<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKI Pondok Indah &#187; Antar Kita</title>
	<atom:link href="http://gkipi.org/category/antar-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gkipi.org</link>
	<description>Situs Komunitas Jemaat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pembangunan Rumah Ibadah di Desa Koyakoso Papua</title>
		<link>http://gkipi.org/pembangunan-rumah-ibadah-di-desa-koyakoso-papua/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pembangunan-rumah-ibadah-di-desa-koyakoso-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 04:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4227</guid>
		<description><![CDATA[Dari tahun ke tahun, perhatian banyak gereja tertuju ke Papua, terutama untuk ikut melayani daerah pedalaman di bagian paling timur wilayah Republik Indonesia, berbatasan dengan Papua New Guinea dan Provinsi Papua Barat (Kepala Burung). Sampai kini sebagian besar kawasan ini belum menikmati derapnya pembangunan di segala bidang. Gereja-gereja, baik organisasi, badan penginjilan, maupun perorangan, terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari tahun ke tahun, perhatian banyak gereja tertuju ke Papua, terutama untuk ikut melayani daerah pedalaman di bagian paling timur wilayah Republik Indonesia, berbatasan dengan Papua New Guinea dan Provinsi Papua Barat (Kepala Burung). Sampai kini sebagian besar kawasan ini belum menikmati derapnya pembangunan di segala bidang. Gereja-gereja, baik organisasi, badan penginjilan, maupun perorangan, terus berusaha mempertahankan panji-panji Kristus di tempat ini, yang sudah ditancapkan oleh penginjil-penginjil Ottow dan Geissler sekitar 155 tahun yang lalu. Namun tak dapat disangkal bahwa agama lain pun menyebar luas di kedua provinsi ini sehingga populasi penduduk non-Kristen semakin berkembang pesat. Gereja-gereja setempat kewalahan meningkatkan program-program penginjilan mereka.</p>
<p>Memang harus diakui bahwa medan di sana berat dan keadaan masyarakatnya masih terbelakang. Banyak desa di pedalaman yang sulit dijangkau karena minim atau rusaknya sarana perhubungan yang ada, sehingga adakalanya orang harus berjalan kaki berhari-hari sebelum sampai ke tempat tujuan. Dapat dibayangkan betapa beratnya pelayanan, baik oleh gereja maupun pemerintah daerah sendiri. Jangankan di pedalaman, jemaat di daerah perkotaan sekitar ibukota Provinsi Papua yang sudah dilewati jalan raya pun masih banyak yang belum mampu mendirikan gereja/rumah ibadah yang layak. Padahal pemerintah daerah, yang sekitar 90% dipimpin oleh putra-putra daerah yang beragama Kristen, telah menganggarkan bantuan dana bagi gereja-gereja setempat untuk mengembangkan sarana ibadah. Lalu, mengapa banyak pelayanan gereja belum berjalan dengan baik dan perhatian kepada para penginjil begitu minim?</p>
<p>Menyadari hal tersebut, gereja-gereja dari berbagai denominasi di luar Papua dan badan-penginjilan ikut terjun membantu pembangunan jemaat di Papua dan Papua Barat, seperti yang dilaksanakan oleh GKI Pondok Indah di Kampung Hobart-Provinsi Papua Barat dan di Desa Koyakoso, di perbatasan RI-PNG.</p>
<h3>Kerinduan Jemaat GIDI Desa Koyakoso di Perbatasan RI-PNG</h3>
<p>Gereja ini adalah satu-satunya gereja lokal di Papua yang mencantumkan kata GIDI dalam organisasi gerejanya yang hampir 100% beranggotakan putra daerah asli Papua. Liturgi ibadahnya menggunakan bahasa Suku Dani dari Pegunungan Tengah Jayawijaya, yang merupakan penduduk terbesar di Provinsi Papua. Kata GIDI adalah singkatan dari Gereja Injili Di Indonesia. Jalan menuju desa Koyakoso di perbatasan ini sama mulusnya dengan jalan-jalan raya lainnya di kota Jayapura, dan melalui pemandangan yang indah. Jarak desa ini sekitar 35 km dari kota Jayapura.</p>
<p>Sayang, keadaan bangunan rumah ibadah Jemaat GIDI Torsina Koyakoso yang terletak di pinggir jalan raya sebelum memasuki desa itu, sangat memprihatinkan. Siapapun juga yang melewatinya akan terenyuh melihatnya, karena jauh berbeda dengan rumah ibadah umat lain yang berdiri megah di sana. Sudah hampir 16 tahun Jemaat GIDI Torsina beribadah di tempat itu dan saat ini bangunan gereja sudah tidak berjendela dan pintu-pintu utamanya telah jatuh semua. Kepada jemaat/Pos PI inilah warga GKI-PI menyampaikan bantuan berupa pakaian layak pakai untuk orang dewasa dan anak-anak, obat-obatan dll. yang disumbangkan oleh Komisi Senior (Charity Shop), panitia-panitia dan perorangan.</p>
<p>Semua bingkisan ini diterima dengan rasa haru dan penuh sukacita. Dan ketika pengurus gereja ini, Guru Jemaat Arius (Ketua Majelis) mengungkapkan kerinduan jemaatnya untuk mendirikan bangunan gereja yang baru, saat itu juga uang sebesar dua juta Rupiah, yang merupakan persembahan dana dari warga GKI-PI, disampaikan kepada Pengurusnya yang menerimanya dengan isak tangis terharu.</p>
<p>Dalam sambutannya, Bapak Yulianus Wea (Sekretaris Majelis) mengatakan bahwa baru kali inilah pengunjung dari luar jemaat datang dan memperhatikan keadaan mereka. Memang sudah banyak orang lain yang melihat-lihat bangunan ini dan mengambil fotonya, tetapi janji mereka untuk membantu tidak pernah terealisasi. Baru-baru ini Majelis Jemaat GKI-PI memberikan bantuan lagi sebesar sepuluh juta Rupiah untuk meringankan biaya pembangunan gereja tersebut yang diperkirakan akan mencapai lebih dari seratus juta Rupiah karena mahalnya bahan-bahan bangunan di sana, apalagi kalau sampai harus diangkut ke pedalaman.</p>
<p>Lalu kapankah Jemaat GIDI Torsina Koyakoso ini tidak lagi duduk di lantai yang beralaskan jerami dan bisa duduk di bangku untuk mendengarkan khotbah Gembala mereka dengan baik? Kapankah dana pembangunan itu terpenuhi, dan masihkah ada pembaca yang bersedia ikut membantu? Kapankah rumah ibadah yang baru dan layak, yang sudah sekian tahun dirindukan oleh jemaat Koyakoso ini, terwujud? Kapankah jemaat ini bisa dengan sungguh-sungguh menyanyikan Mazmur 84 yang indah ini:</p>
<blockquote><p>Alangkah elok Rumah-Mu</p>
<p>Suci kudus ya Allahku</p>
<p>Ya  Tuhan bala tent’ra surga</p>
<p>Kurindukan halamannya</p>
<p>Baik hatiku baik tubuh juga</p>
<p>Kepada Allah Alhayat</p>
<p>Yang hidup</p>
<p>dan memb’ri berkat !!!</p>
<p>Ke sana ‘ku bersoraklah</p>
<p>(Maz.&amp;Ny.Rohani 84)</p></blockquote>
<p>Hanya Tuhan sang Kepala Gereja yang dapat menjawabnya melalui para pembaca Kasut yang bersedia menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membantu jemaat yang miskin ini membangun kembali rumah ibadah tua yang sudah termakan usia.</p>
<h3>Pembangunan Rumah Doa/Pos PI Juga Diperhatikan</h3>
<p>Selain bantuan untuk membangun kembali rumah ibadah yang hampir roboh, perhatian jemaat GKI PI juga diberikan pada pembangunan rumah doa yang ingin didirikan oleh Ev. Eppy Kogoya di Kotaraja Gunung guna melayani pemuda, pelajar dan mahasiswa dari beberapa kabupaten pemekaran Jayawijaya yang merantau ke ibu kota Provinsi Papua untuk mencari pekerjaan atau melanjutkan studi mereka.</p>
<p>(Yan Watung)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-34-4227">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-181" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-1" alt="koya-1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-182" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-2" alt="koya-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-183" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-3" alt="koya-3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-184" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-5" alt="koya-5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-185" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-6" alt="koya-6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-186" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-7.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-7" alt="koya-7" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-187" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/koya-8.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_34" >
								<img title="koya-8" alt="koya-8" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/koya/thumbs/thumbs_koya-8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pembangunan-rumah-ibadah-di-desa-koyakoso-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelayanan Kesehatan Bersama Lima Gereja</title>
		<link>http://gkipi.org/pelayanan-kesehatan-bersama-lima-gereja/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pelayanan-kesehatan-bersama-lima-gereja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 03:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4222</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Jumat dan Sabtu, 28 dan 29 Mei lalu, Kespel Bersama Lima Gereja, yaitu GKI Serpong, GKI Pamulang, GKI Sarua Indah, GKI Kebayoran Baru dan GKI Martadinata; serta ikut pula untuk pertama kali wakil-wakil dari GKI Pondok Indah, melaksanakan bakti sosial berupa Pelayanan Kesehatan untuk warga masyarakat di Pakuwon Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kab. Indramayu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Jumat dan Sabtu, 28 dan 29 Mei lalu, Kespel Bersama Lima Gereja, yaitu GKI Serpong, GKI Pamulang, GKI Sarua Indah, GKI Kebayoran Baru dan GKI Martadinata; serta ikut pula untuk pertama kali wakil-wakil dari GKI Pondok Indah, melaksanakan bakti sosial berupa Pelayanan Kesehatan untuk warga masyarakat di Pakuwon Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kab. Indramayu.</p>
<p>Pelayanan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Yayasan Lentera dari GKI Pamulang, di mana dalam kesempatan ini telah dilayani tidak kurang dari 500 warga masyarakat setempat. Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh pemerintahan desa setempat, yang menyediakan tempat serta berbagai sarana di Balai Desa.</p>
<p>Dalam pelayanan ini Kespel Bersama Lima Gereja dan Yayasan Lentera mengerahkan lima orang dokter dan sejumlah paramedis serta menyediakan berbagai jenis obat-obatan yang diperlukan dalam pelayanan ini.</p>
<p>Pada hari pertama, yakni Jumat 28 Mei, hanya dapat dilayani sebanyak 148 orang pasien, karena pelayanan baru dimulai sehabis sholat Jumat hingga sore hari. Pada hari kedua, Sabtu, 29 Mei, dapat dilayani lebih dari 350 pasien. Beberapa di antara pasien terpaksa harus dilayani di rumah mereka masing-masing, karena mereka tidak mampu untuk datang ke tempat pelayanan.</p>
<p>Sebagian besar pasien di daerah ini menderita ISPA (infeksi saluran pernafasan) dan juga gatal-gatal serta hipertensi. Dengan penuh sukacita dan diselingi berbagai macam canda, para petugas melayani para pasien, yang kadang-kadang menemui kesulitan dalam berkomunikasi. Maklum, sebagian besar warga jemaat yang dilayani hanyalah berpendidikan rendah, dan bahkan ada pula yang tidak mengenal bangku sekolah.</p>
<p>Suatu ketika seorang pendaftar menerima seorang pasien dan berdialog dengannya. Si pendaftar menanyakan apa keluhannya, dan si pasien, seorang ibu, menjawab: “Ah, saya sebel sehabis makan cumi!”</p>
<p>Si pendaftar bertanya lagi: “Lho, kenapa sebel. Cumi kan enak, Bu.”</p>
<p>“Iya, bener enak, tapi perut saya sebel!” Ternyata sebel mempunyai arti yang berbeda dengan bahasa yang kita pahami. Sebel di daerah itu artinya adalah mual-mual.</p>
<p>Ada lagi adegan lucu, ketika seorang pasien ditanya berapa umurnya, si pasien menjawab: “Terserah Eneng sajalah.” Yah, mereka sangat lugu, namun hati mereka baik dan cukup terbuka.</p>
<p>Pelayanan pada hari kedua dimulai sekitar pukul 08.00 dan berakhir pukul 16.30. Seusai pelayanan, kami beristirahat sejenak untuk mandi dan makan malam, dan pada malam harinya mengikuti Kebaktian Penyegaran Iman di GKP Juntikebon yang dipimpin oleh Bpk. Yosi Parjianto dari GKI Pamulang.</p>
<p>Pada hari Minggu, 30 Mei, semua anggota rombongan mengikuti kebaktian Minggu di GKP Juntikebon, dan seusai kebaktian, sebagian rombongan ada yang melanjutkan wisata ke Cirebon, sekitar 30 km ke arah timur, dan anggota rombongan lainnya kembali ke Jakarta.</p>
<p>Pengurus Kespel Bersama Lima Gereja dan Yayasan Lentera merencanakan pelayanan kesehatan di daerah sekitar GKJ Kenalan di kaki Gunung Merbabu, Jawa Tengah, sekitar bulan Oktober mendatang. (skt)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-33-4222">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-175" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/kespel-2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_33" >
								<img title="kespel-2" alt="kespel-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/thumbs/thumbs_kespel-2.jpg" width="99" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-176" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/kespel-3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_33" >
								<img title="kespel-3" alt="kespel-3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/thumbs/thumbs_kespel-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-177" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/kespel-4.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_33" >
								<img title="kespel-4" alt="kespel-4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/thumbs/thumbs_kespel-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-178" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/kespel-5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_33" >
								<img title="kespel-5" alt="kespel-5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/thumbs/thumbs_kespel-5.jpg" width="99" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-179" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/kespel-6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_33" >
								<img title="kespel-6" alt="kespel-6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/thumbs/thumbs_kespel-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-180" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/kespel-7.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_33" >
								<img title="kespel-7" alt="kespel-7" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/juntikebon/thumbs/thumbs_kespel-7.jpg" width="99" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pelayanan-kesehatan-bersama-lima-gereja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bimbingan Belajar di Kawasan Cilincing</title>
		<link>http://gkipi.org/bimbingan-belajar-di-kawasan-cilincing/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bimbingan-belajar-di-kawasan-cilincing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 04:43:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4186</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka Bulan Peduli tahun ini, Kombas Wilayah Pondok Indah telah menyalurkan sebagian dana yang diberikan gereja kepada beberapa anak warga jemaat di lingkungan Pondok Indah guna menunjang pendidikan mereka, dan sebagian lagi kepada Bimbingan Belajar di perkampungan nelayan Cilincing, yang diperkenalkan oleh Judith, salah seorang pemuda gereja kita yang menjadi pengajar tetap di sana. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka Bulan Peduli tahun ini, Kombas Wilayah Pondok Indah telah menyalurkan sebagian dana yang diberikan gereja kepada beberapa anak warga jemaat di lingkungan Pondok Indah guna menunjang pendidikan mereka, dan sebagian lagi kepada Bimbingan Belajar di perkampungan nelayan Cilincing, yang diperkenalkan oleh Judith, salah seorang pemuda gereja kita yang menjadi pengajar tetap di sana.</p>
<p>HOME (House of Mercy) adalah sebuah komunitas lintas agama yang bertujuan sosial dan berfokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup dan bantuan sosial bagi masyarakat prasejahtera yang tinggal di daerah kumuh dan miskin, khususnya Jakarta. Kawasan yang merupakan lahan subur bagi lahirnya anak jalanan, pengamen, preman, pengangguran dan pelaku tindak kriminal ini sering kali luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat. Padahal kondisi dan situasi komunitas prasejahtera ini dapat mengikis potensi generasi penerus apabila tidak ditangani dengan baik.</p>
<p>Dengan visi inilah HOME, yang didirikan oleh Dewa Klasik Alexander pada tanggal 14 Februari 2009, berusaha menjangkau anak-anak tersebut melalui kegiatan “Love and Care Outreach” yang diikuti oleh anak-anak muda dari berbagai denominasi gereja, organisasi sosial dan universitas di Jakarta.</p>
<p>Bimbingan belajar gratis ini diharapkan dapat melengkapi setiap anak dengan dasar pendidikan yang memadai, baik secara intelektual maupun moral (pembinaan karakter). Saat ini HOME mendidik sekitar 300 anak dari tingkat TK sampai SMP. Enam belas di antaranya tahun ini menyelesaikan pendidikan SMP dan sedang diusahakan untuk memasuki jenjang SMK, agar dapat dibekali dengan ketrampilan yang cukup untuk menunjang kehidupan mereka di masa yang akan datang.</p>
<p>Ketika beberapa wakil Kombas wilayah Pondok Indah berkunjung ke tempat tersebut pada hari Rabu tanggal 26 Mei yang lalu untuk menyerahkan sumbangan alat-alat tulis, buku-buku gambar, mainan, makanan, minuman dan juga sumbangan biskuit dari seorang warga jemaat, sebagian besar anak sedang libur, dan hanya anak-anak TK yang masuk. Kebetulan saat itu sebagian pengurus dan guru juga sedang berada di Surabaya, sehingga kami hanya bertemu dengan Bu Wiwi yang sedang mengajar anak-anak TK. Kami melihat sekitar lima belas anak belajar menulis huruf dan angka di HOME 1 ini. Ada satu  ruangan yang dipakai untuk mengajar, dan anak-anak duduk di kursi-kursi yang semuanya dinamai dengan kata-kata seperti faith, hope, dan joy. Dinding-dinding tampak semarak dengan karton-karton bergambar warna-warni yang sekaligus merupakan bahan pelajaran. Setiap hari Jumat anak-anak dibebaskan dari belajar dan sebagai gantinya diajak ke pantai untuk berekreasi dan berolah raga. Mereka juga mendapat makanan yang telah dipersiapkan sebelumnya.</p>
<p>Kami kemudian diajak Judith untuk melihat HOME 2, yang merupakan kantor pusat kegiatan ini. Di sana kami bertemu dengan Andre, salah seorang guru, dan sebuah keluarga yang terdiri atas nenek, ibu dan dua anak yang juga tinggal di rumah ini. Selain sebagai tempat tinggal para guru, tempat ini juga dipakai sebagai tempat pembinaan iman anak-anak (Kelompok Sel). Ruangan tampak kosong karena minimnya perabotan, tetapi kami melihat dua papan tulis baru yang tentunya merupakan sumbangan dari anak-anak Tuhan yang peduli pada kegiatan ini.</p>
<p>HOME 3, yang merupakan rumah terakhir yang disewa, sedikit lebih luas. Ada tiga ruangan yang dipakai untuk kegiatan belajar-mengajar. Bahkan gang kecil di sampingnya pun dipakai untuk kelas sore. Kontrak rumah selama setahun telah dilunasi oleh sebuah persekutuan doa di kawasan Sudirman. Ketika kami mengunjungi tempat ini, kami hanya melihat beberapa meja pendek di setiap ruangan. Ternyata anak-anak belajar sambil bersimpuh di lantai, dan meja-meja tersebut digunakan bersama-sama secara berkelompok. Untunglah sudah ada beberapa kipas angin dinding, sehingga udara panas Cilincing sedikit berkurang.</p>
<p>Ada enam guru yang melayani Bimbingan Belajar ini dari pukul 8.00 sampai 20.30, dan sebagian besar masih berusia sangat muda, sekitar dua puluh tahun. Dewa, demikian pemimpin mereka biasa dipanggil, juga masih berusia 22 tahun. Sungguh mengagumkan menyaksikan anak-anak muda ini memiliki jiwa pelayanan yang luar biasa. Mereka sangat sabar mengajar, dan sering kali harus mengulang seluruh pelajaran apabila anak-anak kembali belajar seusai liburan. Sebagian anak mengikuti sekolah umum pada pagi hari dan datang pada sore hari untuk mendapat bimbingan pelajaran, dan sebagian lagi hanya menempuh pendidikan di tempat ini, karena ketiadaan biaya. Tidak jarang para guru yang keluar rumah bertemu dengan anak-anak didik mereka yang sedang mengemis di persimpangan-persimpangan jalan. Anak-anak ini terpaksa melakukannya untuk membantu ekonomi keluarga. Terkadang pula, guru-guru ini harus merelakan barang-barang mereka seperti kasur, makanan dan sebagainya. untuk diberikan kepada penduduk yang tertimpa kemalangan. Pelayanan ini memang membutuhkan pengorbanan yang besar. Sungguh kasih Yesus sajalah yang menyokong dan memampukan mereka.</p>
<p>Siang itu kami pulang dengan membawa kesan yang dalam. Betapa banyak orang yang memerlukan pertolongan. Kepedulian kita dapat mengangkat harkat dan martabat mereka, dan menyelamatkan generasi penerus kita.</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-32-4186">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-172" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/cilincing/peduli01.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_32" >
								<img title="peduli01" alt="peduli01" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/cilincing/thumbs/thumbs_peduli01.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-173" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/cilincing/peduli02.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_32" >
								<img title="peduli02" alt="peduli02" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/cilincing/thumbs/thumbs_peduli02.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-174" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/cilincing/peduli03.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_32" >
								<img title="peduli03" alt="peduli03" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/cilincing/thumbs/thumbs_peduli03.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bimbingan-belajar-di-kawasan-cilincing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Baru Persekutuan Pemuda</title>
		<link>http://gkipi.org/wajah-baru-persekutuan-pemuda/</link>
		<comments>http://gkipi.org/wajah-baru-persekutuan-pemuda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 10:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=4127</guid>
		<description><![CDATA[Persekutuan pemuda kali ini berganti model dengan format yang lebih santai tetapi justru bahasan yang lebih dalam daripada sekadar pemahaman Alkitab semata. Persekutuan pemuda kali ini dirancang dalam suatu paket pembinaan tentang “Kepemimpinan yang kontekstual” di bawah judul GROW AND GLOW. Mengapa tema ini yang dipilih? Sebab disadari oleh pengurus pemuda bidang persekutuan yang dimandori [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Persekutuan pemuda kali ini berganti model dengan format yang lebih santai tetapi justru bahasan yang lebih dalam daripada sekadar pemahaman Alkitab semata. Persekutuan pemuda kali ini dirancang dalam suatu paket pembinaan tentang “Kepemimpinan yang kontekstual” di bawah judul GROW AND GLOW. Mengapa tema ini yang dipilih? Sebab disadari oleh pengurus pemuda bidang persekutuan yang dimandori oleh Retno, Nana, dan Yosafat ini, bahwa pemuda kelak merupakan calon-calon pemimpin, entah di keluarga, di pekerjaan, bahkan mungkin di gereja dan di masyarakat.</p>
<p>Kalau umumnya pembinaan tentang leadership itu selalu soal “aku, aku, dan aku”, entah soal kelebihan, kemampuan, keinginan, dsb., kali ini konsepnya justru sebaliknya. Kepemimpinan yang baik sebetulnya terlebih dahulu mengenal konteks di sekitarnya, sehingga dapat memberikan masukan bagi diri sendiri dan sekaligus menemukan keunikan diri sendiri justru dalam berinteraksi dengan beragam realitas di luar dirinya.</p>
<p>Ada lima pertemuan yang dirancang untuk mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu pemuda dan kemajuan teknologi, pemuda dan jender, pemuda dan kemajemukan gereja dan agama, pemuda dan lingkungan, dan juga pemuda dan kepemimpinan pribadi. Berikut catatan ringkas tentang pertemuan-pertemuan tersebut.</p>
<blockquote><p>Jumat, 13 Maret 2010</p>
<p>“Technology and Us, What’s Next?”</p>
<p>Pembicara: Trisno Sutanto (Pengamat Sosial, Aktivis Masyarakat Dialog Antar Agama)</p></blockquote>
<p>Isu globalisasi itu sendiri, menurut Mas Trisno, sangat luas. Karena itu aktivis, yang juga masih menempuh pendidikan di STF Driyarkara ini, hanya berfokus pada gejala sosial yang terjadi khususnya di kalangan pemuda dan eksekutif muda. Dengan menggunakan teori Marx yang dibahasakannya dengan sangat sederhana, ia menjelaskan bagaimana sebetulnya “kebutuhan yang sesungguhnya” (real need) terbungkus oleh berbagai tambahan yang sebetulnya tidak terlalu penting, sehingga menjadi “kebutuhan yang diciptakan” (created need). Konsumen kebanyakan jatuh pada created need tersebut. Isu globalisasi pun, menurutnya, bukan isu baru. Isu ini sudah muncul sejak 1970, di mana tiga hal penting pada masa itu, bidang transportasi, komunikasi, dan pertukaran uang yang tinggi, meningkat dengan pesat. Ketiga hal ini kemudian berdampak (bahkan hingga kini) pada suatu pola relasi yang disebut connectedness. Sebut saja gencarnya konsumsi atas Blackberry saat ini dan fasilitas yang menyertainya, yaitu media online. Berbicara tentang BB ataupun media online, khususnya Facebook (yang sedang sangat populer saat ini) saja, sebagian yang datang persekutuan pada saat itu mengatakan mempunyai kebutuhan akan keterhubungan (connectedness), juga dalam kaitan dengan pekerjaan (periklanan lewat internet, bahkan meeting lewat video call). Baru kemudian sisanya merupakan gaya hidup.</p>
<p>Lalu di mana letak permasalahannya? Ada dua sorotan utama Mas Trisno. Pertama, bahwa created need ini lebih booming daripada real need, apalagi dipicu oleh peran media, melalui iklan, yang tentunya selalu menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga tak bisa lepas dari keuntungan. Oleh karena itu created need ini, yang tentunya mendatangkan keuntungan, akan lebih gencar dipromosikan. Kedua, bahwa relasi personal yang intim lalu menjadi berkurang. Salah satu pertanyaan usil dalam buku pegangan persekutuan adalah, “Apa yang kamu lakukan ketika menunggu (antri di ATM, antri di dokter, di dalam lift). Bukankah itu memang potret yang terjadi selama ini, termasuk mungkin kita? Bahkan di tengah keramaian sekalipun (di halte bus, di dalam bus sendiri, di mal), seseorang bisa jalan dengan I-Pod di telinganya sedangkan mata dan tangan asyik dengan ponselnya (entah chatting, online, BBM, dan sebagainya). Media online memang membuat batas ruang dan waktu menjadi tipis sekali (transborder), tetapi justru apa yang disebut sebagai “jejaring sosial” itu perlu dikritisi. Kata “sosial” untuk menamakan situs online (FB, Twitter, dan sebagainya), termasuk juga fasilitas jejaring lainnya (SMS, MMS, video call, dan sebagainya) rasanya kurang tepat disebut “sosial”, karena sudah kehilangan personal touch yang mengandung emosi personal. Bisa saja orang SMS (atau menulis di status) bahwa ia sedang berada di rumah sakit, padahal sesungguhnya ia sedang clubbing dengan selingkuhannya. Karena itu, Mas Trisno mewanti-wanti, “Jangan pernah percaya langsung dengan informasi dalam media online.”</p>
<p>So, bagaimana dalam konteks yang lebih jauh, soal pelayanan di gereja. Mas Trisno tidak mau ambil pusing. Gereja kan pada hakikatnya memiliki kekuatan dalam relasi. “Mau pake LCD (cinta lingkungan) atau ga. Mau pake AC atau ga. Mau Alkitab lo konvensional dibawa-bawa atau mau dimasukin di HP lo. Ga terlalu masalah. Yang penting kualitas relasi antar anggotanya tetap dijaga. Jangan kalah atau pudar karena kecanggihan teknologi. Uang kan uang lo sendiri. Mau beli BB kek, mau beli I-Phone kek, itu pilihan sesuai kemauan dan kebutuhan lo,” tegasnya lagi menutup pembicaraan yang dihadiri tujuh rekan pemuda itu.</p>
<p>Betul juga ya. Jangan-jangan pemuda sekarang sudah terlalu canggih, sampe-sampe ga bisa lepas dari HP. Bosen ama khotbah pendetanya, yah online, atau curhat di status FB, atau nge-twit (istilah untuk memasukkan komentar di twitter). Malah salah seorang pemuda yang datang cerita begini, ada satu acara yang sengaja dirancang untuk reuni kecil, yah temu kangen sambil kongkow sama temen-temen lama begitu, eh udah kumpul ni, yah tetep aja lebih banyak BBM-annya daripada ngobrolnya. Hem&#8230;</p>
<blockquote><p>Jumat, 26 Maret 2010</p>
<p>“Lo Cewe, Lo Cowo, So..?”</p>
<p>Pembicara: Pdt. Drs. Sylvana R. Apituley (Anggota Komnas Perempuan, Dosen STT Jakarta)</p></blockquote>
<p>Meski hanya dihadiri oleh empat rekan pemuda, diskusi ini tetap menarik. Fokus diskusi seputar peran laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan. Ka Syl, panggilan akrab kepada pengajar Sejarah Gereja dan Teologi Feminis ini, menjelaskan banyak hal baru dan istilah yang sebelumnya tidak diketahui ataupun disalahartikan oleh pemuda atau bahkan oleh sebagian besar masyarakat. Seks dan seksualitas (atau jender) saja misalnya. Seks adalah jenis kelamin, yaitu: laki-laki atau perempuan, sedangkan seksualitas (jender) adalah konstruksi sosial yang dibangun masyarakat untuk menunjukkan peran masing-masing manusia menurut jenis kelaminnya. Pada poin inilah seringkali timbul masalah.</p>
<p>Mengapa? Ketidaktahuan masyarakat ini sering kali juga dikuatkan oleh keyakinan yang salah. Misalnya saja bila bicara soal kodrat Tuhan, masyarakat dengan yakin lalu menghubungkan kodrat Tuhan dengan beberapa asumsi salah, yang ditanamkan dan diturunkan kepada anak-anak mereka. Misalnya: kalo cewe itu harus lemah lembut, harus nurut, harus bisa masak, harus ngomong halus, sedangkan cowo harus tegas, ga boleh nangis, gagah, dsb. Bahwa semua yang dikatakan ini adalah sifat-sifat yang baik, Ka Syl setuju sampai batas tertentu, tetapi kalau mengatakan bahwa semua ini adalah kodrat Tuhan yang tidak boleh dilanggar, menurutnya, hal ini merupakan kesalahan besar. Mengapa? Apa yang disebut kodrat adalah pemberian dari Tuhan sejak lahir. Dan itu menunjuk pada apa yang dimaksud dengan fakta-fakta biologis. Fakta biologis itu menyangkut: laki-laki: memiliki alat kelamin laki-laki (testis, penis), menghasilkan sperma, tumbuh jakun, dan sebagainya; sedangkan perempuan: memiliki alat kelamin perempuan (vagina, selaput dara, rahim), menghasilkan ovum, tumbuh payudara, dsb. Apa yang disebut fakta biologis itulah yang dinamakan kodrat. Hanya saja kemudian orang menyalahartikannya dengan memberi embel-embel harus begini-harus begitu sebagai kodrat, padahal itu hanya konstruksi masyarakat, yang disebut seksualitas.</p>
<p>Persoalannya bukan hanya itu. Konstruksi jender yang tidak seimbang ini kemudian “memaksa” di satu pihak agar pria baru dikatakan jantan bila memiliki maskulinitas yang keras sehingga cenderung merusak, dan di pihak lain wanita baru disebut feminin apabila lemah gemulai dan santun, sehingga mudah ditindas dan dipengaruhi pihak yang lebih kuat (pria). Fakta pun membuktikan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga sering kali diderita oleh perempuan. Karena itu, poin inilah yang kemudian mengembangkan pemikiran feminis, yaitu paradigma berpikir yang memperjuangkan kesetaraan jender. Apakah lalu, justru hanya kepentingan wanita saja yang diperhatikan? Tidak, justru kepentingan laki-laki pun diperjuangkan, sebab sering kali laki-laki dibebani tanggung jawab yang berlebihan karena selalu dianggap no. 1, sehingga justru memberatkan dirinya.</p>
<p>Ka Syl mengakui bahwa pemikiran feminis ini tidak mudah sebab menyangkut banyak hal, termasuk adat-istiadat suku-suku di Indonesia yang umumnya selalu menomorduakan kaum perempuan, juga berbagai UU dan Perda yang seringkali tidak adil terhadap perempuan. Maka mulai sekarang Ka Syl meminta kaum muda membangun pemikiran yang kritis terhadap kesetaraan jender ini. Apakah perempuan hanya berurusan dengan dapur dan tempat tidur? Tidak, perempuan juga berhak mendapat pendidikan tinggi dan pekerjaan layak. Tapi di pihak lain, jika laki-laki tidak bekerja dan menjadi bapak rumah tangga, apakah hal itu memalukan? Tidak juga. Pekerjaan rumah tangga (baik oleh ibu atau bapak) adalah pekerjaan mulia dan tidak lebih buruk daripada pekerja kantoran. Masalahnya hanya soal paradigma berpikir. Toh dalam setiap rumah tangga, semua hal dapat dibicarakan, termasuk soal berbagi tugas dan peran suami istri.</p>
<p>“Jangan sampai identitas kalian kelak hilang setelah menikah,” ujar Ka Syl mengingatkan. Misalnya, hal sederhana saja soal nama. Setelah menikah, nama istri hilang dan digantikan oleh nama suami. Misalnya saja Cynthia menikah dengan Yosafat Simatupang. Lantas Cynthia dipanggil dengan Nyonya Yosafat Simatupang. Apakah ini salah? “Tidak salah,” tegas Ka Syl. Hanya saja kemudian nama Cynthia (dengan keindahan nama itu), yang dahulu punya identitas dan keunikannya sendiri, lama-kelamaan hilang karena menikah. Bahwa ia sudah mengikat diri dengan suaminya dalam pernikahan, itu tentu benar. Tapi toh dia tetap seorang manusia yang punya identitas “Cynthia” dengan segala kenangannya, tanpa harus diganti dengan “Nyonya Yosafat”. Begitu juga perihal pacaran. Apakah harus selalu sang cowo yang menanggung biayanya? Tidak. Ini soal kesepakatan. “Kasihan dong kalo cowo ga bisa memenuhi semua itu, apa lantas mau langsung putus?” tegasnya.</p>
<blockquote><p>Jumat, 9 April 2010</p>
<p>“Ada Lo, Baru Rame&#8230;”</p>
<p>Pembicara: Pdt. Dr. Albertus Patty (Crisis center GKI, BPMS GKI, aktivis dialog antar agama)</p></blockquote>
<p>Sudah cukup pertumpahan darah karena isu agama. Maka stop saling menjelek-jelekkan agama,” itulah hal yang diwanti-wanti Om Berti, panggilan akrab bagi pendeta jemaat GKI Maulana Yusuf–Bandung, selama diskusi. Ia menerangkan banyak hal tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap banyaknya gereja yang tumbuh saat ini, dan lebih jauh lagi terhadap pemeluk agama lain. Dari kata “Yesus Kristus” ada Gereja Kristus, Gereja Yesus Kristus, Gereja Kristus Yesus, dsb. Belum lagi realita gereja-gereja yang di ruko, di mal, di stadion, dan sebagainya. “Jangan mudah menyesatkan suatu aliran (Kristen)!” tegasnya. “Berpikirlah positif terhadap apapun yang kamu temui (aliran Kristen) dan kritisi.”</p>
<p>Misalnya fenomena yang paling sering terjadi di kalangan pemuda, yaitu “jajan” ke gereja lain, khususnya aliran karismatik. Entah karena diajak teman, diajak pacar, pengen coba, bosen denger khotbah di GKI yang bikin ngantuk, dan beribu alasan lain. Menurut Om Berty, hal ini tidak masalah. Asalkan sekali lagi, dipertimbangkan secara kritis. Sebagai salah satu anggota sinode, ia mengatakan bahwa pendeta-pendeta GKI sejak perekrutan, pendidikan di STT, pencalonan pendeta, selama menjabat sebagai pendeta, bahkan hingga emiritus, dalam pembinaan dan evaluasi kinerja pelayanan mereka selalu diingatkan bahwa poin penting dalam penyampaian firman di mimbar ialah tidak menjelekkan gereja maupun agama lain. “Kalo ada pendeta yang berkhotbah tetapi menjelekkan gereja atau agama lain, itu pasti bukan pendeta GKI,” tegasnya. Tentang soal penyampaian khotbah, terutama yang menyangkut teknik dan metode agar tidak membosankan dan mudah diterima oleh jemaat, ia mengatakan bahwa setiap pendeta harus menerima kritik dengan rendah hati dan berusaha mengembangkan kemampuannya.</p>
<p>Secara khusus GKI menekankan pada jemaat bahwa beriman juga perlu dilakukan dengan memakai rasio. Apakah lalu spiritual tidak penting di GKI, sehingga ibadah-ibadah sering terasa kering? “Tidak, bukan itu maksudnya,” tegasnya. Spiritualitas sangat penting tapi tak cukup hanya itu, sebab jemaat akan mudah dibohongi. Menggunakan rasio berarti bahwa khotbah pendeta sekalipun harus diterima jemaat dengan menggunakan rasionya, supaya kelak apa yang diimaninya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, di GKI tidak dikenal khotbah di mana pendeta menanyakan “amin, saudara-saudara?” setiap khotbah, dan jemaat menjawab “amin”. Artinya, GKI dalam berteologi begitu membuka kebebasan jemaat untuk berpikir sehingga tidak mudah dibohongi atau dibodohi oleh pendeta ataupun penatua.</p>
<p>Om Berti mengambil contoh setiap KKR yang dilakukan di stadion, tanpa bermaksud menjelekkan, tetapi mencoba melatih kecerdasan dalam beriman. Dia mengatakan bahwa ada yang namanya psikologi massa. Dia pun bercerita sesuai pengalamannya dulu yang cukup rutin ikut KKR, tetapi setelah itu merasa dibodohi. “Di KKR, jemaat dikondisikan agar begitu rupa disentuh oleh Firman dan nyanyian, sehingga apapun yang dikatakan oleh pendeta dituruti, dan pada akhirnya nanti jemaat diminta untuk mengeluarkan dompet dan memberikan isinya sebanyak-banyaknya dengan iming-iming firman Tuhan yang mengatakan “siapa yang memberi banyak, akan mendapat banyak.” Hal itu mudah dilakukan oleh jemaat, karena memang tidak diberi ruang untuk berpikir secara jernih dan kritis. Dengan kata lain, Om Berti menegaskan bahwa bukan berarti kita tidak boleh ke gereja yang kita senangi, tetapi kritisilah, agar kemudian kita bisa menyimpulkan bahwa kita tidak cocok dengan model seperti itu (tanpa perlu melabelkan sesat kepada mereka).</p>
<p>Terus bagaimana dengan mereka yang beragama lain? “Jalinlah hubungan yang baik dan seluas-luasnya dengan mereka. Jangan malu atau takut karena kita Kristen!” tegas Om Berti. Lalu, seandainya mereka bertanya soal keselamatan? “Katakanlah bahwa kamu Kristen dan betul-betul mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat yang membawa kabar baik dan keselamatan bagi semua orang. Tetapi ingat, katakanlah itu dengan kerendahan hati, bukan kepongahan maupun kesombongan dengan mengganggap remeh agama lain,” tegasnya lagi. Tetapi semua itu perlu didahului dengan relasi yang baik dengan mereka (agama lain), sehingga percakapan pun dapat berjalan lebih hangat tanpa saling curiga.</p>
<p>Lalu, bukankah dengan sikap Om Berti itu, kita beriman dengan ragu-ragu? “Ya tentu, toh ragu-ragu adalah bagian dari manusia. Beriman itu kan memang butuh keragu-raguan, bahkan jatuh-bangun berulang kali, mempertanyakan, mempertimbangkan, terus seperti itu. Sampai pada akhirnya, kita yakin bahwa semua pergumulan itu adalah bagian dari proses kedewasaan iman. Jadi, iman kita bukan untuk kesenangan saja, sehingga kita dengan mudah memaksa Tuhan lewat doa-doa kita (bahkan dengan embel-embel “dalam nama Yesus” sebagai kekuatan), untuk setiap keinginan kita. Ada porsi yang Tuhan lakukan, ada porsi yang harus kita lakukan. Itulah iman yang bertanggung jawab dan dewasa. Ga cuma maunya enak melulu,” lanjutnya lagi sambil bercanda.</p>
<p>Terus kita tidak perlu Pekabaran Injil (PI)? “Saya sangat mendukung, apapun caranya. Tetapi apabila dalam PI, kita menjelekkan-jelekkan agama lain, itu mah bukan PI. Jangan jadikan kabar baik itu malah kabar buruk bagi mereka yang mendengarnya. Maka saya tidak setuju dengan model kesaksian orang yang pindah dari agama lain lalu masuk Kristen, tapi di depan umat ia menjelek-jelekkan agamanya yang terdahulu. Model seperti ini harusnya tidak kita lestarikan. Kalau mau masuk Kristen, yah masuklah dengan keyakinan bahwa itu pilihan hati. Jangan lantas menjelekkan agamanya yang terdahulu,” tambahnya lagi.</p>
<p>Di pemuda GKI Maulana Yusuf sendiri (dan juga pada ibadah umum), penatuanya tidak memberikan batasan, pengkhotbah mana yang boleh dipanggil dan mana yang tidak. Mengapa? Sebab sejak awal, Om Berti dan seluruh rekan majelis sudah menanamkan kepada pemuda dan jemaat pada umumnya, bahwa poin penting yang perlu dipegang dalam menilai seorang pengkhotbah, selain teologinya, adalah apakah dalam khotbahnya, pengkhotbah itu menjelek-jelekkan agama lain atau tidak. “Biasanya kalau ada yang seperti itu (menjelek-jelekkan agama lain), jemaat otomatis melapor kepada majelis, agar ia jangan diundang lagi. Kita tidak cocok dengan dia,” ucapnya. Dia yakin bahwa gereja lain, termasuk pemuda GKI Pondok Indah, juga bisa melakukan hal itu, tetapi seiring dengan kedewasaan beriman. Itu semua butuh proses yang tidak instan. Tapi ia yakin, suatu saat, tanpa perlu diberi “rambu-rambu” terlebih dahulu oleh majelis, pemuda dengan kedewasaannya dapat dengan sendirinya menyeleksi setiap pembicaranya.</p>
<p>Isu menarik lainnya ialah soal pacaran dan menikah beda agama. “GKI membuka selebar-lebarnya kenyataan ini dan juga menghormatinya (termasuk membangun relasi dengan agama manapun),” ujarnya. Dan hal inilah yang membuat GKI dianggap “unik” (cenderung berkonotasi negatif) oleh denominasi lain. Hanya saja, ia mengingatkan bahwa UU di Indonesia tidak memungkinkan hal itu terjadi. Juga, pemberkatan di GKI perlu melewati proses pastoral yang cukup panjang. Ia menekankan, “Pasangan yang satu gereja saja (sama-sama GKI), juga mengalami banyak tantangan dalam pernikahan, apalagi kalau beda gereja dan lebih jauh beda agama. Bukan tidak boleh dan tidak mungkin, tapi pertimbangin mateng-mateng deh kalian yang pacaran beda agama. Butuh kematangan beriman untuk terus melanjutkan hubungan, bukan cuma kalian saja (pasangan yang menjalani), tetapi juga keluarga kalian. Sebab benih retaknya rumah tangga beda agama adalah pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘Kapan suamimu masuk Katolik?’, atau ‘Kapan istrimu jadi mualaf.’ Nah siap ga kita menghadapinya, kalau tidak, yah jangan dipaksa,” tegasnya sambil bercanda.</p>
<p>Ia menutup diskusi dengan mengatakan bahwa beriman butuh sikap kritis dan bertanggungjawab. Di sisi lain, beriman harus punya makna bagi orang lain dan dunia. Kalau beriman tidak menghasilkan apa-apa (sekadar pemuas spiritualitas diri saja), sama saja dengan tidak beriman. Karena itu, jadilah pemuda Kristen yang berguna bagi dunia.</p>
<p>Yosafat Simatupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/wajah-baru-persekutuan-pemuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengobatan gratis masyarakat Bantaran Kali Ciliwung</title>
		<link>http://gkipi.org/pengobatan-gratis-masyarakat-bantaran-kali-ciliwung/</link>
		<comments>http://gkipi.org/pengobatan-gratis-masyarakat-bantaran-kali-ciliwung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 09:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3901</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kesekian kalinya Gugus tugas Penanggulangan Bencana (GPB), mewakili jemaat GKI Pondok Indah, menyatakan kasih dan peduli seperti yang Yesus Kristus tegas-tegas ajarkan kepada kita semua. Hal ini bermula dari masukan KGJ (Komunitas Gumul Juang) yang dengan berbagai kegiatan positifnya telah menjadikan diri mereka bagian dari warga bantaran kali Ciliwung. Dengan siapa saja Gugus tugas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk kesekian kalinya Gugus tugas Penanggulangan Bencana (GPB), mewakili jemaat GKI Pondok Indah, menyatakan kasih dan peduli seperti yang Yesus Kristus tegas-tegas ajarkan kepada kita semua. Hal ini bermula dari masukan KGJ (Komunitas Gumul Juang) yang dengan berbagai kegiatan positifnya telah menjadikan diri mereka bagian dari warga bantaran kali Ciliwung.</p>
<p>Dengan siapa saja Gugus tugas Penanggulangan Bencana ini bekerja sama? Tentu dengan sahabat-sahabat dari Komisi PelKes, Komisi DikKesRa dan Mabid SarPras. Jadilah tanggal 13 Maret 2010 itu, 20 personil bergerak menyalurkan berkat Tuhan melalui pengobatan. Kali ini korban banjir warga bantaran kali Ciliwunglah yang menikmatinya.</p>
<p>Tak kurang dari empat dokter, Dr Okky Hutama, Dr. Thomas Tabalujan, Dr. Humala Simanjuntak, Dr. Melissa plus satu Suster Ana, begitu cermat dan sabar memeriksa total 180 pasien&#8230; gratis tentu saja. Tenaga medis ini semua tumplek jadi satu, dalam kios berukuran 4&#215;2,5 m2. Pengap? Ya jelas. Syukurlah ada sebuah kipas angin yang masih bisa berfungsi.</p>
<p>Bagaimana dengan tim penyedia obat? Di kios kedua, tak kurang sibuknya tim ini yang terdiri atas: Dr. Magdalena, Janti Listijani, Drg. Lucia B.Suboko, Lanny Hendarsin, Martha Dharyani dan tak ketinggalan ketua Kom. DikKesra, Eddy Harjanto.</p>
<p>Sesekali ketua GPB nampak berlari kecil dari ruang obat ke ruang dokter, menginformasikan posisi kelengkapan obat. Tentu tak lupa dukungan Ketua dan Sekretaris Mabid Kespel yaitu Pnt. Fabian Pascoal dan Pnt. Paul Tehusijarana yang turut hadir dalam pelayanan tersebut serta peran vital Mabid SarPras yang terdiri dari Sutedjo, Teguh Budiono, serta Sie transportasi GPB Benny Murtono. Hari itu mobilisasi kendaraan telah menjamin lancarnya transportasi tim. Bahkan sarana komunikasi HT, tanpa diminta, langsung disediakan.</p>
<p>Sungguh luar biasa tangan Tuhan yang memampukan setiap anggota tim menjadi sebuah Tim terpadu. Begitulah pelayanan kasih dan peduli untuk warga bantaran Kali Ciliwung terlaksana dengan lancar. Melalui pelayanan ini kembali kami menerima peneguhan Tuhan untuk mengamini makna ‘Diberkati agar menjadi Berkat’. Bagaimana tidak? Dalam rapat persiapan kami menyatakan kesanggupan (dari sisi stok obat dan waktu yang dibutuhkan) untuk melayani maksimum 150 pasien yang terdiri dari warga RT 3 dan 4 saja. Tetapi dalam pelaksanaannya, terlayani 180 pasien termasuk warga RT 5, dan masih tersisa persediaan obat! Sungguh, begitu nyata kisah lima roti dan dua ikan dalam pelayanan kami.</p>
<p>Mari kita doakan juga kegiatan para alumni STT Jakarta yang tergabung dalam KGJ ini, agar tetap dalam pimpinan Tuhan dalam menyampaikan berita sukacita melalui tindakan nyata, bukan hanya khotbah. Biarlah hanya nama Tuhan saja yang dimuliakan dalam tiap pelayanan di manapun dilakukan. (hendroS)</p>
<p>Di bawah ini redaksi menyajikan refleksi pelayanan GKI PI yang ditulis oleh saudara Hendry Sihasale, salah satu pengurus KGJ.</p>
<p><strong>Menggalang aksi belarasa</strong></p>
<p>Banjir tahunan di Jakarta mungkin bagi sebagian warga Jakarta tidak selalu mengalaminya, tetapi tidak bagi masyarakat tongtek yang bermukim di bantaran kali Ciliwung. Bagi mereka yang namanya banjir karena meluapnya air sungai Ciliwung sudah menjadi hal yang lumrah setiap tahunnya. Mereka sudah tahu apa yang harus diperbuat ketika banjir itu datang. Dan mereka juga tahu apa yang akan mereka derita dari banjir tersebut. Tetapi karena kemiskinan, mereka tidak dapat lepas dari itu semua sampai saat ini.</p>
<p>Dari pengamatan kami, sejak akhir Januari 2010 sampai saat ini, rumah warga tongtek sebagian besar hampir setiap hari tergenang air Ciliwung dengan tinggi 1 s.d. 2 meter. Air mulai naik tengah malam dan surut ketika menjelang sore hari. Air tersebut dengan serta merta membawa lumpur dari sungai yang kemudian mengendap di rumah warga sehingga hampir setiap hari mereka membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dampak dari banjir yang hampir setiap hari itu adalah penyakit yang mewabah di sebagian besar warga. Mulai dari ISPA, demam, sesak napas, iritasi mata, hingga penyakit kulit, khususnya bagi anak-anak dan balita. Jumlah warga yang datanya sudah masuk ke Komunitas Gumul Juang berasal dari RT. 04, 165 kk dan RT. 03, 176 kk.</p>
<p>Menyadari hal itu, maka kami menggalang aksi solidaritas terhadap mereka dari berbagai pihak dengan mengadakan pengobatan gratis. Dan salah satu pihak yang solider dan bersedia mengadakan pengobatan gratis di tengah-tengah mereka adalah GKI Pondok Indah, DKI Jakarta.</p>
<p><strong>Refleksi Kegiatan</strong></p>
<p>Kehadiran GKI Pondok Indah di tengah-tengah warga Tongtek merupakan solusi cepat tanggap terhadap apa yang diderita oleh warga akibat banjir Ciliwung. Pemeriksaan yang intensif serta obat-obatan yang cukup membuat warga puas dengan kegiatan ini. Warga pun terlibat dalam menata tempat dan mengatur ketertiban peserta pengobatan gratis.</p>
<p>Tidak hanya warga, pihak puskesmas dan pihak RW setempat pun turut senang dengan adanya kegiatan seperti ini dari pihak luar karena dapat meringankan penderitaan warga yang tidak mampu datang ke dokter dan membeli obat. Kesan ini ditunjukkan dengan kehadiran mereka dan keterlibatan mereka dalam memfasilitasi kebutuhan kerja serta mengatur ketertiban dan keamanan lingkungan sekitar selama kegiatan berlangsung.</p>
<p>Bagi KGJ sendiri, kehadiran tim GKI Pondok Indah tidak sekadar menyembuhkan mereka secara jasmani melainkan juga secara rohani. Sosialisasi dan adaptasi tim GKI Pondok Indah dengan warga masyarakat, membuat warga merasa senang dan dihargai. Selama ini banyak pihak yang membantu mereka tetapi jarang mau bersosialisasi dengan mereka. Hal ini seringkali menimbulkan rasa ketersinggungan sekaligus minder dari warga kepada pihak-pihak tersebut.</p>
<p>Tetapi rasa itu tidak muncul dari warga kepada tim pengobatan gratis dari GKI Pondok Indah. Dan ini sama saja dengan memunculkan kesan bagi mereka, bahwa tim GKI Pondok Indah tidak memandang mereka sebagai obyek semata, melainkan sebagai subyek yang dapat saling berinteraksi satu sama lain. Dan ini semua menjadi suatu kontribusi penting bagi persepsi mereka tentang Kekristenan.</p>
<p>Selama ini mereka ditanamkan persepsi bahwa orang Kristen itu musuh mereka, orang Kristen itu mau menghancurkan agama mereka, dan orang Kristen itu sombong karena mereka kaya. Tetapi sikap dari tim GKI Pondok Indah selama berlangsungnya kegiatan turut mempengaruhi pergeseran persepsi itu, dan secara langsung juga membantu proses pendampingan dari KGJ di tengah-tengah mereka.</p>
<p>Situasi tersebut telah mendukung setiap perkataan kami di tengah-tengah masyarakat mengenai misi Kristen pada masa kini yang mengarah pada pemberdayaan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, toleran, dan manusiawi, dan bukan lagi yang mengarah pada memaksa orang beragama lain menjadi pemeluk agama Kristen.</p>
<p>Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, kami mewakili warga masyarakat Tongtek yang bermukim di RT.04, RT.03, RT.05. RW.12, Kp. Tongtek, Kel. Bukit Duri, Kec. Tebet, mengucapkan terima kasih atas partisipasi GKI Pondok Indah dalam membantu warga bantaran kali Ciliwung. Tuhan memberkati saudara sekalian.</p>
<p>Jakarta, 20 Maret 2010<br />
Hormat kami,<br />
Komunitas Gumul Juang<br />
RT.04/RW.12. Bukit Duri Pangkalan<br />
Kel. Bukit Duri, Kec. Tebet,<br />
Jakarta Selatan  Telp. 021-37269227</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-31-3901">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-164" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb00.jpg" title="Sebelum berangkat dari GKIPI" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb00" alt="gpb00" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb00.jpg" width="97" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-165" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb01.jpg" title="Kios praktek pengobatan" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb01" alt="gpb01" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb01.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-166" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb02.jpg" title="Suasana lingkungan Kp. Tongtek, Kel. Bukit Duri, Kec. Tebet" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb02" alt="gpb02" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb02.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-167" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb03.jpg" title="Tim penyedia obat-obatan" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb03" alt="gpb03" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb03.jpg" width="97" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-168" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb04.jpg" title="Periksa tekanan darah oleh Suster Ana" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb04" alt="gpb04" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb04.jpg" width="97" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-169" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb05.jpg" title="Dr. Humala Simanjuntak memeriksa balita" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb05" alt="gpb05" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb05.jpg" width="93" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-170" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb06.jpg" title="Dr. Melissa memeriksa pasien" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb06" alt="gpb06" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb06.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-171" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/gpb07.jpg" title="Dr Okky Hutama dengan pasien" class="thickbox" rel="set_31" >
								<img title="gpb07" alt="gpb07" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/new-folder/thumbs/thumbs_gpb07.jpg" width="97" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/pengobatan-gratis-masyarakat-bantaran-kali-ciliwung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Perjalanan ke Sebuah Desa di Kaki Gunung Merbabu</title>
		<link>http://gkipi.org/catatan-perjalanan-ke-sebuah-desa-di-kaki-gunung-merbabu/</link>
		<comments>http://gkipi.org/catatan-perjalanan-ke-sebuah-desa-di-kaki-gunung-merbabu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 04:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3896</guid>
		<description><![CDATA[Semula, pelayanan ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini merupakan gagasan dari salah satu sesepuh PS. Wilayah Lebak Bulus, tetapi berkat kasih karunia Tuhan, dapat bersama-sama diwujudkan oleh seluruh anggota paduan suara kami. Sejalan dengan program pelayanan keluar PS. Wilayah Lebak Bulus, dan berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Pdt. Em. Agus Susanto, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semula, pelayanan ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini merupakan gagasan dari salah satu sesepuh PS. Wilayah Lebak Bulus, tetapi berkat kasih karunia Tuhan, dapat bersama-sama diwujudkan oleh seluruh anggota paduan suara kami.</p>
<p>Sejalan dengan program pelayanan keluar PS. Wilayah Lebak Bulus, dan berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Pdt. Em. Agus Susanto, pengurus dan panitia mulai menyelidiki keberadaan Desa Kenalan yang terletak di dekat Salatiga (Jawa Tengah) yang sejuk, sekitar sejam perjalanan dari kota itu. Kami pun melakukan penelusuran melalui website untuk menemukan lokasi desa tersebut.</p>
<p>Untuk mematangkan rencana kami, sebuah tim melakukan survei pendahuluan. Sesampai rombongan ini di tempat tujuan, mereka sangat takjub menyaksikan kemegahan sebuah gedung gereja di pedalaman kaki Gunung Merbabu dengan jumlah jemaat sekitar 400 orang, termasuk anak-anak. Dari bincang-bincang dengan 3 orang majelis GKJ Kenalan, diketahui bahwa 90% jumlah penduduk di sana tercatat beragama Kristen.</p>
<p>Sejarah berdirinya GKJ Kenalan diawali dengan pelaksanaan baptis massal yang diikuti oleh 150 orang warga desa yang menjadi pengikut Kristus. Peristiwa ini menyentuh hati banyak orang, termasuk yayasan misionaris di Kanada yang pada awal tahun 1990 membiayai pembangunan gereja tersebut. Selain itu ada juga banyak jemaat dari gereja lain, baik di pusat maupun di daerah, yang ikut membantu pendirian rumah ibadah GKJ Kenalan yang terletak di daerah terpencil ini.</p>
<p>Sekembalinya tim ke Jakarta, pelayanan ke Ds. Kenalan dan Ds. Kendakan di kaki Gunung Merbabu dibicarakan dengan seluruh anggota PS Wil Lebak Bulus. Para anggota dengan antusias segera mengumpulkan bantuan berupa Alkitab dan buku-buku bacaan rohani untuk pertumbuhan rohani anak-anak di sana.</p>
<p>Hari Sabtu tanggal 13 Maret, rombongan berjumlah 39 orang berkumpul di gereja untuk bersama-sama berangkat ke Semarang. Perjalanan dengan pesawat terbang ditempuh dalam waktu 45 menit. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Salatiga dengan menggunakan bus, lalu makan siang di Ungaran dan mampir di Bandungan, daerah wisata yang berhawa sejuk. Dari sana kami menuju hotel Beringin di Salatiga untuk beristirahat. Sore hari sebelum makan malam kami melakukan latihan terakhir di hotel di bawah pimpinan Sdr. Yafet.</p>
<p>Hari Minggu tanggal 14 Maret pukul 6.30 kami sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju Ds. Kenalan yang terletak 1400 m di atas permukaan laut. Bus yang kami tumpangi tidak dapat mencapai tempat tersebut, sehingga kami harus naik kendaraan yang lebih kecil.</p>
<p>Kami mengikuti kebaktian Minggu yang dimulai pukul 09.00 dan dipimpin oleh seorang anggota Komisi PI dari GKI Pajajaran, Magelang. Sampai kini GKJ Kenalan belum memiliki pendeta. Ibadah Minggu dihadiri oleh sekitar 250-300 orang. Ps. Wilayah Lebak Bulus melayani puji-pujian dalam ibadah Minggu itu dengan menyanyikan tiga buah lagu, yaitu “Yesus Nahkoda Agung,” “Tak Terkira Kasih-Mu” dan “Tiup Nafiri.”</p>
<p>Kami disambut hangat oleh para majelis dan jemaat GKJ Kenalan. Seusai ibadah, kami menyerahkan Alkitab, Alkitab bergambar untuk anak-anak, Kidung Jawa dan berbagai buku bacaan yang mendukung pertumbuhan rohani anak-anak jemaat gereja tersebut. Di samping itu, kami juga menyerahkan sumbangan pendidikan. Karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat melaksanakan bincang-bincang berkelompok dengan jemaat, seperti yang semula kami rencanakan. Seusai acara ramah-tamah dengan suguhan kudapan ringan khas desa yang sangat lezat, kami berfoto bersama di depan gedung gereja sebelum berpamitan dan menuju Pepantan (Bakal Jemaat) GKJ Ngablak di Ds. Kendakan, yang terletak agak jauh dari Ds. Kenalan. Beberapa anggota Paduan Suara tidak ikut ke sana karena jauhnya lokasi tersebut, dan menunggu selama 1,5 jam di GKJ Kenalan. Meskipun demikian, mereka dapat memanfaatkan waktu dengan mengikuti kegiatan Sekolah Minggu yang diadakan seusai kebaktian umum. Pak Lukas, salah seorang guru Sekolah Minggu kita, bahkan dapat membagikan pengalamannya kepada para guru Sekolah Minggu di sana tentang cara mengajarkan Fiman Tuhan kepada anak-anak.</p>
<p>Untuk menuju Pepantan GKJ Ngablak kami membutuhkan waktu 30 menit dengan berkendaraan. Jalan yang menanjak dan terjal menuju desa yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian ini menjadi salah satu alasan lamanya perjalanan. Pepantan GKJ Ngablak tidak sebesar GKJ Kenalan, jemaatnya kurang lebih berjumlah 30 orang. Desa ini merupakan desa tertinggi di kaki gunung Merbabu, bahkan menurut salah seorang penduduk, desa ini terletak di “pinggang” gunung sehingga udara dingin sangat terasa dibandingkan dengan Ds. Kenalan.</p>
<p>Setiba di sana, kami tidak mengikuti ibadah Minggu dan bernyanyi seperti di GKJ Kenalan, namun hanya beramah-tamah dan menyampaikan bahan bacaan kepada jemaat. Bantuan yang diberikan tidak jauh berbeda dari yang kami berikan kepada GKJ Kenalan, yaitu berupa Alkitab, Alkitab bergambar buku nyanyian, dan sumbangan pendidikan.</p>
<p>Setelah menyerahkan bantuan, kami disuguhi makan siang dengan brokoli sebagai menu utama, karena daerah ini merupakan penghasil Brokoli! Sesudah makan siang, kami segera kembali berkumpul dengan anggota paduan suara yang tertinggal di GKJ Kenalan.</p>
<p>Sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, masih ada satu pelayanan lagi yang harus kami laksanakan, yaitu di GKJ Salatiga. Pukul 16.00 kami sudah berangkat ke sana. Perjalanan ditempuh kurang dari 30 menit, karena jaraknya dekat dan tidak ada kemacetan seperti yang biasa terjadi di Jakarta. Di GKJ Salatiga kami mengikuti kebaktian sore yang dipenuhi oleh muda-mudi, karena sebagian besar jemaat adalah mahasiswa Universitas Satya Wacana. Kami melantunkan tiga buah lagu pujian, dengan dipimpin oleh Sdr. Yafet. Seusai kebaktian, kami dijamu oleh para penatua GKJ Salatiga dan disuguhi makan malam sambil beramah-tamah. Setelah berfoto bersama maka kami pun berpamitan untuk kembali ke hotel tempat kami menginap.</p>
<p>Senin 15 Maret 2010, kami membeli oleh-oleh khas Salatiga sebelum berangkat ke Semarang. Setiba di sana, kami juga mampir sebentar untuk membeli oleh-oleh sebelum kembali ke Jakarta.</p>
<p>Cuaca yang kurang baik membuat penerbangan kami ke Jakarta tertunda selama beberapa jam, namun puji Tuhan, kami sampai dengan selamat di Terminal 3 Soekarno-Hatta pada pukul 20.00 dan tiba di GKI Pondok Indah pada pukul 22.00.</p>
<p>Sebuah pengalaman baru yang tidak terlupakan melekat di hati setiap anggota Ps. Wilayah Lebak Bulus yang mengikuti kunjungan ke dua desa di kaki Gunung Merbabu ini. Walaupun terletak di pedalaman dengan taraf hidup yang sangat sederhana sebagai petani sayur-mayur, jemaat di sana memiliki iman yang kuat kepada Tuhan Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat dan Penolong mereka yang setia. Perjalanan ini juga semakin mempererat hubungan antara anggota PS. Wilayah Lebak Bulus.</p>
<p>(Candace Anastassia Limbong)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-29-3896">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-158" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/salatiga-13.jpg" title="Sekolah Minggu GKJ Kenalan" class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="Sekolah Minggu GKJ Kenalan" alt="Sekolah Minggu GKJ Kenalan" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/thumbs/thumbs_salatiga-13.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-159" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/salatiga-14.jpg" title="Pak Lukas mengajar Sekolah Minggu GKJ Kenalan" class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="Pak Lukas mengajar Sekolah Minggu GKJ Kenalan" alt="Pak Lukas mengajar Sekolah Minggu GKJ Kenalan" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/thumbs/thumbs_salatiga-14.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-160" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/salatiga-2.jpg" title="Anak-anak Sekolah Minggu GKJ Kenalan" class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="salatiga-2" alt="salatiga-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/thumbs/thumbs_salatiga-2.jpg" width="100" height="74" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-161" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/salatiga-3.jpg" title="Bantuan buku untuk GKJ Kendakan" class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="Bantuan buku untuk GKJ Kendakan" alt="Bantuan buku untuk GKJ Kendakan" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/thumbs/thumbs_salatiga-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-162" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/salatiga-7.jpg" title="GKJ Kendakan" class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="GKJ Kendakan" alt="GKJ Kendakan" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/thumbs/thumbs_salatiga-7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-163" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/salatiga-9.jpg" title="Foto bersama di GKJ Kendakan" class="thickbox" rel="set_29" >
								<img title="Foto bersama di GKJ Kendakan" alt="Foto bersama di GKJ Kendakan" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/salatiga/thumbs/thumbs_salatiga-9.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/catatan-perjalanan-ke-sebuah-desa-di-kaki-gunung-merbabu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melayani Sebagai Guru Sekolah Minggu? Tunggu Dulu…</title>
		<link>http://gkipi.org/melayani-sebagai-guru-sekolah-minggu-tunggu-dulu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://gkipi.org/melayani-sebagai-guru-sekolah-minggu-tunggu-dulu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 11:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3584</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya belum pernah ada berita di media ini tentang kesaksian atau pengalaman seseorang yang melayani sebagai seorang Guru Sekolah Minggu. Saya yakin pandangan orang mengenai pelayanan sebagai Guru Sekolah Minggu ini berbeda-beda. Ada yang menganggap peran Guru Sekolah Minggu biasa saja, hanya perlu menyukai anak-anak, bahkan memandang rendah: “Ah, bisanya hanya melayani anak-anak saja.” Namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya belum pernah ada berita di media ini tentang kesaksian atau pengalaman seseorang yang melayani sebagai seorang Guru Sekolah Minggu. Saya yakin pandangan orang mengenai pelayanan sebagai Guru Sekolah Minggu ini berbeda-beda. Ada yang menganggap peran Guru Sekolah Minggu biasa saja, hanya perlu menyukai anak-anak, bahkan memandang rendah: “Ah, bisanya hanya melayani anak-anak saja.”</p>
<p>Namun sebaliknya, ada yang menganggap menjadi Guru Sekolah Minggu itu sangat sulit. Seperti apa sih sesungguhnya pelayanan sebagai Guru Sekolah Minggu itu? Seorang Guru Sekolah Minggu tidak punya waktu libur secara khusus. Setiap Minggu selalu ada Kebaktian Anak, sama seperti Kebaktian Umum, tidak akan pernah diliburkan. Selain itu setiap Minggu ada persiapan Guru Sekolah Minggu untuk kebaktian Minggu depan dan berbagai aktivitas lain lagi. Setiap Hari Minggu! O…, betapa melelahkannya! Tidak akan sanggup kita melakukan itu.</p>
<p><strong>Benarkah demikian? Tentu saja itu benar, tetapi… </strong></p>
<p>Mari kita simak apa kata para Guru Sekolah Minggu di GKI Pondok Indah. Apa yang menyebabkan mereka mau melayani di Sekolah Minggu, dan bagaimana suka-duka mereka dalam pelayanan ini.</p>
<p>Sebelumnya, sekadar informasi bagi kita semua: saat ini jumlah Anak Sekolah Minggu yang hadir setiap hari Minggu ada 450-500 orang, yang duduk di dalam 24 kelas, mulai dari kelas bayi sampai dengan kelas VI SD. Jumlah Guru Sekolah Minggu, termasuk pemusik/gitaris, yang aktif setiap Minggu di bawah 50 orang, berarti setiap kelas mempunyai 2 dan maksimal 3 orang Guru Sekolah Minggu, termasuk pemusik/gitaris, yang belum mau ikut ambil bagian dalam memimpin nyanyian anak atau bercerita.</p>
<p>Ini juga berarti bahwa apabila ada yang berhalangan, ada beberapa kelas yang terpaksa harus digabungkan sehingga jumlah Anak Sekolah Minggu di kelas itu menjadi lebih dari 30 orang per kelas, atau ada Guru Sekolah Minggu yang harus seorang diri melayani di kelas dengan Anak Sekolah Minggu kurang lebih 15-20 orang.</p>
<p>Inilah kesaksian beberapa orang Guru Sekolah Minggu di Komisi Anak GKI Pondok Indah, yang berhasil penulis dapatkan. Kiranya boleh menjadi berkat bagi kita semua.</p>
<blockquote><p>“Pada awalnya ketika masih duduk di bangku sekolah, tepatnya di SMA, sempat terucap dari mulut saya sebuah janji. Ya sebuah janji kepada Tuhan. Janji untuk melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling saya. Ketika janji itu terucap, tidak langsung membuat saya memutuskan untuk menjadi seorang Guru Sekolah Minggu. Saya masih menunggu jawaban dari Tuhan. Sebuah jawaban atas pertanyaan dan doa saya. Sebuah jawaban di “ladang” yang mana, Tuhan mengutus saya.</p>
<p>Waktu pun berlalu, saya mulai masuk ke dalam masa-masa kuliah. Karena banyaknya tugas yang harus saya kerjakan, perlahan-lahan janji itu mulai terlupakan. Saya mulai menikmati masa-masa kuliah saya dengan segudang aktivitas yang akhirnya menuntun saya pada sebuah jawaban yang saya tunggu-tunggu, sebuah jawaban atas pertanyaan dan doa yang hampir saya lupakan.</p>
<p>Saya mulai terjun dan mulai “terjerumus” dalam dunia anak-anak. Saat itu saya bukan langsung memutuskan untuk menjadi seorang Guru Sekolah Minggu, tetapi saya memutuskan untuk mulai menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar saya, yang mungkin bagi sebagian besar orang tak dianggap dan bahkan terlupakan.</p>
<p>Saya mulai melakukan beberapa aktivitas pada sekelompok anak jalanan. Anak-anak yang sering kali dianggap sebelah mata oleh beberapa orang, anak-anak yang dipandang menjijikkan oleh sebagian orang, dan bahkan anak-anak yang mungkin di mata kita terlupakan. Seminggu sekali saya selalu menyempatkan diri pergi ke sebuah rumah singgah, sebuah tempat di mana para anak jalanan sering kali berkumpul untuk sekadar melepaskan lelah mereka, bermain, atau bahkan tinggal di sana.</p>
<p>Hal ini terus berlanjut hingga bertahun-tahun, sampai suatu saat Tuhan menegur saya melalui seseorang hamba-Nya. Ketika itu saya sempat terdiam sejenak dan berpikir bagaimana mungkin saya melayani di tempat orang, tetapi di tempat saya sendiri, yang rupanya juga membutuhkan bantuan, justru saya hanya menutup mata saja.</p>
<p>Satu tahun bukan waktu yang mudah dan singkat bagi saya hingga saya bisa memutuskan apa yang sebaiknya saya lakukan. Ya, kembali semua itu saya bawa dalam doa. Dalam sebuah pertanyaan kepada-Nya, apakah memang Tuhan mengutus saya untuk melayani di Sekolah Minggu GKIPI, akhirnya saya mendapatkan jawaban-Nya. Ya, jawaban yang lama saya tunggu-tunggu, yang membuat saya memutuskan untuk melayani Tuhan sebagai seorang Guru Sekolah Minggu.</p>
<p>Tetapi ternyata menjadi seorang Guru Sekolah Minggu tidaklah mudah. Dalam melayani Tuhan di Sekolah Minggu, saya sempat mengalami naik-turun pada komitmen saya. Kalau saya boleh mengutip dari seorang teman, katanya, “ketika kita mulai memutuskan untuk mengikut Tuhan dengan lebih bersungguh-sungguh, maka saat itu juga iblis akan semakin menggoda kita dengan segala tipu muslihatnya, lebih hebat dari sebelumnya.” Tetapi saya terus-menerus membawa semua pergumulan saya dalam doa, sehingga sampai saat ini saya masih tetap melayani sebagai seorang Guru Sekolah Minggu.</p>
<p>Saya percaya bahwa ketika kita tetap tekun dalam perkara-perkara kecil maka Tuhan akan memercayakan perkara besar kepada kita. Ya itulah yang selalu saya percayai, sehingga saat ini saya masih tetap melayani-Nya sebagai seorang Guru Sekolah Minggu dan tetap melayani-Nya juga di tengah-tengah kelompok anak jalanan. Saya masih terus belajar untuk menyeimbangkan pelayanan saya di dalam gereja dan pelayanan di luar gereja. Kedua aktivitas yang membuat saya semakin mencintai dunia anak-anak dan semakin mencintai Tuhan.”</p></blockquote>
<p>Itulah kisah seorang Guru Sekolah Minggu, seorang sarjana psikologi yang masih muda dan belum lama bergabung bersama dengan para Guru Sekolah Minggu di Komisi Anak GKI Pondok Indah. Lain lagi kisahnya dengan Guru Sekolah Minggu yang satu ini…</p>
<p>EAYS telah mengikuti ibadah dari sejak kecil di Sekolah Minggu, dan dilanjutkannya ke Komisi Remaja dan akhirnya mengambil keputusan untuk ikut katekisasi dan mengaku percaya. Semuanya dijalaninya dengan baik, sebagaimana seharusya dalam tradisi keluarganya. Usai sidi, ketika diberikan formulir untuk diisi secara pribadi, karena merupakan komitmen pribadi, “Aku mulai berpikir,” tuturnya. “Pertanyaannya terlihat mudah sekali: pelayanan apakah yang akan kamu berikan?</p>
<p>Pilihannya, misalnya:<br />
a.    Dalam Seni Suara/Koor/Vocal Group<br />
b.     Bidang Sekolah Minggu.<br />
c.     Di Komisi-Komisi lainnya<br />
d.    Dan lain-lain</p>
<p>Ternyata tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. “Menyanyi ??? Semua orang bilang, suaraku falls banget banget..!! Untuk di bidang yang lain-lain&#8230; Ah, aku engga kenal siapa-siapa&#8230; Terus… kalau di Sekolah Minggu? Wah… sepertinya yang ini lumayan, mungkin aku bisa deh&#8230; dan yang aku hadapi kan cuma anak-anak&#8230;” begitu pikiran EAYS saat itu.</p>
<p>Demikianlah akhirnya EAYS berkecimpung di Sekolah Minggu, menjadi seorang Guru Sekolah Minggu. Pada awalnya enak banget, karena ia hanya membantu. Tapi tahun demi tahun berganti. “Aku tidak bisa keenakan seperti itu,” pikir EAYS dan ia secara pribadi diproses oleh Tuhan. Memang berat dan sangat tidak enak, harus ikut berbagai pembekalan diri untuk menjadi seorang Guru Sekolah Minggu, baik dalam aneka Materi Pengajaran: Psikologi Anak, Membuat Alat Peraga, Trik-trik Membawakan Cerita, Team Work, menjadi MC dan memimpin nyanyian anak&#8230; Semua telah diikuti dan kemudian berulang-ulang di tahun-tahun sesudah itu.</p>
<p>Lama kelamaan EAYS menjadi lebih menyukai dan bahkan mencintai pelayanannya di Sekolah Minggu. Akhirnya ia mulai bisa bernyanyi dengan baik, tidak lagi takut untuk bercerita kepada anak-anak. Semuanya telah dipersiapkannya dengan baik dan ia percaya Roh Kudus yang telah memimpinnya sehingga ia bisa menyampaikan Firman dengan baik, dan nama Tuhan dipermuliakan.</p>
<p>Tetapi ternyata perjalanan pelayanannya tidak semulus yang dibayangkannya. Dalam menghadapi anak-anak, EAYS mulai terbiasa, tetapi menghadapi rekan-rekan sepelayanan mulai terasa adanya masalah, pengelompokan, ide-ide yang ditentang, terkadang membuatnya ingin undur dari pelayanan ini. Tapi Tuhan terus memrosesnya sehingga ia rindu mempunyai karakter seperti Tuhan Yesus&#8230; walau berat awalnya dan terasa sakit&#8230; tapi ia selalu berusaha melihat bahwa yang dikerjakan adalah untuk Tuhan.</p>
<p>Masalah dengan rekan sepelayanan atau sekelas dirasakannya sebagai alat yang Tuhan pakai untuk membentuk pribadinya, untuk dapat mempunyai karakter seperti Kristus. EAYS dapat melewati semua masalah ini dan hingga saat ini ia masih mencintai dan masih tetap melayani di Sekolah Minggu. EAYS berjanji akan tetap melayani Tuhan di Sekolah Minggu sampai akhir hidupnya, karena Tuhan juga selalu memberkatinya dan keluarganya. EAYS telah melayani sebagai seorang Guru Sekolah Minggu selama belasan tahun.</p>
<p>EAYS telah penulis kenal cukup lama sebagai salah seorang Guru Sekolah Minggu yang tak kenal lelah. Bahkan pada saat putra-putrinya lahir pun EAYS tetap mengajar dan membawa bayinya ke Sekolah Minggu. Tidak ada kata ‘cuti hamil’ di dalam kamusnya. Memang sangat luar biasa!</p>
<p>Mari kita dengarkan sekarang apa kata seorang Guru Sekolah Minggu yang walaupun masih baru di GKI Pondok Indah, tetapi sudah sangat aktif dan memberikan kontribusi yang luar biasa kepada Komisi Anak GKI Pondok Indah. Ibu yang satu ini sehari-hari sibuk bekerja, dan mengurus dua orang anaknya, tetapi Sekolah Minggu sungguh merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan lagi dari dirinya.</p>
<blockquote><p>“Selama menjadi Guru Sekolah Minggu di GKI PI semua pengalaman berkesan bagi saya. Setiap hari Minggu selalu muncul semangat untuk segera bertemu para Anak Sekolah Minggu di kelas. Bahkan melalui Anak Sekolah Minggu saya dapat belajar lebih banyak lagi, lebih dekat dan lebih mengenal Yesus. Melalui setiap Firman yang menjadi bahan cerita untuk tiap-tiap Minggu, saya merasakan bahwa Tuhan sedang berbicara bahkan mengingatkan atau menegur saya, sehingga saya berusaha untuk berhati-hati menyampaikan Firman itu. Khususnya pada anak-anak kecil supaya mereka dapat mengerti makna yang sesungguhnya, apa yang ingin Tuhan artikan dari Firman itu. Untuk itu, persiapan dan doa sebelum mengajar di Sekolah Minggu sangat penting! Saat menyampaikan Firman, juga saat menyanyi bersama Anak Sekolah Minggu, apabila kita meluangkan waktu untuk persiapan dan berdoa, saya merasakan Tuhan yang mengambil alih. Suasana kelas penuh dengan sukacita, bahkan kelas yang hiruk pikuk dapat menjadi tenang.<br />
Betapa bahagianya ketika mendengar cerita dari beberapa orangtua tentang anak mereka yang masih berusia di bawah 1 tahun. Mereka belum mau makan atau tidur kalau belum berdoa sambil menyanyi terlebih dulu, dan sebelum melipatkan tangan, mereka menyanyi seperti yang diajarkan di Sekolah Minggu. Ketika saya mengajar di kelas 1, beberapa Anak Sekolah Minggu curhat tentang kehidupan yang terjadi di rumah dan mereka minta saya mendoakan bersama. Dari masalah adik yang suka rewel sampai pada salah satu orangtua mereka yang pergi meninggalkan rumah akibat bertengkar. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dapat bertumbuh bersama mereka. Thank You, Jesus.”</p></blockquote>
<p>Nah, pembaca yang budiman, bukankah sangat luar biasa pengalaman para Guru Sekolah Minggu di gereja kita ini? Dari yang belum pernah mengajar di Sekolah Minggu, sampai yang sudah mengajar bertahun-tahun, semuanya setia melayani Tuhan. Dan Tuhan memberkati Komisi Anak di GKI Pondok Indah dengan Anak Sekolah Minggu yang lebih banyak lagi setiap tahun. Saat ini hanya kelas bayi saja yang belum mempunyai kelas A dan B. Kelas-kelas lainnya semuanya sudah menjadi masing-masing dua kelas. Karena itu dibutuhkan lebih banyak lagi umat Tuhan yang bersedia melayani anak-anak. Terutama saat ini kami sangat membutuhkan pemusik, sehingga Anak Sekolah Minggu lebih bersemangat memuji dan memuliakan Tuhan dengan nyanyian.</p>
<p>Kalau masih penasaran dan masih belum bisa memutuskan, apakah Bapak/Ibu/Saudara/Saudari mulai berminat untuk bergabung melayani di Komisi Anak sebagai Guru Sekolah Minggu, silakan simak kisah yang satu ini. Ibu ini super sibuk, selain mengasuh anak-anaknya sendiri, beliau juga ikut melayani bersama suami. Namanya juga istri dari Bapak Pendeta… gimana mo gak sibuk?!</p>
<p>Tetapi… tunggu dulu! Siapakah itu yang pagi-pagi pukul delapan sudah sibuk mengangkat kontener dan gulungan tikar plastik di Sekolah Tirtamarta? Ketika para Guru Sekolah Minggu lainnya masih ‘mengumpulkan nyawa’ untuk mulai bersiap-siap mengajar, ibu Guru Sekolah Minggu yang satu ini sudah mulai dengan penuh semangat menata ruangan kelas yang akan dipakainya mengajar, Kelas Bayi. Ayo, kita dengarkan apa yang menjadi motivasi beliau…</p>
<p>Awalnya saya diminta oleh seorang Guru Sekolah Minggu senior untuk membantu melayani di Sekolah Minggu. Saya benar-benar bingung bagaimana harus memulai bercerita atau memimpin nyanyian di Sekolah Minggu. Berbagai buku saya baca untuk mempelajari pola berpikir anak, namun hal itu pun tidak mengurangi rasa tegang saya setiap kali hendak menyampaikan cerita pada Anak Sekolah Minggu. Sebutan “kakak“ pada kami, para Guru Sekolah Minggu, membuat kedekatan di antara Guru Sekolah Minggu dan Anak Sekolah Minggu sehingga mereka pun dapat memercayakan persoalan-persoalan pribadi mereka kepada saya. Itulah yang mengawali rasa cinta saya pada “adik-adik.“</p>
<p>Banyak hal telah saya rasakan bersama dengan Anak Sekolah Minggu; saat mereka susah, saya juga merasa sedih. Saat mereka senang karena menjadi juara kelas atau memenangkan suatu perlombaan, saya juga ikut bangga dan senang atas prestasi yang mereka dapatkan. Pada saat itulah saya sangat bersyukur pada Tuhan, atas berkat dan anugerah yang Tuhan nyatakan dalam diri saya. Saya sangat mencintai “adik-adik“ yang Tuhan percayakan untuk didampingi.</p>
<p>Ada pemberontakan dan protes dalam diri saya ketika saya harus meninggalkan “adik-adik” di kelas 3. “Mengapa saya harus dipindahkan ke kelas yang lebih kecil? Apa yang dapat saya lakukan terhadap adik-adik yang masih bayi itu? Apakah saya mampu melakukannya? Berbagai macam pertanyaan mengganggu diri saya selama beberapa saat.</p>
<p>Memang saya pernah berjanji untuk tetap setia ikut ambil bagian dalam pelayanan bersama Tuhan, di mana pun Tuhan inginkan. Tapi di kelas ini? Apakah mereka dapat mendengar dan mengerti cerita saya, apakah mereka dapat curhat pada saya? Hingga suatu saat saya diingatkan oleh kisah Musa; yang mendata kelemahan-kelemahannya (untuk menghindar), ketika diminta oleh Allah untuk memimpin bangsa Israel. Tapi Allah tidak tertarik pada kelemahan-kelemahan yang disampaikannya. Allah hanya menunggu kesiapan hatinya. Selebihnya…?</p>
<p>Selain itu, saya juga diingatkan akan sebuah permohonan yang sudah lama saya naikkan dan bahkan sudah saya lupakan. Dulu saya pernah menginginkan untuk mendapat momongan lagi, saya ingin ada lagi anak bayi di dalam keluarga kami. Dan sekarang, lihatlah! Di depanmu, setiap Minggu, berapa bayi yang ada? Dan mereka semuanya merindukan kisah kebenaran Firman Tuhan.</p>
<p>Tuhan memang luar biasa, Dia tahu kelemahanmu, namun Dia tidak peduli dengan semua itu, yang Dia inginkan adalah: apakah kamu bersedia menjadi partner-Nya? Tuhan memiliki banyak cara untuk melengkapi kekuranganmu dan Dia bahkan mengabulkan doa-doa kita, walau mungkin kita sudah melupakannya. Kenyataan inilah yang membuat saya bersyukur sebagai seorang Guru Sekolah Minggu: karena saya sudah merasakan berkat dan anugerah Tuhan yang luar biasa.</p>
<p>Luar biasa, bukan, pembaca? Saya jadi teringat pada almarhum Ibu Nani Susanto yang juga selalu setia melayani di Komisi Anak, walaupun bukan sebagai seorang Guru Sekolah Minggu, melainkan sebagai seorang Pembina Guru Sekolah Minggu dan pelatih ensambel Anak Sekolah Minggu. Masa-masa indah, di mana saya banyak belajar pada beliau. Berkat tuntunan beliau jugalah saya sendiri dapat tetap melayani sebagai seorang Guru Sekolah Minggu di tempat ini.</p>
<p>Pastilah Anda tidak pernah membayangkan betapa bingung dan malu saya, ketika pertama kali masuk ke sebuah kelas di Sekolah Minggu dan saya tidak mengenal satu pun lagu Sekolah Minggu! Memang saya belum pernah sekali pun mengikuti Kebaktian di Sekolah Minggu. Saya menerima baptisan kudus dewasa, setahun setelah putri saya dibaptis terlebih dulu dengan wali baptis pada usia menjelang 7 tahun.</p>
<p>Anak Sekolah Minggu di kelas itu menyanyi dengan semangat lagu Kucinta Keluarga Tuhan, dan mereka hafal! Tidak ada teks di papan tulis. Seandainya ada teks, mungkin saya masih bisa mengikuti nyanyian itu. Tapi TIDAK ADA TEKS! Saya hanya bisa tersenyum (malu) dan bertepuk tangan menikmati nyanyian mereka. Pastilah Anak Sekolah Minggu di kelas itu heran, ngapain sih ini orang masuk kelas, terus nggak bisa apa-apa? Cuman tepuk-tepuk tangan gak jelas… Itu adalah jam pertama saya di sebuah kelas di Sekolah Minggu, di mana saya tiba-tiba berada, hanya karena ingin memberikan contoh yang baik untuk putri saya, yang pada waktu itu masih berusia kurang lebih 9 tahun, bahwa janji harus ditepati. Walaupun saya tidak merasa pernah berjanji, tetapi karena seorang Guru Sekolah Minggu senior mengatakannya kepada putri saya setiap Minggu, ‘menagih janji Mama’, maka saya merasa harus datang ke Sekolah Minggu untuk meluruskan hal ini.</p>
<p>Akhirnya, singkat cerita, setelah mengalami berbagai pergumulan yang sangat berat, termasuk mempelajari setumpuk buku nyanyian yang diberikan kepada saya dan membeli kaset-kaset lagu-lagu Sekolah Minggu yang ada, Tuhan membuat saya sanggup bertahan sebagai seorang Guru Sekolah Minggu sampai saat ini.</p>
<p>Ada banyak juga rekan-rekan Guru Sekolah Minggu terutama yang masih muda, yang merasa senang menjadi Guru Sekolah Minggu, karena senang bermain dan bercanda dengan anak-anak yang lucu dan mungil. Apalagi bisa sambil melayani Tuhan! Benar-benar kombinasi yang pas buat mereka. Mereka juga sadar, bahwa anak-anak adalah gereja di masa depan, jadi marilah melayani mereka. Banyak juga yang berpikir, apalagi yang bisa kuberikan kepada Tuhan? Aku hanya melayani Dia sebagai seorang pelayan. Seorang Guru Sekolah Minggu adalah seorang pelayan anak-anak dan pelayan Tuhan. Ini juga adalah sebuah kombinasi yang baik. Ada lagi keuntungan menjadi seorang Guru Sekolah Minggu. Secara tidak langsung kita dilatih untuk berani berbicara di depan orang banyak, berani memimpin doa, menjadi kreatif dan masih banyak lagi.</p>
<p>Ada juga Guru Sekolah Minggu yang sangat menyukai masa-masa kecilnya di Sekolah Minggu, sehingga merindukan kembali masa-masa itu. Nah, caranya? Jadilah dia seorang Guru Sekolah Minggu. Katanya: “Pertama kali mengajar, aku merasa tidak mampu, tapi Puji Tuhan, Tuhan memampukanku. Tahun-tahun pertama mengajar aku mengajar di kelas besar, sempat berhenti dua tahun, karena menikah dan melahirkan. Ketika anak kami sudah cukup besar, aku kembali lagi menjadi seorang Guru Sekolah Minggu, walaupun pada awalnya mengajar di kelas anak kami, karena sekaligus menemaninya. Saat ini aku mengajar di kelas kecil dan menikmati sukacita memuji Tuhan bersama anak-anak yang tidak dapat digantikan dengan apa pun di tempat lain.”</p>
<p>Lain lagi kisah seorang Guru Sekolah Minggu yang saat ini benar-benar melayani Tuhan dan Anak Sekolah Minggu dengan sepenuh hati. Dia seorang laki-laki muda, belum berkeluarga, menyandang gelar Master dan sudah mempunyai posisi yang oke di tempat kerjanya. Dan dia mau melayani anak-anak? Hmmmm…. Sangat tepat bila dikatakan, Tuhan bisa memakai apa saja dan siapa saja sebagai alat untuk melayani Dia. Inilah kisahnya.</p>
<blockquote><p>“Awalnya sih karena saya suka menjemput kakak yang dulu jadi Guru Sekolah Minggu. Lama-lama sekalian saja saya ikut masuk ke kelas, lalu lama-kelamaan tanpa saya sadari saya sudah menjadi seorang Guru Sekolah Minggu. Pada awal menjadi Guru Sekolah Minggu, saya merasa asyik, karena banyak kegiatan dan kami akrab antara sesama Guru Sekolah Minggu. Panggilan Tuhan saya rasakan pada saat saya sudah mengikuti berbagai pembinaan dan boleh mulai mengajar. Tak terasa saat ini sudah sekitar 8 tahun saya mengajar di Sekolah Minggu GKI Pondok Indah. Ada masa naik, masa turun, ini karena adanya tantangan dalam pelayanan, dan juga dalam kehidupan pribadi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Menjadi Guru Sekolah Minggu adalah suatu kesempatan besar dari Tuhan Yesus. Mengajar Anak Sekolah Minggu, dituntut mengerti dunia anak, psikologi anak, harus tegas tetapi tidak bisa seperti seorang guru di sekolah biasa, karena ini pelayanan. Dan kasih Tuhan harus bisa kita nyatakan dalam pelayanan kita ini. Seorang Guru Sekolah Minggu juga dituntut untuk lebih baik dalam menyanyi, membawakan Firman Tuhan, kreatif dalam menyampaikan Firman Tuhan, sehingga Anak Sekolah Minggu mau mendengar dan tidak menjadi bosan dan tentunya senang beraktivitas. Para Guru Sekolah Minggu harus bersaing dengan dunia anak sekitar, seperti film, games, dan lain-lain. Sungguh suatu tantangan yang sangat besar dan pasti tidak dapat saya lakukan sendiri. Hampir dipastikan tidak ada yang akan sanggup menjadi seorang Guru Sekolah Minggu apabila syaratnya seperti di atas tadi. Namun Tuhan memanggil, dan kalau kita minta, maka Tuhan akan memberi dan membentuk kita sesuai kehendak-Nya. Dan sudah pasti “sedikit demi sedikit” kita diubah dan “ku pasti sempurna nanti…”</p>
<p>Sudah banyak kisah, pengalaman pribadi yang indah dan mengharukan yang penulis ceritakan kali ini, kiranya tulisan ini boleh menjadi berkat bagi para pembaca dan terutama, kiranya tulisan ini boleh menggerakkan dan menjamah hati para pembaca yang masih merindukan ladang pelayanan yang sesuai dengan kemampuan dan hobi, sehingga meluangkan waktu untuk mampir ke Sekolah Minggu GKI Pondok Indah di Sekolah Tirtamarta. Kami masih membutuhkan banyak Guru Sekolah Minggu dan juga pemusik/gitaris.</p>
<p>Marilah kita melayani Tuhan bersama-sama. Tidak ada kata ‘tidak bisa,’ ‘belum pernah,’ ‘takut,’ atau lainnya pada pelayanan sebagai seorang Guru Sekolah Minggu atau pemusik/gitaris di Sekolah Minggu. Yang ada hanya, MAU atau TIDAK MAU.</p>
<p>Komisi Anak GKI Pondok Indah menerima semua orang yang mau melayani Tuhan, baik tua atau muda, yang SLTP/SMA atau Sarjana, yang berpengalaman atau tidak, laki-laki maupun perempuan, semua akan diterima dengan senang hati. Silakan datang di Sekolah Tirtamarta setiap hari Minggu pukul 08.30, pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita semua. (ms)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-28-3584">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-154" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/gsm1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_28" >
								<img title="gsm1" alt="gsm1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/thumbs/thumbs_gsm1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-155" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/gsm2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_28" >
								<img title="gsm2" alt="gsm2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/thumbs/thumbs_gsm2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-156" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/gsm3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_28" >
								<img title="gsm3" alt="gsm3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/thumbs/thumbs_gsm3.jpg" width="77" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-157" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/gsm6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_28" >
								<img title="gsm6" alt="gsm6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/gsm/thumbs/thumbs_gsm6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/melayani-sebagai-guru-sekolah-minggu-tunggu-dulu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumbangan Peralatan  untuk Kelurahan  Pondok Pinang</title>
		<link>http://gkipi.org/sumbangan-peralatan-untuk-kelurahan-pondok-pinang/</link>
		<comments>http://gkipi.org/sumbangan-peralatan-untuk-kelurahan-pondok-pinang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 04:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3460</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Senin, 1 Februari 2010 yang lalu, Komisi KESPEL, didukung oleh Tim HUMAS GKI PI, Pemuda dan Kombas Pondok Indah telah berkunjung ke Kelurahan Pondok Pinang untuk menyerahkan sejumlah sumbangan yang mereka butuhkan. Acara yang dimulai pada pukul 09.30 pagi itu diawali dengan sambutan dari Lurah Pondok Pinang, Bapak Drs. Cholid Mawardi. Beliau terkesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Senin, 1 Februari 2010 yang lalu, Komisi KESPEL, didukung oleh Tim HUMAS GKI PI, Pemuda dan Kombas Pondok Indah telah berkunjung ke Kelurahan Pondok Pinang untuk menyerahkan sejumlah sumbangan yang mereka butuhkan.</p>
<p>Acara yang dimulai pada pukul 09.30 pagi itu diawali dengan sambutan dari Lurah Pondok Pinang, Bapak Drs. Cholid Mawardi. Beliau terkesan atas kepedulian warga GKI Pondok Indah, yang diwakili oleh Bapak Charles Pelupessy sebagai penyambung lidah antara Kelurahan dan GKI PI. Beliau juga menyampaikan beberapa masalah yang masih sering dijumpai di kelurahannya, seperti banjir, belum adanya rumah sehat/gedung serbaguna, maupun gizi yang baik bagi balita; dan berharap agar kerja sama ini tidak berhenti di sini saja. Bapak Cholid Mawardi juga berterima kasih atas bantuan seperangkat komputer berikut LCD bagi kantor Kelurahan.</p>
<p>Dalam sambutan balasannya, Bapak Fabian Pascoal selaku ketua Komisi KESPEL GKI PI, menyatakan kesediaan gereja untuk membantu Kelurahan dan tetap mempertahankan ikatan tali silaturahmi antara warga setempat dan Gereja.</p>
<p>Sebagai wakil Tim Humas, Bapak Tukiyo Anwarudji juga menyampaikan kepedulian gereja terhadap warga Kelurahan Pondok Pinang dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang terjangkau di GKI PI.</p>
<p>Ketua Karang Taruna yang saat itu juga hadir, Saudara Febri Drajat, sangat berterima kasih atas bantuan berupa bola basket, bola voli dan net voli yang disampaikan oleh wakil Pemuda. Ia juga mengundang kaum pemuda dan remaja untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan Karang Taruna berupa latihan futsal pada setiap hari Selasa.</p>
<p>Selain wakil dari Kelurahan, hadir pula perwakilan dari Yayasan Darul Aitam, yang menerima sumbangan berupa seperangkat komputer. Setelah itu wakil GKI PI melanjutkan kunjungan ke Sekolah Madrasah Iptidaiyah Negeri. Rombongan disambut oleh Wakil Kepala Sekolah, Bapak Suaeb, dan diajak ke perpustakaan, ruangan terbaik yang mereka miliki.</p>
<p>Bapak Suaeb menceritakan asal-muasal sekolah tersebut, yang dulunya tidak berada di Kelurahan Pondok Pinang. Mereka baru pindah ke kawasan Pondok Pinang pada tahun 1976, saat bekerjasama dengan Al Ashar Kairo. Namun setelah itu Al Ashar pindah ke Srengseng, dan Madrasah ini sepenuhnya diambil-alih oleh Pemerintah pada tahun 1997. Sekolah yang tidak memungut biaya dari murid-muridnya ini memang diprioritaskan bagi anak-anak yatim piatu. Bantuan GKI Pondok Indah berupa seperangkat komputer tentunya sangat membantu mereka dalam meningkatkan mutu pengajaran dan kegiatan sekolah mereka.</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-27-3460">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-153" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/pinang_7.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_27" >
								<img title="pinang_7" alt="pinang_7" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/thumbs/thumbs_pinang_7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-152" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/pinang_6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_27" >
								<img title="pinang_6" alt="pinang_6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/thumbs/thumbs_pinang_6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-150" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/pinang_3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_27" >
								<img title="pinang_3" alt="pinang_3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/thumbs/thumbs_pinang_3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-149" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/pinang_2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_27" >
								<img title="pinang_2" alt="pinang_2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/thumbs/thumbs_pinang_2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-148" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/pinang_1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_27" >
								<img title="pinang_1" alt="pinang_1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/thumbs/thumbs_pinang_1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-151" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/pinang_5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_27" >
								<img title="pinang_5" alt="pinang_5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/pinang/thumbs/thumbs_pinang_5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/sumbangan-peralatan-untuk-kelurahan-pondok-pinang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Bakti Sosial Operasi Katarak</title>
		<link>http://gkipi.org/program-bakti-sosial-operasi-katarak/</link>
		<comments>http://gkipi.org/program-bakti-sosial-operasi-katarak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 14:04:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=3053</guid>
		<description><![CDATA[Tiga gereja di kawasan Cilandak, Pondok Indah dan sekitarnya, yaitu Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pondok Indah, Gereja Katolik Santo Stefanus dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Nehemia, bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Seksi Penanggulangan Buta Katarak, mengadakan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis pada tanggal 7, 14 dan 21 November 2009, bertempat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga gereja di kawasan Cilandak, Pondok Indah dan sekitarnya, yaitu Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pondok Indah, Gereja Katolik Santo Stefanus dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Nehemia, bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Seksi Penanggulangan Buta Katarak, mengadakan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis pada tanggal 7, 14 dan 21 November 2009, bertempat di GKI Pondok Indah, Jl. Sekolah Kencana IV/TN 7, Pondok Indah, Jakarta Selatan.</p>
<p>Operasi katarak ini dilakukan dalam rangka mewujudkan Visi Global 2020 dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), The Right to Sight, serta Visi Indonesia Sehat 2020, yakni membebaskan Indonesia dari buta yang diakibatkan oleh katarak.</p>
<p>Operasi katarak ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita katarak pasca-operasi.</p>
<p>Selain sebagai kerjasama ekumenis ketiga gereja tersebut, bakti sosial ini juga menjadi bentuk nyata kepedulian warga ketiga gereja bagi masyarakat umum yang tidak mampu. Pnt. Hari Santoso dari GKI Pondok Indah, selaku Ketua Panitia Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis, menjelaskan bahwa sebanyak 327 orang pasien telah menjalani operasi katarak gratis dari target semula 300 orang pasien.</p>
<p>Jumlah seluruh pendaftar adalah 567 orang, termasuk 67 orang yang berstatus waiting list (sudah diberitahu sejak semula bahwa jika pendaftar sudah mencapai 500 orang, maka tidak dapat diikutsertakan). Namun tidak semua pendaftar dapat menjalani operasi, terutama karena kondisi kesehatan mereka yang tidak memungkinkan, misalnya menderita tekanan darah tinggi atau penyakit diabetes melitus.</p>
<p>Operasi Katarak dilakukan oleh tim medis (dokter-dokter spesialis mata dan para perawat) dari PERDAMI dan dibantu oleh dokter, tim medis dan relawan yang berasal dari ketiga gereja penyelenggara.</p>
<p>Operasi dilakukan dengan sistem manual dan juga menggunakan alat canggih yang disebut Phacoemulsi Vication, yang mempergunakan gelombang ultrasound getaran tinggi.</p>
<p>Pasien Operasi Katarak Gratis tidak hanya berasal dari jemaat penyelenggara,  namun beberapa pasien datang dari  Bima, Bandar Lampung, Banyumas, Pemalang, dan kota-kota lain. Operasi ini dilaksanakan tanpa membedakan suku, agama  dan ras.</p>
<p>Program bakti sosial ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan pelayanan ekumene tiga gereja (3 G) dari Majelis Jemaat GKI Pondok Indah, Majelis GKJ Nehemia dan Dewan Paroki Gereja Katolik St. Stefanus dengan membentuk dan mengangkat Panitia Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis pada tanggal 3 Agustus 2009.</p>
<p>Panitia yang terdiri atas umat tiga gereja, bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Seksi Penanggulangan Buta Katarak, melakukan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis bagi masyarakat umum dengan Motto: Disiplin Tapi Penuh Kasih –First Come First Serve.</p>
<p>Mereka yang dapat mengambil bagian menerima layanan operasi katarak dalam rangka Bakti Sosial Tiga Gereja tadi adalah mereka yang tidak mampu/pra sejahtera; berusia dewasa minimum 17 tahun (fotokopi KTP); membawa surat rujukan dokter bahwa ia penderita katarak; tidak punya penyakit kronis lain; memperlengkapi diri dengan Surat Keterangan tidak mampu dari Gereja dan/atau RT/RW setempat; pasien dan keluarganya menandatangani Surat Pernyataan Bersedia Dioperasi.</p>
<p>Operasi gratis ini meliputi pemeriksaan awal/screening (H-1): visus, tekanan bola mata, tekanan darah, gula darah sewaktu ukur lensa, gunting bulu mata dll.; operasi (H), penanaman lensa (IOL) + obat; kontrol pertama (H+1); dan kontrol kedua (H+6).</p>
<p>(skt/rw)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-25-3053">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-118" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/dokter.jpg" title="Pengabdian team dokter" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="dokter" alt="dokter" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_dokter.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-121" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/katarak-1.jpg" title="Ruang tunggu pasien" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="katarak-1" alt="katarak-1" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_katarak-1.jpg" width="99" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-124" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/katarak-2.jpg" title="Detail" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="katarak-2" alt="katarak-2" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_katarak-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-127" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/katarak-5.jpg" title="Massal" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="katarak-5" alt="katarak-5" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_katarak-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-130" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/katarak-6.jpg" title="Bantuan Teknologi" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="katarak-6" alt="katarak-6" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_katarak-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-133" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/katarak-8.jpg" title="Setelah tindakan" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="katarak-8" alt="katarak-8" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_katarak-8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-136" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/panitia.jpg" title="Barisan panitia" class="thickbox" rel="set_25" >
								<img title="panitia" alt="panitia" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2010/01/thumbs/thumbs_panitia.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/program-bakti-sosial-operasi-katarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Budaya 2009</title>
		<link>http://gkipi.org/bulan-budaya-2009/</link>
		<comments>http://gkipi.org/bulan-budaya-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 03:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paurogkipi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gkipi.org/?p=2603</guid>
		<description><![CDATA[Minggu Pertama: Cageur, Bener, Pinter (Kel. 16:2-4, 6-15, Maz. 78:23-29, Ef. 4:1-16, Yoh. 6:25-35) Seorang laki-laki Sunda berbaju tradisional merah memulai ibadah dengan menembang dalam bahasa Sunda diiringi alunan gending dan suling untuk menyambut pembawa firman Tuhan yang datang: “Sungguh sukacita dan sungguh bahagia, anakku. Selamat datang. Telah kami nantikan kehadiranmu dengan berpayungkan payung kebesaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-weight:bold">Minggu Pertama: Cageur, Bener, Pinter</h2>
<p>(Kel. 16:2-4, 6-15, Maz. 78:23-29, Ef. 4:1-16, Yoh. 6:25-35)</p>
<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/angklung.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2613" title="angklung" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/angklung.jpg" alt="angklung" width="157" height="313" /></a>Seorang laki-laki Sunda berbaju tradisional merah memulai ibadah dengan menembang dalam bahasa Sunda diiringi alunan gending dan suling untuk menyambut pembawa firman Tuhan yang datang: “Sungguh sukacita dan sungguh bahagia, anakku. Selamat datang. Telah kami nantikan kehadiranmu dengan berpayungkan payung kebesaran serta dengan diiringi musik dan tarian, tebaran bunga melati penuh wewangian. Selamat datang, anakku, kami menyambut kedatanganmu.” Kemudian prosesi pendeta dan penatua memasuki ruang kebaktian didahului oleh tiga orang gadis penari, sepasang muda-mudi dengan kelengkapan busana daerah Pasundan, Pdt. Retno Ngapon dari GKP Rehoboth Jatinegara yang dipayungi oleh payung kebesaran, dan diakhiri oleh barisan penatua.</p>
<p><strong>Bagaimana agama Kristen disebarkan di daerah Pasundan?</strong></p>
<p>Mr. F.L. Anthing, seorang Belanda yang bekerja sebagai pegawai pengadilan negeri dipakai Tuhan sebagai pekabar Injil di daerah Banten dan Bogor. Di samping itu, suatu Badan Pekabaran Injil bernama N.Z.V. (Nederlandse Zendings Vereeniging) juga memberitakan Injil di daerah Priangan pada tahun 1850-an. Selama bertahun-tahun sampai awal abad ke-20, kehidupan orang-orang Kristen Sunda sangat berat. Mereka dipencilkan dari kehidupan masyarakatnya dan secara langsung ataupun tidak langsung mendapat tekanan-tekanan dalam kehidupan mereka karena bagi orang Sunda, agama, kebangsaan, hubungan hidup masyarakat dan adat merupakan suatu kesatuan yang kokoh. Pada tanggal 14 November 1934, Gereja Kristen Pasundan bukan lagi diasuh oleh N.Z.V. tetapi menjadi gereja yang berdiri sendiri.</p>
<p>Setelah pembacaan-pembacaan Alkitab dalam bahasa Sunda dan diselingi oleh Mazmur yang diucapkan secara litani, Pdt. Retno Ngapon memulai khotbahnya. Ia memperkenalkan gerejanya, yang sudah lebih dari 140 tahun bernama GKP Rehoboth, menurut nama sumur Ishak yang airnya terus meluap dan tak ada habisnya. Di gerejanya yang merupakan hibah Belanda ini, ada sumur yang sampai sekarang masih jernih airnya dan memberi kelegaan dan luapan kasih bagi masyarakat di sekitarnya.</p>
<p>Dulu wilayah Jawa Barat bukan merupakan lahan yang subur bagi pemberitaan Injil, tetapi sekarang ada 58 jemaat di Gereja Kristen Pasundan. Meskipun tidak banyak, tetapi jumlah itu sangat disyukuri, mengingat dari dulu penolakan itu dapat datang setiap waktu dan masih terjadi sampai sekarang.</p>
<p>Tanah Pasundan tak jauh dari persawahan, oleh karena itu simbol GKP ialah dua buah gunung, matahari, pohon kelapa dan kotak-kotak sawah. Inilah kesederhanaan pola pikir masyarakat pada waktu itu. Matahari melambangkan Yesus, yang menjadi terang dunia.</p>
<p>Nasi bagi penduduk Indonesia atau roti bagi orang Yahudi merupakan sumber pangan yang terutama. Orang-orang berbondong-bondong ikut Yesus karena urusan perut dan dikenyangkan. Tetapi Yesus melihat jauh lebih dalam. Roti bukan merupakan kebutuhan manusia saja, tetapi suatu sacramental awareness, kesadaran sakramental, untuk merayakan perjamuan Tuhan. Itulah sebabnya Yesus bersedia dipecah-pecahkan sebagai Roti Hidup. Dengan makan, kita menjadi sehat dan dapat mengabdi kepada masyarakat.<br />
Sayang, banyak orang tak peduli pada orang lain, karena itu di Efesus, Paulus mengajak jemaat untuk rukun. Bagaimana memulai kerukunan itu?</p>
<ol>
<li>Rukun Sekasur: kerukunan dimulai dari suami dan istri. Keluarga harus rukun.</li>
<li>Rukun Sesumur: di pedesaan, satu sumur bisa untuk banyak orang. Bila orang tak rukun dengan tetangga, sumurnya dapat diracuni sehingga keluarganya mati. Jadi, kerukunan harus menjadi bagian hidup bersama.</li>
<li>Rukun Selembur: kerukunan dalam wilayah yang lebih luas.</li>
</ol>
<p>“Cageur, bener, pinter” merupakan harapan setiap orangtua bagi anak-anaknya agar mereka tidak saja sehat fisiknya, pintar akalnya, tetapi juga mempunyai hati yang peka kepada orang lain. Kita jangan menjadi orang Kristen “tomat” (tobat tapi kadang-kadang kumat), tetapi harus berubah oleh pembaharuan diri kita sehingga bisa bersaksi kepada orang lain.</p>
<p>Dalam setiap upacara di Kuningan, orang-orang selalu berebut untuk mendapat sejumput padi. Secara spiritual, makna padi ialah berkat yang mengalir. Karena itu, beberapa tangkai padi digantungkan di dapur, tempat untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mengingat akan berkat Tuhan. Biasanya kalau anak tak mau makan, maka ibu akan mengatakan bahwa nanti nasinya akan menangis. Ketika sebuah rumah makan waralaba memberi hadiah untuk pembelian paket makanan, seorang anak merengek-rengek kepada ibunya untuk membelikannya. Tetapi sesudah dibeli, anak itu hanya mau mainannya saja dan membuang makanan itu. Ibunya pun ikut membuangnya. Ia tak sadar bahwa yang dibuang itu sangat berharga karena di dalam makanan ada nilai teologis yang besar, yaitu menghancurkan tubuh Kristus!</p>
<p>Bulan Budaya mengajak kita bersyukur atas manna dari surga dan pengampunan-Nya, agar kita dapat menjadi saluran berkat. Kita masing-masing mempunyai talenta untuk digunakan bagi kemuliaan Allah. Terkadang orang berbuat baik tetapi tidak tulus. Peminta-minta yang mendoakan kita hanya berdoa di mulutnya agar diberi uang. Tetapi sebenarnya doa adalah pelayanan yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Alm. Pdt. Odeh Suwardi dari GKP pernah bercerita bahwa ia menjadi Kristen karena mendengar orang bernyanyi. Dengan senyuman pun kita dapat membuat orang merasa senang. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas segala karunia-Nya.</p>
<p>Di dalam kedua ibadah pagi, PS. Halleluya menyanyikan lagu “Yesusku, Tuhanku” dan “Ya Penuntun Yang di Surga” dalam langgam Sunda dengan diiringi karawitan dari GKP Tangerang, sedangkan PS. Gereja Kristen Pasundan melayani pada ibadah sore. Seusai ibadah kedua, jemaat dihibur oleh karawitan GKP Tangerang sambil beramah-tamah dan membeli makanan kecil yang telah disediakan oleh panitia. (ib)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-17-2603">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-97" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-1" alt="SUNDA-1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-98" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-10.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-10" alt="SUNDA-10" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-10.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-99" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-11.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-11" alt="SUNDA-11" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-11.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-100" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-12.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-12" alt="SUNDA-12" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-12.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-101" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-2" alt="SUNDA-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-102" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-3" alt="SUNDA-3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-103" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-4.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-4" alt="SUNDA-4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-104" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/SUNDA-5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_17" >
								<img title="SUNDA-5" alt="SUNDA-5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sunda/thumbs/thumbs_SUNDA-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


<h2 style="margin-top:20px;font-weight:bold">Minggu Kedua: Makanlah, Perjalananmu Masih Jauh…</h2>
<p>(1 Raja-Raja 19:4-8, Maz. 130, Ef. 4:25-5:2, Yoh 6:41-51)</p>
<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/sangihe.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2612" title="sangihe" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/sangihe.jpg" alt="sangihe" width="157" height="313" /></a>Daun-daun kelapa di sana-sini, setumpuk buah kelapa, hiasan-hiasan ikan dan kapal kecil berwarna emas, serta kain-kain tenun tradisional menghiasi mimbar dan gedung gereja yang menampilkan budaya Sangihe Talaud pada hari Minggu kedua bulan Agustus ini. Sebuah papan yang menggambarkan kehidupan suku bangsa tersebut menghiasi bagian kanan mimbar dan dari atas balkon menjuntai kain-kain polos berwarna putih, biru muda dan biru tua, yang merupakan warna-warni laut yang akrab dengan kehidupan penduduk di sana.</p>
<p>Sangihe adalah kabupaten paling utara bersama Talaud di Sulawesi Utara. Negeri yang disebut sebagai Tanah di Bibir Pasifik ini memiliki penduduk terbanyak sebagai nelayan. Selain berada langsung di bawah gunung berapi yang masih aktif, daerah ini juga memiliki obyek wisata gunung berapi bawah laut di Pulau Mahandetang.</p>
<p>Sangihe berasal dari kata Sang dan Ihe, yang berarti Sang Air. Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki luas 11.863,58 km2 terdiri atas lautan (11.126,61 km2) dan daratan (736,97 km2). Dengan ibukota yan berkedudukan di Tahuna, Kepulauan Sagihe memiliki 105 pulau; 79 pulau di antaranya tidak berpenghuni.</p>
<p>Gereja Masehi Sangihe Talaud (GMIST) adalah gereja terbesar dan terbanyak di Sangihe ini. Jemaatnya berjumlah 333 dan tersebar di Kabupaten Sangihe, Kabupaten Siau dan Tagulandang (yang keduanya berada di provisi Sulawesi Utara), Filipina, Makassar, Batam, Medan, Surabaya, Depok, Tangerang dan Jakarta.</p>
<p>Ibadah terselenggara dalam kerja sama dengan GMIST Resor Indonesia Barat, yang pusat pelayanannya berada di Jakarta.<br />
Ucapan Selamat Datang disampaikan oleh warga Sangihe Talaud dari GMIST sementara sayup-sayup terdengar suara tabuhan gendang. Kemudian prosesi pendeta dan penatua memasuki ruang ibadah dengan diawali oleh Tari Gunde, yang ditarikan oleh lima gadis berpakaian adat dengan diiringi oleh irama gendang.</p>
<p>Dalam khotbahnya yang khas dan diramu dengan gaya teatrikal yang menarik, Pdt. Glorius Bawengan mengatakan bahwa roti, yang di dalam versi King James disebut “bread”, juga berarti “breath” atau napas. Jadi ketika Yesus mengatakan “Akulah Roti Hidup,” Ia juga mengatakan “Akulah Napas Hidup.” Dalam bahasa aslinya, “roti” berarti “happiness, kegembiraan atau sukacita.” Jadi, kalau kita mempunyai Kristus di dalam hati kita, kita tentu punya sukacita.</p>
<p>Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 30-50% kehidupan sehari-hari anak-anak dijalani dengan tertawa. Mereka bersukacita sepanjang waktu. Tetapi orang dewasa hanya 10% tertawa karena sudah terlalu banyak stres. Padahal sabda Yesus di bukit dimulai dengan perkataan “Berbahagialah.” Karena itu, wajah yang tersenyum menujukkan bahwa kita berbahagia.</p>
<p>Di dalam Yoh. 6:41-51, Yesus berkata bahwa Ia adalah Roti Hidup yang turun dari surga untuk mendatangi umat manusia. Banyak orang mendatangi Tuhan dengan harapan untuk mendapat surga. Tetapi Kekristenan berbeda. Agama Kristen justru mengajarkan bahwa Tuhan-lah yang mendatangi manusia. Ia datang untuk memberikan damai sejahtera kepada kita. Dengan cara itu, seharusnyalah yang tua mendatangi yang muda, dan pendeta mendatangi jemaatnya.</p>
<p>Ada kisah tentang seorang perempuan Batak, Boru Siahaan, yang mendengar bahwa kakak perempuannya meninggal di Sumatra. Di dalam tradisi Batak, orang yang berduka akan menangisi jenazah sambil berbicara kepadanya. Di tengah-tengah tangisannya, perempuan itu baru menyadari bahwa jenazah yang ditangisinya ternyata bukan kakaknya. Ia salah datang ke rumah orang lain! Kisah itu mengajar kita untuk berhati-hati agar tidak salah datang. Datanglah kepada Kristus yang mengampuni orang berdosa  dan menguatkan orang yang lemah dan putus asa.</p>
<p>Hanya orang yang bersukacita yang tahu bahwa Tuhan sudah mendatanginya. Di tengah-tengah khotbah, seorang warga Sangihe-Talaud berdiri untuk membacakan sebuah puisi tentang kehidupan saat ini yang sarat dengan masalah dan ketidakadilan, namun kita dapat mengatasinya bersama Kristus. Kemudian Pdt. Glorius mengajak jemaat menyanyikan lagu “Liku-liku dengan sayap-Mu&#8230; Di saat badai bergelora, Tuhan tetap bersamaku&#8230;”</p>
<p>Setelah itu dilakukan upacara pemotongan kue “Potong Tamo” yang didahului puisi dalam bahasa setempat. Potongan-potongan kue itu lalu dibagikan kepada beberapa wakil jemaat dan penatua sebagai simbol budaya Sangir yang percaya bahwa Roti Hidup yang dibagikan Tuhan kepada kita akan selalu memelihara hidup kita. Kalau ada Roti Hidup, pasti Tuhan akan membuka jalan.</p>
<p>Pada akhirnya, Pdt. Glorius mengajak jemaat untuk meyakini bahwa Kristus adalah Roti Hidup, sehingga hidup kita harus penuh sukacita. Dengan gaya khasnya, ia berkelakar: “Saya Glorius Bawengan. Jangan ubah remote control Saudara karena kami akan datang kembali. Waspadalah!”</p>
<p>Persembahan jemaat diantar ke altar dengan didahului oleh Masamper, yaitu sekelompok pria yang menari-nari sambil menyanyikan lagu-lagu pujian yang merdu. Masamper ini juga dilakukan seusai kebaktian di plasa gereja untuk berbagi sukacita dengan jemaat.</p>
<p>Pada ibadah ini, PS Wilayah Lebak Bulus menyanyikan dua lagu dalam bahasa daerah, “Sulimang Mawu Ruata” dan “Dalo Su Mawu Ruata.” (ib)</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-19-2603">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-88" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-1" alt="sangihe-1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-89" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-12.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-12" alt="sangihe-12" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-12.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-90" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-13.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-13" alt="sangihe-13" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-13.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-91" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-14.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-14" alt="sangihe-14" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-14.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-92" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-4.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-4" alt="sangihe-4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-93" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-6" alt="sangihe-6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-94" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-7.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-7" alt="sangihe-7" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-95" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-8.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-8" alt="sangihe-8" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-96" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/sangihe-9.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_19" >
								<img title="sangihe-9" alt="sangihe-9" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-sangihe/thumbs/thumbs_sangihe-9.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


<h2 style="margin-top:20px;font-weight:bold">Minggu Ketiga: Diberi Hidup untuk Memberi Hidup</h2>
<p>(1 Raja-Raja 2:10-12, 3:3-14, Maz. 34:9-14, Ef. 5:15-20, Yoh.6:51-58)</p>
<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/dayak.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2614" title="dayak" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/dayak.jpg" alt="dayak" width="157" height="313" /></a>Kibaran bentangan-bentangan dengan motif seni khas Dayak berwarna biru terang, merah muda dan kuning di plasa gereja; kain-kain dekoratif yang menghiasi dinding balkon; beledu hijau, merah atau hitam yang bersulamkan pohon kehidupan dari benang emas yang membalut beberapa pilar di dalam ruang gereja dan di dekat mimbar; dan sebuah plakat besar dengan kutipan ayat Yoh 3:16 dalam bahasa setempat, menciptakan suasana penuh kehangatan pada kebaktian Minggu ketiga bulan Agustus ini yang menampilkan budaya Dayak.</p>
<p>Pasangan-pasangan penerima tamu dalam busana adat merah atau hitam dengan sulaman payet keemasan menyambut jemaat dengan ramah di setiap pintu masuk, begitu pula para majelis, pembaca Alkitab dan anggota paduan suara terlihat ceria dalam busana Dayak yang indah. Kebaktian hari ini dilaksanakan dengan kerja sama erat dengan jemaat Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang berada di Jakarta.</p>
<p>Setelah Ucapan Selamat Datang dalam bahasa Dayak Ngaju, yang merupakan salah satu suku di Kalimantan di samping suku Maanyan, Ot Danun, Kahayan, dan banyak lagi lainnya, diceritakan dengan singkat perjalanan pekabaran Injil di Kalimantan.</p>
<p>Pada awal Injil diberitakan, suku Dayak hidup terpencil dan tertutup terhadap hal-hal yang baru. Usaha zending di Kalimantan telah dimulai agak dini, yaitu ketika seorang zendeling diutus ke pulau tersebut pada tahun 1835.<br />
Baptisan pertama berlangsung pada tanggal 10 April 1839 dan yang kedua pada bulan Oktober 1842. Setelah itu masyarakat Dayak menyatakan perang kepada orang-orang Kristen.</p>
<p>Pada tahun 1859 seluruh usaha zending di Kalimantan Selatan hancur karena pecah perang Hidayat. Selama 75 tahun sesudah perang, pekabaran Injil tidak menunjukkan kemajuan. Namun pada tahun 1930-an, kemandirian orang-orang Kristen Dayak terwujud dengan pendirian Gereja Dayak Evangelis pada tanggal 4 April 1935. Meskipun perkembangan pekabaran Injil tidak seperti yang diharapkan, namun Tuhan tetap memelihara umat-Nya dengan setia.</p>
<p>Saat ini gereja tersebut, yang sudah berganti nama menjadi Gereja Kalimantan Evangelis dan berkantor pusat di Banjarmasin, telah mempunyai jemaat di seluruh bagian Kalimantan, kecuali Kalimantan Utara yang bukan merupakan wilayah Indonesia. Di Jakarta, anggota-anggota jemaat ini beribadah di gereja-gereja terdekat di lingkungan rumah mereka masing-masing, tetapi sekurang-kurangnya sekali sebulan tetap mengadakan persekutuan untuk mempererat persatuan di antara mereka.</p>
<p>Prosesi pendeta dan penatua kemudian memasuki ruang kebaktian dengan didahului oleh tiga gadis yang menarikan Tari Bahalai dengan gemulai, diiringi oleh denting kenong yang nyaring dan tabuhan gendang.</p>
<p>Dalam khotbahnya, Pdt. Keloso dari Gereja Kalimantan Evangelis yang khusus datang ke Jakarta, menanyakan kepada jemaat apa yang dicari di dalam ibadah ini. Ia lalu mengajak jemaat menyanyikan sebuah lagu anak-anak Sekolah Minggu yang sangat populer: “Apa yang dicari orang. Uang. Apa yang dicari orang. Uang. Apa yang yang dicari orang, siang-malam, pagi petang. Uang, uang, uang, bukan Tuhan Yesus.”</p>
<p>Dunia masa kini serba diukur dengan uang, dan biasanya penghargaan juga diberikan berdasarkan nilai uang. Namun ada hal-hal yang tak dapat dibayar dengan uang. Pada tahun 2003, ketika Bpk. Fridolen Ukur terbaring sakit di RS Cikini, istri Pdt. Sularso Sopater juga dirawat di sana karena gagal ginjal. Ia harus menerima semacam cairan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya dan dikeluarkan kembali empat jam kemudian. Hal ini terus-menerus begitu, padahal biaya untuk setiap kali cuci darah itu mencapai Rp. 600.000,- Dalam 24 jam, biaya yang dikeluarkan enam kali jumlah tersebut. Bayangkan betapa besarnya biaya dalam sebulan, apalagi setahun! Seandainya kita harus cuci darah selama 20 tahun, nilai uangnya sudah milyaran, apalagi kalau sudah berusia lanjut. Pernahkah kita menghitung harga ginjal di tubuh kita? Tak ternilai harganya! Tetapi Tuhan memberikannya dengan gratis, seperti juga seluruh organ tubuh kita lainnya.</p>
<p>Dalam Perjanjian Lama, hidup Salomo tak kekurangan apapun juga. Tetapi semua kesenangan duniawi itu tak dapat memuaskannya. Ia lalu meminta kepada Tuhan agar memberinya pengertian yang bukan disediakan oleh dunia. Tuhan mengabulkannya. Salomo bahkan juga dikaruniai dengan hikmat, kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Memang uang, harta benda, dan kesenangan duniawi membangkitkan selera manusia untuk memuaskan diri dengan keinginan-keinginan baru yang lebih besar lagi. Ia lupa bahwa Tuhan tiba-tiba dapat memanggilnya pulang, sehingga ia harus meninggalkan semua yang selama ini terus dikejarnya.</p>
<p>Injil Yohanes mengajarkan kita bagaimana kita harus memaknai hidup dengan menerima hidup itu dan membagikannya kepada orang lain. Yesus dengan tegas mengatakan agar kita memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya. Perkataan Yesus ini mudah dimengerti oleh suku Dayak. Dalam tradisi perang mereka, yang masih berulang kembali dalam peristiwa Sambas (1997) dan Sampit (2001), musuh harus dipenggal kepalanya agar tak mungkin hidup lagi. Darahnya juga harus diminum dan rongga perutnya dibelah untuk diambil hatinya, karena hati dipercayai adalah roh orang tersebut, sehingga harus dihilangkan.</p>
<p>Tetapi perkataan Yesus sebenarnya dimaksudkan agar dengan menerima-Nya, semua gerak-gerik kita merupakan peragaan Yesus yang ada di dalam diri kita. Apabila raja-raja dunia berusaha untuk menguasai dan merampas segala sesuatu untuk dijadikan milik mereka, Yesus justru menanggalkan diri dan menyerahkan nyawa-Nya untuk dimakan, diminum dan dikorbankan bagi orang lain. Dengan demikian, setiap orang yang menerima Yesus, menjadi sesuatu yang berharga, yang dapat membagikan hidupnya kepada orang lain. Tak ada yang bisa mengatakan bahwa ia tak mampu apa-apa, karena semua diberi-Nya talenta, dan gereja membutuhkan talenta-talenta itu. Kita hanya ditantang untuk memberikan talenta-talenta itu bagi kemuliaan nama-Nya.</p>
<p>Mungkin kita akan menghadapi kekecewaan dan benturan sehingga kita memutuskan untuk berhenti membagikan kehidupan kita kepada orang lain. Tetapi kalau ada Yesus di dalam diri kita, hidup kita akan terus dinamis, terus bergerak. Belajarlah dari Yosafat. Di dalam 2 Tawarikh 17:12 disebutkan bahwa “Yosafat makin lama makin kuat, menjadi luar biasa kuat.” Marilah kita mengganti nama Yosafat itu dengan nama kita sendiri, dan menjadi berkat bagi orang lain.</p>
<p>Dalam ibadah ini, Paduan Suara GKE dan Paduan Suara Pondok Indah bersama-sama menyanyikan lagu-lagu “Rajangku, O Tuhan Yesus” (Rajaku, O Tuhan Yesus), “Yesus Pandogop Ije Hai” (Yesus Penolong Yang Besar) dan. “Bagai Bumi Tersiram Hujan”.</p>
<p>Seusai kebaktian, dijual pernak-pernik Dayak di plasa gereja.</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-16-2603">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-64" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/DAYAK-1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_16" >
								<img title="DAYAK-1" alt="DAYAK-1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/thumbs/thumbs_DAYAK-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-65" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/DAYAK-2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_16" >
								<img title="DAYAK-2" alt="DAYAK-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/thumbs/thumbs_DAYAK-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-66" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/DAYAK-3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_16" >
								<img title="DAYAK-3" alt="DAYAK-3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/thumbs/thumbs_DAYAK-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-67" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/DAYAK-4.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_16" >
								<img title="DAYAK-4" alt="DAYAK-4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/thumbs/thumbs_DAYAK-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-68" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/DAYAK-5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_16" >
								<img title="DAYAK-5" alt="DAYAK-5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/thumbs/thumbs_DAYAK-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-69" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/DAYAK-6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_16" >
								<img title="DAYAK-6" alt="DAYAK-6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-dayak/thumbs/thumbs_DAYAK-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


<h2 style="margin-top:20px;font-weight:bold">Minggu Keempat: Hidup Sebagai Pilihan</h2>
<p>(Yos. 24:1-2, 14-18; Maz. 34:16-23; Ef. 6:10-20; Yoh. 6:56-69)</p>
<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/nias.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2616" title="nias" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/nias.jpg" alt="nias" width="157" height="313" /></a>Begitu melangkahkan kaki memasuki gereja pada hari Minggu keempat bulan Agustus ini, jemaat disambut dengan penuh keramahan oleh pasangan-pasangan berbusana Nias yang berdiri di pintu-pintu masuk. Paduan warna merah, hitam dan kuning tua yang mendominasi seluruh busana yang dipakai oleh para penerima tamu, penatua dan anggota paduan suara, juga tampil dalam hiasan-hiasan kain yang membalut pilar-pilar gereja dan meja di depan mimbar.</p>
<p>Untuk memulai kebaktian, warga Nias memainkan lagu “He Yesu Aine Tolo N’dra’o” secara instrumental. Setelah itu, ucapan Selamat Datang disampaikan oleh Bapak Binahati Baeha, Bupati Gunung Sitoli, dan disusul dengan pujian “Kendati hidupku Tent’ram” oleh Sdri. Devina, dan tayangan tentang Pulau Nias.</p>
<p>Pulau Nias, atau “Tano Niha” adalah pulau terbesar di Kepulauan Nias yang berjumlah 131 pulau. Daerah dengan luas wilayah 5.625 km2 ini berpenduduk 700.000 jiwa. Obyek wisata penting di sana ialah selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, dan lompat batu.</p>
<p>Suku Nias memiliki budaya, bahasa dan adat-istiadat yang khas, sehingga memperkaya khazanah budaya di tanah air kita. Nias merupakan daerah yang tertinggal di Indonesia. Pendapatan per kapitanya sekitar 3,5 juta rupiah.</p>
<p>Injil pertama kali dibawa oleh E. Ludwig Denniger dari Jerman ke Nias ketika ia mendarat di sana pada tanggal 27 September 1865, dan mulai bertumbuh dan berkembang pada tahun 1916, ketika terjadi pertobatan massal (fangesa dõdõ sebua) yang terus berlangsung sampai tahun 1930 di seluruh wilayah Nias. BNKP (Banua Nima Keriso Protestan), yang berkantor pusat di Gunung Sitoli, merupakan organisasi gereja Protestan yang tertua dan terbesar di Pulau Nias. Total warga jemaatnya mencapai 356.776 orang, dan tersebar sampai ke Sumatra dan Jawa.</p>
<p>Prosesi pendeta dan penatua kemudian memasuki ruang kebaktian diawali dengan empat gadis Nias yang membawakan tari Moyo (elang). Pdt. Djusianto, dari GKI Residen Sudirman, Surabaya, yang menyampaikan firman Tuhan dalam rangka pertukaran Pelayan Firman Sinode GKI, mengenakan jubah kerajaan berwarna kuning dengan motif merah tua di sekeliling lehernya dan dilengkapi dengan mahkota tinggi berwarna keemasan.</p>
<p>Memulai khotbahnya, Pdt. Djusianto mengatakan bahwa setiap orang dapat memilih. Misalnya, kita dapat memilih untuk datang tepat waktu ke kebaktian, atau lebih suka terlambat datang. Seorang pemuda dapat memilih untuk gonta-ganti pacar atau setia pada satu orang saja. Tetapi ada juga hal-hal yang tak dapat dipilih, seperti kelahiran. Orang tak dapat memilih tempat kelahirannya, atau orangtuanya, atau sukunya. Semua itu, mau tak mau, harus diterimanya.</p>
<p>Ketika Yosua mengumpulkan bangsa Israel di Sikhem, ia mengingatkan mereka bahwa Tuhan sudah memimpin mereka keluar Mesir dan menyertai perjalanan mereka di gurun selama 40 tahun. Kemudian ia memberi mereka kebebasan untuk memilih Tuhan yang akan mereka sembah. Namun sebelumnya, Yosua menegaskan bahwa ia dan seluruh keluarganya akan beribadah kepada Tuhan. Pilihan Yosua ini memengaruhi seluruh bangsa Israel, sehingga akhirnya semua memutuskan untuk mengikut Tuhan.</p>
<p>Di dalam Yohanes 6, kita dapat membaca bahwa Yesus melontarkan kata-kata keras kepada para pengikut-Nya yang sangat banyak. Ketika mereka melihat mukjizat-mukjizat-Nya dan dikenyangkan secara materi oleh roti dan ikan, mereka semua mengikuti-Nya. Tetapi ketika Yesus mengatakan bahwa hanya orang yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya yang akan mempunyai hidup kekal, banyak di antara mereka tersinggung dan mengundurkan diri (ayat 66). Mereka menolak ketika Yesus mengungkapkan jati diri-Nya.</p>
<p>Begitu juga jemaat Efesus. Mereka sudah lama mengenal Yesus, tetapi sebagian masih tetap mempertahankan pola lama mereka dan menikmati kehidupan dalam dosa. Karena itu Paulus mengingatkan siapa lawan kita. Sering kali orang menjadi lemah karena merasa tidak punya lawan, seperti olahragawan yang lemah karena tidak punya sparing partner. Tetapi Paulus berkata bahwa lawan kita yang tersembunyi itu adalah kuasa kegelapan dan tipu daya Iblis. Karena itu kita perlu memakai seluruh perlengkapan senjata Allah untuk melawannya.</p>
<p>Tipu muslihat Iblis sering kali tidak terlihat dari luar, karena berada jauh di dalam hati manusia, seperti iri hati dan dendam. Seorang Kristen dapat menghajar pembantunya setiap hari, tetapi begitu tiba hari Minggu, dengan tenang ia pergi ke gereja untuk mengikuti kebaktian. Ia lupa pada perbuatan-perbuatannya yang jahat dan kejam. Ada kuasa-kuasa jahat yang memengaruhinya sehingga ia terus memikirkan hal-hal yang jahat. Karena itu kita mesti hidup dalam kebenaran dan keadilan Allah. Kita pun harus mau memberitakan Injil kepada orang-orang yang dikuasai kegelapan, agar mereka dapat berubah dan masuk ke dalam kehidupan yang diterangi oleh firman Tuhan.</p>
<p><strong>Bagaimana kita hidup di dalam terang?</strong></p>
<p>Pertama-tama, kita harus selalu dikuasai oleh Roh Kudus. Pada awal pemerintahannya, Salomo dengan rendah hati meminta hati yang bijaksana kepada Tuhan. Tetapi ia tidak selamanya dikuasai oleh Roh Allah. Ketika ia tidak waspada, ia jatuh ke dalam kesombongan. Allah menghukumnya dengan memecah kerajaannya menjadi dua setelah kematiannya.</p>
<p>Kita juga harus mempunyai kehidupan doa yang baik. Berapa banyak kita berdoa kepada Tuhan dan membaca firman Tuhan setiap hari? Ada banyak tawaran yang membuat kita menjauh dari Tuhan, seperti menonton sinetron atau mementingkan hobi, sehingga kita lupa untuk berdoa dan melalaikan tugas-tugas lainnya. Karena itu kita perlu berdoa agar tidak jatuh ke dalam dosa. Kita harus menjaga kekudusan kita, dan memakai seluruh perlengkapan senjata Allah agar kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang.</p>
<p>Dalam kebaktian ini, PS. BNKP Tangerang mempersembahkan dua lagu dalam bahasa Nias, dan PS Agape dari Bintaro menyanyikan lagu “He Jesu, Chou U’Andro (KJ. 309) dan Halöwöma, Halöwöma (KJ 341).</p>
<p>Tarian “Sekapur Sirih” yang ditarikan dengan indah oleh enam gadis Nias mengisi waktu selama kantong persembahan diedarkan kepada jemaat.</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-18-2603">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-70" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-10.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-10" alt="NIAS-10" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-10.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-71" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-11.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-11" alt="NIAS-11" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-11.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-72" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-2" alt="NIAS-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-73" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-3.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-3" alt="NIAS-3" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-74" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-4.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-4" alt="NIAS-4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-75" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-5" alt="NIAS-5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-76" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-6" alt="NIAS-6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-77" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-7.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-7" alt="NIAS-7" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-7.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-78" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/NIAS-8.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_18" >
								<img title="NIAS-8" alt="NIAS-8" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-nias/thumbs/thumbs_NIAS-8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


<h2 style="margin-top:20px;font-weight:bold">Bhinneka Tunggal Ika</h2>
<p>(Kid. 2:8-13; Maz. 45:1-5, 6-9; Yak. 1:17-27; Mrk. 7:1-8, 14-15, 21-23)</p>
<p><a href="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/garuda.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2615" title="garuda" src="http://gkipi.org/wp-content/uploads/2009/11/garuda.jpg" alt="garuda" width="200" height="208" /></a>Penutupan Bulan Budaya pada Minggu kelima bulan Agustus ini<br />
dirayakan dengan penuh syukur oleh seluruh jemaat GKI Pondok Indah. Nuansa merah-putih dari rangkaian bunga di meja dan bendera-bendera yang berjajar di kanan-kiri mimbar, berpadu serasi dengan berbagai tenunan indah di Nusantara, sementara beberapa kain merah dan putih menyembul dari atas balkon.</p>
<p>Kemeriahan juga terlihat dari banyaknya anggota jemaat yang berpartisipasi dengan mengenakan busana daerah, sehingga mata dimanjakan oleh corak dan warna yang begitu kaya dan beraneka ragam.</p>
<p>Ibadah diawali oleh Paduan Suara Gabungan (PS. Halleluya dan PS. Gracia dari GKI PI serta PS. Gita Paramita dari GKJ Nehemia) yang menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Pusaka” karya Ismail Marzuki, kemudian prosesi para pengibar bendera, barisan muda-mudi dan para wakil keempat budaya yang tampil pada tahun ini memasuki gedung gereja, disusul oleh para wakil Kombas, pendeta dan para penatua.</p>
<p>Setelah pengukuhan ibadah, Paduan Suara Gabungan dengan riang menyanyikan “Gema Nusantara” yang merupakan rangkaian dari berbagai lagu daerah yang terkenal di Indonesia, dan diakhiri dengan lagu “Kebyar, Kebyar” karya Gombloh. Sdr. Barry Likumahua dan Sdr. Albert Fakdawer juga melantunkan beberapa lagu di dalam ibadah ini.</p>
<p>Dalam khotbahnya, Pdt. Marfan Risakahu Tahamata dari GKI Ciledug Raya mengingatkan betapa unik dan luar biasa keragaman yang ada di tanah air kita. Selain memiliki 17 ribu pulau dan lebih dari 300 bahasa daerah, Indonesia juga dpersatukan dalam suatu ikatan yang kokoh, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.</p>
<p>Dunia mencatat bahwa negara India pecah karena perbedaan agama, sehingga terbentuklah negara Pakistan. Pakistan pun pecah karena alasan kesukuan, sehingga terbentuklah negara Bangladesh. Korea juga tidak ketinggalan. Perbedaan ideologi memecahkan negara tersebut menjadi dua. Namun, meskipun ada orang-orang yang tidak suka kepada Bhinneka Tunggal Ika, sampai sekarang Indonesia tetap bersatu. Bapak TB. Simatupang, dalam perjalanannya melintas garis katulistiwa pernah berujar: “Sungguh suatu mukjizat bahwa Indonesia tetap bersatu, bahwa Bhinneka Tunggal Ika tetap mempersatukan kita.”</p>
<p>Di dalam Kidung Agung, kita dapat melihat betapa indahnya cinta bersemi ketika seorang mempelai mengajak kekasihnya untuk bersatu padu dalam kasih yang meluap-luap. Masihkah ada cinta yang bersemi di Indonesia? Masihkah kita mengekang lidah kita -seperti yang dikatakan oleh Yakub- sehingga setiap kata dan ungkapan kita menjadi berkat bagi setiap orang?</p>
<p>Cinta dapat bersemi karena hawa nafsu atau eros. Cinta dapat bersemi supaya orang kembali memperoleh kasih (kasih yang timbal-balik). Namun cinta dapat juga bersemi meskipun ada perbedaan. Cinta “meskipun” ini selalu mengucapkan kata-kata berkat.</p>
<p>Yesus diprotes oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ketika mereka melihat bahwa murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan. Pada waktu itu, mencuci tangan dilakukan dengan tangan terkepal yang dikucuri air. Makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu dianggap sebagai pelanggaran hukum adat. Tetapi Yesus tidak melihatnya demikian. Ia mengutamakan apa yang ada di dalam hati orang (Mrk. 7:15 dan 21), karena segala pikiran, baik atau jahat, timbul dari dalam hati. Hati orang, siapa yang mau tahu?</p>
<p>Tetapi Tuhan mengetahui seluruh isi hati kita. Kalau kasih “meskipun” menguasai hati kita, kita akan dapat memelihara Bhinneka Tunggal Ika. Masihkah kita mencintai negara kita?<br />
Menutup khotbahnya, Pdt. Marfan mengajak kita untuk bersama-sama menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita di dalam kasih yang bersemi. Apapun perbedaan kita, kita harus saling mengasihi dan mengucapkan kata-kata berkat. Kita juga harus bersyukur karena boleh hadir di bumi Indonesia kita yang tercinta ini.</p>
<p>Pada kesempatan indah ini, GKI PI menyerahkan bantuan kepada keempat gereja yang telah ikut serta dalam Bulan Budaya tahun ini: Gereja Kristen Pasundan (GKP) Tangerang, Gereja Masehi Injili Sangir-Talaud (GMIST), Gereja Kalimantan Evangelis (Dayak) dan Banua Nika Keriso Protestan (BNKP) Karawaci.</p>
<p>Semoga berkat Tuhan pada akhir ibadah ini menjadi kekuatan bagi kita semua:</p>
<blockquote><p>Kiranya engkau bertumbuh lebat<br />
bagai pepohonan di bumi Pasundan.<br />
Kiranya karyamu terus bergejolak<br />
bagai ombak yang mengepung kepulauan Sangihe-Talaud.<br />
Kiranya semangat hidupmu menggema indah<br />
bagai suara merdu musik Sampe Dayak.<br />
Kiranya persahabatanmu dengan sesama makin meriah dan akrab<br />
bagai tarian Maena Nias.<br />
Kiranya Allah–Bapa, Anak dan Roh Kudus memperindah sukacita dan kegembiraanmu.</p></blockquote>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-20-2603">


	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-79" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-1.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-1" alt="Budaya-1" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-80" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-10.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-10" alt="Budaya-10" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-10.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-81" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-11.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-11" alt="Budaya-11" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-11.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-82" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-2.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-2" alt="Budaya-2" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-83" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-4.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-4" alt="Budaya-4" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-84" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-5.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-5" alt="Budaya-5" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-5.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-85" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-6.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-6" alt="Budaya-6" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-6.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-86" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-8.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-8" alt="Budaya-8" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-8.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-87" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/Budaya-9.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_20" >
								<img title="Budaya-9" alt="Budaya-9" src="http://gkipi.org/wp-content/gallery/bb09-bhineka/thumbs/thumbs_Budaya-9.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gkipi.org/bulan-budaya-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
