Bekerja Menurut Keputusan Kehendak Tuhan

Belum ada komentar 229 Views

Di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11b).

Manusia adalah makhluk bekerja. Pastinya melebihi makhluk yang lain di bumi ini, sebab kita bekerja tidak saja menurut naluri, tapi disertai kesadaran, rencana dan akal budi. Belum lagi yang beriman kepada Tuhan, kita bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Pengertian “Keputusan Kehendak-Nya” memberikan pemahaman kepada kita bahwa di dalam menjalankan kehendak-Nya yang serba baik itu, ternyata Tuhan juga terlebih dahulu mempertimbangkan, memilih, kemudian mengambil keputusan. Bukan memilih dari campuran antara baik dan buruk, tapi dari yang serba baik dipilih-Nya yang tepat atau yang cocok. Semua ini menyangkut kebijakan atau hikmat Tuhan.

Itu Tuhan, apalagi kita. Bagi kita pastilah jauh lebih sulit, karena keterbatasan kita. Kita sering bingung dalam mengambil keputusan karena banyak dipengaruhi oleh pengalaman pahit masa lalu, misalnya. “Apakah orang ini perlu kutolong? Jangan-jangan dia sama saja dengan orang yang pernah kutolong tahun lalu, tidak berterima kasih sesudah kutolong, sebaliknya malah merusak nama baikku.” Atau kita terpengaruh oleh pandangan umum di dalam masyarakat kita, yang mengharuskan seseorang melakukan perbuatan tertentu sebagai pihak tuan rumah. Kadang-kadang kita mengambil keputusan karena suara hati kita yang sangat menghendakinya. Padahal suara hati tidak bisa menjadi ukuran yang normatif.

BETWEEN THE GREAT THINGS WE CANNOT DO AND THE LITTLE THINGS WE WILL NOT DO, THE DANGER IS THAT WE WILL DO NOTHING. (H.G.Weaver)

Ketika kita tidak mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya kita sudah memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih atau tidak melakukan sesuatu, alias diam saja. Kalau begitu, kecuali kelahiran (dan kematian kita), kita hidup dari pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan. Apakah kita aktif atau pasif dalam hal memilih serta memutuskan, kita tetap terkait secara langsung atau tidak. Kita tetap harus “menanggung akibatnya” atau “menerima dampak positifnya”.

Bila kita sudah menyadari keterbatasan kita, mengapa kita tidak “berguru” saja kepada yang dapat kita percaya? Kita memercayai Tuhan sebagai Yang Mahabesar. Dia adalah segala-galanya bagi kita. Kita adalah umat-Nya, pengikut-Nya dan murid-Nya. Dia Tuhan, kita yakini sebagai Tuhan yang hidup, berkarya dan berfirman. Sebagaimana pribadi-Nya yang sempurna, begitu pula firman-Nya kita percayai sepenuh hati sebagai pancaran hati Tuhan yang penuh kebenaran. Mengapa kita tidak mempersilakan Tuhan memasuki kehidupan kita sedalam-dalamnya melalui Firman dan Roh-Nya? Supaya kita semakin mengenal Tuhan, mengerti ajaran-Nya, dan dipengaruhi oleh segala sifat-Nya yang Mahabaik itu. Dan supaya kita mengetahui isi hati serta kehendak-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita.

THE WILL OF GOD IS THE MEASURE OF THINGS. (St.Ambrose)

Ayat kita tadi menyatakan bahwa Tuhan tidak pernah absen. Dia hadir di mana saja dan kapan saja sebab Tuhan Mahahadir. Dalam segala sesuatu Tuhan hadir dan bekerja, karena Dia hidup. Jika Tuhan tidak bekerja, maka matilah kita semua. Kita hidup dari segala yang dikerjakan oleh-Nya. Yang menarik adalah bahwa Dia bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Tuhan selalu memilihkan yang terbaik sebagai wujud kehendak-Nya. Dan tahukah Saudara bahwa karya Tuhan yang terbanyak adalah di dalam dunia dan kehidupan umat manusia. Selain karya penebusan Kristus, bukankah Tuhan juga melimpahkan segala kebaikan-Nya di dalam hidup kita? Seperti yang tertulis dalam Roma 8:32 “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Untuk itu, pertama-tama kita menjadi objek kasih-Nya, yang dilimpahi segala sesuatu yang berasal dari kehendak Tuhan. Tapi selanjutnya Tuhan menghendaki kita juga menjadi subjek, penyalur atau kepanjangan tangan Tuhan. Jika Tuhan memilih kita adalah karena Dia menghendaki agar kasih tidak saja berada dalam garis vertikal, tapi juga horizontal.

Sebab itu mari kita hadapi kenyataan rohaniah ini dengan cara demikian:

  1. Layakkan diri kita menjadi alat kecil tapi hidup di tangan Tuhan yang Mahabesar, untuk melakukan keputusan kehendak-Nya. Selaraskan segala keputusan yang kita ambil dengan kehendak Tuhan yang hebat itu.
  2. Pertahankan dan tingkatkan terus mutu pelayanan kita ini dengan melatih kepekaan dalam menangkap kerinduan hati-Nya. Sebab Tuhan memberikan signal atau isyarat agar kita tidak sampai salah tindak atau menjadi batu sandungan.
  3. Nikmati dan syukuri keberadaan kita sebagai partner Tuhan ini, sebab sesungguhnya semua ini merupakan anugerah yang memberikan kepuasan batiniah.

 

» Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan