allah menyesal

Allah Menyesal

Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16

Belum ada komentar 107 Views

Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang kah ? atau justru kecewa dan marah seperti sikap yang ditunjukkan oleh Yunus ? bukan kah seharusnya kita bersukacita jika Tuhan memberikan kesempatan lagi bagi saudara kita untuk menerima pengampunan dan diselamatkan ?

Yunus yang telah berlelah-lelah menyuarakan pesan Tuhan, menghendaki agar Tuhan konsisten terhadap keputusan yang telah dibuatnya, bahwa Tuhan akan mendatangkan hukuman kepada Niniwe atas kejahatan mereka. Tetapi yang terjadi sebaliknya, Allah “menyesal” merancangkan hukuman bagi mereka, karena pertobatan orang-orang Niniwe. Padahal Yunus sudah keluar dari kota itu untuk menantikan apa yang akan terjadi di sana (ay. 5).

Bagi Yunus, muncul pertentangan antara kasih Allah dengan hakikat keadilan, bahwa orang-orang Niniwe harusnya dihukum walaupun mereka telah bertobat. Dia mengharapkan keadilan Allah, sebab bagaimana mungkin kejahatan mereka yang begitu besarnya dapat diampuni dalam sekejap mata hanya dengan berkabung dan berpuasa. Seharusnya Allah memberikan hukuman yang setimpal atas kejahatan mereka dan barulah Tuhan memberikan keselamatan yang setimpal dengan pertobatannya. Yunus memang mengharapkan adanya keringanan hukuman sebab mereka telah bertobat, tapi bukan pembatalan hukuman.

Allah yang menyesal, menggambarkan belas kasih Allah, lebih besar daripada penghakiman-Nya. Sebab belas kasih yang diwujudkan dalam pengampunan akan menjadi perekat, yang mempersatukan kehidupan dalam komunitas. Tidak ada komunitas yang dapat bertahan tanpa ada kesediaan untuk saling mengampuni. Pengampunan ini lah yang memberikan ikatan dalam situasi yang baik atau tidak baik, sehingga melaluinya akan berkembang hidup yang saling mengasihi.

Namun sebagaimana yang ditunjukkan dalam kisah Yunus, kepentingan-kepentingan pribadi kita terus-menerus menghalangi keinginan kita untuk hadir satu bagi yang lain, tanpa syarat. Kasih kita selalu dibatasi oleh syarat-syarat yang terungkap maupun yang tak terungkap.

Tidak ada sekecil apapun dosa yang luput dari hukuman Allah dan tidak ada sebesar apapun dosa yang tidak diampuni oleh Allah. Ini adalah kasih dan keadilan Allah.

Kita harus saling mengampuni, karena kita bukan Allah yang dapat menentukan harus diampuni atau dihakimi. Lakukanlah !!!

(tt)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Yesus dan Petrus
    Ketika Yesus dan Petrus (dan kita) Saling Menghardik
    Yes. 50:4-9; Mzm. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mark. 8:27-38
    Percakapan dimulai dengan sangat indah. Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Lantas para murid mengajukan...
  • anjing dan ludah
    Antara Anjing dan Ludah
    Bacaan Injil kita minggu ini menyajikan dua kisah penyembuhan; yang satu berisi penyembuhan Yesus atas anak seorang perempuan Siro-Fenisia...
  • Ritualisme atau Hati yang Bersih
    Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23
    Insiden “penistaan agama” terjadi lagi. Kali ini menimpa para murid Yesus. Pelapor dan penuntutnya adalah “serombongan orang Farisi dan...
  • Bersama Mengukir Narasi Cinta Bagi Bangsa
    Ulangan 10: 12-22; Mazmur 15; Roma 2: 12-29; Markus 12: 28-34
    Merupakan anugerah dari Tuhan saat ini GKI melangkah memasuki usianya yang ke 30. GKI menyebut dirinya sebagai Gereja Kristen...
  • Libatkan dan Alami Tuhan
    Ams. 9:1-6; Mzm. 34:9-14; Ef. 5:15-20; Yoh. 6:51-58
    Melalui dua kata kerja “mengecap dan melihat” menurut pemazmur, seseorang dapat mengenal dan mengalami Tuhan dalam kehidupannya. Namun, pengenalan...
Kegiatan