Bencana dan Dekadensi Moral

Bencana dan Dekadensi Moral

Belum ada komentar 14 Views

Pak Pdt. Rudi yang baik,

Merenungkan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi bencana di Indonesia, yang dihubung-hubungkan dengan keadaan bangsa kita di mana banyak terjadi dekadensi moral. Tapi ternyata korban kebanyakan melanda rakyat kecil yang moralnya lebih baik daripada kebanyakan pejabat kita, itu menurut saya.

Pertanyaan saya adalah apakah Bapak bisa memberi gambaran keadaan Indonesia belakangan ini mengingat di negara lain tidak separah Indonesia, mulai tsunami yang bertubi-tubi, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan bencara gunung berapi. Saya hanya bisa prihatin tidak bisa berbuat banyak. Semoga dengan penjelasan Bapak membuka pemahaman kekristenan saya.

Atas pencerahannya terima kasih.

Salam,

B di Jakarta

Saudara B yang baik,

Salah satu bentuk kearifan kita, adalah merenungkan dan mencari makna di balik bencana yang sedang terjadi. Apalagi bila bencana itu terjadinya bertubi-tubi tiada henti. Hasil dari perenungan tersebut sangat bervariasi. Ada yang menyadari akan kondisi keberdosaan bangsa, terjadinya dekadensi moral, korupsi dan banyak lainnya. Ada yang menyadari perlunya pelestarian lingkungan yang sudah dirusak oleh manusia. Ada juga yang menyadari betapa rapuhnya manusia di hadapan alam dan Allah sebagai sang pencipta alam semesta.

Pendek kata, kita tidak bisa ’mengunci’ hasil perenungan hanya pada satu persoalan saja, karena Allah berbicara melalui peristiwa bencana secara berbeda pada tiap orang. Nah, jika dalam perenungan Anda, kemudian muncul kesadaran adanya dekadensi moral di ranah bangsa, maka kita semua tentu harus menghargai hasil perenungan tersebut. Namun di sisi yang lain, kita juga harus menghargai hasil perenungan orang lain yang mungkin berbeda dengan hasil perenungan Anda. Apa pun hasilnya, kita mengimani bahwa Allah sedang berbicara kepada kita melalui peristiwa bencana yang sedang/telah terjadi.

Selain itu, sebaiknya, kita tidak memberlakukan hasil perenungan itu sebagai hubungan sebab-akibat, karena sekali lagi hasil perenungannya bisa sangat bervariasi. Kebetulan hasil perenungan Anda bisa dikorelasikan menjadi hubungan sebab-akibat. Tetapi hasil perenungan orang lain belum tentu dapat dikorelasikan menjadi hubungan sebab-akibat dengan semudah itu. Misalnya, munculnya kesadaran akan rapuhnya manusia di hadapan alam dan Sang Pencipta alam.

Yang penting, apa pun hasil perenungan itu, seharusnya bermuara pada sikap etis kita. Apa respons kita? Apa yang harus kita lakukan berkaitan dengan hasil perenungan kita? Dengan demikian, hasil perenungan itu tidak berhenti pada ranah kesadaran semata, tetapi masuk ke ranah praksis, menjadi satu tindakan nyata untuk menjawab hasil perenungan tersebut. Bukankah hal ini yang kita tunggu dari hasil sebuah perenungan?

Nah, menjawab pertanyaan Anda mengenai ’gambaran keadaan Indonesia’, izinkan saya mengartikannya sebagai ’dekadensi moral’ seperti yang Anda sudah singgung sebelumnya. Ada banyak hal yang berkaitan dengan moralitas bangsa, tetapi menurut pemahaman saya, persoalan utama kita sekarang ini adalah masalah korupsi! Korupsi inilah yang sudah menghancurkan kehidupan bangsa kita. Nah, apa respons kita? Apa yang harus kita lakukan? Marilah kita memeranginya!

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan