Anugrah dan Mujizat Tuhan Menyelamatkan Bpk. Benny

Anugrah dan Mujizat Tuhan Menyelamatkan Bpk. Benny

Belum ada komentar 115 Views

Ya … iman kami kepada Tuhan Yesus Kristus telah membuat semuanya menjadi mungkin. Harapan di dalam Tuhan Yesus membuat semuanya berhasil. Kasih dalam Yesus Kristus membuat segalanya menjadi indah pada akhirnya.

Kami sekeluarga benar-benar telah mengalami ketiga hal tersebut sewaktu suami dan ayah anak-anak saya, Benny Widjajapranata, pada tanggal 3 Juli 1996 mengalami kecelakaan yang cukup parah, yaitu terjatuh dari menara air setinggi 4,5 meter dan terjatuh di atas dak beton rumah kami karena terkena sengatan listrik, kata Ny. Evelyn Ratna Erlinawati, isteri Pak Benny, dalam kesaksiannya. Pak Benny pada waktu itu baru berusia 41 tahun (lahir tanggal 25 Agustus 1955).

Menurut Pak Benny sendiri, dirinya merasa percaya diri karena sudah terbiasa pegang-pegang peralatan listrik, jadi tidak perlu untuk mematikan stop kontak listrik terlebih dahulu.

Peristiwa yang menyedihkan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum keluarga Benny ini akan berlibur ke Hong Kong. Pada hari itu, menara air di rumah keluarga ini mengalami kerusakan, sehingga Pak Benny terpaksa harus memperbaikinya sebelum pergi. Tetapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan seluruh anggota keluarga.

Pada saat peristiwa itu terjadi, isteri Pak Benny dan anak-anak, Marsha Anindita dan Ken Lila Asanti sedang ke salon, dan yang ada di rumah hanya pembantu rumah tangga saja. “Pembantu kami kemudian meminta pertolongan tetangga dan dengan bantuan mereka akhirnya saya dibawa ke Rumah Sakit Graha Medika”, kata Pak Benny.

Setelah isteri dan anak-anak pulang, mereka diberi tahu mengenai peristiwa kecelakaan yang menimpa Pak Benny dan kemudian mereka langsung menuju ke rumah sakit. “Di benak isteri saya mungkin hanya kecelakaan biasa saja, tetapi kakak saya Tonny, yang mengetahui kondisisi saya yang sebenarnya, memberitahukan kepada isteri saya untuk tidak menjenguk dan melihatnya dan harus tabah menghadapi semua itu,” kata Pak Benny.

Namun sebagai isteri, bagaimanapun dia harus tahu bagaimana kondisi Pak Benny yang sebenarnya. Dan menurut Pak Benny, isterinya kemudian diberitahu juga oleh tim dokter yang menangani kondisinya di rumah sakit.

Darah yang mengalir dari telinga, hidung dan bahkan dari kelopak mata menunjukkan betapa hebatnya pendarahan dan luka yang dialaminya di dalam otak Pak Benny. “Dan ternyata, setelah melalui pemeriksanaan, terdapat sekitar 250 cc darah di dalam tengkorak kepala Benny yang harus dikeluarkan melalui operasi,” kata Ny. Evelyn, isteri Pak Benny. Selain itu, tulang panggul sebelah kiri hancur dan kepala terkoyak.

Menurut penuturan Ny. Evelyn, dalam keadaan koma Pak Beny dioperasi dengan pesan bahwa mereka hanya dapat berusaha untuk mengeluarkan darah dari kepalanya karena kondisinya yang sangat kritis. “Kami sekeluarga terus berdoa, memohon kepada Tuhan agar tangan Tuhan sajalah yang bekerja di dalam ruang operasi tersebut, karena kami percaya bahwa di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil,” kata Ny. Evelyn.

Operasi pertama dapat selesai dalam beberapa jam meski Pak Benny masih dalam keadaan koma. Selang 20 jam kemudian, Pak Benny harus menjalani operasi yang kedua kalinya karena adanya pendarahan seperti yang terjadi sebelumnya dan dalam volume yang hampir sama pula, yaitu sekitar 250 cc. “Di sinilah mujizat demi mujizat sungguh kami rasakan,” kata Ny. Evelyn.

Menurut tim dokter yang menangani Pak Benny, tidak ada cara guna melihat penyebab memburuknya kondisi Pak Benny setelah beberapa jam berlangsungnya operasi karena tiadanya ventilator portable yang seharusnya dipasangkan untuk melakukan CT Scan lanjutan.

“Dalam keadaan yang serba bingung, saya terus memohon pertolongan Tuhan dan secara ajaib, sebelum saya meng-amin-kan doa saya, saya merasa ada seseorang berdiri di depan saya,” kata Ny. Evelyn, sambil menambahkan bahwa ternyata dia adalah seorang dokter yang membawa nomor telepon SOS Assistance. Dokter tersebut memberitahu Ny. Evelyn agar menanyakan kepada SOS Assistance apakah mereka dapat meminjamkan peralatan tersebut, sebab katanya kalau bukan anggota belum tentu dapat meminjamnya.

“Tetapi, nampaknya Tuhan telah membuat segalanya mungkin. SOS Assistance mengizinkan kami meminjam alat tersebut selama dua jam. Bahkan petugas dari SOS Assistance-pun tidak menanyakan identitas diri saya, dan semuanya boleh kami pinjam secara gratis,” kata Ny. Evelyn melanjutkan penuturannya.

Operasi kedua tersebut berlangsung selama sekitar enam jam sampai subuh dan karena darah sudah membeku (blood clot), maka hal itu lebih mempersulit upaya pengeluarannya.

Pada saat operasi berlangsung, seluruh ruang tunggu penuh oleh saudara dan teman Pak Benny dan semua bersatu dalam doa untuk memohon pertolongan dan campur tangan Tuhan dan Puji Tuhan, operasi tersebut dapat berhasil dengan baik. “Sangat sulit, tetapi Tuhan memampukan tim dokter menyelesaikan operasi tersebut dengan baik,” kata Ny. Evelyn.

Lumpuh Total

Subuh itu, setelah operasi selesai, dokter memanggil Ny. Evelyn masuk ke ruang operasi. Dengan jelas dokter menerangkan semuanya bagaimana operasi tersebut berjalan hingga operasi dapat berhasil dengan baik. “Dokter pun juga meyakini bahwa ini adalah karya Tuhan, karena seluruh belahan otak kiri Benny, tempat luka terjadi, telah melesak masuk ke dalam belahan otak kanan dan semua sel di situ dalam kondisi collapse,” kata Ny. Evelyn.

Setelah itu, keluarga Pak Benny hanya dapat menunggu keadaan berikutnya serta menaruh harapan kepada Tuhan. “Hanya dengan terus berserah dan berharap kepada Tuhan sajalah yang terus membuat kami tetap teguh dalam keyakinan bahwa Tuhan membuat segalanya, dan yang tidak mungkin menjadi mungkin,” kata Ny. Evelyn mengenang kejadian tersebut.

Pak Benny berada dalam keadaan koma selama sekitar satu setengah bulan dan sewaktu Pak Benny membuka matanya untuk pertama kalinya, tidak nampak adanya sinar mata yang tajam seperti biasanya. Hanya pandangan kosong saja yang nampak menerawang. Namun di balik itu, nampak adanya cahaya kehidupan di dalam dirinya.

“Malam itu, saya tertidur di samping Benny sambil menggenggam tangannya dan saya rasakan tekanan ibu jarinya pada tangan saya, yang merupakan gaya khas Benny saat menggenggam. Saya tahu, dia menyadari bahwa saya ada di sisinya,” kata Ny. Evelyn.

Menurut Pak Benny, kecelakaan itu telah membuatnya lumpuh total, yang berarti semua ingatannya hilang. Pak Benny juga tidak dapat berbicara, membaca, menulis, berbahasa asing (sebelumnya Pak Benny fasih berbahasa Inggeris dan sedikit menguasai bahasa Jepang). Selain itu, Pak Benny juga tidak dapat lagi menyetir mobil, mengoperasikan komputer Excel dan AutoCad, menyanyi, bermain gitar dan seruling. “Penglihatan sayapun menjadi sedikit terganggu. Mata sebelah kiri hanya dapat melihat pandangan atau objek yang lurus saja. Yang lebih menyedihkan lagi adalah bahkan makanpun tidak dapat saya nikmati lagi, karena lidah menjadi mati rasa,” kata Pak Benny.

Pokoknya, semua kegiatan yang biasanya dilakukannya sudah tidak dapat dikerjakan lagi. Pak Benny dirawat di rumah sakit selama dua bulan dan tanpa daya dan selama itu pengobatan dan terapi terus berjalan, seperti scanning, operasi dan lain-lain demi kesembuhan Pak Benny.

“Selama enam bulan saya tidak ingat apa-apa,” kata Pak Beny dalam percakapan dengan Kami beberapa waktu yang lalu.

Mengenai hal ini, Ny. Evelyn bertutur bahwa Pak Benny lumpuh total, tak dapat berbicara, tak dapat mengingat apapun, bahkan keluarganya sendiripun tak diingatnya. “Kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak bermakna dan kami tidak dapat mengerti maksudnya, dan diapun juga tidak mengerti maksud kami,” kata Ny. Evelyn.

Banyak hal yang membuat keluarga ini hampir merasa putus asa melihat keadaan dan kondisi Pak Benny. Tetapi nampaknya Tuhan tetap memberikan kekuatan kepada keluarga ini. “Dengan memandang salib-Nya kami memperoleh harapan baru. Kami percaya bahwa bilur-bilur-Nya dan darah-Nya yang kudus akan menopang kami serta memulihkan kesehatan Benny,” kata Ny. Evelyn.

Akhirnya, dengan kondisi lumpuh, Pak Benny dibawa pulang, karena nampaknya tidak ada lagi sesuatu yang dapat dilakukan oleh pihak rumah sakit untuk mengatasi kondisi tersebut.

Pada waktu dibawa pulang Pak Benny berada dalam kondisi luka hebat di sebelah kiri serta mengalami kelumpuhan di bagian kanan. Tulang panggul kirinya hancur dan karena itu Pak Benny akan mengalami kelumpuhan total.

“Kami sekeluarga tiada hentinya selalu memohon pertolongan Tuhan dan Tuhanpun terus memberikan tuntunan serta bimbingannya dan itu sangat kami rasakan,” ujar Ny. Evelyn.

Pemulihan Bertahap

Setelah mencari informasi kesana-kemari, keluarga ini memperoleh tuntunan Tuhan untuk membawa Pak Benny guna menjalani fisioterapi dengan biaya yang sesuai dengan kemampuannya, yaitu di Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Tangerang.

Menurut penjelasan Pak Benny, di rumah sakit ini pemulihan terjadi secara bertahap. Di rumah sakit ini Pak Benny mengikuti terapi seperti belajar berjalan, mengenal abjad, angka, membaca dan menulis. Terapi ini dilakukan setiap hari selama sekitar lima jam, di mana Ny. Evelyn selalu dengan setia mendampinginya.

“Setelah kira-kira satu setengah bulan, Benny mampu berjalan lagi. Meski tertatih-tatih, tetapi dia berjalan… Sungguh berjalan tanpa tongkat dengan kedua kakinya, yang sudah divonis lumpuh total itu,” kata Ny. Evelyn.

“Sungguh, langkah pertamanya itu membuat dada saya seakan-akan meledak. Saya ingin berteriak pada dunia: ‘Lihat, Tuhanku telah membuat Benny berjalan lagi! Tak ada yang mustahil bagi-Nya!’”

Segera setelah kejadian itu, Ny. Evelyn menghubungi Tonny, kakak iparnya yang langsung segera datang. “Saya melihat air mata di sudut matanya. Saya yakin doanya bermalam-malam yang lalu juga didengar oleh Bapa di Sorga,” kata Ny. Evelyn menambahkan.

Akhirnya, dengan pimpinan Tuhan telah membuat keluarga ini untuk membawa Pak Benny melakukan chek-up lanjutan ke Singapura. Dokter di Singapura segera mengusulkan untuk menjalani operasi guna memasang shunt di bekas luka otak kirinya karena adanya cairan yang terperangkap di situ. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penekanan pada sel-sel di sekitarnya. Selanjutnya juga diperlukan operasi plastik untuk menutup lubang sebesar sekitar sembilan centimeter pada tengkorak kepalanya.

Berkat pimpinan dan pertolongan Tuhan, operasi dapat berjalan dengan lancar dan bahkan tiga hari kemudian Pak Benny sudah diperbolehkan pulang. Lebih dari itu, pihak rumah sakit di Singapura ini juga memberikan keringanan berupa discount lebih dari 25 persen dan Pak Benny-pun tidak perlu dirawat di ICU.

Setahun kemudian, sepulang dari Singapura, Pak Benny mengalami kemajuan yang sangat pesat dan berkat tuntunan Tuhan, keluarga ini juga dibawa untuk menemui seorang dokter ahli fungsi luhur, yaitu Prof.Dr. Sidiarto Kusumoputro.

Terapi dan simulasi dilakukan setiap hari untuk mengembalikan ingatan dan pengetahuan Pak Benny dan ini berlangsung selama berbulan-bulan.

“Setelah ditangani oleh beliau (Prof Sidiarto), saya mengalami banyak kemajuan. Saya mulai belajar berbicara, membaca, menulis dan sebagainya. Ternyata pertolongan Tuhan belum terlambat melalui beliau. Tuhan memberikan karunia kesembuhan walaupun tidak pulih total, tetapi setidaknya saya sudah dapat berjalan kembali, bisa berbicara, dan ingatanpun mulai membaik. Saat ini saya sudah beraktivitas kembali, walaupun tidak penuh,” kata Pak Benny.

“Semua ini berkat Tuhan yang telah menurunkan Roh Kudus-Nya untuk bekerja atas hidup saya. Saya percaya semua ini adalah rancangan Tuhan yang sangat indah bagi saya dan keluarga.”

Tujuh Tahun Kemudian

“Medio Juni 2003, saya menulis kesaksian ini setelah hampir tujuh tahun semenjak peristiwa tersebut terjadi. Tangan Tuhan masih terus bekerja di dalam hidup kami sekeluarga,” kata Ny. Evelyn.

“Kami yakin, bahwa pada suatu saat Tuhan akan membuat segalanya sempurna, karena kasih-Nya pada kami membuat segalanya indah.”

“Kami tahu, Tuhan, sekali Engkau mengukir nama kami di dalam genggaman-Mu, Engkau tak akan melupakan kami. Terima kasih Tuhan. Terpujilah Engkau selamanya. Amin!”

Kini, semua ingatan Pak Benny telah pulih kembali. Bahkan Pak Benny telah kembali bekerja, walaupun dengan waktu yang terbatas dan tidak seperti biasanya, kata Ny. Evelyn.

“Sampai saat ini saya tetap berdoa mengucap syukur kepada Tuhan untuk keselamatan, kesembuhan, berkat serta mujizat yang telah saya terima dari-Nya,” ujar Pak Benny menegaskan.

(Ev/Bn/skt)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan