<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Sudut Hidup</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/sudut-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Drama In Real Lives</title>
		<link>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/</link>
		<comments>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 15:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7275</guid>
		<description><![CDATA[Judul tersebut diambil dari majalah Reader Digest, yang isinya merupakan pengalaman nyata seseorang yang menghadapi suatu peristiwa yang cukup sulit, mencemaskan, mencekam dan hampir putus asa, namun akhirnya terlepas dari situasi tersebut. Lolosnya dia dari situasi tersebut disajikan secara dramatis, di luar kemampuan nalar maupun kekuatan fisiknya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menuturkan pengalaman pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul tersebut diambil dari majalah Reader Digest, yang isinya merupakan pengalaman nyata seseorang yang menghadapi suatu peristiwa yang cukup sulit, mencemaskan, mencekam dan hampir putus asa, namun akhirnya terlepas dari situasi tersebut. Lolosnya dia dari situasi tersebut disajikan secara dramatis, di luar kemampuan nalar maupun kekuatan fisiknya.</p>
<p>Tujuan tulisan ini adalah untuk menuturkan pengalaman pribadi yang benar-benar dialami oleh beberapa teman seiman kita. Biarlah para pembaca menilai sendiri, apakah pengalaman yang mereka alami itu temasuk mukjizat atau kejadian biasa (taken for granted), namun yang pasti, mereka masing-masing meyakini bahwa hanya tangan Bapa, Tuhan yang begitu mengasihi anak-anak-Nya, mengizinkan hal itu terjadi demi kemuliaan-Nya.</p>
<p><strong>JUST IN TIME</strong><br />
Pada saat istirahat usai jalan kaki pagi hari, yang mengawali acara retret Komisi Senior GKI PI di Pondok Remaja, saya melihat Pak Markus sedang berdiri seorang diri. Kesempatan itu saya pergunakan untuk berbincang-bincang dengannya. Mula-mula pembicaraan kami berkisar pada hal-hal biasa sekitar retret dan perkembangan Komisi Senior, namun kemudian berlanjut dengan kisah pengalaman sakit mata Pak Markus, yang berkat pertolongan Tuhan telah sembuh kembali. Saat itu waktu terlalu singkat untuk mendengar semuanya, dan kisah yang utuh baru terungkap ketika saya dan istri saya berkunjung ke rumahnya.</p>
<p>Peristiwa ini terjadi pada awal tahun April 1997. Ketika itu mata kiri Pak Markus terasa sakit yang kemudian menjalar ke belakang kepalanya. Dokter umum yang ditemuinya menganjurkan agar ia memeriksakan diri ke seorang internis, yang pada gilirannya menasihatinya untuk pergi ke dokter mata. Oleh dokter mata, ia disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis syaraf. Di sana, dokter spesialis syaraf tersebut mengatakan bahwa Pak Markus mungkin menderita tumor di kepala dan dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis syaraf/tumor otak di RS. Mount Elizabeth, Singapura. Namun ketika Pak Markus menghubungi rumah sakit tersebut, ternyata ia tidak dapat segera diperiksa karena belum ada tempat yang kosong. Persoalan lain muncul karena paspor Pak Markus dan Bu Lian sudah kedaluwarsa.</p>
<p>Sebelum sakit, Pak Markus selalu mandiri dalam melakukan kegiatan rutinnya, termasuk menyetir mobil. Tetapi ketika keadaannya semakin memburuk, ia harus selalu dituntun oleh Ibu Lian. Sambil menunggu pengurusan paspor, Pak Markus kemudian memeriksakan diri ke dokter lain, yang menganjurkannya untuk pergi ke RSCM dan berkonsultasi dengan seorang dokter senior yang juga profesor di Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa RSCM memiliki peralatan yang lebih lengkap, yang tidak dimiliki oleh banyak rumah sakit lain, seperti MRI.</p>
<p>Hasil pemeriksaan dokter ahli di RSCM mengatakan bahwa tidak ada tumor di kepala Pak Markus. Ia menderita glaukoma dan disarankan untuk segera memeriksakan diri kembali ke dokter mata. Namun, ke dokter mata mana? Puji Tuhan, Pak Markus teringat pada sahabatnya di klub tenis yang berprofesi sebagai dokter mata. Ia segera menelponnya dan diminta untuk datang keesokan harinya. Pak Markus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.</p>
<p>Keesokan harinya, sahabatnya itu menegaskan bahwa ia memang benar menderita glaukoma akut, yang jika tidak segera ditangani akan menyebabkan cacat mata. Hari itu juga, dan diteruskan sampai dua hari berikutnya, Pak Markus menjalani tindakan pembedahan. Sebenarnya praktik dokter mata ini sangat laris sehingga calon pasien yang ingin berkonsultasi kepadanya harus mengadakan janji temu dua bulan sebelumnya. Tetapi atas pertolongan Tuhan, Pak Markus dapat segera ditangani. Pembedahan yang cukup rumit itu pun berhasil, dan mata Pak Markus pulih kembali sehingga ia dapat beraktivitas lagi sebagai arsitek sampai sekarang.</p>
<p>Apa yang dialami oleh Pak Markus merupakan peristiwa yang sangat dahsyat. Dalam kurun waktu 3 hari ia ditangani oleh 7 dokter, dan dalam 3 hari berikutnya ia menjalani tindakan pembedahan yang rumit, yang terlaksana dengan sukses.</p>
<blockquote><p><em>Peliharalah aku seperti biji mata-Mu, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu (Mazmur 17:8)</em></p></blockquote>
<p>(Pak Markus memberikan saran bahwa jika para senior memeriksakan mata, sebaiknya pergi ke dokter mata dan tidak ke ahli kacamata saja, karena glaukoma dapat sewaktu-waktu menyerang kita, dan tidak terbatas pada usia lanjut. Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, silakan menghubungi Pak Markus Anggana).</p>
<p><strong>IT’S A MIRACLE</strong><br />
Beberapa tahun yang lalu saya dan isteri saya menghadiri kebaktian pengucapan syukur di kediaman Pak Frits Sindu atas kesembuhan beliau dari sakit prostat, setelah melalui proses tindakan berkali-kali dan penderitaan fisik yang berat.</p>
<p>&#8220;It’s a miracle,&#8221; kata Bu Evie, istrinya. Dalam kamus Collins Cobuild (student dictionary) kata &#8220;miracle&#8221; didefinisikan sebagai berikut: &#8220;Miracle is a wonderful and surprising event that is believed to cause by God&#8221; (Mukjizat adalah peristiwa luar biasa dan mengejutkan yang diyakini disebabkan oleh Allah).</p>
<p>Peristiwa ini dimulai pada tahun 1980 ketika Pak Frits menemani ayahnya ke Jerman untuk menjalani pemeriksaan kantong kemih dan prostat yang terkena kanker. Adik Pak Frits seorang dokter dan sedang studi di sana. Pada waktu itu, Pak Frits mengantarkan ayahnya untuk berjumpa dengan temannya, seorang dokter Indonesia yang sedang mengikuti spesialisasi urologi di Jerman. Setelah diperiksa oleh dokter tersebut dan profesornya, ternyata penyakit ayah Pak Frits sudah memasuki stadium lanjut sehingga mereka menganjurkan agar ia dibawa kembali ke Indonesia. Sejak itu Pak Frits dan dokter urolog Indonesia ini tetap saling berkomunikasi.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, pada suatu hari urolog tersebut menghubungi Pak Frits. Ia sedang berada di Jakarta dan meminta bantuan Pak Frits untuk mengurus formalitas pabean dan imigrasi karena ia mengadopsi seorang bayi Indonesia yang hendak dibawanya ke Jerman. Pak Frits membantunya sehingga adopsi tersebut berjalan lancar dan bayi itu dapat dibawa ke Jerman. Sebelum berpisah, urolog tersebut berpesan bahwa kalau suatu hari nanti Pak Frits memerlukan bantuan medis, ia tidak usah segan menghubunginya dan sahabatnya ini akan berusaha membantunya. Pak Frits tidak menyangka bahwa hal ini kelak sungguh-sungguh akan menjadi kenyataan.</p>
<p>Pada tahun 1994 Pak Frits mulai merasakan kelainan pada waktu buang air kecil dan memeriksakan diri ke dokter urolog di Singapura. Sejak itu setiap tahun ia secara berkala memeriksakan diri untuk menjalani pemeriksaan PSA. Angka PSA ini pada tahun-tahun berikutnya perlahan-lahan meningkat dan beberapa kali melampaui batas normal sehingga Pak Frits beberapa kali dibiopsi, namun ternyata hasilnya bukan kanker tetapi infeksi.</p>
<p>Pada tahun 2005 terjadi lagi kenaikan angka PSA yang melampaui batas normal dan setelah dibiopsi ternyata hasilnya positif kanker prostat tetapi masih dalam stadium dini. Setelah dilakukan operasi di Singapura, hasilnya belum sepenuhnya bersih sehingga Pak Frits harus menjalani proses radiasi di sana setiap hari selama 40 hari. Setelah itu ia dinyatakan bersih dari kanker. Hanya sebagai akibat dari operasi dan radiasi ini, dalam 5 tahun berikutnya ia harus selalu memakai pampers karena inkonsistensi dalam pengeluaran urinenya.</p>
<p>Pada permulaan tahun 2010 terjadi penyumbatan di saluran kemihnya sehingga Pak Frits harus menjalani tiga kali operasi untuk melancarkannya kembali. Operasi itu dilakukan satu kali di Singapura dan dua kali di Jakarta. Ternyata pengobatan radiasi menyebabkan efek samping pada kantong kemihnya. Dindingnya perlahan-lahan terkelupas dan menyumbat saluran kemih. Karena hal tersebut, dokter memasang kateter untuk menghindari penyumbatan. Sebagai akibat pemasangan kateter ini, terjadi perdarahan jikalau Pak Frits berjalan, sehingga ia tidak berani turun dari tempat tidur untuk jalan-jalan. Selama tiga bulan ia hanya berbaring saja di tempat tidur. Saran-saran dari para dokter Singapura dan Indonesia untuk menangani hal tersebut dianggapnya tidak dapat menyelesaikan permasalahannya dan tidak memberikan kualitas hidup yang lebih baik kepadanya.</p>
<p>Akhirnya Pak Frits teringat pada sahabatnya yang dokter urolog di Jerman. Ia segera menghubunginya dan disarankan untuk menjalani pengobatan di Jerman karena di sana mereka sudah berpengalaman dalam menanggulangi kondisi seperti itu. Sahabatnya itu bahkan menjamin bahwa setelah operasi, Pak Frits akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Ia juga menguraikan bahwa kantong kemih Pak Frits akan dibuang karena tidak bisa dipertahankan lagi, dan dari ginjal, urine di saluran kemih akan dialirkan keluar melalui dinding perut dan ditampung oleh sebuah kantong. Tindakan tersebut disebut &#8220;urostomi.&#8221;</p>
<p>Mendengar hal tersebut Pak Frits sempat merasa kecil hati karena hal ini tidak umum. Tetapi dengan dasar keyakinan iman yang besar, ia percaya bahwa hal ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepadanya.</p>
<p>Meskipun kawan-kawan di Jakarta pada waktu itu menguatirkan keadaan Pak Frits yang harus melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan ke Jerman, tetapi dengan keyakinan dan iman bahwa semua hal ada di dalam kuasa Tuhan, maka akhirnya ia berangkat ke sana dengan didampingi oleh istri dan adik iparnya yang juga seorang dokter. Hasil operasi tersebut sangat memuaskan dan penyembuhan pun berjalan sangat cepat.</p>
<p>Tuhan sungguh memberkati seluruh rangkaian perjalanan ke Jerman ini. Di pesawat terbang yang membawa mereka ke sana, Bu Evie, yang semula duduk di kelas ekonomi, diberi kemudahan untuk duduk di kelas bisnis sehingga dapat terus membantu suaminya. Bu Evie dan adik iparnya juga mendapat penginapan yang cukup baik dengan biaya yang terjangkau, yang dikelola oleh seorang dokter Indonesia. Ada trem yang melewati penginapan tersebut menuju rumah sakit, sehingga biaya transportasi relatif murah. Keluarga dokter ini taat pada Tuhan dan sangat menolong dalam memberikan dukungan moral. Ada juga beberapa ibu Indonesia yang berkunjung menemani Bu Evie selama di Jerman.</p>
<p>Setelah Pak Frits sembuh dan kembali ke Indonesia, beberapa sahabat yang mengunjunginya melihat perbedaan nyata di dalam dirinya. Tidak tampak kelesuan di dalam dirinya, karena kini ia sudah sehat dan penuh vitalitas kembali. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pendeta dan teman yang mendukungnya dalam doa dan empati pada saat ia sakit. Tuhan sudah menjamahnya dan ia sembuh.</p>
<p>Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: &#8220;Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.</p>
<blockquote><p><em>Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.(Yesaya 43:1-2)</em></p></blockquote>
<p>Sola Gracia</p>
<p>Nono Purnomo (Penyunting)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat dari Metta</title>
		<link>http://gkipi.org/surat-dari-metta/</link>
		<comments>http://gkipi.org/surat-dari-metta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 15:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5804</guid>
		<description><![CDATA[Segenap warga GKI PI yang saya kasihi, apakabar? Senang sekali bisa kembali mengisi di KASUT bulan ini. Tidak terasa sudah 6 bulan lebih saya berada di Korea. Walaupun setengah tahun sudah berlalu, setiap hari Minggu datang, hal pertama yang saya ingat ketika bangun tidur adalah GKI Pondok Indah. Betapa saya rindu pergi ke kebaktian remaja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segenap warga GKI PI yang saya kasihi, apakabar?</p>
<p>Senang sekali bisa kembali mengisi di KASUT bulan ini. Tidak terasa sudah 6 bulan lebih saya berada di Korea. Walaupun setengah tahun  sudah berlalu, setiap hari Minggu datang, hal pertama yang saya ingat ketika bangun tidur adalah GKI Pondok Indah. Betapa saya rindu pergi ke kebaktian remaja dan pemuda, bertemu teman-teman seiman, mengikuti rapat, dan sebagainya.</p>
<p>Ketika saya menulis artikel ini, saya sudah berhasil melalui musim dingin yang benar-benar dingin, dan sekarang sudah memasuki musim semi. Udara sudah semakin hangat, sekitar 7-13 derajat Celcius. Pohon-pohon yang sudah menggundul kini mulai dihiasi bunga-bunga.</p>
<p>Terkadang saya berpikir, kalau saja orang-orang yang saya kasihi bisa ada bersama saya saat ini, pasti akan lebih meyenangkan.</p>
<p>Selama saya di sini, tentunya ada masa di mana saya merasa homesick dan kesepian. Masa di mana saya merasa ingin pulang–bukan dalam arti saya tidak suka di sini–bagaimanapun, home is the place where our heart is, right? Ada saat di mana saya bertanya pada Tuhan, mengapa saya harus menjalani kehidupan ini sendirian?</p>
<p>Sebuah pertanyaan yang sangat mementingkan diri sendiri, memang. Namun secara alamiah keluar dari lubuk hati manusia.</p>
<p>Namun pada kenyataannya, walaupun saya ditempatkan di universitas yang tidak memiliki mahasiswa Indonesia lain selain saya, dan mayoritas siswa yang ada tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris, meskipun bahasa Korea saya masih jauh dari sempurna&#8230; saya tidak pernah sendirian. Betapa saya melihat tangan Tuhan bekerja melalui orang-orang di sekitar saya. Betapa saya merasakan kasih Tuhan yang begitu dalam, mengangkat saya yang sempat terjatuh, bagaikan ada suara yang berbisik di telinga saya: ”Jangan menyerah. Aku ada bersamamu”.</p>
<p>Pada akhirnya, saya mulai dapat melihat segala sesuatu dari perspektif yang baru. Ketika kita melihat kehidupan ini dari kacamata Tuhan, segala sesuatu akan terasa lebih baik, karena seburuk apa pun, sesedih apa pun, se-kesepian apa pun keadaan kita, kita tahu bahwa apa yang terjadi sekarang adalah proses yang Tuhan pakai untuk masa depan yang lebih baik. Ketika kita mempercayakan secara penuh segala pergumulan kita pada Tuhan, dan meyakini bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita, hati kita menjadi lebih ringan menjalani segala kesulitan hidup ini.</p>
<p>Pada akhirnya, saya dapat mencintai Korea dan kehidupan di dalamnya, dan mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan pada saya untuk dapat menuntut ilmu di tempat ini, juga kesempatan untuk dibentuk menjadi sosok yang lebih dewasa dan mandiri.</p>
<p>Banyak sekali kebaikan Tuhan yang saya rasakan selama saya di sini. Namun yang paling berkesan terjadi di bulan November tahun lalu, bulan di mana saya merasa sangat rindu akan rumah, saat di mana saya merasa kesepian.</p>
<p>Ketika itu, saya hendak mengambil Alkitab saya dari rak buku, dan tiba-tiba sebuah selipan Alkitab terjatuh. Selipan Alkitab itu diberikan kepada saya oleh salah satu jemaat GKI Pondok Indah sebelum saya berangkat, dan di dalam selipan itu tertulis:</p>
<blockquote><p>Dear Metta,<br />
Selamat meniti masa depan, meraih cita-cita.<br />
Sukses selalu, Tuhan memberkati.<br />
Bila Metta merasa kesepian di negeri orang,<br />
ingatlah bahwa Metta tidak sendirian, ada Tuhan yang setia<br />
di sampingmu &amp; menemanimu. Selamat berjuang.</p></blockquote>
<p><em>That’s it. a simple bookmark, that changed everything. How come it dropped, and I read it at the perfect time? It was God’s work. He always has a way, when we feel there is no way.</em></p>
<p>Tuhan selalu punya rencana indah bagi kehidupan kita dan ini bukan sekadar kalimat klise belaka, dan ingatlah selalu bahwa apa pun kesulitan yang Anda alami, Anda tidak pernah sendirian melaluinya. Tuhan ada bersama Anda, dan Dia dapat Anda andalkan.</p>
<p>Terkadang yang harus kita lakukan hanyalah percaya. Sudahkah Anda mempercayakan kehidupan Anda seluruhnya kepada-Nya?</p>
<p>Salam saya untuk seluruh warga GKI Pondok Indah.</p>
<p>Metta Niham, from Korea with love <img src='http://gkipi.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/surat-dari-metta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan</title>
		<link>http://gkipi.org/bersukacitalah-senantiasa-dalam-tuhan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bersukacitalah-senantiasa-dalam-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 03:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5344</guid>
		<description><![CDATA[“Ya Bapa, sembuhkanlah kaki kiri yang sakit ini.” Terus-menerus aku memohon kepada Tuhan setiap kali aku melangkah dan kesakitan itu mendera tubuhku seperti sambaran listrik yang menjalar dari betis ke paha terus ke ubun-ubun kepala. Berawal dari tersandung waktu mendampingi murid mendaki Gua Maria dalam program Social Study di desa daerah Kuningan Jawa Barat pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Ya Bapa, sembuhkanlah kaki kiri yang sakit ini.”<br />
Terus-menerus aku memohon kepada Tuhan setiap kali<br />
aku melangkah dan kesakitan itu mendera tubuhku<br />
seperti sambaran listrik yang menjalar dari betis<br />
ke paha terus ke ubun-ubun kepala.</p></blockquote>
<p>Berawal dari tersandung waktu mendampingi murid mendaki Gua Maria dalam program Social Study di desa daerah Kuningan Jawa Barat pada akhir Oktober 2010, dua minggu kemudian aku merasakan kaki kiri kaku dan ngilu. Sebagai mantan atlet karate, aku tahu tidak ada yang salah dengan tulang, hanya ada masalah otot. Maka bulan November itu aku pergi ke seorang ahli urut. Namun sesudahnya kaki kiri ini masih sakit ditambah memar bekas cengkraman tangan Ibu yang mengurutku dengan keras.</p>
<p>Bulan Desember aku kembali minta tolong seorang rekan yang bisa memijat untuk datang ke rumah. Setelah satu jam dipijat, aku merasa agak enak–tidak begitu sakit lagi. Lalu akupun ikut retret guru di daerah Puncak. Seusai seharian mengikuti sesi demi sesi acara, kakiku terasa sangat sakit. Kucoba mengangkat kakiku dan menyandarkannya ke dinding. Sama sekali tidak berkurang rasa sakitnya. Hanya atas pertolongan Tuhan, aku bisa terlelap dalam kesakitan.</p>
<p>Libur Natal pun tiba. Kami mendapat kesempatan menengok orangtua di Cirebon. Dua kali kakiku diurut di sana. Hanya membaik beberapa hari saja, lalu rasa nyeri itu kembali bahkan lebih hebat.</p>
<p>Bulan Januari 2011 saat aku kembali ke sekolah Tirta Marta BPK Penabur tempat Tuhan mengutusku bekerja, aku tidak lagi bisa berjalan dengan normal. Kaki kiriku kaku seperti balok kayu. Biasanya naik turun tangga sekolah kuanggap sebagai olahraga ringan yang menyegarkan tubuh, kini menjadi hal yang menakutkan karena setiap gerakan mengirim gelombang kesakitan ke sekujur tubuh.</p>
<p>Padahal aku pasti bertemu dan berinteraksi dengan murid-murid. Aku tidak mau tampak kesakitan. Saat mereka memperhatikan jalanku yang tidak seperti biasanya, sambil tersenyum aku berkata “Sakit” dan aku minta mereka mendoakanku. Aku tetap mengajar mereka dengan penuh semangat karena aku mau mereka semua lulus dengan nilai gemilang.</p>
<p>Ditambah dengan sistem SKS untuk murid kelas X dan pemantapan untuk murid kelas XII, jam kerjaku menjadi lebih panjang–sampai pukul 05.15 sore. Saat tiba di rumah, dengan susah payah aku membersihkan tubuh dan menyeretnya ke tempat tidur. Nyaris tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk keluarga! Pekerjaan rumah tangga hanya mampu kukerjakan pada dini hari sebelum berangkat ke sekolah–setelah cukup beristirahat malamnya. Suami dengan sabar mengoles kakiku dengan Feldene Gel dan memijat telapak kakiku. Bahkan tengah malam dia sering terbangun karena teriak kesakitanku ketika tanpa sadar aku menggerakkan kaki kiri.</p>
<p>Akhirnya aku konsultasi dengan dokter. Segera kutebus obat dan meminumnya sesuai dosis. Sampai seminggu kemudian karena belum ada perubahan aku kembali ke dokter. Aku mendapatkan resep obat baru dan peringatan untuk mengistirahatkan kaki–tidak banyak bergerak, karena menurut beliau, cedera otot perlu waktu lama untuk bisa sembuh. Akupun harus cek darah: kadar asam urat dan gula darah.</p>
<p>Malam itu saat aku membaringkan tubuh, aku menangis diam-diam di hadapan Tuhan. Belum pernah aku mengalami keletihan seperti ini. Aku telah berjanji selama aku masih bisa berdiri di atas kedua kaki, aku akan tetap menunaikan tugas-tugasku sebaik-baiknya. Tapi kesakitan ini terlalu hebat menggangguku!</p>
<p>Malam itu aku berpuasa karena besok pagi aku mau cek darah. Dengan gelisah aku mengintropeksi diri dan sebuah pertanyaan menghantarku tidur: Apakah aku bisa terus bersyukur pada Tuhan dan bersukacita dalam Tuhan bila kakiku tetap sakit atau bahkan bertambah sakit?</p>
<p>Keesokan hari saat aku terbangun, aku menjadi sangat takut untuk menggerakkan kakiku. Aku takut dengan rasa sakit yang akan kembali menghantamku. Akhirnya aku berseru kepada Tuhan dengan segenap hatiku: “Ya Tuhan, aku mau terus bersyukur pada-Mu. Aku mau senantiasa bersukacita bersama-Mu. Bila kaki ini tetap sakit atau bertambah sakit sekalipun, aku percaya Kau akan memberi aku kekuatan untuk menanggungnya.”</p>
<p>Lalu aku memaksakan diri duduk. Dengan kedua tangan kuangkat kaki kiri turun dengan hati-hati. Saat aku berusaha berdiri, aku sungguh takjub! Tidak ada rasa sakit sama sekali! Ketika aku melangkahkan kaki, terasa ringan dan nyaman! Kemudian hasil cek darah setelah puasa dan dua jam setelah makan: kadar asam urat dan gula darah normal. Tekanan darah juga normal.</p>
<p>Selanjutnya setiap langkahku menjadi lebih bermakna yaitu sukacita dalam Tuhan, melimpah ruah dengan syukur. Siapakah yang dapat memisahkan kita dari Tuhan? Tidak ada! Kesakitan pun tidak.</p>
<p>Sungguh hidup dalam Tuhan adalah petualangan yang seru dan mengasyikkan. Seperti orang bilang: FAITH stands for Fantastic Adventures In Trusting Him!</p>
<p>Jakarta, 13 Februari 2011 &#8211; Eva Khalika Hamdani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bersukacitalah-senantiasa-dalam-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sulitnya Mencintai Anak Tuhan</title>
		<link>http://gkipi.org/sulitnya-mencintai-anak-tuhan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sulitnya-mencintai-anak-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 13:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5286</guid>
		<description><![CDATA[Sudah dua tahun ini aku bergulat dengan kesibukan mengurus adik-adik asuh. Apa yang paling berat dalam kegiatan ini? Berjuang untuk memeluk anak-anak jalanan itu? Berjuang untuk menyayangi mereka yang berbeda keyakinan denganku? Berjuang untuk memberikan waktu dan pikiranku bagi mereka? Itu semua memang tidak mudah, tapi yang paling berat bukan itu&#8230; Ada rasa tak suka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah dua tahun ini aku bergulat dengan kesibukan mengurus adik-adik asuh. Apa yang paling berat dalam kegiatan ini? Berjuang untuk memeluk anak-anak jalanan itu? Berjuang untuk menyayangi mereka yang berbeda keyakinan denganku? Berjuang untuk memberikan waktu dan pikiranku bagi mereka? Itu semua memang tidak mudah, tapi yang paling berat bukan itu&#8230;</p>
<p>Ada rasa tak suka saat seorang anak kecil ikut bergabung dengan kami, duduk, makan dan mengobrol bersama kami. Tinggal menyuruhnya pergi, maka semuanya beres. Tapi, it’s not that easy, apalagi yang membawanya untuk bergabung dan melayaninya adalah teman sepelayananku sendiri. Lalu apa salahnya anak kecil itu? Masalahnya hanya satu, dia adalah adik sepupuku.</p>
<p>Dalam ketidaktahuannya kalau kami bersaudara, temanku dengan sangat baik telah menghadapi anak kecil itu, sedangkan aku malah sudah bertahun-tahun tidak melakukan apa-apa untuknya. Aku tidak membantunya belajar dan berjuang untuk sekolahnya, membiarkannya tumbuh sendiri setelah sebuah kisah tragis merampas kebahagiaan hidupnya, bahkan juga tidak berbicara kepadanya. Saat itu juga, di dalam hati terdalamku, aku ingin menanggalkan status kakak asuh itu. Aku enggan berurusan dengannya dan memilih untuk diam dan tidak mengacuhkannya. Namun perlahan-lahan, bersama dengan bergulirnya waktu, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya dan sedikit melibatkannya dalam kegiatan ini. Aku mulai berbicara dengannya dan memberinya dorongan semangat untuk terus berprestasi. Aku tahu, apa yang kulakukan masih jauh dari cukup&#8230;.</p>
<p>Lalu datang anak kecil kedua. Ia hadir dengan wajah yang berbeda. Entah sejak kapan, aku mulai menyadari bahwa ia tersingkir dari zona nyamannya ketika keluarganya tidak lagi bersatu dan orang-orang mulai enggan menjaganya. Mulai kulihat wajah-wajah acuh tak acuh di sekelilingnya, dan belaian serta kasih sayang tidak lagi diterimanya. Apa yang salah dengannya? Bukan, bukan dia yang salah, tapi orang-orang yang seharusnya membinanya agar menjadi pribadi yang santun, tidak menjalankan tugas mereka dengan baik. Akupun terkadang sulit mendekati dan menyayanginya karena sikapnya yang suka menjengkelkan.</p>
<p>Suatu hari, aku memberinya sebuah tugas untuk bertanggung jawab terhadap adik sepupunya yang lebih kecil. Saat si kecil mulai rewel, pandangan mataku sudah cukup baginya untuk menyadari tugasnya. Segera ia membujuk dan mengalihkan perhatian si kecil. Betapa menyenangkan melihat mereka duduk berdampingan dan makan bersama. Ia begitu cepat menjadi dewasa dalam kesendiriannya. Aku merasa tak berdaya karena tak sanggup terus menjaganya.</p>
<p>Mengapa aku sulit mencintai anak-anak Tuhan ini? Mengapa mereka harus tmengalami luka batin? Mengapa tidak ada taman-taman Firdaus yang melindungi mereka dari kejahatan orang dewasa? Mungkinkah suatu hari nanti aku akan kehilangan mereka, jika aku tidak serius menjalankan perintah Kristus dan bersembunyi di balik dalih keterbatasan? Aku mohon pimpinan Tuhan untuk memberikan kesabaran dan kasih dalam melayani anak-anak ini.</p>
<p>Irvinia Margaretha</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sulitnya-mencintai-anak-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Suatu Kebetulan</title>
		<link>http://gkipi.org/bukan-suatu-kebetulan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bukan-suatu-kebetulan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 11:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5185</guid>
		<description><![CDATA[Saya percaya bahwa dalam perjalanan hidup anak Tuhan, tidak ada kata &#8216;kebetulan&#8217;: kebetulan saya anggota jemaat gereja ini, kebetulan saya pendeta sehingga melayani di sini, kebetulan suara saya merdu sehingga ikut paduan suara. Saya yakini kisah ini bukan suatu kebetulan Pada pertengahan tahun 2009, saya membaca catatan perjalanan pelayanan Komisi PI GKI Pondok Indah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Saya percaya bahwa dalam perjalanan hidup anak Tuhan, tidak ada kata &#8216;kebetulan&#8217;:</p>
<p>kebetulan saya anggota jemaat gereja ini,</p>
<p>kebetulan saya pendeta sehingga melayani di sini,</p>
<p>kebetulan suara saya merdu sehingga ikut paduan suara.</p>
<p>Saya yakini kisah ini bukan suatu kebetulan</p></blockquote>
<p>Pada pertengahan tahun 2009, saya membaca catatan perjalanan pelayanan Komisi PI GKI Pondok Indah di Desa Kemang lewat website gkipi.org. Sejak saat itu, pos pelayanan di Desa Kemang tidak lepas dari pergumulan saya. Setiap ada kesempatan, saya membuka website gkipi untuk melihat perkembangan di sana. Namun hanya catatan itulah satu-satunya yang ada&#8230; (semoga saya tidak keliru). Saya lalu memberanikan diri menulis di inbox GKI PI guna menyampaikan kesediaan saya untuk terlibat di dalam pelayanan Komisi PI di Pos Desa Kemang. Sayang, respons yang saya harapkan tak kunjung datang.</p>
<p>Akhirnya saya memutuskan untuk melupakan Pos PI Desa Kemang dan berfokus pada pelayanan sebagai pendeta seazas di GPIB Marturia Jambi yang sudah 13 tahun memberi saya ruang untuk melayani. Saya juga ikut dalam pelayanan Komisi Sekolah Minggu PGIW Jambi yang penuh tantangan.</p>
<p>Suatu ketika, pekerjaan suami mengharuskan kami sekeluarga pindah ke Pulau Jawa. Dengan pergumulan dan berbagai pertimbangan, kami memilih Bogor sebagai domisili kami. Sanak keluarga dan teman bertanya kepada saya, mengapa kami memilih Bogor. Mengapa bukan Jakarta, Depok, Tangerang atau Bekasi? Jawaban saya selalu sama: &#8220;Kami sedang mengikuti rencana Tuhan.&#8221;</p>
<p>Kami memutuskan untuk pindah pada akhir tahun 2009. Meskipun saya tahu bahwa perpindahan ini bukan hal yang mudah karena kami belum pernah ke Bogor atau memiliki saudara/kerabat dekat di kota ini yang dapat menjadi sumber informasi bagi kami, tetapi kami percaya bahwa Tuhan, yang memenuhi kebutuhan kami, telah menanti kami sekeluarga di tempat yang baru ini.</p>
<p>Pada bulan November 2009 saya berangkat ke Bogor untuk menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan perpindahan itu, mulai dari rumah sampai sekolah bagi putra-putri kami. Pada hari Minggu Adven pertama, saya masih di Bogor. &#8220;Ke mana saya akan beribadah?&#8221; pikir saya. Tak terbersit di ingatan saya untuk beribadah ke Pos PI Desa Kemang. Sebelum berangkat, saya berdoa minta tuntunan Tuhan, lalu dari rumah saya naik angkot no. 16 dan berhenti di Salabenda. Di sana saya bertanya ke beberapa orang dan mendapat informasi bahwa ada Pos GKI di Jati Tonjong dan bahwa untuk mencapainya, saya harus menggunakan ojek dari pertigaan PWRI. Wah, ini cukup sulit bagi saya karena saya belum tahu peta lokasi gereja tersebut.</p>
<p>Mengingat waktu yang terbatas, saya harus cepat mengambil keputusan, apakah beribadah di Tonjong atau mencari gereja lain saja, kalau tidak ingin terlambat beribadah pada pagi itu. Tiba-tiba di depan saya berhenti angkot jurusan Pasar Anyar–Parung, dan si sopir bersedia mengantarkan saya ke Pos Jati Tonjong pulang-pergi. Saya tak perlu berpikir untuk naik ojek lagi. Puji Tuhan, saya jadi beribadah pada hari Minggu Adven pertama itu dan selesai ibadah saya tak perlu menunggu kendaraan umum karena angkotnya sudah siap untuk mengantar saya pulang.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang ke rumah, si sopir bercerita tentang Pos Desa Kemang, dan menginformasikan bahwa jaraknya tidak begitu jauh dari rumah yang akan saya dan keluarga tempati, bahkan mengajak saya untuk melihat tempat itu. Ternyata sopirnya adalah Bapak Iwan, warga jemaat Pos PI Desa Kemang. Mendengar nama Desa Kemang membuat hati saya bergetar kembali. “Ada apa dengan Pos PI di sini, Tuhan?” tanya saya dalam hati. Sungguh, saya percaya bahwa hal ini bukan sejumlah kebetulan: bukan kebetulan saya mengenal Desa Kemang lewat situs gkipi, bukan kebetulan saya bertemu dengan Bapak Iwan, bukan kebetulan saya pindah ke Bogor, bukan kebetulan tempat tinggal saya searah dengan Desa Kemang, tetapi inilah rencana Tuhan yang saya imani.</p>
<p>Saya benar-benar tiba di Desa Kemang tanpa saya rencanakan. Ternyata Tuhan sudah merencanakan semuanya, sehingga tak terasa sudah setahun saya bersekutu, bersaksi, melayani bersama di Pos PI Desa Kemang sampai hari ini.</p>
<div id="attachment_5186" class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><img class="size-full wp-image-5186" title="lusye" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2011/01/lusye.jpg" alt="" width="100" height="124" /><p class="wp-caption-text">Luisye Sia</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bukan-suatu-kebetulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natal di Perantauan</title>
		<link>http://gkipi.org/natal-di-perantauan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/natal-di-perantauan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 03:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5085</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Lukman Halim. Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya Tionghoa yang kolot. Sejak kecil, aku mengikuti ajaran Budha dan dipersembahkan menjadi anak dewa Kwang Kong pada usia lima tahun. Aku pun aktif melayani di Vihara. Menjelang usia tujuh belas tahun, aku menerima Yesus secara pribadi dan menjadi Kristen. Itu tidak terlepas dari kasih karunia Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Lukman Halim.</p>
<p>Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya Tionghoa yang kolot. Sejak kecil, aku mengikuti ajaran Budha dan dipersembahkan menjadi anak dewa Kwang Kong pada usia lima tahun. Aku pun aktif melayani di Vihara.</p>
<p>Menjelang usia tujuh belas tahun, aku menerima Yesus secara pribadi dan menjadi Kristen. Itu tidak terlepas dari kasih karunia Allah yang luar biasa.</p>
<p>Ketika menjadi Kristen hingga hari ini, aku tidak pernah merayakan Natal bersama keluarga karena mereka masih beragama Budha. Aku pun jarang berkumpul dengan keluarga di hari Natal karena panggilan pelayanan yang dilakukan. Bahkan, sejak tahun 2000, aku menimba pengalaman dan tidak memiliki sanak keluarga di Pulau Jawa. Tapi, Natal tetap menjadi sebuah peristiwa yang berarti dan hidup di hatiku. Mengapa?</p>
<p>Natal bukan masalah suasana tapi hati. Natal seperti undangan khusus dari Tuhan Yesus buatku. Undangan itu menjadi lonceng yang berbunyi indah di hatiku. Lonceng yang mengingatkan betapa besar kasih-Nya padaku. Meski aku merayakan Natal seorang diri dan jauh dari keluarga namun aku tidak pernah merasa sendirian di hari Natal. Yesus selalu hadir dan kasih-Nya selalu bergema di hatiku. Di hari Natal, aku mengingat kembali tentang perjumpaan imanku dengan Yesus. Perjumpaan yang telah mengubah dan memperbaharui hidupku. Bahkan, memberiku harapan dan semangat untuk setia menyampaikan kasih Yesus pada keluargaku dan umat Tuhan yang kulayani.</p>
<p><strong>Natal yang bersemangatkan memberi bukan menerima</strong></p>
<p>Aku selalu bertanya pada diriku, apa yang dapat kuberikan pada Yesus di hari Natal? Aku menyadari bahwa tidak ada satu pun pemberian yang dapat disejajarkan dengan kasih karunia Tuhan padaku. Aku hanya bisa mempersembahkan HATI  yang setia mengasihi dan mengabdikan seluruh hidupku untuk melayani-Nya. Hati yang mau diubah dan berubah kian serupa dengan Kristus. Aku pernah membaca komentar seorang tokoh yang bernama Halford E. Luccock. Ia mengatakan “Kita dapat begitu terpesona oleh kisah tentang seorang bayi hingga menjadi begitu sentimental. Akibatnya, kisah itu tidak menuntut kita untuk berbuat sesuatu dan juga tidak menuntut perubahan dalam cara berpikir dan cara hidup kita”. Sebab itu, Natal bukan semata-mata apa yang telah kuterima. Justru, apa yang dapat kuberikan pada Kristus, yaitu HATI yang taat pada-Nya.</p>
<p>Terkadang hatiku sedih melihat ada orang Kristen yang masih hidup bersemangatkan ‘kanak-kanak’ atau yang hanya mau menerima dan menerima saja di hari Natal. Aku pun sering menjumpai para pelayan Tuhan yang sibuk mempeributkan dekorasi Natal, bentuk acara dan perayaan Natal. Bahkan, ada yang tidak mengalami damai di hati dan malah depresi karena dikejar-kejar oleh deadline persiapan Natal. Ironisnya, orang-orang yang dikasihi pun jadi korban pelampiasan rasa capek alias tidak melihat damai Kristus hadir saat mereka mempersiapkan Natal. Apa itu yang Tuhan inginkan di hari Natal? Jangan-jangan apa yang telah dipersiapkan justru ‘mencuri’ Kristus di hati mereka.</p>
<p>Aku berharap dan merindukan setiap orang yang merayakan Natal mengalami perjumpaan iman kembali dengan kasih Tuhan. Damai Kristus hidup dan memberi semangat untuk menyampaikan kasih Tuhan pada sesama. Aku tidak pernah menikmati Natal bersama keluargaku. Namun, aku bersukacita memiliki saudara seiman sebagai keluarga dalam Kristus di hari Natal. Selamat hari Natal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/natal-di-perantauan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah dan Doa</title>
		<link>http://gkipi.org/buah-dan-doa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/buah-dan-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2010 15:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4801</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini saya mengikuti retret Komisi Senior GKI Pondok Indah. Tulisan ini bukan merupakan laporan atas kegiatan tersebut, tetapi merupakan refleksi pribadi yang saya peroleh dari acara ini yang sungguh-sungguh memberkati hidup saya. Saat ini saya mengikuti kegiatan kristiani di beberapa wadah. Partisipasi saya terbatas pada menghadiri persekutuan, memberi dukungan doa, menyampaikan pandangan/tukar pikiran, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru-baru ini saya mengikuti retret Komisi Senior GKI Pondok Indah. Tulisan ini bukan merupakan laporan atas kegiatan tersebut, tetapi merupakan refleksi pribadi yang saya peroleh dari acara ini yang sungguh-sungguh memberkati hidup saya.</p>
<p>Saat ini saya mengikuti kegiatan kristiani di beberapa wadah. Partisipasi saya terbatas pada menghadiri persekutuan, memberi dukungan doa, menyampaikan pandangan/tukar pikiran, dan sesekali menyalurkan bantuan materiil. Saya merasa betapa minimnya saya memberi persembahan kepada Tuhan dibandingkan dengan berkat yang begitu berlimpah saya terima. Mohon dicatat bahwa berkat yang saya peroleh bukan semata-mata dalam bentuk materi, tetapi lebih merupakan pengendalian Roh Kudus yang menolong dan mencegah saya sekeluarga untuk melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan. Berkat itu memberi kecukupan dalam ekonomi keluarga, pertolongan dan jalan keluar pada saat tidak ada daya dan harapan, hikmat dalam melakukan tugas, perlindungan dari bahaya ranjau dunia bisnis, dan kesehatan serta pertumbuhan bagi anak-anak saya dalam kehidupan spiritual dan pendidikan umum mereka.</p>
<p>Masih segar dalam ingatan saya pengalaman sekian tahun yang lalu, ketika dalam situasi keuangan yang sangat terbatas, kedua anak saya yang tertua berhasil memasuki universitas melalui jalur PMDK–Penelusuran Minat dan Kemampuan–dan lulus pada saringan pertama, sedangkan anak saya yang bungsu berkesempatan menimba ilmu di Amerika Serikat dan kini sudah bekerja serta mendapat sertifikat profesi yang diperolehnya dengan susah payah. Sungguh, satu hal yang sangat membahagiakan saya dan istri saya ialah bahwa kini mereka telah melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai kepala dan imam dalam keluarga mereka masing-masing.</p>
<p>Saat ini saya berumur 73 tahun dan masih aktif bekerja sebagai pimpinan perusahaan, meskipun saya merasa bahwa tenaga dan pikiran saya sudah tidak sebaik dulu lagi sehingga mau tak mau, suatu saat saya harus mengundurkan diri. Secara logika tentunya nanti saya akan lebih memiliki waktu luang sehingga salah satu tema retret “Panggilan Bukan Pilihan” menjadi sangat relevan bagi saya. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah saya sudah melakukan panggilan tersebut, karena selama ini waktu saya banyak tersita oleh kegiatan-kegiatan di tempat kerja saya. Nasihat dari Lee Kuan Yew di bawah ini menggugah hati saya.</p>
<p>Saya ingin terlebih dahulu menyisipkan sebuah artikel dari Business Indonesia yang berjudul “Tak Perlu Pensiun,” yang memuat sambutan yang disampaikan oleh Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura, di hadapan Federasi Nasional Pekerja Singapura (SNEF). Lee Kuan Yew lahir pada tahun 1923 dan menjabat Perdana Menteri dari tahun 1959 sampai 1990. Kini beliau masih menjadi Menteri Senior/Penasihat Pemerintah. Saya hanya memetik beberapa perkataannya:</p>
<blockquote><p>1.	Anda bekerja selama Anda bisa bekerja. Oleh karena itu, Anda akan semakin sehat dan bahagia. Jika Anda tiba-tiba meminta saya berhenti bekerja, saya pikir saya akan menciut, menghadap dinding, hanya itu…</p>
<p>2.	Kesempatan agar tetap tertarik untuk hidup adalah memiliki sesuatu yang harus dilakukan besok sehingga Anda tetap berjalan. Jika Anda mulai berkata “Oh, saya tua,” dan mulai membaca novel dan bermain golf atau catur, ya, Anda akan segera jatuh. Umur mungkin akan membuat saya sakit atau nyeri, tapi saya harus bisa terus maju.</p>
<p>3.	Ketika seorang mencapai titik maksimum dalam usia dan posisinya, maka ia akan bergerak ke sisi lain untuk mengambil bayaran lebih sedikit.</p>
<p>4.	Lee menekankan kebutuhan untuk terus belajar meskipun seseorang bertambah tua. Ia mengatakan “saya tetap belajar.”</p></blockquote>
<p>Ada satu parameter/ukuran untuk menguji pergumulan saya di atas, yaitu firman Tuhan dalam Yohanes 15:1-17 tentang pokok anggur dan carang-carangnya serta pemilik kebun anggur. Saya yakin bahwa kita semua mengenal bagian Alkitab tersebut yang sangat sering dikhotbahkan. Menurut para ahli sejarah Alkitab, diperkirakan bahwa perkataan Tuhan Yesus itu diucapkan kepada para murid-Nya pada saat malam perjamuan terakhir, ketika mereka berjalan meninggalkan bilik atas rumah (upper room) dan melewati Bait Allah di mana terdapat hiasan pokok anggur lengkap dengan carang-carang dan buah-buah yang terbuat dari emas berukuran setinggi manusia.</p>
<p>Waktu itu merupakan momentum yang sangat penting bagi Tuhan Yesus untuk menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Ia adalah Pokok Anggur dan para murid adalah carang-carangnya. Agar para murid berbuah, mereka harus terhubung dengan pokok anggur. Apakah yang dimaksud dengan buah?</p>
<blockquote><p>Galatia 5:22-23 mengatakan, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal ini.”</p></blockquote>
<p>Tuhan Yesus juga menekankan pentingnya sukacita dan kasih dalam Yohanes 15:11 dan 17, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain.”</p>
<p>Marilah kita renungkan sejenak. Yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, bukan agar kita lebih produktif (dalam arti melakukan kegiatan yang lebih banyak lagi) tetapi agar kegiatan itu menghasilkan buah (kuantitatif &gt;&lt; kualitatif).</p>
<blockquote><p>Yohanes 10:10 b mengatakan, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”</p></blockquote>
<p>Di halaman rumah saya yang tidak luas terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan. Setiap pergantian musim, saya menanti dengan harap-harap cemas apakah pohon-pohon itu akan menghasilkan buah. Sedari munculnya bunga sampai menjadi buah, hampir setiap hari saya memeriksanya. Betapa kecewa hati saya ketika melihat bahwa dari sekian banyak bunga, sebagian besar gugur ke tanah dan hanya tinggal beberapa saja yang menjadi bakal buah. Perkembangan bakal buah pun terus saya ikuti. Ternyata masih ada bakal buah yang gugur, sampai akhirnya hanya tersisa sedikit jumlahnya yang semakin hari semakin besar dan berwarna merah. Karena pohon yang berbuah hanya satu, saya tidak memetik buahnya sampai hampir semuanya masak dan berwarna merah mempesona. Akhirnya suatu hari datanglah cucu-cucu saya dan mereka melihat buah-buah yang ranum itu. Dengan penuh kegirangan mereka melompat-lompat untuk mencoba memetiknya dari pohon yang tidak tinggi itu. Melihat ulah mereka, dengan sukacita saya sediakan tangga sehingga mereka dapat menggapai dan memanennya.</p>
<blockquote><p>Lukas 15:7, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”</p></blockquote>
<p>Kedudukan doa dalam proses pembuahan merupakan hal yang sangat menarik dan menakjubkan. Mungkin kita berpikir bahwa doalah yang menghasilkan buah. Namun ternyata Tuhan Yesus mengatakan bahwa buah itulah yang menggerakkan hati kita untuk berdoa.</p>
<blockquote><p>Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Kasihilah seorang akan yang lain.”</p></blockquote>
<p>Sumber doa tidak berasal dari carang, tetapi dari pokok anggur. Kehidupan Tuhan Yesus-lah yang mengalir di dalam hidup kita dan yang menggerakkan hati kita untuk berseru “Abba, ya Bapa.”</p>
<p><strong>Sejatinya doa adalah anugerah, dan bukan hasil usaha kita</strong></p>
<p>Kita berdoa karena alasan yang sama yaitu kasih. 1 Yohanes 4:19 berkata bahwa ”kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.”</p>
<p>Doa itu lebih daripada suatu kewajiban. Doa adalah kehidupan Tuhan Yesus yang mengalir di dalam hidup kita. Karena itu sebagai carang pokok anggur, kita mampu berdoa.</p>
<p>Yang mungkin menjadi pergumulan adalah bagaimana bentuk pelayanan yang dapat menghasilkan buah. Injil Matius 24:14-15 mengindikasikan bahwa Tuhan memberi talenta yang merupakan bagian tak terpisahkan dari diri kita. Talenta tersebut misalnya menyanyi, melukis, atau menulis, dan tetap kita miliki sepanjang hidup kita. Tidak semua orang mau mempergunakan talenta tersebut karena berbagai pertimbangan duniawi, antara lain merasa tidak cocok dengan kedudukan dan gaya hidupnya sekarang ini, harus menyesuaikan ritme kegiatannya, mungkin juga harus mengorbankan kenyamanannya (padahal Tuhan Yesus tak pernah membebani kita dengan pengorbanan yang tak dapat kita lakukan), harus mengikuti pembinaan/latihan, dan lain-lain.</p>
<p>Berbahagialah orang yang menyadari dan menerima talenta tersebut. Dari perumpamaan Tuhan Yesus dalam Injil Matius di atas, ternyata talenta yang tidak disertai dengan penyertaan Tuhan tidak akan berhasil dan tidak akan berbuah. Penyertaan Tuhan adalah anugerah yang akan memberi sukacita, daya tahan, pengharapan dan buah dalam hidup kita. Kerenggangan hubungan dengan Tuhan dan dosa yang dilakukan terus-menerus tanpa pertobatan dapat menyebabkan kemunduran dan pencabutan anugerah. Termasuk dalam kategori ini adalah kesombongan yang menganggap diri lebih superior daripada yang lain, lebih mengandalkan intelektualisme daripada suara Tuhan, meragukan bagian-bagian tertentu Alkitab, alergi terhadap kritik dan tidak mau meninggalkan kenyamanan walaupun itu dalam rangka pembentukan Tuhan.</p>
<p>Saya sangat terharu ketika mengikuti kebaktian dalam rangka budaya Papua. Saya teringat pernah membaca sebuah renungan berjudul “Church is for non member.” Renungan ini didasarkan pada bagian Alkitab ketika Tuhan Yesus mengusir para penukar uang di Bait Allah. Kita semua tahu bahwa keberadaan para penukar uang yang direstui oleh para imam dengan tujuan untuk memperkuat kas itu telah menjadi halangan bagi orang-orang miskin dan orang-orang asing.</p>
<p>Saya berdoa agar langkah GKI Pondok Indah yang bekerjasama dengan gereja daerah untuk membantu masyarakat setempat, menjadi tanda dari Tuhan dan nazar dari kita semua. Marilah kita berdoa agar Tuhan memberi iman, kemurahan hati, pengharapan dan sukacita di dalam proyek tersebut. Tuhan pasti akan menggantinya dengan berlimpah. Jadikanlah jemaat kita seperti danau Tiberias dan bukan laut mati.</p>
<blockquote><p>Doa: Yesus, Engkaulah Pokok Anggur yang benar. Saya bersyukur menjadi carang-Mu. Mampukanlah saya untuk semakin tekun berdoa dan semakin berbuah.</p></blockquote>
<p>Sola Gracia.</p>
<p>Salam pada teman-teman senior.</p>
<p>Nono Purnomo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/buah-dan-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-Oleh dari Hobart</title>
		<link>http://gkipi.org/oleh-oleh-dari-hobart/</link>
		<comments>http://gkipi.org/oleh-oleh-dari-hobart/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 03:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4509</guid>
		<description><![CDATA[Kami bersyukur atas angin yang bertiup, karena ada tempat yang hampir selalu panas. Kami bersyukur atas tanah yang rata, karena di tempat lain, orang-orang harus melintasi lumpur dengan berjalan kaki. Kami bersyukur karena mengenakan alas kaki dan baju, karena ada banyak sekali orang yang tidak memiliki kedua-duanya. Dan ada begitu banyak hal lain yang dapat patut disyukuri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali inipun GKI Pondok Indah menyelenggarakan Bulan Peduli pada bulan Mei, dan salah satu fokus kepedulian kita ialah sebuah jemaat di daerah Hobart, kabupaten Sorong Selatan, Papua. Keterangan mengenai masyarakat Kristen di pedalaman Papua itu diperoleh Pdt. Riani Josaphine dari temannya, Pdt. Jeanne dari Gereja Kristen Injili Klasis Sorong.</p>
<p>Tak beberapa lama setelah rencana dibuat, dibentuklah sebuah tim yang akan melakukan perjalanan ke Hobart. Rencana pelayanan kami ini mendapat dukungan penuh dari GKI Pondok Indah dan GKI Klasis Sorong. Jemaat GKI PI bersatu-padu menyumbang buku dan baju untuk warga Hobart, sehingga terkumpul 80 koli.</p>
<p>Tim GKI PI yang akan ke Papua ini terdiri atas 11 orang: Ibu Augry Monica sebagai ketua tim, Pdt. Riani Josaphine, Bapak Barito Rivera, Bapak Kukun Sutardjana, Bapak Tjahjadi Kamadjaja, Ibu Hanny Kamadjadja, Ibu Susie Lewarissa, Charissa Tobing, Theresia Indrawati, Riyanto Dwihatma dan Metta Niham. Tim juga mengajak Bapak Sinyo sebagai tim advance, yaitu orang yang pergi terlebih dahulu untuk melihat keadaan tempat dan kebutuhan warga di Hobart. Bapak Sinyo sangat berpengalaman dalam pelayanan yang langsung terjun ke lapangan. Setelah segala persiapan selesai, tim GKI PI berangkat ke Papua pada tanggal 1 Juni 2010.</p>
<p><strong>Hari Pertama</strong></p>
<p>Kami berkumpul di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 03.30, karena harus terlebih dahulu mengurus bagasi. Bagasi yang masuk tidak hanya barang-barang pribadi kami, tapi juga barang-barang yang belum sempat dikirimkan sebelumnya ke Papua. Setelah melalui proses penimbangan, ternyata kelebihan bagasi kami mencapai 193 kilogram sehingga kami harus membayar denda hampir 8 juta rupiah.</p>
<p>Kami berangkat pukul 05.00 dengan Merpati. Pesawat menuju Makassar terlebih dahulu dan sampai di sana sekitar pukul 08.15 WITA. Setelah transit selama setengah jam, kami lalu meneruskan perjalanan selama kurang lebih dua jam menuju Sorong dan tiba di sana pada pukul 13.00 WIT.</p>
<p>Begitu tiba di Bandara Domine Eduard Osok, kami langsung dibawa ke ruangan VIP Bandara. Ada beberapa orang dari GKI Klasis Sorong dan tentunya juga Pak Sinyo, yang sudah menunggu kami di sana. Begitu masuk ke ruang VIP dan hendak menuju mobil, kami dikejutkan oleh sambutan yang begitu meriah dari para remaja dan pemuda gereja setempat yang menyajikan tarian dan lagu-lagu khas Papua, lengkap dengan baju daerah mereka.</p>
<p>Setelah itu kami pergi ke Gereja Kristen Injili Shallom dan bertemu dengan Pdt. Jeane dan Bapak Ketua Klasis Sorong, Pdt. Mofu. Di sana kami diminta untuk memperkenalkan diri kepada jemaat dan kemudian dijamu makan siang. Usai makan siang, kami pergi ke Hotel Cendrawasih, tempat kami menginap selama di Sorong. Sekitar pukul 18.30 WIT, kami makan bersama di sebuah warung seafood di daerah Tembok Berlin, yang merupakan salah satu kawasan paling terkenal di kota Sorong. Beberapa anggota tim lalu pergi ke kantor Klasis untuk kembali menyortir barang-barang, sementara yang lain pulang ke hotel untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan panjang ke kampung Hobart yang akan ditempuh keesokan harinya.</p>
<p><strong>Hari Kedua</strong></p>
<p>Kami sepenuhnya menyadari bahwa hari ini akan menjadi hari yang berat dan melelahkan, namun kami semua menghadapinya dengan penuh semangat. Pada pukul 08.00 WIT kami tiba di kantor Klasis untuk kembali mengurus bawaan yang akan dibawa ke Hobart, dan akhirnya pada pukul 10.00 WIT kami berangkat ke Hobart dengan tujuh mobil. Enam di antaranya juga digunakan untuk mengangkut barang bawaan kami. Sebelumnya kami sudah menerima informasi bahwa perjalanan menuju Hobart ini akan ditempuh dengan mobil dan setelah itu dengan berjalan kaki. Kira-kira pukul 15.30, kami sampai di sebuah desa yang bernama Batu Payung dan memberikan sejumlah sumbangan kasih berupa makanan (biskuit) dan perlengkapan mandi kepada penduduk desa itu.</p>
<p>Perjalanan kembali diteruskan dengan mobil. Kali ini jalan yang kami lewati sudah sangat berbatu-batu dan naik-turun. Menjelang sore, kami akhirnya sampai di desa Wilti. Di sini kami menitipkan sebagian barang bawaan kami, untuk nantinya kembali dibawa ke Hobart. Karena hari sudah semakin sore dan mendung, kami memutuskan untuk menyuruh tiga mobil kembali ke Sorong.</p>
<p>Mulai dari Wilti, jalan yang kami lalui kian sulit. Beberapa kali mobil yang kami gunakan terperosok ke dalam lumpur dan tidak dapat keluar. Kami sangat terkesan pada kecekatan penduduk di sana untuk menolong kami. Begitu melihat mobil kami terjebak dalam lumpur, warga Wilti dan sebagian warga Hobart yang sedang berada di Wilti langsung mengambil tali, mengikatkannya pada mobil dan bersama-sama menarik mobil yang kami tumpangi. Di antara orang-orang yang menarik mobil kami juga terdapat beberapa wanita dan anak kecil. Perjalanan kamipun diwarnai dengan off road, di mana ketrampilan mengemudikan mobil sangat diperlukan oleh sopir yang membawa kami, karena jalan yang kami lalui amat licin dan berlumpur.</p>
<p>Setelah jalan-jalan penuh lumpur itu berhasil kami lalui, akhirnya kami sampai di suatu tanjakan yang sangat terjal, sehingga sangat sulit bagi mobil untuk naik. Di tempat itu pula, semua mobil kembali terperosok ke dalam lumpur dan sama sekali tidak dapat keluar. Kala itu kira-kira pukul 6 sore WIT. Sebagian dari tim kami yang ada di mobil pertama dan kedua akhirnya berjalan kaki menuju base camp. Tempat berteduh ini sudah disiapkan oleh warga dan terbuat dari bambu yang disusun menjadi semacam dipan besar dengan terpal biru sebagai atapnya, sehingga kami juluki “Tenda Biru.” Memasuki daerah ini, kami menyadari bahwa kami sudah benar-benar berada di tengah hutan. Dalam waktu sekejap, semuanya menjadi gelap dan hujanpun turun. Penerangan kami hanya sebuah senter kecil yang tersisa, sambil menunggu anggota tim lain yang belum sampai.</p>
<p>Selama kurang lebih dua jam kami menunggu di base camp. Akhirnya, setelah semua anggota tim berkumpul dan mobil berhasil naik sampai di depan tenda, kami melihat bahwa semua warga kampung Wilti dan Hobart yang membantu menarik mobil, sudah dalam keadaan terlalu lelah. Kamipun memutuskan untuk membagi-bagikan biskuit, air minum dan makan malam kami berupa nasi boks kepada mereka. Sungguh terharu rasanya melihat mereka meminum satu gelas air mineral untuk berempat.</p>
<p>Akhirnya, kami meneruskan perjalanan kami dengan berjalan kaki. Saat itu hari sudah sangat gelap, dan jumlah senter sangat terbatas. Mula-mula kami harus mendaki sebuah bukit kapur yang cukup licin. Lalu kami diantar penduduk setempat untuk memasuki daerah Hobart. Kami diberitahu bahwa Hobart sudah dekat, tinggal sedikit lagi, namun faktanya, kami harus kembali menembus kedalaman hutan dan naik turun melewati tiga bukit. Jalan yang kami lalui sangat sempit, licin, dan diapit oleh jurang. Untunglah penduduk Hobart telah membangun pegangan bagi kami dari bambu, agar kami tidak mudah terperosok.</p>
<p>Pukul dua pagi, akhirnya kami sampai di desa Hobart. Di sana kami belum dapat mandi, karena airnya belum ada, jadi kami memutuskan untuk membersihkan badan sebisanya (dengan tisu basah) dan pergi tidur.</p>
<p><strong>Hari Ketiga</strong></p>
<p>Pukul 9 pagi kami bangun dengan sangat kehausan, karena belum minum sama sekali sejak malam harinya. Sebelum air minum tersedia, kami bergantian mandi di kamar mandi yang sudah dibuat oleh warga. Kamar mandi ini sangat terbuka, dan menggunakan terpal sebagai pintunya. Warga Hobart mengambil air dari sungai dan menaruhnya dalam jerigen untuk kami pakai. Setelah mandi, kami menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh Ibu Hanny, Ibu Susie dan Pak Tjahjadi. Setelah itu kami mengadakan Sekolah Minggu kecil. Kami mengajak anak-anak kampung Hobart untuk berkumpul dan kami bermain, membacakan cerita, dan mengajarkan nyanyian kepada mereka. Satu lagu yang paling digemari anak-anak adalah “Happy Ya Ya Ya.”</p>
<p>Setelah acara dengan anak-anak selesai, tim bagian perlengkapan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk acara Nonton Bersama yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Sesudah itu, semua anggota tim ikut menyortir barang-barang yang akan dibagikan keesokan harinya. Film yang kami putarkan pada malam itu adalah “Denias” dan “The Passion of The Christ.” Kami memutarkan film ini di bawah tenda biru. Warga sangat menyukai film “Denias” terutama karena setting film ini juga di Papua. Sementara ketika film kedua diputar, warga mulai terlihat bosan dan karena sudah larut malam, banyak yang kembali ke kediaman mereka masing-masing.</p>
<p><strong>Hari Keempat</strong></p>
<p>Hari ini kami membagikan sumbangan–sumbangan yang sudah terkumpul kepada para warga. Sebelum itu, pada pukul 9 pagi, kami melaksanakan serah-terima sumbangan kepada Pdt. Rein dan Guru Jemaat, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Pdt. Jeane dan Pak Nico, Kepala Distrik Wilti.</p>
<p>Ketika hendak memberikan sumbangan, mula-mula kami menghitung jumlah barang yang ada secara terperinci, karena nantinya dibutuhkan untuk membuat laporan pertanggungjawaban. Kemudian kami membuat formasi supaya warga yang dipanggil tinggal berjalan menyusuri formasi itu dan menerima barang yang disumbangkan. Peraturannya adalah, satu kepala keluarga yang mewakili keluarganya harus membawa tempat untuk menaruh barang seperti keranjang, karung, atau kardus yang mereka miliki, dan memperoleh satu paket shampo, satu Alkitab, satu paket sikat dan pasta gigi, satu paket sabun, baju dewasa dan baju anak-anak. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang ada, yang datanya kami peroleh dari Guru Jemaat.</p>
<p>Sore harinya, dr. Theresia memberi penyuluhan kesehatan kepada warga, dan membagi-bagikan vitamin anak, vitamin untuk orang dewasa, obat mata dan obat untuk telinga. Sebelum pembagian, warga diajari tentang cara mengonsumsi obat dan vitamin tersebut serta aturan pakainya.</p>
<p>Malam harinya, warga juga kembali diberi penyuluhan kebersihan oleh Pdt. Riani, salah satunya adalah tentang kebersihan gigi. Kemudian Ridho, salah satu warga Klasis Sorong, memberi penyuluhan tentang HIV dan AIDS kepada warga. Acara ini kembali dilanjutkan dengan nonton bareng. Kali ini film yang diputar adalah “Laskar Pelangi” dan “Garuda di Dadaku.” Acara nonton itu berlangsung hingga larut malam. Kemudian kami semua pergi tidur, menyiapkan energi untuk perjalanan esok harinya.</p>
<p><strong>Hari Kelima</strong></p>
<p>Sabtu 5 Juni 2010. Hari ini kami akan pergi meninggalkan kampung Hobart. Pada pagi hari, sebagian besar anggota tim berencana untuk mandi di sungai. Untuk mencapai sungai, kami harus berjalan kaki kurang lebih 15 menit. Air sungai itu mengalir langsung dari gunung dan sangat jernih.</p>
<p>Selesai mandi, kami kembali ke rumah dan bersiap-siap untuk berangkat ke Sorong. Sebelum berangkat, Ibu Augry selaku ketua tim memberikan sumbangan kasih kepada masyarakat yang rumahnya kami tempati, dan juga kepada ibu-ibu yang membantu kami memasak dan mencuci pakaian. Kami juga diberi buah tangan oleh warga Hobart berupa seekor ayam hidup, yang akhirnya kami berikan kepada Agus, salah satu pemuda Klasis Sorong.</p>
<p>Pukul 11 siang, kamipun berangkat. Bersama beberapa warga, kami berjalan kaki melewati tiga bukit sebelum akhirnya naik mobil. Sama seperti waktu berangkat, untuk pulangpun kami menggunakan tiga mobil. Perjalanan dengan mobil ini juga tidak mulus. Mobil harus mendaki beberapa tanjakan yang sangat terjal dan masih berurusan dengan lumpur. Di antara ketiga mobil ini, ada satu mobil yang berjalan paling depan. Ketika dua mobil lainnya masih cukup jauh di belakang, mobil ini terperosok ke lumpur yang cukup dalam. Sopir yang mengendarai mobil ini tidak berhasil mengeluarkannya kembali. Ketika itu kami hendak pergi ke Wilti, desa yang sempat kami singgahi sewaktu berangkat ke Hobart. Pak Sopir menyarankan kami untuk turun dan meneruskan perjalanan ke Wilti dengan berjalan kaki. “Sudah dekat, jalan kaki saja, Wilti tinggal satu kilometer,” katanya. Akhirnya 6 orang anggota tim ini, Ibu Augry, Bapak Barito, Bapak Tjahjadi, Ibu Hanny, Ibu Susie dan Metta bersama-sama berjalan kaki ke Wilti. Jalan yang harus dilalui ternyata sangat berlumpur, naik turun dan sangat licin. Ibu Hanny bahkan sempat tiga kali terpeleset. Dan ternyata jalan itu bukan sejauh satu kilometer seperti yang dikatakan oleh Pak Sopir, melainkan kira-kira empat kilometer dan ditempuh selama dua jam.</p>
<p>Kira-kira pukul setengah dua siang, keenam orang ini sampai di Wilti. Kami datang dengan sepatu dan celana yang penuh lumpur, kehausan dan kelaparan. Sepatu kami langsung diambil oleh para ibu untuk dicucikan. Kami juga disuguhi minum dan jagung bakar oleh Bapak Kepala Distrik, yang kami terima dengan senang hati. Setelah kurang lebih satu jam di Wilti, akhirnya anggota tim yang lain tiba juga dengan mobil. Setelah itu kami melaksanakan serah terima bantuan berupa uang sebesar dua juta lima ratus rupiah kepada Guru Jemaat di Wilti, yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan pembangunan toilet di rumah Pastori. Bantuan ini diserahkan oleh Ibu Augry.</p>
<p>Pukul empat sore, kami melanjutkan perjalanan ke Sorong dengan mobil. Kali ini keadaan jalan yang dilalui sudah jauh lebih baik. Salah satu mobil yang semi pick-up, selain diisi oleh anggota tim dan beberapa orang dari Klasis, juga ditumpangi oleh beberapa warga Hobart yang perlu pergi ke Sorong.</p>
<p>Perjalanan menuju Sorong dari Wilti memakan waktu cukup lama. Kira-kira pukul 10 malam, kami baru tiba di sana. Bersama-sama dengan beberapa orang Klasis dan warga kampung Hobart, kami makan malam di restoran “Gaya Baru.” Enam orang yang sepatunya masih basah, terpaksa pergi makan tanpa alas kaki. Selesai makan, kami pun berpisah dengan pengurus Klasis dan warga Hobart yang turut serta. Kami dan Bapak Sinyo kemudian menuju Hotel Cendrawasih untuk bermalam di sana.</p>
<p><strong>Hari Keenam</strong></p>
<p>Minggu, 6 Juni 2010. Hari ini tim kami berkurang lima orang, karena tiga di antaranya: Ibu Augry, Bapak Barito dan Bapak Kukun akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain, sedangkan dua orang lainnya: Sdri. Theresia dan Sdri. Tissa akan pulang ke Jakarta lebih awal. Anggota tim yang tersisa kemudian bersama-sama pergi ke gereja setempat (Gereja Kristen Imannuel) untuk beribadah. Sepulang dari gereja, kami kembali ke Hotel Cendrawasih dan bersiap-siap untuk check out, karena kami ingin pindah ke Hotel Royal Membrano yang terletak tidak jauh dari sana dan tempatnya lebih nyaman dan bersih. Setelah kami check in ke Hotel tersebut, kami makan siang di sana bersama Pdt. Jeanne dan suaminya, Bpk. Yongki. Usai makan siang, kami diantar ke toko suvenir di Sorong untuk berbelanja. Karena harga-harga barang di Papua rata-rata cukup mahal, kami harus pintar menawar. Sesudah berbelanja, kami pergi ke Pantai Tanjung Kasuari yang tidak terlalu ramai dan cukup bersih. Pasirnya putih dan airnya sangat jernih. Di pantai ini kami naik kano dan minum air kelapa.</p>
<p>Setelah puas berjalan-jalan, kami kembali ke hotel untuk mandi dan berisitirahat sejenak. Pukul setengah tujuh, kami berangkat dari hotel untuk makan malam. Sesudah itu Pdt. Riani dijemput oleh Pdt. Jeanne untuk rekaman khotbah di stasiun RRI. Sementara Pdt. Riani rekaman, anggota tim yang lain pergi mencari oleh-oleh keripik khas Sorong untuk dibagikan kepada Panitia Bulan Peduli yang ada di Jakarta. Setelah itu, kami kembali ke hotel untuk mendiskusikan kebutuhan utama yang diperlukan oleh masyarakat Hobart. Tak lama kemudian, Pdt Riani tiba di hotel dan ikut serta dalam diskusi ini. Pada pukul 11 malam, kami semua pergi tidur.</p>
<p><strong>Hari Ketujuh</strong></p>
<p>Hari Senin, 7 Juni 2010, adalah hari kepulangan kami ke Jakarta. Sebelum kami pulang, kami diundang makan siang oleh ketua Klasis Sorong di sebuah restoran seafood yang menghadap ke pantai. Sambil makan siang, Pdt. Riani mengutarakan kepada Bapak Pdt. Mofu, keinginan kami sebagai anggota tim dan segenap panitia yang ada di Jakarta, untuk terus membantu warga Hobart dengan berusaha membangun sebuah sumber air yang layak bagi warga di sana. Dari hasil diskusi kami sebelumnya, kami menyadari bahwa warga Hobart sangat membutuhkan sumber air yang layak sebagai langkah awal untuk menjadi sebuah komunitas yang bersih dan sehat. Pdt. Riani juga secara resmi menyerahkan sebuah rancangan awal sumber air kepada Bapak Ketua Klasis. Dari pembicaraan yang dilakukan selama jamuan makan siang ini, telah disepakati bahwa Klasis Sorong bersedia bekerja sama dengan GKI Pondok Indah untuk terus membantu warga Hobart.</p>
<p>Setelah makan siang, kami mampir ke beberapa toko suvenir lain di Sorong. Dari sana, sopir yang membawa kami menanyakan apakah kami ingin mampir ke toko batik Papua. Ketika itu, kami berpikir bahwa kami masih punya cukup waktu, karena pesawat kami akan berangkat pukul 14.25 WIT. Namun di tengah-tengah belanja kami, Bapak Sinyo mendapat telepon dari Pdt. Jeanne yang mengatakan bahwa pesawat kami sudah akan berangkat. Pdt. Jeanne dan Pdt. Rein yang sudah menunggu di bandara sangat kuatir bahwa kami akan tertinggal pesawat. Akhirnya, begitu kami tiba di bandara, kami tidak sempat lagi mengobrol panjang lebar lagi dengan mereka dan langsung naik pesawat. Di pesawat, baru kami menyadari bahwa ternyata kami seharusnya berangkat pukul 13.20 WIT dan tiba di Makassar pada pukul 14.25. Kami beruntung karena pesawat ini memang sedikit terlambat tiba di Sorong dan Pdt. Rein berhasil mengontak salah satu petinggi Merpati Airlines untuk meminta sang pilot sedikit menangguhkan keberangkatannya.</p>
<p>Pada pukul 15.30 WITA kami tiba di Makassar untuk transit. Karena kedatangan kami dari Sorong terlambat, kami harus segera pindah ke pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta. Perjalanan dari Makassar ke Jakarta kira-kira tiga jam. Pukul 16.30 WIB, kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Kami hanya sempat berkumpul sebentar sebelum akhirnya pulang ke rumah kami masing-masing.</p>
<p>Perjalanan selama tujuh hari ini merupakan sebuah perjalanan iman, di mana kami belajar untuk lebih bersyukur atas semua karunia Tuhan. Terkadang kami terlena oleh segala kenyamanan yang kami miliki. Namun setelah pengalaman ini, kami menyadari bahwa banyak hal kecil yang sering kami anggap sudah sewajarnya diterima, ternyata merupakan berkat Tuhan. Kami bersyukur atas angin yang bertiup, karena ada tempat yang hampir selalu panas. Kami bersyukur atas tanah yang rata, karena di tempat lain, orang-orang harus melintasi lumpur dengan berjalan kaki. Kami bersyukur karena mengenakan alas kaki dan baju, karena ada banyak sekali orang yang tidak memiliki kedua-duanya. Dan ada begitu banyak hal lain yang dapat patut disyukuri. Kiranya laporan kami ini berguna bagi pembaca sekalian. (Metta Niham)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-36-4509">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-195" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart01.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart01" alt="hobart01" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart01.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-196" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart02.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart02" alt="hobart02" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart02.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-197" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart03.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart03" alt="hobart03" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart03.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-198" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart04.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart04" alt="hobart04" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart04.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-199" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart05.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart05" alt="hobart05" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart05.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-200" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart06.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart06" alt="hobart06" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart06.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-201" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart07.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart07" alt="hobart07" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart07.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-202" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a  href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/hobart08.jpg" title=" " class="thickbox no_icon" rel="set_36">
								<img title="hobart08" alt="hobart08" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/hobart10/thumbs/thumbs_hobart08.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/oleh-oleh-dari-hobart/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kematian itu…&#8221;</title>
		<link>http://gkipi.org/kematian-itu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kematian-itu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 02:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4446</guid>
		<description><![CDATA[Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1: 21) Pagi itu masih terbaca dengan jelas sebuah pesan yang dikirimkan oleh seorang teman dan tertulis di messenger chat telepon seluler saya tentang berita kematian sahabat karib saya. Bagi saya, hal itu tidak terlalu mengejutkan. Sejak mendapat kabar dari seorang teman lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1: 21)</em></p>
<p>Pagi itu masih terbaca dengan jelas sebuah pesan yang dikirimkan oleh seorang teman dan tertulis di messenger chat telepon seluler saya tentang berita kematian sahabat karib saya. Bagi saya, hal itu tidak terlalu mengejutkan. Sejak mendapat kabar dari seorang teman lain tentang sakitnya sahabat karib saya itu karena komplikasi penyakit yang diidapnya selama ini, sehingga untuk kedua kalinya perlu dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo Jakarta, saya sudah memperkirakan bahwa ajalnya hampir tiba. Ah, kok terkesan begitu pesimis! Padahal kita semua tahu, bahwa hidup dan mati manusia, Tuhan-lah yang menentukan. Saya pun mengamini hal itu, tanpa keraguan sedikitpun akan kuasa Tuhan.</p>
<p>“Bro, menurut feeling-ku, kayaknya teman kita enggak bisa bertahan hidup lebih lama nih,” demikian isi balasan pesan saya kepada teman yang menginformasikan tentang sakitnya sahabat karib saya itu, tiga hari sebelum ia berpulang. “Wah, kamu sadis banget bro!” begitu bunyi balasan dari teman di seberang sana. Mungkin itu reaksi spontanitas dari kekagetannya sewaktu membaca pesan saya. Bisa dipahami bila ia tidak lagi menanggapi chatting saya selanjutnya, meskipun saya coba menerangkan alasan yang mendasari pikiran saya. Apa boleh buat.</p>
<p>Sesungguhnya peristiwa tadi merupakan pengulangan yang pernah saya dan istri alami dalam selang waktu berdekatan. Semuanya adalah orang-orang yang kami kenal dekat dan akrab.</p>
<p>Suatu siang, dalam perjalanan pulang setelah menjenguk putra saudara sepupu saya yang mengidap kanker stadium lanjut di RS International Ramsey Mitra Keluarga Jakarta Timur, saya katakan kepada istri saya, “Mam, feeling-ku kok gak enak ya. Kayaknya si Ben gak lama deh! Nanti malam kita doain dia ya…” Dua hari kemudian, saya mendapat sms dari sepupu saya, ayahnya Ben, yang memberitahukan bahwa Ben sudah kembali ke pangkuan Bapa di Surga bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20. Saya termangu membaca pesan singkatnya. Perasaan sedih menyergap saya seketika, teringat peristiwa beberapa tahun silam manakala kami kehilangan Priya Andreas Tobing, putra kami yang hanya hidup tiga belas jam setelah kelahirannya di dunia ini.</p>
<p>Peristiwa berikutnya, sebelum saya menutup tulisan ini, yakni tentang seorang kolega saya yang begitu baik dan ringan tangan menolong orang. Beliau dikenal sebagai tokoh pendidik dan pemilik sebuah lembaga pendidikan swasta di daerah Pasar Minggu. Penyakit diabetes yang diidapnya selama beberapa tahun itu menyurutkan bobot tubuhnya secara drastis, dan hidupnya bergantung sepenuhnya pada obat-obatan serta diet makanan yang harus ditaatinya dari hari ke hari. Lagi-lagi sinyal di dalam diri mengingatkan saya bahwa hidup kolega saya ini tidak berapa lama lagi. Sejujurnya, saya diliputi rasa bersalah setiap kali sinyal tersebut berbunyi melalui bibir saya, dan istri saya adalah orang pertama yang selalu saya ceritakan. Sering saya bertanya dalam hati, “Tuhan, apakah ini karunia, kepekaan, atau nalar biasa?”</p>
<p>Bukan maksud saya untuk mendahului kehendak Tuhan. Sungguh tidak terbersit sama sekali di hati saya akan hal itu. Tapi mengapa kerap kali saya alami dan menjadi kenyataan. Dalam kegalauan hati, saya pasrahkan semuanya kepada-Nya. Bagi Tuhanlah kemuliaan sampai selama-lamanya. Haleluya!</p>
<p>[Nick Tobing]</p>
<p><em>Doa mengiringi kepergian orang-orang yang kami kasihi untuk melangkah  bersama Yesus Kristus, Sang Juruselamat: Jimmy Paais, Benito Simanjuntak  &amp; Harry Asi Ganda Tobing.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kematian-itu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gula yang Tidak Manis</title>
		<link>http://gkipi.org/gula-yang-tidak-manis/</link>
		<comments>http://gkipi.org/gula-yang-tidak-manis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 04:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4179</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa ini dimulai sekitar pertengahan Maret lalu. Pada suatu Senin malam, suami saya merasa kaki kanannya pegal dan agak bengkak sehingga saya mengurutnya dengan arak, seperti biasa saya lakukan kalau salah urat atau sakit kaki. Namun kali ini rasa sakit itu tidak berkurang, bahkan tengah malam semakin menjadi-jadi. Saya sudah memeriksa apakah di kaki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa ini dimulai sekitar pertengahan Maret lalu. Pada suatu Senin malam, suami saya merasa kaki kanannya pegal dan agak bengkak sehingga saya mengurutnya dengan arak, seperti biasa saya lakukan kalau salah urat atau sakit kaki. Namun kali ini rasa sakit itu tidak berkurang, bahkan tengah malam semakin menjadi-jadi. Saya sudah memeriksa apakah di kaki yang bengkak itu ada bekas gigitan serangga atau luka, tetapi tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.</p>
<p>Keesokan harinya, kaki itu sudah bengkak sampai pertengahan betis, berwarna merah dan terasa panas, sehingga saya mengajak suami saya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit rematik. Di sana suami saya ditanya apakah ia menderita penyakit gula, karena obat untuk rematik akan menaikkan gula darahnya. Memang kadar gula darah suami saya sudah dua bulan ini sedikit di atas normal. Pada saat puasa, kadarnya sekitar 110-115 dan dokter endokrinologi mengatakan bahwa jika berat badannya bisa turun, pasti gula darahnya akan normal kembali. Suami saya yang saat ini berusia 61 tahun, memang sedang mengikuti program diet untuk menurunkan berat badannya.</p>
<p>Selama makan obat rematik, kadar gula darahnya terus dikontrol, dan selalu di bawah 160. Namun sekitar lima hari kemudian, muncul tiga pelepuhan di mata kaki suami saya, yang kira-kira sebesar koin Rp 100,-. Oleh dokter, saya dianjurkan untuk mengompresnya dan dua hari kemudian pelepuhan itu mengempis. Tapi keesokan harinya pelepuhan itu malah pecah, sehingga mengakibatkan luka. Hari itu kebetulan Paska dan libur panjang, sehingga dokter tidak praktik. Saya merawat sendiri luka itu dengan dibantu oleh beberapa teman dokter, sambil menunggu hari Senin tiba.</p>
<p>Sebenarnya sejak luka itu timbul, hati saya cemas sekali karena saya tahu akibat luka pada penderita diabetes, walaupun tampak kecil. Hari Senin, ketika suami saya kembali memeriksakan diri ke dokter, ia langsung disuruh opname. Dokter mengatakan bahwa luka itu harus segera ditangani dan bahwa pengobatan penyakit rematiknya bisa sambil jalan. Wah, benar dugaan saya, luka itu serius sekali! Malam itu juga suami saya diopname, dan mimpi buruk kami dimulai. Di sinilah kami belajar bersandar dan berserah penuh kepada Tuhan. Kami menyadari bahwa kalau hal ini terjadi pada kami, pastilah Tuhan mengizinkannya, tetapi Ia tidak akan membiarkan kami jatuh tergeletak (Mazmur 37:34).</p>
<p>Keesokan harinya, setelah melihat luka tersebut, dokter endokrinologi langsung berkonsultasi dengan dokter bedah. Hari itu juga dokter bedah datang memeriksa dan langsung merencanakan tindakan operasi pada keesokan harinya, guna membersihkan luka itu. Istilahnya sederhana, “membersihkan luka”, tetapi saya tahu bahwa operasi ini tidak sesederhana itu. Bengkak di kaki suami saya sudah sampai di bawah lutut. Saya berdoa kepada Tuhan agar kalau boleh, kaki suami saya jangan sampai diamputasi, tapi saya tidak berani memberitahu kemungkinan ini kepada suami saya. Saya lalu mengajaknya berdoa dan menyerahkan operasi ini sepenuhnya kepada Tuhan. Kami percaya bahwa Dia akan memberikan hal yang terbaik bagi kami.</p>
<p>Kami bersyukur bahwa kami tidak sendirian di dalam doa-doa kami. Tuhan memberikan kekuatan kepada kami melalui dukungan doa dan kasih dari hamba-hamba Tuhan dan teman-teman seiman. Salah satu penghiburan yang menjadi kekuatan kami ialah ayat-ayat dari Mazmur 23: Tuhan tidak selalu membaringkan kami di padang yang berumput hijau dan berair tenang tetapi terkadang Ia membiarkan kami berjalan di dalam lembah kekelaman. Meskipun begitu, Ia tidak akan meninggalkan kami. Gada dan tongkat-Nya akan menjaga kami.</p>
<p>Malam pun tiba dan kami sulit memicingkan mata, tetapi akhirnya kami terlelap juga dan cukup tidur untuk menghadapi saat-saat operasi. Ketika operasi berlangsung pada pagi harinya, hati kami sudah tenang, apalagi kami didampingi oleh hamba Tuhan dan teman-teman yang terus menguatkan kami.</p>
<p>Seusai operasi dan suami saya kembali ke kamar, saya sangat kaget melihat luka yang katanya “dibersihkan” itu, karena ternyata menganga mulai dari pertengahan betis sampai punggung kaki, berbentuk huruf L dengan ukuran kira-kira 20 x 10 cm! Tapi saya bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa saya. Infeksi yang diderita oleh suami saya tidak sampai mengenai tulang, sehingga kakinya tidak diamputasi. Luka itu mengerikan sekali! Sampai sekarang kalau saya mengingat saat itu, saya masih menangis, tetapi tentu dengan suasana hati yang berbeda. Dulu saya menangis mengingat beratnya penderitaan yang harus dihadapi oleh suami saya, tetapi kini saya meneteskan air mata terharu dan penuh syukur atas kemurahan Tuhan yang selalu menolong kami menjalani ujian ini melalui mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya.</p>
<p>Sehari sesudah operasi, luka tersebut harus dibersihkan tiga kali sehari. Ini adalah saat-saat yang menakutkan bagi suami saya, karena sakitnya luar biasa. Bayangkan! Luka yang menganga 10&#215;20 cm itu harus disiram H2O2 lalu NaCl 0,9%, setelah itu harus dipencet untuk mengeluarkan nanahnya. Pemakaian pain killer sebelum luka dibersihkan, ternyata tidak bermanfaat, jadi akhirnya tidak dipakai.</p>
<p>Meskipun begitu, suami saya masih bisa bercanda. Kalau ia mendengar suara kereta yang membawa peralatan ganti perban mendekat, ia selalu berkata, “Wah, tim penyiksa datang.” Semua ini harus dijalaninya selama empat hari, sesudah itu berkurang menjadi dua kali sehari. Kami menginap di rumah sakit selama 14 hari, lalu pada hari Rabu diizinkan pulang untuk datang kontrol lagi pada hari Senin di bagian endokrinologi.</p>
<p>Selama di rumah, kami memakai jasa perawat untuk mengganti perban sekali sehari. Ketika hari Senin kami datang untuk kontrol, dokter endokrinologinya senang sekali melihat pertumbuhan jaringan luka suami saya yang sudah bagus. Suami saya lalu dikonsulkan ke bagian bedah plastik untuk menjalani skin graft (cangkok kulit) karena lukanya sangat besar. Sebenarnya suami saya bisa juga tidak menjalani cangkok kulit, tetapi ia harus menunggu lama sampai kulit di luka itu tumbuh kembali. Dokter ahli bedah plastik segera merencanakan skin graft itu satu minggu kemudian. Wah, kami senang sekali karena kemajuannya begitu cepat, tetapi semua ini juga dibantu oleh kadar gula darah suami saya yang selalu di bawah 110. Kami sangat bersyukur atas pertolongan Tuhan karena semua tindakan berjalan lancar.</p>
<p>Tapi pada hari Kamis, hasil laboratorium menunjukkan bahwa kadar albumin suami saya hanya 3,04. Dokter tidak berani melakukan operasi kalau kadarnya kurang dari 3,5 karena cangkok kulit tidak akan berhasil baik. Jadi suami saya terpaksa diopname lagi untuk mendapat transfusi albumin. Satu botol infus albumin yang berisi 100 cc biasanya hanya dapat menaikkan nilai kadar albumin dalam hitungan koma. Jadi kami berpikir, berapa botol infus albumin dan berapa hari lagi suami saya harus tinggal di rumah sakit?</p>
<p>Tiada lagi tempat kami mengeluh, hanya ke dalam tangan-Nya saja kami berserah, “Tuhan, Engkau tahu mana hal yang terbaik bagi kami, tolong beri kami kesabaran, kekuatan jasmani dan rohani dan terutama keberanian untuk suami saya dalam menjalani semua ujian ini.” Luar biasa, hanya dengan satu botol infus albumin, kadar albumin suami saya naik menjadi 3,57! Kami sangat bersyukur karena Tuhan kembali mengulurkan tangan pertolongan-Nya.</p>
<p>Skin graft lalu direncanakan untuk dilakukan pada hari Senin berikutnya. Tetapi lagi-lagi halangan datang. Di daerah paha kanan yang akan dijadikan donor kulit, tiba-tiba timbul bintik-bintik alergi sehingga operasi harus ditunda lagi, bahkan sampai hampir dua minggu karena ada hari libur dan dokter yang absen untuk menghadiri suatu kongres di luar kota. Aduh, saya hampir putus asa! Tapi lagi-lagi kasih dan dukungan doa dari hamba-hamba Tuhan dan teman-teman menguatkan kami. Tuhan tahu kapan waktu yang terbaik buat operasi ini. Selama masa menunggu itu, kami betul-betul belajar untuk  menyerahkan semua kekuatiran dan ketakutan kami kepada-Nya.</p>
<p>Akhirnya hari H tiba juga pada tanggal 17 Mei 2010. Tuhan kembali turut bekerja. Biasanya sulit sekali memperoleh kamar di rumah sakit, apalagi saat itu kasus demam berdarah sedang merebak, tetapi suami saya mendapatkannya dengan mudah. Saya juga berpikir bahwa untuk alasan praktis, saya terlebih dulu mengantar suami saya ke kamarnya dan kemudian baru mengurus administrasi pendaftarannya, namun ternyata perawat di ruangan dapat mengerjakannya bagi kami. Sungguh kami mendapat banyak kemudahan sehingga kami yakin bahwa inilah saat yang tepat. Operasi yang semula dijadwalkan pukul 10 pun dimajukan pada pukul 8 pagi. Tentu saja kami senang karena semakin cepat selesai, semakin baik.</p>
<p>Operasi berlangsung kira-kira satu jam, dan pada pukul 13.00 suami saya sudah dipindahkan ke kamar. Seperti pada opname-opname sebelumnya, kali ini saya juga menemaninya di rumah sakit. Kami hanya menginap di rumah sakit selama dua malam, lalu empat hari kemudian datang kembali ke sana untuk kontrol dan ganti perban.</p>
<p>Ketika pertama kali ganti perban, dokter langsung berkata, “Wah kayaknya cangkok ini bakal berhasil 100%. Kemungkinan gagal sedikit sekali.” Tapi empat hari kemudian, ketika kami datang untuk ganti perban lagi, luka di paha suami saya menunjukkan alergi. Syukurlah, karena kadar gula suami saya terkontrol dan penyembuhan lukanya baik, dokter kemudian memutuskan untuk menghentikan pemakaian antibiotik karena ia menduga bahwa alergi ini berasal dari antibiotik. Dugaannya benar. Begitu perban dibuka empat hari kemudian, cangkok kulit itu benar-benar berhasil 100 %, sehingga dokter itu sendiri pun kagum, karena jarang sekali terjadi hal seperti ini. Sekarang kami tinggal menunggu tahap terakhir proses penyembuhan ini. Sekali lagi kami bersyukur karena Tuhan sudah memberi kami, terutama suami saya, kekuatan, keberanian dan kesabaran sehingga bisa menjalani semua ujian itu dengan baik. Amsal 17:22 mengajar kami untuk selalu mengawali dan mengakhiri semua hal dengan hati gembira.</p>
<p>Terima kasih untuk cinta, perhatian dan dukungan doa semua teman kami. Dengan berbagi pengalaman ini, kami ingin mengingatkan teman-teman diabetisi untuk tidak meremehkan penyakit ini, karena komplikasinya begitu banyak dan sangat mengerikan. Semoga bermanfaat. (dari seseorang yang peduli pada penderita Diabetes Mellitus atau Kencing Manis)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/gula-yang-tidak-manis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

