A Day with the Braves

A Day with the Braves

Belum ada komentar 4 Views

Sabtu pagi tanggal 26 Mei itu kami menaiki bus menuju Ragunan dengan berbagai alasan, tujuan, dan kepentingan yang berbeda, walaupun sebagian besar dari kami tahu, hari ini kami diberi kesempatan untuk melayani anak-anak yang berjuang melawan kanker. Ketika kelompok dan karton di mana tertulis nama anak yang kami dampingi dibagikan, mulai terdengar komentar-komentar seru dari para peserta.

Kami lalu masuk ke dalam gerbang utama Ragunan, sementara panitia membagikan topi untuk diberikan kepada anak yang kami dampingi. Tidak pernah terbayang oleh kami seperti apa anak-anak yang menjadi “adik asuh” kami hari itu. Saat rombongan anak dan orang tua mereka masuk ke Ragunan, banyak dari kami yang tiba-tiba kehilangan kata-kata.

Sebagian besar dari mereka tidak memiliki rambut lagi, dan kalaupun masih ada, tidak banyak. Tubuh-tubuh kecil itu terlihat ringkih, dan ada yang duduk di kursi roda. Kami bingung bagaimana menghadapi mereka. Berbagai pertanyaan timbul. “Apakah mereka kuat berjalan di Ragunan? Apa mereka bisa diajak bercanda atau harus agak serius?” Yang jelas, kondisi adik-adik yang kami ketemui pagi itu sedikit banyak membuat kami berkomitmen untuk melakukan yang terbaik.

Bocah kecil itu bernama Izam, masih duduk di kelas 4 SD, bungsu dari 3 bersaudara. Dari luar Izam tampak normal, agak kurus, tidak ada yang menduga tubuhnya itu sedang berjuang melawan penyakit ganas. Ibunya bercerita, Izam awalnya tidak diikutsertakan dalam acara ini karena baru saja pulang dari rumah sakit setelah menjalani kemoterapi, dan Selasa depannya (3 hari setelah acara), keduanya akan pulang ke Bangka. Di sana ibunya akan meminta rujukan baru dari dokter untuk pengobatan putranya di Jakarta. Sang ibu sempat mengutarakan masalah keuangan yang membuat Izam harus menghentikan pengobatan sementara.

Anak-anak itu begitu bersemangat melihat kebun binatang di Jakarta, walaupun beberapa dari mereka yang berjalan kaki, harus berhenti sesekali karena tidak biasa berjalan jauh. Namun tidak sepatah kata keluhan terdengar dari mereka. Saat kami menawarkan diri untuk menggendong mereka, dengan halus anak-anak itu menyatakan sanggup berjalan. Dan mereka tertawa saat melihat binatang-binatang beraksi dengan lucu.

Beberapa dari mereka sudah kehilangan mata mereka, ada yang salah satu atau kedua mata, akibat Retinoblastoma, kanker pada bola mata. Seperti si kecil Alfian, yang menutupinya dengan kacamata. Umurnya baru 3 tahun, namun ia sadar kondisi tubuhnya membuatnya kurang dari anak-anak sebayanya. Ibunya yang menggendong bercerita, kalau diajak main, Fian, begitu panggilannya, malu karena sudah tidak punya mata lagi. Padahal di mata kami, ia begitu berharga dan kami sangat ingin bermain dengannya.

Saat duduk di aula sambil makan dan melukis, kami banyak sekali mendengar cerita dari orangtua anak-anak tersebut. Batita bernama Tamara itu baru berusia 1 tahun 2 bulan, namun daging pantat kirinya sudah dibuang akibat kanker. Karena kurang cepat diambil, penyakit itu sudah menjalar hingga jantungnya. Hari itu ia baru saja pulang setelah menjalani kemoterapi, dan sorenya akan kembali ke Cilegon yang berjarak 5 jam perjalanan dari Jakarta.

Lain halnya dengan anak perempuan segar dan cantik bernama Afifah, fans berat Cherrybelle. Ia sempat maju bersama beberapa temannya untuk menyanyi.Leukemia membuatnya kehilangan satu ginjal. Sebetulnya ia ingin sekali berjumpa dengan grup pujaannya itu, tapi seperti anak lainnya, ia malu berhadapan dengan idolanya itu karena penyakit yang dideritanya.

Ini sebagian syair lagu yang menyemangati Afifah, juga Suci, Nayla dan Melan yang kondisinya sama: “Don’t cry, don’t be shy/ Kamu cantik apa adanya/ Sadari syukuri dirimu sempurna/ Jangan dengarkan kata mereka/ Dirimu indah pancarkan sinarmu/ You are beautiful, beautiful, beautiful/ Kamu cantik cantik dari hatimu.”

Kami juga dibuat kagum dengan kemampuan artistik beberapa anak dalam menyanyi dan melukis, ataupun harapan mereka agar cepat sembuh dan bisa menjadi dokter yang dapat mengobati penyakit berat. Walaupun tubuh mereka sudah lemah, dan mungkin harapan itu bagi orangtua mereka dan kami sudah terlihat sangat tipis, namun dengan penuh semangat mereka tetap berjuang untuk sembuh dan menjadi orang yang berguna.

Hari itu bukan kami yang menyalurkan berkat kepada adik-adik itu, namun kami yang mendapatkan berkat luar biasa dari perjumpaan kami dengan mereka. Dengan tubuh yang tidak sehat, mereka masih berusaha menyenangkan hati kami, membuat kami tersenyum karena tingkah laku mereka, seperti Melan yang menghibur dengan celotehnya tentang OVJ (Opera Van Java), lengkap dengan efek suara yang menggemaskan.

Kami berdoa agar adik-adik itu dapat cepat sembuh dan mewujudkan cita-cita mereka yang begitu mulia. Terima kasih untuk malaikat-malaikat kecil yang Tuhan izinkan datang hari itu untuk menunjukkan kepada kami bahwa persoalan berat seharusnya dihadapi dengan senyum dan ketulusan hati. Dan berkat Tuhan tidak berhenti jika kita sakit, melainkan saat kita sakit dan mampu membawa kebaikan bagi orang lain, maka sekecil apa pun pemberian kita, dapat berdampak luar biasa bagi orang-orang di sekitar kita.

(JB)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan