<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Sudut Hidup</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/sudut-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Kematian itu…&#8221;</title>
		<link>http://gkipi.org/kematian-itu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kematian-itu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 02:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4446</guid>
		<description><![CDATA[Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1: 21) Pagi itu masih terbaca dengan jelas sebuah pesan yang dikirimkan oleh seorang teman dan tertulis di messenger chat telepon seluler saya tentang berita kematian sahabat karib saya. Bagi saya, hal itu tidak terlalu mengejutkan. Sejak mendapat kabar dari seorang teman lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1: 21)</em></p>
<p>Pagi itu masih terbaca dengan jelas sebuah pesan yang dikirimkan oleh seorang teman dan tertulis di messenger chat telepon seluler saya tentang berita kematian sahabat karib saya. Bagi saya, hal itu tidak terlalu mengejutkan. Sejak mendapat kabar dari seorang teman lain tentang sakitnya sahabat karib saya itu karena komplikasi penyakit yang diidapnya selama ini, sehingga untuk kedua kalinya perlu dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo Jakarta, saya sudah memperkirakan bahwa ajalnya hampir tiba. Ah, kok terkesan begitu pesimis! Padahal kita semua tahu, bahwa hidup dan mati manusia, Tuhan-lah yang menentukan. Saya pun mengamini hal itu, tanpa keraguan sedikitpun akan kuasa Tuhan.</p>
<p>“Bro, menurut feeling-ku, kayaknya teman kita enggak bisa bertahan hidup lebih lama nih,” demikian isi balasan pesan saya kepada teman yang menginformasikan tentang sakitnya sahabat karib saya itu, tiga hari sebelum ia berpulang. “Wah, kamu sadis banget bro!” begitu bunyi balasan dari teman di seberang sana. Mungkin itu reaksi spontanitas dari kekagetannya sewaktu membaca pesan saya. Bisa dipahami bila ia tidak lagi menanggapi chatting saya selanjutnya, meskipun saya coba menerangkan alasan yang mendasari pikiran saya. Apa boleh buat.</p>
<p>Sesungguhnya peristiwa tadi merupakan pengulangan yang pernah saya dan istri alami dalam selang waktu berdekatan. Semuanya adalah orang-orang yang kami kenal dekat dan akrab.</p>
<p>Suatu siang, dalam perjalanan pulang setelah menjenguk putra saudara sepupu saya yang mengidap kanker stadium lanjut di RS International Ramsey Mitra Keluarga Jakarta Timur, saya katakan kepada istri saya, “Mam, feeling-ku kok gak enak ya. Kayaknya si Ben gak lama deh! Nanti malam kita doain dia ya…” Dua hari kemudian, saya mendapat sms dari sepupu saya, ayahnya Ben, yang memberitahukan bahwa Ben sudah kembali ke pangkuan Bapa di Surga bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20. Saya termangu membaca pesan singkatnya. Perasaan sedih menyergap saya seketika, teringat peristiwa beberapa tahun silam manakala kami kehilangan Priya Andreas Tobing, putra kami yang hanya hidup tiga belas jam setelah kelahirannya di dunia ini.</p>
<p>Peristiwa berikutnya, sebelum saya menutup tulisan ini, yakni tentang seorang kolega saya yang begitu baik dan ringan tangan menolong orang. Beliau dikenal sebagai tokoh pendidik dan pemilik sebuah lembaga pendidikan swasta di daerah Pasar Minggu. Penyakit diabetes yang diidapnya selama beberapa tahun itu menyurutkan bobot tubuhnya secara drastis, dan hidupnya bergantung sepenuhnya pada obat-obatan serta diet makanan yang harus ditaatinya dari hari ke hari. Lagi-lagi sinyal di dalam diri mengingatkan saya bahwa hidup kolega saya ini tidak berapa lama lagi. Sejujurnya, saya diliputi rasa bersalah setiap kali sinyal tersebut berbunyi melalui bibir saya, dan istri saya adalah orang pertama yang selalu saya ceritakan. Sering saya bertanya dalam hati, “Tuhan, apakah ini karunia, kepekaan, atau nalar biasa?”</p>
<p>Bukan maksud saya untuk mendahului kehendak Tuhan. Sungguh tidak terbersit sama sekali di hati saya akan hal itu. Tapi mengapa kerap kali saya alami dan menjadi kenyataan. Dalam kegalauan hati, saya pasrahkan semuanya kepada-Nya. Bagi Tuhanlah kemuliaan sampai selama-lamanya. Haleluya!</p>
<p>[Nick Tobing]</p>
<p><em>Doa mengiringi kepergian orang-orang yang kami kasihi untuk melangkah  bersama Yesus Kristus, Sang Juruselamat: Jimmy Paais, Benito Simanjuntak  &amp; Harry Asi Ganda Tobing.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kematian-itu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gula yang Tidak Manis</title>
		<link>http://gkipi.org/gula-yang-tidak-manis/</link>
		<comments>http://gkipi.org/gula-yang-tidak-manis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 04:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4179</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa ini dimulai sekitar pertengahan Maret lalu. Pada suatu Senin malam, suami saya merasa kaki kanannya pegal dan agak bengkak sehingga saya mengurutnya dengan arak, seperti biasa saya lakukan kalau salah urat atau sakit kaki. Namun kali ini rasa sakit itu tidak berkurang, bahkan tengah malam semakin menjadi-jadi. Saya sudah memeriksa apakah di kaki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa ini dimulai sekitar pertengahan Maret lalu. Pada suatu Senin malam, suami saya merasa kaki kanannya pegal dan agak bengkak sehingga saya mengurutnya dengan arak, seperti biasa saya lakukan kalau salah urat atau sakit kaki. Namun kali ini rasa sakit itu tidak berkurang, bahkan tengah malam semakin menjadi-jadi. Saya sudah memeriksa apakah di kaki yang bengkak itu ada bekas gigitan serangga atau luka, tetapi tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.</p>
<p>Keesokan harinya, kaki itu sudah bengkak sampai pertengahan betis, berwarna merah dan terasa panas, sehingga saya mengajak suami saya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit rematik. Di sana suami saya ditanya apakah ia menderita penyakit gula, karena obat untuk rematik akan menaikkan gula darahnya. Memang kadar gula darah suami saya sudah dua bulan ini sedikit di atas normal. Pada saat puasa, kadarnya sekitar 110-115 dan dokter endokrinologi mengatakan bahwa jika berat badannya bisa turun, pasti gula darahnya akan normal kembali. Suami saya yang saat ini berusia 61 tahun, memang sedang mengikuti program diet untuk menurunkan berat badannya.</p>
<p>Selama makan obat rematik, kadar gula darahnya terus dikontrol, dan selalu di bawah 160. Namun sekitar lima hari kemudian, muncul tiga pelepuhan di mata kaki suami saya, yang kira-kira sebesar koin Rp 100,-. Oleh dokter, saya dianjurkan untuk mengompresnya dan dua hari kemudian pelepuhan itu mengempis. Tapi keesokan harinya pelepuhan itu malah pecah, sehingga mengakibatkan luka. Hari itu kebetulan Paska dan libur panjang, sehingga dokter tidak praktik. Saya merawat sendiri luka itu dengan dibantu oleh beberapa teman dokter, sambil menunggu hari Senin tiba.</p>
<p>Sebenarnya sejak luka itu timbul, hati saya cemas sekali karena saya tahu akibat luka pada penderita diabetes, walaupun tampak kecil. Hari Senin, ketika suami saya kembali memeriksakan diri ke dokter, ia langsung disuruh opname. Dokter mengatakan bahwa luka itu harus segera ditangani dan bahwa pengobatan penyakit rematiknya bisa sambil jalan. Wah, benar dugaan saya, luka itu serius sekali! Malam itu juga suami saya diopname, dan mimpi buruk kami dimulai. Di sinilah kami belajar bersandar dan berserah penuh kepada Tuhan. Kami menyadari bahwa kalau hal ini terjadi pada kami, pastilah Tuhan mengizinkannya, tetapi Ia tidak akan membiarkan kami jatuh tergeletak (Mazmur 37:34).</p>
<p>Keesokan harinya, setelah melihat luka tersebut, dokter endokrinologi langsung berkonsultasi dengan dokter bedah. Hari itu juga dokter bedah datang memeriksa dan langsung merencanakan tindakan operasi pada keesokan harinya, guna membersihkan luka itu. Istilahnya sederhana, “membersihkan luka”, tetapi saya tahu bahwa operasi ini tidak sesederhana itu. Bengkak di kaki suami saya sudah sampai di bawah lutut. Saya berdoa kepada Tuhan agar kalau boleh, kaki suami saya jangan sampai diamputasi, tapi saya tidak berani memberitahu kemungkinan ini kepada suami saya. Saya lalu mengajaknya berdoa dan menyerahkan operasi ini sepenuhnya kepada Tuhan. Kami percaya bahwa Dia akan memberikan hal yang terbaik bagi kami.</p>
<p>Kami bersyukur bahwa kami tidak sendirian di dalam doa-doa kami. Tuhan memberikan kekuatan kepada kami melalui dukungan doa dan kasih dari hamba-hamba Tuhan dan teman-teman seiman. Salah satu penghiburan yang menjadi kekuatan kami ialah ayat-ayat dari Mazmur 23: Tuhan tidak selalu membaringkan kami di padang yang berumput hijau dan berair tenang tetapi terkadang Ia membiarkan kami berjalan di dalam lembah kekelaman. Meskipun begitu, Ia tidak akan meninggalkan kami. Gada dan tongkat-Nya akan menjaga kami.</p>
<p>Malam pun tiba dan kami sulit memicingkan mata, tetapi akhirnya kami terlelap juga dan cukup tidur untuk menghadapi saat-saat operasi. Ketika operasi berlangsung pada pagi harinya, hati kami sudah tenang, apalagi kami didampingi oleh hamba Tuhan dan teman-teman yang terus menguatkan kami.</p>
<p>Seusai operasi dan suami saya kembali ke kamar, saya sangat kaget melihat luka yang katanya “dibersihkan” itu, karena ternyata menganga mulai dari pertengahan betis sampai punggung kaki, berbentuk huruf L dengan ukuran kira-kira 20 x 10 cm! Tapi saya bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa saya. Infeksi yang diderita oleh suami saya tidak sampai mengenai tulang, sehingga kakinya tidak diamputasi. Luka itu mengerikan sekali! Sampai sekarang kalau saya mengingat saat itu, saya masih menangis, tetapi tentu dengan suasana hati yang berbeda. Dulu saya menangis mengingat beratnya penderitaan yang harus dihadapi oleh suami saya, tetapi kini saya meneteskan air mata terharu dan penuh syukur atas kemurahan Tuhan yang selalu menolong kami menjalani ujian ini melalui mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya.</p>
<p>Sehari sesudah operasi, luka tersebut harus dibersihkan tiga kali sehari. Ini adalah saat-saat yang menakutkan bagi suami saya, karena sakitnya luar biasa. Bayangkan! Luka yang menganga 10&#215;20 cm itu harus disiram H2O2 lalu NaCl 0,9%, setelah itu harus dipencet untuk mengeluarkan nanahnya. Pemakaian pain killer sebelum luka dibersihkan, ternyata tidak bermanfaat, jadi akhirnya tidak dipakai.</p>
<p>Meskipun begitu, suami saya masih bisa bercanda. Kalau ia mendengar suara kereta yang membawa peralatan ganti perban mendekat, ia selalu berkata, “Wah, tim penyiksa datang.” Semua ini harus dijalaninya selama empat hari, sesudah itu berkurang menjadi dua kali sehari. Kami menginap di rumah sakit selama 14 hari, lalu pada hari Rabu diizinkan pulang untuk datang kontrol lagi pada hari Senin di bagian endokrinologi.</p>
<p>Selama di rumah, kami memakai jasa perawat untuk mengganti perban sekali sehari. Ketika hari Senin kami datang untuk kontrol, dokter endokrinologinya senang sekali melihat pertumbuhan jaringan luka suami saya yang sudah bagus. Suami saya lalu dikonsulkan ke bagian bedah plastik untuk menjalani skin graft (cangkok kulit) karena lukanya sangat besar. Sebenarnya suami saya bisa juga tidak menjalani cangkok kulit, tetapi ia harus menunggu lama sampai kulit di luka itu tumbuh kembali. Dokter ahli bedah plastik segera merencanakan skin graft itu satu minggu kemudian. Wah, kami senang sekali karena kemajuannya begitu cepat, tetapi semua ini juga dibantu oleh kadar gula darah suami saya yang selalu di bawah 110. Kami sangat bersyukur atas pertolongan Tuhan karena semua tindakan berjalan lancar.</p>
<p>Tapi pada hari Kamis, hasil laboratorium menunjukkan bahwa kadar albumin suami saya hanya 3,04. Dokter tidak berani melakukan operasi kalau kadarnya kurang dari 3,5 karena cangkok kulit tidak akan berhasil baik. Jadi suami saya terpaksa diopname lagi untuk mendapat transfusi albumin. Satu botol infus albumin yang berisi 100 cc biasanya hanya dapat menaikkan nilai kadar albumin dalam hitungan koma. Jadi kami berpikir, berapa botol infus albumin dan berapa hari lagi suami saya harus tinggal di rumah sakit?</p>
<p>Tiada lagi tempat kami mengeluh, hanya ke dalam tangan-Nya saja kami berserah, “Tuhan, Engkau tahu mana hal yang terbaik bagi kami, tolong beri kami kesabaran, kekuatan jasmani dan rohani dan terutama keberanian untuk suami saya dalam menjalani semua ujian ini.” Luar biasa, hanya dengan satu botol infus albumin, kadar albumin suami saya naik menjadi 3,57! Kami sangat bersyukur karena Tuhan kembali mengulurkan tangan pertolongan-Nya.</p>
<p>Skin graft lalu direncanakan untuk dilakukan pada hari Senin berikutnya. Tetapi lagi-lagi halangan datang. Di daerah paha kanan yang akan dijadikan donor kulit, tiba-tiba timbul bintik-bintik alergi sehingga operasi harus ditunda lagi, bahkan sampai hampir dua minggu karena ada hari libur dan dokter yang absen untuk menghadiri suatu kongres di luar kota. Aduh, saya hampir putus asa! Tapi lagi-lagi kasih dan dukungan doa dari hamba-hamba Tuhan dan teman-teman menguatkan kami. Tuhan tahu kapan waktu yang terbaik buat operasi ini. Selama masa menunggu itu, kami betul-betul belajar untuk  menyerahkan semua kekuatiran dan ketakutan kami kepada-Nya.</p>
<p>Akhirnya hari H tiba juga pada tanggal 17 Mei 2010. Tuhan kembali turut bekerja. Biasanya sulit sekali memperoleh kamar di rumah sakit, apalagi saat itu kasus demam berdarah sedang merebak, tetapi suami saya mendapatkannya dengan mudah. Saya juga berpikir bahwa untuk alasan praktis, saya terlebih dulu mengantar suami saya ke kamarnya dan kemudian baru mengurus administrasi pendaftarannya, namun ternyata perawat di ruangan dapat mengerjakannya bagi kami. Sungguh kami mendapat banyak kemudahan sehingga kami yakin bahwa inilah saat yang tepat. Operasi yang semula dijadwalkan pukul 10 pun dimajukan pada pukul 8 pagi. Tentu saja kami senang karena semakin cepat selesai, semakin baik.</p>
<p>Operasi berlangsung kira-kira satu jam, dan pada pukul 13.00 suami saya sudah dipindahkan ke kamar. Seperti pada opname-opname sebelumnya, kali ini saya juga menemaninya di rumah sakit. Kami hanya menginap di rumah sakit selama dua malam, lalu empat hari kemudian datang kembali ke sana untuk kontrol dan ganti perban.</p>
<p>Ketika pertama kali ganti perban, dokter langsung berkata, “Wah kayaknya cangkok ini bakal berhasil 100%. Kemungkinan gagal sedikit sekali.” Tapi empat hari kemudian, ketika kami datang untuk ganti perban lagi, luka di paha suami saya menunjukkan alergi. Syukurlah, karena kadar gula suami saya terkontrol dan penyembuhan lukanya baik, dokter kemudian memutuskan untuk menghentikan pemakaian antibiotik karena ia menduga bahwa alergi ini berasal dari antibiotik. Dugaannya benar. Begitu perban dibuka empat hari kemudian, cangkok kulit itu benar-benar berhasil 100 %, sehingga dokter itu sendiri pun kagum, karena jarang sekali terjadi hal seperti ini. Sekarang kami tinggal menunggu tahap terakhir proses penyembuhan ini. Sekali lagi kami bersyukur karena Tuhan sudah memberi kami, terutama suami saya, kekuatan, keberanian dan kesabaran sehingga bisa menjalani semua ujian itu dengan baik. Amsal 17:22 mengajar kami untuk selalu mengawali dan mengakhiri semua hal dengan hati gembira.</p>
<p>Terima kasih untuk cinta, perhatian dan dukungan doa semua teman kami. Dengan berbagi pengalaman ini, kami ingin mengingatkan teman-teman diabetisi untuk tidak meremehkan penyakit ini, karena komplikasinya begitu banyak dan sangat mengerikan. Semoga bermanfaat. (dari seseorang yang peduli pada penderita Diabetes Mellitus atau Kencing Manis)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/gula-yang-tidak-manis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati? Hati yang Mana?</title>
		<link>http://gkipi.org/hati-hati-yang-mana/</link>
		<comments>http://gkipi.org/hati-hati-yang-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 10:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3910</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang pertanyaannya bagi saya bukanlah apakah saya berkarya dengan hati, melainkan apakah saya tahu di mana hati saya berada. Sekitar dua tahun lalu saya mengambil keputusan penting dalam karir saya, yakni meninggalkan dunia desain dan memfokuskan diri di musik. Bermain biola adalah sesuatu yang saya cintai sejak kecil, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Memang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang pertanyaannya bagi saya bukanlah apakah saya berkarya dengan hati, melainkan apakah saya tahu di mana hati saya berada.</p>
<p>Sekitar dua tahun lalu saya mengambil keputusan penting dalam karir saya, yakni meninggalkan dunia desain dan memfokuskan diri di musik. Bermain biola adalah sesuatu yang saya cintai sejak kecil, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Memang saya memutuskan untuk mempelajari desain grafis di universitas, tetapi ketika saya bekerja sebagai desainer, hati saya melolong dan meronta, ingin kembali ke dunia musik. Beberapa teman saya bahkan menanggapi ‘deklarasi musisi’ saya dengan senyum sambil berkata, “Gua udah tahu dari dulu lu bakal jadi musisi.”</p>
<p>Meskipun bermain musik sudah menjadi bagian dari hidup saya sejak kecil, tidak pernah terbesit bahwa itu akan menjadi profesi pokok, padahal saya sudah mengajar biola sejak SMU. Mungkin ada suatu anggapan di kepala saya bahwa bekerja itu berarti pergi ke kantor. Tidak terbayang bahwa saya akan menikmati kehidupan musisi yang fleksibel. Berangkat ke sekolah musik, tidak terikat dengan nine to five, mengerjakan sesuatu yang pencapaiannya abstrak.</p>
<p>Tentulah di awal menjalani ‘kehidupan baru’, saya tidak mampu serta merta melepaskan dunia desain yang sudah saya geluti selama empat tahun. Ketika bertemu dengan seorang teman dan berbincang mengenai profesi, ia mengatakan bahwa ia menyangka saya sudah memiliki keyakinan untuk bergelut di musik sejak dulu. Saya menjawab, tidak sama sekali. Bahkan ketika keputusan itu sudah diambil pun, rasanya saya tetap seperti sebelumnya: Kaki kanan memijak di dunia desain, kaki kiri di dunia musik.</p>
<p>Pernahkah Anda membaca bahwa orang yang mendua hati tidak akan mencapai apapun dalam hidupnya? Pada awalnya saya tidak memercayai perkataan tersebut. Bagi saya, jika saya memiliki skill dan bisa membagi waktu, semestinya semuanya akan terus maju dan berkembang. Toh Tuhan sudah memberikan banyak talenta, mengapa saya harus memilih satu?</p>
<p>Akan tetapi semuanya sangat melelahkan. Pagi hari, yang seharusnya saya gunakan untuk berlatih biola sebelum mengajar, malah saya gunakan untuk mengerjakan proyek desain. Malam hari, yang seharusnya saya gunakan untuk beristirahat, juga saya gunakan untuk mengerjakan desain. Ketika deadline datang, hati saya makin terbagi, kepala saya berputar dalam kebingungan. Klien tidak pernah mengerti kewajiban-kewajiban lain desainernya, yang penting pekerjaan harus selesai, tidak peduli sampai jam berapa. Murid pun tidak bisa dibatalkan seenaknya. Bisa-bisa kredibilitas saya sebagai guru hancur, begitu juga kredibilitas sekolah musik tempat saya bekerja.</p>
<p>Akhirnya saya menyerah. Memang benar, orang yang mendua hati tidak pernah mencapai sesuatu. Meskipun semua pekerjaan selesai dengan ‘memadai’ (tenaga saya tidak pernah cukup untuk mengerjakan sesuatu sampai ke tahap ‘luar biasa’), saya tidak merasakan suatu keberhasilan. Hanya ada kelelahan dan kebingungan, rasanya saya tidak tahu hati saya ada di mana. Ketika hati terbagi, pikiran dan usaha tentu juga terbagi, akhirnya semuanya malah setengah-setengah. Entah bagaimana Tompi bisa berakrobat antara dunia tarik suara dan kedokteran.</p>
<p>Sebenarnya hati saya ada di mana? Sebenarnya saya maunya apa? Jujur, sampai saat itu saya tidak pernah yakin. Saya tidak mau menanggung konsekuensi jika harus memilih satu bidang dan meninggalkan yang lain. Bisa dibilang saya tidak mau rugi.</p>
<p>Impian saya adalah menjadi seperti Leonardo da Vinci, seorang manusia Renaisans tulen: menggeluti seni, ilmu pasti, arsitektur dan teknik mesin pada saat yang bersamaan. Tetapi impian hanyalah impian. Tentu saja saya bukan Leonardo da Vinci! Saya bahkan tidak masuk kategori jenius atau child prodigy. Siapa sih yang masih bisa seperti itu di era seperti sekarang?</p>
<p>Akhirnya, saya berdamai dengan kenyataan. Meskipun saya bisa melakukan banyak hal, bukan berarti saya mampu melakukan semuanya sekaligus. Kepala saya tidak seperti harddisk yang bisa diberikan partisi. Kepala saya hanya satu, hati saya hanya satu, badan saya juga hanya satu, memang begitulah adanya.</p>
<p>Lucunya, saya bukannya menemukan di mana hati saya berada, saya malah memutuskan di mana ia harus berada. Dengan mantap saya melangkah untuk bergelut di musik sebagai seorang profesional. Seorang profesional yang serius dan terfokus, bukan seorang yang bekerja dengan kualitas ‘rata-rata’ karena tidak cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dunia desain tetap menjadi suatu hobi dan skill, tetapi hati, pikiran dan tenaga saya hampir tidak ada lagi di situ.</p>
<p>Sudah setahun berlalu sejak keputusan itu. Makin hari saya semakin tenang dan bahagia dalam bekerja. Pagi hari saya pergunakan untuk berlatih sendiri, menajamkan kemampuan bermain biola agar tidak memalukan diri sendiri di depan murid, siang hingga sore saya mengajar, malam hari saya mengevaluasi diri dan beristirahat. Sungguh, rasanya hidup menjadi lebih seimbang dan mantap. Untuk pertama kalinya, kedua kaki saya berpijak di dunia yang sama.</p>
<p>Jangan salah, berkali-kali saya tergoda untuk melihat ke belakang, seperti istri Lot. Beruntunglah saya tidak menjadi tiang garam yang membeku sehingga tidak bisa maju ke depan lagi. Setiap kali saya tergoda untuk merasa tidak puas dan kembali galau dengan pilihan hidup, saya kembali berlutut dan berdoa. Pertama-tama untuk minta ampun atas kelemahan saya, selanjutnya untuk meminta kekuatan. Syukurlah, Tuhan tidak pernah lalai menjawab.</p>
<p>[Karina Soerjodibroto]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/hati-hati-yang-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan Menagih Janji untuk  Melayani-Nya</title>
		<link>http://gkipi.org/tuhan-menagih-janji-untuk-melayani-nya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/tuhan-menagih-janji-untuk-melayani-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 06:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3661</guid>
		<description><![CDATA[Saya sungguh sangat bersyukur, karena sampai detik ini, dalam usia yang sudah mencapai angka 70, Tuhan masih memberi kepercayaan bagi saya untuk melakukan pelayanan, baik bagi sesama, maupun juga bagi Tuhan sendiri. Saya sendiri sebenarnya adalah OKB, bukan orang kaya baru, melainkan orang Kristen baru, karena saya merasa benar-benar dipanggil Tuhan baru pada tahun 1984, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-3663" style="border: 1px solid #8c6239; padding: 3px;" title="pasuk" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/04/pasuk.jpg" alt="" width="200" height="240" />Saya sungguh sangat bersyukur, karena sampai detik ini, dalam usia yang sudah mencapai angka 70, Tuhan masih memberi kepercayaan bagi saya untuk melakukan pelayanan, baik bagi sesama, maupun juga bagi Tuhan sendiri. Saya sendiri sebenarnya adalah OKB, bukan orang kaya baru, melainkan orang Kristen baru, karena saya merasa benar-benar dipanggil Tuhan baru pada tahun 1984, ketika saya mengaku percaya di depan jemaat di GKI Kebayoran Baru Cabang Kebayoran Selatan.</p>
<p>Dalam perjalanan waktu setelah itu, beberapa kali saya dilawat agar bersedia duduk di kemajelisan, namun karena berbagai kesibukan maka saya hanya bisa menjanjikan mungkin baru setelah pensiun nanti saya akan sepenuhnya bekerja di Ladang Tuhan.</p>
<p>Sekalipun saya juga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan gereja, seperti dalam persekutuan, pelawatan dan diakonia dan kemudian pada pertengahan tahun ’90-an terlibat aktif dalam penerbitan Majalah Kasut hingga kini, namun baru pada tahun 1997, setelah saya pensiun, Tuhan benar-benar menagih janji saya untuk melayani-Nya sebagai tua-tua dan pada awal tahun 2000-an, oleh Pak Albert Napitupulu diminta oleh beliau membantu penyelenggaraan Pendidikan Teologia Jemaat (PTJ).</p>
<p>Senyatanya, hingga saat ini saya masih dipercaya oleh Tuhan untuk menyalurkan berkat bagi gereja-gereja kecil di pedesaan yang sedang melakukan perbaikan, renovasi atau pembangunan baru, khususnya di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Barat.</p>
<p>Sekalipun melelahkan, pekerjaan pelayanan di Ladang Tuhan ini sangat menyenangkan karena melalui pelayanan ini saya dapat memperoleh banyak kenalan, khususnya para hamba Tuhan di daerah pedesaan. Melalui relasi ini, saya bisa memperoleh gambaran mengenai betapa sulitnya melakukan pelayanan di pedesaan, khsusnya di daerah terpencil.</p>
<p>Mungkin dapat Bapak/Ibu bayangkan! Bagaimana dapat mengelola gereja dengan baik bila kolekte mingguan yang terkumpul masih jauh di bawah Rp 100.000,-? Bagaimana para hamba Tuhan dapat melakukan pelayanan dan membina umat dengan pendapatan yang tidak pasti? Temuan-temuan semacam itulah yang mendorong saya untuk bersedia berbagi dan berbela rasa dengan para hamba Tuhan di daerah pedesaan.</p>
<p>Kendati hanya sebagai penyalur berkat, namun saya tetap bersyukur, karena Tuhan masih memberikan kepercayaan bagi saya untuk melakukan pelayanan-pelayanan tersebut. Bagi orang lain, hal ini mungkin dianggap gila.</p>
<p>“Apa yang kau peroleh dari pelayanan semacam ini?” tanya seorang kawan. Memang, saya tidak memperoleh apa-apa, bahkan kadang-kadang juga masih harus nombok. Tetapi kepuasan hati dan batin dapat kuperoleh melalui pelayanan ini. Aku dapat mengenali betapa beratnya tugas-tugas pelayanan para hamba Tuhan di daerah pedesaan. Selain melayani umat, para hamba Tuhan tersebut juga masih harus berjuang bagaimana mereka dapat menghidupi keluarga mereka.</p>
<p>Namun “Gusti Allah ora sare!” (Tuhan tidak tidur!) Tuhan masih memerhatikan mereka dengan menyediakan lahan untuk bercocok tanam. Kenyataan inilah yang menggetarkan hati saya, selain membina umat, para hamba Tuhan ini masih berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan cara bertani.</p>
<p>Jadi menurut saya, pelayanan para hamba Tuhan ini tidak mungkin akan terwujud jika semua itu bukan merupakan panggilan.</p>
<p>Maka beberapa waktu yang lalu, saya, dengan didukung oleh seorang sahabat yang menyediakan kendaraan, berkesempatan untuk mengajak beberapa teman dari Kelompok Bernyanyi Kombas Trogong untuk “bersafari rohani” ke 12 gereja di Solo dan Banyuwangi. Teman-teman ini saya ajak untuk melihat kondisi pelayanan di daerah pedesaan, yang tidak senyaman dengan kondisi di GKI Pondok Indah.</p>
<p>Kepada teman-teman ini saya mewanti-wanti, agar jika nanti sampai di sana, jika dijamu makan atau apa saja, tolong habiskan, jangan sampai ada tersisa di piring yang kita pegang. Kita hormati mereka yang telah dengan berbagai cara berupaya untuk menyambut kami sebaik-baiknya. Mereka berpatungan untuk menjamu “saudara-saudara seiman dari Jakarta.”</p>
<p>Selama bersafari, kamipun juga tidur seadanya, bukan di hotel berbintang, tetapi di lantai, di beberapa ruangan gereja, di mana pihak tuan rumah telah menyediakan kasur dan bantal seperlunya. Ternyata teman-teman sangat menikmati perjalanan serta pelayanan ini. Hal ini sangat menguatkan hati saya untuk terus melanjutkan pelayanan di daerah pedesaan. Dan kebetulan pula, dalam bidang pelayanan ini sayapun diminta untuk mengambil bagian di dalam Komisi Kesaksian dan Pelayanan GKI Klasis Jakarta II, di mana tugas serta pelayanan juga tidak jauh berbeda dengan tugas-tugas pelayanan di GKI Pondok Indah.</p>
<p>Semuanya itu saya jalani dengan penuh sukacita, karena memang sudah menjadi obsesi saya, bahwa dalam pelayanan ini Nama Tuhan harus terus dipermuliakan dan ditinggikan, sementara kita sendiri harus semakin surut.</p>
<p><strong>Awalnya</strong></p>
<p>Saya lahir dari keluarga biasa di Yogyakarta. Ayah saya seorang pegawai negeri dan ibu saya adalah ibu rumah tangga. Saya lahir tanggal 12 Februari 1940 atau 70 tahun yang lalu. Pada waktu itu ibu saya nampaknya masih seorang gadis remaja sewaktu dipersunting oleh almarhum Ayah saya.</p>
<p>Saya dibesarkan dalam keluarga yang gemar membaca, sehingga sayapun sudah diajar oleh ibu dan tante saya untuk belajar membaca sebelum masuk sekolah, dalam usia lima tahun. Jadi, waktu itu, sebelum saya masuk sekolah, buku-buku “Gelis Pinter Matja” (Cepat Pandai Membaca) dan “Tataran” (Buku Kuncung) sudah habis saya baca berulang kali. Dan hobi membaca ini terus masih berlanjut hingga saat ini.</p>
<p>Berbagai buku saya telan, dari novelnya Danielle Steel, Stephen King dan John Grisham dll sampai ke buku-buku politik, ekonomi dan berbagai pengetahuan lainnya, sehingga kadang-kadang, dalam perjalanan tugas ke luar negeri, saya selalu berusaha untuk membeli buku yang pada waktu itu dilarang beredar oleh Pemerintah Soeharto, sebut saja antara lain, Brian May’s “The Indonesian Tragedy,” David Jenkins’ “Soeharto and His Generals,” Harold Crouch’s “The Army and Politics in Indonesia,” Richard Robison’s “The Rise of Capital,” Howard P. Jones’ “Indonesia: The Possible Dream,” John G. Taylor’s “Indonesia’s Forgotten War,” Adam Schwarz’s “A Nation in Waiting,” Michael R.J. Vatikiotis’ “Indonesian Politics Under Suharto” dlsb.</p>
<p>Saya menemukan “tulang rusuk saya yang terhilang yang bernama Kasmiyati Yohana pada tanggal 24 April 1972 dan hingga saat ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Eka Savitri, Adhityarini Dwi Astuti, dan Wahyu Tri Purnomo, serta seorang mantu, Yudhono Ari Parmanto dan dua orang cucu, Ezra Yudhaputramada dan Yosia Galadriel Arietya.</p>
<p>Dalam pendidikan, saya akui saya memang blong, karena saya waktu itu banyak bergiat di organisasi kemahasiswaan hingga saya hanya dapat menyelesaikan MA (mahasiswa abadi) dan  S-3 saja, yaitu SR, SMP dan SMA, bukan S-3 atau doktor. Hobi saya DO alias drop out, saya DO dari tingkat Doktoral I (tingkat IV) Fakultas Hukum UGM dan juga DO dari tingkat Kandidat II (C-2–tingkat III) Fakultas Ekonomi di universitas yang sama. Namun ketidakberhasilan saya dalam pendidikan itu tidak menghalangi saya untuk terus belajar sendiri melalui berbagai bacaan dan buku koleksi saya.</p>
<p>Sewaktu bekerja di LKBN ANTARA saya diminta untuk mengikuti studi untuk pendidikan non-degree di Universitas Indonesia, dengan mengambil bidang studi Sosial Politik dan Kemasyarakatan serta bidang studi internasional Tinjauan Kawasan Amerika.</p>
<p>Bidang-bidang yang saya pelajari tersebut ternyata sangat menunjang dalam saya menjalankan tugas-tugas jurnalistik saya, karena kebetulan saya pada waktu itu dipercaya untuk memimpin Redaksi Internasional hingga saya menjalani masa pensiun saya pada akhir tahun 1990-an sebagai Redaktur Senior. Pada masa itulah saya banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Tak terhitung berapa kali perjalanan jurnalistik ke mancanegara itu saya jalani. Dan pada saat-saat itulah saya banyak mengenal para pemimpin kawasan dan mewawancarai mereka, seperti PM India Ny. Indira Gandhi, Presiden Corry Aquino, PM Singapura Goh Chok Tong, PM Singapura Lee Hsien Loong, Menlu Thailand Sidhi Savetsilla, dan juga Menlu China Xian Chi Chen.</p>
<p>Dan setelah bebas dari tugas-tugas pekerjaan rutin sebagai wartawan, saya kini menjadi pengacara atawa pengangguran banyak acara serta membantu Majalah Kasut ini.</p>
<p>Itulah sekelumit kisah perjalanan hidup saya dan semoga bermanfaat. Tuhan memberkati pelayanan kita semua. Amin!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/tuhan-menagih-janji-untuk-melayani-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stigma &amp; Paradigma</title>
		<link>http://gkipi.org/stigma-paradigma/</link>
		<comments>http://gkipi.org/stigma-paradigma/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 05:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3523</guid>
		<description><![CDATA[Jikalau dunia membenci kamu ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu, sebab itulah dunia membenci kamu. (Yohanes 15:18) Beberapa waktu yang lalu saya memenuhi janji kepada pengurus BAPEKRIS (Badan Pembina Kerohanian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Jikalau dunia membenci kamu ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu, sebab itulah dunia membenci kamu.</p>
<p>(Yohanes 15:18)</p></blockquote>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya memenuhi janji kepada pengurus BAPEKRIS (Badan Pembina Kerohanian Kristen) BNI untuk memberi masukan kepada generasi muda yang akan meneruskan kepengurusan, karena sebagian pengurus yang sekarang sudah akan pensiun. Tulisan ini merupakan bagian dari sarasehan saya dengan mereka.</p>
<p>Saya memahami betapa sulitnya mencari pengurus, di satu pihak karena sedikit yang merasa terpanggil, dan di lain pihak juga ada faktor lain yang menyebabkan keengganan tersebut. Mengenai sedikit orang yang merasa terpanggil itu merupakan masalah mereka dengan Tuhan, namun yang ingin saya paparkan di sini ialah faktor lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu hadirnya stigma dan paradigma yang dirasa memengaruhi masa depan mereka.</p>
<p>Secara sederhana, yang dimaksudkan dengan stigma ialah atribut tanda atau stempel yang dilekatkan pada seseorang atau suatu kelompok tertentu. Stigma dapat bersifat positif, tetapi pada umumnya lebih banyak bernuansa negatif, merugikan. Stigma yang bersifat negatif dalam suatu kelompok bersumber pada satu atau beberapa anggota yang tidak dapat menempatkan diri dalam komunitas yang bersifat ekumenis, tetapi ada juga pengaruh stigma dari luar yang dianggap benar karena sudah diterima secara luas, sehingga tidak perlu dikaji lagi keabsahannya.</p>
<p>Stigma negatif sering dikaitkan dengan ras, suku, keluarga, agama, dan lain-lain. Sifatnya sangat emosional dan irasional, karena itu juga sangat sensitif sehingga membatasi independensi (keberanian) pengambil keputusan.</p>
<p>Paradigma adalah pola pengambilan keputusan. Atas dasar stigma yang sudah melembaga (kebanyakan tidak tertulis karena sejatinya merupakan pelanggaran hak asasi manusia) paradigma menjadi rujukan keputusan yang sangat kuat, bahkan seringkali mengalahkan pertimbangan-pertimbangan obyektif dan keadilan. Salah satu contoh adalah pertimbangan penentuan karier/jabatan seseorang, di mana berlaku paradigma “kalau bisa jangan dari kelompok itu.”</p>
<p>Stigma dan paradigma secara sadar dan sistimatis dikembangkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang tidak menyukai kelompok lain, mulai dari pembinaan generasi muda mereka (khususnya mulai dari perguruan tinggi) sampai ke kalangan para profesi. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, himpitan stigma dan paradigma bagi anak-anak Tuhan yang bekerja di BUMN, pemerintahan atau perusahaan keluarga, semakin meningkat. Pada jenjang eselon satu dan dua BUMN dan pemerintah, nampaknya dipraktikkan penjatahan, sedangkan pada eselon bawahan terjadi pelambatan secara terselubung bagi karier anak-anak Tuhan.</p>
<p>Inilah faktor lain yang saya kemukakan di atas, yang menghalangi karier anak-anak Tuhan generasi muda kalau mereka aktif dan secara transparan menunjukkan kesaksian iman mereka. Banyak di antara mereka berpendapat bahwa apa yang mereka alami itu adalah nasib mereka (kadang-kadang dibungkus dengan ungkapan, bahwa itu adalah salib yang harus mereka pikul) sehingga mereka bekerja dan berusaha secukupnya saja.</p>
<p>Sifat pasrah tanpa harapan (fatal) dan patah semangat meningkatkan kinerja inilah yang justru menjadi tujuan pencipta stigma dan paradigma untuk mengeliminir potensi anak-anak Tuhan. Kita tidak boleh lengah (complacent) bahwa eliminasi tersebut bukan saja menerapkan stigma dan paradigma di atas, tetapi juga sangat giat meningkatkan kualitas sumber daya mereka sendiri melalui pendidikan formal prima (pendirian sekolah bertaraf internasional dan berbasis agama) yang selama ini dilakukan oleh sekolah-sekolah Kristen (untuk lebih mendalami gerakan ini hendaknya dibaca buku Ilusi Negara Islam himpunan pandangan dari The Wahid Institute, Gerakan Bhineka Tunggal Ika, dan Maarif Institute tentang bahaya gerakan Islam transnasional di Indonesia).</p>
<p>Sebagai orang beriman tentu timbul pertanyaan, apakah Tuhan membiarkan saja keadaan ini? Jawaban yang paling tepat berasal dari firman Tuhan yang menciptakan kita semua. Kurangnya kepekaan kita terhadap karya Tuhan yang sedang berlangsung, sangat dipengaruhi oleh dorongan keinginan kita (yang paling baik menurut kita), namun belum tentu sesuai dengan kehendak dan waktu Tuhan. Inilah saat yang kritis bagi kita semua, karena iman kita dapat saja menjadi lemah (kurang percaya akan kuasa Tuhan) dan mengambil alih otoritas Tuhan untuk menggapai keinginan tersebut dengan cara-cara yang tidak benar. Dalam buku karangan Pdt. DR. Stephen Tong, Tujuh Perkataan Salib, ditulis sebagai berikut: <em>“Jika manusia berusaha melampaui Dia, maka Allah tinggal diam dan tidak menjawab apa-apa.”</em></p>
<p>Karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengintrospeksi diri terlebih dahulu apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk mendapat kepercayaan yang semakin besar?</p>
<p>Saya menyadari bahwa pada waktu saya mulai bekerja (tahun 1963), stigma dan paradigma di atas belum sekuat sekarang. Namun menjelang saya mencapai jenjang eselon dua (General Manager) sekitar tahun 1985, saya mulai mengalami tekanan walaupun tidak menyolok seperti kini. Waktu itu saya sebenarnya sudah ditunjuk menjadi branch manager cabang Hongkong (suatu jabatan yang sangat prestisius dan banyak diminati) namun dibatalkan dan ditunjuk sebagai Project Manager Teknologi Informasi &amp; MIS. Saya direkomendasikan oleh konsultan Booze Allen dari USA dan proyek tersebut berlangsung ± 6 tahun. Proyek itu menelan biaya yang sangat besar, sarat dengan tantangan teknis dan resistensi yang terjadi pada saat pelaksanaan proyek. Kalau saya berhasil, hal itu dianggap sebagai peristiwa rutin, tetapi kalau saya tidak berhasil, saya akan masuk kotak (no job). Apa yang dikerjakan oleh konsultan itu merupakan awal dari modernisasi di Indonesia (kemudian diikuti oleh bank-bank lain).</p>
<p>Setelah proyek selesai, saya diberikan jabatan GM Tata Usaha Pusat (pusat pembukuan), suatu jabatan yang pada waktu itu dianggap kurang berbobot dan biasanya diberikan kepada manajer yang kurang berhasil, mendapat hukuman jabatan, atau sudah mendekati pensiun. Pada saat yang sama saya menghadapi situasi dan insinuasi yang cukup mencemaskan (terlebih-lebih waktu itu saya adalah Ketua BAPEKRIS BNI dan beberapa kali disentil oleh Ketua Tim Skrining yang sebetulnya berfungsi menyidik orang-orang yang berafiliasi kepada PKI, tentang aktivitas saya di BAPEKRIS). Saya menerima jabatan tersebut diawali dengan pertanyaan apakah prestasi saya sebagai project manager yang berhasil melaksanakan tugas dengan baik, kurang dihargai. Ternyata sikap saya tersebut salah karena justru melalui jabatan tersebut Tuhan sedang mempersiapkan suatu jabatan yang tinggi, yang tidak pernah saya impikan.</p>
<h3>Mengucap Syukur Merupakan Awal Keberhasilan</h3>
<p>Baik pada masa saya dahulu mulai bekerja maupun sekarang, mendapat pekerjaan bukan hal yang mudah. Secara pribadi saya meyakini bahwa pekerjaan yang saya peroleh berasal dari Tuhan. Pada saat permulaan menerima jabatan itu, ada perasaan kurang puas di dalam diri saya, karena saya mendapat tugas yang menurut penilaian saya waktu itu sepele dan kurang menjamin karier, namun Tuhan mengingatkan saya bahwa ada begitu banyak teman saya yang tidak mendapat pekerjaan. Saya menyadari betapa Tuhan mengasihi saya dan sejak saat itu saya mulai mempelajari pekerjaan yang dipercayakan kepada saya. Ternyata saya memperoleh begitu banyak hal baru yang belum diketahui secara luas di bank pada waktu itu, dan ternyata hal-hal tersebut bertahun-tahun kemudian menjadi “intellect property” (kekayaan intelektual) yang sangat menunjang kinerja saya.</p>
<p>Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, saya tidak lagi digerogoti kekuatiran akan masa depan dan dapat bekerja dengan damai, bahkan mulai mencintai pekerjaan saya, dan setiap hari memulainya dengan semangat yang baru.</p>
<blockquote><p>Tak berkesudahan kasih setia Tuhan tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23). Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah memikul tanggung jawab yang kecil, aku akan memberikan kepadamu dalam perkara yang besar (Matius 25:23).</p></blockquote>
<h3>Hidup Dalam Komunitas Heterogen</h3>
<p>Hidup dalam komunitas yang heterogen dan kurang bersahabat merupakan realita dalam dunia profesi, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Suatu contoh yang sangat indah dalam Alkitab terjadi pada kehidupan Daniel dan teman-temannya:</p>
<ol>
<li>Daniel dan teman-temannya berstatus sebagai tawanan;</li>
<li>Mereka dengan sengaja dihadapkan pada kehidupan orang Babilonia yang bertentangan dengan iman dan budaya Yahudi (Daniel 1:7. Pemimpin pegawai istana itu memberikan nama-nama lain kepada mereka: Daniel dinamakan Beltsazar, Hananya dinamakan Sadrakh, Misael dinamakan Mesakh dan Azarya dinamakan Abednego). Jelas ini merupakan upaya agar mereka menyatu dengan budaya Babilonia, sedangkan nama-nama orang Yahudi selalu mengandung arti yang dikaitkan dengan iman Yahudi).</li>
</ol>
<p>Upaya mentransformasikan Daniel dan teman-temannya menjadi orang Babilonia (inklusif beragama Babilonia) disikapi dengan hikmat: <em>Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada kepala pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya</em> (Daniel 1:8).</p>
<p>Saya yakin bahwa permintaan Daniel tersebut pasti telah didahului dengan penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan (Daniel 6:11).</p>
<p>Bagaimana dengan keadaan sekarang? Menurut pengalaman dan pendapat saya, teladan Daniel dan teman-temannya tetap relevan. Janganlah menyembunyikan identitas kita sebagai orang Kristen. Stigma dan paradigma terhadap kita harus diimbangi dengan sikap hidup Kristiani yang benar-benar menuruti teladan Kristus serta melakukan tugas kita dengan penuh tanggung jawab. Memang akan selalu terjadi seleksi yang kurang adil namun dari segi lain:</p>
<ul>
<li>Agar terpilih, orang Kristen harus bekerja, berusaha dan berprestasi lebih baik dari sesamanya (promotion by merits) sehingga organisasi di mana ia berkarya mendapat tenaga yang dapat diandalkan;</li>
<li> Akan terhindar (karena ada keseganan) dari ajakan-ajakan pihak lain untuk berbuat hal-hal yang bertentangan dengan imannya;</li>
<li> Melalui pergumulan dan penantian, kehadiran Tuhan semakin nyata di dalam kehidupannya.</li>
</ul>
<p>Dalam dunia profesi, karakter sangat menunjang keberhasilan. Seseorang yang memiliki karakter yang baik, namun lemah dalam kemampuan profesi, sukar mencapai tingkat yang lebih tinggi. Sebaliknya seorang yang memiliki tingkat kemampuan profesi yang tinggi, namun menyandang karakter yang tidak baik, akan terpinggirkan.</p>
<p>Mungkin dipertanyakan apakah karakter bisa berubah karena sudah terbentuk sejak dini. Sebagai orang beriman saya percaya bahwa dengan pertolongan Tuhan, karakter dapat berubah melalui benturan-benturan yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita serta melalui curahan kasih, pengampunan dan hikmat Tuhan. Oleh karena karakter dasar itu sangat kuat, terutama karakter yang negatif, maka tidak ada cara lain selain terus menerus melekatkan karakter kita kepada karakter Allah melalui doa dan firman Tuhan. Di sinilah justru letak kemenangan orang beriman, yaitu berani melangkah menurut kehendak Tuhan, walaupun menurut pandangan manusia dapat membawa dampak yang berat dan kurang menguntungkan.</p>
<p>Doa Tuhan Yesus di taman Getsemani: <em>“Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu”</em> (Matius 26:42), mungkin dianggap sebagai suatu kekalahan, tetapi inilah puncak kemenangan, karena pada dasarnya Tuhan Yesus mengetahui apa yang akan dihadapi-Nya. Ia mengatakan: <em>“Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka anak Manusia akan diserahkan untuk disalib”</em> (Matius 26:2).</p>
<p>Dalam Alkitab ada cukup banyak kisah tentang pahlawan iman yang mendahulukan kehendak Tuhan daripada kehendak mereka sendiri. Beberapa tokoh Alkitab misalnya: Yusuf, Yoshua, Nehemia, Esther, Daniel, para Rasul dan Paulus.</p>
<p>Dalam dunia profesi, karakter merupakan penunjang keberhasilan dan tertuang dalam corporate culture (budaya kerja) yang harus dihayati oleh seluruh jajaran organisasi, antara lain: dapat diandalkan, dapat dipercaya/setia/jujur, bertanggung jawab, selalu berusaha meningkatkan komunikasi, selalu bersedia menolong (murah hati) dan tidak mengambil yang bukan haknya. Tidak berkelebihan untuk mengatakan bahwa etika kerja di atas sebenarnya tercakup dalam pengajaran Alkitab.</p>
<h3>Profesionalisme</h3>
<p>Seorang profesional sejati adalah orang yang senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dan tanpa pamrih. Ia akan senantiasa berusaha memperkaya kemampuannya demi kemajuan organisasi/unit di mana ia mengabdi. Ia tidak betah terhadap situasi yang ada (status quo), yang nyata-nyata tidak membawa perkembangan atau perbaikan, terlebih-lebih kalau keengganan untuk berubah itu karena ada pihak-pihak yang merasa terancam kenyamanannya (comfort zone).</p>
<p>Prinsip ini berlaku bagi semua lini, dari yang paling sederhana sampai kepada jenjang paling atas.</p>
<p>Tokoh Daniel memberikan keteladanan perjalanan karier seorang profesional: Mengenal Visi dan Misi. Adalah sangat menolong apabila seseorang memahami visi dan misi yang diemban oleh organisasi di mana ia berkarya: Daniel 1:5 b merupakan perintah raja:  <em>Mereka harus dididik selama 3 tahun dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.</em></p>
<h3>Penguasaan Teknis</h3>
<blockquote><p>&#8230;yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk k bekerja dalam istana raja (Daniel 1:4).</p></blockquote>
<p>Saat itu saya mulai menyandang jabatan inhouse counterpart manager hanya berbekal sangat minim terutama di aspek teknis, karena latar belakang pendidikan saya. Keadaaan diperparah lagi karena semua proses proyek menggunakan bahasa Inggris sedangkan penguasaan bahasa Inggris tim saya sangat minim. Upaya yang saya lakukan ialah dengan menerjemahkan bahan-bahan dari konsultan, dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, agar dapat mereka pelajari. Saya baru ingat sewaktu ditempatkan di Singapura, saya mengikuti kursus bahasa Inggris di British Council selama ± 3 tahun (evening class). Tekanan berat yang saya hadapi pada waktu itu ialah korban perasaan, karena teman-teman kelas saya semuanya murid-murid setingkat SMU, dan saya sendiri yang paling tua dan berstatus sebagai manajer. Saya percaya bahwa kekuatan dan daya tahan saya untuk terus mengikuti kursus itu berasal dari Tuhan, karena saat itu banyak teman saya mempertanyakan (mungkin menganggap bahwa saya buang-buang waktu) untuk apa saya belajar bahasa Inggris. Dengan penguasaan bahasa Inggris yang cukup memadai itulah saya mulai menerjemahkan begitu banyak bahan/obyek teknis proyek yang secara tidak langsung sama dengan studi di universitas namun secara prodeo.</p>
<p>Penggalian kehendak Tuhan melalui Alkitab dan doa serta meluaskan pengetahuan profesi melalui buku-buku, sarasehan dan media lainnya, merupakan suatu simfoni kenikmatan dan berkat yang luar biasa. Sampai sekarang, pada usia 72 tahun, saya masih aktif memimpin perusahaan di bidang teknologi informasi dan terus terang, saya sering kepontalan (ketinggalan) untuk mengetahui dan mengantisipasi perubahan yang begitu cepat.</p>
<p><em>Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat</em> (Pengkhotbah 10:10). Atau dalam Alkitab bahasa Inggris: <em>Since a dull ax requires great strength, sharpen the blade. That’s the value of wisdom, it helps you succeed.</em></p>
<p><em>Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai–bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengetahuan tentang berbagai-bagai penglihatan</em> (Daniel 1:17). Atau dalam Alkitab bahasa Inggris: <em>God gave these four young men an unsual aptitude for learning the literature and science of the time. And God gave Daniel special ability in understanding the meanings of visions and dreams.</em></p>
<p>Kemauan dan kerinduan belajar secara berkesinambungan berdasarkan kekuatan sendiri merupakan hal yang sangat berat. Namun dengan kesadaran sepenuhnya bahwa ada tanggung jawab profesi dan juga kebutuhan hikmat dari Tuhan, maka proses belajar dan mengajar akan menyatu dalam kehidupan kita.</p>
<p><em>Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaanya</em> (Daniel 1 : 20).</p>
<h3>Komunikasi</h3>
<p>Komunikasi secara verbal maupun tertulis memegang peranan yang sangat penting&#8230; <em>supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim</em> (Daniel 1:4).</p>
<p>Komunikasi harus selalu didasari kepada saling menghormati dan menghargai, terutama terhadap mereka yang lebih berpengalaman dan senior. Alkitab dengan tegas mencantumkan hal ini di dalam 1 Petrus 5:5: <em>Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”</em></p>
<p>Dalam berkomunikasi, hendaknya menggunakan tata bahasa dan gaya bahasa yang benar. Dalam pengalaman saya, kursus bahasa Inggris fase terakhir yang cukup sulit ialah memperbaiki gaya (style) menulis dan berbicara. Cara yang paling praktis, kita harus banyak membaca, mendengar dan melatih diri.</p>
<p>Di sekolah luar negeri, murid-murid sejak dini dilatih untuk membuat essai, yaitu menyimpulkan suatu bagian buku dalam satu halaman (kadang-kadang hanya 1/2 halaman). Dengan metode demikian, mau tidak mau mereka dipacu untuk menangkap inti/esensi buku tersebut dan menyampaikannya dalam bentuk tulisan/presentasi yang singkat (tidak bertele-tele) namun tidak kehilangan inti maknanya (teknik ini digunakan oleh para konsultan).</p>
<blockquote><p>Raja bercakap-cakap dengan mereka dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hannya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja (Daniel 1:19).</p></blockquote>
<p>Penguasaan bahasa Inggris seyogyanya terus ditingkatkan sebagai bahasa yang paling banyak digunakan dan merupakan jendela (window) di mana kita bisa melihat begitu banyak hal yang belum diketahui maupun yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Begitu banyak yang saya alami sehingga tidak mungkin diungkapkan semuanya. Perjalanan profesi saya melalui masa-masa yang begitu panjang dan melelahkan dan mencekam. Saya bersyukur bahwa dalam masa-masa yang demikian kritis dan gelap, di mana ancaman kejatuhan begitu nyata dan saya tidak berdaya, ada titik terang yang memberikan kesadaran, pertobatan, kesabaran, pengharapan dan keselamatan bagi saya dan keluarga saya. Saya mengerti bahwa Tuhan sangat mengasihi saya sekeluarga dan apabila kita diizinkan dalam situasi yang sungguh sulit, pada dasarnya Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang sungguh indah, di luar perkiraan kami.</p>
<p>Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak- sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:6).</p>
<p>Pada masa akhir karier saya sebagai pegawai (dalam ketentuan BUMN, direksi adalah pegawai pemerintah dan bukan pegawai perusahaan), di mana saya diberi jabatan sebagai GM Pembukuan Pusat, Tuhan membuka mata saya bahwa angka-angka mati yang tidak menarik, pada dasarnya sarat dengan informasi yang sangat vital bagi bank. Dengan berbekal pengetahuan yang saya peroleh dari konsultan, Pusat Pembukuan berubah menjadi sentra informasi dan pengendalian manajemen dan akhirnya saya diangkat menjadi direksi bank dengan jabatan sebagai Executive Vice President/Chief Financial Officer (CFO) dan Chief Technology Officer (CTO).</p>
<blockquote><p>Batu yang telah dibuang oleh tukang bangunan, telah berubah menjadi batu penjuru (1 Petrus 2:7a).</p></blockquote>
<p>Kepada generasi penerus, saya titipkan satu ayat yang memberikan pengharapan dan kekuatan dalam perjalanan karier Anda: <em>Pernahkah engkau melihat orang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri bukan di hadapan orang-orang yang hina</em> (Amsal 22:29). Atau dalam Alkitab bahasa Inggris: <em>Do you see any truly competent workers? They will serve kings rather than ordinary people.</em></p>
<p>Suatu keyakinan dari apa yang saya alami ialah bahwa rekayasa manusia, sehebat apapun juga, tidak dapat membendung rencana Tuhan. Sejak beberapa tahun ini terjadi perubahan-perubahan yang cukup mendasar di dunia profesi, khususnya di kalangan BUMN. Dengan semakin kuatnya tuntutan kinerja, maka primodialisme berdasarkan faktor non teknis (misalnya agama dan ras) semakin ditinggalkan. Dunia profesi semakin terbuka (equal opportunity) tinggal bagaimana persiapan anak-anak Tuhan.</p>
<p>Selamat berjuang dan Tuhan menyertai Anda.</p>
<p>Sola gracia. [Nono Purnomo]</p>
<address>Catatan: Ayat-ayat dalam bahasa Inggris dikutip dari Prayer Bible New Living Translation terbitan Tyndale House Publishers.Inc.</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/stigma-paradigma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih yang Memberi  Masa Depan Cerah</title>
		<link>http://gkipi.org/kasih-yang-memberi-masa-depan-cerah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kasih-yang-memberi-masa-depan-cerah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 13:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3238</guid>
		<description><![CDATA[Bapa, ajar hamba dan berilah hamba kemampuan untuk lebih lagi bermurah hati, untuk tidak membiarkan begitu saja waktu dan kesempatan berlalu guna menolong, memberi semangat, menghibur dengan rajin dan cermat, serta melayani orang dengan penuh kasih. Suatu hari, sekitar lima tahun yang lalu, Ibu Hetty Mawuntu, istri Bupati Minahasa Selatan, membawa seorang anak yang menderita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bapa, ajar hamba dan berilah hamba kemampuan untuk lebih lagi bermurah hati, untuk tidak membiarkan begitu saja waktu dan kesempatan berlalu guna menolong, memberi semangat, menghibur dengan rajin dan cermat, serta melayani orang dengan penuh kasih.</p>
<p>Suatu hari, sekitar lima tahun yang lalu, Ibu Hetty Mawuntu, istri Bupati Minahasa Selatan, membawa seorang anak yang menderita hydrocephalus (kepala besar) dari Manado untuk dirawat di RSCM, dengan dukungan biaya dari sekelompok ibu. Namun di pertengahan perawatan, sponsor itu berhenti dan diteruskan oleh Ibu Hetty sendiri sampai selesai. Kepedulian Ibu Hetty menggerakkan hati saya untuk juga berbuat sesuatu bagi anak-anak yang membutuhkan pertolongan, terutama anak-anak yang menderita bibir sumbing, tidak punya langit-langit atau tidak punya anus.</p>
<p>Pada waktu itu, daerah Minahasa Selatan baru dibuka dan ternyata di sana ada banyak sekali anak dengan cacat seperti itu.</p>
<p>Harapan saya disambut baik oleh Ibu Hetty, sehingga mulailah anak-anak itu dikirim satu per satu dari Minahasa Selatan ke Jakarta untuk dioperasi, dan diawali oleh Karen. Setelah Karen, datanglah Syukri (dari “Syukur” dan “Terima kasih”), dan disusul oleh anak-anak yang lain. Pekerjaan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan rakyat Minahasa Selatan, yang mencari anak-anak dari keluarga miskin di daerah mereka untuk ditolong. Mereka juga menanggung biaya perjalanan anak-anak itu beserta ibu mereka dari Manado ke Jakarta dan sebaliknya. Selain itu, saya juga mendapat dukungan penuh dari Yayasan Tunas Harapan yang membiayai operasi dan rawat inap setiap anak selama lima hari. Namun biaya-biaya persiapan operasi (general check-up, penginapan, transpor, dan lain-lain) ditanggulangi secara swadaya.</p>
<p>Program yang saya kerjakan ini akan terus berlanjut karena masih banyak anak di daerah yang sangat membutuhkan bantuan, bukan hanya mereka yang mengalami cacat tubuh saja, tetapi juga mereka yang memerlukan nutrisi sehat bagi perkembangan tubuh mereka dan segala keperluan sekolah (seragam, tas, baju). Untuk itu saya mohon doa untuk kelangsungan program ini, dan bagi siapa saja yang terketuk hatinya untuk ikut memedulikan nasib anak-anak yang serba kekurangan ini, saya menyambut uluran tangan Anda dengan penuh sukacita.</p>
<address>Evie Kamil</address>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-26-3238">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-145" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/6.jpg" title="Yosia, 1,5 tahun, tanpa anus, setelah dioperasi." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="6" alt="6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_6.jpg" width="94" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-146" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/7.jpg" title="Aldo, 10 tahun, setelah selesai dioperasi bibir sumbing dan langit-langitnya. Ia pernah dioperasi di Manado, tetapi masih ada yang bocor sehingga harus dioperasi ulang di Jakarta." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="7" alt="7" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-143" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/4.jpg" title="Syukri dan Karen tersenyum bahagia karena sudah sembuh." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="4" alt="4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-144" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/5.jpg" title="Bayi mungil Indy, 8 bulan, 
tidak mempunyai anus." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="5" alt="5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_5.jpg" width="94" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-141" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/14.jpg" title="Evie, Ibu Hetty, Agung dan ibunya Agung." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="14" alt="14" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_14.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-142" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/3.jpg" title="Syukri, 13 tahun, tanpa anus, bersama ibunya. Ia harus menjalani tiga kali operasi. Operasinya yang pertama berlangsung 12 jam." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="3" alt="3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_3.jpg" width="94" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-139" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/12.jpg" title="Christian, 11 tahun, putra seorang hamba Tuhan dari Manado, setelah selesai operasi perbaikan bibir dan langit-langit." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="12" alt="12" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_12.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-140" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/13.jpg" title="Agung, 1,5 tahun, harus menjalani tiga kali operasi karena bibir sumbing dan tanpa langit-langit." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="13" alt="13" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_13.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-147" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/8.jpg" title="Siapa mengira bahwa si cantik Vanesia, 5 tahun, terlahir tanpa langit-langit.
" class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="8" alt="8" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-138" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/10.jpg" title="Brigitta setelah dioperasi. Mohon doa untuk operasinya yang kedua pada pertengahan Januari 2010.
" class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="10" alt="10" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_10.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-137" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/1.jpg" title="Karen, 2,5 tahun, anak pertama yang dioperasi. Ia menjalani dua kali operasi, masing-masing selama 4,5 jam." class="thickbox" rel="set_26" >
								<img title="1" alt="1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/20100129/thumbs/thumbs_1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


<p>Terima kasih atas kerjasama yang tulus ikhlas dari semua pihak:</p>
<ol>
<li>Pemerintah dan rakyat Minahasa Selatan, Manado-Sulawesi Utara. Bpk. Drs. Ramoy M. Luntungan dan Ibu Hetty Mawuntu S.Pd. dan staf.</li>
<li>Yayasan Tunas Harapan Jakarta, dokter-dokter, paramedis dan semua pihak yang membantu terlaksananya perawatan dan operasi-operasi: Klinik Langit-Langit dan Celah Bibir, Klinik Bedah Anak, Widuri, R.S. Harapan Kita.</li>
<li>Seluruh keluarga saya: Eddy Kamil, suami saya, Erwin dan Ernald, anak-anak saya, Lady dan Luti, menantu-menantu saya. Keluarga Besar Hj. Abdullah Kamil dan Keluarga Besar Piet Wullur-Tintingon di Laikit-Dimembeh-Tonsea, Manado.</li>
<li> Persekutuan Doa Pagi GKI PI dan P.D. Kinasih serta sahabat-sahabat, hamba-hamba Tuhan yang senantiasa berdoa buat kami.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kasih-yang-memberi-masa-depan-cerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggapai Karunia Allah</title>
		<link>http://gkipi.org/menggapai-karunia-allah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/menggapai-karunia-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 03:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2572</guid>
		<description><![CDATA[Lagu yang dilantunkan oleh teman-teman dari Persekutuan Doa Pagi “Intersessio” pada kebaktian pukul lima sore tanggal 7 Juni yang lalu, kusenandungkan dengan penuh rasa syukur atas baptis suci yang kuterima hari itu: Fill my cup, Lord, I lift it up Lord. Come and cleanse the thirsting of my soul. Bread of Heaven, fill me till [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/rieke.JPG"><img class="alignright size-medium wp-image-2573" style="border: 1px solid black;" title="rieke" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/rieke-151x200.jpg" alt="rieke" width="121" height="160" /></a><span class="cap">L</span>agu yang dilantunkan oleh teman-teman dari Persekutuan Doa Pagi “Intersessio” pada kebaktian pukul lima sore tanggal 7 Juni yang lalu, kusenandungkan dengan penuh rasa syukur atas baptis suci yang kuterima hari itu: Fill my cup, Lord, I lift it up Lord. Come and cleanse the thirsting of my soul. Bread of Heaven, fill me till I want no more. Fill my cup, fill it up and make me whole.</p>
<p>Banyak orang bilang bahwa pada usia 55 tahun manusia menjadi tua, tapi justru pada usia menjelang senja ini, aku dilahirkan kembali. Perjalanan hidupku yang galau selama ini menemukan pelabuhannya. Hatiku merasa damai. Aku tahu ke mana aku akan pergi kalau nanti saatnya tiba, dan aku akan memakai sisa hidupku untuk belajar lebih dekat mengenal-Nya dan selalu memuliakan nama-Nya.</p>
<h2>Mengenal Yesus</h2>
<p>Aku hidup dan dibesarkan dalam lingkungan Muslim yang menjalani perintah Allah dengan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya. Aku juga berasal dari keluarga Jawa tulen, baik dari Ayahanda maupun dari Ibunda yang sangat kucintai dan kuhormati sebagai panutanku. Kedua orangtuaku itu mengajarkan falsafah “Kejawen” kepadaku, di mana penghargaan kepada para leluhur amat dijunjung tinggi. Demikianlah agama Islam dan pemikiran Kejawen membentuk kepribadian dan kehidupanku sampai aku dewasa.</p>
<p>Perkenalanku dengan agama Kristen sesungguhnya dimulai oleh adikku yang memeluk agama ini ketika menikah dengan suaminya yang berasal dari Manado. Ia menjadi teladan yang baik bagiku karena keluarganya memancarkan kasih Kristus. Ia juga tekun mendoakanku. Melalui dia, aku mulai membuka hati untuk membaca buku-buku Kristen dan mendiskusikannya dengan teman-temanku yang beragama Kristen. Lama-kelamaan, aku mengikuti ibadah-ibadah di berbagai gereja dan persekutuan. Hatiku begitu haus untuk mencari kebenaran-Nya.</p>
<p>Sahabat dekatku Lala, mendengarkan pengakuanku bahwa aku ingin mengikut Kristus dan kemudian memberiku saran yang baik untuk mengobati kerinduan hatiku. Ia menyarankan agar aku mengikuti katekisasi. “GKI adalah tempat yang tepat untukmu,” katanya, “sebab engkau berpikir pragmatis, dan di sana mereka dapat menjawab kebutuhanmu.” Begitulah aku menetapkan pilihanku dan ikut katekisasi serta kegiatan-kegiatan gerejawi lainnya. Hatiku selalu tersentuh mendengar firman Tuhan, dan dari ke hari imanku semakin dikuatkan.</p>
<p>Hidupku dulu sesungguhnya dihinggapi oleh banyak masalah yang mengoyak batin walaupun Allah telah mencukupiku dengan materi, kasih-sayang dan kegembiraan. Itulah juga yang membuat pencarianku menuju kedamaian hati ini begitu lama dan melelahkan. Bertahun-tahun aku berusaha sendirian untuk berperang melawan masalah-masalah yang seakan-akan tak habis-habisnya menimpaku. Terkadang aku begitu sedih dan putus asa. Karena itu ketika aku menerima Yesus sebagai Juru Selamatku, aku menyerahkan bebanku kepada-Nya. Memang butuh waktu untuk benar-benar mempercayai-Nya dengan sepenuh hati. Kalau aku merasa lemah, tak berdaya, dan terpenjara, maka aku selalu mengingat firman-Nya di dalam Korintus 12:9a, “Aku menyertai engkau, hanya itu yang kauperlukan. Kuasa-Ku dapat diperlihatkan dengan jelas di dalam orang yang lemah.” Aku lalu merasa dikuatkan. Aku percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. “Segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya” (Roma 11:36).</p>
<p>Pada akhirnya, aku meyakini bahwa sebagai pengikut Yesus Kristus, tujuan hidupku semakin jelas, yaitu mengasihi Kristus, bertumbuh di dalam Kristus, mampu memberitakan Injil Kristus, melayani Kristus melalui gereja-Nya, dan mengajak keluargaku dan orang-orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan penuh kasih, sukacita dan pengharapan.</p>
<address>Rieke Hapsari LK Koostoro</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/menggapai-karunia-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabatku Hilda</title>
		<link>http://gkipi.org/sahabatku-hilda/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sahabatku-hilda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 03:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2368</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, ketika aku mengambil stoples kaca untuk menempatkan kue kering yang dibawa anakku, aku teringat lagi kepada sahabatku Hilda. Stoples itu penuh kenangan darinya. Suatu subuh, ketika hari masih gelap, sebuah minibus berhenti di depan rumahku dan sebuah suara keras memecah kesunyian, “Ini dia rumahnya. Ya betul, ini rumahnya,” lalu disusul dengan bunyi gembok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini, ketika aku mengambil stoples kaca untuk menempatkan kue kering yang dibawa anakku, aku teringat lagi kepada sahabatku Hilda. Stoples itu penuh kenangan darinya.</p>
<p>Suatu subuh, ketika hari masih gelap, sebuah minibus berhenti di depan rumahku dan sebuah suara keras memecah kesunyian, “Ini dia rumahnya. Ya betul, ini rumahnya,” lalu disusul dengan bunyi gembok yang diketuk-ketukkan ke pagar sambil memanggil-manggil namaku. Aku segera keluar rumah, dan terkejut melihat sahabatku Hilda melambaikan tangan kepadaku dengan riang. Begitu ia melalui pagar, ia merangkulku erat-erat dan sambil menarik koper gelindingnya, mengikutiku masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Setelah minum teh hangat dan duduk sebentar, Hilda membuka kopernya di tengah-tengah ruang tamuku yang kecil itu. Aku sampai ternganga melihatnya. “Ini,” katanya, “kubawakan oleh-oleh untukmu.” Dari dalam koper ia mengeluarkan stoples kaca berisi kering kentang, juga creamer, kopi, abon, selai, dan makanan kering. Sepertinya seluruh isi lemari dapurnya dibawa Hilda ke Jakarta untuk diberikan kepadaku.</p>
<p>“He, terlalu banyak,” protesku, “kamu kan mesti bagi juga sama adikmu. Masakan kamu tidak bawa apa-apa untuknya?” Hilda tertawa, dan menuruti kata-kataku. Ia memasukkan kembali semua oleh-oleh itu, kecuali stoples berisi kering kentang.</p>
<p>Ia bercerita bahwa ia berangkat dari Surabaya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan sebuah kantor pemerintah yang akan memberikan penghargaan kepadanya sebagai salah seorang wanita yang berprestasi. Aku tak tahu apakah ceritanya itu benar atau tidak, sebab Hilda sering berkhayal dan hidup dalam impian. Sebenarnya ia ingin menginap di rumahku waktu itu, tetapi semua kamar penuh, lagi pula ia punya adik laki-laki yang tinggal di Jakarta.</p>
<p>Ia sahabatku sejak kecil. Dari SD sampai SMA kami selalu sekelas. Kami pernah duduk sebangku dan ikut paduan suara gereja di Semarang. Wajahnya manis dan ia senang tertawa. Setelah SMA, aku berpisah dengannya untuk melanjutkan kuliah di kota lain, tetapi dari waktu ke waktu kami masih bertemu.</p>
<p>Ia sering cerita kepadaku tentang pacar-pacarnya, tetapi entah mengapa ia tidak pernah menikah. Mungkin karena ia hanya berkhayal saja tentang pacar-pacar yang sebenarnya tidak ada –sebab aku belum sekalipun pernah bertemu dengan salah satu dari mereka– tetapi khayalan itu membuatnya nyaman dan tidak kalah dengan yang lain.</p>
<p>Ketika usianya setengah baya, badannya bertambah gemuk karena ia suka makan. Suatu bulan Desember, lima bulan sebelum kedatangannya ke rumahku, ia menelponku dari Surabaya. “Aku lagi dirawat di rumah sakit,” katanya, “aku kena kanker rahim, stadium empat.”</p>
<p>Aku kaget tetapi sekaligus ragu-ragu. Apakah kabar itu benar atau hanya khayalannya? Meskipun begitu, dengan sebisanya aku menghibur,. “Yang kuat ya Hilda, aku akan mendoakanmu.” Ia menjawab dengan bercanda, “Harus dong, kan kamu sahabatku.”</p>
<p>Pagi itu, setelah mandi dan sarapan pagi bersama keluargaku, Hilda ikut denganku belanja di pasar. Ia menggandeng tanganku. “Aku masih menyimpan semua surat-surat dan bacaan rohani yang kaukirimkan kepadaku,” bisiknya. “Engkau sahabat karibku.” Hatiku tercekat. Aku terharu sekali. Hilda juga tidak lupa memberikan foto dirinya kepadaku. “Aku cantik ya,” katanya, “aku sengaja bawa untukmu.”</p>
<p>Di pasar, ia memegang-megang agar-agar model kuno yang panjang bentuknya. Dulu kami suka membuat puding dengan agar-agar seperti itu, dan kenang-kenangan itu melekat di benaknya. “Aku belikan ya, untukmu?” kataku kepadanya. Ia tersenyum manis dan mengangguk. Ia juga minta dibelikan kue pancong dan memakannya dengan lahap dalam perjalanan pulang.</p>
<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/09/hilda.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2370" title="hilda" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/09/hilda.jpg" alt="hilda" width="152" height="233" /></a>Siangnya Hilda menelpon taksi yang membawanya ke rumah adiknya, dan setelah itu aku tidak mendengar kabar beritanya lagi. Namun sekitar enam bulan kemudian, pada suatu pagi yang cerah, kakaknya menelpon rumah kami. “Hilda sudah dipanggil Tuhan, katanya. ”Besok akan dikremasi.”</p>
<p>Aku sangat terkejut dan berduka. Sungguh tak kusangka bahwa Hilda yang bertemu terakhir kali denganku dalam keadaan sehat dan ceria, begitu cepat meninggalkan kami. Sayang, aku tidak dapat hadir untuk melepaskannya pergi, tetapi aku yakin bahwa ia sudah bahagia di rumah Tuhan.</p>
<p>Sekarang aku menyadari bahwa pertemuan kita yang terakhir itu merupakan caranya untuk berpamitan denganku. Ia sudah tiada, tetapi kasih dan perhatiannya selalu kukenang. (ib)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sahabatku-hilda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Yesus bagi Pak Ipi</title>
		<link>http://gkipi.org/kasih-yesus-bagi-pak-ipi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kasih-yesus-bagi-pak-ipi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 13:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkipi.org/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan Yesus hadir dalam mimpi orang yang belum mengenal-Nya dan mengabulkan doanya. Mungkinkah itu? Apakah orang yang bukan Kristen dapat melihat Tuhan Yesus dalam mimpi dan memperoleh kasih karunia-Nya? Matius 15:25-28 menceritakan suatu percakapan antara Yesus dengan seorang perempuan Kanaan yang memohon pertolongan bagi anaknya yang sakit.Yesus menguji hati perempuan ini dengan berkata, “Tidak patut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">T</span>uhan Yesus hadir dalam mimpi orang yang belum mengenal-Nya dan mengabulkan doanya. Mungkinkah itu? Apakah orang yang bukan Kristen dapat melihat Tuhan Yesus dalam mimpi dan memperoleh kasih karunia-Nya?</p>
<p>Matius 15:25-28 menceritakan suatu percakapan antara Yesus dengan seorang perempuan Kanaan yang memohon pertolongan bagi anaknya yang sakit.Yesus menguji hati perempuan ini dengan berkata, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Memang pada zaman itu, bangsa Israel menganggap diri mereka jauh lebih tinggi daripada bangsa Kanaan, dan keadaan ini disadari benar oleh perempuan itu. Tetapi ia tidak putus asa. Dengan rendah hati ia menjawab, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Hati Yesus tersentuh dan Ia kemudian berkata, “Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anak itu sembuh.</p>
<p>Iman perempuan yang dengan sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan Yesus dapat menyembuhkan anak kekasih hatinya inilah yang menyembuhkan anaknya!</p>
<p>Kejadian yang serupa juga dialami oleh Pak Ipi, sebagaimana yang diceritakannya kepada saya di salon kecil miliknya pada tanggal 14 Desember 2008 yang lalu. Hari itu, sepulang dari gereja, saya pergi ke salonnya untuk menyanggul rambut saya karena akan menghadiri pesta pernikahan seorang teman. Sudah lama saya tidak ke salon itu yang letaknya tak jauh dari rumah saya di daerah Cidodol, Kebayoran Lama. Profesi yang dijalani Pak Ipi itu diperolehnya karena ia dulu pernah bekerja sebagai asisten di salon Ibu Non Kawilarang.</p>
<p>Setiba saya di salon tersebut, Pak Ipi menyambut saya dengan uluran tangan sambil mengucapkan, “Terima kasih banyak Bu, karena anak saya sudah dioperasi. Semua itu hanya berkat e-mail Ibu.” Saya agak terkejut, karena terus terang saya sudah lupa.</p>
<p>Kemudian saya teringat bahwa pada suatu hari ketika saya masih bekerja di sebuah kantor pengacara, mata saya tertuju pada halaman di sebuah majalah yayasan yang memperlihatkan foto seorang anak perempuan yang tadinya sumbing, namun berkat bantuan dokter-dokter yayasan tersebut, akhirnya dapat memperoleh bibir normal dan tersenyum manis di dalam foto lainnya. Saya langsung menghubungi Pak Ipi yang sering menceritakan kepada saya tentang putri keduanya yang lahir dengan bibir sumbing. Putrinya ini memang pernah dioperasi pada waktu kecil tetapi kurang  berhasil, sehingga masih kelihatan bekas operasi kasar dan giginya pun sedikit keluar. Pak Ipi sangat mendambakan agar anaknya yang bernama Ratu Trini itu dapat memperoleh bibir yang indah, namun biaya operasi tersebut cukup mahal sedangkan ia bukan orang yang mampu.</p>
<p>Segera setelah mendapat data tentang keluarga dan anaknya itu, saya mengirim e-mail kepada yayasan tersebut. Yayasan itu menanggapi dengan baik dan mengirimkan perwakilan ke rumah Pak Ipi, namun setelah melihat kondisi Trini, mereka mengatakan bahwa anak ini pernah dioperasi jadi tak dapat dioperasi lagi. Mendengar kabar itu dari Pak Ipi, hati saya pun ikut kecewa, tetapi saya berkata kepadanya agar ia terus berdoa supaya Tuhan Yang Maha Kuasa memberi jalan keluar yang baik.</p>
<p>Saya sama sekali tak ingat bahwa beberapa waktu kemudian, saya meminta pembantu saya untuk menyebarkan sebuah fotokopi e-mail yang dikirimkan seorang teman, berisi informasi tentang penyelenggaraan operasi gratis, untuk penyakit katarak, bibir sumbing, tumor kecil, hernia, yang akan dilakukan pada hari Sabtu &amp; Minggu tanggal 5 dan 6 Juli 2008 pukul 08.00 di Rumah Sakit Dr. Suyoto, Pusrehab Dephan, Jl. RC Veteran No.178 Jakarta Selatan, dalam rangka HUT ke-40 Pusat Rehabilitasi Departemen Pertahanan tersebut. Ternyata e-mail itu menghidupkan kembali harapan di hati Pak Ipi sehingga ia segera menghubungi pihak penyelenggara untuk mendaftarkan anaknya.</p>
<p>Sejak permintaan Pak Ipi untuk memperbaiki bibir sumbing anaknya itu ditolak oleh yayasan tadi, hati Pak Ipi sangat sedih namun ia tetap berdoa dengan mengucurkan air mata agar anaknya dapat dioperasi kembali. Dengan polos ia berkata kepada saya, “Saya selalu berdoa pada Tuhannya Erna, agar putri saya Trini mendapat kesempatan dioperasi kembali.” Pak Ipi pernah bercerita bahwa putrinya yang sudah menginjak masa remaja (12 tahun) itu sangat pemalu, rendah diri dan hampir tidak mau bergaul walau pun diajak oleh kakak perempuannya. Kedua anak ini sudah ditinggal cerai oleh ibu mereka ketika Trini baru berumur 2,5 bulan. Sejak saat itu sebagai orang tua tunggal, Pak Ipi dengan penuh kasih sayang membesarkan anak-anak ini.</p>
<p>Suatu malam, Pak Ipi bermimpi melihat seorang Barat dengan jenggot dan pakaian putih datang berdiri di pekarangan depan rumahnya namun tidak mengatakan apa-apa. Menurut penuturannya, sosok orang tersebut seperti gambar yang pernah dilihatnya dulu di rumah ibu Non Kawilarang. “Orang Barat itu tidak menginjakkan kakinya di tanah, tapi mengambang,” kata Pak Ipi sambil menunjukkannya dengan kedua jari tegak di atas meja rias salonnya tetapi tidak menyentuh dasar meja itu. Saya langsung berkata, “Pak Ipi, Anda beruntung karena Yesus Kristus telah mengunjungi Anda dalam mimpi dan memberkati Anda.”</p>
<p>Keesokan hari setelah mimpi tersebut, Pak Ipi mendapat surat untuk datang ke rumah sakit guna mengoperasikan anaknya. Singkat cerita, setelah menyelesaikan prosedur administratif, pemeriksaan darah dan kesehatan, akhirnya Trini berhasil dioperasi oleh tim dokter RS Elizabeth dari Singapura (mungkin RS Mount Elizabeth), malah juga dijenguk oleh seorang dokter dari Malaysia. Kini Trini sudah dapat tersenyum indah dengan bibir normal.</p>
<p><span class="cap">K</span>esaksian indah yang dibagikan oleh Pak Ipi kepada kita membuktikan bahwa Tuhan Yesus Kristus hidup. Ia tetap berkarya dan mendengarkan doa yang dinaikkan setiap orang kepada-Nya dengan iman yang teguh. Sungguh indah bahwa Yesus Kristus dapat muncul dalam mimpi seseorang yang belum mengenal-Nya dengan baik, dan memberi solusi terhadap masalah yang dihadapinya.</p>
<p>Kitapun sebagai umat yang percaya kepada-Nya harus yakin bahwa Yesus Kristus dapat menolong kita, karena tak ada hal yang mustahil bagi-Nya. Kiranya kisah Pak Ipi yang sederhana ini dapat menguatkan iman kita. Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati kita semua.</p>
<p><em>Erna L. Kusoy</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kasih-yesus-bagi-pak-ipi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paru-paru yang Mengembang Kembali</title>
		<link>http://gkipi.org/paru-paru-yang-mengembang-kembali/</link>
		<comments>http://gkipi.org/paru-paru-yang-mengembang-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 02:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/gkipi/?p=1751</guid>
		<description><![CDATA[Aku terhenyak. Selama setahun itu Papa sudah empat kali bolak-balik masuk rumah sakit karena demam tinggi pneumonia dan penyakit parkinson yang sudah beberapa tahun dideritanya. Segera kami menuju ke rumahnya. Di sana, ambulans sudah siap untuk membawa Papa ke UGD. Papa tampak rapuh sekali. Nafasnya tersengal-sengal dan matanya terpejam. Kami mengelilingi tempat tidurnya dan berdoa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">A</span>ku terhenyak. Selama setahun itu Papa sudah empat kali bolak-balik masuk rumah sakit karena demam tinggi pneumonia dan penyakit parkinson yang sudah beberapa tahun dideritanya. Segera kami menuju ke rumahnya. Di sana, ambulans sudah siap untuk membawa Papa ke UGD. Papa tampak rapuh sekali. Nafasnya tersengal-sengal dan matanya terpejam. Kami mengelilingi tempat tidurnya dan berdoa bersama-sama sebelum berangkat ke rumah sakit. Aku ingat, ketika itu adikku membisikkan kata-kata menenangkan kepada Papa: “Pa, ke rumah sakit lagi ya, biar sembuh dan bisa cepat pulang lagi.” Adikku memang sangat telaten merawat Papa selama ini, karena itu Papa sangat percaya pada keputusannya.</p>
<p>Setelah pemeriksaan di UGD, Papa kemudian dibawa ke kamar. Beberapa dokter datang untuk memeriksanya sekali lagi, tetapi karena keadaan Papa memburuk, mereka menyarankan agar Papa dirawat di ICU, supaya dapat dipantau terus-menerus oleh perawat dan dokter. Cepat-cepat kami menghubungi salah satu adik kami yang menjadi dokter di kota lain, untuk meminta pendapatnya. Ia sedang berkemas untuk berangkat ke Jakarta, tetapi menyetujui usul itu, sehingga kami segera mengurus semua persyaratan untuk perawatan Papa di ICU. Berat hati kami meninggalkan Papa di sana, karena kami tidak bisa terus-menerus bergantian berada di sisinya. Selama ini Papa selalu merasa tenang kalau ditemani oleh anak-anaknya, tetapi sekarang kami hanya dapat memantau kesehatannya dari luar. Anak dan menantu Papa dari luar kota mulai datang sore itu, seperti yang selalu terjadi kalau Papa sakit keras. Kehadiran mereka membuat beban itu jauh lebih ringan rasanya, karena dipikul bersama.</p>
<p><span class="cap">P</span>ada hari Minggu pagi, perawat ICU memberitahukan bahwa Papa mengalami gagal nafas, sehingga memerlukan tindakan cepat untuk memasang alat bantu pernafasan. Harapan hidup Papa tampak begitu tipis, sehingga kami meminta Pdt. Rudianto untuk datang dan mendoakan Papa. Dengan bergantian satu per satu kami masuk ke ruang ICU untuk melihatnya, air mata tak tertahan melihat Papa begitu tak berdaya dan pucat, sementara monitor pencatat gerak paru-paru menunjukkan angka lemah yang tidak stabil. Dokter penanggung jawab ICU memanggil kami dan menjelaskan bahwa pemakaian alat bantu pernafasan itu akan memerlukan waktu lama, karena menurut pengalamannya selama 15 tahun di ICU, seseorang yang telah lanjut usia seperti Papa (85 tahun) sulit lepas kembali dari alat tersebut sehingga memerlukan biaya yang besar. Ia memberikan pilihan kepada kami, apakah akan terus memakai alat itu dengan konsekuensi biaya yang sangat tinggi atau mencabut alat itu karena diperkirakan bahwa Papa tidak mempunyai banyak harapan untuk hidup. Jika kami setuju agar alat itu dilepas, kami harus menandatangani surat yang disodorkannya.</p>
<p>Kami sungguh bingung mendengar kata-kata dokter itu. Bagaimana kami dapat tega menandatangani surat pernyataan persetujuan untuk mencabut alat itu? Bukankah hal itu seakan-akan mencabut nyawa Papa kami dan mendahului Yang Maha Kuasa? Dalam keputusasaan, kami semua berkumpul mengadakan rapat keluarga, berdoa dan minta hikmat Tuhan. Kemudian ternyata bahwa tak seorang pun dari kami yang mau menandatangani surat pernyataan itu! Kami sepakat untuk menyampaikan kepada dokter ICU bahwa kami mau melihat perkembangan Papa dulu selama beberapa hari, dan tidak gegabah menandatangani sesuatu. Setelah mengambil keputusan itu, hati kami mulai tenang karena sudah menyerahkan Papa sepenuhnya dalam pimpinan dan kuasa Tuhan.</p>
<p><span class="cap">K</span>eadaan Papa menunjukkan perbaikan keesokan harinya, dan bahkan alat bantu pernafasan itu mulai sedikit-sedikit dimatikan untuk melihat apakah paru-paru Papa dapat mengembang-kempis sendiri. Ternyata bisa! Tiga hari kemudian, alat itu dicabut karena paru-paru Papa bekerja normal, demamnya sudah turun, dan bahkan ia mulai mengenali kami. Sungguh luar biasa! Mulut Papa bahkan dapat mengatakan “ya” dengan lemah ketika salah seorang dari kami menanyakan apakah ia mau berjuang untuk hidup. Dan ia sungguh-sungguh berusaha untuk pulih. Dua hari kemudian, Papa dikembalikan ke kamar biasa di rumah sakit, dan tak lama kemudian boleh pulang ke rumah.</p>
<p>Sekarang, setahun sudah berlalu sejak kejadian tersebut. Selama kurun waktu itu, kondisi Papa relatif stabil daripada sebelumnya. Kami merasa sungguh lega dan bersyukur karena Tuhan Yesus secara ajaib menolong kami mengambil keputusan yang tepat.</p>
<p>Ida B.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/paru-paru-yang-mengembang-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
