<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Kesehatan</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Telapak Kaki Nyeri, Kenapa?</title>
		<link>http://gkipi.org/telapak-kaki-nyeri-kenapa/</link>
		<comments>http://gkipi.org/telapak-kaki-nyeri-kenapa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3965</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang makan ayam, telur, ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu. Pertanyaan saya: Apakah nyeri telapak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat 	saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang 	makan ayam, telur,  ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu.</p>
<p>Pertanyaan saya:</p>
<ol>
<li>Apakah nyeri telapak kaki itu berhubungan dengan usia yang makin tua?</li>
<li>Atau memang ada penyakit tertentu?</li>
</ol>
<p>Bd.</p>
<p>Jakarta</p></blockquote>
<p>Sdr Bd.</p>
<p>Sayang Anda tidak menuliskan berapa berat badan Anda sekarang ini. Mengapa perlu saya ketahui? Karena terkait dengan dugaan saya, bahwa keluhan nyeri pada kedua telapak kaki itu ada hubungannya dengan berat badan. Antara lain, bila kebiasaan Anda tidak memakai alas kaki, atau alas kaki yang biasa Anda gunakan tergolong tidak cukup empuk.</p>
<p>Kita tahu pada orang dengan berat badannya berlebih, persendian tulang belakang, lutut, dan kaki memikul beban tubuh lebih berat dibanding bila berat badan tidak gemuk. Pada wanita, berat badan tidak gemuk pun dipikul sebagai beban lebih oleh persendian tersebut apabila memakai sepatu atau alas kaki bertumit tinggi.</p>
<p>Bila benar berat badan Anda berlebih, besar kemungkinan memang ada peradangan pada selaput otot (fascia) di telapak kaki, kalau bukan jepitan saraf di sekitarnya. Bila saraf meradang, maka keluhannya rasa nyeri di situ.</p>
<p>Bila dugaan saya benar begitu, maka peradangan saraf itu mesti diredakan dengan memberi obat antiradang saraf. Kita tahu bila saraf meradang, tidak lekas mereda. Apalagi bila proses yang membuatnya meradang itu tetap berlangsung.</p>
<p>Misal, pada orang yang memilih kebiasaan sengaja berjalan di atas batu kerikil dengan tujuan refleksi. Tekanan seberat badan kita yang akan dipikul oleh persarafan kaki itulah yang kerap menimbulkan masalah pada kaki.</p>
<p>Menjadi semakin besar kemungkinan itu penyebabnya apabila selama ini Anda memang hobi berjalan kaki di atas batu kerikil, atau memakai sandal berduri model refleksi. Refleksi sendiri tidak salah apabila tekanan yang diterima hanya beberapa kilogram sekuat tekanan jari pelaku refekksi. Namun bisa bermasalah bila tekanan yang diterima kaki seberat badan pemiliknya, lalu itu yang menjadi berbeda akibatnya. Alih-alih memberikan hasil menyehatkan, justru malah menimbulkan masalah kaki.</p>
<p>Jadi, hemat saya keluhan itu bukan bagian dari proses menua. Oleh karena saya tidak memeriksanya langsung, dan saya hanya sebatas menganalisis dari sedikit keluhan dan gejala yang Anda alami, analisis saya bisa saja tidak tepat dengan realita “penyakit” yang tengah Anda alami.</p>
<p>Yang dapat Anda lakukan sekarang, hentikan kebiasaan yang keliru seperti sudah saya sebutkan di atas. Gunakan alas kaki yang lebih empuk kalau selama ini Anda memilih alas kaki yang keras. Pilih sepatu olahraga, dan sandal Jepang (busa), bahkan selama berjalan di dalam rumah sekalipun. Apalagi bila mawas, berat badan Anda sudah berlebih. Hentikan juga bila benar Anda punya hobi berjalan kaki di atas batu kerikil. Termasuk tidak melakukan kegiatan melompat seperti saat berolahraga badminton, volley, basket, atau senam jenis yang high impact.</p>
<p>Jangan lupa, lewat umur 40 sebaiknya tidak perlu berlari-lari atau jogging, karena kondisi sendi lutut sudah tidak sebagus masih belia. Selain minyak sendi sudah berkurang, rawan sendi lutut pun sudah menipis. Kegiatan berlari atau jogging akan mencederai sendi lutut dengan kondisi tersebut. Padahal efek aerobics-nya setara dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking).</p>
<p>Kecil kemungkinan keluhan itu berhulu dari meningginya asam urat (uric acid) dalam darah (hyperuricaemia). Karena jika benar sebab kelebihan asam urat, keluhan tidak hanya memilih di kaki, dan jika keluhannya di kaki pun biasanya muncul di ibu jari. Namun apabila ada riwayat pernah kelebihan asam urat dalam darah, tidak ada salahnya diperiksa kadar asam urat di laboratorium. Bila ternyata asam uratnya di atas 7.0, berarti ada pengaruh buruk dari situ.</p>
<p>Barang tentu harus dipikirkan pula penyebab penyakit otoimun melihat Anda ada bakat alergi. Penyakit darah ini juga bisa muncul pada persendian yang tergolong sebagai rheumatoid arthritis. Namun bila itu penyebabnya, biasanya tidak pada telapak kaki muncul keluhannya, melainkan pada persendian tangan. Untuk memastikan itu penyebabnya dapat dilihat dari pemeriksaan darah untuk melihat adanya faktor rematik itu.</p>
<p>Saran saya, apabila setelah meghentikan semua yang saya sebutkan di atas, dan kemudian keluhannya mereda, lalu hilang sama sekali, dugaan bahwa faktor peradangan selaput fascia telapak kaki itu benar adanya. Namun bila setelah semua itu dihentikan, masih juga terasa nyeri di telapak kaki, berarti memerlukan tambahan obat antiradang saraf.</p>
<p>Untuk itu kita memilih non-steroid-anti-inflamasi (NSAID). Sekarang banyak pilihan obat golongan itu, yang tentu perlu resep dokter. Anda bisa menghubungi saya di hnadesul@yahoo.com untuk mengambil resep obatnya, karena saya tidak boleh menuliskannya di sini.</p>
<p>Dr. Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/telapak-kaki-nyeri-kenapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari Rumah Jompo Plus</title>
		<link>http://gkipi.org/dicari-rumah-jompo-plus/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dicari-rumah-jompo-plus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 05:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3758</guid>
		<description><![CDATA[Buat hari tua, sebetulnya lebih tepat kalau membangun rumah hari tua sendiri. Konotasi rumah jompo sering kurang mengenakkan bagi yang bakal menghuninya. Kenyataan di Indonesia lantaran melepas lansia ke rumah jompo lebih sering berarti sebuah cara pengasingan. Trauma itu yang menyebabkan mengapa tidak semua lansia, kalau bisa tidak sampai dirumahjompokan. Citra itu perlu digeser menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat hari tua, sebetulnya lebih tepat kalau membangun rumah hari tua sendiri. Konotasi rumah jompo sering kurang mengenakkan bagi yang bakal menghuninya. Kenyataan di Indonesia lantaran melepas lansia ke rumah jompo lebih sering berarti sebuah cara pengasingan. Trauma itu yang menyebabkan mengapa tidak semua lansia, kalau bisa tidak sampai dirumahjompokan. Citra itu perlu digeser menjadi lebih positif. Lalu idealnya seperti apa rumah hari tua?</p>
<p>DALAM tulisan saya yang lalu, saya sebutkan makin banyak orang asing merencanakan hari tua di Bali. Lebih dari itu, sebagian memang kepingin meninggal di Bali. Permintaan visa retirement kian tahun kian bertambah di Bali. Artinya orang juga merencanakan terciptanya hari tua, dan kematian yang mudah-mudahan indah.</p>
<p>Kelemahan rumah jompo di kita masih menyimpan trauma sebagai sebuah pengasingan. Institusi dan fasilitasnya betul dirancang lengkap dan bagus. Namun penghuninya tetap saja merasa kesepian. Sebagian merasa teralienasi. Tak ubahnya ditaruh di sangkar emas. Dikirim ke rumah jompo lalu menjadi momok.</p>
<p>Rumah jompo terbaik di Indonesia yang saya lihat hanya menyediakan fasilitas, layanan, dan suasana yang mendukung bagi kehidupan lansia. Sayang tetap saja tanpa komunikasi memadai, tanpa kegiatan yang dibutuhkan ketika umur penghuninya tidak lagi muda. Tanpa aktivitas berarti, hidup kemudian tetap terasa sia-sia.</p>
<p><strong>Loneliness industry</strong></p>
<p>Sisi kemiskinan kelompok lansia di negara maju lebih karena kehilangan komunitas. Benar umur bisa diulur lebih panjang, kesehatan dijamin lebih bugar, kamar lebih mewah, dan fasilitas lansia serba lengkap, namun tak ada yang bisa diajak bicara. Sedang pendamping di rumah jompo bukan terlatih untuk mendengar dan menjadi teman berbicara yang selevel. Ujungnya para penghuni rumah jompo tetap merasa kesepian.</p>
<p>Benar di rumah jompo banyak teman selevel untuk bercengkerama, namun tidak terbangun interaksi antar warga. Mereka sibuk sendiri-sendiri, atau masing-masing berdiam diri saja. Di puntung kehidupan terasa hambar. Kebosanan hidup menjadi penghambat tetap bahagia sampai di penghujung umur.</p>
<p>Di negara maju, kehilangan komunitas bikin orang tidak bergairah hidup. Maka industri yang bikin orang tidak merasa kesepian lagi kian berkembang. Bukan dengan musik dan ingar-bingar keseharian orang menjadi tidak kesepian. Bukan dengan mendapatkan yang serba wah maka orang tidak merindukan kesepian lagi. Di tengah keramaian dan kemewahan orang bisa merasa sepi. Apa yang salah?</p>
<p>Mungkin orang merasa tidak hadir sebagai pribadi. Mereka tidak merasa tampil. Tidak ada yang mendengar, selain kehilangan teman untuk berbicara. Maka krisis center di mana-mana negara menjadi satu-satunya tumpuan bagi mereka yang merencanakan bunuh diri lantaran hidupnya sepi tanpa siapa pun peduli kepadanya.</p>
<p>Krisis center menjadi tempat orang katarsis untuk segala yang sudah lama menyumpeki dirinya. Kebosanan hidup, dan merasa hidup tak bermakna, salah satunya.</p>
<p>Solusi lansia kesepian, bagaimana menciptakan sebuah ruang agar para lansia masih merasa hadir, tampil, dan punya orang lain yang mau mendengar, selain menjadi teman bercengkerama. Untuk itulah rumah jompo, atau rumah hari tua pribadi harus mampu menyelenggarakan yang seperti itu.</p>
<p><strong>Pensiun tidak berarti berhenti beraktivitas</strong></p>
<p>Benar. Bagi semua yang sudah pensiun lalu memasuki usia lansia, perlu berupaya agar tidak diam, melainkan tetap beraktivitas setiap hari, apa pun bentuk kegiatannya. Dua hal perlu dipertimbangkan. Melakukan aktivitas yang disukai, tanpa beban, tanpa merasa terpaksa, dan memberikan kepuasan hidup pribadi.</p>
<p>Apa pun kesibukan dan bentuk kegiatannya, hendaknya membuahkan rasa bergairah setiap hari. Hanya apabila setiap hari ada jadwal kegiatan, lansia punya harapan setiap kali bangun tidur pagi. Tanpa perasaan bergairah hidup terasa kosong.</p>
<p>Rumah jompo plus adalah rumah jompo yang bukan saja lengkap paripurna segala fasilitas dan infrastruktur penunjangnya, terlebih perlu memiliki program yang bersesuaian dengan kebutuhan lansia, siapa pun mereka. Hanya bila bermukim di rumah jompo yang berprogram itulah setiap pagi kegairahan hidup sempat muncul. Selalu ada yang bisa diharap setiap bangun tidur pagi.</p>
<p>Rumah hari tua pribadi pun perlu menciptakan program pribadi yang bersesuaian dengan kesukaan, kompetensi, pengalaman masa lalu, sehingga menjadi berkat bagi orang lain, selain menambah kegairahan hidup pribadi juga. Kita bisa merancangnya sendiri.</p>
<p>Tak cukup hanya beraktivitas di dalam rumah jompo, atau rumah tua pribadi, melainkan juga ada bentuk aktivitas sosial lainnya. Menempuh hari tua yang tetap sehat tak cukup hanya dengan pandai mengontrol penyakit, dan mencegah jatuh sakit belaka.</p>
<p>Perlu juga menyehatkan secara sosial, serta spiritual. Sehat total (total fitness) itu berarti sehat secara fisik, jiwa, selain sosial serta spiritual. Kurang satu saja anasir sehatnya, belum menjadi sehat paripurna. Semua lansia mendambakan yang seperti ini juga.</p>
<p>Tentu saja desain rumah jompo harus dirancang profesional disesuaikan dengan kondisi lansia. Ada desain khusus rumah jompo maupun rumah lansia pribadi. Tidak perlu rumah tingkat, lantai tidak berundak-undak, bahan tidak licin, kalaupun harus naik tanpa undakan melainkan bentuk tangga ramp, dan kamar mandi, kamar tidur dirancang serba aman bagi lansia (safety first bagi lansia).</p>
<p>Lebih penting dari sosok fisik rumah, rumah hari tua maupun rumah jompo haruslah menjelma menjadi sebuah “home”. Di dalam rumah ada ruh yang akrab dengan kelompok lansia. Interaksi antar penghuni, atau bila rumah hari tua pribadi tumbuh kontak sosial dengan tetangga, dan para kerabat.</p>
<p><strong>Program harian</strong></p>
<p>Selain itu semua, sebagaimana kebutuhan dalam “industri kesepian” di negara maju, diperlukan program harian. Bukan saja jadwal kegiatan harian di dalam rumah, melainkan juga kegiatan luar rumah, seperti ada jadwal belanja ke mal, pasar tradisional, pergi ke bank untuk urusan pribadi, selain ada jadwal nonton bioskop, atau mungkin juga outbond, kalau bukan live-in ke kampung-kampung dan desa.</p>
<p>Bahwa kekurangan dan kelemahan rumah jompo dan yang rata-rata dialami para lansia kita adalah hidup tanpa jadwal kegiatan yang terancang. Itu maka kegairahan hidup langsung padam. Tidak ada gairah mau melakukan apa hari ini setiap bangun tidur pagi hari karena memang tanpa jadwal. Sebaliknya bila sudah tersusun jadwal, gairah itu mekar karena ada yang akan dituju. Sisi ini yang mendukung hidup menjadi lebih bermakna setiap hari.</p>
<p>Selain itu perlu ada pekerja sosial terlatih yang bisa menghidupkan suasana di rumah jompo. Yang mampu menambah kegairahan di rumah sama baiknya dengan kegiatan di luar rumah. Acara berdebat, bertukar pikiran, atau permainan (role-playing) yang mengajak otak berputar, cara lain brain-gym. Otak yang dibiarkan diam, lekas menjadi ciut (atrophy). Makin lekas otak menciut, makin menurun kemampuan beraktivitas.</p>
<p>Di Bali sudah mulai bermunculan rumah-rumah hari tua pribadi maupun kelompok bangsa-bangsa tertentu. Kelompok Jepang, Korea, dan nanti konon bakal ada perkampungan kelompok bangsa Jerman. Tujuannya membangun komunitas, demi umur terulur lebih panjang selain masih tetap sehat.</p>
<p>Hanya bila masih ada kesempatan, ada kemampuan pula untuk masih bisa berbicara, dan masih ada orang lain yang mau mendengar, lansia merasa dirinya hadir. Masih diwongake, masih dihitung sebagai manusia. Kerinduan itu yang sering tidak dikabulkan oleh situasi merasa diasingkan, disingkirkan dari domain kaum muda. Termasuk oleh anak, mantu, dan cucu sendiri.</p>
<p>Idealnya agar semua itu tercipta sudah dirancang jauh-jauh hari demi siap menempuhnya. Tak perlu uang besar, namun paripurnanya rancangan membangun hari tua yang matang, setiap lansia punya kesempatan memilihnya yang tak mungkin datang dua kali. Semoga seperti itu yang bakal Anda lewati. Salam sehat.</p>
<p>Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dicari-rumah-jompo-plus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruralisasi</title>
		<link>http://gkipi.org/ruralisasi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/ruralisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 13:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3407</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 80-an saya menulis topik ini di Harian Sinar Harapan. Judul begini Anda tidak menemukannya di media massa mana pun. Mungkin ini akal-akalan saya supaya memikat perhatian pembaca saja. Namun dari lubuk hati, itulah sebetulnya cita-cita hari tua saya semenjak ketika umur saya belum tua. Apakah maknanya bagi Anda? KAITANNYA masih supaya bukan saja berupaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tahun 80-an saya menulis topik ini di Harian Sinar Harapan. Judul begini Anda tidak menemukannya di media massa mana pun. Mungkin ini akal-akalan saya supaya memikat perhatian pembaca saja. Namun dari lubuk hati, itulah sebetulnya cita-cita hari tua saya semenjak ketika umur saya belum tua. Apakah maknanya bagi Anda?</p></blockquote>
<p>KAITANNYA masih supaya bukan saja berupaya agar umur bisa direntang lebih mengulur, melainkan juga agar masih tetap sehat. Kita tahu cita-cita orang di dunia kiwari, selain mengumpulkan potensi dan peluang agar panjang umur, juga masih tetap sehat. Kita menyebutnya sebagai tujuan hidup menuju healthy aging, sudah tua masih sehat.</p>
<p>Semua orang di dunia menyimpan cita-cita itu. Karena orang paling kaya di dunia itu bukan konglomerat atau hartawan, melainkan orang sehat. Cita-cita menjadi tetap sehat terdengar sederhana, namun tak mudah menempuhnya.</p>
<p>Pertama, karena tidak setiap orang punya investasi kesehatan yang seratus persen utuh sejak lahir. Kedua, yang punya modal sehat, namun sayang tidak mau menjalani hidup sehat. Tahu makanan lezat itu jahat, tapi masih rakus juga, misalnya. Jauh lebih banyak orang yang tidak tahu caranya sehat.</p>
<p>Pertanyaannya bagaimana agar tetap sehat? Proses menua tentu tidak mungkin dihentikan. Yang bisa kita lakukan hanya memperlambannya saja. Untuk itu perlu sejumlah kiat. Selain pola dan gaya hidup sehat dikuasai, tulus dan tekun pula melakoni. Dan kuncinya cuma empat. Hidup tertib terjadwal, makan selektif, rajin rutin bergerak badan, dan seimbang dunia-akhirat.</p>
<p>Tentu saja menjabarkan empat kunci itu perlu bicara lebih empat jam sampai berbusa, kalau itu lewat seminar. Perlu pula berulang-ulang membaca buku kesehatan terkait dengan itu. Celakanya, memahami seluruh kitab sejenis itu saja pun tidak cukup, kalau masih bersikap memilih ke dukun kalau didiagnosis kanker.</p>
<p>Sudah tulus dan tekun menjalani pola dan gaya hidup sehat memasuki umur yang semakin ranum, buat mata medik agaknya belum lengkap, jika masih ikut berdesak-desakan di kota besar. Menurut paham saya, yang sudah uzur perlu tahu diri.</p>
<p>Tahu diri bukan saja demi orang lain, melainkan juga buat kepentingan pribadi juga. Hidup di kota besar bagi yang sudah uzur makin tidak menyehatkan karena tiga hal. Irama hidup kota besar sudah tak cocok lagi dengan umur yang makin uzur. Oleh karena usia, tidak lagi bisa hidup “ngebut” berirama cha-cha-cha. Saatnya memilih irama waltz. Maka hendaknya menjelang opa-oma tidak lagi memilih tinggal di kota, apalagi kota besar. Jadi saatnya “minggir” ke daerah perdesaan.</p>
<h3>“Minggir”</h3>
<p>Ya, ungkapan “minggir” itulah yang saya carikan padanannya dengan “ruralisasi” atau hijrah ke perdesaan, lawan kata urbanisasi. Namun tentu tak sekadar pindah sosok belaka, melainkan pindah segalanya. Tiga keuntungan usia lanjut “minggir” ke perdesaan.</p>
<p>Selain irama hidup tadi yang lebih bersesuaian dengan umur yang makin uzur, tidak dikejar-kejar oleh kelompok masyarakat yang lebih belia ketika di mal, jalanan, antre bioskop, atau bergelak-gelak di tempat-tempat umum.</p>
<p>Harus diingat, ada stres tersendiri ketika yang sudah lebih lemah, lebih kendo, lebih alon, masih saja bersinggungan dengan yang lebih gesit, tergesa-gesa, dan kemudian terjebak dalam gerak hidup yang ingar-bingar. Maka bukan di situ wilayah keseharian bagi yang uzur.</p>
<p>Secara geografis perdesaan lebih nyaman. Ketika paru-paru makin susut dengan bertambahnya umur, daya tangkap oksigen juga kian mengendur. Padahal udara di kota lebih tipis dan sudah menjadi gado-gado dengan gas buang yang tak menyehatkan itu.</p>
<p>Paru-paru sudah uzur menyedot oksigen yang tipis plus aneka gas, jelas tidak makin menyehatkan. Udara desa lebih bersih dan segar, tebal pula kandungan oksigennya. Oksigen makanan pokok bagi bugarnya sel-sel tubuh. Sumbangan bagi tetap bugarnya seluruh sel tubuh.</p>
<p>Minum air kendi sekarang barang mewah. Selain air utuh alami, bebas dari cemaran, itulah air kehidupan sesungguhnya. Orang sekarang kian sukar memperoleh spring water, dan dunia menyuguhkannya mineral water, air buatan yang direka-reka belum tentu sesuai sepenuh kebutuhan tubuh.</p>
<p>Keuntungan lain memilih tinggal bukan di kota, secara sosial, kultur, dan filosofi, di Indonesia, perdesaan lebih cocok bagi yang sudah penuh muatan asam-garamnya, demi berpeluang memetik umur panjang. Bukan saja sumber pangan dan minum yang lebih sehat dari bumi perdesaan, budaya tepa selira, baku sapa, dan tiada hari tanpa holiday bila memilih hidup di perdesaan itulah kado istimewa bagi yang mudanya terkuras tak henti bekerja.</p>
<p>Makna “minggir” sejatinya bukan untuk duduk termangu ongkang-ongkang kaki, melainkan tetap menyibukkan diri dengan aneka kegiatan, dengan dua syarat. Pertama, sesuai dengan potensi pengalaman hidup, dan kedua, senang melakukannya. Para mantan pejabat tetap bisa menyumbangkan pengalaman praktik sesuai bidangnya bagi masyarakat desa. Orang di perdesaan memetik manfaat yang dibutuhkannya.</p>
<p>Jadi “minggir” berarti bukan hanya memindahkan secara geografis segala aktivitas yang mestinya tidak boleh dihentikan. Hanya apabila masih mau tetap aktif, umur bisa diulur lebih merentang panjang. Bukannya di kursi malas. Tukar kursi malas dengan sepatu olahraga.</p>
<p>Jangan lupa, faktor stres acap kita anggap sepele. Padahal stres lebih besar perannya bikin hidup tidak lagi panjang. Separo isi resep dokter sekarang lebih berisi obat penenang selain obat tidur, lantaran orang sekarang terjebak dalam lingkaran stres yang jahat (malstress).</p>
<p>Studi Boeing memperlihatkan, mereka yang pensiun lebih awal saat berumur 55 tahun, menyimpan harapan hidup bisa sampai 80-an tahun. Sebaliknya bila baru pensiun setelah berumur 65 tahun, harapan hidupnya hanya tersisa 2 tahun saja. Bukti betapa kejamnya faktor stres ketika masih tetap aktif kerja buat mengejar take home pay.</p>
<h3>Mimpi rumah hari tua view laut</h3>
<p>Setelah saya kaji kembali apa yang menjadi mimpi saya itu, terkait dengan apa yang saya ketahui sehubungan dengan kehidupan medik, agaknya masih relevan, kalau bukan lebih relevan untuk dipilih sekarang ini.</p>
<p>Waktu tahun 80-an saya acap keliling kota kecil kalau sedang liburan bersama anak yang ketika itu masih kecil. Saya menikmati betul kehidupan kota kecil dan perdesaan. Hemat saya, itulah kehidupan sejatinya. Waktu itu banyak pejabat maupun mantan pejabat yang membeli tanah di daerah, entah untuk investasi ataukah memang buat rumah hari tua.</p>
<p>Tapi barang tentu tidak siapa saja siap untuk “minggir”. Sebagian lantaran belum merancangnya, dan yang lain masih “ngoyo”. Dosen dan guru saya masih tetap berpraktik sampai uzur. Kerabat saya bingung, sore hari saya sudah santai di rumah jauh hari sebelum saya mendapat pensiun PNS.</p>
<p>Sekarang saya renungkan, ternyata saya tidak keliru. Sejumlah sejawat, guru, yang dirinya memahami betul bagaimana menyembuhkan dan menyehatkan orang lain, ternyata mati prematur. Bisa jadi lantaran hidupnya kelewat letih. Praktik sampai malam, kendati dengan hati senang, tapi mesin tubuh sudah kendur tak mungkin bisa diajak berlari terus.</p>
<p>Saya kebetulan menginsafi hal itu lebih dini, bahwa tidak ada batas tertinggi untuk kepuasan. Berapa cukup itu, siapa pun sukar menjawabnya. Hanya diri kita sendiri yang bisa dan harus bilang berhenti dari segala kesibukan yang berpotensi “merusak” badan itu, bukan orang lain, atau paksaan siapa pun. Maka kalau saya komit untuk berhenti dari kesibukan rutin jauh hari sebelum saya telanjur terkepung penyakit akibat tubuh terus dibawa berlari, itu sama sekali hendaknya tidak diartikan saya sudah merasa hebat dan amat berkecukupan. Sudah bersyukur bisa cukup hidup layak saja.</p>
<p>Namun tentu untuk tiba sampai ke situ perlu perencanaan sejak masih berumur 40 tahun. Di situ kelemahan kebanyakan kita, tidak pernah membuat perencanaan mau diapakan hidup ini sampai akhir hayat. Saya sudah merancangnya sekurang-kurangnya sebelum saya menuliskan “Ruralisasi” pertama kali tadi, ketika umur saya belum memasuki 40 tahun.</p>
<p>Umur 40 disebut-sebut masa krisis orang modern, dan mestinya sudah harus tiba di puncak prestasi. Saya menggenjotnya pada umur itu. Saya habis-habisan ingin agar nubuat cita-cita saya nantinya betul menjadi kenyataan. Dan thanks God, sampai hari ini masih sesuai dengan rancangan. Tapi di mana rumah hari tua saya itu akan saya labuhkan?</p>
<p>Jadi kalau setelah pensiun sekarang saya memenuhi janji mimpi saya ingin hijrah ke perdesaan, supaya saya tidak dicap ngomong doang. Saya merencanakan untuk “minggir” ke Bali. Anda bertanya kok Bali? Bila Tuhan mengizinkan Bali saya jadikan pilihan karena tiga pertimbangan.</p>
<p>Pertimbangan pertama, Bali provinsi paling ayem, menurut akal dan emosi sehat saya, setidaknya dibanding provinsi lain. Kedua, secara kultur dan sosial, semua tahu Bali bahkan dikejar orang manca negara mana saja. Everyday in Bali is holiday. Dan ketiga, di Bali kita masih bisa bersosialisasi dengan orang asing dari mana-mana, karena Bali menjadi “provinsi internasional”. Di Bali kita tidak mungkin kesepian secara sosial. Dan yang juga tak terbeli adalah alamnya.</p>
<p>Sudah lebih lima tahun diam-diam saya mengamati Bali. Pergaulan saya bukan saja dengan kerabat, fans, dan cengkerama di FB, serta relasi, terlebih juga dengan para broker properti. Bahwa properti di Bali gak ada matinya. Lebih dari itu property Bali terus melesat dalam hitungan tahun saja dibanding provinsi lain. Kondisi saya selalu sukar mengejar laju kenaikan harga properti Bali karena saya bukan konglomerat.</p>
<p>Awalnya pilihan saya membangun rumah hari tua di wilayah yang sejuk. Paling ideal di area Bedugul. Selain indah alamnya, sejuk udaranya, juga tidak hiruk pikuk. Setelah saya dengan susah payah menemukan sebidang tanah persis di atas danau Buyan, dengan view amat los ke danau Buyan yang berada di bawah, dan view laut Singaraja (Bali utara) di belakangnya, saya membayangkan bahwa barangkali benar, itulah surga kecil hari tua saya nanti.</p>
<p>Duduk memandang Buyan, danau yang tenang dan disucikan masyarakat Bali, hidup seperti sedang ditarik ke masa kecil. Memandang laut Singaraja di belakang, seakan perjalanan hidup betul memang belum boleh selesai. Kombinasi panorama ini yang saya harapkan tetap membakar spirit hidup saya pribadi sampai ujung hayat.</p>
<p>Tapi rencana itu berubah karena teman seperjalanan dalam hidup kurang menyukai suasana sesepi itu. Hidup memang begitu. Saya lebih seniman, teman seperjalanan hidup saya lebih pengunjung mal, maka toleransi saya patut bekerja. Dan saya mengalah. Buat saya di mal saya bisa hidup, di ketenangan danau saya juga sumringah. Maka rencana rumah hari tua beralih ke Bali selatan. Tepatnya di Pecatu. Di situ ada pura, ada real estate selebritis, ada hotel Bulgari termahal di Indonesia (hanya ada dua di dunia: Itali dan Bali), dan alamnya memang elok.</p>
<p>Saya gemar melihat laut. Melihat laut saya bisa terangsang menulis sajak. Maka saya sepakat dipilihkan sebidang tanah di situ. Nun jauh memandang laut lepas pantai Dreamland, ada lima hotel berbintang (Best Western sudah ada, kabarnya akan dibangun Westin, Raffles Hotel S’pore) golf 18 holes, condotel, RS internasional (kabarnya Mount Elizabeth Hospital S’pore), rumah jompo orang asing (Jerman), selain café artis Klapa milik Tommy Soeharto. Lokasinya beberapa kilometer menjelang Pura Uluwatu.</p>
<p>Kendati tanah yang baru rencana akan saya ambil agak jauh dari gemerlap itu, namun saya membayangkan, yang mewah gemerlap itu masih bisa saya pandang dari kejauhan. Apalagi semarak cahaya lampu sampai tepian pantai ketika duduk memandang di malam hari bila rumah hari tua itu jadi saya ungkap.</p>
<p>Jadi itulah mimpi yang saya rancang sejak puluhan tahun lalu ihwal bakal bagaimana hari uzur saya nanti. Mungkin saja pilihan itu tidak tepat menurut Anda, saya tetap ingin minta doa dari Anda, mudah-mudahan terkabul. Tentu saja budget saya amat terbatas, dan saya sedang nego untuk mendapatkan bakal lahan rumah hari tua yang di benak saya sudah final itu. Dari sana saya masih ingin menulis. Juga puisi yang akan saya kirimkan bagi Anda. Adakah di antara Anda yang tergerak ikut? Siapa tahu benar, pilihan ini selain berpeluang lebih dipanjangkan umur, juga masih tetap sehat, mengikuti cita-cita orang di mana-mana dunia.</p>
<address>Dr. HANDRAWAN NADESUL</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/ruralisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehat itu Murah Asal Tahu Jurusnya</title>
		<link>http://gkipi.org/sehat-itu-murah-asal-tahu-jurusnya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sehat-itu-murah-asal-tahu-jurusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 02:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2772</guid>
		<description><![CDATA[TIDAK harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda. Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">T</span>IDAK harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda.</p>
<p>Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat untuk mulai membangun kembali kesehatan Anda. Yakinlah bahwa Anda belumlah mendekati akhir hidup.</p>
<p>Hidup adalah sebuah proyek, dan Anda manajernya. Apa yang Anda pikir dan lakukan tentang kesehatan merupakan investasi hari tua Anda. Potensi untuk sehat ditentukan oleh semua yang sudah Anda kerjakan sebagai manajer proyek. Kualitas hidup Anda merupakan akumulasi dari segala kebiasaan, keyakinan, sikap yang dijalani sepanjang proyek hidup Anda sampai hari ini. Targetnya supaya memperoleh hidup yang selalu baru di sepanjang usia.</p>
<p>Tak cukup hanya memperoleh umur panjang. Tujuan utama hidup di dunia sekarang bukan untuk menambah agar lebih tua belaka, melainkan melakoni hidup dengan benar pada setiap usia agar tetap sehat sepanjang hayat. Untuk itu harus pintar, dan bijak melakoni hidup.</p>
<p>Anda sendiri penentu hidup sehat, bukan orang lain. Peran dokter kecil saja. Pandai-pandai mengisi penuh gelas waktu hidup Anda. Di luar tangan Tuhan, kuota umur Anda ditentukan seberapa tebal buku perjalanan hidup Anda. Bila bijak belajar dari membaca buku hidup, kita boleh berharap ada bonus umur di tahun senja kita kelak.</p>
<p>Mari kita baca otobiografi tubuh kita masing-masing. Baik buruknya masa tua ditentukan pula oleh kesehatan kita hari ini. Kuasa, harta, kedudukan tidak akan ada artinya kalau tidak sehat. Konsep “Sehat Itu Murah” (sebuah judul buku penulis) ingin menambah tebal buku hidup Anda. Saya mengajak Anda memulainya dari sekarang.</p>
<p>Untuk sehat, peran gen dalam sel tubuh Anda hanya sepertiga. Selebihnya soal gaya hidup. Mungkin Anda selama ini keliru memilih gaya hidup. Namun tak pernah terlambat buat membuka kembali lembaran baru hidup sehat. Anggap hidup Anda bakal terulur lebih lama. Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga, dan percaya kalau kesehatan terbaik itu ada di dapur Anda, bukan di restoran.</p>
<p>Sekarang kita memasuki “Graying Revolution”. Semakin banyak orang berumur panjang di dunia. Tapi tidak semua berbahagia. Karena memang tak cukup berumur panjang semata kalau ternyata tidak berkualitas. Target proyek hidup Anda haruslah bagaimana menjadi tua yang berkualitas. Untuk itu healthy-aging perlu dibangun. Dengan menjadi tua yang berkualitas berarti diri Anda adalah aset, dan bukan beban.</p>
<p>Anda harus berani menolak mengaku tua, kalau jiwa dan spirit Anda tetap belia. Kibarkan sikap Peter-Pan-Syndrome. Bahwa hidup cuma sekali. Pupuk dengan hal-hal yang positif saja. Pastikan dosis ketawa Anda tiga kali sehari. Dengan itu Anda bisa menghapus kesedihan dunia, dan sebuah kado hidup bugar akan dikirim buat Anda.</p>
<p>Rajin check up kesehatan saja belum cukup. Anda juga montir yang perlu cerdik melakukan check up terhadap kehidupan. Ciptakan kegembiraan bagi orang lain juga. Manfaatkan setiap kesempatan, agar otak tidak tidur, dan hari-hari selalu terasa baru. Untuk bisa menjadi begitu, tetap sehat kuncinya. Orang yang sehat sudah merasa bersyukur walau sekadar menjadi orang biasa belaka.Seseorang menjadi sangat kaya raya bila kondisinya sehat.</p>
<p>“Sehat Itu Murah” bukan slogan, melainkan keyakinan medis yang saya kumpulkan, dan simpulkan sendiri. Itu saya peroleh dari pergaulan keseharian dengan pasien, surat-surat konsultasi yang saya terima puluhan tahun lamanya, pertanyaan yang diajukan selama seminar, dan talkshow, makin meyakinkan saya bahwa untuk sehat ternyata tidak mahal. Setiap orang punya potensi untuk bisa tiba sampai ke situ, asalkan mau.</p>
<p>Konsep “Sehat Itu Murah” saja mungkin tidak lengkap. Namun yang sekecil ini pun ingin menambah tebal buku hidup Anda. Tidak ada cara lain untuk menjadi sehat. Mungkin Anda harus menyetel ulang mesin hidup Anda jika keliru. Saya tahu itu tidak mudah. Tapi Anda bisa.</p>
<p>***</p>
<p><span class="cap">S</span>ebuah studi mengungkapkan kalau tubuh manusia didesain buat bisa bertahan hidup sampai 120 tahun (Maximum Life Potential, Dr. Walter M. Bortz). Namun lebih banyak orang yang hidupnya tidak panjang. Apa masih mungkin sekarang ini setiap orang mampu menempuh umur sepanjang itu? Saya mengajak Anda menjawabnya bisa.</p>
<p>Rata-rata orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas lapuk, dan aus. Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh lantaran masalah kesehatan bakal lebih banyak muncul di hari tua.</p>
<p>Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidup dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang (harmoni). Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak, melakukan check up juga terhadap kehidupan. Tahu pula kapan saatnya harus minggir menepi (“Ruralisasi”).</p>
<p>Agar menjadi kurang bermasalah dalam kesehatan, pikirkan pula seberapa bagus harusnya kita memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi, sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus, dan gundul. Sudah cukupkah tenang dan ayem jiwa kita sehingga stressor dalam hidup tidak merongrong jasmani kita.</p>
<p>Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah tinggi, lemak darah, begitu juga kanker diperburuk oleh hadirnya stres. Barangkali itu sebab usia krisis orang di dunia yang dulu rata-rata baru terjadi setelah usia 50, karena cenderung dirundung stres yang berkepanjangan (malstress), krisis orang sekarang sudah muncul ketika umur belum masuk 40 tahunan.</p>
<p>Kita melihat semakin banyak kasus psychosomatic muncul pada orang sekarang. Badannya sehat, tapi keluhan fisiknya macam-macam. Inilah bentuk keluhan penyakit di badan yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit badan yang muncul akibat jiwa yang tengah merana.</p>
<p>***</p>
<p><span class="cap">S</span>ESUNGGUHNYA masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tidak punya masalah kesehatan sampai di ujung hayat? Inilah beberapa butir kiat kita yang masih mungkin kita kerjakan demi tetap sehat berkualitas sampai di ujung umur.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.	Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) ditentukan oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya. Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak (atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh terus menerus dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan radikal bebas sendiri berkomplot membantu menambah tebal karat lemak dinding pembuluh darah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita konsumsi tidak selalu lengkap, kondisi darah tinggi pun tetap kita pelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol, menu harian perlu kecukupan seluruh ragam zat gizi, termasuk sejumlah vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh darah tubuh kita tetap belia.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal. Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi) selain tetap doyan makan apa saja menu berkualitas (menjadi pemakan segala).</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Dinding pembuluh darah yang sehat, darah yang berisi lengkap muatan oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung tidak memompa optimal. Maka kerja jantung perlu optimal. Dengan cara begitu sel-sel tubuh tidak kekurangan makanan, dan optimal menunjang tubuh. Sekian miliar sel tubuh tetap bugar dan tidak layu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana. Sel organ yang merana akan kian mundur fungsinya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Jika semua organ tubuh mengendur fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus “tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu dari kondisi seperti ini juga. Sel kekurangan zat gizi, selain tidak selalu kecukupan oksigen.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang. Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang dirasakan pasien semakin mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan pasokan makanan yang dibutuhkannya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak badan), atau gabungan dari ketiganya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya cepat aus dan lekas tua. Tanpa harus kekurangan pasokan makanan saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami proses degeneratif. Menyaksikan semakin lajunya proses degeneratif itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling, peraih Nobel vitamin C, mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung pada nasib menjadi krisisnya sel tubuh kebanyakan orang modern (Konsep “Orthomolecular Medicine”).</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">2.	Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. Supaya sel tubuh sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal, pasokan makanannya pun harus optimal.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Untuk itu pembuluh darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrong keutuhan pembuluh darah, khususnya oleh kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal bebas, harus disingkirkan. Untuk bisa mencapai itu, selain perlu obat dan pantang ini-itu, perlu pula menu seimbang, yakni menu yang memadai porsi dan lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang tengah diperhatikan oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan suplemen ditawarkan. Menu barat yang keliru namun menjadi masalah orang Indonesia karena kita meniru pilihan makan yang tidak tepat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">3.	Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar tubuh. Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara, air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh produksi sudah tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya radikal bebas yang kian mencemari tubuh.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Untuk mengurangi tumpukan radikal bebas, kita bisa menata hidup dengan memilih gaya dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja, aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">4.	Usahakan agar menu harian lebih alami, menjauhkan makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan burger, steak, dan menu fast food, serta junk food yang sebetulnya sudah banyak kehilangan zat gizinya, dan tergolong boros lemak, gula, dan garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita cenderung lebih tinggi dari normal.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p style="padding-left: 30px;">Anggapan semakin gemuk semakin memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita. Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justru yang tergolong sehat. Begitu hendaknya kita sampai ujung usia.</p>
<p><span class="cap">S</span>TATUS kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi bikin kelebihan gizi sehingga menjadikan berat badan selalu melebihi ukuran normal. Pada sisi lain bikin banyak orang yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?</p>
<p>Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan asupan mineral, termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan lebih 45 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa dibuatnya sendiri (essential) dan hanya mengandalkan dari menu harian.</p>
<p>Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food, merupakan “menu ampas’, sebab sudah banyak kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara olah yang salah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, ternak, maupun tubuh manusia.</p>
<p>Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sekarang ini sudah tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya dibanding yang dikonsumsi nenek moyang kita dulu. Jika tubuh kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga. Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka: antara lain keluhan letih-lelah-lesu. Tak sedikit keluhan orang sekarang yang bukan suatu entitas penyakit. Bisa jadi hanya sekadar “kurang gizi” orang modern.</p>
<p>Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati, prostat, pancreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu. Inilah mineral alit yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil, namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya setiap hari. Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini bila pola makan masih monodiet selain memilih “menu ampas”.</p>
<p>Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan trace elements dalam memunculkan banyak “penyakit” (kurang gizi) yang mengejewantah sebagai keluhan dan gejala yang mungkin bukan entity suatu penyakit.</p>
<p>Polusi kita sudah bikin kuyup manusia di mana-mana. Udara yang kita hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit penyakit, serta radikal bebas yang memberi andil untuk mencetuskan banyak penyakit termasuk risiko terkena kanker.</p>
<p>HIDUP sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi, selain rutin bergerak badan. Merasa diri bermakna. Bukan saja tahu arah ke mana hidup, melainkan juga benar juga menempuhnya di mata Tuhan.</p>
<p>Tak perlu minta bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary life) bakal meningkatkan risiko jantung koroner, atau stroke, sama jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang “Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi, menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau tennis, dan fitness, misalnya).</p>
<p>Untuk vitamin batin kita perlu menyediakan waktu buat rekreasi, dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal. Tertawa menyehatkan jantung dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah. Tertawa juga meningkatkan hormon endorfin, morfin yang diproduksi tubuh, untuk mengendurkan rasa perih-pedih kehidupan.</p>
<p>Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik, pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, sehingga berhasil membangun hidup seimbang antara pikir, laku, dan rasa.</p>
<p>Makalah Bulan Keluarga GKI Pondok Indah, Jakarta, 10 Oktober 2009</p>
<address>Dr. Handrawan Nadesul</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sehat-itu-murah-asal-tahu-jurusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Snackaholic</title>
		<link>http://gkipi.org/snackaholic/</link>
		<comments>http://gkipi.org/snackaholic/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 03:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2365</guid>
		<description><![CDATA[DOMINASI penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya hidup. Salah satunya soal pilihan menu. Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari kecil. Itu sebab mengapa kejadian jantung koroner, stroke, bahkan kanker kini menimpa kelompok usia lebih muda. Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">D</span>OMINASI penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya hidup. Salah satunya soal pilihan menu. Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari kecil. Itu sebab mengapa kejadian jantung koroner, stroke, bahkan kanker kini menimpa kelompok usia lebih muda.</p>
<p>Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih kecil. Cita rasa dirusak oleh jajanan dan menu restoran sejak kanak-kanak. Anak sekarang tak bisa menyukai sayur lodeh, tempe, dan pepes jamur di meja makan ibu. Menu gorengan mengalahkan rebusan.</p>
<p>Celaka, melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung dan desa. Di mana-mana anak lebih memilih keripik ketimbang kacang rebus. Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan, dan mencari ubi, labu, bulgur, padi-padian alami, masyarakat kita masih gandrung pada ayam goreng dan kerupuk. Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya, dan kerupuk memakai penyedap dan zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.</p>
<h2>Gizi “generasi televisi”</h2>
<p>Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai “generasi televisi”. Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan iklan televisi. Belum tentu semua menyehatkan alih-alih bergizi. Yang aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap, pemanis buatannya (sweetener). Karena tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman buat orang dewasa belum tentu aman untuk anak. Menu serba manis, asin, dan berlemak sumber penyakit hari depan. Sihir iklan televisi merongrong pilihan sehat selera makan anak.</p>
<p>Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah. Namun FDA, badan POM di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang membahayakan kesehatan. Di kita begitu menjamur industri makanan rumahan sehingga tak terjangkau oleh kendali Badan POM kita. Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang memakai bahan berbahaya plastik bikin garing gorengan, menyampurkan kimiawi berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah keripik, zat antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman dikonsumsi.</p>
<p>Minyak trans sudah beberapa negara melarang dikonsumsi. Hampir semua jajanan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak yang tak menyehatkan. Sama tak menyehatkan minyak goreng bekas restoran yang ditadah oleh penjaja gorengan pinggir jalan. Yang kaya maupun rakyat papa di kita kini sama-sama memikul risiko kanker sebab tak mengisafi bertahun-tahun menelan carcinogen pencetus kanker dalam menu harian.</p>
<p>Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di Ibukota negara pun masih banyak beredar. Apalagi di kampung dan desa. Tiap hari menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan sambal murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti bibit kanker tengah ditanamkan. Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk anti belatung yang disemprot ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet kulit apel impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta jajanan, tak semua terbebas dari zat carcinogen</p>
<p>Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu, sepuluh tahun di depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika konsumsi menu tercemar carcinogen tidak dihentikan. Termasuk generasi orangtua yang menukar menu ikan pindang ke bistik. Kelebihan konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.</p>
<p>Dibanding makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul lebih aman, namun kelebihan kalori dari minyak, gula, susu, dan mentega (junk food). Sedang yang buatan rumahan selain belum tentu cukup bergizi, tak higienis, mungkin tidak aman dikonsumsi melihat zat additif yang dipilihnya.</p>
<h2>Kembali ke meja makan nenek</h2>
<p>Saatnya memberi tahu anak dan masyarakat untuk kembali memilih menu meja makan nenek. Selain lebih murah juga menyehatkan. Menu tradisonal bersifat menu seimbang (slow food). Bahwa yang menyehatkan itu bukan bistik, melainkan pepes ikan. Bukan donat atau ayam goreng melainkan pisang rebus, atau tahu dan tempe bacem. Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada gandum dan air tebu.</p>
<p>Menu restoran selain bahannya belum tentu segar, umumnya kelebihan kalori, dan diimbuhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan. Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh itu kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini.</p>
<p>Ketika ubi, ketela, sayur dan buah organik, biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian tersedia di supermarket, berarti komoditi itu yang sedang gandrung orang cari sekarang. Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar modern, bukti orang gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.</p>
<p>Ketika banyak penyakit sebab tubuh orang sekarang kekurangan enzim, orang mengejar sayuran dan bebuahan segar saja. Orang mulai meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang diolah secara berlebihan, dan dengan cara serta alat masak yang berbahaya kandungan bahan logam, dan tingkat perapiannya.</p>
<p>Belum terlambat kampanye menu sehat di sekolah, dan mengajak peran media massa, televisi khususnya. Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Bahwa meja makan ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan sehat itu yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.</p>
<p>Demi tujuan menginvestasi generasi sehat, lidah anak perlu disetel ulang. Jangan sampai lagi membangun “generasi kerupuk” dan kelompok usia produktif sampai mati prematur oleh stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena sejak kecil membiarkan mereka salah memilih menu, dan jajanan.</p>
<address>Dr Handrawan Nadesul</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/snackaholic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehatnya Perempuan Sebagai Kekasih, Istri, dan Ibu</title>
		<link>http://gkipi.org/sehatnya-perempuan-sebagai-kekasih-istri-dan-ibu/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sehatnya-perempuan-sebagai-kekasih-istri-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 16:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/gkipi/?p=1965</guid>
		<description><![CDATA[TUBUH bagi wanita itu aset. Maka perlu dipelihara. Tak perlu harus memiliki yang sempurna. Namun tak cukup puas hanya memiliki tubuh semata. Yang dikaruniai bertubuh sempurna bukan tak perlu merawatnya. Sebaliknya tak perlu cemas kalau bertubuh kurang sempurna. Banyak cara untuk menyiasati. Iptek medik kian berkembang bagaimana kekurangan fisik bisa dipoles, ditembel, disumpal, direparasi sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">T</span>UBUH bagi wanita itu aset. Maka perlu dipelihara. Tak perlu harus memiliki yang sempurna. Namun tak cukup puas hanya memiliki tubuh semata. Yang dikaruniai bertubuh sempurna bukan tak perlu merawatnya. Sebaliknya tak perlu cemas kalau bertubuh kurang sempurna. Banyak cara untuk menyiasati.</p>
<p>Iptek medik kian berkembang bagaimana kekurangan fisik bisa dipoles, ditembel, disumpal, direparasi sehingga mendekati sosok yang lebih bagus. Namun jauh lebih penting dari itu. Bukan cuma dari sosok tubuhnya seorang wanita dinilai. Di balik fisik tersimpan sex appeal sebagai dayapikat pribadi. Yang melihat sex appeal akan menemukan kelebihan perempuan sekalipun tidak cantik. Kecantikan tersembunyi ini yang perlu dibuat mekar.</p>
<p>Beruntung jadi perempuan, kata kaum lelaki. Secara biologis wanita rata-rata berumur lima tahun lebih panjang dari pria. Ada perbedaan konstruksi susunan saraf, selain beban stres, ancaman dan risiko lebih kendur dibanding yang lazim kaum pria hadapi. Itu alasan kalau mau sehidup semati dalam perkawinan, pilihlah suami yang lima tahun lebih muda supaya tahun kematiannya kurang lebih bisa bareng.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p>Benar, tubuh saja bukan segalanya, karena wanita juga perlu isi kepala. Cantik di luar saja tak cukup. Isi kepala dan kepribadian ikut menentukan kalau bukan malah yang lebih terasa menonjol, siapa sesungguhnya seorang wanita. Nobody atau somebody? Oleh adanya muatan itu pula ia menjadi somebody. Terlebih bekal menjadi ratu di rumah tangga. Ternyata menjadi istri elegant bukanlah dilahirkan, melainkan bisa dan harus dipelajari.</p>
<p>Bukan saja tubuh, otak wanita tak serupa dengan otak lelaki. Selain struktur, juga cara kerjanya pun tak sepenuhnya sama. Ada kekurangannya, selain otak wanita memiliki pula kelebihan. Setiap suami perlu memahami perbedaan itu supaya istri tampil utuh melakukan peran gendernya sebagai istri, ibu, dan kekasih. Misal, bahwa dari sananya wanita itu lebih doyan bicara (Baca: bergosip) dibanding lelaki bukan tanpa sebab. Memang ada yang berbeda pada unsur di otaknya. Bayi perempuan lebih lekas bicara dibanding bayi lelaki. Perempuan cenderung lebih cerewet dibanding laki-laki. Pekerjaan yang lebih menggunakan kemahiran berbicara diberikan kepada kaum ibu saja ketimbang kepada seorang kakek.</p>
<p>Suka bersolek juga bagian lain dari tabiat wanita. Sedang kelemahan lelaki terus terang masih pada matanya (visual). Pemahaman wanita ihwal ini perlu dicermati betul agar ia senantiasa berupaya untuk tampil elok setiap saat. Bukan saja di luar rumah. Karena tak sedikit istri tanpa ia sendiri menginsafi sejatinya berdandan untuk suami orang lain. Hanya wangi, mempesona kalau ke luar rumah. Sedang di rumah pakai gulungan rambut, muka penuh masker, dan daster bau dapur. Total jenderal suami cuma kebagian bau dan jeleknya doang.</p>
<p>Bukan sedikit suami di rumah sering kali susah membedakan mana yang Inem, dan mana yang nyonya rumah. Lelaki yang kodratnya terfokus pada hal-hal yang visual, boleh jadi terganggu seks dan libidonya kalau melihat istri di rumah ternyata tak seindah teman di kantornya, misalnya. Celaka kalau suami terus saja merasakan istri tidak lebih mengkilap dari wanita yang seliweran di luar rumah.</p>
<p>Menjadi ratu di rumah sendiri tak bisa hanya mengandalkan warisan tubuh yang elok belaka. Percuma punya tubuh sexy, dan wajah cantik bila ternyata statusnya tidak sehat. Maka kesehatan harus menjadi nomor satu. Bukan saja sehat fisik, melainkan juga jiwa. Lebih dari itu, sehat pula secara sosial, dan spiritual. Kita menyebutnya total fitness.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p>Bukan harus menjadi rahasia lagi kalau mahkota wanita itu ada empat. Kulit, rambut, gigi, selain bagian-bagian tubuh yang sensual. Satu di antara yang sensual itu tentu payudara, selain body model gitar Spanyol. Maka selain kesehatan secara umum, keempat unsur mahkota itu perlu senantiasa mendapat perhatian penuh.</p>
<p>Namun tentu sekali lagi perlu disebut bahwa keindahan dari dalam, yakni sex appeal umumnya bisa menutupi kekurangan pada kulit, rambut, dan bagian sensual tubuh lainnya. Sosok wanita di mata lelaki (normal) juga dilihat sebagai suatu keseluruhan (holistic). Seperti apa getar sex appeal-nya. Termasuk tidak boleh kurang darah (anemia), dan mulut wajib dirawat jangan sampai baunya tak beda dengan kakus.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p>Untuk menjadi sehat empat faktor perlu diperhatikan. Menu harian, gerak badan, tidur dan jeda selain pintar mengelola stres. Kalau yang basic itu dikuasai, setidaknya kesehatan secara umum sudah di tangan.</p>
<p>Cekatan menjaga kesehatan mata, hidung, telinga, selain keempat mahkota milik setiap wanita jangan sampai diabaikan. Untuk itu kenapa tidak memilih ikut menjadi Inem di rumah sendiri, misalnya? Inem sering lebih merah pipinya, dan sexy body-nya karena Inem tak berhenti bergerak. Kalau bisa melakukan pekerjaan di rumah sendiri, kenapa harus minta bantuan Inem. Lakukan juga menyiram tanaman, menyapu, bersih-bersih, dan pekerjaan domestic ringan lainnya. Gerakan sewaktu melakukan pekerjaan di rumah tergolong kegiatan yang mengerahkan sekujur otot-otot sehingga tidak kaku, dan tekanan darah lebih deras mengalir. Derasnya aliran darah yang bikin muka lebih merah berbinar, tanpa perlu ditempeli kulit tomat sekalipun.</p>
<p>Secara khusus, kesehatan juga bisa berarti ada ancaman penyakit. Ada sekelompok penyakit yang lazim pada wanita. Terlebih pada wanita merdeka (Baca: wanita karir) yang sekarang makin berisiko menghadapi “open marriage”. Wanita yang karena aktivitas kesehariannya sering bertemu juga dengan lelaki dan suami orang lain. Kasus keputihan, tumor, kanker, dan infeksi saluran kemih, penyakit yang perlu diwaspadai. Bisa jadi akibat seks bebas. Termasuk kemandulan akibat penyakit menular seksual. Tersumbatnya saluran telur sering sebagai akibat kuman menular seksual hasil seks bebas.</p>
<p>Sedikit banyak kehadiran penyakit memengaruhi penampilan juga. Istri tak tampil utuh penuh bila ada yang dirasa, bila ada sesuatu yang merongrong tubuhnya. Bukan tak mungkin wanita sebagai ratu rumah tangga sekalipun berisiko terancam penyakit kelamin, termasuk herpes bibir, herpes kelamin, atau sekadar anyang-anyangan.</p>
<p>Seks. Ya percuma sensual, kalau bodoh dalam hal seks. Agaknya harus batal sebagai ratu rumah tangga kalau seks istri tidak naik kelas. Dan lumrahnya setiap istri belajar seks selama perkawinan (learning by doing sex).</p>
<p>Kalau umpama istri juga bertemu dengan suami yang seksnya masih sering kagok, tentu akan sama menjadi sengsaranya nasib perkawinan ke depan. Atau gagal tampil bukan sebagaimana anggunnya seorang ratu rumah tangga di kamar tidurnya sendiri lagi namanya. Musuh perempuan badan yang gampang melar. Badan terus melar, satu yang tak terelakkan oleh rata-rata kaum wanita. Makan sedikit, tetap saja montok. Maka perlu pandai-pandai memilih menu berkualitas agar tidak memicu badan berubah menjadi tambur. Ingat, kelemahan sekaligus kejelian suami terhadap istri masih tetap ada di matanya, kendati ia sudah menjadi kakek. Itu sebab istri perlu tetap menjaga agar tetap indah di mata suami. Tak soal pakai apa atau dibagaimanakan, asalkan tetap full press body.</p>
<p>Maka rawatlah terus penglihatan suami agar masih terpelihara melihat yang serba indah-indah itu pada sosok istri. Untuk itu mungkin perlu konsultasi berbusana yang cocok, perigel dalam soal seks yang indah, barangkali siapa tahu diperlukan pula reparasi vagina, atau demi mampu tampil utuh penuh ala John Robert Power, misalnya.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p>Itu semua perlu diingat dan dielingkan kembali semata karena dengan semakin tua suami, semakin bersantan ia. Sedang makin tua istri, seringnya makin berduri. Maka wahai semua istri yang mengaku masih melakukan peran jadi ratu rumah tangga, tetaplah berupaya tampil selucu kucing, dan bukan segalak landak. Kalau nggak percaya tanya saja pada Inul.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p class="footerbottom">Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sehatnya-perempuan-sebagai-kekasih-istri-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Gagal Ginjal</title>
		<link>http://gkipi.org/awas-gagal-ginjal/</link>
		<comments>http://gkipi.org/awas-gagal-ginjal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 04:22:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Gejala gangguan ginjal muncul sebagai pembengkak pada kelopak mata, tungkai, dan kaki. Pola berkemih berubah lebih sering, dan kemudian jadi berkurang kencingnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>eorang CEO perusahaan nasional baru-baru ini dicangkok ginjal hanya sebab urusan sepele. Tidak pernah check up. Tahu-tahu fungsi ginjalnya sudah jelek. Celakanya, tidak merasa ada keluhan berarti selama ini. Bagaimana mungkin?</p>
<p>BUKAN cerita baru kalau kecolongan gagal ginjal lalu mau tak mau harus cangkok ginjal. Gara-gara soal kecil, ongkosnya jadi mahal. Maka informasi ihwal bagaimana menjadikan &#8220;sehat itu murah&#8221; (Sorry meminjam judul sebuah buku saya), sebetulnya betapa berharga.</p>
<p>Juga ihwal kasus seorang mantan pejabat yang saya temui tahun lalu. Ia menyesal baru mengenal saya setelah cangkok ginjal. Ia tidak tahu kalau minum obat Cina buat encok selama beberapa tahun telah merusak ginjalnya, tanpa ia insafi.</p>
<p>Betul keluhan encoknya mereda sejak minum obat tak jelas itu, namun telah mengorbankan ginjalnya yang mahal itu. &#8220;Kalau saja sebelumnya saya mengenal dokter, dan mendapat informasi bahwa minum jamu, obat tradisional, atau herbal sembarangan, bisa membahayakan ginjal, saya tidak jadi begini&#8230;,&#8221; ujar sang mantan yang memang benar banyak uangnya, tak soal harus cangkok ginjal.</p>
<p>Tapi uang itu tersedot juga buat ongkos ganti ginjal sekitar Rp 400 juta, dan tiap hari harus minum obat seharinya sekitar Rp 100 ribu terus menerus agar ginjalnya tidak ditolak tubuhnya.</p>
<p>Dua kasus di atas jadi pelajaran mahal, betapa mudah ginjal menjadi rusak, yang sesungguhnya tidak sukar mencegah hal itu terjadi. Percuma banyak uang kalau ginjal sudah cacat fungsinya. Kendati tertolong, lebih baik memiliki ginjal sehat.</p>
<p>Bagaimana caranya menjaga ginjal agar senantiasa sehat?</p>
<h3>Cukup minum dll.</h3>
<p>Benar. Cara sederhana tidak boleh kurang minum. Sang CEO di atas menjawab pertanyaan wartawan ketika diwawancara menyatakan bahwa sebetulnya dilarang banyak minum, seolah minum banyak disalahkan sebagai perusak ginjal.</p>
<p>Yang betul, bahwa setelah ginjal menjadi payah, lalu gagal, memang tidak lagi boleh banyak minum, dan minum amat dibatasi. Tujuannya agar tidak membeni ginjal yang sudah kepayahan (renal failure), selain membatasi asupan menu berprotein, dan mineral kalium (dari bebuahan).</p>
<p>Namun selama ginjal masih sehat, justru perlu banyak minum agar fungsi menyaringnya lancar. Ginjal menyaring sekitar 170 liter darah yang melaluinya dalam sehari, dan deras 1,2 liter/menit, untuk menghasilkan sekitar 1-2 liter urin/hari nonstop sepanjang hayat. Tugas ini dipikul oleh pembuluh darah rambut yang berupa gelungan (glomerulous) yang dalam sebuah ginjal berisi 1,2 juta buah. Maka untuk itu asupan minum tidak boleh kurang. Termasuk jika kehilangan cairan atau darah tubuh.</p>
<p>Agar fungsi penyaringan ginjal lancar dan normal, kondisi pembuluh darah kapiler ini harus normal, tanpa ada bendungan, sumbatan, atau kerusakan. Setiap kondisi yang menyebabkan terganggunya aliran dan derasnya darah memasuki ginjal, akan menurunkan fungsi ginjal.</p>
<p>Fungsi ginjal juga terganggu apabila aliran urin yang diproduksi terganggu. Sampah darah yang berisi racun, dan sisa metabolisme yang mestinya dibuang tidak boleh terbendung di dalam ginjal. Adanya batu kemih, entah di ginjal, di pipa saluran ureter (penghubung ginjal dan kandung kemih), maupun di kandung kemih sendiri, akan menahan pengeluaran urin yang diproduksi ginjal. Ginjal terendam urin, dan itu yang akan mengganggu fungsinya, selain merusaknya (hydronephrosis). Hal ini juga terjadi pada tumor ginjal, kista ginjal, ginjal, atau pada pembesaran prostat.</p>
<p>Fungsi ginjal menurun juga bila telah terjadi komplikasi akibat hipertensi dibiarkan untuk waktu lama, selain sebab kencing manis, asam urat tinggi, sehingga struktur ginjal terganggu. Ginjal jadi bocor mengeluarkan yang mestinya dibuang, atau menahan yang mestinya diperlukan tubuh. Maka tubuh keracunan sisa sampah metabolisme, khususnya ureum (uremia), selain kehilangan zat dan mineral lain. Mulut jadi berbau pesing. Ini jadi salah satu petunjuk fungsi ginjal menurun.</p>
<p>Maka salah satu cara sederhana mengetahui fungsi ginjal cukup dengan memeriksa laboratorium darah kadar ureum yang tak boleh lebih dari 40 mg/dl, selain kadar creatinine yang kurang dari 1,0. Atas dasar nilai abnormal inilah indikasi perlu cangkok ginjal ditetapkan.</p>
<h3>Waspadai infeksi kemih</h3>
<p>Selain tak boleh kurang minum, sebaiknya tidak menahan kencing. Terutama bagi mereka yang ada riwayat infeksi saluran kemih. Jangan anggap enteng infeksi kemih. Perempuan lebih rentan (sebab saluran kemih bawahnya lebih pendek daripada pria). Anyang-anyangan sehabis hubungan seksual, selesai mens, atau menjalani puasa minum, harus dicurigai sebagai awal infeksi saluran kemih bawah.</p>
<p>Infeksi saluran kemih bawah (urethritis) yang tidak tuntas diobati akan sering kambuh, dan lama-lama menjalar ke ginjal juga. Ginjal yang sudah terinfeksi, akan rentan untuk rusak, selain memicu terbentuknya batu.</p>
<p>Adanya batu kemih dan infeksi saluran kemih merupakan lingkaran setan perusak ginjal. Ada infeksi mencetuskan pembentukan batu, dan sebaliknya adanya batu mencetuskan kumatnya infeksi kemih. Maka rantai itu harus diputus dengan cara menyembuhkan tuntas infeksinya, dan meniadakan pembentukan batu kemihnya.</p>
<p>Batu kemih terbentuk karena dua hal. Pertama faktor bakat (turunan). Pada orang yang mewarisi bakat, mudah terbentuk batu kemih. Dasar pembentuk batu berasal dari kalsium (zat kapur), yang bercampur dengan kolesterol, atau asam urat, fosfat, oxalat, maka terbentuk batu yang berjenis-jenis itu. Dengan cara &#8220;analisis batu&#8221; kemih dapat diketahui jenis batunya apa.</p>
<p>Mereka yang berbakat batu kemih berisiko terganggu fungsi ginjalnya. Maka punya batu kemih jangan dipelihara, karena tidak bakal jadi jimat. Segera dibuang. Saatnya ketika masih halus berupa kristal.</p>
<p>Mereka yang berbakat asam urat tinggi, atau calcium tinggi, dan punya gangguan metabolisme mineral, seperti pada penyakit anak gondok (parathyroid), kelenjar anak ginjal suprarenalis, serta pada gangguan ginjal sendiri, maka keseimbangan mineral darah terganggu yang berujung pembentukan batu kemih juga.</p>
<p>Kurang minum dan sering puasa minum acap membangkitkan serangan batu kemih yang sudah ada sebelumnya. Pembentukan batu kemih tidak diinsafi pasien jika tidak dilakukan foto perut, dan atau laboratorium darah dan urin. Lebih banyak kasus batu yang ditemukan kebetulan, atau sudah telanjur menimbulkan serangan kolik (mulas mendadak), atau batu kemihnya keluar bersama urin sewaktu kencing, dan kencingnya merah karena bercampur darah.</p>
<p>Riwayat batu kemih harus menjadi peringatan kalau memiliki bakat batu kemih. Waspada, karena pembentukan batu, sekalipun sudah keluar, bisa berulang setelah beberapa tahun. Untuk itu perlu upaya mencegahnya, dengan cara meniadakan faktor risiko pembentukan batunya.</p>
<p>Kalau ada asam urat, kadar dalam darah harus di bawah nilai normal (7,0). Kalau batu kolesterol, tentu kadar koleserol darah harus di bawah 200 mg/dl terus. Perlu diingat, jika tidak ada riwayat darah tinggi mendadak hipertensi, harus dipikirkan kemungkinan batu kemih. Kerusakan ginjal dapat menimbulkan hipertensi juga, selain hipertensi yang dipelihara sendiri akan merusak ginjal juga, sebagaimana komplikasi diabetes.</p>
<h3>Penyakit ginjal lain</h3>
<p>Gejala gangguan ginjal muncul sebagai pembengkak pada kelopak mata, tungkai, dan kaki. Pola berkemih berubah lebih sering, dan kemudian jadi berkurang kencingnya. Sifat urin juga berbuah keruh, atau berwarna merah, selain nyeri selama berkemih, dan ada riwayat keluar batu sewaktu berkemih.</p>
<p>Selain itu, kemungkinan ada sakit pinggang. Bedanya dengan sakit pinggang umumnya, sakit pinggang ginjal tetap nyeri kendati tidak menggerakkan pinggang. Sakit pinggang disertai demam, mual, nyeri kepala, tanda infeksi ginjal.</p>
<p>Penyakit ginjal bukan cuma infeksi dan batu saja, melainkan banyak lagi jenis lain di luar itu. Ada kerentanan ginjal sebab proses otoimun. Ada zat dalam darah yang merusak ginjal milik sendiri, sehingga terjadi kelainan ginjal (glomerulonephritis, GNA). Menyerupai infeksi namun bukan infeksi. Terjadi infeksi di luar ginjal (tenggorokan) namun yang dirusak ginjalnya.</p>
<p>Hal lain terjadi juga penyakit nephrotic syndrome, semacam kebocoran ginjal, sehingga yang mestinya disaring jadi bocor ke dalam urin, disertai dengan kumpulan gejala lain, seperti protein banyak keluar bersama urin sehingga tubuh kehilangan banyak protein, dan kadar kolesterol darah meninggi. Sama seperti GNA di atas, lama-lama bikin ginjal jadi rusak dan payah juga jika tidak disembuhkan.</p>
<p>Tumor ginjal bisa menyerang bayi dan anak, selain kanker ginjal pada orang dewasa juga. Kerusakan oleh desakan tumor yang mengganggu fungsi ginjalnya, sehingga bisa berakhir dengan gagal ginjal sebagai gejala terminalnya. Ginjal juga rusak sebab trauma benturan, tumbukan (petinju).</p>
<p>Setiap aliran darah ke dalam ginjal yang menurun mendadak, termasuk pada serangan perdarahan (kecelakaan, persalinan, operasi), akan mengancam ginjal juga. Termasuk sehabis serangan diare hebat. Maka yang sederhana dan sepele begini jangan diabaikan karena ongkosnya menjadi luar biasa mahal.</p>
<p>Tidak semua cangkok ginjal berhasil mulus. Selain sulit mendapatkan donor yang cocok, ongkos, dan pemeliharaan lanjutan ginjal baru juga tidak murah. Karena ginjal yang sudah menurun fungsinya juga berarti menurun pula dayatahan tubuh, maka harus terbebas dari ancaman infeksi dari luar.</p>
<p>Ginjal yang sudah lemah bikin kurang kadar Hb (haemoglobin), sehingga jadi pucat (anemia). Ginjal juga mengaktifkan fungsi vitamin D, maka terancam kekurangan vitamin D dengan segala akibatnya jika ginjal mengalami kerusakan. Semua tanda dan gejala seperti sudah disebut di atas hendaknya menjadi petunjuk sederhana, ada yang sedang mengganggu ginjal kita, Tuhan memberi kita cuma dua itu. Sayangi dan rawatlah baik-baik sejak kecil. Salam.</p>
<address>Dr. Handrawan Nadesul<br />
</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/awas-gagal-ginjal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serangan Jantung dan Stroke Dapatkah Dicegah?</title>
		<link>http://gkipi.org/serangan-jantung-dan-stroke-dapatkah-dicegah/</link>
		<comments>http://gkipi.org/serangan-jantung-dan-stroke-dapatkah-dicegah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 04:30:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN sampai penyakit jantung dan stroke menimpa keluarga kita. Sekali ada anggota keluarga yang menjadi korban, orang serumah harus memikulnya bersama. Bagi keluarga, merawat pasien jantung dan stroke bukan urusan satu-dua tahun.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">S</span>erangan jantung selain stroke, sekarang menimpa usia yang lebih muda, dan kalangan mana saja. Tidak selalu sebab faktor turunan, lebih karena kesalahan gaya hidup, kalau mereka yang tak berbakat jantung koroner atau stroke, masih terkena juga. Lebih lantaran ulah sendiri, jika penyakit yang sebetulnya dapat dicegah itu, menimpa kita juga. Bagaimana mudah mencegah penyakit yang tak selalu perlu terjadi itu?</p>
<p>JANGAN sampai penyakit jantung dan stroke menimpa keluarga kita. Sekali ada anggota keluarga yang menjadi korban, orang serumah harus memikulnya bersama. Bagi keluarga, merawat pasien jantung dan stroke bukan urusan satu-dua tahun.</p>
<p>Bisa jadi pasien yang dirawat di rumah menjadi beban keluarga sepanjang sisa hidup. Dan itu bisa berarti ongkos dapur harus lebih dihemat, dan negara telanjur kehilangan sumber daya bangsa yang mungkin masih produktif.</p>
<p>Apalagi jika yang menjadi korban tulang punggung keluarga. Kendati pasien jantung dan stroke masih bisa aktif bekerja, namun tak sebagus kinerja selagi masih normal. Maka seberapa bisa malapetaka itu jangan sampai singgah ke rumah kita. Bagaimanakah cara mencegahnya agar tamu tak diundang itu tidak datang?</p>
<h3>Menjinakkan faktor risiko</h3>
<p>Boleh dibilang hampir semua serangan jantung dan stroke sesungguhnya dapat kita cegah. Bagi yang berisiko terkena, perlu berupaya mengurangi semua faktor risiko yang diwarisinya. Sedang bagi yang tidak berisiko, jangan membiarkan risiko itu masuk dan bersarang dalam kehidupan.</p>
<p>Meniadakan faktor risiko penyakit jantung dan koroner berarti perlu ada usaha agar tubuh tidak gemuk, tak darah tinggi, tiada kencing manis, lemak darah tidak dibiarkan terus meninggi, bertekad untuk berhenti merokok, dan tidak memilih pola hidup yang memancing stres. Itu semua bisa diupayakan dengan cara lebih arif dalam makan, rajin bergerak badan, selain rutin minum obat.</p>
<p>Jangan menyerah pada keadaan. Mungkin ada bakat darah tinggi dan kencing manis. Dan itu bukan akhir segalanya. Obat dan cara hidup dapat mengendalikannya sehingga tidak harus merusak badan nantinya. Membiarkan keduanya merajalela, itulah kesalahan.</p>
<p>Dengan menghapus faktor risiko terserang jantung dan stroke, mereka yang membawa risiko bisa memiliki harapan hidup sama panjang dengan mereka yang tidak mewarisi risiko. Sebaliknya justru mereka yang sebetulnya tidak mewarisi risiko kena jantung dan stroke bisa mengundang risiko itu datang jika tubuhnya dibiarkan gemuk.</p>
<p>Gemuk bisa berarti banyak. Lemak darahnya mungkin tinggi, bisa jadi ada kencing manis juga. Apalagi kalau tetap merokok, darah tinggi dan kencing manis yang diidap bukan karena warisan melainkan lantaran salah dalam pola dan gaya hidup, bisa menjadi petaka.</p>
<p>Tanpa diobati, membiarkan kedua penyakit menahun itu orang akan menanggung nasib yang sama buruknya dengan mereka yang mewarisi turunan berisiko. Fakta begini yang semakin banyak tumbuh dalam keluarga modern, yang kecukupan maupun yang serba kekurangan. Orang susah yang hanya mampu makan dengan ikan asin tiap hari mencetuskan darah tinggi juga yang mungkin bukan bakatnya. Konsumsi garam dapur berlebihan pencetus kebanyakan darah tinggi orang sekarang.</p>
<h3>Kaya miskin sama saja</h3>
<p>Orang bisa mati akibat kekayaannya, bisa juga lantaran hidup serba kekurangan. Yang hidup kecukupan, berkelimpahruahan yang ditumpahkan ke dalam menu dan keliru dalam memilih gaya dan pola hidup itulah yang membawanya masuk ke dalam risiko terkena jantung, dan atau stroke.</p>
<p>Petaka yang sama dialami pula oleh yang karena kepapaan hidupnya sehingga membawanya jatuh ke dalam risiko terserang jantung dan stroke juga. Faktor peradangan (inflamasi) oleh kuman tertentu (Chlamydia sp) pada pembuluh darah, kini kedapatan menjadi salah satu penyebab terbentuknya penyumbat pembuluh koroner jantung dan otak (atherosclerosis). Itu berarti kaum papa berisiko kena jantung dan stroke juga.</p>
<p>Begitu juga dengan peran vitamin-mineral tertentu terhadap keutuhan pembuluh darah tubuh yang bisa juga dirusak oleh racun radikal bebas dari menu harian, polusi udara, atau dari mana pun datangnya.</p>
<p>Itu maka dibanding tubuh orang yang hidup kecukupan, tubuh orang papa lebih rentan terkena peradangan selain kekurangan vitamin-mineral sehingga nasib pembuluh darahnya sama buruk dengan orang kecukupan dalam hal terserang jantung dan stroke.</p>
<p>Kita tahu warisan bertubuh gemuk, darah tinggi, dan kencing manis sebagai faktor risiko kena penyakit jantung dan stroke, tidak harus berasal dari silsilah kelompok orang berkecukupan. Orang yang hidupnya susah dan membiarkan gemuk akan sama memikul risiko terserang jantung koroner, atau stroke-nya juga. Belum dihitung faktor stres terhadap kemunculan jantung koroner dan stroke.</p>
<p>Akibat kepapaan, ketidakmampuan, dan ketidak-terdidikannya, mengonsumsi menu murah yang mengandung racun radikal bebas menjadi penyebab lain serangan jantung dan stroke di kalangan kaum papa.</p>
<p>Kita tahu dampak sosial penyakit jantung dan stroke bagi keluarga papa lebih tak terpikulkan. Selain kehilangan produktivitas, penyakitnya belum tentu tuntas terobati. Jika harus operasi bypass, atau dipasang cincin stent, yang ratusan juta rupiah, misalnya.</p>
<h3>Kembali hidup pasrah alami</h3>
<p>Maka pilihan hidup kembali ke alam, siapa pun kita, sikap bijak hidup di alam modern. Menu alami, guyub dalam keluarga, sikap menerima, mengendurkan stressor, dan merasa cukup sebagai orang biasa.</p>
<p>Kita melihat dari tokoh-tokoh nama besar. Di antara mereka juga kalangan atlet. Kelihatan secara fisik mereka bugar. Tapi kalau nyatanya terserang jantung koroner atau stroke juga, itu karena stressor yang mereka pikul melebihi kemampuan ketahanan jiwa.</p>
<p>Orang kecil, yang hidupnya dirundung kesusahan memikul stressor yang berbeda. Namun sesungguhnya, sikap pasrah, dan positif terhadap stressor, tahu bahwa Tuhan bekerja, dan memberi jalan kepada kita, sikap pasrah sempurna insani. Tidak berharap lebih, tahu porsi sendiri, sikap mawas diri, merasa cukup untuk apa yang sudah Tuhan beri-merupakan bentuk kepasrahan total yang menyehatkan jiwa. Separo penyakit orang sekarang, faktor stres pencetusnya. Percuma badan sudah dibuat bugar, kalau jiwa getas dan rapuh. Percuma badan dan jiwa tegar, dirundung stressor tak berkesudahan jiwa akan kalah juga. Pada saat jiwa gagal menyesuaikan diri dengan stressor itulah, orang jatuh stres. Bentuknya bisa macam-macam. Salah satunya berupa serangan jantung, dan atau stroke.</p>
<p>Memilih makan sederhana, tidak berlebih, hidup santai, tidak mimpi muluk, nyaman dalam keluarga, bercengkerama dengan tetangga, merasa diri diterima orang lain, merasa memberi manfaat dan berkat bagi orang lain, dan hidup guyub, barangkali cara mudah dan murah membatalkan penyakit yang tidak sederhana dampaknya bagi anggaran keluarga, pekerjaan, dan beban keluarga di kemudian hari.</p>
<address>Dr. Handrawan Nadesul<br />
</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/serangan-jantung-dan-stroke-dapatkah-dicegah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit Chikungunya</title>
		<link>http://gkipi.org/penyakit-chikungunya/</link>
		<comments>http://gkipi.org/penyakit-chikungunya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 04:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[BULAN-BULAN ini penyakit virus ini kembali menyerang beberapa daerah. Hampir setiap tahun seperti itu. Di beberapa daerah berjangkit serempak. Beberapa keluarga terserang berbarengan. Demam tinggi yang datang disertai dengan nyeri hebat pada persendian. Sedemikian hebat nyeri sendinya sehingga menghebohkan. Pasien mengalami kesukaran dalam upaya bangkit dari posisi duduk atau berbaringnya. Terkesan pasien menderita kelumpuhan. Benar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">B</span>ULAN-BULAN ini penyakit virus ini kembali menyerang beberapa daerah. Hampir setiap tahun seperti itu. Di beberapa daerah berjangkit serempak. Beberapa keluarga terserang berbarengan.</p>
<p>Demam tinggi yang datang disertai dengan nyeri hebat pada persendian. Sedemikian hebat nyeri sendinya sehingga menghebohkan. Pasien mengalami kesukaran dalam upaya bangkit dari posisi duduk atau berbaringnya. Terkesan pasien menderita kelumpuhan. Benar lumpuhkah?</p>
<p>Tidak. Ini bukan penyakit aneh. Namun oleh karena serangannya menimbulkan gangguan sendi, dan pasien tidak mampu menggerakkan sekujur badannya, sehingga terkesan seolah-olah ini penyakit aneh. Penyebabnya virus Afrika Chikungunya (banyak di Zambia, dan Tanzania), sekerabat dengan virus demam berdarah dengue, dan sama seperti demam berdarah, virusnya ditularkan lewat gigitan nyamuk kebun Aedes aegypti. Orang medis menyebutnya penyakit Chikungunya.</p>
<p>Chikungunya tergolong penyakit zoonosis sebab selain pada manusia bisa menyerang hewan juga, dengan gejala khas menyerang seluruh sendi. Oleh karena sendi-sendi tak bisa digerakkan sebab terasa kaku, dan nyeri, terkesan seolah-olah terjadi kelumpuhan. Padahal sejatinya bukan betul-betul lumpuh.</p>
<p>Awalnya ini penyakit pada kera hutan di Afrika. Virusnya tersebar meluas sepanjang Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, India, Filipina, termasuk Indonesia sendiri. Secara sporadik acap menimbulkan wabah. Tercatat wabah berjangkit di Thailand tahun 1962, dan tahun 1997, di Selangor Malaysia Januari 1999 lalu (Time, 31/01/99).</p>
<p>Buat Indonesia ini bukan penyakit baru. Tahun 1980-an sudah pertama kali berjangkit di Kalimantan Tengah. Pada waktu itu diperkirakan 20 tahun kemudian penyakit virus ini bakal meluas sebab siklus iklim dan virologis (faktor kevirusan). Dan ternyata benar, serangan virus yang sama kini berjangkit lagi.</p>
<p>LALU apakah penyakit ini begitu menakutkan?<br />
 Tidak. Chikungunya tidak berakhir dengan kelumpuhan, apalagi kematian. Hanya tercatat satu-dua meninggal akibat komplikasi pada jantung (endocarditis) yang biasanya mengenai katup jantung. Umumnya kasus begini menyembuh sendiri tanpa menyisakan kecacatan apa pun.</p>
<p>Chikungunya berjangkit di wilayah-wilayah beriklim tropis. Oleh karena sering menjangkiti pendatang, penyakit ini tergolong penyakit para pesiar (travelling disease). Mereka yang berwisata ke wilayah Afrika, Asia tenggara, India, dan sekitarnya perlu mewaspadainya, terutama jika penyakit yang punya alias O&#8217;Nyong-Nyong ini, tengah berjangkit.</p>
<p>Kendati tidak mematikan, atau menyisakan cacat, atau kelumpuhan, serangan virus cukup membuat pasien cukup menderita. Oleh karena seluruh persendian tubuh diserang, sekujur tubuh seakan tidak bisa digerakkan. Pasien takut menggerakkan tubuh yang sendi-sendinya kaku dan nyeri, sehingga menimbulkan kesan telah terjadi kelumpuhan.</p>
<p>Tidak ada obat khusus untuk penyakit ini selain meredakan demam, dan nyeri sendinya saja. Dengan atau tanpa obat, penyakit yang bisa menyerang kambing, sapi, kuda, kera, dan burung ini, akan menyembuh sendiri (self-limiting febrile viral). Kerugiannya, waktu kerja, waktu berwisata, dan waktu untuk melakukan aktivitas rutin terganggu dalam hitungan minggu.</p>
<p>Tahunya betul terserang virus Chikungunya, dengan cara pemeriksaan darah di laboratorium. Contoh darah dikirim ke Laboratorium Biofarma Bandung untuk memastikan betul virus Chikungunya penyebab serangan demam, gangguan semua sendi tubuh, dan munculnya bercak merah pada kulit. Hasil positif pemeriksaan ini hanya memberikan nilai epidemiologis, mewaspadai agar jangkitan tidak terus meluas di suatu wilayah, namun kurang memberikan makna klinisnya.</p>
<p>Pemerintah berkepentingan untuk melacak setiap serangan wabah sporadik Chikungunya untuk tujuan eradikasi, dan membatasi penularan penyakit agar tidak bertambah menyebar luas. Caranya seperti pada pemberantasan Demam Berdarah Dengue, yakni dengan membasmi jentik nyamuk kebun Aedes aegypti serta semua tempat perindukannya, menyiangi air jernih (air hujan) yang tergenang, serta pengasapan (fogging) jika terjadi jangkitan Chikungunya di suatu wilayah.</p>
<p>VIRUS Chikungunya termasuk mikroorganisme dalam daftar bahan untuk bioterorisme juga. Melihat tabiatnya yang bisa mengganggu sekujur sendi tubuh, virus ini dianggap berpotensi untuk dipilih dalam gerakan teror selain anthrax, dan virus cacar air (varicella). Amerika Serikat mewaspadai pemakaian virus Chikungunya sebagai bahan teror (Ann M Fritzpatrick).</p>
<p>Dapat dibayangkan jika ribuan orang sengaja dijangkiti virus Chikungunya dalam waktu yang bersamaan. Mendadak terjadi gangguan sendi yang menjadikan orang tak sanggup berdiri, alih-alih berjalan, atau berlari. Pasien yang terserang Chikungunya merasa betul-betul tidak berani menggerakkan badannya, saking sendi-sendinya kaku dan nyeri. Kondisi demikian yang diharapkan terjadi pada puluhan, bahkan ratusan ribu serdadu yang memang sengaja dirancang untuk menyerangnya sebagai sebuah bentuk kegiatan teror.</p>
<p><em>Dr. Handrawan Nadesul</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/penyakit-chikungunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlunya “Paspor Medik”</title>
		<link>http://gkipi.org/perlunya-%e2%80%9cpaspor-medik%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://gkipi.org/perlunya-%e2%80%9cpaspor-medik%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 04:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/wordpress/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[BUKAN sedikit kasus fatal yang tak perlu terjadi bila dokter mengenali betul sosok medis setiap pasiennya. Tak cukup dokter teliti bertanya kepada pasien semata. Upaya untuk mencegah beragam kejadian medis yang tak diinginkan, perlu tahu pula seluruh riwayat medis pasien. Bahkan sejak pasien lahir. Untuk maksud itu di kamar praktik sudah barang tentu tak cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="cap">B</span>UKAN sedikit kasus fatal yang tak perlu terjadi bila dokter mengenali betul sosok medis setiap pasiennya. Tak cukup dokter teliti bertanya kepada pasien semata. Upaya untuk mencegah beragam kejadian medis yang tak diinginkan, perlu tahu pula seluruh riwayat medis pasien. Bahkan sejak pasien lahir.</p>
<p>Untuk maksud itu di kamar praktik sudah barang tentu tak cukup waktu mengorek semua data medis pasien. Maka kehadiran &#8220;paspor medik&#8221; yang mencatat seluruh data medis pasien sejak lahir, sungguh diperlukan. Terlebih untuk pasien kita yang rekam mediknya biasanya tercecer di mana-mana, sering tak lengkap, alih-alih utuh. Pasien sendiri berpindah-pindah dokter. Tak jelas pernah sakit apa, mengidap penyakit atau kelemahan apa, punyakah alergi?</p>
<p>&#8220;Paspor medik&#8221; bukan saja mencatat riwayat penyakit yang pernah pasien derita, melainkan pula semua data ihwal obat yang pernah diberikan,tindakan medis yang pernah dilakukan, serta catatan alergi, bakat penyakit turunan, atau kelainan medis lain yang perlu diwaspadai.</p>
<p>Ambil contoh kasus Stevens-Johnson Syndrome (SJS) yang sampai berakhir dengan kematian. Orang bertanya apa SJS juga kasus malpraktik? Kalau bukan, mengapa pasien yang merugi?</p>
<p>SJS tergolong kelainan kulit dan selaput lendir paling buruk dalam bentuk lepuh, dan merah meradang pada sekujur tubuh (erythema multiforme). Jika salah menangani, sering-sering berujung fatal.</p>
<p>Harus diakui, kebanyakan kasus SJS tak jelas penyebabnya. Obat dan terapi sinar diduga faktor pembangkit (induce) pada orang dewasa. Selain obat penenang barbiturate, antibiotika penisilin dan sulfonamide penyebab yang sering dituding.</p>
<p>Pada anak, SJS bisa terbangkitkan selama sedang terinfeksi. Sering-sering selagi terserang virus herpes simplex, dimasuki virus coxsackie, echovirus, selain pada ketika diserbu kuman mycoplasma pneumoniae, psittacosis, atau bisa juga saat dihinggapi jamur histoplasma, serangan SJS kerap menimbrung. Pada sebagian kasus, SJS juga muncul pascavaksinasi (cacar, BCG, polio).</p>
<p>Belum jelas mekanismenya sehingga obat dan infeksi sampai membangkitkan reaksi kulit hebat. Diduga ini bentuk reaksi hipersensitivitas. Tak ubahnya reaksi alergi obat yang muncul hanya berupa kaligata (biduran), atau syok (anaphylactic shock) bila berat, SJS bentuk reaksi alergi tergolong paling parah.</p>
<p>SAYANGNYA kemunculan alergi obat umumnya tak selalu bisa diprediksi. Yang bisa dilakukan dokter hanya menaruh sikap waspada memilihkan obat bagi pasien yang menyimpan bakat alergi. Untuk itu dokter tak boleh luput menanyakan ihwal bakat alergi obat. Namun tahu saja kalau pasien yang akan diberi obat berbakat alergi sering tak cukup. Mengapa? Karena spektrum obat berpotensi membangkitkan alergi bisa saja bukan dari jenis obat yang lazim. Bahkan tercatat, suntikan vitamin saja pun bisa alergi.</p>
<p>Apalagi andai dokter tidak menganggap perlu menanyakan bakat alergi pasien yang akan diberinya resep, dan pasien sendiri tidak tahu kalau bakat alerginya perlu diinformasikan kepada dokter yang akan memberinya obat. Terkait urusan pemberian obat, setiap dokter sudah memikul risiko sebagai penyulut munculnya kasus alergi obat. Di mata awam, pihak dokter berada dalam posisi dipersalahkan karena pasien beranggapan dokternya harus sudah tahu. Termasuk dalam hal kasus SJS.</p>
<p>Namun dibanding dokter di negara maju, dokter kita galibnya lebih berisiko menghadapi kasus reaksi alergi obat yang berisiko berperkara. Mengapa? Karena rekam medik pasien yang dilazimkan di semua negara maju, di kita sering tak lengkap kalau bukan malah tidak ada. Lebih sering dokter tak mengenal utuh siapa sosok pasiennya. Padahal ada pasien yang sekaligus tak cocok lebih dari satu jenis obat. Yang ekstrem, pasien tak berani mencoba minum obat apa pun.</p>
<p>Persoalan alergi obat diperpelik oleh tradisi rata-rata pasien kita tak memiliki dokter keluarga sehingga dokter yang dikunjungi belum tentu mengenal betul pasiennya, termasuk bila memiliki bakat alergi. Selain itu tradisi bergonta-ganti dokter, tiap kali selalu bertemu dokter berwajah baru, menambah risiko menerima obat yang tak cocok.</p>
<p>Lain dari itu, komunikasi dokter-pasien cenderung diburu waktu, sehingga pasien tak sempat bertanya ihwal obat yang dokter berikan, ikut meninggikan risiko bangkitnya kasus tak cocok obat (drug hypersensitivity reaction). Habis minum obat bibir jadi jontor, atau langsung pening dan gatal-gatal,misalnya.Masih untung kalau tak langsung semaput.</p>
<p>Alih-alih dilakukan tes terlebih dulu pada pasien yang dicurigai alergi sebelum obat yang dicurigai berpotensi membangkitkan reaksi alergi, sering-sering dokter tak cukup waktu menjelaskan ihwal perangai dan bagaimana kerja obat yang diresepkan. Padahal catatan MESO (monitoring efek samping obat) membeberkan fakta semakin berderet obat yang menyimpan bakat membangkitkan reaksi alergi.</p>
<p>ITU maka menjadi penting bagi setiap pasien memiliki &#8220;paspor medik&#8221;. Dalam &#8220;paspor medik&#8221; tercatat pula bakat alergi terhadap obat apa (saja). Dengan membaca &#8220;paspor medik&#8221;, untuk dokter yang pertama kali dikunjungi, pasien pun mengenal utuh sosok medis pasiennya, sehingga kasus dokter salah memilihkan obat, tak cocok obat, termasuk kasus SJS, tak lagi perlu terjadi.</p>
<p>&#8220;Paspor medik&#8221; yang selalu berada di kantong pasien berjasa juga sebagai label, misal, untuk pengidap diabetes andai suatu saat jatuh pingsan di tempat umum, sehingga pihak penolong tahu harus bagaimana. Manfaat lain bagi pengidap jantung, ayan, sedang mengonsumsi corticosteroid, pengidap penyakit menahun lainnya terkait dengan kemungkinan menghadapi krisis, atau kegawatdaruratan medik di tempat-tempat umum.</p>
<p>Melihat tabiat reaksi alergi obat, harus diakui kalau sejatinya tak semua kasus seperti itu bermuatan malapraktik. Kasus alergi obat akibat kondisi &#8220;bukan pasien dikenal&#8221;, atau SJS yang terbangkitkan ketika seseorang tengah terserang infeksi, arifnya bukan kepada pihak dokter delik aduannya layak dikirimkan.</p>
<p>Kasus alergi obat dikategorikan malpraktik bila dokter masih juga memberikan obat yang jelas-jelas ia tahu bakal membangkitkan reaksi alergi terhadap pasien yang ia tahu menyimpan bakat alergi. Majelis MKEK (atau Konsil Kesehatan) yang akan melacak dan menilai apakah betul seorang dokter telah berbuat alpa sehingga sampai-sampai membangkitkan kasus alergi obat apalagi bila sampai menghilangkan nyawa pasien yang secara perhitungan medik dan kapasitas profesinya seharusnya sudah bisa diprediksinya.</p>
<address>Dr. Handrawan Nadesul<br />
 </address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/perlunya-%e2%80%9cpaspor-medik%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
