<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Artikel Lepas</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-lepas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Berbagi Pengalaman</title>
		<link>http://gkipi.org/berbagi-pengalaman/</link>
		<comments>http://gkipi.org/berbagi-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 14:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7154</guid>
		<description><![CDATA[Khotbah Pdt. Rudianto Djajakartika di kebaktian pembukaan Bulan Keluarga tanggal 2 Oktober 2011, sangat menarik. Pdt. Rudi mengkhawatirkan gejala meningkatnya perceraian di antara pasangan Kristen, meningkatnya penerimaan seks di luar nikah dan terlibatnya orang-orang Kristen dalam kasus-kasus korupsi. Indikasi yang dikhawatirkan oleh Pdt. Rudi ini, sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari masalah pendidikan dan keteladanan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khotbah Pdt. Rudianto Djajakartika di kebaktian pembukaan Bulan Keluarga tanggal 2 Oktober 2011, sangat menarik. Pdt. Rudi mengkhawatirkan gejala meningkatnya perceraian di antara pasangan Kristen, meningkatnya penerimaan seks di luar nikah dan terlibatnya orang-orang Kristen dalam kasus-kasus korupsi. Indikasi yang dikhawatirkan oleh Pdt. Rudi ini, sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari masalah pendidikan dan keteladanan dalam keluarga.</p>
<p>Meningkatnya angka perceraian, khususnya di antara pasangan Kristen, menunjukkan indikasi bahwa pernikahan Kristen tidak ada bedanya dengan pernikahan-pernikahan lainnya, padahal dalam agama Kristen, pernikahan sudah dipersiapkan dengan mengikuti katekisasi pranikah, dengan percakapan-percakapan dengan calon pasangan suami istri dengan tujuan agar pernikahan tersebut dapat berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah kristiani, yang pada hakikatnya tidak mengenal perceraian.</p>
<p>Hal umum yang terjadi dalam mempersiapkan suatu pernikahan adalah lebih fokus kepada persiapan perayaan pernikahan, bukan pada pernikahan itu sendiri. Mulai dari memesan gedung, katering, pakaian, acara, MC, band, dekorasi, souvenir, undangan dan lain sebagainya yang memakan waktu paling tidak satu tahun. Ketika calon pasangan suami isteri ini ditanya bagaimana persiapan untuk memasuki kehidupan perkawinannya sendiri, biasanya mereka tidak bisa menjelaskan atau menjawab secara detail, seperti kalau ditanya tentang persiapan pesta pernikahan mereka. Biasanya mereka menjawab, &#8220;Ya&#8230;, mengalir sajalah&#8221;. Emangnya sungai, mengalir…</p>
<p>Pernikahan itu harus dibangun, harus dipelihara, harus di-&#8221;refresh&#8221;, mobil saja kita service berkala, AC di rumah juga, masa pernikahan disuruh mengalir saja? Kenapa kita harus memelihara dan meningkatkan kualitas relasi dalam pernikahan kita? Pernikahan tidak selalu berjalan dengan &#8220;smooth&#8221;, mungkin tidak semua pertengkaran atau perselisihan dapat diselesaikan dengan baik. Mobil saja kalau mulai ada bunyi-bunyi segera kita bawa ke bangkel, kalau tidak segera, maka kita akan mulai malas memperbaikinya. Semakin tua usia pernikahan kita, semakin kita malas untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kecil, yang sebetulnya sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik yang lebih besar.</p>
<p>Kita perlu tahu dan perlu diperlengkapi dengan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah &#8220;kecil&#8221; seperti ini. Pengalaman bagaimana kita menyelesaikan perselisihan dengan benar dalam pernikahan, akan merupakan pengalaman yang amat berharga yang dapat kita bagikan kepada pasangan-pasangan lain atau kepada anak-anak kita, yang sudah mulai berpacaran atau yang baru memulai kehidupan pernikahannya. Kita bisa ikut mempersiapkan kehidupan pernikahan mereka daripada sekadar menyukseskan perayaan pernikahannya.</p>
<p>Untuk bisa memberitahu atau mengajarkan prinsip-prinsip komunikasi yang baik dan kristiani, tentunya kita harus melakukannya juga, harus menjadi teladan agar kita tidak cuma tahu teori saja, kita harus menjadi pelaku.</p>
<p>Ada satu program yang dimiliki oleh Badan Pelayanan Majelis Jemaat GKI Pondok Indah. Program ini diselenggarakan setahun sekali, menjelang atau pada bulan keluarga, khusus untuk para pasangan suami dan istri. Suatu program yang sangat bagus, yang bisa memperlengkapi pasangan suami istri untuk membiasakan diri menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara yang kristiani. Cara atau kiat-kiat ini, bisa dengan berbagi pengalaman iman, baik kepada pasangan lain maupun kepada anak-anak kita, agar mereka bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara berkomunikasi yang baik dan kristiani.</p>
<p>Dengan memiliki kebiasaan sebagaimana yang diajarkan dalam program tersebut, niscaya kita akan terhindar atau bisa menghindarkan pasangan lain dari pertengkaran yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan sehingga menjadi potensi untuk terjadinya perceraian.</p>
<p>Apakah kita juga mempunyai kekhawatiran yang sama dengan Pdt. Rudianto sebagaimana yang diungkapkan dalam khotbahnya tersebut? Lalu adakah usaha kita untuk meminimalisir kekhawatiran itu, paling tidak kita mulai dari diri kita sendiri.</p>
<p>Sindhu Sumargo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/berbagi-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Natal Terjadi Pada  Tanggal 25 Desember?</title>
		<link>http://gkipi.org/apakah-natal-terjadi-pada-tanggal-25-desember/</link>
		<comments>http://gkipi.org/apakah-natal-terjadi-pada-tanggal-25-desember/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 15:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7051</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Natal&#8221; berasal dari bahasa Latin &#8220;Natalis,&#8221; bahasa Perancis &#8220;Noël&#8221; dan bahasa Italia &#8220;Il Natale&#8221; yang berarti peringatan kelahiran, dan bagi umat kristiani, peringatan Natal yang dilakukan setiap tanggal 25 Desember adalah peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat umat manusia. Meskipun demikian, menurut berbagai sumber, walaupun akhirnya gereja menerima tanggal 25 Desember sebagai hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Natal&#8221; berasal dari bahasa Latin &#8220;Natalis,&#8221; bahasa Perancis &#8220;Noël&#8221; dan bahasa Italia &#8220;Il Natale&#8221; yang berarti peringatan kelahiran, dan bagi umat kristiani, peringatan Natal yang dilakukan setiap tanggal 25 Desember adalah peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat umat manusia.</p>
<p>Meskipun demikian, menurut berbagai sumber, walaupun akhirnya gereja menerima tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, tetapi hal itu terjadi melalui proses yang rumit. Belum lagi kalau kita hubungkan dengan ceramah Pdt. Joas Adiprasetya dalam Forum Diskusi Teologia yang lalu, yang menyadarkan kita bahwa sebenarnya Yesus, walaupun lahir dari perawan Maria, bukanlah makhluk ciptaan. &#8220;Lo, mengapa bukan ciptaan? Bukankah Dia dilahirkan oleh manusia, jadi sudah temasuk ciptaan Tuhan dong&#8221;, begitu kira-kira beberapa pemahaman sebelumnya. Lalu pertanyaan berkembang menjadi: &#8220;Benarkah Ia pernah dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Bukankah Dia sudah ada sebelum dunia diciptakan, bahkan segala sesuatu diciptakan oleh-Nya? Ia telah ada terlebih dahulu dari segala sesuatu (termasuk manusia yang kemudian menetapkan siklus hari dan bulan, termasuk adanya tanggal 25 Desember).&#8221; Tetapi melalui ceramah Pdt. Joas, kita lalu diingatkan bahwa Dia sudah ada sebelum dunia diciptakan, bahkan Dialah yang menciptakan dunia ini, karena Sang Anak sepenuhnya adalah Allah. Aduh, ini makin rumit lagi, karena selain tanggal dan bulan, bahkan tahun kelahiran-Nya dipersoalkan. Pemahaman apakah Yesus memang pernah dilahirkan oleh manusia dan apakah dengan demikian Dia itu makhluk ciptaan Allah juga kadang masih tetap menjadi salah satu bahan persoalan manusia.</p>
<p>Dalam uraian ini penulis hanya ingin menyampaikan beberapa pemahaman tentang tanggal, bulan dan tahun kelahiran-Nya sedangkan yang lain sudah cukup banyak diulas oleh para ahli di bidang tersebut.</p>
<p>Hari Raya Natal 25 Desember yang dirayakan oleh gereja kita berasal dari tradisi Roma, dan menurut Pdt. Rasid Rahman (GKI Surya Utama), dalam bukunya &#8220;Hari Raya Liturgi&#8221; yang juga beliau kutip dari buku karangan Duchesne (BPK Gunung Mulia 2003, hal 105), sampai sejauh ini tidak diketahui pasti kapan kelahiran Yesus. Beliau menuliskan bahwa seorang teolog Yunani, Clemens dari Alexandria, dengan mengacu pada Luk.3:1 dan Luk.3 :23, memperkirakan bahwa kelahiran Yesus sekitar tanggal 18-19 April atau 29 Mei. Lalu beliau selanjutnya berkata bahwa menurut dokumen tahun 243, di Afrika dan Italia (Roma) kelahiran Yesus pernah dirayakan pada tanggal 28 Maret. Menurut ulasan beliau, perayaan Natal terkait dengan tradisi Mesir yang merayakan Hari Epifania. Epifania, yang berarti penampakan diri atau kelihatan, berasal dari perayaan musim salju yang dirayakan di Mesir setiap tanggal 6 Januari, dan perayaan itu telah dilakukan sebelum Yesus lahir. Tetapi sejak abad ke-3, gereja Mesir (yang kemudian diadopsi oleh gereja Timur, termasuk gereja Orthodoks), menjadikan tanggal tersebut sebagai perayaan hari kelahiran Yesus, dengan mendasarkan hal itu pada &#8220;penampakan diri Yesus&#8221; sejak pembaptisan-Nya di Sungai Yordan yang kemudian dilanjutkan dengan pelayanan-Nya kepada orang banyak. Namun di kemudian hari, gereja Timur juga menetapkan tanggal 6 Januari sebagai hari Epifania dan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal.</p>
<p>Selanjutnya ada yang menghubungkan Natal dengan terang dan surya yang telah dikenal sejak lama di wilayah Roma, dengan memaknai Yesus sebagai Sang Surya Kebenaran. Sejak tahun 274 mulai dilaksanakan perayaan &#8220;Hari Kelahiran Matahari&#8221;, sebagai penutup &#8220;Festival Saturnalia&#8221; yang diadakan setiap tanggal 17 sampai 24 Desember. Pada perayaan itu semua orang bergembira, makan minum, bersorak-sorai sambil bernyanyi, saling memberi hadiah serta bersalaman. Tetapi umat Kristen yang semakin berkembang kemudian menyadari bahwa matahari adalah ciptaan Tuhan dan lalu meninggalkan perayaan yang dianggap kafir itu. Hal itu lalu mendorong pimpinan gereja Roma untuk mengalihkan perayaan itu sebagai perayaan Natal dan memperingati kelahiran Sang Surya Kebenaran, yaitu Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri yang menjelma (berinkarnasi) sebagai manusia dan lahir melalui anak dara Maria.</p>
<p>Sejak tahun 336, menurut catatan kalender Romawi, perayaan yang kemudian dimaknai sebagai Natal itu dirayakan setiap tanggal 25 Desember sekaligus juga menggantikan Hari Natal yang tadinya dirayakan pada tanggal 6 Januari. Kemudian perayaan tanggal 25 Desember itu berkembang ke wilayah lain seperti Anthiokia sejak tahun 375, Konstantinopel sejak 380, Alexandria sejak 430 dan ke negara-negara lain di dunia ini. Gereja Mesir sendiri, walaupun ada yang tetap merayakan Natal pada tanggal 6 Januari, sekitar tahun 427 mulai merayakannya pada tanggal 25 Desember.</p>
<p>Ada sementara pemahaman bahwa sebenarnya umat kristiani tidak merayakan &#8220;harinya&#8221; tetapi &#8220;natalnya&#8221; karena &#8220;natal&#8221; berarti awal kehidupan, jadi kita merayakan Natal untuk mengenang &#8220;awal kehidupan bersama-Nya&#8221;. Dalam hubungan dengan Yesus Kristus, maka umat kristiani memahami Natal sebagai suatu kenangan terhadap kelahiran Sang Firman ke dunia. Perayaan Natal mengenang kehadiran Allah yang adalah Sang Pencipta yang tidak kelihatan itu, dalam diri Yesus Kristus, atau Sang Kebenaran dan Juru Selamat Dunia. Jadi dalam pemahaman ini maka Natal yang dirayakan umat kristiani setiap tanggal 25 Desember adalah peringatan akan &#8220;awal kehidupan bersama Yesus dengan kebenaran yang diajarkan-Nya.&#8221;</p>
<p>Inti Natal dengan demikian dapat merupakan perayaan untuk memperingatkan kita tentang perlunya kehidupan baru bersama Yesus, berperilaku seperti yang diteladankan-Nya. Umat kristiani mengakui bahwa Yesus benar pernah hidup di Yudea pada abad pertama dan lahir di kota Bethlehem. Para leluhur kita dahulu telah menyaksikan-Nya dan sebagian dari mereka, yaitu para nabi dan para rasul pilihan-Nya, telah menuliskannya dalam pelbagai tulisan yang sebagian terhimpun dalam Alkitab setelah melalui proses ratusan tahun yang kita kenal dengan istilah kanonisasi. Yoh.1:14 berbunyi: &#8220;Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.&#8221; Kita sekarang, walaupun tidak melihat fisik Yesus dan segala perbuatan-Nya secara langsung, tetap percaya dan mengimani hal itu karena selain membaca dari Alkitab yang kita pahami sebagai firman Allah yang dituliskan oleh para nabi dan rasul pilihan-Nya atau mendengar dari para hamba-Nya, masing-masing kita juga dapat merasakan kuasa Allah itu di dalam perjalanan hidup kita setiap hari dengan segala suka-dukanya.</p>
<p>Peristiwa Natal yang kita imani antara lain seperti yang tertulis di dalam Injil Matius 1:18 sampai 2:15 dan Luk. 2:1-20. Yesus lahir di kota Bethlehem, provinsi Yudea, ketika kerajaan Romawi berada di bawah pemerintahan Kaisar Agustus. Ketika itu kerajaan Roma menguasai hampir seluruh daerah yang berada di sekitar Laut Tengah, mulai dari Palestina dan Siria di bagian Timur, sampai ke Spanyol Barat dan banyak wilayah di Afrika Utara dan Eropa (lihat keterangan menyangkut Kaisar Agustus dalam Alkitab edisi Study yang diterbitkan LAI. 2010, hal. 1663). Pada tahun 37 SM, pemerintah Romawi yang berkuasa menunjuk Herodes Agung menjadi raja di wilayah Palestina dan ia memerintah di sana sampai tahun 4 SM (sampai wafatnya). Tahun meninggalnya Herodes inilah (tahun 4 SM) juga merupakan salah satu rujukan tahun kelahiran Tuhan Yesus, sesuai petunjuk dalam Mat. 2:19.</p>
<p>Akan tetapi, menyangkut tanggal dan bulan kelahiran Yesus tetap terjadi banyak kontroversi, karena kalau ditetapkan sekitar bulan Desember sampai Januari, di tanah Palestina iklimnya cukup dingin, sehingga tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala pun sulit berada di padang Efrata dalam keadaan seperti itu, lagi pula orang sukar melakukan perjalanan jauh dalam cuaca dingin, apalagi Maria waktu itu sedang hamil tua, seperti yang kita pahami dari beberapa pemberitaan di kitab Injil.</p>
<p>Jadi dalam kaitan ini, maka perayaan Natal yang dilakukan umat kristiani setiap tanggal 25 Desember bukanlah untuk memperingati bahwa Tuhan Yesus benar lahir pada tanggal 25 Desember, tetapi hanya merupakan kenangan atas lahirnya Sang Surya Kebenaran itu ke dunia dan telah disaksikan oleh manusia serta diimani oleh umat-Nya sekarang ini.</p>
<p>Natal bagi umat kristiani juga bukan untuk memperingati Hari Kelahiran Matahari di bumi seperti yang pernah dilakukan manusia di kota Roma, tetapi memperingati Hari Kelahiran Sang Firman yang lahir ke dunia untuk disikapi oleh manusia yang menjalani kehidupannya di dunia ini. Tetapi perayaan Natal yang dilatarbelakangi perayaan &#8220;Saturnalia&#8221; dengan berbagai aktivitasnya, perlu mencerminkan suasana kegembiraan dan saling berbagi, tetapi diarahkan kepada kegembiraan atas hadirnya Yesus, yang diisi dengan semangat kasih dan perdamaian, berbagi kasih serta pertolongan kepada sesama manusia. Sebenarnya dengan pemahaman seperti itu, maka perayaan Natal tanggal 25 Desember tidaklah mengikat, tetapi setidaknya untuk memperingatkan umat kristiani agar selalu mengingat-Nya. Umat kristiani diminta untuk merayakannya dalam suatu persekutuan gereja dan demi ketertiban, para pemimpin gereja perlu sepakat untuk menyeragamkannya pada tanggal 25 Desember.</p>
<p>Merayakan Natal itu sungguh baik karena dapat menjadi suatu upaya untuk merayakan kehadiran-Nya dalam hati dan pikiran kita masing-masing, mengenang kasih dan kuasa-Nya yang memimpin perjalanan hidup kita. Juga mengingatkan kita agar terus memuji dan memuliakan-Nya serta memberitakan kabar baik itu kepada lingkungan kita.</p>
<p>Selamat Hari Natal dan kiranya Tuhan Yesus Kritus juga lahir di hati kita masing-masing. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>R.Sihite</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/apakah-natal-terjadi-pada-tanggal-25-desember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteladanan</title>
		<link>http://gkipi.org/keteladanan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/keteladanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 16:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6990</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu cara atau metode pendidikan dasar yang paling efektif adalah melalui keteladanan. Keteladanan bisa didapat dari orangtua, guru, saudara bahkan bisa dari acara-acara televisi maupun film. Keteladanan bukan sekadar bicara, tetapi perilaku, yaitu melakukan apa yang dikatakan. Keteladanan diawali dari peniruan (imitasi) yang lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi karakter. Ketika anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu cara atau metode pendidikan dasar yang paling efektif adalah melalui keteladanan. Keteladanan bisa didapat dari orangtua, guru, saudara bahkan bisa dari acara-acara televisi maupun film. Keteladanan bukan sekadar bicara, tetapi perilaku, yaitu melakukan apa yang dikatakan. Keteladanan diawali dari peniruan (imitasi) yang lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi karakter. Ketika anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan di sekolah, maka keteladanan yang paling banyak ditiru adalah dari para orangtua dan para guru.</p>
<p>Karenanya, kita sebagai orangtua dan para guru harus memiliki kepekaan dan ekstra hati-hati dalam berperilaku. Perilaku kita diamati oleh anak-anak kita. Misalnya, kita mengajarkan untuk membaca Alkitab, tetapi kita tidak melakukan sebagaimana yang kita katakan. Kita menyuruh mereka untuk menyikat gigi sebelum tidur, tetapi kita tidak melakukannya. Perilaku semacam ini tidak dapat dikategorikan sebagai keteladanan yang baik. Mereka cenderung akan meniru apa yang kita lakukan.</p>
<p>Keteladanan bisa didapat juga dari perbedaan pendapat, bahkan dari suatu perselisihan atau pertengkaran. Beberapa teori tentang pendidikan dan perkembangan anak mengatakan bahwa orangtua jangan bertengkar di depan anak-anak, karena memberikan contoh yang tidak baik. Dalam beberapa kasus pertengkaran, teori tersebut benar. Akan tetapi, hemat saya, anak-anak perlu juga melihat bagaimana kedua orangtua mereka berbeda pendapat, mungkin juga bertengkar, tetapi diperlihatkan pula kepada mereka bagaimana kita mengakhiri pertengkaran tersebut dan menemukan solusinya. Perlu juga mereka melihat bagaimana kedua orangtua mereka saling memaafkan. Karena dalam dunia realitas, mereka akan mengalami hal-hal seperti itu. Kalau mereka tidak pernah melihat pertengkaran, mereka akan menganggap bahwa dunia ini selalu damai-damai saja.</p>
<p>Kita perlu menanamkan toleransi terhadap perbedaan, karena dalam masyarakat mereka akan menemukan banyak sekali perbedaan.</p>
<p>Demikian pula dengan para guru. Dalam batas-batas tertentu, kalau para siswa tidak boleh melakukan, maka para guru juga tidak boleh melakukannya. Misalnya, guru mengajarkan untuk tidak terlambat hadir di sekolah, tetapi guru sering datang terlambat. Para siswa dilarang merokok, tetapi guru merokok di lingkungan sekolah. Para guru juga diharapkan dapat membangun budaya untuk berbeda pendapat, karena dalam dunia realitas akan banyak sekali perbedaan pendapat yang akan mereka temui. Para guru juga perlu minta maaf kepada siswanya apabila melakukan kekeliruan atau kesalahan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak pernah berbuat salah, sekaligus pula untuk menunjukkan bahwa membuat kesalahan itu biasa. Tetapi yang lebih penting adalah apa yang harus dilakukan setelah berbuat salah.</p>
<p>Namun, keteladanan yang sudah ditanamkan kepada anak-anak kita sering kali dirusak oleh realitas yang tidak sesuai dengan apa yang sudah kita ajarkan dan yang seringkali pula tidak bisa kita hindari. Misalnya, memberi uang untuk mendapatkan kemudahan (membuat KTP, SIM, Paspor) atau mengurusnya lewat calo. Membayar “uang damai” ketika melanggar lalu lintas, atau menyeberang jalan tidak pada tempat yang semestinya. Kita pasti sudah sering mengatakan bahwa tawuran tidak baik, tetapi kita sering melihat tawuran antar warga, antar mahasiswa, bahkan di persidangan di mana seharusnya hukum ditegakkan.</p>
<p>Anak-anak menjadi sering dibingungkan antara norma-norma dan nilai-nilai yang diajarkan oleh orangtua maupun di sekolah, dengan kenyataan yang mereka lihat, yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan kepada mereka. Sebagai contoh, kami mengajarkan kepada anak kami untuk tidak berbohong. Suatu hari, pulang dari sekolah dia marah-marah dan pada waktu kami tanyakan penyebabnya, dia mengatakan bahwa temannya berbohong. Dia tidak bisa menerima, kenapa temannya harus berbohong.</p>
<p>Ini semua adalah tantangan sekaligus juga tanggung jawab kita, sebagai orangtua maupun sebagai guru. Kita punya kewajiban tidak hanya membuat anak-anak kita menjadi pintar, tetapi juga menjadikan anak-anak kita mempunyai karakter dan budi pekerti yang baik, sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang kita anut. Mari kita perangi perilaku yang merusak akhlak dan moral anak-anak kita. Beranikah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sindhu Sumargo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/keteladanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Christiano Ronaldo</title>
		<link>http://gkipi.org/christiano-ronaldo/</link>
		<comments>http://gkipi.org/christiano-ronaldo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 15:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6626</guid>
		<description><![CDATA[Pemain bintang klub Real Madrid, Christiano Ronaldo (26), dihujani kritik media dan penggemarnya di Guangzhou, China, saat tim yang dijuluki “Los Blancos” itu akan melakukan pertandingan persahabatan melawan klub Guangzhou Evergrande, pekan lalu. Penyebabnya, Ronaldo memberikan jawaban-jawaban singkat dan ketus kepada media yang mewawancarainya saat sesi jumpa pers. Dia (Ronaldo) seorang egois dan arogan, kelakuannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemain bintang klub Real Madrid, Christiano Ronaldo (26), dihujani kritik media dan penggemarnya di Guangzhou, China, saat tim yang dijuluki “Los Blancos” itu akan melakukan pertandingan persahabatan melawan klub Guangzhou Evergrande, pekan lalu. Penyebabnya, Ronaldo memberikan jawaban-jawaban singkat dan ketus kepada media yang mewawancarainya saat sesi jumpa pers. Dia (Ronaldo) seorang egois dan arogan, kelakuannya tidak bisa diterima, kata Yan Qiang, Wakil Presiden Titan Media, penerbit media olahraga terkemuka di China. Sikap Ronaldo itu menuai komentar pedas dari penggemarnya. Ronaldo pemain sepak bola yang sangat berbakat dan juga tampan, tetapi dia tidak rendah hati, tulis seorang penggemar Ronaldo di internet (Kompas, Selasa 9 Agustus 2011, hal 32.)</p>
<p>Tema Persekutuan Komunitas basis beberapa bulan yang lalu adalah “Belajar Hidup Dalam Kerendahan Hati”.</p>
<p>Yang menarik, di Persekutuan Kombas Bintaro yang saya hadiri, ketika memasuki sesi sharing dan diskusi, salah seorang peserta mengatakan bahwa salah satu ciri kerendahan hati dapat dilihat atau diketahui dari cara seseorang berbicara kepada orang lain. Orang yang memiliki kerendahan hati, antara lain sering menggunakan kata-kata: maaf, tolong dan terima kasih, bahkan kepada mereka yang memiliki status yang lebih rendah.</p>
<p>Ketika berbicara dengan orang-orang yang berstatus lebih tinggi, kita pasti sering menggunakan kata-kata tadi. Tidak mungkin kita tidak menggunakan kata, “maaf, tolong atau terima kasih” kepada boss atau atasan atau kepada orang-orang yang lebih tua dan yang kita hormati. Tetapi apakah kita juga menggunakan kata-kata itu kalau kita bicara kepada bawahan kita di kantor, kepada satpam atau office boy di kantor, kepada para asisten kita di rumah, bahkan kepada anak-anak kita sendiri.</p>
<p>Coba kita introspeksi, seberapa sering kita mengucapkan kata-kata tersebut kepada mereka. Kita sering kali terjebak untuk tidak mengatakan terima kasih karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka. Kita sering merasa tidak perlu meminta tolong atau minta maaf karena kita adalah atasan atau orang tua dari mereka.</p>
<p>Mendidik anak yang paling efektif adalah dengan memberi contoh. Kalau kita tidak pernah mengucapkan kata-kata maaf, tolong dan terima kasih kepada mereka, maka jangan berharap anak-anak akan melakukannya kepada orang lain. Sebagai orangtua, kita harus melakukan apa yang kita katakan, kita tidak akan dicontoh oleh anak-anak kalau kita hanya bisa mengatakan saja tetapi tidak melakukan apa yang kita katakan. Kita sering mengajarkan kepada anak-anak bahwa kita harus rendah hati, tetapi kalau kita tidak memberi contoh, maka mereka pun tidak akan melakukannya.</p>
<p>Dalam beberapa hal, barangkali kita belum sepenuhnya berlaku seperti itu, masih ada sikap egois dan arogan dalam diri kita. Masih ada perasaan sombong atau tinggi hati untuk mengucapkan kata-kata tersebut dalam keseharian kita.</p>
<p>Kalau saya perhatikan di mall-mall, tidak banyak pengunjung yang mengucapkan terima kasih kepada Satpam ketika dibukakan pintu masuk. Demikian pula ketika dibukakan pintu toilet oleh petugas cleaning service. Kita tidak mengucapkan terima kasih apakah karena kita menganggap bahwa hal itu sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka? Coba sesekali kita ucapkan terima kasih dan perhatikan wajahnya, pasti kita akan melihat wajah yang gembira, karena mereka merasa dihargai.</p>
<p>Istri saya selalu memuji dan mengucapkan terima kasih kepada asisten di rumah atas makanan yang disajikannya. Hasilnya, dia rajin memasak dengan berbagai variasi yang enak rasanya, sehingga kami sekeluarga menobatkannya sebagai master chef, karena memang dia satu-satunya yang bisa memasak di rumah kami.</p>
<p>Tidak ada kerugian yang kita derita hanya karena kita mengucapkan kata-kata maaf, tolong dan terima kasih, tetapi kita sering menyepelekan kata-kata ini, salah satunya karena kita masih belum rendah hati untuk mengatakannya. Ingatlah senantiasa akan nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi dalam perikop Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Filipi 2:1-11).</p>
<p>Christiano Ronaldo mungkin menjadi lebih arogan setelah dia menjadi pemain yang sangat terkenal dan menjadi salah satu pemain sepak bola termahal di dunia. Dia menganggap negara China bukan kelasnya, tidak ada klub atau pemain yang sekelas dengan dirinya. Namun, kita juga masih sering melihat banyak “Ronaldo-Ronaldo” lain, bahkan yang ada di sekitar kita. Banyak orang yang menjadi lebih arogan ketika dia mendapatkan kedudukan, jabatan atau posisi yang hebat. Banyak juga yang menjadi lebih arogan karena kesuksesannya.</p>
<p>Untungnya kita tidak mengundang kesebelasan Real Madrid dan Ronaldo untuk bermain di Indonesia. Dengan kondisi persepakbolaan kita seperti ini, pastinya dia akan lebih arogan lagi.</p>
<p>Sindhu Sumargo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/christiano-ronaldo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Palestina Milik Siapa?</title>
		<link>http://gkipi.org/palestina-milik-siapa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/palestina-milik-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2011 10:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6454</guid>
		<description><![CDATA[Penduduk di Palestina tidak saling tanya agama; nama seseorang tidak menandakan agama (tertentu), dan mereka saling mengasihi. Demikian sepenggal kalimat yang diucapkan Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi, dalam acara Bedah Buku &#8220;Palestina Milik Siapa? Fakta yang Tidak Diungkapkan Kepada Orang Kristen tentang Tanah Perjanjian&#8221; karya Gary M. Burge di gedung GKI Pondok Indah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penduduk di Palestina tidak saling tanya agama; nama seseorang tidak menandakan agama (tertentu), dan mereka saling mengasihi. Demikian sepenggal kalimat yang diucapkan Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi, dalam acara Bedah Buku &#8220;Palestina Milik Siapa? Fakta yang Tidak Diungkapkan Kepada Orang Kristen tentang Tanah Perjanjian&#8221; karya Gary M. Burge di gedung GKI Pondok Indah pada Sabtu, 21 Mei 2011 lalu.</p>
<p>Selain Pak Dubes sebagai narasumber utama, Komisi Perpustakaan yang menjadi penyelenggara acara tersebut mengundang Pendeta Stanley Rambitan dari GKJ yang juga dosen di STT Jakarta. Sementara itu Pendeta Purboyo sebagai moderator didampingi oleh Penatua Chandra Suria yang menjadi penerjemah saat diperlukan, karena Dubes menggunakan bahasa Inggris.</p>
<p>Buku yang judul aslinya adalah &#8220;Whose Land, Whose Promise?&#8221; terbitan tahun 2003 ini menurut Pdt. Rambitan merupakan pergumulan pribadi atas dasar pengalaman Burke hidup bersama bangsa Palestina dan Israel, dan perenungan-perenungan teologisnya sebagai pendeta Kristen Injili. Penulis juga sangat alkitabiah, kata Rambitan. Burge mendukung Alkitab yang mengatakan bahwa Israel pilihan Allah, tetapi timbul dilema dan pergumulan batin dalam dirinya: mengapa bangsa ini disebut milik Allah, kepunyaan Allah dan melalui bangsa ini dunia diberkati, tapi sikapnya kasar?</p>
<p>Perlakuan kasar ini digambarkan Burge secara detil karena selama berdiam di sana ia kerap menyusuri daerah-daerah rawan, dan melihat tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan tentara Israel terhadap penduduk Palestina. Burge juga menyaksikan buruknya keadaan pengungsi, penangkapan tanpa alasan dan tanpa proses hukum, pengusiran bahkan penghancuran rumah-rumah warga Palestina menggunakan bom atau buldozer yang lalu diambil alih dan diganti pemukiman baru warga Yahudi. Belum lagi blokade jalan ke pemukiman warga Palestina yang sering kita baca dan saksikan di media cetak atau televisi, yang mengakibatkan ekonomi Palestina mandek dan rakyat kelaparan.</p>
<p>Dari uraian Pdt. Rambitan, Pdt. Purboyo menyimpulkan bahwa Israel alkitabiah tidak sama dengan Israel sekarang. Perlakuan warga Israel pada warga Palestina sekarang ini tidak bisa ditoleransi. Burge menekuni isu ini dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yaitu bahwa Yesus sendiri tidak mementingkan tanah, sehingga dengan tegas Burge menyebutkan bahwa mendukung Israel sekarang sama dengan mendukung kejahatan!</p>
<p>Menurut Rambitan, pendapat Burge ini sah dari sisi Injili, namun dari segi etik ini adalah dosa. Rambitan juga mengkritik buku ini tidak cover-balance atau tidak imbang. Saat ini di tanah Palestina juga hidup orang Yahudi, maka pertanyaannya: bagaimana menyikapi ini dengan bijak: Tanah suci siapa dan Yerusalem itu kota sucinya siapa? Realitas ini harus diterima dan dicarikan jalan perdamaiannya karena orang Kristen di Palestina mengalami penderitaan berat seperti kaum muslimnya; Israel tidak membedakan Kristen dan Islam di Palestina.</p>
<p>Tanah Palestina yang menjadi bahan pertikaian ternyata tidak luas namun sangat indah. Seperti tayangan video oleh Bapak Dubes Fariz N. Mehdawi, jarak Palestina dari sisi selatan ke sisi utaranya hanya dua jam dengan naik mobil. Suhu udaranya pun beragam, dari 35 derajat Celcius sampai suhu ideal untuk menyimpan anggur. Di Yerusalem, ungkap Dubes, ada 50 mesjid, gereja Kristen, gereja Katolik dan gereja aliran-aliran Kristen lainnya. &#8220;Lucunya, kadang-kadang orang tidak bisa membedakan mesjid dan gereja karena keduanya bisa ada di satu tempat. Dan tidak ada yang peduli kalau salah masuk,&#8221; urainya.</p>
<p>Lalu beliau bercerita tentang kawan karibnya sejak sekolah menengah yang baru ia ketahui beragama Kristen setelah hendak menikah. &#8220;Abdalla (nama sang kawan, red.) berkata kalau ia sejak lahir memang Kristen,&#8221; tutur Dubes. &#8220;Waktu saya tanya mengapa ia tidak bilang, ia jawab karena saya tidak menanyakan,&#8221; lanjutnya disambut tawa hadirin. Banyak juga warga yang kawin campur, normal saja di sana. &#8220;Sejarah agama di Palestina berbeda dengan negara-negara lain, karena kami eksportir agama, baik agama Islam, Kristen, Judaisme, bukan importir agama seperti Indonesia,&#8221; urai Dubes. Secara bercanda ia juga mengatakan bahwa semua bapa leluhur memilih Palestina sebagai tempatnya. Israel seharusnya tanah universal, tidak bisa diklaim siapapun.</p>
<p>Jadi, kata Dubes, tidak ada masalah agama di Palestina. Masalahnya adalah politik; murni power dan interest, bukan agama. &#8220;Tapi agama digunakan terus oleh politik,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Ada tiga macam kolonialisme, kata Dubes. Pertama, kolonialisme ekonomi seperti yang terjadi di Indonesia: apa yang kamu miliki yang bisa saya ambil. Kedua, mengambil yang kamu miliki dan mengambilmu juga, seperti terjadi di Australia dan Palestina. Terakhir, antara pertama dan kedua seperti terjadi di Afrika Selatan dan Algeria; menempati tanahnya dan tidak membasmi bangsanya. Saat ini kolonialisme sudah hilang dari dunia tetapi tidak di Palestina, kata Dubes. Ada 10 juta orang di Palestina: 5 juta Yahudi, 5 juta lagi Islam dan Kristen. Artinya, seperti kata Rambitan, warga Kristen dan Islam sama-sama menderita akibat kolonialisme tersebut.</p>
<p>Anggapan bahwa Yahudi tidak boleh masuk Palestina adalah salah, tegas Dubes. &#8220;Secara politik kami tidak peduli, apapun bagus. Tetapi Israel yang harus memilih,&#8221; katanya lagi. Ia tahu baik Israel maupun Palestina punya teritori sendiri, hanya batasnya di mana? Palestina menghendaki batas sesuai kesepakatan tahun 1967 tapi ini jadi masalah karena Israel tidak mau menaatinya dan terus berusaha menggeser batas itu. &#8220;Padahal Yesus dan nabi saja tidak setuju ini,&#8221; tukasnya. Negara Palestina membutuhkan dukungan saat ini terutama karena bulan September ingin jadi anggota PBB seperti negara lain di dunia yang memiliki hak itu.</p>
<p>Menurut Dubes, buku Burge tidak membahas Palestina secara politis tapi teologis dan etis. Ia menanyakan apakah Israel bisa mengklaim tanah berdasarkan Kitab Suci dan apakah Israel mengerti betul mengapa Allah menjanjikan tanah itu. Beliau juga mempertanyakan apakah tindakan kejam tersebut adalah tindakan kristiani. &#8220;Kalau kita belajar tentang Kristus yang mengasihi, berpihak pada yang lemah dan lain-lain, apakah ini (tindakan Israel) tepat?&#8221; tanyanya. Menurutnya, sekarang ini apa tidak lebih tepat mencari solusi yang realistis bahwa Palestina untuk semua, bukan untuk Israel saja atau Palestina saja? &#8220;Get married to become one country or divorce to become two countries,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Sesi tanya jawab pernyataan Pdt. Rambitan maupun Dubes menjadi ajang yang menarik dalam memahami isi buku dan isu ini. Semua pertanyaan dijawab dengan bijaksana oleh pembicara. Sebagai kesimpulan, Pdt. Purboyo mengatakan bahwa isu sekarang adalah tentang samakah Israel Alkitab dan Israel sekarang? Buku mengatakan tidak sama, banyak gereja juga mengatakan itu. Masalah lain adalah the state of Israel. Banyak yang tidak paham bahwa tidak hanya ada Jews Zionis tapi ada juga Jews ateis dan Kristen. Lalu klaim alkitabiah tersebut apakah bisa diterima atau tidak sebagai alasan sah Israel untuk menduduki Palestina. Bahwa bangsa butuh tanah tinggal itu tidak salah, namun kita tidak bisa memaksakan keyakinan kita kepada bangsa lain.</p>
<p>Kekerasan paling banyak terjadi oleh Israel, tapi juga dari garis keras Palestina. Selama hal itu terjadi, tidak akan ada damai. Seharusnya ini membuat kita berpikir apakah kekerasan didukung? Dan terakhir Pdt. Purboyo menyimpulkan bahwa kita harus mengupayakan perdamaian, dan harus bisa hidup berdampingan. Semua agama harus hidup berdampingan di bangsa manapun.</p>
<p>Masih banyak jemaat yang ingin bertanya tapi mengingat waktu sudah lewat, maka talk show ditutup pukul 13.10, tepat tiga jam sejak pembukaan acara. Sebelum ditutup, ucapan terimakasih disampaikan oleh Ketua Komisi Perpustakaan, Ibu Erna Fernadi, untuk Dubes dan semua pihak. Penyerahan cendera mata untuk Dubes dan Pdt. Rambitan pun disampaikan dari GKIPI dan BPK Gunung Mulia. Sebagaimana awalnya, acara pun ditutup dengan doa pada Tuhan Yesus atas terselenggaranya acara ini dengan baik.</p>
<p>(Lily G. Nababan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/palestina-milik-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upin, Ipin, Fizi, Dan Pengangkut Sampah</title>
		<link>http://gkipi.org/upin-ipin-fizi-dan-pengangkut-sampah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/upin-ipin-fizi-dan-pengangkut-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 10:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6362</guid>
		<description><![CDATA[Upin dan Ipin barangkali merupakan film cerita anak-anak yang cukup fenomenal saat ini. Aku sendiri tidak tahu sampai seberapa jauh film ini sudah merasuk pada anak-anak zaman sekarang. Namun yang jelas, saat ini kerap kali aku melihat beraneka mainan atau buku dengan gambar tokoh Upin dan Ipin. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan menjamurnya tokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Upin dan Ipin barangkali merupakan film cerita anak-anak yang cukup fenomenal saat ini. Aku sendiri tidak tahu sampai seberapa jauh film ini sudah merasuk pada anak-anak zaman sekarang. Namun yang jelas, saat ini kerap kali aku melihat beraneka mainan atau buku dengan gambar tokoh Upin dan Ipin.</p>
<p>Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan menjamurnya tokoh Upin dan Ipin di berbagai mainan anak-anak itu. Tetapi harus kuakui, aku menikmati menonton film anak-anak tersebut. Lucu, cerdik, dan khas anak-anak adalah kesan yang menempel setiap kali usai menyaksikan film tersebut. Walaupun satu film sudah diputar berulang kali, aku tak terlalu bosan menontonnya.</p>
<p>Hmm, barangkali karena aku tidak punya televisi ya? Jadi aku menontonnya pun jarang-jarang, hanya pada saat mudik, berkunjung ke rumah teman atau saudara yang punya televisi.</p>
<p>Salah satu adegan film yang aku ingat betul adalah ketika Cik Gu (Bu Guru) memberi tugas kepada Upin Ipin serta teman-temannya di seluruh kelas untuk menggambarkan cita-cita mereka. Yang aku ingat, Jarjit menempelkan gambar polisi yang menangkap pencuri. Apakah Jarjit bercita-cita jadi polisi? Oh, tidak. Lalu, dia jadi pencurinya dong? Tidak juga. Rupanya dia ingin jadi pembawa berita di televisi. Ceritanya, ia akan mengabarkan kejadian semacam itu di televisi. Cara penyampaian yang unik. Lalu keunikan yang kedua adalah cita-cita Fizi. Dia menggambarkan dirinya sedang naik di belakang mobil pengangkut sampah. Awalnya, tentu dia ditertawakan oleh seluruh kelas. Tetapi Cik Gu dengan bijaknya memberi penjelasan bahwa cita-cita Fizi itu mulia. Coba kalau tidak ada petugas pengangkut sampah? Apa jadinya lingkungan kita? Bakalan bau dan jelas tidak sehat.</p>
<p>Siang ini baru saja gerbang halaman depan rumahku dibuka. Rupanya tukang sampah datang. Lelaki berkaus cokelat itu mengambil kantong-kantong plastik berisi sampah dari tong sampah di dekat pohon kelapa dekat pagar. Kantong-kantong itu ia kumpulkan dalam satu keranjang bambu. Setelah itu, ia menyapu bagian dalam tong sampah dan membuang air hujan yang menggenang di dalamnya. Tak sampai 10 menit ia melakukan itu semua. Kemudian ia membawa sampah-sampah kami dalam gerobak sampahnya.</p>
<p>Aku tak tahu, apakah Fizi pernah menyaksikan petugas pengangkut sampah yang biasa bertugas di lingkungan tempat tinggalku. Hmm, barangkali bukan Fizi secara literal ya? Maksudku, sang penggagas cerita tersebut tentunya. Cerita Upin dan Ipin memang buatan Malaysia, dan barangkali di sana petugas pengangkut sampah tampak lebih rapi. Barangkali, lo ya? Wong aku belum pernah ke Malaysia.</p>
<p>Aku rasa, dari sekian banyak anak yang bersekolah di Indonesia tidak ada yang bercita-cita menjadi petugas pengangkut sampah seperti lelaki yang kusaksikan siang ini. Mungkin, pengangkut sampah itu pun tidak menghendaki anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya. Siapa sih yang ingin berkotor-kotor mengangkut sampah? Kupikir, semulia-mulianya pekerjaan mengankut sampah, pekerjaan itu dianggap pekerjaan kelas bawah.</p>
<p>Bagaimanapun, sampah itu perlu dikelola. Banyak hal yang aku pikir bisa dilakukan untuk itu. Yang paling gampang adalah dengan memilah sampah. Dengan memilah sampah itu saja, petugas pengangkut sampah kupikir sudah cukup terbantu pekerjaannya. (Dari pengalamanku, dipisahnya sampah organik dan nonorganik membuat bak sampah menjadi relatif tidak berbau.) Yang kedua, barangkali para petugas pengangkut sampah ini bisa lebih diberdayakan lagi. Mereka tak hanya mengangkut sampah, tetapi bisa membuat bank sampah. Bank sampah adalah suatu wadah di mana warga bisa mengumpulkan sampah nonorganik dan mereka bisa mendapatkan uang (karena sampah anorganik itu bisa didaur ulang dan menghasilkan uang).</p>
<p>Aku berharap kelak ada film (anak-anak) yang menggambarkan tentang pengolahan sampah. Jadi Fizi tak hanya bercita-cita menjadi pengangkut sampah, tetapi menjadi pengolah sampah. Semoga pula orang-orang yang kini telah mengelola sampah terus menjadi inspirasi bagi kita. Dan kita semua akhirnya menjadi lebih bijak dalam memandang dan mengurus sampah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Krismariana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/upin-ipin-fizi-dan-pengangkut-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emisi Gas Rumah  Kaca Indonesia</title>
		<link>http://gkipi.org/emisi-gas-rumah-kaca-indonesia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/emisi-gas-rumah-kaca-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 14:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6280</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah ringkasan dari tulisan dengan judul &#8220;Masalah Emisi Gas Rumah Kaca,&#8221; yang dibuat pada tanggal 14 April 2010, jadi merupakan sumbangan pikiran dalam rangka Bulan Peduli Lingkungan, Jemaat GKI Pondok Indah. Presiden Suharto telah menghadiri United Nations Framework Convention on Climate Change 1992 di Rio de Janeiro, yang diratifikasi dengan UU No. 6/1997, sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah ringkasan dari tulisan dengan judul &#8220;Masalah Emisi Gas Rumah Kaca,&#8221; yang dibuat pada tanggal 14 April 2010, jadi merupakan sumbangan pikiran dalam rangka Bulan Peduli Lingkungan, Jemaat GKI Pondok Indah.</p>
<p>Presiden Suharto telah menghadiri United Nations Framework Convention on Climate Change 1992 di Rio de Janeiro, yang diratifikasi dengan UU No. 6/1997, sedang ratifikasi Kyoto Protocol (KP) 1997 dilakukan dengan UU No. 17/2004. Dengan demikian, UNFCCC/KP menjadi bagian hukum positif Indonesia. Jadi sebagai negara hukum, Indonesia wajib menaatinya, agar melindungi ekologinya dari pencemaran dan pengrusakan karena perbuatan manusia, sehingga keutuhan ciptaan dapat terjamin, demi kesejahteraan rakyat Indonesia.</p>
<p>Dalam hal ini hukum tertinggi, yakni UUD, dalam Pasal 33 ayat 2 menyatakan, bahwa: &#8220;Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.&#8221; Ungkapan dikuasai oleh negara, berarti negara sebagai regulator (bukan pemilik), dengan tugas, antara lain, melalui manajemen hutan Indonesia. Boleh saja membuka hutan untuk perkebunan kelapa sawit, asal dengan memperhatikan UNFCCC/KP dan penjabarannya dalam hukum positif Indonesia.</p>
<p>Jemaat GKI Pondok Indah melalui Bulan Peduli Lingkungan telah mendukung program pemerintah, yang dimulai dengan seruan mimbar melalui khotbah. Dapat dikatakan, itulah makna teologi lingkungan untuk memelihara keutuhan ciptaan Tuhan, dan ternyata mendapat sambutan positif jemaat.</p>
<p><strong>Carbon Foot Print (CFP)</strong></p>
<p>Semua orang sadar bahwa hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia, karena melepaskan oksigen (O2) ke udara dan serentak dengan itu mengikat CO2. Tetapi penebangan dan pembakaran hutan justru melepaskan CO2 ke angkasa luas, sehingga menipiskan lapisan ozon, dan menyebabkan pemanasan global dan merusak iklim, yang pada gilirannya mengakibatkan banjir dan kebakaran, seperti yang dialami dunia belakangan ini.</p>
<p>Keanekaragaman hayati (biodiversity) yang rusak karena penebangan hutan, menyebabkan kerusakan lingkungan hidup orangutan, gajah, babi hutan dan kalong. Hewan-hewan inilah penjaga kelestarian hutan dengan menyebarkan biji-bijian dari buah yang dimakannya, tetapi manusia merusak habitat itu, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa suku-suku tradisional yang hidupnya sangat bergantung dari keutuhan hutan juga dikorbankan, sungguh pun hak mereka dilindungi oleh United Nations Declaration on the Rights on Indigenous Peoples, yang sudah dicakup dalam UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sungguh pun Indonesia belum diratifikasi UN Declaration tersebut.</p>
<p>Sangat disadari, bahwa Revolusi Industri di pertengahan abad ke-18, yang dimulai dengan penemuan dan penggunaan mesin yang digerakkan tenaga uap, sangat bergantung pada penggunaan bahan bakar fosil, yakni batubara.<br />
Penggunaan batubara mengakibatkan emisi bergiga-giga ton Gas Rumah Kaca (GRK) ke udara, di antaranya CO2. Hal itu diperparah kemudian dengan penggunaan bahan bakar fosil lainnya, yakni minyak bumi. Dengan demikian, saudara kembar bahan bakar fosil, yakni batubara dan minyak bumi, digunakan kelompok negara-negara industri. Kelompok itu dikenal dalam UNFCCC/KP sebagai negara-negara Annex I, yang dianggap bersalah dan dinyatakan sebagai penyebab utama pemanasan global, melalui emisi GRK. Ternyata gas CO2 itu tetap di udara selama seratus tahun.</p>
<p>Terdapat daftar yang diumumkan UNFCCC/KP tentang besarnya CFP masing-masing negara Annex I. Oleh karena itu, secara hukum mereka bertanggungjawab atas emisi GRK selama ini. Sesuai daftar CFP tersebut, maka dinyatakan Amerika Serikat sebagai The Worst Polluter, namun tidak mau menandatangani Kyoto Protocol, sehingga tidak terikat kewajiban memperkecil CFP-nya, dengan alasan mengganggu ekonominya. Peringkat USA kini direbut Republik Rakyat Tiongkok (RRT), karena derasnya kemajuan ekonominya. Jadi terdapat suatu hubungan kausal antara CFP, yakni emisi GRK ke udara dan tingkat pertumbuhan ekonomi.</p>
<p>Sekarang, The Worst Polluter RRT, dan USA: Second Worst Polluter. Namun, anehnya, dalam peringkat CFP posisi Indonesia: Third Worst Polluter. Jadi dalam ekuasi itu, posisi peringkat ketiga ekonomi dunia. Tetapi mengapa tidak demikian? Ternyata, peringkat ketiga dunia yang diperoleh Indonesia, justru karena bersalah menebang dan membakar hutan, yang mengakibatkan derasnya emisi gas rumah kaca (GRK) ke angkasa. Akibatnya, turut menyebabkan peningkatan pemanasan global. Tetapi, berbeda dengan RRT dan USA, ekonomi Indonesia tidak memperoleh manfaat apa pun. Jadi suatu mismanagement lokal yang berdampak global. Sungguh pun tidak ada komitmen, seperti kelompok Annex I, tetapi Indonesia harus berupaya menurunkan CFP melalui mitigasi emisi GRK-nya. Dalam ini, sesuai UNFCCC/KP Indonesia dihimbau memperkecil CFP, dengan menurunkan emisi GRK, dan kita bangga bahwa proses itu telah dimulai di jemaat GKI PI melalui Bulan Peduli Lingkungan. Tentu ada kelanjutannya, tetapi yang penting sudah ada apresiasi jemaat, seperti dilaporkan Panitia dalam Warta Jemaat, 29 Mei 2011, halaman 24.</p>
<p><strong>Usaha Penurunan Emisi GRK</strong></p>
<p>Mungkin karena posisi Indonesia di peringkat ketiga emisi GRK, sesuai UN FAO Report 2000, maka diadakanlah Conference of Parties (COP) UNFCCC ke-13 di Denpasar, Bali, pada bulan Desember 2007, yang diikuti sekitar sepuluh ribu pengunjung. Menteri Lingkungan Hidup RI menjadi Ketua COP UNFCCC tersebut, dan dianggap berhasil karena merumuskan Bali Road Map, yang mencakup Bali Action Plan, yakni upaya ke arah penurunan CFP melalui pengurangan emisi GRK kelompok Annex I sebesar 5,2% hingga tahun 2012, berdasarkan tingkat emisi mereka tahun 1990. Mereka juga wajib membantu biaya pengurangan emisi GRK negara-negara berkembang. Dalam konteks itu, setelah COP 13 UNFCCC di Bali, dapat diperoleh janji penyediaan US$ 1 milyar bagi Indonesia oleh Norwegia, agar proyek moratorium penebangan hutan dapat dilaksanakan, yang menuju kepada pengurangan emisi GRK.</p>
<p>Di samping dana tersebut pada COP UNFCCC #13 di Bali dicanangkan peluncuran dana The Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) oleh Bank Dunia. Dengan demikian, maka UNFCCC yang semula difokuskan pada emisi CO2 yang dikaitkan dengan akibat penggunaan bahan bakar fosil, mulai bergeser fokusnya, karena terjadi paradigm shift. Fokus itu kini diarahkan kepada fungsi hutan, sebagai carbon reservoir, karena kemampuannya mengikat CO2. Oleh karena 70% emisi GRK Indonesia berasal dari perusakan hutan, maka dimulai proyek REDD (Reducing Deforesation &amp; Forest Degradation), yang dicanangkan di Bali pada tahun 2007. Program REDD, dalam konteks manajemen hutan, kini ditambah dengan forest conversation, sehingga menjadi REDD+ (REDD Plus). Menurut laporan UNFCCC 2007, emisi GRK Indonesia: 80% dari penggundulan hutan, 14% dari penebangan liar, sedang 5% dari pengambilan bahan bakar kayu api.</p>
<p>Yang diharapkan dari pemerintah adalah ketegasan manajemen hutan secara komprehensif, dengan memperhatikan kepentingan perkebunan kelapa sawit, yang mempunyai kedudukan strategis dalam perekonomian, tetapi juga kepentingan suku-suku yang hidupnya bergantung dari hutan, melalui perlindungan UN Declaration of the Rights of Indigeneous Peoples, dan fungsi hutan-hutan lindung, yang berperan sebagai paru-paru yang memasok oksigen, dan sebagai mengikat CO2, jadi fungsinya sebagai carbon reservoir.</p>
<p>Usaha Bersama</p>
<p>Apabila membaca UU No. 32/2009, tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka tidak dapat dihindari kesan bahwa ini adalah penjabaran UNFCCC/KP, termasuk penampungan UN Declaration of the Rights of Indigenous Peoples. Juga dijumpai kewajiban korporasi melalui Social Corporate Responsibility (CSR) dalam UU Perseroan Terbatas, serta kewajiban pribadi, yang diupayakan melalui pesan mimbar, dan penyelenggaraan Bulan Peduli Lingkungan di GKI Pondok Indah, sehingga menyentuh secara nyata kegiatan perseorangan ke arah penururan emisi GRK dan memperkecil CFP, berarti berpartisipasi dalam proses mengurangi pemanasan global.</p>
<p>Paul P. Poli</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/emisi-gas-rumah-kaca-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran Pemuda Kristen di Masyarakat</title>
		<link>http://gkipi.org/peran-pemuda-kristen-di-masyarakat/</link>
		<comments>http://gkipi.org/peran-pemuda-kristen-di-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 14:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6150</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Selasa 7 Desember 2010, pengurus Pemuda Klasis Jakarta II mengadakan seminar yang dipimpin oleh Pdt. Albertus Patty dari GKI Maulana Yusuf. Karena sedikitnya peserta yang hadir pada waktu itu, akhirnya konsep acara diubah menjadi bentuk diskusi. Pada diskusi ini, Pdt. Albertus Patty pertama-tama mengawalinya dengan pemaparan singkat mengenai bagaimana seharusnya peran pemuda dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Selasa 7 Desember 2010, pengurus Pemuda Klasis Jakarta II mengadakan seminar yang dipimpin oleh Pdt. Albertus Patty dari GKI Maulana Yusuf. Karena sedikitnya peserta yang hadir pada waktu itu, akhirnya konsep acara diubah menjadi bentuk diskusi. Pada diskusi ini, Pdt. Albertus Patty pertama-tama mengawalinya dengan pemaparan singkat mengenai bagaimana seharusnya peran pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Sejak dahulu pemuda telah memegang peranan penting di dalam perkembangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1908 berdirilah organisasi pemuda lokal bernama Budi Oetomo, yang disusul oleh organisasi-organisasi lokal lainnya seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1928 lahirlah Sumpah Pemuda yang kita kenal hingga saat ini.</p>
<p>Pada tahun 1945, pada masa memperjuangkan kemerdekaan, peran Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Peran pemuda terus berlanjut, dan pada tahun 1998 para pemuda dan mahasiswa ikut berpartisipasi dalam menundukkan rezim mantan Presiden Soeharto yang telah 32 tahun memerintah sebagai Kepala Negara kita.</p>
<p><strong>Apakah pemuda Kristen terlibat di dalam perjuangan ini?</strong></p>
<p>Pada masa penjajahan Belanda berpuluh-puluh tahun yang lalu, pemuda-pemuda Kristen sudah berperan aktif dalam pembangunan bangsa Indonesia. Ada Leimena, Latuharhary, Sam Ratulangi, dan lainnya. Mereka mengikuti persekutuan dan pemahaman Alkitab yang pada waktu itu dipimpin oleh orang Belanda. Mereka diajak berpikir mengenai keadaan sosial negeri ini, dan mulai menyadari bahwa Indonesia harus melawan Belanda, meskipun mereka mendapatkan pendidikan Kristen dari orang Belanda. Leimena menjadi orang kepercayaan Presiden Soekarno dan menjabat sebagai pejabat Presiden sebanyak tujuh kali. Di sini kita bisa melihat betapa pemuda-pemuda Kristen seperti Leimena dapat dipakai Tuhan untuk membangun negeri ini.</p>
<p>Jika kita merefleksikan diri kita, para pemuda Kristen masa kini, apakah peran kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Atau… mungkin tidak perlu sampai sejauh itu. Apakah yang sudah kita perbuat sebagai pemuda Kristen bagi lingkungan di sekitar kita?</p>
<p><strong>Pdt. Albertus Patty menjelaskan tiga model pemuda berdasarkan perannya, yaitu:</strong></p>
<ol>
<li>Pemuda yang berkontribusi positif. Pemuda semacam ini dapat kita lihat contohnya dalam sejarah bangsa ini, seperti pada saat Sumpah Pemuda, atau pada peristiwa tahun 1998. Pemuda yang berkontribusi positif menyadari betul tujuan hidupnya, dan karena itu berani berbuat sesuatu yang baik bagi bangsa ini.</li>
<li>Pemuda yang berkontribusi negatif. Apa ada? Ya memang ada. Contohnya mereka yang terlibat tawuran antar pelajar atau mahasiswa, dan semacamnya.</li>
<li>Pemuda yang tidak memberi kontribusi. Mengapa mereka tidak memberi kontribusi? Banyak alasannya. Merasa tidak mampu, bingung harus berbuat apa, apatis, cuek saja dengan permasalahan yang ada, tidak merasa bagian dari kesulitan itu, tidak memiliki kepekaan sosial, atau alasan-alasan lainnya.</li>
</ol>
<p><strong>Lalu sekarang apa yang bisa kita perbuat sebagai pemuda Kristen di tengah masyarakat?</strong></p>
<p>Saya teringat pada ayat Alkitab pada Yeremia 29:8. &#8220;<em>Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.</em>&#8221;</p>
<p>Di mana kita tinggal? Indonesia? Lebih spesifik lagi, Jakarta? Bandung? Aceh? Papua? Saya rasa fokus utamanya bukan mengenai di mana kita tinggal. Yang terpenting adalah di mana kita berada, kita harus mengusahakan kesejahteraannya. Walaupun mungkin di mata kita pemerintah sendiri tidak cukup baik mengusahakan kesejahteraan bangsa ini, tetapi kita tinggal di negeri ini. Dampak dari baik atau buruknya negeri ini, secara langsung maupun tidak langsung pasti akan berhubungan dengan kehidupan kita di negeri ini.</p>
<p>Sering kali kita sebagai pemuda hanya berhenti sampai tahap mengritik, menyanggah, atau bahkan mencela. Dalam lingkup gereja, mayoritas pemuda Kristen saat ini mungkin hanya menjadi &#8220;jago-jago kandang.&#8221; Maksudnya, hanya pintar dan berkembang di gereja mereka sendiri saja, tetapi ketika harus mengambil bagian di masyarakat luas, atau bahkan di lingkup klasis atau sinode, mereka melempem.</p>
<p>Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai pemuda-pemudi Kristen di tengah-tengah gereja, atau bahkan bangsa dan negara ini. Berdoa sudah pasti. Namun, bukan hanya doa yang dapat kita berikan bagi bangsa ini, bagi dunia. Harus ada perbuatan yang kita lakukan. Banyak berdiskusi dan kritis terhadap permasalahan politik, sosial, ekonomi maupun lainnya, menulis di koran, media massa, atau media elektronik, memberi perhatian terhadap permasalahan yang ada di dalam bangsa ini, dan terjun langsung untuk membantu para korban bencana, hanya sebagian di antara begitu banyak hal yang dapat kita lakukan.</p>
<p>Pdt. Albertus Patty berkata bahwa hendaknya kita menjadi pintar dan cerdas agar dapat membangun negeri ini. Caranya, dengan banyak membaca. Beliau membagikan prinsip yang menurut saya sangat baik, &#8220;Jangan lewati 1 menit, atau 1 jam tanpa menjadi lebih pintar dari sebelumnya.&#8221; Banyak membaca, berdiskusi mengenai berbagai hal, ikut seminar atau segala metode yang dapat membuat kita lebih pintar dan lebih berwawasan lagi.</p>
<p>Kemudian Pdt. Albertus Patty melontarkan pertanyaan selanjutnya. Apakah gereja telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan pemuda-pemudi gereja? Apakah pemuda-pemudi gereja diajarkan untuk bisa menjadi pemimpin masa kini? Belajar untuk peduli terhadap bangsa, terhadap lingkungan sekitar? Dalam diskusi tersebut kami merasa bahwa jawabannya adalah tidak. Gereja banyak memberi perhatian terhadap hubungan personal manusia dengan Tuhan. Terus-menerus hal tersebut dibahas dan menjadi perhatian. Namun, gereja masih kurang dalam hal kepedulian terhadap masyarakat, dalam membentuk generasi muda bagi kemajuan gereja dan bangsa, padahal generasi mudalah yang menjadi pewaris masa depan.</p>
<p>Khususnya di GKI Pondok Indah, saya pribadi merasa hal tersebut juga berlaku, walaupun sekarang sudah terdapat banyak kemajuan. Semakin banyak progam kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan sesama, dan terutama dari visi gereja kita saat ini, muncul kata &#8220;peduli&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Oleh karena fakta yang ada, saya pribadi pun merasa tergelitik dan terdorong untuk terus melatih kepedulian saya terhadap gereja dan bangsa ini, serta berusaha mengajak pemuda-pemudi di sekitar saya untuk bersama membangun masa depan yang lebih baik. Kita adalah WNI, jadi selayaknya berpartisipasi secara aktif dan positif.</p>
<p>Sehubungan dengan peran yang seharusnya dimiliki oleh pemuda-pemudi Kristen, saya merasa bahwa di GKI Pondok Indah di mana saya bertumbuh, generasi muda lebih sering dipercaya untuk melakukan pekerjaan yang menggunakan fisik. Dalam kepanitiaan misalnya, pemuda sering dimasukkan dalam bagian perlengkapan. Namun seiring berjalannya waktu, gereja tercinta kita ini terus-menerus berbenah, khususnya dalam pengembangan generasi muda. Beberapa kepanitiaan umum terakhir semakin banyak melibatkan pemuda dan remaja. Bahkan kepanitiaan Natal Bintaro 2010 berisikan orang-orang muda. Pemusik-pemusik yang melayani di kebaktian umum pun sering kali berasal dari kaum muda gereja.</p>
<p>Menurut pandangan saya, gereja ini seyogyanya semakin mempercayakan berbagai bentuk pelayanan kepada orang-orang muda. Pemikiran, pandangan, pendapat, kritik, saran dari generasi muda pasti punya andil dalam pengembangan gereja. Pemuda perlu menjadi ujung tombak gereja. Siapa tahu kalau ternyata kelak muncul &#8220;Leimena&#8221; baru atau kepala negara yang berasal dari pemuda-pemuda Kristen yang dibentuk gereja?</p>
<p>Saya teringat pada kata-kata Pdt. Joas Adiprasetya pada suatu lokakarya yang saya hadiri. &#8220;Pemuda bukanlah pemimpin masa depan gereja, tetapi pemuda adalah pemimpin masa kini gereja.&#8221; Saya mengimani kata-kata tersebut, walaupun sejujurnya saya masih perlu bimbingan untuk menerapkannya di dalam kehidupan bergereja. Apa yang bisa saya perbuat sebagai pemimpin masa kini gereja?</p>
<p>Sebagai langkah awal, saya berkomitmen untuk mencurahkan perhatian dan kepedulian saya bagi perkembangan gereja, terutama GKI Pondok Indah, namun juga bagi bangsa dan dunia ini. Mari teman-teman pemuda, kita berjuang!</p>
<p>Riyanto Setyawan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/peran-pemuda-kristen-di-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekerja</title>
		<link>http://gkipi.org/bekerja/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 02:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6068</guid>
		<description><![CDATA[Ditinjau dari karya Sang Anak Manusia melalui perspektif Penatalayanan, kami berbagi dan berdiskusi tentang hakikat manusia yang perlu bekerja. Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja sejak awal penciptaan manusia sampai sekarang. Para rasul pun bekerja sambil mengabarkan Injil. Karena itu kita juga harus bekerja keras untuk melayani Tuhan, memenuhi kebutuhan hidup kita, dan membantu orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditinjau dari karya Sang Anak Manusia melalui perspektif Penatalayanan, kami berbagi dan berdiskusi tentang hakikat manusia yang perlu bekerja. Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja sejak awal penciptaan manusia sampai sekarang. Para rasul pun bekerja sambil mengabarkan Injil. Karena itu kita juga harus bekerja keras untuk melayani Tuhan, memenuhi kebutuhan hidup kita, dan membantu orang lain.</p>
<p>Bekerja adalah sebuah kata yang sering kita ucapkan dan dengar setiap hari. Sebagian besar waktu kita, terutama yang hidup di kota-kota besar, juga dipergunakan untuk bekerja. Dalam seminggu, lima atau enam hari kita pergunakan untuk bekerja. Bekerja sudah menjadi rutinitas keseharian kita, sehingga hakikat dari bekerja itu akhirnya sering terlupakan. Pada umumnya, bekerja dipersepsikan hanya untuk mencari uang atau penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga untuk menambah harta kekayaan bagi sebagian kecil masyarakat kita. Pemahaman seperti ini tidak salah, tetapi hakikat dari bekerja sebenarnya jauh lebih bermakna daripada sekadar materi.</p>
<p>Bekerja tidak kalah pentingnya dengan beribadah di gereja, mengikuti persekutuan rohani, ataupun kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kerohanian. Kegiatan rohani memang penting, tetapi bekerja juga penting. Ada pemahaman yang keliru di dalam sekelompok masyarakat yang menganggap kegiatan rohani jauh lebih penting ketimbang bekerja. Hakikat dari manusia itu sendiri adalah bekerja. Hidup untuk bekerja. Karena itu, bekerja dan kegiatan spiritual mempunyai nilai yang sama.</p>
<p>Sejak diciptakan, manusia sudah diperintahkan untuk bekerja. Dalam kitab Kejadian, Tuhan memerintahkan manusia pertama, Adam, untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden yang diperuntukkan bagi manusia (Kej 2:15). Oleh karena itu, manusia harus bekerja bukan karena sudah jatuh dalam dosa. Sebelum dosa ada, manusia sudah harus bekerja. Akan tetapi, setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia harus bekerja untuk hidup, manusia harus bersusah payah mencari nafkah (Kej 3:17).</p>
<p>Semua pekerjaan yang tidak melanggar hukum Allah bernilai sama di hadapan Tuhan. Ada beberapa contoh di dalam Injil di mana Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai gembala dan pelayan, yang merupakan pekerjaan yang dianggap rendah oleh  masyarakat zaman dulu dan bahkan sampai sekarang. Meskipun demikian, sesungguhnya semua pekerjaan yang dilakukan dengan jujur dan takut akan Tuhan diberkati oleh-Nya. Tentu hal ini berbeda dengan bekerja sebagai pencuri, perampok, pelacur, dan sebagainya, yang tidak sesuai dengan perintah Allah.</p>
<p>Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu bekerja, sejak penciptaan sampai sekarang dan di masa yang akan datang, Ia bukan Tuhan yang tinggal diam berleha-leha di surga. Tuhan bekerja dengan menciptakan dunia ini beserta segala isinya sehingga semuanya menjadi baik. Dalam Perjanjian Lama, kita membaca bagaimana Tuhan bekerja menyertai bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, dan setelah itu pun Tuhan masih tetap hadir bersama umat-Nya. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia adalah bukti nyata bahwa Ia terus bekerja untuk menebus dosa manusia.</p>
<p>Dalam Perjanjian Baru, kita juga bisa melihat bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu bekerja. Di dalam Markus 16:20 disebutkan, “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Yohanes 9:4 mengatakan, “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Roma 8:28 pun menulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Wafatnya Tuhan Yesus di kayu salib merupakan karya penebusan dosa manusia, suatu pengorbanan fenomenal dalam cara Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia.</p>
<p>Setelah Yesus naik ke surga, para murid Tuhan Yesus mengabarkan kabar gembira keselamatan itu ke seluruh penjuru dunia, dan tetap bekerja. Panggilan untuk melayani Tuhan dengan mewartakan Injil itu tidak menyebabkan mereka lupa atau tidak perlu lagi bekerja. Dalam Kisah Para Rasul  20:34 dikatakan, “Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” Di dalam 1 Tesalonika 2:9, Paulus juga menulis, “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” Melaksanakan pelayanan bagi kemuliaan kerajaan Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bekerja atau malas-malasan bekerja.</p>
<p>Tuhan kita adalah Tuhan yang terus bekerja. Para murid Tuhan Yesus juga bekerja untuk kebutuhan jasmani mereka, dan pada saat bersamaan juga menyebarkan Injil ke berbagai belahan dunia. Kita juga harus bekerja untuk kebutuhan jasmani, dan beribadah kepada Tuhan untuk kebutuhan rohani. Dikotomi seperti ini tidaklah terlalu tepat, karena bekerja bisa juga merupakan bagian dari ibadah kita kepada Tuhan. Untuk bisa beribadah dengan baik, kondisi jasmani kita harus mendukung, dan pemenuhan kebutuhan jasmani ini didapat dari bekerja.</p>
<p>Manusia yang tidak bekerja, jelas bukanlah manusia yang berkenan bagi Tuhan. Perumpamaan tentang talenta yang sering kita dengar atau baca, adalah perintah Tuhan yang dengan tegas mengatakan bahwa kita yang sudah diberi berkat oleh Tuhan, harus bekerja untuk mengusahakan agar berkat titipan Tuhan itu bertambah banyak.</p>
<p>Dalam Perjanjian Baru, kita membaca bahwa jemaat Tuhan pernah ditegur karena tidak bekerja. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah 2 Tesalonika 3:10, “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ayat tersebut dilanjutkan di 2 Tesalonika 3:11 dengan, “Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.”</p>
<p>Sebagai umat Kristen, kita tidak cukup hanya bekerja tapi kita juga harus bekerja keras. Kita harus bekerja keras untuk mendapat penghasilan yang berlebih sehingga bisa memberi kepada yang kekurangan. Akan lebih bijak lagi, bila dari hasil kerja keras kita, kita bisa membuka kesempatan bekerja bagi orang lain yang membutuhkannya sehingga mereka pun bisa memenuhi kebutuhan hidup dari hasil pekerjaan mereka.</p>
<p>Perintah untuk bekerja keras dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru, misalnya Efesus 4:28, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang kekurangan.”</p>
<p>Perintah untuk membantu orang lain bisa kita baca di dalam Kisah Para Rasul 20:35, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”</p>
<p>Patut juga dicatat bahwa kerja keras kita harus cerdas, tidak sekadar bekerja keras, namun harus bisa menghasilkan uang berlebih untuk dapat menolong orang lain.</p>
<p>Materi hasil kerja keras kita adalah milik Tuhan. Manusia diberi talenta oleh Tuhan untuk menghasilkan lebih banyak talenta lagi yang harus dikembalikan kepada-Nya. Semua yang kita kuasai di dunia ini adalah milik Tuhan, yang diserahkan kepada kita untuk dipergunakan bagi kemuliaan kerajaan Allah. Kita bisa memiliki materi yang kita punyai sekarang hanya karena perkenan Tuhan.</p>
<p>Oleh karena itu dalam bekerja, kita tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia yang memberikan pekerjaan, atasan kita, pemegang saham perusahaan, atau pun pelanggan atau klien kita, tetapi kepada Tuhan Allah kita sebagai pemilik mutlak atas semua yang ada di dunia ini, termasuk kekayaan pemegang saham perusahaan atau pelanggan  atau klien kita. Sehingga gambar struktur organisasi perusahaan akan menjadi seperti berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a  href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/06/kerja.gif" class="thickbox no_icon" rel="gallery-6068" title="kerja"><img class="aligncenter size-full wp-image-6069" style="border: 2px solid #ccc;" title="kerja" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/06/kerja.gif" alt="" width="250" height="226" /></a></p>
<p>Dalam masyarakat kita, ada pemahaman yang membedakan antara berdoa dan bekerja, seolah-olah keduanya merupakan kegiatan yang terpisah. Pada umumya, kita akan diminta berdoa sebelum dan sesudah melakukan suatu aktivitas, termasuk bekerja. Dikotomi seperti ini bisa mengaburkan makna yang hakiki dari kedua kegiatan ini. Salah satu cara berdoa yang benar adalah bekerja dengan penuh tanggung jawab serta disiplin.  Bekerja dengan penuh tanggung jawab dan disiplin adalah doa dan ibadah kepada Tuhan. Selamat bekerja.</p>
<p>Ali Rahman, Tim Friday Fellowship</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkomunitas</title>
		<link>http://gkipi.org/berkomunitas/</link>
		<comments>http://gkipi.org/berkomunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 16:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5808</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai makhluk sosial, manusia harus bergaul dengan manusia lainnya. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa hidup sendiri, tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia harus berinteraksi dengan manusia lain karena manusia mempunyai kebutuhan dan dia harus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Yang paling sederhana, misalnya kebutuhan untuk makan dan minum. Untuk memenuhinya dia harus berinteraksi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai makhluk sosial, manusia harus bergaul dengan manusia lainnya. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa hidup sendiri, tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia harus berinteraksi dengan manusia lain karena manusia mempunyai kebutuhan dan dia harus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya.</p>
<p>Yang paling sederhana, misalnya kebutuhan untuk makan dan minum. Untuk memenuhinya dia harus berinteraksi dengan orang lain, lain halnya dengan binatang yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Sejak bayi, manusia sudah membutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia yang paling primitif pun mempunyai komunitas untuk berinteraksi dengan sesamanya.</p>
<p>Dalam memilih tempat untuk berinteraksi, manusia cenderung mencari komunitas atau orang-orang yang mempunyai kesamaan dengan dirinya. Apakah kesamaan dalam minat, dalam hobi, dalam pekerjaan atau profesi, dalam olahraga, dalam harapan, dalam penderitaan, dalam pelayanan, dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai seorang Kristen, bagaimana dan di mana kita berinteraksi dengan sesama orang Kristen? Yang pasti di gereja, tetapi gereja juga bisa tidak menjadi tempat untuk berinteraksi. Bagi jemaat yang langsung pulang setelah kebaktian usai, gereja bukanlah tempat yang pas untuk berinteraksi. Mungkin mereka mempunyai tempat lain untuk berinteraksi, gereja hanya tempat ibadah semata. Gereja bukan menjadi komunitas buat mereka.</p>
<p>Tempat lain untuk berinteraksi bagi jemaat adalah di persekutuan, bisa persekutuan di wilayah atau persekutuan di komunitas basis (Kombas) yang sudah ada lebih dari sepuluh tahun. Akan tetapi, untuk sebagian jemaat, Persekutuan Wilayah atau Persekutuan Kombas juga tidak selalu pas atau cocok menjadi tempat untuk berinteraksi. Sebabnya bisa macam-macam, bisa tidak cocok waktunya, bisa tidak cocok dengan orang-orangnya, bisa tidak cocok dengan acaranya, bisa tidak cocok dengan minatnya dan bisa tidak cocok dengan 1001 sebab yang lain.</p>
<p>Sebagai pengikat yang paling kuat dalam suatu komunitas, sehingga anggotanya mau berinteraksi adalah komunitas yang bisa memenuhi kebutuhannya. Komunitas yang bisa memuaskan kebutuhan para anggotanya akan menjadi tempat yang paling menyenangkan, anggota akan merindukan untuk berinteraksi dengan anggota komunitas lainnya. Kesempatan untuk berkumpul di komunitas itu akan sangat ditunggu-tunggu.</p>
<p>Persekutuan Kombas (teritorial), dalam beberapa hal, mungkin kurang cocok bagi kita, tetapi persekutuan ini adalah persekutuan yang dipersiapkan. Topik dan materi yang akan dibahas dalam persekutuan ini sudah disiapkan oleh Pendeta, dan materi ini akan dibahas di dalam setiap Persekutuan Kombas yang ada.</p>
<p>Persekutuan Kombas tidak sama dengan Pemahaman Alkitab atau Persekutuan Doa. Suasana dalam persekutuan ini lebih bersifat sharing dan diskusi, sehingga tidak kaku dan lebih santai. Kita bisa berbagi tentang pengalaman, pendapat atau bertanya tentang berbagai hal, tentunya yang berhubungan dengan topik yang dibahas. Kita juga dapat memperoleh sesuatu dari pembacaan Firman Tuhan, sharing, pendapat atau pengalaman orang lain yang disampaikan dalam persekutuan itu.</p>
<p>Ada kata-kata bijak yang mengatakan, “Menjadi siapa kita dalam beberapa tahun ke depan tergantung dengan siapa kita bersekutu atau bergaul”. Kalau kita sering bergaul dengan para pencopet, dalam beberapa waktu kita akan menjadi pencopet juga. Persekutuan Kombas adalah persekutuan yang sudah dirancang agar para anggota atau para peserta mendapatkan sesuatu yang bermanfaat, artinya persekutuan ini adalah persekutuan yang positif, bukan tempat bergunjing atau tempat bergosip.</p>
<p>Mari kita jadikan Persekutuan Kombas ini menjadi pertemuan yang ditunggu-tunggu, di mana kita bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Mari kita tentukan mau menjadi manusia seperti apa kita dalam beberapa tahun ke depan.</p>
<p>Sindhu Sumargo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/berkomunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

