapat hidup tanpa tuan yang dilayani), atau dengan kata lain berarti bahwa tanpa Tuhan, kita tak mampu berbuat apa-apa. Tetapi sebaliknya, bersama dengan Tuhan, kita pasti bisa melakukan apa pun juga, karena Tuhan yang kita layani itu adalah Tuhan yang punya kuasa, dan mendelegasikan pekerjaan-Nya untuk kita laksanakan! (mendelegasikan = memberi mandat/kuasa/otoritas)</p>
<p>Saudara, ketika Kristus memanggil seseorang untuk menjadi pelayan-Nya, maka Ia pasti memperlengkapinya dengan karunia dan kuasa yang berasal dari-Nya (bandingkan Kis. 1:8 dengan Mat. 28:18-20).</p>
<p>Mengingat arti pelayanan yang sesungguhnya adalah membawa kabar baik (Injil) secara terus-menerus melalui hidup seorang pelayan, maka kehidupan seorang pelayan menjadi sangat penting. Hal ini bukan hanya menyangkut perkataan atau aktivitasnya saja, tetapi kehidupan (persekutuan) pribadinya dengan Tuhan, karena melalui persekutuan tersebut ia merasakan pengalaman pribadi dengan Tuhan sehingga perjalanan imannya bukan teori tanpa isi.</p>
<p>Saudara, saya mau mengatakan bahwa iman bukanlah sekadar teori, tetapi pengalaman. Teori dapat dibantah oleh teori lainnya, tetapi pengalaman tak dapat dibantah oleh siapa pun dan sampai kapan pun.</p>
<p>Kalau begitu, apakah teori itu tidak penting? Tentu saja teori sangat penting, karena bagaimanapun juga kita memerlukan metode yang harus kita pelajari, seperti adat-istiadat, tradisi, bahkan latar-belakang budaya seseorang. Tanpa teori, kita akan kurang berhikmat, menabrak sana–menabrak sini. Namun kalau kita tidak berhati-hati, teori justru bisa menghambat pelayanan, karena dengan hanya berpusat pada teori kita akan melahirkan peraturan-peraturan yang kaku, yang justru membatasi jemaat untuk bersaksi dan melayani! Kita juga harus menyadari bahwa bersaksi dan melayani adalah tugas kita bersama, bukan hanya tugas pendeta atau anggota majelis!</p>
<p>Karena itu untuk melayani Tuhan, kita tak harus mempunyai gelar STh, MTh, dan sebagainya, tetapi kita perlu menjadi hamba-Nya, dalam arti menjadi orang-orang yang taat menjalankan perintah-Nya melalui profesi atau keahlian kita masing-masing. Yang penting dan harus menjadi dasar pelayanan kita ialah bahwa apa pun juga yang kita kerjakan, harus berangkat dari paradigma untuk memuliakan Tuhan (Kol. 3:23).</p>
<p><strong>2.	Profesi Sebagai Pelayanan</strong></p>
<p>Apa buktinya kalau manusia menghormati Allah? Buktinya ialah bahwa manusia bekerja! Bekerja yang dimaksud di sini tentulah bekerja sebagai orang percaya, yaitu bekerja dalam arti profesi dan dalam arti melayani.</p>
<p>Kedua hal tersebut harus sinergi dan tak dapat dipisahkan! Pelayanan dan profesi harus menjadi bagian dari setiap orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus! Meminjam istilah alm. Pdt. Eka Dharmaputra, “Kalau Saudara seorang profesional, kerjakanlah profesi Saudara sebagai pelayanan, dan jika Saudara sebagai pelayan, kerjakanlah pelayanan Saudara secara profesional.” Artinya bahwa sebagai orang percaya, di dalam kita berprofesi, kita harus menyaksikan siapa kita dan siapa Tuhan! Dan sebagai orang percaya yang sudah diselamatkan, kita juga harus melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sebagai kegiatan kerohanian semata!</p>
<p>Di dalam Alkitab dicatat bahwa hampir tak ada nabi atau utusan Tuhan yang dipakai Tuhan tanpa bekerja. Abraham, Yakub, Musa, Daud, Nehemia, Amois, dsb. juga bekerja atau berprofesi sekuler. Jadi Saudara, tak ada orang Kristen dalam sejarah yang hanya duduk-duduk di gereja, bahkan menjadi aktivis gereja, atau melayani di gereja, yang menjadi makmur tanpa bekerja.</p>
<p>Paulus memberi teladan yang sangat konkret tentang masalah bekerja ini. Paulus punya hak untuk dicukupi hidupnya oleh jemaat yang dilayaninya karena ia hamba Tuhan yang penuh waktu. Tetapi Paulus tak mau tergantung dari pemberian jemaat, bahkan ia menolak apa yang diberikan oleh jemaat untuk membiayai hidupnya dan tetap bekerja (2 Tes. 3:7-10). Mengapa Paulus melakukan semua ini? Karena selain Paulus mampu, ia juga memberi teladan dan teguran bagi orang-orang yang malas (ayat 10).</p>
<p>Salomo menulis di dalam Pengkhotbah 9:10, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga.” Ada pesan di sini, bahwa bekerja itu penting dan merupakan keharusan bagi semua orang.</p>
<p>Dalam Kejadian 1:26-29, kita diingatkan bahwa ketika Allah merancang penciptaan manusia, tujuan-Nya yang terutama ialah agar manusia bekerja (ayat 26). Rencana Allah bagi manusia tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Manusia diciptakan seturut dengan gambar-Nya,</li>
<li>Supaya ia berkuasa atas semua ciptaan-Nya, yaitu dengan bekerja dan berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas seluruh bumi, ternak dan segala binatang melata yang merayap di bumi.</li>
</ol>
<p>Dalam ayat 28, rencana itu dilaksanakan melalui perintah-Nya setelah manusia diciptakan, “Penuhi bumi dan taklukkan, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Jadi saya tegaskan di sini bahwa alasan pertama Allah untuk menciptakan manusia ialah agar manusia bekerja, apapun profesinya!</p>
<p>Sebagai orang-orang percaya kita harus tahu bahwa pekerjaan atau profesi itu merupakan talenta dari Allah yang harus dikembangkan, bukan untuk disimpan atau dibuang, karena pada saat talenta itu dipergunakan, talenta tersebut akan bertambah, tetapi kalau didiamkan, maka talenta itu pun akan hilang/diambil (Mat. 25:14-30).</p>
<p>Jadi Saudara-Saudara, bekerja keras itu adalah ibadah, karena itu orang yang beriman harus bekerja sebagai bentuk ibadahnya kepada Allah. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus pun bekerja sampai hari ini (Yoh. 5:17).</p>
<p>Saya kurang setuju kalau ada orang percaya yang meninggalkan profesinya karena alasan melayani Tuhan. Saya tegaskan di sini bahwa seseorang bisa menjadi dokter karena anugerah Tuhan, supaya dengan profesinya sebagai dokter, ia bisa bekerja sebagai bentuk pelayanannya. Karena itu, seorang dokter yang tak mau menjalankan profesinya dan hanya mengolesi pasiennya dengan minyak bila datang berobat kepadanya, atau sebaliknya, kalau ada orang yang sakit tetapi tidak mau berobat ke dokter dan lebih memilih untuk pergi ke pendeta, itu konyol! Jadi janganlah kita mengatakan, “Sekarang saya sudah tinggalkan profesi atau keahlian saya dan secara penuh waktu melayani Tuhan,” atau “Saya hanya percaya sepenuhnya pada doa saja bahwa saya akan sembuh.”</p>
<p>Saudara, siapapun kita, apapun profesi kita, kita harus sepenuhnya melayani Tuhan dengan profesi kita dan sepenuhnya percaya pada kuasa Tuhan. Kalau saya seorang tukang kayu, saya akan mengerjakan profesi saya 100% sebagai tukang kayu, tetapi juga melayani Tuhan 100% sebagai hamba Tuhan!</p>
<p>Jadi kalau ada pertanyaan, “Saya sedang produktif, karier saya sedang menanjak, kapan saya harus melayani Tuhan?” maka jawabannya ialah, “Sekarang!” Justru pada saat kita berada di puncak karier, kita harus melayani, jangan tunggu sampai pensiun!</p>
<p>Apa bisa? Tentu! Karena Tuhan akan memperlengkapi Saudara (Pet. 5:10).</p>
<p>Yosi Parjiyanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/antara-profesi-dan-pelayanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulihkan Cara Pandang  Masyarakat Terhadap  Politik</title>
		<link>http://gkipi.org/memulihkan-cara-pandang-masyarakat-terhadap-politik/</link>
		<comments>http://gkipi.org/memulihkan-cara-pandang-masyarakat-terhadap-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 03:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3955</guid>
		<description><![CDATA[Mitos Politik Sebagai Ranah Kehidupan yang Kotor dan Amoral Pada umumnya, masyarakat dunia masa kini cenderung memandang politik sebagai ranah kehidupan yang kotor dan tidak ada nilai-nilai moralitasnya. Semua yang dilakukan di dalam politik dipahami seolah-olah hanya demi kepentingan pragmatis sesaat, baik itu kepentingan pribadi maupun sekelompok orang. Penilaian kontemporer ini tidak lepas dari fakta-fakta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mitos Politik Sebagai Ranah Kehidupan yang Kotor dan Amoral</strong></p>
<p>Pada umumnya, masyarakat dunia masa kini cenderung memandang politik sebagai ranah kehidupan yang kotor dan tidak ada nilai-nilai moralitasnya. Semua yang dilakukan di dalam politik dipahami seolah-olah hanya demi kepentingan pragmatis sesaat, baik itu kepentingan pribadi maupun sekelompok orang.</p>
<p>Penilaian kontemporer ini tidak lepas dari fakta-fakta empiris yang disaksikan sendiri oleh mayoritas masyarakat dunia, baik langsung maupun melalui berbagai media cetak dan elektronik. Kenyataan tersebut kemudian dijadikan alasan yang membenarkan politik sebagai ranah kehidupan yang semata-mata hanya mengutamakan kepentingan kekuasaan struktural.</p>
<p>Maka tidak mengherankan ketika seorang ahli komunikasi politik Harold Laswell mengatakan bahwa politik semata-mata hanya berbicara tentang “siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana? (who gets what, when and how?)”. Kalimat ini kemudian cenderung dimaknai dalam bentuk yang negatif karena hanya dikaitkan dengan kepentingan perebutan kekuasaan demi kedudukan itu sendiri.</p>
<p>Kerap kali, kita yang hidup di zaman sekarang menganggap bahwa pemikiran-pemikiran sekuler tentang politik seperti yang dihasilkan oleh cara pandang Machiavelli sebagai suatu kebenaran mutlak karena sesuai dengan realita yang dihadapi langsung. Akibatnya, kita cenderung langsung ‘memvonis’ kegiatan berpolitik sebagai cara atau kiat-kiat di dalam mengalahkan lawan demi memenangkan kepentingan individu atau kelompok, di mana kiat-kiat itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak sehat, amoral, kotor dan penuh tipu-muslihat.</p>
<p>Alhasil, kegiatan dalam ranah politik di era modern yang terbawa oleh arus pemikiran sekuler ini semakin dipenuhi dengan manusia-manusia yang justru malah menggiring politik semakin jauh dari hakikatnya yang luhur dan mulia. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi. Andaipun sudah terjadi, maka harus ada upaya untuk memperbaikinya karena politik pada hakikatnya adalah ciptaan Tuhan yang luhur dan mulia, jauh dari pemahaman yang dianut oleh mayoritas masyarakat dunia sejak dua abad terakhir ini.</p>
<p>Oleh sebab itu, sebelum seseorang mengambil keputusan untuk terjun berjuang ke dalam politik praktis, sebaiknya ia dibekali dahulu dengan suatu cara pandang (worldview) yang meyakinkannya bahwa aspek kehidupan politik pada hakikatnya bersifat luhur dan mulia.</p>
<p>Upaya pemulihan cara pandang ini sangat penting agar ketika seorang aktivis politik kelak dihadapkan pada suatu dinamika politik yang sulit dipahaminya atau bahkan membuatnya kecewa, ia tidak akan mudah terjebak ke dalam pembenaran cara pandang politik yang bersifat sekuler. Kondisi ini pula yang kerap dihadapi oleh para “pemain baru” di partai politik dan lembaga pemerintahan kita, dan tidak sedikit dari mereka yang terjatuh ke dalam pola ini.</p>
<p>Mayoritas “pemain lama” dalam dunia politik praktis di Indonesia justru adalah orang-orang yang menganut keyakinan pada kebenaran bahwa kehidupan politik pada hakikatnya hanyalah kiat-kiat atau permainan di dalam memperebutkan dan melanggengkan kekuasaan demi memperjuangkan kepentingan pribadi maupun kelompok (walaupun ujung-ujungnya hanya menyangkut kompensasi material di antara kelompok yang bersaing, bukan untuk menyejahterakan rakyat).</p>
<p>Para “pemain lama” inilah yang tiada henti-hentinya menularkan virus cara pandang sekuler tentang politik ke dalam alam pikiran tiap-tiap “pemain baru” seakan-akan menjadi suatu tradisi budaya yang mesti diwariskan di dalam kehidupan politik Indonesia.</p>
<p><strong>Terjadinya Pergeseran terhadap Makna dan Orientasi Politik</strong></p>
<p>Meskipun politik memiliki dimensi kekuasaan yang diperebutkan oleh manusia-manusia yang terlibat di dalamnya, namun dimensi ini bukanlah satu-satunya dan tidak menjadi sasaran akhir di dalam berpolitik. Pemahaman tentang hakikat politik sebagai suatu ciptaan maupun ranah kehidupan yang luhur dan mulia ini dapat kita raih kembali dengan memaknai arti kata politik secara tepat dan benar sebelum digeser makna dan orientasinya oleh teori-teori politik modern sejak Abad Pencerahan di abad ke-18.</p>
<p>Istilah ‘politik’ berasal dari bahasa Yunani polis, yang berarti kota atau suatu komunitas. Istilah lain dalam bahasa Yunani ialah politea, yang berarti warga negara, negara, kesejahteraan atau way of life. [1]  Jadi, politik pada mulanya berarti suatu masyarakat yang berdiam di suatu kota. “Meskipun definisi politik di kemudian waktu terus mengalami perkembangan menurut kajian dan perspektif para pemikir sepanjang zaman, namun teori-teori politik modern pada umumnya mengasumsikan politik sebagai kekuasaan negara, yang diwakili oleh partai-partai politik untuk mewakili aspirasi masyarakat, khususnya dalam konteks negara demokrasi.</p>
<p>Dengan demikian, dalam negara demokrasi, politik didefinisikan sebagai kekuasaan menduduki parlemen atau pemerintahan. “Singkat kata, politik dalam teori-teori yang dihasilkan oleh para filsuf politik modern identik dengan kekuasaan atau kedudukan,” ujar Gunche Lugo dalam bukunya Manifesto Politik Yesus [2] . Tidak mengherankan jika kepemimpinan politik masa kini cenderung berorientasi pada pengejaran kekuasaan.</p>
<p>Namun Oscar Cullman, seorang filsuf dan teolog, memiliki pandangan lain tentang arti politik. Di dalam memaknai kata politik, Cullman sebagaimana dikutip dan dijelaskan oleh Gunche Lugo membedakan antara politeia dan politeuma.</p>
<p>Politeia berarti politik dalam arti merebut kekuasaan atau kedudukan dalam pemerintahan. Sedangkan politeuma adalah politik yang menekankan tegaknya nilai-nilai spiritual-keagamaan di dunia ini, seperti: keadilan, kebenaran, kesejahteraan, dan mewujudkan peradaban baru yang mengangkat harkat dan derajat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. [3]</p>
<p>Menurut penulis, sebagian besar elit politik kita akhir-akhir ini cenderung memaknai politik hanya dalam pengertian politeia saja, yang selama ini ditunjukkan melalui sikap maupun tindak-perilakunya. Sementara politik dalam pengertian politeuma cenderung diabaikan atau bahkan dianggap tidak relevan. Namun jika kita ingin membangun budaya politik yang sehat sesuai mandat budaya Kristiani, maka mengembalikan dan mensosialisasikan politik dalam pengertian politeuma sebagai tujuan akhir (bukan politeia) ke dalam alam pikiran para pemimpin dan aktivis politik Indonesia merupakan langkah utama menuju pemulihan cara pandang masyarakat di dalam memahami politik sebagai ranah kehidupan yang luhur dan mulia.</p>
<p><strong>Mengembalikan Makna Politik sesuai Hakikatnya yang Luhur dan Mulia</strong></p>
<p>Agar kita bisa menemukan di mana letak keluhuran dan kemuliaan ranah kehidupan politik, maka kita perlu terlebih dahulu mengenali tabiat kita sebagai manusia seperti yang telah ditetapkan oleh Tuhan saat mencipta diri kita, yang membedakannya dengan makhluk-makhluk ciptaan lainnya.</p>
<p>Aristoteles (384 SM-322 SM), seorang filsuf besar di masa Yunani Kuno dan Bapa Ilmu Politik, berpendapat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial (politikon zoon). Hakikat manusia sebagai makhluk sosial membuat mereka hidup dalam kelompok-kelompok, baik kelompok komunal maupun kelompok materil. Kehidupan berkelompok ini menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam kebergantungan dengan sesamanya. Kehidupan berbudaya dapat berkembang karena dipicu oleh adanya relasi saling membutuhkan antar sesama manusia. Di dalam hubungan saling kebergantungan tersebut, manusia menemukan eksistensinya di dalam menjalankan mandat budaya.</p>
<p>Namun adanya kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda, baik secara individu maupun kelompok menyebabkan terjadinya benturan kepentingan antar sesama manusia. Untuk menghindari hal ini, maka kelompok masyarakat membuat norma sebagai pedoman perilaku dalam menjaga keseimbangan kepentingan dalam bermasyarakat. Norma tersebut memiliki fungsi sebagai pedoman dan pengatur dasar kehidupan seseorang dalam bermasyarakat untuk mewujudkan kehidupan antara manusia yang aman, tertib, dan harmonis.</p>
<p>Nilai-nilai yang terkandung dalam norma tersebut ditafsirkan dan ditetapkan menjadi peraturan-peraturan yang dijalankan oleh lembaga politik. Artinya, pemerintah sebagai lembaga politik memiliki otoritas dan kewajiban untuk menjamin kehidupan bermasyarakat yang terdiri atas berbagai macam individu yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda agar dapat terlaksana secara tertib dan harmonis sesuai norma-norma yang telah disepakati. Letak keindahan dan kemuliaan dalam seni berpolitik terletak pada tujuannya, yakni bagaimana menciptakan keharmonisan di dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tengah kebutuhan dan keinginan dari tiap anggota masyarakat yang beraneka-ragam sebagai manusia sehingga masing-masing warga negara boleh merasakan kebahagiaan.</p>
<p>Aristoteles dalam bukunya Etika Nikomacheia, sebagaimana dikutip dan dijelaskan oleh Thomas Kotten dalam salah satu artikelnya, berpandangan bahwa “Keindahan politik termaktub dalam tujuan utama politik, yaitu menyelenggarakan kehidupan bernegara yang adil dan makmur. Di dalamnya, politik berperan sebagai pencipta ruang bagi warga negara untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu bagi sang filsuf, ilmu politik merupakan ilmu yang paling tinggi kedudukannya dibanding ilmu-ilmu lainnya.</p>
<p>Sebagaimana filsafat, ilmu politik menjadi soko guru dan cermin bagi ilmu-ilmu lainnya. Semua cabang ilmu lainnya bersifat mengabdi dan melayani kepentingan ilmu politik dan berbagai aktivitas politik sebagai wujud manusia sebagai makhluk sosial (zoon politikon). Artinya, bidikan akhir politik adalah meningkatkan kualitas hidup manusia secara individu dan masyarakat. Bidikan akhir politik ini sesuai dengan tujuan hidup manusia yang diyakini oleh Aristoteles, yakni kebahagiaan.” [4]</p>
<p>Ketika kegiatan politik direduksi hanya sebagai ajang perebutan kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri, apakah itu dilandasi oleh motivasi memuaskan hasrat pribadi atau untuk mencari keuntungan materil seperti yang kerap dilakukan oleh para politisi Indonesia dewasa ini, maka dengan sendirinya kegiatan politik ini telah keluar dari hakikatnya karena menyangkal dimensi sosial-etis yang menjadi pijakan utama dalam kegiatan berpolitik.</p>
<p>Kasdin Sihotang dalam salah satu tulisan artikelnya di koran lokal, membenarkan wawasan ini. Ia menjelaskan bahwa: “Ketika Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai makhluk sosial (zoon politikon), ia sebenarnya ingin menegaskan bahwa setiap orang hanya bisa berkembang berkat kehadiran orang lain. Itu berarti, setiap orang bertanggung jawab terhadap eksistensi yang lain. Dalam bingkai pengertian ini, politik merupakan wadah yang paling nyata di mana seseorang dapat mengembangkan dirinya dan orang lain. Dengan pengertian seperti ini, episteme politik itu tidak saja bersifat personal, melainkan juga bersifat sosial-etis, karena di dalamnya setiap orang dituntut untuk menunjukkan tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap orang lain. Pengagungan mitos politik amoral justru mengingkari episteme politik seperti ini. Dan, ini tentu membahayakan.” [5]</p>
<p>Melalui penjelasan yang diuraikan oleh Thomas Kotten dan Kasdin Sihotang tentang hakikat politik seperti yang dipahami oleh Aristoteles, maka kita dapat melihat bahwa ternyata politik tidak saja berbicara tentang upaya memperebutkan atau melanggengkan kekuasaan semata. Justru yang menjadi landasan utama dalam hakikat manusia berpolitik adalah dimensi sosial-etis yang termaktub di dalamnya. Mengapa demikian? Karena hanya melalui aktivitas berpolitiklah, tercipta ruang bagi seseorang untuk dapat menyejahterakan dan mengembangkan kualitas kehidupan orang lain.</p>
<p>Dimensi sosial-etis dalam politik menuntut tanggung jawab dan kepedulian seseorang yang berkiprah di dalam politik praktis untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan menciptakan kebahagiaan bagi orang lain. Jika tuntutan ini tidak dipenuhinya, maka orang tersebut tidak menjalankan aktivitas berpolitik sesuai hakikatnya. Dimensi sosial-etis inilah yang seharusnya dijadikan norma, pijakan dan sasaran akhir dalam tiap kegiatan berpolitik.</p>
<p>Upaya mengangkat kembali dimensi sosial-etis sebagai norma dan pijakan dalam hakikat berpolitik adalah langkah awal menuju pemaknaan politik dalam pengertian politeuma kepada publik. Memaknai politik dalam arti politeuma berarti mengakui bahwa tanggung jawab di dalam meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan kebahagiaan bagi masyarakat hanya akan terpenuhi jika keadilan dan kebenaran ditegakkan dalam ranah kehidupan politik, yang juga merupakan syarat utama di dalam mewujudkan suatu peradaban yang menghargai harkat dan derajat manusia sebagai gambar dan rupa Allah.</p>
<p>Ketika politik direduksi sekadar kiat-kiat di dalam memperebutkan kedudukan dan kekuasaan tanpa menempatkan dimensi sosial-etis sebagai pijakan dan bidikan akhir, maka bukan saja martabat politik sebagai ciptaan Tuhan yang turut direndahkan; martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan pun ikut direndahkan.</p>
<p>Ketika fokus dari kegiatan berpolitik hanyalah demi kepentingan kekuasaan semata, maka struktur dan natur manusia sebagai makhluk sosial (politikon zoon) cenderung akan diabaikan, bahkan bila perlu dikorbankan. Dimensi sosial-etis dalam politik menatap ke luar (outward); ia menempatkan orang lain sebagai pihak yang dilayani. Sementara dimensi kekuasaan dalam politik menatap ke dalam (inward); ia menempatkan diri seseorang sebagai aktor yang diberi kuasa untuk mengelola dan melayani kehidupan para konstituennya, yakni para anggota masyarakat.</p>
<p>Namun sebagai manusia yang di dalam naturnya memiliki kecenderungan alami untuk mudah terjatuh ke dalam tindakan-tindakan koruptif akibat dosa, maka wujud pelaksanaan dimensi kekuasaan dalam politik menjadi sangat rapuh dan rawan disalahgunakan. Ketika dimensi kekuasaan dalam politik tidak dijalankan semestinya, yakni untuk melayani dan meningkatkan kualitas hidup anggota masyarakat, maka dimensi sosial-etis dalam politik akan runtuh dengan sendirinya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa dimensi sosial-etis, bukan dimensi kekuasaan, yang mesti dijadikan norma, pijakan dan tujuan akhir dalam berpolitik jika ingin dijalankan sesuai hakikatnya yang luhur dan mulia.</p>
<p>Selain Aristoteles, cara pandang (worldview) salah seorang tokoh utama gerakan Reformasi di Eropa pada abad ke-16 yakni John Calvin (1509–1564), juga dapat kita gunakan sebagai landasan untuk melawan cara pandang tentang politik seperti yang diyakini oleh mayoritas masyarakat dunia sekarang ini.</p>
<p>Dalam bukunya Instituto, Calvin menempatkan politik sebagai tempat yang paling terhormat di antara semua panggilan manusia. Ia berkata: “Maka, oleh siapa pun tak boleh diragukan bahwa kekuasaan politis itu adalah suatu panggilan, yang tidak hanya suci dan sah di hadapan Tuhan, tetapi juga yang paling kudus dan yang paling terhormat di antara semua panggilan dalam seluruh lingkungan hidup orang-orang fana.” [6]</p>
<p>Ketika ranah politik dipandang sebagai tempat pemenuhan hawa-nafsu seseorang (baik harta, seks, penghormatan sosial dan sebagainya) yang dapat diraih melalui akses kekuasaan politik yang diterimanya, maka pada saat itulah cara pandang terhadap ranah politik tidak lagi sesuai dengan hakikatnya. Cara pandang tersebut justru berlawanan dengan apa yang dianut oleh Calvin, yakni politik sebagai ilmu sekaligus seni guna menghambat kecenderungan tindak-perilaku negatif manusia berkembang secara lebih jauh dan membabi-buta akibat naturnya yang berdosa.</p>
<p>Penghargaan tinggi yang diberikan oleh Calvin terhadap aspek kehidupan politik tidak lepas dari penghargaannya terhadap pemerintahan sipil sebagai satu-satunya lembaga yang diberikan otoritas oleh Tuhan di dalam menghambat segala bentuk perilaku jahat yang dapat ditimbulkan dan dikembangkan lebih jauh oleh manusia akibat dosanya. Menurut Calvin, hal yang paling membahayakan dalam kehidupan bermasyarakat muncul ketika penghujatan dan penghinaan terhadap kebenaran hukum dan norma ciptaan dilakukan oleh manusia secara terang-terangan dan menyebar di antara rakyat. [7]</p>
<p>Ketika suatu bentuk tindakan korupsi dan penindasan terhadap hak-hak dasar kehidupan rakyat dilegalkan atas nama kepentingan negara yang lebih tinggi, maka ini dapat dikategorikan sebagai bentuk penghinaan terhadap kebenaran hukum dan norma ciptaan secara terang-terangan.</p>
<p>Ketika sekelompok orang diperbolehkan untuk menjarah milik orang lain atas nama keadilan, hubungan seksual sesama jenis kelamin dilegalkan atas nama hak asasi manusia, penutupan secara paksa tempat-tempat ibadah milik kelompok minoritas dibiarkan demi menghargai suara terbanyak atau pendapat kalangan mayoritas, inilah yang dikategorikan oleh Calvin sebagai bentuk penghujatan dan penghinaan terhadap kebenaran hukum dan norma ciptaan secara terang-terangan.</p>
<p>Tugas utama pemerintah adalah mengatur kehidupan masyarakat agar terlaksana secara tertib, teratur dan beradab. Ketika tugas ini gagal dilaksanakan, maka yang terjadi adalah kekacauan, kondisi yang sangat tidak diinginkan oleh siapa pun yang duduk dan berkuasa di lembaga pemerintahan.</p>
<p>Keputusan-keputusan politik yang ditetapkan oleh pemerintah agar anggota masyarakat dapat berurusan satu sama lain tanpa saling merugikan, berlangsung dengan sopan, tertib, teratur dan beradab, dengan sendirinya akan menghambat upaya penghujatan dan penghinaan terhadap kebenaran hukum dan norma ciptaan Tuhan dilakukan secara terang-terangan di muka publik. Dari sisi cara pandang inilah Calvin memaknai hakikat kemuliaan dan keluhuran politik sebagai ilmu sekaligus seni guna menghambat kecenderungan tindak-perilaku negatif manusia berkembang secara lebih jauh dan membabi-buta akibat naturnya yang berdosa.</p>
<p>Satu-satunya lembaga yang diserahkan otoritas oleh Tuhan untuk menghambat dosa manusia dilakukan secara terang-terangan di muka publik adalah lembaga politik. Sehingga bagi Calvin, panggilan seseorang untuk memasuki dunia politik tidaklah hanya suci dan sah di hadapan Tuhan, tetapi juga dianggapnya yang paling kudus dan yang paling terhormat di antara semua panggilan dalam seluruh lingkungan hidup orang-orang fana. Salah satu warisan dari cara pandang Calvin terhadap pengembangan sistem politik dan fungsi pemerintah seperti yang dituangkannya dalam buku Institutio memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap proses pengembangan sistem check and balances dalam demokrasi modern yang kita nikmati berkatnya saat ini.</p>
<p><strong>Allah mengutus Kristus untuk Memulihkan Ciptaan-Nya</strong></p>
<p>Dalam konteks perayaan Hari Paskah, kita kembali diingatkan bahwa Allah mengutus anak-Nya, Yesus untuk mati dan bangkit bukan saja hanya untuk menebus dosa-dosa kita. Ia datang untuk memulihkan segenap ciptaan-Nya yang telah rusak akibat kejatuhan Adam dalam dosa, yang kelak akan mencapai kesempurnaan pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali.</p>
<p>Mitos-mitos sesat yang dibangun oleh kekuatan anti-Kristus selalu akan muncul pada setiap zaman dengan pola yang berbeda-beda dalam mempengaruhi umat manusia. Salah satunya yang muncul di masa kehidupan kita adalah mitos politik sebagai ranah kehidupan yang kotor dan amoral.</p>
<p>Namun pada saat mitos-mitos sesat itu muncul, Tuhan tidak berdiam diri. Ia selalu mengutus umat pilihan-Nya untuk maju menjadi tentara kerajaan surga dan menghadapi nabi-nabi palsu guna membongkar ajaran sesat mereka dan kemudian memulihkan kembali segala ketetapan-Nya di hadapan manusia sehingga manusia mengetahui bahwa Tuhan-lah yang berdaulat dan berkuasa atas alam-semesta. Tuhan memberkati!!!</p>
<p>Randy Ludwig Pea</p>
<address>1.	Gunche Lugo, Manifesto Politik Yesus (Penerbit ANDI: Yogyakarta, 2009), h. 41-42.</address>
<address>2.	Ibid.</address>
<address>3.	Ibid.</address>
<address>4.	Thomas Kotten, Keindahan Politik dan Keagungan Kekuasaan (Suara Pembaruan: Jakarta, 03 Desember 2007).</address>
<address>5.	Kasdin Sihotang, Mengingkari Mitos Politik Amoral (Suara Pembaruan: Jakarta, 13 Maret 2010).</address>
<address>6.	John Calvin, Institutio (terj.) (PT. BPK Gunung Mulia: Jakarta, 2003), h.315.</address>
<address>7.	Ibid, h. 314.</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/memulihkan-cara-pandang-masyarakat-terhadap-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lampu Merah Saja Tidak Cukup</title>
		<link>http://gkipi.org/lampu-merah-saja-tidak-cukup/</link>
		<comments>http://gkipi.org/lampu-merah-saja-tidak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 10:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3906</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini sudah banyak sekali dipasang timer di lampu lalu-lintas di Jakarta. Sebuah teknologi sederhana yang sangat membantu kita sebagai pengguna jalan raya. Kita dapat memperkirakan kapan kita bersiap-siap untuk jalan atau kapan kita bersiap-siap untuk berhenti. Kita juga bisa mempunyai pengharapan, berapa lama lagi kita akan berjalan dari tempat itu. Di satu sisi, pemasangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini sudah banyak sekali dipasang timer di lampu lalu-lintas di Jakarta. Sebuah teknologi sederhana yang sangat membantu kita sebagai pengguna jalan raya. Kita dapat memperkirakan kapan kita bersiap-siap untuk jalan atau kapan kita bersiap-siap untuk berhenti. Kita juga bisa mempunyai pengharapan, berapa lama lagi kita akan berjalan dari tempat itu. Di satu sisi, pemasangan timer ini dapat mengurangi kemacetan, tetapi di sisi lain malah bisa membuat kemacetan.</p>
<p>Orang Indonesia, khususnya orang Jakarta dan lebih khusus lagi para pengendara sepeda motor, sekarang istilah kerennya para bikers, dan juga beberapa pengendara mobil, adalah orang-orang yang sangat “efisien” memanfaatkan waktu yang ada. Mereka bisa memanfaatkan momen antara lampu merah yang masih menyala dan lampu hijau yang belum menyala, padahal di pihak lain lampu hijaunya masih menyala. Mereka memanfaatkan timer dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Kalau sudah begini, maka sering kali kemacetan menjadi tidak terhindarkan.</p>
<p>Situasi yang berbeda ketika ada pak polisi yang berjaga di lampu lalu-lintas. Semua pengendara bersikap manis dan tertib, tetapi begitu pak polisi pergi, maka para bikers menunjukkan sifat asli mereka kembali. Ternyata lampu merah saja tidak cukup untuk menertibkan para pengguna jalan raya.</p>
<p>Teknologi lain lagi adalah alat komunikasi yang sudah hampir dimiliki oleh semua orang, tidak terkecuali para balita, yaitu telepon genggam, atau handphone, mulai dari yang sederhana sampai yang paling canggih. Hampir semua jenis alat ini bisa men-download berbagai macam fitur, termasuk Alkitab. Jadi sekarang banyak sekali Alkitab elektronik. Sebagian jemaat yang datang ke gereja untuk mengikuti kebaktian, tidak lagi menenteng buku Alkitab yang tebal itu, tetapi “Alkitab”nya sudah bisa dikantongi.</p>
<p>Alkitab elektronik ini, sama seperti timer di lampu lalu-lintas. Di satu sisi baik, namun di sisi lain bisa berdampak buruk. Kita menjadi sulit untuk membedakan, apakah seseorang itu sedang membaca Alkitab, mencatat khotbah, sedang ber-sms ria, atau sedang membaca email atau chatting.</p>
<p>Tidak sedikit jemaat kita yang sedang mengikuti kebaktian, sekaligus ber-sms atau ber-email ria. Mungkin ini juga salah satu cara untuk memanfaatkan waktu dengan efisien. Bahkan ada yang melihat-lihat koleksi foto yang ada di blackberry-nya, dan yang lebih parah lagi, foto-foto tersebut di”diskusi”kan dengan teman yang duduk di sampingnya.</p>
<p>Keadaan tersebut tentunya sangat mengganggu jemaat lain yang sedang mendengarkan khotbah atau sedang khusuk beribadah. Untuk sebagian orang, teknologi rupanya lebih penting daripada Firman Tuhan.</p>
<p>Teknologi memang canggih, kecanggihannya bisa berdampak baik, bisa juga buruk. Tentunya kita masih ingat penculikan lewat facebook beberapa waktu yang lalu. Teknologi harus didukung dengan sikap. Kalau sikap kita baik, maka teknologi akan menjadi sangat baik, tetapi kalau sikap kita buruk, teknologi bisa menjadi sangat buruk.</p>
<p>Sikap untuk patuh terhadap norma-norma yang umum tampaknya sudah luntur, tenggang rasa dan bela rasa kelihatannya sudah memudar, manusia sudah lebih mementingkan dirinya sendiri, bahkan terhadap Tuhan.</p>
<p>Sama seperti di perempatan jalan, lampu merah saja tidaklah cukup untuk menertibkan para pengguna jalan. Luar biasa…</p>
<p>(SSM)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/lampu-merah-saja-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bosan Hidup</title>
		<link>http://gkipi.org/bosan-hidup/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bosan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 05:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3761</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru, “Pak, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apa pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.” Sang guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Pak, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.” Seolah-olah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru, “Pak, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apa pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”</p>
<p>Sang guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.”</p>
<p>“Tidak Pak, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”</p>
<p>Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang guru meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu disebut ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.”</p>
<p>“Tidak, Pak&#8230; Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup,” tolak pria itu.</p>
<p>“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”</p>
<p>“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”</p>
<p>“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah diminum malam ini, setengah lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”</p>
<p>Giliran dia yang menjadi bingung. Setiap guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.</p>
<p>Sepulangnya ia ke rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun tersebut dan merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal satu malam, satu hari, dan ia akan mati&#8230; terbebas dari segala macam masalah.</p>
<p>Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah dilakukannya selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai sekali!</p>
<p>Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!</p>
<p>Esoknya ketika bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur.</p>
<p>Tanpa membangunkannya, ia masuk ke dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istri pun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, Mas.”</p>
<p>Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!</p>
<p>Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.</p>
<p>Pulang ke rumah pukul 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”</p>
<p>Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?</p>
<p>“Ya Tuhan, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu, ya Tuhan. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini.” Ia pun buru-buru mendatangi sang guru yang telah memberi racun kepadanya.</p>
<p>Sesampainya di rumah guru tersebut, pria itu mengatakan bahwa ia ingin membatalkan kematiannya, karena ia sangat takut jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuatnya menjadi hidup kembali.</p>
<p>Melihat wajah pria itu, rupanya sang guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi. Ia berkata, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”</p>
<p>Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami sang guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini… (kiriman dari Internet)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bosan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
