Babi-babi Kesurupan dan Masuk Jurang, Kenapa Tuhan Yesus tidak Kasihan pada Pemiliknya?

Babi-babi Kesurupan dan Masuk Jurang, Kenapa Tuhan Yesus tidak Kasihan pada Pemiliknya?

Belum ada komentar 636 Views

Pak Pendeta,

Sebagai awam terkadang saya merasa lucu mendengar kisah dalam Alkitab, contoh kisah di Matius 8, kisah Yesus mengusir setan yang lantas merasuk ke tubuh babi-babi. Dan terang saja babi-babi menjadi kesurupan dan nyemplung ke jurang. Pertanyaannya, kenapa Yesus tidak kasihan kepada pemilik babi tersebut. Mohon maaf, pertanyaan saya mungkin terlalu dangkal tapi saya memang tidak mengerti. Terima kasih. Salam

NN-pengunjung setia

www.gkipi.org

Jawab:

Saudara NN yang baik,

Kisah penyembuhan dua orang yang kerasukan (Mat. 8:28-34) diawali dengan kisah seseorang yang ingin mengikut Yesus (Mat. 8:18-21). Nah, kisah penyembuhan orang yang kerasukan ini harus dibaca dalam terang kisah orang yang ingin mengikut Yesus. Hidup Yesus adalah sebuah kehidupan yang penuh kasih. Kasih yang Ia demonstrasikan kepada siapapun yang menderita. Dalam rangka itu, Yesus rela mengorbankan segalanya, bukan hanya hartanya tetapi bahkan nyawa-Nya. Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengikut Yesus juga harus rela berkorban demi mewujudkan kasih kepada yang menderita.

Kisah penyembuhan orang yang kerasukan mau mengajarkan kepada kita, bahwa demi kesembuhan orang itu, maka Yesus rela mengorbankan babi-babi yang ada di situ. Bukankah kasih kadang menuntut pengorbanan yang seperti itu? Kita rela mengorbankan harta benda kita demi menyekolahkan anak kita, atau menyembuhkan kekasih kita yang sedang sakit. Nyawa orang yang kerasukan itu jauh lebih berharga dari nyawa babi-babi itu.

Apakah berarti Yesus tidak sayang kepada pemilik babi-babi itu? Tentu Yesus menyayangi setiap manusia termasuk pemilik babi-babi itu. Namun dalam konteks penyembuhan ini Yesus ingin mengajarkan, bahwa demi kasih kepada sesama, kadang kita harus merelakan untuk mengorbankan harta kita.

Sikap pemilik babi yang marah pada Yesus, secara manusiawi dapat kita pahami. Tetapi ingat, kisah ini harus dibaca dalam terang ‘mengikut Yesus’. Ternyata si pemilik babi itu belum siap untuk mengikut Yesus. Ketidaksiapan mereka itu didemonstrasikan dengan cara mendesak Yesus untuk meninggalkan daerah mereka (Mat. 8:34). Buat mereka, babi-babi itu lebih berharga ketimbang nyawa orang yang kerasukan.

Bukankah sikap si pemilik babi itu kadang juga menjadi sikap kita? Kita mengaku pengikut Kristus namun pada kenyataannya kita tidak siap untuk mengorbankan milik kita demi cinta kita kepadaNya dan kepada sesama. Jadi, bukannya Yesus tidak sayang kepada pemilik babi, tetapi situasi waktu itu menuntut agar Yesus memilih antara babi dan orang yang kerasukan itu. Tentu Yesus lebih memilih untuk menolong orang yang kerasukan dan mengorbankan babi-babi itu (Mat. 8:32). Kisah ini tidak mengatakan bahwa ada pilihan lain di luar babi-babi itu. Kisah ini memperhadapkan Yesus hanya kepada pilihan antara babi atau orang yang kerasukan! Pilihan itu diwakili oleh suara setan-setan yang menuntut Yesus untuk menentukan pilihan-Nya (Mat. 8: 31).

Kadang hidup memperhadapkan kita juga hanya pada dua pilihan, harta atau menolong sesama. Dalam situasi ekstrem semacam itu, mana yang kita pilih? Itulah inti pengajaran dari kisah penyembuhan orang yang kerasukan ini.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Tentang Baptisan Ulang
    Pak Pendeta yang baik, Bapak Pendeta yang baik, Mohon penjelasannya untuk beberapa hal yang masih membingungkan saya: Bukankah semua...
  • upacara gereja
    Pernikahan Beda Agama
    Pak Pendeta yang baik, Perkenankan saya bertanya: Apa dasar pertimbangan GKI Pondok Indah membuka diri untuk memberkati pernikahan pasangan...
  • Kerajaan Maut
    Berdamai Dengan Saudara
    Bapak Pendeta yang baik, Di Matius 5:23-24 tertulis: Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau...
  • Iman Tidak Bertumbuh?
    Iman Tidak Bertumbuh?
    Pak Pendeta yang budiman, Abraham sebagai bapak beriman, sangat taat kepada Elohim. Dialog-dialognya dengan Allah begitu jelas, entah itu...
  • Siapa Penghuni Surga?
    Pak Pendeta yang budiman, Kisah Para Rasul 10 mengisahkan seorang perwira Romawi yang saleh dan murah hati/bersedekah/dermawan. Perwira itu,...
Kegiatan