<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>I Think I’m In Love! Mempersiapkan Anak Remaja Kita&#8230;</title>
		<link>http://gkipi.org/i-think-i%e2%80%99m-in-love-mempersiapkan-anak-remaja-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/i-think-i%e2%80%99m-in-love-mempersiapkan-anak-remaja-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 15:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6928</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai orangtua, pernahkah kita membayangkan masa di mana pertama kali kita jatuh cinta? Coba bayangkan kekonyolan-kekonyolan yang kita buat saat itu. Mulai dari berdandan lebih rapi dan mematut diri berkali-kali di depan cermin, menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan perasaan kita, atau malu-malu saat berhadapan atau melihat orang yang kita sukai. Tidakkah kita juga berpikir bahwa anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orangtua, pernahkah kita membayangkan masa di mana pertama kali kita jatuh cinta? Coba bayangkan kekonyolan-kekonyolan yang kita buat saat itu. Mulai dari berdandan lebih rapi dan mematut diri berkali-kali di depan cermin, menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan perasaan kita, atau malu-malu saat berhadapan atau melihat orang yang kita sukai.</p>
<p>Tidakkah kita juga berpikir bahwa anak-anak remaja (bahkan anak-anak kita yang masih duduk di kursi Sekolah Dasar) merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan puluhan tahun yang lalu? Bedanya, ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa cinta atau ketertarikan mereka di zaman ini. Pertanyaannya, bagaimana mengetahui perasaan anak-anak kita dan menyikapi saat mereka jatuh cinta?</p>
<p><strong>JATUH CINTA–KETERTARIKAN PADA PANDANGAN PERTAMA</strong></p>
<p>Tuhan Yesus sendiri sering tergerak hati-Nya saat melihat seseorang dan karena gerakan hati itulah Ia menunjukkan cinta kepada orang tersebut. Kalau begitu, bukankah mitos &#8220;jatuh cinta pada pandangan pertama&#8221; dapat berlaku bagi anak atau remaja kita?</p>
<p>Yesus mencintai manusia dan Dia mengenal kita. Dalam Yohanes 2:24 dikatakan bahwa Yesus mengenal kita semua. Ia tahu siapa kita dan sekalipun Ia tahu kelebihan atau kelemahan kita, Ia tetap mengasihi kita. Itu sebabnya tidak sama seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, Yesus tahu dengan jelas siapa orang yang dikasihi-Nya.</p>
<p>Tentu saja ayat ini tidak dapat digunakan untuk membenarkan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dr. James Dobson mengatakan, &#8220;<em>Love requires knowledge</em>.&#8221; Berarti dibutuhkan pengetahuan atau pengenalan terhadap orang yang kita cintai, untuk menjalin sebuah relasi dengan komitmen untuk saling menyayangi. Itu sebabnya anak-anak atau remaja kita perlu memiliki pemahaman bahwa jatuh cinta bukanlah segalanya untuk memulai sebuah relasi, apalagi karena jatuh cinta sangat berbeda dengan pengalaman bertumbuh di dalam cinta seperti yang dialami orang-orang dewasa pada umumnya.</p>
<p>Kalau begitu, pertanyaannya bagaimana mereka dapat menyadari bahwa saat mereka jatuh cinta, mereka tidak perlu terlalu terburu-buru menjalin cinta di masa remaja dan menjauh dari teman-teman sepergaulannya? Tentu jawaban atas pertanyaan tersebut bukanlah jawaban yang mudah. Perlu beberapa langkah ke belakang untuk kita kerjakan sebagai orangtua.</p>
<p>Yang pasti, tidak ada salahnya jika anak atau remaja kita merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun yang penting mereka ketahui adalah bahwa ketertarikan yang mereka miliki itu, bukanlah alasan untuk segera menjalin ikatan khusus yang mereka sebut dengan pacaran.</p>
<p>Itu berarti, saya bukan hendak mengatakan bahwa anak atau remaja kita tidak boleh jatuh cinta, namun mereka perlu tahu bahwa perasaan itu perlu dikendalikan. Dan kendali itu terletak pada cara berpikir mereka. Sampai pada tahap ini, tentu saja anak atau remaja kita membutuhkan teman untuk berbagi cerita dan pandangan-pandangan yang positif berkaitan dengan nilai hidup mengenai &#8220;cinta&#8221;. Untuk itulah mereka membutuhkan kita sebagai orangtua, sahabat dan &#8220;konsultan cinta&#8221; sampai mereka memiliki nilai (value) yang benar tentang hal ini.</p>
<p>Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, sebenarnya apa saja yang dapat kita lakukan kepada anak atau remaja kita?</p>
<p><strong>Di satu sisi, BELAJAR MEMAHAMI PERASAAN ANAK</strong></p>
<p>Saat yang paling berharga bagi kita sebagai orangtua adalah saat di mana kita memahami perasaan anak-anak kita. Apakah kita sudah menggunakan golden moment (masa keemasan) itu dengan baik setiap harinya? Mulailah dengan membahasakan perasaan anak kita, misalnya: Apakah kamu lelah seharian ini di sekolah? Atau kelihatannya kamu sedang berbunga-bunga. Mama ikut merasakannya.</p>
<p>Saat anak mengetahui bahwa ada seorang yang ikut merasakan perasaannya, saat itulah ia juga dapat merasakan nikmatnya berada di rumah bersama orangtuanya. Rumah bagaikan Home bagi mereka karena ada teman yang berbagi perasaan dengan mereka.</p>
<p>Tentu Anda tidak perlu berada 24 jam di rumah untuk dapat membuat anak home sweet home. Hanya diperlukan waktu dan kesediaan untuk merasakan apa yang anak rasakan dan mengatakan bahwa kita turut merasakannya, sehingga saat anak remaja Anda mengatakan, &#8220;<em>I Think I’m in love</em>,&#8221; kita dapat duduk bersama merasakan bunga-bunga yang dirasakannya. Tentu saja bukan sekadar memahami dan merasakan perasaannya. Tetapi juga mencoba memahami pikirannya.</p>
<p>Saat anak remaja kita tahu bahwa apa yang dirasakannya juga dirasakan oleh kita sebagai orangtuanya, tentu hal itu dapat menjadi pintu baginya untuk menyatakan pikirannya. Selanjutnya, kita ditantang untuk berdialog dengannya tanpa ia menutup pintu hatinya kepada kita.</p>
<p><strong>Di sisi lain, BELAJAR MENELUSURI CARA BERPIKIR ANAK</strong></p>
<p>Dua hal yang berbeda dalam diri setiap orang, termasuk dalam diri setiap anak atau anak remaja kita adalah antara pikiran dan perasaan mereka. Anak remaja yang sedang jatuh cinta tahu bahwa sesungguhnya adalah hal yang biasa jika seorang pria duduk di sebelah seorang wanita. Namun perasaannya mengatakan hal yang berbeda. Dalam perasaan seorang remaja, duduk di sebelah orang yang baru saja disukainya merupakan hal yang memalukan dan menegangkan. Ada dua kemungkinan yang mereka dapat lakukan, pergi jauh-jauh untuk mengusir rasa malu tersebut, atau duduk di dekatnya sambil merasakan gejolak bunga-bunga cintanya.</p>
<p>Pengalaman seperti itu yang ada di dalam benaknya. Ia membutuhkan jalan keluar dan teman berbagi cerita. Jika kita dapat merasakan kebingungannya, empati dengannya, di satu titik tertentu ia pasti butuh usulan jalan keluar dari kita.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mengusulkan sesuatu yang disetujui olehnya? Berbeda dengan usulan teman-temannya seperti, &#8220;Tulis surat saja kepada orang itu!&#8221; atau &#8220;Tembak aja lewat sms atau bbm!&#8221; Tentu saja kita tidak akan mengusulkan hal yang sama dengan itu. Namun setidaknya kita dapat membahasakan perasaan orang yang dicintainya itu sebagai reaksi saat dia berhadapan dengan anak remaja kita.</p>
<p>Kita dapat mengatakan, &#8220;Kalau kamu sms dia dan menyatakan perasaanmu, apakah dia dapat berpikir&#8230; atau apakah dia akan merasakan&#8230;&#8221; Penting sekali membuat anak dapat mempertimbangkan akibat dari tindakannya sambil turut merasakan bunga-bunga dari perasaannya.</p>
<p>Tentu saja jauh sebelum anak atau anak remaja kita mengatakan, &#8220;<em>Mommy, I think I’m in love!</em>&#8221; kita dapat membuka pembicaraan mengenai hal tersebut dengan cara menceritakan pengalaman-pengalaman teman-teman kita sewaktu remaja. Atau menceritakan apa yang biasa terjadi di masa remaja kita, tentu dengan cara dan isi cerita yang bijaksana.</p>
<p>Beberapa prinsip yang kita dapat sampaikan kepada anak sebelum mereka mengatakan bahwa mereka &#8220;jatuh cinta&#8221;:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Pertama, cinta bukan semata hanya sebuah perasaan.</strong></p>
<p>Ya, cinta bukan semata hanya perasaan. Karena perasaan tidak menentu. Saat perasaan terluka, maka perasaan cinta tidak lagi dapat bertahan. Namun cinta merupakan sebuah komitmen. Komitmen untuk mempertahankan cinta Tuhan sebagai cinta yang kita bagikan kepada orang yang kita cintai. Itu sebabnya mencintai merupakan sebuah tanggung jawab. Cinta bukan hanya sekadar sebuah permainan untuk mengisi waktu istirahat di sekolah, cinta juga bukan sebuah keadaan berdua-dua sehingga perasaan menyukai itu dapat dipuaskan hanya dengan berbicara berduaan apalagi bersentuhan secara fisik. Karena cinta merupakan sebuah tanggung jawab, apapun yang mereka bicarakan dan lakukan, merupakan tanggung jawab untuk tetap menghargai orang yang dicintainya.</p>
<p>Seorang remaja, sebut saja Evan, sangat menunjukkan perasaan sayangnya kepada Rina. Ia mendatangi tempat konser Rina, memberikan bunga saat Rina pulang sekolah dan berbagai tindakan cinta yang menurut anak muda terlalu lebai (berlebihan). Rina memang agak tertarik dengan Evan, tetapi sikap berlebihan dari Evan membunuh perasaan Rina yang mulai tertarik dengan Evan.</p>
<p>Melalui kisah ini tentu anak-anak kita perlu belajar bahwa perasaan positif yang mereka miliki tidak dapat diekspresikan sesuka hati mereka. Mereka perlu mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang dapat diterima oleh orang yang menerima mereka. Itu berarti tidak menjadikan orang yang mereka cintai sebagai objek dari perasaan mereka. Hal ini dapat kita antisipasi dengan mengajarkan anak-anak kita mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang sehat dan baik. Misalnya, saat mereka menerima kado kesukaan mereka, mereka dapat belajar untuk mengungkapkan, &#8220;Aku menyukai kado ini, Pap. Sangat berkesan!&#8221; atau sebaliknya saat mereka tidak menyukai sikap orangtua, mereka dapat mengatakan, &#8220;Mama, saya kesal mengapa Mama tidak konsisten. Apa yang Mama katakan minggu lalu, tidak Mama lakukan sekarang!&#8221; tanpa menunjukkan kegeraman dengan membanting pintu atau mengurung diri di kamar, bahkan keluar dari rumah untuk menunjukkan kemarahan mereka. Jika pelatihan pengungkapan emosi secara sehat ini berhasil, tentu anak-anak kita saat remaja nanti dapat lebih mengungkapkan perasaan cinta mereka secara sehat. Bahkan mempertahankan komitmen mereka sekalipun perasaan mereka sempat dilukai.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Kedua, Bertumbuh dalam cinta lebih baik daripada jatuh cinta.</strong></p>
<p>Seorang yang berkomitmen untuk mencintai seseorang, akan semakin menyayangi pasangannya saat melihat hal yang baik dari pasangannya. Namun saat ia berhadapan dengan hal buruk dari pasangannya, ia belajar untuk mempertahankan cintanya dan mendoakan agar yang dicintainya dapat Tuhan ubahkan ke arah yang baik dan membangun.</p>
<p>Dalam perjalanan hidup Dila (seorang remaja dan bukan nama sesungguhnya), ia sering kali jatuh cinta. Ia senang jika melihat pria gagah, pandai dan baik hati. Dan jika ada gayung bersambut, ia akan segera menerima cinta pria tersebut. Namun sayangnya, ia beberapa kali gagal pacaran hanya karena ia merasa bahwa pacarnya tidak memperhatikannya setiap hari. Cinta yang dimilikinya sangat egois dan ia tidak melihat pacaran sebagai wadah untuk saling mengerti, berbagi dan membangun. Rupanya relasi yang dibangun hanya karena alasan jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat cinta anak-anak kita semakin mementingkan diri sendiri. Tentu anak-anak perlu diajak untuk mengerti bahwa bertumbuh dalam cinta berbeda dengan hal itu. Bertumbuh dalam cinta berarti membiarkan cinta yang dimiliki tetap ada dan bertahan mengalahkan egoisme diri.</p>
<p>Bertumbuh dalam cinta dapat dilatih dalam keseharian dengan membiasakan anak-anak kita tetap bercakap-cakap dengan kita dan menyatakan rasa sayang mereka kepada kita sekalipun mereka tidak sepaham dan sepakat dengan kita sebagai orangtua.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Ketiga, &#8220;Putus nyambung putus nyambung&#8221; bukanlah sikap seorang remaja yang kristiani.</strong></p>
<p>Lagu-lagu di dunia ini menawarkan relasi yang singkat dan tidak tangguh. Anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang tidak terbiasa memperbaiki relasi tetapi menyudahi relasi saat sesuatu yang mengusik perasaan mereka terjadi. Untuk itu, anak-anak sejak kecil sampai remaja perlu kita arahkan untuk belajar bertahan menghadapi konflik maupun konflik batin mereka. Caranya, mereka perlu dilatih sejak dini untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik itu perasaan negatif atau positif. Setelah itu, kita mengajak anak-anak kita untuk mengolah perasaan negatif mereka, baik melalui diskusi maupun self talk (bicara dengan hati nurani sendiri), sehingga saat anak-anak kita beranjak remaja, mereka menjadi remaja-remaja yang tangguh menghadapi konflik karena mereka menemukan jalan untuk menyelesaikannya dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.</p>
<p>Tentu saja hasil yang diharapkan dari ketiga hal di atas, anak-anak kita memiliki sikap yang dewasa saat merasakan jatuh cinta. Saya membayangkan anak-anak remaja kita akan mengatakan, &#8220;<em>Mom, Dad, I think I’m in love.&#8221;</em> Menyenangkan sekali rasanya seperti yang Mama dan Papa ceritakan. Tetapi saya tahu bahwa saya perlu menguji perasaan ini melalui persahabatan dengannya dalam jangka waktu tertentu. Doakan agar kami bertumbuh bersama dalam kedewasaan dan dalam iman. Siapa tahu, memang dialah orangnya dari Tuhan buat saya! J&#8221;</p>
<p>Daripada mereka mengatakan, &#8220;Mam, saya sudah punya pacar. Saya mencintai dan ingat kepadanya setiap malam. Dan kami sangat menikmati pacaran kami.&#8221; Lalu beberapa minggu kemudian dia mengatakan, &#8220;Pap, rasanya saya tidak mencintainya lagi. Dia begitu menyebalkan. Kami benar-benar tidak cocok!&#8221;</p>
<p>Dan hal di atas terjadi berulang sampai mereka menikah. Tidakkah ini dapat kita antisipasi sejak dini? Kiranya Tuhan memberi hikmat dan pengertian kepada kita untuk meneruskan hikmat-Nya dan pengertian-Nya kepada generasi kita selanjutnya!</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/i-think-i%e2%80%99m-in-love-mempersiapkan-anak-remaja-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuasa Doa untuk Suami-Istri</title>
		<link>http://gkipi.org/kuasa-doa-untuk-suami-istri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kuasa-doa-untuk-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6356</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami-istri yang selalu ribut, bahkan juga ketika berkendaraan menuju gereja, otomatis mengadakan gencatan senjata begitu sampai di lapangan parkir gereja, dan keadaan damai ini terus bertahan sampai ibadah selesai. Namun begitu mereka masuk ke mobil mereka kembali, sang suami mulai melancarkan serangan: &#8220;Tadi kamu dengar nggak apa yang dikatakan Pak Pendeta, bahwa istri harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami-istri yang selalu ribut, bahkan juga ketika berkendaraan menuju gereja, otomatis mengadakan gencatan senjata begitu sampai di lapangan parkir gereja, dan keadaan damai ini terus bertahan sampai ibadah selesai.</p>
<p>Namun begitu mereka masuk ke mobil mereka kembali, sang suami mulai melancarkan serangan: &#8220;Tadi kamu dengar nggak apa yang dikatakan Pak Pendeta, bahwa istri harus tunduk kepada suami? Kamu ini malah selalu melawan suami. Kamu tidur ya, waktu mendengarkan khotbah?&#8221; Dengan tangkas sang istri membalas: &#8220;Aku mendengarkan. Mungkin kamu yang tidur. Tadi Pak Pendeta bilang kalau suami harus mengasihi istri dengan sepenuh hati. Nggak kayak kamu yang selalu berpikiran negatif.&#8221;</p>
<p>Ini hanya salah satu contoh riak kehidupan pasangan suami-istri. Masih banyak lagi kasus lainnya yang bahkan sampai kepada perceraian.</p>
<p>Pasangan suami-istri adalah dua insan yang berbeda dalam gender, kebiasaan, kebudayaan, tabiat, keadaan sosial-ekonomi, dan lain-lain., sehingga masing-masing perlu mengadakan penyesuaian, bahkan perubahan. Namun, perubahan yang bagaimana dan ke arah mana?</p>
<p>1.    Masing masing orang perlu berubah sesuai dengan kehendak Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah kita. Karena itu dengan doa dan kuasa Roh Kudus, perubahan bisa terjadi.</p>
<p>2.    Namun masalahnya,</p>
<ul>
<li>kita tidak tahu caranya;</li>
<li>kita merasa tidak mampu;</li>
<li>kita tidak menginginkannya;</li>
<li>kita tidak sadar bahwa kita memerlukan perubahan.</li>
</ul>
<p>3.    Menjadi pasangan berarti mempunyai kesempatan untuk berubah. Tuhan menunggu undangan kita untuk membantu kita berubah.</p>
<p>4.    Kita tidak bisa mengubah orang, tetapi Tuhan dapat mengubah kita, dan ini adalah pekerjaan dari Roh Kudus. Tuhan membuat masing-masing kita sesuai dengan citra-Nya, dan Ia tidak ingin kita mengubah pasangan kita sekehendak hati kita.</p>
<p>Tugas kita adalah menerima pasangan kita seperti apa adanya, dan berdoa pada Tuhan untuk mengubah pasangan kita dan kita sendiri sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Sebagai Pasangan Kita Tidak Terlepas Dari Masalah</strong></p>
<p>Tuhan tidak pernah berkata bahwa kita tidak akan menghadapi masalah. Ketika seseorang menikah, ia harus siap untuk tidak saja menghadapi masalahnya sendiri, tetapi juga masalah pasangannya. Namun jika kita mengundang Tuhan dalam doa dan sungguh-sungguh berserah kepada-Nya, Ia akan membantu kita mengatasi masalah-masalah kita atau melewatinya dengan baik karena Ia sungguh mengasihi kita (Roma 8:37-39).</p>
<p><strong>Konflik di Antara Suami-Istri Bisa Saja Terjadi Karena Tidak Adanya Komunikasi yang Baik</strong></p>
<p>Pernikahan tanpa keintiman akan mati. Di antara pasangan suami-istri perlu ada rasa kedekatan.Tanpa komunikasi yang baik, kita tidak akan mengetahui perasaan dan pikiran pasangan kita, sehingga kita sulit membangun kehidupan bersama yang harmonis. Kita tidak boleh membuat asumsi sendiri dengan menganggap bahwa diri kita sudah tahu tanpa perlu mengadakan komunikasi dengan pasangan kita. Filipi 2:4 mengingatkan agar setiap orang tidak memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.</p>
<p><strong>Berdoa Agar Kita Selalu Jujur dan Dapat Dipercaya</strong></p>
<p>Pernikahan mutlak harus berdasarkan kepercayaan satu sama lain. Kalau suami-istri tidak saling percaya, siapa lagi yang bisa dipercaya?</p>
<p>Membohongi pasangan kita adalah perilaku yang sangat buruk karena menyebabkan rusaknya hubungan dengannya (Kolose 3:9) dan membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Mazmur 102:7 mengatakan bahwa &#8220;orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumah-Ku, orang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mata-Ku.&#8221; Orang yang tidak berkomunikasi baik dengan pasangannya tidak bisa sepenuhnya jujur kepadanya, karena kejujuran membutuhkan komunikasi yang baik.</p>
<p>Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1.    Jujur dalam perasaan terhadap pasangan kita</strong><br />
Kita harus mengatakan kepada pasangan kita kalau ada hal yang mengganjal atau sangat mengganggu di dalam perbuatan pasangan kita. Kalau kita tidak mengatakannya, pasangan kita mungkin tidak akan menyadarinya. Sebaliknya, kita menjadi sakit hati, marah, bahkan pada akhirnya tidak dapat mengampuninya. Meskipun demikian, menyampaikan teguran memang tidak mudah. Kita perlu memohon kepada Tuhan untuk membantu kita menyampaikannya dengan bijaksana, pada saat yang tepat, ketika emosi kita tidak meluap-luap, dan dengan tutur kata yang baik. Efesus 4:15 mengatakan, &#8220;&#8230;Dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.&#8221; Pengkhotbah 3:7 juga memperingatkan. &#8220;&#8230;Ada waktu untuk diam dan ada waktu untuk bicara.&#8221; Janganlah kita meniru seorang ibu cerewet yang tidak memberi kesempatan kepada suaminya untuk berbicara, sehingga suaminya hanya bisa mengurut dada sambil bernyanyi &#8220;Haleluya.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2.    Jujur dalam mengutarakan pandangan atau pendapat (falsafah hidup)</strong><br />
Sangat penting bahwa setiap pasangan bertukar pikiran tentang rencana, kekuatiran, harapan/cita-cita ataupun mimpinya bagi masa depan. Di dalam Ayub 32:20, Elihu ingin mengemukakan pendapatnya, sehingga ia berkata, &#8220;Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberikan sanggahan.&#8221;<br />
Pasangan juga perlu terus-menerus melakukan penyesuaian satu sama lain, sebab masing-masing diproses dan berkembang secara berbeda dan perlu saling memahami.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3.    Jujur tentang masa lalu kita</strong><br />
Masing-masing pasangan perlu memohon pertolongan Tuhan untuk bisa menerima pasangannya apa adanya. Untuk itu diperlukan kejujuran untuk mengungkapkan masa lalu dengan bijaksana dan pada saat yang tepat.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>4.    Jujur tentang apapun juga</strong><br />
Setiap kebohongan akan merusak kepercayaan yang sudah ada, dan itu berarti bahwa kita tidak menempatkan Tuhan sebagai prioritas di dalam hidup kita dan pasangan kita di tempat kedua.</p>
<p><strong>Berdoa Kepada Tuhan Untuk Pasangan Kita</strong></p>
<p>Kita mohon kepada Tuhan agar kita mempunyai telinga untuk mendengar dan hati yang mau memahami apa yang dikatakan oleh pasangan kita. Dalam Galatia 6:2 dikatakan, &#8220;Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.&#8221; Demikian juga Roma 12:15 menasihatkan, &#8220;Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis.&#8221;</p>
<p>Tuhan kiranya memberi kita hati yang bijaksana, dengan menunjukkan apresiasi kepada pasangan kita untuk segala hal positif yang dilakukannya, dan hati yang mendengar sehingga kita bisa merasa empati dan meringankan kepedihannya.<br />
Marilah kita cepat untuk mendengar dan lambat untuk bicara.</p>
<p><strong>Pengampunan</strong></p>
<p>Di dalam kehidupan berumah tangga, kita tidak luput dari berbuat kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Hendaknya kita tidak menjadi kolektor kesalahan pasangan kita, dan mau membebaskan diri dari memori-memori yang buruk untuk melihat ke masa depan yang penuh harapan. Tanpa kesediaan untuk saling mengampuni, ancaman perceraian sudah ada di ambang pintu.</p>
<p>Efesus 4:32 mengajarkan, &#8220;Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagai Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.&#8221; Yesus mengampuni kita secara utuh, tidak melihat kesalahan masa lalu kita dan mengingat-ingatnya lagi. Namun pengampunan tidak mungkin kita lakukan kalau Tuhan tidak membantu kita melakukannya setiap hari.</p>
<p>Pengampunan tidak berarti membiarkan pasangan kita berulang kali melakukan kesalahan yang sama atau serupa. Pengampunan juga tidak berarti membenarkan seluruh tindakan pasangan kita.</p>
<p>Ada seorang suami yang selalu marah-marah sepulang kerja. Istrinya yang heran melihat sikap suaminya, mencari waktu yang tepat untuk mengajaknya pergi bersama ke sebuah restoran, tanpa disertai oleh anak-anak mereka. Dari pembicaraan santai itu, si istri akhirnya mengetahui penyebab stres suaminya, yang tertekan oleh pekerjaan di kantor yang berat. Ia mendengarkan cerita suaminya dengan sabar dan penuh empati. Dan tiba-tiba si istri juga menyadari kesalahannya yang terlalu sibuk mengurus anak-anak sehingga kurang memberi perhatian kepada suaminya. Percakapan di antara kedua suami-istri ini berakhir dengan saling mengampuni dan tekad untuk semakin membuka diri satu sama lain.</p>
<p>Kalau kita merasa tidak bisa mengampuni pasangan kita, mintalah kepada Tuhan untuk membantu kita. Di dalam Zakaria 4:6 dikatakan, &#8220;&#8230;‘Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku,’ firman Tuhan semesta alam.&#8221; Kiranya Tuhan memampukan kita.</p>
<p>Di samping hal di atas, suami-istri juga perlu mencari waktu luang untuk berduaan (bulan madu kedua, ketiga&#8230;), baik pada waktu usia perkawinan masih muda, menengah maupun ketika keduanya sudah kakek-nenek. Hal ini dimaksudkan agar hubungan di antara mereka selalu terpelihara, bahkan semakin lama semakin baik, dan keintiman suami-istri dapat dipertahankan di tengah-tengah kesibukan masing-masing. Dengan pertolongan Tuhan, apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak diceraikan oleh manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nugroho Suhendro<br />
Melbourne, April 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kuasa-doa-untuk-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Healing Ministry</title>
		<link>http://gkipi.org/healing-ministry/</link>
		<comments>http://gkipi.org/healing-ministry/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 14:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6051</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang melakukan pemulihan fisik saja, tanpa menyadari bahwa rupanya ada luka yang tertinggal, yaitu hati yang hancur, sedih atau kecewa. Pertanyaannya, apakah kita sungguh membutuhkan pemulihan di luar pemulihan fisik saja? Dan apakah pelayanan pemulihan perlu dilakukan oleh gereja? PEMULIHAN DALAM ALKITAB Ternyata pelayanan pemulihan telah dilakukan sejak zaman Perjanjian Lama. Sebut saja Naaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang melakukan pemulihan fisik saja, tanpa menyadari bahwa rupanya ada luka yang tertinggal, yaitu hati yang hancur, sedih atau kecewa. Pertanyaannya, apakah kita sungguh membutuhkan pemulihan di luar pemulihan fisik saja? Dan apakah pelayanan pemulihan perlu dilakukan oleh gereja?</p>
<p><strong>PEMULIHAN DALAM ALKITAB</strong></p>
<p>Ternyata pelayanan pemulihan telah dilakukan sejak zaman Perjanjian Lama. Sebut saja Naaman yang harus mandi di sungai yang kotor. Bukankah Elisa telah dipakai Tuhan untuk memulihkan fisik Naaman, namun juga batinnya? Kalau saja Naaman tidak menyukai sungai yang kotor itu, belum tentu ia rela membenamkan dirinya sebanyak 7 kali.</p>
<p>Atau Musa, saat Miriam kena kusta. Ia memang tidak memberikan obat-obatan karena pada waktu itu belum ada obat untuk pengobatan penyakit kusta, tetapi ia berdoa agar Tuhan menyembuhkannya. Lebih jauh dari itu, Musa mengampuni kesalahan Miriam. Pengampunan yang dilakukan dengan tulus dari dalam hatinya, didengar dan diterima oleh Tuhan. Sehingga akhirnya Miriam bukan hanya pulih, melainkan sembuh total. Bagi seorang yang kena kusta, hal sembuh merupakan kemustahilan. Itu berarti Miriam sekaligus disadarkan bahwa kesalahannya yang telah diperhitungkan Tuhan, kini dihapus dengan tanda kesembuhan fisiknya.</p>
<p>Elia juga memulihkan anak si janda Sarfat yang tidak lagi ada napasnya. Elia berseru kepada Tuhan dan mengunjurkan badannya di atas anak itu sebanyak 3 kali sehingga ia pulih/hidup kembali (1 Raj. 17).</p>
<p>Seperti kita ketahui, mukjizat yang terjadi di dalam Alkitab bukan untuk menunjukkan kehebatan kuasa dari si Pemulih, tetapi semua bertujuan agar Nama Tuhan Dimuliakan. Dan Alkitab membuktikan bahwa sungguh, Nama-Nya semakin dikenal dan ditinggikan. Sikap hati yang meninggikan Allah itulah yang menunjukkan adanya pemulihan jiwa seseorang.</p>
<p>Dalam Perjanjian Baru, kita juga tidak luput menemukan kisah di mana Yesus memulihkan batin Perempuan Samaria yang memiliki 5 suami (yang saat itu hidup dengan pria yang bukan suaminya), di saat ia mengambil air di siang hari bolong. Dalam Kis. 3 dan Kis. 5:15-16, Petrus juga melakukan healing ministry kepada orang lumpuh dan orang sakit lainnya. Bahkan ia melakukan hanya dengan bayangannya saja. Paulus juga melakukan healing ministry dalam Kis 14:8-11. Tentunya bukan hanya sekadar menyembuhkan fisik dari si sakit, tetapi kuasa dan kasih Kristus yang  iaberitakanlah yang juga sekaligus memulihkan batin mereka.</p>
<p>Jadi, apakah mereka yang memulihkan orang lain itu juga mengalami pemulihan dari Tuhan? Tentu saja.</p>
<p>Petrus mengalami pemulihan atas luka penolakannya terhadap Yesus. Dalam Yoh. 21, Yesus sendiri yang memulihkan Petrus. Petrus berkata, “Tuhan engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” (You know that I love you). Andai saja Yesus tidak memberikan kesempatan kedua kepada Petrus untuk menyatakan isi hati dan penyesalannya, tentu Petrus seumur hidup tidak akan pulih dengan perasaan bersalah.</p>
<p>Demikian pula dengan Paulus. Ada 2 pemulihan yang Allah lakukan kepadanya, pertama, Pemulihan dari kebutaan mata jasmaninya (Kis. 9:18). Kedua, Pemulihan dari kebutaan rohaninya–He regained his strength (Kis. 9:19). Kekuatan yang hilang dari Saulus waktu itu bukan hanya sekadar kekuatan fisiknya tetapi lebih dari itu, kedatangan Ananias yang diutus oleh Tuhan adalah juga secara khusus untuk memulihkan kekuatan mental, bahkan rohani Saulus.</p>
<p>Hal ini sesuai dengan pandangan Henry Nouwen dalam bukunya The Wounded Healer, bahwa orang-orang yang melayani pemulihan sesungguhnya adalah orang-orang yang juga pernah mengalami pemulihan dari Tuhan.</p>
<p><strong>PELAYANAN PEMULIHAN LUKA BATIN</strong></p>
<p>Pelayanan Healing Ministry bukanlah ide gereja, melainkan misi Yesus yang perlu kita teruskan (Mat. 12:15b He healed all their sick). Salah satu prinsip yang Yesus ajarkan agar kita melayani mereka yang terluka, terdapat dalam Mat. 12:20, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya&#8230;”. Ia juga menegaskan di depan orang banyak dalam Mat. 9:12, 13b, bahwa tujuan kedatangan-Nya bukanlah untuk orang sehat atau orang benar melainkan untuk orang sakit atau orang berdosa.</p>
<p>Allah ada di pihak orang-orang yang lemah dan terluka. Bahkan Ia ada dan berpihak pada mereka yang tidak berdaya. Kalau buluh yang patah saja tidak akan diputuskan, tentu itu pula yang Dia harapkan dari kita, dalam pelayanan kita kepada-Nya. Menjadi orang-orang yang datang melayani mereka yang terluka.</p>
<p><strong>MENGENAL LUKA BATIN</strong></p>
<p>Berbeda dari luka fisik, luka batin tidak terlihat bekasnya pada kasat mata jasmani. Tetapi terasa jelas bagi korbannya. Bukan hanya 1-2 hari melainkan dapat pula berpuluh-puluh tahun, terkubur, menyakitkan dan merugikan. Ada 3 tanda yang biasanya menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan pelayanan pemulihan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pembaca yang juga memiliki ciri ini namun tidak merasa terganggu dengan hal ini, tentu saja pelayanan pemulihan merupakan pilihan dan bukan tuduhan. Salah satu alat ukurnya tentu pada saat seseorang merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya dan merasa perlu memperbaiki diri. 3 tanda tersebut yaitu:</p>
<ol>
<li> Tingkah laku yang menyimpang, seperti belanja berlebihan, kerja berlebihan, otoriter, dandan secara berlebihan, selalu menyalahkan orang atau selalu mencari kambing hitam, selalu marah-marah, perasaan bersalah yang berkepanjangan, dan sebagainya.</li>
<li>Relasi yang rusak atau retak dengan Tuhan, sesama maupun lingkungannya.</li>
<li>Penghargaan yang rendah, baik terhadap diri sendiri dan/atau terhadap orang lain.</li>
</ol>
<p>Apa yang dimaksud dengan luka batin? Luka batin adalah Sakit yang diderita akibat pengalaman direndahkan (tidak berharga), sehingga menimbulkan reaksi negatif atau reaksi yang berlebihan.</p>
<p>Bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan tempat tinggalnya akibat bencana alam? Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang mengalami kehilangan tentunya mengalami luka. Secara langsung mereka bisa jadi tidak merasakan ketidakberhargaan, tetapi sebaliknya harta berharga mereka lenyap dan secara tidak langsung hal itu meyakinkan mereka bahwa kini tidak ada lagi yang berharga, yang tersisa, yang ada padanya.</p>
<p>Orang-orang yang mengalami luka, akan menunjukkan beberapa reaksi. Salah satunya adalah Trauma. Trauma adalah kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002) akibat sebuah kejadian yang menyakitkan fisik, pikiran maupun perasaan seseorang.</p>
<p><strong>PENYEBAB LUKA BATIN</strong></p>
<p>Setidaknya ada 3 cara yang sering kali dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk merendahkan orang lain, yaitu melalui ucapan, perbuatan tetapi juga saat ia atau mereka menyadari tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Saat orang tidak melakukan apa-apa terhadap seseorang, ia pun dapat terluka.<br />
Beberapa hal yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang, yang dapat menimbulkan luka, yaitu:</p>
<ol>
<li> Membandingkan (kakak dengan adik, pria dengan wanita, seorang dengan seorang lain yang lebih dari dia)–sebuah perlakuan tidak adil.</li>
<li>Mencela (fisik, kemampuan, kepemilikan)–perlakuan penolakan terhadap apa adanya seseorang.</li>
<li>Memfitnah (menuduh, menyatakan yang tidak benar, menggosipi, menghakimi)–perlakuan tidak jujur.</li>
<li>Memegang bagian tubuh yang sangat pribadi (bahkan mempermainkannya; orang lain atau diri sendiri).</li>
<li>Mengharapkan yang lebih dari apa yang dapat dilakukan oleh seseorang secara terus menerus.</li>
<li>Menyaksikan atau  mendengarkan orang lain direndahkan.</li>
<li>Mengambil alih peran.</li>
<li>Melakukan kekerasan seperti memaksakan pendapat, membentak, maupun kekerasan secara fisik.</li>
</ol>
<p>Selain kategori di atas, ada pula luka yang terjadi bukan karena perlakuan orang lain atau sekelompok orang. Luka itu dapat terjadi karena bencana alam, kecelakaan yang terjadi tanpa kesalahan manusia secara langsung, atau kehilangan orang-orang yang dikasihi melalui kematian. Saat seseorang mengalami salah satu dari ketiga hal di atas, penghargaan terhadap diri sendiri cepat atau lambat menjadi berkurang. Tidak heran jika terjadi penyimpangan tingkah laku, rusaknya relasi atau penghargaan yang rendah dari mereka yang terluka.</p>
<p><strong>DEAL WITH LUKA BATIN</strong></p>
<p>Tidak menutup kemungkinan, penyakit fisik merupakan salah satu ciri dari seorang yang terluka walaupun kita tidak dapat menghakimi bahwa seorang yang memiliki sakit fisik berarti ia memiliki luka batin. Sebaliknya, seorang yang mengalami sakit fisik pun dapat membuat batinnya terluka. Walaupun tidak semua penyakit fisik menimbulkan luka batin.</p>
<p>Jika kita melihat ilustrasi gunung es, jelaslah bagi kita bahwa tidak semua yang tampak di permukaan melulu merupakan satu-satunya sakit yang diderita seseorang. Sebab ternyata ada berbagai penyebab yang harus kita gali di balik hal itu.</p>
<p>Healing Ministry adalah upaya untuk menggali dan menemukan apa yang ada di balik yang terlihat. Untuk itu, tentu saja kita membutuhkan The Healer yaitu Yesus sendiri melalui Roh Kudus, sehingga kita terlebih dahulu pulih sebelum kita menolong orang lain.</p>
<p>Pertanyaan sederhana bagi kita, apa yang dapat kita lakukan untuk menghindar terjadinya luka batin?</p>
<p>Dalam pelayanan pemulihan, ternyata ada banyak orang yang mengalami luka batin akibat relasinya dengan orang-orang yang dekat dengannya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga yang sangat mengasihi kita, rupanya orang-orang yang ada di dalam keluarga intilah yang secara langsung maupun tidak memendam luka yang ada di dalam batin seseorang. Seperti kue lapis yang dibentuk selapis demi selapis, demikian pula seorang yang memiliki luka terlalu dalam sejak masa kecilnya.</p>
<p>Sebut saja Abi yang pada waktu balita pernah mengalami pelecehan dari seorang remaja yang dekat dengan keluarganya. Hal itu memang tidak disadari sebagai luka batin, namun dalam perjalanan hidupnya Abi rupanya mengalami kesulitan relasi dengan lawan jenisnya, termasuk orang-orang yang mengasihinya. Itu sangat membuatnya tersiksa. Banyak orang yang mengasihi dia akhirnya mundur secara teratur karena tidak mau lagi disakiti oleh Abi.</p>
<p>Abi mulanya tidak menyadari hal itu. Namun sejak seseorang mengatakan kepadanya, “Abi, kamu berhak memilih dengan siapa kamu akan bergaul dekat, tetapi tolong jangan sakiti orang-orang yang mengasihimu!” Sejak itu Abi tahu nama dari sakit batin yang dideritanya. Sejak itu Abi berdoa, membaca buku-buku pemulihan dan mencari pertolongan. Rupanya Tuhan bekerja dan memulihkannya melalui cara yang perlahan, namun pasti. Sejak Abi semakin pulih, ia lebih dapat menikmati dan membalas cinta dari orang-orang yang peduli dan mengasihinya.</p>
<p>Apa yang membuat Abi semakin terluka, ternyata karena orangtua Abi bersikap keras saat Abi mengalami pelecehan. Seakan mereka mengatakan, “Kamu salah! Dan untuk itu jangan lakukan kesalahan yang lain. Jauhi orang itu dan jangan dekat lagi!” Abi semakin merasa sendirian dan menyalahkan diri. Sejak itu ia mulai menjadi anak yang kurang percaya diri.</p>
<p>Kini Abi sudah beranjak dewasa. Ia sudah memiliki banyak teman, pacar bahkan sahabat. Setiap kali relasinya buruk, ia mulai mencari tahu hal apa yang menyebabkannya. Abi memang tampaknya berlebihan, namun itulah yang membuat dia dapat memperbaiki tingkah lakunya yang menyimpang dan memulihkan relasinya dengan sesama serta Tuhan.</p>
<p>Bukankah kini, tidak sedikit Abi-Abi yang juga mengalami pelecehan emosi, mental bahkan juga fisik? Bukankah kita sebagai keluarga dipanggil bukan hanya melarang anak-anak kita mendekati orang-orang atau kumpulan orang tertentu, melainkan menjadi sahabat sekaligus guru yang mengajarkan anak-anak kita dan tidak menimbulkan trauma bagi mereka?</p>
<p><strong>TIPS SEDERHANA BAGI ORANGTUA</strong></p>
<p>Dari pengalaman para pelayan yang menolong pemulihan, beberapa hal yang dianjurkan bagi para orangtua agar anak-anak kita setidaknya tidak terluka karena kita:</p>
<ol>
<li> Berikan waktu berkualitas kepada anak sehingga kita mengetahui isi perasaan anak sejak dini. Mungkin bagi kita ceritanya tidak terlalu penting dibandingkan bisnis dan hobi kita, tetapi hal itu penting bagi mereka. Hargailah setiap cerita anak-anak kita sebagai kisah yang menarik dan penting dalam hidup kita. Siapa tahu di antara cerita mereka, ada pengalaman traumatis di luar jangkauan perhatian kita. Di saat itulah kita dapat menolong anak kita dengan melakukan pelayanan pemulihan.</li>
<li>Hindari kata-kata yang membuat anak dibandingkan, dicela, dituduh, dihakimi, dibatasi. Namun sekiranya ada hal-hal yang perlu dihindari anak, jelaskan alasan dan akibat dari hal tersebut, beserta pengalaman yang dialami orangtua berkaitan dengan hal tersebut. Tentu saja orangtua yang menceritakan peristiwa traumatik perlu juga dipulihkan terlebih dahulu sehingga ceritanya tidaklah menular dan membawa trauma bagi anak.</li>
<li>Yakinkan anak-anak bahwa pengampunan dari Tuhan diberikan kepada anak tetapi juga dibekali kepada anak. Sehingga apa pun pengalaman terluka atau pengalaman luka yang mereka alami, dapat dipulihkan dengan kuasa kasih dan pengampunan Kristus sekalipun tidak semua dapat dilakukan dengan cepat.</li>
</ol>
<p><strong>PEMULIHAN DIRI SENDIRI</strong></p>
<p>Sebelum Tuhan memakai kita melakukan pelayanan pemulihan, ternyata Tuhan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk memulihkan diri. Apa yang dapat kita lakukan untuk memulihkan diri kita sendiri dari luka yang tersimpan atau terkubur dalam hati, pikiran atau hidup kita?</p>
<p>Pemulihan diri dimulai dari menyadari perasaan negatif yang kita alami, relasi buruk yang sempat atau sering kita alami, peristiwa yang berkaitan dengan sikap merendahkan diri atau orang lain yang kita lakukan, atau juga judul/nama dari tingkah laku yang menyimpang yang kita miliki. Misalnya, saya tidak suka jika seorang mengatakan “Kamu cantik!” atau saya tidak suka jika mata seseorang mulai melihat pakaian saya. Atau juga, saya merasa marah dan kesal jika mendengar bunyi lonceng gereja.</p>
<p>Step kedua adalah mencari tahu, pengalaman pertama kali yang membuat saya tidak menyukai hal tersebut.</p>
<p>Step ketiga adalah terbuka untuk mengampuni orang yang melakukan hal itu sambil meminta kuasa kasih Kristus memulihkan hati dan pikiran kita.</p>
<p>Step keempat adalah mengalami perasaan baru yang berbeda dari sebelumnya saat memikirkan dan mengalami hal yang serupa dengan peristiwa traumatik tersebut.</p>
<p>Step kelima adalah melakukan hal yang positif sebagai hasil dari pemulihan yang Tuhan berikan.</p>
<p>Tentu saja kelima hal di atas bukan pengalaman seperti membalikkan telapak tangan. Ada orang-orang yang membutuhkan waktu 1 bulan, 2 bulan, 10 tahun bahkan 20 tahun untuk mencapai keadaan pulih. Namun kiranya kita sebagai orangtua yang diberikan kepercayaan oleh Tuhan dapat mengalaminya terlebih dahulu sehingga kita dapat menolong generasi kita selanjutnya menjalani hidup dengan penuh sukacita dan damai sejahtera, saat menghadapi berbagai masalah dalam perjalanan hidupnya.</p>
<p>Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Riani Josephine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/healing-ministry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inner Child</title>
		<link>http://gkipi.org/inner-child/</link>
		<comments>http://gkipi.org/inner-child/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 10:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5464</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang dimaksud dengan inner child? Inner child adalah little child (anak kecil) yang ada dalam diri setiap orang yang memiliki kerinduan untuk disayang, diperhatikan dan diberi &#8220;makan&#8221;. Ada orang yang dapat mengendalikan inner child yang ada di dalam dirinya, tetapi ada juga yang tidak dapat mengontrolnya sehingga inner child ini muncul dan merugikan dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang dimaksud dengan inner child? Inner child adalah little child (anak kecil) yang ada dalam diri setiap orang yang memiliki kerinduan untuk disayang, diperhatikan dan diberi &#8220;makan&#8221;. Ada orang yang dapat mengendalikan inner child yang ada di dalam dirinya, tetapi ada juga yang tidak dapat mengontrolnya sehingga inner child ini muncul dan merugikan dirinya sendiri serta orang-orang di sekitarnya. Inner child dapat berupa:</p>
<ol>
<li>Emosi dan perasaan sensitif kita;</li>
<li>Rasa frustasi, luka batin, penolakan atau kekerasan yang dialami pada masa kecil dan bertahan tersimpan sampai seseorang dewasa;</li>
<li>Secara positif dapat berupa rasa senang, nyaman, kreatif dan imajinatif dan secara positif nyata juga dalam diri seorang dewasa</li>
</ol>
<p>Dari mana inner child itu muncul? Inner child mengacu pada pengalaman dan memori emosional (ingatan pada perasaan kita) ketika kita masih kanak-kanak atau muda, yang tersimpan di dalam otak kita.</p>
<blockquote><p>The inner child also refers to all of the emotional memory and experiences stored in the brain from earliest memory. (Wikipedia)</p></blockquote>
<p>Pengalaman masa lalu kita rupanya disimpan dalam sebuah gudang atau bank di dalam otak kita (brain’s memory bank). Mari kita praktikkan, apakah di dalam benak kita tersimpan memori sejak masa kanak-kanak kita. Pejamkan sejenak mata Anda dan tenangkan diri Anda, lalu bayangkan sebuah peristiwa yang Anda alami bersama orangtua Anda.</p>
<p>Apa yang Anda dapatkan dari pengalaman tersebut? Ada pengalaman negatif yang muncul tetapi juga ada pengalaman positif. Selama inner child itu positif, ia akan mendorong kita secara positif untuk melakukan hal-hal yang baik dan membangun untuk diri kita sendiri dan orang lain.</p>
<p>Saya jadi teringat akan masa lalu saya yang penuh dengan kebebasan. Di usia 5 tahun saya sudah diberikan kebebasan dalam bermain. Saya bermain di tumpukan pasir di depan rumah, main di kolam ikan di belakang rumah, main masak-masakan dengan bahan-bahan dari alam karena kebetulan di depan rumah kami terdapat kebun yang luas. Saya juga mengalami bebasnya bermain sepeda mengelilingi daerah tempat tinggal saya. Ada kalanya saya tersesat tetapi akhirnya menemukan jalan pulang karena bereksperimen keluar masuk jalan-jalan yang asing bagi saya. Saya juga berulang kali tidak jera melewati pinggir kuburan, sekolah, pinggir rel kereta api dan tempat-tempat menarik lainnya bagi petualangan saya setiap siang setelah pulang sekolah.</p>
<p>Kini saat kebebasan itu diberikan kembali, senang rasanya menemukan hal-hal baru dan ide-ide baru.</p>
<p>Berbeda dengan inner child yang negatif. Saat ia muncul, ia akan merusak diri sendiri dan orang lain. Kadang-kadang ia menyakiti dan menekan orang lain bahkan juga orang-orang yang dikasihinya.</p>
<p>Contohnya saja seorang bapak yang selalu ditekan karena rupanya dia adalah anak bungsu dari keluarganya. Ia selalu diminta untuk diam padahal di dalam hati dan pikirannya, ada pemberontakan yang sangat kuat. Di sekolah, karena inner child di dalam dirinya penuh dengan pemberontakan, ia menjadi seorang murid yang sering kali menekan teman-temannya yang lemah. Kemudian pada saat ia dewasa, besar sekali ambisinya untuk menekan orang-orang lemah. Sebagai atasan ia berhasil, ya berhasil untuk memerintah atau memimpin bawahan-bawahannya tanpa memberi kesempatan kepada para bawahan untuk mengemukakan pendapat. Yang dia ketahui hanya satu hal, komunikasi satu arah, pentingnya otoritas dan yang menang adalah mereka yang kuat.</p>
<p>Kalau begitu, tentunya kita perlu tahu, mengapa inner child yang negatif dapat muncul di dalam diri kita. Salah satu alasannya disebabkan oleh disfungsi keluarga (dysfunctional family). Akibatnya, ada ketidakdewasaan yang tertinggal di dalam diri seseorang akibat masa lalu yang mengalami:</p>
<p>•    Pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga tidak menyadari bahwa banyak pelajaran hidup yang mendewasakan kita, telah kita lewatkan. Misalnya, karena kita atau anak-anak kita memiliki banyak kegiatan di luar jam sekolah sewaktu usia sekolah, kita melewatkan masa-masa di mana kita belajar mencuci piring, mengambil minum sendiri, bahkan membereskan tempat tidur. Akibatnya, saat kita beranjak dewasa, kita tidak paham bagaimana caranya mencuci piring, mengambil minum untuk diri kita sendiri, bahkan mengganti seprai kasur kita. Kita atau anak-anak kita berteriak dan marah saat seseorang tidak mengerjakannya untuk kita.</p>
<ul>
<li>Public image atau citra diri sesuai dengan penilaian publik, tanpa menjadi diri kita sendiri. Contohnya saja anak-anak pendeta. Secara tidak langsung, mereka dituntut untuk bertutur kata sopan, menyalami semua orang yang mereka jumpai khususnya di lingkungan gereja dan tempat pelayanan orangtuanya, termasuk tidak boleh melakukan tindakan yang mencoreng image orangtuanya.</li>
<li>Tekanan (repressed) terhadap sukacita, visi (cita-cita) maupun perasaan yang sesungguhnya. Saya jadi teringat kepada seorang oma berusia 69 tahun yang tidak dapat tertawa lepas akibat di masa kecilnya selalu dilarang untuk tertawa keras-keras, apalagi membuka mulut dan memperlihatkan giginya saat tertawa. Katanya, “Ibu saya selalu menegur kami jika kami tertawa lebar-lebar, sebab menurut dia hal itu tidak sopan!”</li>
<li>Kurangnya dorongan untuk mengembangkan potensi dalam hidup. Saya bertemu seorang bapak yang menghendaki anaknya melanjutkan studi ke perguruan tinggi, namun ternyata putranya sangat menyukai seni tari. Syukurlah bapak itu akhirnya merelakan anaknya untuk mengikuti sekolah kejuruan seni dan tari sehingga saat ini anak laki-laki tersebut menjadi penari yang sangat memukau. Namun bukankah ada juga orangtua yang kurang menyadari bahwa sesungguhnya anak-anak mereka memiliki potensi khusus yang perlu digali dan bukan dipaksa untuk menjadi seseorang seperti yang kita inginkan?</li>
</ul>
<p>Akibat dari hal-hal di atas, seseorang akan memunculkan inner child-nya, antara lain dalam bentuk:</p>
<ol>
<li>Penyangkalan terhadap perasaan kita yang sebenarnya. Salah satunya, kita dapat berlaku kasar atau sebaliknya kita tidak pernah mengatakan kalau kita marah, tetapi tiba-tiba kita kabur dari rumah saat mengalami konflik dengan anggota keluarga.</li>
<li>Merasa tidak nyaman di tengah-tengah keributan, kebingungan ketika perasaan kita ditekan.</li>
<li>Keinginan untuk tampil selalu baik dan terlihat baik.</li>
<li>Pemahaman tentang kasih didasarkan pada “apa yang kita kerjakan” dan bukan pada “siapa kita sesungguhnya.” Saya kira, saya sering berjumpa dengan orang-orang seperti ini. Misalnya saat seorang dewasa menunjukkan emosi secara berlebihan, seperti marah yang tidak terkendali sehingga menyakiti orang lain, atau bahkan tertawa lepas tanpa dapat mengontrol diri.</li>
<li>Keinginan untuk bermain mainan anak-anak atau mainan anak dalam bentuk permainan orang dewasa. Film “Big” beberapa belas tahun yang lalu mengingatkan kita pada kenyataan bahwa seorang dewasa dapat menghayati dan menciptakan permainan-permainan anak yang menakjubkan, karena ingatannya akan masa lalu.</li>
</ol>
<p><strong>Kalau begitu pesan apa yang disampaikan melalui pemahaman mengenai Inner Child?</strong></p>
<p>Jika kita masih memiliki inner child yang negatif, kita tidak dapat belajar merasakan sesuatu secara normal, apalagi mengatur/mengatasi stres yang terjadi di dalam hidup kita. Ada juga orang-orang yang sangat suka bekerja tanpa memedulikan hal-hal di sekitarnya (workaholics) bahkan tanpa rasa bersalah meninggalkan keluarganya hidup tanpa dirinya, karena memang tidak dapat menikmati indahnya hidup berkeluarga. Akibat lainnya adalah munculnya orang-orang dewasa yang memiliki rasa bersalah sehingga melakukan segala sesuatu berdasarkan rasa bersalah itu.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana menolong inner child yang ada di dalam diri kita?</strong></p>
<p>Beberapa tips dari artikel tentang inner child adalah dengan cara belajar jujur kepada diri sendiri dan orang lain mengenai perasaan kita yang sebenarnya, bukan dengan cara melampiaskan emosi kita. Selain itu, berikanlah kebebasan kepada imajinasi dan kreativitas kita. Nikmatilah hidup, baik suka maupun duka. Nikmatilah cinta dan siaplah menanggung segala risiko saat menjadi diri sendiri. Terakhir, yang juga penting ialah memulihkan inner child yang menyakiti perasaan kita.</p>
<p>Di dalam kekristenan, pemulihan seperti itu dapat dilakukan dengan cara mengampuni orang-orang yang pernah bersalah kepada kita. Orang itu bisa jadi adalah orangtua yang sangat kita sayangi namum mereka melukai kita di dalam peristiwa-peristiwa tertentu (pada waktu itu) dan tanpa kita sadari kita menyangkal bahwa kita terluka karena mereka. Pemulihan juga dapat dilakukan saat kita membuka lembaran hidup kita yang pahit, yang telah kita kubur dalam-dalam, dengan mengingat nama orang-orang yang telah menyalahkan kita.</p>
<p>Tentu saja proses pemulihan tidak seperti membalikkan telapak tangan, diperlukan doa, keterbukaan hati tetapi juga seringkali diperlukan rekan yang dapat membantu kita untuk melakukan proses pemulihan itu.</p>
<p>Akhirnya, kiranya melalui pemahaman ini kita terbantu untuk menemukan jati diri kita sendiri dan hidup bebas mengikuti kehendak Tuhan tanpa halangan-halangan yang berasal dari dalam diri kita dan dari masa lalu kita yang tidak menyenangkan. Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Riani Josephine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/inner-child/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membentuk Hati yang Taat</title>
		<link>http://gkipi.org/membentuk-hati-yang-taat/</link>
		<comments>http://gkipi.org/membentuk-hati-yang-taat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 11:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5217</guid>
		<description><![CDATA[Saat menyadari bahwa pinsil barunya tertinggal di gereja, Ela (6 tahun) berteriak keras menyalahkan semua orang di mobil. Ia tidak tahu bagaimana caranya meminta dengan baik-baik agar Pak Sopir kembali ke gereja dan Ibu membantu mencarikan pinsilnya. Ia hanya berteriak keras, menendang dan menangis seakan-akan orang telah melakukan hal buruk kepadanya. Tiba-tiba dengan tegas Ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Saat menyadari bahwa pinsil barunya tertinggal di gereja, Ela (6 tahun) berteriak keras menyalahkan semua orang di mobil. Ia tidak tahu bagaimana caranya meminta dengan baik-baik agar Pak Sopir kembali ke gereja dan Ibu membantu mencarikan pinsilnya. Ia hanya berteriak keras, menendang dan menangis seakan-akan orang telah melakukan hal buruk kepadanya. Tiba-tiba dengan tegas Ibu berkata kepadanya, “Kontrol dirimu, Ela!” Secara spontan Ela menjawab, “Aku tidak mau mengontrol diri!”</p></blockquote>
<p>Tentu saja membentuk hati anak menjadi hati yang taat bukanlah pekerjaan semenit, sejam atau sehari. Chip Ingram berkata bahwa anak-anak tidak belajar ketaatan secara kebetulan. Sebagai orangtua, kitalah yang harus berusaha dan berkomitmen untuk mencapainya.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan oleh orangtua Ela agar Ela dapat mengontrol dirinya, seperti nasihat ibunya itu? Sebelum kita membahas mengenai ketaatan, sebaiknya kita melihat dahulu dimensi yang tidak terpisahkan dari ketaatan.</p>
<p><strong>Dimensi pertama adalah pengalaman</strong></p>
<p>Orang yang taat adalah orang yang sudah mengalami pentingnya ketaatan itu sendiri. Ada sebagian anak yang hanya satu atau dua kali diperintahkan untuk mencuci kaki sebelum tidur, dan seumur hidup ingat untuk melakukannya. Ada juga sebagian anak yang memerlukan penjelasan ekstra sampai benar-benar paham, mengapa hal itu perlu dilakukan. Tetapi ada anak-anak lainnya yang tidak dapat diberi perintah atau penjelasan untuk menaati sebuah perintah. Mereka butuh pengalaman buruk agar memahami dan meyakini pentingnya ketaatan itu.</p>
<p>Sebut saja Andre. Sejak usia 6 bulan ia selalu mendekati dan ingin menjamah stop contact di rumahnya sambil merangkak ke arah itu. Ibunya berkali-kali mengangkat dan mengingatkan bahwa memukul tangannya sambil mengatakan, “No!” saat ia berusaha memegang stop contact itu. Juga beberapa stop contact di rumah mereka ditutup kuat-kuat agar ia tidak tertarik untuk mendekati dan memasukkan jarinya ke sana. Namun sampai usia tiga tahun, Andre tetap senang bermain-main di dekat stop contact. Sampai suatu saat di sebuah kamar hotel tempat bermalam keluarganya, Andre diam-diam mendekati stop contact dan memegangnya. Ia terkejut, lalu berteriak dan baru saat itulah orangtuanya tahu bahwa ia benar-benar telah memegang stop contact. Dalam hal ini, Andre adalah orang yang belajar ketaatan dari pengalamannya sendiri, sebab sejak itu, ia justru menjauhi stop contact di manapun ia berada.</p>
<p><strong>Dimensi kedua dari ketaatan adalah iman</strong></p>
<p>Orang yang taat perlu percaya bahwa apa yang dilakukannya membawa kebaikan. Ia tidak dapat secara konsisten dan sukarela untuk taat jika ia tidak meyakini hal itu. Atau setidaknya, orang yang mengarahkannya untuk taat adalah orang yang dapat dipercayainya.</p>
<p>Saya kira, ada juga orang Kristen yang memberikan persembahan atau perpuluhan tanpa tahu apa maksud Tuhan dengan persembahan itu. Mereka memberi karena memang gereja menyediakan amplop untuk itu, atau mereka memberi karena memang ada kantong kolekte yang diedarkan. Ironisnya, jikalau mereka menyadari bahwa perpuluhan mereka sudah terlalu besar jumlahnya, mungkin dapat dibelikan TV atau alat-alat mewah lainnya, barulah mereka mulai bertanya-tanya dan ingin lebih mengetahui tentang tujuan dan manfaat dari persembahan perpuluhan.</p>
<p>Tentu saja anak-anak kita perlu memiliki iman yang benar saat mereka melakukan ketaatan. Salah satunya, mereka perlu mengetahui alasan penting, mengapa Tuhan menyediakan gereja dan sesama orang beriman, juga berbagai kegiatan gereja seperti pelayanan, persekutuan dan pembinaan. Anak-anak perlu tahu, apa yang Tuhan harapkan dari semua ketaatan itu!</p>
<p>Dalam Ulangan 6:4 dikatakan bahwa sumber ketaatan itu adalah Allah. Tuhan-lah Allah kita dan Ia esa. Untuk itulah kita menaati-Nya dengan cara mengasihi-Nya dan melakukan kehendak-Nya.</p>
<p>Hanya orang beriman yang dapat melakukan ketaatan di luar kesanggupan manusia. Kekuatan untuk taat, di satu sisi berasal dari Allah yang berkuasa, dan di sisi lain dari Allah yang penuh cinta. Seorang anak yang belajar taat akan mencapai suatu titik di mana ia menyadari bahwa ia tidak sanggup untuk taat. Setelah itu, ia tahu bahwa upayanya untuk taat hanyalah karena kuasa dan kasih Tuhan. Saat itulah Roh Kudus bekerja membantu dan memberkatinya untuk mencapai ketaatan.</p>
<p><strong>Dimensi ketiga adalah pengulangan</strong></p>
<p>Ketaatan tidak akan terjadi di dalam diri anak jika kita tidak menyediakan sebuah rencana untuk mengajarkannya secara konsisten dan berulang-ulang. Dalam Ulangan 6:4-9 ada kalimat kunci untuk mendukung hal itu, “&#8230;haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya.”</p>
<p>Kapan kita dapat mengajarkan ketaatan kepada anak-anak?</p>
<ol>
<li>Saat kita berada di rumah. Kita mengajarkan ketaatan saat mereka nonton TV, main PS, membaca, bermain, bahkan makan.</li>
<li>Saat kita berada di perjalanan, ketika kita berada di pesawat, di restoran, di mobil, di tempat olah raga, di tempat bermain umum, atau di manapun kita bersama mereka.</li>
<li>Saat kita berada di tempat tidur. Menurut Gary Ezzo, anak-anak memiliki jendela hati. Saat menjelang tidur adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengajarkan mereka mengenai ketaatan dan memuji ketaatan yang telah mereka lakukan. Saat menjelang tidur adalah saat yang paling istimewa bagi orangtua untuk bercakap-cakap dengan anak-anak yang merupakan pemberian Tuhan.</li>
<li>Saat mereka bangun. Tidak heran jika setiap anak dapat diajak untuk mencari Tuhan pada saat ia bangun. Karena waktu ia membuka mata, ia dapat mengambil keputusan untuk apa ia hidup dan dengan cara apa ia hidup. Kesempatan terindah bagi anak-anak adalah ketika mereka mengambil keputusan untuk taat sepanjang hari.</li>
<li>Saat anak-anak mengalami hal baik maupun hal buruk. Hal buruk yang dialami anak saya ialah ketika ia harus menjalani operasi amandel. Namun saat itu justru menjadi saat yang paling baik untuk mengajarkan kasih Tuhan dan sekaligus ketaatan. Ia harus taat untuk makan dan minum dengan teratur agar memiliki kondisi prima menjelang operasi. Ia juga tahu bahwa akibat operasi yang menyakitkan itu, ia sekarang dapat minum es dengan lebih bebas dibandingkan sebelum operasi. Kasih dan ketaatan menyatu dalam pengalaman baik dan sekaligus pengalaman buruk yang dialaminya.</li>
</ol>
<p>Tentu saja untuk setia mengajarkan ketaatan diperlukan ketekunan dan komitmen dari orangtua. Ada seorang ayah yang mengatakan kepada saya, “Saya sampai lelah mengingatkan anak saya untuk tidak bermain-main saat berdoa.” Lalu saya menjawab, “Memang Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengajarkannya berulang-ulang, bahkan sampai kita lelah, bosan dan bersemangat kembali.” Rupanya dimensi lain yang sering kali tidak dilihat oleh kita sebagai orangtua adalah dimensi pengajaran. Maksudnya, saat kita mengajarkan anak kita untuk taat, rupanya Tuhan juga mengajar kita untuk menjadi orangtua yang taat juga.</p>
<p><strong>ORANGTUA YANG SETIA UNTUK TAAT</strong></p>
<p>Orangtua yang setia untuk taat adalah orangtua yang menjalani ketaatan hidupnya di dalam takut akan Tuhan. Seorang ayah yang menghendaki anaknya pergi ke Sekolah Minggu, perlu menyadari seutuhnya bahwa Sekolah Minggu adalah salah satu cara Tuhan untuk membina iman anaknya. Seorang ibu yang menghendaki anak-anaknya hidup sejalan dengan firman Tuhan adalah ibu yang menyadari betapa pentingnya membaca firman Tuhan setiap hari, sama seperti anak-anak membaca buku pelajaran sekolah mereka.</p>
<p>Ada seorang ibu setengah baya yang berkata kepada ibu lainnya, “Saya ingin sekali anak-anak saya melayani di gereja seperti anak-anak Ibu. Bagaimana caranya?” Ibu yang diajak bicara itu hanya bergumam dalam hati, “Caranya tentu dengan berulang-ulang mengajak mereka sejak kecil untuk melayani Tuhan!” Tentu saja hal itu tidak dilakukan oleh ibu yang pertama, sehingga anak-anaknya yang kini sudah beranjak dewasa, meninggalkan gereja.</p>
<p>Orangtua yang taat sesungguhnya merupakan kebanggaan bagi anak-anak mereka. Memang kita tidak akan tahu sekarang, apa yang ada di dalam hati seorang anak. Saya sering mendengar kesaksian spontan dari orang-orang yang berduka atas kematian orangtua mereka. Salah satu yang sering saya dengar adalah kebanggaan anak-anak almarhum atau almarhumah karena almarhum atau almarhumah mencintai Tuhan dan menunjukkan cinta itu dalam kesehariannya. “Ibu saya selalu berdoa!” atau “Ayah saya selalu mengajak kami ke Sekolah Minggu sejak kecil, sehingga saya pun tidak pernah melewatkan waktu untuk membawa anak-anak saya ke Sekolah Minggu.”</p>
<p>Tentu saja ketaatan orangtua kepada Tuhan bukanlah hasil rekayasa, karena anak-anak kita dapat melihat konsistensi antara apa yang kita ajarkan dengan apa yang kita lakukan. Mereka adalah saksi hidup yang paling dekat dengan kita. Itu sebabnya, dimensi yang tidak kalah penting dari semua dimensi saat mengajarkan ketaatan kepada anak adalah dimensi kesaksian. Kita adalah saksi bagi anak-anak kita, bagaimana cara hidup taat kepada Tuhan dalam keseharian. Pendeta, aktivis, guru Sekolah Minggu hanyalah pengajar-pengajar mereka. Terkadang mereka jatuh dalam pencobaan sehingga menjadi teladan ketidaktaatan. Tetapi justru pada saat para tokoh rohani itu tidak menjalankan tugas kesaksian mereka, orangtua diuji untuk meneladankan ketaatan kepada Tuhan dengan hikmat Tuhan. Dengan demikian anak-anak tetap bertahan taat, sekalipun orang-orang di gereja ataupun di lingkungan rohani mereka tidak menjadi saksi yang baik bagi mereka.</p>
<p>Sayang, banyak orangtua justru membuat anak ragu, apakah masih memerlukan ketaatan di zaman yang semakin rusak ini. Saat anak-anak memiliki kesempatan untuk mendapat bocoran soal ujian, justru orangtua yang mendukung untuk memperbanyak soal-soal itu. Atau saat seseorang menawarkan nilai dengan cara yang tidak sehat, orangtua menyetujui hal itu demi harga diri mereka dan nilai yang baik bagi anak-anak mereka. Atau saat tiket murah liburan tersedia, orangtua tidak lagi memikirkan pentingnya ibadah atau pelayanan di hari Minggu demi liburan bersama keluarga.</p>
<p>Lalu pertanyaannya, siapa lagi yang akan membentuk hati anak untuk taat kepada Tuhan dan kehendak-Nya? Biarlah kita menjadi orangtua-orangtua yang bijak karena waktu untuk mendidik anak sangatlah singkat. Berapa tahun waktu yang masih kita miliki sebelum hati anak-anak kita mengeras dan memiliki prinsip mereka sendiri?</p>
<p>Saya ingat sebuah minuman beberapa tahun yang lalu yang booming, dengan menawarkan minuman bak makanan, sehingga saat kita meminumnya kita sudah merasa kenyang. Minuman itu akan mengeras dalam waktu detik. Lalu saya bayangkan, waktu yang saya miliki untuk mengisi pikiran dan hati anak saya tidaklah lama. Sebentar lagi ia sudah dapat mengatakan, “Mami, Papi, aku sudah tahu dan aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan!”</p>
<blockquote><p>Ya Tuhan, ajar kami menghitung hari-hari anak kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana untuk setia mendidik mereka dari sekarang.</p></blockquote>
<p>Pdt. Riani Josephine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/membentuk-hati-yang-taat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IT’s Christmas Time, Again! Sebuah perenungan tentang Natal</title>
		<link>http://gkipi.org/it%e2%80%99s-christmas-time-again-sebuah-perenungan-tentang-natal/</link>
		<comments>http://gkipi.org/it%e2%80%99s-christmas-time-again-sebuah-perenungan-tentang-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 03:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4913</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang membuat anak-anak Anda tahu bahwa bulan ini adalah bulan Natal? Setiap orang memiliki tradisi yang berbeda-beda untuk merayakan atau menandai Natal. Ada yang menghias pohon Natal di rumahnya sejak akhir bulan November. Ada yang memperdengarkan lagu-lagu Natal bahkan dalam ringtone handphone-nya. Ada pula yang mulai sibuk latihan atau rapat untuk acara Natal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang membuat anak-anak Anda tahu bahwa bulan ini adalah bulan Natal? Setiap orang memiliki tradisi yang berbeda-beda untuk merayakan atau menandai Natal. Ada yang menghias pohon Natal di rumahnya sejak akhir bulan November. Ada yang memperdengarkan lagu-lagu Natal bahkan dalam ringtone handphone-nya. Ada pula yang mulai sibuk latihan atau rapat untuk acara Natal di minggu-minggu sebelum Natal.</p>
<p>Masalahnya, apakah Natal hanya sekadar berita sukacita karena ada lilin Natal, lagu Natal, pohon Natal atau bahkan hadiah Natal? Tentu saja tidak. Sayangnya, banyak orang menganggap bahwa inti Natal hanyalah kesempatan atau momen untuk berbagi, sehingga bukan hanya keluarga Kristiani yang berbagi hadiah Natal, tetapi para pedagang di mal atau supermarket juga siap sibuk di hari Natal dengan bingkisan Natal mereka.</p>
<p>Sebagian orang juga berpikir bahwa Natal adalah saat untuk menunjukkan sukacita. Entah apa yang membawa sukacita, yang penting Natal=sukacita. Itu berarti kehebohan dan keramaian Natal harus ditonjolkan di berbagai tempat, acara dan suasana.</p>
<p>Namun sadarkah kita pada sisi lain dari Natal? Setidaknya ada 3 sisi lain dari perayaan Natal yang mudah-mudahan juga dapat menjadi penghayatan kita.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, tidak ada tempat bagi Yesus. Ada 3 kemungkinan mengenai tempat kelahiran Yesus. Yesus dapat saja lahir di kandang milik seorang kaya yang pada waktu itu berfungsi sebagai garasi tempat parkir hewan-hewannya. Atau Yesus dapat juga lahir di dalam sebuah rumah di mana penghuninya sangat sederhana sehingga tempat tinggalnya juga sekaligus merupakan tempat binatang peliharaannya tinggal. Atau Yesus dapat juga lahir di sebuah tempat terbuka di mana para hewan tinggal di sana. Dan hanya fasilitas palunganlah yang ada di sana karena tidak ada seorang pun yang memberi tempat beratap bagi-Nya. Alkitab tidak mencatat mengenai kepastian dari ketiga kemungkinan di atas. Namun pesan dari kisah kelahiran Yesus adalah: tidak satupun hati terbuka untuk menerima kehadiran Sang Bayi.</p>
<p>Tidak ada tempat bagi Yesus. Ya, tidak ada tempat bagi bayi Yesus. Yesus yang datang menawarkan hidup-Nya bagi kita, ditolak sejak Dia dilahirkan. Apakah Yesus mengetuk pintu hati kita juga? Jangan-jangan Ia hanya duduk di luar pintu sementara hidup kita masih diperintah dan dipenuhi oleh karier, uang, kebohongan, kesenangan untuk diri sendiri atau kepura-puraan, sehingga saat kita berbagi di hari Natal, hal itu bukan didorong oleh kecintaan kita kepada Yesus, tetapi karena keinginan kita untuk diperhitungkan sesama.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam Matius 2:13-14 dikisahkan bahwa kehadiran Yesus menjadi ancaman bagi Herodes. Itu sebabnya Yesus segera diungsikan ke tempat yang lebih aman. “Malam itu juga&#8230;” Yesus harus pergi keluar dari tanah kelahiran-Nya. Natal adalah pengorbanan Yesus untuk bertahan hidup bagi yang dicintai-Nya. Ada banyak orang di bulan Natal ini yang juga terancam hidupnya. Terancam PHK (Putus Hubungan Kerja), terancam tidak sekolah lagi, terancam tidak dapat makan 3 kali sehari lagi, terancam bisnisnya, bahkan terancam kesehatannya. Seperti keluarga Yusuf yang terancam, dalam hidup keluarga modern di bulan-bulan ini pun terdapat banyak ancaman.</p>
<p>Apakah kita menjadi orang yang mengancam hidup dan kesejahteraan orang lain? Atau justru di bulan Natal ini kitalah yang sedang hidup dalam keputusasaan? Natal adalah saat di mana kita merenung untuk berubah di tahun yang baru nanti, menjadi pengikut Kristus yang peduli, berbagi dan mengasihi, dan tidak terfokus pada keputusasaan hidup dan mengasihani diri. Yusuf dapat menjadi pria yang putus asa, tetapi semangatnya untuk membawa bayi Yesus mengalahkan berbagai ancaman yang dialaminya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Natal adalah saat di mana Yusuf sebagai kepala keluarga diajar untuk melakukan kehendak Tuhan. Dalam beberapa tahun saja bayi Yesus sudah berpetualang dari satu negeri ke negeri yang lain. Apa yang mendorong Yusuf melakukan kehendak Allah? Dalam kitab Injil, Yusuf bermimpi dan Allah menyatakan kehendak-Nya melalui mimpi Yusuf. Hari ini kita tahu dengan jelas melalui Alkitab (firman Tuhan) apa yang harus kita lakukan sebagai pengikut-Nya. Bisa jadi tahun yang akan datang akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi keluarga kita, usaha kita atau bahkan anak-anak kita. Namun bukankah melalui kesulitan Yusuf sekeluarga kita diingatkan untuk fokus pada kehendak Tuhan, sehingga langkah dan laku kita hanyalah untuk melakukan kehendak Tuhan?</p>
<p>Saya sendiri menghayati Natal tahun lalu dengan adanya pemberian sebuah buku dari teman-teman KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang berjudul “The Purpose of Christmas”. Dalam buku itu dijelaskan bahwa setidaknya ada 3 makna Natal:</p>
<ul>
<li>Pertama, Natal adalah waktu untuk Perayaan (A time For Celebration).</li>
<li>Kedua, Natal adalah waktu untuk menghayati keselamatan dari Tuhan (A Time For Salvation).</li>
<li>Ketiga, Natal adalah waktu untuk mengampuni dan memperbaiki relasi (A Time For Reconciliation).</li>
</ul>
<p>Inti Natal sama sekali bukanlah pada kado-kado yang kita siapkan sepanjang bulan ini, bukan pula pada meriahnya acara Natal di sepanjang bulan Desember, apalagi pada ucapan “Selamat Natal” yang kita sampaikan kepada sesama orang Kristen sambil berpelukan atau berjabatan tangan. Tetapi apakah kita sudah melakukan ketiga hal itu? Merayakan kehadiran-Nya dalam hati kita, menghayati keselamatan-Nya dan memperbaiki relasi kita dengan sesama? It’s christmas time, again. Sudahkah pekerjaan rumah itu kita kerjakan? Tuhan memberkati. Selamat Natal!</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/it%e2%80%99s-christmas-time-again-sebuah-perenungan-tentang-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi yang  Meninggalkan Gereja!</title>
		<link>http://gkipi.org/generasi-yang-meninggalkan-gereja/</link>
		<comments>http://gkipi.org/generasi-yang-meninggalkan-gereja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 03:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4758</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalan pertama saya dengan gereja bukan melalui katekisasi, bukan pula melalui sekolah teologi. Saya pertama kali datang ke gereja pada saat berusia beberapa bulan. Dengan tubuh montok, saya dibawa orangtua saya untuk dibaptiskan di GKI Cawang dan dilayani oleh alm. Pdt. Suradji. Kesan itu sangat mendalam bagi saya, khususnya karena sejak kecil beberapa foto baptis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkenalan pertama saya dengan gereja bukan melalui katekisasi, bukan pula melalui sekolah teologi. Saya pertama kali datang ke gereja pada saat berusia beberapa bulan. Dengan tubuh montok, saya dibawa orangtua saya untuk dibaptiskan di GKI Cawang dan dilayani oleh alm. Pdt. Suradji.</p>
<p>Kesan itu sangat mendalam bagi saya, khususnya karena sejak kecil beberapa foto baptis saya sering diperlihatkan orangtua saya sambil bercerita, “Waktu itu di gereja ada tiga ibu hamil yang selalu berlatih paduan suara bersama-sama. Lihat, ini fotonya! Lalu kami melahirkan di waktu yang berbeda-beda namun pada saat itu (sambil menunjuk foto baptis saya) kami membaptiskan anak bersama-sama.”</p>
<p>Itulah makna gereja yang pertama kali saya pahami. Gereja adalah tempat di mana orang-orang percaya bersikap aktif dan berinisiatif untuk menyerahkan anak-anak mereka sejak kecil kepada Tuhan. Gereja juga tempat di mana ibu-ibu hamil tetap melayani Tuhan dan di mana tak sesuatupun dapat menghalangi orang untuk beribadah dan melayani Tuhan.</p>
<p>Hal kedua adalah ketika saya mengajari ibu saya bagaimana mengajar di Sekolah Minggu. Seingat saya waktu itu saya berusia 5 tahunan. Ibu saya mengatakan bahwa ia akan ikut melayani sebagai guru Sekolah Minggu, tetapi belum mengenal suasana di tempat itu, kecuali bahwa ada banyak anak yang beribadah kepada Tuhan. Lalu, dengan sikap sok tahu, saya membawa sebuah kantong ke kamar dan mengandaikan ibu saya sebagai murid Sekolah Minggu, “Begini Ma, nanti ada persembahan. Semua anak memberi persembahan dan kantong ini diedarkan kepada mereka,” demikian kira-kira perkataan saya kepada ibu saya.</p>
<p>Bukan itu saja, dengan bangganya saya mengikuti ibu saya dalam persiapan guru Sekolah Minggu. Waktu itu persiapan tidak dilakukan pada hari Minggu atau Sabtu namun pada sore hari dan seingat saya dibagi menjadi dua atau tiga kelompok. Tidak heran, saya jadi sangat tidak suka mendengarkan cerita Alkitab di hari Minggu, saat seorang kakak tidak mampu bercerita dengan baik seperti yang saya dengar di persiapan tersebut.</p>
<p>Melalui pengalaman ini saya belajar, bahwa gereja adalah tempat di mana orang mempersiapkan diri untuk melayani Tuhan. Ada orang-orang yang bersungguh-sungguh dan sepenuh hati melayani, bahkan dalam keadaan lelah dan sampai jauh malam. Masih terbayang di benak saya canda tawa mereka, baik kakak-kakak remaja, pemuda atau guru-guru Sekolah Minggu.</p>
<p>Gereja adalah tempat di mana orang-orang senang melayani Tuhan tanpa pamrih. Tetapi juga berisi orang-orang yang menyepelekan tugas-tugas mereka dengan melakukan seadanya. Hal itu terlhat dari guru-guru Sekolah Minggu yang cepat marah, suka sekali datang terlambat dan masa bodoh saat berpapasan dengan anak kecil seusia saya.</p>
<p>Hal ketiga yang saya pelajari tentang gereja adalah ketika saya harus menunggui ayah saya mengikuti rapat Majelis. Rasanya lama sekali menunggu orang-orang dewasa itu berbicara. Saya ingat waktu itu, karena kaki mungil saya, gereja terasa sangat besar dan menyenangkan untuk digunakan sebagai tempat berlarian. Keringat mengucur dengan banyaknya, namun rasanya saya tidak pernah bosan berlari mengelilingi gedung gereja,  baik di dalam maupun di luarnya. Sementara itu, setiap kali saya berjumpa dengan ibu saya, ia sibuk bercakap-cakap dengan beberapa ibu yang juga menunggu suami mereka. Bukan kebetulan jika setiap Minggu seorang bapak (kami menyebutnya ‘Nko’–panggilan untuk orang keturunan Tionghoa), selalu berjualan mi bakso dan pangsit. Enak sekali! Tentu saja ibu saya selalu membelikan mi jika Ayah mengikuti rapat. Itulah hadiah yang menyenangkan sebagai upah menunggu.</p>
<p>Melalui pengalaman itu saya belajar bahwa gereja adalah tempat di mana setiap anggota keluarga dengan senang hati dan tanpa bersungut-sungut saling mendukung untuk melayani Tuhan. Tidak heran jika saat SD, saya juga mengalami bagaimana orangtua saya mengantar dan menunggui saya mengikuti latihan ini dan itu. Beberapa latihan kadangkala dilakukan untuk acara yang berbeda di sebuah perayaan gerejawi. Ada latihan menari, drama atau paduan suara. Bukan itu saja. Hal terindah yang saya alami adalah ketika kami sekeluarga diajak menemani Ayah yang mendampingi sebuah Bible Camp. Menyenangkan sekali menjadi peserta termuda dan ikut menggunakan seragam Camp.</p>
<p>Apakah pengalaman seperti itu juga dialami oleh anak-anak di gereja mula-mula? Saya sendiri tidak tahu jawabnya. Yang saya ketahui melalui Kisah Para Rasul 2:42-47 adalah bahwa jemaat dalam gereja mula-mula itu selalu berkumpul dan bertekun dalam pengajaran.</p>
<p>Ada beberapa kata yang menarik untuk kita pahami dan teladani:</p>
<p><strong>Pertama, mereka bersatu.</strong></p>
<p>Apa yang mereka lakukan? Mereka menjual harta mereka dan membagikan kepada orang-orang sesuai dengan keperluan mereka, karena mereka terjepit sebagai kaum minoritas. Ada yang harus meninggalkan pekerjaan mereka, bukan saja karena pekerjaan itu bertentangan dengan iman mereka, tetapi juga karena majikan mereka tidak suka kepada mereka akibat agama Kristen yang mereka anut.</p>
<p>Di zaman ini, persatuan belum tentu atau bahkan tidak dilakukan dengan cara yang sama dengan jemaat mula-mula. Memang ada sebagian orang yang meneruskan tradisi itu secara harfiah. Misalnya, para pemimpin Essena dari Komunitas Qumran di Timur Yerusalem berkomitmen untuk sama-sama memiliki harta mereka. Namun pesan yang lebih penting dari dari persatuan ialah persatuan jemaat Tuhan untuk memenuhi kebutuhan bersama.</p>
<p>Kalau Yesus sengaja memanggil para murid-Nya dalam kemiskinan total agar mereka saling bergantung dan mendukung, di zaman ini bisa jadi kemiskinan total yang Tuhan izinkan terjadi ialah kemiskinan pengalaman hidup rohani, termasuk kemiskinan anak-anak generasi penerus kita dalam menikmati pengajaran kristiani.</p>
<p>Itulah sebabnya, salah satu persatuan yang dilakukan di gereja kita sejak beberapa bulan terakhir ini adalah persatuan para ibu rumah tangga. Pada setiap hari Selasa, kami bersatu untuk memikirkan kebutuhan anak-anak pada masa kini. Melalui persatuan itu, kami memimpikan hadirnya “Bina Iman Anak.”</p>
<p>Jika di jemaat mula-mula, orang-orang percaya tercerai-berai dan “kering” dalam spiritualitas tanpa persatuan, demikian juga tanpa adanya gereja orang-orang percaya zaman ini, orang akan semakin individualistis dan mati rasa terhadap kehidupan beriman.</p>
<p>Apakah Saudara termasuk orang-orang yang telah menjauh dari gereja atau merasa jauh dari kehidupan bergereja? Ingatlah, diperlukan tindakan aktif dan inisiatif dari kita untuk menyambut gereja Tuhan, yang disediakan untuk kita di zaman ini.</p>
<p><strong>Kedua, mereka bertekun.</strong></p>
<p>Dalam bahasa lainnya dikatakan mereka listening (mendengarkan). Orang percaya dalam jemaat mula-mula tekun mempelajari firman Tuhan. Mereka sangat menikmati berkat Tuhan sehingga mereka tidak putus-putusnya menggali dan mempelajari firman Tuhan. Sebaliknya, orang percaya yang tidak pernah belajar hal baru tentang firman Tuhan, adalah orang Kristen yang kehilangan berkat yang Tuhan sediakan bagi dirinya.</p>
<p>Banyak orang hanya ingin belajar secara kognitif dari khotbah yang mereka dengar pada kebaktian Minggu. Akhirnya ibadah Minggu tidak lebih dari duduk di bangku kuliah. Kita mengeluh saat dosen tidak mengajarkan hal-hal yang menarik untuk kita catat dan tidak menyampaikan kuliahnya dengan metode yang menakjubkan. Padahal pembelajaran yang sesungguhnya, terjadi ketika kita dengan tekun menantikan pesan dari Tuhan melalui berbagai cara. Tuhan dapat memberi pesan kepada kita saat kita berelasi dengan rekan sepelayanan kita, Tuhan juga dapat memberi pesan saat kita ramah kepada warga jemaat lainnya ketika minum teh sepulang kebaktian Minggu. Bahkan Tuhan mau memberi pesan saat kita terbuka untuk dibina, bersekutu dan ikut ambil bagian dalam panggilan untuk melayani-Nya.</p>
<p><strong>Ketiga, mereka bersekutu.</strong></p>
<p>Tahukah Saudara bahwa kualitas sebuah relasi hanya dapat diperoleh dengan adanya kuantitas dari pertemuan itu sendiri? Di zaman ini, kita dapat bertemu melalui handphone. Berbagai layanan telekomunikasi menawarkan pembicaraan dalam bentuk kelompok sehingga sekalipun tanpa tatap muka dengan orang-orang yang kita ajak bicara, kita sudah dapat tersenyum geli membaca ide dan pendapat mereka. Apakah hal itu merupakan persekutuan yang kontekstual di zaman ini? Tentu saja pertemuan secara fisik diperlukan, karena melalui pertemuan secara fisiklah kita diperkaya dengan berbagai perasaan yang menghidupkan jiwa kita.</p>
<p>Selain itu, persekutuan merupakan cara agar kemurahan hati kita muncul satu sama lainnya. Dalam jemaat mula-mula, mereka sampai menjual tanah milik mereka. Rupanya persekutuan membuahkan kemurahan hati. Roh Kudus bekerja sehingga saat mereka bertemu muka dengan muka dalam kumpulan orang percaya, hati mereka digerakkan untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing.</p>
<p><strong>Terakhir</strong></p>
<p>Tetapi bukan yang terburuk, justru sebuah gereja seharusnya menjadi gereja yang memberitakan Injil Tuhan. Di dalam Kisah Para Rasul 2 tadi dikatakan bahwa Tuhan menambah jumlah mereka setiap hari (ayat 47). Dan dengan jelas disebutkan bahwa penambahan jumlah mereka bukan karena mereka ingin makan bersama atau mendapatkan jatah hasil penjualan tanah yang dibagi-bagikan, tetapi karena mereka memberi diri sebagai orang yang diselamatkan.</p>
<p>Saya kira, makna pekabaran Injil di dalam konteks hidup bergereja kita tidak melulu harus mengkristenkan seseorang yang bukan Kristen. Tetapi tugas kita adalah mengupayakan dan mendoakan agar di satu sisi, banyak yang memberi diri mereka kepada Tuhan dan di sisi lain, mereka menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang diselamatkan.</p>
<p>Pertanyaannya, siapakah mereka? Beranjak dari pengalaman saya yang mungkin saja sangat subjektif, saya kira kita harus segera mulai dengan memberitakan Injil kepada anak-anak dan cucu-cucu kita. Mereka adalah generasi yang dapat hilang dari gereja dan meninggalkan gereja. Kitalah yang bertanggungjawab, kitalah yang mendapat tugas dari Tuhan untuk memberi diri bagi generasi kita selanjutnya, agar mereka mengenal gereja, bersatu, bertekun dan bersekutu bersama generasi mereka di gereja kita. Siapkah kita mendukung dan mengantar mereka?</p>
<p>[Pdt. Riani Josaphine]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/generasi-yang-meninggalkan-gereja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Figur Suami dan Ayah Di dalam Keluarga Kristen</title>
		<link>http://gkipi.org/figur-suami-dan-ayah-di-dalam-keluarga-kristen/</link>
		<comments>http://gkipi.org/figur-suami-dan-ayah-di-dalam-keluarga-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 01:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4638</guid>
		<description><![CDATA[Suami adalah kepala keluarga. Efesus 5:23 mengatakan, “Karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dia adalah yang menyelamatkan tubuh.” Begitu pula suami sebagai kepala keluarga wajib mengasihi istrinya, sama seperti tubuhnya sendiri (Efesus 5:28). Sebagai pemimpin di dalam keluarga, suami diharapkan bisa menyatukan keluarganya untuk mencapai tujuan bersama. Ia harus dipercaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suami adalah kepala keluarga. Efesus 5:23 mengatakan, “Karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dia adalah yang menyelamatkan tubuh.” Begitu pula suami sebagai kepala keluarga wajib mengasihi istrinya, sama seperti tubuhnya sendiri (Efesus 5:28).</p>
<p>Sebagai pemimpin di dalam keluarga, suami diharapkan bisa menyatukan keluarganya untuk mencapai tujuan bersama. Ia harus dipercaya oleh semua anggota keluarganya dan menjadi teladan yang baik bagi mereka. Selain itu, ia perlu waspada untuk tidak mengidolakan istri dan anak-anaknya sehingga mengalahkan Tuhan (counterfeit God ).</p>
<p><strong>Bagaimana Figur Suami Kristen yang Diharapkan Oleh Istrinya?</strong></p>
<p>Setiap istri ingin dicintai oleh suaminya dengan sepenuh hati. Hal itu dapat dijabarkan dalam akronim <strong>COUPLE</strong></p>
<p><strong>C = Closeness (Kedekatan)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">“Sebab itu seorang laki laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Awal pernikahan sangat penting untuk menciptakan suasana atau kebiasaan hubungan erat di antara suami istri, sebelum mereka menghadapi masalah di kemudian hari.</p>
<p><strong>O = Openess (Keterbukaan)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Istri menginginkan keterbukaan dari suaminya, karena itu jangan ada yang ditutupi oleh suami. Istri ingin agar masalah yang dihadapi suaminya juga menjadi masalah bersama.</p>
<p><strong>U = Understanding (Pengertian)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Istri mendambakan pengertian dari suaminya dan suami diharapkan untuk banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh istri.</p>
<p><strong>P = Peacemaking (Menciptakan Perdamaian)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Istri berharap bahwa suaminya dapat menjadi juru damai di antara mereka. Suami diharapkan untuk bersikap rendah hati dan mau mengakui kesalahan yang dilakukannya serta meminta maaf kepada istrinya. Permintaan maaf yang enggan diucapkan dapat menimbulkan dendam di hati istri dan menjadi sumber pertengkaran yang tidak ada habisnya. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18).</p>
<p><strong>L = Loyalty (Kesetiaan)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">“Yakni orang-orang yang tidak bercacat, yang mempunyai satu istri” (Titus 1:6a). Istri harus yakin bahwa suaminya cinta dan setia kepadanya, sehingga membuatnya bersemangat dan termotivasi. Inilah yang Tuhan inginkan dalam perkawinan, yaitu pasangan suami-istri yang setia satu sama lain sampai maut memisahkan mereka. Tiger Wood mengatakan, “It may not possible to repair the damage I have done, but I want to do my best to try&#8230; I need to focus my attention on being a better husband, father and person.” (Barangkali saya tidak dapat memperbaiki kerusakan yang sudah saya lakukan, tetapi saya akan berusaha keras untuk mencobanya&#8230; Saya perlu memusatkan perhatian saya untuk menjadi suami, ayah dan pribadi yang lebih baik). Tiger Wood menyadari bahwa sesuatu yang sudah rusak tidak mudah diperbaiki dan ada banyak kemungkinan untuk gagal.</p>
<p><strong>E = Esteem (Penghargaan)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Istri menginginkan agar suaminya menghargai pendapatnya dan memberi dorongan kepadanya. Ia juga berharap bahwa suaminya menghargai apa yang dilakukannya bagi keluarga.</p>
<p>Sebagai suami Kristen, seorang laki-laki harus memberikan kasih yang tak bersyarat. “Hai suami kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. (Efesus 5:25). Di dalam Efesus 5:28-29 juga dikatakan, “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri. Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.”</p>
<p><strong>Ayah Dalam Keluarga Kristen</strong></p>
<p>Seorang ayah di dalam keluarga Kristen wajib mengenalkan anak-anaknya kepada Tuhan dan mendidik mereka agar siap menghadapi masa depan. Efesus 6:4 mengatakan, “Dan kamu, bapak-bapak, jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Amsal 2:6: juga mengajarkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”</p>
<p>Apakah tugas mengenalkan anak-anak kepada Tuhan dapat dipercayakan kepada pendeta atau guru Sekolah Minggu? Tentu saja tidak. Tugas ini tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, karena merupakan tangung jawab orangtua. Pendeta dan guru Sekolah Minggu hanya membantu anak-anak untuk mengenal Tuhan, tetapi bimbingan yang terutama harus dari ayah dan ibu, yang menjadi panutan bagi anak-anak mereka dalam sikap dan kehidupan mereka sebagai anak-anak Allah.</p>
<p>Pendidikan adalah proses penanaman dan pengembangan hal-hal yang baik dalam diri anak. Karena itu orangtua perlu terlebih dahulu mempunyai pemahaman yang baik tentang apa yang perlu dipupuk demi kepentingan hari depan anak-anak mereka. Pendidikan membutuhkan kerja sama yang erat antara ayah dan ibu. Keduanya perlu sepakat dalam mengarahkan pendidikan itu dan sama-sama mengajarkan hal yang benar. Jika upaya ini hanya dilakukan oleh ibu, kelak ayah akan melihat hasil suatu produk yang mungkin berbeda sekali dengan apa yang dikehendakinya.</p>
<p>Apa yang dilarang oleh ibu, hendaknya juga tidak diizinkan oleh ayah. Apa yang dikecam ayah, jangan disanjung oleh ibu. Amsal 1:8 dengan tegas menyatakan hal itu, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Begitu juga kalau ayah dan ibu berbeda pendapat, apalagi terlibat konflik, sebaiknya hal itu tidak dilakukan di depan anak-anak mereka.</p>
<p><strong>Ayah dan Suami Teladan</strong></p>
<p>Seorang anak datang ke rumah Pak Pendeta dengan muka yang sangat sedih. Ia mohon agar Pak Pendeta mau datang ke rumahnya karena ada yang sakit di sana dan perlu didoakan. Dengan tergopoh-gopoh Pak Pendeta datang ke rumah anak itu, tetapi betapa kagetnya ia karena yang sakit hanyalah kucing peliharaan anak itu. Meskipun demikian, agar tidak mengecawakan anak itu, Pak Pendeta tersebut berdoa, “Hai kucing, kalau kamu mau mati, matilah, dan kalau kamu mau hidup, hiduplah. Amin.” Kemudian Pak Pendeta itu pulang.</p>
<p>Beberapa hari kemudian kucing itu sembuh, sehingga anak itu sangat gembira. Untuk menyatakan rasa terima kasihnya ke Pak Pendeta, ia membuat sebuah lukisan. Setelah lukisan itu selesai, ia segera membawanya ke rumah Pak Pendeta, tetapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya, meskipun ia sudah mengetuknya beberapa kali. Ia hampir beranjak pergi, ketika didengarnya pintu dibuka oleh Pak Pendeta yang kelihatan kuyu dan tidak sehat. Anak itu dipersilakan masuk dan ia lalu menyerahkan lukisan hasil karyanya kepada Pak Pendeta. Sebelum pulang, ia meminta izin kepada Pak Pendeta untuk mendoakannya. Dengan wajah yang serius, anak ini lalu berdoa, “Hai Pak Pendeta, kalau kamu mau mati, matilah, dan kalau kamu mau hidup, hiduplah. Amin.”</p>
<p>Kisah ini menggambarkan bahwa anak mudah menirukan sikap dan gaya orang yang lebih tua, karena itu kita harus selalu menjaga perilaku kita dan memberikan teladan yang baik kepada mereka. Ulangan 6:4 dengan jelas mengatakan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ayah akan mudah mendidik anak-anaknya apabila anak-anaknya mempercayainya, demikian pula istrinya.</p>
<p>Ada beberapa saran agar istri dan anak-anak memercayai ayah:</p>
<p><strong>1.	Jujur</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Seorang ayah harus jujur mengakui kesalahannya kepada anak dan istrinya, demikian pula kepada orang lain. Buatlah suasana akrab di dalam keluarga, agar masing-masing mau mengakui perbuatannya yang salah dan meminta maaf, sehingga dapat dicarikan jalan keluarnya. Orangtua yang tidak rendah hati mengakui kesalahannya, memberikan teladan buruk kepada anak-anaknya, dan kelak juga akan menanggung akibatnya.</p>
<p><strong>2.	Konsisten</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Kata dan perbuatan kita harus sama. Orangtua juga harus menghindari tindakan menganak-emaskan anak yang satu, dan memojokkan anak yang lain, sehingga timbul persaingan tidak sehat di antara anak-anak itu. Anak yang dikalahkan akan merasa iri, dendam atau rendah diri, sedangkan anak yang dimenangkan akan bersikap sombong dan tidak mau mengalah.</p>
<p><strong>3.	Integritas</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Kepentingan keluarga dan kepentingan bersama harus didahulukan. Hal ini dicontohkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia berdoa di taman Getsemani untuk menyerahkan diri sebagai penebusan dosa manusia: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat. 26:42). Billy Graham pun tidak gentar menghadapi celaan orang banyak ketika ia mengunjungi seorang pendeta yang di penjara karena korupsi, “sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).</p>
<p><strong>4. 	Komunikasi</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Komunikasi sangat penting di dalam sebuah keluarga dan harus dimulai sejak awal pernikahan. Anak-anak yang sejak kecil dididik untuk membina komunikasi yang baik dengan orangtua mereka, akan selalu merasa nyaman untuk mencurahkan isi hati kepada orangtua mereka, meskipun mereka sudah beranjak dewasa.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Untuk bisa berkomunikasi dengan baik, ayah yang bijaksana harus lebih banyak mendengarkan anak dan tidak cepat membuat kesimpulan sendiri yang akhirnya membuat anak menutup diri. Buatlah suasana yang terbuka dan bersahabat, dan hindarilah penggunaan kata-kata yang otoriter dan merasa benar sendiri. Sedapat mungkin, berbicaralah kepada anak dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Ada pepatah yang mengatakan, “Masuklah kandang ayam dengan berkotek-kotek, dan masuklah kandang kambing dengan mengembik.”</p>
<p>Keempat pokok di atas sangat membantu seorang ayah di dalam mendidik anak-anaknya, karena mereka memercayainya dengan sepenuh hati. Kita juga harus selalu melibatkan Tuhan di dalam mendidik anak-anak kita, karena anak-anak merupakan anugerah indah yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dipelihara dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>Memang tidak mudah mendidik anak-anak, karena kita tidak dapat terus-nenerus bersama mereka. Banyak hal yang dapat memengaruhi mereka, baik teman-teman, lingkungan, televisi, ataupun internet, yang belum tentu berdampak baik bagi pertumbuhan mereka. Namun kita harus berpikir positif dan melakukan tugas yang menjadi bagian kita. Tuhan akan menolong kita.</p>
<blockquote><p>Think the right thing.</p>
<p>Do your best and God will</p>
<p>do the rest.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/figur-suami-dan-ayah-di-dalam-keluarga-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengarkan Mereka!</title>
		<link>http://gkipi.org/dengarkan-mereka/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dengarkan-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 03:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4183</guid>
		<description><![CDATA[Vira dengan mata penuh kebencian memandang marah kepada kakaknya ketika ia diusir, “Saya mau nonton, pergi sana!” Padahal jelas, siang itu Vira lebih dulu duduk nonton TV di ruang keluarga. Vira sangat kesal karena ia sedang asyik menonton acara kesayangannya di TV. Vira tahu, jika kakaknya Reny dilawan, ia akan lebih sakit hati lagi. Jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Vira dengan mata penuh kebencian memandang marah kepada kakaknya ketika ia diusir, “Saya mau nonton, pergi sana!” Padahal jelas, siang itu Vira lebih dulu duduk nonton TV di ruang keluarga. Vira sangat kesal karena ia sedang asyik menonton acara kesayangannya di TV. Vira tahu, jika kakaknya Reny dilawan, ia akan lebih sakit hati lagi. Jadi dengan sangat terpaksa, Vira mengalah. Ia menjauhi kakaknya, masuk ke kamar dan menenangkan kemarahan dalam hatinya sambil mencoba tidur.</p>
<p>Di kamar, Vira mendapati kakak keduanya, Yanti, sedang duduk di depan komputer. Tanpa saling menyapa, keduanya sibuk dengan dunianya masing-masing.</p>
<p>Vira sadar betul, jika ia melaporkan kelakuan Reny kepada Mama, ia tidak akan pernah ditanggapi sementara papanya sedang sibuk di kantor dan tidak punya waktu untuk mendengarkan ceritanya. Jadi dengan hati masih kesal Vira berpikir, percuma saja mencari keadilan dan ketenangan di rumah ini.</p>
<p>Vira memeluk boneka kesayangannya di ranjang. Sambil menenangkan diri, ia melamun. Beberapa waktu yang lalu, keadaan di rumah jauh lebih baik daripada sekarang. Sejak kepulangan kakaknya Reny dari Australia, kondisi rumah menjadi buruk. Padahal ketika Reny 3 tahun bersekolah di Australia, rasanya ia masih bisa hidup damai dengan kakak keduanya, Yanti.</p>
<p>Ia dan Yanti masih bisa tawar-menawar urusan kesenangan di rumah. Jika ia perlu membuat PR/tugas atau ingin bermain di komputer, maka Yanti mau bersikap toleran dan keluar untuk nonton TV. Setelah sekian jam, mereka pun bergiliran: Yanti memakai komputer dan Vira menonton TV. Wah, jauh lebih enak jika Reny tidak ada di rumah.</p>
<p>Menurut Vira, Reny sangat egois. Apapun yang menjadi keinginannya lebih banyak dikabulkan oleh orangtua mereka. Heran, padahal Papa dan Mama selalu melindungi ketiga anak mereka. Namun, jika Reny yang meminta, mereka mengabulkannya. Jika Reny tiba-tiba ingin jalan-jalan ke mal, padahal semua anggota keluarga sedang berada di rumah dan mengatakan, “Pokoknya sekarang saya mau pergi ke mal, ga mau tahu. Harus diantar sama Pak Ade (supirnya),” maka orangtuanya akan mengizinkan Reny pergi. Coba jika Vira atau Yanti yang meminta, langsung dilarang dan tidak ada toleransi sama sekali.</p>
<p>Jangankan urusan pergi ke mal, Vira menelpon temannya saja di rumah, pasti Mama akan segera menyindirnya, “Telpon&#8230; terus aja telpon&#8230;” Atau, “Sms-an terus yah, bagus, terus deh sms-an.” Jika ia mendengar kata-kata sindiran seperti itu, Vira sudah harus mengerti bahwa itu tandanya ia harus berhenti menelpon atau mengirim sms. Jika tidak, Mama akan memutuskan telpon atau merampas hp-nya.</p>
<p>Pikiran Vira melayang jauh. Sambil membenamkan kepalanya ke bantal, Vira teringat akan masa kecilnya. Rasanya waktu itu ia baru berusia 3 tahun. Papa dan Mama bertengkar hebat. Sebenarnya pertengkaran seperti itu tidak satu-dua kali ia saksikan, sudah banyak kali. Namun kali itu, hebat benar. Barang-barang pecah-belah di dapur habis dibanting dan dilempar hingga hancur berantakan oleh papa dan mamanya. Vira bersama kedua kakaknya hanya bisa menyaksikan sambil menangis dan mencari perlindungan dengan memeluk babysitter masing-masing. Sejak itu, mereka berpisah. Mama membawa Reny dan Vira pergi mengungsi ke Batam dan tinggal di sana tanpa kontak dengan Papa selama beberapa waktu. Sementara Yanti tinggal di Bandung bersama Papa.</p>
<p>Perpisahan itu membuat suasana tenang sementara waktu. Vira tidak ingat berapa lama ketenangan seperti ini berlangsung, namun pada akhirnya Papa dan Mama rujuk dan seluruh keluarga berkumpul kembali di Bandung. Vira senang sekali.</p>
<p>Papa keras kepala, demikian juga Mama. Mereka berdua sulit untuk saling mengalah, sehingga pertengkaran masih saja terjadi namun tidak sehebat dulu. Kekerasan mereka berdua sepertinya menurun pada Reny dan sedikit juga kepada dirinya. Vira tahu benar bagaimana Reny sering menyiksa Yanti di mobil tanpa sepengetahuan kedua orangtua mereka. Dalam perjalanan ke sekolah, jika Reny meminta sesuatu ke Yanti dan Yanti tidak mengabulkannya, maka Reny akan melemparkan suatu barang ke muka Yanti sehingga Yanti terluka atau paling tidak lebam pipinya. Di rumah pun hal seperti ini sering terjadi. Namun, Papa dan Mama tidak pernah melihatnya.</p>
<p>Jika berada di rumah, Papa sibuk di ruang kerjanya, sedangkan Mama berada di kamarnya, nonton TV, DVD atau sibuk menelpon teman-temannya. Anak-anak dibiarkan sibuk sendiri dan tidak dipedulikan. Makan diatur oleh pembantu yang sudah dipercaya Mama. Tapi anak-anak tidak boleh keluar rumah.</p>
<p>Vira yang sekarang duduk di kelas 9 (SMP), sudah mulai dapat berpikir, keluarga macam apa yang dimilikinya. Ia tidak akur dengan kedua kakaknya. Reny egois dan bossy. Yanti jarang memedulikannya. Vira merasa sendirian. Ia sering kesal dan bertengkar dengan kakak-kakaknya. Namun, untung Reny tidak berani memukul atau menyiksanya. Vira sering iri melihat teman-temannya yang bisa begitu dekat dan bercanda mesra dengan orangtua mereka. Temannya sering bercerita bagaimana orangtuanya begitu baik, mau mendengarkan dan menanggapi cerita anak-anak mereka. Kenapa di rumahnya keharmonisan seperti itu tidak ada?</p>
<p>Bukan satu-dua kali mereka sekeluarga bepergian ke luar negeri, tapi Vira tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga. Sekalipun semuanya pergi ke tempat yang sama, namun mereka masing-masing punya tujuan dan kesibukan sendiri-sendiri. Vira paling sering jalan bersama Yanti, sementara Reny pergi entah ke mana. Begitu pula Papa dan Mama. Buat Vira, bepergian ke luar negeri ataupun tidak, sama saja. Ia tetap kesepian dan sendirian.</p>
<p>Apa yang terjadi dengan keluarga Vira dalam sekelumit cerita di atas?</p>
<p>Menjadi ayah dan ibu tidaklah mudah. Kita perlu selalu “ada” bagi anak-anak kita. Kita perlu mendengarkan apa yang mereka katakan. Kita perlu menanggapi cerita, keluhan, celoteh, kegembiraan dan kesedihan mereka. Kita harus bersikap adil dan bijaksana terhadap mereka. Kita perlu mengajarkan pola pikir yang positif, agar mereka memandang dunia sekitar mereka dengan positif. Kita perlu memberi teladan dengan menyayangi, membelai, mengusap, memeluk, meraih mereka, terutama ketika mereka menghadapi masalah, agar mereka belajar bagaimana mereka juga dapat menyayangi orang lain, termasuk saudara-saudara kandung mereka.</p>
<p>Ayah dan ibu yang egois, yang hanya memikirkan kesenangan diri sendiri, akan menciptakan keluarga yang tidak harmonis. Ayah dan ibu Vira adalah orangtua yang kurang peduli pada anak-anak mereka. Mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing, sementara anak-anak mereka tidak mendapat perhatian yang cukup. Mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan dan menanggapi anak-anak mereka. Orangtua yang egois, yang ingin menang sendiri, menciptakan kemarahan di hati anak-anak mereka. Anak-anak lalu saling bersaing untuk memenangkan perhatian dan kasih sayang orangtua. Tidak ada kedamaian di hati mereka. Setiap anggota keluarga jadi egois, tidak toleran, ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah.</p>
<p>Ssstt… dengarkan mereka! Dengarkan anak-anak kita! Kita diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memelihara, membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan baik. Janganlah kita menyalahgunakan kepercayaan Tuhan itu dengan bersikap egois. Anak-anak lahir dalam keluarga kita dan hal itu patut kita syukuri. Mereka adalah anugerah Tuhan bagi kita. Mari kita jaga dan pelihara mereka dengan sebaik-baiknya. Mari kita tulus mengasihi mereka dan memberi contoh yang baik kepada mereka. Mari kita dengarkan mereka&#8230;</p>
<p>Jane Simon, MSi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dengarkan-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan  Pernikahan yang  Normal</title>
		<link>http://gkipi.org/kehidupan-pernikahan-yang-normal/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kehidupan-pernikahan-yang-normal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 02:50:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3768</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin pagi (Rabu, 2/12/09), listrik yang mengalir ke rumahku mendadak mati. Yaaaa … padahal aku sedang asyik-asyiknya blogwalking sambil mendengarkan radio. Duh, pagi-pagi sudah kena serangan mati listrik. Beberapa tetanggaku bilang listrik bisa mati sekitar 4 jam. Aduuuh! Pagi yang buruk, pikirku. Tapi untunglah setelah kira-kira bengong selama dua puluh menit, listrik pun menyala. Rutinitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin pagi (Rabu, 2/12/09), listrik  yang mengalir ke rumahku mendadak mati. Yaaaa … padahal aku sedang  asyik-asyiknya <em>blogwalking</em> sambil mendengarkan radio. Duh,  pagi-pagi sudah kena serangan mati listrik. Beberapa tetanggaku bilang  listrik bisa mati sekitar 4 jam. Aduuuh! Pagi yang buruk, pikirku.</p>
<p>Tapi untunglah setelah kira-kira bengong selama dua puluh menit,  listrik pun menyala. Rutinitas pagi mendengarkan radio kembali kujalani.</p>
<p>Radio langgananku saat pagi adalah I-Radio.  Acara Pagi-pagi, oleh <strong>Rafiq</strong> dan <strong>Poetri</strong>.  Sebelum “kenal” dengan mereka, permulaan hari di Jakarta agak  membosankan. Dulu aku masih suka kangen dengan suasana Jogja plus  teman-teman seruangan yang kadang begitu kocak dan membuat suasana jadi  segar. Nah, begitu sampai Jakarta, ke mana cari suasana seperti itu?  Apalagi aku tidak bekerja kantoran. Jadi, sepanjang hari, kalau tidak  ada janji ketemu teman, ya di rumah saja sendirian mengerjakan naskah  yang ada. Nah, begitu aku kenal dengan acara Pagi-pagi, aku jadi seperti  mendapat teman baru. Mereka itu kalau ngomong ceplas ceplos. Dan kadang  bahan siaran mereka membuatku geleng-geleng kepala.</p>
<p>Salah satu yang aku sukai dari acara itu adalah jika mereka mulai  membongkar rahasia orang. Halah… sok pengen tahu juga rupanya aku.  Hihihi. Kemarin itu yang dibahas adalah orang yang menikah  sembunyi-sembunyi.</p>
<p>Gara-gara listrik mati, aku tidak bisa mendengarkan dari awal.  Padahal sepertinya menarik tuh soalnya sepertinya yang dibahas adalah  pernikahan Rafiq (sang penyiar).  Tapi aku benar-benar dapat buntutnya  saja saat Poetri bilang ke Rafiq bahwa istrinya Rafiq termasuk berani  tuh karena biasanya perempuan kalau menikah biasanya kan pengen  ditungguin orang tuanya, bla … bla … bla ….Ah, sayang aku nggak  mengikuti dari awal, jadi tidak tahu ceritanya.</p>
<p>Mau tak mau, aku jadi ingat hal-hal yang harus aku hadapi saat akan  menikah. Yang jelas sih, keluarga besar sudah tahu semua. Dan rasanya  kok tidak kepikiran ya menikah diam-diam. Mana bisa? Minimal tetangga  kiri kanan tahu lah. Dulu sih pengen nggak rame-rame. Males saja sih  harus berdiri cukup lama di atas pelaminan sambil terus menerus  tersenyum dan menyalami tamu-tamu. Tapi teman-teman orang tua dan  kerabatku yang buanyak itu kabarnya bisa protes jika tidak ada acara  resepsi. Ya, sudahlah akhirnya karena kami juga tak ingin acara yang  heboh, dibuatlah resepsi sederhana. Tetapi biarpun sudah didesain  sesederhana mungkin, tetap saja semua orang tahu. Jadi waktu kemarin  mendengar soal menikah diam-diam? Memangnya bisa ya?</p>
<p>Ternyata bisa. Itu kuketahui dari acara Pagi-pagi kemarin. Ada  berbagai cerita dari beberapa narasumber. Sebagian sih, karena itu  pernikahan dengan istri kedua. (Ternyata ada saja ya perempuan yang mau  jadi istri kedua?) Lalu sebagian yang lain karena mereka menikah beda  agama, jadi tidak disetujui orang tua. Kawin lari bahasa kerennya.</p>
<p>Dari sekian banyak cerita itu, ada cerita yang aku ingat. Pertama,  cerita soal laki-laki Islam yang menikah dengan seorang perempuan Budha.  Karena tidak disetujui keluarga, mereka menikah diam-diam secara Islam.  Entah bagaimana, si istri ini mungkin merasa tidak sreg dan akhirnya  pamit pulang meninggalkan suami serta anaknya. E, ternyata dia tidak  pulang. Dia rupanya pergi ke Magelang untuk menjadi biksuni. <em>Owh …!</em> Aku yang mendengarkan cerita yang dikisahkan sang suami jadi trenyuh.  Dari suaranya sih, sang suami kedengaran melas banget dan dia bilang  masih mencintai istrinya. Sesekali dia masih menengok sang biksuni itu  karena baginya, perempuan itu masih istrinya. Wong tidak pernah  bercerai. Tapi laki-laki itu kini sudah menikah lagi dengan perempuan  pilihan orang tuanya. FYI, istrinya yang sekarang ini (istri kedua)  tidak pernah mengetahui bahwa suaminya dulu pernah menikah dan punya  anak sebelumnya. Loh kok bisa? Ya, karena pernikahan pertama suaminya  itu dilakukan diam-diam. Keluarganya tidak tahu. Dan si laki-laki itu  mengatakan bahwa anak tersebut bukan anaknya, tetapi anak dari temannya.  Aduh, aduh… kok bisa ya dia menutupi semuanya itu? Aku tak bisa  membayangkan betapa sulitnya harus menutupi masa lalu yang mungkin  kelam. Dan kupikir, cukup hebat juga si laki-laki itu dalam menutupi  pernikahan pertamanya.</p>
<p>Sebenarnya masih ada beberapa kisah lagi. Intinya sih, mereka yang  diwawancarai via telepon itu mengatakan bahwa mereka harus menutupi  pernikahan mereka karena berbagai hal. Soalnya jika terang-terangan,  bisa-bisa mereka tidak jadi menikah. Kandas deh percintaan mereka.</p>
<p>Mendengar cerita-cerita itu, aku kemudian berpikir bahwa sepertinya  kehidupan pernikahan yang normal itu mahal harganya. Kehidupan  pernikahan normal dalam hal ini adalah pernikahan yang wajar-wajar saja,  di mana seorang perempuan bertemu laki-laki dan bisa menikah baik-baik.  Pernikahan mereka direstui orang tua. Kalaupun ada perbedaan, hal itu  tidak menjadi masalah yang cukup besar sehingga perlu disembunyikan. Aku  membayangkan, betapa beratnya menyembunyikan sesuatu yang “tidak  wajar”. Tahu sendiri kan, kadang masyarakat begitu kejamnya karena  dengan mudahnya memberikan cap begini dan begitu kepada orang-orang yang  “berbeda”. Yah, mungkin memang ada yang salah dalam  pernikahan-pernikahan itu. Tetapi kupikir, seberapa pun salahnya, setiap  orang berhak dicintai.</p>
<p>[blognyakrismariana.wordpress.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kehidupan-pernikahan-yang-normal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

