Aku Telah Melihat Tuhan!

Aku Telah Melihat Tuhan!

Belum ada komentar 5 Views

Sebuah ironi terjadi di makam Yesus di Minggu pagi, hari ketiga setelah Yesus mati disalibkan dan dikuburkan. Pada saat itu Yesus menampakkan diri, menyatakan kebangkitan-Nya kepada Maria. Namun Maria memilih untuk membelakangi-Nya, karena mengira Dia adalah tukang kebun. Maria larut dalam kesedihannya sendiri. Ia datang ke kubur kemungkinan besar untuk menuntaskan perawatan jasad Kristus, karena mereka menguburkan-Nya secara terburu-buru berhubung persiapan hari Sabat. Dan tentunya juga untuk menengok kubur orang yang paling dicintainya, serta meratapi-Nya. Maria datang untuk melawat Yesus yang mati, bukan untuk menemui Yesus yang hidup. Sehingga ia tidak mengenali Yesus yang menyatakan diri kepadanya.

Ironi yang sama bisa terjadi pada kita saat ini. Kita dapat gagal mengenali Yesus yang bangkit dan hadir dalam hidup kita. Karena kita larut dalam persoalan kita sendiri-sendiri. Karena kita memilih untuk membelakangi-Nya, sebab tak mampu melepaskan pandang kita dari berbagai kepentingan dan dambaan. Bahkan kita luput bertemu dengan Kristus yang bangkit karena kita tidak sungguh-sungguh mencari-Nya.

Syukur Yesus tidak menghendaki anak-anak-Nya tidak mengenali-Nya. Ia memanggil Maria dengan namanya: “Maria…!” Dan Maria pun mengenali Tuhannya: “Rabuni…!” Kebangkitan Yesus mengubah kesedihan Maria menjadi sukacita yang total. Maria telah melihat Tuhan! Dan saat ini pun Ia memanggil kita dengan nama kita, agar kita mengenali-Nya, agar kesedihan dan masalah kita diubah menjadi sukacita yang utuh dalam nama-Nya. Agar kita dapat berkata dengan mantap bahwa kita telah bertemu dengan Dia!

Dan seperti pada Maria, Yesus tidak menghendaki sukacita kita berhenti pada diri kita. Sebagaimana yang terjadi pada Maria (ayat 17), IA mengutus kita untuk membagi sukacita itu dengan orang lain. Kita dipanggil untuk mempersaksikan kasih anugerah Tuhan dalam Kristus, dengan menyatakan: “Aku telah melihat Tuhan!”, melalui setiap aspek kehidupan kita, dalam setiap kesempatan, serta di mana pun Tuhan menempatkan kita.

Selamat Paska!

 

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan