Antara LOGOS & RHEMA: Sebuah Refleksi Tentang Kata

Antara LOGOS & RHEMA: Sebuah Refleksi Tentang Kata

Belum ada komentar 3671 Views

KELATAHAN

Entah sejak kapan sebagian orang Kristen di Indonesia, dan ternyata juga di belahan dunia lain, terbiasa membuat pembedaan antara logos dan rhema. Bagi Anda yang mungkin belum pernah mendengar kedua kata ini, saya akan berikan penjelasan nanti. Namun, bagi Anda yang pernah mendengar kedua kata ini dipakai, mungkin Anda pernah mendengar khotbah atau doa yang membedakan keduanya. Bukan hanya satu kali saya melayani pemberitaan Firman dan seseorang berdoa sebelum ibadah dimulai dengan berkata, “Kiranya Firman Allah yang ditaburkan dapat berubah menjadi rhema yang berkuasa dalam hati kami.” Atau, lebih jelas lagi, “Kiranya logos yang akan kami dengar berubah menjadi rhema yang berkuasa.”

Sepintas, dengan mudah kita akan menangkap kesan bahwa bagi si pendoa, khotbah yang didasari oleh Alkitab tidaklah cukup membawa perubahan dan karena itu harus berubah menjadi rhema. Tanpa menjadi rhema, khotbah atau bahkan Alkitab akan berhenti menjadi kata-kata yang tak bermakna dan sia-sia. Yang pasti, pembedaan semacam ini sangat kerap dipergunakan dan tak jarang dipergunakan secara latah, mungkin tanpa si pemakai memahami apa yang diucapkannya.

Banyak pemakainya mempergunakan kedua kata untuk menunjuk pada dua hal yang berbeda dari Firman Allah. Sementara logos menunjuk pada Firman Allah yang tertulis, rhema mengacu pada Firman Allah yang diucapkan. Belakangan pembedaan tersebut berkembang; logos menunjuk pada kata-kata itu sendiri, sedang rhema mengacu pada kata-kata yang setelah diucapkan kemudian memiliki daya dan kuasa bagi para pendengarnya. Kedua jenis pembedaan ini memiliki satu kesamaan, yaitu bahwa rhema lebih tinggi tingkatannya ketimbang logos.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan logos dan rhema? Dan bagaimana pula keduanya dipahami sebagai dua hal yang berbeda? Pemahaman teologis apa yang ada di balik pembedaan tersebut?

GERAKAN RHEMA

Jika kita lacak asal-muasal pembedaan logos dan rhema, tampaknya hal itu muncul pertama kali di kalangan gereja-gereja karismatik di Amerika Serikat. Adalah Kenneth E. Hagin yang memopulerkan pembedaan itu sejak tahun 1960-an di Amerika Serikat melalui gerakan yang disebut “Word of Faith Movement” atau “Rhema Movement”. Bermula dari sebuah sekolah Alkitab bernama Rhema Bible Training, gerakan yang berpusat di Tulsa, Oklahoma, ini kemudian menyebar ke seluruh dunia. Hagin sendiri sebenarnya meneruskan pandangan seorang pendeta gereja Baptis bernama Essek W. Kenyon beberapa dekade belakangan. Namun, di tangan Hagin-lah gagasan gerakan ini meluas dan mendunia. Kini, gerakan tersebut diteruskan oleh putra sulungnya, Kenneth W. Hagin.

Gagasan dasar dari gerakan ini adalah bahwa ketika sebuah Firman (logos) diucapkan dengan penuh iman, maka apa yang disampaikan akan terjadi dan saat itu logos berubah menjadi rhema yang berkuasa. Slogan yang sangat terkenal dari gerakan ini adalah “name it and claim it.” Anda perlu menyebutkan apa yang Anda kehendaki, kemudian klaim hal tersebut dan terjadilah apa yang kita sebut dan klaim sesuai dengan iman kita. Tiadanya bukti akan menjadi pertanda bahwa kita tidak memiliki iman.

LOGOS VS. RHEMA

Benarkah pembedaan antara logos dan rhema adalah pembedaan antara firman yang tertulis dan firman yang diucapkan? Ternyata tidak! Pembedaan tersebut sangatlah keliru, apalagi jika kemudian rhema dianggap lebih superior ketimbang logos. Di dalam Perjanjian Baru terdapat 317 kali kata logos dipergunakan dan hanya 65 kali kata rhema muncul. Ternyata keduanya sering dipergunakan dalam pengertian yang sama dan dapat dipertukarkan satu sama lain. Coba perhatikan contoh yang diambil dari 1 Petrus 1:23 dan 25:

23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman (logos) Allah, yang hidup dan yang kekal.

25 tetapi firman (rhema) Tuhan tetap untuk selama-lamanya.

Jelaslah keduanya dapat dipertukarkan satu sama lain. Demikian juga contoh dari dua ayat dengan makna yang sama namun dengan kata yang berbeda:

untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman (rhema) (Efe. 5:26)

Kamu memang sudah bersih karena firman (logos) yang telah Kukatakan kepadamu. (Yoh. 15:3)

Jadi, pembedaan logos sebagai kata tertulis dan rhema sebagai kata terucap sangat tidak tepat, apalagi jika kemudian rhema dipahami menempati posisi lebih tinggi sebagai kata yang terucap dan memiliki kuasa, sedangkan logos tak berkuasa. Sebuah contoh menarik, jika gagasan pembedaan rhema-logos ini benar, adalah Matius 8:8, “Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: ‘Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.’’ Sekilas, tentu kita akan mengharapkan bahwa “sepatah kata” yang dimaksud di sini memakai kata rhema yang berkuasa menyembuhkan; namun, ternyata dalam bahasa aslinya kata yang dipakai adalah logos. Apa yang menjadi fokus dari ucapan perwira itu adalah Kristus yang berkata-kata, bukan kata itu sendiri. Kuasa bukan pada kata, namun pada yang mengatakan, yaitu Kristus, Sang Firman.

MASALAH LAIN

Ada beberapa masalah lain yang perlu dibahas di sini sehubungan dengan pembedaan logos dan rhema oleh Gerakan Rhema ini. Pertama, pemahaman ini mengimplikasikan bahwa iman memegang peranan yang lebih penting daripada Firman Allah itu sendiri. Tanpa iman dari manusia yang percaya, Firman Allah tak punya kuasa apa-apa. Kekristenan memang memandang sangat penting iman, namun tidak pernah meletakkannya di atas Firman Allah, apalagi Allah itu sendiri. Itu sebabnya jauh lebih banyak contoh, misalnya, yang menunjukkan bahwa mukjizat yang Yesus lakukan sama sekali tidak bergantung pada iman si penerima. Mukjizat pertama-tama muncul karena kehendak bebas ilahi berdasarkan anugerah-Nya yang melampaui iman dan akal.

Kedua, pandangan ini bermasalah secara teologis sebab menyiratkan unsur magis di dalam “kata.” Pembedaan logos dan rhema dengan mudah menggiring kita untuk memahami bahwa Firman Allah, jika ingin sungguh-sungguh memiliki kuasa, hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu mengubahnya menjadi rhema. Formula “name it and claim it” menjadi contoh jelas pandangan ini.

Ketiga, tidak selalu kuasa Firman ditentukan oleh hasil yang kita per-oleh, sebab hasil yang kita peroleh tersebut secara subjektif bergantung dari keinginan kita. Misalnya, kita sering tergoda untuk mengatakan bahwa iman seseorang kuat karena doanya mendatangkan kesembuhan, atau jika ucapannya menjadi rhema. Pernahkah kita memikirkan bahwa Allah yang berkuasa itu ternyata memang berkehendak untuk tidak menyembuhkan seseorang, seberapa pun besarnya iman orang tersebut? Malahan sebaliknya, bukan tidak mungkin Allah memang tidak menyembuhkan seseorang karena Ia melihat bahwa iman orang itu tidak akan dipengaruhi oleh sembuh atau tidaknya dia.

Pdt. Joas Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan