Bersyukur & Waspada

Bersyukur & Waspada

1 Komentar 63 Views

Kita harus bersyukur karena kita masih bisa menikmati kehidupan di zaman modern ini, di mana teknologi demikian maju, khususnya dalam teknologi komunikasi dan internet. Sekarang ini tidak ada orang yang tidak memiliki HP (handphone), dan hampir semua orang memiliki alamat email. Telepon rumah sudah hampir ditinggalkan, sebagian besar masyarakat lebih suka menggunakan HP. Orang yang kehilangan HP, apakah itu dicuri, rusak, tercemplung di toilet atau kebanjiran, serasa kiamat. Nyawanya seolah-olah terbang bersama dengan HP-nya.

Saat ini, dengan semakin canggihnya teknologi, dunia seakan-akan berada dalam genggaman kita. Kita dapat bekerja kapan saja, di mana saja melalui HP kita yang canggih itu. Berkantor bisa di mal, di mobil atau di sembarang tempat, sepanjang benda canggih itu bersama dengan kita dan ada Wifi yang bisa diakses. Meeting atau rapat juga bisa melalui HP, dengan berbagai fitur dan aplikasi yang sangat luar biasa. Bahkan kita bisa bertatap muka dengan teman atau saudara yang sedang berada di luar negeri melalui Skype. Sesuatu yang sama sekali tidak terbayangkan pada abad-abad yang lalu.

Orang sudah demikian tergantungnya pada benda yang satu ini, coba saja lihat: di mana-mana orang memegang benda ini, semua asyik dan menikmatinya. Perhatikanlah, di restoran, di tempat minum kopi, di rapat-rapat, di mobil, bahkan sambil menyetir motor, orang masih sempat bertelepon dan ber-SMS atau ber-BBM, luar biasa bukan? Kita menjadi lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang berada jauh dari kita, ketimbang dengan mereka yang berada di sekitar kita. Tanpa disadari, fokus kita lebih kepada orang-orang yang jauh, daripada orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Anak-anak juga sudah memiliki ketergantungan dengan benda-benda canggih ini, entah HP, segala macam Tablet dan lain-lain. Anak-anak yang belum bisa berjalan, sudah pandai main game di HP atau di Tablet. Kalau tidak main game, tidak mau makan. Kalau anak-anak tidak menurut, maka ancamannya tidak boleh main game. Luar biasa! Akses ke Wifi menjadi suatu kebutuhan. Restoran atau kafe yang memiliki “free Wifi” akan lebih laku, apalagi yang memiliki kecepatan tinggi.

Satu hal lagi yang sedang “in” saat ini adalah memotret diri sendiri dengan HP, yang dikenal dengan istilah Selfie. Saat ini, hampir semua HP memiliki kamera digital, mulai dari yang sederhana sampai yang canggih. Akibatnya, hampir semua orang bisa membuat foto di mana saja dan segera bisa di-share ke seluruh dunia, baik melalui Facebook, BBM dan sebagainya. Bagi para Narsis, ini adalah suatu keuntungan atau berkah, karena mereka bisa memuaskan ke-narsis-an mereka. Sampai-sampai Presiden Amerika Barack Obama pun melakukan selfie bersama dengan Perdana Menteri Denmark dan Perdana Menteri Inggris saat upacara pemakaman mendiang Nelson Mandela. Peristiwa menghebohkan itu menuai kritik sampai hujatan kepada ketiga pemimpin negara tersebut. Itulah salah satu dampak dari kemajuan teknologi yang harus kita waspadai.

Kemajuan teknologi akan membuat segala sesuatu menjadi mudah. Ke-majuan teknologi juga bisa memberi dampak terhadap penghematan, seperti biaya transpor, kertas, waktu, dan lain-lain. Di samping keuntungan tadi, ada beberapa hal yang hilang. Komunikasi yang dilakukan tidak lagi melibatkan emosi, perasaan, apalagi simpati atau empati. Kita tidak bisa merasakan emosi atau suasana hati yang ada. Komunikasi menjadi dingin, tidak hangat.

Kita seolah-olah tidak lagi membutuh-kan orang lain dalam hidup kita, karena semua bisa kita dapatkan melalui benda ini. Mau tanya apa, mau cari apa, mau tahu tentang apa, semua bisa didapatkan melalui benda yang luar biasa ini. Membangun hubungan bisa tidak dirasakan sebagai kebutuhan. Relasi antara orangtua dan anak, bisa menjadi relasi seperti anak kos dengan induk semangnya. Relasi antara suami dan istri, bisa menjadi relasi seperti sesama anak kos. Dampaknya, kalau kita merasa tidak betah, dengan mudah kita mencari tempat kos yang lain. Mengkhawatirkan sekali, bukan? Apa upaya kita untuk mencegah terjadinya relasi seperti ini? Adakah program-program gereja untuk menangkal kekhawatiran ini?

Kita sudah diajar untuk senantiasa menyertakan Allah dalam semua sisi kehidupan kita. Apakah dengan segala kemajuan teknologi seperti yang diungkapkan di atas, dengan segala kendalanya, masih dapat kita pakai untuk tetap menyertakan Allah? Kemajuan teknologi adalah sebuah tantangan bagi kita. Bagaimana caranya kita memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk kemudahan dalam hidup kita, tetapi dengan tetap menyertakan Allah.

Contoh, dalam kebaktian ketika kita membaca Firman Tuhan melalui HP, Tablet atau benda canggih yang lain, lalu tiba-tiba muncul tanda bahwa ada email atau sms yang masuk. Sebagai manusia normal, kita pasti ingin melihat, siapa tahu itu adalah berita yang penting. Bagaimana caranya supaya kita tidak tergoda untuk melihat atau membaca pesan atau email tersebut? Berbeda kalau kita membaca dari Alkitab, kita tidak bisa melihat hal-hal lain. Konsentrasi kita untuk mengikuti kebaktian juga akan berbeda. Ternyata di dalam segala kemudahan yang ada, ada ketidakmudahan untuk menyertakan Allah dalam segala hal.

Contoh lain, kita sedang meningkatkan kualitas multimedia agar kebaktian berlangsung dengan lebih baik. Memberi kemudahan bagi jemaat untuk mengikuti kebaktian dengan lebih khusyuk. Perangkat audio, khususnya untuk paduan suara, juga diupayakan agar lebih sensitif, sehingga lagu-lagu yang dinyanyikan dapat terdengar lebih jelas oleh jemaat. Akan tetapi, para anggota paduan suara belum mendapatkan informasi mengenai betapa sensitifnya mike yang saat ini ada, sehingga ketika mereka mengobrol, terdengar seperti ada sekumpulan lebah, dan hal itu cukup mengganggu saat teduh kita.

Kita boleh mensyukuri segala kemajuan yang dapat memberi kemudahan bagi kita, kita boleh menikmati semua kemudahan ini, tetapi jangan lupa bahwa kita juga harus mewaspadai dampak yang timbul. Selamat menjawab tantang-an ini!

Sindhu Sumargo

1 Comment

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan