<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Edukasi</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/artikel-humanis/edukasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kesukaan Bagi Dunia</title>
		<link>http://gkipi.org/kesukaan-bagi-dunia/</link>
		<comments>http://gkipi.org/kesukaan-bagi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 16:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=7055</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki tua itu duduk di bilik pompa bensinnya pada suatu malam Natal yang dingin. Sudah bertahun-tahun ia tidak pergi ke mana-mana sejak istrinya meninggal. Hari itu sama seperti hari-hari lainnya. Ia tidak membenci Natal, hanya tidak menemukan alasan untuk merayakannya. Ia sedang duduk di sana sambil memandang ke salju yang terus turun sejak sejam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lelaki tua itu duduk di bilik pompa bensinnya pada suatu malam Natal yang dingin. Sudah bertahun-tahun ia tidak pergi ke mana-mana sejak istrinya meninggal. Hari itu sama seperti hari-hari lainnya. Ia tidak membenci Natal, hanya tidak menemukan alasan untuk merayakannya. Ia sedang duduk di sana sambil memandang ke salju yang terus turun sejak sejam yang lalu dan merenung ketika pintu terbuka dan seorang laki-laku tunawisma masuk.</p>
<p>Alih-alih menyuruhnya pergi, George Tua–sebagaimana ia dikenal oleh para pelanggannya–berkata kepada orang itu untuk duduk di dekat pemanas dan menghangatkan tubuhnya. &#8220;Terima kasih, tetapi saya tidak bermaksud mengganggu Anda,&#8221; kata orang asing itu. &#8220;Saya lihat bahwa Anda lagi sibuk. Saya pergi saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan pergi sebelum mengisi perut dengan sesuatu yang hangat,&#8221; kata George. Ia lalu membalikkan badan dan membuka sebuah termos yang lebar mulutnya lalu memberikannya kepada orang asing itu. &#8220;Ini tidak banyak, tetapi hangat dan enak. Bubur yang saya buat sendiri. Kalau Anda sudah makan, di sana ada kopi yang baru dibuat.&#8221;</p>
<p>Tepat pada waktu itu ia mendengar suara &#8220;ding&#8221; dari bel di pintu masuk. &#8220;Maaf, sebentar ya,&#8221; kata George. Di depan pintu ada sebuah Chevrolet tua tahun 1953. Asap mengepul dari bagian depan mobil. Pengemudinya tampak panik. &#8220;Pak, apakah bisa bantu saya?&#8221; kata pengemudi itu dengan aksen Spanyol yang dalam. &#8220;Istri saya sedang hamil dan mobil saya mogok.&#8221; George membuka kap mobil itu. Keadaannya buruk. Blok tampak pecah karena dingin, mobilnya mati.</p>
<p>&#8220;Anda jangan pergi dengan mobil ini,&#8221; kata George dan membalikkan badannya.</p>
<p>&#8220;Tapi Pak, tolonglah saya&#8221;</p>
<p>Pintu kantor menutup di belakang George ketika ia masuk ke dalam. Ia menuju ke dinding kantor dan mengambil kunci truk tuanya, lalu kembali keluar. Ia berjalan mengelilingi bangunan itu, membuka garasi, menstarter truk dan mengemudikannya ke tempat di mana pasangan ini sedang menunggu. &#8220;Ini, pakai truk saya,&#8221; katanya. &#8220;Memang tidak bagus kelihatannya, tapi jalannya baik.&#8221;</p>
<p>George membantu istri yang hamil itu naik ke dalam truk dan memandang ketika truk itu pergi di dalam kegelapan malam. Ia berbalik dan masuk kembali ke kantornya. &#8220;Saya senang bisa memberikan truk itu kepada mereka, karena ban-ban mobil itu juga sudah usang. Ban-ban truk tua itu masih baru&#8230;&#8221;</p>
<p>George mengira bahwa ia sedang berbicara kepada orang asing tadi, tetapi laki-laki itu sudah pergi. Termosnya terletak di atas meja dan sudah kosong, dengan cangkir kopi yang sudah dipakai. &#8220;Ya, setidak-tidaknya perutnya tidak kosong,&#8221; pikir George.</p>
<p>George kembali keluar untuk melihat apakah Chevrolet tua itu mau distarter. Mobil itu perlahan-lahan hidup. Ia memasukkannya ke dalam garasi, di mana truk tadi berada. Ia berpikir untuk memperbaikinya, sambil melewatkan waktu. Malam Natal biasanya sepi pelanggan. Ia menemukan bahwa blok itu tidak rusak, hanya selang bawah radiatornya pecah. &#8220;Wah untung, aku dapat membetulkannya,&#8221; katanya kepada diri sendiri. Jadi ia menggantinya dengan selang yang baru.</p>
<p>&#8220;Mereka tidak bisa melalui musim dingin dengan ban-ban itu.&#8221; Ia lalu mengambil snow treads (pelapis ban untuk berjalan di atas salju) dari mobil Lincoln tua istrinya. Masih seperti baru dan ia toh tidak akan mengendarai mobil ini.</p>
<p>Ketika sedang bekerja, ia mendengar suara tembakan. Ia lari keluar dan melihat seorang perwira terbaring di tanah yang dingin, di samping sebuah mobil patroli. Bahu kirinya berdarah, dan perwira itu mengerang, &#8220;Tolong saya.&#8221;</p>
<p>George menolong perwira itu masuk ke dalam sambil mengingat-ingat pelatihan yang diterimanya di Angkatan Bersenjata sebagai tenaga medis. Ia tahu bahwa luka itu perlu ditangani. &#8220;Harus ditekan untuk menghentikan perdarahan,&#8221; pikirnya. Perusahaan pengantar seragam baru datang pagi itu dan meninggalkan handuk-handuk yang bersih. Ia memakai handuk-handuk itu dan menggunakan lakban untuk mengikat luka tersebut. &#8220;Hai, memang lakban itu serba guna ya?&#8221; katanya untuk membuat polisi itu lebih tenang.</p>
<p>&#8220;Sekarang obat buat rasa sakit,&#8221; pikir George. Ia hanya punya pil yang biasa dipakainya untuk meringankan sakit pinggang. &#8220;Ini bisa membantu.&#8221; Dituangkannya sedikit air di gelas dan diberikannya pil itu kepada si perwira. &#8220;Tunggu sebentar ya, saya panggil ambulans.&#8221;</p>
<p>Telpon ternyata mati. &#8220;Mungkin saya bisa memanggil salah satu teman Anda dari kotak suara yang ada di mobil Anda.&#8221; Ia keluar tapi menemukan bahwa sebuah peluru telah mengenai dashboard dan merusakkan radio komunikasi itu.</p>
<p>Ia kembali dan menemukan si polisi sudah duduk. &#8220;Terima kasih,&#8221; kata perwira itu. Anda bisa saja membiarkan saya di sana. Orang yang menembak saya masih berkeliaran di dekat sini. George duduk di sampingnya. &#8220;Saya tidak pernah meninggalkan orang yang terluka di Angkatan Bersenjata dan saya tidak akan meninggalkan Anda.&#8221; George membuka perban untuk mengecek perdarahan. &#8220;Lukanya tidak separah kelihatannya. Peluru itu memang masuk ke dalam, tapi tidak mengenai bagian yang penting. Saya kira bahwa Anda bisa cepat sembuh.&#8221;</p>
<p>George berdiri dan menuangkan secangkir kopi. &#8220;Mau pakai gula?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Tidak usah,&#8221; kata si perwira.</p>
<p>&#8220;Oh, Anda harus minum. Ini kopi yang terbaik di kota ini. Sayang saya tidak punya donat.&#8221; Si perwira tertawa dan meringis pada saat bersamaan.</p>
<p>Pintu depan kantor terbuka lebar-lebar. Seorang laki-laki muda masuk dengan mengacungkan sebuah pistol. &#8220;Berikan semua uangmu! Sekarang juga!&#8221; teriaknya. Tangannya gemetar dan George langsung tahu bahwa ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Itu orang yang menembak saya!&#8221; seru si perwira.</p>
<p>&#8220;Nak, mengapa Anda melakukannya?&#8221; tanya George, &#8220;Anda perlu menyimpan pistol itu. Orang lain bisa terluka.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu bingung. &#8220;Tutup mulut Pak Tua atau saya akan menembakmu juga. Ayo, berikan uang kepada saya!&#8221;</p>
<p>Si polisi meraih pistolnya. &#8220;Simpan barang itu,&#8221; kata George kepada polisi tersebut, &#8220;sudah terlalu banyak pistol di sini.&#8221;</p>
<p>Ia mengalihkan perhatiannya kepada laki-laki muda itu. &#8220;Nak, ini Malam Natal. Jika Anda ingin uang, saya akan berikan. Memang tidak banyak tapi hanya itu yang saya punya. Sekarang simpan pistolmu.&#8221;</p>
<p>George mengambil 150 $ dari kantongnya dan menyerahkan kepada laki-laki muda itu, sambil pada saat bersamaan meraih pistol tersebut. Laki-laki muda itu melepaskan cengkeraman dari pistolnya, jatuh berlutut dan mulai menangis. &#8220;Saya tidak mahir menggunakannya. Yang saya inginkan ialah membeli sesuatu untuk istri dan anak saya,&#8221; katanya melanjutkan. &#8220;Saya sudah kehilangan pekerjaan saya, saya harus membayar sewa rumah dan mobil saya minggu lalu disita.&#8221;</p>
<p>George menyerahkan pistol itu kepada si polisi. &#8220;Nak, kita semua bisa terdesak oleh keadaan. Kadang-kadang jalan itu keras, tetapi kita harus melaluinya sebaik mungkin.&#8221;</p>
<p>Ia menyuruh laki-laki muda itu berdiri dan mendudukkannya di kursi di seberang polisi itu. &#8220;Kadang-kadang kita melakukan hal yang bodoh.&#8221; George memberikan secangkir kopi kepada laki-laki muda itu. &#8220;Membuat kebodohan adalah suatu hal yang membuat kita manusiawi. Masuk ke sini dengan pistol bukanlah jawabannya. Nah, sekarang duduklah di sini dan hangatkan badanmu dan kita akan mencari jalan keluarnya.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu berhenti menangis. Ia memandang kepada si polisi.&#8221; Maaf, saya menembak Anda. Pistol itu tiba-tiba meletus. Saya minta maaf, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Diam dan minumlah kopimu,&#8221; kata si polisi.</p>
<p>George dapat mendengar suara sirene di luar. Sebuah mobil polisi dan sebuah ambulans berhenti di depan pintu. Dua orang polisi masuk ke dalam dengan mengokang senjata.</p>
<p>&#8220;Chuck! Kamu oke?&#8221; tanya salah seorang polisi kepada perwira yang terluka.</p>
<p>&#8220;Tidak buruk buat orang yang tertembak. Bagaimana kalian menemukan saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Petunjuk lokasi GPS di mobil. Penemuan hebat masa kini. Siapa yang melakukannya?&#8221; tanya polisi lainnya sambil menghampiri laki-laki muda itu.</p>
<p>Chuck menjawab, &#8220;Saya tidak tahu. Orang itu lari di dalam kegelapan. Dia hanya menjatuhkan pistolnya dan lari.&#8221;</p>
<p>George dan laki-laki muda itu saling berpandangan dengan heran.</p>
<p>&#8220;Orang itu kerja di sini?&#8221; tanya polisi itu lebih lanjut.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; kata George. &#8220;Saya baru mempekerjakannya hari ini. Dia kehilangan pekerjaannya.&#8221;</p>
<p>Beberapa paramedis masuk dan mengangkat Chuck ke brankar. Laki-laki muda itu membungkuk ke polisi yang terluka itu dan berbisik, &#8220;Mengapa?&#8221;</p>
<p>Chuck hanya berkata, &#8220;Selamat Natal, Nak dan juga untuk Anda, George, dan terima kasih untuk semuanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, Anda bisa bernapas lega. Ini mestinya dapat memecahkan beberapa masalah Anda.&#8221;</p>
<p>George pergi ke ruang belakang dan keluar dengan membawa sebuah kotak. Ia mengeluarkan sebuah kotak cincin. &#8220;Ini dia, sesuatu untuk istrimu. Saya rasa Martha tidak keberatan. Ia bilang kalau suatu hari barang ini bisa berguna.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu melihat cincin berlian terbesar yang pernah dilihatnya. &#8220;Saya tidak bisa menerimanya,&#8221; katanya. &#8220;Cincin itu berarti untuk Anda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang cincin ini berarti untuk Anda,&#8221; jawab George. &#8220;Saya menyimpan kenang-kenangan. Itu cukup bagi saya.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu mulai menangis lagi dan ia menyerahkan kembali uang 150 $ yang tadi diberikan laki-laki tua itu kepadanya.</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana Anda membeli makanan untuk Natal? Bawa saja uang itu,&#8221; kata George. &#8220;Sekarang pulanglah ke keluargamu.&#8221;</p>
<p>Laki-laki muda itu berpaling dengan air mata yang mengucur di wajahnya. &#8220;Saya akan datang ke sini besok pagi untuk bekerja, jika tawaran kerja itu masih berlaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. Hari Natal saya tutup,&#8221; kata George. &#8220;Datanglah lusa.&#8221;</p>
<p>George membalikkan badan dan melihat bahwa orang asing itu telah kembali. &#8220;Anda datang dari mana? Saya kira Anda sudah pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya ada di sini. Saya selalu ada di sini,&#8221; kata orang asing itu. &#8220;Anda bilang bahwa Anda tidak merayakan Natal. Mengapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, setelah istri saya meninggal, saya tidak mengerti buat apa semua kerepotan ini. Menghias pohon Natal serasa membuang-buang pohon cemara yang baik. Membuat kue seperti yang saya lakukan bersama Martha tidak sama jika saya membuatnya sendiri dan selain itu saya juga sedikit bertambah gemuk.&#8221;</p>
<p>Orang asing itu meletakkan tangannya ke atas bahu George. &#8220;Tetapi Anda merayakannya, George. Anda memberi makan dan minum kepada saya dan menghangatkan saya ketika saya kedinginan dan lapar. Perempuan yang hamil tadi akan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi dokter yang terkenal. Polisi yang Anda tolong, akan pergi untuk menyelamatkan 19 orang dari pembunuhan teroris. Laki-laki muda yang berusaha merampok Anda, akan membuat Anda menjadi kaya dan tidak akan mengambil apa-apa untuk dirinya sendiri. Itulah inti Natal dan Anda telah memeliharanya dengan baik.&#8221;</p>
<p>George terkejut mendengar segala hal yang dikatakan orang asing itu. &#8220;Bagaimana Anda tahu semuanya ini,&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Percayalah kepada saya, George. Saya punya catatan tentang semua ini. Dan kalau waktu Anda di dunia selesai, Anda akan bersama Martha kembali.&#8221;</p>
<p>Orang asing itu beranjak ke pintu. &#8220;Mohon maaf, George, saya harus pergi sekarang. Saya harus pulang karena ada perayaan besar menanti saya.&#8221;</p>
<p>George memandang ketika jaket kulit tua dan celana sobek yang dikenakan orang asing itu berubah menjadi jubah putih. Sebuah cahaya keemasan memenuhi ruangan.</p>
<p>&#8220;Anda tahu, George&#8230; ini ulang tahunku. Selamat Natal.&#8221;</p>
<p>George jatuh berlutut dan menjawab, &#8220;Selamat Ulang Tahun, Tuhan Yesus.&#8221;</p>
<p>(Terjemahan bebas dari &#8220;Joy to the World&#8221;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/kesukaan-bagi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Kehormatan Diuji dan Dijunjung Tinggi</title>
		<link>http://gkipi.org/di-mana-kehormatan-diuji-dan-dijunjung-tinggi/</link>
		<comments>http://gkipi.org/di-mana-kehormatan-diuji-dan-dijunjung-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 10:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6809</guid>
		<description><![CDATA[Ajarlah Mereka Melakukan Segala Sesuatu yang Telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:20a) Mahatma Gandhi berkata, &#8220;Jika semua orang Kristen bersikap seperti Kristus, seluruh dunia akan menjadi Kristen.&#8221; Sayang, banyak orang yang mengaku Kristen dan menyandang nama-nama yang diambil dari Alkitab, bukan pengikut Kristus yang sejati. Mereka tidak melakukan perintah-perintah Tuhan. Firman-Nya: &#8220;Jangan membunuh,&#8221; tapi tanpa tedeng [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ajarlah Mereka Melakukan Segala Sesuatu yang Telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:20a)</p></blockquote>
<p>Mahatma Gandhi berkata, &#8220;Jika semua orang Kristen bersikap seperti Kristus, seluruh dunia akan menjadi Kristen.&#8221; Sayang, banyak orang yang mengaku Kristen dan menyandang nama-nama yang diambil dari Alkitab, bukan pengikut Kristus yang sejati. Mereka tidak melakukan perintah-perintah Tuhan. Firman-Nya: &#8220;Jangan membunuh,&#8221; tapi tanpa tedeng aling-aling mereka siap membinasakan siapapun yang menghalangi jalan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Perintah-Nya: &#8220;Jangan mencuri,&#8221; mereka bilang, &#8220;Korupsi itu biasa asal jangan ketahuan. Semuanya itu untuk kebaikan bersama (maksudnya dinikmati secara kolektif).&#8221; Sabda-Nya: &#8220;Jangan berzinah,&#8221; tapi praktik kawin cerai di kalangan orang Kristen semakin marak. Sungguh, mereka seperti lalang yang tumbuh bersama dengan gandum! Pada waktu menuai, barulah lalang itu dikumpulkan untuk dibakar (Matius 13:24-30).</p>
<p>Namun sebelum menghakimi orang lain, lebih baik kita bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri: &#8220;Apakah aku sudah mengajarkan mereka melakukan segala perintah Tuhan?&#8221;</p>
<p>Mengajarkan artinya memberitahukan (transfer of knowledge) berulang-ulang, baik dengan penjelasan lisan dan tertulis maupun dengan contoh-contoh (demonstrasi keteladanan) yang dapat ditangkap oleh pancaindra mereka. Sama seperti ketika kita mengajarkan anak berbahasa Inggris, kita pun tidak hanya mengenalkan mereka konsep bahasa Inggris, tapi terus menerus melatih mereka menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar dalam konteks kehidupan sehari-hari dan kita sendiri menjadi &#8216;role model&#8217; yang baik. Maka rumah, gereja dan sekolah adalah tempat di mana kita belajar dan mengajarkan nilai-nilai kristiani. Rumah, gereja dan sekolah menjadi tempat di mana kehormatan kita sebagai orang Kristen diuji dan dijunjung tinggi, khususnya dalam tiga nilai utama hidup kita yaitu: taat, tanggung jawab dan peduli.</p>
<p><strong>Taat</strong></p>
<blockquote><p>&#8220;Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga.&#8221; (Matius 7:21).</p></blockquote>
<p>Kehendak-Nya bagi kita adalah supaya kita saling mengasihi, seperti Yesus telah mengasihi kita (Yohanes 15:12).</p>
<p>Kasih yang tulus, sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih yang tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran (1 Korintus 13: 4-6).</p>
<p>Yesus Kristus mati disalibkan bukan akibat Pontius Pilatus kalah oleh desakan orang Yahudi, melainkan karena kasih-Nya kepada kita. Tidak ada seorang pun dapat mengambil nyawa-Nya! Yesus memberikan nyawa-Nya menurut kehendak-Nya sendiri karena Dia menaati kehendak Bapa (Yohanes 10:18).</p>
<p>Ketaatan kepada Allah Bapa membangkitkan kekuatan dan keberanian untuk mengatakan dan melakukan yang benar. Sering kita merasa lemah dan takut untuk mengatakan apalagi melakukan yang benar, karena ancaman atau intimidasi orang dengan kekayaan dan jabatan tinggi. Namun Yesus telah berpesan: &#8220;Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya&#8221; (Matius 10:38-39).</p>
<p>Setelah mengetahui anaknya tidak naik kelas, ada orangtua yang menggunakan koneksinya untuk memberi tekanan kepada pihak sekolah dan dewan guru agar mengubah keputusan itu. Syukurlah sekolah tetap berpegang pada hasil keputusan rapat pleno dewan guru yang memang dibuat tidak sembarangan, melainkan berdasarkan peraturan yang berlaku dan pertimbangan hati nurani. Sekolah Kristen memang seharusnya tidak goyah, baik oleh ancaman maupun bujuk rayuan.</p>
<p>Sungguh karya Tuhan yang indah ketika kita melihat orangtua Kristen, sekalipun kecewa akan kegagalan studi anaknya, memilih untuk tidak menyalahkan siapapun tapi memohon hikmat Tuhan untuk terus membenahi diri dan memercayakan anaknya tetap bersekolah di sekolah Kristen. Dengan melihat kasih, iman dan harapan positif orangtua, anak itu pun berubah sehingga berhasil lulus dengan nilai-nilai yang baik. Inilah sebuah kesaksian hidup yang mengagungkan nama-Nya!</p>
<p>Demikian juga ketika di sekolah ada anak yang mengalami bullying (pemaksaan kehendak untuk melakukan sesuatu, dari pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah), sekolah menangani dengan sangat serius melalui pendekatan dan kerjasama berbagai pihak: dewan guru, wali kelas, guru Bimbingan Konseling, orangtua, psikolog dan pendeta sekolah. Korban bullying mendapat perlindungan sekolah sebagaimana mestinya, sementara pelaku bullying dibina dan harus membuat perjanjian–bila masih melakukan hal jahat yang mengganggu orang lain, ia harus menerima sanksi keras yaitu dengan berat hati dikeluarkan dari sekolah dan dikembalikan kepada pembinaan orangtua di rumah. Dalam bentuk apapun, sudah sepatutnya tidak ada korban bullying yang justru terpaksa pindah ke tempat lain karena takut kepada pelaku bullying. Hanya kepada Tuhanlah kita harus takut dan taat, bukan kepada manusia yang tidak berkuasa menambah atau mengurangi umur hidup kita barang sedetik pun.</p>
<p>Kita tahu sekarang, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28).</p>
<p>Seorang teman memberi kesaksian bahwa dalam transaksi dagang, pembeli sering meminta kwitansi kosong untuk diisi dengan harga sesuka mereka. Sebagai anak Tuhan, teman saya ini tidak bersedia melakukan hal tersebut. Walau harga yang diberikannya paling murah dan kualitas barang lebih bagus, banyak pembeli lari ke tempat lain yang mau bersekongkol dengan mereka membuat kuintasi aspal (asli tapi palsu). Sampai beberapa tahun kemudian, dia terkejut mendapat serangkaian order transaksi yang sangat besar jumlahnya dan ternyata pembelinya adalah orang yang pernah marah besar kepadanya karena tidak mau membuat kuitansi fiktif. Orang tersebut sudah dipromosikan menjadi kepala bagian dan tahu betul praktik kotor yang biasa terjadi, sehingga memberi instruksi kepada bawahannya untuk hanya membeli di tempat teman saya tersebut, karena di sanalah penjualnya berlaku jujur.</p>
<p><strong>Tanggung jawab</strong></p>
<p>&#8220;Kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar.&#8221; Kesadaran ini menohok tokoh Hero dalam film Spiderman karena dia telah membiarkan seorang penjahat beraksi padahal sebenarnya dia mampu mencegahnya. Ternyata kemudian sang korban adalah pamannya sendiri, orang yang paling disayangi sebagai pengganti orangtuanya! Memang setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12: 48b).</p>
<p>Seorang teman, saat belum dikaruniai anak setelah belasan tahun menikah, sering mengeluh kesepian dan cemburu kepada mereka yang punya anak. Tetapi ketika Tuhan telah memberikan anak-anak kepadanya, dia mengakui betapa susah mengurus anak dan betapa berat biaya yang harus ditanggung untuk membesarkan mereka. Dia baru sadar bahwa anak bukanlah benda mati yang bisa diatur sesuka hati, juga bukanlah sosok yang selalu manis seperti malaikat–setiap anak punya karakter, kemauan dan kebutuhan sendiri yang kerap kali bertentangan dengan harapan orangtua, dan kerutan di dahinya bertambah saat dia mengingat pertambahan gaji yang merangkak lambat berbanding terbalik dengan kenaikan harga barang yang melaju secepat kilat!</p>
<p>Kamus Oxford-AS Hornby mendefinisikan tanggung jawab sebagai kewajiban untuk mengurus seseorang atau sesuatu (responsibility is a duty to deal with or take care of somebody or something), dan bertanggung jawab menunjukkan bahwa Anda bisa dipercaya (responsibly means in a sensible way that shows you can be trusted). Sebetulnya Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan di Indonesia, telah lama mengajarkan prinsip tanggung jawab: Ing Ngarsa Sung Tulada (Di Depan Memberi Teladan), Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah Membangun Kemauan) dan Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberi Dorongan).</p>
<p>Seorang kepala sekolah harus menjadi teladan bagi semua guru, karyawan dan murid sekolah. Sekolah Kristen yang terus berkembang maju pastilah memiliki pemimpin sekolah yang dapat dipercaya. Ia tidak hanya menguasai kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi multimedia maupun bahasa sebagai alat komunikasi, melainkan juga berkarakter kristiani yang membuatnya terus berkarya dengan rendah hati, penuh kasih dan hikmat. Seorang guru harus menjadi teladan bagi murid-muridnya, tidak hanya di dalam kelas tapi dalam seluruh kesempatan berinteraksi, baik melalui perkataan dan perbuatan maupun melalui penampilan dan gaya hidupnya sehari-hari. Orangtua juga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tidaklah pantas bila orangtua menuntut sekolah mencetak anaknya menjadi anak yang berdisiplin dan berbudi pekerti luhur dalam waktu singkat, sementara belasan tahun mereka telah membiarkan anak itu malas, manja dan berlaku egois serta membesarkan dia dalam pola hidup hedonis–jauh dari takut akan Tuhan.</p>
<p>Sebaliknya sebagai anak, kita harus menghormati orangtua kita terlepas dari segala kelemahan dan kekurangan mereka karena melalui merekalah kita bisa hidup dan menjadi diri kita sekarang ini. Orangtua kitalah yang telah mengurus dan melindungi kita ketika kita masih kecil, lemah dan tak berdaya. Jumlah waktu, tenaga dan uang yang telah mereka berikan bagi kita takkan bisa digantikan dengan apapun, terutama kasih, perhatian, harapan dan doa yang mereka berikan bagi kita setiap waktu. Sebagai bawahan, kitapun harus mau mendukung semua keputusan yang baik dari pemimpin kita karena hanya dengan demikianlah ketertiban, kemajuan dan kesuksesan bisa diraih. Jadi di manapun posisi kita, kita tidak bisa mengelak dari tanggung jawab yang melekat pada diri seiring dengan hak yang didapat.</p>
<p>Seorang teman berbagi hal indah yang didapatnya dari seorang hamba Tuhan bahwa keselamatan yang kita terima dari Yesus Kristus sama seperti uang sekolah yang sudah dibayar lunas oleh orangtua bagi anaknya. Maka kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan sungguh-sungguh seperti anak yang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dengan tekun supaya ia berhasil lulus sekolah. Seperti orangtua yang senang dan bangga melihat anaknya rajin belajar dan bertanggung jawab atas semua perbuatannya, Tuhan pun senang melihat kita mau taat pada-Nya dan penuh tanggung jawab dalam menjalani hidup ini sehingga setiap kita datang kepada-Nya, berkat-Nya diberi! (Kidung Jemaat 396)</p>
<p><strong>Peduli</strong></p>
<p>Dunia akan menjadi jauh lebih buruk saat tidak ada lagi orang Kristen yang menjadi terang dan garam dunia. Saat semua orang berdiam diri saja mengetahui pelecehan martabat manusia terjadi di depan mata, saat orang memilih menutup mata dan tidak peduli pada keselamatan orang lain–yang penting diri sendiri aman–maka sesungguhnya kita sedang mempercepat kehancuran dunia ini.</p>
<p>Kompas Senin 20 Juni 2011 membahas kerusakan moral bangsa yang mencemaskan karena terjadi di hampir semua lini, baik di birokrasi pemerintahan, aparat penegak hukum, maupun masyarakat umum. Sebagai contoh, Yusak Yaluwo dapat menang Pilkada Kabupaten Boven Digoel meskipun sebelumnya sudah divonis 4,5 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor dalam kasus korupsi APBD Rp 66 miliar dan Jefferson M. Rumajar menang Pilkada Tomohon, Sulawesi Utara padahal sebelumnya ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus korupsi APBD 2006-2008 senilai Rp 19,8 miliar dan telah divonis 9 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor. Ternyata sering kali mereka yang terpilih bukan dipilih berdasarkan karakter dan hasil karyanya, tapi hanya berdasarkan wajah, kekayaan atau penampilannya saja! Janganlah hal itu juga menjadi kriteria kita saat kita memilih pengurus atau pemimpin sekolah, pasangan hidup atau calon menantu!</p>
<p>Kita tahu, GKI Taman Yasmin di Bogor disegel oleh pemerintahan daerah walau izin rumah ibadah sudah lama diperoleh sehingga jemaat-Nya harus beribadah di pelataran gereja. Kita terus berdoa bersama untuk jemaat GKI Taman Yasmin. Meskipun tangan kita mungkin kurang panjang untuk menolong mereka, tapi melalui wakil-wakil kita di Sinode, PGI, lembaga-lembaga negara dan DPR kita percaya pertolongan Tuhan pasti datang. Tiada yang mustahil bagi-Nya. Seperti Martin Luther King Jr., saat menghadapi diskriminasi rasial yang sangat jahat di negaranya, memilih untuk tetap percaya bahwa suatu hari generasi anak-anaknya tidak akan lagi dihargai karena warna kulit melainkan karena perbuatan dan karakter mulia. Marilah kita percaya bahwa suatu saat tidak akan ada lagi praktik diskriminasi agama di Indonesia. Bhineka Tunggal Ika akan dijabarkan dalam kerukunan umat beragama, semangat gotong-royong yang &#8216;rame ing gawe sepi ing pamrih&#8217;! Karena kita beserta Tuhan adalah mayoritas, bukan minoritas.</p>
<p>Akhirnya ketaatan kita pada Tuhan, tanggung jawab kita pada semua yang Tuhan percayakan pada kita dan kepedulian kita pada dunia yang Tuhan titipkan pada kita adalah tolak ukur yang membedakan hidup kita orang Kristen dari non Kristen. Sudahkah dunia melihat semua nilai utama tersebut–sosok Kristus–pada diri kita di rumah, di gereja, di tempat kita menjalani hidup sehari-hari? Sudahkah mereka belajar dari kita tentang perintah-perintah-Nya?</p>
<p>Jakarta, Juni 2011</p>
<p>Eva Khaliska Hamdani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/di-mana-kehormatan-diuji-dan-dijunjung-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Harian Seorang Pramugari</title>
		<link>http://gkipi.org/catatan-harian-seorang-pramugari/</link>
		<comments>http://gkipi.org/catatan-harian-seorang-pramugari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 15:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6540</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya membagikan suatu cerita berdasarkan catatan harian&#8230; Saya, seorang pramugari dari China Airline. Seperti layaknya pramugari, setiap hari pekerjaan saya melayani penumpang, dan hal itu saya jalani bertahun-tahun dan tidak meninggalkan pengalaman yang mengesankan. Sampai pada tanggal 7 Juni yang lalu, ketika saya menjumpai suatu pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap pekerjaan maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kali ini saya membagikan suatu cerita berdasarkan catatan harian&#8230;</em></p>
<p>Saya, seorang pramugari dari China Airline. Seperti layaknya pramugari, setiap hari pekerjaan saya melayani penumpang, dan hal itu saya jalani bertahun-tahun dan tidak meninggalkan pengalaman yang mengesankan. Sampai pada tanggal 7 Juni yang lalu, ketika saya menjumpai suatu pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.</p>
<p>Hari itu jadwal perjalanan kami dari Shanghai menuju Beijing, penumpang sangat penuh. Di antara penumpang, saya melihat seorang kakek sepertinya dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya &#8220;ndesonya&#8221;. Pada saat itu saya berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah, zaman sekarang sungguh tidak mengherankan bila seorang dari desa naik pesawat.</p>
<p>Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Pada saat melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua itu, duduk tegak dan kaku bagaikan patung di tempat duduknya dengan memangku karung tua. Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut ia melambaikan tangan menolak. Ketika kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk, hal itu juga ditolaknya. Kami membiarkannya duduk dengan tenang.</p>
<p>Menjelang pembagian makanan, ia terlihat duduk dengan tegang di tempat duduknya, dan ketika kami menawarkan makanan kepadanya, ia juga menolaknya. Akhirnya kepala pramugari dengan ramah bertanya kepadanya apakah ia sakit. Dengan suara kecil ia menjawab bahwa ia hendak ke toilet tetapi takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang di dalam pesawat. Kami menjelaskan kepadanya bahwa ia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantarnya ke toilet.</p>
<p>Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihatnya melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Tanpa bertanya lagi, kami meletakkan segelas minuman teh di mejanya, namun ternyata gerakan kami mengejutkannya, dan dengan terburu-buru ia mengatakan, &#8220;Tidak usah, tidak usah.&#8221; Kami mengatakan, &#8220;Nggak apa-apa, minumlah.&#8221; Pada saat ini dengan spontan dikeluarkannya segenggam uang logam dari sakunya dan disodorkan kepada kami. Kami menjelaskan kepadanya bahwa minumannya gratis. Ia tidak percaya. Katanya, pada saat dalam perjalanan menuju bandara, ia merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan, namun tidak diladeni, malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui bahwa demi menghemat biaya perjalanan dari desa, ia berjalan kaki sampai mendekati bandara dan setelah itu baru naik mobil. Karena uang yang dibawanya sangat sedikit, ia hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan. Itupun kebanyakan ditolak dan ia dianggap sebagai pengemis. Setelah kami membujuknya, akhirnya ia percaya dan duduk dengan tenang minum secangkir teh. Kami menawarkan makanan tetapi ia menolaknya.</p>
<p>Ia bercerita bahwa ia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulungnya sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Beijing. Anak sulung yang bekerja di kota telah menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersamanya di kota, tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal di kota dan akhirnya pulang kembali ke desa. Kali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Beijing. Anak sulungnya tidak tega jika orangtua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan diri untuk menemani ayahnya pergi ke Beijing, tetapi kakek itu menolak karena menganggap bahwa hal itu terlalu boros mengingat tiket pesawat sangat mahal. Ia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa anaknya menyetujuinya.</p>
<p>Ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, kakek itu disuruh menitipkan karung berisi ubi kering yang dibawanya itu di tempat bagasi tetapi ia bersikeras membawanya sendiri. Katanya, jika ditaruh di sana, ubi tersebut akan hancur, dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Dengan tenang kini ia duduk sambil merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya. Kami membujuknya untuk meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk. Akhirnya ia bersedia dan dengan hati-hati meletakkan karung tersebut.</p>
<p>Sepanjang sisa penerbangan, kami terus menambah minuman untuknya, dan ia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus. Meskipun begitu ia tetap tidak mau makan, padahal kami tahu bahwa sesungguhnya ia sangat lapar.</p>
<p>Saat pesawat hendak mendarat, dengan suara berbisik ia bertanya kepada saya, apakah ada kantong kecil, dan meminta saya meletakkan makanannya di dalam kantong tersebut. Ia mengatakan bahwa ia belum pernah melihat makanan yang begitu enak dan ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget. Makanan yang menurut kami begitu biasa karena melihatnya setiap hari, di mata seorang desa ternyata begitu berharga. Dengan menahan lapar, disisihkannya makanan tersebut demi anaknya.</p>
<p>Dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa dan belum kami bagikan kepada penumpang, lalu memasukkannya ke dalam kantong yang akan kami berikan kepada kakek itu. Di luar dugaan, ia menolak pemberian kami dan hanya menghendaki bagiannya yang belum dimakan. Ia tidak menghendaki yang bukan haknya. Perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.</p>
<p>Pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, ia menunggu untuk keluar paling akhir. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat dan sebelum keluar ia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa dan tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Ia berlutut dan menyembah kami, sambil mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Ia mengatakan bahwa kami semua adalah orang paling baik yang pernah dijumpainya. &#8220;Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah minum air yang begitu manis dan menyantap makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.&#8221; Itu semua diucapkannya sambil menyembah dan menangis. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja di lapangan untuk membantunya keluar dari lapangan terbang.</p>
<p>Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beraneka-ragam penumpang sudah saya jumpai. Ada yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah saya bertemu dengan orang yang berterima kasih sambil menyembah kami. Padahal kami hanya menjalankan tugas rutin kami dan tidak memberikan sesuatu yang istimewa. Seperti biasanya, kami hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami untuk mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Sungguh, saya mendapat pelajaran berharga dari orang &#8220;ndeso&#8221; yang merangkul karung tua berisi ubi kering dan menahan lapar untuk menyisihkan makanan bagi anak tercinta, serta tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya. Perbuatan itu membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.</p>
<p>Moral cerita: Jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat. &#8220;Don’t judge the book by it’s cover,&#8221; kata Tukul Arwana.</p>
<p>Selamat bersyukur!</p>
<p>Eddy Nugroho</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/catatan-harian-seorang-pramugari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih</title>
		<link>http://gkipi.org/terima-kasih/</link>
		<comments>http://gkipi.org/terima-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 14:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=6284</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tas ransel hitam itu, Mbak,&#8221; kataku sambil menunjuk tas yang kumaksud dan menyodorkan kartu penitipan tas kepada perempuan berkerudung hitam di depanku. Mungkin usianya lima tahun di atasku. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia bekerja di toko swalayan ini. Yang jelas, sejak aku sering berbelanja di toko itu selama hampir setahun, aku sering melihatnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Tas ransel hitam itu, Mbak,&#8221; kataku sambil menunjuk tas yang kumaksud dan menyodorkan kartu penitipan tas kepada perempuan berkerudung hitam di depanku. Mungkin usianya lima tahun di atasku. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia bekerja di toko swalayan ini. Yang jelas, sejak aku sering berbelanja di toko itu selama hampir setahun, aku sering melihatnya.</p>
<p>Dia dengan segera mengambil tas yang kutunjuk lalu menyerahkannya kepadaku. &#8220;Terima kasih,&#8221; kataku sambil tersenyum sekilas. Dia diam saja. Hampir selalu begitu. Rasa-rasanya aku tak ingat apakah dia pernah membalas<br />
ucapan terima kasihku atau tidak. Bibirnya yang bergincu merah semu oranye itu jarang mengulaskan senyum. Mimik mukanya datar-datar saja, bahkan rasanya cenderung agak galak. Tak jarang sorot matanya menunjukkan kelelahan.</p>
<p>Aku tahu, berdiri hampir sepanjang hari sambil menerima dan mengangsurkan tas-tas para pelanggan toko ini memang tak mudah. Maksudku, mungkin ini bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kurasa ini juga bukan pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Aku sangat maklum jika dia tak membalas senyumanku atau ucapan terima kasihku.</p>
<p>Terima kasih adalah dua kata yang dijejalkan di kepalaku selama lima tahun saat aku tinggal di asrama Syantikara, Jogja. Ketika pertama kali masuk ke sana, ucapan terima kasih itu ditekankan untuk kami ucapkan kepada siapa pun yang telah membantu kami–bahkan untuk hal yang sangat sepele dan sepertinya sangat wajar. Misalnya, kami harus mengucapkannya setelah kami sama-sama mencuci piring usai makan bersama.</p>
<p>Awalnya agak janggal bagiku karena toh kami mencuci piring bersama. Ada yang bagian menyabun, ada yang membilas, dan ada yang mengelap piring-piring serta sendok yang masih basah. Pertama-tama aku bingung, kenapa mesti mengucapkan terima kasih dan mengapa aku perlu mendapatkan ucapan itu dari teman-teman yang lain? Tetapi aku sadar bahwa kami semua telah bekerja dan saling membantu, walaupun itu pekerjaan yang sederhana. Ucapan terima kasih adalah &#8220;upah&#8221; paling sederhana yang bisa diungkapkan kepada teman-teman. Jadi, usai mencuci piring, kami biasanya akan beramai-ramai mengucapkan &#8220;terima kasih&#8221; dengan menyebut nama semua teman yang ada. Ramai kan? Dan memang biasanya tempat cuci piring di kafe (tempat makan bersama kami) akan riuh dengan ucapan terima kasih itu.</p>
<p>Ucapan terima kasih ini saking sering diucapkan kadang membuat kami jadi latah. Dulu, jika ada yang mau berbelanja ke toko–seringnya ke Mirota Kampus–tak jarang akan woro-woro: &#8220;Aku mau ke Mirota, nih! Ada yang mau titip nggak?&#8221; Biasanya ada saja yang titip, entah titip pasta gigi, tisu, sabun, jajanan, dan sebagainya. Tentunya si penitip menyebutkan barang titipannya sambil menyerahkan uang. Yang unik, orang yang dititipi belanja itulah yang justru akan langsung mengucapkan &#8220;terima kasih&#8221; setelah menerima uang, hi&#8230; hi&#8230; hi&#8230; Lha wong dia yang repot belanja, malah dia yang langsung berterima kasih. Mungkin karena kesannya dia diberi uang, lalu dia langsung mengucapkan kata-kata wajib itu.</p>
<p>Menurutku, mengucapkan terima kasih itu adalah hal yang perlu. Bukankah kepada seorang anak kecil kita juga menanamkan ungkapan tersebut? Tetapi memang sepertinya saat ini ucapan terima kasih agak jarang kudengar di tempat umum. Bahkan sepertinya, ucapan itu hanya berupa tulisan di depan kasir, di pintu keluar sebuah toko, dan lain-lain. Tulisan itu dianggap sudah mengandung ketulusan suatu ungkapan. Tetapi tak jarang pula, ucapan itu hanya seperti pemanis bibir, tidak benar-benar keluar dari hati.</p>
<p>Sekarang setelah 10 tahun aku meninggalkan asrama, aku masih berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh kepada orang-orang yang kujumpai, mulai dari sopir angkot sampai petugas keamanan yang mengecek tasku ketika akan memasuki suatu gedung. Orang rata-rata membalas dengan ucapan &#8220;sama-sama&#8221; sambil tersenyum. Rasanya yang hampir tak pernah tersenyum ya cuma perempuan berkerudung, penjaga bagian titipan barang di toko swalayan langgananku itu tadi. Entah kenapa ia begitu, mungkin sedang sakit gigi.</p>
<p>blognyakrismariana.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dendam Positif</title>
		<link>http://gkipi.org/dendam-positif/</link>
		<comments>http://gkipi.org/dendam-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 10:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5522</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah perusahaan pertambangan minyak Arab Saudi, pada akhir tahun 40-an, seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan sehingga bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan segera mengisi air itu ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah perusahaan pertambangan minyak Arab Saudi, pada akhir tahun 40-an, seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan sehingga bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan segera mengisi air itu ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur.”</p>
<p>Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu bahwa ia hanya seorang anak miskin lulusan Sekolah Dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, itu hanya karena ia lulusan suatu lembaga setempat, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.</p>
<p>Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: “Kenapa hal ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untukku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur, aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?</p>
<p>Pertanyaan ini selalu muncul kembali di dalam benaknya, sehingga akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “DENDAM POSITIF.”</p>
<p>Remaja miskin ini berkomitmen untuk mengubah nasibnya. Ia bekerja keras pada siang hari dan melanjutkan sekolah pada malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman diterimanya. Buah kerja kerasnya membuahkan hasil. Akhirnya ia bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika untuk mengambil kuliah S-1 di bidang teknik dan master di bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.</p>
<p>Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, dan kembali sebagai insinyur serta bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja?</p>
<p>Tidak, kariernya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketertinggalan, sehingga dalam pekerjaan pun kariernya menyusul yang lain.</p>
<p>Kariernya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu. Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin cuti dan berkata: “Saya ingin mengajukan izin cuti. Saya berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Saya berharap Anda tidak membalas dendam atas kekasaran dan keburukan perilaku saya di masa lalu.”</p>
<p>Apa jawab sang wakil direktur, mantan pekerja rendahan ini?</p>
<p>“Saya ingin berterimakasih kepada Anda dari lubuk hati saya yang paling dalam karena Anda melarang saya minum saat itu. Ya, dulu saya benci kepada Anda. Tapi, Andalah penyebab kesuksesan saya, sehingga saya dapat meraih posisi ini.”</p>
<p>Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu, apakah ceritanya sampai di sini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.</p>
<p>Tahukan Anda, apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company), perusahaan minyak terbesar di dunia. Di tangannya, perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaan ini menghasilkan 3.4 juta barrel (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrel minyak dan 253 triliun cadangan gas.</p>
<p>Atas prestasinya, ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.<br />
Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.</p>
<p>Terbayangkah Anda, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.</p>
<p>Itulah kekuatan “DENDAM POSITIF.”</p>
<p>Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah kita akan hancur, atau bangkit dengan semangat “Dendam Positif”, itu semua tergantung dari keputusan kita.</p>
<p>Salam berPOSITIFria,</p>
<p>Nia Gatugapan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/dendam-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Blocks to Creative Thinking and How to Solve Them</title>
		<link>http://gkipi.org/7-blocks-to-creative-thinking-and-how-to-solve-them/</link>
		<comments>http://gkipi.org/7-blocks-to-creative-thinking-and-how-to-solve-them/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 04:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5331</guid>
		<description><![CDATA[Each of us has the power to be creative. It’s part of our natural make-up as human beings. The trouble is that, too often, we block our natural creativity and so make errors in thinking and give ourselves more problems than we should. Here are 7 ways to open up your natural creativity and keep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Each of us has the power to be creative. It’s part of our natural make-up as human beings. The trouble is that, too often, we block our natural creativity and so make errors in thinking and give ourselves more problems than we should. Here are 7 ways to open up your natural creativity and keep the channels unblocked.</p>
<p>1.	Don’t Make Assumptions. When we assume, we often make an “ass” out of “u” and “me”. Assumptions are examples of lazy thinking. We simply don’t wait to get all the information we need to come to the right conclusions. There is the story of the customer at the bank who after cashing a cheque and turning to leave, returns and says: “Excuse me, I think you made a mistake.” The cashier responds, “I’m sorry but there’s nothing I can do. You should have counted it. Once you walk away we are no longer responsible.” Whereupon the customer replies: “Well, okay. Thanks for the extra $20.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: When you feel yourself wanting to draw conclusions, just wait until you have all the information.</p>
<p>2.	See Things From Other Points Of View. A truly open mind is willing to accept that, not only do other people have other just as valid points of view from theirs, but that these other points of view may be more valid. A story is told that the modernist painter Pablo Picasso was once traveling on a train across Spain when he got into conversation with a rich businessman who was dismissive of modern art. As evidence that modern art didn’t properly represent reality, he took out a photo of his wife from his wallet and said: “This is how my wife should look, not in some silly stylized representation.” Picasso took the photo, studied it for a few moments and asked: “This is your wife?” The businessman proudly nodded. “She’s very small,” observed Picasso wryly.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: Don’t have a monopoly on how things are. Things aren’t always what they seem. Be ready to consider other points of view.</p>
<p>3.	Avoid Yo-Yo Thinking. Some people tend to have a tendency to swing from a highly positive mood one minute to a highly negative one the next, all because of what they see in front of them. It’s like a yo-yo: up one minute, down the next. It’s far healthier to stay neutral and not let emotions get the better of you.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: Remember that things are rarely as good-or as bad-as you think they are.</p>
<p>4.	Get Rid Of Lazy Thinking Habits. Habit can be a major stumbling block to clear thinking and another example of laziness. Try this experiment. Write down the Scottish surnames Macdonald, Macpherson, and Macdougall and ask someone to pronounce them. Now follow these with the word Machinery and see what happens. Most people are likely to miss-pronounce it. This is because we tend to think in habitual ways and don’t like what doesn’t fit.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: Don’t think that, just because things happened in a certain way once before, that they will happen like that again.</p>
<p>5.	Don’t Think Like An Old Person, Think Like A Child. Research shows that the number of synapses, or connections, in the brain is greater in a child of two than in an average adult. The reason for this is that, while a child of two has no limiting world view, as adults we do. It’s like a sculptor who starts off with a large block of clay, more than he needs, and then gradually removes the clay as he moulds his sculpture. If we use our brain like a child, accepting everything without judgment, we can actually halt and reverse the brain ageing process.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: Don’t worry about the myth of age. With the right stimulus and a passion for learning, you can actually improve your brain’s powers.</p>
<p>6.	See The Detail As Well As The Big Picture. You may know the poem by John Godfrey Saxe called “The Blind Men and the Elephant.” This tells how six blind men of Indostan go to see an elephant and each try to work out what it is from touching it. One blind man touches the tusk, another the trunk, another the tail, and so on. Of course, not being able to see the whole elephant, they come to wildly different conclusions.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: Try to keep the big picture in front of you while looking at details. It will help to put everything in its proper place and context.</p>
<p>7.	Think For Yourself. Taking time out to think is still frowned on in many organizations that prize activity over creativity. People who work in creativity-constrained organizations are likely to think the way they are supposed to think, or as others think, or as has always been the way to think. It’s like the blinkered thinking that Hans Christian Anderson describes in his story of “The Emperor’s New Clothes.” Everyone in the land refuses to see that the emperor is naked and has been duped into believing he is wearing a splendid costume for his coronation. Only a young boy who has been ill and not party to the cultural brainwashing can see the truth and cries out: “Look, everyone, the Emperor is wearing no clothes!”</p>
<p style="padding-left: 30px;">Tip: Don’t let others tell you how to think. When others ask your opinion, tell it to them straight.</p>
<p>Once you make these 7 techniques part of your habitual thinking patterns, you will amaze yourself with how easy it is to come up with fresh, innovative and creative solutions to all of life’s problems.</p>
<p>Salam NIAGATUGAPAN, Jan 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/7-blocks-to-creative-thinking-and-how-to-solve-them/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Positive Thinking</title>
		<link>http://gkipi.org/positive-thinking/</link>
		<comments>http://gkipi.org/positive-thinking/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 11:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=5192</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakannya setiap hari untuk mengangkut air dari sebuah sungai yang cukup jauh sampai ke rumahnya. Tempayan-tempayan itu dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu tempayan tersebut retak sehingga sesampai di rumah, airnya tinggal separuh, sedangkan yang lain tetap penuh airnya. Hal ini berlangsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ibu yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakannya setiap hari untuk mengangkut air dari sebuah sungai yang cukup jauh sampai ke rumahnya. Tempayan-tempayan itu dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu tempayan tersebut retak sehingga sesampai di rumah, airnya tinggal separuh, sedangkan yang lain tetap penuh airnya. Hal ini berlangsung selama dua tahun dan ibu itu selalu hanya membawa pulang air satu setengah tempayan.</p>
<p>Tentunya tempayan yang utuh merasa sangat bangga atas prestasinya, sedangkan tempayan yang retak merasa malu atas kekurangannya dan sedih karena hanya dapat memenuhi setengah dari kewajibannya. Pada suatu hari, ia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai. &#8220;Aku malu sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak dan tercecer di sepanjang jalan menuju ke rumahmu&#8221;.</p>
<p>Ibu itu tersenyum, &#8220;Tidakkah kaulihat bunga aneka warna di jalur yang kaulalui, namun tidak tumbuh di jalur seberangnya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menaburkan benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang engkau &#8216;menyirami&#8217; benih-benih itu. Selama dua tahun aku dapat memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja. Kalau engkau tidak begitu, maka rumah ini tidak seasri ini sebab tidak ada bunga.&#8221;</p>
<p>Kita semua mempunyai kekurangan, namun kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan. Kita perlu menerima &#8216;kekurangan&#8217; setiap orang di sekitar kita dan mencari yang terbaik dari dirinya.</p>
<p>Rekan-rekan sesama tempayan yang retak</p>
<p>Hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kebersamaan kita, dalam persekutuan di gereja-Nya ini, sebaiknya kita buat menyenangkan. Dan jangan lupa untuk mencium wanginya bunga-bunya yang mekar di jalur kalian. Selamat menjalani hari-hari di sepanjang tahun depan ini, selalu berpikir positif, baik dalam pergaulan, dalam persekutuan, dalam rumah tangga dan dalam kehidupan pribadi. Tuhan memberkati kita semua.</p>
<p>Salam positive thinking, Nia Gatugapan</p>
<p>* Bahan diambil dari milis psikologi tetangga melalui internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/positive-thinking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guide to a Better Life</title>
		<link>http://gkipi.org/guide-to-a-better-life/</link>
		<comments>http://gkipi.org/guide-to-a-better-life/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2010 16:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4804</guid>
		<description><![CDATA[This is amazing, he died of pancreatic cancer in 2008, but wrote a book ‘The last lecture” before then, one of the bestsellers in 2007. What a legacy to leave behind… In a letter to his wife Jai and his children, Dylan, Logan, and Chloe, he wrote this beautiful “Guide to a Better Life” for [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>This is amazing, he died of pancreatic cancer in 2008, but wrote a book ‘The last lecture” before then, one of the bestsellers in 2007. What a legacy to leave behind… In a letter to his wife Jai and his children, Dylan, Logan, and Chloe, he wrote this beautiful “Guide to a Better Life” for his wife and children to follow. May you be blessed by his insight.</p>
<p><strong>POINTS ON HOW TO IMPROVE YOUR LIFE</strong></p>
<p>Personality:</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.	Don’t compare your life to others’. You have no idea what their journey is all about.</p>
<p style="padding-left: 30px;">2. 	Don’t have negative thoughts of things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.</p>
<p style="padding-left: 30px;">3. 	Don’t overdo; keep your limits.</p>
<p style="padding-left: 30px;">4. 	Don’t take yourself so seriously; no one else does.</p>
<p style="padding-left: 30px;">5. 	Don’t waste your precious energy on gossip.</p>
<p style="padding-left: 30px;">6. 	Dream more while you are awake.</p>
<p style="padding-left: 30px;">7. 	Envy is a waste of time. You already have all you need.</p>
<p style="padding-left: 30px;">8. 	Forget issues of the past. Don’t remind your partner of his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.</p>
<p style="padding-left: 30px;">9.	 Life is too short to waste time hating anyone. Don’t hate others.</p>
<p style="padding-left: 30px;">10.	Make peace with your past so it won’t spoil the present.</p>
<p style="padding-left: 30px;">11. 	No one is in charge of your happiness except you.</p>
<p style="padding-left: 30px;">12. 	Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.</p>
<p style="padding-left: 30px;">13. 	Smile and laugh more.</p>
<p style="padding-left: 30px;">14.	You don’t have to win every argument. Agree to disagree.</p>
<p>Community:</p>
<p style="padding-left: 30px;">15.	Call your family often.</p>
<p style="padding-left: 30px;">16.	Each day give something good to others.</p>
<p style="padding-left: 30px;">17.	Forgive everyone for everything.</p>
<p style="padding-left: 30px;">18. 	Spend time with people over the age of 70 &amp; under the age of 6.</p>
<p style="padding-left: 30px;">19. 	Try to make at least three people smile each day.</p>
<p style="padding-left: 30px;">20. 	What other people think of you is none of your business.</p>
<p style="padding-left: 30px;">21. 	Your job will not take care of you when you are sick. Your family and friends will. Stay in touch.</p>
<p>Life:</p>
<p style="padding-left: 30px;">22.	Put GOD first in anything and everything that you think, say and do.</p>
<p style="padding-left: 30px;">23.	GOD heals everything.</p>
<p style="padding-left: 30px;">24.	Do the right things.</p>
<p style="padding-left: 30px;">25.	However good or bad a situation is, it will change.</p>
<p style="padding-left: 30px;">26.	No matter how you feel, get up, dress up and show up.</p>
<p style="padding-left: 30px;">27.	The best is yet to come.</p>
<p style="padding-left: 30px;">28.	Get rid of anything that isn’t useful, beautiful or joyful.</p>
<p style="padding-left: 30px;">29.	When you awake alive in the morning, thank GOD for it.</p>
<p style="padding-left: 30px;">30.	If you know GOD you will always be happy. So, be happy.</p>
<p>If you practice it, not only will it enrich your life, but also that of those around you.</p>
<blockquote><p>Randy Pausch was a professor of Computer Science, Human Computer Interaction, and Design at Carnegie Mellon University. From 1988 to 1997, he taught at the University of Virginia. He was an award-winning teacher and researcher, and worked with Adobe, Google, Electronic Arts (EA), and Walt Disney Imagineering, and pioneered the non-profit Alice project. (Alice is an innovative 3-D environment that teaches programming to young people via storytelling and interactive game-playing.) He also co-founded The Entertainment Technology Center at Carnegie Mellon with Don Marinelli. (ETC is the premier professional graduate program for interactive entertainment as it is applies across a variety of fields.) Randy lost his battle with pancreatic cancer on July 25th, 2008.</p></blockquote>
<p>Nia GaTuGaPan</p>
<p>(Okt 2010 bulan Keluarga GKI PI 2010)</p>
<p><center><br />
<object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/ji5_MqicxSo?fs=1&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/ji5_MqicxSo?fs=1&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></center></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/guide-to-a-better-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup  Berkemenangan</title>
		<link>http://gkipi.org/hidup-berkemenangan/</link>
		<comments>http://gkipi.org/hidup-berkemenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Oct 2010 15:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4721</guid>
		<description><![CDATA[Kata “kemenangan” dalam tata bahasa Indonesia digolongkan dalam kelompok kata benda, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris disebut victory yang juga dapat berarti “kesuksesan.” Adapun kata “berkemenangan” (dengan awalan “ber” sudah termasuk dalam kelompok kata sifat) dapat berkonotasi atau mempunyai arti “memperoleh atau mempunyai kemenangan” itu. Jadi, yang ingin penulis tekankan dalam tulisan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata “kemenangan” dalam tata bahasa Indonesia digolongkan dalam kelompok kata benda, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris disebut victory yang juga dapat berarti “kesuksesan.” Adapun kata “berkemenangan” (dengan awalan “ber” sudah termasuk dalam kelompok kata sifat) dapat berkonotasi atau mempunyai arti “memperoleh atau mempunyai kemenangan” itu.</p>
<p>Jadi, yang ingin penulis tekankan dalam tulisan ini ialah bagaimana caranya agar kita selalu “hidup ber-ke-“menang”-an, artinya bagaimana supaya kita selalu ber-ke-“sukses”-an dalam hidup. Tetapi perlu dicatat bahwa kesuksesan dalam hal ini tidak berarti selalu berhasil atau memperoleh apa yang kita ingin secara materi, tetapi lebih bersifat batiniah yaitu “mensyukuri” apa yang terjadi pada berbagai kesempatan hidup yang sedang kita jalani, dan memperoleh kekuatan untuk mengatasi dengan tetap tenang apabila terjadi masalah.</p>
<p>Kita tentu perlu terus berjuang dalam hidup, tetapi setiap perjuangan kita harus didasari oleh keyakinan kepada Dia yang perlu kita ajak bersama dalam mengarungi perjalanan hidup itu. Hal itu pula yang ditekankan Paulus kepada jemaat di Filipi dalam Fil. 2:12-13,“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu&#8230;, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”.</p>
<p>Ingat juga kisah perjalanan para murid bersama Yesus dalam Injil Mrk. 4:35-41. Walaupun ketika itu Yesus bersama mereka, para murid tidak menyadari kuat kuasa yang ada pada-Nya, sehingga mereka takut. Padahal sebenarnya jika mereka tetap tenang, mereka hanya perlu memanggil-Nya untuk meminta kekuatan dari-Nya. Begitu pula kalau kita menyadari bahwa Yesus bersama kita (melalui Roh Kudus yang ada di dalam diri kita) maka kita dapat menjalani hidup ini dengan tenang dan tanpa panik, karena penyertaan-Nya memberi kita kekuatan untuk menenangkan gelombang yang mengancam hidup kita.</p>
<p>Memang kita diminta untuk tetap berjuang dalam hidup, meskipun kita beriman kepada-Nya. Allah tidak akan membebaskan kita dari bahaya. Tetapi sekaligus kita perlu ingat bahwa jika Ia bersama kita, maka Ia tidak akan membiarkan kita sendirian menghadapi masalah itu. Ia akan menolong kita, tetapi kita perlu memohon agar kuasa-Nya bekerja di dalam diri kita (antara lain melalui doa). Berdoa dan bekerja atau “ora et labora” perlu selalu dilakukan seperti dimaksudkan dalam perikop 2 Tesalonika 3. Kuasa Tuhan memang tersedia melimpah, tetapi tanpa menggali dan memanfaatkannya, kita akan tetap lemah lesu dan tanpa daya. Iman harus disertai dengan perbuatan (lih. Yak. 2:17) dan dalam hal ini, perbuatan adalah pancaran sikap yang sesuai dengan iman atau perintah Allah. Dan kalau kita telah beriman, maka kita perlu bersikap seperti Daud yang mengatakan dalam Mzm. 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku.”</p>
<p>Baru-baru ini saya asyik membaca tulisan Dr. Eka Darmaputera yang berjudul “365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan,” terbitan BPK Gunung Mulia, cetakan kedua tahun 2006. Saya asyik membacanya tetapi sekaligus tertarik karena menurut penyunting artikel, buku tersebut merupakan kumpulan tulisan Dr. Eka setiap Minggu selama 7 tahun, yang dimuat di warta gereja selama beliau bertugas di GKI Bekasi Timur (dari 16 Juni 1996 sampai 8 Juni 2003). Semasa hidupnya, beliau berpesan kepada jemaatnya untuk membawa warta itu pulang ke rumah lalu membaca dan merenungkannya agar mereka tidak melupakan makna atau inti setiap khotbah yang disampaikannya sesuai dengan tema gereja yang terletak di Jalan Bekasi Timur IX/6, Jakarta Timur itu. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dibukukan dan dimaksudkan agar para pembaca dapat mencernanya setiap hari dalam setahun yang terdiri atas 365 hari itu.</p>
<p>Menurut penyunting, beberapa tulisan merupakan karya terakhir Dr. Eka sebelum jatuh sakit dan akhirnya dipanggil Tuhan beberapa tahun kemudian, bahkan penerbitan buku itu sendiri tidak beliau saksikan lagi meskipun keinginan untuk membukukannya sudah dipesankan semasa beliau masih hidup. Saya bukan hendak mengomentari ke 365 isi tulisan itu karena cukup tebal, 566 halaman, dan itupun dengan lebar lebih dari 21 cm (sebesar buku bacaan biasa, berbeda dengan buku-buku karangan Dr. Eka lainnya yang biasanya berukuran kecil). Sebenarnya saya selalu tertarik membaca tulisan beliau, tetapi khususnya buku terakhir ini saya agak kaget dan segera ingin membacanya karena judulnya hampir mirip dengan buku karangan saya,“66 Renungan Bagi Hidup Berkemenangan.”</p>
<p>Tulisan itu saya susun dan terbitkan secara terbatas untuk membantu para lanjut usia agar tidak frustrasi dalam menghadapi berbagai masalah. Di dalamnya ada juga sub-judul, “Beberapa petunjuk yang perlu direnungkan sebagi pedoman hidup para lanjut usia.” Tulisan saya itu, sebagaimana diuraikan dalam pengantar, ingin menambah pesan kedamaian hati bagi para lanjut usia atau siapapun yang sempat membacanya, terutama apabila terjadi berbagai riak gelombang dalam menjalani kehidupan. Tetapi tulisan itu tidak selengkap karya Dr. Eka. Saya hanya mengemukakan 66 pokok renungan, dan memang angka 66 itu merupakan angka favorit saya, mengingat jumlah kitab dalam Alkitab kita yang 66 buah itu. Tulisan itu memang juga tidak bisa disandingkan dengan buah pena Dr. Eka yang berupa khotbah, karena mungkin jauh dari persyaratan.</p>
<p>Ke 66 pokok renungan itu saya bagi menjadi 3 bagian besar dan setiap bagian terdiri atas 22 renungan. Jumlah 22 ini juga didasarkan pada kitab Ratapan yang terdiri atas 5 pasal dan yang setiap pasalnya terdiri atas 22 ayat, kecuali pasal 3 yang di tengah, yang terdiri atas 66 ayat yang merupakan kelipatan dari 3&#215;22. Menurut para ahli teologia, konon angka 22 dalam Ratapan ini dilatarbelakangi dan merupakan permainan abjad Ibrani yang berjumlah 22 huruf itu. Ratapan, yang merupakan tangisan nabi Yeremia, melukiskan Allah yang menanggung dosa dan penderitaan kita demi keselamatan kita, agar kita “hidup berkemenangan.” Oleh karena itu ke-66 renungan saya itu juga dibagi tiga: Bagian Pertama terdiri atas 22 renungan “Agar Berkehidupan Yang Lebih Damai”; Bagian Kedua terdiri atas 22 renungan “Guna Menemukan Kebahagiaan dengan Memahami Makna Hidup”; dan Bagian Ketiga terdiri atas 22 renungan “Agar Masih Memiliki Daya Guna dan Hasil Guna.” Jadi keseluruhan 66 renungan itu memang dikelompokkan agar dapat “Hidup Berkemenangan,” khususnya bagi para lanjut usia yang banyak menghadapi masalah dalam hidup.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, selain ingin mengajak para pembaca untuk lebih memahami dan merenungkan bagaimana hidup berkemenangan itu, penulis juga mengajak para pembaca mengenang kembali hidup dan upaya alm. Dr. Eka Darmaputera, yang dalam khotbah dan tulisannya sering dengan lugas mengkritik kehidupan jemaat yang terlihat saleh tetapi masih ditutupi oleh banyak kabut, seperti keragu-raguan, ketakutan, ketidak pastian dan kecurigaan satu sama lain, dan sering pula bersikap membenarkan diri.</p>
<p>Bahkan beliau acap kali mengecam kelompok atau denominasi gereja tertentu yang mendewa-dewakan gereja mereka, seolah-olah mereka dan gereja mereka saja yang paling benar melakukan kehendak Tuhan, sedangkan yang lainnya kurang benar. Mereka taat bergereja bahkan giat dalam berbagai pelayanan, tetapi sikap kasih, saling menghargai dan saling membangun itu jauh dari kehidupan mereka. Padahal menurut Alkitab, “Orang yang berbahagia atau berkemenangan adalah orang yang menyukai dan merenungkan Taurat Tuhan,” yang berarti bahwa ia tentu menyukai kebenaran dan keadilan berdasarkan kasih (lih. Mzm. :1-2).</p>
<p>Tulisan ini juga sekaligus ingin merumuskan inti dari kumpulan tulisan alm. Dr. Eka tersebut di atas, yang antara lain bertujuan untuk membantu menuntun umat yang telah beriman ke arah hidup yang benar, terus berjuang, tidak mudah putus asa, tidak cengeng dan berusaha menjadi berkat bagi banyak orang. Hidup berkemenangan menurut Dr. Eka, antara lain adalah hidup yang penuh sukacita, penyerahan diri secara total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bermegah dalam kesengsaraan, karena berpengharapan akan menerima kemuliaan Allah (lih. Rm. 5:2-3).</p>
<p>Sikap hidup berkemenangan pada hakikatnya harus dipenuhi oleh rasa dan sikap optimisme yang perlu diperlihatkan ketika kehidupan berada dalam kesulitan. Perhatikanlah sikap Stefanus, yang walau tersiksa dan akan dibunuh oleh Mahkamah Agama Yahudi, justru menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah serta Yesus (Sang Juru Selamat) berdiri di sebelah kanan Allah sehingga ia dapat berkata, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah,” yang dapat bermakna bahwa dengan kejadian itu, apabila ia tetap teguh beriman, ia akan memiliki kehidupan kekal bersama Allah.(lih Kis 7:54-56).</p>
<p>Selamat berjuang untuk hidup berkemenangan dan Tuhan kiranya memberi kekuatan. Amin.</p>
<p>[R. Sihite]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/hidup-berkemenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cantik, Sehat, dan Feminin</title>
		<link>http://gkipi.org/cantik-sehat-dan-feminin/</link>
		<comments>http://gkipi.org/cantik-sehat-dan-feminin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 05:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3581</guid>
		<description><![CDATA[Tidak gampang menjadi perempuan. Susah juga jadi laki-laki. Masing-masing memikul beban jendernya sendiri. Namun, selalu masih saja ada kaum perempuan rasakan berbeda dalam melakoni hidup jendernya, karena masih diperlakukan bukan sebagai kaum yang sama-sama kelas satu. Menjadi perempuan di zaman sekarang, tentu tidak lagi sama dengan ketika masih era nenek-kakek dahulu. Tidak juga masih sebangun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak gampang menjadi perempuan. Susah juga jadi laki-laki. Masing-masing memikul beban jendernya sendiri. Namun, selalu masih saja ada kaum perempuan rasakan berbeda dalam melakoni hidup jendernya, karena masih diperlakukan bukan sebagai kaum yang sama-sama kelas satu.</p>
<p>Menjadi perempuan di zaman sekarang, tentu tidak lagi sama dengan ketika masih era nenek-kakek dahulu. Tidak juga masih sebangun dengan ketika perempuan dunia dinobatkan menjadi ibu super (supermom) beberapa dasawarsa lampau.</p>
<p>Ellen Goodman di awal tahun 1970-an menyodorkan kemunculan sebuah genre yang tumbuh di antara kaum hawa dunia. Bentuk peran perempuan yang kemudian diulur lebih perkasa dari sebatas kehebatan supermom belaka. Dunia waktu itu tampaknya sedang menuntut kehadiran sosok berjuluk superwoman. Menjadi perempuan seperti itu, waktu itu, sudah menjadi sebuah keharusan.</p>
<p>Bahwa kelompok beratribut superwoman itu sosok perempuan yang menguasai pelbagai peran rangkap dan kompleks. Sosok perempuan yang juga melakukan peran sebagai ibu yang sempurna, selain istri yang modis, ”Inem” yang terampil, jurumasak piawai, mampu melahirkan anak cerdas, eksekutif yang gesit, berjiwa penolong, cekatan menata rumah selain karier, selalu rajin tersenyum, dan ia segalanya bagi semua orang. Begitu tulis Natasha Josefowitz dalam sebuah puisinya tahun 1977.</p>
<p>Perempuan super tidak hanya tinggal di rumah dan menyediakan sarapan pagi seadanya bagi suami dan anak. Ia juga istri dan ibu pekerja yang meninggalkan rumah setelah menyiapkan bukan sekadar sarapan sekenanya, melainkan menu lengkap bergizi layaknya American breakfast.</p>
<p>Ia juga istri yang sebagai eksekutif berpenghasilan tak kalah dengan perolehan suami. Pulang ke rumah masih mendongeng buat anak-anak, menyiapkan makan malam keluarga, dan mengajak suami duduk berdua di antara nyala lilin. Superwoman itu sebuah adonan kultur sosok ibu karier, istri yang seksi, dan memiliki bukan sekadar hanya rumah, melainkan juga sebuah home.</p>
<p>Untuk menjadi seperti itu, perempuan dianggap tak lagi cukup mengandalkan hanya naluri kewanitaannya. Tak juga cukup memetik dari kecerdasan dan pengetahuan yang diwariskan ibu sewaktu kecil, serta dari apa yang mungkin pernah didapat dari sekolah semata. Lebih dari itu, perlu terus dihadirkan bekal yang lain.</p>
<p>Menjadi seorang perempuan super perlu ada ketulusan, dan semangat berkorban pula. Untuk bisa meraih itu semua, seorang perempuan super memang bukan dilahirkan, melainkan diciptakan.</p>
<p>Untuk tercipta sosok superwoman, perempuan perlu dibentuk sejak di awal-awal kehidupan. Bagaimana ia diasuh dan dibesarkan, apa dan siapa guru taman kanak-kanaknya, dan seperti apa sekolah pemulanya, siapa saja teman bergaulnya, apa corak lingkungan sosialnya, idealkah berat badannya sejak bayi, dan seberapa bergizi menu harian di meja makan ibunya.</p>
