Amazing Grace!

Belum ada komentar 289 Views

Ada slogan yang mengatakan bahwa “tidak ada yang gratis di dunia ini”. Segala sesuatu ada harganya. Untuk segala hal yang kita perlukan dan kita inginkan, dibutuhkan upaya dan kerja keras untuk memperolehnya. Untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang baik, dibutuhkan pendidikan, wawasan, keterampilan dan kerja keras. Untuk memperoleh relasi yang baik, dibutuhkan inisiatif untuk memberikan perhatian dan kasih sayang. Untuk memenuhi standar manusia, selalu ada cara untuk mengupayakannya. Namun bagaimana cara seseorang memenuhi standar Allah? Apakah semua yang dilakukan manusia dalam segala keterbatasannya pasti dapat memuaskan hati Allah?

Yesaya 64:6 mengatakan bahwa segala kesalehan manusia seperti kain kotor di hadapan Allah. Artinya bahwa standar Allah memang sangat berbeda! Perbuatan yang kita anggap paling baik sekalipun tetap tidak akan sempurna di hadapan Allah, tidak akan memenuhi standar Allah! Manusia tidak dapat “menyogok” Allah dengan perbuatannya. Keselamatan manusia dari dosa dan hukuman maut tidak dapat dibeli dengan perbuatan baik. Karenanya betapa kita harus bersyukur atas anugerah Allah yang menyelamatkan kita! Dalam Efesus 2:8-9 dikatakan :

“8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Keselamatan bukan datang karena inisiatif kita berbuat baik kepada Allah. Keselamatan datang karena inisiatif Allah yang memberikan cinta kasih-Nya secara cuma-cuma. Siapapun yang menerimanya dalam iman, ia menyambut dan menerima kasih karunia itu. Amazing Grace! Kita orang-orang berdosa yang seharusnya dihukum & dimurkai oleh Allah (Ef 2:-5) diselamatkan oleh kemurahan-Nya. Bukan karena perbuatan baik kita, tapi karena kasih karunia-Nya semata.

Pertanyaannya, bagaimana sikap kita menyambut kasih karunia yang berharga itu? Apakah kita merasa sudah cukup diselamatkan oleh Allah dan hidup sama seperti sebelum kita beriman pada Kristus? Kualitas iman seperti apa yang kita tunjukkan? Iman di alam pengetahuan, atau yang terwujud dalam hati dan tindakan kita? Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta yang mati martir karena melindungi warga Yahudi dari serangan pasukan Nazi pernah menuliskan bahwa sikap seseorang menyambut kasih karunia Allah bisa dengan cheap grace atau costly grace. Ada orang yang menganggap remeh kasih karunia Allah tanpa sikap pertobatan dan penyembahan kepada Allah (cheap grace). Ada yang ingin “membalas” kasih karunia Allah yang sangat berharga dan mahal dengan hidup menyenangkan hati Allah (costly grace). Sudahkah kita menyambut & menghargai kasih karunia Allah yang sangat mahal dan tak terbayar dengan melakukan setiap pekerjaan baik yang Allah percayakan dalam hidup kita?

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10)

GPP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan