<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Artikel Humanis</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Drama In Real Lives</title>
		<link>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/</link>
		<comments>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 15:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7275</guid>
		<description><![CDATA[Judul tersebut diambil dari majalah Reader Digest, yang isinya merupakan pengalaman nyata seseorang yang menghadapi suatu peristiwa yang cukup sulit, mencemaskan, mencekam dan hampir putus asa, namun akhirnya terlepas dari situasi tersebut. Lolosnya dia dari situasi tersebut disajikan secara dramatis, di luar kemampuan nalar maupun kekuatan fisiknya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menuturkan pengalaman pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul tersebut diambil dari majalah Reader Digest, yang isinya merupakan pengalaman nyata seseorang yang menghadapi suatu peristiwa yang cukup sulit, mencemaskan, mencekam dan hampir putus asa, namun akhirnya terlepas dari situasi tersebut. Lolosnya dia dari situasi tersebut disajikan secara dramatis, di luar kemampuan nalar maupun kekuatan fisiknya.</p>
<p>Tujuan tulisan ini adalah untuk menuturkan pengalaman pribadi yang benar-benar dialami oleh beberapa teman seiman kita. Biarlah para pembaca menilai sendiri, apakah pengalaman yang mereka alami itu temasuk mukjizat atau kejadian biasa (taken for granted), namun yang pasti, mereka masing-masing meyakini bahwa hanya tangan Bapa, Tuhan yang begitu mengasihi anak-anak-Nya, mengizinkan hal itu terjadi demi kemuliaan-Nya.</p>
<p><strong>JUST IN TIME</strong><br />
Pada saat istirahat usai jalan kaki pagi hari, yang mengawali acara retret Komisi Senior GKI PI di Pondok Remaja, saya melihat Pak Markus sedang berdiri seorang diri. Kesempatan itu saya pergunakan untuk berbincang-bincang dengannya. Mula-mula pembicaraan kami berkisar pada hal-hal biasa sekitar retret dan perkembangan Komisi Senior, namun kemudian berlanjut dengan kisah pengalaman sakit mata Pak Markus, yang berkat pertolongan Tuhan telah sembuh kembali. Saat itu waktu terlalu singkat untuk mendengar semuanya, dan kisah yang utuh baru terungkap ketika saya dan istri saya berkunjung ke rumahnya.</p>
<p>Peristiwa ini terjadi pada awal tahun April 1997. Ketika itu mata kiri Pak Markus terasa sakit yang kemudian menjalar ke belakang kepalanya. Dokter umum yang ditemuinya menganjurkan agar ia memeriksakan diri ke seorang internis, yang pada gilirannya menasihatinya untuk pergi ke dokter mata. Oleh dokter mata, ia disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis syaraf. Di sana, dokter spesialis syaraf tersebut mengatakan bahwa Pak Markus mungkin menderita tumor di kepala dan dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis syaraf/tumor otak di RS. Mount Elizabeth, Singapura. Namun ketika Pak Markus menghubungi rumah sakit tersebut, ternyata ia tidak dapat segera diperiksa karena belum ada tempat yang kosong. Persoalan lain muncul karena paspor Pak Markus dan Bu Lian sudah kedaluwarsa.</p>
<p>Sebelum sakit, Pak Markus selalu mandiri dalam melakukan kegiatan rutinnya, termasuk menyetir mobil. Tetapi ketika keadaannya semakin memburuk, ia harus selalu dituntun oleh Ibu Lian. Sambil menunggu pengurusan paspor, Pak Markus kemudian memeriksakan diri ke dokter lain, yang menganjurkannya untuk pergi ke RSCM dan berkonsultasi dengan seorang dokter senior yang juga profesor di Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa RSCM memiliki peralatan yang lebih lengkap, yang tidak dimiliki oleh banyak rumah sakit lain, seperti MRI.</p>
<p>Hasil pemeriksaan dokter ahli di RSCM mengatakan bahwa tidak ada tumor di kepala Pak Markus. Ia menderita glaukoma dan disarankan untuk segera memeriksakan diri kembali ke dokter mata. Namun, ke dokter mata mana? Puji Tuhan, Pak Markus teringat pada sahabatnya di klub tenis yang berprofesi sebagai dokter mata. Ia segera menelponnya dan diminta untuk datang keesokan harinya. Pak Markus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.</p>
<p>Keesokan harinya, sahabatnya itu menegaskan bahwa ia memang benar menderita glaukoma akut, yang jika tidak segera ditangani akan menyebabkan cacat mata. Hari itu juga, dan diteruskan sampai dua hari berikutnya, Pak Markus menjalani tindakan pembedahan. Sebenarnya praktik dokter mata ini sangat laris sehingga calon pasien yang ingin berkonsultasi kepadanya harus mengadakan janji temu dua bulan sebelumnya. Tetapi atas pertolongan Tuhan, Pak Markus dapat segera ditangani. Pembedahan yang cukup rumit itu pun berhasil, dan mata Pak Markus pulih kembali sehingga ia dapat beraktivitas lagi sebagai arsitek sampai sekarang.</p>
<p>Apa yang dialami oleh Pak Markus merupakan peristiwa yang sangat dahsyat. Dalam kurun waktu 3 hari ia ditangani oleh 7 dokter, dan dalam 3 hari berikutnya ia menjalani tindakan pembedahan yang rumit, yang terlaksana dengan sukses.</p>
<blockquote><p><em>Peliharalah aku seperti biji mata-Mu, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu (Mazmur 17:8)</em></p></blockquote>
<p>(Pak Markus memberikan saran bahwa jika para senior memeriksakan mata, sebaiknya pergi ke dokter mata dan tidak ke ahli kacamata saja, karena glaukoma dapat sewaktu-waktu menyerang kita, dan tidak terbatas pada usia lanjut. Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, silakan menghubungi Pak Markus Anggana).</p>
<p><strong>IT’S A MIRACLE</strong><br />
Beberapa tahun yang lalu saya dan isteri saya menghadiri kebaktian pengucapan syukur di kediaman Pak Frits Sindu atas kesembuhan beliau dari sakit prostat, setelah melalui proses tindakan berkali-kali dan penderitaan fisik yang berat.</p>
<p>&#8220;It’s a miracle,&#8221; kata Bu Evie, istrinya. Dalam kamus Collins Cobuild (student dictionary) kata &#8220;miracle&#8221; didefinisikan sebagai berikut: &#8220;Miracle is a wonderful and surprising event that is believed to cause by God&#8221; (Mukjizat adalah peristiwa luar biasa dan mengejutkan yang diyakini disebabkan oleh Allah).</p>
<p>Peristiwa ini dimulai pada tahun 1980 ketika Pak Frits menemani ayahnya ke Jerman untuk menjalani pemeriksaan kantong kemih dan prostat yang terkena kanker. Adik Pak Frits seorang dokter dan sedang studi di sana. Pada waktu itu, Pak Frits mengantarkan ayahnya untuk berjumpa dengan temannya, seorang dokter Indonesia yang sedang mengikuti spesialisasi urologi di Jerman. Setelah diperiksa oleh dokter tersebut dan profesornya, ternyata penyakit ayah Pak Frits sudah memasuki stadium lanjut sehingga mereka menganjurkan agar ia dibawa kembali ke Indonesia. Sejak itu Pak Frits dan dokter urolog Indonesia ini tetap saling berkomunikasi.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, pada suatu hari urolog tersebut menghubungi Pak Frits. Ia sedang berada di Jakarta dan meminta bantuan Pak Frits untuk mengurus formalitas pabean dan imigrasi karena ia mengadopsi seorang bayi Indonesia yang hendak dibawanya ke Jerman. Pak Frits membantunya sehingga adopsi tersebut berjalan lancar dan bayi itu dapat dibawa ke Jerman. Sebelum berpisah, urolog tersebut berpesan bahwa kalau suatu hari nanti Pak Frits memerlukan bantuan medis, ia tidak usah segan menghubunginya dan sahabatnya ini akan berusaha membantunya. Pak Frits tidak menyangka bahwa hal ini kelak sungguh-sungguh akan menjadi kenyataan.</p>
<p>Pada tahun 1994 Pak Frits mulai merasakan kelainan pada waktu buang air kecil dan memeriksakan diri ke dokter urolog di Singapura. Sejak itu setiap tahun ia secara berkala memeriksakan diri untuk menjalani pemeriksaan PSA. Angka PSA ini pada tahun-tahun berikutnya perlahan-lahan meningkat dan beberapa kali melampaui batas normal sehingga Pak Frits beberapa kali dibiopsi, namun ternyata hasilnya bukan kanker tetapi infeksi.</p>
<p>Pada tahun 2005 terjadi lagi kenaikan angka PSA yang melampaui batas normal dan setelah dibiopsi ternyata hasilnya positif kanker prostat tetapi masih dalam stadium dini. Setelah dilakukan operasi di Singapura, hasilnya belum sepenuhnya bersih sehingga Pak Frits harus menjalani proses radiasi di sana setiap hari selama 40 hari. Setelah itu ia dinyatakan bersih dari kanker. Hanya sebagai akibat dari operasi dan radiasi ini, dalam 5 tahun berikutnya ia harus selalu memakai pampers karena inkonsistensi dalam pengeluaran urinenya.</p>
<p>Pada permulaan tahun 2010 terjadi penyumbatan di saluran kemihnya sehingga Pak Frits harus menjalani tiga kali operasi untuk melancarkannya kembali. Operasi itu dilakukan satu kali di Singapura dan dua kali di Jakarta. Ternyata pengobatan radiasi menyebabkan efek samping pada kantong kemihnya. Dindingnya perlahan-lahan terkelupas dan menyumbat saluran kemih. Karena hal tersebut, dokter memasang kateter untuk menghindari penyumbatan. Sebagai akibat pemasangan kateter ini, terjadi perdarahan jikalau Pak Frits berjalan, sehingga ia tidak berani turun dari tempat tidur untuk jalan-jalan. Selama tiga bulan ia hanya berbaring saja di tempat tidur. Saran-saran dari para dokter Singapura dan Indonesia untuk menangani hal tersebut dianggapnya tidak dapat menyelesaikan permasalahannya dan tidak memberikan kualitas hidup yang lebih baik kepadanya.</p>
<p>Akhirnya Pak Frits teringat pada sahabatnya yang dokter urolog di Jerman. Ia segera menghubunginya dan disarankan untuk menjalani pengobatan di Jerman karena di sana mereka sudah berpengalaman dalam menanggulangi kondisi seperti itu. Sahabatnya itu bahkan menjamin bahwa setelah operasi, Pak Frits akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Ia juga menguraikan bahwa kantong kemih Pak Frits akan dibuang karena tidak bisa dipertahankan lagi, dan dari ginjal, urine di saluran kemih akan dialirkan keluar melalui dinding perut dan ditampung oleh sebuah kantong. Tindakan tersebut disebut &#8220;urostomi.&#8221;</p>
<p>Mendengar hal tersebut Pak Frits sempat merasa kecil hati karena hal ini tidak umum. Tetapi dengan dasar keyakinan iman yang besar, ia percaya bahwa hal ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepadanya.</p>
<p>Meskipun kawan-kawan di Jakarta pada waktu itu menguatirkan keadaan Pak Frits yang harus melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan ke Jerman, tetapi dengan keyakinan dan iman bahwa semua hal ada di dalam kuasa Tuhan, maka akhirnya ia berangkat ke sana dengan didampingi oleh istri dan adik iparnya yang juga seorang dokter. Hasil operasi tersebut sangat memuaskan dan penyembuhan pun berjalan sangat cepat.</p>
<p>Tuhan sungguh memberkati seluruh rangkaian perjalanan ke Jerman ini. Di pesawat terbang yang membawa mereka ke sana, Bu Evie, yang semula duduk di kelas ekonomi, diberi kemudahan untuk duduk di kelas bisnis sehingga dapat terus membantu suaminya. Bu Evie dan adik iparnya juga mendapat penginapan yang cukup baik dengan biaya yang terjangkau, yang dikelola oleh seorang dokter Indonesia. Ada trem yang melewati penginapan tersebut menuju rumah sakit, sehingga biaya transportasi relatif murah. Keluarga dokter ini taat pada Tuhan dan sangat menolong dalam memberikan dukungan moral. Ada juga beberapa ibu Indonesia yang berkunjung menemani Bu Evie selama di Jerman.</p>
<p>Setelah Pak Frits sembuh dan kembali ke Indonesia, beberapa sahabat yang mengunjunginya melihat perbedaan nyata di dalam dirinya. Tidak tampak kelesuan di dalam dirinya, karena kini ia sudah sehat dan penuh vitalitas kembali. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pendeta dan teman yang mendukungnya dalam doa dan empati pada saat ia sakit. Tuhan sudah menjamahnya dan ia sembuh.</p>
<p>Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: &#8220;Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.</p>
<blockquote><p><em>Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.(Yesaya 43:1-2)</em></p></blockquote>
<p>Sola Gracia</p>
<p>Nono Purnomo (Penyunting)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/drama-in-real-lives/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesukaan Bagi Dunia</title>
		<link>http://gkipi.org/kesukaan-bagi-dunia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kesukaan-bagi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 16:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7055</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki tua itu duduk di bilik pompa bensinnya pada suatu malam Natal yang dingin. Sudah bertahun-tahun ia tidak pergi ke mana-mana sejak istrinya meninggal. Hari itu sama seperti hari-hari lainnya. Ia tidak membenci Natal, hanya tidak menemukan alasan untuk merayakannya. Ia sedang duduk di sana sambil memandang ke salju yang terus turun sejak sejam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lelaki tua itu duduk di bilik pompa bensinnya pada suatu malam Natal yang dingin. Sudah bertahun-tahun ia tidak pergi ke mana-mana sejak istrinya meninggal. Hari itu sama seperti hari-hari lainnya. Ia tidak membenci Natal, hanya tidak menemukan alasan untuk merayakannya. Ia sedang duduk di sana sambil memandang ke salju yang terus turun sejak sejam yang lalu dan merenung ketika pintu terbuka dan seorang laki-laku tunawisma masuk.</p>
<p>Alih-alih menyuruhnya pergi, George Tua–sebagaimana ia dikenal oleh para pelanggannya–berkata kepada orang itu untuk duduk di dekat pemanas dan menghangatkan tubuhnya. &#8220;Terima kasih, tetapi saya tidak bermaksud mengganggu Anda,&#8221; kata orang asing itu. &#8220;Saya lihat bahwa Anda lagi sibuk. Saya pergi saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan pergi sebelum mengisi perut dengan sesuatu yang hangat,&#8221; kata George. Ia lalu membalikkan badan dan membuka sebuah termos yang lebar mulutnya lalu memberikannya kepada orang asing itu. &#8220;Ini tidak banyak, tetapi hangat dan enak. Bubur yang saya buat sendiri. Kalau Anda sudah makan, di sana ada kopi yang baru dibuat.&#8221;</p>
<p>Tepat pada waktu itu ia mendengar suara &#8220;ding&#8221; dari bel di pintu masuk. &#8220;Maaf, sebentar ya,&#8221; kata George. Di depan pintu ada sebuah Chevrolet tua tahun 1953. Asap mengepul dari bagian depan mobil. Pengemudinya tampak panik. &#8220;Pak, apakah bisa bantu saya?&#8221; kata pengemudi itu dengan aksen Spanyol yang dalam. &#8220;Istri saya sedang hamil dan mobil saya mogok.&#8221; George membuka kap mobil itu. Keadaannya buruk. Blok tampak pecah karena dingin, mobilnya mati.</p>
<p>&#8220;Anda jangan pergi dengan mobil ini,&#8221; kata George dan membalikkan badannya.</p>
<p>&#8220;Tapi Pak, tolonglah saya&#8221;</p>
<p>Pintu kantor menutup di belakang George ketika ia masuk ke dalam. Ia menuju ke dinding kantor dan mengambil kunci truk tuanya, lalu kembali keluar. Ia berjalan mengelilingi bangunan itu, membuka garasi, menstarter truk dan mengemudikannya ke tempat di mana pasangan ini sedang menunggu. &#8220;Ini, pakai truk saya,&#8221; katanya. &#8220;Memang tidak bagus kelihatannya, tapi jalannya baik.&#8221;</p>
<p>George membantu istri yang hamil itu naik ke dalam truk dan memandang ketika truk itu pergi di dalam kegelapan malam. Ia berbalik dan masuk kembali ke kantornya. &#8220;Saya senang bisa memberikan truk itu kepada mereka, karena ban-ban mobil itu juga sudah usang. Ban-ban truk tua itu masih baru&#8230;&#8221;</p>
<p>George mengira bahwa ia sedang berbicara kepada orang asing tadi, tetapi laki-laki itu sudah pergi. Termosnya terletak di atas meja dan sudah kosong, dengan cangkir kopi yang sudah dipakai. &#8220;Ya, setidak-tidaknya perutnya tidak kosong,&#8221; pikir George.</p>
<p>George kembali keluar untuk melihat apakah Chevrolet tua itu mau distarter. Mobil itu perlahan-lahan hidup. Ia memasukkannya ke dalam garasi, di mana truk tadi berada. Ia berpikir untuk memperbaikinya, sambil melewatkan waktu. Malam Natal biasanya sepi pelanggan. Ia menemukan bahwa blok itu tidak rusak, hanya selang bawah radiatornya pecah. &#8220;Wah untung, aku dapat membetulkannya,&#8221; katanya kepada diri sendiri. Jadi ia menggantinya dengan selang yang baru.</p>
<p>&#8220;Mereka tidak bisa melalui musim dingin dengan ban-ban itu.&#8221; Ia lalu mengambil snow treads (pelapis ban untuk berjalan di atas salju) dari mobil Lincoln tua istrinya. Masih seperti baru dan ia toh tidak akan mengendarai mobil ini.</p>
<p>Ketika sedang bekerja, ia mendengar suara tembakan. Ia lari keluar dan melihat seorang perwira terbaring di tanah yang dingin, di samping sebuah mobil patroli. Bahu kirinya berdarah, dan perwira itu mengerang, &#8220;Tolong saya.&#8221;</p>
<p>George menolong perwira itu masuk ke dalam sambil mengingat-ingat pelatihan yang diterimanya di Angkatan Bersenjata sebagai tenaga medis. Ia tahu bahwa luka itu perlu ditangani. &#8220;Harus ditekan untuk menghentikan perdarahan,&#8221; pikirnya. Perusahaan pengantar seragam baru datang pagi itu dan meninggalkan handuk-handuk yang bersih. Ia memakai handuk-handuk itu dan menggunakan lakban untuk mengikat luka tersebut. &#8220;Hai, memang lakban itu serba guna ya?&#8221; katanya untuk membuat polisi itu lebih tenang.</p>
<p>&#8220;Sekarang obat buat rasa sakit,&#8221; pikir George. Ia hanya punya pil yang biasa dipakainya untuk meringankan sakit pinggang. &#8220;Ini bisa membantu.&#8221; Dituangkannya sedikit air di gelas dan diberikannya pil itu kepada si perwira. &#8220;Tunggu sebentar ya, saya panggil ambulans.&#8221;</p>
<p>Telpon ternyata mati. &#8220;Mungkin saya bisa memanggil salah satu teman Anda dari kotak suara yang ada di mobil Anda.&#8221; Ia keluar tapi menemukan bahwa sebuah peluru telah mengenai dashboard dan merusakkan radio komunikasi itu.</p>
<p>Ia kembali dan menemukan si polisi sudah duduk. &#8220;Terima kasih,&#8221; kata perwira itu. Anda bisa saja membiarkan saya di sana. Orang yang menembak saya masih berkeliaran di dekat sini. George duduk di sampingnya. &#8220;Saya tidak pernah meninggalkan orang yang terluka di Angkatan Bersenjata dan saya tidak akan meninggalkan Anda.&#8221; George membuka perban untuk mengecek perdarahan. &#8220;Lukanya tidak separah kelihatannya. Peluru itu memang masuk ke dalam, tapi tidak mengenai bagian yang penting. Saya kira bahwa Anda bisa cepat sembuh.&#8221;</p>
<p>George berdiri dan menuangkan secangkir kopi. &#8220;Mau pakai gula?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Tidak usah,&#8221; kata si perwira.</p>
<p>&#8220;Oh, Anda harus minum. Ini kopi yang terbaik di kota ini. Sayang saya tidak punya donat.&#8221; Si perwira tertawa dan meringis pada saat bersamaan.</p>
<p>Pintu depan kantor terbuka lebar-lebar. Seorang laki-laki muda masuk dengan mengacungkan sebuah pistol. &#8220;Berikan semua uangmu! Sekarang juga!&#8221; teriaknya. Tangannya gemetar dan George langsung tahu bahwa ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Itu orang yang menembak saya!&#8221; seru si perwira.</p>
<p>&#8220;Nak, mengapa Anda melakukannya?&#8221; tanya George, &#8220;Anda perlu menyimpan pistol itu. Orang lain bisa terluka.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu bingung. &#8220;Tutup mulut Pak Tua atau saya akan menembakmu juga. Ayo, berikan uang kepada saya!&#8221;</p>
<p>Si polisi meraih pistolnya. &#8220;Simpan barang itu,&#8221; kata George kepada polisi tersebut, &#8220;sudah terlalu banyak pistol di sini.&#8221;</p>
<p>Ia mengalihkan perhatiannya kepada laki-laki muda itu. &#8220;Nak, ini Malam Natal. Jika Anda ingin uang, saya akan berikan. Memang tidak banyak tapi hanya itu yang saya punya. Sekarang simpan pistolmu.&#8221;</p>
<p>George mengambil 150 $ dari kantongnya dan menyerahkan kepada laki-laki muda itu, sambil pada saat bersamaan meraih pistol tersebut. Laki-laki muda itu melepaskan cengkeraman dari pistolnya, jatuh berlutut dan mulai menangis. &#8220;Saya tidak mahir menggunakannya. Yang saya inginkan ialah membeli sesuatu untuk istri dan anak saya,&#8221; katanya melanjutkan. &#8220;Saya sudah kehilangan pekerjaan saya, saya harus membayar sewa rumah dan mobil saya minggu lalu disita.&#8221;</p>
<p>George menyerahkan pistol itu kepada si polisi. &#8220;Nak, kita semua bisa terdesak oleh keadaan. Kadang-kadang jalan itu keras, tetapi kita harus melaluinya sebaik mungkin.&#8221;</p>
<p>Ia menyuruh laki-laki muda itu berdiri dan mendudukkannya di kursi di seberang polisi itu. &#8220;Kadang-kadang kita melakukan hal yang bodoh.&#8221; George memberikan secangkir kopi kepada laki-laki muda itu. &#8220;Membuat kebodohan adalah suatu hal yang membuat kita manusiawi. Masuk ke sini dengan pistol bukanlah jawabannya. Nah, sekarang duduklah di sini dan hangatkan badanmu dan kita akan mencari jalan keluarnya.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu berhenti menangis. Ia memandang kepada si polisi.&#8221; Maaf, saya menembak Anda. Pistol itu tiba-tiba meletus. Saya minta maaf, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Diam dan minumlah kopimu,&#8221; kata si polisi.</p>
<p>George dapat mendengar suara sirene di luar. Sebuah mobil polisi dan sebuah ambulans berhenti di depan pintu. Dua orang polisi masuk ke dalam dengan mengokang senjata.</p>
<p>&#8220;Chuck! Kamu oke?&#8221; tanya salah seorang polisi kepada perwira yang terluka.</p>
<p>&#8220;Tidak buruk buat orang yang tertembak. Bagaimana kalian menemukan saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Petunjuk lokasi GPS di mobil. Penemuan hebat masa kini. Siapa yang melakukannya?&#8221; tanya polisi lainnya sambil menghampiri laki-laki muda itu.</p>
<p>Chuck menjawab, &#8220;Saya tidak tahu. Orang itu lari di dalam kegelapan. Dia hanya menjatuhkan pistolnya dan lari.&#8221;</p>
<p>George dan laki-laki muda itu saling berpandangan dengan heran.</p>
<p>&#8220;Orang itu kerja di sini?&#8221; tanya polisi itu lebih lanjut.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; kata George. &#8220;Saya baru mempekerjakannya hari ini. Dia kehilangan pekerjaannya.&#8221;</p>
<p>Beberapa paramedis masuk dan mengangkat Chuck ke brankar. Laki-laki muda itu membungkuk ke polisi yang terluka itu dan berbisik, &#8220;Mengapa?&#8221;</p>
<p>Chuck hanya berkata, &#8220;Selamat Natal, Nak dan juga untuk Anda, George, dan terima kasih untuk semuanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, Anda bisa bernapas lega. Ini mestinya dapat memecahkan beberapa masalah Anda.&#8221;</p>
<p>George pergi ke ruang belakang dan keluar dengan membawa sebuah kotak. Ia mengeluarkan sebuah kotak cincin. &#8220;Ini dia, sesuatu untuk istrimu. Saya rasa Martha tidak keberatan. Ia bilang kalau suatu hari barang ini bisa berguna.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu melihat cincin berlian terbesar yang pernah dilihatnya. &#8220;Saya tidak bisa menerimanya,&#8221; katanya. &#8220;Cincin itu berarti untuk Anda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang cincin ini berarti untuk Anda,&#8221; jawab George. &#8220;Saya menyimpan kenang-kenangan. Itu cukup bagi saya.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu mulai menangis lagi dan ia menyerahkan kembali uang 150 $ yang tadi diberikan laki-laki tua itu kepadanya.</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana Anda membeli makanan untuk Natal? Bawa saja uang itu,&#8221; kata George. &#8220;Sekarang pulanglah ke keluargamu.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu berpaling dengan air mata yang mengucur di wajahnya. &#8220;Saya akan datang ke sini besok pagi untuk bekerja, jika tawaran kerja itu masih berlaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. Hari Natal saya tutup,&#8221; kata George. &#8220;Datanglah lusa.&#8221;</p>
<p>George membalikkan badan dan melihat bahwa orang asing itu telah kembali. &#8220;Anda datang dari mana? Saya kira Anda sudah pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya ada di sini. Saya selalu ada di sini,&#8221; kata orang asing itu. &#8220;Anda bilang bahwa Anda tidak merayakan Natal. Mengapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, setelah istri saya meninggal, saya tidak mengerti buat apa semua kerepotan ini. Menghias pohon Natal serasa membuang-buang pohon cemara yang baik. Membuat kue seperti yang saya lakukan bersama Martha tidak sama jika saya membuatnya sendiri dan selain itu saya juga sedikit bertambah gemuk.&#8221;</p>
<p>Orang asing itu meletakkan tangannya ke atas bahu George. &#8220;Tetapi Anda merayakannya, George. Anda memberi makan dan minum kepada saya dan menghangatkan saya ketika saya kedinginan dan lapar. Perempuan yang hamil tadi akan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi dokter yang terkenal. Polisi yang Anda tolong, akan pergi untuk menyelamatkan 19 orang dari pembunuhan teroris. Laki-laki muda yang berusaha merampok Anda, akan membuat Anda menjadi kaya dan tidak akan mengambil apa-apa untuk dirinya sendiri. Itulah inti Natal dan Anda telah memeliharanya dengan baik.&#8221;</p>
<p>George terkejut mendengar segala hal yang dikatakan orang asing itu. &#8220;Bagaimana Anda tahu semuanya ini,&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Percayalah kepada saya, George. Saya punya catatan tentang semua ini. Dan kalau waktu Anda di dunia selesai, Anda akan bersama Martha kembali.&#8221;</p>
<p>Orang asing itu beranjak ke pintu. &#8220;Mohon maaf, George, saya harus pergi sekarang. Saya harus pulang karena ada perayaan besar menanti saya.&#8221;</p>
<p>George memandang ketika jaket kulit tua dan celana sobek yang dikenakan orang asing itu berubah menjadi jubah putih. Sebuah cahaya keemasan memenuhi ruangan.</p>
<p>&#8220;Anda tahu, George&#8230; ini ulang tahunku. Selamat Natal.&#8221;</p>
<p>George jatuh berlutut dan menjawab, &#8220;Selamat Ulang Tahun, Tuhan Yesus.&#8221;</p>
<p>(Terjemahan bebas dari &#8220;Joy to the World&#8221;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kesukaan-bagi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I Think I’m In Love! Mempersiapkan Anak Remaja Kita&#8230;</title>
		<link>http://gkipi.org/i-think-i%e2%80%99m-in-love-mempersiapkan-anak-remaja-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/i-think-i%e2%80%99m-in-love-mempersiapkan-anak-remaja-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 15:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6928</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai orangtua, pernahkah kita membayangkan masa di mana pertama kali kita jatuh cinta? Coba bayangkan kekonyolan-kekonyolan yang kita buat saat itu. Mulai dari berdandan lebih rapi dan mematut diri berkali-kali di depan cermin, menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan perasaan kita, atau malu-malu saat berhadapan atau melihat orang yang kita sukai. Tidakkah kita juga berpikir bahwa anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orangtua, pernahkah kita membayangkan masa di mana pertama kali kita jatuh cinta? Coba bayangkan kekonyolan-kekonyolan yang kita buat saat itu. Mulai dari berdandan lebih rapi dan mematut diri berkali-kali di depan cermin, menyanyikan lagu-lagu yang mengekspresikan perasaan kita, atau malu-malu saat berhadapan atau melihat orang yang kita sukai.</p>
<p>Tidakkah kita juga berpikir bahwa anak-anak remaja (bahkan anak-anak kita yang masih duduk di kursi Sekolah Dasar) merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan puluhan tahun yang lalu? Bedanya, ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa cinta atau ketertarikan mereka di zaman ini. Pertanyaannya, bagaimana mengetahui perasaan anak-anak kita dan menyikapi saat mereka jatuh cinta?</p>
<p><strong>JATUH CINTA–KETERTARIKAN PADA PANDANGAN PERTAMA</strong></p>
<p>Tuhan Yesus sendiri sering tergerak hati-Nya saat melihat seseorang dan karena gerakan hati itulah Ia menunjukkan cinta kepada orang tersebut. Kalau begitu, bukankah mitos &#8220;jatuh cinta pada pandangan pertama&#8221; dapat berlaku bagi anak atau remaja kita?</p>
<p>Yesus mencintai manusia dan Dia mengenal kita. Dalam Yohanes 2:24 dikatakan bahwa Yesus mengenal kita semua. Ia tahu siapa kita dan sekalipun Ia tahu kelebihan atau kelemahan kita, Ia tetap mengasihi kita. Itu sebabnya tidak sama seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, Yesus tahu dengan jelas siapa orang yang dikasihi-Nya.</p>
<p>Tentu saja ayat ini tidak dapat digunakan untuk membenarkan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dr. James Dobson mengatakan, &#8220;<em>Love requires knowledge</em>.&#8221; Berarti dibutuhkan pengetahuan atau pengenalan terhadap orang yang kita cintai, untuk menjalin sebuah relasi dengan komitmen untuk saling menyayangi. Itu sebabnya anak-anak atau remaja kita perlu memiliki pemahaman bahwa jatuh cinta bukanlah segalanya untuk memulai sebuah relasi, apalagi karena jatuh cinta sangat berbeda dengan pengalaman bertumbuh di dalam cinta seperti yang dialami orang-orang dewasa pada umumnya.</p>
<p>Kalau begitu, pertanyaannya bagaimana mereka dapat menyadari bahwa saat mereka jatuh cinta, mereka tidak perlu terlalu terburu-buru menjalin cinta di masa remaja dan menjauh dari teman-teman sepergaulannya? Tentu jawaban atas pertanyaan tersebut bukanlah jawaban yang mudah. Perlu beberapa langkah ke belakang untuk kita kerjakan sebagai orangtua.</p>
<p>Yang pasti, tidak ada salahnya jika anak atau remaja kita merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun yang penting mereka ketahui adalah bahwa ketertarikan yang mereka miliki itu, bukanlah alasan untuk segera menjalin ikatan khusus yang mereka sebut dengan pacaran.</p>
<p>Itu berarti, saya bukan hendak mengatakan bahwa anak atau remaja kita tidak boleh jatuh cinta, namun mereka perlu tahu bahwa perasaan itu perlu dikendalikan. Dan kendali itu terletak pada cara berpikir mereka. Sampai pada tahap ini, tentu saja anak atau remaja kita membutuhkan teman untuk berbagi cerita dan pandangan-pandangan yang positif berkaitan dengan nilai hidup mengenai &#8220;cinta&#8221;. Untuk itulah mereka membutuhkan kita sebagai orangtua, sahabat dan &#8220;konsultan cinta&#8221; sampai mereka memiliki nilai (value) yang benar tentang hal ini.</p>
<p>Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, sebenarnya apa saja yang dapat kita lakukan kepada anak atau remaja kita?</p>
<p><strong>Di satu sisi, BELAJAR MEMAHAMI PERASAAN ANAK</strong></p>
<p>Saat yang paling berharga bagi kita sebagai orangtua adalah saat di mana kita memahami perasaan anak-anak kita. Apakah kita sudah menggunakan golden moment (masa keemasan) itu dengan baik setiap harinya? Mulailah dengan membahasakan perasaan anak kita, misalnya: Apakah kamu lelah seharian ini di sekolah? Atau kelihatannya kamu sedang berbunga-bunga. Mama ikut merasakannya.</p>
<p>Saat anak mengetahui bahwa ada seorang yang ikut merasakan perasaannya, saat itulah ia juga dapat merasakan nikmatnya berada di rumah bersama orangtuanya. Rumah bagaikan Home bagi mereka karena ada teman yang berbagi perasaan dengan mereka.</p>
<p>Tentu Anda tidak perlu berada 24 jam di rumah untuk dapat membuat anak home sweet home. Hanya diperlukan waktu dan kesediaan untuk merasakan apa yang anak rasakan dan mengatakan bahwa kita turut merasakannya, sehingga saat anak remaja Anda mengatakan, &#8220;<em>I Think I’m in love</em>,&#8221; kita dapat duduk bersama merasakan bunga-bunga yang dirasakannya. Tentu saja bukan sekadar memahami dan merasakan perasaannya. Tetapi juga mencoba memahami pikirannya.</p>
<p>Saat anak remaja kita tahu bahwa apa yang dirasakannya juga dirasakan oleh kita sebagai orangtuanya, tentu hal itu dapat menjadi pintu baginya untuk menyatakan pikirannya. Selanjutnya, kita ditantang untuk berdialog dengannya tanpa ia menutup pintu hatinya kepada kita.</p>
<p><strong>Di sisi lain, BELAJAR MENELUSURI CARA BERPIKIR ANAK</strong></p>
<p>Dua hal yang berbeda dalam diri setiap orang, termasuk dalam diri setiap anak atau anak remaja kita adalah antara pikiran dan perasaan mereka. Anak remaja yang sedang jatuh cinta tahu bahwa sesungguhnya adalah hal yang biasa jika seorang pria duduk di sebelah seorang wanita. Namun perasaannya mengatakan hal yang berbeda. Dalam perasaan seorang remaja, duduk di sebelah orang yang baru saja disukainya merupakan hal yang memalukan dan menegangkan. Ada dua kemungkinan yang mereka dapat lakukan, pergi jauh-jauh untuk mengusir rasa malu tersebut, atau duduk di dekatnya sambil merasakan gejolak bunga-bunga cintanya.</p>
<p>Pengalaman seperti itu yang ada di dalam benaknya. Ia membutuhkan jalan keluar dan teman berbagi cerita. Jika kita dapat merasakan kebingungannya, empati dengannya, di satu titik tertentu ia pasti butuh usulan jalan keluar dari kita.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mengusulkan sesuatu yang disetujui olehnya? Berbeda dengan usulan teman-temannya seperti, &#8220;Tulis surat saja kepada orang itu!&#8221; atau &#8220;Tembak aja lewat sms atau bbm!&#8221; Tentu saja kita tidak akan mengusulkan hal yang sama dengan itu. Namun setidaknya kita dapat membahasakan perasaan orang yang dicintainya itu sebagai reaksi saat dia berhadapan dengan anak remaja kita.</p>
<p>Kita dapat mengatakan, &#8220;Kalau kamu sms dia dan menyatakan perasaanmu, apakah dia dapat berpikir&#8230; atau apakah dia akan merasakan&#8230;&#8221; Penting sekali membuat anak dapat mempertimbangkan akibat dari tindakannya sambil turut merasakan bunga-bunga dari perasaannya.</p>
<p>Tentu saja jauh sebelum anak atau anak remaja kita mengatakan, &#8220;<em>Mommy, I think I’m in love!</em>&#8221; kita dapat membuka pembicaraan mengenai hal tersebut dengan cara menceritakan pengalaman-pengalaman teman-teman kita sewaktu remaja. Atau menceritakan apa yang biasa terjadi di masa remaja kita, tentu dengan cara dan isi cerita yang bijaksana.</p>
<p>Beberapa prinsip yang kita dapat sampaikan kepada anak sebelum mereka mengatakan bahwa mereka &#8220;jatuh cinta&#8221;:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Pertama, cinta bukan semata hanya sebuah perasaan.</strong></p>
<p>Ya, cinta bukan semata hanya perasaan. Karena perasaan tidak menentu. Saat perasaan terluka, maka perasaan cinta tidak lagi dapat bertahan. Namun cinta merupakan sebuah komitmen. Komitmen untuk mempertahankan cinta Tuhan sebagai cinta yang kita bagikan kepada orang yang kita cintai. Itu sebabnya mencintai merupakan sebuah tanggung jawab. Cinta bukan hanya sekadar sebuah permainan untuk mengisi waktu istirahat di sekolah, cinta juga bukan sebuah keadaan berdua-dua sehingga perasaan menyukai itu dapat dipuaskan hanya dengan berbicara berduaan apalagi bersentuhan secara fisik. Karena cinta merupakan sebuah tanggung jawab, apapun yang mereka bicarakan dan lakukan, merupakan tanggung jawab untuk tetap menghargai orang yang dicintainya.</p>
<p>Seorang remaja, sebut saja Evan, sangat menunjukkan perasaan sayangnya kepada Rina. Ia mendatangi tempat konser Rina, memberikan bunga saat Rina pulang sekolah dan berbagai tindakan cinta yang menurut anak muda terlalu lebai (berlebihan). Rina memang agak tertarik dengan Evan, tetapi sikap berlebihan dari Evan membunuh perasaan Rina yang mulai tertarik dengan Evan.</p>
<p>Melalui kisah ini tentu anak-anak kita perlu belajar bahwa perasaan positif yang mereka miliki tidak dapat diekspresikan sesuka hati mereka. Mereka perlu mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang dapat diterima oleh orang yang menerima mereka. Itu berarti tidak menjadikan orang yang mereka cintai sebagai objek dari perasaan mereka. Hal ini dapat kita antisipasi dengan mengajarkan anak-anak kita mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang sehat dan baik. Misalnya, saat mereka menerima kado kesukaan mereka, mereka dapat belajar untuk mengungkapkan, &#8220;Aku menyukai kado ini, Pap. Sangat berkesan!&#8221; atau sebaliknya saat mereka tidak menyukai sikap orangtua, mereka dapat mengatakan, &#8220;Mama, saya kesal mengapa Mama tidak konsisten. Apa yang Mama katakan minggu lalu, tidak Mama lakukan sekarang!&#8221; tanpa menunjukkan kegeraman dengan membanting pintu atau mengurung diri di kamar, bahkan keluar dari rumah untuk menunjukkan kemarahan mereka. Jika pelatihan pengungkapan emosi secara sehat ini berhasil, tentu anak-anak kita saat remaja nanti dapat lebih mengungkapkan perasaan cinta mereka secara sehat. Bahkan mempertahankan komitmen mereka sekalipun perasaan mereka sempat dilukai.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Kedua, Bertumbuh dalam cinta lebih baik daripada jatuh cinta.</strong></p>
<p>Seorang yang berkomitmen untuk mencintai seseorang, akan semakin menyayangi pasangannya saat melihat hal yang baik dari pasangannya. Namun saat ia berhadapan dengan hal buruk dari pasangannya, ia belajar untuk mempertahankan cintanya dan mendoakan agar yang dicintainya dapat Tuhan ubahkan ke arah yang baik dan membangun.</p>
<p>Dalam perjalanan hidup Dila (seorang remaja dan bukan nama sesungguhnya), ia sering kali jatuh cinta. Ia senang jika melihat pria gagah, pandai dan baik hati. Dan jika ada gayung bersambut, ia akan segera menerima cinta pria tersebut. Namun sayangnya, ia beberapa kali gagal pacaran hanya karena ia merasa bahwa pacarnya tidak memperhatikannya setiap hari. Cinta yang dimilikinya sangat egois dan ia tidak melihat pacaran sebagai wadah untuk saling mengerti, berbagi dan membangun. Rupanya relasi yang dibangun hanya karena alasan jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat cinta anak-anak kita semakin mementingkan diri sendiri. Tentu anak-anak perlu diajak untuk mengerti bahwa bertumbuh dalam cinta berbeda dengan hal itu. Bertumbuh dalam cinta berarti membiarkan cinta yang dimiliki tetap ada dan bertahan mengalahkan egoisme diri.</p>
<p>Bertumbuh dalam cinta dapat dilatih dalam keseharian dengan membiasakan anak-anak kita tetap bercakap-cakap dengan kita dan menyatakan rasa sayang mereka kepada kita sekalipun mereka tidak sepaham dan sepakat dengan kita sebagai orangtua.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Ketiga, &#8220;Putus nyambung putus nyambung&#8221; bukanlah sikap seorang remaja yang kristiani.</strong></p>
<p>Lagu-lagu di dunia ini menawarkan relasi yang singkat dan tidak tangguh. Anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang tidak terbiasa memperbaiki relasi tetapi menyudahi relasi saat sesuatu yang mengusik perasaan mereka terjadi. Untuk itu, anak-anak sejak kecil sampai remaja perlu kita arahkan untuk belajar bertahan menghadapi konflik maupun konflik batin mereka. Caranya, mereka perlu dilatih sejak dini untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik itu perasaan negatif atau positif. Setelah itu, kita mengajak anak-anak kita untuk mengolah perasaan negatif mereka, baik melalui diskusi maupun self talk (bicara dengan hati nurani sendiri), sehingga saat anak-anak kita beranjak remaja, mereka menjadi remaja-remaja yang tangguh menghadapi konflik karena mereka menemukan jalan untuk menyelesaikannya dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.</p>
<p>Tentu saja hasil yang diharapkan dari ketiga hal di atas, anak-anak kita memiliki sikap yang dewasa saat merasakan jatuh cinta. Saya membayangkan anak-anak remaja kita akan mengatakan, &#8220;<em>Mom, Dad, I think I’m in love.&#8221;</em> Menyenangkan sekali rasanya seperti yang Mama dan Papa ceritakan. Tetapi saya tahu bahwa saya perlu menguji perasaan ini melalui persahabatan dengannya dalam jangka waktu tertentu. Doakan agar kami bertumbuh bersama dalam kedewasaan dan dalam iman. Siapa tahu, memang dialah orangnya dari Tuhan buat saya! J&#8221;</p>
<p>Daripada mereka mengatakan, &#8220;Mam, saya sudah punya pacar. Saya mencintai dan ingat kepadanya setiap malam. Dan kami sangat menikmati pacaran kami.&#8221; Lalu beberapa minggu kemudian dia mengatakan, &#8220;Pap, rasanya saya tidak mencintainya lagi. Dia begitu menyebalkan. Kami benar-benar tidak cocok!&#8221;</p>
<p>Dan hal di atas terjadi berulang sampai mereka menikah. Tidakkah ini dapat kita antisipasi sejak dini? Kiranya Tuhan memberi hikmat dan pengertian kepada kita untuk meneruskan hikmat-Nya dan pengertian-Nya kepada generasi kita selanjutnya!</p>
<p>Pdt. Riani Josaphine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/i-think-i%e2%80%99m-in-love-mempersiapkan-anak-remaja-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Kehormatan Diuji dan Dijunjung Tinggi</title>
		<link>http://gkipi.org/di-mana-kehormatan-diuji-dan-dijunjung-tinggi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/di-mana-kehormatan-diuji-dan-dijunjung-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 10:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6809</guid>
		<description><![CDATA[Ajarlah Mereka Melakukan Segala Sesuatu yang Telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:20a) Mahatma Gandhi berkata, &#8220;Jika semua orang Kristen bersikap seperti Kristus, seluruh dunia akan menjadi Kristen.&#8221; Sayang, banyak orang yang mengaku Kristen dan menyandang nama-nama yang diambil dari Alkitab, bukan pengikut Kristus yang sejati. Mereka tidak melakukan perintah-perintah Tuhan. Firman-Nya: &#8220;Jangan membunuh,&#8221; tapi tanpa tedeng [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ajarlah Mereka Melakukan Segala Sesuatu yang Telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:20a)</p></blockquote>
<p>Mahatma Gandhi berkata, &#8220;Jika semua orang Kristen bersikap seperti Kristus, seluruh dunia akan menjadi Kristen.&#8221; Sayang, banyak orang yang mengaku Kristen dan menyandang nama-nama yang diambil dari Alkitab, bukan pengikut Kristus yang sejati. Mereka tidak melakukan perintah-perintah Tuhan. Firman-Nya: &#8220;Jangan membunuh,&#8221; tapi tanpa tedeng aling-aling mereka siap membinasakan siapapun yang menghalangi jalan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Perintah-Nya: &#8220;Jangan mencuri,&#8221; mereka bilang, &#8220;Korupsi itu biasa asal jangan ketahuan. Semuanya itu untuk kebaikan bersama (maksudnya dinikmati secara kolektif).&#8221; Sabda-Nya: &#8220;Jangan berzinah,&#8221; tapi praktik kawin cerai di kalangan orang Kristen semakin marak. Sungguh, mereka seperti lalang yang tumbuh bersama dengan gandum! Pada waktu menuai, barulah lalang itu dikumpulkan untuk dibakar (Matius 13:24-30).</p>
<p>Namun sebelum menghakimi orang lain, lebih baik kita bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri: &#8220;Apakah aku sudah mengajarkan mereka melakukan segala perintah Tuhan?&#8221;</p>
<p>Mengajarkan artinya memberitahukan (transfer of knowledge) berulang-ulang, baik dengan penjelasan lisan dan tertulis maupun dengan contoh-contoh (demonstrasi keteladanan) yang dapat ditangkap oleh pancaindra mereka. Sama seperti ketika kita mengajarkan anak berbahasa Inggris, kita pun tidak hanya mengenalkan mereka konsep bahasa Inggris, tapi terus menerus melatih mereka menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar dalam konteks kehidupan sehari-hari dan kita sendiri menjadi &#8216;role model&#8217; yang baik. Maka rumah, gereja dan sekolah adalah tempat di mana kita belajar dan mengajarkan nilai-nilai kristiani. Rumah, gereja dan sekolah menjadi tempat di mana kehormatan kita sebagai orang Kristen diuji dan dijunjung tinggi, khususnya dalam tiga nilai utama hidup kita yaitu: taat, tanggung jawab dan peduli.</p>
<p><strong>Taat</strong></p>
<blockquote><p>&#8220;Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga.&#8221; (Matius 7:21).</p></blockquote>
<p>Kehendak-Nya bagi kita adalah supaya kita saling mengasihi, seperti Yesus telah mengasihi kita (Yohanes 15:12).</p>
<p>Kasih yang tulus, sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih yang tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran (1 Korintus 13: 4-6).</p>
<p>Yesus Kristus mati disalibkan bukan akibat Pontius Pilatus kalah oleh desakan orang Yahudi, melainkan karena kasih-Nya kepada kita. Tidak ada seorang pun dapat mengambil nyawa-Nya! Yesus memberikan nyawa-Nya menurut kehendak-Nya sendiri karena Dia menaati kehendak Bapa (Yohanes 10:18).</p>
<p>Ketaatan kepada Allah Bapa membangkitkan kekuatan dan keberanian untuk mengatakan dan melakukan yang benar. Sering kita merasa lemah dan takut untuk mengatakan apalagi melakukan yang benar, karena ancaman atau intimidasi orang dengan kekayaan dan jabatan tinggi. Namun Yesus telah berpesan: &#8220;Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya&#8221; (Matius 10:38-39).</p>
<p>Setelah mengetahui anaknya tidak naik kelas, ada orangtua yang menggunakan koneksinya untuk memberi tekanan kepada pihak sekolah dan dewan guru agar mengubah keputusan itu. Syukurlah sekolah tetap berpegang pada hasil keputusan rapat pleno dewan guru yang memang dibuat tidak sembarangan, melainkan berdasarkan peraturan yang berlaku dan pertimbangan hati nurani. Sekolah Kristen memang seharusnya tidak goyah, baik oleh ancaman maupun bujuk rayuan.</p>
<p>Sungguh karya Tuhan yang indah ketika kita melihat orangtua Kristen, sekalipun kecewa akan kegagalan studi anaknya, memilih untuk tidak menyalahkan siapapun tapi memohon hikmat Tuhan untuk terus membenahi diri dan memercayakan anaknya tetap bersekolah di sekolah Kristen. Dengan melihat kasih, iman dan harapan positif orangtua, anak itu pun berubah sehingga berhasil lulus dengan nilai-nilai yang baik. Inilah sebuah kesaksian hidup yang mengagungkan nama-Nya!</p>
<p>Demikian juga ketika di sekolah ada anak yang mengalami bullying (pemaksaan kehendak untuk melakukan sesuatu, dari pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah), sekolah menangani dengan sangat serius melalui pendekatan dan kerjasama berbagai pihak: dewan guru, wali kelas, guru Bimbingan Konseling, orangtua, psikolog dan pendeta sekolah. Korban bullying mendapat perlindungan sekolah sebagaimana mestinya, sementara pelaku bullying dibina dan harus membuat perjanjian–bila masih melakukan hal jahat yang mengganggu orang lain, ia harus menerima sanksi keras yaitu dengan berat hati dikeluarkan dari sekolah dan dikembalikan kepada pembinaan orangtua di rumah. Dalam bentuk apapun, sudah sepatutnya tidak ada korban bullying yang justru terpaksa pindah ke tempat lain karena takut kepada pelaku bullying. Hanya kepada Tuhanlah kita harus takut dan taat, bukan kepada manusia yang tidak berkuasa menambah atau mengurangi umur hidup kita barang sedetik pun.</p>
<p>Kita tahu sekarang, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28).</p>
<p>Seorang teman memberi kesaksian bahwa dalam transaksi dagang, pembeli sering meminta kwitansi kosong untuk diisi dengan harga sesuka mereka. Sebagai anak Tuhan, teman saya ini tidak bersedia melakukan hal tersebut. Walau harga yang diberikannya paling murah dan kualitas barang lebih bagus, banyak pembeli lari ke tempat lain yang mau bersekongkol dengan mereka membuat kuintasi aspal (asli tapi palsu). Sampai beberapa tahun kemudian, dia terkejut mendapat serangkaian order transaksi yang sangat besar jumlahnya dan ternyata pembelinya adalah orang yang pernah marah besar kepadanya karena tidak mau membuat kuitansi fiktif. Orang tersebut sudah dipromosikan menjadi kepala bagian dan tahu betul praktik kotor yang biasa terjadi, sehingga memberi instruksi kepada bawahannya untuk hanya membeli di tempat teman saya tersebut, karena di sanalah penjualnya berlaku jujur.</p>
<p><strong>Tanggung jawab</strong></p>
<p>&#8220;Kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar.&#8221; Kesadaran ini menohok tokoh Hero dalam film Spiderman karena dia telah membiarkan seorang penjahat beraksi padahal sebenarnya dia mampu mencegahnya. Ternyata kemudian sang korban adalah pamannya sendiri, orang yang paling disayangi sebagai pengganti orangtuanya! Memang setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12: 48b).</p>
<p>Seorang teman, saat belum dikaruniai anak setelah belasan tahun menikah, sering mengeluh kesepian dan cemburu kepada mereka yang punya anak. Tetapi ketika Tuhan telah memberikan anak-anak kepadanya, dia mengakui betapa susah mengurus anak dan betapa berat biaya yang harus ditanggung untuk membesarkan mereka. Dia baru sadar bahwa anak bukanlah benda mati yang bisa diatur sesuka hati, juga bukanlah sosok yang selalu manis seperti malaikat–setiap anak punya karakter, kemauan dan kebutuhan sendiri yang kerap kali bertentangan dengan harapan orangtua, dan kerutan di dahinya bertambah saat dia mengingat pertambahan gaji yang merangkak lambat berbanding terbalik dengan kenaikan harga barang yang melaju secepat kilat!</p>
<p>Kamus Oxford-AS Hornby mendefinisikan tanggung jawab sebagai kewajiban untuk mengurus seseorang atau sesuatu (responsibility is a duty to deal with or take care of somebody or something), dan bertanggung jawab menunjukkan bahwa Anda bisa dipercaya (responsibly means in a sensible way that shows you can be trusted). Sebetulnya Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan di Indonesia, telah lama mengajarkan prinsip tanggung jawab: Ing Ngarsa Sung Tulada (Di Depan Memberi Teladan), Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah Membangun Kemauan) dan Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberi Dorongan).</p>
<p>Seorang kepala sekolah harus menjadi teladan bagi semua guru, karyawan dan murid sekolah. Sekolah Kristen yang terus berkembang maju pastilah memiliki pemimpin sekolah yang dapat dipercaya. Ia tidak hanya menguasai kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi multimedia maupun bahasa sebagai alat komunikasi, melainkan juga berkarakter kristiani yang membuatnya terus berkarya dengan rendah hati, penuh kasih dan hikmat. Seorang guru harus menjadi teladan bagi murid-muridnya, tidak hanya di dalam kelas tapi dalam seluruh kesempatan berinteraksi, baik melalui perkataan dan perbuatan maupun melalui penampilan dan gaya hidupnya sehari-hari. Orangtua juga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tidaklah pantas bila orangtua menuntut sekolah mencetak anaknya menjadi anak yang berdisiplin dan berbudi pekerti luhur dalam waktu singkat, sementara belasan tahun mereka telah membiarkan anak itu malas, manja dan berlaku egois serta membesarkan dia dalam pola hidup hedonis–jauh dari takut akan Tuhan.</p>
<p>Sebaliknya sebagai anak, kita harus menghormati orangtua kita terlepas dari segala kelemahan dan kekurangan mereka karena melalui merekalah kita bisa hidup dan menjadi diri kita sekarang ini. Orangtua kitalah yang telah mengurus dan melindungi kita ketika kita masih kecil, lemah dan tak berdaya. Jumlah waktu, tenaga dan uang yang telah mereka berikan bagi kita takkan bisa digantikan dengan apapun, terutama kasih, perhatian, harapan dan doa yang mereka berikan bagi kita setiap waktu. Sebagai bawahan, kitapun harus mau mendukung semua keputusan yang baik dari pemimpin kita karena hanya dengan demikianlah ketertiban, kemajuan dan kesuksesan bisa diraih. Jadi di manapun posisi kita, kita tidak bisa mengelak dari tanggung jawab yang melekat pada diri seiring dengan hak yang didapat.</p>
<p>Seorang teman berbagi hal indah yang didapatnya dari seorang hamba Tuhan bahwa keselamatan yang kita terima dari Yesus Kristus sama seperti uang sekolah yang sudah dibayar lunas oleh orangtua bagi anaknya. Maka kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan sungguh-sungguh seperti anak yang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dengan tekun supaya ia berhasil lulus sekolah. Seperti orangtua yang senang dan bangga melihat anaknya rajin belajar dan bertanggung jawab atas semua perbuatannya, Tuhan pun senang melihat kita mau taat pada-Nya dan penuh tanggung jawab dalam menjalani hidup ini sehingga setiap kita datang kepada-Nya, berkat-Nya diberi! (Kidung Jemaat 396)</p>
<p><strong>Peduli</strong></p>
<p>Dunia akan menjadi jauh lebih buruk saat tidak ada lagi orang Kristen yang menjadi terang dan garam dunia. Saat semua orang berdiam diri saja mengetahui pelecehan martabat manusia terjadi di depan mata, saat orang memilih menutup mata dan tidak peduli pada keselamatan orang lain–yang penting diri sendiri aman–maka sesungguhnya kita sedang mempercepat kehancuran dunia ini.</p>
<p>Kompas Senin 20 Juni 2011 membahas kerusakan moral bangsa yang mencemaskan karena terjadi di hampir semua lini, baik di birokrasi pemerintahan, aparat penegak hukum, maupun masyarakat umum. Sebagai contoh, Yusak Yaluwo dapat menang Pilkada Kabupaten Boven Digoel meskipun sebelumnya sudah divonis 4,5 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor dalam kasus korupsi APBD Rp 66 miliar dan Jefferson M. Rumajar menang Pilkada Tomohon, Sulawesi Utara padahal sebelumnya ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus korupsi APBD 2006-2008 senilai Rp 19,8 miliar dan telah divonis 9 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor. Ternyata sering kali mereka yang terpilih bukan dipilih berdasarkan karakter dan hasil karyanya, tapi hanya berdasarkan wajah, kekayaan atau penampilannya saja! Janganlah hal itu juga menjadi kriteria kita saat kita memilih pengurus atau pemimpin sekolah, pasangan hidup atau calon menantu!</p>
<p>Kita tahu, GKI Taman Yasmin di Bogor disegel oleh pemerintahan daerah walau izin rumah ibadah sudah lama diperoleh sehingga jemaat-Nya harus beribadah di pelataran gereja. Kita terus berdoa bersama untuk jemaat GKI Taman Yasmin. Meskipun tangan kita mungkin kurang panjang untuk menolong mereka, tapi melalui wakil-wakil kita di Sinode, PGI, lembaga-lembaga negara dan DPR kita percaya pertolongan Tuhan pasti datang. Tiada yang mustahil bagi-Nya. Seperti Martin Luther King Jr., saat menghadapi diskriminasi rasial yang sangat jahat di negaranya, memilih untuk tetap percaya bahwa suatu hari generasi anak-anaknya tidak akan lagi dihargai karena warna kulit melainkan karena perbuatan dan karakter mulia. Marilah kita percaya bahwa suatu saat tidak akan ada lagi praktik diskriminasi agama di Indonesia. Bhineka Tunggal Ika akan dijabarkan dalam kerukunan umat beragama, semangat gotong-royong yang &#8216;rame ing gawe sepi ing pamrih&#8217;! Karena kita beserta Tuhan adalah mayoritas, bukan minoritas.</p>
<p>Akhirnya ketaatan kita pada Tuhan, tanggung jawab kita pada semua yang Tuhan percayakan pada kita dan kepedulian kita pada dunia yang Tuhan titipkan pada kita adalah tolak ukur yang membedakan hidup kita orang Kristen dari non Kristen. Sudahkah dunia melihat semua nilai utama tersebut–sosok Kristus–pada diri kita di rumah, di gereja, di tempat kita menjalani hidup sehari-hari? Sudahkah mereka belajar dari kita tentang perintah-perintah-Nya?</p>
<p>Jakarta, Juni 2011</p>
<p>Eva Khaliska Hamdani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/di-mana-kehormatan-diuji-dan-dijunjung-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemiskinan Pasien Kita</title>
		<link>http://gkipi.org/pemiskinan-pasien-kita/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pemiskinan-pasien-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 04:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6747</guid>
		<description><![CDATA[KASUS bayi &#8220;ditahan&#8221; 4 bulan oleh rumah sakit karena tak sanggup bayar, satu dari bisa jadi lebih seratusan kasus serupa yang kebetulan masuk ruang publik. Belum tentu sebab sikap bengis RS. Bukan pula pasti kesalahan pasien. Menilik duduk perkaranya, kasus tak elok begini tak perlu terjadi kalau saja pasien tak sesat memilih alamat berobat. Pasien [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KASUS bayi &#8220;ditahan&#8221; 4 bulan oleh rumah sakit karena tak sanggup bayar, satu dari bisa jadi lebih seratusan kasus serupa yang kebetulan masuk ruang publik. Belum tentu sebab sikap bengis RS. Bukan pula pasti kesalahan pasien. Menilik duduk perkaranya, kasus tak elok begini tak perlu terjadi kalau saja pasien tak sesat memilih alamat berobat. Pasien sesat berobat, wajib kita bela.</p>
<p><strong>Sistem rujukan tak bekerja</strong></p>
<p>Di luar hak melaba, kewajiban RS mengemban fungsi sosial juga. Sudi menyisihkan 25 persen tempat tidur buat pasien tak mampu. Namun wajar pula kalau RS perlu berhitung agar tak merugi. Itu juga alasan tak mungkin RS menampung kalau semua pasien tak mampu bayar. Jangan pula RS swasta, RS pemerintah pun perlu berhitung titik-impas agar bisa bertahan hidup.</p>
<p>Pasien kita ada dua. Pasien &#8220;jalur lambat&#8221; yang tak selalu bisa berobat setiap kali sakit, dan pasien &#8220;jalur cepat&#8221; yang bisa merdeka memilih ke mana mau berobat. Lebih 80 persen masyarakat kita berada di layanan &#8220;jalur lambat&#8221;.</p>
<p>Di layanan &#8220;jalur lambat&#8221; rakyat berbondong-bondong berpikir menjadi haknya untuk dilayani setiap kali sakit. Namun oleh karena lebih banyak pasien yang tak selalu mampu berobat setiap kali perlu masuk RS, di titik itu muncul kasus tak akurnya hubungan pasien-RS.</p>
<p>Pasien papa betul wajib dibela. Tapi apa semua pasien tak mampu yang perlu masuk RS betul selalu berada pada posisi wajib dibela mengingat sistem layanan kesehatan kita masih bayar dulu baru dilayani (paid for services), dan belum semua rakyat dicakup asuransi?</p>
<p>Kalau pasien papa wajib dilayani melebihi 25 persen tempat tidur RS, siapa wajib membantu? Kalau pasien tak mampu tak dicakup asuransi, dan tak punya uang muka, siapa mesti menalangi? Sudah memadaikah kehadiran RS tingkat kecamatan dan kabupaten menjadi rujukan? Tak cukup kebiasaan responsif baru kalau kasus pasien terlantar terangkat ke muka publik.</p>
<p>Layanan medis kita menganut sistem rujukan (referral system) yang umumnya tak dimanfaatkan pasien &#8220;jalur cepat&#8221;. Ada regulasi Puskesmas menjadi pintu pertama alamat berobat apa pun penyakit pasien. Puskesmas merujuk ke RS tingkat kecamatan bila tak mampu menangani. RS tingkat kecamatan merujuk ke RS tingkat kabupaten, dan selanjutnya dirujuk lagi jika memerlukan fasilitas RS Provinsi. Begitu selanjutnya, rujukan RS puncak rujukan (top referral), yakni RSCM Jakarta, diperlukan bila di RS tingkat puncak kasusnya bisa ditangani.</p>
<p>Yang masih terjadi, masyarakat tak tahu kalau boleh sesuka hati ke mana memilih alamat berobatnya. Akibat sistem rujukan belum memasyarakat, ketepatan dan efisiensi berobat tak optimal. Pasien apa pun berbondong-bondong ke RS, sehingga RS kita mirip pasar malam.</p>
<p>RSCM dijejali kasus sederhana yang sebetulnya bisa ditangani oleh Puskesmas, atau RS di tingkat lebih bawah. Dampak buruk kelebihan bobot kerja RS memeriksa pasien, bakal merugikan pihak pasien. Kasus malapraktik dan misconduct (dokter judes, lekas gusar, tak ramah), tak professional, utamanya sebab dokter kelebihan bobot kerja.</p>
<p><strong>Tersasar berobat</strong></p>
<p>Tidak semua pasien kita berobat ke dokter. Suburnya praktik nonmedis di kita bukan semuanya harus diharamkan. Namun masyarakat perlu diberi tahu bahwa tidak semua terapi atau kesembuhan (healing) nonmedis, apakah cara tradisional, alternatif, orang pintar, betul terbilang ilmiah. Siapa menginsafi gara-gara tak tepat berobat, pasien merugi untuk dua hal. Tak sembuh, atau kehilangan peluang sembuh, selain kerugian ekonomis yang sering-sering tak sedikit.</p>
<p>Media massa kiwari kurang selektif beriklan dan menayangkan aneka praktik terapi serta penyembuhan yang di mata medis tak bertanggung jawab. Kasus pasien gagal sembuh dan tak efisiennya berobat banyak muncul akibat tak tepat memilih alamat berobat.</p>
<p>Kasus kanker yang masih mungkin disembuhkan ketika masih stadium awal, terlambat ditolong lantaran mampir-mampir dulu ke orang pintar. Tugas pemerintah wajib memandu masyarakat pasien kita yang kebanyakan masih kuat keniscayaan magisnya supaya tak sesat berobat. Bantu meniscayai  tak semua penyakit ke praktik alternatif alamat menyembuhkannya.</p>
<p>Masyarakat perlu tahu kesembuhan yang tak masuk nalar medis sebetulnya bersifat sugesti (placebo effect). Itu alasan tak semua yang tergolong terapi nonmedis laik diniscayai. Hanya yang tergolong complementary alternative medicine (CAM menurut WHO) yang laik diterima nalar medis, antara lain akupunktur, homeopathy, naturopathy, chiropractic. Bukannya asal praktik alternatif serta-merta diniscayai. Lain dari itu, praktik CAM hanya diposisikan penunjang medis, dan bukan berjalan sendiri.</p>
<p>Hakekatnya suatu obat atau tindakan medis baru diterima medis bila secara signifikan menyembuhkan semua pasien berdiagnosis sama. Sedang kesembuhan nonmedis bukan CAM galibnya tak menyembuhkan semua pasien. Pada nalar medis, kesembuhan yang tidak terjadi pada semua pasien, tak bisa diterima sebagai terapi.</p>
<p>Pasien praktik alternatif yang mengaku sembuh sesungguhnya bukan sembuh sejati, melainkan &#8220;merasa&#8221; sembuh. Jumlah pasien begini bisa dihitung jari. Segelintir pasien merasa sembuh yang umumnya berpromosi mulut ke mulut ihwal mujarabnya kesembuhan nonmedis, dan itu yang menambah keniscayaan publik. Yang gagal sembuh, yang mayoritas, diam seribu basa. Hemat kita, kesembuhan berkat mukjizat saja bisa kita terima berada di luar nalar medis.</p>
<p><strong>Menertibkan alamat berobat masyarakat</strong></p>
<p>Di mana-mana masyarakat pasien membutuhkan pengayaan, bukan pemiskinan. Tak elok kalau masyarakat makin miskin informasi dan pilihan alamat berobatnya. Lalu supaya optimal mengenyam layanan medis yang benar, sistem rujukan perlu kembali dibangun. RS menegakkan regulasi agar menerima pasien hanya yang dirujuk Puskesmas, atau RS tingkat lebih bawah saja. RS kecamatan dan kabupaten ditambah, dan direvitalisasi. Opini kasus bayi di atas muncul lebih karena pasien tersasar tak menempuh jalur sistem rujukan lewat Puskesmas.</p>
<p>Agar masyarakat tepat alamat dan tak terkecoh berobat, pemerintah wajib juga menertibkan iklan, tayangan TV, siaran radio ihwal praktik terapi dan penyembuhan yang tak bisa diterima nalar medik. Sungguh tak elok menunggu sampai rakyat menangis.</p>
<p>Bila tak tepat alamat berobat, itu yang bikin ongkos berobat rakyat jadi boros. Lebih dari itu, akibat tak berhasil disembuhkan pun berisiko menyisakan kecacatan kalau bukan korban kematian yang sebetulnya tak perlu. Kasihan sudah terlalu lama rakyat kita terlunta-lunta mencari pintu berobatnya yang benar, dan kita belum mengantarkannya.<br />
Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pemiskinan-pasien-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Harian Seorang Pramugari</title>
		<link>http://gkipi.org/catatan-harian-seorang-pramugari/</link>
		<comments>http://gkipi.org/catatan-harian-seorang-pramugari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 15:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6540</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya membagikan suatu cerita berdasarkan catatan harian&#8230; Saya, seorang pramugari dari China Airline. Seperti layaknya pramugari, setiap hari pekerjaan saya melayani penumpang, dan hal itu saya jalani bertahun-tahun dan tidak meninggalkan pengalaman yang mengesankan. Sampai pada tanggal 7 Juni yang lalu, ketika saya menjumpai suatu pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap pekerjaan maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kali ini saya membagikan suatu cerita berdasarkan catatan harian&#8230;</em></p>
<p>Saya, seorang pramugari dari China Airline. Seperti layaknya pramugari, setiap hari pekerjaan saya melayani penumpang, dan hal itu saya jalani bertahun-tahun dan tidak meninggalkan pengalaman yang mengesankan. Sampai pada tanggal 7 Juni yang lalu, ketika saya menjumpai suatu pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.</p>
<p>Hari itu jadwal perjalanan kami dari Shanghai menuju Beijing, penumpang sangat penuh. Di antara penumpang, saya melihat seorang kakek sepertinya dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya &#8220;ndesonya&#8221;. Pada saat itu saya berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah, zaman sekarang sungguh tidak mengherankan bila seorang dari desa naik pesawat.</p>
<p>Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Pada saat melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua itu, duduk tegak dan kaku bagaikan patung di tempat duduknya dengan memangku karung tua. Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut ia melambaikan tangan menolak. Ketika kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk, hal itu juga ditolaknya. Kami membiarkannya duduk dengan tenang.</p>
<p>Menjelang pembagian makanan, ia terlihat duduk dengan tegang di tempat duduknya, dan ketika kami menawarkan makanan kepadanya, ia juga menolaknya. Akhirnya kepala pramugari dengan ramah bertanya kepadanya apakah ia sakit. Dengan suara kecil ia menjawab bahwa ia hendak ke toilet tetapi takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang di dalam pesawat. Kami menjelaskan kepadanya bahwa ia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantarnya ke toilet.</p>
<p>Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihatnya melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Tanpa bertanya lagi, kami meletakkan segelas minuman teh di mejanya, namun ternyata gerakan kami mengejutkannya, dan dengan terburu-buru ia mengatakan, &#8220;Tidak usah, tidak usah.&#8221; Kami mengatakan, &#8220;Nggak apa-apa, minumlah.&#8221; Pada saat ini dengan spontan dikeluarkannya segenggam uang logam dari sakunya dan disodorkan kepada kami. Kami menjelaskan kepadanya bahwa minumannya gratis. Ia tidak percaya. Katanya, pada saat dalam perjalanan menuju bandara, ia merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan, namun tidak diladeni, malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui bahwa demi menghemat biaya perjalanan dari desa, ia berjalan kaki sampai mendekati bandara dan setelah itu baru naik mobil. Karena uang yang dibawanya sangat sedikit, ia hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan. Itupun kebanyakan ditolak dan ia dianggap sebagai pengemis. Setelah kami membujuknya, akhirnya ia percaya dan duduk dengan tenang minum secangkir teh. Kami menawarkan makanan tetapi ia menolaknya.</p>
<p>Ia bercerita bahwa ia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulungnya sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Beijing. Anak sulung yang bekerja di kota telah menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersamanya di kota, tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal di kota dan akhirnya pulang kembali ke desa. Kali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Beijing. Anak sulungnya tidak tega jika orangtua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan diri untuk menemani ayahnya pergi ke Beijing, tetapi kakek itu menolak karena menganggap bahwa hal itu terlalu boros mengingat tiket pesawat sangat mahal. Ia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa anaknya menyetujuinya.</p>
<p>Ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, kakek itu disuruh menitipkan karung berisi ubi kering yang dibawanya itu di tempat bagasi tetapi ia bersikeras membawanya sendiri. Katanya, jika ditaruh di sana, ubi tersebut akan hancur, dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Dengan tenang kini ia duduk sambil merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya. Kami membujuknya untuk meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk. Akhirnya ia bersedia dan dengan hati-hati meletakkan karung tersebut.</p>
<p>Sepanjang sisa penerbangan, kami terus menambah minuman untuknya, dan ia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus. Meskipun begitu ia tetap tidak mau makan, padahal kami tahu bahwa sesungguhnya ia sangat lapar.</p>
<p>Saat pesawat hendak mendarat, dengan suara berbisik ia bertanya kepada saya, apakah ada kantong kecil, dan meminta saya meletakkan makanannya di dalam kantong tersebut. Ia mengatakan bahwa ia belum pernah melihat makanan yang begitu enak dan ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget. Makanan yang menurut kami begitu biasa karena melihatnya setiap hari, di mata seorang desa ternyata begitu berharga. Dengan menahan lapar, disisihkannya makanan tersebut demi anaknya.</p>
<p>Dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa dan belum kami bagikan kepada penumpang, lalu memasukkannya ke dalam kantong yang akan kami berikan kepada kakek itu. Di luar dugaan, ia menolak pemberian kami dan hanya menghendaki bagiannya yang belum dimakan. Ia tidak menghendaki yang bukan haknya. Perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.</p>
<p>Pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, ia menunggu untuk keluar paling akhir. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat dan sebelum keluar ia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa dan tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Ia berlutut dan menyembah kami, sambil mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Ia mengatakan bahwa kami semua adalah orang paling baik yang pernah dijumpainya. &#8220;Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah minum air yang begitu manis dan menyantap makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.&#8221; Itu semua diucapkannya sambil menyembah dan menangis. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja di lapangan untuk membantunya keluar dari lapangan terbang.</p>
<p>Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beraneka-ragam penumpang sudah saya jumpai. Ada yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah saya bertemu dengan orang yang berterima kasih sambil menyembah kami. Padahal kami hanya menjalankan tugas rutin kami dan tidak memberikan sesuatu yang istimewa. Seperti biasanya, kami hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami untuk mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Sungguh, saya mendapat pelajaran berharga dari orang &#8220;ndeso&#8221; yang merangkul karung tua berisi ubi kering dan menahan lapar untuk menyisihkan makanan bagi anak tercinta, serta tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya. Perbuatan itu membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.</p>
<p>Moral cerita: Jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat. &#8220;Don’t judge the book by it’s cover,&#8221; kata Tukul Arwana.</p>
<p>Selamat bersyukur!</p>
<p>Eddy Nugroho</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/catatan-harian-seorang-pramugari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati Prematur</title>
		<link>http://gkipi.org/mati-prematur/</link>
		<comments>http://gkipi.org/mati-prematur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6359</guid>
		<description><![CDATA[KEMATIAN usia produktif kini banyak mengisi iklan dukacita koran. Buat dunia medik, itu kasus mati prematur (premature death). Bahwa sejatinyalah mati prematur dapat dicegah. Kehilangan nyawa oleh penyakit yang masih bisa dicegah, atau masih dapat diselamatkan oleh fasilitas medis yang tersedia, tergolong kasus mati prematur. Pasien mampu bisa membayar rumah sakit berkesempatan mengulur umur. Namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEMATIAN usia produktif kini banyak mengisi iklan dukacita koran. Buat dunia medik, itu kasus mati prematur (premature death). Bahwa sejatinyalah mati prematur dapat dicegah. Kehilangan nyawa oleh penyakit yang masih bisa dicegah, atau masih dapat diselamatkan oleh fasilitas medis yang tersedia, tergolong kasus mati prematur.</p>
<p>Pasien mampu bisa membayar rumah sakit berkesempatan mengulur umur. Namun pasien gagal ginjal jadi meninggal begitu batal cuci darah. Seperti itu yang kini terjadi di dunia. Lebih banyak penyakit yang tak perlu ada hanya karena masyarakat tak diberi tahu cara mencegahnya.</p>
<p>Kerugian negara akibat mati prematur bangsanya justru bermuasal dari penyakit yang sebetulnya bisa dicegah. Serangan jantung koroner, stroke, dan kanker, kini kasus tersering yang menjadikan negara kehilangan sumber daya usia produktif, masih mungkin dibatalkan.</p>
<p><strong>Cukup waktu mencegahnya</strong></p>
<p>Potensi umur manusia (mean lifetime potential) secara biologi mencapai 120 tahun (Dr Robert Butler). Kalau umur manusia di dunia kini hanya orang Okinawa, Jepang yang meraih seratusan tahun (centenarian), itu lantaran salahnya manusia melakoni hidup.</p>
<p>Kanker berisiko mati prematur masih mungkin dicegah jika benar pilihan menu harian, minimal terpolusi, dan rendah saja stres kehidupan. Studi di China mengungkap provinsi yang kelebihan konsumsi daging lebih tinggi angka kankernya (The China Study, Colin Campbell, 2006). Mayoritas &#8220;penyakit peradaban&#8221; orang sekarang lebih lantaran keliru memilih gaya hidup.</p>
<p>Di semua negara maju, akibat menu boros lemak, kolesterol darah sudah meninggi sejak usia anak. Itulah tunas terbentuknya penyempitan pembuluh darah jantung dan otak. Bila kemudian kebiasaan makan enak bangsa dibiarkan, malas gerak (sedentary life) jadi pola hidup, dan stres terus mendera, sumbatan pembuluh jantung dan otak bertambah tebal dua persen setiap tahun. Ketika tiba masa usia produktif, lebih separuh penampang pembuluh darah jantung dan otak sudah tersumbat. Pada saat mana serangan jantung dan atau stroke mengancam nyawa.</p>
<p>Kondisi itu yang menjelaskan mengapa krisis usia produktif bangsa kini datang lebih awal. Padahal serangan jantung dan stroke tidak terjadi dalam satu hari. Perlu puluhan tahun untuk menjadikan pasokan darah jantung dan otak menjadi tersumbat. Artinya masih tersedia cukup waktu untuk mencegah agar yang berisiko memunculkan mati prematur itu bisa batal terjadi.</p>
<p><strong>Butuh peran negara</strong></p>
<p>Singapura menganggap perlu menyuluh eksekutif usia produktif agar selain sehat, juga supaya tidak mati muda. Kekonyolan buat negara bila kehilangan warga usia produktif hanya karena membiarkan kelompok ini keliru memilih gaya hidup.</p>
<p>Negara harus berubah, manusia juga harus berubah, begitu seruan Sydney Resolution 2009 (A Call to Action) mencegat kematian yang tak perlu. Proyeksi bila gaya hidup tak berubah, dalam sepuluh tahun ke depan dunia bakal kehilangan 388 juta nyawa mati muda.</p>
<p>Peran pemerintah bagi warganya di Singapura tidak berhenti sampai di situ. Jangan heran kalau cita rasa menu rata-rata restoran di Singapura cenderung anyep. Pemerintah ikut campur agar warga tidak jadi darah tinggi gara-gara kelebihan mengonsumsi garam dapur. Karena sejatinya bukan daging yang bikin darah tinggi. Kasus darah tinggi orang sekarang lebih sebab kelebihan menu asin. Darah tinggi tak terkontrol berisiko mati prematur juga.</p>
<p>Kesehatan itu investasi. Hanya bila negara tidak terlambat berinvestasi hidup sehat bagi rakyatnya, derajat kesehatan bangsa mudah dikatrol. Tidak membiarkan kelebihan berat badan sejak bayi, langkah awal negara berinvestasi sehat. Singapura sudah melakukan itu. Para eksekutif dunia tidak gemuk manakala kelompok usia produktif kita sedikit saja yang tidak tambun. Perlu campur tangan pemerintah agar rakyat berpeluang sehat sepanjang hayat.</p>
<p><strong>&#8220;Falsafah pakai helm&#8221;</strong></p>
<p>Hukum wajib pakai helm oleh negara lebih demi melindungi keselamatan rakyat. Seperti itu eloknya motivasi negara menuntun rakyatnya tepat memilih cara bagaimana hidup sehat sehingga batal mati prematur.</p>
<p>Orang papa dan yang berkecukupan kini sama memikul &#8220;penyakit peradaban&#8221;. Kimiawi makanan, polusi limbah industri, pola hidup tidak tertib dipikul semua rakyat. Itu sebab kini suplemen vitamin dan detoxifikasi yang sebetulnya proses alami, diperlukan tubuh karena pilihan hidup tak alami lagi, dan orang makin tak tertib tidurnya.<br />
Gaya hidup bikin tubuh manusia sekarang semakin tak natural lagi. Gemuk (&#8220;penyakit dagu berlipat&#8221;) tapi kurang gizi karena menu harian hanya tinggal ampas. Selebihnya zat pencetus kanker (carcinogenic) kian penuh mengisi jajanan, selain meja makan restoran.</p>
<p>Sekolah Kedokteran Harvard belajar sehat dari nelayan Okinawa. Bahwa cara hidup yang benar itu mirip tradisi nenek moyang kita. Maka bukan burger, sosis, dan bistik yang bikin sehat sepanjang hayat, melainkan sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh, atau sayur asam. Menu begini yang mengantarkan orang Okinawa dan generasi nenek dulu terbebas kanker, serangan jantung, dan stroke.</p>
<p>&#8220;Generasi ayam goring&#8221; kini yang tak suka menu neneknya memikul risiko mati prematur bila pemerintah tidak ikut campur urusan pola dan gaya hidup rakyat yang telanjur salah kaprah. Bahwa menjadi gemuk itu &#8220;bom waktu&#8221; bakal meledaknya semua penyakit metabolisme yang berujung mati prematur.</p>
<p>Belum terlambat pemerintah turun tangan. Ongkos memberi tahu rakyat mencegah semua penyakit berujung mati prematur tidak lebih mahal dari harga ekonomi akibat kehilangan usia produktif bangsa sebab telanjur mati muda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dr Handrawan Nadesul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/mati-prematur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuasa Doa untuk Suami-Istri</title>
		<link>http://gkipi.org/kuasa-doa-untuk-suami-istri/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kuasa-doa-untuk-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6356</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami-istri yang selalu ribut, bahkan juga ketika berkendaraan menuju gereja, otomatis mengadakan gencatan senjata begitu sampai di lapangan parkir gereja, dan keadaan damai ini terus bertahan sampai ibadah selesai. Namun begitu mereka masuk ke mobil mereka kembali, sang suami mulai melancarkan serangan: &#8220;Tadi kamu dengar nggak apa yang dikatakan Pak Pendeta, bahwa istri harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami-istri yang selalu ribut, bahkan juga ketika berkendaraan menuju gereja, otomatis mengadakan gencatan senjata begitu sampai di lapangan parkir gereja, dan keadaan damai ini terus bertahan sampai ibadah selesai.</p>
<p>Namun begitu mereka masuk ke mobil mereka kembali, sang suami mulai melancarkan serangan: &#8220;Tadi kamu dengar nggak apa yang dikatakan Pak Pendeta, bahwa istri harus tunduk kepada suami? Kamu ini malah selalu melawan suami. Kamu tidur ya, waktu mendengarkan khotbah?&#8221; Dengan tangkas sang istri membalas: &#8220;Aku mendengarkan. Mungkin kamu yang tidur. Tadi Pak Pendeta bilang kalau suami harus mengasihi istri dengan sepenuh hati. Nggak kayak kamu yang selalu berpikiran negatif.&#8221;</p>
<p>Ini hanya salah satu contoh riak kehidupan pasangan suami-istri. Masih banyak lagi kasus lainnya yang bahkan sampai kepada perceraian.</p>
<p>Pasangan suami-istri adalah dua insan yang berbeda dalam gender, kebiasaan, kebudayaan, tabiat, keadaan sosial-ekonomi, dan lain-lain., sehingga masing-masing perlu mengadakan penyesuaian, bahkan perubahan. Namun, perubahan yang bagaimana dan ke arah mana?</p>
<p>1.    Masing masing orang perlu berubah sesuai dengan kehendak Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah kita. Karena itu dengan doa dan kuasa Roh Kudus, perubahan bisa terjadi.</p>
<p>2.    Namun masalahnya,</p>
<ul>
<li>kita tidak tahu caranya;</li>
<li>kita merasa tidak mampu;</li>
<li>kita tidak menginginkannya;</li>
<li>kita tidak sadar bahwa kita memerlukan perubahan.</li>
</ul>
<p>3.    Menjadi pasangan berarti mempunyai kesempatan untuk berubah. Tuhan menunggu undangan kita untuk membantu kita berubah.</p>
<p>4.    Kita tidak bisa mengubah orang, tetapi Tuhan dapat mengubah kita, dan ini adalah pekerjaan dari Roh Kudus. Tuhan membuat masing-masing kita sesuai dengan citra-Nya, dan Ia tidak ingin kita mengubah pasangan kita sekehendak hati kita.</p>
<p>Tugas kita adalah menerima pasangan kita seperti apa adanya, dan berdoa pada Tuhan untuk mengubah pasangan kita dan kita sendiri sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Sebagai Pasangan Kita Tidak Terlepas Dari Masalah</strong></p>
<p>Tuhan tidak pernah berkata bahwa kita tidak akan menghadapi masalah. Ketika seseorang menikah, ia harus siap untuk tidak saja menghadapi masalahnya sendiri, tetapi juga masalah pasangannya. Namun jika kita mengundang Tuhan dalam doa dan sungguh-sungguh berserah kepada-Nya, Ia akan membantu kita mengatasi masalah-masalah kita atau melewatinya dengan baik karena Ia sungguh mengasihi kita (Roma 8:37-39).</p>
<p><strong>Konflik di Antara Suami-Istri Bisa Saja Terjadi Karena Tidak Adanya Komunikasi yang Baik</strong></p>
<p>Pernikahan tanpa keintiman akan mati. Di antara pasangan suami-istri perlu ada rasa kedekatan.Tanpa komunikasi yang baik, kita tidak akan mengetahui perasaan dan pikiran pasangan kita, sehingga kita sulit membangun kehidupan bersama yang harmonis. Kita tidak boleh membuat asumsi sendiri dengan menganggap bahwa diri kita sudah tahu tanpa perlu mengadakan komunikasi dengan pasangan kita. Filipi 2:4 mengingatkan agar setiap orang tidak memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.</p>
<p><strong>Berdoa Agar Kita Selalu Jujur dan Dapat Dipercaya</strong></p>
<p>Pernikahan mutlak harus berdasarkan kepercayaan satu sama lain. Kalau suami-istri tidak saling percaya, siapa lagi yang bisa dipercaya?</p>
<p>Membohongi pasangan kita adalah perilaku yang sangat buruk karena menyebabkan rusaknya hubungan dengannya (Kolose 3:9) dan membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Mazmur 102:7 mengatakan bahwa &#8220;orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumah-Ku, orang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mata-Ku.&#8221; Orang yang tidak berkomunikasi baik dengan pasangannya tidak bisa sepenuhnya jujur kepadanya, karena kejujuran membutuhkan komunikasi yang baik.</p>
<p>Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1.    Jujur dalam perasaan terhadap pasangan kita</strong><br />
Kita harus mengatakan kepada pasangan kita kalau ada hal yang mengganjal atau sangat mengganggu di dalam perbuatan pasangan kita. Kalau kita tidak mengatakannya, pasangan kita mungkin tidak akan menyadarinya. Sebaliknya, kita menjadi sakit hati, marah, bahkan pada akhirnya tidak dapat mengampuninya. Meskipun demikian, menyampaikan teguran memang tidak mudah. Kita perlu memohon kepada Tuhan untuk membantu kita menyampaikannya dengan bijaksana, pada saat yang tepat, ketika emosi kita tidak meluap-luap, dan dengan tutur kata yang baik. Efesus 4:15 mengatakan, &#8220;&#8230;Dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.&#8221; Pengkhotbah 3:7 juga memperingatkan. &#8220;&#8230;Ada waktu untuk diam dan ada waktu untuk bicara.&#8221; Janganlah kita meniru seorang ibu cerewet yang tidak memberi kesempatan kepada suaminya untuk berbicara, sehingga suaminya hanya bisa mengurut dada sambil bernyanyi &#8220;Haleluya.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2.    Jujur dalam mengutarakan pandangan atau pendapat (falsafah hidup)</strong><br />
Sangat penting bahwa setiap pasangan bertukar pikiran tentang rencana, kekuatiran, harapan/cita-cita ataupun mimpinya bagi masa depan. Di dalam Ayub 32:20, Elihu ingin mengemukakan pendapatnya, sehingga ia berkata, &#8220;Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberikan sanggahan.&#8221;<br />
Pasangan juga perlu terus-menerus melakukan penyesuaian satu sama lain, sebab masing-masing diproses dan berkembang secara berbeda dan perlu saling memahami.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3.    Jujur tentang masa lalu kita</strong><br />
Masing-masing pasangan perlu memohon pertolongan Tuhan untuk bisa menerima pasangannya apa adanya. Untuk itu diperlukan kejujuran untuk mengungkapkan masa lalu dengan bijaksana dan pada saat yang tepat.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>4.    Jujur tentang apapun juga</strong><br />
Setiap kebohongan akan merusak kepercayaan yang sudah ada, dan itu berarti bahwa kita tidak menempatkan Tuhan sebagai prioritas di dalam hidup kita dan pasangan kita di tempat kedua.</p>
<p><strong>Berdoa Kepada Tuhan Untuk Pasangan Kita</strong></p>
<p>Kita mohon kepada Tuhan agar kita mempunyai telinga untuk mendengar dan hati yang mau memahami apa yang dikatakan oleh pasangan kita. Dalam Galatia 6:2 dikatakan, &#8220;Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.&#8221; Demikian juga Roma 12:15 menasihatkan, &#8220;Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis.&#8221;</p>
<p>Tuhan kiranya memberi kita hati yang bijaksana, dengan menunjukkan apresiasi kepada pasangan kita untuk segala hal positif yang dilakukannya, dan hati yang mendengar sehingga kita bisa merasa empati dan meringankan kepedihannya.<br />
Marilah kita cepat untuk mendengar dan lambat untuk bicara.</p>
<p><strong>Pengampunan</strong></p>
<p>Di dalam kehidupan berumah tangga, kita tidak luput dari berbuat kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Hendaknya kita tidak menjadi kolektor kesalahan pasangan kita, dan mau membebaskan diri dari memori-memori yang buruk untuk melihat ke masa depan yang penuh harapan. Tanpa kesediaan untuk saling mengampuni, ancaman perceraian sudah ada di ambang pintu.</p>
<p>Efesus 4:32 mengajarkan, &#8220;Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagai Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.&#8221; Yesus mengampuni kita secara utuh, tidak melihat kesalahan masa lalu kita dan mengingat-ingatnya lagi. Namun pengampunan tidak mungkin kita lakukan kalau Tuhan tidak membantu kita melakukannya setiap hari.</p>
<p>Pengampunan tidak berarti membiarkan pasangan kita berulang kali melakukan kesalahan yang sama atau serupa. Pengampunan juga tidak berarti membenarkan seluruh tindakan pasangan kita.</p>
<p>Ada seorang suami yang selalu marah-marah sepulang kerja. Istrinya yang heran melihat sikap suaminya, mencari waktu yang tepat untuk mengajaknya pergi bersama ke sebuah restoran, tanpa disertai oleh anak-anak mereka. Dari pembicaraan santai itu, si istri akhirnya mengetahui penyebab stres suaminya, yang tertekan oleh pekerjaan di kantor yang berat. Ia mendengarkan cerita suaminya dengan sabar dan penuh empati. Dan tiba-tiba si istri juga menyadari kesalahannya yang terlalu sibuk mengurus anak-anak sehingga kurang memberi perhatian kepada suaminya. Percakapan di antara kedua suami-istri ini berakhir dengan saling mengampuni dan tekad untuk semakin membuka diri satu sama lain.</p>
<p>Kalau kita merasa tidak bisa mengampuni pasangan kita, mintalah kepada Tuhan untuk membantu kita. Di dalam Zakaria 4:6 dikatakan, &#8220;&#8230;‘Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku,’ firman Tuhan semesta alam.&#8221; Kiranya Tuhan memampukan kita.</p>
<p>Di samping hal di atas, suami-istri juga perlu mencari waktu luang untuk berduaan (bulan madu kedua, ketiga&#8230;), baik pada waktu usia perkawinan masih muda, menengah maupun ketika keduanya sudah kakek-nenek. Hal ini dimaksudkan agar hubungan di antara mereka selalu terpelihara, bahkan semakin lama semakin baik, dan keintiman suami-istri dapat dipertahankan di tengah-tengah kesibukan masing-masing. Dengan pertolongan Tuhan, apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak diceraikan oleh manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nugroho Suhendro<br />
Melbourne, April 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kuasa-doa-untuk-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih</title>
		<link>http://gkipi.org/terima-kasih/</link>
		<comments>http://gkipi.org/terima-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 14:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6284</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tas ransel hitam itu, Mbak,&#8221; kataku sambil menunjuk tas yang kumaksud dan menyodorkan kartu penitipan tas kepada perempuan berkerudung hitam di depanku. Mungkin usianya lima tahun di atasku. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia bekerja di toko swalayan ini. Yang jelas, sejak aku sering berbelanja di toko itu selama hampir setahun, aku sering melihatnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Tas ransel hitam itu, Mbak,&#8221; kataku sambil menunjuk tas yang kumaksud dan menyodorkan kartu penitipan tas kepada perempuan berkerudung hitam di depanku. Mungkin usianya lima tahun di atasku. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia bekerja di toko swalayan ini. Yang jelas, sejak aku sering berbelanja di toko itu selama hampir setahun, aku sering melihatnya.</p>
<p>Dia dengan segera mengambil tas yang kutunjuk lalu menyerahkannya kepadaku. &#8220;Terima kasih,&#8221; kataku sambil tersenyum sekilas. Dia diam saja. Hampir selalu begitu. Rasa-rasanya aku tak ingat apakah dia pernah membalas<br />
ucapan terima kasihku atau tidak. Bibirnya yang bergincu merah semu oranye itu jarang mengulaskan senyum. Mimik mukanya datar-datar saja, bahkan rasanya cenderung agak galak. Tak jarang sorot matanya menunjukkan kelelahan.</p>
<p>Aku tahu, berdiri hampir sepanjang hari sambil menerima dan mengangsurkan tas-tas para pelanggan toko ini memang tak mudah. Maksudku, mungkin ini bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kurasa ini juga bukan pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Aku sangat maklum jika dia tak membalas senyumanku atau ucapan terima kasihku.</p>
<p>Terima kasih adalah dua kata yang dijejalkan di kepalaku selama lima tahun saat aku tinggal di asrama Syantikara, Jogja. Ketika pertama kali masuk ke sana, ucapan terima kasih itu ditekankan untuk kami ucapkan kepada siapa pun yang telah membantu kami–bahkan untuk hal yang sangat sepele dan sepertinya sangat wajar. Misalnya, kami harus mengucapkannya setelah kami sama-sama mencuci piring usai makan bersama.</p>
<p>Awalnya agak janggal bagiku karena toh kami mencuci piring bersama. Ada yang bagian menyabun, ada yang membilas, dan ada yang mengelap piring-piring serta sendok yang masih basah. Pertama-tama aku bingung, kenapa mesti mengucapkan terima kasih dan mengapa aku perlu mendapatkan ucapan itu dari teman-teman yang lain? Tetapi aku sadar bahwa kami semua telah bekerja dan saling membantu, walaupun itu pekerjaan yang sederhana. Ucapan terima kasih adalah &#8220;upah&#8221; paling sederhana yang bisa diungkapkan kepada teman-teman. Jadi, usai mencuci piring, kami biasanya akan beramai-ramai mengucapkan &#8220;terima kasih&#8221; dengan menyebut nama semua teman yang ada. Ramai kan? Dan memang biasanya tempat cuci piring di kafe (tempat makan bersama kami) akan riuh dengan ucapan terima kasih itu.</p>
<p>Ucapan terima kasih ini saking sering diucapkan kadang membuat kami jadi latah. Dulu, jika ada yang mau berbelanja ke toko–seringnya ke Mirota Kampus–tak jarang akan woro-woro: &#8220;Aku mau ke Mirota, nih! Ada yang mau titip nggak?&#8221; Biasanya ada saja yang titip, entah titip pasta gigi, tisu, sabun, jajanan, dan sebagainya. Tentunya si penitip menyebutkan barang titipannya sambil menyerahkan uang. Yang unik, orang yang dititipi belanja itulah yang justru akan langsung mengucapkan &#8220;terima kasih&#8221; setelah menerima uang, hi&#8230; hi&#8230; hi&#8230; Lha wong dia yang repot belanja, malah dia yang langsung berterima kasih. Mungkin karena kesannya dia diberi uang, lalu dia langsung mengucapkan kata-kata wajib itu.</p>
<p>Menurutku, mengucapkan terima kasih itu adalah hal yang perlu. Bukankah kepada seorang anak kecil kita juga menanamkan ungkapan tersebut? Tetapi memang sepertinya saat ini ucapan terima kasih agak jarang kudengar di tempat umum. Bahkan sepertinya, ucapan itu hanya berupa tulisan di depan kasir, di pintu keluar sebuah toko, dan lain-lain. Tulisan itu dianggap sudah mengandung ketulusan suatu ungkapan. Tetapi tak jarang pula, ucapan itu hanya seperti pemanis bibir, tidak benar-benar keluar dari hati.</p>
<p>Sekarang setelah 10 tahun aku meninggalkan asrama, aku masih berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh kepada orang-orang yang kujumpai, mulai dari sopir angkot sampai petugas keamanan yang mengecek tasku ketika akan memasuki suatu gedung. Orang rata-rata membalas dengan ucapan &#8220;sama-sama&#8221; sambil tersenyum. Rasanya yang hampir tak pernah tersenyum ya cuma perempuan berkerudung, penjaga bagian titipan barang di toko swalayan langgananku itu tadi. Entah kenapa ia begitu, mungkin sedang sakit gigi.</p>
<p>blognyakrismariana.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Healing Ministry</title>
		<link>http://gkipi.org/healing-ministry/</link>
		<comments>http://gkipi.org/healing-ministry/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 14:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6051</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang melakukan pemulihan fisik saja, tanpa menyadari bahwa rupanya ada luka yang tertinggal, yaitu hati yang hancur, sedih atau kecewa. Pertanyaannya, apakah kita sungguh membutuhkan pemulihan di luar pemulihan fisik saja? Dan apakah pelayanan pemulihan perlu dilakukan oleh gereja? PEMULIHAN DALAM ALKITAB Ternyata pelayanan pemulihan telah dilakukan sejak zaman Perjanjian Lama. Sebut saja Naaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang melakukan pemulihan fisik saja, tanpa menyadari bahwa rupanya ada luka yang tertinggal, yaitu hati yang hancur, sedih atau kecewa. Pertanyaannya, apakah kita sungguh membutuhkan pemulihan di luar pemulihan fisik saja? Dan apakah pelayanan pemulihan perlu dilakukan oleh gereja?</p>
<p><strong>PEMULIHAN DALAM ALKITAB</strong></p>
<p>Ternyata pelayanan pemulihan telah dilakukan sejak zaman Perjanjian Lama. Sebut saja Naaman yang harus mandi di sungai yang kotor. Bukankah Elisa telah dipakai Tuhan untuk memulihkan fisik Naaman, namun juga batinnya? Kalau saja Naaman tidak menyukai sungai yang kotor itu, belum tentu ia rela membenamkan dirinya sebanyak 7 kali.</p>
<p>Atau Musa, saat Miriam kena kusta. Ia memang tidak memberikan obat-obatan karena pada waktu itu belum ada obat untuk pengobatan penyakit kusta, tetapi ia berdoa agar Tuhan menyembuhkannya. Lebih jauh dari itu, Musa mengampuni kesalahan Miriam. Pengampunan yang dilakukan dengan tulus dari dalam hatinya, didengar dan diterima oleh Tuhan. Sehingga akhirnya Miriam bukan hanya pulih, melainkan sembuh total. Bagi seorang yang kena kusta, hal sembuh merupakan kemustahilan. Itu berarti Miriam sekaligus disadarkan bahwa kesalahannya yang telah diperhitungkan Tuhan, kini dihapus dengan tanda kesembuhan fisiknya.</p>
<p>Elia juga memulihkan anak si janda Sarfat yang tidak lagi ada napasnya. Elia berseru kepada Tuhan dan mengunjurkan badannya di atas anak itu sebanyak 3 kali sehingga ia pulih/hidup kembali (1 Raj. 17).</p>
<p>Seperti kita ketahui, mukjizat yang terjadi di dalam Alkitab bukan untuk menunjukkan kehebatan kuasa dari si Pemulih, tetapi semua bertujuan agar Nama Tuhan Dimuliakan. Dan Alkitab membuktikan bahwa sungguh, Nama-Nya semakin dikenal dan ditinggikan. Sikap hati yang meninggikan Allah itulah yang menunjukkan adanya pemulihan jiwa seseorang.</p>
<p>Dalam Perjanjian Baru, kita juga tidak luput menemukan kisah di mana Yesus memulihkan batin Perempuan Samaria yang memiliki 5 suami (yang saat itu hidup dengan pria yang bukan suaminya), di saat ia mengambil air di siang hari bolong. Dalam Kis. 3 dan Kis. 5:15-16, Petrus juga melakukan healing ministry kepada orang lumpuh dan orang sakit lainnya. Bahkan ia melakukan hanya dengan bayangannya saja. Paulus juga melakukan healing ministry dalam Kis 14:8-11. Tentunya bukan hanya sekadar menyembuhkan fisik dari si sakit, tetapi kuasa dan kasih Kristus yang  iaberitakanlah yang juga sekaligus memulihkan batin mereka.</p>
<p>Jadi, apakah mereka yang memulihkan orang lain itu juga mengalami pemulihan dari Tuhan? Tentu saja.</p>
<p>Petrus mengalami pemulihan atas luka penolakannya terhadap Yesus. Dalam Yoh. 21, Yesus sendiri yang memulihkan Petrus. Petrus berkata, “Tuhan engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” (You know that I love you). Andai saja Yesus tidak memberikan kesempatan kedua kepada Petrus untuk menyatakan isi hati dan penyesalannya, tentu Petrus seumur hidup tidak akan pulih dengan perasaan bersalah.</p>
<p>Demikian pula dengan Paulus. Ada 2 pemulihan yang Allah lakukan kepadanya, pertama, Pemulihan dari kebutaan mata jasmaninya (Kis. 9:18). Kedua, Pemulihan dari kebutaan rohaninya–He regained his strength (Kis. 9:19). Kekuatan yang hilang dari Saulus waktu itu bukan hanya sekadar kekuatan fisiknya tetapi lebih dari itu, kedatangan Ananias yang diutus oleh Tuhan adalah juga secara khusus untuk memulihkan kekuatan mental, bahkan rohani Saulus.</p>
<p>Hal ini sesuai dengan pandangan Henry Nouwen dalam bukunya The Wounded Healer, bahwa orang-orang yang melayani pemulihan sesungguhnya adalah orang-orang yang juga pernah mengalami pemulihan dari Tuhan.</p>
<p><strong>PELAYANAN PEMULIHAN LUKA BATIN</strong></p>
<p>Pelayanan Healing Ministry bukanlah ide gereja, melainkan misi Yesus yang perlu kita teruskan (Mat. 12:15b He healed all their sick). Salah satu prinsip yang Yesus ajarkan agar kita melayani mereka yang terluka, terdapat dalam Mat. 12:20, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya&#8230;”. Ia juga menegaskan di depan orang banyak dalam Mat. 9:12, 13b, bahwa tujuan kedatangan-Nya bukanlah untuk orang sehat atau orang benar melainkan untuk orang sakit atau orang berdosa.</p>
<p>Allah ada di pihak orang-orang yang lemah dan terluka. Bahkan Ia ada dan berpihak pada mereka yang tidak berdaya. Kalau buluh yang patah saja tidak akan diputuskan, tentu itu pula yang Dia harapkan dari kita, dalam pelayanan kita kepada-Nya. Menjadi orang-orang yang datang melayani mereka yang terluka.</p>
<p><strong>MENGENAL LUKA BATIN</strong></p>
<p>Berbeda dari luka fisik, luka batin tidak terlihat bekasnya pada kasat mata jasmani. Tetapi terasa jelas bagi korbannya. Bukan hanya 1-2 hari melainkan dapat pula berpuluh-puluh tahun, terkubur, menyakitkan dan merugikan. Ada 3 tanda yang biasanya menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan pelayanan pemulihan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pembaca yang juga memiliki ciri ini namun tidak merasa terganggu dengan hal ini, tentu saja pelayanan pemulihan merupakan pilihan dan bukan tuduhan. Salah satu alat ukurnya tentu pada saat seseorang merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya dan merasa perlu memperbaiki diri. 3 tanda tersebut yaitu:</p>
<ol>
<li> Tingkah laku yang menyimpang, seperti belanja berlebihan, kerja berlebihan, otoriter, dandan secara berlebihan, selalu menyalahkan orang atau selalu mencari kambing hitam, selalu marah-marah, perasaan bersalah yang berkepanjangan, dan sebagainya.</li>
<li>Relasi yang rusak atau retak dengan Tuhan, sesama maupun lingkungannya.</li>
<li>Penghargaan yang rendah, baik terhadap diri sendiri dan/atau terhadap orang lain.</li>
</ol>
<p>Apa yang dimaksud dengan luka batin? Luka batin adalah Sakit yang diderita akibat pengalaman direndahkan (tidak berharga), sehingga menimbulkan reaksi negatif atau reaksi yang berlebihan.</p>
<p>Bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan tempat tinggalnya akibat bencana alam? Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang mengalami kehilangan tentunya mengalami luka. Secara langsung mereka bisa jadi tidak merasakan ketidakberhargaan, tetapi sebaliknya harta berharga mereka lenyap dan secara tidak langsung hal itu meyakinkan mereka bahwa kini tidak ada lagi yang berharga, yang tersisa, yang ada padanya.</p>
<p>Orang-orang yang mengalami luka, akan menunjukkan beberapa reaksi. Salah satunya adalah Trauma. Trauma adalah kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002) akibat sebuah kejadian yang menyakitkan fisik, pikiran maupun perasaan seseorang.</p>
<p><strong>PENYEBAB LUKA BATIN</strong></p>
<p>Setidaknya ada 3 cara yang sering kali dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk merendahkan orang lain, yaitu melalui ucapan, perbuatan tetapi juga saat ia atau mereka menyadari tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Saat orang tidak melakukan apa-apa terhadap seseorang, ia pun dapat terluka.<br />
Beberapa hal yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang, yang dapat menimbulkan luka, yaitu:</p>
<ol>
<li> Membandingkan (kakak dengan adik, pria dengan wanita, seorang dengan seorang lain yang lebih dari dia)–sebuah perlakuan tidak adil.</li>
<li>Mencela (fisik, kemampuan, kepemilikan)–perlakuan penolakan terhadap apa adanya seseorang.</li>
<li>Memfitnah (menuduh, menyatakan yang tidak benar, menggosipi, menghakimi)–perlakuan tidak jujur.</li>
<li>Memegang bagian tubuh yang sangat pribadi (bahkan mempermainkannya; orang lain atau diri sendiri).</li>
<li>Mengharapkan yang lebih dari apa yang dapat dilakukan oleh seseorang secara terus menerus.</li>
<li>Menyaksikan atau  mendengarkan orang lain direndahkan.</li>
<li>Mengambil alih peran.</li>
<li>Melakukan kekerasan seperti memaksakan pendapat, membentak, maupun kekerasan secara fisik.</li>
</ol>
<p>Selain kategori di atas, ada pula luka yang terjadi bukan karena perlakuan orang lain atau sekelompok orang. Luka itu dapat terjadi karena bencana alam, kecelakaan yang terjadi tanpa kesalahan manusia secara langsung, atau kehilangan orang-orang yang dikasihi melalui kematian. Saat seseorang mengalami salah satu dari ketiga hal di atas, penghargaan terhadap diri sendiri cepat atau lambat menjadi berkurang. Tidak heran jika terjadi penyimpangan tingkah laku, rusaknya relasi atau penghargaan yang rendah dari mereka yang terluka.</p>
<p><strong>DEAL WITH LUKA BATIN</strong></p>
<p>Tidak menutup kemungkinan, penyakit fisik merupakan salah satu ciri dari seorang yang terluka walaupun kita tidak dapat menghakimi bahwa seorang yang memiliki sakit fisik berarti ia memiliki luka batin. Sebaliknya, seorang yang mengalami sakit fisik pun dapat membuat batinnya terluka. Walaupun tidak semua penyakit fisik menimbulkan luka batin.</p>
<p>Jika kita melihat ilustrasi gunung es, jelaslah bagi kita bahwa tidak semua yang tampak di permukaan melulu merupakan satu-satunya sakit yang diderita seseorang. Sebab ternyata ada berbagai penyebab yang harus kita gali di balik hal itu.</p>
<p>Healing Ministry adalah upaya untuk menggali dan menemukan apa yang ada di balik yang terlihat. Untuk itu, tentu saja kita membutuhkan The Healer yaitu Yesus sendiri melalui Roh Kudus, sehingga kita terlebih dahulu pulih sebelum kita menolong orang lain.</p>
<p>Pertanyaan sederhana bagi kita, apa yang dapat kita lakukan untuk menghindar terjadinya luka batin?</p>
<p>Dalam pelayanan pemulihan, ternyata ada banyak orang yang mengalami luka batin akibat relasinya dengan orang-orang yang dekat dengannya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga yang sangat mengasihi kita, rupanya orang-orang yang ada di dalam keluarga intilah yang secara langsung maupun tidak memendam luka yang ada di dalam batin seseorang. Seperti kue lapis yang dibentuk selapis demi selapis, demikian pula seorang yang memiliki luka terlalu dalam sejak masa kecilnya.</p>
<p>Sebut saja Abi yang pada waktu balita pernah mengalami pelecehan dari seorang remaja yang dekat dengan keluarganya. Hal itu memang tidak disadari sebagai luka batin, namun dalam perjalanan hidupnya Abi rupanya mengalami kesulitan relasi dengan lawan jenisnya, termasuk orang-orang yang mengasihinya. Itu sangat membuatnya tersiksa. Banyak orang yang mengasihi dia akhirnya mundur secara teratur karena tidak mau lagi disakiti oleh Abi.</p>
<p>Abi mulanya tidak menyadari hal itu. Namun sejak seseorang mengatakan kepadanya, “Abi, kamu berhak memilih dengan siapa kamu akan bergaul dekat, tetapi tolong jangan sakiti orang-orang yang mengasihimu!” Sejak itu Abi tahu nama dari sakit batin yang dideritanya. Sejak itu Abi berdoa, membaca buku-buku pemulihan dan mencari pertolongan. Rupanya Tuhan bekerja dan memulihkannya melalui cara yang perlahan, namun pasti. Sejak Abi semakin pulih, ia lebih dapat menikmati dan membalas cinta dari orang-orang yang peduli dan mengasihinya.</p>
<p>Apa yang membuat Abi semakin terluka, ternyata karena orangtua Abi bersikap keras saat Abi mengalami pelecehan. Seakan mereka mengatakan, “Kamu salah! Dan untuk itu jangan lakukan kesalahan yang lain. Jauhi orang itu dan jangan dekat lagi!” Abi semakin merasa sendirian dan menyalahkan diri. Sejak itu ia mulai menjadi anak yang kurang percaya diri.</p>
<p>Kini Abi sudah beranjak dewasa. Ia sudah memiliki banyak teman, pacar bahkan sahabat. Setiap kali relasinya buruk, ia mulai mencari tahu hal apa yang menyebabkannya. Abi memang tampaknya berlebihan, namun itulah yang membuat dia dapat memperbaiki tingkah lakunya yang menyimpang dan memulihkan relasinya dengan sesama serta Tuhan.</p>
<p>Bukankah kini, tidak sedikit Abi-Abi yang juga mengalami pelecehan emosi, mental bahkan juga fisik? Bukankah kita sebagai keluarga dipanggil bukan hanya melarang anak-anak kita mendekati orang-orang atau kumpulan orang tertentu, melainkan menjadi sahabat sekaligus guru yang mengajarkan anak-anak kita dan tidak menimbulkan trauma bagi mereka?</p>
<p><strong>TIPS SEDERHANA BAGI ORANGTUA</strong></p>
<p>Dari pengalaman para pelayan yang menolong pemulihan, beberapa hal yang dianjurkan bagi para orangtua agar anak-anak kita setidaknya tidak terluka karena kita:</p>
<ol>
<li> Berikan waktu berkualitas kepada anak sehingga kita mengetahui isi perasaan anak sejak dini. Mungkin bagi kita ceritanya tidak terlalu penting dibandingkan bisnis dan hobi kita, tetapi hal itu penting bagi mereka. Hargailah setiap cerita anak-anak kita sebagai kisah yang menarik dan penting dalam hidup kita. Siapa tahu di antara cerita mereka, ada pengalaman traumatis di luar jangkauan perhatian kita. Di saat itulah kita dapat menolong anak kita dengan melakukan pelayanan pemulihan.</li>
<li>Hindari kata-kata yang membuat anak dibandingkan, dicela, dituduh, dihakimi, dibatasi. Namun sekiranya ada hal-hal yang perlu dihindari anak, jelaskan alasan dan akibat dari hal tersebut, beserta pengalaman yang dialami orangtua berkaitan dengan hal tersebut. Tentu saja orangtua yang menceritakan peristiwa traumatik perlu juga dipulihkan terlebih dahulu sehingga ceritanya tidaklah menular dan membawa trauma bagi anak.</li>
<li>Yakinkan anak-anak bahwa pengampunan dari Tuhan diberikan kepada anak tetapi juga dibekali kepada anak. Sehingga apa pun pengalaman terluka atau pengalaman luka yang mereka alami, dapat dipulihkan dengan kuasa kasih dan pengampunan Kristus sekalipun tidak semua dapat dilakukan dengan cepat.</li>
</ol>
<p><strong>PEMULIHAN DIRI SENDIRI</strong></p>
<p>Sebelum Tuhan memakai kita melakukan pelayanan pemulihan, ternyata Tuhan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk memulihkan diri. Apa yang dapat kita lakukan untuk memulihkan diri kita sendiri dari luka yang tersimpan atau terkubur dalam hati, pikiran atau hidup kita?</p>
<p>Pemulihan diri dimulai dari menyadari perasaan negatif yang kita alami, relasi buruk yang sempat atau sering kita alami, peristiwa yang berkaitan dengan sikap merendahkan diri atau orang lain yang kita lakukan, atau juga judul/nama dari tingkah laku yang menyimpang yang kita miliki. Misalnya, saya tidak suka jika seorang mengatakan “Kamu cantik!” atau saya tidak suka jika mata seseorang mulai melihat pakaian saya. Atau juga, saya merasa marah dan kesal jika mendengar bunyi lonceng gereja.</p>
<p>Step kedua adalah mencari tahu, pengalaman pertama kali yang membuat saya tidak menyukai hal tersebut.</p>
<p>Step ketiga adalah terbuka untuk mengampuni orang yang melakukan hal itu sambil meminta kuasa kasih Kristus memulihkan hati dan pikiran kita.</p>
<p>Step keempat adalah mengalami perasaan baru yang berbeda dari sebelumnya saat memikirkan dan mengalami hal yang serupa dengan peristiwa traumatik tersebut.</p>
<p>Step kelima adalah melakukan hal yang positif sebagai hasil dari pemulihan yang Tuhan berikan.</p>
<p>Tentu saja kelima hal di atas bukan pengalaman seperti membalikkan telapak tangan. Ada orang-orang yang membutuhkan waktu 1 bulan, 2 bulan, 10 tahun bahkan 20 tahun untuk mencapai keadaan pulih. Namun kiranya kita sebagai orangtua yang diberikan kepercayaan oleh Tuhan dapat mengalaminya terlebih dahulu sehingga kita dapat menolong generasi kita selanjutnya menjalani hidup dengan penuh sukacita dan damai sejahtera, saat menghadapi berbagai masalah dalam perjalanan hidupnya.</p>
<p>Tuhan memberkati!</p>
<p>Pdt. Riani Josephine</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/healing-ministry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

