Berbagi Pengalaman

Berbagi Pengalaman

Belum ada komentar 41 Views

Khotbah Pdt. Rudianto Djajakartika di kebaktian pembukaan Bulan Keluarga tanggal 2 Oktober 2011, sangat menarik. Pdt. Rudi mengkhawatirkan gejala meningkatnya perceraian di antara pasangan Kristen, meningkatnya penerimaan seks di luar nikah dan terlibatnya orang-orang Kristen dalam kasus-kasus korupsi. Indikasi yang dikhawatirkan oleh Pdt. Rudi ini, sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari masalah pendidikan dan keteladanan dalam keluarga.

Meningkatnya angka perceraian, khususnya di antara pasangan Kristen, menunjukkan indikasi bahwa pernikahan Kristen tidak ada bedanya dengan pernikahan-pernikahan lainnya, padahal dalam agama Kristen, pernikahan sudah dipersiapkan dengan mengikuti katekisasi pranikah, dengan percakapan-percakapan dengan calon pasangan suami istri dengan tujuan agar pernikahan tersebut dapat berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah kristiani, yang pada hakikatnya tidak mengenal perceraian.

Hal umum yang terjadi dalam mempersiapkan suatu pernikahan adalah lebih fokus kepada persiapan perayaan pernikahan, bukan pada pernikahan itu sendiri. Mulai dari memesan gedung, katering, pakaian, acara, MC, band, dekorasi, souvenir, undangan dan lain sebagainya yang memakan waktu paling tidak satu tahun. Ketika calon pasangan suami isteri ini ditanya bagaimana persiapan untuk memasuki kehidupan perkawinannya sendiri, biasanya mereka tidak bisa menjelaskan atau menjawab secara detail, seperti kalau ditanya tentang persiapan pesta pernikahan mereka. Biasanya mereka menjawab, “Ya…, mengalir sajalah”. Emangnya sungai, mengalir…

Pernikahan itu harus dibangun, harus dipelihara, harus di-“refresh”, mobil saja kita service berkala, AC di rumah juga, masa pernikahan disuruh mengalir saja? Kenapa kita harus memelihara dan meningkatkan kualitas relasi dalam pernikahan kita? Pernikahan tidak selalu berjalan dengan “smooth”, mungkin tidak semua pertengkaran atau perselisihan dapat diselesaikan dengan baik. Mobil saja kalau mulai ada bunyi-bunyi segera kita bawa ke bangkel, kalau tidak segera, maka kita akan mulai malas memperbaikinya. Semakin tua usia pernikahan kita, semakin kita malas untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kecil, yang sebetulnya sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik yang lebih besar.

Kita perlu tahu dan perlu diperlengkapi dengan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah “kecil” seperti ini. Pengalaman bagaimana kita menyelesaikan perselisihan dengan benar dalam pernikahan, akan merupakan pengalaman yang amat berharga yang dapat kita bagikan kepada pasangan-pasangan lain atau kepada anak-anak kita, yang sudah mulai berpacaran atau yang baru memulai kehidupan pernikahannya. Kita bisa ikut mempersiapkan kehidupan pernikahan mereka daripada sekadar menyukseskan perayaan pernikahannya.

Untuk bisa memberitahu atau mengajarkan prinsip-prinsip komunikasi yang baik dan kristiani, tentunya kita harus melakukannya juga, harus menjadi teladan agar kita tidak cuma tahu teori saja, kita harus menjadi pelaku.

Ada satu program yang dimiliki oleh Badan Pelayanan Majelis Jemaat GKI Pondok Indah. Program ini diselenggarakan setahun sekali, menjelang atau pada bulan keluarga, khusus untuk para pasangan suami dan istri. Suatu program yang sangat bagus, yang bisa memperlengkapi pasangan suami istri untuk membiasakan diri menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara yang kristiani. Cara atau kiat-kiat ini, bisa dengan berbagi pengalaman iman, baik kepada pasangan lain maupun kepada anak-anak kita, agar mereka bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara berkomunikasi yang baik dan kristiani.

Dengan memiliki kebiasaan sebagaimana yang diajarkan dalam program tersebut, niscaya kita akan terhindar atau bisa menghindarkan pasangan lain dari pertengkaran yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan sehingga menjadi potensi untuk terjadinya perceraian.

Apakah kita juga mempunyai kekhawatiran yang sama dengan Pdt. Rudianto sebagaimana yang diungkapkan dalam khotbahnya tersebut? Lalu adakah usaha kita untuk meminimalisir kekhawatiran itu, paling tidak kita mulai dari diri kita sendiri.

Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan