Bahaya Kalau Berdiet Kebablasan

Belum ada komentar 14 Views

Seorang ibu terserang penyakit lumayan berat memasuki usianya yang ke-80. Di rumah, kondisi penyakitnya memburuk dengan cepat sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan bahwa ia kekurangan sejumlah zat, selain mineral. Melihat penampakan fisiknya, ia juga mengidap anemia. Dibandingkan derajat dan jenis penyakit yang dideritanya, ia kelihatan jauh lebih menderita. Mengapa?

TERNYATA ibu ini sangat ketat menjaga makannya. Sejak muda, selain porsi makannya tidak banyak, ia sangat menjauhi segala macam makanan yang menurut nasihat dokter tergolong jenis yang harus dipantang. Ia amat patuh membatasi konsumsi minyak, lemak, susu, keju, dan semua yang serba daging.

Dibilang vegetarian juga bukan. Saking ketatnya berdiet, berat badannya di bawah rata-rata. Kebiasaan menu hariannya lebih banyak rebusan, tim, pepes, dan menjauhi ikan, apalagi daging. Ia takut sekali makan telur, dan jarang makan gorengan.

Lesu-Letih-Lemah

Ibu ini mengaku jarang sekali sakit, paling hanya masuk angin. Namun menurut anaknya, hampir setiap hari ia mengeluh kurang bertenaga, sering lesu, dan lekas letih. Ini jenis keluhan kebanyakan orang yang gizinya tidak cukup.

Kalau bangun tidur, badan seperti kurang bugar. Rasanya tidak cukup tidur, padahal tidurnya lebih lama dari normal. Bangun tidur, badan terasa masih pegal, terkadang ngilu, dan tak kuat banyak jalan. Baru sekali masuk mal, rasanya seperti habis berolahraga berat. Pulang piknik, esoknya perlu lebih banyak tidur, dan minta dipijat.

Tidak saja mineral darahnya di bawah normal, tapi kadar kalsium darahnya juga rendah. Bisa dipastikan bahwa kadar trace element-nya, yakni jenis mineral yang berjumlah belasan jenis—sebagian bersifat harus tersedia dalam makanan—juga di bawah normal. Padahal mineral dan trace element dibutuhkan untuk metabolisme, pembuatan hormon, enzim, selain membantu kerja organ-organ vital tubuh, termasuk fungsi jantung.

Rata-rata orang modern yang makannya normal saja pun kini berisiko kekurangan zat gizi karena menu harian orang sekarang tak lengkap lagi kandungan zat gizinya. Belum kalau menunya tergolong monodiet (satu-dua menu saja di meja makan). Padahal untuk memenuhi kebutuhan 45-an zat gizi yang tubuh butuhkan, diperlukan lima-enam jenis menu sekali santap, di luar 4-5 porsi sayur dan buah.

Hal lain, kendati menu harian serba lengkap pun, beras, jagung, kentang maupun sayur-mayur serta buah, sudah tak lengkap lagi kandungan zat gizinya seperti waktu zaman nenek moyang dulu. Lapisan atas tanah (topsoil) kini sudah kritis. Padahal lapisan subur tanah inilah yang memberi kelengkapan zat gizi kepada tanaman atau tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Termasuk bagi ternak pemakan rumput dan dedaunan.

Hal tersebut sudah terjadi di semua negara bagian AS. Lapisan tanah yang kaya dengan mineral ini sudah luruh memasuki sungai dan danau. Itu berarti semua budi daya, termasuk ternak pemakan rumput, tidak terpenuhi kecukupan zat gizinya. Sebut saja kandungan zat gizi dalam bayam, apel, kentang, jagung yang ada sekarang tidak persis lagi selengkap tiga dasawarsa lalu.

Jadi, apabila menu harian hanya satu dua macam saja, dan keanekaragaman bahan makanannya pun terbatas, kelengkapan konsumsi tubuh belum tentu memenuhi kandungan semua zat gizi yang dibutuhkannya. Tubuh terancam kekurangan gizi.

Kita tahu, di antara kekurangan zat gizi dari makanan, ada yang bersifat esensial. Artinya, harus ada dalam menu harian, karena tubuh tak bisa membuatnya sendiri. Ada puluhan jenis protein esensial (asam amino)—selain lemak esensial—yang harus ada dalam menu harian. Kekurangan jenis-jenis zat gizi esensial, mengganggu fungsi organ tubuh. Mesin tubuh jadi pincang berputar. Mungkin tidak sampai jatuh sakit. Keluhan lesu-letih-lemah itu bisa jadi datang dari tubuh yang sedang kekurangan zat gizi.

Gangguan kulit, gangguan kerja jantung, gangguan mata, dan kerja usus, misalnya, bukan tak mungkin gara-gara kekurangan suatu zat gizi. Sebut saja peran mineral alit selenium terhadap kerja jantung, atau zinc terhadap prostat, dan chromium terhadap kencing manis. Padahal semua itu mestinya terkandung dalam menu harian.

Kenyataan bahwa orang yang hidupnya kecukupan bisa menderita kurang gizi, sudah dibuktikan oleh Departemen Pertanian AS sejak tiga dasawarsa lalu. Sebagian orang AS kedapatan kekurangan kalsium, vitamin A, vitamin C, selain sejumlah trace elements yang hilang dari menu modern.

Jangan Takut Makan

Belajar dari kasus ibu di atas, besar kemungkinan sudah sekian tahun ia kekurangan sejumlah zat gizi akibat terlampau ketat berdiet tanpa alasan yang jelas. Bahwa orang dengan kadar lemak darah (lipid) tinggi perlu membatasi lemak, benar adanya. Bahwa orang kencing manis harus membatasi gula, jelas alasannya. Namun tidak berarti sama sekali tidak boleh. Tubuh tetap membutuhkan semua jenis lemak, termasuk lemak jenuh (jahat) dan kolesterol sekalipun, untuk membuat hormon, enzim, dan pemeliharaan kulit, selain juga agar organ tubuh, berfungsi normal.

Tubuh juga membutuhkan protein untuk memelihara sel, dan menjaga daya tahan tubuh. Kalau bukan dari makanan, dari mana kecukupan 45-an zat gizi yang harus ada dalam makanan, bisa didapatkan tubuh. Jika daya tahan tubuh lemah, malah gampang sakit. Pulang jalan-jalan dari mal, atau kembali dari pesta, langsung ”masuk angin”. Bisa jadi lantaran daya tahan tubuh yang lemah.

Melihat menu modern dan gaya makan orang sekarang, tidak berdiet pun tubuh berisiko kekurangan zat gizi. Selain akibat tidak lengkap terpenuhi 45 jenis zat gizi, tercukupi pun belum cukup kalau porsinya kurang. Maka melihat pola dan gaya makan orang sekarang, kita cenderung berisiko kekurangan lebih dari satu jenis zat gizi.

Namun sayangnya, penyakit kekurangan zat gizi orang modern tidak selalu nyata keluhan dan gejalanya. Kelihatannya saja normal, namun kalau diperiksa ada yang kurang. Yang kurang itu bisa tampak sebagai tanda dan gejala (rabun senja, kulit bersisik, lekas katarak), atau muncul sebagai gangguan jantung (kekurangan kalium, natrium, atau selenium), gangguan pemakaian gula darah (chromium), atau sama sekali tidak terasakan kalau darah tidak diperiksa.

Apalagi kalau pantangnya ketat. Selain zat gizi yang tubuh butuhkan tidak lengkap, sekaligus porsinya tidak mencukupi. Padahal dengan berubahnya gaya hidup—seperti faktor stres—kebutuhan tubuh akan vitamin C jauh bertambah. Demikian pula kebutuhan akan antioxidant yang tubuh dapatkan dari betacarotene (calon vitamin A), vitamin E, selain vitamin C untuk meredam polusi radikal bebas (free radicals).

Hal lain, kendati zat gizi dalam menu harian lengkap pun, belum tentu cukup bila penyerapan oleh usus sudah menurun seiring dengan bertambahnya usia. Kendati makannya banyak dan lengkap jenis zat gizinya, namun tidak semua zat gizi yang kita makan diserap utuh oleh usus. Demikian pun lazimnya terjadi dengan kalsium. Hanya kalsium dalam susu yang diserap lebih sempurna.

Periksa Darah dan ”Hair Analyisis”

Untuk membuktikan tubuh kekurangan salah satu atau lebih zat gizi perlu dilakukan pemeriksaan darah. Terbukti bahwa ibu di atas betul menderita kekurangan gizi saat diperiksa darah di rumah sakit. Sejumlah zat gizi sudah sangat berkurang. Selain banyak organ tubuhnya yang terganggu fungsinya—atau fungsinya tidak optimal—sebagian sudah mengganggu sebagai sebuah entitas penyakit, seperti tak sempurnanya kerja otot dan persendian.

Bukti bahwa memang ia sudah kekurangan sejumlah zat gizi, benar-benar ada setelah ia diberi makanan lewat sonde (selang langsung dimasukkan ke lambung) sebab tidak bisa makan normal. Kita tahu bahwa paket menu makanan sonde bukan saja berisikan menu lengkap tinggi kalori dan tinggi protein, melainkan takarannya pun dihitung sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Setelah beberapa hari di rumah sakit dengan makanan sonde serba bergizi, kondisi si ibu yang tadinya lesu-letih-lemah, berangsur-angsur menjadi lebih segar. Yang tadinya tidak bereaksi bila ditanya, setelah seminggu diberi asupan gizi yang berkualitas, lambat laun mulai berekspresi, dan penyakit pokoknya sedikit demi sedikit pulih, lalu bisa pulang dari rumah sakit dengan kondisi yang jauh lebih segar.

Kapan Perlu Suplemen?

Sering orang bertanya, kapan perlu suplemen? Banjirnya produk suplemen sekarang berangkat dari alasan semakin miskinnya kandungan zat gizi menu orang modern sebagaimana dipublikasikan oleh temuan Departemen Pertanian AS sejak empat dasawarsa lalu. Bahkan dibuat pula larutan ”garam” khusus pengganti sejumlah mineral dan trace elements yang diperkirakan telah hilang dari bumi sekarang ini. Garam tersebut diambil dari danau tempat luruhnya lapisan atas tanah yang kaya akan mineral.

Jadi kalau ditanya apa perlu mengonsumsi suplemen, tentu perlu, apabila dari menu harian kita tidak lengkap dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh zat gizi tubuh. Tergantung jenis zat gizi apa yang diperkirakan kurang, suplemen itu perlu ditambahkan.

Mereka yang berisiko osteoporosis perlu lebih banyak suplemen kalsium. Yang menderita gangguan prostat dan organ reproduksi perlu mendapat suplemen zinc, yang menderita gangguan jantung harus waspada jika kekurangan natrium, kalium, dan kalsium, selain selenium. Pengidap kencing manis perlu cukup chromium, dan seterusnya.

Itu bagi yang makannya normal dan tidak pantang. Perlu perhatian lebih bagi yang berdiet ketat, atau yang banyak tidak menyukai menu yang dihidangkan, agar lebih menambahkan beragam suplemen. Paling kurang suplemen dasar, seperti multivitamin-mineral, antioksidan (betacarotene, vitamin E, dan vitamin C), serta kalsium. Rata-rata orang Indonesia berisiko kekurangan kalsium sebab sudah berhenti minum susu (sumber kalsium terbaik) sejak usia balita.

Kita perlu meyakini, bahwa sebagian sosok kesehatan tubuh kita—termasuk kesehatan jiwa dan sosial—banyak ditentukan oleh apa yang kita makan. Sekali lagi, bahwa kesehatan itu ada di dapur, dan bukan di restoran. Mengapa?

Oleh karena menu restoran itu tergolong menu tak seimbang sebab lebih banyak mengandung lemak, gula, garam, dan zat aditif lainnya yang tidak menyehatkan, selain membuat tubuh tambun dan berisiko kekurangan gizi. Risiko kekurangan gizi bertambah hebat jika memilih berdiet serba ketat tanpa alasan jelas.***

Dr HANDRAWAN NADESUL

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Kesehatan
  • Kanker Juga Bisa Kita Cegah
    Kejadian kanker di Indonesia makin meningkat dari tahun ke tahun. Tentu ada sebab di luar faktor genetik, sehingga kanker...
  • Kematian Prematur Bisa Dicegah
    Di mata medis, kita mengenal istilah kematian prematur (premature death). Kondisi ini terkait dengan umur harapan hidup (life expectancy...
  • Jangan Terus Membohongi Pasien
    Baru-baru ini pihak Departemen Kesehatan mulai tergugah menertibkan peredaran iklan-iklan kesehatan yang merugikan masyarakat karena terbukti tidak benar, atau...
  • Menjadi Inem di Rumah Sendiri
    Satu yang keliru untuk menjadi sehat rata-rata orang sekarang, adalah kebanyakan duduk dan kurang gerak (sedentary lifestyle). Kodrat tubuh...
  • Perut Kita Bukan Apotek
    Sukar dibayangkan masyarakat kita begitu gampang memakai obat layaknya kacang goreng. Pergi ke toko obat tinggal bilang apa keluhannya,...
Kegiatan