BAKSOS Katarak yang berkesan dalam

BAKSOS Katarak yang berkesan dalam

Belum ada komentar 46 Views

Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu sudah menjadi semacam rutinitas atau kewajiban atau sarapan sehari-hari (meminjam istilah anak remaja). Suatu hari Jumat pada bulan November lalu, aku berniat untuk pergi ke Blok M mencari sesuatu. Aku teringat untuk mengantar undangan buat Pak Pendeta kita, dalam rangka pernikahan keponakan dua minggu mendatang. Kuputuskan untuk sebentar mampir ke GKI PI menitipkan undangan tersebut, baru lanjut ke Blok M.

Siang hari itu (sekitar pukul 12.30) gereja cukup ramai, sedikit lebih ramai daripada biasanya. Selain pengunjung klinik, aktivis gereja dan tentunya para karyawan, ada juga orang-orang lain, hanya aku tidak bisa menyebut siapa saja, karena mereka asing bagiku (ternyata hari itu hari terakhir pendaftaran operasi katarak, program BakSos). Aku temui Pak Har, karyawan gereja yang setia dan baik, yang suka menghubungiku via telepon bila ada hal-hal yang menyangkut kegiatan gereja. Kutitipkan pesan dan undangan itu kepadanya, lalu akupun melanjutkan perjalananku ke Blok M dengan berjalan menuju kendaraanku, Metro Mini berkode 79.

Sebuah Perjumpaan ….
Menjelang ujung Sekolah Tirtamarta, kulihat seorang ibu tua berjalan sendirian searah denganku, meski tidak gagah namun masih kuat, mudah untuk kususul (belakangan kuketahui inang ini sudah berumur 81 tahun, hampir 20 tahun lebih tua dariku). Sesampai di pinggir jalan rute bus tumpanganku, kusapa dia dengan penuh senyum, “Ibu mau ke mana?” Dengan wajah kaget dan sedikit ragu ia menjawab, “Saya mau ke blok M.” “Oh, kalau begitu sama dong, saya juga mau ke Blok M tapi naik bus 79.” Lalu dia berkata, “Saya juga naik bus!” Sekelumit timbul di benakku untuk menolong dan mendampinginya sampai di Blok M. Meski mungkin ia tidak membutuhkanku, toh seperjalanan dan setujuan.

Untuk memecah kesunyian, aku bertanya lagi, “Ibu dari mana?” karena sepertinya aku sudah melihat dan mengenal baju yang dipakainya tadi waktu di gereja. Ia menjawab kalau ia baru dari gereja untuk pendaftaran operasi katarak, namun… ditolak. “Ah, mengapa begitu,” tanyaku, “apa mungkin masih ada syarat-syarat yang belum dipenuhi?” Menurut dia, semua syarat sudah disiapkan, hanya surat dari kelurahan tidak ada tanda tangan Pak Camat, yang ia pikir memang tidak diperlukan. Ibu yang setua ini dengan berkendaraan bis menjadi pesimis untuk dapat mengejar keterlambatannya, karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran dan ditutup pukul 16.00, berarti sekitar tiga jam lagi. Tak mungkinlah! Dengan nada kerendahan dan kesederhanaannya (seperti orang Kristen pada umumnya) ia pasrah kepada Tuhan, mungkin tahun depan masih bisa; next time-lah, demikian kalau diterjemahkan dalam logat Inggris-Bataknya. Ah, masakan hanya karena tidak ada tandatangan Pak Camat, maka ibu ini tidak jadi ikut operasi katarak tahun ini?

Sebuah Keputusan ….
Mendengar penjelasan itu aku ingin tahu lebih banyak, kutanya di mana ia tinggal dan di kecamatan mana. Ia menjawab kalau ia tinggal di Jatipadang, kecamatan Pasar Minggu. Woww … lagi-lagi hatiku terenyak mendengarnya. Aku, yang sudah sekian tahun menjadi abdi rakyat (meski kecil) sebagai ketua RT di Ragunan, sudah sering dan biasa berurusan dengan kelurahanku dan kecamatan Pasar Minggu. Aku sudah akrab dengan tempat dan ‘iklim’ di situ. Apa yang harus kulakukan? Aku harus cepat membuat keputusan: meneruskan rencanaku semula pergi ke Blok M atau menolong inang mengejar dan menyelesaikan pendaftaran tersebut dengan waktu yang relatif pendek! Darah Batak ayahku pun membakar semangat kepedulian pada sesama, hatiku pun bergetar, bukan untuk mencampuri urusan orang lain, tapi ingin berjuang bersama dan berusaha bersama. Bukankah ia membutuhkan penglihatan yang baik? Dalam pikiran dan perhitunganku, masih ada harapan untuk mendapatkan tanda tangan itu, meski banyak kendala mengadang di depan … waktu yang mepet, kemacetan, daya dan dana, dan sebagainya. Aku hanya berseru dalam batin, “Ya Tuhan, pakailah aku dan kehendak-Mu yang jadi.” Lalu kuajak inang dan membulatkan tekad: “Ibu, mari saya antar ke kecamatan, menyelesaikan masalah Ibu. Saya yakin kita akan menyerahkan surat-surat yang dibutuhkan, LENGKAP, sebelum pukul empat sore ini, sebelum pendaftaran ditutup.”

Sebuah Perlombaan ….
Kusadari bahwa kami harus mengejar waktu dan kuputuskan untuk memakai taksi menuju Kecamatan, berapa pun argonya karena tidak mungkin dengan bus yang mengirit kocek namun lebih banyak makan waktu dan tenaga. Untuk menghilangkan ketegangan jalan yang macet, kami berdua mengobrol ngalor-ngidul (istilah suamiku) yang terkadang ditimpali oleh sang sopir yang selalu berusaha ramah kepada para penumpangnya. Aku takut dan tidak berani melihat jam. Tidak lama kemudian (tapi juga tidak sebentar) kami pun sampai di Kecamatan. Langsung argo kubayar dan berterima kasih kepada sang sopir untuk jasa dan keramahannya. Kami bergegas (meskipun karena orang tua, tidak bisa cepat berjalan) masuk dan memberitahu kedatangan dan kebutuhan kami kepada petugas yang melayani dengan ramah. Heran! Kami menunggu proses penandatanganan itu tidak lebih dari 10 menit. Kata orang, untung Pak Camat lagi tidak ke luar kantor, sedang batinku bersyukur karena berkat Tuhan menyertai kami. Kami tinggalkan gedung Kecamatan dan kembali bergegas ke pinggir jalan mencegat taksi. Hari Jumat siang menjelang sore itu adalah jam-jam yang padat, semua kendaraan merayap lambat. Sekali lagi, “untung” menyertai kami. Sang sopir yang tahu betul medan jalanan Jakarta Selatan, dengan sigap dan gesit mencari jalan tikus menuju GKI Pondok Indah. Sesekali aku beranikan diri melihat jam dan menghibur diri di tengah kemacetan, semoga masih terkejar ….

Hampir Tertinggal ….
Taksi yang kami tumpangi akhirnya sampai di gerbang gereja pas pukul setengah empat, yah lewat-lewat sedikitlah. Kami turun dan kutuntun inang kembali ke meja pendaftaran. Kemudian, mereka selesaikan semua administrasi yang dibutuhkan dan … komplitlah pendaftaran inang sobat baruku menjadi “PASIEN OPERASI KATARAK TAHUN 2013”.

Aku tuntaskan misi kecilku ini. Karena sudah sore dan tenaga tua yang terbatas serta kulihat wajah inang yang capek, sendirian lagi, takut kalau ada apa-apa di jalan, maka kuputuskan untuk mengantarnya pulang sampai rumahnya. Karena tidak tergesa-gesa, kami lanjutkan perjalanan pulang dengan menggunakan ‘kendaraan-ku’ yang sering dipakai rame-rame … bus, Metro Mini ataupun AngKot. Kami sempat berbincang-bincang lebih banyak dan makin saling mengenal. Ia mengungkapkan bahwa pada waktu sapaan awal di perjumpaan kami tadi, ia merasa sudah kenal dekat denganku, setidaknya ada rasa aman dan akrab. Padahal kami baru saling jumpa dan kenal. Ajakan-ajakanku selalu ditanggapinya dengan positif tanpa curiga. Satu hal yang mengejutkan, dalam obrolan sepanjang perjalanan, ternyata kami bersaudara dari pernikahan keponakan-keponakan kami di Medan yang sekarang sudah mempunyai dua anak, satu perempuan dan satu laki. Turun dari bus, kami masih harus berjalan agak jauh menuju rumahnya. Hari itu cukup melelahkan (apalagi bagi inang) namun … memuaskan!

Doa Malamku
Akhirnya akupun kembali di rumahku dan hari sudah mulai gelap. Ketika malam bertambah larut dan waktu istirahat tiba, aku menutup keseharianku dengan doa malamku, seperi yang biasa kulakukan. Kali ini doa syukurku terasa lebih … (aku tak tahu kata apa yang tepat untuk mengungkapkannya), hanya rasa puas dan sukacita (yang datang dari berkat-Nya) memenuhi hati dan jiwaku. Aku tahu bahwa Dia dekat dan mau memakai anak-anak-Nya, aku sadar bahwa Dia hadir di keseharianku dan menyegarkan jiwaku …. Selamat malam Tuhan !!!

(ria bs)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
  • Berbagi pengalaman hidup berumah tangga
    Berbagi pengalaman hidup berumah tangga
    Dalam perjalanan pulang (48 jam) Los Angeles-Cengkareng pada awal Februari 2012, kami berkesempatan untuk merenung ulang perjalanan hidup kami....
Kegiatan