<p>Sekali lagi, itu berarti untuk tercapainya penciptaan sosok yang bukan seadanya itu memerlukan lebih banyak ikut campur lebih dari sekadar yang pernah ibu pernah berikan semenjak kecil. Dan, itu lebih dari sekadar sentuhan nurture belaka. Lebih dari sekadar mesin untuk merawat, mengasuh, dan membesarkan anak perempuan belaka.</p>
<p>Tak soal seperti apa warisan kepribadian seorang perempuan ketika dilahirkan. Jika berharap lebih banyak dari tuntutan itu, perempuan sendiri yang dapat merancang pribadinya, apakah ingin menjadi seperkasa Joan of Arc, secerdas Margareth Thatcher, sepahlawan Evita Peron, atau barangkali hanya ingin selembut Venus dari Milan.</p>
<p>Selain seorang perempuan bertumbuh dan berkembang sebagaimana ia harus menjadi, seperti kata bahasa psikologis, perlu diberi nilai tambah. Nilai tambah seorang perempuan ditentukan oleh isi kepala dan kedua tangannya juga.</p>
<p>Bahwa arah keluhuran hidup perempuan modern memang dengan sadar diusung menuju ranah kesetaraan (equity) dengan para kaum kekasihnya, suaminya, atau ayahandanya. Sedang ihwal cara bagaimana perempuan menempuhnya menuju ke sana, eloknya memilih tetap mengacu pada segenap karakteristik kefemininannya. Bahwa perempuan juga diminta masih terus menginsyafi kalau ia tetap seorang perempuan.</p>
<p>Keinsyafan perempuan bahwa dirinya menyimpan keterbatasan dalam kodratnya, yang menjadi tak tepat kodrat lagi jika pagar itu dengan sadar dilampaui. Sejatinya kodrat biologis perempuan tidak sama dan sebangun dengan kodrat yang dimiliki laki-laki.</p>
<p>Perempuan punya kelebihan, sekaligus juga menyimpan kekurangannya. Masih menginsyafi ada perbedaan kodrati itulah, maka gerak tuntutan emansipasi yang mungkin terasakan ada, hendaknya disikapi secara lebih bijak.</p>
<p>Ada fakta yang sedang berkembang di dunia. Rata-rata perempuan zaman sekarang (terpaksa harus) menunda perkawinannya untuk mengejar studi dan karier dahulu. Pada saat mulai berencana hendak menikah, umur sudah tidak belia lagi, dan semakin sedikit calon suami pilihan yang tersedia untuk dipilih. Bisa jadi sudah tak ada lagi laki-laki yang laik dipilih. Kondisi seperti itu berpengaruh terhadap karakter keperempuanannya. Berimbas pula pada dunia kelajangannya sebagai perempuan.</p>
<p>Ketika umur di awal karier rata-rata perempuan sekarang ini sudah mendekati kepala tiga, mereka kian kehilangan peluang mendapatkan calon teman hidup selevelnya. Ini berdampak pada perjalanan hidupnya ke depan. Memilih melajang sebagai perempuan tentu tak sama bermakna hidupnya, tak lengkap pula terpenuhi kodrat kewanitaannya sebagai istri maupun sebagai sosok ibu. Lalu konflik berpeluang meletus di sana.</p>
<p>Menjadi perempuan hebat tidak hanya memberi nilai tambah untuk kemaslahatan diri sendiri. Dampak sosial kehebatan seorang perempuan berimbas pula pada kualitas keluarga. Anak yang unggul lahir dari keunggulan dan kehebatan ibu yang mengasuh dan membesarkannya. Suami yang sukses datang dari istri yang juga dengan perkasa mengantarkannya.</p>
<p>Sungguh luar biasa peran seorang perempuan di dunia. Maka, eloknya, sampai kapan pun demi tumbuh generasi serta keluarga yang luar biasa, setiap perempuan perlu terus diberdayakan agar bugar jiwa, raga, sosial, dan spiritualitasnya (total fitness). Siapa pun ia. Karena dari perempuan yang bugar total, akan lahir keluarga yang bugar, masyarakat yang bugar, dan bangsa yang juga bugar.</p>
<p>Suskes hidup seorang perempuan, melahirkan sukses hidup keluarganya. Perempuan juga yang akan membuahkan sukses hidup anak, suami, serta sukses hidup bangsanya. Untuk itu dua bekal besar yang harus dibawanya semenjak kecil. Bekal pendidikan dan segala yang memperkaya wawasan, pengetahuan hidup, serta bekal bagaimana menguasai tata hidup sehat.</p>
<p>Seorang Dan Kindlon PhD dalam bukunya Alpha Girls menulis bahwa pada dewasa ini ia melihat kemunculan generasi perempuan muda perkasa Amerika Serikat. Ia menyebutnya sebagai alpha girls. Mereka generasi yang berkembang dari talenta yang besar, punya motivasi tinggi, dan penuh rasa percaya diri. Seperti itu tampaknya protitipe perempuan hari depan yang akan membangun kultur baru.</p>
<p>Bagaimana dengan sosok perempuan kita? Buku ini ingin melengkapi apa-apa bekal elementer yang mungkin terluput dari kebanyakan pengisian kantung pendidikan perempuan kita sejak masih di kandungan ibu. Model pendidikan yang masih menafikan bagaimana membangun kesehatan diri, keluarga, dan masyarakat agar bugar. Siapa tahu belum terlambat mengajak kaum mereka menjadi lebih perempuan dari sekadar hanya menjadi perempuan yang dituntut oleh kodrat layaknya nenek mereka.</p>
<p>Buku ini ditulis terinspirasi dari mengasuh rubrik kesehatan mulai tahun 1970-an, melihat bagaimana profil perempuan Indonesia dibesarkan, menjadi remaja, melakukan peran sebagai istri, dan bunda. Di penglihatan saya terkesan tidak sepenuhnya perempuan kita menerima bekal yang penuh, karena kebanyakan memang mewarisi hanya asuhan dari pesan naluri dan tradisi ibu belaka.</p>
<p>Pendidikan formal kita pun tidak penuh membantu dalam mengisi kekurangan perempuan dan sudah membuatnya lebih cerdas bahkan sekadar melakukan peran domestik tradisionalnya. Kekurangan itu yang bukan saja gagal memosisikan mereka sebagai pahlawan keluarga tanpa tanda jasa, mungkin juga membuat mereka lancung menjadi perempuan sejati.</p>
<p>Tak sedikit kegagalan perempuan sebagai pribadi maupun keluarga berhulu dari tidak lengkapnya perempuan melakukan peran rangkap yang dituntut kaumnya sendiri. Perempuan yang dituntut untuk memampukan sanggup berperan sebagai superwomen agar tidak lagi memosisikan mereka masih tetap saja submissive di bawah kemaskulinan citra suami, dan di hadapan laki-laki pada umumnya.</p>
<p>Seiring dengan itu pula saya menemukan sebuah pelajaran kegagalan perempuan dari seorang Amy Fisher. Ia seorang perempuan Amerika kini berumur 30 tahunan. Hidupnya rumpil sejak masih berumur 16 tahun. Setelah mengungkap berliku jalan hidupnya, tiba-tiba kini ia menjadi selebriti di Amerika Serikat. Pers Amerika mengangkat dan menjulukinya Si ”Long Island Lolita”.</p>
<p>Sebuah pengakuan Amy menulis begini, ”Andai dulu aku tahu. Namun, waktu itu, aku hanyalah remaja yang bodoh, ceroboh, dan termanipulasi,” demikian dia tuliskan dalam buku laris versi New York Times, bertajuk If I Knew Then (2004). Telanjur berjalan tanpa peta, tanpa pandu, namun beruntung berhasil lolos dari nasib buruk.</p>
<p>Amy berasal dari keluarga kecukupan, dan orangtuanya terdidik. Tetapi, satu yang kurang. Ia berkembang menjadi perempuan remaja yang tumbuh dari ketidakhadiran ibu sebagai guru, lalu salah jalan. Beruntung Amy akhirnya menemukan jalan hidup lurusnya setelah lebih 14 tahun jalannya berkerikil, masuk penjara, melakoni banyak jalan serong.</p>
<p>Hemat kita, barang tentu banyak remaja di dunia yang melakoni hidup seburuk riwayat Amy, belum tentu nasibnya akan sebagus Amy. Bayangkan kalau banyak anak lahir dan dibesarkan oleh ibu yang kotor riwayat masa kecil dan masa mudanya, dan tetap buruk sampai menjadi bunda.</p>
<p>Belajar dari situ, maka pikir kita, perempuan perlu belajar juga dari pengalaman getir Amy. Perempuan bukan saja tidak boleh sampai salah menjalani hidup miliknya supaya hidup lebih lancar seturut arah yang benar, melainkan juga bisa sematang alpha girls. Mengapa?</p>
<p>Oleh karena pihak perempuan, siapa pun dia, yang bakal mengajarkan bagaimana seeloknya hidup kepada kaumnya, dan semua bakal calon anak bangsa. Untuk maksud itu pula buku ini ditulis. Dan, saya teringat akan kata bijak Will Rogers, bahwa kita belajar dengan dua cara. Membaca buku, dan berteman dengan orang yang lebih pintar.</p>
<p>Menjadi perempuan paripurna merupakan dambaan setiap wanita. Untuk tiba sampai ke sana tidaklah sukar. Kuncinya membangun hidup sehat. Hanya apabila tubuh sehat, kecantikan membinar dari dalam. Hanya kalau tubuh berhasil dibuat bugar, femininitas seorang perempuan, terasakan tampil amat sejahtera.</p>
<p>Bahwa dengan terpetiknya kecantikan dan menjadi feminin penuh itulah, perempuan sedang membukakan pintu menuju kesuksesan dalam hidup dan karier. Termasuk kebahagiaan berada bersama suami, dan tampil menawan di hadapan setiap lelaki.</p>
<p>Buku ini bermaksud mengajak Anda setiap perempuan, memasuki harapan seindah itu. Tak perlu menjadi dokter untuk menjadi perempuan cantik dan feminin. Simak dan lakukan yang ditulis dalam setiap bab buku ini, lalu perhatikan apa yang terjadi pada diri Anda</p>
<p>Saya ingin menyampaikan sekian banyak terima kasih. Terima kasih untuk begitu melimpah pelajaran yang saya petik dari keluguan ibu waktu saya kecil dulu. Kondisi itu yang mendorong saya perlu belajar juga dari meramu semua perjalanan hidup pribadi dengan mengais pelbagai bacaan.</p>
<p>Ilmu kedokteran yang sudah saya miliki dan perjalanan profesi memberi penyuluhan kader posyandu, dan pertemuan saya dengan masyarakat di puskesmas dulu, menerima beraneka ragam surat konsultasi kesehatan, bertemu dengan pasien, pergaulan dengan teman sejawat, pertanyaan yang saya dengar selama memberi seminar, talkshow, dan semua bacaan fiksi maupun nonfiksi–telah membuahkan inspirasi, betapa sentralnya peran perempuan, siapa pun dia.</p>
<p>Terima kasih juga untuk semua guru yang mengajarkan saya begitu banyak ilmu, termasuk ilmu kehidupan (skill for life). Kepada semua perempuan yang pernah saya kenal, dari mana saya belajar lebih dekat memahami makna lawan jenis. Kepada Belinda, teman seperjalanan, darinya saya semakin tahu arti kehadiran seorang istri, dan bagaimana sejatinya harus menjadi seorang ibu.</p>
<p>Kepada Minetta, yang sudah tidak kurcaci lagi, saya juga belajar bahwa ternyata tidak mudah menjadi ayah seorang perempuan remaja. Kepada Millardi yang berani mati sudah punya teman dekat, padahal memikul nasihat ayahnya berharap ia tidak lengket dengan perempuan dulu selagi masih studi–mudah-mudahan ini juga sebuah pembelajaran baru di era genitnya teen-lit. Bahwa mungkin berada dekat dengan teman perempuan bisa lebih memudahkan anak laki-laki belajar bagaimana memahami kaum ibunya.</p>
<p>[Handrawan Nadesul, Dipetik dari naskah buku yang akan terbit berjudul Cantik, Sehat, &amp; Feminin Penerbit Buku Kompas]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/cantik-sehat-dan-feminin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

