<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Kesehatan</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pemiskinan Pasien Kita</title>
		<link>http://gkipi.org/pemiskinan-pasien-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pemiskinan-pasien-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 04:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6747</guid>
		<description><![CDATA[KASUS bayi &#8220;ditahan&#8221; 4 bulan oleh rumah sakit karena tak sanggup bayar, satu dari bisa jadi lebih seratusan kasus serupa yang kebetulan masuk ruang publik. Belum tentu sebab sikap bengis RS. Bukan pula pasti kesalahan pasien. Menilik duduk perkaranya, kasus tak elok begini tak perlu terjadi kalau saja pasien tak sesat memilih alamat berobat. Pasien [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KASUS bayi &#8220;ditahan&#8221; 4 bulan oleh rumah sakit karena tak sanggup bayar, satu dari bisa jadi lebih seratusan kasus serupa yang kebetulan masuk ruang publik. Belum tentu sebab sikap bengis RS. Bukan pula pasti kesalahan pasien. Menilik duduk perkaranya, kasus tak elok begini tak perlu terjadi kalau saja pasien tak sesat memilih alamat berobat. Pasien sesat berobat, wajib kita bela.</p>
<p><strong>Sistem rujukan tak bekerja</strong></p>
<p>Di luar hak melaba, kewajiban RS mengemban fungsi sosial juga. Sudi menyisihkan 25 persen tempat tidur buat pasien tak mampu. Namun wajar pula kalau RS perlu berhitung agar tak merugi. Itu juga alasan tak mungkin RS menampung kalau semua pasien tak mampu bayar. Jangan pula RS swasta, RS pemerintah pun perlu berhitung titik-impas agar bisa bertahan hidup.</p>
<p>Pasien kita ada dua. Pasien &#8220;jalur lambat&#8221; yang tak selalu bisa berobat setiap kali sakit, dan pasien &#8220;jalur cepat&#8221; yang bisa merdeka memilih ke mana mau berobat. Lebih 80 persen masyarakat kita berada di layanan &#8220;jalur lambat&#8221;.</p>
<p>Di layanan &#8220;jalur lambat&#8221; rakyat berbondong-bondong berpikir menjadi haknya untuk dilayani setiap kali sakit. Namun oleh karena lebih banyak pasien yang tak selalu mampu berobat setiap kali perlu masuk RS, di titik itu muncul kasus tak akurnya hubungan pasien-RS.</p>
<p>Pasien papa betul wajib dibela. Tapi apa semua pasien tak mampu yang perlu masuk RS betul selalu berada pada posisi wajib dibela mengingat sistem layanan kesehatan kita masih bayar dulu baru dilayani (paid for services), dan belum semua rakyat dicakup asuransi?</p>
<p>Kalau pasien papa wajib dilayani melebihi 25 persen tempat tidur RS, siapa wajib membantu? Kalau pasien tak mampu tak dicakup asuransi, dan tak punya uang muka, siapa mesti menalangi? Sudah memadaikah kehadiran RS tingkat kecamatan dan kabupaten menjadi rujukan? Tak cukup kebiasaan responsif baru kalau kasus pasien terlantar terangkat ke muka publik.</p>
<p>Layanan medis kita menganut sistem rujukan (referral system) yang umumnya tak dimanfaatkan pasien &#8220;jalur cepat&#8221;. Ada regulasi Puskesmas menjadi pintu pertama alamat berobat apa pun penyakit pasien. Puskesmas merujuk ke RS tingkat kecamatan bila tak mampu menangani. RS tingkat kecamatan merujuk ke RS tingkat kabupaten, dan selanjutnya dirujuk lagi jika memerlukan fasilitas RS Provinsi. Begitu selanjutnya, rujukan RS puncak rujukan (top referral), yakni RSCM Jakarta, diperlukan bila di RS tingkat puncak kasusnya bisa ditangani.</p>
<p>Yang masih terjadi, masyarakat tak tahu kalau boleh sesuka hati ke mana memilih alamat berobatnya. Akibat sistem rujukan belum memasyarakat, ketepatan dan efisiensi berobat tak optimal. Pasien apa pun berbondong-bondong ke RS, sehingga RS kita mirip pasar malam.</p>
<p>RSCM dijejali kasus sederhana yang sebetulnya bisa ditangani oleh Puskesmas, atau RS di tingkat lebih bawah. Dampak buruk kelebihan bobot kerja RS memeriksa pasien, bakal merugikan pihak pasien. Kasus malapraktik dan misconduct (dokter judes, lekas gusar, tak ramah), tak professional, utamanya sebab dokter kelebihan bobot kerja.</p>
<p><strong>Tersasar berobat</strong></p>
<p>Tidak semua pasien kita berobat ke dokter. Suburnya praktik nonmedis di kita bukan semuanya harus diharamkan. Namun masyarakat perlu diberi tahu bahwa tidak semua terapi atau kesembuhan (healing) nonmedis, apakah cara tradisional, alternatif, orang pintar, betul terbilang ilmiah. Siapa menginsafi gara-gara tak tepat berobat, pasien merugi untuk dua hal. Tak sembuh, atau kehilangan peluang sembuh, selain kerugian ekonomis yang sering-sering tak sedikit.</p>
<p>Media massa kiwari kurang selektif beriklan dan menayangkan aneka praktik terapi serta penyembuhan yang di mata medis tak bertanggung jawab. Kasus pasien gagal sembuh dan tak efisiennya berobat banyak muncul akibat tak tepat memilih alamat berobat.</p>
<p>Kasus kanker yang masih mungkin disembuhkan ketika masih stadium awal, terlambat ditolong lantaran mampir-mampir dulu ke orang pintar. Tugas pemerintah wajib memandu masyarakat pasien kita yang kebanyakan masih kuat keniscayaan magisnya supaya tak sesat berobat. Bantu meniscayai  tak semua penyakit ke praktik alternatif alamat menyembuhkannya.</p>
<p>Masyarakat perlu tahu kesembuhan yang tak masuk nalar medis sebetulnya bersifat sugesti (placebo effect). Itu alasan tak semua yang tergolong terapi nonmedis laik diniscayai. Hanya yang tergolong complementary alternative medicine (CAM menurut WHO) yang laik diterima nalar medis, antara lain akupunktur, homeopathy, naturopathy, chiropractic. Bukannya asal praktik alternatif serta-merta diniscayai. Lain dari itu, praktik CAM hanya diposisikan penunjang medis, dan bukan berjalan sendiri.</p>
<p>Hakekatnya suatu obat atau tindakan medis baru diterima medis bila secara signifikan menyembuhkan semua pasien berdiagnosis sama. Sedang kesembuhan nonmedis bukan CAM galibnya tak menyembuhkan semua pasien. Pada nalar medis, kesembuhan yang tidak terjadi pada semua pasien, tak bisa diterima sebagai terapi.</p>
<p>Pasien praktik alternatif yang mengaku sembuh sesungguhnya bukan sembuh sejati, melainkan &#8220;merasa&#8221; sembuh. Jumlah pasien begini bisa dihitung jari. Segelintir pasien merasa sembuh yang umumnya berpromosi mulut ke mulut ihwal mujarabnya kesembuhan nonmedis, dan itu yang menambah keniscayaan publik. Yang gagal sembuh, yang mayoritas, diam seribu basa. Hemat kita, kesembuhan berkat mukjizat saja bisa kita terima berada di luar nalar medis.</p>
<p><strong>Menertibkan alamat berobat masyarakat</strong></p>
<p>Di mana-mana masyarakat pasien membutuhkan pengayaan, bukan pemiskinan. Tak elok kalau masyarakat makin miskin informasi dan pilihan alamat berobatnya. Lalu supaya optimal mengenyam layanan medis yang benar, sistem rujukan perlu kembali dibangun. RS menegakkan regulasi agar menerima pasien hanya yang dirujuk Puskesmas, atau RS tingkat lebih bawah saja. RS kecamatan dan kabupaten ditambah, dan direvitalisasi. Opini kasus bayi di atas muncul lebih karena pasien tersasar tak menempuh jalur sistem rujukan lewat Puskesmas.</p>
<p>Agar masyarakat tepat alamat dan tak terkecoh berobat, pemerintah wajib juga menertibkan iklan, tayangan TV, siaran radio ihwal praktik terapi dan penyembuhan yang tak bisa diterima nalar medik. Sungguh tak elok menunggu sampai rakyat menangis.</p>
<p>Bila tak tepat alamat berobat, itu yang bikin ongkos berobat rakyat jadi boros. Lebih dari itu, akibat tak berhasil disembuhkan pun berisiko menyisakan kecacatan kalau bukan korban kematian yang sebetulnya tak perlu. Kasihan sudah terlalu lama rakyat kita terlunta-lunta mencari pintu berobatnya yang benar, dan kita belum mengantarkannya.<br />
Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pemiskinan-pasien-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati Prematur</title>
		<link>http://gkipi.org/mati-prematur/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mati-prematur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6359</guid>
		<description><![CDATA[KEMATIAN usia produktif kini banyak mengisi iklan dukacita koran. Buat dunia medik, itu kasus mati prematur (premature death). Bahwa sejatinyalah mati prematur dapat dicegah. Kehilangan nyawa oleh penyakit yang masih bisa dicegah, atau masih dapat diselamatkan oleh fasilitas medis yang tersedia, tergolong kasus mati prematur. Pasien mampu bisa membayar rumah sakit berkesempatan mengulur umur. Namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEMATIAN usia produktif kini banyak mengisi iklan dukacita koran. Buat dunia medik, itu kasus mati prematur (premature death). Bahwa sejatinyalah mati prematur dapat dicegah. Kehilangan nyawa oleh penyakit yang masih bisa dicegah, atau masih dapat diselamatkan oleh fasilitas medis yang tersedia, tergolong kasus mati prematur.</p>
<p>Pasien mampu bisa membayar rumah sakit berkesempatan mengulur umur. Namun pasien gagal ginjal jadi meninggal begitu batal cuci darah. Seperti itu yang kini terjadi di dunia. Lebih banyak penyakit yang tak perlu ada hanya karena masyarakat tak diberi tahu cara mencegahnya.</p>
<p>Kerugian negara akibat mati prematur bangsanya justru bermuasal dari penyakit yang sebetulnya bisa dicegah. Serangan jantung koroner, stroke, dan kanker, kini kasus tersering yang menjadikan negara kehilangan sumber daya usia produktif, masih mungkin dibatalkan.</p>
<p><strong>Cukup waktu mencegahnya</strong></p>
<p>Potensi umur manusia (mean lifetime potential) secara biologi mencapai 120 tahun (Dr Robert Butler). Kalau umur manusia di dunia kini hanya orang Okinawa, Jepang yang meraih seratusan tahun (centenarian), itu lantaran salahnya manusia melakoni hidup.</p>
<p>Kanker berisiko mati prematur masih mungkin dicegah jika benar pilihan menu harian, minimal terpolusi, dan rendah saja stres kehidupan. Studi di China mengungkap provinsi yang kelebihan konsumsi daging lebih tinggi angka kankernya (The China Study, Colin Campbell, 2006). Mayoritas &#8220;penyakit peradaban&#8221; orang sekarang lebih lantaran keliru memilih gaya hidup.</p>
<p>Di semua negara maju, akibat menu boros lemak, kolesterol darah sudah meninggi sejak usia anak. Itulah tunas terbentuknya penyempitan pembuluh darah jantung dan otak. Bila kemudian kebiasaan makan enak bangsa dibiarkan, malas gerak (sedentary life) jadi pola hidup, dan stres terus mendera, sumbatan pembuluh jantung dan otak bertambah tebal dua persen setiap tahun. Ketika tiba masa usia produktif, lebih separuh penampang pembuluh darah jantung dan otak sudah tersumbat. Pada saat mana serangan jantung dan atau stroke mengancam nyawa.</p>
<p>Kondisi itu yang menjelaskan mengapa krisis usia produktif bangsa kini datang lebih awal. Padahal serangan jantung dan stroke tidak terjadi dalam satu hari. Perlu puluhan tahun untuk menjadikan pasokan darah jantung dan otak menjadi tersumbat. Artinya masih tersedia cukup waktu untuk mencegah agar yang berisiko memunculkan mati prematur itu bisa batal terjadi.</p>
<p><strong>Butuh peran negara</strong></p>
<p>Singapura menganggap perlu menyuluh eksekutif usia produktif agar selain sehat, juga supaya tidak mati muda. Kekonyolan buat negara bila kehilangan warga usia produktif hanya karena membiarkan kelompok ini keliru memilih gaya hidup.</p>
<p>Negara harus berubah, manusia juga harus berubah, begitu seruan Sydney Resolution 2009 (A Call to Action) mencegat kematian yang tak perlu. Proyeksi bila gaya hidup tak berubah, dalam sepuluh tahun ke depan dunia bakal kehilangan 388 juta nyawa mati muda.</p>
<p>Peran pemerintah bagi warganya di Singapura tidak berhenti sampai di situ. Jangan heran kalau cita rasa menu rata-rata restoran di Singapura cenderung anyep. Pemerintah ikut campur agar warga tidak jadi darah tinggi gara-gara kelebihan mengonsumsi garam dapur. Karena sejatinya bukan daging yang bikin darah tinggi. Kasus darah tinggi orang sekarang lebih sebab kelebihan menu asin. Darah tinggi tak terkontrol berisiko mati prematur juga.</p>
<p>Kesehatan itu investasi. Hanya bila negara tidak terlambat berinvestasi hidup sehat bagi rakyatnya, derajat kesehatan bangsa mudah dikatrol. Tidak membiarkan kelebihan berat badan sejak bayi, langkah awal negara berinvestasi sehat. Singapura sudah melakukan itu. Para eksekutif dunia tidak gemuk manakala kelompok usia produktif kita sedikit saja yang tidak tambun. Perlu campur tangan pemerintah agar rakyat berpeluang sehat sepanjang hayat.</p>
<p><strong>&#8220;Falsafah pakai helm&#8221;</strong></p>
<p>Hukum wajib pakai helm oleh negara lebih demi melindungi keselamatan rakyat. Seperti itu eloknya motivasi negara menuntun rakyatnya tepat memilih cara bagaimana hidup sehat sehingga batal mati prematur.</p>
<p>Orang papa dan yang berkecukupan kini sama memikul &#8220;penyakit peradaban&#8221;. Kimiawi makanan, polusi limbah industri, pola hidup tidak tertib dipikul semua rakyat. Itu sebab kini suplemen vitamin dan detoxifikasi yang sebetulnya proses alami, diperlukan tubuh karena pilihan hidup tak alami lagi, dan orang makin tak tertib tidurnya.<br />
Gaya hidup bikin tubuh manusia sekarang semakin tak natural lagi. Gemuk (&#8220;penyakit dagu berlipat&#8221;) tapi kurang gizi karena menu harian hanya tinggal ampas. Selebihnya zat pencetus kanker (carcinogenic) kian penuh mengisi jajanan, selain meja makan restoran.</p>
<p>Sekolah Kedokteran Harvard belajar sehat dari nelayan Okinawa. Bahwa cara hidup yang benar itu mirip tradisi nenek moyang kita. Maka bukan burger, sosis, dan bistik yang bikin sehat sepanjang hayat, melainkan sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh, atau sayur asam. Menu begini yang mengantarkan orang Okinawa dan generasi nenek dulu terbebas kanker, serangan jantung, dan stroke.</p>
<p>&#8220;Generasi ayam goring&#8221; kini yang tak suka menu neneknya memikul risiko mati prematur bila pemerintah tidak ikut campur urusan pola dan gaya hidup rakyat yang telanjur salah kaprah. Bahwa menjadi gemuk itu &#8220;bom waktu&#8221; bakal meledaknya semua penyakit metabolisme yang berujung mati prematur.</p>
<p>Belum terlambat pemerintah turun tangan. Ongkos memberi tahu rakyat mencegah semua penyakit berujung mati prematur tidak lebih mahal dari harga ekonomi akibat kehilangan usia produktif bangsa sebab telanjur mati muda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mati-prematur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehat Itu Murah</title>
		<link>http://gkipi.org/sehat-itu-murah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sehat-itu-murah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 04:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5928</guid>
		<description><![CDATA[SEHAT itu murah kalau tahu caranya. Ada banyak sumber yang memberi kita beragam wawasan sehat. Membaca, mendengar, mengikuti ceramah kesehatan, bagian dari upaya memperkaya bekal agar sehat benar menjadi murah, karena sakit, betapa pun ringan, barang pasti jadi mahal. Tidak harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEHAT itu murah kalau tahu caranya. Ada banyak sumber yang memberi kita beragam wawasan sehat. Membaca, mendengar, mengikuti ceramah kesehatan, bagian dari upaya memperkaya bekal agar sehat benar menjadi murah, karena sakit, betapa pun ringan, barang pasti jadi mahal.</p>
<p>Tidak harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda.</p>
<p>Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat untuk membangun kembali kesehatan Anda. Yakinlah bahwa Anda belumlah mendekati akhir hidup.</p>
<p>Hidup adalah sebuah proyek, dan Anda manajernya. Apa yang Anda pikir dan lakukan tentang kesehatan merupakan investasi hari tua Anda. Potensi untuk sehat ditentukan oleh semua yang sudah Anda kerjakan sebagai manajer proyek. Kualitas hidup Anda merupakan akumulasi dari segala kebiasaan, keyakinan, sikap yang dijalani sepanjang proyek hidup Anda sampai hari ini. Targetnya supaya memperoleh hidup yang selalu baru di sepanjang usia.</p>
<p>Tak cukup hanya memperoleh umur panjang. Tujuan utama hidup bukan untuk menambah agar lebih tua belaka, melainkan melakoni hidup dengan benar pada setiap usia agar tetap sehat sepanjang hayat. Untuk itu harus pintar hidup.</p>
<p>Anda sendiri penentu hidup sehat, bukan orang lain. Peran dokter kecil saja. Pandai-pandai mengisi penuh gelas waktu hidup Anda. Di luar tangan Tuhan, kuota umur Anda ditentukan seberapa tebal buku hidup Anda. Bila bijak membaca buku hidup, kita boleh berharap ada bonus umur di tahun senja kita.</p>
<p>Mari kita baca otobiografi tubuh kita masing-masing. Baik buruknya masa tua nanti ditentukan pula oleh kesehatan kita sekarang. Kuasa, harta, kedudukan tidak akan ada artinya kalau tidak sehat. Konsep “Sehat Itu Murah” ingin menambah tebal buku hidup Anda. Saya mengajak Anda memulainya dari sekarang.</p>
<p>Untuk sehat, peran gen dalam sel tubuh Anda hanya sepertiga. Selebihnya soal gaya hidup. Mungkin Anda selama ini keliru memilih gaya hidup. Namun tak pernah terlambat buat membuka kembali lembaran sehat. Anggap hidup Anda bakal terulur lebih lama. Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga, dan percaya kalau kesehatan terbaik itu ada di dapur Anda, bukan di restoran.</p>
<p>Sekarang kita memasuki “Graying Revolution”. Semakin banyak orang berumur panjang di dunia. Tapi tidak semua berbahagia. Karena memang tak cukup berumur panjang semata kalau ternyata tidak berkualitas. Target proyek hidup Anda haruslah bagaimana menjadi tua yang berkualitas. Untuk itu healthy-aging perlu dibangun. Dengan menjadi tua yang berkualitas berarti diri Anda adalah aset, dan bukan beban.</p>
<p>Anda harus berani menolak mengaku tua, kalau jiwa dan spirit Anda tetap belia. Kibarkan sikap Peter-Pan-Syndrome. Bahwa hidup cuma sekali. Pupuk dengan hal-hal yang positif saja. Pastikan dosis ketawa Anda tiga kali sehari. Dengan itu Anda bisa menghapus kesedihan dunia, dan sebuah kado hidup bugar akan dikirim buat Anda.</p>
<p>Rajin check up kesehatan saja belum cukup. Anda juga montir yang perlu cerdik melakukan check up terhadap kehidupan. Ciptakan kegembiraan bagi orang lain juga. Manfaatkan setiap kesempatan, agar otak tidak tidur, dan hari-hari selalu terasa baru. Untuk bisa menjadi begitu, sehat kuncinya. Orang yang sehat sudah merasa bersyukur walau sekadar menjadi orang biasa belaka. Seseorang menjadi sangat kaya-raya bila sehat.</p>
<p>“Sehat Itu Murah” bukan slogan, melainkan keyakinan medis yang saya kumpulkan, dan simpulkan sendiri. Dari pergaulan keseharian dengan pasien, surat-surat konsultasi yang saya terima, pertanyaan yang diajukan selama seminar, dan talkshow, makin meyakinkan saya bahwa untuk sehat ternyata tidak mahal. Setiap orang punya potensi untuk bisa tiba sampai ke situ, asalkan mau.</p>
<p>Konsep “Sehat Itu Murah” saja mungkin tidak lengkap. Namun yang sekecil ini pun ingin menambah tebal buku hidup Anda. Tidak ada cara lain untuk menjadi sehat. Mungkin Anda harus menyetel ulang mesin hidup Anda jika keliru. Saya tahu tidak mudah. Tapi Anda bisa.</p>
<p>***</p>
<p>Sebuah studi mengungkapkan kalau tubuh manusia didesain buat bisa bertahan hidup sampai 120 tahun (Maximum Life Potential, Dr. Walter M. Bortz). Namun lebih banyak orang yang hidupnya tidak panjang. Apa masih mungkin sekarang ini setiap orang mampu menempuh umur sepanjang itu? Saya mengajak Anda menjawabnya bisa.</p>
<p>Rata-rata orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas lapuk, dan aus. Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh lantaran masalah kesehatan bakal lebih banyak muncul di hari tua.</p>
<p>Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidup dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang (harmoni). Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak, melakukan check up juga terhadap kehidupan. Tahu pula kapan saatnya harus minggir menepi (“Ruralisasi”).</p>
<p>Agar menjadi kurang bermasalah dalam kesehatan, pikirkan pula seberapa bagus harusnya kita memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi, sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus, dan gundul. Sudah cukupkah tenang dan ayem jiwa kita.</p>
<p>Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah tinggi, lemak darah, begitu juga kanker diperburuk oleh stres. Barangkali itu sebab usia krisis orang di dunia yang dulu rata-rata baru terjadi setelah usia 50, cenderung dirundung stres yang berkepanjangan (malstress), krisis orang sekarang sudah muncul ketika umur sebelum 40 tahunan.</p>
<p>Kita melihat semakin banyak kasus psychosomatic muncul pada orang sekarang. Inilah bentuk keluhan penyakit di badan yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit badan yang muncul akibat jiwa yang merana.</p>
<p>***</p>
<p>SESUNGGUHNYA masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tidak punya masalah kesehatan sampai di ujung hayat? Inilah beberapa butir yang masih mungkin kita kerjakan demi tetap sehat berkualitas sampai di ujung umur.</p>
<p><strong>1. Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) Ditentukan oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya.</strong> Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak (atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh terus menerus dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan radikal bebas sendiri berkomplot membantu menambah tebal karat lemak dinding pembuluh darah.</p>
<p>Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita konsumsi tidak selalu lengkap, kondisi darah tinggi pun tetap kita pelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol, menu harian perlu kecukupan seluruh ragam zat gizi, termasuk sejumlah vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh darah tubuh kita tetap belia.</p>
<p>Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal. Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi) selain tetap doyan makan apa saja menu berkualitas (menjadi pemakan segala).</p>
<p>Dinding pembuluh darah yang sehat, darah yang berisi lengkap muatan oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung tidak memompa optimal. Maka kerja jantung perlu optimal. Dengan cara begitu sel-sel tubuh tidak kekurangan makanan, dan optimal menunjang tubuh. Sekian miliar sel tubuh tetap bugar dan tidak layu.</p>
<p>Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana. Sel organ yang merana akan kian mundur fungsinya.</p>
<p>Jika semua organ tubuh mengendur fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus “tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu dari kondisi seperti ini juga. Sel kekurangan zat gizi, selain tidak selalu kecukupan oksigen.</p>
<p>Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang. Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang dirasakan pasien semakin mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan pasokan makanan yang dibutuhkannya.</p>
<p>Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak badan), atau gabungan dari ketiganya.</p>
<p>Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya cepat aus dan lekas tua. Tanpa harus kekurangan pasokan makanan saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami proses degeneratif. Menyaksikan semakin lajunya proses degeneratif itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling, peraih Nobel vitamin C, mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung pada nasib menjadi krisisnya sel tubuh kebanyakan orang modern (Konsep “Orthomolecular Medicine”).</p>
<p><strong>2. Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. </strong>Supaya sel tubuh sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal, pasokan makanannya pun harus optimal.</p>
<p>Untuk itu pembuluh darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrong keutuhan pembuluh darah, khususnya oleh kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal bebas, harus disingkirkan. Untuk bisa mencapai itu, selain perlu obat dan pantang ini-itu, perlu pula menu seimbang, yakni menu yang memadai porsi dan lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.</p>
<p>Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang tengah diperhatikan oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan suplemen ditawarkan. Menu barat yang keliru namun menjadi masalah orang Indonesia karena kita meniru pilihan makan yang tidak tepat.</p>
<p><strong>3. Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar tubuh. </strong>Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara, air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh produksi sudah tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya radikal bebas yang kian mencemari tubuh.</p>
<p>Untuk mengurangi tumpukan radikal bebas, kita bisa menata hidup dengan memilih gaya dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja, aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.</p>
<p><strong>4. Usahakan agar menu harian lebih alami</strong>, menjauhkan makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan burger, steak, dan menu fast food, serta junk food yang sebetulnya sudah banyak kehilangan zat gizinya, dan tergolong boros lemak, gula, dan garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita cenderung lebih tinggi dari normal.</p>
<p>Anggapan semakin gemuk semakin memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita. Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justru yang tergolong sehat. Begitu hendaknya kita sampai ujung usia.</p>
<p>STATUS kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi bikin kelebihan gizi sehingga menjadikan berat badan selalu melebihi ukuran normal. Pada sisi lain bikin banyak orang yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?</p>
<p>Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan asupan mineral, termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan lebih 45 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa dibuatnya sendiri (essential) dan hanya mengandalkan dari menu harian.</p>
<p>Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food, merupakan “menu ampas’, sebab sudah banyak kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara olah yang salah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, ternak, maupun tubuh manusia.</p>
<p>Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sekarang ini sudah tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya dibanding yang dikonsumsi nenek moyang kita dulu. Jika tubuh kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga. Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka: antara lain keluhan letih-lelah-lesu. Tak sedikit keluhan orang sekarang yang bukan suatu entitas penyakit. Bisa jadi hanya sekadar “kurang gizi” orang modern.</p>
<p>Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati, prostat, pankreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu. Inilah mineral alit yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil, namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya setiap hari. Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini bila pola makan masih monodiet selain memilih “menu ampas”.</p>
<p>Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan trace elements dalam memunculkan banyak “penyakit” (kurang gizi) yang mengejewantah sebagai keluhan dan gejala yang mungkin bukan entity suatu penyakit.</p>
<p>Polusi kita sudah bikin kuyup manusia di mana-mana. Udara yang kita hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit penyakit, serta radikal bebas yang memberi andil untuk mencetuskan banyak penyakit termasuk risiko terkena kanker.</p>
<p>HIDUP sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi, selain rutin bergerak badan. Merasa diri bermakna. Bukan saja tahu arah ke mana hidup, melainkan juga benar menempuhnya di mata Tuhan.</p>
<p>Tak perlu minta bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary life) bakal meningkatkan risiko jantung koroner, atau stroke, sama jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang “Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi, menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau tennis, dan fitness, misalnya).</p>
<p>Untuk vitamin batin kita perlu menyediakan waktu buat rekreasi, dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal. Tertawa menyehatkan jantung dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah. Tertawa juga meningkatkan hormon endorfin, morfin yang diproduksi tubuh, untuk mengendurkan rasa perih-pedih kehidupan.</p>
<p>Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik, pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, sehingga berhasil membangun hidup seimbang antara pikir, laku, dan rasa.<br />
Dr. Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sehat-itu-murah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Obat Nakal&#8221;</title>
		<link>http://gkipi.org/obat-nakal/</link>
		<comments>http://gkipi.org/obat-nakal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 14:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5406</guid>
		<description><![CDATA[BADAN Pengawasan Obat (BPOM) baru-baru ini menangkap 46 jamu berisi bahan kimia obat. Sejak lama disinyalir sejumlah obat palsu masih kedapatan beredar di pasar. Semua tahu ini bukan isu baru. Sudah lama publik menanggung dampak buruk jamu berisi obat selain obat palsu tanpa ada yang membela. Bila tak ingin rakyat bertambah sakit, diperlukan solusi menuntaskannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BADAN Pengawasan Obat (BPOM) baru-baru ini menangkap 46 jamu berisi bahan kimia obat. Sejak lama disinyalir sejumlah obat palsu masih kedapatan beredar di pasar. Semua tahu ini bukan isu baru. Sudah lama publik menanggung dampak buruk jamu berisi obat selain obat palsu tanpa ada yang membela. Bila tak ingin rakyat bertambah sakit, diperlukan solusi menuntaskannya. Petaka kesehatan lebih mengerikan bakal terus ditanggung rakyat bila obat dalam jamu masih terus mereka konsumsi.</p>
<p><strong>Dosa &#8220;obat nakal&#8221;</strong></p>
<p>Jamu bukanlah obat. Manfaat jamu sebatas memelihara kesehatan. Perlu uji klinis supaya jamu mendekati fungsi obat (phytopharmaca). Namun karena ada jamu dicampur obat, ia pantas dilabel &#8220;obat nakal&#8221;. Begitu pula obat palsu. Dosa keduanya sama. Bikin rakyat jatuh rugi.</p>
<p>Jamu nakal diproduksi industri jamu rumahan, karena berisi obat, jamu berisiko merusak kesehatan. Apalagi kalau obatnya tergolong harus dengan resep dokter. Pemakaian obat Daftar G yang salah indikasi ini, bila berlangsung lama, buruk akibatnya terhadap tubuh. Jamu pegal linu dicampur corticosteroid, misalnya. Betul bikin badan enteng, tapi buruk bahayanya.</p>
<p>Yang kita saksikan sungguh mengerikan. Hampir tiap hari bertahun-tahun rakyat jelata di alun-alun kota minum jamu &#8220;nakal&#8221; pereda pegal linu, tanpa ada yang memberi tahu itu berbahaya. Di mata medis, bahan berkhasiat tak cukup hanya alasan bikin badan enak saja kalau tak aman dikonsumsi. Mencampur obat dalam jamu menyalahi sikap pengobatan (misused).</p>
<p>Jamu &#8220;nakal&#8221; nyatanya bisa bebas mencampurkan obat resep dokter jenis apa saja. Pertanyaannya bagaimana obat Daftar G bisa lolos ke industri jamu rumahan, itulah problematik yang perlu dicari solusi menuntaskannya. Rantai penyuplai obat keras perlu diputus agar kesehatan rakyat tidak semakin rusak dibuatnya.<br />
Rutin mengonsumsi jamu dicampur corticosteroid tak perlu waktu lama bikin tulang keropos (osteoporosis), haid terganggu, mencetuskan darah tinggi, kencing manis memberat, sistem hormonal tubuh kacau, bisa jadi memunculkan serangan jantung juga.</p>
<p>Serupa pula dampak buruknya dengan obat palsu. Obat palsu bisa berarti tiga. Isinya kosong, takaran obatnya dikurangi, atau memalsukan merk (me-too) belaka. Obat palsu tanpa bahan berkhasiat punya dua dosa. Ongkos berobat masyarakat terbuang sia-sia, dan penyakit gagal sembuh karena isi obatnya cuma tepung.</p>
<p>Obat palsu hanya tepung, tidak menyembuhkan. Penyakit gagal terkendalikan karena obatnya palsu, berujung komplikasi kalau bukan kematian. Penyakit sudah berkomplikasi perlu ongkos lebih besar. Tak tercatat berapa banyak rakyat korban obat nakal.</p>
<p><strong>Berefek ganda</strong></p>
<p>Minum jamu nakal menyimpan bahaya ekstra. Obat antidiabetes, dan antihipertensi sering dicampur dalam jamu nakal. Bahaya muncul bila waktu minum jamunya pasien minum juga obat dokter berefek sama. Efek obat jadi berlebihan. Gula darah dan tensi bisa anjlok. Selain berisiko bikin syok (irreversible shock), stroke bisa juga terjadi.<br />
Rakyat perlu tahu seringan apa pun obat warung tetap menyimpan efek samping. Terlebih obat resep dokter. Perlu tepat alamat, benar takaran, dan jangka waktu terbatas, selain butuh pengawasan dokter juga. Mengonsumsi jamu berisi obat, menyimpang dari sikap berobat yang rasional.</p>
<p>Jamu atau herbal yang menjanjikan bisa menyembuhkan kanker, dan hasilnya nihil, hanya buang-buang waktu berobat. Kasus kanker di Indonesia sering terlambat diobati dan batal sembuh akibat stadiumnya melanjut lantaran mampir-mampir dulu di orang pintar, atau memilih terapi alternatif.</p>
<p>Tidak semua terapi alternatif keliru. Namun tidak serta-merta karena bersifat alternatif maka dianggap aman. Hanya terapi alternatif tergolong complementary alternative medicine (CAM) diterima dunia medis (WHO).</p>
<p><strong>Swamedikasi</strong></p>
<p>Mengobati sendiri (swamedikasi) sudah mentradisi dalam masyarakat kita. Tidak sepenuhnya buruk. Namun bila wawasan obat masyarakat dan pilihan berobat masih rendah, itu mengapa pemakaian obat dan pilihan berobat jadi merugikan karena salah kaprah. Perlu sosialisasi pemakaian obat. Hanya bila manfaat obat lebih besar dari masalahatnya, obat baru dipakai. Tidak bila sebaliknya.</p>
<p>Kasus iatrogenic, misalnya. Menjadi sakit karena keliru dalam berobat atau diobati, di negara sedang berkembang terus meningkat. Juga di kita. Penyebabnya karena serampangan mengobati sendiri.</p>
<p>Tingginya permintaan obat di kita pun lantaran obat apa saja masih bisa dibeli bebas tanpa resep. Belanja obat pribadi di kita lebih besar dari belanja obat pemerintah. Karena permintaan obat tinggi, obat yang laris di pasar gelap, bukan yang ditebus di apotek, yang sering dipalsukan.</p>
<p>Kurang kritis selain gampang percaya pada obat maupun cara penyembuhan (healing), sosok lain kelemahan berobat masyarakat kita. Itu maka produsen jamu nakal makin merajalela. Tangan pemerintah tak cukup panjang melakukan pengawasan. Maka solusi strategisnya rakyat dibuat cerdas menyikapi obat selain memahami cara berobat yang benar.</p>
<p>Memberi obat murah bukan solusi. Hanya bila rakyat cerdas dan kritis dalam berobat, jamu nakal atau obat palsu tidak lagi mereka pilih. Bila permintaan berkurang, jamu nakal dan obat palsu gulung tikar. Demikian pula bila permintaan penyembuhan tak masuk akal medis makin tak dicari karena pasien sudah cerdas berobat.<br />
Namun sayang, tayangan iklan obat, herbal, pengobatan alternatif di semua program televisi nasional kian membingungkan masyarakat bagaimana berobat yang benar. Tanpa diimbangi sosialisasi eloknya berobat, informasi menyesatkan itu berpotensi bikin rakyat tak lagi teguh hanya memilih obat, dan berobat yang rasional.</p>
<p>Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/obat-nakal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umur Kita Di Menu Olahan</title>
		<link>http://gkipi.org/umur-kita-di-menu-olahan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/umur-kita-di-menu-olahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 11:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5214</guid>
		<description><![CDATA[BERBICARA soal mi, kita teringat betapa sudah membanjirnya aneka bahan kimia mengalir dalam darah kebanyakan rakyat kita. Penelusuran WHO bahkan menyebutkan dalam darah bayi pun kini terkandung kimia dioxin pencetus kanker (carcinogenic), sisa sampah industri yang mencemari susu. Sumber lain dioxin berasal dari mengonsumsi menu olahan (refined diet). Menu siap saji salah satunya. Membanjirnya zat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BERBICARA soal mi, kita teringat betapa sudah membanjirnya aneka bahan kimia mengalir dalam darah kebanyakan rakyat kita. Penelusuran WHO bahkan menyebutkan dalam darah bayi pun kini terkandung kimia dioxin pencetus kanker (carcinogenic), sisa sampah industri yang mencemari susu. Sumber lain dioxin berasal dari mengonsumsi menu olahan (refined diet). Menu siap saji salah satunya.</p>
<p><strong>Membanjirnya zat aditif makanan</strong></p>
<p>Di Amerika Serikat lebih 30 ribu zat kimia dicampurkan dalam industri makanan. Setiap tahun bertambah 6 ribu kimia baru. Untuk proses penyimpanan makanan saja terpakai lebih 10 ribu bahan kimia. Tubuh manusia tak terelakkan dikepung oleh bukan menu nenek moyang.</p>
<p>Sebagian besar kimia industri makanan sudah terbukti mengganggu sistem kekebalan tubuh, selain pencetus kanker (carcinogenic), dan munculnya sejumlah penyakit baru. Sebut Saccharine diseases, dan Western diseases. Penyebabnya lantaran orang di negara industri sekarang menelan 9 Kg kimia dalam makanan setiap tahunnya.</p>
<p>Laporan dari Singapura belakangan ini menyebutkan, kanker usus besar menduduki peringkat pertama di antara kasus kanker di negeri banyak orang mancanegara datang berobat. Fakta ini memperkuat bukti bahwa risiko kanker dunia paling tinggi terkait dengan faktor diet. Bahwa nasib kesehatan kita pada apa yang kita konsumsi.Risiko tembakau terhadap kanker tidak segalak faktor diet.</p>
<p>Bukti lain muncul dari Cina. Kanker terbanyak di Cina ternyata muncul di provinsi yang konsumsi dagingnya paling banyak. Ini peniscaya lain bahwa peran daging sebagai pencetus kanker mengalahkan faktor turunan melihat secara genetik penduduk Cina bersifat homogen.</p>
<p><strong>Kesehatan ada di dapur</strong></p>
<p>Camilan pabrikan dari karbohidrat (refined carbohydrate) disebut mencetuskan kanker usus (Dr Thomas L Cleave). Kesimpulan sama muncul dari Swedia. Bahwa camilan karbohidrat yang diproses dengan suhu tinggi memunculkan acrylamide pencetus kanker sebagaimana nitrosamine dalam ikan asin, dan makanan kaleng. Ham dan sandwich mengandung lebih 13 zat aditif. Keripik dicampurkan kimia perenyah, selain pengawet, dan pemanis buatan. Belum zat warna tekstil (rhodamine B dan methylene yellow) dalam sirop, saus tomat, dan kerupuk murah.</p>
<p>Selain zat aditif tak aman dalam industri makanan, seringnya industri makanan rumahan, takaran pemakaian aditif tanpa terkontrol melebihi dosis yang diperkenan. Kendati sudah mendapat izin yang berwenang bila kimia makanan dicampurkan berlebihan, merusak badan juga. Kalau aditif dilarang dan masih beredar, kerusakan hati dan ginjal mengancam konsumen.</p>
<p>Food Standard Agent Amerika Serikat bahkan mengingatkan konsumen kecap agar tidak sembarangan memilih bila kandungan 3-MCPD dan 1,3 DCP melebihi yang diperbolehkan. Kelebihan aditif ini mencetuskan kanker juga. Bukan pula cuma formalin ancaman dalam makanan orang sekarang, pemanis saccharine yang dulu dinilai aman, kini harus ditinggalkan.</p>
<p>Pro kontra sejumlah pemanis buatan muncul di setiap negara, apakah masih aman dikonsumsi. Dunia menghabiskan tak kurang 15 ton pemanis buatan setiap tahun. Tidak semua aman. Namun hampir semua jajanan kita tak luput dari pemanis buatan. Belum tentu semua diperkenan. Yang sekarang dinilai aman, nanti belum tentu.</p>
<p>Seperti itu gejolak dunia obat dan makanan. Demikian halnya dengan pengawet golongan benzoate dalam mi dan penganan lain, termasuk dalam kosmetik. Berapa takaran, dan berapa lama dipakai, menentukan seberapa jelek efek buruknya terhadap kesehatan.</p>
<p>Sebaik-baik bahan kimia dalam makanan, lebih baik membebaskan tubuh dari cemaran bahan kimia paling aman sekalipun. Seperti halnya kimia obat, yang dulu aman, bisa berubah tak aman dengan berjalannya waktu. Yang aman dikonsumsi sesekali mungkin menjadi tak aman bila dikonsumsi terus-menerus untuk waktu lama. Efek carcinogenic suatu zat bertabiat seperti itu juga.</p>
<p><strong>“Slow food”</strong></p>
<p>Rakyat kita sudah telanjur terpapar bahan kimia dalam makanan, kosmetik, jamu nakal, dan herbal yang tak jelas sumbernya. Bayangkan bertahun-tahun mengonsumsi kimia berefek buruk terhadap kesehatan, bisa diramalkan dalam dua-tiga puluh tahun ke depan akan lahir generasi kasus kanker, selain penyakit baru akibat keliru memilih makanan.</p>
<p>Demi mencegah kanker, dan munculnya penyakit peradaban lain, gerakan kembali ke menu nenek moyang saatnya dicanangkan pemerintah. Bukan kue donat, melainkan ubi rebus, talas rebus, atau pisang rebus jajanan menyehatkan. Nasi sepiring, ikan pepes, tempe dan tahu, sayur lodeh atau sayur asam, eloknya kembali menjadi menu nasional yang bersesuaian dengan kodrat tubuh kita. Sebetulnya itu yang sejak lama ditawarkan oleh menu “slow food” yang bersimpang jalan dengan menu siap saji sekarang ini (fast food).</p>
<p>Dari kecil lidah anak hendaknya dibentuk oleh menu rumah, bukan menu restoran. Semua penyakit metabolik, termasuk kencing manis yang kini meningkat di kalangan remaja, lahir lantaran terus menerus memilih menu restoran, jajanan pabrikan, selain produk industri makanan rumahan yang belum tentu aman, alih-alih menyehatkan.</p>
<p>Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/umur-kita-di-menu-olahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Industri Rumahan Jajanan Kita</title>
		<link>http://gkipi.org/bahaya-industri-rumahan-jajanan-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bahaya-industri-rumahan-jajanan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2010 02:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4860</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH lama sejumlah penganan buatan rumahan di Jambi diberitakan kedapatan menggunakan rhodamine-B, zat pewarna bukan untuk konsumsi manusia. Dalam catatan Lembaga Perlindungan Konsumen tentu ini bukan kejadian baru. Sudah lama industri makanan rumahan kita diam-diam, luput dari pengawasan yang berwenang, oleh karena menggunakan bahan yang sebetulnya bukan untuk konsumsi manusia. Yang menggunakan bahan kimia aman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH lama sejumlah penganan buatan rumahan di Jambi diberitakan kedapatan menggunakan rhodamine-B, zat pewarna bukan untuk konsumsi manusia. Dalam catatan Lembaga Perlindungan Konsumen tentu ini bukan kejadian baru. Sudah lama industri makanan rumahan kita diam-diam, luput dari pengawasan yang berwenang, oleh karena menggunakan bahan yang sebetulnya bukan untuk konsumsi manusia. Yang menggunakan bahan kimia aman namun melebihi takaran yang diperbolehkan.</p>
<p>Pengawet formalin dalam tahu, pemanis buatan sakarin dalam sirop, limun, dan kecap, serta zat pewarna untuk tekstil, rhodamine-B salah satunya, ditambahkan dalam saus tomat, kue, dan makanan jajanan lainnya. Kalau tidak diberitahu, rakyat yang mengonsumsinya setiap hari harus menanggung rusaknya kesehatan yang mungkin tidak terpulihkan.</p>
<p>Food Standard Agent, Amerika Serikat mengingatkan kepada publik yang mengonsumsi makanan oriental agar berhati-hati mengonsumsi kecap. Dari beberapa merk kecap yang diperiksa kedapatan zat kimiawi 3-MCPD dan 1,3 DCP melebihi dosis yang diperkenankan. Kelebihan zat kimiawi jenis ini bisa mencetuskan kanker (carcinogenic).</p>
<p>Sekitar tahun 80-an di area pabrik semen Cibinong, Jawa Barat, suatu siang mendadak puluhan karyawan mual, mulas, dan muntah-muntah sehabis makan mi-baso di pinggir jalan. Setelah dilacak oleh Dinas Kesehatan, diduga keracunan zat pewarna tekstil dalam saus tomatnya.</p>
<p>Mana mungkin harga sebotol saus tomat industri rumahan bisa semurah itu kalau isinya benar tomat. Saus tomat murah umumnya terbuat dari ubi dicampur dengan zat pewarna (untuk tekstil oleh karena harganya lebih murah), ditambah cuka. Begitu pula dengan sambal botol murah, atau kecap, sirop, limun produksi rumahan, dengan harga jual yang sukar diterima akal perhitungan dagang. Saus tomat dan sambal seperti itu kebanyakan masih dikonsumsi masyarakat bawah dan kita masih melihatnya hari-hari ini.</p>
<p>Proses bertahun-tahun</p>
<p>Menelan bahan-bahan yang tidak laik dikonsumsi manusia memang tidak langsung mematikan seperti kalau menelan pestisida. Demikian pula jika mengonsumsi bahan kimia yang lazim terkandung dalam makanan, namun jika takarannya melebihi dosis yang diperkenankan, bisa berbahaya juga. Sebut saja zat kimia dalam kecap, dan bagaimana kita memakai penyedap masakan (asam glutamat) melebihi takaran.</p>
<p>Dulu pemakaian penyedap masakan menggunakan takaran terbuat dari kayu ramping layaknya sendok es krim dengan tujuan agar takaran tidak berlebihan. Sekarang dengan leluasa menuang langsung dari kantung kemasan, atau dengan sendok makan. Padahal sudah banyak bukti kelebihan penyedap untuk waktu lama mencetuskan kanker. Sampai sekarang takaran penyedap di restoran, mi-bakso, soto, dan sejenisnya lipatan kali dosis yang aman dari ancaman kanker, dan tidak mendapat peringatan.</p>
<p>Kasus keracunan pestisida acap terjadi sebab bekas kemasan antihama itu di kalangan petani biasa dipakai untuk pembungkus penganan apa saja. Keracunan sehabis makan pisang goreng yang dibungkus dengan kertas kemasan pestisida, bukan kejadian sekali dua.Akibat ketidaktahuan yang sama terjadi pada keracunan bongkrek, atau sehabis mengonsumsi jamur beracun.</p>
<p>Bahan kimia yang tidak laik dikonsumsi dalam makanan umumnya bersifat pencetus kanker yang efek buruknya baru muncul sekian tahun kemudian. Ini berbahaya, sebab selama sekian lama mengonsumsinya konsumen tidak merasakan apa-apa dan tidak sadar kalau dalam tubuhnya sudah ada bom waktu bakal jatuh sakit, atau calon terserang kanker, dan entah penyakit apa lagi.</p>
<p>Bukan saja industri rumahan, Lembaga Perlindungan Konsumen pernah menemukan mutu kecap dan sirop bermerk industri besar bukan produksi rumahan yang berbeda-beda kemurnian kandungan bahannya, selain ada juga yang mencampurkan bahan yang tidak laik dikonsumsi. Di mana letak salahnya kalau semua produk makanan yang tak sehat dikonsumsi, baik rumahan maupun yang bermerk itu, legal memiliki izin?</p>
<p>Sukar mengawasi</p>
<p>Di kita, industri makanan rumahan begitu banyak. Betul sebagian besar telah mendapat izin dari yang berwenang. Namun jika Lembaga Perlindungan Kosumen kita masih saja menemukan penyimpangan dalam hal kandungan zat berbahaya, nasib konsumen untuk terlindung dari risiko terkena penyakit, dan kanker, tidak bertambah baik. Di AS, misalnya, jangankan industri rumahan (pembuat kue), restoran pun diawasi ketat tata kebersihannya. Bukan saja dalam hal penggunaan bahan yang tak laik dikonsumsi, izin produksi terancam dicabut jika higiene produksinya berkategori buruk.</p>
<p>Di kita, kotornya dapur rumah makan, bahaya cemaran kuman dalam limbah dapur ke makanan yang diolah berlangsung setiap saat. Restoran dan warung nasi yang mengolah makanan berdekatan dengan kamar kecil di kita dianggap lumrah. Mencret sehabis minum jus, atau mengonsumsi buah dingin, terjadi akibat kurang bersihnya makanan disajikan, sebab ketidaktahuan pengelola, sebetulnya bagian yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi.</p>
<p>Kontrol terhadap produsen makanan kita agaknya belum sampai ke situ. Rentang jangkau monitoring terhadap semua industri makanan rumahan belum memungkinkan untuk mengawasi begitu banyak produsen. Tindakan hukum terhadap produsen yang menyimpang hanya terjadi jika ada laporan dari konsumen, atau baru jika sudah terjadi kasus. Itu berarti konsumen tetap belum sepenuhnya terlindung dari ancaman terhadap kesehatan akibat mengonsumsi makanan berisi zat yang merugikan kesehatan, yang oleh karena tidak dilarang, terus saja dikonsumsi.</p>
<p>Bagi konsumen kelas atas bukan berarti pasti bebas sama sekali dari ancaman bahaya mengonsumsi segala jenis makanan olahan. Keripik kentang, kentang goreng, es krim, pizza (Pepperoni pizza), dan semua jenis makanan olahan dengan pemanasan bersuhu tinggi, kini terungkap merupakan pengancam kesehatan juga sebab mengandung zat acrylamide yang bersifat mencetuskan kanker juga.</p>
<p>Selain itu zat dioxin sudah menyelusup masuk ke dalam makanan siap-saji, daging, ikan, produk susu, dan semua jenis menu berlemak. Belum lama ini WHO menetapkan zat dioxin dalam makanan yang dijual, tergolong pencetus kanker. Hampir semua orang di negara industri (96%) positif dioxin dalam darahnya akibat tercemar dari makanan olahan yang dikonsumsinya.</p>
<p>Periset Swedia menemukan bahwa semua camilan dengan karbohidrat tinggi (terigu, kentang, beras, jagung) yang dibakar dan digoreng dengan suhu tinggi mengandung acrylamide yang bersifat carcinogenic itu. Acrylamide bahan untuk pembuat plastik dan zat warna, selain pemurni air minum. Itu sebab tergolong berbahaya juga kemasan masakan restoran yang panas jika dibungkus dengan bahan plastik, atau menggunakan sterofom. Tak terkecuali masakan yang berasal dari menu tradisional jika dibakar atau digoreng dengan suhu tinggi. Kentang mengandung zat asparagine selain gula. Jika asparagine dipanaskan akan berubah menjadi acrylamide si pencetus kanker itu.</p>
<p>Pilih bukan menu olahan</p>
<p>Semakin sedikit saja pilihan menu harian kita yang bebas dari pencemar zat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan sekadar ikan asin, menu rutin kaum papa pun mengandung zat nitrosamin, yang tergolong zat pencetus kanker juga. Maka, buat kita yang menginginkan tetap sehat, cara makan paling arif memang hanya kembali ke jenis menu alami.</p>
<p>Kendati memang tidak seratus persen bersih dari cemaran pupuk, pestisida, dan mineral berbahaya di tanah maupun sudah mencemari lautan kita terhadap ikan, kerang, dan semua produk laut, namun makanan alami seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, padi-padian, belut, dan lele di sawah, pepaya dan belimbing di pekarangan, daun singkong dan kangkung di kebun hidroponik, relatif masih lebih bersih dibanding jenis menu olahan yang kita beli. Terlebih jenis makanan olahan yang diproduksi dengan cara-cara yang tidak mengindahkan nasib kesehatan konsumennya.</p>
<p>Tanpa memberitahu, tanpa melakukan kontrol dan monitoring, dan hukum tidak bekerja, berarti diam-diam kita sedang membiarkan perusakan terhadap sosok kesehatan orang banyak itu terus saja berlangsung. Sayangnya semua itu tidak selalu konsumen tahu, apalagi menyadarinya.</p>
<p>Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bahaya-industri-rumahan-jajanan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telapak Kaki Nyeri, Kenapa?</title>
		<link>http://gkipi.org/telapak-kaki-nyeri-kenapa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/telapak-kaki-nyeri-kenapa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3965</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang makan ayam, telur, ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu. Pertanyaan saya: Apakah nyeri telapak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat 	saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang 	makan ayam, telur,  ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu.</p>
<p>Pertanyaan saya:</p>
<ol>
<li>Apakah nyeri telapak kaki itu berhubungan dengan usia yang makin tua?</li>
<li>Atau memang ada penyakit tertentu?</li>
</ol>
<p>Bd.</p>
<p>Jakarta</p></blockquote>
<p>Sdr Bd.</p>
<p>Sayang Anda tidak menuliskan berapa berat badan Anda sekarang ini. Mengapa perlu saya ketahui? Karena terkait dengan dugaan saya, bahwa keluhan nyeri pada kedua telapak kaki itu ada hubungannya dengan berat badan. Antara lain, bila kebiasaan Anda tidak memakai alas kaki, atau alas kaki yang biasa Anda gunakan tergolong tidak cukup empuk.</p>
<p>Kita tahu pada orang dengan berat badannya berlebih, persendian tulang belakang, lutut, dan kaki memikul beban tubuh lebih berat dibanding bila berat badan tidak gemuk. Pada wanita, berat badan tidak gemuk pun dipikul sebagai beban lebih oleh persendian tersebut apabila memakai sepatu atau alas kaki bertumit tinggi.</p>
<p>Bila benar berat badan Anda berlebih, besar kemungkinan memang ada peradangan pada selaput otot (fascia) di telapak kaki, kalau bukan jepitan saraf di sekitarnya. Bila saraf meradang, maka keluhannya rasa nyeri di situ.</p>
<p>Bila dugaan saya benar begitu, maka peradangan saraf itu mesti diredakan dengan memberi obat antiradang saraf. Kita tahu bila saraf meradang, tidak lekas mereda. Apalagi bila proses yang membuatnya meradang itu tetap berlangsung.</p>
<p>Misal, pada orang yang memilih kebiasaan sengaja berjalan di atas batu kerikil dengan tujuan refleksi. Tekanan seberat badan kita yang akan dipikul oleh persarafan kaki itulah yang kerap menimbulkan masalah pada kaki.</p>
<p>Menjadi semakin besar kemungkinan itu penyebabnya apabila selama ini Anda memang hobi berjalan kaki di atas batu kerikil, atau memakai sandal berduri model refleksi. Refleksi sendiri tidak salah apabila tekanan yang diterima hanya beberapa kilogram sekuat tekanan jari pelaku refekksi. Namun bisa bermasalah bila tekanan yang diterima kaki seberat badan pemiliknya, lalu itu yang menjadi berbeda akibatnya. Alih-alih memberikan hasil menyehatkan, justru malah menimbulkan masalah kaki.</p>
<p>Jadi, hemat saya keluhan itu bukan bagian dari proses menua. Oleh karena saya tidak memeriksanya langsung, dan saya hanya sebatas menganalisis dari sedikit keluhan dan gejala yang Anda alami, analisis saya bisa saja tidak tepat dengan realita “penyakit” yang tengah Anda alami.</p>
<p>Yang dapat Anda lakukan sekarang, hentikan kebiasaan yang keliru seperti sudah saya sebutkan di atas. Gunakan alas kaki yang lebih empuk kalau selama ini Anda memilih alas kaki yang keras. Pilih sepatu olahraga, dan sandal Jepang (busa), bahkan selama berjalan di dalam rumah sekalipun. Apalagi bila mawas, berat badan Anda sudah berlebih. Hentikan juga bila benar Anda punya hobi berjalan kaki di atas batu kerikil. Termasuk tidak melakukan kegiatan melompat seperti saat berolahraga badminton, volley, basket, atau senam jenis yang high impact.</p>
<p>Jangan lupa, lewat umur 40 sebaiknya tidak perlu berlari-lari atau jogging, karena kondisi sendi lutut sudah tidak sebagus masih belia. Selain minyak sendi sudah berkurang, rawan sendi lutut pun sudah menipis. Kegiatan berlari atau jogging akan mencederai sendi lutut dengan kondisi tersebut. Padahal efek aerobics-nya setara dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking).</p>
<p>Kecil kemungkinan keluhan itu berhulu dari meningginya asam urat (uric acid) dalam darah (hyperuricaemia). Karena jika benar sebab kelebihan asam urat, keluhan tidak hanya memilih di kaki, dan jika keluhannya di kaki pun biasanya muncul di ibu jari. Namun apabila ada riwayat pernah kelebihan asam urat dalam darah, tidak ada salahnya diperiksa kadar asam urat di laboratorium. Bila ternyata asam uratnya di atas 7.0, berarti ada pengaruh buruk dari situ.</p>
<p>Barang tentu harus dipikirkan pula penyebab penyakit otoimun melihat Anda ada bakat alergi. Penyakit darah ini juga bisa muncul pada persendian yang tergolong sebagai rheumatoid arthritis. Namun bila itu penyebabnya, biasanya tidak pada telapak kaki muncul keluhannya, melainkan pada persendian tangan. Untuk memastikan itu penyebabnya dapat dilihat dari pemeriksaan darah untuk melihat adanya faktor rematik itu.</p>
<p>Saran saya, apabila setelah meghentikan semua yang saya sebutkan di atas, dan kemudian keluhannya mereda, lalu hilang sama sekali, dugaan bahwa faktor peradangan selaput fascia telapak kaki itu benar adanya. Namun bila setelah semua itu dihentikan, masih juga terasa nyeri di telapak kaki, berarti memerlukan tambahan obat antiradang saraf.</p>
<p>Untuk itu kita memilih non-steroid-anti-inflamasi (NSAID). Sekarang banyak pilihan obat golongan itu, yang tentu perlu resep dokter. Anda bisa menghubungi saya di hnadesul@yahoo.com untuk mengambil resep obatnya, karena saya tidak boleh menuliskannya di sini.</p>
<p>Dr. Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/telapak-kaki-nyeri-kenapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari Rumah Jompo Plus</title>
		<link>http://gkipi.org/dicari-rumah-jompo-plus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dicari-rumah-jompo-plus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 05:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3758</guid>
		<description><![CDATA[Buat hari tua, sebetulnya lebih tepat kalau membangun rumah hari tua sendiri. Konotasi rumah jompo sering kurang mengenakkan bagi yang bakal menghuninya. Kenyataan di Indonesia lantaran melepas lansia ke rumah jompo lebih sering berarti sebuah cara pengasingan. Trauma itu yang menyebabkan mengapa tidak semua lansia, kalau bisa tidak sampai dirumahjompokan. Citra itu perlu digeser menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat hari tua, sebetulnya lebih tepat kalau membangun rumah hari tua sendiri. Konotasi rumah jompo sering kurang mengenakkan bagi yang bakal menghuninya. Kenyataan di Indonesia lantaran melepas lansia ke rumah jompo lebih sering berarti sebuah cara pengasingan. Trauma itu yang menyebabkan mengapa tidak semua lansia, kalau bisa tidak sampai dirumahjompokan. Citra itu perlu digeser menjadi lebih positif. Lalu idealnya seperti apa rumah hari tua?</p>
<p>DALAM tulisan saya yang lalu, saya sebutkan makin banyak orang asing merencanakan hari tua di Bali. Lebih dari itu, sebagian memang kepingin meninggal di Bali. Permintaan visa retirement kian tahun kian bertambah di Bali. Artinya orang juga merencanakan terciptanya hari tua, dan kematian yang mudah-mudahan indah.</p>
<p>Kelemahan rumah jompo di kita masih menyimpan trauma sebagai sebuah pengasingan. Institusi dan fasilitasnya betul dirancang lengkap dan bagus. Namun penghuninya tetap saja merasa kesepian. Sebagian merasa teralienasi. Tak ubahnya ditaruh di sangkar emas. Dikirim ke rumah jompo lalu menjadi momok.</p>
<p>Rumah jompo terbaik di Indonesia yang saya lihat hanya menyediakan fasilitas, layanan, dan suasana yang mendukung bagi kehidupan lansia. Sayang tetap saja tanpa komunikasi memadai, tanpa kegiatan yang dibutuhkan ketika umur penghuninya tidak lagi muda. Tanpa aktivitas berarti, hidup kemudian tetap terasa sia-sia.</p>
<p><strong>Loneliness industry</strong></p>
<p>Sisi kemiskinan kelompok lansia di negara maju lebih karena kehilangan komunitas. Benar umur bisa diulur lebih panjang, kesehatan dijamin lebih bugar, kamar lebih mewah, dan fasilitas lansia serba lengkap, namun tak ada yang bisa diajak bicara. Sedang pendamping di rumah jompo bukan terlatih untuk mendengar dan menjadi teman berbicara yang selevel. Ujungnya para penghuni rumah jompo tetap merasa kesepian.</p>
<p>Benar di rumah jompo banyak teman selevel untuk bercengkerama, namun tidak terbangun interaksi antar warga. Mereka sibuk sendiri-sendiri, atau masing-masing berdiam diri saja. Di puntung kehidupan terasa hambar. Kebosanan hidup menjadi penghambat tetap bahagia sampai di penghujung umur.</p>
<p>Di negara maju, kehilangan komunitas bikin orang tidak bergairah hidup. Maka industri yang bikin orang tidak merasa kesepian lagi kian berkembang. Bukan dengan musik dan ingar-bingar keseharian orang menjadi tidak kesepian. Bukan dengan mendapatkan yang serba wah maka orang tidak merindukan kesepian lagi. Di tengah keramaian dan kemewahan orang bisa merasa sepi. Apa yang salah?</p>
<p>Mungkin orang merasa tidak hadir sebagai pribadi. Mereka tidak merasa tampil. Tidak ada yang mendengar, selain kehilangan teman untuk berbicara. Maka krisis center di mana-mana negara menjadi satu-satunya tumpuan bagi mereka yang merencanakan bunuh diri lantaran hidupnya sepi tanpa siapa pun peduli kepadanya.</p>
<p>Krisis center menjadi tempat orang katarsis untuk segala yang sudah lama menyumpeki dirinya. Kebosanan hidup, dan merasa hidup tak bermakna, salah satunya.</p>
<p>Solusi lansia kesepian, bagaimana menciptakan sebuah ruang agar para lansia masih merasa hadir, tampil, dan punya orang lain yang mau mendengar, selain menjadi teman bercengkerama. Untuk itulah rumah jompo, atau rumah hari tua pribadi harus mampu menyelenggarakan yang seperti itu.</p>
<p><strong>Pensiun tidak berarti berhenti beraktivitas</strong></p>
<p>Benar. Bagi semua yang sudah pensiun lalu memasuki usia lansia, perlu berupaya agar tidak diam, melainkan tetap beraktivitas setiap hari, apa pun bentuk kegiatannya. Dua hal perlu dipertimbangkan. Melakukan aktivitas yang disukai, tanpa beban, tanpa merasa terpaksa, dan memberikan kepuasan hidup pribadi.</p>
<p>Apa pun kesibukan dan bentuk kegiatannya, hendaknya membuahkan rasa bergairah setiap hari. Hanya apabila setiap hari ada jadwal kegiatan, lansia punya harapan setiap kali bangun tidur pagi. Tanpa perasaan bergairah hidup terasa kosong.</p>
<p>Rumah jompo plus adalah rumah jompo yang bukan saja lengkap paripurna segala fasilitas dan infrastruktur penunjangnya, terlebih perlu memiliki program yang bersesuaian dengan kebutuhan lansia, siapa pun mereka. Hanya bila bermukim di rumah jompo yang berprogram itulah setiap pagi kegairahan hidup sempat muncul. Selalu ada yang bisa diharap setiap bangun tidur pagi.</p>
<p>Rumah hari tua pribadi pun perlu menciptakan program pribadi yang bersesuaian dengan kesukaan, kompetensi, pengalaman masa lalu, sehingga menjadi berkat bagi orang lain, selain menambah kegairahan hidup pribadi juga. Kita bisa merancangnya sendiri.</p>
<p>Tak cukup hanya beraktivitas di dalam rumah jompo, atau rumah tua pribadi, melainkan juga ada bentuk aktivitas sosial lainnya. Menempuh hari tua yang tetap sehat tak cukup hanya dengan pandai mengontrol penyakit, dan mencegah jatuh sakit belaka.</p>
<p>Perlu juga menyehatkan secara sosial, serta spiritual. Sehat total (total fitness) itu berarti sehat secara fisik, jiwa, selain sosial serta spiritual. Kurang satu saja anasir sehatnya, belum menjadi sehat paripurna. Semua lansia mendambakan yang seperti ini juga.</p>
<p>Tentu saja desain rumah jompo harus dirancang profesional disesuaikan dengan kondisi lansia. Ada desain khusus rumah jompo maupun rumah lansia pribadi. Tidak perlu rumah tingkat, lantai tidak berundak-undak, bahan tidak licin, kalaupun harus naik tanpa undakan melainkan bentuk tangga ramp, dan kamar mandi, kamar tidur dirancang serba aman bagi lansia (safety first bagi lansia).</p>
<p>Lebih penting dari sosok fisik rumah, rumah hari tua maupun rumah jompo haruslah menjelma menjadi sebuah “home”. Di dalam rumah ada ruh yang akrab dengan kelompok lansia. Interaksi antar penghuni, atau bila rumah hari tua pribadi tumbuh kontak sosial dengan tetangga, dan para kerabat.</p>
<p><strong>Program harian</strong></p>
<p>Selain itu semua, sebagaimana kebutuhan dalam “industri kesepian” di negara maju, diperlukan program harian. Bukan saja jadwal kegiatan harian di dalam rumah, melainkan juga kegiatan luar rumah, seperti ada jadwal belanja ke mal, pasar tradisional, pergi ke bank untuk urusan pribadi, selain ada jadwal nonton bioskop, atau mungkin juga outbond, kalau bukan live-in ke kampung-kampung dan desa.</p>
<p>Bahwa kekurangan dan kelemahan rumah jompo dan yang rata-rata dialami para lansia kita adalah hidup tanpa jadwal kegiatan yang terancang. Itu maka kegairahan hidup langsung padam. Tidak ada gairah mau melakukan apa hari ini setiap bangun tidur pagi hari karena memang tanpa jadwal. Sebaliknya bila sudah tersusun jadwal, gairah itu mekar karena ada yang akan dituju. Sisi ini yang mendukung hidup menjadi lebih bermakna setiap hari.</p>
<p>Selain itu perlu ada pekerja sosial terlatih yang bisa menghidupkan suasana di rumah jompo. Yang mampu menambah kegairahan di rumah sama baiknya dengan kegiatan di luar rumah. Acara berdebat, bertukar pikiran, atau permainan (role-playing) yang mengajak otak berputar, cara lain brain-gym. Otak yang dibiarkan diam, lekas menjadi ciut (atrophy). Makin lekas otak menciut, makin menurun kemampuan beraktivitas.</p>
<p>Di Bali sudah mulai bermunculan rumah-rumah hari tua pribadi maupun kelompok bangsa-bangsa tertentu. Kelompok Jepang, Korea, dan nanti konon bakal ada perkampungan kelompok bangsa Jerman. Tujuannya membangun komunitas, demi umur terulur lebih panjang selain masih tetap sehat.</p>
<p>Hanya bila masih ada kesempatan, ada kemampuan pula untuk masih bisa berbicara, dan masih ada orang lain yang mau mendengar, lansia merasa dirinya hadir. Masih diwongake, masih dihitung sebagai manusia. Kerinduan itu yang sering tidak dikabulkan oleh situasi merasa diasingkan, disingkirkan dari domain kaum muda. Termasuk oleh anak, mantu, dan cucu sendiri.</p>
<p>Idealnya agar semua itu tercipta sudah dirancang jauh-jauh hari demi siap menempuhnya. Tak perlu uang besar, namun paripurnanya rancangan membangun hari tua yang matang, setiap lansia punya kesempatan memilihnya yang tak mungkin datang dua kali. Semoga seperti itu yang bakal Anda lewati. Salam sehat.</p>
<p>Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dicari-rumah-jompo-plus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruralisasi</title>
		<link>http://gkipi.org/ruralisasi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ruralisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 13:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3407</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 80-an saya menulis topik ini di Harian Sinar Harapan. Judul begini Anda tidak menemukannya di media massa mana pun. Mungkin ini akal-akalan saya supaya memikat perhatian pembaca saja. Namun dari lubuk hati, itulah sebetulnya cita-cita hari tua saya semenjak ketika umur saya belum tua. Apakah maknanya bagi Anda? KAITANNYA masih supaya bukan saja berupaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tahun 80-an saya menulis topik ini di Harian Sinar Harapan. Judul begini Anda tidak menemukannya di media massa mana pun. Mungkin ini akal-akalan saya supaya memikat perhatian pembaca saja. Namun dari lubuk hati, itulah sebetulnya cita-cita hari tua saya semenjak ketika umur saya belum tua. Apakah maknanya bagi Anda?</p></blockquote>
<p>KAITANNYA masih supaya bukan saja berupaya agar umur bisa direntang lebih mengulur, melainkan juga agar masih tetap sehat. Kita tahu cita-cita orang di dunia kiwari, selain mengumpulkan potensi dan peluang agar panjang umur, juga masih tetap sehat. Kita menyebutnya sebagai tujuan hidup menuju healthy aging, sudah tua masih sehat.</p>
<p>Semua orang di dunia menyimpan cita-cita itu. Karena orang paling kaya di dunia itu bukan konglomerat atau hartawan, melainkan orang sehat. Cita-cita menjadi tetap sehat terdengar sederhana, namun tak mudah menempuhnya.</p>
<p>Pertama, karena tidak setiap orang punya investasi kesehatan yang seratus persen utuh sejak lahir. Kedua, yang punya modal sehat, namun sayang tidak mau menjalani hidup sehat. Tahu makanan lezat itu jahat, tapi masih rakus juga, misalnya. Jauh lebih banyak orang yang tidak tahu caranya sehat.</p>
<p>Pertanyaannya bagaimana agar tetap sehat? Proses menua tentu tidak mungkin dihentikan. Yang bisa kita lakukan hanya memperlambannya saja. Untuk itu perlu sejumlah kiat. Selain pola dan gaya hidup sehat dikuasai, tulus dan tekun pula melakoni. Dan kuncinya cuma empat. Hidup tertib terjadwal, makan selektif, rajin rutin bergerak badan, dan seimbang dunia-akhirat.</p>
<p>Tentu saja menjabarkan empat kunci itu perlu bicara lebih empat jam sampai berbusa, kalau itu lewat seminar. Perlu pula berulang-ulang membaca buku kesehatan terkait dengan itu. Celakanya, memahami seluruh kitab sejenis itu saja pun tidak cukup, kalau masih bersikap memilih ke dukun kalau didiagnosis kanker.</p>
<p>Sudah tulus dan tekun menjalani pola dan gaya hidup sehat memasuki umur yang semakin ranum, buat mata medik agaknya belum lengkap, jika masih ikut berdesak-desakan di kota besar. Menurut paham saya, yang sudah uzur perlu tahu diri.</p>
<p>Tahu diri bukan saja demi orang lain, melainkan juga buat kepentingan pribadi juga. Hidup di kota besar bagi yang sudah uzur makin tidak menyehatkan karena tiga hal. Irama hidup kota besar sudah tak cocok lagi dengan umur yang makin uzur. Oleh karena usia, tidak lagi bisa hidup “ngebut” berirama cha-cha-cha. Saatnya memilih irama waltz. Maka hendaknya menjelang opa-oma tidak lagi memilih tinggal di kota, apalagi kota besar. Jadi saatnya “minggir” ke daerah perdesaan.</p>
<h3>“Minggir”</h3>
<p>Ya, ungkapan “minggir” itulah yang saya carikan padanannya dengan “ruralisasi” atau hijrah ke perdesaan, lawan kata urbanisasi. Namun tentu tak sekadar pindah sosok belaka, melainkan pindah segalanya. Tiga keuntungan usia lanjut “minggir” ke perdesaan.</p>
<p>Selain irama hidup tadi yang lebih bersesuaian dengan umur yang makin uzur, tidak dikejar-kejar oleh kelompok masyarakat yang lebih belia ketika di mal, jalanan, antre bioskop, atau bergelak-gelak di tempat-tempat umum.</p>
<p>Harus diingat, ada stres tersendiri ketika yang sudah lebih lemah, lebih kendo, lebih alon, masih saja bersinggungan dengan yang lebih gesit, tergesa-gesa, dan kemudian terjebak dalam gerak hidup yang ingar-bingar. Maka bukan di situ wilayah keseharian bagi yang uzur.</p>
<p>Secara geografis perdesaan lebih nyaman. Ketika paru-paru makin susut dengan bertambahnya umur, daya tangkap oksigen juga kian mengendur. Padahal udara di kota lebih tipis dan sudah menjadi gado-gado dengan gas buang yang tak menyehatkan itu.</p>
<p>Paru-paru sudah uzur menyedot oksigen yang tipis plus aneka gas, jelas tidak makin menyehatkan. Udara desa lebih bersih dan segar, tebal pula kandungan oksigennya. Oksigen makanan pokok bagi bugarnya sel-sel tubuh. Sumbangan bagi tetap bugarnya seluruh sel tubuh.</p>
<p>Minum air kendi sekarang barang mewah. Selain air utuh alami, bebas dari cemaran, itulah air kehidupan sesungguhnya. Orang sekarang kian sukar memperoleh spring water, dan dunia menyuguhkannya mineral water, air buatan yang direka-reka belum tentu sesuai sepenuh kebutuhan tubuh.</p>
<p>Keuntungan lain memilih tinggal bukan di kota, secara sosial, kultur, dan filosofi, di Indonesia, perdesaan lebih cocok bagi yang sudah penuh muatan asam-garamnya, demi berpeluang memetik umur panjang. Bukan saja sumber pangan dan minum yang lebih sehat dari bumi perdesaan, budaya tepa selira, baku sapa, dan tiada hari tanpa holiday bila memilih hidup di perdesaan itulah kado istimewa bagi yang mudanya terkuras tak henti bekerja.</p>
<p>Makna “minggir” sejatinya bukan untuk duduk termangu ongkang-ongkang kaki, melainkan tetap menyibukkan diri dengan aneka kegiatan, dengan dua syarat. Pertama, sesuai dengan potensi pengalaman hidup, dan kedua, senang melakukannya. Para mantan pejabat tetap bisa menyumbangkan pengalaman praktik sesuai bidangnya bagi masyarakat desa. Orang di perdesaan memetik manfaat yang dibutuhkannya.</p>
<p>Jadi “minggir” berarti bukan hanya memindahkan secara geografis segala aktivitas yang mestinya tidak boleh dihentikan. Hanya apabila masih mau tetap aktif, umur bisa diulur lebih merentang panjang. Bukannya di kursi malas. Tukar kursi malas dengan sepatu olahraga.</p>
<p>Jangan lupa, faktor stres acap kita anggap sepele. Padahal stres lebih besar perannya bikin hidup tidak lagi panjang. Separo isi resep dokter sekarang lebih berisi obat penenang selain obat tidur, lantaran orang sekarang terjebak dalam lingkaran stres yang jahat (malstress).</p>
<p>Studi Boeing memperlihatkan, mereka yang pensiun lebih awal saat berumur 55 tahun, menyimpan harapan hidup bisa sampai 80-an tahun. Sebaliknya bila baru pensiun setelah berumur 65 tahun, harapan hidupnya hanya tersisa 2 tahun saja. Bukti betapa kejamnya faktor stres ketika masih tetap aktif kerja buat mengejar take home pay.</p>
<h3>Mimpi rumah hari tua view laut</h3>
<p>Setelah saya kaji kembali apa yang menjadi mimpi saya itu, terkait dengan apa yang saya ketahui sehubungan dengan kehidupan medik, agaknya masih relevan, kalau bukan lebih relevan untuk dipilih sekarang ini.</p>
<p>Waktu tahun 80-an saya acap keliling kota kecil kalau sedang liburan bersama anak yang ketika itu masih kecil. Saya menikmati betul kehidupan kota kecil dan perdesaan. Hemat saya, itulah kehidupan sejatinya. Waktu itu banyak pejabat maupun mantan pejabat yang membeli tanah di daerah, entah untuk investasi ataukah memang buat rumah hari tua.</p>
<p>Tapi barang tentu tidak siapa saja siap untuk “minggir”. Sebagian lantaran belum merancangnya, dan yang lain masih “ngoyo”. Dosen dan guru saya masih tetap berpraktik sampai uzur. Kerabat saya bingung, sore hari saya sudah santai di rumah jauh hari sebelum saya mendapat pensiun PNS.</p>
<p>Sekarang saya renungkan, ternyata saya tidak keliru. Sejumlah sejawat, guru, yang dirinya memahami betul bagaimana menyembuhkan dan menyehatkan orang lain, ternyata mati prematur. Bisa jadi lantaran hidupnya kelewat letih. Praktik sampai malam, kendati dengan hati senang, tapi mesin tubuh sudah kendur tak mungkin bisa diajak berlari terus.</p>
<p>Saya kebetulan menginsafi hal itu lebih dini, bahwa tidak ada batas tertinggi untuk kepuasan. Berapa cukup itu, siapa pun sukar menjawabnya. Hanya diri kita sendiri yang bisa dan harus bilang berhenti dari segala kesibukan yang berpotensi “merusak” badan itu, bukan orang lain, atau paksaan siapa pun. Maka kalau saya komit untuk berhenti dari kesibukan rutin jauh hari sebelum saya telanjur terkepung penyakit akibat tubuh terus dibawa berlari, itu sama sekali hendaknya tidak diartikan saya sudah merasa hebat dan amat berkecukupan. Sudah bersyukur bisa cukup hidup layak saja.</p>
<p>Namun tentu untuk tiba sampai ke situ perlu perencanaan sejak masih berumur 40 tahun. Di situ kelemahan kebanyakan kita, tidak pernah membuat perencanaan mau diapakan hidup ini sampai akhir hayat. Saya sudah merancangnya sekurang-kurangnya sebelum saya menuliskan “Ruralisasi” pertama kali tadi, ketika umur saya belum memasuki 40 tahun.</p>
<p>Umur 40 disebut-sebut masa krisis orang modern, dan mestinya sudah harus tiba di puncak prestasi. Saya menggenjotnya pada umur itu. Saya habis-habisan ingin agar nubuat cita-cita saya nantinya betul menjadi kenyataan. Dan thanks God, sampai hari ini masih sesuai dengan rancangan. Tapi di mana rumah hari tua saya itu akan saya labuhkan?</p>
<p>Jadi kalau setelah pensiun sekarang saya memenuhi janji mimpi saya ingin hijrah ke perdesaan, supaya saya tidak dicap ngomong doang. Saya merencanakan untuk “minggir” ke Bali. Anda bertanya kok Bali? Bila Tuhan mengizinkan Bali saya jadikan pilihan karena tiga pertimbangan.</p>
<p>Pertimbangan pertama, Bali provinsi paling ayem, menurut akal dan emosi sehat saya, setidaknya dibanding provinsi lain. Kedua, secara kultur dan sosial, semua tahu Bali bahkan dikejar orang manca negara mana saja. Everyday in Bali is holiday. Dan ketiga, di Bali kita masih bisa bersosialisasi dengan orang asing dari mana-mana, karena Bali menjadi “provinsi internasional”. Di Bali kita tidak mungkin kesepian secara sosial. Dan yang juga tak terbeli adalah alamnya.</p>
<p>Sudah lebih lima tahun diam-diam saya mengamati Bali. Pergaulan saya bukan saja dengan kerabat, fans, dan cengkerama di FB, serta relasi, terlebih juga dengan para broker properti. Bahwa properti di Bali gak ada matinya. Lebih dari itu property Bali terus melesat dalam hitungan tahun saja dibanding provinsi lain. Kondisi saya selalu sukar mengejar laju kenaikan harga properti Bali karena saya bukan konglomerat.</p>
<p>Awalnya pilihan saya membangun rumah hari tua di wilayah yang sejuk. Paling ideal di area Bedugul. Selain indah alamnya, sejuk udaranya, juga tidak hiruk pikuk. Setelah saya dengan susah payah menemukan sebidang tanah persis di atas danau Buyan, dengan view amat los ke danau Buyan yang berada di bawah, dan view laut Singaraja (Bali utara) di belakangnya, saya membayangkan bahwa barangkali benar, itulah surga kecil hari tua saya nanti.</p>
<p>Duduk memandang Buyan, danau yang tenang dan disucikan masyarakat Bali, hidup seperti sedang ditarik ke masa kecil. Memandang laut Singaraja di belakang, seakan perjalanan hidup betul memang belum boleh selesai. Kombinasi panorama ini yang saya harapkan tetap membakar spirit hidup saya pribadi sampai ujung hayat.</p>
<p>Tapi rencana itu berubah karena teman seperjalanan dalam hidup kurang menyukai suasana sesepi itu. Hidup memang begitu. Saya lebih seniman, teman seperjalanan hidup saya lebih pengunjung mal, maka toleransi saya patut bekerja. Dan saya mengalah. Buat saya di mal saya bisa hidup, di ketenangan danau saya juga sumringah. Maka rencana rumah hari tua beralih ke Bali selatan. Tepatnya di Pecatu. Di situ ada pura, ada real estate selebritis, ada hotel Bulgari termahal di Indonesia (hanya ada dua di dunia: Itali dan Bali), dan alamnya memang elok.</p>
<p>Saya gemar melihat laut. Melihat laut saya bisa terangsang menulis sajak. Maka saya sepakat dipilihkan sebidang tanah di situ. Nun jauh memandang laut lepas pantai Dreamland, ada lima hotel berbintang (Best Western sudah ada, kabarnya akan dibangun Westin, Raffles Hotel S’pore) golf 18 holes, condotel, RS internasional (kabarnya Mount Elizabeth Hospital S’pore), rumah jompo orang asing (Jerman), selain café artis Klapa milik Tommy Soeharto. Lokasinya beberapa kilometer menjelang Pura Uluwatu.</p>
<p>Kendati tanah yang baru rencana akan saya ambil agak jauh dari gemerlap itu, namun saya membayangkan, yang mewah gemerlap itu masih bisa saya pandang dari kejauhan. Apalagi semarak cahaya lampu sampai tepian pantai ketika duduk memandang di malam hari bila rumah hari tua itu jadi saya ungkap.</p>
<p>Jadi itulah mimpi yang saya rancang sejak puluhan tahun lalu ihwal bakal bagaimana hari uzur saya nanti. Mungkin saja pilihan itu tidak tepat menurut Anda, saya tetap ingin minta doa dari Anda, mudah-mudahan terkabul. Tentu saja budget saya amat terbatas, dan saya sedang nego untuk mendapatkan bakal lahan rumah hari tua yang di benak saya sudah final itu. Dari sana saya masih ingin menulis. Juga puisi yang akan saya kirimkan bagi Anda. Adakah di antara Anda yang tergerak ikut? Siapa tahu benar, pilihan ini selain berpeluang lebih dipanjangkan umur, juga masih tetap sehat, mengikuti cita-cita orang di mana-mana dunia.</p>
<address>Dr. HANDRAWAN NADESUL</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ruralisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehat itu Murah Asal Tahu Jurusnya</title>
		<link>http://gkipi.org/sehat-itu-murah-asal-tahu-jurusnya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sehat-itu-murah-asal-tahu-jurusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 02:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2772</guid>
		<description><![CDATA[TIDAK harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda. Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">T</span>IDAK harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda.</p>
<p>Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat untuk mulai membangun kembali kesehatan Anda. Yakinlah bahwa Anda belumlah mendekati akhir hidup.</p>
<p>Hidup adalah sebuah proyek, dan Anda manajernya. Apa yang Anda pikir dan lakukan tentang kesehatan merupakan investasi hari tua Anda. Potensi untuk sehat ditentukan oleh semua yang sudah Anda kerjakan sebagai manajer proyek. Kualitas hidup Anda merupakan akumulasi dari segala kebiasaan, keyakinan, sikap yang dijalani sepanjang proyek hidup Anda sampai hari ini. Targetnya supaya memperoleh hidup yang selalu baru di sepanjang usia.</p>
<p>Tak cukup hanya memperoleh umur panjang. Tujuan utama hidup di dunia sekarang bukan untuk menambah agar lebih tua belaka, melainkan melakoni hidup dengan benar pada setiap usia agar tetap sehat sepanjang hayat. Untuk itu harus pintar, dan bijak melakoni hidup.</p>
<p>Anda sendiri penentu hidup sehat, bukan orang lain. Peran dokter kecil saja. Pandai-pandai mengisi penuh gelas waktu hidup Anda. Di luar tangan Tuhan, kuota umur Anda ditentukan seberapa tebal buku perjalanan hidup Anda. Bila bijak belajar dari membaca buku hidup, kita boleh berharap ada bonus umur di tahun senja kita kelak.</p>
<p>Mari kita baca otobiografi tubuh kita masing-masing. Baik buruknya masa tua ditentukan pula oleh kesehatan kita hari ini. Kuasa, harta, kedudukan tidak akan ada artinya kalau tidak sehat. Konsep “Sehat Itu Murah” (sebuah judul buku penulis) ingin menambah tebal buku hidup Anda. Saya mengajak Anda memulainya dari sekarang.</p>
<p>Untuk sehat, peran gen dalam sel tubuh Anda hanya sepertiga. Selebihnya soal gaya hidup. Mungkin Anda selama ini keliru memilih gaya hidup. Namun tak pernah terlambat buat membuka kembali lembaran baru hidup sehat. Anggap hidup Anda bakal terulur lebih lama. Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga, dan percaya kalau kesehatan terbaik itu ada di dapur Anda, bukan di restoran.</p>
<p>Sekarang kita memasuki “Graying Revolution”. Semakin banyak orang berumur panjang di dunia. Tapi tidak semua berbahagia. Karena memang tak cukup berumur panjang semata kalau ternyata tidak berkualitas. Target proyek hidup Anda haruslah bagaimana menjadi tua yang berkualitas. Untuk itu healthy-aging perlu dibangun. Dengan menjadi tua yang berkualitas berarti diri Anda adalah aset, dan bukan beban.</p>
<p>Anda harus berani menolak mengaku tua, kalau jiwa dan spirit Anda tetap belia. Kibarkan sikap Peter-Pan-Syndrome. Bahwa hidup cuma sekali. Pupuk dengan hal-hal yang positif saja. Pastikan dosis ketawa Anda tiga kali sehari. Dengan itu Anda bisa menghapus kesedihan dunia, dan sebuah kado hidup bugar akan dikirim buat Anda.</p>
<p>Rajin check up kesehatan saja belum cukup. Anda juga montir yang perlu cerdik melakukan check up terhadap kehidupan. Ciptakan kegembiraan bagi orang lain juga. Manfaatkan setiap kesempatan, agar otak tidak tidur, dan hari-hari selalu terasa baru. Untuk bisa menjadi begitu, tetap sehat kuncinya. Orang yang sehat sudah merasa bersyukur walau sekadar menjadi orang biasa belaka.Seseorang menjadi sangat kaya raya bila kondisinya sehat.</p>
<p>“Sehat Itu Murah” bukan slogan, melainkan keyakinan medis yang saya kumpulkan, dan simpulkan sendiri. Itu saya peroleh dari pergaulan keseharian dengan pasien, surat-surat konsultasi yang saya terima puluhan tahun lamanya, pertanyaan yang diajukan selama seminar, dan talkshow, makin meyakinkan saya bahwa untuk sehat ternyata tidak mahal. Setiap orang punya potensi untuk bisa tiba sampai ke situ, asalkan mau.</p>
<p>Konsep “Sehat Itu Murah” saja mungkin tidak lengkap. Namun yang sekecil ini pun ingin menambah tebal buku hidup Anda. Tidak ada cara lain untuk menjadi sehat. Mungkin Anda harus menyetel ulang mesin hidup Anda jika keliru. Saya tahu itu tidak mudah. Tapi Anda bisa.</p>
<p>***</p>
<p><span class="cap">S</span>ebuah studi mengungkapkan kalau tubuh manusia didesain buat bisa bertahan hidup sampai 120 tahun (Maximum Life Potential, Dr. Walter M. Bortz). Namun lebih banyak orang yang hidupnya tidak panjang. Apa masih mungkin sekarang ini setiap orang mampu menempuh umur sepanjang itu? Saya mengajak Anda menjawabnya bisa.</p>
<p>Rata-rata orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas lapuk, dan aus. Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh lantaran masalah kesehatan bakal lebih banyak muncul di hari tua.</p>
<p>Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidup dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang (harmoni). Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak, melakukan check up juga terhadap kehidupan. Tahu pula kapan saatnya harus minggir menepi (“Ruralisasi”).</p>
<p>Agar menjadi kurang bermasalah dalam kesehatan, pikirkan pula seberapa bagus harusnya kita memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi, sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus, dan gundul. Sudah cukupkah tenang dan ayem jiwa kita sehingga stressor dalam hidup tidak merongrong jasmani kita.</p>
<p>Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah tinggi, lemak darah, begitu juga kanker diperburuk oleh hadirnya stres. Barangkali itu sebab usia krisis orang di dunia yang dulu rata-rata baru terjadi setelah usia 50, karena cenderung dirundung stres yang berkepanjangan (malstress), krisis orang sekarang sudah muncul ketika umur belum masuk 40 tahunan.</p>
<p>Kita melihat semakin banyak kasus psychosomatic muncul pada orang sekarang. Badannya sehat, tapi keluhan fisiknya macam-macam. Inilah bentuk keluhan penyakit di badan yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit badan yang muncul akibat jiwa yang tengah merana.</p>
<p>***</p>
<p><span class="cap">S</span>ESUNGGUHNYA masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tidak punya masalah kesehatan sampai di ujung hayat? Inilah beberapa butir kiat kita yang masih mungkin kita kerjakan demi tetap sehat berkualitas sampai di ujung umur.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.	Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) ditentukan oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya. Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak (atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh terus menerus dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan radikal bebas sendiri berkomplot membantu menambah tebal karat lemak dinding pembuluh darah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita konsumsi tidak selalu lengkap, kondisi darah tinggi pun tetap kita pelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol, menu harian perlu kecukupan seluruh ragam zat gizi, termasuk sejumlah vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh darah tubuh kita tetap belia.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal. Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi) selain tetap doyan makan apa saja menu berkualitas (menjadi pemakan segala).</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Dinding pembuluh darah yang sehat, darah yang berisi lengkap muatan oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung tidak memompa optimal. Maka kerja jantung perlu optimal. Dengan cara begitu sel-sel tubuh tidak kekurangan makanan, dan optimal menunjang tubuh. Sekian miliar sel tubuh tetap bugar dan tidak layu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana. Sel organ yang merana akan kian mundur fungsinya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Jika semua organ tubuh mengendur fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus “tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu dari kondisi seperti ini juga. Sel kekurangan zat gizi, selain tidak selalu kecukupan oksigen.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang. Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang dirasakan pasien semakin mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan pasokan makanan yang dibutuhkannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak badan), atau gabungan dari ketiganya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya cepat aus dan lekas tua. Tanpa harus kekurangan pasokan makanan saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami proses degeneratif. Menyaksikan semakin lajunya proses degeneratif itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling, peraih Nobel vitamin C, mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung pada nasib menjadi krisisnya sel tubuh kebanyakan orang modern (Konsep “Orthomolecular Medicine”).</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">2.	Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. Supaya sel tubuh sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal, pasokan makanannya pun harus optimal.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Untuk itu pembuluh darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrong keutuhan pembuluh darah, khususnya oleh kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal bebas, harus disingkirkan. Untuk bisa mencapai itu, selain perlu obat dan pantang ini-itu, perlu pula menu seimbang, yakni menu yang memadai porsi dan lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang tengah diperhatikan oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan suplemen ditawarkan. Menu barat yang keliru namun menjadi masalah orang Indonesia karena kita meniru pilihan makan yang tidak tepat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">3.	Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar tubuh. Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara, air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh produksi sudah tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya radikal bebas yang kian mencemari tubuh.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Untuk mengurangi tumpukan radikal bebas, kita bisa menata hidup dengan memilih gaya dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja, aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">4.	Usahakan agar menu harian lebih alami, menjauhkan makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan burger, steak, dan menu fast food, serta junk food yang sebetulnya sudah banyak kehilangan zat gizinya, dan tergolong boros lemak, gula, dan garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita cenderung lebih tinggi dari normal.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Anggapan semakin gemuk semakin memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita. Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justru yang tergolong sehat. Begitu hendaknya kita sampai ujung usia.</p>
<p><span class="cap">S</span>TATUS kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi bikin kelebihan gizi sehingga menjadikan berat badan selalu melebihi ukuran normal. Pada sisi lain bikin banyak orang yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?</p>
<p>Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan asupan mineral, termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan lebih 45 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa dibuatnya sendiri (essential) dan hanya mengandalkan dari menu harian.</p>
<p>Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food, merupakan “menu ampas’, sebab sudah banyak kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara olah yang salah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, ternak, maupun tubuh manusia.</p>
<p>Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sekarang ini sudah tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya dibanding yang dikonsumsi nenek moyang kita dulu. Jika tubuh kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga. Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka: antara lain keluhan letih-lelah-lesu. Tak sedikit keluhan orang sekarang yang bukan suatu entitas penyakit. Bisa jadi hanya sekadar “kurang gizi” orang modern.</p>
<p>Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati, prostat, pancreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu. Inilah mineral alit yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil, namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya setiap hari. Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini bila pola makan masih monodiet selain memilih “menu ampas”.</p>
<p>Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan trace elements dalam memunculkan banyak “penyakit” (kurang gizi) yang mengejewantah sebagai keluhan dan gejala yang mungkin bukan entity suatu penyakit.</p>
<p>Polusi kita sudah bikin kuyup manusia di mana-mana. Udara yang kita hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit penyakit, serta radikal bebas yang memberi andil untuk mencetuskan banyak penyakit termasuk risiko terkena kanker.</p>
<p>HIDUP sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi, selain rutin bergerak badan. Merasa diri bermakna. Bukan saja tahu arah ke mana hidup, melainkan juga benar juga menempuhnya di mata Tuhan.</p>
<p>Tak perlu minta bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary life) bakal meningkatkan risiko jantung koroner, atau stroke, sama jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang “Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi, menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau tennis, dan fitness, misalnya).</p>
<p>Untuk vitamin batin kita perlu menyediakan waktu buat rekreasi, dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal. Tertawa menyehatkan jantung dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah. Tertawa juga meningkatkan hormon endorfin, morfin yang diproduksi tubuh, untuk mengendurkan rasa perih-pedih kehidupan.</p>
<p>Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik, pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, sehingga berhasil membangun hidup seimbang antara pikir, laku, dan rasa.</p>
<p>Makalah Bulan Keluarga GKI Pondok Indah, Jakarta, 10 Oktober 2009</p>
<address>Dr. Handrawan Nadesul</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sehat-itu-murah-asal-tahu-jurusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

