Aku Adalah Pintu

Aku Adalah Pintu

Kisah Para Rasul 2:42-47; Mazmur 23; 1 Petrus 2:19-25; Yohanes 10:1-10

Belum ada komentar 413 Views

Di kota-kota besar, pintu tampaknya semakin menjadi simbol ketakutan berurusan dengan orang luar, ketertutupan, ketidakpercayaan, ketidakpedulian, dan bahkan keterasingan. Hal yang sama berlangsung pula dengan gereja yang semustinya menjadi sebuah ruang publik dengan pintu-pintu terbuka bagi siapa pun untuk masuk. Pintu gereja tak lagi menjadi simbol hospitality, namun hostility. Sangat jamak kita jumpai pintu-pintu gereja yang tertutup rapat, dengan kunci yang sangat aman, bahkan dengan satpam yang menjaga di depannya. Ia hanya dibuka untuk menyambut warga gereja yang menjadikan ruang gereja sebagai tempat aman dan nyaman mereka, terpisah dari dunia—untuk kemudian ditutup kembali setelah segala ritual selesai dilangsungkan.

Padahal pintu selalu berdimensi ganda. Di satu sisi, ia memang membatasi diri kita yang berada di balik pintu dengan dunia luar. Artinya pintu membentuk identitas kita (“bukan dari dunia,” kata Yesus dalam Yoh. 17:14, 16). Namun, di sisi lain, pintu juga menghubungkan kita dengan dunia luar (“di dalam dunia,” kata Yesus pula dalam Yoh. 17:11), sehingga kita menjadi satu dari beragam identitas. Ketika yang satu ditonjolkan dengan mengabaikan yang lain, maka kekristenan berubah menjadi ekstrim. Ketika pembedaan-dari-dunia ditonjolkan dengan ongkos relasi-dengan-dunia, maka akan mudah muncul eksklusivisme dan sektarianisme. Jika, sebaliknya, relasi-dengan-dunia ditonjolkan dengan ongkos pembedaan-dari-dunia, maka gereja akan larut dan hanyut ke dalam kompromisme. Keduanya sama-sama menghancurkan kekristenan! Setidaknya, keduanya menjadikan kekristenan tak lagi menjadi apa yang diharapkan oleh Kristus.

Kedua dimensi tampak di dalam metafora “Akulah pintu” yang dipergunakan Yesus. Dimensi pertama, yaitu fungsi pintu untuk memisahkan domba-domba dari dunia luar, muncul di dalam ayat 9, ketika Yesus berbicara mengenai domba-domba yang “masuk melalui Aku;” sedangkan dimensi kedua, yaitu fungsi pintu untuk menghubungkan domba-domba dengan dunia luar, muncul di dalam ayat 3, ketika Yesus berbicara mengenai Sang Gembala yang menuntun domba-dombanya “ke luar.”

Pesan yang ingin Yesus sampaikan kiranya menjadi bening buat kita, yaitu orang-orang Kristen tidak mungkin mempertahankan identitasnya tanpa terbuka pada dunia luar. Justru di dalam relasi dengan dunia luar itulah, identitas Kristiani terjaga, terbangun, dan bertumbuh-kembang. Lebih dari itu, hanya dengan keluar dari pintu dan memasuki dunialah, kita dapat mencapai “padang rumput” itu (ay. 9).

joas

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan